Anda di halaman 1dari 4

4.

Aspek Produksi
a. Lokasi Usaha
Lokasi budidaya paprika sebaiknya dipilih di daerah yang sesuai dengan
persyaratan tumbuh tanaman ini, yaitu : ketinggian 750 - 1.500 m dpl, suhu harian
antara 16 - 25oC, pH tanah 5,5 - 6,5, dan kelembaban udara 80 - 90%. Kesesuaian
tempat tumbuh paprika sangat penting mengingat paprika bukan tanaman asli
Indonesia tetapi dari Meksiko, Peru dan Bolivia dan sangat responsif terhadap faktor
suhu, cahaya matahari, pH tanah, kelembaban udara dan air.
b. Fasilitas Produksi dan Peralatan
Untuk membudidayakan paprika dibutuhkan fasilitas dan peralatan produksi
seperti : lahan, greenhouse, peralatan irigasi dan peralatan pemeliharaan. Lahan
yang dipilih untuk usaha budidaya paprika sebaiknya memiliki topografi yang datar.
Lahan yang datar akan memberikan penerimaan cahaya matahari yang merata pada
seluruh tanaman. Selain itu lahan yang datar memudahkan dalam pemeliharaan
tanaman. Greenhouse tempat penanaman paprika menggunakan konstruksi dari
bambu. Bagian atap greenhouse terbuat dari bahan plastik UV. Plastik UV ini
berfungsi untuk mengatur cahaya yang masuk ke dalam greenhouse. Bagian dinding
bangunan greenhouse menggunakan plastik UV dan kasa polynet. Kasa polynet
berfungsi sebagai saringan udara dan tempat terjadinya pertukaran udara di dalam
greenhouse dengan udara luar greenhouse.
c. Sarana Produksi
Sarana produksi tanaman untuk budidaya paprika adalah benih paprika,
arang sekam, pupuk, pestisida, dan polybag. Benih paprika hingga saat ini masih
diimpor dari luar negeri yaitu Belanda.
d. Teknologi
Budidaya paprika dapat dilakukan dengan cara konvensional (lahan terbuka)
dan di dalam greenhouse. Perbedaan Budidaya Paprika Konvensional(LahanTerbuka)
dan Greeenhouse
Rincian Konvensional Greenhouse
- Ketergantungan pada kondisi alam
- Besar Kecil Penyiraman Manual Otomatis
- Pemberian pupuk Manual Irigasi tetes/fertigasi Kontinuitas produksi
Tergantung musim Sepanjang tahun
- Mutu paprika Sulit dikontrol Lebih mudah dikontrol

udidaya paprika pada pertanian konvensional
sangat tergantung pada kondisi alam yang menentukan ketersediaan air,
cahaya matahari, angin, temperatur dan hama dan penyakit.
e. Proses Produksi

1. Persiapan Greenhouse
Persiapan greenhouse meliputi sanitasi dansterilisasi. Sanitasi dilakukan
dengan membuang sisa tanaman yang masihada didalam greenhouse. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi kemungkinanpenularan penyakit dan hama yang ada
pada sisa tanaman itu.
Sterilisasi greenhouse dilakukan dengan menggunakan bahan kimia seperti
Lysol dan Formalin untuk membunuh bibit penyakit yang dapat menyerang
tanamanpaprika. Untuk musim tanam berikutnya, dilakukan penggantian
plastikmulsa greenhouse yang berfungsi untuk menjaga kelembaban daerah
sekitar perakaran tanaman paprika.
2. Pembibitan
Benih paprika sebelum ditanam di dalam greenhouse disemai dahulu agar
lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan tanam nanti. Teknis pembibitan paprika
adalah sebagai berikut :
OBenih terlebih dahulu direndam dengan air hangat kuku selama 30 menit.
OMedia tanam berupa arang sekam atau rockwool dibasahi dengan air bersih dan
dipastikan agar media basah sampai merata dan dibiarkan sesaat agar air siraman
yang berlebihan menetes.
OApabila menggunakan media Rockwool, dibuat lubang kecil pada Rockwool dan
apabila menggunakan arang sekam dibuat garitan kecil yang saling berpotongan
pada sekam dengan jarak + 2 x 2 cm.
OBenih diletakkan satu persatu pada setiap lubang dengan posisi calon lembaga
(titik tumbuh) menghadap ke bawah 0,5 cm dengan menggunakan pinset, setelah
semua benih disemai kemudian tutup dengan plastik mulsa.
OBenih-benih tersebut ditaruh dilemari semai (germnation chamber) dengan suhu
optimal 20-25 C dan RH 70%-90%. Suhu dan RH dapat diatur dengan cara
memasang lampu jika suhu rendah dan jika kelembaban rendah semprotkan air ke
dalam lemari semai dengan menggunakan hand sprayer.
OBenih akan berkecambah dalam waktu 7 hari, plastik mulsa dibuka kemudian
bibit dipindahkan ke tempat yang ada sinar dengan tetap menjaga suhu dan
kelembaban.
OBibit dengan kotiledon tumbuh sempurna, dipindahkan ke polybag 15 x 15 cm
yang telah dibasahi dengan larutan nutrisi dengan EC 1,5 mS/cm dan pH 5,5.
OPemeliharaan di persemaian/pembibitan meliputi penyiraman 1-2 kali
sehari (tergantung cuaca, fase pertumbuhan bibit, dan media yang digunakan),
pengendalian hama dan penyakit selama di nursery misalnya Trips, Mite, Leaf miner,
rebah kecambah dll) dan yang tak kalah pentingnya adalah pengaturan kembali
jarak antar tanam agar daun tanaman tidak saling menutupi.
OBibit siap ditanam ke greenhouse produksi setelah berumur 21-30 hari di
polybag atau sudah berdaun 5 helai.

3. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memindahkan bibit yang telah berumur + 21-
30 hari pada media tanam yang lebih besar yang telah disusun di dalam
greenhouse. Media yang digunakan untuk penanaman ini adalah arang sekam.
Pemindahan tanaman dilakukan dengan cara :
OBibit diletakkan di sisi polybag untuk penyesuaian cuaca.
OMedia tanam disiram sampai basah dengan larutan hara sebanyak 2 liter.
ORegulating stick dicabut dan dikeluarkan dari media.
OBagian tengah media dilubangi dan tambahkan karbofuram 1 g/polybag.
OBibit disiram dan dikeluarkan beserta medianya dengan cara membalikkan polybag
bibit sambil menyangga bibit dengan tangan.
OBibit dimasukkan ke lubang tanam, dan media dirapatkan di sekitar batang.
ORegulating stick dipasang kembali.

4. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman paprika meliputi pemupukan, pengajiran,
pemangkasan, penjarangan buah, dan pengendalian hama dan penyakit.
Pemupukan dilakukan bersamaan dengan penyiramaan/irigasi. Pupuk dilarutkan
dalam air kemudian ditampung di dalam tangki air untuk irigasi tetes. Frekuensi
pemberian pupuk ini tergantung pada kondisi cuaca dan umur tanaman. Pada
kondisi cuaca panas, pemberian pupuk dilakukan lebih sering untuk menjaga supaya
tanaman tidak layu. Waktu pemberian pupuk dilakukan pada pukul 8:00, 10:00,
12:00, 14:00, dan 16:00 dengan lama tiap pemberian selama 2 menit. Terdapat 2
sistem irigasi pada hidroponik. Sistem irigasi pertama menggunakan metode
penyiraman tanaman satu per satu menggunakan selang. Sistem irigasi kedua
menggunakan irigasi tetes
dimana pada masing-masing polybag tanaman dipasang pipa kecil yang terhubung
dengan tangki penyimpanan air. Dengan irigasi tetes penyiraman tanaman
dilakukan sekaligus pada seluruh tanaman pada waktu yang bersamaan.
Padatanaman yang masih muda larutan pupuk diberikan sebanyak 0,5 liter
perpohon dan pada tanaman dewasa diberikan sebanyak 1,2 liter perpohon.Salah
satu sistem irigasi yang digunakan petani paprika menggunakan sistem irigasi tetes.
Pada sistem irigasi tetesini, selain seluruh polybag tanaman mendapat penyiraman
yang bersamaan,volume penyiraman lebih terkontrol sehingga lebih efisien dalam
halwaktu dan volume penyiraman. Pengairan dilakukan dengan melilitkan benang
pada tanaman paprika untuk menopang tanaman paprika. Dengan penopangan
tanaman akan diperoleh bentuk tanaman yang sesuai dengan kegiatan produksi
secara maksimal, terutama dalam efisiensi lahan. Pengajiran dilakukan pada
tanaman yang berumur 2 minggu setelah tanam. Pemangkasan dilakukan untuk
membentuk tanaman sehingga pertumbuhan dan produksi tanaman maksimal.
Pemangkasan ini meliputi pemangkasan cabang dan tunas (pewiwilan),
pemangkasan daun dan pemangkasan bunga.
OPemangkasan cabangdan tunas dilakukan dengan mengatur dan mengurangi
cabang dan tunas diketiak daun sehingga hanya ada 2 cabang utama. Pemangkasan
inidilakukan sampai bunga yang dipelihara tumbuh dan mekar.
OPemangkasan daundilakukan dengan membuang semua daun pada batang utama,
daun yang tuadan sakit serta daun yang terlalu rimbun.
OPemangkasan bungadilakukan sampai tanaman berusia 4 minggu setelah tanam.
Bunga yangmuncul sebelum 4 minggu setelah tanam dibuang. Dari satu ketiak
daunsebaiknya hanya dipelihara 1 bunga agar buah yang dihasilkan besar dan
berkualitas.
Salahsatu kendala dalam pertanian yang menggunakan sistem monokultur
adalahpenyebaran penyakit dan hama yang sangat cepat jika tidak segera ditangani.
Untuk mencegah penyebaran penyakit dan hama, dilakukantindakan seperti
pengamatan dini pada serangan hama dan penyakit,membuang dan membakar
tanaman yang terkena serangan dan penyemprotanpestisida.

5. Pemanenan
Dalam pemanenan perlu diperhatikan beberapa hal seperti waktu dan cara
pemanenan. Berdasarkan waktu, pemanenan dibagi menjadi 2, yaitu panen buah
matang hijau dan panen buah matang berwarna (merah, kuning,orange).
Penggolongan ini disesuaikan dengan permintaan pasar dan harga jual. Pada Saat
pemetikan harus diusahakan agar tidak merusak ranting atau tanaman yang masih
muda. Buah paprika sebaiknya dipanen beserta tangkai buahnya dengan
menggunakan gunting atau pisau tajam. Diusahakan agar tangkai buah tidak
terlepas dari buah atau tertinggal di cabang tanaman karenabuah akan mudah
terserang patogen.

6. Pascapanen
Padatahap pascapanen, buah paprika yang telah dipanen dicuci. Pencucian Ini
bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan sisa pestisida yang ada pada buah
paprika. Selain itu, pencucian ini juga bertujuan untuk menurunkan panas lapang
buah sehingga transpirasi buah menurun. Setelah dilakukanpencucian, buah paprika
kemudian disortasi dan digrading.

g. Jenis dan Mutu Produksi
Produksi paprika di Kabupaten Bandung pada saat ini mencapai 25 ton/ha.
Produksi ini terdiri dari 2 jenis masa panen, yaitu panen hijau dan panen berwarna
(merah, kuning dan orange). Selain merah, kuning dan orange, paprika juga ada
yang berwarna ungu. Paprika matang hijau adalah paprika yang belum berubah
warna menjadi merah, kuning atau orange. Untuk menghasilkan mutu paprika yang
diinginkan, dibutuhkan benih tanaman dan teknologi budidaya yang mendukung.
Benih unggul menjamin produktivitas tanaman paprika tinggi baik dalam jumlah
maupun mutu. Pemilihan bakal buah yang akan dibiarkan besar juga sangat
menentukan mutu buah yang diperoleh nantinya. Mutu paprika yang dihasilkan
yaitu:
- Paprika hijau dengan diameter 80 - 100 mm dan berat 100 - 175 gr.
- Paprika merah dengan diameter 80 - 120 mm dan berat 150 - 250 gr.
- Paprika kuning dengan diameter 80 - 110 mm dan berat 150 - 225 gr.

h. Produksi Optimum
Produksi paprika ditentukan oleh varietas paprika yang ditanam dan teknologi
budidaya. Salah satu varietas paprika berwarna merah yaitu Spartacus, tiap
pohonnya dapat menghasilkan buah sebanyak 2,5 kg sampai umur 8 bulan. Varietas
kuning seperti Gold Flame dapat menghasilkan paprika sebanyak 2,5 kg/tanaman
sampai umur 8 bulan. Varietas orange seperti Orange DRD dapat menghasilkan
paprika sebanyak 2,5 kg/tanaman sampai umur 8 bulan. Produksi tanaman paprika
di Bandung 2 - 3 kg/tanaman dengan jumlah buah sebanyak +17 buah/tanaman
dan menggunakan teknologi budidaya sistem hidroponik. Dengan produktivitas per
tanaman tersebut untuk luasan 2.000 m2 dan populasi tanaman sebanyak 6.000
pohon dapat menghasilkan praprika sebanyak 12.000 - 18.000 kg/musim.

i. Kendala Produksi
Kendala produksi dari budidaya paprika ini adalah bahwa tanaman paprika
menghendaki kondisi iklim tempat tumbuh yang di Indonesia hanya dapat
ditemukan di daerah dataran tinggi, sehingga untuk pengembangan usaha paprika
ini hanya bisa dilakukan secara maksimal pada dataran tinggi. Selain itu,
ketersediaan air yang bersih sangat dibutuhkan agar budidaya dapat berjalan
dengan baik. Hal lain yang berpotensi menjadi kendala produksi paprika ini adalah
ketergantungan petani pada benih yang masih diimpor dari luar negeri sehingga
ketersediaan benih sangat perlu diperhatikan jika ingin melakukan usaha budidaya
paprika dalam waktu yang lama. Masih diimpornya benih ini juga menyebabkan
harga benih yang mahal sehingga beban biaya produksi untuk pembelian benih juga
besar.