Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dewasa ini banyak orang-orang yang mengalami masalah, baik masalah eksternal maupun masalah internal masalah pribadi ataupun masalah yang disebabkan oleh faktor lingkungan atau sekitar. Sering sekali orang-orang disekitar kita yang tidak ingin mendapatkan permasalahan, namun orang itu harus mampu memecahkan masalah itu dan tidak bisa menghindarinya. Terkadang kita binggung dan berfikir bagaiman cara memecahkan masalah tersebut, banyak sekali hambatan-hambatan yang kita terima untuk dapat memecahkan masalah tersebut, dan hingga akhirnya kita berfikir tidak ada yang mampu membantu kita untuk memecahkan masalah tersebut. Disinilah peran dan tugas para konselor untuk membantu seseorang memecahakan masalah, memberikan motivasi, serta mengarahkan seorang konseli ( siswa ) yang khususnya mempunyai masalah. Peran konselor tidak hanya membantu konseli ( siswa ) yang sedang mendapat masalah namun juga siswa yang tidak bermasalah dan mungkin mempunyai bakat dan minat di bidangnya masing-masing.

1.2 Rumusan Masalah 1. Konselor seringkali ditakuti oleh para siswa dan siswi 2. Konselor Sebagai pengganti guru ketertiban 3. Konselor hanya menangani siswa yang bermasalah 4. Sistem belajar dan mengajar Konselor yang tidak Monoton 5. Background pendidikan konselor yang tidak sesuai dengan Bimbingan dan Konseling.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konselor seringkali ditakuti oleh para siswa dan siswi Beberapa konselor di sekolah saya ada yang di takuti oleh para siswa dan siswinya, hal itu disebabkan karena konselor di sekolah saya terkadang jika memberikan pengertian kepada siswanya itu kurang sabar dalam penyampaianya, contohnya : ketika ada seorang siswa yang bolos sekolah, beliau lalu memanggil siswa tersebut untuk menghadap ke ruang BK, namun si anak tersebut tidak berani untuk menghadap beliau, karena beliau cenderung memaharahi anak tersebut dan bukan memberikan pengertian serta motivasi kepada anak tersebut. Hal ini sangatlah berbeda jauh dengan prinsip-prinsip, fungsi-fungsi, asas-asas Bimbingan dan Konseling. Salah satu prinsip-prinsip,fungsi-fungsi, asas-asas Bimbingan dan konseling adalah :

1. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching. 2. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. 3. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan masa depan atau kondisi masa lampau pun dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.

Sedangkan konselor di sekolah saya belum menerapkan fungsi-fungsi, prinsipprinsip , dan asas-asas Bimbingan dan konseling tersebut, masih banyak siswa yang takut jika ada seorang konselor yang menegur dan memberikan pengertian. Jadi tidak heran jika banyak pula siswa yang enggan atau takut untuk datang dan berkonsultasi dengan beberapa konselor di sekolah saya.

2.2 Konselor sebagai pengganti guru tata tertib di sekolah Di sekolah saya seringkali konselor menggantikan peran seorang Sie. tata tertib yang menangani tentang peraturan-peraturan sekolah. Banyak sekali yang mengatakan bahwa konselor itu sebagai polisi sekolah, tak jarang konselor di sekolah saya yang selalu menegur adan memberikan hukuman bagi siswa-siswi yang melakukan pelanggaran tata tertib. Contohnya : setiap pagi selalu ada pemeriksaan atribut lengkap sesuai dengan tata tertib, apabila ada salah satu siswa yang tidak memakai atribut sekolah yang lengkap maka dia di hukum dan di catat di buku score pelanggaran oleh konselor, jika ada anak yang terlambat masuk sekolah lebih dari 5 menit maka hukumanya adalah bersih-bersih, bahkan terkadang ada yang di suruh pulang dan tidak usah mengikuti pelajaran di kelas. Tugas konselor seperti ini tidak sesuai dengan fungsi fungsi, prinsip prinsip, dan asas-asas Bimbingan dan konseling. Salah satu prinsip-prinsip,fungsi-fungsi, asas-asas Bimbingan dan konseling adalah : 1. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan

perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normative. Jadi seorang konselor hendaknya tidak menggantikan peran seorang Sie. Tata tertib. Seharusnya konselor menjalankan tugasnya yang sesuai dengan fungsi Bimbingan dan Konseling. Dan dengan hal itu maka siswa tidak akan lagi mengulangi pelanggaranpelanggaran tata tertib yang sama.

2.3 Konselor hanya menangani siswa yang bermasalah Seringkali di sekolah saya hanya siswa-siswi yang bermasalah saja yang biasanya berurusan dengan konselor, mereka ( siswa yang bermasalah ) biasanya lebih sering di bantu oleh para konselor untuk memecahkan masalahnya, daripada siswa yang tidak mempunyai masalah sama sekali. Sehingga sebagian besar siswa di sekolah saya jika mengetahui ada salah satu temannya yang mendatangi ruangan Bimbingan dan konseling, mereka akan berfikir siswa yang datang tersebut biasanya memiliki masalah atau sedang ada permasalahan. Contohnya : siswa yang sering sekali membolos, terlambat masuk sekolah, dan masih banyak masalah yang dia lakukan. Hal itu juga dapat menyebabkan siswa yang lain yang tidak mempunyai masalah akan merasa di telantarkan, sebab mereka ( siswa yang tidak bermasalah ) pun sebenarnya ingin berkonsultasi dengan para konselor, mengenai bakat dan minat serta potensi-potensi yang mereka miliki. Mungkin juga mereka ingin berkonsultasi mengenai apa hal-hal apa saja yang harus di persiapkan untuk masa depan, misalnya : jika ada seorang siswa kelas 3 SMK yang sedang bingung, kemana dia akan melanjutkan jenjang pendidikannya ataukah bekerja. Seperti halnya dengan prinsip-prinsip, asas-asas, dan fungsi-fungsi Bimbingan dan konseling : 1. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. 2. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). 3. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk

memper-timbangkan, menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. 4. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan, dan peluang untuk berkembang. 5. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. 6. Fungsi Perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. 7. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.

2.4 Sistem belajar dan mengajar konselor yang tidak monoton Sistem belajar dan mengajar di sekolah saya, saya rasa sudah cukup bagus. Banyak sekali siswa-siswi yang antusias dalam mengikuti mata pelajaran Bimbingan dan Konseling. Karena konselor menggunakan metode-metode serta cara-cara yang mampu meningkatkan semangat belajar para siswanya, contohnya : konselor memberikan kuis tapi dengan metode yang berbeda pada umumnya, maka setiap siswa akan merasa semangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Konselor tidak hanya memberikan tugas kepada siswanya, tetapi konselor juga menerangkan apa arti dan maksud dari tugas tersebut. Dan hal tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip,asas-asas, dan fungsi-fungsi Bimbingan Konseling, yaitu : 1. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi

perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama

merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata. 2. Fungsi Fasilitasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. 3. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap

pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.

2.5 Background pendidikan konselor yang tidak sesuai dengan Bimbingan dan Konseling. Di sekolah saya, sebagian guru Bimbingan dan Koseling bukan lulusan S1 dari Bimbingan dan konseling. Jadi hal inilah yang menyebabkan konselor tersebut kurang mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang konselor seperti yang ada pada fungsi-fungsi, asas-asas, dan prinsip-prinsip Bimbingan dan konseling di sekolah. Seharusnya peran sebagai konselor sesuai dengan fungsi-fungsi, asas-asas, dan prinsip-prinsip Bimbingan dan konseling di sekolah, seperti : 1. Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling .Sesuai dengan asas di atas, maka kegiatan bimbingan konseling di sekolah akan berjalan dengan lancar dan baik, maka tidak akan ada lagi pandangan yang salah dari seorang siswa kepada seorang konselor. Jadi hanya seorang konselor yang memang memiliki background pendidikan S1 Bimbingan dan Konseling yang bisa menjalankan peran sebagai seorang konselor, bukan dari background pendidikan yang lain.

Daftar Rujukan
AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Susanto, Djoko B. (2009) . Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. malang:tanpa penerbit.

PERSEPSI SERTA PANDANGAN BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

Untuk memenuhi tugas akhir semester Bimbingan dan Konseling Yang dibina oleh Djoko Budi Santoso

Disusun Oleh : Elsa Purwitasari 110111409576

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING DESEMBER 2011

BAB III KESIMPULAN

Bahwa perlu adanya pembenahan pada Bimbingan dan konseling di sekolah saya, agar tidak terjadi kesalaha pahaman, antara konselor dengan siswanya. Kegiatan Bimbingan dan Konseling hendaknya berjalan sesuai dengan Asas-asas, prinsip-prinsip, dan fungsi-fungsi Bimbingan dan konseling, agar bimbingan dan konseling di sekolah dapat berjalan dengan lancar dan sesuai. Para konselor juga harus mengimplementasikan Asas-asas, prinsip-prinsip, serta fungsi-fungsi Bimbingan dan konseling kepada para konseli (siswa), agar konselor mengetahui pelayanan apa saja yang di berikan oleh para konseli (siswa).