Anda di halaman 1dari 10

STUDI FORMULASI TABLET EFERVESEN EKSTRAK ANGKAK DENGAN VARIASI KONSENTRASI BAHAN PENGIKAT POLIVINILPIRILIDON SEBAGAI SEDIAAN TERAPI SUPORTIF DEMAM BERDARAH

Formulation Study Effervescent Tablet Angkak Extract With Polyvinilpyrolidon binder Concentration Variation as Supportive Therapy for Dengue Fever

Nur Khairi, Latifah Rahman dan Marianti A. Manggau

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi bahan pengikat polivinilpirilidon K30 yang paling efektif dari tablet efervesen ekstrak angkak sehingga diperoleh formula yang baik secara fisik dan mengetahui efek peningkatan trombosit yang paling efektif pada kelinci dari tiga formula tablet efervesen ekstrak angkak. Penelitian ini dilakukan dengan membuat tiga formula tablet efervesen yang masing-masing mengandung ekstrak angkak sebagai bahan aktif, asam sitrat dan asam tartrat sebagai komponen asam, natrium bikarbonat sebagai komponen basa, asam stearat sebagai lubrikan, aspartam sebagai pemanis, aerosil sebagai adsorben, esens stroberi sebagai perasa, laktosa sebagai pengisi dan polivinilpirilidon sebagai pengikat dengan variasi konsentrasi 1%, 3% dan 5%. Selanjutnya ketiga formula tablet efervesen tersebut diberikan pada kelinci yang mengalami trombositopenia secara oral selama 9 hari dan diukur kadar trombositnya setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula II yang mengandung polivinilpirilidon 3% memiliki karakteristik fisik yang paling baik. Dan ketiga formula tersebut dapat meningkatkan kadar trombosit pada kelinci yang mengalami trombositopenia secara signifikan dibandingkan kontrol.

Kata Kunci : Angkak, Polivinilpirilidon, Tablet Efervesen

ABSTRACT

The Aim of this study was to observe the most effective the concentration of binder polyvinilpyrolidon substance of angkak extract effervescent tablet and know effects to increated platelet in rabbits for the most effective from three effervescent tablets to rabbits. The research was done making three formula effervescent tablets each containing angkak extract as active ingredients, citric acid and tartaric acid as acid components, sodium bicarbonate as the base component, stearic acid as lubricants, aspartame as a sweetener, Aerosil as adsorbent, strawberry essences as flavorings, lactose as filler and polivinilpirilidon as a binder with variations concentration of 1%, 3% and 5%. Furthermore, the third formula effervescent tablets are given to rabbits orally experienced thrombocytopenia during 9 days and platelet levels were measured every day. The results showed that the formula II containing polivinilpirilidon 3% had the best physical characteristics. And third formula can increase platelet levels in rabbits that had thrombocytopenia significantly compared controls.

Keywords : Angkak, Polyvinilpyrilidon, Effervescent tablets.

Pendahuluan

i

Penyakit Demam Berdarah Dengue atau yang lebih dikenal dengan singkatan DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan merupakan vector borne disease atau ditularkan melalui vektor, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama karena dapat menyerang semua golongan umur. Namun dalam dekade terakhir terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita DBD pada anak-anak dan menyebabkan kematian. WHO memperkirakan tiap tahunnya sebanyak sebanyak 58.301 kasus DBD terjadi di Indonesia sejak 1 Januari hingga 30 April 2004 dan 658 kematian, yang mencakup 30 provinsi dan terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada 293 kota di 17 provinsi (WHO, 2007). Insiden demam dengue menunjukkan peningkatan yang sangat pesat di seluruh penjuru dunia. Sebanyak 52% dari penduduk yang berisiko tersebut hidup di wilayah Asia Tenggara. Pada tahun 2007 di Amerika terdapat lebih dari 890.000 kasus dengue yang dilaporkan dimana 26.000 kasus diantaranya tergolong dalam demam berdarah dengue (DBD).

Pengobatan terpenting dari penyakit demam berdarah dengue adalah terapi suportif. Pasien disarankan untuk menjaga penyerapan makanan, terutama dalam bentuk cairan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis. Pengobatan alternatif yang mulai populer adalah angkak. Angkak merupakan suatu produk yang dihasilkan dari fermentasi beras menggunakan Monascus spp. Monascus spp dapat mengubah substrat pati menjadi beberapa senyawa metabolit seperti alkohol, antibiotika, antihipertensi, enzim, asam-asam lemak, asam gamma amino butirat (GABA), beberapa pigmen dan vitamin (Pattanagul et al, 2007). Angkak mengandung penghambat enzim HMG CoA reduktase dan komponen-komponen protein, asam amino, sakarida, beta sitosterol, campesterol, stigmasterol, isoflavon, saponin serta berbagai trace element yang mempunyai peran dalam penanggulangan demam berdarah (Nasronudin, 2008). Pengalaman empiris, menunjukkan bahwa pasien demam berdarah yang mengkonsumsi angkak mengalami peningkatan jumlah trombosit secara cepat dengan metode pembuatan air rebusan angkak. Penelitian yang telah dilakukan Nurkhairi (2007) menunjukkan ekstrak metanol angkak dapat meningkatkan jumlah trombosit normal pada mencit. Hasil penelitian Usman (2008) menunjukkan jumlah trombosit kelinci yang mengalami trombositopenia meningkat secara signifikan setelah pemberian infus angkak 4 % selama tiga hari perlakuan. Musyahida (2009) menunjukkan bahwa nilai LD 50 - ekstrak etanol angkak pada mencit dikategorikan praktis tidak toksik. Dan hasil penelitian lain Dwisosiyawati (2010) menunjukkan bahwa granul efervesen ekstrak angkak dapat meningkatkan trombosit pada kelinci yang mengalami trombositopenia secara signifikan. Penggunaan langsung serbuk angkak tanpa pengolahan dapat menimbulkan efek samping yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan hati, hal ini disebabkan oleh citrinin yang terdapat dalam angkak (Biing-Hsui et al, 2005), sedangkan dengan pengolahan rebusan dan ekstrak langsung dari segi rasa kurang diterima oleh pasien, sehingga perlu diformulasi dalam bentuk sediaan. Salah satu bentuk sediaan yang dapat diaplikasikan untuk ekstrak angkak adalah tablet efervesen. Tablet efervesen adalah tablet tidak bersalut, umumnya mengandung bahan asam dan karbonat, yang bereaksi dengan cepat dalam air dengan membebaskan karbondioksida, reaksinya cukup cepat dan biasanya selesai dalam waktu satu menit atau kurang. Keuntungan sediaan ini adalah bahan obat yang membutuhkan dosis yang besar dapat dibuat dalam bentuk efervesen karena tablet efervesen dapat mengandung lebih dari 2000 miligram bahan aktif, bahan yang cukup stabil dalam bentuk larutan akan lebih stabil jika di buat dalam bentuk efervesen, penggunaannya mudah dan dapat diberikan pada pasien yang sulit menelan

ii

seperti anak-anak, disamping itu bentuk efervesen mempunyai rasa yang menyenangkan karena gas karbon dioksida yang dihasilkan memberi rasa segar seperti halnya minuman kaleng berkarbonasi, dan dapat menutupi rasa garam atau rasa lain yang tidak diinginkan dari zat obat (Allen, 2002; Ansel, 1989; Pulungan, 2004; Parkh, 2005). Agar komponen obat sepenuhnya tersedia, maka tablet harus mempunyai daya pengikat untuk mempertahankan karakteristik granul sesuai persyaratan yang ditentukan. Bahan pengikat adalah bahan yang ditambahkan untuk membentuk granul atau menaikkan kekompakan kohesi tablet yang dicetak. Polivinilpirilidon sering digunakan sebagai bahan pengikat, karena bahan tersebut dapat meningkatkan kekuatan ikatan antara granul dan juga menghasilkan permukaan tablet yang lembut. Polivinilpirilidon merupakan suatu polimer sintetik yang dapat digunakan sebagai pengikat baik dalam granulasi basah maupun dalam granulasi kering. Polivinilpirolidon larut dalam air dan efektif digunakan sebagai pengikat dalam tablet efervesen. (Lachman, 1989; Bertuzzi,

2005)

Metode Penelitian

Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan adalah alat uji kekerasan tablet (Mosanto), alat- alat gelas, ayakan mesh no 14 dan no.16, batang pengaduk, Hematologi analyzer (Sysmex kx 21), lemari pengering granul, mesin cetak tablet, mikropipet (Milta), piknometer 25,0 ml, “stopwatch”, timbangan analitik (Chyo) dan timbangan kasar (O’haus).

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah angkak, asam sitrat, asam tartrat, asam

stearat, aspartam, aerosil, etanol 50%, esens stroberi, laktosa, larutan EDTA, natrium bikarbonat, polivinilpirolidon (PVP) K30, suspensi kloramfenikol dan kelinci. Ekstraksi Angkak Sebanyak 500 g angkak diekstraksi dengan menggunakan etanol 50% dengan pemanasan pada suhu 90 o C selama 15 menit. Cairan penyari diuapkan dengan rotavapor dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan hingga diperoleh ekstrak kering. Karakteristik Ekstrak

1. Pengamatan Organoleptis Pengamatan organoleptis meliputi bau, warna, rasa dan bentuk

2. Profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Ekstrak dilarutkan dalam etanol 50%, ditotolkan pada lempeng KLT selanjutnya dielusi dengan fase gerak n-heksan : etil asetat : air (3:1:0,5). Spot yang terbentuk diamati dibawah lampu UV 366, dan dihitung nilai Rf. Formulasi Tablet Efervesen Ekstrak Angkak

1. Formula Tablet Efervesen Ekstrak Angkak Ekstrak angkak diformulasi dalam bentuk sediaan tablet efervesen sebanyak tiga formula dengan variasi polivinilpirilidon K30 sebagai bahan pengikat, dengan komposisi sebagai berikut :

Tabel. Formula Tablet Efervesen Ekstrak Angkak

iii

No

Bahan

 

Formula (% b/b)

I

II

III

1

Ekstrak Angkak

10

10

10

2

Polivinilpirolidon K 30

1

3

5

3

Asam sitrat

16

16

16

4

Asam tartrat

8

8

8

5

Natrium bikarbonat

30

30

30

6

Asam stearat

2

2

2

7

Aspartam

1

1

1

8

Aerosil

6

6

6

9

Esens stroberi

0,5

0,5

0,5

10

Laktosa

25,5

23,5

21,5

2. Pembuatan Tablet efervesen ekstrak angkak ini dibuat dengan metode granulasi basah

dengan tahap-tahap sebagai berikut :

a. Ekstrak angkak ditetesi etanol 96% secukupnya dan ditambahkan aerosil digerus hingga homogen, ditambahkan asam sitrat, asam tartrat, aspartam, laktosa dan natrium bikarbonat digerus hingga homogen

b. PVP K30 ditambahkan kedalam campuran (a), digerus dan ditetesi dengan etanol 96% secukupnya, diaduk hingga membentuk massa yang dapat dikepal

c. Campuran diayak dengan ayakan mesh 14 kemudian dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40-50 o C selama 18 jam

d. Granul yang sudah kering diayak kembali dengan ayakan mesh 16

e. Esens stroberi dan asam stearat ditambahkan ke dalam granul dan dihomogenkan

f. Dilakukan evaluasi granul

g. Granul yang telah dievaluasi, dikempa menjadi tablet dan dilakukan uji evaluasi

tablet.

Evaluasi Granul Efervesen Evaluasi granul meliputi :

1. Uji Kadar Air (Lachman, 1989) Granul basah ditimbang kemudian dikeringkan dalam lemari pengering hingga diperoleh bobot yang tetap. Kadar air dihitung dengan rumus :

a. LOD (Loss on Drying) yaitu suatu pernyataan kadar kelembaban berdasarkan

bobot basah yang dihitung sebagai berikut :

Bobot granul basah – Bobot granul kering

% LOD =

Bobot granul basah

x 100 %

b. MC (Moisture Content) yaitu suatu pernyataan kandungan lembab berdasarkan bobot kering dihitung sebagai berikut :

Bobot granul basah – Bobot granul kering

% MC

=

Bobot granul kering

x 100 %

2. Uji Sudut Istirahat (Lachman, 1989) Granul yang telah kering ditimbang sebanyak 25 gram, lalu dimasukkan ke dalam corong yang bagian bawahnya tertutup. Kemudian bagian bawah corong dibuka sehingga granul dapat mengalir di atas meja yang telah dilapisi kertas grafik.

iv

Selanjutnya diukur tinggi dan diameter timbunan granul yang terbentuk. Sudut istirahat dihitung dengan rumus :

Dimana :

Tan α =

α

h

d

=

=

=

2 h

d

Sudut istirahat

Tinggi timbunan granul

Diameter timbunan granul

3. Uji Kecepatan Alir (Lachman, 1989) Granul yang telah kering ditimbang sebanyak 25 gram, lalu dimasukkan ke dalam corong yang bagian bawahnya tertutup. Kemudian bagian bawah corong dibuka sehingga granul dapat mengalir di atas meja yang telah dilapisi kertas. Waktu alir granul ditentukan pada saat granul mulai mengalir sampai granul berhenti mengalir menggunakan “stopwatch”. Kecepatan alir dihitung dengan rumus :

Kecepatan alir

Bobot granul

=

Waktu alir

4. Kerapatan curah, Kerapatan mampat dan Porositas (Lachman, 1989) Granul ditimbang sebanyak 25 gram, lalu dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml dan dicatat volumenya (Vo). Setelah itu dilakukan pengetukan dengan alat dan dicatat volume ketukan ke 10, ke 50 dan ke 100, lalu dilakukan perhitungan dengan rumus :

Kerapatan curah

=

Bobot granul

 
 
 

Volume awal (Vo)

 
 

Bobot granul

Kerapatan mampat

=

 
 

Volume mampat Kerapatan curah

   

Porositas

=

1 -

 

x 100 %

 

Kerapatan sejati Vol.awal – Vol.mampat

x 100%

Kompresibilitas

=

Volume awal

5. Kerapatan sejati (Lachman, 1989) Pengujian bobot jenis sejati dilakukan dengan cara menimbang piknometer 50 ml yang kosong (a). Kemudian piknometer diisi dengan parafin cair dan ditimbang kembali (b).

Kerapatan parafin cair =

50

b – a

Granul sebanyak 1 gram diisikan ke dalam piknometer 50 ml yang kosong, lalu ditimbang (c). Kemudian ditambahkan parafin cair ke dalam piknometer hingga penuh dan ditimbang kembali (d). Bobot jenis sejati dihitung dengan rumus :

Kerapatan sejati =

(c – a) x Bobot jenis parafin cair

v

Evaluasi Tablet Efervesen

(c + d) – (a + d)

1. Uji Keseragaman Ukuran (Dirjen POM, 1979) Dua puluh tablet diambil secara acak dan diukur diameter serta tebal masing- masing tablet dengan jangka sorong. Kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1 / 3 kali tebal tablet.

2. Uji Keseragaman Bobot (Dirjen POM, 1979) Dua puluh tablet diambil secara acak dan dibersihkan dari debu kemudian ditimbang satu persatu dan dihitung bobot rata-ratanya. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet bobotnya masing-masing menyimpang dari bobot rata- ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom B

Bobot rata-rata

Penyimpangan Bobot Rata-rata (%)

A

B

25 mg atau kurang

15%

30%

26 mg sampai 150 mg

10%

20%

151 mg sampai 350 mg Lebih dari 300 mg

7,5%

15%

5%

10%

3. Uji Kekerasan Tablet (Gennaro, 1998) Pengujian dilakukan terhadap 6 tablet dengan menggunakan alat uji kekerasan tablet (Stoches). Tablet diletakkan diantara anvil dengan plat datar yang diam dan dijepit dengan memutar alat penekan. Angka yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada skala dinyatakan sebagai titik nol. Alat penekan diputar sampai tablet retak atau pecah dan angka pada skala dicatat. Syarat kekerasan tablet 6-12 kg.

4. Uji Waktu Melarut Tablet Efervesen (Dirjen POM, 1979) Alat terdiri atas sebuah gelas yang berisi air sebanyak 180 ml pada suhu 20 o C dan sebuah alat penghitung waktu (stopwatch). Dua buah tablet dimasukkan kedalam gelas, kemudai stopwatch dinyalakan saat tablet dimasukkan kedalam gelas hingga tablet larut sempurna. Syarat melarut tablet efervesen adalah 2 tablet larut sempurna dalam 180 ml air pada suhu 17,5 o C±2,5 o C dalam waktu 5 menit.

Uji Efektivitas Tablet Efervesen dalam Peningkatan Jumlah Trombosit

1. Penyiapan hewan uji Hewan uji yang digunakan adalah kelinci yang sehat dengan berat badan 1,5 –

2 kg yang dibagi atas 4 kelompok, setiap kelompok terdiri atas 3 ekor. Hewan-hewan tersebut diadaptasikan dengan lingkungan sekitarnya selama 1 – 2 minggu.

2. Penyiapan sediaan uji Masing-masing tablet dari ketiga formula dilarutkan dalam air suling.

3. Pembuatan suspensi kloramfenikol

Suspensi kloramfenikol sebanyak 6 ml ditambahkan air suling hingga 100 ml, kemudian dikocok hingga homogen.

4. Perlakuan terhadap hewan uji.

Sebelum diberi perlakuan kelinci dipuasakan dan diukur kadar trombosit awalnya. Setelah itu diberikan suspensi kloramfenikol 0,15% secara peroral sebanyak 16 ml/ 2 kg BB tiga kali sehari selama 5 hari supaya kelinci mengalami trombositopenia. Kemudian diukur kembali kadar trombositnya. Setelah itu kelinci diberikan larutan tablet

vi

efervesen secara peroral tiga kali sehari selama 9 hari dan diukur kembali jumlah trombosit kelinci setiap hari.

5. Pengambilan darah hewan uji

Darah kelinci diambil dari bagian vena marginalis sebanyak 1 mL, dengan menggunakan spoit 1 mL, kemudian dimasukkan dalam tabung vacutainer yang berisi 10 μL larutan EDTA.

6. Penentuan jumlah trombosit

Jumlah trombosit kelinci diukur secara otomatis dengan menggunakan alat Hematologi Analyzer (Sysmex kx 21) yang sebelumnya sampel darah kelinci dalam tabung vacutainer dihomogenkan pada alat Nutator agar sampel tidak mengalami pembekuan.

Pembahasan

Ekstrak angkak diperoleh dari ekstraksi angkak dengan menggunakan pelarut etanol 50% dengan pemanasan pada suhu 90 o C selama 15 menit. Pemanasan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar citrinin yang terdapat pada angkak, karena citrinin dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan ginjal (Biing Hsui, 2005). Ekstrak angkak yang diperoleh selanjutnya diformulasi menjadi tablet efervesen. Tablet efervesen dibuat dengan pertimbangan bahwa sediaan efervesen mengandung gas karbonasi yang dapat menutupi rasa pahit dari angkak. Dalam pembuatan tablet efervesen diperlukan penanganan khusus dalam formulasi karena adanya sejumlah air yang diabsorbsi oleh ekstrak, dapat memicu pelepasan gas CO 2 dari tablet. Pelepasan CO 2 dari tablet harus dihindari karena dapat mengakibatkan hancurnya tablet. Ekstrak angkak diformulasi menjadi tiga formula dengan variasi konsentrasi bahan pengikat. Perbedaan konsentrasi bahan pengikat dimaksudkan untuk memperoleh formula yang memenuhi persyaratan farmasetik. Selain bahan pengikat formula ini juga mengandung komponen asam, basa, pengisi, pemanis, lubrikan dan pengaroma. Hasil penentuan kandungan lembab dari ketiga formula tidak memenuhi persyaratan karena kandungan lembab granul efervesen lebih dari 0,7%. Hal ini disebabkan granul efervesen diproduksi pada ruang dengan kelembaban yang tinggi. Sebaiknya ruangan dikontrol pada kelembaban relative dibawah 20% pada suhu 21 o C. Hasil pengukuran kecepatan alir dari formula I, II dan III adalah 4,44; 4,63 dan 4,53, ketiga formula tersebut mempunyai sifat alir yang baik, sehingga tidak mengalami kesulitan pada waktu pencetakan tablet, karena menurut Staniforth (1998) waktu alir yang baik untuk pencetakan tablet adalah 4-10 detik untuk 25 g granul. Hasil pengukuran sudut istirahat formula I, II dan III yaitu 28,07 o , 27,75 o dan 27,75 o . Menurut Wells et al (1988) sudut istirahat yang baik adalah 25 o -30 o sehingga semua formula menunjukkan sifat aliran yang baik. Cara lain mengukur sifat alir granul adalah presentase kompresibilitas (Carr’s index). Menurut Wells et al (1988), nilai 12-16 menunjukkan sifat alir baik. Pada formula I, II dan III mempunyai persentase kompressibilitas yaitu 12,30, 13,79 dan 12,50, sehingga semua formula menunjukkan sifat aliran yang baik. Porositas adalah nilai prosentase yang menyatakan rongga kosong antar partikel. Peningkatan nilai porositas akan meningkatkan laju disolusi dan menurunkan waktu disintegrasi (Ennis, 2005). Dari hasil diperoleh bahwa formula I memiliki porositas sebesar 79,96 %, formula II sebesar 80,30 % dan formula III sebesar 76,17 %. Dari hasil tersebut terlihat bahwa porositas dari formula II lebih besar dari formula I dan III. Selain

vii

itu

diperoleh juga hasil evaluasi waktu melarut dari tablet efervesen. Untuk formula I

selama 3,19 menit, formula II selama 2,38 menit dan formula III selama 3,57 menit. Dari hasil terlihat bahwa nilai porositas yang diperoleh sebanding dengan waktu melarutnya tablet efervesen yaitu formula II lebih cepat melarut dari formula I dan III. Sifat alir granul dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya rapat jenis, porositas, bentuk partikel dan kandungan lembab. Sifat alir yang baik akan memudahkan granul memasuki ruang cetakan, sehingga keseragaman bobot dapat terjaga baik. Untuk tablet dengan bobot lebih dari 300 mg, syarat keseragaman bobot adalah tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang 5 % dari bobot rata-rata tablet dan tidak satu tablet pun yang menyimpang 10 % dari bobot rata-rata

tablet. Dari hasil penimbangan diperoleh bahwa bobot rata-rata tablet untuk formula I, II

dan III adalah 1000,46 mg, 1000,47 mg dan 1000,38 mg. Dari hasil uji keseragaman

bobot menunjukkan bahwa tablet efervesen ekstrak angkak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Uji keseragaman ukuran dilakukan terhadap 20 tablet dengan persyaratan

diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1,3 kali tebal tablet. Untuk formula I diperoleh tebal dan diameter tablet rata-rata adalah 6,29 mm dan 12,24 mm (diameter 1,94 kali tebal tablet), untuk formula II adalah sebesar 6,28 mm dan 12,25 mm (diameter 1,94 kali tebal tablet) dan untuk formula III adalah sebesar 6,26 mm dan 12,25

mm (diameter 1,95 kali tebal tablet). Dari ketiga formula ini memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Uji kekerasan tablet dilakukan terhadap 6 tablet yang diambil secara acak dan

diperoleh kekerasan rata-rata tablet untuk formula I, II dan III adalah 6,16 kg, 6,50 kg

dan 6,00 kg. Syarat kekerasan tablet 6 – 12 kg. Dari hasil di atas, formula I, II dan III

memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Uji waktu melarut diuji terhadap 6 tablet yang diambil secara acak dan diperoleh

waktu melarut rata-rata tablet untuk formula I, II dan III adalah 3,19 menit, 2,38 menit

dan 3,57 menit. Syarat waktu melarut tablet efervesen adalah dua tablet larut sempurna

dalam 180 ml air pada suhu 17,5 o C ± 2,5 o C, dalam waktu 5 menit. Formula I, II dan III

memenuhi persyaratan. Dari ketiga formula tersebut, dibedakan berdasarkan berbedaan konsentrasi bahan pengikat. Bahan pengikat polivinilpirilidon K30 dipilih karena kelarutan dalam air dan kecepatan disolusinya yang baik. Kedua parameter tersebut merupakan parameter yang perlu diperhatikan pada sediaan efervesen. Penggunaan polivinilpirilidon sebagai pengikat mempunyai keuntungan yaitu granul memiliki sifat alir yang baik, sudut diam minimum, menghasilkan fines yang lebih sedikit dan daya kompaktibilitas yang lebih baik. Sehingga dari hasil evaluasi granul dan tablet efervesen ekstrak angkak yang diperoleh, ketiga formula tablet efervesen mempunyai karakteristik fisik yang baik. Formula II yang mengandung polivinilpirilidon 3% memiliki karakteristik fisik yang paling baik dibandingkan formula I yang mengandung polivinilpirilidon 1% dan formula

III yang mengandung polivinilpirilidon 5%. Dalam penentuan konsentrasi bahan

pengikat harus disesuaikan dalam jumlah yang tepat. Karena penggunaan bahan pengikat yang terlalu banyak, akan menghasilkan granul yang terlalu keras sehingga tablet yang dihasilkan akan mempunyai waktu hancur yang lama. Sebaliknya, kekurangan bahan pengikat akan menghasilkan daya rekat yang lemah sehingga tablet mudah rapuh. Pada uji peningkatan trombosit menggunakan 12 ekor kelinci yang dibagi dalam 4 kelompok yaitu satu kelompok kontrol dan tiga kelompok perlakuan. Sebelum diberikan perlakuan, terlebih dahulu kelinci tersebut dihitung jumlah trombosit awalnya, kemudian diberikan suspensi kloramfenikol 0,15% sebanyak 16 ml/2 kg BB tiga kali sehari selama 5 hari.

viii

Pemberian kloramfenikol sebelum perlakuan dimaksudkan untuk penurunan jumlah trombosit kelinci sehingga diperoleh kondisi trombositopenia. Salah satu efek samping penggunaan kloramfenikol adalah terjadi trombositopenia akibat dari penekanan sumsum tulang. Dari hasil perhitungan statistik, peningkatan trombosit oleh pemberian tablet efervesen ekstrak angkak pada kelinci dengan menggunakan Uji Beda Rerata Pengaruh Perlakuan diperoleh hasil yang sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat pada tabel ANOVA dimana nilai Fhitung > Ftabel pada taraf 5% dan 1%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian tablet efervesen angkak dapat berpengaruh sangat signifikan terhadap peningkatan jumlah trombosit kelinci. Selanjutnya dilakukan Uji lanjutan menurut uji Dunnett, hasil yang diperoleh adalah formula I, II dan III berbeda sangat signifikan terhadap kontrol pada taraf uji 5% dan 1%, akan tetapi formula I tidak berbeda nyata dengan formula II dan III pada taraf uji 5% dan 1%. Hasil statistik memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan peningkatan trombosit antara formula I, II dan formula III. Hal ini disebabkan karena masing-masing formula memiliki kandungan ekstrak angkak yang sama yaitu sebesar 10%. Pemberian air suling sebagai kontrol negatif tidak meningkatkan jumlah trombosit secara bermakna hingga hari ke-9. Pemberian ketiga formula tablet efervesen telah meningkatkan jumlah trombosit mendekati jumlah trombosit awal sebelum trombositopenia pada formula I, II dan III pada hari ke-6. Kecepatan peningkatan trombosit mendekati jumlah trombosit awal tergantung seberapa besar penurunan trombosit akibat pemberian kloramfenikol. Pemberian tablet efervesen terus menerus akan meningkatkan jumlah trombosit melebihi jumlah normal. Hal ini dapat dilihat dari jumlah trombosit pada hari ke-9, hampir semua kelinci mengalami trombositosis. Sehingga dapat dikatakan bahwa angkak dapat membantu mempercepat proses perbaikan sirkulasi terutama pada perbaikan trombosit hewan uji yang mengalami trombositopenia. Selain meningkatkan jumlah trombosit dan fungsi magrofaga, angkak dengan lovastatinnya juga dapat menyenyumbangkan ubiquinon dan heme A yang penting dalam peningkatan energi sel dan perbaikan sel-sel darah merah. Kedua hal ini sangat penting dalam mendukung proses penyembuhan penyakit demam berdarah. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan

bahwa :

1. Dari ketiga formula yang dibuat, formula II mempunyai karakteristik fisik yang paling baik.

2. Formula I, II dan III dapat meningkatkan trombosit pada kelinci yang mengalami

trombositopenia secara signifikan dibandingkan dengan kontrol.

ix

Daftar Pustaka

Agoes, G. 2006. Pengembangan Sediaan Farmasi. Penerbit ITB, Bandung

Allen, V.L., 2002. The Art, Science and Technology of Pharmaceutical Compounding. 2nd Ed. American Pharmaceutical Association, Washington, D.C.

Ansel, H.C., 1989. Pharmaceutical Dosage Form and Delivery System. terjemahan Farida Ibrahim, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Ed. IV. UI Press. Jakarta. 171, 212-217, 605-612

Aryati. 2005. Aspek laboratorium DBD dengan permasalahan dan interpretasinya. Muswil V Patelki. Malang: 1-24

Biing-Hsui, T., T.S. Wu, M.C.Su, C.P. Chung, F.Y. Yu.

2005.

Evaluation of citrinin

occurrence and cytotoxicity. J. Agricult. Foood. Chemistry. 53:1 -5

Bertuzzi,

G.

2005.

Effervescent

Granulation in Parikh,

D.M,

(ed).

Handbook

of

Pharmaceutical Granulation Tecnology. Taylor & Francis. Singapore. 365-382

Ennis, B.J. 2005. Theory of Granulation : an Engineering Perspective in Parikh, D.M, (ed). Handbook of Pharmaceutical Granulation Technology. Taylor & Francis. Singapore. 9, 44, 55

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 6,7.

Dwisosiyawati. 2010. Formulasi Granul Efervesen Ekstrak Angkak Sebagai Sediaan Terapi suportif Trombositopenia. Program Pascasarjana Farmasi. UNHAS

x