Anda di halaman 1dari 8

MENCINTAI ULAMA,

MENINGGAL DALAM
KEADAAN MULIA

Diliput oleh: Lukman Hakim (elhashi@plasa.com)


Sumber: Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia

Ditulis ulang oleh: Rhesa Yogaswara, S.Si (rhesayogaswara@yahoo.com)


Dipublikasikan oleh Al-Maaidah, Moslem’s Review

Al-Maaidah Moslem’s Review


Jakarta Indonesia | Ph: +62 21 953 72072 | HP: +62 813 180 69162
Website: www.almaaidah.com

Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia


1
DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................2


I. Awal Cerita .......................................................................................................3
II. Menjamu Ulama ..............................................................................................4
III. Ikhlas Demi Masyarakat ...............................................................................6

Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia


2
I. Awal Cerita
Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah swt tidak memandang postur
tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah
memandang pada hatimu. Barang siapa memiliki hati yang shaleh, maka Allah
menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertaqwa”. (HR.
Ath-Thabrani dan Muslim)

Hari kamis sore itu-lima puluh tahun yang lalu. H. Sholeh (58 thn) tengah asyik
berkumpul bersama anak-anak dan isterinya. Mereka sedang melepas lelah setelah
seharian bekerja. Rumahnya berada diantara deretan rumah penduduk yang padat, namun
bersih dan sejuk serta tidak jauh dari jalan raya. Menjelang sinar matahari menghilang
beliau makan bersama keluarganya. Badannya yang sehat tidak membuatnya pantang
makanan tertentu.

Selesai makan, adzan maghrib berkumandang. H. Sholeh segera bergegas


mengambil air wudhu. Anggota keluarganya diingatkan untuk sholat maghrib berjamaah.
Tak berapa lama dia pergi ke masjid yang jaraknya dekat dari rumah, dengan harapan
agar bisa mendapatkan shaf (barisan) pertama dibelakang imam. Waktunya banyak
dihabiskan dimasjid, memang seperti itu kebiasaannya sejak dulu.
Selepas menunaikan shalat maghrib , lelaki kelahiran Bangkalan Madura itu kembali
kerumahnya. Untuk mengisi kekkosongan waktu ia berbincang-bincang dengan anaknya,
barangkali mereka punya masalah atau sekedar mendengarkan “curhatnya” (curahan
hati). Keluarganya benar-benar harmonis, H. Sholeh bisa dikatakan seorang bapak yang
sangat memperhatikan putra-putrinya.

Tak terasa adzan isya pun mengalun keras menggetarkan jiwanya. Seketika dia
beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sorban untuk menunaikan shalat isya di
masjid. Udara dingin kota Malang mulai berhembus pelan, H. Sholeh masih memiliki
satu kegiatan sebelum merebahkan badannya di tempat tidur. Dia harus memimpin
jamaah tahlil rutin di kampungnya setiap malam jum’at. Anggota keluarganya sudah
mengetahui aktivitas tersebut. Tanpa meninggalkan pesan sedikitpun, dia ringan
melangkahkan kakinya ke rumah salah satu warga yang malam itu mendapatkan giliran
sebagai tuan rumah acara tahlil.

Bapak Abdul selaku tuan rumah mempersilahkan jamaah yang datang duluan agar
mengisi tempat didalam. Dia menyambut kedatangan H. Sholeh dengan senang hati,
demikian pula dengan H. Sholeh yang senantiasa ramah dengan orang yang ditemuinya.
Satu persatu jamaah tahlil lainnya mulai berdatangan memenuhi ruangan depan rumah
bapak Abdul. Setelah dirasa semua anggota telah hadir, acarapun dimulai.
Susunan acara berjalan dengan lancar satu demi satu, H. Sholeh sebagai salah satu
pengurus jamaah tahlil memberikan sambutan dan ceramah sebagaimana lazimnya. Dia
mengingatkan agar jamaah tahlil yang sudah berjalan lama supaya tidak berhenti
ditengah jalan. Maksudnya jangan sampai bubar, untuk itulah dia menginginkan diantara
anggotanya tetap menjaga persatuan. Selanjutnya acara ditutup dengan do’a dan ramah
tamah.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia


3
Tuan rumah mengeluarkan hidangan makanan untuk menjamu jamaah, beragam
jenis kue dan snack tersaji, tak ketinggalan minuman disuguhkan. Obrolan jamaah
berjalan kesana-kemari, suasanya akrab. Beberapa menit kemudian kira-kira pukul
sembilan seperempat, H. Sholeh yang masih duduk bersilah, kepalanya menunduk pelan
kedepan. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya namun nafasnya agak sedikit berat
seperti orang hendak tidur. Dia kehilangan keseimbangan lalu jatuh kepangkuan orang
yang duduk disebelah kanannya.

Anggota jamaah lainnya yang hendak menikmati makanan tersentak kaget.


Terjadi kegaduhan sekaligus kekhawatiran, mereka menanyakan apa yang sedang terjadi
pada diri H. Sholeh, kebetulan di sebelah kanan tempat duduk H. Sholeh ada seorang
mantri yang bekerja di rumah sakit, Bapak Yono. Yono segera memeriksa dan
menyarankan agar H. Sholeh dibawa ke rumah sakit terdekat.

“Saya melihat ada tanda-tanda bapak telah meninggal dunia, sebab kakinya sudah
dingin. Karena takut mati suri atau khawatir tuan rumah nanti yang disalhkan, akhirnya
bapak dibawa ke rumah sakit, padahal bapak sudah wafat”, tutur Abdurrahim (40 tahun),
salah seorang anak H. Sholeh. Dugaan anaknya ternyata benar, jamaah yang berjumlah
70 orang yang hadir pada malam itu tidak menyangka kalau H. Sholeh akan cepat pulang
kepangkuan ilahi rabbi tanpa meninggalkan isyarat apapun. Jamaah akhirnya secara
bersamaan melayat ke rumah almarhum untuk mendoakannya. Banyak orang yang
terkejut dengan kepergiannya yang terkesan mendadak. Mengingat hari sudah malam,
jenazah disemayamkan dirumahnya. Keesokan harinya selepas shalat Jum’at, masyarakat
berbondong-bondong mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Antusias masyarakat yang sangat tinggi menunjukkna kalau mereka memiliki hubungan
yang sangat baik dengan almarhum.

“Beliau meninggal dunianya bisa dikatakan dalam keadaan mulia, karena berada
ditempat yang baik, yakni acara jamaah tahlil dan kejadiannya malam Jum’at. Semua itu
karena mungkin beliau memiliki keistimewaan tersendiri. Meski ilmunya pas-pasan atau
seadanya tapi beliau mau mengamalkan”, kata ustad Zaenal Fanani (35 tahun), saksi mata
yang duduk di sebelah kiri almarhum.

Menurut pengakuan keluarganya, selama hidup beliau tidak pernah mengeluh atau
mengalami sakit parah yang mengharuskannya pergi ke rumah sakit, seperti mengidap
penyakit jantung. Kalaupun sakit, umumnya pilek yang mengganggu tenggorokannya dan
hidungnya karena kecapeaan, kurang istirahat maupun perubahan cuaca. Almarhum
memang pandai membagi waktu menjaga kesehatan fisik dan mengatur makannya. Berita
wafatnya jelas membuat keluarganya shock berat, seakan mereka masih tak percaya
dengan kenyataan yang terjadi, namun apa mau dikata, Tuhan Maha Tahu segala
hikmahnya.

II. Menjamu Ulama


H. Sholeh Muslih yang bernama asli Marhawi adalah orang madura, isterinya dua,
satu bernama Mariah yang mempunyai sepuluh anak dan dari isteri kedua, dia memiliki
delapan putera puteri. H. Sholeh yang biasa dipanggil abah diakui anggota keluarganya
Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia
4
memiliki sifat adil dan bijaksana yang benar-benar diterapkan kepada siapa saja.
Kenyataannya hampir seluruh kebutuhan dua keluarganya dipenuhi dan hingga sekarang
hubungan mereka sangat rukun.

“Abah mengutamakan pendidikan agama kepada anak-anaknya, menurut beliau


kalau ilmu agama sudah dipegang, dunia bisa ikut dan berwibawa dimata masyarakat”,
tutur Abdurrahim, anak kedua dari isteri tuanya.

H. Sholeh dibesarkan dikota yang terkenal dengan tradisi Karapan Sapinya,


baginya tanah Madura gersang. Tidak ada pilihan lain selain merantau (hijrah). Dia
mencari rezeki sambil berdakwah menyebarkan agama Islam di kota Malang. Lelaki yang
pernah belajar di pesantren ini termasuk pekerja keras, untuk menghidupi keluarganya dia
berdagang apa saja asalkan halal.

Awalnya dia mulai menjual beragam jenis pakaian dan aneka macam plastik.
Tentu banyak kendala yang dihadapinya, seperti sepinya pembeli, maklum pedagang
baru, sehingga penghasilannya kurang memenuhi kebutuhan harian keluarganya. Namun
dia pantang menyerah, jiwa merantau dan mengusung misi dakwahnya tetap menyala.
Setiap orang yang singgah di tokonya akan diberi wejangan (nasihat) singkat.
Umpamanya dia mengingatkan pembeli agar menyisihkan sedikit uang untuk
pembangunan masjid atau memberikannya kepada anak yatim, jika ada lebihan. Dia ingin
berdagang seraya memperoleh pahala.

Setelah kedainya berkembang dan berjalan sukses dalam waktu yang tak sebentar,
dia menyerahkan usahanya kepada anaknya untuk diteruskan. Dia mengharapkan
anaknya memakai metode yang sama dalam berdagang, yakni kejujuran. Sedang dia
membuka usaha baru yakni toko material yang menjual genteng, keramik, pasir, semen
dan kebutuhan bahan bangunan lainnya. Disamping itu menyebarkan ajaran agama Islam
tidak lepas dari cita-citanya.

Dia mencoba meniru cara berjuan, berdakwah dan gaya hidup yang pernah
dilakukan Rasulullah saw, meskipun dirinya menyadari tak bisa sesempurna beliau.
Untuk urusan shalat wajib lima waktu, dia berusa berjamaah di masjid dan mencari posisi
di depan, kadang-kadang menjadi imam, kalupun sudah ketinggalan shalat berjamaah,
dia mengadakan sendiri dirumahnya bersama isteri dan anak-anaknya. Bisa dibilang H.
Sholeh jarang shalat fardhu sendirian. Puasa sunnah senin dan kamis maupun puasa
sunnah syawal sudah menjadi kebiasaannya. Demikian pula shalat tahajjud setiap pukul
tiga dini hari telah menjadi tradisinya.

Meski pernah mengenyam pendidikan pesantren dia selalu meras kurang puas
dengan ilmu agama. Tanpa mengenal waktu dan tidak malu dengan usia, dia belajar
kepada siap saja yang dianggapnya bisa. Mendekati para Kyai maupun ulama adalah
kegemarannya. Setiap menghadiri majelis, dia berusaha duduk di depan. Setelah
mendapatkan ilmu dia langsung menyampaikannya kepada orang lain, seolah ilmu sangat
penting dari hal yang lainnya.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia


5
H.Sholeh sangat menghormati dan mencintai ulama. Lelaki bertubuh pendek kecil
namun gesit itu tidak membedakan antara panggilan ustad, kyai dan ulama. Dalam
pandangannya kedudukan mereka sama tinggi karena mereka orang-orang yang memiliki
ilmu agama yang memang patut dihargai. Dia selalu menunjukkan sikap tawadhu’nya
(rendah hati) dihadapan mereka. Apa yang mereka katakan dan berkaitan dengan agama
selalu diikutinya. Dia kerap bertanya mengenai persoalan sepele yang sebenarnya sudah
banyak diketahui masyarakat.

Sebagai bukti kecintaannya kepada ulama, dia senantiasa menawarkan diri


menjadi pencari mubaligh bagi kegiatan masjid dan jamiyahnya. Ongkosnya dari kantong
sendiri, tak heran jika hampir semua ulama di Malang pernah disinggahi dan di”ambil”
ilmunya. Tidak hanya itu, ulama yang telah memberikan ceramah bersama panitia dan
takmir masjid yang semuanya berjumlah lebih dari tiga puluh orang diundang
kerumahnya untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan. Untuk kesekian kalinya
biaya ditanggung sendiri.

Begitu juga pada hari jum’at. Setelah selesai shalat jum’at, dia mengajak dan
menjamu khotib (orang yang berkhotbah), imam jum’at beserta muadzinnya (tukang
adzan) dan ulama-ulama yang ada dikampungnya untuk makan bersama dirumahnya.
Apalagi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, rumahnya benar-benar penuh dengan
orang-orang alim. Praktislah suasananya ramai seperti keluarga yang sedang
menyelenggarakan hajatan. Rupanya tradisi ini telah dijalankannya sejak lama dan
sekarang diteruskan oleh anak-anaknya.

III. Ikhlas Demi Masyarakat


Perjuangan hidup pria yang pernah satu kali ibadah haji ini senantiasa dilakukan
bersama dan untuk masyarakat. Lelaki yang kurang mahir berbahasa jawa dan sering
diselingi bahasa Madura itu memang senang bergaul, bergurau dan bisa menempatkan
diri. Wajar kiranya jika wibawanya muncul, pribadinya cukup disegani orang yang
mengenalnya dan dianggap sebagai tokoh masyarakat.

Setiap bertemu orang, dia senantiasa menitipkan pesan moral yang berkaitan
dengan agama. Kerap pula dia mendatangi rumah warga yang jarang keliahatan dimuka
umum, hal ini menunjukkan kepedulian dan sikap solidaritasnya yang masih tinggi.
“Misalnya saya sering shalat jamaah di masjid, tapi tiba-tiba beberapa hari belakangan
saya tidak muncul di masjid. Beliau itu biasanya langsung menanyakan keadaan saya.
Saya sendiri sampai gumun (heran), sampe segitunya perhatian dan keikhlasan beliau
terhadap warga”, papar Zaenal Fanani yang membuka pengajian anak-anak dirumahnya.

Kejujurannya dalam bergaul, keberaniannya dalam berbuat benar dan


istiqomahnya dalam bersikap membuat masyarakan percaya kepadanya. H. Sholeh diberi
tugas untuk mengurusi berbagai organisasi dan jamiyah warga. Meski tidak sempat
menimba ilmu di perguruan tinggi, dia mampu mengemban amanat tersebut. Ketua
tanfidiyah tingkat kelurahan sekitar 8 tahun, ketua jamiyah tahlil, ketua jamiyah yasin,
ketua hafidz qur’an bin nadhar sampai menjadi pejabat kecamatan pernah dilewatinya.
Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia
6
Sebagai contoh, H. Sholeh pernah mengikuti satu jamiyah. Jamaah yang tercatat
lebih dari lima puluh orang, namun karena ada beberapa orang yang telah meninggal
dunia dan sebagian lainnya keluar dengan berbagai alasan, akhirnya jamaah yang tersisa
sekitar sepuluh orang. Sementara dia menginginkan agar jamiyah jangan sampai bubar.
Baginya, kebersamaan warga yang terkumpul dalam sebuah wadah sangatlah penting.
Kemudian dia dipercaya dan diangkat menjadi ketua jamiyah. Lambat laun jamaahnya
bertambah banyak lagi, rupanya metode yang digunakan beliau untuk menarik anggota
baru dan mengaktifkan anggota lama adalah mendatangi rumah warga satu persatu.
Ternyata cara tersebut efektif dan berhasil.

“Kalau jamaah yang tidak hadir, beliau setelah acara secara jamiyah mendatangi
rumah orang tersebut dan menanyakan kabarnya. Biasanya pertama ngomongin kerjaan
dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia. Baru kalau ngobrolnya sudah asyik, mulai
menyinggung kegiatan jamiyah dan agama. Jadi sebagai ketua beliau benar-benar
menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya”, tutur Zaenal Fanani.

Sebagai seorang pimpinan, perilakunya patut dicontoh. Apa yang disampaikannya


dihadapan masyarakat sesuai dengan isi hatinya. Karena itulah, apapun yang
dilakukannya semata-mata ikhlas lillahi ta’ala. Misalnya H. Sholeh menyuruh warga
untuk beramal shaleh dengan infak dan shodaqoh, sebelum mereka melaksanakan, dia
terlebih dahulu melakukannya. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan lainnya,
umpamanya ada pembangunan masjid, dia secara langsung ikut terlibat melakukan
pengecoran selain mencari dana karena dia tercatat sebagai pengurus masjid.

Selain itu H. Sholeh sangat memperhatikan generasi penerusnya, sebagai orang


tua (sesepuh) dirinya menyadari potensi yang dimiliki kaum muda. Pengkaderan yang
dilakukannya sangat baik, contohnya dia memberikan kesempatan kepada anak muda
yang mempunyai modal pendidikan pesantren untuk tampil di masyarakat. Awalnya
mereka dijadikan pembawa acara atau MC (Master of Ceremony) dalam sebuah acara.
Setelah mentalnya kuat, mereka diberikan waktu untuk memberikan sambutan, bahkan
ceramah.. Gampangnya generasi muda dimunculkan dengan bermacam latihan dan
kegiatan.

Mengingat ekonomi keluarganya mapan, setiap jum’at H. Sholeh tak segan-segan


membantu janda-janda tetangga rumahnya yang kurang mampu, baik berupa uang
maupun makanan, ada pula yang diberikan modal agar bisa membuka usaha kecil-
kecilan. Untuk menghindari fitnah, dirinya sering kali menyalurkan sumbangan melalui
organisasi dan lembaga. Namun ada juga yang langsung diserahkan secara pribadi.
Sementara itu setiap kali pulang kampung Madura, dia menyempatkan diri bersilaturahim
dan mengunjungi seluruh sanak kerabatnya yang lama tidak berjumpa, walaupun hanya
dua menit.

Kini almarhum H. Sholeh telah pulang kerahmatullah. Banyak kenangan yang


tetap membekas di benak masyarakat sekitarnya maupun kebaikan yang patut kita
teladani bersama. Hari-harinya dipenuhi dengan amal dan dihiasi akhlak nan mulia.
Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia
7
Beliau memiliki karya dan semangat yang luar biasa. Rasanya, kesempatan hidup sekali
yang telah diberikan Allah Yang Maha Kuasa tidak disia-siakannya. Akan tetapi kita
harus menyadari sebagai manusia tentu saja H. Sholeh memiliki khilaf dan kesalahan.
Adakah harapan beliau yang belum tercapai dan patut kita renungkan?.
“Saya masih ingat, dulu abah pernah berpesan jangan sampai ada diantara anggota
keluarga, warga masyarakat dan umat Islam terjadi tawuran (perkelahian yang
menyebabkan perpecahan). Menurut abah yang penting Islam maju”, ucap Abdurrahim,
ketika menutup pembicaraannya. Semoga.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Hidayah_3_36_0704_Mencintai Ulama, Meninggal Dalam Keadaan Mulia


8