Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH AGROINDUSTRI

KAYU BERUBAH BENSIN


Oleh : Jessa Dwi Tanggoro Nim : J3L211166 KIM C/P2 Dosen : Purwoko

Program Keahlian Analisia Kimia Direktorat Program Diploma Institut Pertanian Bogor 2011 2012

FROM WOOD TO GASOLINE

kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul kayu berubah bensin.

Makalah ini berisikan tentang informasi tentang pemanfaatan kayu menjadi bahan bakar dalam hal ini bahan bakar bensin, dengan kayu kayu yang mengandung selulosa atau pun hemiselulosa.

Terbersit rasa terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah aplikasi agroindustri yang tiada bosan untuk membimbing saya, memberikan ilmu komputer yang begitu bermanfaat bagi saya. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

26 Desember 2011,

JessaDwi

Pendahuluan

Kayu merupakan bagian keras penopang pada pohon, kayu bersifat keras karena mengalami lignifikasi atau pengayuan. Kayu biasanya digunakan untuk berbagai macam keperluan, mulai dari memasak, membuat parabot (kursi, meja, bahan bangunan, jendela, pintu dan rangkaian atap serta bahan kertas)kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan hiasan rumah tangga dan sebagainya Penyebab terbentuknya kayu akibaat akumulasi selulosa dan lignin pada dinding sel berbagai jaringan dibatang. Bagian bagian pada kayu dimulai dengan penampang melintang kayu titik bagian dalam adalah empulur, bagian kayu berwarna gelap adalah kayu teras, dan bagian warna terang adalah kayu hidup(kayu gubai memiliki pembuluh kayu fungsional ) Bagian percabangan akan memperlihatkan pola khusus yang biasanya dianggap sebagai mata, Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial). Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.

Bahan bahan kayu kayu yang mengandung selulosa larutan sodium sulfida (Na2s) soda api (NaOH) amonium hidrogen fosfat magnesium sulfat heptahidrat cendawan aspergillus niger saccharomyces cerevisiae

Alat- alat Penghalus kayu Ketel Kompor otoklaf

Tahap-tahap pembuatan bensin dari kayu : Rebus kepingan-kepingan kayu dalam larutan sodium sulfida (Na2s) dan soda api (NaOH) selama 4 jam pada suhu 1700C. Rendemen delignifikasi berkisar 32,75-61,0%, tergantung jenis kayu dan tingkat alkalinitas atau sulfiditas proses. Hasil delignifikasi berupa pulp alias bubur kayu. Diencerkan pulp berkonsentrasi 5 g per 200ml total media cair. Lalu tambahkan nutrian berupa amonium hidrogen fosfat dan magnesium sulfat heptahidrat Panaskan pulp dalam otoklaf pada suhu 1210C selama 20 menit untuk menghilangkan kontaminan Setelah pulp dingin, tambahkan cendawan aspergillus niger dan kapang saccharomyces cerevisiae, masing-masing 8% dan 10% bobot kayu kering dan aduk rata Fermentasikan larutan selama 96 jam. Selama fermentasi cendawan A. Niger produsen enzim selulase, mengurai ikatan pengunci selulosa menjadi gula sederhana. Kapang S. Cerevisiae mengubah gula sederhana menjadi bioetanol Destilasi hasil fermentasi itu dengan suling yang akan menghasilkan bioetanol berkadar rata-rata 70%.

Pembahasan

Berdasarkan riset prof Dr Ir Wasrin Syafli Magr seorang guru besar Institut Pertanian Bogor teryata Pemanfaatan kayu bukan hanya sebagai bahan pokok dalam pembuatan bangunan melainkan juga bisa dimanfaatkan menjadi bensin.

Dalam risetnya ia menggunakan empat buah jenis kayu diantaranya : pinus, merkusii, sengon Paraseriantes falcataria, Gemelina gmelina arborea, serta kelapa sawit Elaeis guineensis.Rendemen kayu kelapa sawit paling rendah berdasarkan tabel Bensin Kayu Jenis kayu
Pinus Sengon Gemelina Sawit

Kadar selulosa(% bobot)


65,65 56,83 64,40 42,27

Rendemen (l/ton)
139,17 163,32 238,49 79,90

Bioetanol

Bahan baku bioetanol sebaiknya dari jenis kayu keras karena lebih banyak mengandung selulosa. Menurut Dr Ir M Arif Yudianto Meng. Kepala Bidang Teknologi Etanol dan Derivatif Balai Besar Teknologi Pati BPPT, peluang penerapan teknologi pembuatan bioetanol berbahan selulosa sebenarnya lebih besar pada bahan bagase dan jerami padi, selama ini kedua bahan itu terbuang percuma kadang malah dibakar sehingga mengemisikan gas rumah kaca. Pada 2010 Departemen Pertanian memperkirakan produksi jerami 84-juta ton pertahun. Untuk menghasilkan 1 liter bioetanol berkadar 80% memerlukan 3-4 kg jerami artinya potensi produksi bioetanol berbahan jerami setidaknya 21-juta liter pertahun. Bagaimana dengan bagase atau limbah pengolahan tebu? Pada musim giling 2008, produksi total 59 pabrik gula di Indonesia mencapai 2.574,3 ton gula pasir dari rendemen 8%. Itu 32.175 ton batang tebu mentah. Dari jumlah itu, 30-40% menjadi bagase dan pabrik hanya menyerap dua per tiga,maka terdapat 2.896 ton per tahun. Menurut Wasrin jerami, limbah, penggergajian, bambu, dan ampas tebu bahan baku bioetanol potensial, syaratnya mempunyai kandungan selulosa karena selulosa merupakan polimer alam penyusun dinding sel tanaman yang melalui proses pengolahan menjadi alkohol alias bioetanol.

Bioetanol dari pangan seperti singkong, sorgum, dan tebu mengundang konflik sejak seruan penggunaan bahan bakar nabati santer terdengar, jadi kayu sangat berpotensi sebagai bioetanol. Pengolahan kayu menjadi bioetanol memang perlu pengolahan panjang, sebab rantai karbon dan ukuran molekul selulosa dalam kayu lebih besar daripada glukosa dalam tebu atau pati dalam singkong. Selain itu selulosa kuat dan ulet karena selulosa berfungsi melindungi sel dari pengaruh lingkungan hidup makhluk lain kata guru besar Fakultas Kehutanan itu. Selain itu produsen mesti memisahkan selulosa dari komponen kayu lain seperti lignin, hemiselulosa, dan selulosa berbentuk kristal. Lignin dan selulosa berbentuk kristal menghambat proses fermentasi selulosa. Oleh karena itu produsen perlu menyingkirkan melalui proses delignifikasi. Mengolah kayu menjadi pulp alias bubur kertas terlebih dahulukemudian memfermentasikan menjadi bioetanol, menggunakan larutan sodium sulfida (Na2s) dan soda api (NaOH) untuk memasak kepingan kayu berbobot 200 g. Lama pemasakan 4 jam pada suhu 170 0C. Rendemen delignifikasi berkisar 32,75-61,04%, tergantung jenis kayu dan tingkat alkalinitas atau sulfiditas proses. Selain dengan bahan kimia produsen bioetanol dapat memanfaatkan cendawan pelapuk putih, diantaranya Phanerochaete chrysosporium, Ceriporiopsis subvesmispora, atau Schiziphyllum commune. Cendawan itu tergolong jenis pelapuk akar yang kerap menimbulkan penyakit busuk putih pada tanaman berkayu, meski ramah lingkungan delignifikasi dengan agen hayati perlu waktu lama, 28-35 hari. Hasil delignifikasi berupa pulp alias bubur kayu, disakarifikasi dan difermentasikan dengan proses SSF alias similtaneous saccharification and fermentation. Selanjutnya ia menggunakan cendawan Aspergillus niger dan kapang Saccaromyces cerevisiae, untuk fermentasi bubur kayu selama 96 jam. Proses fermentasi hasil paten perusahaan minyak Gulf Oil Company dan University of Arkansas, Amerika serikat itu menghasilkan bioetanol

Kesimpulan Proses pemanfaatan kayu menjadi bensin dapat menambah pendapatan negara, namun hendaknya melakukan proses penanaman yang berkesinambungan . Daftar Pustaka

Djatmoko.2009.Mengubah Kayu Menjadi Bensin-Trubus Edisi 2009.Jakarta.GNE Indonesia Suryani.2008.Definisi Kayu-Kayuan. [Terhubung berkala].http://www.Kamus.sabda.org.(26 Desember 2011)