Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

SEORANG PEREMPUAN USIA 38 TAHUN DENGAN OS ULKUS KORNEA ET CAUSA SUSPEK BAKTERI

Diajukan Guna Melengkapi Persyaratan Kepaniteraan Senior Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Penguji Kasus Pembimbing Dibacakan : dr. Paramastri Arintawati, SpM : dr. Kristina Dian I. : 18 Februari 2012

Dibacakan oleh : Syeikh Faiz Hasan Alboneh

KEPANITERAAN SENIOR FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Nama NIM Judul Pembimbing Penguji

: Syeikh Faiz Hasan Alboneh : 22010110200151 : Seorang Perempuan Usia 38 Tahun dengan OS Ulkus Kornea Et Causa Suspek Bakteri : dr. Kristina Dian I. : dr. Paramastri Arintawati, SpM (K)

Semarang, 17 Februari 2012 Penguji, Pembimbing,

dr. Paramastri Arintawati, SpM

dr. Kristina Dian I.

LAPORAN KASUS SEORANG PEREMPUAN USIA 38 TAHUN DENGAN OS ULKUS KORNEA ET CAUSA SUSPEK BAKTERI Penguji Kasus Pembimbing Dibacakan oleh Dibacakan tanggal I. : dr. Paramastri Arintawati, SpM : dr. Kristina Dian I. : Syeikh Faiz Hasan Alboneh : 18 Februari 2012

PENDAHULUAN Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh adanya

infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan. Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan sikatrik kornea dan merupakan penyebab kebutaan.1 Secara umum telah diketahui bahwa identifikasi kuman penyebab merupakan dasar untuk memberikan pengobatan yang rasional. Pengetahuan tentang riwayat penyakit, cara pengobatan dan hasilnya serta gambaran klinis yang teliti pada mata luar dan segmen depan bola mata tidak boleh terlalu diunggulkan karena masih memerlukan pemeriksaan mikrobiologik.2 Tujuan penatalaksanaan ulkus kornea bakterial adalah eradikasi kuman penyebab untuk mencegah perluasan kerusakan, menekan peradangan untuk mengurangi destruksi kornea, mempercepat penyembuhan defek epitel serta mengatasi komplikasi yang terjadi.2

II.

IDENTITAS PENDERITA Nama Umur : Ny. SR : 38 tahun

Agama Alamat Pekerjaan ANAMNESIS

: Islam : Pegandon, Kendal : Petani

(autoanamnesis pada 10 Februari 2012 di poli Mata RS.dr Kariadi) Keluhan Utama : Terdapat putih-putih di mata kiri Riwayat Penyakit Sekarang : 1 minggu SMRS mata kiri penderita terkena padi saat sedang bekerja di sawah. Penderita mengeluh mata kiri menjadi merah, nyeri, silau, nrocos, dan keluar kotoran mata warna kuning. Keluhan penderita tidak disertai adanya gangguan penglihatan. Kemudian penderita memeriksakan diri ke dokter umum dan diberi obat suntik, obat tetes dan obat minum (pasien tidak tahu nama obatnya), setelah itu keluhan rasa nyeri dan nrocos berkurang. 4 hari SMRS pasien mengeluh munculnya bercak putih pada mata yang makin lama makin membesar, mata terasa mengganjal, dan disertai penglihatan yang menjadi kabur. Mata merah (+), nyeri (-), silau (+), nrocos (-). Penderita berobat ke dokter dan akhirnya dirujuk ke RSDK. Riwayat Penyakit Dahulu : -

Riwayat trauma pada daerah mata (+) Riwayat penyakit mata lainnya disangkal Riwayat pemakaian kacamata (-) Riwayat alergi obat dan makanan disangkal Riwayat pengobatan steroid dan jamu jangka lama disangkal Riwayat darah tinggi disangkal Riwayat kencing manis disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Riwayat keluarga yang menderita keadaan seperti ini Riwayat kencing manis dalam keluarga disangkal Riwayat darah tinggi dalam keluarga disangkal

disangkal -

Riwayat Sosial Ekonomi :


-

Penderita merupakan seorang petani Biaya pengobatan ditanggung JAMKESMAS Kesan : sosial ekonomi kurang

III.

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN FISIK Status Praesen (Tanggal 13 Juli 2011) Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Pemeriksaan fisik : baik : kompos mentis : TD 110/80 mmHg nadi : 84x/menit : kepala : mesosefal thoraks : cor : tidak ada kelainan paru : tidak ada kelainan abdomen ekstremitas : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan suhu : 36,50C RR : 20x/menit

Status Oftalmologi (Tanggal 13 Juli 2011) OD Injeksi siliar Injeksi conjungtiva

Defek epitel (+) Jaringan nekrotik (+) OCULUS DEXTER 6/7.5 Tidak dikoreksi Tidak dilakukan Gerak bola mata bebas ke OCULUS SINISTER 1/300 Tidak dikoreksi Tidak dilakukan Gerak bola mata bebas ke

VISUS KOREKSI SENSUS COLORIS PARASE/PARALYSE

segala arah Tidak ada kelainan Edema (-), spasme (-) Edema (-), spasme (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) injeksi (-), sekret (-) Tidak ada kelainan Jernih

SUPERCILIA PALPEBRA SUPERIOR PALPEBRA INFERIOR CONJUNGTIVA PALPEBRALIS CONJUNGTIVA FORNICES CONJUNGTIVA BULBI SCLERA CORNEA

segala arah Tidak ada kelainan Edema (+), spasme (+) Edema (+), spasme (+) Hiperemis (+), sekret (-), edema (-) Hiperemis (+), sekret (-), edema(-) Mix injeksi (+), sekret (+) mukopurulent Tidak ada kelainan Edema kornea (+),defek epitel (+), letak paracentral 5x4 mm, kedalaman sampai ke stroma, batas tegas, tes fluorescein (+), infiltrat (+), jaringan nekrotik (+), Kedalaman cukup, Tyndall Effect (-), hipopion (-) Kripte (+), sinekia (-) Bulat, central, regular, 3 mm, RP (+) N Jernih (+) suram T (digital) normal Tidak diperiksa

Kedalaman cukup, Tyndall Effect (-) Kripte (+), sinekia (-) Bulat, central, regular, 3 mm, RP (+) N Jernih (+) cemerlang T (digital) normal Tidak diperiksa

CAMERA OCULI ANTERIOR IRIS PUPIL LENSA FUNDUS REFLEKS TENSIO OCULI SISTEM CANALIS LACRIMALIS

IV.

RESUME Datang pasien seoran perempuan 38 tahun dengan keluhan timbul bercak putih pada mata kiri yang dirasakan setelah mata kiri terkena padi. Keluhan semakin meluas disertai dengan adanya visus yang menurun disertai adanya tanda-tanda inflamasi seperti eritem, hiperlakrimasi, nyeri, silau, dan pengeluaran sekret warna kuning. Penderita berobat ke dokter dan akhirnya dirujuk ke RSDK

Status Oftalmologi : OCULUS DEXTER 6/7.5 Edema (-), spasme (-) Edema (-), spasme (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema (-) injeksi (-), sekret (-) Jernih VISUS PALPEBRA SUPERIOR PALPEBRA INFERIOR CONJUNGTIVA PALPEBRALIS CONJUNGTIVA FORNICES CONJUNGTIVA BULBI CORNEA OCULUS SINISTER 1/300 Edema (+), spasme (+) Edema (+), spasme (+) Hiperemis (+) Hiperemis (+) Mix injeksi (+), sekret (+) mukopurulent Edema kornea (+),defek epitel (+), letak paracentral 5x4 mm, kedalaman sampai ke stroma, batas tegas, tes fluorescein (+), infiltrat (+), (+) cemerlang V. FUNDUS REFLEKS jaringan nekrotik (+) (+) suram

DIAGNOSIS BANDING OS Ulkus cornea et causa suspek bakteri DD: Staphylococcus sp. Pseudomonas aeruginosa

VI.

DIAGNOSA KERJA OS Ulkus cornea et causa suspek bakteri

VII.

TERAPI -

Moxifloxacin HCl 0.5% tiap jam 1 tetes OS Cefixime 2 x 100 mg(P.O) Sulfas atropine 1% 2 x 1 tetes OS Vitamin B kompleks 1 x 1 tablet(P.O)

VIII. PROGNOSIS OD OS

Quo ad Visam Quo ad sanam Quo ad Vitam Quo ad Cosmeticam IX. SARAN

Ad bonam Ad bonam

Dubia ad malam Dubia ad malam Ad bonam Dubia ad malam

Scrapping ulkus kornea untuk pemeriksaan pengecatan Gram, KOH, kultur dan tes sensitivitas bakteri. X. EDUKASI
1. Menjelaskan bahwa penderita menderita peradangan pada kornea

yang dinamakan ulkus kornea yang kemungkinan disebabkan oleh bakteri.


2. Menjelaskan kepada penderita agar penderita dirawat di rumah sakit

mengingat kondisi penyakit yang membutuhkan perawatan dan evaluasi intensif di rumah sakit(menolak) 3. Menjelaskan kepada penderita supaya tidak mengucek-ngucek mata 4. Pasien diminta untuk meneteskan dan menggunakan obat secara teratur dan menjaga daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup untuk mempercepat penyembuhan penyakit.
5. Menjelaskan kepada penderita komplikasi yang mungkin terjadi.

XI.

DISKUSI Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding

ANATOMI DAN FISIOLOGI KORNEA dengan Kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan

ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan, yaitu lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri. Jika kornea udem karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo.1 Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk kedalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwan.3 Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous,dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya.1 ULKUS KORNEA PATOFISIOLOGI Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil.4

Kornes merupakan bagian mata yang avaskuler, sehingga apabila terjadi infeksi maka proses infiltrasi dan vaskularisasi dari limbus baru akan terjadi 48 jam kemudian. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.4 ETIOLOGI1,3,4 a. Infeksi

Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium dan spesies mikosis fungoides. Infeksi virus

Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Acanthamoeba Infeksi kornea oleh acanthamoeba sering terjadi pada pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada bukan pemakai lensakontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar. b. Noninfeksi Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH. Radiasi atau suhu Sindrom Sjorgen Defisiensi vitamin A

10

Obat-obatan

(kortikosteroid,

idoxiuridine,

anestesi

topical,

immunosupresif) Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma. Pajanan (exposure) Neurotropik

c. Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas) Terjadinya ulkus kornea biasanya didahului oleh faktor pencetus yaitu rusaknya sistem barier epitel kornea oleh penyebab-penyebab seperti:4 a. Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal) b. Oleh faktor-faktor eksternal yaitu : luka pada kornea (erosi kornea) karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada muka c. Kelainan lokal pada kornea, meliputi edema kornea kronik, keratitis exposure (pada lagoftalmos, anestesi umum, koma), keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis superficialis virus d. Kelainan sistemik, meliputi malnutrisi, alkoholisme, sindrom StevenJohnson, sindrom defisiensi imun (AIDS, SLE)
e. Obat-obatan penurun sistem imun, seperti kortikosteroid, obat anestesi lokal

KLASIFIKASI Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:1 1. Ulkus kornea sentral. a. Ulkus kornea bakterialis Ulkus Streptokokus Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokokus pneumonia. Ulkus Stafilokokus

11

Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus sering kali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Ulkus Pseudomonas Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea.ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. Gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak. Ulkus Pneumokokus Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam.Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran karakteristik yang disebut ulkus serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuhdan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu ditemukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yangterlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis. b. Ulkus kornea fungi Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya. Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik.Dapat terjadi

12

neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion. c. Ulkus kornea virus Ulkus kornea Herpes Zoster Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit. Keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Ulkus kornea Herpes Simplex Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada korneasecara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikuler. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulseratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya d. Ulkus kornea acanthamoeba Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural. 2. Ulkus kornea perifer a. Ulkus marginal
b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden)

c. Ulkus cincin (ring ulcer) .

13

MANIFESTASI KLINIS Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa:3
1. Gejala subjektif

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva Sekret mukopurulen Merasa ada benda asing di mata Pandangan kabur Mata berair Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus Silau Nyeri

Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea. 2. Gejala objektif Injeksi silier Hilangnya sebagian kornea dan adanya infiltrate Hipopion

DIAGNOSIS1,4 Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan oftalmologis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi

14

akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus. Pada pemeriksaan oftakmologis didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar,kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea disertai adanya jaringan nekrotik. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti ketajaman penglihatan, pemeriksaan slit-lamp, respon reflek pupil, pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi, dan scrapping untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH). Karena gambaran klinis tidak dapat digunakan untuk membuat diagnosis etiologik secara spesifik, diperlukan pemeriksaan mikrobiologik, sebelum diberikan pengobatan empirik dengan antibiotika. Pengambilan specimen harus dari tempat ulkusnya, dengan membersihkan jaringan nekrotik terlebih dahulu; dilakukan secara aseptic menggunakan spatula Kimura, lidi kapas steril, kertas saring atau calcium alginate swab. Pemakaian media penyubur BHI (Brain Heart Infusion Broth) akan memberikan hasil positif yang lebih baik daripada penanaman langsung pada medium isolasi. Medium yang digunakan adalah medium pelat agar darah, media coklat, medium Sabarauds untuk jamur dan thioglycolat. Selain itu dibuat preparat untuk pengecatan gram. Hasil pewarnaan gram dapat memberikan informasi morfologik tentang kuman penyebab yaitu termasuk kuman gram (+) atau Gram (-) dan dapat digunakan sebagai dasar pemilihan antibiotika awal sebagai pengobatan empirik. Di laboratorium, kuman akan diisolasi dan diidentifikasi lebih lanjut serta dilakukan pemeriksaan tes kepekaan terhadap antibiotika. KOMPLIKASI Komplikasi yang paling sering timbul berupa: Kebutaan parsial atau komplit Prolaps iris Sikatrik kornea Katarak

15

Glaukoma sekunder

PENATALAKSANAAN3 Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik. Tujuan pengobatan ulkus kornea secara umum adalah untuk mencegah berkembangnya bakteri dan mengurangi reaksi radang, dengan cara: 1. 2. Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Erosi Antibiotik Antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas dapat diberikan sebagai salep, tetes, atau suntikan subkonjungtiva. 3. Pemberian sikloplegika Sikloplegika yang sering digunakan adalah sulfas atropin karena masa kerjanya lama, hingga 1-2 minggu. Efek kerja atropin adalah sebagai berikut : Sedatif, menghilangkan rasa sakit Dekongestif, menurunkan tanda radang Menyebabkan paralise m.siliaris dan m.konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya m.siliaris mata tidak mempunyai daya akomodasi sehingga mata dalam keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya m.konstriktor pupil, terjadi midriasis, sehingga sinekia posterior yang telah terjadi dapat dilepaskan dan dicegah pembentukan sinekia posterior yang baru. 4. Bedah Tindakan bedah meliputi Keratektomi superficial tanpa membuat perlukaan pada membran Bowman kornea yang sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya.

16

Tissue adhesive atau graft amnion multilayer Flap konjungtiva Patch graft dengan flap konjungtiva Keratoplasti tembus Fascia lata graft

Analisis Kasus Pada laporan kasus ini, pasien didiagnosis OS ulkus kornea ec suspek bakteri berdasarkan data dasar yang didapatkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik sebagai berikut. Pada anamnesis didapatkan keluhan visus menurun dan terdapat bintik putih dengan bagian tengah hitam di kornea OS, mata merah, silau, nyeri. Selain itu dari anamnesis didapatkan faktor risiko terjadinya ulkus kornea pada pasien ini yaitu riwayat trauma akibat kemasukan padi. Pada pemeriksaan fisik pada OS didapatkan palpebra superior udema dan spasme, konjungtiva mixed injection, kornea udem, defek epitel pada bagian sentral dengan ukuran 4x5 mm, infiltrate (+), jaringan nekrotik (+), tes fluorescein (+). Fundus refleks positif suram karena terdapat kekeruhan media refrakta yaitu kornea. Tidak didapatkannya lesi satelit menyingkirkan etiologi karena jamur. sensibilitas kornea masih normal sehingga menyingkirkan etiologi viral yang biasanya meyebabkan penurunan sensibilitas kornea. Oleh karena itu ulkus kornea pada kasus ini dicurigai disebabkan infeksi bakteri. Pasien diberikan cefixime dan moxifloxacin untuk menangani infeksi sebelum didapatkan hasil kultur dan tes sensitivitas dari scrapping kornea. Selain itu juga diberikan Sulfas atropin untuk mengurangi nyeri akibat spasme siliaer dan mencegah sinekhia posterior. Hal ini diperlukan untuk mencegah infeksi berkembang lebih lanjut dan mengakibatkan berbagai komplikasi.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Vaughan D G, Asbury T, Riordan P. Oftalmologi umum. 14 th Ed. Alih

bahasa: Tambajong J, Pendit BU. Jakarta: Widya Medika. 2000: 220 2. Winarto, Sutedja SS, Suhardjo, Gondowiardjo TD. Penanganan Ulkus Kornea Secara Optimal. Semarang: PERDAMI Jawa Tengah, 2001.
3. Ilyas S. Glaukoma (Tekanan Bola Mata Tinggi). Jakarta: Balai penerbit FK

UI. 1997
4. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia.2002. Ulkus Kornea dalam :

Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran, edisi ke2. Penerbit Sagung Seto Jakarta. 5. PERDAMI, Panduan Menejemen Klinis PERDAMI, Jakarta : PP PERDAMI. 2006

18