Anda di halaman 1dari 36
PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 02 TAHUN 2007 TENTANG PENETAPAN JUMLAH DAN TATA CARA PENGISIAN

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM

NOMOR

02

TAHUN 2007

TENTANG

PENETAPAN JUMLAH DAN TATA CARA PENGISIAN KEANGGOTAAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA YANG DIBENTUK SETELAH PEMILIHAN UMUM TAHUN 2004

KOMISI PEMILIHAN UMUM,

Menimbang : a. bahwa ketentuan dalam Pasal 108 ayat (5) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Anggota MPR, DPR, DPD dan DPRD, menyatakan bahwa penetapan dan tatacara pengisian anggota DPRD Provinsi/ Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah pemilihan umum 2004 diatur dalam Undang-Undang pembentukan Provinsi/ Kabupaten/Kota;

b. bahwa Undang-Undang pembentukan Provinsi/Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah pemilihan umum 2004 tidak mengatur mengenai penetapan dan tatacara pengisian Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota;

c. bahwa berdasarkan hal tersebut pada huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum tentang penetapan jumlah dan tatacara pengisian keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah pemilihan umum tahun 2004;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4277);

2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Pemusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Rakyat Derah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 92, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4310);

3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4721);

- 2 -

4. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 675 Tahun 2003 tentang Tatacara Pencalonan Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota;

5. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 08 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, oleh Panitia Pemungutan Suara, Panitia Pemilihan Kecamatan, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, Komisi Pemilihan Umum Provinsi, dan Komisi Pemilihan Umum;

6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 25 Tahun 2004 tentang Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum, Tatacara Penetapan Perolehan Kursi dan Calon Terpilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota;

7. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 65 Tahun 2005 tentang Perubahan Kelima Atas Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 44 Tahun 2004 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Dalam Pemilihan Umum Tahun 2004;

8. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 01 Tahun 2005 tentang Tatacara Verifikasi Persyaratan Calon Penggantian Antar Waktu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota;

Memperhatikan

:

1. Rapat dengar pendapat Komisi II DPR RI dengan KPU tanggal 5 Maret 2007;

2. Surat Menteri Sekretaris Negara Nomor : B.86/M.Sesneg/D- 4/3/2007 tanggal 13 Maret 2007;

3. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor : 24/SK/KPU/TAHUN 2005 tentang Penunjukkan Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum untuk Menandatangani Keputusan Komisi Pemilihan Umum;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM TENTANG PENETAPAN JUMLAH DAN TATA CARA PENGISIAN KEANGGOTAAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DERAH PROVINSI DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA YANG DIBENTUK SETELAH PEMILIHAN UMUM 2004.

- 3 -

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :

1. Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Pemilihan Umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945.

2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten pada Provinsi atau Kabupaten induk yang selanjutnya disebut DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk, adalah DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten yang keanggotaanya dipilih melalui Pemilihan Umum Tahun 2004

3.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota pada Provinsi atau Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Pemilihan Umum Tahun 2004 yang selanjutnya disebut DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, adalah DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang pengisian keanggotaannya dilakukan berdasarkan hasil Pemilihan Umum Tahun

2004.

3.

Komisi Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut KPU adalah lembaga yang bersifat nasional, tetap dan mandiri, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.

4.

Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota yang selanjutnya disebut KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota adalah penyelenggara Pemilihan Umum di Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.

5.

Provinsi atau Kabupaten/Kota baru adalah Provinsi atau Kabupaten/Kota yang dibentuk setelah Pemilihan Umum 2004, dan wilayahnya meliputi sebagian Kabupaten/Kota atau Kecamatan dari Provinsi atau Kabupaten/Kota induk sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi atau Kabupaten/Kota.

6.

Provinsi atau Kabupaten/Kota induk adalah Provinsi atau Kabupaten/Kota yang sebagian Kabupaten/Kota atau kecamatannya tidak menjadi bagian wilayah Provinsi atau Kabupaten/Kota baru.

7.

Pimpinan Partai Politik adalah Dewan Pimpinan Partai Politik di Provinsi atau Kabupaten/Kota yaitu Ketua dan Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah/Dewan Pimpinan Wilayah dan Dewan Pimpinan Cabang yang selanjutnya disingkat DPD/DPW, dan DPC atau sebutan lainnya yang setara di Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai kewenangan berdasarkan AD dan ART Partai Politik yang bersangkutan.

8.

Calon Tambahan adalah nama-nama calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru yang tidak tercantum dalam Daftar Calon Anggota DPRD

- 4 -

Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota induk yang diusulkan oleh Pimpinan Partai Politik sebagai tambahan pada Daftar Calon Baru untuk memenuhi jumlah maksimum calon di daerah pemilihan.

9. Daftar Calon Baru adalah daftar calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru yang susunannya terdiri atas nama Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah atau bersedia pindah, nama calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah atau bersedia pindah, dan nama calon tambahan untuk tiap daerah pemilihan.

10.

Penggantian Anggota DPRD Provinsi induk adalah penggantian terhadap Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru sebagai akibat dibentuknya Provinsi baru yang wilayah Kabupaten/Kota-nya dalam pelaksanaan Pemilu Anggota DPRD Provinsi induk tahun 2004 tergabung dalam suatu daerah pemilihan yang diwakili oleh Anggota DPRD Provinsi induk yang bersangkutan dan berdasarkan undang-undang pembentukan Provinsi seluruh atau sebagian Kabupaten/Kota pada daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Provinsi baru, dan nama calon pengganti diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk yang tidak bersedia pindah atau nama calon yang berasal dari dafatar calon Anggota DPRD Provinsi induk tahun 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain di Provinsi induk yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan kembali daerah pemilihan di Provinsi induk.

11.

Penggantian Anggota DPRD Kabupaten induk adalah penggantian terhadap Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagai akibat dibentuknya Kabupaten/Kota baru yang wilayah kecamatannnya dalam pelaksanaan Pemilu Anggota DPRD Kabupaten induk tahun 2004 tergabung dalam suatu daerah pemilihan yang diwakili oleh Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersangkutan dan berdasarkan undang-undang pembentukan Kabupaten/Kota seluruh atau sebagian kecamatan pada daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, dan nama calon pengganti diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang tidak bersedia pindah atau nama calon yang berasal dari dafatar calon Anggota DPRD Kabupaten induk tahun 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain di Kabupaten induk yang memperoleh tambahan/ titipan kursi sebagai akibat penataan kembali daerah pemilihan di Kabupaten induk.

12.

Saksi adalah anggota Partai Politik yang berdasarkan surat mandat yang ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris Partai Politik ditugaskan untuk menghadiri, menyaksikan dan mengajukan keberatan terhadap proses pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru yang dilakukan dalam rapat pleno KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk.

13.

Panitia Pengawas adalah panitia yang dibentuk dan diangkat oleh KPU atau KPU Provinsi induk untuk mengawasi pelaksanaan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota pada Provinsi atau Kabupaten/Kota baru.

 

Pasal 2

(1)

Pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru untuk pertama kali didasarkan atas hasil Pemilihan Umum 2004.

(2)

Pengisian

keanggotaan

DPRD

Provinsi

atau

DPRD

Kabupaten/Kota

baru,

dilaksanakan oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk.

- 5 -

Pasal 3

Seorang calon Anggota DPRD Provinsi, atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota hanya dapat dicalonkan pada satu lembaga perwakilan rakyat, yaitu DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota serta hanya mewakili satu daerah pemilihan.

(1)

(2)

(1)

(2)

Pasal 4

Daerah Pemilihan Anggota DPRD Provinsi adalah Kabupaten/Kota atau gabungan Kabupaten/Kota sebagai daerah pemilihan.

Daerah Pemilihan Anggota DPRD Kabupaten/Kota adalah Kecamatan atau gabungan Kecamatan sebagai daerah pemilihan.

Pasal 5

Jumlah kursi DPRD Provinsi ditetapkan sekurang-kurangnya 35 (tiga puluh lima) kursi dan sebanyak-banyaknya 100 (seratus) kursi.

Jumlah kursi DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) kursi dan sebanyak-banyaknya 45 (empat puluh lima) kursi.

Pasal 6

Jumlah kursi DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, ditetapkan berdasarkan jumlah penduduk hasil pendaftaran pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan (P4B) Pemilihan Umum Tahun 2004.

Pasal 7

Partai Politik yang berhak mengajukan calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota pada Provinsi atau Kabupaten/Kota baru adalah Partai Politik yang memperoleh kursi, berdasarkan hasil perhitungan perolehan kursi yang ditetapkan oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk.

BAB

I

PENYELENGGARA PENGISIAN KEANGGOTAAN DPRD PROVINSI DAN DPRD KABUPATEN/KOTA

Bagian Pertama

Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota

Pasal 8

(1)

KPU memimpin penyelenggaraan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota baru.

(2)

KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota induk melaksanakan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota baru.

- 6 -

Pasal 9

Dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk bertugas :

1. Mengajukan calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru kepada KPU, atau calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru kepada KPU Provinsi;

2. Menyusun dan menetapkan jadwal pelaksanaan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

3. Menyampaikan usul penetapan daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru kepada KPU;

4. Menetapkan hasil suara sah tiap daerah pemilihan yang diperoleh tiap Partai Politik dan tiap calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota induk yang bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru dari masing Partai Politik;

5. Menetapkan bilangan pembagi pemilih (BPP) untuk tiap daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, berdasarkan jumlah seluruh suara sah Partai Politik dibagi jumlah kursi yang dipilih;

6. Menetapkan jumlah kursi yang diperoleh masing-masing Partai Politik berdasarkan jumlah perolehan suara sah masing-masing Partai Politik untuk tiap daerah pemilihan pada Propinsi atau Kabupaten/Kota baru dibagi dengan BPP;

7. Meneliti kelengkapan pemenuhan syarat calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

8. Menyusun, menetapkan dan mengumumkan Daftar Calon Baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

9. Menerima dan menindak lanjuti keberatan masyarakat terhadap Daftar Calon Baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

10. Menetapkan dan menyampaikan pemberitahuan nama calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru kepada pimpinan Partai Politik dan tembusan kepada calon yang bersangkutan;

11. Menyampaikan nama-nama calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur di Provinsi baru atau kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota di Kabupaten/Kota baru untuk diresmikan keanggotaannya;

12. Menetapkan rencana kebutuhan anggaran pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru untuk diusulkan kepada penjabat Gubernur atau penjabat Bupati/Walikota;

13. Menyampaikan laporan penyelenggaran kegiatan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru kepada KPU.

- 7 -

Bagian Kedua

Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota

Pasal 10

Dalam melaksanakan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, KPU Provinsi atau Kabupaten/Kota induk dibantu oleh Sekretariat KPU Provinsi atau Sekretariat KPU Kabupaten induk.

Pasal 11

(1) Sekretaris KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk dalam membantu tugas KPU Provinsi atau Kabupaten/Kota induk melaksanakan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Sekretaris Jenderal KPU.

(2)

Dalam melaksanakan tugasnya Sekretaris KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk secara operasional bertanggung jawab kepada KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk.

Pasal 12

Dalam membantu tugas KPU Provinsi dan KPU Kabupaten induk melaksanakan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Sekretariat KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk menyelenggarakan fungsi :

a. penyusunan program dan anggaran pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

b. pemberian pelayanan teknis pelaksanaan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

c. pemberian pelayanan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, anggaran dan perlengkapan.

d. perumusan dan penyusunan penyelesaian masalah hukum dan sengketa hukum.

e. pemberian dan pelayanan informasi, partisipasi masyarakat dan penyelenggaraan hubungan masyarakat.

f. pengelola dan pemelihara data pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

g. pengelola logistik dan distribusi barang/jasa keperluan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

h. pelaksana kerjasama antar lembaga.

i. penyusun laporan penyelenggaraan kegiatan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota induk.

Bagian Ketiga

Panitia Pengawas

Pasal 13

- 8 -

(1) Dalam rangka mengawasi pelaksanaan pengisian keanggotan DPRD Provinsi baru, dibentuk Panitia Pengawas di Provinsi induk yang bersifat ad hoc oleh KPU. (2) Dalam rangka mengawasi pelaksanaan pengisian keanggotan DPRD Kabupaten/ Kota baru, dibentuk Panitia Pengawas di Kabupaten induk yang bersifat ad hoc KPU Provinsi.

(3) Panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dibentuk paling lambat 1 (satu) bulan sebelum KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk menetapkan jadwal pelaksanaan pengisian keanggotan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

(4) Panitia pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berakhir masa keanggotaannya paling lambat 1 (satu) bulan terhitung sejak penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

Pasal 14

(1) Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), beranggotakan 3 (tiga) orang yang berasal dari kalangan professional yang memiliki kemampuan melakukan pengawasan, dan tidak menjadi anggota Partai Politik.

(2) Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Psal 13 ayat (2), beranggotakan 3 (tiga) yang berasal dari kalangan professional yang memiliki kemampuan melakukan pengawasan, dan tidak menjadi anggota Partai Politik.

Pasal 15

(1)

Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/ Kota baru, terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota dan anggota.

(2)

Ketua Panitia Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipilih dari dan oleh anggota.

(3)

Setiap anggota Panitia Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai hak suara yang sama.

Pasal 16

Syarat calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, adalah :

a. warga negara Indonesia;

b. berusia paling rendah 35 (tiga puluh lima) tahun;

c. setia kepada Pancasila sebagai dasar negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;

d. memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang yang berkaitan dengan pengawasan;

e. berpendidikan paling rendah S-1;

f. berdomisili di wilayah Provinsi baru untuk Panitia Pengawas Pengisian Keanggotaan DPRD Provinsi baru, dan di wilayah Kabupaten/Kota baru untuk Panitia Pengawas Pengisian Keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru;

g. sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemerksaan kesehatan menyeluruh dari rumah sakit;

- 9 -

h. tidak pernah menjadi anggota Partai Politik yang dinyatakan secara tertulis dalam surat pernyataan yang sah atau sekurang-kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) tahun tidak lagi menjadi anggota Partai Politik yang dibuktikan dengan surat keterangan dari pengurus Partai Politik yang bersangkutan;

i. tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

j. tidak sedang menduduki jabatan politik, jabatan struktural, dan jabatan fungsional dalam jabatan negeri;

k. bersedia bekerja penuh waktu ; dan

l. bersedia tidak menduduki jabatan di pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN)/badan usaha milik daerah (BUMD), selama masa keanggotaan.

Pasal 17

(1) Dalam pembentukan Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), KPU dibantu oleh KPU Provinsi induk untuk menyeleksi 6 (enam) nama calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru.

(2)

Dalam pembentukan Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/ Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2), KPU Provinsi dibantu oleh KPU Kabupaten induk untuk menyeleksi 6 (enam) nama calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru.

Pasal 18

(1) KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, melaksanakan tugasnya secara terbuka dengan melibatkan partisipasi masyarakat, dan dapat dibantu oleh atau berkoordinasi dengan lembaga yang memiliki kompetensi pada bidang yang diperlukan.

(2) Untuk memilih calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk melakukan tahapan kegiatan :

a. mengumumkan pendaftaran calon anggota Panitia Pengawas sekurang- kurangnya pada 2 (dua) media massa cetak harian lokal selama 1 (satu) hari;

b. menerima pendaftaran calon anggota Panitia Pengawas dalam waktu paling lambat 6 (enam) hari kerja terhitung sejak pengumuman terakhir;

c. melakukan penelitian administrasi calon anggota Panitia Pengawas dalam waktu paling lambat 5 (lima) hari kerja;

d. mengumumkan hasil penelitian administrasi calon anggota Panitia Pengawas dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja;

e. melakukan seleksi tertulis calon anggota Panitia Pengawas dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak pengumuman hasil penelitian sebagaimana dimkasud pada huruf d;

f. mengumumkan daftar nama calon anggota Panitia Pengawas yang lulus seleksi tertulis sekurang-kurangnya pada 2 (dua) media massa cetak harian lokal selama 1 (satu) hari untuk mendapat masukan dan tanggapan masyarakat dalam waktu paling lama 5 (lima) hari kerja;

g. melakukan wawancara dengan calon anggota Panitia Pengawas, termasuk mengklarifikasi masukan dan tanggapan masyarakat dalam waktu paling lama 5 (lima) hari kerja; dan

- 10 -

h. mengajukan 6 (enam) nama calon anggota Panitia Pengawas kepada KPU untuk pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru, atau kepada KPU Provinsi untuk pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru. (3) Dalam mengumumkan daftar nama calon anggota Panitia Pengawas yang lulus seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f, harus dicantumkan alamat kantor KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk, serta permintaan kepada masyarakat agar memberikan tanggapan terhadap calon anggota Panitia Pengawas secara tertulis dengan disertai identitas diri pemberi tangapan.

(4) Wawancara dengan calon anggota Panitia Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g, dilakukan dengan tanya jawab mengenai penyelenggaraan Pemilu dan manajemennya, system politik, peraturan perundang-undangan bidang politik, integritas diri termasuk klarifikasi atas tanggapan masyarakat yang disampaikan dengan idnetitas yang lengkap/jelas.

Pasal 19

(1) Pengajuan nama calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru kepada KPU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf h, disusun berdasarkan abjad disertai dengan berkas administrasi tiap-tiap calon Panitia Pengawas, dalam waktu paling lambat 2 (dua) kerja terhitung sejak KPU Provinsi induk memutuskan nama calon anggota Panitia Pengawas.

(2) Pengajuan nama calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru kepada KPU Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf h, disusun berdasarkan abjad disertai dengan berkas administrasi tiap-tiap calon Panitia Pengawas, dalam waktu paling lambat 2 (dua) kerja terhitung sejak KPU Kabupaten/Kota induk memutuskan nama calon anggota Panitia Pengawas.

(3) KPU melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru, sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(4) KPU Provinsi melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru, sebagaimana dimaksud pada ayat (2.)

(5)

KPU menyusun peringkat calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru berdasarkan hasil uji kelayakan dan kepatutan, sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(6)

KPU Provinsi menyusun peringkat calon anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru berdasarkan hasil uji kelayakan dan kepatutan, sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

Pasal 20

(1) KPU menetapkan 3 (tiga) peringkat teratas dari 6 (enam) nama calon sebagai anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (5).

(2)

KPU Provinsi menetapkan 3 (tiga) peringkat teratas dari 6 (enam) nama calon sebagai anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (6).

- 11 -

(3)

Anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan KPU.

(4)

Anggota Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan dengan Keputusan KPU Provinsi.

Pasal 21

(1)

Tugas dan wewenang Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, adalah :

a. Mengawasi penetapan hasil suara sah tiap daerah pemilihan yang diperoleh tiap Partai Politik dan tiap calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota induk yang pindah atau bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru dari masing Partai Politik;

b. Mengawasi penetapan jumlah kursi yang diperoleh masing-masing Partai Politik berdasarkan jumlah perolehan suara sah masing-masing Partai Politik untuk tiap daerah pemilihan pada Propinsi atau Kabupaten/Kota baru;

c. Mengawasi penelitian kelengkapan pemenuhan syarat calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

d. Mengawasi penyusunan, penetapan dan pengumuman Daftar Calon Baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

e. Mengawasi penetapan calon terpilih Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru;

Provinsi atau DPRD

f. Mengawasi penggantian Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah dan/atau bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

g. Menerima laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

h. Menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk, untuk ditindaklanjuti;

i. Meneruskan temuan dan laporan yang mengandung unsur tindak pidana kepada instansi yang berwenang;

j. Menyelesaikan sengketa yang timbul dalam pelaksanaan pengisian kenggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

(2)

Kewajiban Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, adalah :

a. bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya;

b. menerima dan menindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru;

c. menyampaikan laporan kegiatan pengawasan pengisian kenggotaan DPRD Provinsi baru kepada KPU, Guberrnur dan DPRD Provinsi induk, dan laporan

- 12 -

kegiatan pengisian kenggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru kepada KPU Provinsi, Bupati, dan DPRD Kabupaten induk.

Bagian Keempat

Sekretariat Panitia Pengawas

Pasal 22

Dalam menjalankan tugasnya Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru dibantu oleh Sekretariat.

Pasal 23

(1) Sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru masing-masing dipimpin oleh kepala sekretariat yang berasal dari pegawai negeri sipil yang memnuhi persyaratan.

(2) Kepala sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru bertanggung jawab kepada Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru, dan kepala sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru bertanggung jawab kepada Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru.

(1)

Pasal 24

Kepala sekretariat dan pegawai sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru, diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Provinsiinduk atas usul Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru.

(2) Kepala sekretariat dan pegawai sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru diangkat dan diberhentikan oleh Bupati Kabupaten induk atas usul Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru.

(3) Pegawai sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru dan sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berasal dari pegawai negeri sipil,

(4)

Jumlah pegawai sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru dan sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/ Kota baru sebagaimana dimaksud pada ayat (3), paling banyak 5 (lima) orang.

Pasal 25

Dalam membantu tugas Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau sekretariat Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru, menyelenggarakan fungsi :

a. penyusunan program dan anggaran pengawasan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

- 13 -

b. pemberian pelayanan teknis pelaksanaan pengawasan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

c. pemberian pelayanan administrasi yang meliputi ketatausahaan, kepegawaian, anggaran dan perlengkapan.

d. perumusan dan penyusunan penyelesaian masalah hukum dan sengketa hukum.

e. pemberian dan pelayanan informasi, partisipasi masyarakat dan penyelenggaraan hubungan masyarakat.

f. pengelola dan pemelihara data pengawasan dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

g. pengelola logistik keperluan pengawasan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru.

h. pelaksana kerjasama antar lembaga.

i. penyusun laporan penyelenggaraan kegiatan pengawasan dan pertanggungjawaban pelaksanaan pengawasan dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru oleh Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau Panitia Pengawas pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru.

BAB II

KEANGGOTAAN DAN DAERAH PEMILIHAN

Bagian Pertama Keanggotaan

Pasal 26

(1) Keanggotaan DPRD Provinsi baru terdiri dari :

a. Anggota DPRD Provinsi induk yang dalam Pemilihan Umum 2004 dicalonkan dan terpilih menjadi Anggota DPRD Provinsi induk yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kabupaten/Kotanya dalam daerah pemilihan tersebut seluruhnya menjadi bagian wilayah Provinsi baru atau yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kabupaten/Kotanya dalam daerah pemilihan tersebut tidak seluruhnya menjadi wilayah Provinsi baru dan bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru;

b. Anggota DPRD Provinsi yang ditetapkan berdasarkan perimbangan hasil perolehan suara Partai Politik peserta Pemilihan Umum 2004, dan diambilkan dari nama- nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kabupaten/Kotanya dalam daerah pemilihan tersebut seluruhnya menjadi wilayah Provinsi baru, atau yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kabupaten/Kotanya dalam daerah pemilihan tersebut tidak seluruhnya menjadi wilayah Provinsi baru dan bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru;

(2) Keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru terdiri dari :

a. Anggota DPRD Kabupaten induk yang dalam Pemilihan Umum 2004 dicalonkan dan terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten induk yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kecamatannya dalam daerah pemilihan tersebut seluruhnya menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru atau yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kecamatannya dalam daerah pemilihan tersebut tidak seluruhnya menjadi wilayah Kabupaten/Kota baru dan bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru;

- 14 -

b. Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru yang ditetapkan berdasarkan perimbangan hasil perolehan suara Partai Politik peserta Pemilihan Umum 2004, dan diambilkan dari nama-nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kecamatannya dalam daerah pemilihan tersebut seluruhnya menjadi wilayah Kabupaten/Kota baru, atau yang mewakili daerah pemilihan yang wilayah Kecamatannya dalam daerah pemilihan tersebut tidak seluruhnya menjadi wilayah Kabupaten/Kota baru dan bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru;

Pasal 27

(1) Pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, ditetapkan berdasarkan jumlah dan komposisi kursi yang pindah dari DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk, serta perimbangan jumlah kursi yang belum terbagi pada tiap daerah pemilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26.

(2)

Jumlah kursi yang belum terbagi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diisi berdasarkan perimbangan perolehan suara Partai Politik hasil Pemilihan Umum 2004 di tiap daerah pemilihan.

(3) Pengisian kursi keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota yang belum terbagi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diusulkan oleh Pimpinan Partai Politik di Provinsi atau di Kabupaten/Kota baru kepada KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk.

(4) Apabila di Provinsi atau di Kabupaten/Kota baru belum dibentuk kepengurusan Partai Politik, pengisian kursi DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diusulkan oleh Pimpinan Partai Politik di Provinsi atau Kabupaten induk.

(5) Apabila terdapat 2 (dua) kepengurusan partai politik atau lebih, dalam pengajuan calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, yang dinyatakan sah adalah pengajuan dari Pimpinan Partai Politik yang diakui keabsahan kepengurusannya oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Politik.

Pasal 28

(1) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh Anggota DPRD Provinsi induk terdiri atas beberapa Kabupaten/Kota sebagai satu daerah pemilihan di provinsi induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, dan seluruh Kabupaten/Kota dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Provinsi baru, Anggota DPRD Provinsi induk tersebut harus pindah seluruhnya menjadi anggota DPRD Provinsi baru.

(2) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh Anggota DPRD Kabupaten induk terdiri atas beberapa Kecamatan sebagai satu daerah pemilihan di Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) huruf a, dan seluruh Kecamatan dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, Anggota DPRD Kabupaten induk tersebut harus pindah seluruhnya menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

(1)

Pasal 29

Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh Anggota DPRD Provinsi induk terdiri

atas

beberapa Kabupaten/Kota sebagai satu daerah pemilihan di Provinsi induk

- 15 -

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, dan tidak seluruh Kabupaten/Kota dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Provinsi baru, Anggota DPRD Provinsi induk dapat memilih untuk tetap menjadi Anggota DPRD Provinsi induk atau bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru.

(2) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh Anggota DPRD Kabupaten induk terdiri atas beberapa Kecamatan sebagai satu daerah pemilihan di Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) huruf a, dan tidak seluruh Kecamatan dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, Anggota DPRD Kabupaten induk dapat memilih untuk tetap menjadi anggota DPRD Kabupaten induk atau bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/ Kota baru.

Pasal 30

(1) Anggota DPRD Provinsi induk yang memilih untuk tetap menjadi Anggota DPRD Provinsi induk atau memilih bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1), harus dinyatakan dalam surat pernyataan yang ditandatangani oleh Anggota DPRD Provinsi induk yang bersangkutan dan diketahui oleh Ketua dan Sekretaris Partai Politik di Provinsi induk.

(2) Anggota DPRD Kabupaten induk yang memilih untuk tetap menjadi Anggota DPRD Kabupaten induk atau memilih bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2), harus dinyatakan dalam surat pernyataan yang ditandatangani oleh Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersangkutan dan diketahui oleh Ketua dan Sekretaris Partai Politik di Kabupaten induk.

(3)

Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), tidak dapat

dicabut kembali sejak ditetapkan Daftar Calon Baru Kabupaten induk.

oleh KPU Provinsi atau KPU

Pasal 31

(1) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh calon Anggota DPRD Provinsi induk dalam daftar calon yang belum dinyatakan terpilih terdiri atas beberapa Kabupaten/ Kota sebagai satu daerah pemilihan di Provinsi induk, dan seluruh Kabupaten/Kota dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Provinsi baru, calon Anggota DPRD Provinsi induk dalam daftar calon tersebut harus pindah menjadi calon anggota DPRD Provinsi baru.

(2) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh calon Anggota DPRD Kabupaten induk dalam daftar calon yang belum dinyatakan terpilih terdiri atas beberapa Kecamatan sebagai satu daerah pemilihan di Kabupaten induk, dan seluruh Kecamatan dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, calon Anggota DPRD Kabupaten induk dalam daftar calon tersebut harus pindah menjadi calon anggota DPRD Kabupaten baru.

Pasal 32

(1) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh calon Anggota DPRD Provinsi induk dalam daftar calon yang belum dinyatakan terpilih terdiri atas beberapa Kabupaten/ Kota sebagai satu daerah pemilihan di Provinsi induk, dan tidak seluruh Kabupaten/Kota dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Provinsi

- 16 -

baru, calon Anggota DPRD Provinsi induk dalam daftar calon tersebut dapat memilih untuk tetap dicantumkan dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk atau bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru.

(2) Apabila daerah pemilihan yang diwakili oleh calon Anggota DPRD Kabupaten induk dalam daftar calon yang belum dinyatakan terpilih terdiri atas beberapa Kecamatan sebagai satu daerah pemilihan di Kabupaten induk, dan tidak seluruh Kecamatan dari daerah pemilihan tersebut menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, calon Anggota DPRD Kabupaten induk dalam daftar calon tersebut dapat memilih untuk tetap dicantumkan dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk atau bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

Pasal 33

(1) Nama-nama calon Anggota DPRD Provinsi induk yang memilih untuk tetap dicantumkan dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk atau memilih bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud alam Psal 32 ayat (1), harus dinyatakan dalam surat pernyataan yang ditandatangani oleh calon Anggota DPRD Provinsi induk yang bersangkutan dan diketahui oleh Ketua dan Sekretaris Partai Politik di Provinsi induk.

(2) Nama-nama calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang memilih untuk tetap dicantumkan dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk atau memilih bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2), harus dinyatakan dalam surat pernyataan yang ditandatangani oleh calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersangkutan dan diketahui oleh Ketua dan Sekretaris Partai Politik di Kabupaten induk.

Pasal 34

Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan Pasal 29, diusulkan peresmian pemberhentiannya sebagai Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk dan peresmian pengangkatannya sebagai Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru oleh KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota induk bersama-sama dengan calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf b dan ayat (2) huruf b.

Bagian Kedua

Daerah Pemilihan

Pasal 35

(1)

Dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, di Provinsi atau Kabupaten/Kota baru dibentuk Daerah Pemilihan.

(2)

Alokasi kursi DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru untuk setiap daerah pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan antara 3 (tiga) kursi sampai dengan 12 (dua belas) kursi.

(3) Pembentukan daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DRPD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), diusulkan oleh KPU Provinsi atau Kabupaten induk kepada KPU.

- 17 -

(4) Pembentukan daerah pemilihan dan alokasi kursi tiap daerah pemilihan dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ditetapkan dengan Keputusan KPU.

Pasal 36

(1) Dalam penetapan daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi baru, beberapa Kabupaten/Kota yang semula tergabung dalam satu daerah pemilihan di Provinsi induk, apabila daerah pemilihan tersebut dipecah menjadi beberapa daerah pemilihan di Provinsi baru dan apabila diantara daerah pemilihan tersebut dimungkinkan dapat terdiri dari beberapa Kabupaten/Kota, beberapa Kabupaten/Kota yang tergabung tersebut harus dipertahankan komposisi hasil perolehan suara sah Partai Politik dan calon sebagaimana komposisi perolehan suara sah Partai Politik dan calon pada daerah pemilihan di Provinsi induk sebelumnya.

(2) Dalam penetapan daerah pemilihan Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, beberapa Kecamatan yang semula tergabung dalam satu daerah pemilihan di Kabupaten induk, apabila daerah pemilihan tersebut dipecah menjadi beberapa daerah pemilihan di Kabupaten/Kota baru dan apabila diantara daerah pemlihan tersebut dimungkinkan dapat terdiri dari beberapa Kecamatan, beberapa Kecamatan yang tergabung tersebut harus dipertahankan komposisi hasil perolehan suara sah Partai Politik dan calon sebagaimana komposisi perolehan suara sah Partai Politik dan calon pada daerah pemilihan di Kabupaten induk sebelumnya.

Pasal 37

(1) Dalam penetapan daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi baru, Kabupaten/Kota yang semula tergabung dalam satu daerah pemilihan di Provinsi induk, tidak dapat digabung dengan Kabupaten/Kota dari daerah pemilihan lain, meskipun Kabupaten/Kota dari daerah pemilihan lain tersebut letaknya berbatasan.

(2) Dalam penetapan daerah pemilihan Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, Kecamatan yang semula tergabung dalam satu daerah pemilihan di Kabupaten induk tidak dapat digabung dengan Kecamatan dari daerah pemilihan lain, meskipun kecamatan dari daerah pemilihan lain tersebut letaknya berbatasan.

Pasal 38

(1) Dengan terbentuknya Provinsi atau Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam undang-undang pembentukan Provinsi atau Kabupaten/Kota, perlu menata kembali komposisi alokasi kursi untuk tiap daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk.

(2)

Penataan

kembali

komposisi

alokasi

kursi

untuk

setiap

daerah

pemilihan

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Keputusan KPU

 

Pasal 39

 

(1)

Penataan kembali komposisi alokasi kursi untuk tiap daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, dilakukan dengan ketentuan :

1. Apabila Kabupaten/Kota dalam satu daerah pemilihan di Provinsi induk seluruhnya menjadi wilayah Provinsi baru, maka jumlah kursi yang dialokasikan

- 18 -

kembali kepada daerah pemilihan di Provinsi induk sebanyak jumlah Anggota DPRD Provinsi induk yang harus pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru;

2. Apabila Kabupaten/Kota dalam satu daerah pemilihan di Provinsi induk tidak seluruhnya menjadi wilayah Provinsi baru, jumlah kursi yang dialokasikan kembali kepada daerah pemilihan di Provinsi induk sebanyak jumlah Anggota DPRD Provinsi induk yang bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru.

(2) Penataan kembali komposisi alokasi kursi untuk tiap daerah pemilihan Anggota DPRD Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, dilakukan dengan ketentuan :

(1) Apabila Kecamatan dalam satu daerah pemilihan di Kabupaten induk seluruhnya menjadi wilayah Kabupaten/Kota baru, jumlah kursi yang dialokasikan kembali kepada daerah pemilihan di Kabupaten induk sebanyak jumlah Anggota DPRD Kabupaten induk yang harus pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru;

(2) Apabila Kecamatan dalam satu daerah pemilihan di Kabupaten induk tidak seluruhnya menjadi wilayah Kabupaten/Kota baru, jumlah kursi yang dialokasikan kembali kepada daerah pemilihan di Kabupaten induk sebanyak jumlah Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

Pasal 40

(1) Dalam penataan kembali daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1), apabila Kabupaten/Kota atau beberapa Kabupaten/Kota pada daerah pemilihan di Provinsi induk tidak seluruhnya menjadi wilayah Provinsi baru, Kabupaten/Kota atau beberapa Kabupaten/Kota tersebut dapat tetap menjadi satu daerah pemilihan di Provinsi induk apabila memenuhi sekurang-kurangnya 3 (tiga) kursi.

(2) Dalam penataan kembali daerah pemilihan Anggota DPRD Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2), apabila kecamatan atau beberapa kecamatan pada daerah pemilihan di Kabupaten induk tidak seluruhnya menjadi wilayah Kabupaten/Kota baru, kecamatan atau beberapa kecamatan tersebut dapat tetap menjadi satu daerah pemilihan di Kabupaten induk apabila memenuhi sekurang-kurangnya 3 (tiga) kursi.

(1)

BAB III

PENCALONAN

Pasal 41

Calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, harus memenuhi syarat:

a. Warganegara Republik Indonesia, berumur 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih;

b. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu taat dalam menjalankan agamanya;

c. Berdomisili di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;

- 19 -

e. Berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau sederajat;

f. Setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945;

g. Bukan bekas anggota organisasi terlarang partai komunis Indonesia termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung atau organisasi terlarang lainnya;

h. Tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;

i. Tidak sedang menjalani hukuman pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;

j. Sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari dokter yang kompeten;

k. Terdaftar sebagai pemilih;

l. Terdaftar sebagai anggota partai politik.

(2)

Selain syarat-syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga diperlukan kelengkapan persyaratan lainnya, yaitu :

a. Foto copy tanda bukti penyerahan Daftar Kekayaan Pribadi;

b. Surat Pernyataan tentang tempat tinggal di Daerah Provinsi bagi calon Anggota DPRD Provinsi dan di Kabupaten/Kota bagi calon Anggota DPRD Kabupaten/ Kota;

c. Surat Pernyataan tentang tidak akan merangkap jabatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru yang masih berkedudukan sebagai PNS atau TNI/POLRI, harus membuktikan pemberhentiannya sebagai PNS atau TNI/POLRI dengan surat keputusan pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan.

(4) Untuk keperluan pencalonan Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, calon Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah wajib memperbaharui pemenuhan kelengkapan syarat calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Pasal 42

(1) Pengajuan calon Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota baru untuk setiap daerah pemilihan sebagaimaan dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dilaksanakan secara tertulis dengan menggunakan formulir surat pencalonan yang telah ditentukan, dilampiri daftar calon yang memuat nomor urut dan nama calon setiap daerah pemilihan.

(2)

Surat pencalonan dan lampiran surat pencalonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditanda tangani oleh Ketua dan Sekretaris Partai Politik dan dibubuhi cap.

(3)

Surat pencalonan dan lampiran surat pencalonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dibuat dalam 2 (dua) rangkap

Pasal 43

(1) Partai Politik yang mengajukan calon Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, wajib menyerahkan

- 20 -

surat keterangan dan surat pernyataan masing-masing calon sebagai bukti pemenuhan syarat calon.

(2) Surat pernyataan dan surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari :

a. surat pernyataan kesediaan menjadi calon Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang bermaterai cukup dan ditandatangani oleh calon yang bersangkutan dan diketahui oleh pimpinan partai politik sesuai tingkatannya serta dibubuhi cap dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.

b. daftar riwayat hidup calon Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang bermaterai cukup dan ditandatangani oleh calon yang bersangkutan dan diketahui oleh Ketua dan Sekretaris partai politik sesuai tingkatannya serta dibubuhi cap dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.

c. surat pernyataan mengenai kewarganegaraan Republik Indonesia, umur, agama, cakap bicara, membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia serta berpendidikan serendah-rendahnya SLTA atau sederajat ditandatangani oleh calon yang bersangkutan dan diketahui oleh Ketua dan Sekretaris partai politik sesuai tingkatannya serta dibubuhi cap dengan menggunakan formulir yang ditetapkan.

d. surat pernyataan setia kepada Pancasila sebagai dasar Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 ditandatangani calon yang bersangkutan.

e. surat keterangan bertempat tinggal calon Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, dari Kepala Desa/Lurah dengan diketahui oleh Camat atau sebutan lainnya.

f. surat keterangan tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan tidak sedang menjalani hukuman pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih dari Pengadilan Negeri yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal calon.

g. surat keterangan sehat jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari dokter yang kompeten yang dibuktikan dengan hasil pemeriksaan secara menyeluruh dari Rumah Sakit Pemerintah.

h. surat keterangan terdaftar sebagai pemilih dari Panitia Pemungutan Suara yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal calon yang bersangkutan.

i. fotocopi tanda bukti penyerahan daftar kekayaan yang dimiliki setiap calon dari instansi yang berwenang kepada KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota.

j. fotocopi Kartu Tanda Anggota partai politik yang masih berlaku.

k. pas foto untuk Daftar Calon Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota ukuran 2 x 3 cm berwarna sebanyak 2 (dua) lembar dan 3 x 4 cm berwarna sebanyak 2 (dua) lembar.

Pasal

44

- 21 -

(1) Setelah menerima pengajuan calon yang disampaikan oleh Pimpinan Parpol yang nama-namanya diambilkan dari Daftar Calon Pemilihan Umum 2004 maupun nama calon baru sebagai tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 dan Pasal 43, KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk meneliti, menyusun, menetapkan dan mengumumkan Daftar Calon Baru untuk tiap Daerah Pemilihan.

(2)

Penetapan Daftar Calon Baru dilakukan dalam rapat pleno KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk dan ditandatangani oleh Ketua dan sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Anggota KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk serta dihadiri oleh Panitia Pengawas, saksi dan undangan lainnya.

(3) Daftar Calon Baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2), diumumkan dalam Berita Daerah dan di tempat umum atau tempat-tempat yang dapat dilihat orang banyak.

Pasal 45

Susunan daftar calon baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru untuk setiap daerah pemilihan yang diusulkan oleh Pimpinan Partai Politik ditentukan sebagai berikut :

a. Nama-nama Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten Induk yang pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a dan ayat (2) huruf a, tetap dicantumkan dalam daftar calon baru dan penempatannya pada nomor urut paling kecil;

b. Nama-nama calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten Induk yang belum dinyatakan terpilih dan harus pindah atau bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dan Pasal 32, ditempatkan pada nomor urut berikutnya setelah nomor urut nama-nama Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah sebagaimana dimaksud pada huruf a;

c. Nama-nama calon tambahan Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru untuk memenuhi jumlah maksimum kursi yang dipilih di tiap daerah pemilihan, ditempatkan pada nomor urut berikutnya setelah nomor urut nama-nama calon sebagaimana dimaksud pada huruf b;

Pasal 46

Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 huruf a, penempatan pada daerah pemilihan yang diwakili disesuaikan dengan besarnya perolehan suara sah anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk yang pindah tersebut di Kabupaten/Kota atau Kecamatan pada daerah pemilihan di Provinsi atau Kabupaten/Kota baru.

Pasal 47

(2) Penempatan nama calon yang berasal dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 huruf b, pada daerah pemilihan di Provinsi atau Kabupaten/Kota baru, dilakukan dengan memperhatikan besarnya suara sah yang diperoleh calon yang bersangkutan di masing-masing daerah pemilihan.

- 22 -

(3)

Nama

calon

yang

memiliki

suara

sah

terbesar

di

suatu

daerah

pemilihan

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1),

ditempatkan

untuk

mewakili

daerah

pemilihan tersebut.

 

(4)

Penempatan nomor urut dalam daftar calon baru bagi calon yang berasal dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tidak terikat pada nomor urut dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten induk dalam Pemilihan Umum 2004.

 

Pasal 48

 

1.

Nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk yang mewakili daerah pemilihan yang Kabupaten/Kotanya tidak menjadi bagian wilayah Provinsi baru dan belum dinyatakan terpilih, dapat diajukan sebagai calon tambahan dengan ketentuan :

a. Calon yang bersangkutan harus mengundurkan diri secara tertulis dari pencalonan Anggota DPRD Provinsi induk di daerah pemilihan yang diwakilinya.

b. Calon Anggota DPRD Provinsi yang telah mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada huruf a, kedudukannya dalam daftar calon baru Anggota DPRD Provinsi baru sebagai calon tambahan.

c. Calon Anggota DPRD Provinsi induk dalam kedudukannya sebagai calon tambahan sebagaimana dimaksud pada huruf b, penempatan nomor urut dalam susunan daftar calon baru Anggota DPRD Provinsi baru, tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 huruf c.

2.

Surat pengunduran diri dari calon Anggota DPRD Provinsi induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, disampaikan kepada Pimpinan Partai Politik di Provinsi induk yang bersangkutan.

3.

Berdasarkan Surat pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pimpinan Partai Politik di Provinsi induk yang bersangkutan merekomendasikan secara tertulis kepada KPU Provinsi induk agar nama calon tersebut dicoret dari daftar calon pada daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi induk yang

bersangkutan.

Pasal 49

(1) Nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang mewakili daerah pemilihan yang Kecamatannya tidak masuk menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru dan belum dinyatakan terpilih, dapat diajukan sebagai calon tambahan dengan ketentuan :

a. Calon

yang

bersangkutan

harus

mengundurkan

diri

secara

tertulis

dari

pencalonan

Anggota

DPRD

Kabupaten

induk

di

daerah

pemilihan

yang

diwakilinya.

 

b. Calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang telah mengundurkan diri sebagaimana dimaksud pada huruf a, kedudukannya dalam daftar calon baru Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagai calon tambahan.

c. Calon Anggota DPRD Kabupaten induk dalam kedudukannya sebagai calon tambahan sebagaimana dimaksud pada huruf b, penempatan nomor urut dalam

- 23 -

susunan daftar calon baru Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 huruf c.

(2)

Surat pengunduran diri dari calon Anggota DPRD Kabupaten induk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, disampaikan kepada Pimpinan Partai Politik di Kabupaten induk yang bersangkutan.

(3) Berdasarkan Surat pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pimpinan Partai Politik di Kabupaten induk yang bersangkutan merekomendasikan secara tertulis kepada KPU Kabupaten induk agar nama calon tersebut dicoret dari daftar calon pada daerah pemilihan Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersangkutan.

BAB IV

PENETAPAN PEROLEHAN KURSI DAN PENETAPAN CALON TERPILIH

Pasal 50

(1) Penetapan perolehan kursi Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru untuk setiap partai politik disetiap daerah pemilihan didasarkan atas seluruh hasil penghitungan suara sah disetiap daerah pemilihan.

(2) Hasil penghitungan suara sah disetiap daerah pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan berdasarkan Keputusan KPU Nomor : 44/SK/KPU/Tahun 2004 serta perubahannya.

(3) Penetapan perolehan kursi Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, didasarkan atas suara sah yang diperoleh masing-masing partai politik di setiap daerah pemilihan.

(4) Penetapan hasil penghitungan suara dan perolehan kursi di setiap daerah pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dalam Rapat pleno KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk, dihadiri oleh saksi, panitia pengawas serta undangan lainnya.

(1)

Pasal 51

Dari hasil penghitungan seluruh suara sah yang diperoleh partai politik di suatu daerah pemilihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yaitu hasil bagi dari jumlah seluruh suara sah partai politik dengan jumlah kursi di setiap daerah pemilihan;

(2) Untuk menentukan jumlah kursi yang diperoleh masing-masing Partai Politik di setiap daerah pemilihan, dilakukan dengan cara membagi jumlah suara sah yang diperoleh tiap Partai Politik dengan BPP, dengan ketentuan :

a. Tahap pertama : 1) apabila jumlah suara sah partai politik sama atau lebih besar dari pada angka BPP, akan diperoleh sejumlah kursi dengan kemungkinan masih terdapat sejumlah sisa suara sah partai politik yang akan dihitung dalam penghitungan tahap kedua;

- 24 -

2) apabila jumlah suara sah partai politik lebih kecil dari pada angka BPP, dalam perhitungan tahap pertama ini Partai Politik yang bersangkutan tidak memperoleh kursi, sehingga jumlah suara sah partai politik tersebut dikategorikan sebagai sisa suara sah partai politik yang akan dihitung dalam penghitungan Tahap kedua yaitu dalam hal masih terdapat sisa kursi di daerah pemilihan tersebut yang belum terbagi, termasuk sisa suara sah partai politik sebagaimana dimaksud pada angka 1);

b. Tahap kedua : dilakukan dengan cara membagikan sisa kursi yang belum terbagi sebagaimana dimaksud pada huruf a satu demi satu berturut-turut, dimulai dari partai politik yang mempunyai sisa suara paling banyak sampai sisa kursi tersebut habis dibagi;

c. Apabila jumlah partai politik yang mempunyai sisa suara sama lebih banyak dari pada jumlah sisa kursi yang belum terbagi, sisa kursi tersebut dibagikan kepada partai politik yang bersangkutan berdasarkan undian;

d. Undian sebagaimana dimaksud pada huruf c, dilakukan dalam rapat pleno KPU Provinsi atau Kabupaten induk yang dihadiri saksi dan panitia pengawas serta undangan lainnya, dengan ketentuan masing-masing partai politik yang mengikuti undian memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh satu sisa kursi.

Pasal 52

Apabila Partai Politik dalam perhitungan pembagian kursi tahap pertama di Provinsi atau Kabupaten/Kota baru ternyata tidak mendapat kursi di setiap daerah pemilihan, sedangkan terdapat nama Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten yang pindah dari Partai Politik tersebut, maka sebelum melakukan pembagian kursi tahap kedua sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (2) huruf b, Partai Politik yang bersangkutan diprioritaskan terlebih dahulu pada urutan pertama untuk diberikan sejumlah kursi.

Pasal

53

Penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru didasarkan atas sejumlah kursi yang diperoleh tiap partai politik dan nama calon yang tercantum dalam daftar calon baru Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota disetiap daerah pemilihan, dengan ketentuan :

a. Apabila angka perolehan suara sah nama calon Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota sama atau lebih besar dari pada angka BPP, KPU Provinsi atau DPRD Kabupaten induk menetapkan sebagai calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

b. Apabila angka perolehan suara sah nama calon Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota lebih kecil dari pada angka BPP atau apabila calon tidak memperoleh suara sedangkan Partai Politik memperoleh sejumlah kursi, KPU Provinsi atau Kabupaten induk menetapkan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Kabupaten/Kota berdasarkan nomor urut nama calon pada daftar calon baru di daerah pemilihan yang bersangkutan, dimulai dari nomor urut paling kecil.

- 25 -

Pasal 54

(1) Apabila partai politik memperoleh kursi DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru yang melebihi jumlah calon yang tercantum dalam daftar calon baru di suatu daerah pemilihan, kursi DPRD Provinsi atau Kabupaten/Kota baru yang diperoleh tersebut dialokasikan kepada calon yang belum dinyatakan terpilih dari partai politik yang sama yang mewakili daerah pemilihan lain dalam Provinsi atau Kabupaten/Kota baru yang wilayahnya berbatasan langsung secara geografis dalam satu Provinsi atau berbatasan langsung secara geografis dalam satu Kabupaten/ Kota.

(2) Nama calon yang belum dinyatakan sebagai calon terpilih dari daerah pemilihan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diajukan oleh pimpinan partai politik di Provinsi atau Kabupaten/Kota yang bersangkutan kepada KPU Provinsi atau Kabupaten induk dan nama calon tersebut dicoret dari daftar calon di daerah pemilihan lain yang berbatasan langsung secara geografis tersebut.

(3) Nama calon yang belum dinyatakan sebagai calon terpilih dari daerah pemilihan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah nama calon yang menduduki pada nomor urut setelah nomor urut nama calon terpilih di daerah pemilihan lain tersebut.

(4) Apabila sudah tidak ada lagi calon Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru di daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), nama calon terpilih diambil dari daerah pemilihan terdekat berikutnya dalam satu Provinsi atau Kabupaten/Kota baru.

(5) Apabila sudah tidak ada lagi calon Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru di daerah pemilihan terdekat berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4), partai politik dapat mengajukan calon baru dengan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan oleh KPU.

Pasal 55

(1) Penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud Pasal 53 dan Pasal 54, dilakukan dalam Rapat Pleno KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk yang dihadiri oleh saksi dan panitia pengawas serta undangan lainnya.

(2) Saksi dan panitia pengawas serta undangan yang hadir melalui saksi dapat menyatakan keberatan terhadap penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, dan Ketua KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk dengan persetujuan Anggota KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk segera menetapkan keputusan terhadap pernyataan keberatan tersebut.

(3)

Pernyataan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicatat dalam formulir Pernyataan Keberatan Saksi Partai Politik Peserta Pemilihan Umum dan Penetapan Calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

(4) Pernyataan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghalangi proses penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

- 26 -

Pasal 56

(1) Hasil penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dituangkan dalam Berita Acara Penetapan Hasil Pengisian Keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota Baru, Perolehan Kursi Partai Politik Peserta Pemilihan Umum dan Penetapan Calon Terpilih Anggota DPRD Provinsi atau Anggota DPRD Kabupaten/Kota Baru, serta ditandatangani oleh Ketua KPU dan sekurang- kurangnya 2 (dua) Anggota KPU Provinsi atau KPU Kabupaten induk dan dibubuhi cap, kemudian diumumkan secara luas kepada masyarakat, melalui media massa cetak dan media elektronik dan/atau pengumuman lainnya.

(2) Nama-nama calon terpilih Anggota DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan oleh KPU Provinsi induk kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur pada Provinsi baru untuk diresmikan keanggotaannya dengan tembusan kepada KPU.

(3) Nama-nama calon terpilih Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan oleh KPU Kabupaten induk kepada Gubernur melalui Bupati/Walikota pada Kabupaten/Kota baru untuk diresmikan keanggotannya dengan tembusan kepada KPU Provinsi dan KPU.

BAB V

PERESMIAN KEANGGOTAAN

Pasal 57

(1)

Keanggotaan DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2), diresmikan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden sebagai Kepala Negara.

(2)

Keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (3), diresmikan dengan Keputusan Gubernur atas nama Presiden sebagai Kepala Negara.

BAB VI

PENGGANTIAN ANGGOTA DPRD PROVINSI DAN DPRD KABUPATEN INDUK

Pasal 58

(1) Penggantian terhadap Anggota DPRD Propinsi induk yang wajib pindah dan/atau bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Propinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a, dilakukan dengan ketentuan jumlah kursi dan komposisi perolehan kursi Partai Politik di Provinsi induk sebelum dipindahkan tetap.

(2) Penggantian terhadap Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) huruf a, dilakukan dengan ketentuan jumlah kursi dan komposisi perolehan kursi Partai Politik di Kabupaten induk sebelum dipindahkan tetap

- 27 -

Pasal 59

(1) Calon pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1), diambil dari nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk yang menyatakan tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1), dan/atau nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk mewakili daerah pemilihan yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38.

(2) Calon pengganti Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (2), diambil dari nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang menyatakan tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33

ayat (2), dan/atau nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk mewakili daerah pemilihan yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Kabupaten induk sebagaimana dimaksud dalam Pasal

(1)

38.

Pasal 60

Daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk yang menyatakan tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) dan belum dinyatakan terpilih, menjadi calon prioritas pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru.

(2) Daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk yang menyatakan tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (2) dan belum dinyatakan terpilih, menjadi calon prioritas pengganti Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru.

Pasal 61

Dalam hal pembentukan Provinsi baru me.ngakibatkan sebagian Kabupaten/Kota pada daerah pemilihan yang diwakili Anggota DPRD Provinsi induk masih menjadi bagian wilayah Provinsi induk, penggantian terhadap Anggota DPRD Provinsi induk yang bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru, dilakukan dengan ketentuan :

1. Apabila Kabupaten/Kota atau beberapa Kabupaten/Kota yang masih menjadi bagian wilayah Provinsi induk dapat berdiri sendiri sebagai satu daerah pemilihan di Provinsi induk, maka :

a. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang bersedia pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Provinsi induk yang bersedia pindah, dan memiliki suara sah terbanyak urutan pertama hingga urutan berikutnya sesuai jumlah kursi di daerah pemilihan tersebut;

b. Partai politik yang memiliki suara sah pada ururtan berikutnya setelah urutan terakhir sesuai jumlah kursi pada daerah pemilihan tersebut, tidak dapat mengusulkan calon pengganti untuk mewakili daerah pemilihan tersebut melainkan diusulkan untuk mewakili daerah pemilihan lain di Provinsi induk yang memperoleh tambahan/titipan kursi yang ditinggalkan oleh Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk;

- 28 -

c. Apabila suara sah yang dimiliki partai politik di daerah pemilihan lain sebagaimana dimaksud pada huruf b, tidak memenuhi urutan terbanyak terakhir sesuai jumlah tambahan/titipan kursi pada daerah pemilihan tersebut, calon pengganti yang diusulkan dialihkan untuk mewakili daerah pemilihan lain berikutnya yang juga memperoleh tambahan/titipan kursi yang ditinggalkan oleh Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk;

d. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru, dan belum dinyatakan terpilih.

e. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah sebagaimana dimaksud pada huruf d sudah tidak tersedia lagi, partai politik dapat mengusulkan nama calon yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan lain yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk.

f. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 sebagaimana dimaksud pada huruf e juga sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis.

2. Apabila Kabupaten/Kota atau beberapa Kabupaten/Kota yang masih menjadi bagian wilayah Provinsi induk tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu daerah pemilihan, dan harus bergabung dengan daerah pemilihan lain yang berbatasan langsung secara geografis di Provinsi induk sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk, maka :

a. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Provinsi induk yang bersedia pindah, dan memiliki suara sah terbanyak urutan pertama hingga urutan berikutnya sesuai jumlah kursi tambahan/titipan di daerah pemilihan tersebut;

b. Partai politik yang memiliki suara sah pada ururtan berikutnya setelah urutan terakhir sesuai jumlah kursi tambahan/titipan pada daerah pemilihan tersebut, tidak dapat mengusulkan calon pengganti untuk mewakili daerah pemilihan tersebut, melainkan diusulkan untuk mewakili daerah pemilihan lain di Provinsi induk yang juga memperoleh tambahan/titipan kursi yang ditinggalkan oleh Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk.

c. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru, dan belum dinyatakan terpilih.

d. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah sebagaimana dimaksud pada huruf c sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk.

- 29 -

e. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 sebagaimana dimaksud pada huruf d juga sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis.

Pasal 62

Dalam hal pembentukan Provinsi baru mengakibatkan Kabupaten/Kota pada daerah pemilihan yang diwakili Anggota DPRD Provinsi induk seluruhnya menjadi bagian wilayah Provinsi baru, penggantian terhadap Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru, dilakukan dengan ketentuan :

1. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib pindah, dan memiliki suara sah terbanyak urutan pertama hingga urutan berikutnya sesuai jumlah kursi tambahan/titipan di daerah pemilihan tersebut.

2. Partai politik yang memiliki suara sah pada ururtan berikutnya setelah urutan terakhir sesuai jumlah kursi tambahan/titipan pada daerah pemilihan tersebut, tidak dapat mengusulkan calon pengganti untuk mewakili daerah pemilihan tersebut, melainkan diusulkan untuk mewakili daerah pemilihan lain di Provinsi induk yang juga memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk.

3. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk.

4. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 sebagaimana dimaksud pada angka 5 juga sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis.

Pasal 63

Dalam hal pembentukan Provinsi baru mengakibatkan Kabupaten/Kota pada sebagian besar daerah pemilihan Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 menjadi bagian wilayah Provinsi baru sehingga hanya tersisa satu daerah pemilihan di Provinsi induk, penggantian terhadap Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru, dilakukan dengan ketentuan :

1. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib pindah.

2. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Provinsi Induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan tersebut, dan belum dinyatakan terpilih.

3. Apabila pada daerah pemilihan tersebut sebagaimana dimaksud pada angka 2 sudah tidak tersedia lagi calon Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004, partai politik dapat mengajukan calon baru dengan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan oleh

- 30 -

KPU Provnsi induk sebagai calon pengganti Anggota DPRD Provinsi induk yang wajib

pindah.

Pasal 64

Dalam hal pembentukan Kabupaten/Kota baru mengakibatkan sebagian Kecamatan pada daerah pemilihan yang diwakili Anggota DPRD Kabupaten induk masih menjadi bagian wilayah Kabupaten induk, penggantian terhadap Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, dilakukan dengan ketentuan :

1. Apabila Kecamatan atau beberapa kecamatan yang masih menjadi bagian wilayah Kabupaten induk dapat berdiri sendiri sebagai satu daerah pemilihan di Kabupaten induk, maka :

a. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah, dan memiliki suara sah terbanyak urutan pertama hingga urutan berikutnya sesuai jumlah kursi di daerah pemilihan

tersebut;

b. Partai politik yang memiliki suara sah pada ururtan berikutnya setelah urutan terakhir sesuai jumlah kursi pada daerah pemilihan tersebut, tidak dapat mengusulkan calon pengganti untuk mewakili daerah pemilihan tersebut melainkan diusulkan untuk mewakili daerah pemilihan lain di Kabupaten induk yang memperoleh tambahan/titipan kursi yang ditinggalkan oleh Anggota DPRD

Kabupaten induk yang bersedia pindah sebagai akibat penataan daerah pemilihan

di Provinsi induk;

c. Apabila suara sah yang dimiliki partai politik di daerah pemilihan lain sebagaimana dimaksud pada huruf b, tidak memenuhi urutan terbanyak terakhir sesuai jumlah tambahan/titipan kursi pada daerah pemilihan tersebut, calon pengganti yang diusulkan dialihkan untuk mewakili daerah pemilihan lain berikutnya yang juga memperoleh tambahan/titipan kursi yang ditinggalkan oleh Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah sebagai akibat penataan daerah pemilihan

di Provinsi induk;

d. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, dan belum dinyatakan terpilih.

e. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah sebagaimana dimaksud pada huruf d sudah tidak tersedia lagi, partai politik dapat mengusulkan nama calon yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan lain yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Provinsi induk.

f. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 sebagaimana dimaksud pada huruf e juga sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis.

- 31 -

2. Apabila Kecamatan atau beberapa Kecamatan yang masih menjadi bagian wilayah Kabupaten induk tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu daerah pemilihan, dan harus bergabung dengan daerah pemilihan lain yang berbatasan langsung secara geografis di Kabupaten induk maka :

a. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Kabupaten induk yang bersedia pindah, dan memiliki suara sah terbanyak urutan pertama hingga urutan berikutnya sesuai jumlah kursi tambahan/titipan di daerah pemilihan tersebut;

b. Partai politik yang memiliki suara sah pada ururtan berikutnya setelah urutan terakhir sesuai jumlah kursi tambahan/titipan pada daerah pemilihan tersebut, tidak dapat mengusulkan calon pengganti untuk mewakili daerah pemilihan tersebut, melainkan diusulkan untuk mewakili daerah pemilihan lain di Kabupaten induk yang juga memperoleh tambahan/titipan kursi yang ditinggalkan oleh Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Kabupaten induk.

c. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, dan belum dinyatakan terpilih.

d. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah sebagaimana dimaksud pada huruf d sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Kabupaten induk.

e. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 sebagaimana dimaksud pada huruf d juga sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis.

Pasal 65

Dalam hal pembentukan Kabupaten/Kota baru mengakibatkan Kecamatan pada daerah pemilihan yang diwakili Anggota DPRD Kabupaten induk seluruhnya menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, penggantian terhadap Anggota DPRD Kabupaten induk yang wajib pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, dilakukan dengan ketentuan :

1. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Kabupaten induk yang wajib pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Kabupaten induk yang wajib pindah, dan memiliki suara sah terbanyak urutan pertama hingga urutan berikutnya sesuai jumlah kursi tambahan/titipan di daerah pemilihan tersebut.

2. Partai politik yang memiliki suara sah pada ururtan berikutnya setelah urutan terakhir sesuai jumlah kursi tambahan/titipan pada daerah pemilihan tersebut, tidak dapat mengusulkan calon pengganti untuk mewakili daerah pemilihan tersebut, melainkan diusulkan untuk mewakili daerah pemilihan lain di Kabupaten induk yang juga

- 32 -

memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Kabupaten induk.

3. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang memperoleh tambahan/titipan kursi sebagai akibat penataan daerah pemilihan di Kabupaten induk.

4. Apabila nama calon pengganti dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 sebagaimana dimaksud pada angka 3 juga sudah tidak tersedia lagi, partai politik mengusulkan nama calon pengganti yang diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang berbatasan langsung secara geografis.

Pasal 66

Dalam hal pembentukan Kabupaten/Kota baru mengakibatkan Kecamatan pada sebagian besar daerah pemilihan Anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru sehingga hanya tersisa satu daerah pemilihan di Kabupaten induk, penggantian terhadap Anggota DPRD Kabupaten induk yang wajib pindah menjadi Anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, dilakukan dengan ketentuan :

1. Partai Politik yang dapat mengusulkan calon pengganti Anggota DPRD Kabupaten induk yang wajib pindah adalah partai politik yang sama dengan Anggota DPRD Kabupaten induk yang wajib pindah.

2. Nama calon pengganti yang diusulkan partai politik diambil dari daftar calon Anggota DPRD Kabupaten Induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan tersebut, dan belum dinyatakan terpilih.

3. Apabila pada daerah pemilihan tersebut sebagaimana dimaksud pada angka 2 sudah tidak tersedia lagi calon Anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004, partai politik dapat mengajukan calon baru dengan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten induk.

Pasal 67

(1) Apabila di kemudian hari terjadi penggantian Anggota DPRD Provinsi induk setelah dilaksanakannya penggantian Anggota DPRD Provinsi induk terhadap Anggota DPRD Provinsi induk yang pindah menjadi Anggota DPRD Provinsi baru, dan semula mewakili daerah pemilihan yang sekarang sebagian Kabupaten/Kotanya masuk menjadi bagian wilayah Provinsi baru, calon pengganti adalah nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 yang telah menyatakan tidak bersedia pindah menjadi calon Anggota DPRD Provinsi baru dan belum dinyatakan terpilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1).

(2) Apabila di kemudian hari terjadi penggantian Anggota DPRD Kabupaten induk setelah dilaksanakannya penggantian Anggota DPRD Kabupaten induk terhadap Anggota DPRD Kabupaten induk yang pindah menjadi anggota DPRD Kabupaten/Kota baru, dan semula mewakili daerah pemilihan yang sekarang sebagian kecamatannya masuk menjadi bagian wilayah Kabupaten/Kota baru, calon pengganti adalah nama calon dalam daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 yang telah menyatakan tidak bersedia pindah menjadi calon anggota DPRD Kabupaten/Kota baru dan belum dinyatakan terpilih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2).

- 33 -

Pasal 68

(1) Apabila daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah menjadi calon anggota DPRD Provinsi baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) sudah habis, dan apabila terjadi kembali penggantian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (1), calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang mendapat tambahan/titipan kursi.

(2) Apabila daftar calon Anggota DPRD Kabupateni induk Pemilu 2004 yang tidak bersedia pindah menjadi calon anggota DPRD Kabupaten baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) sudah habis, dan apabila terjadi kembali penggantian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (2), calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang mendapat tambahan/titipan kursi.

Pasal 69

(1) Apabila daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan yang mendapat tambahan/titipan kursi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) sudah habis, calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain yang berbatasan langsung secara geografis dalam satu Provinsi induk yang bersangkutan.

(2) Apabila daftar calon Anggota DPRD Kabupateni induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan yang mendapat tambahan/titipan kursi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (2) sudah habis, calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain yang berbatasan langsung secara geografis dalam satu Kabupaten induk yang bersangkutan.

Pasal 70

(1) Apabila daftar calon Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain yang berbatasan secara geografis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) sudah habis, calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang terdekat berikutnya dalam satu Provinsi induk yang bersangkutan.

(2) Apabila daftar calon Anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 yang mewakili daerah pemilihan lain yang berbatasan secara geografis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 a ayat (2) sudah habis, calon pengganti diambil dari daftar calon anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan yang terdekat berikutnya dalam satu Kabupaten induk yang bersangkutan.

(1)

Pasal 71

Apabila sudah tidak tersedia lagi calon Anggota DPRD Provinsi induk Pemilu 2004 di daerah pemilihan terdekat berikutnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1), partai politik dapat mengajukan calon baru dengan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan oleh KPU Provinsi induk.

(2) Apabila sudah tidak tersedia lagi calon Anggota DPRD Kabupaten induk Pemilu 2004 di daerah pemilihan terdekat berikutnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70

- 34 -

ayat (2), partai politik dapat mengajukan calon baru dengan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten induk.

(1)

BAB VII

PEMBIAYAAN

Pasal 72

Biaya untuk keperluan pelaksanaan pengisian keanggotaan DPRD Provinsi baru, dibebankan pada APBD Provinsi induk dan/atau APBD Provinsi baru.

(2) Biaya untuk keperluan pelaksanaan pengisian keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru, dibebankan pada APBD Kabupaten induk dan/atau APBD Kabupaten/Kota baru.

BAB VIII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 73

Apabila telah dibentuk Badan Pengawas Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pembentukan Panitia Pengawas Pengisian Keanggotaan DPRD Provinsi baru atau Panitia Pengawas Pengisian Keanggotaan DPRD Kabupaten/Kota baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu.

BAB IX

KETENTUAN LAIN

Pasal 74

(1) Tata cara pengajuan calon, penelitian calon, penyusunan daftar calon baru, penetapan daftar calon baru, dan pengumuman daftar calon baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD kabupaten/Kota baru, berpedoman kepada Keputusan KPU Nomor 675 Tahun 2003 tentang Tatacara Pencalonan Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan penyesuaian seperlunya.

(2) Tata cara rekapitulasi hasil penghitungan suara dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD kabupaten/Kota baru, berpedoman kepada Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 08 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, oleh Panitia Pemungutan Suara, Panitia Pemilihan Kecamatan, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, Komisi Pemilihan Umum Provinsi, dan Komisi Pemilihan Umum dengan penyesuaian seperlunya.

(3) Tata cara penetapan perolehan kursi Partai Politik dan penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, berpedoman kepada Keputusan KPU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan

- 35 -

Umum, Tata cara penetapan Perolehan Kursi dan Calon Terpilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, dengan penyesuaian seperlunya.

Pasal 76

(1) Bentuk dan jenis formulir untuk keperluan pencalonan dan penyusunan daftar calon baru Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, berpedoman kepada lampiran Keputusan KPU Nomor 675 Tahun 2003 tentang Tatacara Pencalonan Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, dengan penyesuaian seperlunya.

(2) Bentuk dan jenis formulir untuk keperluan rekapitulasi hasil penghitungan suara dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD kabupaten/Kota baru, berpedoman kepada Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 08 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Rekapitulasi Hasil Perolehan Suara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, oleh Panitia Pemungutan Suara, Panitia Pemilihan Kecamatan, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota, Komisi Pemilihan Umum Provinsi, dan Komisi Pemilihan Umum dengan penyesuaian seperlunya.

(3) Bentuk dan jenis formulir untuk keperluan penetapan perolehan kursi Partai Politik dan penetapan calon terpilih Anggota DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota dalam pengisian keanggotaan DPRD Provinsi atau DPRD Kabupaten/Kota baru, berpedoman kepada Keputusan KPU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilihan Umum, Tata Cara Penetapan Perolehan Kursi dan Calon Terpilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, dengan penyesuaian seperlunya.

BAB X

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 77

Peraturan Komisi Pemilihan Umum ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT JENDERAL KPU Kepala Biro Hukum

W.S. Santoso

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Juni 2007

A.n. KETUA WAKIL KETUA

ttd

Prof. Dr. RAMLAN SURBAKTI, MA

E:\2007\WAKARO\KEP KPU\RANC-KEP.KPU PMKRAN -PUNCAK.doc

- 36 -