Anda di halaman 1dari 13

FILSAFAT DAN ILMU

1. 2. 3.

4.

5.

Filsafat dan Ilmu adalah dua kata yang saling terkait. Kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Perkembangan Ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Pada perkembangan selanjutnya ilmu terbagi dalam beberapa disiplin yang membutuhkan pendekatan, sifat, obyek, tujuan dan ukuran yang berbeda Disatu sisi ilmu berkembang secara cepat, disisi lain tidak ada orang yg bisa menghambat kemajuan ilmu pengetahuan. Sumber ilmu yang hakiki bersumber dari Tuhan. Namun, kadang kadang kala agama yang terlalu kaku kadang kala dapat menghambat perkembangan ilmu.

ILMU SEBAGAI OBYEK KAJIAN FILSAFAT


1.

2.

3.

Pada dasarnya setiap ilmu memiliki 2 macam obyek, yaitu obyek materi dan obyek formal. Obyek materi filsafat adalah segalam yang ada. Obyek formalnya filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada. Filsafat sebagai induk ilmu. Tetapi juga mengalami spesialisasi. Perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja membuat ilmu semakin jauh dari induknya tetapi juga memunculkan arogansi ilmu dengan lainnya. Ilmu sebagai obyek kajian filsafat sepatutnya mengikuti alur filsafat.

PENGERTIAN FILSAFAT ILMU


1.

2.

3.

4.

5.

Upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lenkap tentang seluruh realitas. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan sumbernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya. Penyilidikan kritis atas pengandaian dan pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.

1.

2.

3.

4.

5.

Pythagoras (572-497 SM) adalah filsuf yang pertama yang menggunakan kata filsafat. Dia mengatakan manusia dibagi dalam 3 tipe, mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan, dan mereka yang mencintai kebijaksanaan (The pursuit of mental excellence). Plato (427 247 SM) mengatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan kenyataan atau kebenaran absolut. Aristoteles (384 332 SM) bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam dari wujud. Menurutnya setiap gerak di alam ini digerakkan oleh yang lain. Al-Farabi ( 950 M) adalah filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya. Immanuel Kant (1724 1804 M) Filsafat adalah ilmu dasar segalam pengetahuan yang mencakup 4 persoalan. (metafisika, etika, agama, dan antropologi).

PENGERTIAN ILMU
1.

2.

Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur, dan dibuktikan. (bandingkan dengan iman). Ciri hakiki lainnya dari ilmu ialah metodologi sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan berfikir metodis, tertata rapih. Alat bantunya adalah terminologi ilmiah.

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN


SUWANDI
Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih

Disampaikan pada Kelas S2 Uncen pada t Tahun 2009

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN

Sains & Saintis


Ilmu pengetahuan (sains) sering disalah-artikan dalam hal netralitasnya terhadap sistem nilai. Dari segi esensinya, semua sains bersifat universal. Sehingga, tidak ada sains yang memihak, karena bebas nilai. Yang tidak bebas nilai adalah saintisnya. Mengapa?. Karena tata nilai yang dianut oleh saintis - tidak lepas dari pikiran/argumentasi populer, bukan pada argumentasi ilmiahnya.

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN

Sains & Saintis


Demi kesahihan argumentasi ilmiah,
tata nilai - harus dilepaskan dalam pemaparan yang bersifat teknis ilmiah.

Saintis harus berpijak pada rujukan yang dapat diterima oleh semua orang.
Karena itu, hal penting yang perlu dilakukan adalah

mengilmiahkan saintis seperti yang kita lakukan hari ini.

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN

Pengetahuan Tidak Bisa Salah atau Keliru


Pengetahuan dan Keyakinan, keduanya merupakan sikap mental seorang (saintis) terkait dengan objek tertentu. Obyek tertentu yang mana?, yaitu yang disadari sebagai SESUATU YANG ADA atau SESUATU YANG TERJADI ontologi.

Mengapa pengetahuan tidak bisa salah atau keliru?.

Pengetahuan Tidak Bisa Salah atau Keliru.


Karena, begitu suatu pengetahuan teruji salah atau keliru [karena temuan-temuan yang terbaru-kan], sejak itu pengetahuan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai pengetahuan.

Itu berarti, setiap temuan yang ter-baru-kan, sesungguhnya segera menggantikan peran pengetahuan yang teruji salah sebelumnya. Karena itu, pengetahuan yang dimaksud selalu berarti pengetahuan tentang kebenaran.

Pengetahuan Tidak Bisa Salah atau Keliru


contoh:

seseorang tahu bahwa Q-TA adalah benar, jika dan hanya jika (sebagai syarat kecukupan) kita tahu bahwa Q-TA memang benar. Begitu pula sebaliknya jika Q-TA salah. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan sekedar sikap mental, karena sikap pernyataan benar atau proposisi harus selalu mengandung kebenaran. Karena itu, sikap pernyataan benar selalu punya acuan pada realitas. Bagaimana - kita menyatakan kebenaran seekor ayam?, sebuah kursi?, sebuah meja?...termasuk formula ekonomi pr anda?

Ilmu Pengetahuan selalu Bebas Nilai


Bebas nilai merupakan tuntutan bagi ilmu pengetahuan, agar pengembangan ilmu tersebut tanpa harus memperhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan itu sendiri. Karena itu, ilmu pengetahuan tidak dapat dikembangkan atas pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan.

Ini berarti, ilmu pengetahuan harus dikembangkan


hanya semata-mata berdasarkan perkembangan ilmiah murni (ilmu dasarnya).

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN

Ilmu Pengetahuan selalu Bebas Nilai


Ilmu pengetahuan pada dirinya sendiri peduli terhadap nilai-nilai tertentu, yaitu nilai kebenaran dan kejujuran.
Inilah pengertian bebas nilai, yaitu bebas dari nilai lain di luar nilai-nilai yang diperjuangkan oleh ilmu pengetahuan.

Sedangkan tuntutan bebas nilai itu sendiri dimaksudkan agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi kebenaran universal, dan tidak tunduk kepada nilai dan pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan.