Anda di halaman 1dari 2

Dosen Killer-kah saya?

oleh Oei Pek Jin pada 12 Mei 2010 jam 23:10 Saya sudah mengajar di Binus sejak tahun 1988. Waktu itu Ibu Th Widia sendiri ya ng meminta saya untuk membimbing mahasiswa yang akan ikut ujian negara (termasuk saya). Waktu yang diberikan hanya dua bulan sampai hari ujian. Pelajaran yang s aya harus ajarkan adalah bahasa pemrograman dBase II dan Lotus Makro. Setelah ba nyak pertimbangan akhirnya saya memenuhi permintaan Ibu Widya. Hasil dari bimbin gan saya waktu itu lulus 100%. Selanjutnya, Ibu Widia kemudian menunjuk saya untuk menjadi dosen yang mengajar matakuliah tersebut untuk STMIK Bina Nusantara disamping pelajaran lainnya di ju rusan SI. Bulan berlalu, tahun juga berganti. Demikian pula STMIK bertambah maju dan besar . Tapi cara ngajar saya dari tahun ke tahun tetap saya pertahankan guna menjaga mutu. Itu saya lakukan karena almamater saya, Saya sudah menganggap Binus sebaga i bagian dari hidup saya. Saya rela tidak mengejar posisi dan jabatan dan tetap sibuk mengajar, demi mengharapkan segelintir mahasiswa yang saya ajar bisa membu ktikan diri mereka di masyarakat agar nama Binus tetap harum karena kualitas yan g baik. Tapi cara saya mengajar seperti mulai terusik setelah Ibu menderita sakit dan wa fat. Semua mulai berubah. Banyak aturan yang muncul...contoh : Dosen yang banyak tidak meluluskan mahasiswa ditegur, waktu untuk periksa ujian diperpendek, meng gerakkan dosen untuk memberi nilai tulis walaupun jawaban mahasiswa salah, menek an dosen dengan mengatakan "Kalau banyak mahasiswa yang tidak lulus, mungkin saj a dosennya yang tidak mampu", dan berbagai kegiatan lainnya yang akhirnya menjad ikan para dosen menjadi "BERBAIK HATI" untuk memberikan nilai lulus pada mahasis wa walaupun mahasiswa tersebut tidak mampu sama sekali untuk pelajaran tersebut. Semua yang saya katakan itu benar adanya dan itu sudah bukan rahasia lagi. Tapi karena mahasiswa diuntungkan dan dosen merasa tidak rugi kalau melakukan hal sep erti itu, maka dari luar semua tampaknya ok saja. Memang, cara itu adalah cara y ang paling jitu untuk mengakali pendidikan, sebab mahasiswa lulus sesuai nitanya masuk ke Binus, bagi dosen juga tidak ditegur oleh Kajur dan posisinya mengajar akan selalu aman karena disukai oleh Kajur. Tapi lihatlah prestasi anak Binus di dalam masyarakat, kebanyakan dari mereka cu ma jadi sales atau marketing. Kalaupun ada job expo, lowongan yang terbesar teri si cuma marketing, management training atau sales. Kasihan sekali........ Susah-susah sekolah, ayah ibu banting tulang menghemat penghasilan, hasilnya ana knya lulus , tapi cuma untuk jadi sales atau marketing saja......posisi pekerja yang tidak memerlukan IT..... Terus terang saja, saya tidak tega untuk memberikan mahasiswa angka lulus kalau mereka sebenarnya tidak menguasai pelajaran tersebut. Sebab saya merasa saya ber dosa karena saya berbohong. saya berbohong pada mahasiswa, berbohong pada orang tua mereka (tidak bisa diberi nilai lulus), berbohong pada masyarakat dan yang t erpenting berbohong pada almamater sendiri dengan menghasilkan mahasiswa yang se benarnya tidak mempunyai kemampuan tersebut. Malu saya...malu.... Oleh sebab itu, dalam penilaian saya sangat ketat, tapi saya tidak pernah mengur angi nilai yang seharusnya diperoleh mahasiswa. saya menilai ujian sesuai porsi nilai yang ditetapkan, cuma tidak pernah ada nilai tulis dan nilai untuk mengkat rol nilai agar mahasiswa yang lulus jadi banyak. Hal ini saya lakukan karena saya menempatkan posisi saya sebagai seorang ayah. K alau saya orang ayah, tidak mungkin saya mau memasukkan anak saya ke sekolahan / universitas yang hanya memberikan stempel lulus tapi tidak bisa menjamin anak s aya memperoleh ilmu yang diajarkan. Buat apa saya membayar sejumlah uang tapi an ak saya tidak bisa apa2x, cuma bisa ngakali orang tuanya (Lulus tanpa mutu).

Saya juga tidak ingin kejadian kasus Prita terulang di dunia IT. Sebab kalau hal itu terulang, Binus yang menjadi almamater saya akan terkubur selamanya. Hal yang juga mendorong saya demikian adalah karena saya mendapatkan informasi d ari teman-teman saya (ex STMIK Bina Nusantara) dan juga beberapa pimpinanperusah aan bahwa semakin hari, semakin sedikit mahasiswa Binus yang bisa lewati test ya ng dilakukan perusahaan. Terus terang saja, memberikan nilai lulus pada mahasiswa itu sangat mudah. Serin gkali mahasiswa sangat senang akan hal seperti ini. tapi tahukah bahwa sebenarny a dosen yang seperti itu justru membunuh mahasiswa itu sendiri. Sebab tidak mung kin mahasiswa itu bisa bekerja sesuai sertifikat pendidkan yang dimilikinya. Lal u, kalau memang mau kerja dibidang tersebut, mahasiswa tersebut juga tidak mungk in belajar kembali di S1 yang sudah dinyatakan lulus. Dosen menilai mahasiswa paling lama satu sampai lima semester, tapi mahasiswa ak an dimilai oleh masyarakat selama hidupnya. Jadi kalau ada pemberian nilai bagus untuk matakuliah yang memang tidak dikuasai, seharusnya mahasiswa menolak, kare na itu sama saja membunuh masa depan mahasiswa. Dalam benak saya tetap berpendapat, sekolah / universitas adalah tempat untuk me nuntut ilmu. Selama masih tidak bisa, tidak perlu malu untuk terus menuntut ilmu . kalau tidak belum menguasai ilmu dan diberikan sertifikat lulus, itu sama saja kita diusir dari tempat belajar kita. Sayang uang pangkal yang sudah dibayarkan orang tua yang dicari dengan bercucuran keringat tapi tanpa hasil. Nah, demikianlah dasar pemikiran saya dalam mengajar, terutama dalam memberi nil ai. Kalau anda sudah baca yang saya tulis, masihkah saya anda anggap saya sebaga i dosen killer? Ataukah anda akan mengatakan tindakan saya adalah benar? Silahka n saja...semua terserah anda. Yang pasti, saya selalu percaya semua di dunia ini akan seimbang....Apapun yang anda buat akan berbuah dikemudian hari....