Anda di halaman 1dari 18

Lampiran A Tugas Khusus

L-1

TINJAUAN KHUSUS EVALUASI PERFORMANCE PREHEATER 100 E-1 s.d E-7 TRAIN A CRUDE DISTILLING UNIT I. Latar Belakang Topping unit adalah salah satu unit proses yang ada di UP II Dumai yang berfungsi mengolah minyak mentah/crude oil menjadi fraksi-fraksinya dengan cara distilasi atmosferik. Unit ini mengolah minyak mentah dengan kapasitas pengolahan sebesar 130.000 barrel per jam. Untuk menjaga kehandalan operasi dan pemenuhan kebutuhan minyak dalam negeri maka perlu diadakan monitoring terhadap peralatan baik secara rutin maupun tidak, agar dapat ditentukan kapan dilaksanakan perbaikan pada peralatan tersebut. Preheater adalah salah satu peralatan di topping unit yang dituntut kehandalannya untuk menunjang operasi pemanasan awal crude sebelum masuk ke kolom distilasi. Agar perpindahan panas di preheater berjalan baik maka perlu diadakan cleaning terhadap kerak-kerak yang tersisa pada bagian-bagian preheater. II. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan tugas ini adalah untuk mengetahui performance preheater 100 E-1 s.d E-7 Train A CDU dengan cara mengevaluasi kondisi actual dengan perbandingan data disain, serta pengaruh performance preheater terhadap proses selanjutnya. Preheater sangat mudah terbentuk fouling, oleh karenan itu evaluasi preheater sangat sering dilakukan untuk menjaga kestabilan produksi. III.Batasan Masalah Untuk mengevaluasi kerja preheater E-1 s.d E-7 Train A dengan menghitung harga fouling Resistance (Rd), pressure drop (P), heat duty (Q),

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-2

serta temperatur keluaran E-7, sehingga dapat diketahui Performance, serta pengaruhnya terhadap nilai ekonomis pengoperasian alat. IV. Tinjauan Pustaka IV.1 Pengertian Heat Exchanger Dalam suatu industri kimia dikenal suatu peralatan penukar panas (Heat Exchanger) yang berfungsi untuk menukar panas antara dua fluida yang mempunyai beda temperatur. Perpindahan panas terjadi dari suatu benda yang mempunyai temperatur tinggi ke benda yang mempunyai temperatur rendah hingga mencapai temperatur yang sama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan panas: 1. Perbedaan temperatur fluida (T) 2. Thermal cunductivity (k) 3. Luas permukaan bidang perpindahan panas (A) 4. Kecepatan aliran fluida (W) 5. Arah aliran fluida Penggunaan heat exchanger pada industri pengolahan minyak cukup beragam sehingga heat exchanger dibedakan berdasarkan: 1. Fungsi atau penggunaannya 2. Jenis atau konstruksinya IV.2 a. Klasifikasi Heat Exchanger Berdasarkan Fungsinya Berdasarkan fungsinya heat exchanger dibedakan menjadi: 1. Preheater, yaitu suatu peralatan penukar panas yang terjadi antara dua aliran proses untuk menaikkan temperatur umpan, dimana kedua aliran tersebut dipisahkan oleh dinding tube dan tanpa disertai perubahan fasa.

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-3

2. Cooler, yaitu suatu peralatan penukar panas yang berfungsi untuk menurunkan temperatur tanpa mengalami perubahan fasa, dengan media pendingin air atau adara. 3. Condensor, yaitu suatu peralatan penukar panas yang berfungsi mengembunkan (mengkondensai) uap atau campuran uap hingga didapat cairan. Dalam penggunaannya dikenal dua macam kondensor yaitu partial condensor dan total condensor. b. Berdasarkan Konstruksinya Berdasarkan konstruksinya, heat exchanger dibedakan menjadi: 1. Shell and Tube Jenis ini merupakan yang paling banyak digunakan dalam industri perminyakan. Alat ini terdiri dari sebuah shell dan didalamnya terdapat satu bundle tube dengan diameter tertentu. Salah satu fluida mengalir dibagian luar tube tetapi masih di dalam shell dan fluida yang lain mengalir di dalam tube. Pada umumnya shell and tube didisain berdasarkan TEMA standar (Turbular Exchanger Manufacturers Association), sedangkan untuk prosedur fabrikasinya berdasarkan ASME (American Society of Menchanical Engineers).Blue book HSC 2. Double Pipe Pada jenis ini, pipa berdiameter lebih kecil berada di dalam pipa berdiameter lebih besar. Pipa yang didalam dapat dilepas untuk dibersihkan. Alat ini dapat dipasang seri maupun paralel. Double pipe sangat cocok untuk fluida yang sangan fouling, tetapi biaya pembuatan persatuan luas nya mahal dibandingkan shell and tube. V. Evaluasi Performance Preheater E-1 s.d E-7 Train A a. Metoda evaluasi Evaluasi suatu alat penukar panas adalah untuk mengetahui apakah alat tersebut bekerja pada kondisi normal atau tidak.
Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-4

Untuk tujuan itu harus dilakukan perhitungan berupa: 1. Rd, faktor kekotoran, yaitu suatu besaran untuk melihat factor kekotoran alat penukar panas yang mengakibatkan transfer panas menjadi lebih kecil. 2. Penurunan tekanan pada bagian shell (pressure drop shell side) 3. Penurunan tekanan pada bagian tube (pressure drop tube side) 4. Temperatur Keluaran E-7 b. Metoda perhitungan Metoda perhitungan yang digunakan mengacu pada buku Process Heat Transfer, Donal Q. Kern ; International Edition ; McGraw Hill. Kondisi operasi yang dibutuhkan adalah: Hot fluid : Tin, Tout, Flow, oAPI, Sp.Gr Cool fluid : Tin, Tout, Flow, oAPI, Sp.Gr Data HE yang dibutuhkan Shell side ID Buffle space Passes Neraca Panas Q = W.C. (T1-T2) = w.c. (t1-t2) Dimana : Q = Jumlah aliran panas W = Aliran untuk fluida panas w = aliran untuk fluida dingin T1 = Suhu masuk fluida panas T2 = Suhu keluar fluida panas
Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Tibe side Jumlah dan panjang OD, BWG, Pitch Passes

Lampiran A Tugas Khusus

L-5

t1 = Suhu masuk fluida dingin t2 = Suhu keluar fluida dingin C = Specific Heat Fluida Panas C = Specific Heat Fluida Dingin Beda temperatur sebenarnya o Menghitung LMTD LMTD = (T2 T1) Ln (T2/ T1) High temperatur Low temperatur R= T1 T2 t 2 - t1 Hot fluid T1 T2 T2-T1 t 2 t1 S= T1 t1 Cool fluid t2 t1 t2-t1 Diff T2 T1 T2 T1

FT = Temperatur different factor (dari fig. 18 kern) o Menghitung T T = LMTD x FT Temperatur rata-rata Tave = 0.5 (T1 + T2) tave = 0.5 ( t1 + t2 ) dimana: Tave = temperatur rata rata fluida panas tave = temperatur rata rata fluida dingin

Area yang dilalui fluida Shell side; as = (ID c B)/(144 Pt), Tube side; at = (Nt at)/(144 Pt), dimana: as = Luas permukaan aliran fluida pada shell ft2 ft2

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-6

at ID c B Pt Nt at n

= Luas permukaan aliran fluida pada tube = Inlet diameter = Clearance antar tube = Buffle space = Jarak Pitch = Jumlah tube = Luas penampang aliran tube = Jumlah pass

Kecepatan massa Shell side : Gs = W / as , lb/hr-ft2 Tube side : Gt = w / at , lb/hr-ft2 Dimana Gs Gt : = Kecepatan massa untuk shell = Kecepatan massa untuk tube

Reynold number Shell side : Res = (De.Gs)/s Tube side : Ret = ( D.Gt )/t Dimana : Res = Reynold number shell Ret = Reynold number tube Mencari harga Jh (faktor perpindahan panas) Shell side menggunakan fig. 28 D.Q Kern Tube side menggunakan fig. 24 D.Q Kern Menghitung ho, hi, hiO Shell side, ho Tube side, hi = Jh (K/De) x (Cp /K)1/3 = Jh (K/D) x (Cp /K)1/3

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-7

hiO dimana: ho, hi hiO K Cp

= (ID/OD)hi

= koefisien perpindahan panas untuk fluida dalam dan luar = harga hi berdasarkan diameter luar tube = konduktifitas panas = Spesifik heat fluida

Koefisien menyeluruh pada kondisi bersih Uc = hiO x ho hiO + ho = clean overall coeficient perpidahan panas, Btu/hr-ft2-oF

Dimana: Uc

Koefisien menyeluruh pada kondisi Operasi Permukaan perpindahan panas, A = a .L.Nt, Ud Ud a L = Q/(A x t), = koefisien disain = permukaan eksternal, (tabel. 10 kern) = panjang tube Uc Ud , Btu/hr-ft2-oF Uc x Ud Dimana: ft2 Btu/hr-ft2-oF

Dirt factor Rd =

Menghitung Pressure drop Shell side : Ps = Tube side : Pt = dimana:


Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

f.Gs2.Ds. (N+1) 5,22 . 1010. De. S.s f.Gt2.L. n 5,22 . 1010. D. S.s

Lampiran A Tugas Khusus

L-8

f N+1 S

= faktor friksi, (fig.29 untuk shell dan fig.26 untuk tube) = lintasan fluida = Spesifik gravity =12L/B

De dan Ds = diameter ekuivalent dan diameter shell

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-1

VI. Perhitungan dan Pembahasan 6.1 Performance Preheater 1. Data actual Tabel A-1. Data Operasi Preheater 100 E-1 s.d E-7 Train A CDU
Item Fluida Flow (m/hr) T inlet (C) T outlet (C) API Sp.Gr (Ton/m) E-1A FP TPA 241,6 130,3 88,8 67,0 0,7128 FD Crude 433,7 40,77 53,8 32,4 0,8633 FP Kerosene 140,8 190,5 99,5 45,9 0,7976 E-2A FD Crude 433,7 53,8 81,8 32,4 0,8633 FP MPA 600 216,6 216 61,2 0,7343 E-3A FD Crude 433,7 134,5 135,5 32,4 0,8633 FP Residu 570 235 176 26,8 0,8939 E-4A,B FD Crude 433,7 81,8 134,5 32,4 0,8633 FP HGO 26 312,3 172,4 36,2 0,8438 E-6 FD Crude 433,7 135,5 189 32,4 0,8633 E-7A,B,C FP Residu 570 336,2 235 26,8 0,8939 FD Crude 433,7 189 223,3 32,4 0,8633

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-1

2.

Hasil Perhitungan dan Pembahasan Tabel A-2 Kondisi Actual dan Disain Preheater 100 E-1 s.d E-7 Train A CDU
Item Shell side Q Kcal/hr Rd Kcal/m2hr OC P Kg/cm2 Q Kcal/hr Rd Kcal/m2hr OC P Kg/cm2 Q Kcal/hr Rd Kcal/m2hr OC P Kg/cm2 Q Kcal/hr Rd Kcal/m2hr OC P Kg/cm2 Q Kcal/hr Rd Kcal/m2hr OC P Kg/cm2 Q Kcal/hr Rd Kcal/m2hr OC P Kg/cm2 3360000 0.0008 0.64 2780000 0.0002 0.10 8300000 0.0002 0.67 6940000 0.002 0.64 2320000 0.0006 0.13 11700000 0.002 1.22 Disain Tube side E-1A 3360000 0.0002 0.15 E-2A 2780000 0.0008 0.91 E-3A 8300000 0.001 0.59 E-4A,B 6940000 0.001 0.15 E-6 2320000 0.0012 0.13 E-7A,B,C 11700000 0.002 0.78 Shell side 2366289.95 0.006 0.76 3066063.13 0.0047 0.15 79309.99 0.1577 0.68 92446673.33 0.001 0.24 993727.77 0.0111 0.01 10699050.78 0.0016 0.48 Actual Tube side 21084518.53 0.007 0.05 5242154.82 0.0015 0.69 213430.59 0.4270 0.45 10655803 0.0014 0.64 11919349.53 0.0043 0.71 18048578.66 0.0006 0.14

Dari tabel A-2 dapat dibahas bahwa performance preheater sudah mengalami penurunan hal ini terlihat dari perbandingan kondisi actual dan disain sebagai berikut: Untuk E-1A dapat dibandingkan bahwa perpindahan panas actual shell lebih kecil dari disain alat, hal ini menunjukan bahwa kinerja alat sudah menurun karena pembentukan fouling pada bagian shell dan bagian tube preheater. Pembentukan fouling ini dapat dilihat pada Rd actual lebih besar dari Rd disain, hal ini disebabkan oleh lumpur yang terbawa oleh kadungan air crude tertahan pada dinding shell dan bagian luar tube sehingga menyebabkan penyerapan panas
Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-2

kurang bagus, disain.

akibatnya pressure drop pada shell menjadi lebih besar dari

Pada E-2A terlihat perpindahan panas actual lebih besar dari disain alat, ini menunjukan bahwa kinerja alat masih bagus walaupun sudah terbentuk fouling pada bagian shell dan bagian tube preheater. Pembentukan fouling ini dapat dilihat pada Rd actual lebih besar dari Rd disain. Dilihat dari pressure drop atau penurunan tekanan, kondisi alat juga masih baik ini terlihat pada data actual yang kecil dan sama dengan data disain. Pada E-3A, perpindahan panas actual lebih kecil dari disain alat, hal ini menunjukan bahwa kinerja alat sudah menurun karena pembentukan fouling pada bagian shell dan bagian tube preheater. Pembentukan fouling ini dapat dilihat pada Rd actual lebih besar dari Rd disain, fouling pada dinding shell dan tube ini disebabkan oleh kristalisasi garam yang terlarut pada kandungan air di crude dan menempel pada dinding tube serta. Disamping itu pressure drop atau penurunan tekanan sudah semakin besar terutama pada bagian shell dari preheater. Pada E-4A,B, perpindahan panas actual lebih besar dari disain alat, hal ini menunjukan bahwa kinerja alat masih bagus. Fouling juga belum terbentuk pada preheater, ini dapat dilihat pada Rd actual lebih kecil dari Rd disain. Dilihat dari pressure drop atau penurunan tekanan kondisi alat juga masih baik ini terlihat pada data actual yang kecil dari data disain, kecuali pada tube yang mulai terbentuk fouling dan perlu pembersihan. Pada E-6 terlihat bahwa perpindahan panas actual pada tube lebih besar dari disain alat sedangkan pada shell perpindahan panas actual berada dibawah disain, hal ini menunjukan bahwa alat menunjukan indikasi penurunan disamping itu sudah terbentuk fouling pada bagian shell dan bagian tube preheater. Pembentukan fouling ini dapat dilihat pada Rd actual lebih besar dari Rd disain. Dilihat dari pressure drop atau penurunan tekanan kondisi alat juga menunjukan tanda-tanda penurunan, terlihat pada data pressure drop actual lebih besar dari data disain. Untuk E-7A,B,C performance alat masih bagus.
Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-3

6. 2

Kenaikan biaya operasi CDU akibat penurunan performance Preheater Secara umum, jika dibandingkan dengan kondisi setelah Turn Arround

pada data Bulan Agustus 2006 terlihat temperatur crude keluar dari preheater menuju H-1 yaitu 248 oC, maka terjadi penurunan temperatur outlet preheater dari 248 oC menjadi 223.5 oC Dari perhitungan nilai ekonomis maka Pertamina mengalami penambahan biaya produksi akibat penurunan performance preheater. Penurunan performance preheater akan mengakibatkan panas yang dibutuhkan heater 100 H-1 untuk menaikkan temperatur hingga 330 oC akan semakin besar, akibatnya konsumsi fuel pada heater 100 H-1 akan semakin besar dan membutuhkan penambahan biaya produksi. Konsumsi fuel di heater 100 H-1 pada kondisi actual saat ini (rata rata 117 April 2006) dibandingkan dengan kebutuhan setelah TA (Rata-rata September 2005) mengalami peningkatan sebesar 1.17558 BSRF ($US. 50.56/jam) untuk fuel oil dan 1.9593 BSRF ($US. 84.27/jam) untuk konsumsi fuel gas, artinya Pertamina membutuhkan tambahan biaya operasional pada 100 H-1 sebesar $US. 134.831/jam atau sebesar $US. 3235.95/hari.

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-4

6.3

Prediksi Re-Cleaning Preheater


Tabel A-3. Penurunan Temperatur Outlet Preheater

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Bulan Sep-05 Okt-05 Nop-05 Des-05 Jan-06 Feb-06 Mar-06 Apr-06

Temperatur 244,31 238,28 232,89 227,63 226,67 227,40 228,50 223,50

Gambar A-1. Trendline penurunan Temperatur outlet Preheater Dari gambar diatas, dapat dilihat penurunan temperatur outlet preheater rata-rata sebesar 2.5235 oC/bulan, jika x adalah waktu dan y adalah temperature rata-rata outlet preheater maka dapat dibuat persamaan garis lurus yaitu y = -2,5235x + 242,5. Jika cleaning harus dilaksanakan pada temperatur Outlet preheater mencapai 215 C, Maka cleaning harus dilaksanakan pada 11 bulan dari bulan September 2005, yaitu bulan Juli 2006

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-5

6.4
500,00 470,00 440,00 410,00 380,00 350,00
Temperatur (C)

Fenomena Yang Terjadi di Preheater pada Kondisi Tanpa Cleaning.


Trend Temperatur Outlet Preheater dan Flow Setelah TA
950 900 850 800 750 700 650 600 550
Flow (m/hr)

Flow

320,00 290,00 260,00 230,00 200,00 170,00 140,00 110,00 80,00 50,00
Temperatur Outlet

Thermal Shocking Sirkulasi start - up

500 450 400 350

y = -0,085x + 3520,2

300 250 200 150 100 50

0 26 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 / 0 5/ 0 5/0 5/0 5/1 5/1 5/1 4/1 4/1 4/1 4/ 1 4/ 1 4/1 3/0 3/0 3/0 2/0 2/0 2/0 4/0 4/0 4/0 3/0 3/0 3/0 3/0 1 1 2 4 8/ 9 9 9 0 0 0 1 1 2 2 2 1 1 2 2 3 3 3 4 4 5 20 /20 /20 /20 /20 / 20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 /20 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 05 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06 06
Waktu (Tanggal)

Gambar A-2 Tend Temperatur Outlet dan Flow Setelah Turn Arround Dari trend temperatur outlet dan flow yang terjadi sejak bulan September 2005 sampai tanggal 17 April 2006, terlihat bahwa temperatur outlet preheater mengalami fluktuasi. Bahkan pada tanggal 13 Februari 2006 terlihat adanya penyimpangan dari trend sebelumnya dimana temperatur outlet E7 meningkat menjadi 238.13 1.
o

C . Berdasarkan Literatur dan informasi-informasi yang

diperoleh dilapangan fenomena di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : Thermal Shocking Thermal shocking merupakan peristiwa perpindahan panas yang terjadi pada dua aliran fluida secara tiba-tiba karena perbedaan temperatur yang cukup tinggi. Thermal shocking terjadi karena adanya penurunan feed (fluida dingin) ke CDU, sementara produk CDU (fluida panas) tetap pada kondisi operasi normal. Sehingga terjadi peningkatan temperatur feed yang cukup tajam, diharapkan peningkatan temperatur ini dapat memecah kerak yang terdapat pada dinding preheater dan pada saat feed kembali normal kerak tersebut akan terdorong keluar preheater. Thermal shocking dapat menaikkan temperatur outlet preheater sebesar 1-2 oC.
Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-6

Effec Thermal Shocking Terhadap T-Out E-7


500 480 460 440 420 400 Temperatur 380 360 340 320 300 280 260 240 220 200
/ 24 06 20 1/ /0 24 14 36 1/ /0 24 / 25 / 25 / 25 1/ /0 25 / 25 / 26 0 /2 01 0 /2 01 6 00 /2 01 6 00 /2 01 /2 01 6 00 /2 01

Flow Crude

Flow Residu

Temperature

950 900 850 800 750 700 650 600 550 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0

Flow Crude dan Residu


4: 48

06 20 1/ /0 26

06 20

20

6 00

Penurunan feed saat thermal shocking juga akan menyebabkan velocity crude makin kecil sehingga kontak crude dengan fluida panas akan semakin lama dan menyebabkan temperatur outlet crude meningkat.
236,00 235,00 234,00

Temperatur (C)

231,00 230,00 229,00 228,00 227,00 226,00 225,00 224,00


2 /1 30 1 /0 01 1 /0 03 1 /0 05 1 /0 07 1 /0 09 1 /0 11 1 /0 13

600 500 400 300 200 100 0


1 /0 15

Tanggal

Gambar A-4 Efek Velocity pada T Outlet Preheater


Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Flow (m/hr)

06 9:

06 0:

06

4:

9:

19

0:

: 19

4 :2 14

00

48

36

00

4 :2

2 :1

12

Waktu Series3 Series1 Series2

Gambar A-3. efek thermal shocking pada preheater

1000 900 800 700

233,00 232,00

6 00 /2

06 0 /2

5 00 /2

6 00 /2

6 00 /2

06 0 /2

6 00 /2

6 00 /2

06 0 /2

Lampiran A Tugas Khusus

L-7

2. Pelarutan Fouling saat Sirkulasi Start-up Start-up merupakan proses awal pengopersian kembali unit produksi setelah mengalami stop unit. Start-Up terbagi dalam tiga tahap yaitu: o Sirkulasi dingin, yang bertujuan untuk mengecek sambungan alat jika terjadi kebocoran, biasanya sirkulasi dingin memakan waktu sekitar 1 jam. o Sirkulasi panas, yang bertujuan untuk menaikkan temperatur feed secara bertahap dan untuk mengurangi kadar air feed pada temperatur tertentu. o On Stream, yaitu awal produk sudah dapat diambil. Proses ini merupakan prosedur umum yang terjadi pada setiap pengoperasian kembali unit produksi dan merupakan kondisi normal, dan biasanya start-up memakan waktu sekitar 8-10 jam. Ditinjau dari sifatnya, Minyak bumi dapat digunakan sebagai pelarut. Pada saat dilakukan sirkulasi aliran saat start-up CDU setelah unit stop, fraksi ringan yang terkandung dalam minyak bumi akan melarutkan fraksi berat yang ada pada dinding preheater, sehingga fouling akan berkurang dan dengan sendirinya akan memperbaiki performance preheater yang terlihat dari kenaikan temperatur outlet. Dari grafik diatas dapat dilihat, pada tanggal 12 Februari 2006 terjadi stop emergensi pada unit CDU sehingga untuk pengopersian kembali dilakukan sirkulasi saat start-up. Pada tanggal 13 Februari 2006 temperatur outlet CDU terlihat meningkat bahkan mendekati kondisi setelah dilakukan cleaning. 6.5 Effek Pelaksanaan Cleaning Prehater Untuk menghilangkan endapan kerak yang terjadi pada preheater, dibutuhkan pembersihan (cleaning). Terdapat dua cara pelaksanaan cleaning yaitu Chemical cleaning dan Mechanical cleaning. Chemical cleaning dilakukan
Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-8

dengan mengalirkan zat kimia selain minyak bumi kedalam preheater sehingga dapat melarutkan kerak pada dinding preheater dan membawanya keluar, namun cara ini tidak lagi dilaksanakan oleh Pertamina UP II Dumai mengingat efek samping yang ditimbulkan oleh bahan kimia itu sendiri terhadap material alat. Cleaning yang dilaksanakan oleh Pertamina saat ini adalah mechanical cleaning dengan melaksanakan pembongkaran preheater dan dibersihkan secara mechanis. Mechanical cleaning dengan sendirinya akan menyebabkan stop produksi. Pelaksanaan cleaning preheater yang selama 6 hari dalam satu tahun akan berpotensi mengurangi distribusi BBM. jika dihitung loss produksi pertamina pada Kerosene dan ADO selama masa cleaning adalah sebanyak126800.4 barrel kerosene dan 87854.58 barrel ADO. Untuk menutupi pasokan BBM dalam negeri maka Pertamina harus melakukan import minyak dari luar negeri dan akan menambah biaya karena harga minyak luar negeri lebih tinggi dari dalam negeri. Fouling pada heat exchanger dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain endapan lumpur yang terbawa oleh air di crude, kristalisasi garam yang terkandung di crude, fraksi berat minyak yang tertahan dalam sheell dan tube heat exchanger dan lain-lain. Dari beberapa faktor diatas yang dominan menyebabkan fouling pada preheater adalah kandungan lumpur yang terikut oleh air pada crude. Untuk menjaga kebersihan crude dari impurities yang terbawa oleh crude dapat dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut: 1. Meningkatkan standar mutu penerimaan crude Caltex, terutama water content yang selama ini max. 1% untuk dapat lebih diperkecil. 2. Monitoring terhadap steam coil, agar bila terjadi kebocoran dapat segera diantisipasi. 3. Melaksanakan cleaning tangki sesuai jadwal yang telah ditentukan, untuk menghindari penumpukan sludge pada tangki. 4. Membersihkan aliran pembuangan air dan sludge dari tangki, terutama valve agar pembuangan air dan sludge tidak terhambat.

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo

Lampiran A Tugas Khusus

L-9

VII. 7.1

Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Secara umum pada kondisi sebelum TA, saat ini alat masih bekerja pada

kondisi 90% atau menurun 10 %. Dengan penurunan performance preheater 100 E-1 s.d E-7 maka terjadi penambahan pemakaian fuel pada heater 100 H-1 sebesar 1.17558 BSRF untuk fuel oil dan 1.9593 BSRF untuk konsumsi fuel gas, akibatnya terjadi penambahan biaya produksi pada CDU sebesar $US. 3235.95/hari. Disampaing itu efek yang ditimbulkan untuk membersihkan preheater akan mengurangi distribusi BBM dalam Negeri. 7.2 Saran Dari analisan performance preheater serta pengaruhnya pada konsumsi fuel pada heater 100 H-1, diperlukan cleaning preheater 100 E-1 s.d E-7 di CDU untuk menekan biaya produksi. Dari grafik penurunan temperatur rata-rata outlet preheater di CDU dari bulan September 2005 sampai April 2006 maka cleaning selanjutnya sebaiknya dilaksanakan pada bulan Juli 2006. Untuk memperpanjang masa pemakaian preheater maka disarankan untuk menjaga kebersihan feed dari berbagai impurities yang berpotensi menyebabkan fouling pada preheater.

Laporan Kerja Praktek PT. Pertamina (Persero) UP II Dumai Ervan Nanggalo