Anda di halaman 1dari 3

ABSTRAK Dakriosistitis merupakan peradangan atau infeksi pada sakus lakrimalis, biasanya terjadi akibat adanya obstruksi pada

duktus nasolakrimalis. Perjalanan penyakitnya dapat akut atau kronis. Dakriosistitis akut dapat terjadi dalam perjalanan penyakit dakriosistitis kronis. Pada sebagian besar kasus, dakriosistitis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit dan manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang jarang diperlukan. Namun, pemeriksaan penunjang dapat membantu untuk menentukan ada tidaknya obstruksi, serta letak obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Kata Kunci : dakriosistitis, duktus nasolakrimalis HISTORY Seorang laki-laki, usia 50 tahun, mengeluh mata kanan bengkak dan nyeri pada bagian sudut mata dekat pangkal hidung sejak 5 hari yang lalu. Mata sering berair dan banyak terdapat kotoran mata. Kadang-kadang keluar cairan kekuningan seperti nanah dari sudut mata. Demam (-), pandangan kabur (-). Pasien mengaku mata kanannya memang bengkak sejak 1 bulan yang lalu, tetapi tidak nyeri, sehingga pasien merasa tidak perlu berobat. Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus disangkal. Pada pemeriksaan umum didapatkan KU baik, subfebris, limfadenopati aurikuler (-). Pada pemeriksaan oftalmologi ditemukan OD epifora (+), pada daerah sakus lakrimalis : edema (+), hiperemis (+), nyeri tekan (+), pada penekanan sakus lakrimalis : tampak pus keluar dari pungtum lakrimalis inferior, VOD 6/6. OS tak tampak kelainan, VOS 6/6. DIAGNOSIS Dakriosistitis akut OD TERAPI Pada pasien ini diberikan pengobatan berupa antibiotik topikal : Chloramphenicol 4 x II gtt OD selama 7 hari, antibiotik sistemik : Amoksisilin 3 x 500 mg selama 7 hari, analgetik : Asam mefenamat 3 x 500 mg selama 3 hari. Pasien dianjurkan untuk memberikan kompres hangat pada daerah yang sakit selama 10-15 menit, kemudian dapat dilakukan penekanan pada sakus lakrimalis untuk mengeluarkan sekret melalui pungtum lakrimal, cuci dengan air bersih, lalu berikan antibiotik topikal. Jika penekanan sakus tidak dapat dilakukan karena nyeri, cukup dikompres hangat saja, lalu berikan antibiotik topikal. DISKUSI Pada sebagian besar kasus, dakriosistitis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit (anamnesis) dan manifestasi klinis (pemeriksaan fisik), pemeriksaan penunjang jarang diperlukan. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan ada tidaknya obstruksi pada duktus nasolakrimalis antara lain : dye disappearence test, fluorescein clearance test, dan jones dye test. Ketiga pemeriksaan ini menggunakan zat warna sebagai indikator. Sedangkan untuk menentukan dimana letak obstruksinya, dapat dilakukan

probing test dan anel test. Dye disappearance test : meneteskan zat warna fluorescein 2% pada kedua mata, masingmasing satu tetes. Kemudian permukaan kedua mata dilihat dengan slit lamp. Zat warna akan tertinggal pada mata yang mengalami obstruksi. Fluorescein clearance test : meneteskan zat warna fluorescein 2% pada mata yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Kemudian pasien diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit ke-6 pasien diminta untuk bersin dan menyekanya dengan tissue. Jika pada tissue terdapat zat warna, berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi. Jones dye test I : meneteskan zat warna fluorescein 2% sebanyak 1-2 tetes pada mata pasien yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus nasolakrimalisnya. Kemudian kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke meatus nasal inferior dan ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan berwarna hijau, berarti tidak ada obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Jones dye test II : caranya hampir sama dengan Jones test I, akan tetapi jika pada menit ke-5 tidak didapatkan kapas dengan bercak berwarna hijau, maka dilakukan irigasi pada sakus lakrimalis. Bila setelah 2 menit didapatkan zat warna hijau pada kapas, maka fungsi sistem lakrimalis dalam keadaan baik. Bila lebih dari 2 menit atau bahkan tidak ada zat warna hijau pada kapas sama sekali setelah dilakukan irigasi, maka fungsi sistem lakrimalis sedang terganggu. Anel test : dengan memakai spuit yang telah diisi garam fisiologis, disuntikkan melalui pungtum lakrimal yang sebelumnya dilebarkan dengan dilator pungtum, masuk ke dalam saluran ekskresi, ke rongga hidung dan sebagian ke tenggorokan. Tes Anel (+) bila terasa asin di tenggorokan, menunjukkan fungsi sistem ekskresi lakrimal normal. Tes Anel (-) bila tak terasa asin, berarti ada obstruksi di dalam saluran ekskresi tersebut. Probing test : menentukan letak obstruksi pada saluran ekskresi air mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam saluran air mata. Pada tes ini, pungtum lakrimal dilebarkan dengan dilator, kemudian probe dimasukkan ke dalam sakus lakrimalis. Jika probe yang bisa masuk panjangnya > 8 mm, berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika yang masuk < 8 mm berarti ada obstruksi. Pemeriksaan penunjang lain yang berguna antara lain : CT-scan untuk menentukan penyebab obstruksi duktus nasolakrimalis, terutama akibat adanya suatu massa atau keganasan, serta dacryocystography dan dacryoscintigraphy untuk mendeteksi adanya suatu kelainan anatomi pada sistem drainase lakrimal. KESIMPULAN Dakriosistitis terutama terjadi akibat adanya obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Pemeriksaan penunjang seperti dye disappearence, fluorescein clearance, jones dye, probing dan anel test dapat membantu untuk menentukan ada tidaknya obstruksi, serta letak obstruksi pada duktus nasolakrimalis. Sedangkan CT-scan, dacryocystography dan dacryoscintigraphy dapat membantu untuk menentukan penyebab obstruksi duktus nasolakrimalis

REFERENSI Gilliland, GD. 2009. Dacryocystitis. Diakses dari www.emedicine.medscape.com Ilyas, S. 2009. Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FK UI. James, B., Chew, C., Bron., A. 2006. Lecture Notes Oftalmologi. Jalarta : Erlangga.