Anda di halaman 1dari 6

Rasional Penggunaan Deksametason pada Meningitis Tuberkulosis

Sidra Khushnood
1
, ToseeI Fatima Noshahi
1
, Khawaja Tahir Mehmood
2

Department oI Pharmacy
1
, Lahore College Ior Women University;
2
Drug Testing Lab, Lahore
2


bstrak:
Penggunaan obat secara rasional adalah memastikan obat yang tepat diberikan kepada pasien
yang tepat, dalam dosis yang tepat, pada waktu yang tepat, dan menggunakan rute yang tepat.
Meningitis tuberkulosis(TB) adalah salah satu penyakit yang mengancam kehidupan dengan
morbiditas, motilitas dan kadar komplikasi yang tinggi. Meningitis TB boleh dijangkiti oleh
semua usia dan kelas sosial-ekonomi. Meningitis TB disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. ambaran klinis meningitis TB termasuk demam, sakit kepala, kejang, muntah,
malaise, penurunan kesadaran, kelumpuhan saraI kranial, dan stroke. Penilitian telah dilakukan
dengan menggunakan cerebrospinal Iluid(CSF) untuk tes laboratorium, CT scan dan MRI.
Pengobatan meningitis TB meliputi Obat Antituberkulosis(OAT) dan steroid. Alasan
penggunaan kortikosteroid adalah untuk mengurangi eIek bahaya dari inIlamasi sedangkan
mikroorganisme dibunuh oleh antibiotik. Selama pengobatan, deksametason diberikan sebagai
terapi tambahan secara Intavena(IV) dan prednisolon diberikan secara oral selama rawat jalan.
Dosis obat dikurangi secara periodic(tapering) untuk menghindari komplikasi
gejala(withdrawal). Pembedahan shunt dilakukan jika pasien tidak respon dengan terapi yang
diberikan.
ata kunci: Menigitis TB, pengobatan Meningitis TB, Deksametason, gunakan Rasional,
steroid.

Pendahuluan:
Meningitis TB adalah bentuk TB yang paling serius dengan mortalitas dan morbiditas yang
tinggi meskipun obat kemoterapi yang eIektiI tersedia. Kematian atau tidak respon terhadap
terapi sering disebabkan kegagalan untuk mulai terapi yang tepat pada tahap awal penyakit.
|1|
Meningitis TB biasanya dimulai gejala nyeri yang non-spesiIik, demam, merasa tidak sehat,
lelah, mudah tersinggung, susah tidur atau penurunan naIsu makan, dan sakit kepala yang
semakin berat.
|2|
2

InIeksi HIV tampaknya memiliki dampak kecil pada temuan di rumah sakit dan kematian
meningitis TB, walaubagaimanapun terjadi peningkatan insiden lesi massa intraserebral pada
individual yang terinIeksi HIV.
|3|
Tidak ada perbedaan antara kelompok pasien yang divaksinai maupun tidak divaksinasi
dari segi keparahan penyakit atau hasil pengobatan. Namun pada pada pemeriksaan MRI, pasien
yang divaksinasi dengan nonbacille Calmette-uerin menunjukkan hasil dengan tuberculoma
lebih tinggi berbanding yang divaksinasi dengan vaksin Bacille Calmette-uerin.
|4|
Orang dewasa
yang diduga menderita meningitis tetapi tanpa gejala yang jelas, manajemen terbaik adalah
dengan dilakukan pungsi lumbal dan kultur darah.
HidroseIalus adalah salah satu komplikasi yang paling umum meningitis.
|5|
HidroceIalus
lebih parah pada anak-anak daripada pada orang dewasa. HidroseIalus tipe komunikas lebih
sering dari tipe non-komunikans. Manajemen hidroseIalus mencakup pengobatan dengan agen
dehidrasi dan penggunaan steroid untuk pasien dengan hidroceIalus tipe komunikans. Operasi
diperlukan untuk pasien dengan hidroseIalus tipe obstruktiI.
|6|
Terapi antituberkulosis harus
segera dimulai pada setiap bayi yang dicurigai meningitis bila cairan jumlah sel leukosit
serebrospinal kurang dari 500 sel/mm3 dengan limIositosis, hiponatremia, dan hidroseIalus.
|7|
Penggunaan kortikosteroid telah menunjukkan manIaat dalam mengurangi mortalitas dan
morbiditas untuk patogen tertentu di negara maju. Terapi deksametason harusnya hanya
diberikan kepada pasien yang diduga menderita meningitis.
|8|
Kortikosteroid direkomendasikan
jika pasien dengan penurunan kesadaran, memiliki tanda-tanda neurologis, atau koma (stage II
dan III). Pada pasien dengan koma (Tahap II), kortikosteroid tampaknya meningkatkan
kelangsungan hidup dan gejala sisa neurologis. Deksametason dosis 6 sampai 12 mg per hari dan
prednison 60 sampai 80 mg per hari dan ditapering dalam waktu lebih dari 4 sampai 8 minggu
telah digunakan. ejala pada sistem saraI pusat (SSP) mungkin berulang jika penurunan dosis
kortikosteroid terlalu cepat. Steroid dan diuretik seperti Iurosemide dan acetazolamide kadang-
kadang digunakan untuk mengobati hidroseIalus. Ventriculoperitoneal atau ventriculoatrial
shunting mungkin diperlukan untuk menghilangkan tanda-tanda dan gejala hidroseIalus.
|9|
Bakteri yang lisis akan melepaskan komponen dinding sel bakteri dalam ruang
subarachnoid akan menstimulasi produksi sitokin sehingga menginduksi inIlamasi meningeal.
Sitokin dalam ruang subarachnoid menyebabkan eIek patoIisiologis. Sitokin akan menarik
leukosit polimorIonuklear dari aliran darah yang menyebabkan stroke vaskulitis-induced. Sitokin
3

juga meningkatkan permeabilitas sawar darah otak sehingga terjadi kebocoran serum protein dan
pembentukan eksudat dan hidroseIalus tipe obstruktiI. Pengobatan dengan deksametason
mempunyai eIek yang menguntungkan dengan menghambat sintesis sitokin dan dengan
mengurangi resistensi CSF dan menstabilkan sawar darah otak. Tujuan terapi tambahan dengan
deksametason dalam bakteri dan mikobakteri meningitis adalah untuk meredam respon
inIlamasi. Dosis rekomendasi deksametason untuk orang dewasa dengan bakteri meningitis
adalah 0,15 mg / kg setiap 6 jam intravena selama 4 hari.
|10|

Deksametason mengurangi hidroseIalus dan dapat mencegah inIark pada meningitis
TB. EIek deksametason secara tepat tidak dapat diperkirakan karena kebanyakan pasien stadium
lanjut tidak di CT scan.
|11|

Pedoman pengobatan harus diterapkan tergantung individu, berdasarkan kondisi awal pasien,
kemungkinan resistensi obat, dan koinIeksi HIV. Steroid juga berguna pada pasien dengan
meningitis yang respon dengan pengobatan tetapi terdapat perluasan tuberkuloma yang ada atau
pembentukan tuberkuloma baru.
|12|


ahan dan Metode:
Empat puluh pasien dengan keluhan meningitis tuberculosis di Medical wards oI Mayo Hospital
Lahore dan Services Hospital Lahore dari 14 Juni sampai 2 Juli 2010 telah diteliti. Sebuah
kuesioner diberikan untuk mendapatkan semua inIormasi penting dan relevan dari pasien atau
keluarga mereka tentang penyakit. Riwayat medis pasien dan semua data penting dikumpulkan
termasuk komplikasi, diagnosa, tes yang dilakukan dan pengobatan. EIek samping dari
pengobatan dengan antibiotik dan steroid jika ada juga diamati. Beberapa pasien direncanakan
untuk pembedahan jika tidak respon pada pengobatan.

Hasil:
Faktor penting terkait dengan rasional penggunaan deksametason diteliti dan parameter beberapa
penyakit penting juga dicatat, sebagian dalam bentuk graIik sebagai berikut:
4


ambar 1. raIik menunjukkan Irekuensi tanda & gejala pasien TB.


ambar 2. raIik menunjukkan rasio steroid yang digunakan dalam pengobatan Meningitis
TB. (Deksametason 100)



0
20
40
60
80
00
20
uemam kekakuan
eher
MunLah SaklL
kepala
kernlgs
slgn
alnlaln
0
20
40
60
80
00
20
CCSSkor
uexaI
9rednlsonoral
PldrokorLlsonI
alnlaln
0
20
40
60
80
00
CCSSkor
9oor
ModeraLe
normal

ambar 3. raIik menunjukkan nilai CS untuk pasien Meningitis TB. (88 pasien tidak
sadar)
Diskusi:
Tuberkulosis adalah penyakit yang serius dan global. Insiden penyakit tuberculosis meningkat di
negara berkembang maupun negara maju di beberapa tahun terakhir. Meskipun mempengaruhi
baik laki-laki dan perempuan tetapi pada penilitian kami menunjukkan bahwa 58 pasien adalah
perempuan. Meningitis TB dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi jika
penundaan dalam diagnosis dan jika pengobatan lambat dimulai. Ini sebagian besar karena
pasien yang dibawa ke rumah sakit terlambat ketika sudah di stadium lanjut. Berbagai Iaktor
seperti tidak memerhatikan sakitnya, kemiskinan dan banyak aspek sosial-budaya lainnya selain
gejala klinis yang non-spesiIik menyebabkan keterlambatan ke rumah sakit.
Riwayat keluarga dengan TB ditemukan hanya pada 40 pasien. Hal ini kerana ,TB
adalah inIeksi umum di daerah kami ini dan mungkin dianggap sebagai suatu masalah sosial
sehingga pasien menyembunyikan riwayat kontak. ejala klinis paling sering yang ditemukan
dalam penelitian kami adalah sakit kepala, demam, leher kekakuan dan gangguan kesadaran.
Pemeriksaan CSF masih standar baku dan merupakan penunjang yang paling penting untuk
mendiagnosis meningitis TB. Analisa CSF menunjukkan TLC lebih tinggi, protein dan rendah
glukosa dalam CSF pasien meningitis TB.
Rontgen dada pasien meningitis TB pada umumnya normal. Dalam penelitian kami, 60
pasien menunjukkan kelainan pada rontgen dada menunjukkan TB paru. 70 dari pasien
menderita kelainan saraI kranial, 58 memiliki hidroseIalus, 42 dari pasien edema
serebral. 88 pasien memiliki nilai CS yang rendah, 10 memiliki CS nilai moderat &
hanya 2 dengan CS normal.
Berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan penunjang CSF, dan CT scan sebenarnya cukup sensitiI
dalam diagnosis awal meningitis TB. Namun sebab kematian akibat meningitis adalah kerana
penyakit yang sudah kronis, datang ke rumah sakit dengan stadium lanjut atau keterlambatan
dalam memulai pengobatan.
ambaran klinis awal meningitis TB mungkin non spesiIik, sehingga diagnosis tertunda,
sehingga indeks kecurigaan yang tinggi diperlukan untuk menghindari keterlambatan dalam
diagnosis yang dapat mempengaruhi hasil pengobatan. Pengobatan segera dengan obat
6

antituberkulosis dan penggunaan adjunctive kortikosteroid dapat meminimalkan morbiditas &


kematian.
Untuk penyakit seperti meningitis TB, yang membawa morbiditas, mortalitas dan
komplikasi yang tinggi, pencegahan adalah jalan terbaik. Kemanjuran vaksinasi BC masih
kontroversial tetapi telah dipastikan bahwa pasien yang divaksinasi dengan BC yang menderita
meningitis TB, mengalami sedikit komplikasi dan mortalitas rendah.

esimpulan:
Sebagai kesimpulan, pengelolaan penyakit menular ini terus berubah karena penemuan baru
dalam manajemen dan munculnya bakteri yang resisten. Kondisi di daerah tertentu mungkin
berbeda dan pedoman yang dibuat dalam satu negara tidak selalu berlaku di negara lain karena
perbedaan dalam kerentanan pengaturan pola dan sumber daya yang tersedia. Jadi data lokal
penting untuk memberikan pendekatan yang rasional kepada manajemen meningitis bakteri pada
anak-anak. meningitis TB dapat diobati dan hasil yang lebih positiI jika didiagnosis dini dan
pengobatan dimulai awal tanpa menunggu rinci laporan analisis CSF.
Deksametason digunakan pada semua pasien meningitis TB tanpa memerhatikan stadium
penyakit, dosis 2-2.5ml tds (I / V). Pengobatan tidak memiliki eIek samping yang serius dan
terapi simptomatik boleh diberikan untuk meminimalkan eIek samping deksametason. Dosis
tapering juga dilakukan untuk menghindari gejala withdrawal dan prednisolon diberikan oral.