Anda di halaman 1dari 12

Penjelasan Tentang Bendung BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Penjelasan Bendung

Sungai mempunyai peranan yang penting bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah sebagai sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan irigasi, penyediaan air minum, kebutuhan industri dan lain lain. Kebutuhan air bagi kepentingan manusia semakin meningkat sehingga perlu dilakukan penelitian atau penyelidikan masalah ketersediaan air sungai dan kebutuhan area di sekelilingnya, agar pemanfaatan dapat digunakan secara efektif dan efisien, maka dibuatlah dengan pembangunan sebuah bendung. Bendung (Bangunan Sadap) atau Weir (Diversion Structure) merupakan bangunan (komplek bangunan) melintasi sungai yang berfungsi mempertinggi elevasi air sungai dan membelokkan air agar dapat mengalir ke saluran dan masuk ke sawah untuk keperluan irigasi. Definisi bendung menurut ARS Group, 1982, Analisa Upah dan Bahan BOW (Burgerlijke Openbare Werken),Bandungadalah bangunan air (beserta kelengkapannya) yang dibangun melintang sungai atau pada sudetan untuk meninggikan taraf muka air sehingga dapat dialirkan secara gravitasi ke tempat yang membutuhkannya. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia/SNI 03-2401-1991 tentang Pedoman Perencanaan Hidrologi Dan Hidraulik Untuk Bangunan Di Sungai adalah bangunan ini dapat didesain dan dibangunan sebagai bangunan tetap, bendung gerak, atau kombinasinya, dan harus dapat berfungsi untuk mengendalikan aliran dan angkutan muatan di sungai sedemikian sehingga dengan menaikkan muka airnya, air dapat dimanfaatkan secara efisien sesuai dengan kebutuhannya. 1.1.1. Fungsi Bendung : 1. Untuk kebutuhan irigasi 2. Untuk kebutuhan air minum 3. Sebagai pembangkit energi 4. Pembagi atau pengendali banjir 5. Dan sebagai pembilas pada berbagai keadaan debit sungai. 1.1.2. Ada 3 Macam Bendung : 1. Bendung Saringan Bawah Bendung saringan bawah pada umumnya dibangunan di daerah hulu di mana lokasi ini banyak mengangkut batuan besar dan permukaan air sungai relatif tinggi. Sehingga dibuat bendung yang renah.

Bendung ini dilengkapi dengan pasir terbuka, di atasnya diberi kisi-kisi penyaring dari baja untuk mencegah masuknya batuan ke dalam parit. Gambar 1. Bendung saringan bawah Gambar 2. Tipe-tipe tata letak bendung saringan bawah Bendung Saringan Bawah dapat dipertimbangkan jika : 1. Kemiringan sungai relatif besar, biasanya di pegunungan. 2. Butir sedimen sedang kecil dan konsentrasi sedimen sangat tinggi. 3. Mengandung bongkahan batu. 4. Debit pengambilan jauh lebih kecildari debit sungai. 5. Tidak cocok untuk sungai yang fluktuasi bahan angkutannya besar. Misalnya di daerah gunung berapi muda. 6. Dasar sungai yang rawan gerusan memerlukan fondasi yang cukup dalam. 7. Bendung harus dirancang seksama agar aman terhadap rembesan. 8. Konstruksi saringan hendaknya sederhana, tahan benturan batu, mudah dibersihkan jika tersumbat. 9. Bangunan harus dilengkapi dengan kantong lumpur/pengelak sedimen yang cocok dengan kapasitas tampung memadai dan kecepatan aliran cukup untuk membilas partikel. Satu di depan pintu pengambilan dan satu di awal saluran primer. 10. Harus dibuat pelimpah yang cocok di saluran primer untuk menjaga jika terjadi kelebihan air. Untuk keperluan pengurasan diperlukan : 1. Debit air dan kemiringan yang memadai. 2. Sedimen halus akan masuk ke saluran, yang kasar akan loncat dan melewati bangunan. 3. Sebagian krakal dan krikil ada yang terjepit pada jeruji. 4. Konsentrasi seimen yang tinggi akan menyebabkan penumpukan material di hilir bendung dan mengganggu fungsi bendung. Lebar bendung : sama dengan lebar rata-rata sungai pada bankfull discharge. Biasanya B = 120% Bs ( lebar sungai pada banjir tahunan ). Be = B-2 (n Kp + Ka ) H1 Be: lebar efektif, B: lebar mercu, n : jumlah pilar, Kp: koefisien konstraksi pilar, Ka: koefisisen konstrasi pangkal bendung, H1: tinggi energi. 1. Bendung Ambang/Mercu Tetap

Berfungsi untuk menaikkan permukaan air sungai agar air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi. Dan untuk menaikkan permukaan air sungai diatur dengan ambang tetap atau permanen. Umumnya mercu bendung berbentuk bulat atau Ogee. Kedua bentuk ini cocok untuk beton atau pasangan batu kali. Mercu berbentuk Ogee adalah berbentuk lengkung memakai persamaan matematis, sedikit rumit dilaksanakan, tetapi memberikan sifat hiraulis yang baik, bentuk gemuk dan kekar, menambah stabilitas. Gambar 3. Bendung Ambang Tetap (weir) Empang,Bogor Gambar 4. Tipe-tipe tata letak bendung ambang tetap Gambar 5. Mercu bulat dan Ogee 1. Bendung Gerak Berfungsi untuk meninggikan muka air sungai, sehingga air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi. Untuk mengatur permukaan air sungai digunakan pintu gerak (dapat dibuka dan ditutup). Bendung gerak cocok dibangun di sungai bagian hilir, di daerah ini kemiringan sungai datar dan tebing sungai rendah. Pada saat banjir pintu dibuka, sehingga air sungai tidak meluap ke tebing kanan dan kiri. Gambar 6. Bendung Gerak Gambar 7. Denah dan potongan melintang Bendung Gerak Bendung Gerak dapat dipertimbangkan jika : 1. Kemiringan sungai kecil atau relatif datar. 2. Daerah genangan luas dan harus dihindari. 3. Debit banjir besar, kurang aman dilewatkan pada bendung tetap. 4. Pondasi untuk pilar harus betul-betul kuat kalau tidak pintu terancam macet. Gambar 8. Skema pengambilan air dari sungai Gambar 9. Gambaran umum bagian-bagian Bendung

1.1.3. Secara Fisik Bagian-Bagian Bendung Meliputi : 1. Tubuh Bendung Pemilihan lokasi : 1. Pilih bagian sungai lurus, tidak ada gerusan 2. Pilih lembah yang sempit (biaya murah)

3. Pondasi bendung kokoh 4. Keperluan elevasi muka air 5. Pelaksanaan mudah 6. Ketersediaan bahan bangunan. Keperluan elevasi muka air tergantung luas sawah yang diairi. Semakin naik ke hulu sawah terairi lebih luas, turun ke hilir luas areal sawah terairi berkurang. Gambar 10. Tipe-tipe Bendung Gambar 11. Bangunan utama Bendung 1. Bangunan Pengelak dan Peredam Energi Dibangun melintang sungai atau tegak lurus aliran sungai. Berfungsi untuk menaikkan permukaan air sungai, sehingga air sungai lebih tinggi dari daerah yang akan diairi dan selanjutnya air sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi dengan menggunakan saluran irigasi. Berfungsi sebagai peredam energi air yang jatuh, sehingga sisa energi air di hilir kolam olak menjadi minimal sehingga gerusan dasar sungai tidak membahayakan. Perencanaan kolam olak mengikuti standar yang ada sebenarnya sudah memadai. Yang jadi masalah adalah kedalaman gerusan hilir bendung seberapa jauh membahayakan. Bendung besar dan komplek perlu model, tapi untuk bendung kecil dan sederhana tidak perlu dimodel. Apalagi untuk dasar sungai yang mempunyai outcrop (batuan dasar sungai masif) tidak ragu lagi bahwa gerusan tidak ada, maka model tidak perlu. Gambar 12. Peredam energi tipe bak tenggelam Gambar 13. Karakteristik kolam olak USBR Type III (Bradley Peterka) 1. Bangunan Pembilas/Penguras Bagian ini terletak di depan pengambilan, sedikit ke hilir dan dilengkapi dengan pintu penguras yang berfungsi untuk mengendapkan sedimen kasar agar tidak masuk ke pengambilan dan secara berkala sedimen tersebut dibuang ke hilir melalui pintu penguras. Persyaratan umum kecepatan aliran di sekitar pintu pembilas adalah dirancang sekurang-kurangnya sebesar 1,20 m/detik. Gambar 14. Bangunan pembilas 1. Ambang Pengambilan Persyaratan umum (lokasi dan dimensi) : 1. Lokasi dipilih pada bagian sungai yang tidak mudah terjadi sedimentasi, biasanya di tikungan luar

2. Dimensi dirancang dengan kecepatan aliran di dekat ambang tidak terlalu cepat sehingga terlalu banyak sedimen yang masuk, namun juga tidak terlalu lambat sehingga menyebabkan sedimentasi yang berlebihan di depan ambang pengambilan. 3. Persyaratan umum kecepatan aliran di atas ambang pengambilan adalah dirancang sebesar 0,80 m/detik. 1. Pintu Pengambilan/Intake Berfungsi untuk menyadap dan mengontrol air yang akan dialirkan ke saluran irigasi melalui kantong lumpur. Bagian ini dilengkapi dengan pintu yang dapat dibuka dan ditutup, sehingga besar kecilnya air yang disadap dapat dikontrol Persyaratan umum kecepatan aliran di sekitar pintu pengambilan adalah dirancang antara 0,90 1,00 m/detik. Bangunan Pengambilan dan Pembilas Tata Letak : 1. Pengambilan : untuk mengelakkan air agar masuk ke saluran irigasi. Diletakkan dekat bendung dan pada tikungan luar. 2. Pembilas: mengurangi benda terapung dan sedimen kasar masuk ke saluran. 3. Pengambilan air pada dua sisi, sebaiknya salah satu sisi lewat sipon pada tubuh bendung. Gambar 15. Geometri bangunan pengambilan Gambar 16. Tipe-tipe pintu pengambilan Gambar 17. Tipe-tipe pintu bilas 1. Kantong Lumpur Bagian ini terletak di belakang pintu pengambilan, berfungsi untuk mengendapkan sedimen halus yang masuk malului pintu intake. Sedimen halus/lumpur yang mengendap secara berkala dibuang melaului pintu pembilas, dibuang atau digelontorkan kembali ke sungai. 1. Bangunan Pelengkap Lainnya : A. Tanggul Banjir Untuk mencegah terjadinya luapan banjir di hulu bendung dan dan mengarahkan aliran banjir. Panjang dan elevasi. Kurva pengempangan digunakan untuk menghitung panjang dan elevasi tanggul untuk banjir dengan periode ulang berbeda. Untuk genangan dengan Q 100 tahun ditambah tinggi jagaan. Dan dicek dengan Q 1000 tahun. Hitung pakai Standar Step Methode , jika ada data kemiringan sungai, potongan melintang dan faktor kekasaran sungai.

Untuk perkiraan kasar, hitung pakai rumus sederhana. Poros tanggul; Tanggul banjir sebaiknya jauh dari air terendah. Tinggi jagaan: Elevasipuncak tanggul 0,25 m diatas elevasi pangkal bendung untuk keamanan extra. Potongan melintang; Lebar puncak tanggul 3 m. Kalau dipakai jalan ditambah seperlunya. Kemiringan hulu dan hilir diambil antara 1 : 2 s/d 1 :3,5 tergantung jenis tanah. Tinggi tanggul > 5m sebaiknya stabilitasnya dicek dengan perhitungan khusus. Bila fondasi tanggul lolos air (porous) disarankan dibuat cut off (parit halang) 1/3 x H. 1. Krib Dan Bronjong (Matras Batu) Krib berfungsi untuk mengarahkan aliran, melindungi tanggul maupun tebing sungai terhadap penggerusan. Krip dibuat tegak lurus tanggul. Tinggi mercu krip sama dengan bantaran. Kemiringan pelindung tanggul atau krip 1 : 2,5 3,5 di bawah air, dan 1 : 1,5-2,5 yang di atas air. Kemiringan ujung krip 1 : 5-10 Bronjong berfungsi untuk membentuk krib dan sebagai pelindung tebing dan dasar sungai. Berbentuk bak dari jala kawat yang diisi batu. Ukuran biasanya 2x1x0,5 m. Tidak boleh dipakai untuk bagian bangunan permanen. Keuntungannya batu sedang diikat dalam kawat memberi masa kuat dan konstruksi flexible. 1. Saringan Baja/Trasrak Berfungsi untuk mencegah masuknya batu-batu besar di depan pintu pengambilan dan di depan pintu penguras. Sehingga operasional pintu pengambilan dan penguras dapat berjalan normal setiap saat. 1. Rip Rap (Lapisan Batu Teratur) Berfungsi untuk melindungi dasar sungai atau tebing di hilir. bendung Rip-rap dipasang dari puncak bendungan sampai + 2 m di bawah permukaan air terendah untuk operasi (MOL, Minimum Operation Level). Tebal lapisan tergantung pada : kekuatan batu, tinggi bendungan, frekuensi muka air dan tinggi perkiraan gelombang. Umumnya apabila menggunakan tenaga manusia + 30 cm, menggunakan alat berat + 50 cm 100 cm. Batu harus keras, padat, awet, BJ 2,4 t/m3. Panjang lindungan 4 x R (R : dalam gerusan). Tebal lapisan 2 ~ 3 x d40 . Nilai d40 tergantung kecepatan air. Gambar 18. Tipe-tipe Rip Rap 1. Kantong Lumpur Kapasitas memadai untuk sedimen yang masuk, mampu membilas, perlu kemiringan tinggi. Pada saluran primer dibuat pelimpah. Meskipun sudah ada bangunan pembilas di depan intake, biasanya masih ada butir halus partikel yang masuk. Untuk mencegah masuk ke saluran diperlukan kantong

lumpur. Prinsipnya adalah memperbesar saluran sehingga kecepatan berkurang akibatnya sedimen mengendap. Untuk menampung sedimen saluran diperdalam, dibilas tiap 1-2 minggu. Biasanya panjang 200 m untuk sedimen kasar, sampai dengan 500 m untuk sedimen halus. Tergantung pada topografi dan keperluan pembilasan. Pertimbangan dalam memutuskan: (a) Ekonomis atau tidak, (b) Kemudahan pekerjaan OP, (c) Perlu dibangun, kalau sedimen masuk ke saluran > 5% kedalaman x panjang x lebar saluran primer dan sekunder (butiran< 0,06 0,07 mm). Dimensi kantong lumpur Partikel pada titik awal A kecepatan endap w dan kecepatan air v akan mengendap di titik C . Waktu yg diperlukan: t = H/w = L/v dimana v = Q/HB. Menghasilkan LB = Q/w, dimana L: panjang kantong lumpur, B : lebar kantong lumpur, Q : debit air, w: kecepatan endap di kantong lumpur. Agar tidak terjadi meandering atau pulau endapan dibuat L/B > 8. Kalau topografi tidak memungkinkan bisa dibagi-bagi ke arah memanjang dengan dinding pemisah (devider wall). Volume tampungan Volume kantong lumpur tergantung pada kandungan sedimen, volume air yang lewat, dan jarak waktu pembilasan. Banyak nya sedimen yang lewat dapat dihitung dengan cara: (a) Pengukuran langsung di lapangan, (b) Perhitungan rumus yang cocok (Einstein-Brown, Meyer-Peter, Muller), (c) Atau memakai data kantong lumpur yang ada di lokasi lain. Kedalaman ds = 1 m untuk jaringan kecil (10 m3/dt ), 2,5 m untuk jaringan besar (100 m3/dt). Tata letak kantong lumpur Tata letak terbaik kalau saluran pembilas lurus sebagai kelanjutan kantong lumpur, saluran primer di sampingnya. Ambang saluran primer di atas tinggi maksimum sedimen. Alternatif tata letak lain saluran primer searah kantong lumpur, perlu dinding pengarah. Gambar 19. Pengarah aliran 1.1.3. Pemilihan Lokasi Bendung : 1. Menentukan lay out saluran primer dari bangunan bagi atau bagi sadap pertama ke arah hulu. 2. Mengebor dasar sungai di beberapa lokasi untuk memperoleh lokasi dengan pondasi yangbaik dan kuat. 3. Memberi detail pada lokasi yang dipilih (as bendung). 4. Menentukan kebutuhan elevasi air di pintu pengambilan sama dengan tinggi air normal di bendung. 5. Lokasi bendung dipilih pada alur sungai yang lurus. Gambar 20. Skema persyaratan hidraulika Bendung

Dan berdasarkan SNI 03-2401-1991, Tata Cara Perencanaan Umum Bendung, adalah standar ini dimaksudkan sebagai acuan dan pegangan dalam membuat desain bendung agar memenuhi persyaratan hidraulik dan struktur serta persyaratan pelaksanaan secara benar dan aman, sesuai dengan pola bangunan berwawasan lingkungan sehingga diharapkan desain bendung dengan baik, aman dan berfungsi semestinya, sesuai dengan kelembagaan dan pengaturan yang terkait dengan mempertimbangkan faktor teknis perencanaan. Data dan informasi mengenai data kebijakan perencanaan dan desain, data pembuatan bendung, data morfologi sungai, data geologi teknik, data bahan bangunan, data peralatan. Syarat keamanan antara lain keamanan hidraulik,keamanan struktur, keamanan dalam operasional dan keamanan. lingkungan yang berkaitan dengan gangguan angkutan muatan. Desain mengenai bendung membahas antara lain tentang pra desain dasar mengenai persiapan pekerjaan, penentuan lokasi bendung, tipe bendung beserta kelengkapannya dan penentuan debit desain. Pra desain hidraulik membahas tentang panjang dan tinggi mercu bendung, mercu dan tubuh bendung, peredam energi, tembok sayap hilir, bangunan pengambil, bangunan pembilas, bangunan pengarah arus, tanggul penutup dan tanggul banjir, tembok pangkal bendung, saringan sampah dan batu bongkah, lantai undik atau dinding tirai, bangunan penangkap sidemen. Desain struktur meliputi desain struktur atas dan struktur bawah. Fungsi kelengkapan bendung mencakup tubuh bendung merupakan ambang tetap yang berfungsi menaikkan muka air, ambang bendung gerak berfungsi sebagai perletakan pintu bendung gerak, peredam energi berfungsi untuk meredam energi air agar tidak terjadi penggerusan setempat yang membahayakan konstruksi, lantai undik berfungsi mengurangi bahaya rembesan dan erosi, tembok pangkal berfungsi sebagai penahan tanah, tembok sayap berfungsi sebagai pengarah arus. Syarat keamanan hidraulik bendung dan bangunan pelengkap meliputi antara lain keamanan terhadap luapan, keamanan terhadap gerusan lokal, degradasi sungai, keamanan terhadap agradasi dasar sungai, rembesan, perubahan arah aliran dan tekanan air. Sedangkan syarat keamanan struktur meliputi kekuatan, kestabilan, kimiawi dan biotis.

1.1.4. Operasi dan Pemeliharaan Operasi adalah pengaturan bukaan pintu untuk penyediaan air. Pengaturan air pada kondisi normal, kondisi banjir, dan kondisi kering. Kondisi normal adalah aliran sungai normal, sedimen yang dibawa sedang. Penjediaan air dilakukan sesuai rencana kebutuhan air irigasi dan keperluan lainnya. Air sungai masih bisa mengalir ke hilir untuk keperluan lain dan keperluan lingkungan. Pada saat ini pintu pengambilan dibuka penuh, pintu bilas atas dan bawah ditutup, agar air depan pengambilan tenang sedimen mengendap. Pintu bilas bawah dibuka 1 jam setiap hari untuk menguras endapan lumpur. Kalau terdapat benda terapung depan pintu bilas, pintu bilas atas diturunkan untuk menghanyutkan benda terapung. Dalam

keadaan ini biasanya kolam lumpur sudah penuh pada 5-10 hari (tergantung perencanaan). Untuk ini dilakukan pengurasan lumpur secara hidraulis, dengan prosedur sebagai berikut : Pintu bilas atas dan bawah ditutup, pintu pengambilan dibuka, pintu ke saluran irigasi ditutup, pintu penguras dibuka. Lama pengurasan tergantung jumlah sedimen, besaran fraksi sedimen, besar debit dan kemiringan kantong lumpur yang sudah dihitung dalam rencana dan model test (biasanya 3-5 jam). Setelah selesai, air irigasi dialirkan kembali. Operasi adalah pengaturan bukaan pintu untuk penyediaan air. Pengaturan air pada kondisi normal, kondisi banjir, kondisi kering. Kondisi banjir: aliran sungai besar, sedimen yang dibawa banyak. Penjediaan air untuk irigasi dan keperluan lainnya dihentikan sementara, karena di sawah sudah kelebihan air, dan cenderung membuang. Pada saat ini pintu pengambilan ditutup penuh, pintu bilas atas dan bawah ditutup, agar sedimen tidak masuk ke saluran irigasi dan sedimen dilewatkan atas bendung. Pada saat air surut dimana kedalaman air diatas mercu antara 0.5 s/d 1 m pintu pembilas dibuka untuk menguras lumpur. Setelah lumpur bersih dan air di atas bendung antara 0-0.5 m, pintu pengambilan dibuka dan pintu bilas ditutup. Air irigasi normal kembali. Pada beberapa bendung dimana debit banjir besar, saluran pembilas dipakai untuk melewatkan air. Untuk itu pintu bilas dibuka saat banjir. Kalau sungai membawa batang-batang pohon, kemungkinan bisa menyangkut pada saluran pembilas yang sempit. Pengaturan air : kondisi normal, kondisi banjir, kondisi kering. Kondisi kering: aliran sungai kecil, sedimen yang dibawa sedikit. Penjediaan air untuk irigasi dan keperluan lainnya dipenuhi tetapi cenderung kurang. Air sungai jangan disadap 100%, karena di hilir bendung biasanya ada penyadapan untuk keperluan lain dan atau untuk menjaga lingkungan. Pada saat ini pintu pengambilan dibuka penuh, pintu bilas atas atau bawah dibuka sebagian, agar air tetap mengalir sebagian ke hilir bendung. Karena air sungai cenderung bersih maka kandungan sedimen sedikit, maka frekuensi pengurasan lumpur dapat lebih lama dibanding saat air normal. Cara pengurasan seperti saat air normal, cuma karena air sungai dan selisih tinggi minim, air sungai ditampung dulu beberapa jam didepan bendung dengan menutup pintu pengambilan dan pembilas. Pada saat elevasi air naik sampai mercu bendung, pembilasan dimulai. Pada saat ini pengecekan terhadap saluran pembilas bawah dilakukan untuk mengetahui apakah ada sumbatan batu. Kalau ada inilah saatnya untuk mengatasinya, karena air sungai kecil. Pemeliharaan adalah kegiatan untuk menjaga agar bangunan berfungsi seperti sediakala. Jenis pemeliharaan: Rutin, berkala, darurat, permanen. Pemeliharaan Rutin adalah kegiatan secara rutin dilakukan, misalnya babat rumput sekitar bendung, menutup retakan tembok, perbaikan kecil batu kosong, pengambilan benda terapung depan pintu bilas, pengurasan sedimen pada saluran bawah 1 jam/hari Pemeliharaan Berkala adalah kegiatan dilakukan secara berkala, misalnya pengecatan pintu, pemberian stenfet (greesing), pembersihan sedimen pada kantong lumpur, pengecatan bangunan

pelindung, pembersihan sedimen dan batu menyumbat pada saluran pembilas, perbaikan bronjong dan pasangan batu kosong, perbaikan pintu macet. Pemeliharaan Darurat adalah perbaikan darurat agar bendung dapat segera berfungsi. Hal ini terjadi karena bencana alam atau kelalaian manusia. Perbaikan ini dilakukan dengan harapan nanti ada dana untuk penyempurnaan berupa perbaikan permanen. Pemeliharaan Permanen adalah kegiatan perbaikan sebagai peningkatan perbaikan darurat maupun perbaikan akibat bencana dan kelalaian manusia, sehingga perbaikannya menjadi permanen, misalnya tanggul penutup longsor, sayap bendung patah, stang pintu bengkok, gerusan dalam di bawah bendung, kerusakan pada kolam olak, pelindung talud runtuh, penurunan tubuh bendung.

1.2.

Teori Stabilitas Bendung

Dalam perencanaan Bendung harus memenuhi persyaratan stabilitas sehingga bendung akan stabil dan dapat berfungsi lama. Tinjauan stabilitas meliputi : 1.2.1. Stabilitas Terhadap Geser Bendung harus mampu menahan gaya horizontal akibat tekanan air dan sediment, sehingga bendung akan tetap pada posisinya, tidak bergeser. S = f x SV > 1,2 SH Dimana : S f SV SH = Stabilitas geser (lebih besar 1,2 aman terhadap geser) = Koefisien gesekan tanah pondasi = Totalgayavertical = Totalgayahorisontal

1.2.2. Stabilitas Terhadap Guling Bendung harus mampu menahan gaya horizontal sehingga bendung tidak roboh atau mengguling. S = SMV > 1,2 SMH Dimana : S = Stabilitas guling (lebih besar 1,2 aman terhadap guling)

SMV SMH

= Total momen akibatgayavertical = Total mamen akibatgayahorizontal

1.2.3. Stabilitas Terhadap Eksentrisitas Bendung harus memenuhi keseimbangan struktur atau stabil terhadap eksentrisitas. e = 2 B _ Mr SV < B/6

Dimana : e B Mr MV MH = Eksentrisitas = Lebar dasar bendung = (MV MH) = Momen akibatgayavertical = Momen akibatgayahorizontal

1.2.4. Stabilitas Terhadap Daya Dukung Pondasi Bendung harus aman terhadap penurunan, oleh karena itu daya dukung tanah pondasi harus mampu menahan berat bendung dan beban lain akibat banjir. s = SV x (1 6.e) B B = SV x (1 + 6.e) < q ijin

s Maksimum B B

s Minimum B Dimana : s SV B e Q ijin B

= SV x (1

6.e) > 0

= Tegangan tanah pondasi = Totalgayavertical = Lebar dasar bendung = Eksentrisitas = Daya dukung yang diijinkan