Anda di halaman 1dari 7

Alat Tangkap Di Danau Tempe Written by Andi Wakiah, S.

Pi Wednesday, 24 March 2010 10:47

Kondisi Danau Tempe saat ini kian kritis akibat sedimentasi. Setiap tahunnya, lebih dari 80 juta meter kubik material sedimen masuk ke Danau Tempe. Akibatnya kalau tahun 2000-an lalu luasnya dalam keadaan normal di musim kemarau sekitar 10.000 hektar, saat ini tinggal 1.000 hektar saja. Tapi di musim hujan luasnya mencapai 43.000 hektar dan menggenangi sebagian besar wilayah sekitarnya.

Kondisi Danau Tempe yang unik menyebabkan masyarakat terkondisi dengan dua bentuk pekerjaan yang mereka tekuni bergantian selama setahun. Pada saat air danau naik dan musim ikan mereka berprofesi sebagai nelayan dan pada saat danau kering mereka beralih menjadi petani palawija. Pada musim kemarau areal danau mengering, dan muncul lahan-lahan dan delta-delta sungai yang kondisi tanahnya subur. Keadaan ini dimanfaatkan masyarakat dengan melakukan kegiatan penanaman tanaman palawija. Kebiasaan pembagian lahan yang merupakan adat-istiadat dalam pengelolaan lahan usahatani di wilayah Danau Tempe yaitu Makoti. Makoti adalah pembagian tanah atau lahan yang akan diolah (bukan hak milik) setelah air danau surut. Pada jaman dahulu, sistem pembagian dilakukan dengan sistem lot/undi yang didasarkan atas posisi atau letak masing-masing lahan. Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi perubahan dalam hal pembagian areal danau. Makoti saat ini sudah tidak pernah dilakukan lagi, karena beberapa areal danau telah menjadi hak milik perorangan dengan adanya surat-surat resmi kepemilikan. Hal ini menimbulkan kecemburuan sosial pada masyarakat lapisan bawah, sehingga timbul adanya keinginan untuk menghidupkan kembali sistem Makoti yang menurut mereka sangat baik dan adil dalam pengelolaan lahan usaha. Melalui sistem ini rasa kebersamaan dan kekeluargaan di antara mereka dapat terpelihara. Perubahan kebiasaan Makoti antara lain disebabkan tuntutan dari pelaksanaan otonomi daerah, dimana Danau Tempe merupakan salah satu aset yang bisa diberdayakan untuk menyumbang PAD dari hasil ikan, palawija maupun melalui sumbangan retribusi dari pemilikan lahan di Danau Tempe. Dalam masyarakat masih berlaku hukum adat yang disebut arung ennengnge. Hukum adat ini intinya berisi peraturan untuk menjamin pengelolaan kekayaan Danau Tempe secara adil dan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Arung ennengnge antara lain mengatur hak ulayat tentang tata ruang perairan, yaitu mengenai tempat-tempat dan waktu yang diperbolehkan untuk mengambil ikan. Aturan tersebut, selain bermuatan religius juga berperspektif pelestarian.

Pelanggaran atas ketentuan itu akan dikenakan sanksi tegas yang disebut idosa. Berkaitan dengan upaya pelestarian ikan di Danau Tempe, Pemerintah Kabupaten Wajo telah mengeluarkan Perda No 5/2000 yang didalamnya terdapat berbagai hal yang berhubungan dengan penangkapan ikan di Danau Tempe. Aturan tersebut memuat jenis alat tangkap yang boleh digunakan untuk menangkap ikan dan jenis serta ukuran ikan yang boleh ditangkap. Disamping itu juga, terdapat Palawang. Palawang adalah tempat tertentu di pinggir danau yang batasnya telah ditentukan untuk dikuasai dengan dipasangi belalat/kerai bambu di sekelilingnya (Perda No 5/2000). Sistem kepemilikannya adalah dengan cara pelelangan yang dilakukan tiap dua tahun sekali. Pada bulan-bulan tertentu, hak menangkap ikan dibeberapa areal merupakan hak pemilik pallawang. Nelayan yang melanggar harus menyerahkan alat-alat tangkapnya sebagai hukuman. Dari hasil pengamatan di lapangan sekurangnya telah berhasil diinventarisasi keberadaan alat tangkap yang dioperasika di perairan umum Danau Tempe Sulewesi Selatan seperti : 1. Lanra (jenis biasa) Lanra adalah sejenis gill net monofilament yang pengoperasiannya dibentang hanyut di permukaan perairan. Ujung jaring disambung dengan tali pelampung dan diikatkan dengan pelampung tanda sedangkan ujung yang lain diikat pada perahu. Ukuran mata jaring disesuaikan dengan keberadaan ikan di perairan berkisar 8 12 cm dengan ikan sasaran : sepat, tawes, bungok, gabus. Satu unit lanra terdiri dari 8 10 pis, masing-masing pis berukuran memanjang (mesh depth) 1,0 meter. Pengoperasian dapat dilakukan sepanjang tahun pada waktu siang hari. 2. Lanra gattung Prinsip desain dan pengoperasian pada saat setting lanra gattung ini hampir sama dengan lanra yang disebutkan sebelumnya. Pada lanra gattung pada konstruksi webbing dilengkapi selvedge atas yang terdiri dari dua mata dari bahan PA mono No. 100 dan selvedge bawah yang terdiri dari satu mata dari bahan PA mono No. 70. Ukuran mata jaring pada webbing utama 11-12 cm dengan ikan sasaran : ikan mas dan ikan gabus. Ukuran dan jumlah unit alat sama dengan lanra biasa. Pengoperasiannya dilakukan sepanjang tahun pada waktu malam hari. 3. Timpo Merupakan jenis alat tangkap yang terbuat dari bumbung-bumbung bamboo dengan ukuran panjang 50 cm diameter 10-15 cm. bumbung-bumbung bamboo ini harus diberi lubang pada kedua sisi, baik kanan maupun kiri. Cara pengoperasiannya, sejumlah bumbung-bumbung bambu tersebut ditenggelamkan berjajar, berbaris kira-kira 1 meter di bawah permukaan air. Setiap saat nelayan memeriksa bumbungbumbung bambu tersebut dengan menyelam, untuk melihat ikan yang masuk ke dalamnya, yaitu dengan cara menutup kedua telapak tangan serta diangkat ke atas permukaan. 4. Bubu pattopo Bubu yang terbuat dari bilah bambu yang diayam berbentuk selinder dengan diameter 20 cm,

panjang 80 cm. Bentuk dan ukuran sama seperti bubu lainnya yang telah diurakan sebelumnya, namun bubu patoppo ini dikhususkan untuk menangkap ikan Bettu (sejenis bloso) yang selalu naik ke atas permukaan danau pada saat-saat tertentu unhtuk mengambil oksigen. Untuk itu bubu dipasang menggantung pada tanaman/rumput-rumput laut danau dan posisinya agak miring mendekati vertical dimana diharapkan bisa menghadang/ merangkap ikan masuk ke dalam bubu pada saat ikan naik ke permukaan mengambil oksigen. 5. Bubu konde Bubu konde ini termasuk kelompok trap bebrbentuk menyerupai pagar pada kedua ujungnya berbentuk seperti bagian ujungnya berbentuk seperti bagian ujung anak panah (konde). Pada kedua ujung dipasang bubu penampung ikan yang masuk perangkap ke dalam konde yang seterusnya tertangkap ke dalam bubu. Konstruksinya terdiri dari belat/kere untuk pagar dan konde serta 4 bubu bamboo masing-masing berukuran panjang 80 cm, diameter 20 cm. adapun belat terbuat dari anyaman bilah bamboo setinggi 125 cm, panjang pagar belat 20-25 m, lebar konde 1,5 m. Tempat pemasangan di perairan kurang Danau pada saat permukaan air danau setinggi kurang dari 125 cm. pengambilan hasil tangkapan dilakukan sewaktu-waktu (umumnya sehari sekali) yang terdiri atas jenis ikan sepat, tawes, nila, ikan bungok. 6. Julu (pada anak sungai) Julu pada anak sungai (ex ornament) yang dipasang membentang pada mulut anak sungai dan terdiri dari satu unit pukat kantong yang pada kedua sayap (sayap kanan dan kiri). Peranan sayap sebagai penggiring (leader net) agar ikan ke tepi dan masuk anak sungai. Ukuran pukat panjang 12 depa, lebar 3 depa dan tinggi 1 depa. Pemasangan pukat pada saat air pasang hingga menjelang surut. Pengangkatan hasil tangkap dilaksanakan sekali sehari pada saat pagi hari. Hasil tangkapan terdiri dari berbagai jenis ikan danau. 7. Julu (sungai besar) Julu pada sungai terdiri dari beberapa unit kantong yang masing-masing unit terdiri bagian mulut badan dan ujung kantong (codend) yang jumlahnya disesuaikan keadaan lebar sungai dengan menyisakan daerah bebas minimal 15 meter dikanan dan dikiri. Pada bagian mulut dilengkapi tonggak-tonggak dan bambu horizontal membentang lebar sungai sebagai gantungan mulut kantong agar keadaanya tetap terbuka. Bahan kantong terdiri dari webbing polyamide berukuran mata : 22 mm pada bagian depan (dekat mulut) 15 mm pada bagian tengah atau badan kantong dan 12 mm pada bagian ujung kantong. Panjang pukat kantong mulai dari mulut sampai ujung kantong 13-14 meter, lebar bukaan mulut dua depa dan tinggi 1,5 depa. Hasil utamanya adalah jenis udang sungai dan beberapa jenis ikan. Pengangkatan dan pengambilan hasil tangkap 2 (dua) kali sehari (pagi dan malam hari) dan berlangsung sepanjang tahun. 8. Padari Termasuk golongan serok yang berbentuk kerucut yang dalamya 225 cm dan mulutnya digantungkan pada kerangka rotan berbentuk lingkaran berdiameter 175 cm. Jaring kerucut ini

terbuat dari waring lembut berukuran mata 4 mm. Untuk memudahkan pengoperasiannya diberi tangkai batang bamboo panjang 2-3 meter yang bagian tengahnya diikatkan pada perahu untuk meringankan pemegangan. Alat ini digunakan khusus mencari udang kecil semacam rebon yang biasanya banyak terdapat dibawah tanaman, rerumbutan yang tumbuh di permukaan danau. Cara pengoperasiannya, serok tersebut disodokkan di bawah akar-akar tanaman/rumput atau kira-kira 30 cm sejajar di bawah permukaan air. Dalam hal ini nelayan cukup bekerja sendirian. 9. Bungka toddo Bungka toddo berarti Lumpur yang ditancap. Dalam hal ini digunakan tiga batang bambu yang ditancapkan sehingga berbentuk pyramid untuk menahan tumbuhan air disekelilingnya sebagai tempat berlindung dan akan menetap dibawahnya, sehingga berfungsi sebagai alat pengumpul ikan (rumpon). Sejumlah unit pancangan bambu dipasang di luasan perairan (300-2000 bambu) sehingga pada luasan tersebut permukaan air tertutup tumbuhan air dan hal ini berlangsung selama hampir 6 bulan sebelum ikan habis dipanen. Pada saat permukaan air danau setinggi kurang dari 1,25 meter disekeliling luasan pancangan bunka toddo dipasang belat dari anyaman bilah bambu (kere) sebagai pagar keliling. Setelah dua (2) minggu pemasangan belat, dan bersamaan dengan kian surutnya air pagar belat mulai disempitkan sambil dilakukan kegiatan penagkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap seperti serok, bubu dan jaring lanra. Ikan yang tertangkap meliputi semua jenis ikan yang ada di danau dari berbagai ukuran. 10. Penambe Termasuk golongan alat tangkap prawe yang dihanyutkan di tenga danau dengan sasaran utama adalah ikan mas. Biasanya nelayan danau memasang 100-200 mata pancing dengan jarak pancing dengan pancing lainnya 3 meter dimana pada setiap 10 sampai 30 mata pancing diberi pelampung dari jerigen plastik. Periode penagkapan berlangsung Februari Oktober. 11. Jala Jala yang digunakan berukuran mat : , panjang 2,7 meter. Sedang jala ikan tawes dan sepat ukuran mata 1 2 panjang 3,8 - 4,5 meter serta jala ikan mas berukuran mata 4 panjang 5-6 meter. Cara pengoperasiannya ditebar kedalam air karena ini termasuk jala tebar. Di perairan tengah Danau nelayan menebar dari atas perahu, namun bila sungai biasanya nelayan mengikat perahunya di tepiah, sedangkan penebaran dilakukan di atas sebuah panggung/dermaga papan kecil ukuran 1 x 1 meter yang sangat banyak terdapat disepanjang tepi sungai. Jadi mereka berpindah-pindah dari papan ke papan lain. 12. Capiang Capiang adalah sejenis alat penangkap ikan di perairan umum Danau Tempe yang terdiri dari unit belat/kere dan beberapa bubu (2-4 bubu) bambu. Tempat pemasangan di pinggiran danau terutama pada daerah lekukan sedemikian rupa sehingga pada saat air surut ikan terhadang oleh belat kemudian ikan terperankap masuk dalam bubu yang dipasang pada salah satu ujung belat bambu tersebut. Capiang ini mulai dipasang pada saat ketinggian air danau dimana alat tersebut dipasang pada saat ketinggian air danau dimana alat saat mencapai tidak lebih 1 meter. Pengambilan ikan yang terperangkap bubu pada siang hari dengan cara melepas separoh bagian

bubu kemudian diangkat ke atas perahu, jenis ikan yang tertangkap meliputi semua jenis ikan yang ada di perairan tersebut. Selain alat tangkap diatas, terdapat juga Salekko, Pamulung, (tombak garpu, Sulo (tombak besi), serok, pancing dan rawai udang.

WABUP SERAHKAN RANPERDA APBDP 2011 KE LEGISLATIF Wajo (HUMAS) Wakil Bupati Wajo H. Amran Mahmud Senin (10/10) menyerahkan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Nota Keuangan dan Rencana Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP) Kabupaten Wajo tahun 2011 pada acara Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Wajo di Ruang Sidang Utama DPRD Kabupaten Wajo yang dihadiri oleh Ketua dan Wakil Ketua serta para anggota DPRD, Muspida, Ketua Pengadilan Negeri Sengkang, para Pimpinan SKPD dan undang lainnya. Menurut Amran Mahmud dalam sambutannya, mengatakan, rancangan perubahan APBD Kabupaten Wajo tahun 2011 merupakan penjabaran pelaksanaan pemerintahan tahun ketiga priode 2009 2014, dimana RAPBD merupakan klristalisasi dari seluruh rencana kerja anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berdasarkan kepada sinkronisasi antara rencana kerja pemerintah dengan rencana kerja pemerintah daerah yang tertian dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang telah disepakati dalam nota kesepakatan antara kepala daerah dengan DPRD.

APBD merupakan wujud keterpaduan seluruh program nasional dan daerah dalam upaya meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat di daerah, lanjut Amran Mahmud, sinergitas pusat dan daerah dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi berkeadilan yang didukung dengan pemantapan tatakelola pemerintahan menjadi tantangan utama dalam pembangunan. Gambaran umum perubahan APBD , tegas Amran Mahmud, pada APBD Pokok awalnya pendapatan APBD ditargetkan sebesar Rp 733 milyar lebih, mengalami perubahan dan bertambah menjadi Rp 808 milyar lebih atau bertambah Rp 75 milyar atau naik 10,29 %, hal ini dipengaruhi adanya perubahan pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebanyak Rp 13 juta lebih, Perimbangan bertambah Rp 14 milyar, lain-lain pendapat bertambah Rp 61 milyar. Begitu pula pada sisi belanja daerah, kata Mantan Sekretaris DPD KNPI Kabupaten Wajo ini, pada APBD pokok awalnya sebesar Rp 787 milyar lebih, maka pada APBDP bertambah menjadi Rp 862 milyar lebih atau naik sebesar Rp 75 milyar lebih yang dipengaruhi oleh bertambahnya belanja tidak langsung sebesar Rp 15 milyar lebih, dan bertambahnya belanja lansung sebesar Rp 59 milyar lebih. Hal tersebut merupakan wujud komitmen pemerintah daerah mengalokasikan dana yang lebih besar pada belanja langsung masing-masing SKPD yang sasarannya bersentuhan langsung dengan kepentingan atau kebutuhan masyarakat, kuncinya. Pada kesempatan yang sama Juru Bicara Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Hj. A. Sriagustina Palaguna, dalam pandangan umumnya, menyoroti kinerja SKPD yang sangat lambang dalam melaksanakan kegiatan sehingga sampai bulan Oktober ini masih banyak kegiatan yang terbengkalai belum selesai pelaksanaannya, sehingga pelaksanaan program pembangunan di Kabupaten Wajo belum berjalan maksimal. Lain halnya Susisusanti Sutomo, juru Bicara Fraksi Partai Demokrat, menyoroti Kepala Desa yang terlibat dalam politik praktis sangat bertentangan dengan aturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga disanrankan (Susisusanti, Red) agar Bupati memberikan sanksi yang tegas kepada Kades yang terlibat dalam politik praktis tersebut. Susisusanti juga mengharapkan kepada Bupati Wajo agar mengusut tuntas PAD khususnya hasil pelelangan Eks Ornamen yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wajo sebanyak Rp 600 juta lebih, agar secepatnya disetor ke kas daerah sebagai PAD. (HAL).

48 Eks Ornamen Belum Dilelang SENGKANG -- Lokasi eks ornamen di 48 lokasi di Kabupaten Wajo belum juga dilelang. Pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wajo dinilai kurang melakukan sosialisasi. Hal tersebut diungkapkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Wajo, Aksar SE, kemarin. " Hingga saat ini baru dua dari 50 lokasi eks ornamen yang dilelang. Ini dikarenakan Dinas Perikanan kurang melakukan sosialisasi," kata Aksar. Dia menandaskan, seharusnya Dinas Kelautan dan Perikanan giat melakukan sosialisasi, karena eks ornamen tersebut merupakan salah satu pendapatan asli daerah. " Di Wajo ada 7 kecamatan yang merupakan lokasi eks ornamen, dan hingga saat ini baru rawa Lasetang yang terletak di Kecamatan Majauleng dan Palawang Lawettoing di Kecamatan Tanasitolo yang telah dilelang," jelas Aksar. Dia merinci, untuk Kecamatan Teampe, terdapat 19 lokasi eks ornamen yang terdiri dari Sungai, kanal dan palawang dan belum laku, Kecamatan Sabbangparu 3 lokasi palawang juga belum ada yang laku, di Kecamatan Pammana ada 15 rawa yang belum dilelang, Kecamatan Belawa ada empat rawa, dan Kecamatan Majauleng terdapat 6 rawa, satu diantaranya sudah dilelang serta di Kecamatan Tanasitolo terdapat satu palawang yang sudah dilelang. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Wajo, A Bengawan Basir menampik jika pihaknya kurang sosialisasi, sehingga pelelangan puluhan eks ornamen terlambat hingga 2 bulan. "Kalau dibilang sosialisasi kurang, saya rasa itu tidak benar, karena lelang eks ornament sudah menjadi budaya dan para pelelang itu tahunya bulan April," kata Bengawan. Dia mengungkapkan, lelang esk ornamen tersebut berdasarkan keputusan rapat gabungan komisi DPRD, yaitu pelelangan akan dilakukan pada tanggal 2 Juli mendatang. Pihak kami tidak ada masalah, masalahnya ada di pihak DPRD, harga ditetapkan oleh DPRD. Ketika saya minta pelelangan 30 Juni, anggota DPRD meminta tanggal 2 Juli," pungkasnya. (win)