Anda di halaman 1dari 32

II.

Obat-obat yang Bekerja pada Sistem Saraf Pusat Obat-obat yang bekerja pada Sistem Saraf Pusat (SSP) adalah obat-obat yang dapat memacu atau menghambat hantaran impuls di saraf pusat. Penyakit akibat gangguan hantaran impuls saraf pusat ini ialah penyakit parkinson, insomnia, ansietas, depresi, skizoprenia, dan epilepsi. Namun obat yang bekerja pada SSP ada yang tidak bekerja khusus pada suatu jenis penyakit tetapi merupakan obat untuk membantu suatu tindakan bedah yaitu anastesi yang menghilangkan kesadaran pasien dalam waktu terbatas atau mengurangi rasa sakit misalnya analgetikantipiretik antiinflamasi dan analgetik narkotik. Penyakit parkinson adalah penyakit yang ditandai gemetar pada tangan atau jari-jari (tremor), gerakan tubuh kaku, gerakan lambat. Secara biokimia penyakit ini ditandai dengan adanya kekurangan neurotransmiter Dopa, maka obatnya menyuplai dopa seperti dopamin, agonis reseptor dopa bromokriptin, meningkatkan sintesis dopamin amantadin,

menghambat metabolisme dopamin deprenil dan menghambat transmisi kolinergik yaitu antimuskarinik. Insomnia adalah suatu keadaan pasien yang sukar tidur, orang normal tidur sehari umumnya 6 8 jam, rata-rata 7,5 jam, rentangnya 5 10 jam, berat dan tinggi badan pekerjaan etnik, inteligensia dapat mempengaruhinya. Sekitar 10% populasi memerlukan tidur lebih dari 5 jam dan 10% yang lain memerlukan tidur 9 10 jam dan obatnya yaitu sedatif dan hipnotik. Secara fisiologi tidur dibedakan menjadi tidur dengan

gerakan mata yang cepat (Rapid Eye Movement = REM) dan non REM. Tidur REM disertai mimpi yang didahului non REM. Tidur non-REM berkaitan dengan polarisasi, depolarisasi, dan hiperpolarisasi sistem saraf. Hiperpolarisasi secara biokimia berkaitan dengan kadar ion Klorida (Cl) dalam plasma, pemasukan Klorida ini dapat dipacu dengan memperlebar kanal klorida seperti yang ditunjukkan oleh derivat barbiturat dan benzodiazepin. Derivat benzodiazepin dibedakan menjadi ansiolitik (alprazolam, CPZ, diazepam, dll) dan hipnotik (quazepam, estazolam, triazolam, dll). Hipnotik kebanyakan derivat barbiturat (fenobarbital, pentobarbital, tiopental, dll). Selain itu efek samping sedatif dari antihistamin juga termasuk obat sedatif. Ansietas atau gelisah ditandai dengan takikardia, berkeringat, palpitasi, gemetar. Merupakan gangguan mental berupa ketegangan yang tidak menyenangkan, rasa takut. Obatnya digolongkan ke dalam anti ansietas atau trankuiliser minor. Ada dua golongan obat ansietas yaitu derivat benzodiazepin seperti alprazolam, diazepam, buspiron klordiazepoksida lorazepam, hidroksizin dan (CPZ),

klonazepam,

klorazepat, seperti

sedangkan zolpidem.

nonbenzodiazepin

Benzodiazepin sendiri selain antiansietas juga mempunyai efek hipnotik, antikonvulsan, pelemas otot. Depresi adalah penyakit alam perasaan yang menyimpang, mengganggu energi, pola tidur, libido, nafsu makan, dan kemampuan bekerja. Gejala depresi berupa perasaan sedih yang mendalam, tidak

berdaya,

tidak

dapat

merasakan

kesenangan.

Penderita

depresi

umumnya nafsu makan turun, berat badan turun, insomnia atau hipersomnia, lesu tak bertenaga, lelah, agitas (marah) dan retardasi (terbelakang), kehilangan minat pada pekerjaan, hobinya semula, aktivitas sosial, aktivitas seks, konsentrasi menurun, pikiran lambat, selalu merasa bersalah, ingin bunuh diri. Secara biokimia depresi ditandai dengan kekurangan (defisiensi) monoamin seperti adrenalin dan serotonin. Obat antidepresi dibedakan antidepresi trisiklik, penyekat ambilan serotonin, penyekat monoamin oksidase. Antidepresan trisiksik bekerja dengan cara menghambat ambilan kembali norepinefrin, dopamin, serotonin oleh saraf. Secara normal neurotransmiter setelah disintesis sebagian akan terikat reseptor dan sebagian akan diserap kembali oleh saraf. Obat-obat ini ialah amitriptilin, dan trimipramin. Efek samping serupa dengan anti muskarinik, stimulasi jantung, hipotensi ortostatis, sedasi dan hati pada penderita mania. Penyekat ambilan kembali Serotonin selektif, mempunyai efek antikolinergik lebih kecil. Skizofrenia ialah gangguan mental atau sekelompok gangguan yang ditandai oleh kekacauan dalam bentuk dan isi pikiran yang disebabkan oleh disfungsi otak yang diwariskan. Sifat yang menonjol ialah delusi (keyakinan yang salah), halusinasi (dalam bentuk suara), gangguan pikiran dan bicara. Skizofrenia mempunyai komponen genetik yang kuat, secara biokimia/fisiologik karena aktivitas neuron dopaminergik

mesolimbik. Obat-obat yang digunakan untuk antiskizopren digolongkan

sebagai obat-obat neuroleptika yang disebut juga trankuiliser mayor atau antipsikotik. Pada prinsipnya obat-obat ini menghambat reseptor

dopaminergik atau serotonin, namun mereka juga dapat menghambat reseptor kolinergik (muskarinik), -adrenergik, dan H1-histamin.

Antiskizofren atau obat neuroleptik mengurangi agitasi dan halusinasi juga mempunyai efek menenangkan, mengurangi gerakan fisik spontan. Neuroleptika tidak menekan fungsi intelektual pasien dan koordinasi motorik seperti anti depresan. Epilepsi merupakan suatu gangguan kesadaran berulang yang timbul sewaktu-waktu denga suatu sebab serebral. Prevalensi (jumlah kasus penyakit) epilepsi 7 per 1000 anak dan 3,5 per 1000 dewasa. Kejang yang timbul umumnya berkali-kali, jika kejang hanya sekali merupakan kejang biasa. Mekanisme terjadinya epilepsi belum diketahui, aktivitas listrik abnormal dapat berasal dari sistem aktivasi retikular (jaringjaring saraf yang tersebar di medula oblongata, pons, dan otak tengah) dan menyebar melalui struktur subkortikal korteks serebri, menimbulkan kejang umum. Klasifikasi epilepsi ialah epilesi generalisata primer dikelompokkan menjadi pertama Grand mal (Tonik klonik) dan Petit mal (absence). Kedua epilepsi parsial atau fokal dibedakan menjadi epilepsi sederhana dengan kesadaran penuh dan kompleks dengan gangguan kesadaran ketiga epilepsi parsial dengan kejang umum sekunder. Nyeri merupakan suatu pengalaman pribadi yang unik dan kompleks. Definisi nyeri yang paling dapat diterima. Menurut Merskey

(1978), nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang menyertai keruakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri kronik atau nyeri membandel adalah nyeri yang menetap setelah segala usaha pengobatan atau nyeri yang tidak lagi hanya merupakan suatu gejala cedera atau penyakit. Nyeri merupakan gejala yang umum pada semua stadium penyakit kanker. Nyeri terjadi pada lebih dari 80% pasien. Nyeri yang pasti terjadi pada saat dilakukan operasi pembedahan sehingga dokter memberikan anastesi lokal, anastesi umum atau analgetik opioid. Anastetik lokal adalah obat untuk menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilngnya kesadaran, digunakan untuk operasi cabut gigi, sirkumsisi, atau operasi ringan yang lain seperti pada saat terpaksa kuku dicabut. Umumnya digunakan dengan cara penyuntikan subkutan, obatnya yaitu injeksi procain, lidokain, dibukain, mepivakain, piperokain, tetrakain, prilokain HCl. Selain injeksi subkutan, anastesi lokal tersedia dalam bentuk salep/krim yang dioleskn pada gusi, rongga telinga. Anastetik umum, yaitu obat untuk menghilangkan rasa sakit disertai hilangnya kesadaran, ditujukan untuk mempermudah tindakan operasi. Anastetik umum dibedakan menjadi anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik parenteral. Anastetik gas yaitu nitrogen

monoksida (N2O, gas gelak), siklopropan. Anastetik menguap ialaah etileter, isofluran, halotan, metoksifluran, trikloretilen. Anastetik parenteral

yaitu natrium tiopental, natrium tiamilal, natrium metoheksital, ketamin, dan analgetik opioid, morfin, petidin. Analgetik opioid atau analgesik narkotik adalah kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium atau morfin. Analgetik opioid digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. Golongan analgetik opioid ialah obat yang berasal dari opium-morfin, senyawa semisintetik morfin dan senyawa sintetik yang berefek seperti morfin. Sedangkan obat yang mengantagonis disebut antagonis opioid. Telah diketahui ada beberapa reseptor opioid yaitu reseptor (mu) yang berkaitan dengan analgesia supraspinal, depresi pernapasan, sedasi/euforia, dependensi fisik, motilitas saluran cerna. Kontraksi pupil reseptor (kapa) yang berhubungan dengan analgesia spinal, sedasi/disforia, kontraksi pupil, (sigma) yang berhubungan dengan disforia, halusinasi, efek psikomimetik, midriasis. Obat analgetik opioid dikelompokkan menjadi agonis kuat yaitu fentanil, heroin, meperidin, metado, morfin, dan sufentanil, agonis sedang yaitu kodein dan propoksifen, antagonis agonis campuran ialah ibuprofen, pentazosin, serta antagonis yaitu nalokson, naltrekson. Analgetik-antipiretik dan antiinflamasi merupakan obat yang dapat mengurangi nyeri demam dan bengkak. Golongan obat-obat ini dengan nama Antiinflmasi Non Steroid. Prinsipi kerjanya yaitu menghambat pembentukan prostaglandin sehingga selain mempunyai efek AnalgetikAntipiretik dan antiinflamasi, efek sampingnya yaitu tukak lambung karena ternyata prostaglandin merupakan senyawa endogen yang ikut

mensintesis mukosa lambung. Obat-obat ini dibedakan menjadi derivat salisilat yaitu aspirin, benorial, diflunisial dan salisilamid yang mempunyai efek Analgetik-Antipiretik dan Antiinflamasi, derivat propionat yaitu tiaprofenat, fenbufen, fenoprofen, ibuprofen, ketoprofen, naproksen yang mempunyai efek analgetik kuat namun efek antiinflamasinya kecil, derivat fenamat yaitu asam mefenamat yang mempunyai efek analgetik kuat namun antiinflamasinya lemah, derivat fenilasetat yaitu diklofenak dan fenklofenak yang efek antiinflamasinya lebih besar dari analgetikantipiretik, derivat pirazolon yaitu antalgin yang efek analgetik-antipiretik lebih besar dari antiinflamasi, derivat paraaminofenol yaitu parasetamol yang mempunyai analgetik antipiretik yang besar dari antiinflamasinya. ==================================== 1. Seorang pasien mengeluh tremor, gerakan kaku, dan lamban, posisi sebelah tubuh tidak tegak setelah diobservasi oleh dokter kemudian ditulis resep R/Levadopa tab 250 mg Stddtab 1 Pro: Mohtar (55th) R/Piridoksin tab 100 mg S.Sdd tab 1 Pro: Mohtar (55th) Pasien tersebut menderita penyakit Parkinsonisme. Ada beberapa obat yaitu levadopa, bromokriptin, amantadin, deprenil, benzotropin,

infenilheksidin, dsb. Harus hati-hati pada penderita Parkinson yang sakit jantung sebab dapat terjadi aritmia, glaukoma. Obat psikotik tidak boleh dipakai. Piridoksin (bioneuron dsb) yang dimaksudkan untuk memperbaiki fungsi saraf dapat mengurangi efek levadopa. Jika efek levadopa kurang maka bisa ditambah karbidopa. Karbidopa dapat menghambat metabolisme levadopa. =================================== 2. Seorang pasien dibawa keluarganya ke dokter jiwa karena perasaan sedih yang mendalam, tidak berdaya, tidak dapat merasakan kesenangan, nafsu makan turun, berat badan turun, insomnia, lesu, tidak bertenaga. Setelah melakukan diagnosa dokter memberikan resep sebagai berikut: R/ Amitriptilin no. XXX S. 3dd tab 1 Pro: Sadar (64 th) R/Propranolol tab No. XXX S. 2dd tab 1 Pro: Sadar (64 th) Berdasarkan gejala yang ada dokter menyimpulkan pasein ini mengalami depresi sehingga diberi obat Amitriptilin, suatu antidepresan trisiklik. Perlu dicek dosis dan aturan pakai. Salah satu efek samping antidepresan trisiklik adalah aritmia,

maka untuk mencegahnya dokter memberikan propranolol sebagai antiaritmia. Efek samping antidepresan yang lain yaitu hipotensi orotsatik, sehingga pasien perlu diingatkan/dijaga tidak langsung berdiri setelah berbaring atau tidur. ============================================ 3. Pasien tersebut diatas oleh keluarganya dibawa kembali ke dokter dengan laporan matanya tidak jelas melihat (kabur), mulut kering (xerostomi), susah BAK, dan susah BAB. Setelah dibaca lagi rekam mediknya lalu dokter menulis resep lagi: R/ Fluoksetin tablet no XXX S. 3dd 1 Pro Tn. Sadar (64 th) Gejala yang dilaporkan keluarga tersebut adalah gejala antikolinergik yang secara umum ditimbulkan oleh antidepresan trisiklik maka antidepresannya diganti fluoksetin yang merupakan golongan inhibitor ambilan kembali serotonin yang tidak mempunyai efek antimuskarinik. ======================================= 4. Seorang pasien dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa karena sering halusinasi (khayal), delusi (keyakinan yang salah), dan sering bicara. Oleh dr. Bahtiar, Sp.J setelah didiagnosa dan ternyata pasien ini gemetar tangannya maka pasien tersebut diberi resep sebagai berikut:

R/ Tioridadazin tablet No. XXX S. 3dd tab 1 Pro: Mohtar (35 th) R/ Skopolamin tab No. XXX S. 3dd tab 1 Pro: Mohtar (35 th) Pasien tersebut menderita skizofrenia, oleh karena tangannya gemetar maka dokter memberikan antipsikotik yang paling minimal efek Parkinsonisme (ekstrapiramidal) yaitu Tioridazin (atau Klozapin dan Risperidon). Haloperidol dan Flufenazin tidak boleh diberikan karena memperbesar efek ekstrapiramidal. Skopolamin adalah antimuntah. Tioridazin menyebabkan muntah, sedangkan antipsikotik lain mempunyai efek antimuntah. Perlu dievaluasi dosisnya kerena Skopolamin adalah antikolinergik yang memperlambat transit obat dari lambung ke usus, tioridazin adalah basa lemah yang penyerapannya di usus. ========================================== 5. Seorang pasien dirujuk ke Ahli Jiwa karena penglihatan kabur, obstipasi, mulut kering, sedasi, setelah diobservasi oleh dokter, maka diberi resep: R/ Haloperidol tab XXX S. tdd 1

Pro: Wahidin (30 th) Penglihatan kabur, obstipasi, mulut kering, adalah efek samping dari antikolinergik Tioridazon dan klorpromazin adalah neuroleptika yang punya efek antikolinergik, maka dokter mengganti tioridazin yang diberikan sebelumnya dengan haloperidol. Harus ditanyakan haloperidol berapa miligram, demikian pula signa dicek kembali. ======================================== 6. Seorang pasien epilepsi menunjukkan gejala skizofrenia seperti delusi, halusinasi (dalam bentuk suara), gangguan pikiran dan bicara. Setelah dokter membaca rekam medik dan ternyata sebelumnya mendapat obat neuroleptika amitriptilin, kemudian dokter memberikan resep sebagai berikut: R/ Diazepam tab No XXX S. 3dd 1 Pro: Ahmad (30 th) Obat neuroleptik menurunkan ambang kejang sehingga dapat memacu kejang pada penderita epilepsi maka dokter terpaksa memberikan/menggangti dengan diazepam karena selain sebagai penenang juga sebagai antikonvulasan.

7. Seorang pasien dibawa keluarganya ke dokter karena kejang kemudian pingsan. Dokter lalu bertanya ke keluarga yang mengantar tersebut, kemudian keluarga menceritakan urutan kejadian, yaitu pertama kali kejang, pernapasan hilang, kemudian kejang hilang sebentar, lalu terjadi sentakan-sentakan, kemudian inkontinensia (tidak mampu mengendalikan) kemih, lalu bicara kacau, lumpuh, mengantuk, nyeri kepala dan otot kaki kejang dan rasa sakit. Setelah mengukur tekanan darahnya dan menghitung nadi dan frekuensi pernapasan lalu dokter menulis resep sbb: R/ Fenitoin kapsul No. XXX S. 3dd kaps 1 Pro: Yudika (30 th) R/ Scanneuron No. XXX S. Sdd tab 1 Pro Yudika (30 th) Setelah dokter mendengar tanda-tanda yang disampaikan keluarganya maka diagnosis dokter menyimpulkan pasien menderita grand mal epilepsi. Obat yang utama feniton atau karbamazapin. Obat alternatifnya yaitu fenobarbital, pirimidon. Sediaan obat yang mengandung 100 mg fenitoin, dosis awal 300 mg dibagi menjadi tiga kali pemberian, maksimal sehari 500mg. Scanneuron adalah

sediaan paten neuromialgikum menganding vitamin B1 100mg, B6 200 mg, dan B12 200 mg untuk mialgikum (kejang saraf). ============================================ 8. Seorang anak dibawa ibunya kerena tiba-tiba sering diam seperti kehilangan ingatan sebentar. Setelah mendengar bahwa ibunya waktu kecil juga sering mengalami hal yang sama lalu dokter menulis rresep: R/ Etoksisuksimid tab No. XXX S. 3dd tab 1 Pro: Rahmat (6 th) Diagnosis dokter anak tersebut menderita petit mal epilepsi (PM Absence), maka oleh dokter diberi Etoksisuksimid. Selain etoksisuksimid pilihan lain yaitu asam palvroat. ===================================== 9. Seorang pasien dibawa oleh keluargana ke dokter dengan tanda-tanda dia kejang-kejang, kemudian pingsan dan kejang lagi selain itu sebelum pingsan dia mengeluh mual, sakit di lambungnya, lalu dokter menulis resep sbb: R/ Fenitoin kap No. XXX S. 3dd kaps 1

Pro: Busro (18 th) R/ Simetidin kap No. XXX S. 3dd 1 Pro: Busro (18 th) Mendengar tanda-tanda yang disampaikan oleh keluarganya dokter

menyimpulkan pasien ini menderita Statusepileptikus dan tukak lambung. Obat utama status epileptikus ialah fenitoin dan diazepam. Sedangkan salah satu obat tukak lambung ialah simetidin. Sebagai farmasis kita tahu bahwa simetidin akan menghambat metabolisme fenitoin sehingga kemungkinan akan terjadi keracunan fenitoin kerena fenitoin merupakan obat dengan indeks terapi sempit yang gejala dan tandanya nistagmus, diplopia (dua bayangan dari satu obyek), ataksia (gangguan keseimbangan dan gaya jalan sempoyongan), maka diusulkan ke dokter mengganti simetidin dengan ranitidin atau famotidin atau obat tukak lambung yang lain seperti antasida, sukralfat, atau omeprazol. Selain simetidirin, obat yang menghambat metabolisme fenitoin yaitu kloramfenikol, INH, disulfiram, dikumarol. Sedangkan sulfisoksazol, fenilbutazon, salisilat, dan asam valproat mendesak ikatan fenitoin dengan protein. ======================================= 10. Seorang pasien dibawa keluarganya ke dokter dengan tanda-tanda bola mata bergerak, penglihatan tidak fokus, sempoyongan, keseimbangan terganggu,

dan sukar bicara. Setelah dokter melihat rekam medik ternyata pasien ini disamping menderita epilepsi juga ada tanda tanda tipus seperti suhu badan tinggi lalu dokter menulis resep: R/ Karbamazepin tab No. XXX S. Sdd tab 1 Pro: Baco Ahmad (25 th) R/ Kloramfenikol Kap No. XXX S. 3dd kap 1 Pro: Baco Ahmad (25 th) Setelah membaca rekam medik dokter mendiagnosa pasien ini mengalami intoksikasi fenitoin (bola mata bergerak, penglihatan tidak fokus, sempoyongan, keseimbangan terganggu, dan sukar bicara) sehingga kemudian mengganti fenitoin dengan karbamazepin karena dalam rekam medik pasien ini menderita grand mal epilepsi yang obat utamanya ialah karbamazepin. Kloramfenikol yang merupakan obat pilihan II. Obat-obat yang Bekerja pada Sistem Saraf Pusat Obat-obat yang bekerja pada Sistem Saraf Pusat (SSP) adalah obat-obat yang dapat memacu atau menghambat hantaran impuls di saraf pusat. Penyakit akibat gangguan hantaran impuls saraf pusat ini ialah penyakit parkinson, insomnia, ansietas, depresi, skizoprenia, dan epilepsi. Namun obat yang bekerja pada SSP ada yang tidak bekerja khusus pada

suatu jenis penyakit tetapi merupakan obat untuk membantu suatu tindakan bedah yaitu anastesi yang menghilangkan kesadaran pasien dalam waktu terbatas atau mengurangi rasa sakit misalnya analgetikantipiretik antiinflamasi dan analgetik narkotik. Penyakit parkinson adalah penyakit yang ditandai gemetar pada tangan atau jari-jari (tremor), gerakan tubuh kaku, gerakan lambat. Secara biokimia penyakit ini ditandai dengan adanya kekurangan neurotransmiter Dopa, maka obatnya menyuplai dopa seperti dopamin, agonis reseptor dopa bromokriptin, meningkatkan sintesis dopamin amantadin,

menghambat metabolisme dopamin deprenil dan menghambat transmisi kolinergik yaitu antimuskarinik. Insomnia adalah suatu keadaan pasien yang sukar tidur, orang normal tidur sehari umumnya 6 8 jam, rata-rata 7,5 jam, rentangnya 5 10 jam, berat dan tinggi badan pekerjaan etnik, inteligensia dapat mempengaruhinya. Sekitar 10% populasi memerlukan tidur lebih dari 5 jam dan 10% yang lain memerlukan tidur 9 10 jam dan obatnya yaitu sedatif dan hipnotik. Secara fisiologi tidur dibedakan menjadi tidur dengan gerakan mata yang cepat (Rapid Eye Movement = REM) dan non REM. Tidur REM disertai mimpi yang didahului non REM. Tidur non-REM berkaitan dengan polarisasi, depolarisasi, dan hiperpolarisasi sistem saraf. Hiperpolarisasi secara biokimia berkaitan dengan kadar ion Klorida (Cl) dalam plasma, pemasukan Klorida ini dapat dipacu dengan memperlebar kanal klorida seperti yang ditunjukkan oleh derivat barbiturat dan

benzodiazepin. Derivat benzodiazepin dibedakan menjadi ansiolitik (alprazolam, CPZ, diazepam, dll) dan hipnotik (quazepam, estazolam, triazolam, dll). Hipnotik kebanyakan derivat barbiturat (fenobarbital, pentobarbital, tiopental, dll). Selain itu efek samping sedatif dari antihistamin juga termasuk obat sedatif. Ansietas atau gelisah ditandai dengan takikardia, berkeringat, palpitasi, gemetar. Merupakan gangguan mental berupa ketegangan yang tidak menyenangkan, rasa takut. Obatnya digolongkan ke dalam anti ansietas atau trankuiliser minor. Ada dua golongan obat ansietas yaitu derivat benzodiazepin seperti alprazolam, diazepam, buspiron klordiazepoksida lorazepam, hidroksizin dan (CPZ),

klonazepam,

klorazepat, seperti

sedangkan zolpidem.

nonbenzodiazepin

Benzodiazepin sendiri selain antiansietas juga mempunyai efek hipnotik, antikonvulsan, pelemas otot. Depresi adalah penyakit alam perasaan yang menyimpang, mengganggu energi, pola tidur, libido, nafsu makan, dan kemampuan bekerja. Gejala depresi berupa perasaan sedih yang mendalam, tidak berdaya, tidak dapat merasakan kesenangan. Penderita depresi

umumnya nafsu makan turun, berat badan turun, insomnia atau hipersomnia, lesu tak bertenaga, lelah, agitas (marah) dan retardasi (terbelakang), kehilangan minat pada pekerjaan, hobinya semula, aktivitas sosial, aktivitas seks, konsentrasi menurun, pikiran lambat, selalu merasa bersalah, ingin bunuh diri. Secara biokimia depresi ditandai dengan

kekurangan (defisiensi) monoamin seperti adrenalin dan serotonin. Obat antidepresi dibedakan antidepresi trisiklik, penyekat ambilan serotonin, penyekat monoamin oksidase. Antidepresan trisiksik bekerja dengan cara menghambat ambilan kembali norepinefrin, dopamin, serotonin oleh saraf. Secara normal neurotransmiter setelah disintesis sebagian akan terikat reseptor dan sebagian akan diserap kembali oleh saraf. Obat-obat ini ialah amitriptilin, dan trimipramin. Efek samping serupa dengan anti muskarinik, stimulasi jantung, hipotensi ortostatis, sedasi dan hati pada penderita mania. Penyekat ambilan kembali Serotonin selektif, mempunyai efek antikolinergik lebih kecil. Skizofrenia ialah gangguan mental atau sekelompok gangguan yang ditandai oleh kekacauan dalam bentuk dan isi pikiran yang disebabkan oleh disfungsi otak yang diwariskan. Sifat yang menonjol ialah delusi (keyakinan yang salah), halusinasi (dalam bentuk suara), gangguan pikiran dan bicara. Skizofrenia mempunyai komponen genetik yang kuat, secara biokimia/fisiologik karena aktivitas neuron dopaminergik

mesolimbik. Obat-obat yang digunakan untuk antiskizopren digolongkan sebagai obat-obat neuroleptika yang disebut juga trankuiliser mayor atau antipsikotik. Pada prinsipnya obat-obat ini menghambat reseptor

dopaminergik atau serotonin, namun mereka juga dapat menghambat reseptor kolinergik (muskarinik), -adrenergik, dan H1-histamin.

Antiskizofren atau obat neuroleptik mengurangi agitasi dan halusinasi juga mempunyai efek menenangkan, mengurangi gerakan fisik spontan.

Neuroleptika tidak menekan fungsi intelektual pasien dan koordinasi motorik seperti anti depresan. Epilepsi merupakan suatu gangguan kesadaran berulang yang timbul sewaktu-waktu denga suatu sebab serebral. Prevalensi (jumlah kasus penyakit) epilepsi 7 per 1000 anak dan 3,5 per 1000 dewasa. Kejang yang timbul umumnya berkali-kali, jika kejang hanya sekali merupakan kejang biasa. Mekanisme terjadinya epilepsi belum diketahui, aktivitas listrik abnormal dapat berasal dari sistem aktivasi retikular (jaringjaring saraf yang tersebar di medula oblongata, pons, dan otak tengah) dan menyebar melalui struktur subkortikal korteks serebri, menimbulkan kejang umum. Klasifikasi epilepsi ialah epilesi generalisata primer dikelompokkan menjadi pertama Grand mal (Tonik klonik) dan Petit mal (absence). Kedua epilepsi parsial atau fokal dibedakan menjadi epilepsi sederhana dengan kesadaran penuh dan kompleks dengan gangguan kesadaran ketiga epilepsi parsial dengan kejang umum sekunder. Nyeri merupakan suatu pengalaman pribadi yang unik dan kompleks. Definisi nyeri yang paling dapat diterima. Menurut Merskey (1978), nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang menyertai keruakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri kronik atau nyeri membandel adalah nyeri yang menetap setelah segala usaha pengobatan atau nyeri yang tidak lagi hanya merupakan suatu gejala cedera atau penyakit. Nyeri merupakan gejala yang umum pada semua stadium penyakit kanker. Nyeri terjadi pada lebih

dari 80% pasien. Nyeri yang pasti terjadi pada saat dilakukan operasi pembedahan sehingga dokter memberikan anastesi lokal, anastesi umum atau analgetik opioid. Anastetik lokal adalah obat untuk menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilngnya kesadaran, digunakan untuk operasi cabut gigi, sirkumsisi, atau operasi ringan yang lain seperti pada saat terpaksa kuku dicabut. Umumnya digunakan dengan cara penyuntikan subkutan, obatnya yaitu injeksi procain, lidokain, dibukain, mepivakain, piperokain, tetrakain, prilokain HCl. Selain injeksi subkutan, anastesi lokal tersedia dalam bentuk salep/krim yang dioleskn pada gusi, rongga telinga. Anastetik umum, yaitu obat untuk menghilangkan rasa sakit disertai hilangnya kesadaran, ditujukan untuk mempermudah tindakan operasi. Anastetik umum dibedakan menjadi anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik parenteral. Anastetik gas yaitu nitrogen

monoksida (N2O, gas gelak), siklopropan. Anastetik menguap ialaah etileter, isofluran, halotan, metoksifluran, trikloretilen. Anastetik parenteral yaitu natrium tiopental, natrium tiamilal, natrium metoheksital, ketamin, dan analgetik opioid, morfin, petidin. Analgetik opioid atau analgesik narkotik adalah kelompok obat yang memiliki sifat seperti opium atau morfin. Analgetik opioid digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri. Golongan analgetik opioid ialah obat yang berasal dari opium-morfin, senyawa semisintetik morfin dan senyawa sintetik yang berefek seperti morfin. Sedangkan obat

yang mengantagonis disebut antagonis opioid. Telah diketahui ada beberapa reseptor opioid yaitu reseptor (mu) yang berkaitan dengan analgesia supraspinal, depresi pernapasan, sedasi/euforia, dependensi fisik, motilitas saluran cerna. Kontraksi pupil reseptor (kapa) yang berhubungan dengan analgesia spinal, sedasi/disforia, kontraksi pupil, (sigma) yang berhubungan dengan disforia, halusinasi, efek psikomimetik, midriasis. Obat analgetik opioid dikelompokkan menjadi agonis kuat yaitu fentanil, heroin, meperidin, metado, morfin, dan sufentanil, agonis sedang yaitu kodein dan propoksifen, antagonis agonis campuran ialah ibuprofen, pentazosin, serta antagonis yaitu nalokson, naltrekson. Analgetik-antipiretik dan antiinflamasi merupakan obat yang dapat mengurangi nyeri demam dan bengkak. Golongan obat-obat ini dengan nama Antiinflmasi Non Steroid. Prinsipi kerjanya yaitu menghambat pembentukan prostaglandin sehingga selain mempunyai efek AnalgetikAntipiretik dan antiinflamasi, efek sampingnya yaitu tukak lambung karena ternyata prostaglandin merupakan senyawa endogen yang ikut

mensintesis mukosa lambung. Obat-obat ini dibedakan menjadi derivat salisilat yaitu aspirin, benorial, diflunisial dan salisilamid yang mempunyai efek Analgetik-Antipiretik dan Antiinflamasi, derivat propionat yaitu tiaprofenat, fenbufen, fenoprofen, ibuprofen, ketoprofen, naproksen yang mempunyai efek analgetik kuat namun efek antiinflamasinya kecil, derivat fenamat yaitu asam mefenamat yang mempunyai efek analgetik kuat namun antiinflamasinya lemah, derivat fenilasetat yaitu diklofenak dan

fenklofenak yang efek antiinflamasinya lebih besar dari analgetikantipiretik, derivat pirazolon yaitu antalgin yang efek analgetik-antipiretik lebih besar dari antiinflamasi, derivat paraaminofenol yaitu parasetamol yang mempunyai analgetik antipiretik yang besar dari antiinflamasinya. ==================================== 1. Seorang pasien mengeluh tremor, gerakan kaku, dan lamban, posisi sebelah tubuh tidak tegak setelah diobservasi oleh dokter kemudian ditulis resep R/Levadopa tab 250 mg Stddtab 1 Pro: Mohtar (55th) R/Piridoksin tab 100 mg S.Sdd tab 1 Pro: Mohtar (55th) Pasien tersebut menderita penyakit Parkinsonisme. Ada beberapa obat yaitu levadopa, bromokriptin, amantadin, deprenil, benzotropin, infenilheksidin, dsb. Harus hati-hati pada penderita Parkinson yang sakit jantung sebab dapat terjadi aritmia, glaukoma. Obat psikotik tidak boleh dipakai. Piridoksin (bioneuron dsb) yang dimaksudkan untuk memperbaiki fungsi saraf dapat mengurangi efek levadopa. Jika efek levadopa kurang maka bisa ditambah karbidopa. Karbidopa dapat menghambat metabolisme levadopa. ===================================

2. Seorang pasien dibawa keluarganya ke dokter jiwa karena perasaan sedih yang mendalam, tidak berdaya, tidak dapat merasakan kesenangan, nafsu makan turun, berat badan turun, insomnia, lesu, tidak bertenaga. Setelah melakukan diagnosa dokter memberikan resep sebagai berikut: R/ Amitriptilin no. XXX S. 3dd tab 1 Pro: Sadar (64 th) R/Propranolol tab No. XXX S. 2dd tab 1 Pro: Sadar (64 th) Berdasarkan gejala yang ada dokter menyimpulkan pasein ini mengalami depresi sehingga diberi obat Amitriptilin, suatu antidepresan trisiklik. Perlu dicek dosis dan aturan pakai. Salah satu efek samping antidepresan trisiklik adalah aritmia, maka untuk mencegahnya dokter memberikan propranolol sebagai antiaritmia. Efek samping antidepresan yang lain yaitu hipotensi orotsatik, sehingga pasien perlu diingatkan/dijaga tidak langsung berdiri setelah berbaring atau tidur. ============================================ 3. Pasien tersebut diatas oleh keluarganya dibawa kembali ke dokter dengan laporan matanya tidak jelas melihat (kabur), mulut kering (xerostomi), susah

BAK, dan susah BAB. Setelah dibaca lagi rekam mediknya lalu dokter menulis resep lagi: R/ Fluoksetin tablet no XXX S. 3dd 1 Pro Tn. Sadar (64 th) Gejala yang dilaporkan keluarga tersebut adalah gejala antikolinergik yang secara umum ditimbulkan oleh antidepresan trisiklik maka antidepresannya diganti fluoksetin yang merupakan golongan inhibitor ambilan kembali serotonin yang tidak mempunyai efek antimuskarinik. ======================================= 4. Seorang pasien dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa karena sering halusinasi (khayal), delusi (keyakinan yang salah), dan sering bicara. Oleh dr. Bahtiar, Sp.J setelah didiagnosa dan ternyata pasien ini gemetar tangannya maka pasien tersebut diberi resep sebagai berikut: R/ Tioridadazin tablet No. XXX S. 3dd tab 1 Pro: Mohtar (35 th) R/ Skopolamin tab No. XXX S. 3dd tab 1

Pro: Mohtar (35 th) Pasien tersebut menderita skizofrenia, oleh karena tangannya gemetar maka dokter memberikan antipsikotik yang paling minimal efek Parkinsonisme (ekstrapiramidal) yaitu Tioridazin (atau Klozapin dan Risperidon). Haloperidol dan Flufenazin tidak boleh diberikan karena memperbesar efek ekstrapiramidal. Skopolamin adalah antimuntah. Tioridazin menyebabkan muntah, sedangkan antipsikotik lain mempunyai efek antimuntah. Perlu dievaluasi dosisnya kerena Skopolamin adalah antikolinergik yang memperlambat transit obat dari lambung ke usus, tioridazin adalah basa lemah yang penyerapannya di usus. ========================================== 5. Seorang pasien dirujuk ke Ahli Jiwa karena penglihatan kabur, obstipasi, mulut kering, sedasi, setelah diobservasi oleh dokter, maka diberi resep: R/ Haloperidol tab XXX S. tdd 1 Pro: Wahidin (30 th) Penglihatan kabur, obstipasi, mulut kering, adalah efek samping dari antikolinergik Tioridazon dan klorpromazin adalah neuroleptika yang punya efek antikolinergik, maka dokter mengganti tioridazin yang diberikan sebelumnya dengan haloperidol. Harus ditanyakan haloperidol berapa miligram, demikian pula signa dicek kembali.

======================================== 6. Seorang pasien epilepsi menunjukkan gejala skizofrenia seperti delusi, halusinasi (dalam bentuk suara), gangguan pikiran dan bicara. Setelah dokter membaca rekam medik dan ternyata sebelumnya mendapat obat neuroleptika amitriptilin, kemudian dokter memberikan resep sebagai berikut: R/ Diazepam tab No XXX S. 3dd 1 Pro: Ahmad (30 th) Obat neuroleptik menurunkan ambang kejang sehingga dapat memacu kejang pada penderita epilepsi maka dokter terpaksa memberikan/menggangti dengan diazepam karena selain sebagai penenang juga sebagai antikonvulasan. 7. Seorang pasien dibawa keluarganya ke dokter karena kejang kemudian pingsan. Dokter lalu bertanya ke keluarga yang mengantar tersebut, kemudian keluarga menceritakan urutan kejadian, yaitu pertama kali kejang, pernapasan hilang, kemudian kejang hilang sebentar, lalu terjadi sentakan-sentakan, kemudian inkontinensia (tidak mampu mengendalikan) kemih, lalu bicara kacau, lumpuh, mengantuk, nyeri kepala dan otot kaki kejang dan rasa sakit. Setelah mengukur tekanan darahnya dan menghitung nadi dan frekuensi pernapasan lalu dokter menulis resep sbb:

R/ Fenitoin kapsul No. XXX S. 3dd kaps 1 Pro: Yudika (30 th) R/ Scanneuron No. XXX S. Sdd tab 1 Pro Yudika (30 th) Setelah dokter mendengar tanda-tanda yang disampaikan keluarganya maka diagnosis dokter menyimpulkan pasien menderita grand mal epilepsi. Obat yang utama feniton atau karbamazapin. Obat alternatifnya yaitu fenobarbital, pirimidon. Sediaan obat yang mengandung 100 mg fenitoin, dosis awal 300 mg dibagi menjadi tiga kali pemberian, maksimal sehari 500mg. Scanneuron adalah sediaan paten neuromialgikum menganding vitamin B1 100mg, B6 200 mg, dan B12 200 mg untuk mialgikum (kejang saraf). ============================================ 8. Seorang anak dibawa ibunya kerena tiba-tiba sering diam seperti kehilangan ingatan sebentar. Setelah mendengar bahwa ibunya waktu kecil juga sering mengalami hal yang sama lalu dokter menulis rresep: R/ Etoksisuksimid tab No. XXX S. 3dd tab 1

Pro: Rahmat (6 th) Diagnosis dokter anak tersebut menderita petit mal epilepsi (PM Absence), maka oleh dokter diberi Etoksisuksimid. Selain etoksisuksimid pilihan lain yaitu asam palvroat. ===================================== 9. Seorang pasien dibawa oleh keluargana ke dokter dengan tanda-tanda dia kejang-kejang, kemudian pingsan dan kejang lagi selain itu sebelum pingsan dia mengeluh mual, sakit di lambungnya, lalu dokter menulis resep sbb: R/ Fenitoin kap No. XXX S. 3dd kaps 1 Pro: Busro (18 th) R/ Simetidin kap No. XXX S. 3dd 1 Pro: Busro (18 th) Mendengar tanda-tanda yang disampaikan oleh keluarganya dokter

menyimpulkan pasien ini menderita Statusepileptikus dan tukak lambung. Obat utama status epileptikus ialah fenitoin dan diazepam. Sedangkan salah satu obat tukak lambung ialah simetidin. Sebagai farmasis kita tahu bahwa simetidin akan menghambat metabolisme fenitoin sehingga kemungkinan akan terjadi

keracunan fenitoin kerena fenitoin merupakan obat dengan indeks terapi sempit yang gejala dan tandanya nistagmus, diplopia (dua bayangan dari satu obyek), ataksia (gangguan keseimbangan dan gaya jalan sempoyongan), maka diusulkan ke dokter mengganti simetidin dengan ranitidin atau famotidin atau obat tukak lambung yang lain seperti antasida, sukralfat, atau omeprazol. Selain simetidirin, obat yang menghambat metabolisme fenitoin yaitu kloramfenikol, INH, disulfiram, dikumarol. Sedangkan sulfisoksazol, fenilbutazon, salisilat, dan asam valproat mendesak ikatan fenitoin dengan protein. ======================================= 10. Seorang pasien dibawa keluarganya ke dokter dengan tanda-tanda bola mata bergerak, penglihatan tidak fokus, sempoyongan, keseimbangan terganggu, dan sukar bicara. Setelah dokter melihat rekam medik ternyata pasien ini disamping menderita epilepsi juga ada tanda tanda tipus seperti suhu badan tinggi lalu dokter menulis resep: R/ Karbamazepin tab No. XXX S. Sdd tab 1 Pro: Baco Ahmad (25 th) R/ Kloramfenikol Kap No. XXX S. 3dd kap 1

Pro: Baco Ahmad (25 th) Setelah membaca rekam medik dokter mendiagnosa pasien ini mengalami intoksikasi fenitoin (bola mata bergerak, penglihatan tidak fokus, sempoyongan, keseimbangan terganggu, dan sukar bicara) sehingga kemudian mengganti fenitoin dengan karbamazepin karena dalam rekam medik pasien ini menderita grand mal epilepsi yang obat utamanya ialah karbamazepin. Kloramfenikol yang merupakan obat pilihan Setelah mendegar keluhan pasien dan melihat

pupil matanya yang menyempit dokter lalu menyimpulkan bahwa pasien ini keracunan morfin maka pasien tersebut disuntikkan dengan nalokson. Antagonis morfin yaitu nalokson dan naltrekson. 15. Seorang pasien diantar oleh keluarganya dengan keluhan nyeri dibagian kanan perutnya, setelah meraba bagian kanan bawah perut tersebut lalu dokter menulis resep dan surat pengantar ke ahli bedah. Oleh ahli bedah lalu diberi pengantar ke bagian rontgen. Setelah mendapat kepastian maka pasien disuruh bed rest untuk operasi usus buntu, Llu dokter menulis resep yang harus dibawa ke apotek. R/ Atropin ampul No. III S.I.M.M amp.1 Pro : Marzuki Ali (35 thn) R/ Pentobarbital amul No. II S.I.M.M amp. 1 Pro : Marzuki Ali (35 thn) R/ Prometazin amp No.III S.I.MM amp. 1 Pro : Marzuki Ali (35 thn) R/Atrakurium S.I.M.M amp. 1 Pro : Marzuki Ali (35 thn) Kenapa dokter banyak sekali menulis obat dalam resepnya? Untuk melakukan operasi pembedahan pasien harus dibius total dengan eter.

Sebelum

dibius

diberi

obat saluran

premedikasi pernapasan

seperti .

atropine

untuk untuk

menghambat

mukosa

Penobarbital

menimbulkan sedasi tanpa memperpanjang masa pemulihan (morfin dapat digunakan namun memperpanjang pemulihan). Prrometasin

berfungsi sebagai sedatif, antiaritmia, antihistamin dan antirematik. Atrakurium untuk pelemas otot.

16. Seorang pasien datang ke dokter dengan kulit kering, rongga mata cekung dan diare. Setelah mendiaognosa dokter menulis resep sebagai berikut. R/ Oralit zak V S.U.C Pro : Ahmadiah (23 thn) R/ Loperamid tab No. VI S.b. dd tab 1 Pro : Ahmadiah (23 thn) Setelah dokter melihat tanda-tanda pasien maka disamping harus menambah elektrolit (oralit) dia harus menghentikan diarenya dengan memberikan diarenya dengan member loperamid. Loperamid dan difenoksilat adalah derivate mependin ( analgetik Opioid) yang dapat memperlambat motilitas saluran cerna sehingga dapat menghentikan diare. Tidak boleh digunakan pada anak kurang dari 12 tahun. 17. Seorang pasien demam dan nyeri lambung diantara ke dokter di Puskesmas, Lalu diukur tekanan darah, denyut nadi, dan tidak nampak radang ditenggorokan, di Puskesmas obat-obat analgetik, antipiretik, antiinflamsi terbatas yaitu paracetamol, antalgin, diklofenak, piroksikam. Lalu dokter menulis resep yang harus diambil di Puskesmas itu sendiri : R/ Diklofenak Na tab No. XII S bdd tab 1 Pro : Fahruddin (20thn)

Farmasis di Puskesmas harus dengan sopan santun dan bahasa yang halus berkomunikasi dengan dokter bahwa sebaiknya obatnya diganti dengan paracetamol atau antalgin. Diklopenak dan piroksikan mempunyai mempunyai efek samping tukak lambung lebih besar dari paracetamol dan antalgin. 18. Seorang pasien demam datang ke dokter, setelah diukur tekanan darah, denyut nadi, warna mukosa tenggorokan lalu ditanya apakah sering nyeri lambung, setelah lambung, setelah itu dokter menulis resep : R/ Paracetamol tab No.XII S.tdd 1 Pro : Usman ( 25 thn) Setelah dokter mengetahui tekanan darah, denyut nadi dan mukosa tenggorokan normal maka pasien hanya diberi paracetamol yang merupakan analgetik-antipiretik yang efeknya terhadap tukak lambung lebih rendah dibanding aspirin namun hati-hati jika pasien ada riwayat hepatitis dan radang ginjal. Antalgin juga dapat bisa dipaki namun harus diingat antalgin dapat menyababkan agranulositisis, trombositopenia dan anemia aplastik.