Anda di halaman 1dari 20

ANALISA nIkCLCGI MANAILMLN DAS

uaerah Allran Sungal (uAS) secara umum dldeflnlslkan sebagal suaLu hamparan wllayah/kawasan yang
dlbaLasl oleh pembaLas Lopografl (punggung buklL) yang menerlma mengumpulkan alr hu[an sedlmen
dan unsur hara serLa mengallrkannya melalul anakanak sungal dan keluar pada sungal uLama ke lauL
aLau danau

MenuruL ulcLlonary of SclenLlflc and 1echnlcal 1erm (Lapedes eL al 1974) uAS (WaLershed) dlarLlkan
sebagal suaLu kawasan yang mengallrkan alr kesaLu sungal uLama
Llnsley (1980) menyebuL uAS sebagal A tlvet of Jtolooqe boslo lo tbe eotlte oteo JtoloeJ by o stteom ot
system of coooectloq stteoms socb tbot oll stteom flow otlqlootloq lo tbe oteo JlscbotqeJ tbtooqb o
sloqle ootlet# SemenLara lLu ll8l (2002) menyebuLkan bahwa A wotetsbeJ ls o qeoqtopblc oteo tbot
Jtolos to o commoo polot wblcb mokes lt oo otttoctlve oolt fot tecbolcol effotts to coosetve soll ooJ
moxlmlze tbe otlllzotloo of sotfoce ooJ sobsotfoce wotet fot ctop ptoJoctloo ooJ o wotetsbeJ ls olso oo
oteo wltb oJmlolsttotlve ooJ ptopetty teqlmes ooJ fotmets wbose octloos moy offect eocb otbets
lotetests#

uarl deflnlsl dl aLas dapaL dlkemukakan bahwa uAS merupakan ekoslsLem dlmana unsur organlsme dan
llngkungan bloflslk serLa unsur klmla berlnLeraksl secara dlnamls dan dl dalamnya LerdapaL
keselmbangan loflow dan ootflow darl maLerlal dan energl Selaln lLu pengelolaan uAS dapaL dlsebuLkan
merupakan suaLu benLuk pengembangan wllayah yang menempaLkan uAS sebagal suaLu unlL
pengelolaan sumber daya alam (SuA) yang secara umum unLuk mencapal Lu[uan penlngkaLan produksl
perLanlan dan kehuLanan yang opLlmum dan berkelan[uLan (lesLarl) dengan upaya menekan kerusakan
semlnlmum mungkln agar dlsLrlbusl allran alr sungal yang berasal darl uAS dapaL meraLa sepan[ang
Lahun

POLA PENGALIRAN DAN PENYIMPANAN AIR DAERAH ALIRAN
SUNGAI
Pola pengaliran dan penyimpanan air dalam DAS sangat dipengaruhi oleh karakteristik tanah,
bahan induk (geologi), morIometri DAS dan penggunaan lahan. Karakteristik ini menentukan
banyaknya air hujan yang dialirkan atau tertahan, kecepatan aliran, dan waktu tempuh air dari
tempat terjauh sampai dengan outlet (waktu konsentrasi) yang berpengaruh pada kejadian
banjir,baik banjir yang berbentuk genangan (inundasi) maupun banjir bandang pada DAS
tersebut.

Tanah
%anah merupakan bahan hasil pelapukan batuan. Karakteristik tanah dan sebaran jenisnya dalam
DAS sangat menentukan besarnya inIiltrasi limpasan permukaan ('overland Ilow') dan aliran
bawah permukaan ('subsurIaceIlow'). Karakteristik tanah yang penting untuk diketahui antara
lain berat isi,tekstur, kedalaman, dan pelapisan tanah (horison).

a Berat isi tanah (BI)
Berat isi tanah merupakan ukuran masa per volume tanah (gr/cm ), termasukdi dalamnya volume
pori-pori tanah. Berat isi tanah bersama dengan tekstur dan bahan organik tanah menentukan
besarnya inIiltrasi. Semakin tinggi nilai BI, tanah tersebut semakin padat yang berarti semakin
sulit meneruskan air.

Berat isi tanah dapat dikategorikan sebagai berikut:
O #endah: 0.9
O Sedang: 0.9-1.1
O %inggi: ~ 1.1

- Tekstur tanah
%ekstur merupakan perbandingan komposisi () butir-butir penyusun tanahyang terdiri dari
Iraksi pasir (50m - 2mm), debu (50 m - 2 m), dan liat ( 2m). Semakin halus tekstur tanah,
semakin tinggi kapasitas inIiltrasinya.
Kelas tekstur tanah dikategorikan menjadi:
O Sangat halus (sh): liat
O alus (h): liat berpasir, liat, liat berdebu
O Agak halus (ah): lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu
O Sedang (s): lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu
O Agak kasar (ak): lempung berpasir
O Kasar (k): pasir, pasir berlempung

. Kedalaman tanah
Kedalaman tanah atau solum (cm) merupakan ukuran ketebalan lapisan tanah dari permukaan
sampai atas lapisan bahan induk tanah. Pada proIil tanah solum tersebut mencakup horison A
dan B. Ketebalan solum mempengaruhi kapasitas penyimpanan air, yang secara umum dapat
dibedakan menjadi:
Bentukan tanah ini merupakan cerminan perkembangan tanah yang dipengaruhi oleh kondisi
iklim, topograIi, bahan induk, vegetasi, organismedan waktu. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan saat melihat penampangtanah adalah kedalaman horizon, baik pada horison atas
maupun horisonbawah, keberadaan lapisan kedap air, dan permeabilitasnya. Pada jenis tanah
tertentu terdapat hambatan perkembangan yang ditandai dengan adanyahorison kedap air.
orison ini dapat menyebabkan proses inIiltrasiterhambat.



Bahan induk tanah (geologi)
%ipe bahan induk secara umum akan mempengaruhi bentuk hidrograI aliran, dimana DAS
dengan jenis batuan yang kedap air seperti batu lempung ('shale') atau granit, akan menghasilkan
hidrograI aliran dengan debit puncak yang tinggi dan waktu konsetrasi yang relatiI singkat.
Sebaliknya DAS denganjenis batuan porus seperti batu kapur atau gamping akan
menghasilkanhidrograI aliran yang lebih landai dengan debit puncak yang rendah dan waktu
konsentrasi yang relatiI lebih lama.

3 Penutupan lahan
Vegetasi penutup lahan memegang peranan penting dalam proses intersepsi hujan yang jatuh dan
transpirasi air yang terabsorpsi oleh akar. Lahan denganpenutupan yang baik memiliki
kemampuan meredam energi kinetis hujan, sehingga memperkecil terjadinya erosi percik ('splash
erosion'), memperkecil koeIisien aliran sehingga mempertinggi kemungkinan penyerapan air
hujan,khususnya pada lahan dengan solum tebal ('sponge eIIect'). Beberapa kelas
penggunaan lahan yang perlu diidentiIikasi dalam melakukan analisis masalah hidrologi adalah:
O Persentase tanaman pertanian
O Persentase rumput dan padang penggembalaan
O Persentase hutan
O Persentase pemukiman dan jalan kedap air
O Persentase padang rumput dan pohon yang tersebar
O Persentase lahan kosong
O Persentase rawa dan waduk

Morfometri DAS
MorIometri DAS merupakan ukuran kuantitatiI karakteristik DAS yang terkait dengan aspek
geomorIologi suatu daerah. Karakteristik ini terkait denganproses pengatusan (drainase) air
hujan yang jatuh di dalam DAS. Parametertersebut adalah luas DAS, bentuk DAS, jaringan
sungai, kerapatan aliran, polaaliran, dan gradien kecuraman sungai.

a Luas DAS
DAS merupakan tempat pengumpulan presipitasi ke suatu sistem sungai. Luas daerah aliran
dapat diperkirakan dengan mengukur daerah tersebut padapeta topograIi.

- Bentuk DAS
Bentuk DAS mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir menuju outlet. Semakin
bulat bentuk DAS berarti semakin singkat waktu konsentrasi yang diperlukan, sehingga semakin
tinggi Iluktuasi banjir yang terjadi. Sebaliknya semakin lonjong bentuk DAS, waktu konsentrasi
yangdiperlukan semakin lama sehingga Iluktuasi banjir semakin rendah. Bentuk DAS secara
kuantitatiI dapat diperkirakan dengan menggunakan nilai nisbah memanjang ('elongation
ratio'/#e) dan kebulatan ('circularity ratio'/#c).

. 1aringan sungai
Jaringan sungai dapat mempengaruhi besarnya debit aliran sungai yang dialirkan oleh anak-anak
sungainya. Parameter ini dapat diukur secara kuantitatiI dari nisbah percabangan yaitu
perbandingan antara jumlah alur sungai orde tertentu dengan orde sungai satu tingkat di atasnya.
Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nisbah percabangan berarti sungaitersebut memiliki
banyak anak-anak sungai dan Iluktuasi debit yang terjadijuga semakin besar.

Orde sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai
pada suatu DAS. Semakin banyak jumlah orde sungai, semakin luas dan semakin panjang pula
alur sungainya. Orde sungai dapatditetapkan dengan metode orton, Strahler, Shreve, dan
Scheidegger. Namun pada umumnya metode Strahler lebih mudah untuk diterapkan
dibandingkan dengan metode yang lainnya. Berdasarkan metode Strahler, alur sungai paling hulu
yang tidak mempunyai cabang disebut dengan orde pertama (orde 1), pertemuan antara orde
pertama disebut orde kedua (orde 2), demikian seterusnya sampai pada sungai utama ditandai
dengan nomororde yang paling besar.





d Kerapatan aliran sungai
Kerapatan aliran sungai menggambarkan kapasitas penyimpanan air permukaan dalam
cekungan-cekungan seperti danau, rawa dan badan sungai yang mengalir di suatu DAS.
Kerapatan aliran sungai dapat dihitung dari rasio total panjang jaringan sungai terhadap luas
DAS yang bersangkutan. Semakin tinggi tingkat kerapatan aliran sungai, berarti semakin banyak
air yang dapattertampung di badan-badan sungai. Kerapatan aliran sungai adalah suatu
angka indeks yang menunjukkan banyaknya anak sungai di dalam suatu DAS.

e Pola aliran
Pola aliran sungai secara tidak langsung menunjukan karakteristik material bahan induk seperti
permeabilitas, struktur geologi dan kemudahannya mengalami erosi. Pola aliran sungai sejajar
(parallel) pada umumnya dijumpai pada DAS yang berada pada daerah dengan struktur patahan.
Pola alirandalam DAS dapat digolongkan menjadi:

O Dendritrik
O #adial
O #ektangular
O %rellis
O Kombinasi denditrik dan trellis

f Gradien sungai
Gradien sungai merupakan perbandingan antara beda elevasi dengan panjang sungai utama.
Gradien menunjukkan tingkat kecuraman sungai, semakin besar kecuraman, semakin tinggi
kecepatan aliran airnya.


Konfigurasi Sungai
I Pendahuluan
Indonesia memiliki lebih dari 5.590 sungai yang sebagian besar di antaranya memiliki kapasitas
tampung yang kurang memadai sehingga tidak bisa terhindar dari bencana alam banjir, kecuali
sungai-sungai di Pulau Kalimantan dan beberapa sungai di Jawa. Secara umum sungai-sungai
yang berasal dari gunung berapi (volcanic) mempunyai perbedaan slope dasar sungai yang besar
antara daerah hulu (upstream), tengah (middlestream) dan hilir (downstream) sehingga curah
hujan yang tinggi dan erosi di bagian hulu akan menyebabkan jumlah sedimen yang masuk ke
sungai sangat tinggi. %ingginya sedimen yang masuk akhirnya menimbulkan masalah
pendangkalan sungai terutama di daerah hilir yang relatiI lebih landai dan rata, sehingga sering
terjadi banjir di dataran rendah. Sungai-sungai tersebut dikelompokkan menjadi 90 (sembilan
puluh) Satuan Wilayah Sungai (SWS) yang terdiri dari 73 SWS propinsi dan 17 SWS pusat yang
berlokasi dilintas propinsi.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan dan pengelolaan sungai, meliputi: (i)
ketidakjelasan peran dan batasan wewenang antara kabupaten, kota, propinsi, dan pusat dalam
penanganan, pengelolaan dan pembiayaan sungai; (ii) kecenderungan peningkatan potensi
konIlik pemanIaatan air di daerah dan wilayah sungai; (iii) tidak terkendalinya penambangan
galian c (pasir) di badan sungai sehingga menurunkan Iungsi bangunan pengambilan air; (iv)
sedimentasi tinggi akibat rusaknya daerah hulu/catchment area; (v) makin cepatnya penurunan
kapasitas pengaliran air sungai dan bangunan pengendali banjir; (vi) makin besarnya perbedaan
aliran dasar sungai pada musim hujan dan musim kemarau (Qmax-Qmin), (vii) makin
menurunnya kualitas air sungai, khususnya di daerah aliran tengah dan hilir; (viii) tidak
terkendalinya permukiman penduduk di daerah bantaran sungai sehingga meningkatkan risiko
banjir; (ix) belum memadainya database sungai.
II Hidrolika Sungai
Sungai atau saluran terbuka menurut %riatmodjo (1996:103) adalah saluran dimana air mengalir
dengan muka air bebas. Pada saluran terbuka, misalnya sungai (saluran alam), variabel aliran
sangat tidak teratur terhadap ruang dan waktu. Variabel tersebut adalah tampang lintang saluran,
kekasaran, kemiringan dasar, belokan, debit aliran dan sebagainya.
%ipe aliran saluran terbuka menurut %riatmodjo (1996:104) adalah turbulen, karena kecepatan
aliran dan kekasaran dinding relatiI besar. Aliran melalui saluran terbuka akan turbulen apabila
angka #eynolds #e ~ 1.000, dan laminer apabila #e 500. Aliran melalui saluran terbuka
dianggap seragam (uniIorm) apabila berbagai variabel aliran seperti kedalaman, tampang basah,
kecepatan, dan debit pada setiap tampang saluran terbuka adalah konstan. Aliran melalui saluran
terbuka disebut tidak seragam atau berubah (non uniIorm Ilow atau varied Ilow), apabila
variabel aliran seperti kedalaman, tampang basah, kecepatan di sepanjang saluran tidak konstan.
Apabila perubahan aliran terjadi pada jarak yang pendek maka disebut aliran berubah cepat,
sedang apabila terjadi pada jarak yang panjang disebut aliran berubah tidak beraturan. Aliran
disebut mantap apabila variabel aliran di suatu titik seperti kedalaman dan kecepatan tidak
berubah terhadap waktu, dan apabila berubah terhadap waktu disebut aliran tidak mantap. Selain
itu aliran melalui saluran terbuka juga dapat dibedakan menjadi aliran sub kritis (mengalir) jika
Fr 1, dan super kritis (meluncur) jika Fr ~1. Diantara kedua tipe tersebut aliran adalah kritis ( Fr
1).
III Bentuk Daerah Aliran Sungai (DAS)
Bentuk DAS akan berpengaruh pada banyaknya dan kecepatan aliran air berkaitan dengan
kemungkinan terjadinya variabilitas pada siIat-siIat tanah, kemiringan, topograIi, vegetasi serta
sistem drainase yang ada. Secara umum bentuk DAS dapat di golongkan ke dalam tiga bentuk
(Sudarsono dan %akeda, 1980) yaitu: (i) sempit memanjang dengan sistem percabangan sungai
tersusun seperti bulu burung, (ii) melebar (membulat atau persegi empat) dengan sistem
percabangan akan terpusat pada tempat-tempat tertentu, dan (iii) segi tiga dengan sistem
percabangan sungai yang juga akan terpusat di dekat out-let. Pada DAS yang berbentuk sempit
memanjang, sedimen yang tinggi juga akan merusak sarana dan Iasilitas irigasi dan instalasi air
minum yang ada. Sedimentasi juga akan mendangkalkan sungai dan waduk. Kapasitas tampung
sungai dan waduk akan berkurang dan kemampuan transportasi sungai juga terhambat.
IV Transpor Sedimen
Gerusan yang terjadi pada suatu sungai terlepas dari ada dan tidaknya bangunan sungai selalu
berkaitan dengan peristiwa transpor sedimen. %ranspor sedimen merupakan suatu peristiwa
terangkutnya material dasar sungai yang terbawa aliran sungai. Kironoto (1997) dalam Mira
(2004:13), menyebutkan bahwa akibat adanya aliran air timbul gaya-gaya aliran yang bekerja
pada material sedimen. Gaya-gaya tersebut mempunyai kecenderungan untuk menggerakkan/
menyeret material sedimen. Untuk material sedimen kasar (pasir dan batuan / granuler), gaya
untuk melawan gaya-gaya aliran tersebut tergantung dari besar butiran sedimen. Untuk material
sedimen halus yang mengandung Iraksi lanau (silt) atau lempung (clay) yang cenderung bersiIat
kohesiI, gaya untuk melawan gaya-gaya aliran tersebut lebih disebabkan kohesi daripada berat
material (butiran) sedimen.
V Muara Sungai (Estuaria)
Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air
laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Pickard, 1967). Kombinasi
pengaruh air laut dan air tawar tersebut akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan
kondisi lingkungan yang bervariasi, antara lain 1. tempat bertemunya arus sungai dengan arus
pasang surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi,
pencampuran air, dan ciri-ciri Iisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. 2.
pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu siIat Iisika lingkungan khusus yang
tidak sama dengan siIat air sungai maupun siIat air laut. 3. perubahan yang terjadi akibat adanya
pasang surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara Iisiologis dengan
lingkungan sekelilingnya. 4. tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut
air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lain, serta topograIi daerah estuaria tersebut.
Secara umum estuaria mempunyai peran ekologis penting antara lain : sebagai sumber zat hara
dan bahan organik yang diangkut lewat sirkulasi pasang surut (tidal circulation), penyedia habitat
bagi sejumlah spesies hewan yang bergantung pada estuaria sebagai tempat berlindung dan
tempat mencari makanan (Ieeding ground) dan sebagai tempat untuk bereproduksi dan/atau
tempat tumbuh besar (nursery ground) terutama bagi sejumlah spesies ikan dan udang. Perairan
estuaria secara umum dimanIaatkan manusia untuk tempat pemukiman, tempat penangkapan dan
budidaya sumberdaya ikan, jalur transportasi, pelabuhan dan kawasan industri (Bengen, 2004).
AktiIitas yang ada dalam rangka memanIaatkan potensi yang terkandung di wilayah pesisir,
seringkali saling tumpang tindih, sehingga tidak jarang pemanIaatan sumberdaya tersebut justru
menurunkan atau merusak potensi yang ada. al ini karena aktiIitas-aktiIitas tersebut, baik
secara langsung maupun tidak langsung, mempengaruhi kehidupan organisme di wilayah pesisir,
melalui perubahan lingkungan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, adanya buangan baik dari
pemukiman maupun aktiIitas industri, walaupun limbah ini mungkin tidak mempengaruhi
tumbuhan atau hewan utama penyusun ekosistem pesisir di atas, namun kemungkinan akan
mempengaruhi biota penyusun lainnya. Logam berat, misalnya mungkin tidak berpengaruh
terhadap kehidupan tumbuhan bakau (mangrove), akan tetapi sangat berbahaya bagi kehidupan
ikan dan udang-udangnya (krustasea) yang hidup di hutan tersebut (Bryan, 1976).
VI Fluvial
Proses Iluvial terdiri dari gerakan sedimen dan erosi atau endapan di sungai. Erosi oleh air
bergerak terjadi dalam dua cara. Pertama, gerakan air di ranjang ini memiliki eIek (al ini
disebut sebagai tindakan hidrolik). Kedua, sedimen diangkut di sungai itu memakai tempat tidur
(Abrasion) dan Iragmen sendiri tanah turun menjadi lebih kecil dan lebih bundar (Gesekan).
Sedimen diangkut baik sebagai bedload (%he kasar Iragmen yang bergerak dekat dengan tempat
tidur) dan beban yang ditangguhkan (Finer Iragmen dibawa dalam air). Ada juga sebuah
komponen dibawa sebagai bahan dibubarkan.
Untuk setiap ukuran butir ada kecepatan tertentu di mana butir mulai bergerak, yang disebut
Entrainment kecepatan. Namun butir akan terus diangkut bahkan jika kecepatan turun di bawah
kecepatan entrainment akibat berkurangnya (atau dihapus) gesekan antara butir dan sungai
tempat tidur. Akhirnya akan jatuh kecepatan cukup rendah untuk butir yang akan didepositkan.
al ini diperlihatkan oleh Kurva hjulstrom. Sebuah sungai terus mengambil dan menjatuhkan
partikel padat batu dan tanah dari tempat tidur di seluruh panjangnya. Mana aliran sungai cepat,
lebih partikel mengambil daripada menjatuhkan. Mana aliran sungai lambat, lebih partikel yang
dijatuhkan daripada mengambil. Daerah di mana lebih partikel yang dijatuhkan disebut dataran
aluvial atau banjir, dan partikel menjatuhkan disebut aluvium.
Bahkan sungai kecil membuat endapan aluvial, tetapi di dataran banjir dan delta-delta sungai
yang besar besar, secara geologis-endapan aluvial yang signiIikan ditemukan.
Jumlah materi yang dibawa oleh sungai besar sangat besar. Nama-nama dari banyak sungai yang
berasal dari warna bahwa masalah yang diangkut memberikan air. Sebagai contoh, uang e di
Cina adalah secara harIiah diterjemahkan 'Sungai Kuning, dan Sungai Mississippi di Amerika
Serikat juga disebut Big Muddy. Diperkirakan bahwa setiap tahunnya Sungai Mississippi
membawa 406 juta ton endapan ke laut,uang Dia 796 juta ton, dan Sungai Po di Italia 67 juta
ton.
VII Karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS)
Data yang diperlukan dalam penyusunan Karakteristik DAS diambil dari data yang telah ada
(data sekunder) dan dilengkapi data yang dirasa masih kurang dalam rangka mendukung analisis
pemahaman dan pengetahuan mengenai Karakteristik DAS yang diteliti. Data data yang
diperlukan dalam rangka penyusunan Karakteristik DAS terdiri dari :
Morphologi DAS yang meliputi :
a. Bentuk DAS.
b. #elieI/ topograIi/ land Iorm.
c. Bentuk drainase ( drainage pettern ).
Morphometri DAS yang Meliputi :
a. Kepadatan drainase ( drainage density ).
b. Keliling DAS.
c. Kemiringan DAS.
d. Gradien sungai utama.
e. Panjang sungai utama.
I. Perbedaan tinggi maksimum.
idro- orologi DAS :
a. Debit sungai.
b. Curah ujan.
c. Erosi.
d. Kandungan lumpur.
Geologi :
a. Jenis batuan induk yang dominan.
b. Jenis mineral batuan dan mineral
c. Penyebaran jenis batuan dan mineral
%anah :
a. Jenis %anah.
b. Asosiasi tanah.
c. SiIat Iisik dan kimia tanah.
Penutupan lahan :
a. Penutupan lahan masa lalu ( ~ 5 tahun )
b. Penutupan lahan saat ini ( 5 tahun )
Sosial Ekonomi dan Sosial budaya masyarakat :
a. DemograIi penduduk.
b. Sosial masyarakat ( tingkat pendidikan, kelembagaan dll. )
c. Ekonomi masyarakat ( mata pencaharian, tingkat pendapatan ) .
d. Budaya masyarakat ( adat istiadat, kebiasaan dll. ).
VIII Klasifikasi Karakteristik DAS
Karakteristik yang telah dijelaskan sebelumnya dapat diklasiIikasikan sebagai berikut :
Geometri : Panjang ( hulu hilir sungai induk)
orphometri : Lebar L/P, Luas( DAS, genangan/ sawah/ rawa/ danau menentukan volume
sedimen yang mengalir ke outlet), sistem drainase/ kerapatan alur sungai, kelerengan DAS hulu
tengah hilir (m/Km)
Pola Aliran : Dendritik, radial, retangular, trelis.
Bentuk DAS : Memanjang, radial, paralel, komplek.
Iklim : Curah hujan, suhu, kelembaban, Etp/ evapotranspirasi/ harian/ bulanan.
Landform System/ Unit Geologi/ Rock : Aluvial/ plain/ hills/ mountain/ lahar
Geomorphologi : Kondisi per Sub DAS/ order2- luas sebaran geologinya.
Soil Type/Group : Kondisi Iisik dan kimia tanah.
Slope : Kelerengan per Sub DAS.
Erosion Type : Sheet, rill, gully.
Land Cover : Kawasan hutan, luar kawasan hutan ( pertanian, perkebunan, industri, perladangan
berpindah, pemukiman/ perkotaan/ pedesaan, penggunaan lainnya).
Sosial Ekonomi : Populasi/jenis kelamin, kepadatan, pertumbuhan, angkatan kerja, mata
pencaharian per Sub DAS, tingkat pendapatan, kepemilikan lahan/ land status, sarana/ prasarana/
pendidikan/ perekonomian/ sosial.
Kelembagaan : Instansi yang ada, kelompok tani, Instansi lain yang terkait.
Tata Air : %inggi muka air sungai, debit aliran sungai, kandungan lumpur/ sedimen.
IX Teori tentang Karakteristik dan Varia-el DAS
Karakteristik dan variabel Daerah Aliran Sungai meliputi beberapa variabel yang dapat diperoleh
melalui pengukuran langsung, data sekunder, peta dan dari data penginderaan jauh. Data
meteorologi/ klimatologi diperoleh dari data sekunder. Disamping itu diperlukan pengamatan
dan pengukuran di lapangan bagi data yang membutuhkan ketelitian geometris yang tinggi.
Seyhan (1977) menyatakan bahwa karakteristik DAS dikelompokkan menjadi 2 (dua) katagori
yaitu :
1. Faktor lahan (Ground Factors) yang meliputi topograIi, tanah, geologi dan
geomorphologi.
2. Vegetasi dan penggunaan lahan.
%opograIi atau bentuk lahan mempunyai korelasi langsung terhadap aliran permukaan (runoII )
dan aliran air bumi, semakin tinggi kelerengan akan berpengaruh terhadap semakin besarnya
aliran permukaan (runoII) dan aliran air bumi. %anah, geologi dan geomorphologi dari suatu
DAS, berIungsi sebagai Iaktor kontrol terhadap besar kecilnya inIiltrasi, kapasitas penahan air
dan aliran air bumi, sedangkan vegetasi dan penggunaan lahan berIungsi sebagai penghambat,
penyimpan dan pengatur aliran permukaan dan inIiltrasi. Menurut Seyhan (1977) sistem Daerah
Aliran Sungai (watershed) dapat diamati melalui 3 (tiga) tahapan utama yaitu :
1. Sistem Input ( precipitation).
2. Sistem struktur kerja dalam DAS ( operation oI the watershed )
3. Sistem output ( runoII )
Avery (1975) dan Seyhan (1977) menyatakan bahwa karakteristik Iisik (physical characteristic)
dari suatu Daerah Aliran Sungai ( DAS ) terdiri dari :
1. Luas ( Area )
Luas DAS dapat diukur pada potret udara, peta topograIi atau dengan peta peta planimetri yang
telah didelineasi batas batas yang akan diukur luasnya, dengan menggunakan planimeter atau dot
grid atau dengan Iasilitas komputer GIS.
2. Bentuk ( Shape )
Bentuk DAS mempunyai pengaruh pada pola aliran sungai dan ketajaman puncak discharge
banjir. Bentuk daerah aliran sungai ini sulit untuk dinyatakan secara kuantitatiI. Dengan
membandingkan konIigurasi basin, dapat dibuat suatu indeks yang didasarkan pada derajat
kekasaran atau circularity dari DAS.
3. Lereng ( Slope )
Kecepatan dan tenaga erosiI dari overland Ilow sangat dipengaruhi oleh tingkat kelerengan
lapangan. Untuk mengukur lereng dapat dilakukan dengan menggunakan alat Abney Level atau
clinometer. Pada potret udara pengukuran lereng dapat dilakukan dengan menggunakan slope
meter atau dengan mencari beda tinggi dengan paralaks meter.
4. Ketinggian ( Elevation ) DAS
Elevasi rata rata dan variasi ketinggian pada suatu DAS merupakan Iaktor penting yang
berpengaruh terhadap temperatur dan pola hujan, khususnya pada daerah daerah dengan
topograIi bergunung. Ketinggian suatu tempat dapat diketahui dari peta topograIi, diukur
dilapangan atau melalui Ioto udara, jika terdapat salah satu titik kontrol sebagai titik ikat.
ubungan antara elevasi dengan luas DAS dapat dinyatakan dalam bentuk hipsometrik
(ypsometric Curve).
5. Orientasi DAS (Aspect)
%ranspirasi, evaporasi dan Iaktor Iaktor yang berpengaruh pada jumlah air yang tersedia untuk
aliran sungai, seluruhnya dipengaruhi oleh orientasi umum atau arah dari DAS. Orientasi DAS
secara normal dinyatakan dalam derajat azimuth atau arah kompas seperti arah utara, timur laut,
timur dan sebagainya. %anda arah anak panah yang menunjukkan arah DAS dapat dipakai
sebagai muka DAS (Iaces). Arah aliran sungai utama dapat juga dipakai sebagai prtunjuk umum
orientasi DAS. LEE (1963) menyatakan bahwa arah DAS dapat dinyatakan sebagi azimuth dari
garis utara searah jarum jam.
6. Jaringan Sungai ( Drainage network )
Pola aliran atau susunan sungai pada suatu DAS merupakankarakteristik Iisik setiap drainase
basin yang penting karena pola aliran sungai mempengaruhi eIisiensi sistem drainase serta
karakteristik hidrograIis dan pola aliran menentukan bagi pengelola DAS untuk mengetahui
kondisi tanah dan permukaan DAS khususnya tenaga erosi.
7. Pola Aliran ( Drainage Pattern )
Bentuk pola aliran (drainage pattern) ada bermacam macam yang masing masing dicirikan
oleh kondisi yang dilewati oleh sungai tersebut. Bentuk pola aliran yang biasa dijumpai ada
delapan jenis yaitu :
- Dendritik.
- Paralel.
- %relis.
- #ectangular.
- #adial.
- Annural.
- Multibasional.
- Contorted.
Bentuk pola aliran pada sebagian besar sungai sungai di Indonesia adalah dendritik dengan
kondisi yang berbeda beda menurut batuannya.
Batuan limestone dan shale teranyam bertopograIi solusional dapat memiliki pola aliran
dendritik. Pada topograIi dengan lereng seragam, pola aliran yang terbentuk adalah dendritik
medium, sedang pada topograIi berteras kecil, pola lairan dendritik yang terbentuk adalah
dendritik halus.
8. Kerapatan Pengaliran ( Drainage Density )
Metode kuantitatiI lain dalam jaringan sungai suatu DAS adalah penentuan kerapatan aliran
(drainage density). Lynsley (1949) menyatakan bahwa jika nilai kepadatan aliran lebih kecil dari
1 mile/mile2 (0,62 Km/ Km2), DAS akan mengalami penggenangan, sedangkan jika nilai
kerapatan aliran lebih besar dari 5 mile/mile2 (3,10 Km/Km2), DAS sering mengalami
kekeringan.
9. Evapotranspirasi
Disamping karakteristik DAS yang telah disebutkan diatas, Iaktor lain yang juga penting adalah
cuaca dan iklim. Karakteristik ini meliputi curah hujan (presipitasi) dan unsur cuaca yang lain
(temperatur udara, kelembaban relatiI, angin, evaporasi dan jumlah penyinaran matahari).
10. Pusat Gravitasi DAS
Penentuan pusat gravitasi DAS ialah dengan meletakkan grid pada seluruh DAS, kemudian
dihitung secara sistematik banyaknya knot dari grid pada sumbu xi dan yi, menurut sistem
koordinat x, y.
11. Gradien Sungai
Salah satu cara menghitung gradien sungai rata rata adalah dengan slope Iaktor yang
dikembangkan oleh Benson (1962) yaitu dengan menghitung lereng saluran antara 10 dan 85
jarak dari outlet.
12. Panjang Sungai %erpanjang dan Sungai Induk
Panjang sungai terpanjang dalam DAS diukur dari outlet ke sumber asal air.
13. Variabel Vegetasi dan Penggunaan Lahan
Vegetasi memegang peranan penting dalam proses hidrologi suatu DAS yaitu intercepting hujan
yang jatung dan transpirating air yang terabsorbsi oleh akarnya . Perlakuan terhadap vegetasi
diperlukan dalam analisis hidrologi tertentu. %ipe vegetasi yang dipilih tergantung pada tujuan
analisis yang dilakukan, misalnya untuk pembuatan model pertanian, maka klasiIikasi vegetatiI
dan penggunaan detail sangat diperlukan. Untuk reboisasi, pemilihan jenis vegetasi dan
penggunaan lahan dapat kurang rinci, tetapi perbedaan tipe vegetasi di seluruh wilayah sangat
penting. Seyhan (1976) menyebutkan beberapa variabel vegetasi dan penggunaan lahan yang
digunakan untuk analisa beberapa masalah hidrologi rekayasa adalah :
O Persentase tanaman pertanian.
O Persentase rumput dan tanaman penggembalaan.
O Persentase hutan jarang.
O Persentase pemukiman dan jalan yang kedap air.
O Persentase padang rumput dan pohon pohon yang tersebar.
O Persentase lahan kosong.
O Persentase rawa dan danau.
14. Variabel %anah dan Batuan
%ipe dan distribusi tanah dalam suatu daerah aliran sungai sangat berpengaruh dalam mengontrol
aliran bawah permukaan (SubsurIace Ilow) melalui inIiltrasi. Variasi dalam tipe tanah dengan
kedalaman dan luas tertentu akan mempengaruhi karakteristik inIiltrasi dan timbunan
kelembaban tanah (soil moisture storage). Pemilihan variabel tanah juga merupakan Iungsi dari
tujuan studi, misalnya untuk mempelajari overland Ilow dalam single watershed, maka
watershed tersebut dibagi dalam zona zona menurut tipe tanah, tetapi jika untuk mempelajari
yang lebih detail lagi, maka perlu klasiIikasi tipe tanah yang detail juga, yang didasarkan pada
pembatas permukaan geologi DAS yang bersangkutan yaitu : persentase batuan permeabel,
persentase batuan kurang permeabel. Variabel lain yang perlu diperhatikan adalah kedalaman
lapisan kedap dan permeabilitas rata rata dari horizon.
15. Sosial Ekonomi dan Budaya
Data sosial ekonomi dan budaya diperoleh dari data sekunder, inIormasi sosial ekonomi dan
budaya masyarakat setempat dapat diperoleh dari statistik yang dikeluarkan oleh Pemda
setempat, mulai dari tingkat Kelurahan/ Desa, sampai dengan Kabupaten dan Propinsi.
X Eko-Hidraulik
Sejarah ekohirdolik tidak terlepas dari eksplotasi sungai, ekspolitasi itu antara lain
Koreksi sungai (#ver correction)
%ranspotasi sungai (WaterWay)
Bangunan tenaga air (ydropower Plant
Sungai termasuk salah satu wilayah keairan , sungai bisa dibagi menjadi beberapa bagian yaitu
sungai kecil, menegah dan sungai besar. Secara ekologi sungai terbagi menjadi wilyah keairan
diam atau wilayah keairan dinamis. Wilayah keairan diam misalnya danau dimana pendukung
ekosistem merupakan ekosistem yang tertutup. Sedangkan wilayah keairan mengalir merupakan
suatu ekosistem yang terbuka dengan Iactor dominan adalah wilayah air, dari hulu hingga hilir.
Sungai dapat terbagi menjadi beberapa bagian dan dapat diklasiIikasikan dengan menggunakan
zona memenjang sungai. Zona memanjang pada umumnya diawali dengan kali kecil dari mata
air didaerah pegunungan , kemudian sungai menengaha di daerah peralihan antara pegunungan
dan dataran rendah, dan selanjutnya sunngai besar pada dataran rendah sampai daerah pantai.
Dari literature pada umumnya diketemukan 3 zona sungai yaitu bagian hulu upstrem` , bagian
tengah midle-strem` dan bagian hilir downsteram` dari hilir kehulu dapat dailihat perubahan
kemiringan seperti tampak pada gambar potongan memanjang sungai juga dapat terbagi menjadi
zona melintang dimana dpat dibedakan menjadi 3 yaitu zona akuatik , zona amphibi, dan zona
teras sungai.
Sungai juga mempunyai morIologi dimana morIologi sungai menggambarkan keterpaduan
antara karakteristik abiotik dan karakteristik biotik daerah yang dilaluinya. Adapun
keseimbangan morIologi sungai dapat dibedakan menjadi 4 yaitu :
1. Keseimbangan statis (tidak ada perubahan sama sekali dalam kurun waktu tak terbatas)
2. Keseimbangan seragam, yaitu kesetimbngan dimana ada satu atau lebih Iactor penyusun
kondisi memiliki tedensi statis
3. Keseimbangan dinamis, kesetimbangan yang berbagai Iactor penyusun suatu kondisi
berubah secara bersama-sama
4. Keseimbanggan dinamis metastabil seragam, kesetimbanggan yang Iaktor berIluktuasi
secara dinamis seragam serta berubah ekstrim secara kontinu.
Seluruh komponen yang membentuk sungai memiliki skala perubahan waktu dan ruang yang
berbeda tergantung kekuatan ekologinya dan Iisik-hidrauliknya masing-masing. Perubahan skala
ruang waktu menurut kern sangatlah penting guna memahami perubahan alami yang biasa terjadi
pada sungai dan perubahan yang terjadi karena suatu aktiIitas tertentu di sungai. Sebagai contoh
adalah jika suatu sungai diluruskan maka dampak dari aktiIitas ini akan berpengaruh terhadap
seluruh komponen sungai sungai tersebut. al ini yang nantinya akan dibahas lebih lanjut pada
bahasan tentang ekohidraulik. Selain itu sungai juga akan terpengaruh pada struktur dasar sungai
yang mempengaruhi pembentukan sungai itu sendiri.
XI Eko-Hidraulika sungai
Fungsi sungai sebagai saluran eko-drainase (suatu usaha membuang /mengalirkan air kelebihan
ke sungai dengan waktu seoptimal mungkin sehingga tidak menyebabkan terjadinya masalah
kesehatan dan banjir di sungai yang terkait, maryono,2001). Selain itu juga bisa sebagi saluran
irigasi dan sebagi Iungsi ekologi dimana sebagai tempat hidupnya Ilora dan Iauna. Dengan
pengetahuan itu perlu diterapkan konsep yang menyentuh semua Iungsi sungai di atas maka
salah satunya dengan konsep eko-hidrolik dimana konsep ini mempertahankan kondisi sungai
tersebut semaksimal mungkin masih seperti semula. Dalam konsep eko-hidraulik tidak ada satu
Iactor apapun yang tidak penting. Maka diperlukan banyak data pendukung seperti data social,
Iisik hidraulik , ekologi.
Konsep hidraulik murni hanya memperhatikan dua unsure yaitu aliran air dan aliran sedimen,
sedangkan pada konsep eko-hidraulik disamping dua itu juga memperhatikan pula komponen
vegetasi.
Eko-Engineering dalam Eko-hidraulik
Dalam perkembanganya eko-hidraulik telah menghasilkan rekayasa-rekayasa baru yang dapat
digunakan dalam penyelesaian maslah keairan dengan memanIaatkan Iaktor ekologi yang ada (
misalanya menangani longsor yang ada dengan mengunkan vegetasi yang ada). Penerapan eko-
engineering dengan konsep Eko-hidraulik dapat diterapkan misalnya pada penanganan longsoran
tebing dengan melakukan penanaman bambu, rumput dan karangkungan atau perlindungan
tebing dengan menggunakan ikatan batang atau dengan batu tanah yang ada. Dan bisa juga
dengan menggunakan bending rendah pada dasr sungai dengan kayu mati yang akan membuat
turunya erosi di dasar sungai.
Konservasi dan pemeliharaan sungai integratif
Konservasi atau pemeliharaan sungai dideIinisikan sebagai upaya untuk menjaga
keberlangsungan mekanisme ekosistem sungai (perpaduan antara habitat dan organisme sungai)
secara mikro maupun secara makro dari hulu hingga hilir, sehingga sungai dapat bermanIaat dan
dimanIaatkan secara berkelanjutan. Komponen yang menjadi dasar dalam pemeliharaan sungai
terdiri dari:
a) Komponen hidraulik
Meliputi berbagai hal yang berhubungan dengan aliran air dan sedimen. Yang dominan misalnya
debit aliran, kecepatan aliran, tinggi permukaan, tekanan air, turbulensi makro, distribusi
kecepatan mikro pada lokasi tertentu dan lai-lain.dalam konsep eko hidraulik aliran bukan hanya
berhububungan energy potensial tapi juga dengan Ilora dan Iauna di sekiar sungai. Dan yang
penting juga adalah mata air disekitar sungai
b) Komponen sedimen dan morIologi sungai
semua sedimen yang ada disungai termasuk sedimen organic dan anorganik
c) Komponen ekologi
segala komponen biotic yang hidup di sungai (Ilora dan Iauna )
d) Komponen sosial
persepsi masyarakat yang ada disekitar bantaran sungai terhadap komponen-komponen di atas
Pemeliharaan sungai intergratif
1. Mempertahankan kondisi abiotik dan biotik
O dengan cara mempertahan morIologi alur sungai tersebut dengan mempertahankan liku
dan alur sungai tanpa mengubahnya, karena bentuk ini yang paling stabil
O mempertahankan komponen sedimen transport sungai
O mempertahankan vegetasi yang ada
2. #evitalisasi #estorasi sungai
adalah upaya konservasi atau pemelihraan sungai dengan cara melakukan restorasi (penerapan
eko-hidraulik)
3. koreksi bangunan-bangunan sungai skala kecil
O koreksi kontruksi perkerasan tebing sungai kecil dengan mengganti perkersan tebing
dengan batu atau cor dengan menggunkan vegetasi misalnya bamboo
O koreksi konstruksi gorong-gorong dengan cara membuat lebih landai gorong-gorong
yang berkemiringan tajam yaitu dipasang undak-undak agar ikan dapat bermigrasi
O koreksi abutmen jembatan bisa dengan cara mempelebar atau pembanguna sempadan
untuk jembatan yang lebar
4. pemeliharaan sungai dengan konsep eko-hidraulik dan penanggulangan banjir dalam konsep
eko-hidrolik penangulangan banjir secara berbais DAS. Sehingga penangulangan banjir dapat
dilakukan dengan cara konsevasi terlebih dahulu terhadap sungai itu sendiri.
Analisa Morfologi Sungai
XII Komponen Morfologi Sungai Sesayap
Sungai sesayap dikategorikan sebagai sungai aluvial di mana morIologi sungainya merupakan
hasil dari proses pengangkutan dan pengendapan partikel-partikel sedimen dari hasil gerusan
permukaan (Iloodplain deposit) dan gerusan tebing sungai ke dalam badan sungai. Letak sumber
sedimen tergantung pada iklim, vegetasi, geologi dan perilaku manusia (pembukaan lahan untuk
permukiman, pertambangan dan perkebunan).
Geometri dari alur sungai tergantung pada Ienomena hidrologi, geologi, dan sedimentasi di DAS.
Bentuk tipikal alur sungai adalah hasil dari proses alamiah yang panjang yang dilakukan oleh
interaksi yang kompleks dari beberapa variabel sehingga menghasilkan planIorm sungai yang
kita lihat sekarang ini. Variabel yang dimaksud adalah waktu, geologi, iklim, tipe dan kepadatan
vegetasi, catatan panjang debit dan angkutan sedimen di sungai, geometri bantaran sungai, debit
rata-rata, karakteristik aliran (kedalaman, kecepatan, turbulensi, dsb). Jika variabel-variabel
tersebut berada dalam kondisi relatiI konstan maka sungai akan membentuk planIorm yang
relatiI konstan pula atau mengalami kondisi yang disebut equilibrium condition. Pada kondisi ini
sungai tetap mengalami perubahan bentuk yang dinamis (quasi-quilibrium) namun perubahan
tersebut tidak ekstrim dan sangat lambat. Dalam tinjauan skala waktu geologi yang panjang,
morIologi sungai diIokuskan pada evolusi landscape yang dipengaruhi oleh iklim, base level
(Iormasi batuan di dasar sungai), dan stabilitas tektonik.
Perubahan karakteristik DAS Sesayap akibat pembukaan lahan yang terus menerus belakangan
ini mengakibatkan kondisi morIologi sungai tidak stabil. Distribusi angkutan sedimen sangat
bervariasi dalam ukuran waktu dan ruang. Debit, pola aliran, angkutan sedimen, kecepatan arus
dapat berubah dalam waktu yang singkat dan sungai secara reaktiI mengalami perubahan
planIorm. ingga kini belum ada catatan yang merekam riwayat perubahan planIorm Sungai
Sesayap, namun dari besarnya angkutan sedimen, proses sedimentasi dan erosi yang cukup
intensiI di Iloodplain dan tebing sungai terutama di ruas Sungai Malinau, dapat dikatakan
planIorm Sungai Sesayap akan terus berubah secara dinamis hingga ditemukan suatu kondisi
quasi-equilibrium yang baru. Fenomena ini dapat terlihat jika ada rekaman planIorm sungai
dalam waktu 10 hingga 100 tahun (dalam skala waktu menengah). Jika tinjauan dilakukan
dalam skala waktu yang lebih singkat lagi, maka dapat dilihat perubahan topograIi dasar sungai
(bed topography) yang tersusun dari Iormasi seperti ripple, dan dune yang ditentukan oleh variasi
debit harian dan karakteristik partikel sedimen. Mengingat usia guna inIrastruktur sungai, maka
tinjauan morIologi sungai dalam rentang waktu menengah dan singkat lebih relevan untuk
ditinjau.
Yang menjadi titik tekan dalam meninjau planIorm sungai ini adalah :
- ProIil memanjang alur sungai (longitudinal proIile)
- Karakteristik meander sungai :
O %ipe sungai (straight, meandering, braided)
O Kelengkungan
O #adius tikungan
O Frekuensi terbentuknya tikungan di sepanjang sungai
O Jarak antara meander loop
O Jarak antara Iormasi bar
- Geometri penampang sungai
- %opograIi dasar sungai
XIII Tinjauan Penampang Melintang
Secara umum alur sungai semakin ke hilir semakin melebar. Semakin ke hilir kapasitas sungai
semakin bertambah untuk mengalirkan debit dari anak-anak sungai dan catchment area di hilir.
Pada pengamatan dengan sounding yang dilakukan pada tanggal 23 Juli 2007 diketahui lebar
Sungai Sesayap di %anjung Lapang adalah sekitar 170 meter, di sekitar Jembatan Malinau
sebesar 215 m dan di depan intake lama PDAM kota sebesar 225 meter.
Pertambahan lebar sungai yang signiIikan terjadi di sekitar jalan Seluwing (sedikit ke hulu
sebelum muara Sungai Sembuak). Kedua tebing sungai sebelah kiri dan kanan mengalami erosi.
Fenomena tersebut dapat disebabkan oleh masuknya debit tambahan dari Sungai Sembuak
sehingga badan Sungai Sesayap melebar untuk menambah kapasitas sungai. Selain hal tersebut,
interaksi gaya hidraulik dan proses erosi-sedimentasi di sungai juga sebagai salah satu penyebab.
PlanIorm sungai yang menikung mengakibatkan vektor kecepatan di permukaan mengarah ke
tebing luar disertai dengan naiknya elevasi muka air di tebing luar, sedangkan di bagian dasar
sungai vektor kecepatan menunjukkan arus menjauhi tebing karena kelebihan tekanan
hidrostatis. Mekanisme ini melahirkan arus sekunder di tebing luar.
Arus sekunder atau helical Ilow menggerus dasar tebing sehingga stabilitas lereng terganggu,
kemudian terjadi keruntuhan tebing. Produk runtuhan tebing di dorong oleh helical Ilow ke arah
tengah sungai dan terdeposisi di tengah sungai bersama-sama dengan hasil angkutan sedimen
dari hulu. Sedimentasi di tengah bentang ini dapat disebabkan oleh landainya slope dasar sungai
di sekitar Malinau atau dapat pula karena lokasinya yang dekat dari muara sungai Sembuak .
asil sedimentasi ini membentuk diamond bar.
Diamond bar tumbuh perlahan-lahan seiring dengan terus bertambahnya sumbangan sedimen
dari hulu. Formasi bar ini saat ini baru terlihat jika muka air sedang turun. %umbuhnya mid-
channel bar memicu sungai melakukan koreksi terhadap batimetrinya untuk mempertahankan
kapasitas pengalirannya, koreksi dilakukan dalam bentuk pelebaran sungai melalui gerusan
tebing kiri dan kanan sungai. Gerusan terhadap dasar sungai kemungkinan tidak terjadi karena
diperkirakan terdapat Iormasi bedrock di dasar sungai. Diamond bar yang lebih besar terlihat di
lokasi sedikit ke hilir Malinau dan di hulu %anjung Lapang. Di sekitar %anjung Lapang, lebar
sungai tampak lebih seragam, di tebing kiri vegetasi masih cukup padat untuk melindungi tebing
dari gerusan, di tebing kanan perumahan penduduk sudah lebih mendominasi dan tanaman asli
telah berkurang sehingga lebih rawan gerusan.
#uas %anjung Lapang adalah bagian dari kurvatur tikungan beradius cukup besar, di lokasi ini
aliran sudah mencapai kondisi axi-simetris dimana arah dan magnitud aliran dan angkutan
sedimen telah konstan baik ditinjau melintang maupun memanjang sungai. elical Ilow tidak
terjadi lagi (decay), dan gerusan yang terjadi secara setempat di tebing sebelah kanan lebih
disebabkan properties tanah.
XIV Karakteristik Meander
Bagian hulu sungai selalu ditandai dengan kecepatan aliran yang tinggi, endapan sedimen
berukuran besar di dasar dan tepi sungai dan kemiringan dasar saluran (slope) yang besar.
%ingginya kecepatan di bagian hulu tidak terlepas dari bentuk planIorm sungai yang cenderung
lurus sehingga resistensi sungai terhadap arus cukup rendah. Selain itu kemiringan/ slope dasar
sungai yang curam juga menyebabkan kecepatan aliran tinggi.
Bagian ruas tengah (middlestream) hingga ke hilir (downstream) sungai umumnya berkelok-
kelok atau bermeander. Semakin ke hilir, kecepatan aliran semakin berkurang sehingga ukuran
sedimen yang terangkut pun semakin kecil. Dengan membentuk planIorm meander, secara
alamiah sungai telah meningkatkan resistensi terhadap aliran sehingga mengurangi intensitas
gerusan terhadap tebimg dan dasar sungai. Meander membuat slope dasar sungai menjadi lebih
landai dan kecepatan aliran secara umum berkurang. %erbentuknya meander di sungai dapat
dijelaskan sebagai hasil interaksi antara pola aliran, pengangkutan sedimen, serta karakteristik
sedimen di dasar sungai.
Dengan membayangkan suatu sungai berplanIorm lurus (straight channel), gravitasi mendorong
air mengalir kearah hilir yang besarnya berbanding lurus dengan kemiringan dasar saluran. Saat
debit mulai rendah (kondisi setelah banjir) sedimen memilih mengendap di zona penampang
sungai yang kecepatan alirannya rendah yakni di dasar tebing kiri dan kanan .
Perlahan-lahan bar mulai tumbuh seiring dengan mengendapnya sedimen yang terangkut dari
hulu. Setelah ukuran bar cukup besar, aliran terdeIleksi ke sisi yang lain dari sungai dengan
vektor kecepatan yang terkonsentrasi sehingga kapasitas angkut sedimen menjadi tinggi di sisi
tersebut dan mengakibatkan gerusan di sisi tersebut.
Kecepatan arus yang terkonsentrasi ke arah tebing mengakibatkan gaya sentriIugal (Fc) yang
kemudian mengangkat elevasi muka air. Naiknya elevasi muka air dalam arah melintang.
Pertambahan elevasi muka air menimbulkan gaya hidrostatis (Fp) yang berlawanan arah dengan
Fc. Di permukaan sungai nilai Fc lebih besar dari Fp sehingga arus mengalir searah Fc ke arah
luar, sedangkan di bagian bawah ( semakin mendekati dasar sungai nilai Fp semakin besar), Fp
lebih besar dari Fc sehingga aliran di bagian bawah bergerak ke arah dalam. Mekanisme ini
menghasilkan helical Ilow.
elical Ilow mulai menggerus dasar tebing luar sehingga stabilitas tebing luar terganggu,
kemudian terjadi keruntuhan dan gerusan terhadap tebing luar menghasilkan planIorm cekungan
(concave bank). asil gerusan tebing terangkut ke bagian hilir cekungan dan mengendap
membentuk Iormasi bar yang baru tepat di ujung hilir cekungan. Adanya bar tersebut
mengakibatkan vektor kecepatan kembali terdeIleksi ke arah tebing yang lain. Kemudian
mekanisme yang sama terulang lagi hingga terbentuk cekungan baru dan bar baru kemudian alur
sungai mulai tampak berkelok.
Akibat gerusan terus menerus, cekungan bermigrasi dalam arah lateral dan produk gerusannya
mengendap di sisi yang lain (lateral migration oI bend) sehingga mempertegas kelengkungan
meander sungai.
Menurut PlanIormnya, sungai dikategorikan sebagai berikut :
Pertama, sungai lurus (straight river) yang kelengkungan (sinuosity) tikungannya kurang dari
1,5.
Kedua, sungai braided yang ditandai dengan banyaknya bar di tengah sungai sehingga terbentuk
multi-channel saat kondisi muka air rendah.
Ketiga, sungai bermeander yang mempunyai kelengkungan tikungan lebih dari 1,5.
Geometri tikungan dicirikan oleh radius, amplitudo, dan panjang gelombang tikungan (valley
wavelength). Kelengkungan (sinuosity) adalah jarak antara dua titik diukur mengikuti alur
sungai (Ls) dibagi dengan jarak lurus antara kedua titik tersebut (Lv). Sinuosity Ls/Lv.