Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN PRESENTASI AGAMA PENDIDIKAN ETIKAA, MORAL DAN AKHLAQ

1. Pertanyaan : Siapakah yang lebih bertanggung jawab dalam pendidikan etika, moral dan akhlaq? Oleh : Siti Nurul Hidayah Jawaban : Yang lebih bertanggung jawab dalam pendidikan etika, moral dan akhlaq ketika seseorang tersebut belum baligh (dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk) adalah orang tua, sehingga apabila si anak tersebut melakukan dosa dalam keadaan belum baligh maka yang menanggung dosa ialah orang tuanya, namun apabila si anak melakukan amal sholikh, yang akan mendapatkan pahala orangtuanya. Hal ini telah disebutkan dalam AlQuran. Oleh: Dini Cahyaningtyas Tambahan : Namun apabila si anak tersebut sudah baligh (dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk) maka semua amal mereka (etika, moral dan akhlak) baik yang sesuai atau tidak sesuia dengan norma atau hukum yang berlaku maka konsekuensi nya di tanggung si anak tersebut. Oleh : Anisa Dian Tanggapan: Lantas siapakah yang akan bertanggung jawab atas pendidikan etika, moral dan akhlaq para anak yatim piatu dan orang-orang yang tidak punya keluarga? Oleh : Eradian Irma Yang akan bertanggung jawab terhadap pendidikan etika, moral dan akhlaq para anak yatim piatu dan orang-orang yang tidak punya keluarga adalah Negara (pemimpin disuatu negara tersebut) dalam hal ini yang dimaksudkan ialah pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ialah dengan si pemimpin tersebut langsung melayani (mengurusi pendidikan etika, moral dan akhlaq para anak yatim piatu dan orangorang yang tidak punya keluarga). Sedangkan untuk yang secara tidak langsung, pemerintah bekerjasama dan membiayai suatu lembaga tertentu yang ditugaskan untuk

mengurusi pendidikan etika, moral dan akhlaq para anak yatim piatu dan orang-orang yang tidak punya keluarga. Namun pemerintah juga tetap harus memantau keberhasilan pendidikan etika, moral dan akhlaq tersebut, karena yang bertanggunjawab penuh terhadap hal ini tetap pemerintah. Hal ini juga sudah dihelaskan dalam Al-Quran serta telah diterapkan pada zaman pemerintahannya Rosululloh SAW. Oleh : Anisa Ayu Afrilia R. H. L. 2. Pertanyaan : Bagaimana hukumnya orang yang mendapatkan hadiah (dalam dunia politik) ? Oleh : Fariz Rizzi Jawaban : Selagi orang yang memberikan hadiah itu tidak menyampaikan tujuan/maksud tertentu (suap), ya sudah kita berkhusnudzon saja pada si pemberi tersebut. Oleh : Carina Larina Olivia 3. Tambahan : a. Oleh : Desi Susilo Ada saja koruptor yang berpikiran bahwa ini uang yang nganggur jadi kemungkinan uang ini merupakan jawaban Allah atas doa-doa saya. Oleh : Anisa Ayu ARHL Tidak ada rizki yang datang tanpa usaha karena Allah telah menjelaskan dalam alQuran bahwa Allah tidak akan pernah memnerikan rizki pada orang yang tidak mau berusaha. Dan yang bisa mengubah nasib seseorang (menjadi kaya/banyak uang) hanyalah usaha dari masing-masing hamba-Nya b. Oleh : Rahma Korupsi dapat dipengaruhi oleh kemalasan, pendukung pembentukan karakter pribadi si pejabat,serta rasa tanggung jawab yang dimiliki oleh pejabat tersebut, sehingga tidak semata-mata hanya dipengaruhi oleh lingkungan dan keluarga. c. Oleh : Karima Afandi Hubungan antara nafsu dan koruptor Kalau nafsu itu sudah dikasih dari Allah dan tinggal masing-masing hamba-Nya mau menggelola nafsu tersebut dengan bagaimana untuk hal-hal yang negatif maupun positif. Memang harta dan keluarga itu merupakan cobaan buat setiap

manusia tergantung manusia tersebut bagaiman mau mengelola cobaan itu. Hal ini sudah dijelaskan oleh Allah pada Al-Quran surat Tagabun ayat 15.