Anda di halaman 1dari 2

Waspada Online

Aliran Sesat & Paradoks HAM


Thursday, 27 March 2008 23:14 WIB

Benang kusut wabah aliran sesat di Indonesia tampaknya belum ada


titik temu penyelesaian. Kasus mutakhir, munculnya aliran yang
menyimpang dari kelaziman dan kebiasaan nilai-nilai Islam di Kota Medan.

WASPADA Online

Oleh Asmaul Husna

(Ketua Umum Muslimah Peduli Ummat Sumut)

Benang kusut wabah aliran sesat di Indonesia tampaknya belum ada titik temu penyelesaian. Kasus mutakhir,
munculnya aliran yang menyimpang dari kelaziman dan kebiasaan nilai-nilai Islam di Kota Medan. Kemunculan aliran
sesat ini spontanitas mengundang kekisruhan dikalangan ummat Islam. Pihak yang pro aliran sesat, membela dan
mendukung keberadaan aliran-aliran ini dengan argumentasi bahwasanya dalam perspektif hak asasi manusia setiap
manusia bebas untuk memiliki agama dan keyakinan tertentu. Sedangkan bagi pihak yang kontra terhadap aliran sesat
berpendapat bahwa aliran sesat merupakan organisasi yang menyimpang dari aqidah yang sahih. Kontroversi seputar
aliran sesat yang mengatasnamakan Islam ini kian hangat dan sering menjadi polemik di masyarakat. Efek domino dari
polemik ini kadangkala berakhir dengan kekesalan dan kekecewaan ummat Islam. Bentuk kekesalan tersebut sering
juga menuai kecaman keras terhadap pemerintah yang dinilai lamban dan kompromistis terhadap polemik aliran sesat ini.

Puncak kekecewaan tersebut terakumulasi dalam kegiatan-kegiatan yang digagas oleh beberapa elemen ormas Islam
untuk menyatukan langkah dalam menangkal penyimpangan aqidah. Beberapa forum diskusi juga kian gencar digelar
untuk mengaktualisasikan keinginan ormas-ormas Islam tersebut. Forum Ummat Islam yang merupakan afiliasi ormas-
ormas Islam turut menggelar Diskusi Forum Kajian Sosial dan Kemasyarakatan (FKSK) ke-34 di gedung YTKI Jakarta
beberapa waktu lalu yang bertajuk ”Benarkah Ahmadiyah Sudah Tobat?”. Amin Jamaludin, Ketua
Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) meminta kepada Presiden SBY untuk memenuhi janjinya mengikuti
fatwa MUI terkait aliran sesat seperti Ahmadiyah. MUI sendiri telah menfatwakan Ahmadiyah itu sesat dan pemerintah
diminta untuk menindak tegas jamaah aliran sesat ini.

Sementara itu Muhammad Al Khaththath, Ketua DPP HTI dan sekjen Forum Umat Islam (FUI), mengatakan bahwa umat
Islam akan terus berupaya agar SBY membubarkan Ahmadiyah. Untuk itu ia pun menyerukan kepada DPR, untuk
meminta secara tegas Presiden SBY melaksanakan pasal 1 UU PNPS No 1 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan
dan atau Penodaan Agama. Al Khaththath mengingatkan dalam UU tersebut dinyatakan, bahwa setiap orang dilarang
dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan
penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang
menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok
ajaran agama itu.

Aliran sesat versi Ulama

Kekecewaan ummat Islam yang seringkali disakiti karena lemahnya supremasi hukum untuk melarang pergerakan aliran-
aliran sesat didorong oleh kesucian iman dan didukung oleh fatwa ulama.Beberapa puluh tahun yang lalu, ulama baik
yang bertaraf nasional maupun internasional telah memiliki itikad baik untuk melarang setiap aliran yang menyimpang
dari aqidah Islam. Melalui keputusan Majelis Ulama Indonesia nomor: 05/Kep/Munas II/MUI/1980, ulama bertaraf
nasional ini telah menyatakan dengan tegas bahwasanya berdasarkan data dan fatwa yang ditemukan dalam 9 buah
buku tentang Ahmadiyah, maka Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Ahmadiyah adalah jama’ah di luar
Islam, sesat dan menyesatkan.

Sedangkan para ulama yang tergabung di Liga Muslim Dunia (Rabithah ‘Alam Islami) melangsungkan konferensi
tahunannya di Makkah Al-MukarramaH Saudi Arabia dari tanggal 14 s.d. 18 Rabiul Awwal 1394 H (6 s.d. 10 April 1974)
yang diikuti oleh 140 delegasi negara-negara Muslim dan organisasi Muslim dari seluruh dunia. Salah satu kesimpulan
http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 18 November, 2008, 00:20
Waspada Online

dari konferensi tersebut adalah menyatakan bahwa Qadianiyah atau Ahmadiyah merupakan sebuah gerakan bawah
tanah yang melawan Islam dan Muslim dunia, dengan penuh kepalsuan dan kebohongan mengaku sebagai sebuah
aliran Islam; yang ber-kedok sebagai Islam dan untuk kepentingan keduniaan berusaha menarik perhatian dan
merencanakan untuk merusak fondamen Islam.

Paradoks HAM

Menilik dari ketegasan pelarangan terhadap aliran-aliran yang menyimpang tersebut, tampak bahwasanya ulama
sebagai pewaris para nabi telah berupaya untuk senantiasa melindungi dan membentengi ummat dari pendangkalan
dan penyimpangan aqidah. Ironisnya, mengapa aliran-aliran sesat ini masih tumbuh subur di Indonesia?. Menurut
Munarman SH, Direktur An Nasr Institute dan juga mantan Ketua YLBHI menyebutkan bahwa penyebabnya adalah
faktor politik. Menurutnya, pemerintah sekarang ini sangat takut jika dikatakan melanggar HAM sehingga lebih
mengutamakan citra politik dimata dunia. Pelanggaran Hak asasi manusia (HAM) sepertinya merupakan aib dan
monster yang harus dihindari oleh setiap pemegang kebijakan di negeri-negeri Islam. Bagi Indonesia, tuduhan
pelanggaran HAM di Timtim telah berdampak pada embargo militer dari ‘jawara HAM”, Amerika Serikat.
Karena itu, HAM merupakan senjata yang ampuh untuk senantiasa memelihara kemaksiyatan dan kemungkaran
didalam kehidupan alam demokrasi. Tarik ulur penyusunan RUU APP yang berubah menjadi RUU PP merupakan
indikator yang jelas bahwasanya HAM hanya akan berpihak pada kemaksiyatan.

Belum lagi kasus penyiksaan para tawanan yang dituduh sebagai teroris di Guantanamo dan invasi AS ke Afghanistan
dan Irak yang menuai korban puluhan ribu jiwa. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa HAM adalah sebuah paradoks. HAM
hanya berlaku untuk sebuah kepentingan negara adidaya atau kepentingan pemilik modal untuk mengelola
kemaksiyatan. Namun, HAM tidak berlaku bagi para pengusung akhlak mulia yang ingin menghapuskan pornografi dan
pornoaksi. HAM juga tak boleh diterapkan bagi negeri-negeri yang ingin merdeka dan berdaulat untuk mengatur
kehidupannya berdasarkan nilai-nilai syariah. Konsepsi HAM yang paradoksal ini sebenarnya berkembang dari paham
sekulerisme. Sekulerisme menurut Syaikh Muhammad Quthub adalah membangun kehidupan diatas asas selain agama.
Menarik untuk disimak pernyataan ulama kharismatik, Buya Hamka tentang sekulerisme : Kalian boleh menyebut Islam,
tetapi jangan Islam yang diajarkan Rasul, jangan Daulah Islamiyah, jangan syariat Islam.

Dan kalian boleh juga duduk dalam pemerintahan, asal Islam itu kalian simpan, jangan kalian perjuangkan. Hendak
harta, kami beri harta, hendak pangkat, kami beri pangkat, tetapi kekuasaan tidak ada ditangan kalian, inilah
sekularisme. Walhasil, aliran sesat dan menyesatkan akan tetap tumbuh sumbur jika masyarakat dan negara masih
berpedoman pada HAM yang berbingkai paradoksal dan standar ganda. Karena itu, saatnya seluruh elemen masyarakat
berupaya menyelamatkan generasi ummat dari segala bentuk penyimpangan aqidah dan nilai-nilai syariah. Upaya ini
sangat berkorelasi dan membutuhkan keberanian serta komitmen penguasa untuk menjadi benteng aqidah dan
pengayom bagi rakyat dari kerusakan tatanan sosial yang kian parah.

Wallahu’alam bi ash shawab.

http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 18 November, 2008, 00:20