Anda di halaman 1dari 13

Praktikum farter III

EPILEPSI

KELOMPOK D1
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Hanif Hafidh SN Pramita Purbandari Sagita Savita S. Rizky Novasari Shifaq Khairunnisa Anisa Widastika Retna Pancawati Perdani Adnin M G1F009013 G1F009014 G1F009015 G1F009017 G1F009032 G1F009033 G1F009034 G1F009035

Profil pasien

Nama : an. F (laki-laki) Umur : 14 bulan BB : 12,3 kg Diagnosa : febris konvulsi (epilepsi) Riwayat pasien : kejang setiap hari mulai 6 bulan, dalam 1hari kejang 10X. Bangun tidur selalu kejang. Saat kejang kaki dan tangan kaku, mata melirik ke kanan/kiri, kejang berlangsung sekitar 1menit. Setelah kejang langsung sadar tetapi kondisinya lemas. Jarak waktu antara kejang I dan II sekitar 2-3jam. Tidak ada riwayat kejang dalam keluarga dan tidak pernah jatuh Riwayat pengobatan : umur 6 bulan pernah periksa ke dokter mendapat terapi depakene selama 2 bulan setelah itu berhenti

Problem
Kejang demam

SUBJECTIVE
Bangun tidur selalu kejang Saat kejang kaki dan tangan kaku, mata melirik ke kanan/kiri Setelah kejang langsung sadar tetapi kondisinya lemas batuk

objective
Suhu : 37C WBC : 18900 (Normal : 4500-10500 L) Hasil CT scan tgl 21/8: CT scan kepala dengan kontras tidak tampak kelainan

ASSESMENT

Kejang demam (febris konvulsi) adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intra kronial atau penyebab tertentu. Diagnosa kejang disini dilihat dari anamnesa pasien

patofisiologi

plan
Tujuan terapi mengontrol supaya tidak terjadi kejang dan meminimalisasi efek samping obat Terapi farmakologi

terapi Depakene (as. valproat) Sanmol Amoxicillin Alco DMP Infus D5 NS O2 Kompres basah Dosis 3x1 3x1 3 x1 3x1 10 tts/menit 2 lt/mnt

Terapi utama
Diagnosa penyakit Febris konvulsi (epilepsi) terapi depakene (as. valproat) sanmol

Terapi penunjang: alco DMP amoxixillin infus D5 NS O2 Kompres basah

Terapi non farmakologi


Tanda-tanda vital dipantau Pelihara ventilasi Berikan oksigen Cek gas darah utk memantau asidosis respiratory atau metabolik Kadang terjadi hipoglikemi berikan glukosa Amati faktor pemicu dan Menghindari faktor pemicu (jika ada), misalnya : stress, OR, konsumsi kopi atau alkohol, perubahan jadwal tidur, terlambat makan, dll.

KIE yang diberikan kepada orang tua dengan kondisi anak febris konvulsif

Kejang selalu menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang, mereka beranggapan anaknya meninggal. Kecemasan dikurangi dengan cara: Meyakinkan bahwa kejang demam mempunyai prognosis baik Memberitahukan cara penanganan kejang Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali Pemberian obat untuk mencegah frekuensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping obat Bila Terjadi Kejang (berulang) Tetap tenang dan tidak panic Kendorkan pakaian, terutama di sekitar leher Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang Tetap bersama pasien selama kejang Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih

monitoring
Mengawasi balita dengan teliti dan hatihati Tanda-tanda vital dipantau Memonitor pernafasan dan denyut jantung Usahakan suhu tetap stabil Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena