Anda di halaman 1dari 13

III.

ROUTING

III.1. PENGERTIAN ROUTING Berdasar definisinya routing adalah suatu proses pencarian jalan yang terbaik bagi penyelenggaraan sambungan jarak jauh sampai ketujuan yang diinginkan oleh pemanggil. Yang dimaksud dengan jalan terbaik adalah : Jalan yang ditempuh adalah sependek mungkin Peralatan yang digunakan sesedikit mungkin Lintasan terbaik ini sangat tergantung kepada kondisi sesaat dari jaringan sehingga ada kemungkinan lintasan terbaik tsb berbeda dari waktu kewaktu. Tujuan routing adalah untuk menghindari lintasan yg mengalami: Breakdown / gangguan Overload traffic Sistem switching modern dilengkapi dengan Automatic Alternative Routing (AAR ) yang dikendalikan oleh sinyal / informasi routing yang berupa pulsa atau sinyal kode. III.2. SYARAT PERALATAN ROUTING LE TE
L LE

Gbr.III 1: Lintasan sambungan jarak jauh antara 2 pelanggan melalui LE(Local Exchange) dan TE(Transit Exchange) Peralatam routing mempunyai persyaratan sebagai berikut: Harus dapat menerima dan mengerti semua informasi routing yang dikirim oleh pesawat pelanggan ataupun Sentral Transit sebelumnya. Mengetahui dan mengenal jalan / lintasan / rute yang dimaksud oleh informasi routing.

III-1

Dapat dengan cepat memilih rute terbaik yang ada pada saat itu dari beberapa alternatif yang ada. Dapat mengontrol / mengendalikan pelaksanaan sambungan sejauh mungkin sampai ke sentral tujuan IGE

NTE TSD RTE

LTE LE 3 2 1

B B

: High Usage Trunk ( Trunk dengan beban trafik besar ) : By pass oleh TSD untuk langsung menuju NTE Gbr.III 2: Prioritas lintasan hubungan antara A dan B ditingkat LE

Pada saat A menekan TSD berupa angka 0, maka peralatan di sentral akan melakukan by-pass untuk mencapai NTE. Sebagai contoh sebagaimana terlihat pada Gbr.III -2, bila ditinjau pada tingkatan LE, pemilihan jalan terbaik bilamana A akan berhubungan dgn B adalah berdasarkan prioritas lintasan 1, 2 dan 3.

III-2

III.3. KLASIFIKASI ROUTING Ditinjau klasifikasinya, routing dapat dibedakan atas: Direct Route ( Rute langsung) Alternative Route ( Rute Alternatif ) Last Choice Route ( Rute Pilihan Terakhir ) Rute Memutar Pendudukan Buta NTE1 RTE1 LTE1 LE1 RTE2 LTE2 LE2

NTE2

Gbr.III 3: Klasifikasi routing pada jaringan nasional III.3.1. DIRECT ROUTE / RUTE LANGSUNG Sifat umum rute langsung: Lintasannya merupakan jalan terpendek dari semua rute yang ada. Rute ini merupakan prioritas utama , berarti yang pertama ditest oleh peralatan routing pada saat pencarian jalan keluar, sehingga biasa pula disebut sebagai First Choice Route. Merupakan jalan / lintasan paling sibuk sehingga biasa pula disebut sebagai Heavy Duty Route. Penerapannya dalam jaringan berdasar pertimbangan: Jarak hubungan yang pendek Trafik yang padat Biaya / satuan trafik paling rendah. Contoh: Bila A akan berhubungan dengan B, maka : Direct Route ditingkat LTE adalah LTE1-LTE2-LE2-B Direct Route ditingkat RTE adalah RTE1-LTE2-LE2-B

III-3

III.3.2. ALTERNATIVE ROUTE / RUTE ALTERNATIF Sifat umum dari Rute Alternatif ini adalah sebagai berikut: Merupakan fasilitas yang dipilih setelah Rute Langsung tidak mungkin lagi dipergunakan. Contoh: Bila A akan berhubungan dengan B, maka : Alternative Route ditingkat LTE adalah LTE1-RTE1-LTE2-LE2-B atau LTE1-RTE2-LTE2-LE2-B Alternative Route ditingkat RTE adalah RTE1-RTE2-LTE2-TE2-B

III.3.3. LAST CHOICE ROUTE / RUTE PILIHAN TERAKHIR Sifat umum dari Last Choice Route ini adalah sebagai berikut: Merupakan fasilitas routing yang dipilih setelh Alternative Route tidak mungkin lagi diperagunakan. Rute ini disebut juga sebagai Prefix Route karena lintasannya mengikuti urutan tingkatan sentral. Contoh: Bila A akan berhubungan dengan B maka: Last Choice Route ditingkat LTE adalah LTE1-RTE1-RTE2-LTE2LE2-B atau LTE1-RTE1-NTE1-RTE2-LTE2-LE2-B Lasrt Choice Route ditingkat RTE adalah RTE1-NTE1-RTE2LTE2-TE2-B III.3.4. RUTE MEMUTAR 6/4 MKS SBY 15/10 JKT

1 12/12

Gbr.III-4: Contoh dari Rute Memutar

III-4

Sifat Rute Memutar dapat dikemukakan sebagai berikut: Rute ini menghubungkan sentral yang setingkat. Dikatakan memutar karena lintasan hubungan yang digunakan melalui Sentral Transit, meskipun diantara kedua sentral terdapat lintasan langsung. Contoh: Pada Gbr.III -4 terdapat 3 buah sentral trunk yang setingkat, misal MKS, SBY dan JKT. Pada suatu saat tertentu, jumlah kanal yang tersedia serta yang diduduki pada ketiga trunk tersebut adalah sebagai berikut: MKS-SBY : yang tersedia 6, digunakan 4, sisa 2 MKS-JKT : yang tersedia 12, digunakan 12, sisa 0 SBY-JKT : yang tersedia 15, digunakan 10, sisa 5 Bila pada saat tsb datang permintaan sambungan MKS-JKT, karena tidak ada lagi kanal yg kosong, maka AAR akan melayani permintaan tsb melalui sentral transit SBY yang masih punya kanal sisa.

III.3.5. PENDUDUKAN BUTA Pendudukan buta merupakan pendudukn saluran / alat switching yang sebenarnya tidak diperlukan, sehingga dapat dikatagorikan pendudukan ini adalah pendudukan yang sia-sia. Sebaiknya pendudukan buta ini dihindari karena: Menurunkan efisiensi saluran / alat switching. Memperpanjang waktu pendudukan / waktu tunggu pelanggan. Pendudukan buta ini dapat dihindari oleh AAR. Contoh dari pendudukan buta dapat dilihat pada Gbr. III 5, dimana: Pelanggan A akan menghubungi pelanggan B melalui SLJJ. Pelanggan A merupakan anggota dari LE1. Pelanggan B merupakan anggota dari LE2 Pada saat A menekan TSD maka secara otomatis peralatan routing sampai di NTE, selanjutnya dengan menekan PN maka lintasan yang terbentuk untuk membentuk sambungan A-B adalah : Pelanggan A -LE1-LTE1-RTE1-NTE1-RTE1-LTE1-LE2-Pelanggan B ( Pelanggan A 1 2 3 4 4 3 5 6 Pelanggan B ) Yang dimaksud pendudukan buta yang sia-sia adalah lintasan : LTE1-RTE1-NTE1-RTE1-LTE1 atau ( 3 4 4 3 ).

III-5 5

IGE NTE RTE


3 4

TSD

LTE LE 1 2 5

B B

Gbr.III-5: Contoh Pendudukan Buta ( 3 4 4 3 )

III-6

III.4 PERALATAN ROUTING Peralatan routing terdapat pada jaringan / lintasan MEA ataupun SLJJ dimana kemungkinan sambungan permintaan bisa dilayani melalui lebih dari satu rute. Untuk itu peralatan routing yang utama adalah : Route Selector ( RS ) : Selector yang dikerjakan oleh informasi routing yang diperlukan bagi pengetestan jalan keluar jarak jauh. Informasi routing ini berasal dari Register / Translator. Meter Pulse Generator ( MPG ) : Menghasilkan pulsa-pulsa metering dgn interval tertentu tergantung pada informasi routing / zoning yang dikirim. Connecting Link (CL ) : Sebagai pengganti MPG yang tidak dibutuhkan lagi pada tingkatan sentral yang lebih tinggi Register Finder ( RF ) : Merupakan switching arrangement yang menyambungkan : MPG dengan REG CL dengan REG Register / REG : Terdapat beberapa macam Register tergantung dr sudut peninjauan: Berdasar kemampuan Memory : Full Register : Elemen penyimpanan yg dapat menampung seluruh informasi yang diperlukan bagi penyambungan. Partial Register : Elemen penyimpanan yang hanya mampu menyimpan sebahagian saja dari informsi routing yang diperlukan bagi penyambungan. Buffer Register : Elemen penyimpanan yang secara teoritis dapat menampung informasi dalam jumlah tak terhingga, karena elemen ini bekerja cyclis, artinya elemen akan menghapus informasi terdahulu utk dapat menyimpan informasi yang baru masuk.

III-7

Berdasar penggunaan : Outgoing Register ( O/G REG ) : Register yang terdapat pada sentral dimana pelanggan yang minta sambungan SLJJ berada. Register ini menerima informasi penyambungan dari pelanggan, selanjutnya Register mengontrol penyambungan berdasarkan informasi olahan Translator , yang berupa informasi zoning dan routing. Transit Register ( T. REG ) berfungsi untuk : Menerima informasi routing yang melalui sentral ybs. Meneruskan informasi routing tsb ke TR. Menerima informasi olahan TR Menduduki RS sesuai informasi routing hasil olahan TR, guna menentukan jalan keluar sesuai permintaan pelanggan. Translator ( TR ) : Mengolah informasi yang dikirim oleh REG. Hasil olahan selanjutnya dikembalikan ke REG, setelah mana TR bebas / menunggu informasi lainnya yang akan diolah. Marker ( M ) : Fungsinya melakukan testing terhadap kerja peralatan routing yang terdapat pada berbagai tingkatan jaringan. Berikutnya diperlihatkan susunan peralatan routing yang terdapat pada berbagai tingkatan Tandem Exchange yakni: Susunan Susunan Susunan Susunan peralatan routing pada LTE peralatan routing pada RTE peralatan routing pada NTE peralatan routing pada IGE

III-8

III.5 PERALATAN ROUTING PADA MEA TANPA LTE 2 1 MPG MPG RS


C B A

LE2 B A

LE1

O/G REG TR

Gbr.III-6: Peralatan routing pd MEA tanpa LTE Pengguna peralatan routing pada MEA tanpa LTE adalah: 1. Pelanggan A dari LE1 punya peralatan routing 2. Pelanggan B dari LE2 punya peralatan routing, MEA sama tanpa LTE Jalan keluar yang merupakan tujuan routing adalah: 1. Lintasan A menuju ke pelanggan LE1. 2. Lintasan B menuju ke pelanggan LE2 dalam MEA sama, tanpa LTE 3. Lintasan dengan tingkat lebih tinggi ( RTE ) III.6 PERALATAN ROUTING PADA MEA DENGAN LTE
CL

2 1 LTE2

C B A

MPG

O/G REG

T. REG

LE2 B A

LE1

T R

III-9

Gbr.III-7: Peralatan routing pd MEA dengan LTE Pengguna peralatan routing pada MEA dengan LTE : 1. Pelanggan A dari LE1 yang punya peralatan routing 2. Pelanggan B dari LE2 dalam MEA yang sama, dilengkapi LTE2. Karena MPG sudah ada pada LE2, maka lintasan 2 ini hanya butuh CL untuk terhubung ke RS. CL dikontrol oleh T.REG. Jalan keluar yang merupakan tujuan routing adalah: 1. Lintasan A menuju ke LE1. 2. Lintasan B menuju ke LE2 dalam MEA yang sama, dilengkapi LTE2. 3. Lintasan C dengan tingkat lebih tinggi ( RTE )

III.7 PERALATAN ROUTING PADA TINGKAT RTE


CL C B A

3 2
LTE3 LTE2

CL

R T E1 3 L E 3 B A
LE1 E

MPG

L O/G REG 2

T. REG

T R

Gbr.III-8: Peralatan routing pada tingkat RTE Pengguna peralatan routing pada tingkat RTE : 1. Pelanggan A dari LE1 yang punya peralatan routing 2. Pelanggan B dari LE2 dalam MEA sama, dilengkapi LTE2. Karena MPG sudah bekerja pada LE2, maka lintasan 2 ini hanya butuh CL agar terhubung ke RS. 3. Pelanggan C dari LE3 dalam LTE3 dan RTE3. Karena MPG sudah bekerja pada LE3, maka lintasan 3 ini hanya butuh CL agar terhubung ke RS.
III-10

Jalan keluar yang merupakan tujuan routing adalah: 1. Lintasan A menuju ke LE1 / LTE2. 2. Lintasan B menuju ke RTE3 3. Lintasan C dengan tingkat lebih tinggi ( NTE ) III.8 PERALATAN ROUTING PADA TINGKAT NTE
B A

4
NTE4

C L
CL CL

LTE4

LTE3

R T E 4

2
LTE2

R T E1 3 L E 3 B A L LE1 E 2

MPG O/ G RE G T . R E GT

L E 4 C

Gbr.III-9: Peralatan routing pada tingkat NTE Pengguna peralatan routing pada tingkat NTE : 1. Pelanggan A dari LE1 yang punya peralatan routing 2. Pelanggan B dari LE2 dalam MEA sama, dilengkapi LTE2. Karena MPG sudah bekerja pada LE2, maka lintasan 2 ini hanya butuh CL agar terhubung ke RS. 3. Pelanggan C dari LE3 dalam LTE3 (beda) tapi RTE sama. Karena MPG sudah bekerja pada LE3, maka lintasan 3 ini hanya butuh CL agar terhubung ke RS. 4. Pelanggan D dari LE4 dalam RTE4 (beda) tapi NTE sama, yang hanya butuh CL untuk menghubungkannya ke RS. Jalan keluar yang merupakan tujuan routing adalah: 1. Lintasan A menuju ke dalam NTE4 2. Lintasan B menuju ke NTE beda ( hubungan internasional ).
III-11

III.9. REALISASI ROUTING PADA MEA TANPA LTE Sebagai contoh dipilih MEA Makassar seperti terlihat pada Gbr.III-10
Indosat Net City Tel Telkom memo Telepin Call Centre Nangura net Telkomnet Inst MS2 Mattoangin/ MAT MAKASSAR TRUNK/ MST

SLJJ / SLI

VSAT

MS1 Balaikota/ BAL

MS3 Panakkukang/ PAN

MS4 Kima/ KIM

Maros/ MRS

MS6 Antang/ ANT

MS7 Tamalanrea/ TAM

MS8 Sudiang/ SUD

Malino/ MAL

MS5 Sungguminasa/ SNS

Keterangan:

: saluran fisis fiber / serat optik ( jarlokaf ) : radio link ( jarlokar ) : saluran fisis tembaga ( jarlokat )

Gbr.III -10: Pelaksanaan routing pada MEA Makassar


III-12

III-13