Anda di halaman 1dari 9

Unit Pembelajaran 4 Learning Objective: Mengetahui penyakit infeksius pada kuda yang menyebabkan anestrus meliputi: etiologi, gejala

klinis, patogenesis, diagnosa, terapi, dan pencegahan. Pembahasan Learning Objective: PENYAKIT INFEKSIUS PADA KUDA YANG MENYEBABKAN ANESTRUS A. CEM (Contagiosa Equine Metrititis) 1. Etiologi Contagiosa Equine Metritis (CEM) merupakan penyakit reproduksi menular pada kuda yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Taylorella equigenitalis. Bakteri ini berbentuk cocobacil dengan sifat microaerophilic, tumbuh pada media agar chocolate, terdiri atas strain yang resisten terhadap streptomycin dan ad pula yang sensitif, memiliki sifat asaccharolytic, katalase positif, oksidase positif dan phosphatase positif (Aiello, 2000). 2. Gejala Klinis Adanya tanda infertilitas, gagal untuk bunting setelah kuda dikawinkan. Kasus aborsi pada CEM jarang terjadi. Ada tiga tingkatan umum infeksi pada kuda : a. Akut: adanya peradangan aktif pada uterus terciri dengan penebalan, adanya mucoid vulvar discharge berlangsung 10 sampai 14 hari setelah dikawinkan. b. Kronis: radang uterus yang lebih ringan adanya obvious vulvar discharge, dan infeksi lebih sulit untuk diterapi. c. Carrier: Bakteri ini berkembang dan menetap pada saluran reproduksi.Meskipun terlihat tanpa gejala, masih menularkan penyakit dan dapat tetap menjadi pembawa selama beberapa bulan atau lebih (Anonim, 2009). 3. Patogenesis CEM biasanya ditularkan secara langsung selama koitus dengan kuda yang positif CEM. Transmisi juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui inseminasi buatan, seperti tangan yang terkontaminasi atau instrumen. Kuda jantan adalah sumber infeksi untuk wabah penyakit akut. Selama musim kawin, kuda carier dapat menginfeksi beberapa kuda betina sebelum penyakit tersebut terdiagnosis (Samper et al, 2007). Bakteri ini dapat menimbulkan kerusakan pada epithelium endometrium. Akan terjadi leleran pulurent dari vulva bersamaan dengan ditandai kembalinya tingkat fertilitas menjadi normal. Pada kuda betina, bakteri pnyebab CEM ini biasa ditemukan pada endometrium, fossa clitoral dan snus sedangkan pada pejantan terdapat pada fossa glandis, orifcium urethralis dan kulit dari penis serta pada lipatan preputium. Bakteri ini juga dpat ditemukan pada cairan preejakulasi (Samper et al, 2007). 4. Diagnosis 1|Kuda Tidak Beger

Diagnosis dapat didasari dari isolasi bakteri maupun pemeriksaan serologik terhadap CEM. Kendati demikian, pemeriksaan serologis hanya terbatas pada kuda betina saja karena pada pejantan tidak ada reaksi imun tertentu terhadap bakteri ini. Isolasi dan pembiakan T.equigenitalis dapat dilakukan dari sampel yang berasal dari kuda betina maupun jantan. Pada pejantan, isolasi dilakukan melalui swab penis yang ereksi terutama pada bagan fossa glandis, lipatan preputium, kulit penis, dan secret pre ejakulat. Bila terdapat sisa semen juga dapat dijadikan sampel. Media yang digunakan untuk kultur adalah chocolate agar yang telah diberi 10% darah kuda dan antibiotic penghambat bakteri kontaminan. Plat agar diinkubasikan dalam suhu 370c dengan kadar CO2 10%. Pada 48 jam koloni akan terlihat memiliki morfologi pin poin, keabu-abuan dan berbatas halus. Pada 72 jam, koloni akan tampak mengkilap, menonjol, dan berbentuk opaque pada bagian tengahnya. Pemeriksaan serologis dapat dilakukan melalui metode CFT, SAT, dan ELISA. Pemeriksaan lain yang mendukung diantaranya pemeriksaan perektal, vaginal, dan pengamatan gejala klinis (Samper et al, 2007).

Gambar 1. Pengambilan swab melalui fossa klitoris Perubahan patologi: Antemortem: radang pada vagina (vaginitis) dan leleran mukopurulen vagina yang berlebihan. Postmortem: radang pada vagina, cervix, dan uterus, kongesti pada cervix, akumulasi eksudat mukopurulen pada vagina dan uterus (Samper et al, 2007). 5. Terapi

Kuda tidak dapat berhasil diobati sampai bakteri T. equigenitalis bersih dari uterus, sebuah proses yang mungkin memakan waktu beberapa bulan. Alat kelamin eksternal kuda betina dan kuda jantan dapat diobati dengan desinfektan dan antibiotik. Sekali sehari selama 5 hari berturut-turut, genitalia eksternal digosok dengan chlorhexidine 2% dalam larutan deterjen ringan dan dibilas dengan garam hangat. Genitalia eksternal maka harus diolesi dengan salep antibiotik, seperti nitrofurazone. Karena efektivitas pengobatan ini, operasi pengangkatan sinus klitoris jarang diperlukan (Quinn et al, 2002).
2|Kuda Tidak Beger

6. Pencegahan a. Melakukan karantina pada kuda yang baru masuk pada wilayah tersebut dan yang berpenyakit. b. Menjaga kebersihan yang ketat saat menangani kuda jantan dan kuda betina (misalnya, gunakan sarung tangan sekali pakai), (Quinn et al, 2002). B. Equine Herpes Virus (EHV) 1. Etiologi Termasuk double stranded DNA virus, sangat menular pada kuda namun tidak menular pada manusia dan binatang lain (Bushmich, 2005). EHV 1. EHV-1 2. EHV-2 3. EHV-3 4. EHV-4 5. EHV-5 Penyakit yang ditimbulkan Rhinopneumonitis, Neurologic disease, Aborsi Conjunctivitis, lymphadenopathy Lesi pada vulva dan penis Rhinopneumonitis pada belo Rhinopneumonitis

2. Gejala klinis a. Bentuk respirasi : batuk, demam, pembengkakan pada hidung, depresi, kurang lebih 17 hari b. Bentuk abortus : abortus pada akhir masa kebuntingan c. Bentuk neurological : jarang terjadi, bila terjadi dapat menimbulkan ataksia, inkoordinasi, paralisis pada ujung kaki belakang, ambruk, urinasi (Carr, 2003). 3. Patogenesis Virus dari leleran hidung atau secret abortus masuk melalui saluran respirasi membran mukosa menginfeksi limfosit dan endothelial sel merusak dinding pembuluh darah radang blood clot kekurangan oksigen yang dihantarkan septicemia plasenta abortus (Carr, 2003). 4. Diagnosa a. Anamnesa b. Gejala klinis c. Pemeriksaan laboratorium : 1) PCR : mengetahui DNA virus, dengan menggunakan swab vagina, secret abortus, dan leleran hidung, atau sample nekropsi 2) Isolasi dan identifikasi virus (Carr, 2003).

3|Kuda Tidak Beger

5. Terapi Belum ada terapi untuk EHV-1, namun bila terjadi demam dianjurkan diberi antibiotic untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakterial (Merck, 2008). 6. Pencegahan a. Manajemen kebersihan kandang yang bagus b. Disinfektan c. Isolasi kuda yang terinfeksi d. Penempatan kuda bunting pada kelompok kecil atau kandang sendiri mampu mengurangi penularan e. Memusnahkan sekret abortus f. Vaksinasi tidak 100% bisa mengatasi virus, (Bushmich, 2005). C. Dourine Dourine adalah penyakit menular kuda ditransmisikan hanya dengan coitus dan ditandai oleh peradangan pada area genital eksternal, lesi kulit dan kelumpuhan. Dourin juga dikenal dengan nama lain: mal de coit, dourin el, morbo coitale malign, slapsiekte, bolyezn sluchnaya (Anonim, 2004). 1. Etiologi Dourine adalah penyakit kelamin parasitik pada kuda yang disebabkan oleh protozoa berflagella Trypanosoma equiperdum dari ordo Trypanosomatida. Trypanosoma equiperdum tidak bertahan hidup lama di luar host-nya dan tidak ditularkan oleh fomitus, oleh karena itu, parameter yang terkait dengan perlawanan terhadap tindakan fisik dan kimia (yaitu temperature: kimia/desinfektan dan kelangsungan hidup lingkungan) tidak bermakna (Anonim, 2004). Dourine ditularkan selama perkawinan atau kuda yang terinfeksi kadang-kadang dapat menularkan infeksi untuk anak kuda. rata-rata kematian terkain dengan penyakit akut pendekatan 50% (terutama di kuda jantan), (Anonim, 2004). Hospes Kuda, bagal dan keledai Tikus, kelinci, dan anjing dapat menginfeksi secara eksperimental. Tikus digunakan untuk mempertahankan galur parasit tanpa batas waktu dan untuk mempersiapkan antigen untuk tes diagnostik. Transmisi Tsetse equiperdum oleh lalat atau vektor lainnya belum dilaporkan. Anak kuda mungkin terinfeksi melalui mukosa (konjungtiva), selama proses kelahiran atau dengan minum susu yang terinfeksi anak kuda kemudian dapat menularkan penyakit ketika mereka telah dewasa kelamin. Penyakit ini terjadi pada kebanyakan dari Asia,

4|Kuda Tidak Beger

Afrika Utara dan Selatan, Rusia bagian dari Timur Tengah, Selatan, Amerika, dan Eropa Tenggara (Anonim, 2004). 2. Gejala klinis a. Demam b. Edema lokal alat kelamin dan kelenjar susu c. Edema coetaneous erupsi d. Knuckling sendi, ketiadaan koordinasi dan kelumpuhan wajah unilateral e. Ocular lesi f. Anemia g. Kehilangan berat badan dan kekurusan h. Abnormalitas gaya berjalan (Anonim, 2004) Keparahan dan lamanya penyakit berbeda-beda. Meskipun penyakit ini sering fatal spontan. Pemulihan memang terjadi tetapi dapat mengakibatkan karier yang laten. T.anda-tanda klinis ditandai dengan memburuknya periodik dan kambuh, berakhir dalam kematian, kadang-kadang setelah paraplegia atau mungkin pemulihan penyakit akut berlangsung hanya 1-2 bulan atau 1 minggu. Pada bentuk kronis, biasanya ringan, bentuk penyakit dapat bertahan selama beberapa tahun. Infeksi subklinis terjadi keledai dan bagal lebih tahan daripada kuda. Dalam kasus mematikan, penyakit ini biasanya lambat dan progresif dengan anemia dan kekurusan meningkat, meskipun nafsu makan tetap baik (Anonim, 2004). 3. Patogenesis Awalnya, parasit ditemukan bebas pada permukaan mukosa atau antara sel-sel epitel dan hewan yang baru terinfeksi. Invasi jaringan berlangsung, dan patch edema muncul di saluran genital. Parasit kemudian dapat masuk ke dalam darah, di mana mereka dibawa ke bagian lain dari tubuh. Dalam kasus biasa, invasi metastasis ini menimbulkan plak kutan karakteristik. Masa inkubasi, keparahan dan lamanya penyakit ini sangat bervariasi. Di Afrika Selatan penyakit ini biasanya kronis, ringan dan dapat bertahan beberapa tahun. Di daerah lain, seperti Afrika Utara dan Amerika Selatan, penyakit ini cenderung lebih akut, sering hanya berlangsung 1-2 bulan atau, 1 minggu. Meskipun dourine adalah penyakit mematikan dengan angka kematian rata-rata 50% (terutama kuda jantan) pemulihan spontan dapat terjadi, infeksi subklinis. Keledai dan bagal lebih tahan dari kuda (Anonim, 2004). 4. Diagnosa Pemeriksaan vagina pada hewan betina, pemeriksaan serologis. 5. Terapi

5|Kuda Tidak Beger

Terapi farmasi tidak dianjurkan karena hewan tetap menjadi karier Tidak ada produk biologi yang tersedia (Anonim, 2004). 6. Pencegahan dan pengendalian Sanitasi profilaksis Pengendalian dilakukan dengan pengawasan secara berkala dan memusnahkan hewan yang terinfeksi Kontrol oleh undang-undang Hygiene yang baik pada saat membantu perkawinan pada kuda (Anonim, 2004). D. Endometritis 1. Etiologi Pada banyak kasus endometritis, disebabkan oleh oportunistik patogen yang menginfeksi setelah partus, selain itu bakteri yang dapat menyebabkan infertil seperti Campylobacter fetus and Trichomonas fetus juga dapat menyebabkan endometritis. Faktor predisposisi terjadinya endometritis adalah distokia, retensi plasenta, musim, kelahiran kembar, invasi bakteri serta penyakit metabolit (Arhur, 2001). 2. Gejala Klinis Gejala pertama endometritis adalah adanya leleran dengan lendir jernih atau keputihan yang berlebihan. Adanya infeksi Actinomyces pyogenes mengakibatkan leleran menjadi purulen dan berbau busuk yang khas. Evaluasi klinis keadaan uterus dapat dilakukan dengan pemeriksaan lewat rektum. Ukuran uterus, ketebalan dinding uterus dan isi lumen uterus merupakan pertimbangan dalam hubungannya dengan jumlah hari pasca beranak. Gejala klinis endometritis bervariasi dari kekeruhan ringan dari lendir birahi sampai pembesaran uterus yang mungkin terlihat pada vagina bagian depan dan saluran serviks dengan pemeriksaan menggunakan spikulum. Riwayat pengawinan mungkin menunjukkan adanya kegagalan konsepsi setelah beberapa kali inseminasi. Penderita bisa nampak sehat, walaupun dengan leleran vulva purulen dan dalam uterusnya teraba timbunan cairan. Pengaruh endometritis terhadap fertilitas adalah dalam jangka pendek, meurunkan kesuburan, calving interval dan S/C naik, sedangkan dalam jangka panjang, menyebabkan sterilitas karena terjadi perubahan traktus reproduksi, sehingga meningkatkan pemotongan (Prihatno, 2004). 3. Patogenesis Agen infeksi biasanya masuk ke dalam uterus melalui vagina pada saat coitus, inseminasi buatan, partus, dan atau postpartus, walaupun memugkinkan juga pada suatu keadaan agen infeksi berasal dari sirkulasi. Pada kebanyakan kasus, agen infeksi tersebut

6|Kuda Tidak Beger

berasal dari kontaminasi uterus postpartus tetapi biasanya flora tersebut akan segera dihilangkan. Flora tersebut akan tetap tinggal di uterus, sehingga menyebabkan peradangan pada endometrium. Tingkat kontaminasi bakteri pada uterus sangat menentukan terjadi endometritis atau tidak. Patogenesis penyakit ini sangat berhubungan dengan faktorfaktor yang berkaitan dengan kemampuan tubuh hospes untuk mengeliminasi flora tersebut, daripada faktor dari bakteri-bakteri sendiri (Arthur, 2001). 4. Diagnosis Kejadian endometritis dapat didiagnosa dengan adanya purulen dari vagina yang diketahui lewat palpasi rektal. Yang harus diperhatikan pada saat palpasi dan pemeriksaan vaginal meliputi ukuran uterus, ketebalan dinding uterus dan keberadaan cairan beserta warna, bau dan konsistensinya. Sejarah tentang trauma kelahiran, distokia, retensi plasenta atau vagina purulenta saat periode postpartus dapat membantu diagnosa endometritis. Pengamatan oleh inseminator untuk memastikan adanya pus, mengindikasikan keradangan pada uterus. Diagnosa lebih lanjut seperti pemeriksaan vaginal dan biopsi mungkin diperlukan. Pemeriksaan mikroskopis dari jaringan biopsi akan tampak adanya peradangan akut atau kronik pada dinding uterus. Pemeriksaan biopsi uterin dapat untuk memastikan terjadinya endometritis dan adanya organisme di dalam uterus. Tampak daerah keradangan menunjukkan terutama naetrofil granulocyte dan dikelilingi jaringan nekrosis dengan koloni coccus (Arthur, 2001). 5. Terapi Terapi yang biasa digunakan adalah dengan injeksi antibiotik dan hormon (Prostalglandin F-2) atau melakukan dengan antiseptik (yodium povidon) secara intra uterine (Prihatno, 2004). E. Pyometra 1. Etiologi Pyometra adalah pengumpulan sejumlah eksudat purulen dalam rumen uterus dan adanya korpus luteum persisten pada salah satu ovariumnya. Pyometra berkembang dari sapi yang mengalami ovulasi sebelum m.o yang menginfeksi uterus pada periode postpartus dieliminasi oleh sistem imun. Korpus luteum persisten terbentuk karena adanya isi uterus abnormal, menyebakan hambatan pembebasan prostaglandin dari endometrium, atau menahan prostaglandin pada lumen uterus. Uterus dalam pengaruh progesteron yang cukup lama sehingga aktifitas fagositik dari neutrofil akan ditekan dan akibatnya bakteri tetap ada di dalam uterus (Prihatno, 2008).

7|Kuda Tidak Beger

2. Gejala Klinis Gejala klinis yang tampak adalah anestrus, karena adanya korpus luteum persisten. Isi dari uterus berupa pus dan dinding uterus lebih tipis dan lebih lenting dari pada sapi bunting. Kasus pyometra pasca perkawinan ada kemungkinan disebabkan oleh Trichomonas fetus (Prihatno, 2008). 3. Terapi Kombinasi antibiotik dan PGF2 (Prihatno, 2008).

8|Kuda Tidak Beger

Daftar Pustaka Anonim. 2004. Dourine. http://www.oie.int/eng/normes/mmanual/A_00080.htm. Diakses pada 2 Mei 2012. Anonim 2009. Contagious Equine Metritis. Iowa State University : http://www.pdf.kq5.org/pdf/contagious-equine-metritis.html. Diakses pada 2 Mei 2012. Aiello, S. E. 2000. The Merck Veterinary Manual. Merck & Co. : London. Arthur, G.H. 2001. Arthur's Veterinary Reproduction And Obstretic. Edited by E. Noakes, T. J. Parkin-on and G. C. W. England. Eighth edition. W.B. Saunders: China Bushmich, S.L. 2005. Equine Herpes Virus (EHV). http://canr.uconn.edu. Diakses pada 2 Mei 2012. Carr, E.A. 2003. Equine Herpes Virus, How to Make Sense Out of All the Confusion. http://old.cvm.msu.org diakses pada 2 Mei 2012. Merck. 2008. Equine Herpesvirus Infection (Equine viral rhinopneumonitis, Equine abortion virus). Merck & Co,. Inc.: Whitehouse Station, NJ USA Prihatno, Surya Agus. 2004. Hand Out Infertilitas dan Sterilitas. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM: Yogyakarta. Prihatno, SA. 2008. Hand Out Infertilitas dan Sterilitas. Fakultas Kedokteran hewan Universitas Gadjah mada: Yogyakarta. Quinn PJ, Markey BK, Carter ME, Donnelly WJ, and Leonard FC. 2002. Veterinary Microbiology and Microbial Disease. Blackwell Publishing Company: UK Samper JC, Pycock JF, and McKinnon AO. 2007. Current Theraphy in Equine Reproduction. Saunders Elsevier: St.Louis, Missouri, USA

9|Kuda Tidak Beger