Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

DESAIN KINCIR AIR UNTUK AREA PERTANIAN


Musa B. Palungan, Atus Buku Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia Paulus Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan km 13, Daya Makassar, 90243 Email: atus_ukip@yahoo.com

ABSTRAK
Energi air dapat digunakan untuk menggerakkan kincir air dengan memanfaatkan aliran/arus air untuk mengangkat air dari level rendah ke level tinggi. Selain untuk irigasi kincir air ini juga dapat digunakan untuk menggerakkan peralatan mekanis. Disain ini dibuat dengan tujuan untuk menentukan jenis kincir yang digunakan untuk pengirigasian, menentukan prestasi kincir dan menentukan ukuran-ukuran utama kincir. Adapun perencanaan ini terbagi menjadi empat tahap yaitu studi literatur, tahap perencanaan, tahap disain dan tahap penelitian. Dalam perencanaan ini debit air maksimum yang dihasilkan adalah 2,83x10-6 m3/det dengan efisiensi alat maksimum sebesar 24,87 %.

Kata Kunci: Kincir air, debit air, efisiensi

24

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kebutuhan energi dalam kehidupan manusia sangat dibutuhkan seiring dengan kemajuan teknologi. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan tetapi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain (Hukum Thermodinamika I). Energi diklasifikasikan dua bentuk yaitu energi terbarukan (renewable energy) dan energi tak terbarukan (non renewable energy). Energi terbarukan adalah energi yang dapat diubah dan diolah menjadi satu bentuk energi yang baru serta ketersediannya tidak terbatas misalnya angin, air, biomassa, dan matahari. Energi terbarukan adalah energi yang ketersediannya terbatas serta tidak dapat diperbaharui misalnya minyak bumi, batubara, gas alam, dan sebagainya (Djojonegoro, 1992). Pinske (1993) menyatakan bahwa kebutuhan energi yang digunakan masyarakat pada saat ini kurang lebih 75% masih tergantung pada bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara, gas alam, dan sebagainya. Kita tahu bahwa ketersediaan bahan bakar konvensional tersebut semakin hari semakin berkurang hingga suatu saat akan habis dan tidak dapat diperbaharui lagi. Satu hal yang perlu diperhatikan juga bahwa penggunaan bahan bakar konvensional akan mengakibatkan jumlah karbon dioksida (CO2) di udara bebas semakin meningkat yang dapat mengganggu dan mencemari kehidupan lingkungan. Oleh karena itu, diupayakan bahan bakar konvensional tersebut sebaiknya dihemat dan dikurangi penggunaanya dengan mencari energi yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan atau dengan kata lain memanfaatkan sumber energi alternatif. Sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sekarang ini diantaranya adalah energi angin, energi air, energi biomassa, energi gelombang, energi matahari, dan energi pasang surut air laut (Djojonegoro, 1992). Dimana sumber energi alternatif yang digunakan yaitu energi air dengan memanfaatkan aliran/arus air untuk menggerakkan kincir air . 2.1.

Kincir air adalah sebuah alat berbentuk lingkaran yang dibangun di sungai. Alat ini berputar pada sumbunya karena adanya dorongan aliran sungai yang cukup deras. Sejalan dengan berputarnya kincir, alat ini sekaligus mengambil air dari sungai dan menumpahkannya ke talang, penampung air. Selanjutnya air dari talang didistribusikan secara gravitasi ke daerah yang membutuhkan. Kincir air ini juga dapat membantu masalah petani yang kesusahan untuk mendapatkan air guna mengairi sawah . 1.2. Rumusan Masalah Bertolak dari upaya penghematan dan pengurangan penggunaan bahan bakar konvensional dengan mencari energi yang dapat diperbaharui atau dengan kata lain memanfaatkan sumber energi alternatif. Untuk itu yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana upaya meningkatkan dan memanfaatkan kincir air untuk area pertanian. 2. Bagaimana membuat desain kincir air dengan skala laboratorium. 1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : Membuat konsep desain kincir air yang dapat dimanfaatkan untuk area pertanian. Menguji unjuk kerja kincir air dengan skala laboratorium. 1.4. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1) Menjadi informasi data desain kincir air dalam pemanfaatan energi air sebagai energi terbaharukan. 2) Dapat dijadikan sebagai acuan dikembangkan oleh masyarakat pedesaan, sebagai air baku untuk irigasi, air minum, perikanan, Air mandi, cuci, kakus (MCK), dan lainlain. II. TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan Umum 25

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

2.2.

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia, selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan diantaranya: irigasi, pertanian, perikanan dan pemanfaatan tenaga listrik dalam hal ini menggerakkan/memutar turbin atau kincir (Lubis, 2007). Potensi tenaga air dan pemanfaatannya pada umumnya berlainan bila dibandingkan dengan penggunaan tenaga yang berasal dari bahan fosil. Adapun perbedaan yang dapat terlihat dari uraian dibawah ini: a. Sumber tenaga air secara teratur dibangkitkan kembali karena pemanasan lautan oleh penyinaran matahari, sehingga merupakan suatu sumber yang secara siklus dapat diperbaharui. b. Penggunaan tenaga air pada umumnya merupakan pemanfaatan multiguna karena biasanya dikaitkan dengan irigasi, pengendalian banjir, perikanan, rekreasi, dan navigasi. c. Dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan bahan bakar fosil pembangkit listrik tenaga air dilakukan tanpa ada perubahan suhu sehingga dapat bertahan lama. d. Pembangkit listrik dari tenaga air dilakukan tanpa ada perubahan suhu. Tidak ada peningkatan suhu karena adanya suatu proses pembakaran bahan bakar. Karenanya, mesin-mesin hidro mempunyai masa manfaat yang lebih lama daripada mesin-mesin termis. Irigasi Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang usaha pertanian, termasuk didalamnya tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Irigasi merupakan faktor kunci bagi ketahanan pangan di Indonesia. Air untuk irigasi pertanian di Indonesia sebagian besar kebutuhanya dipenuhi dari penggunaan air permukaan seperti sungai dan danau yang ditampung dalam bendungan-bendungan, sebagian kecil lainnya dipenuhi dengan menggunakan air tanah (Baskoro, 2008). Menurut data sampai saat ini lahan pertanian di Indonesia yang beririgasi sebesar 1.971.450 ha lahan pertanian (Prawiro, 2003),

sedangkan kebutuhan air untuk 1 ha lahan sawah yang dikelola secara konvensional diperlukan sebanyak 1 liter/detik dengan asumsi laju kehilangan akibat penguapan 1-2 mm perhari, jika kita menghitung dengan cermat untuk satu kali musim tanam selama (34 bulan) maka akan dihabiskan air sebanyak 11.509.200 liter/ha. 2.3. Jenis Air yang Digunakan Untuk Irigasi Pertanian Hujan yang turun kepermukaan bumi, kemudian ada yang mengalir dipermukaan menjadi sungai, danau, sebagian terus meresap ke dalam tanah dan sebagian ada menguap kembali, air yang mengalir dipermukaan disebut dengan air permukaan, sedangkan yang meresap ke dalam tanah disebut air tanah. Air yang dimanfaatkan untuk irigasi di Indonesia, biasanya menggunakan air permukaan (Lubis, 2007).

2.3.1. Air Permukaan Sebagian air hujan yang turun ada yang mengalir di daratan membentuk aliran sungai dan danau-danau. Air macam ini biasanya disebut dengan air permukaan atau biasa disebut dengan surface water. Air ini biasanya dikumpulkan dalam bendunganbendungan untuk keperluan irigasi pertanian dan pembangkit tenaga listrik. 2.3.2. Air Tanah Kebanyakan orang beranggapan bahwa air hujan yang turun ke bumi akan mengalir meretas ke bumi yang seterusnya mengalir menuju sungai dan akhirnya menuju ke dalam lautan. Sebenarnya bila kita cermati sebagian air tersebut akan meresap ke dalam tanah yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan air tanah. Banyak orang salah persepsi mengenai air tanah, mereka menganggap air tanah sebagai suatu danau atau sungai dalam tanah. Dimana suatu daerah yang memiliki gua di bawah tanahlah kondisi ini adalah benar. Secara umum air tanah akan mengalir sangat perlahan melalui suatu celah yang sangat kecil dan atau melalui butiran antar batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah yang kita sebut dengan akifer. 26

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

Air tanah dapat dimanfaatkan jika air di pompa ke luar dari tanah. Pemanfaatan air tanah untuk irigasi pertanian biasanya dilakukan pada lahan-lahan pertanian modern, sedangkan lahan pertanian tradisonal sangat bergantung pada suplai air permukaan seperti dari sungai-sungai dan danau-danau (Wangsaatmaja, 2006). 2.4. Kincir Air Kincir air merupakan suatu penggerak mula yang bergerak karena adanya aliran air. Bagian kincir yang berputar adalah rotor (roda kincir), sedangkan bagian yang tidak bergerak/berputar adalah penyangga kincir. Kincir air digunakan untuk mengangkat air guna mengairi area pertanian dan sebagainya. Sistem pengangkat air selain menggunakan sebuah kincir, dan bagian lain yang menunjang, juga membutuhkan beberapa komponen yang akan mendukung satu sama lainnya, walaupun masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda. Komponen-komponen tersebut antara lain sumber tenaga, bantalan, kincir air, poros, saluran air, dan besi. Kincir dapat dibuat dari bahan kayu, plat besi, drum bekas yang dibelah, bekas pelek mobil dan gardannya atau pelek sepeda. Kincir air yang terbuat dari kayu sangat cocok untuk daerah-daerah yang banyak memiliki persediaan kayu, misalnya daerah di sekitar hutan ataupun tempat-tempat yang jauh dari lokasi pengelasan. Biaya pembuatan kincir kayu relatif murah. Pembuatannya dapat langsung dilakukan dilokasi. Kelemahannya kincir ini mudah lapuk, apalagi kalau dibuat dari kayu muda atau jenis kayu yang jelek. Jenis kayu yang cocok untuk dibuat kincir ialah kayu ulin atau kayu besi. Kincir dari bahan drum sederhana dan mudah dibuat serta bahannya mudah didapatkan. Sayangnya kincir ini tidak bisa diperbesar karena tergantung pada ukuran drum. Jadi hanya cocok untuk skala kecil. Hal ini sama halnya dengan penggunaan kincir dari bahan roda sepeda yang tidak dapat dikembangkan lagi menjadi lebih besar. Pada skala besar lebih menguntungkan jika menggunakan gardan mobil sebagai bahan kincir. Alasannya, daya yang dihasilkan dapat lebih besar dan kincirnya dapat lebih tahan lama. Kelemahannya, kincir ini membutuhkan

biaya yang relatif mahal. Untuk penggunaan individual juga tidak cocok. Dalam pembuatan kincir dari bekas gardan mobil, inipun memerlukan pengelasan sehingga proses pembuatannya lebih sulit. Penggunaan gardan bekas amat disarankan untuk menekan biaya pembuatan. Kincir Air dioperasikan oleh tenaga aliran sungai yang beraliran deras atau dibuat beraliran deras. Aliran sungai yang deras di bawah kincir akan menyebabkan terdorongnya sudu-sudu kincir sehingga kincir berputar. Tabung-tabung air yang terdapat antara sudusudu kincir akan mengambil air saat di dalam air dan menumpahkannya di bagian puncak. Aliran air yang ditumpahkan ke talang di alirkan secara gravitasi ke lahan yang membutuhkannya. Jumlah Air dan kecepatan alirannya disebut debit air. Selain dipengaruhi debit, besarnya tenaga air dapat dipengaruhi pula oleh keadaan lingkungan atau bentuk aliran air. Jika dihubungkan dengan persamaan kontinuitas maka diperoleh persamaan sebagai berikut (Frank, W., 1998): Q=V.A (1) Keterangan : Q = Debit Air (m3/s) V = Kecepatan aliran air (m/s) A = Luas penampang sudu-sudu kincir air (m2) Kecepatan aliran air pada pintu dapat dihitung dengan menggunakan rumus : V = (2.g.h)1/2 (2) h merupakan tinggi air pada bak penampungan atas (m) Sedangkan untuk menghitung luas penampang aliran adalah : A = L . h (m2) (3) Untuk menghitung gaya untuk memutar kincir digunakan persamaan sebagai berikut : F = . A. V2 Keterangan : F= Gaya untuk memutar kincir (N) = Massa jenis air (kg/m3) 2.5. Jenis-Jenis Kincir Air Kincir air merupakan sarana untuk merubah energi air menjadi energi mekanik berupa torsi pada poros kincir. 27

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

Ada beberapa jenis kincir air yaitu : 2.5.1. Kincir Air Overshot

Gambar 1. Kincir air Overshot (Sumber:http://osv.org/education/WaterPower) Kincir air overshot bekerja bila air yang mengalir jatuh ke dalam bagian sudusudu sisi bagian atas, dan karena gaya berat air roda kincir berputar. Kincir air overshot adalah kincir air yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan jenis kincir air yang lain Keuntungan dari kincir air overshot adalah : a. Tingkat efisiensi yang tinggi dapat mencapai 85%. b. Tidak membutuhkan aliran yang deras. c. Konstruksi yang sederhana. d. Mudah dalam perawatan. e. Teknologi yang sederhana mudah diterapkan di daerah yang terisolir. Kerugian dari kincir air overshot adalah : a. Karena aliran air berasal dari atas maka biasanya reservoir air atau bendungan air, sehingga memerlukan investasi yang lebih banyak. b. Tidak dapat diterapkan untuk mesin putaran tinggi. c. Membutuhkan ruang yang lebih luas untuk penempatan. d. Daya yang dihasilkan relatif kecil. 2.5.2. Kincir Air Undershot

Kincir air undershot bekerja bila air yang mengalir, menghantam dinding sudu yang terletak pada bagian bawah dari kincir air. Kincir air tipe undershot tidak mempunyai tambahan keuntungan dari head. Tipe ini cocok dipasang pada perairan dangkal pada daerah yang rata. Keuntungan dari kincir air undershot adalah : a. Konstruksi lebih sederhana. b. Lebih ekonomis. c. Mudah untuk dipindahkan. Kerugian dari kincir air undershot adalah : a. Efisiensi kecil. b. Daya yang dihasilkan relatif kecil. 2.5.3. Breastshot Kincir Air

Gambar 3. Kincir air Breastshot (Sumber:http://osv.org/education/WaterPower) Kincir air breastshot merupakan perpaduan antara tipe overshot dan undershot dilihat dari energi yang diterimanya. Jarak tinggi jatuhnya tidak melebihi diameter kincir, arah aliran air yang menggerakkan kincir air disekitar sumbu poros dari kincir air. Kincir air jenis ini memperbaiki kinerja dari kincir air tipe undershot. Keuntungan dari kincir air breastshot adalah : a. Tipe ini lebih efisien dari tipe undershot. b. Dibandingkan tipe overshot tinggi jatuhnya lebih pendek. c. Dapat diaplikasikan pada sumber air aliran datar. Kerugian dari kincir air breastshot adalah : a. Sudu-sudu dari tipe ini tidak rata seperti tipe undershot (lebih rumit). b. Diperlukan dam pada arus aliran datar. 28

Gambar 2. Kincir air Undershot (Sumber:http://osv.org/education/WaterPower)

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

c. Efisiensi lebih kecil dari pada tipe overshot. 2.5.4. Kincir Air Tub

c.

Gambar 4. Kincir air Tub (Sumber.http://osv.org/education/WaterPower) Kincir air tub merupakan kincir air yang kincirnya diletakkan secara horisontal dan sudu-sudunya miring terhadap garis vertikal, dan tipe ini dapat dibuat lebih kecil dari pada tipe overshot maupun tipe undershot. Karena arah gaya dari pancuran air menyamping maka, energi yang diterima oleh kincir yaitu energi potensial dan kinetic. Keuntungan dari kincir air tub adalah : a. Memiliki konstruksi yang lebih ringkas. b. Kecepatan putarnya lebih cepat. Kerugian dari kincir air tub adalah : a. Tidak menghasilkan daya yang besar. b. Karena komponennya lebih kecil membutuhkan tingkat ketelitian yang lebih teliti. III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan dan Peralatan a. Bahan Penelitian : Pompa Air, Fiber, Pelek Sepeda, Besi Siku, Besi Plat, Besi 8 mm dan 10 mm, Drum Penampungan Air untuk Sirkulasi, Pipa PVC, Cat, Baut, Mur, Katup, Watermur, Kawat, Sambungan Pipa, Lem, Isolasi Pipa b. Peralatan yang Digunakan Untuk Pengujian:

Kincir Air, Gelas Ukur, Stopwatch, Ember, Gabus, Meter Peralatan yang Digunakan Untuk Disain Penelitian : Mesin Las, Gerinda, Mesin Bor, Gergaji Besi, Tang, Spidol, Kunci Pas, Meter, Pompa, Kincir Air. Sirip/sudu Kincir Air Bahan : Besi Plat Jumlah : 10 buah Panjang: 12 cm Lebar : 6 cm Saluran/Dak Bahan : Fiber Panjang: 240,6 cm Lebar : 15 cm Tinggi : 23 cm Dudukan Saluran Bahan : Besi Siku Tinggi : 84 cm Lebar dudukan bagian atas: 18,5 cm Lebar dudukan bagian bawah: 32,7 cm Bak Penampungan Atas Bahan : Fiber Panjang: 30 cm Lebar : 37 cm Tinggi : 29 cm Bak Penampungan Bawah Bahan : Plastik Diameter : 50 cm Tinggi : 105 cm Pipa yang digunakan merupakan pipa PVC. Fungsi dari pipa untuk sirkulasi air.

3.2 Prosedur Pengambilan Data Adapun prosedur pengambilan data yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Menyalakan pompa. 2. Mengatur tinggi bukaan pintu sesuai dengan data yang telah ditentukan. 3. Mengukur kecepatan aliran air dan putaran kincir air. 4. Mengukur volume yang dihasilkan dalam satu kali putaran. 5. Mengukur ketinggian air pada bak penampungan atas. 6. Mencatat data pada tabel pengujian. 7. Mengulangi pengujian sebanyak tiga kali dalam setiap bukaan pintu. 29

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

8.

Setelah selesai pengambilan data, maka matikan pompa.

hasil penelitian, kemudian ditabelkan dan dibuat grafik sebagai berikut :

3.4

Diagram Alir Penelitian


Start

Desain Perencanaan PPerencanaanPerencan Persediaan Alat dan Bahan aan

Gambar 6. Grafik hubungan Gaya untuk memutar kincir (F) terhadap tinggi bukaan pintu (h) Dari gambar 6 diatas dapat dilihat bahwa pengaruh Tinggi Bukaan Pintu h (m) terhadap Gaya F (N), dapat dijelaskan bahwa semakin besar tinggi bukaan pintu pada bak penampungan air untuk debit yang konstan, maka gaya yang dihasilkan akan menjadi kecil. Hal ini dapat terjadi karena bertambahnya tinggi bukaan pintu maka kecepatan yang dihasilkan pada debit yang konstan akan menjadi kecil, sehingga dengan semakin kecilnya kecepatan yang dihasilkan dapat menyebabkan gaya yang dihasilkan akan menjadi kecil pula

Pembuatan Kincir Air

Pengujian Yes Pembahasan

No

Kesimpulan

Selesai

Gambar 5. Diagram Alir Penelitian Gambar 7. Grafik hubungan Debit air yang dihasilkan (QAir) terhadap Tinggi bukaan pintu (h) Pada Grafik hubungan debit air yang dihasilkan (QAir) terhadap tinggi bukaan pintu (gambar 7) dapat dilihat bahwa pertambahan 30

IV. PEMBAHASAN Dari data awal hasil penelitian dilakukan pengolahan data, sehingga diperoleh data akhir

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

debit terjadi pada bukaan pertama sampai bukaan kedua, namun setelah itu terjadi penurunan debit dengan bertambahnya bukaan pintu. Pengaruh Tinggi Bukaan Pintu terhadap Debit Air yang dihasilkan, dapat dijelaskan bahwa semakin besar tinggi bukaan pintu maka debit air yang dihasilkan oleh kincir air akan semakin besar, namun besarnya debit yang dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh tinggi bukaan pintu, tetapi juga ditentukan dengan kecepatan aliran air pada saluran. Besarnya kecepatan aliran air pada saluran dapat meningkatkan gaya untuk memutar sudu-sudu pada kincir lebih besar sehingga waktu yang digunakan untuk mendapatkan volume air yang tetap lebih cepat.

Gambar 8. Grafik hubungan Efisiensi alat (Alat) terhadap tinggi bukaan pintu (h) Pada gambar 8. terlihat bahwa semakin besar tinggi bukaan pintu pada debit air yang konstan maka efisiensi alat yang dihasilkan semakin besar pula. Hal ini terjadi karena bertambahnya tinggi bukaan pintu maka kecepatan aliran air pada saluran semakin berkurang sehingga kecepatan plat juga semakin berkurang yang mengakibatkan efisiensi alat semakin besar. V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan tujuan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Konsep desain kincir air ini dimulai dari menghitung debit, dimana pada desain kincir ini digunakan tiga buah pompa yang masing-masing pompa tersebut

mempunyai debit yang berbeda untuk memutar kincir air. Dimana debit yang keluar dari pompa kemudian mengisi bak penampungan atas lalu tinggi bukaan pintu divariasikan sehingga menghasilkan kecepatan aliran air yang keluar dari bak penampungan menghasilkan gaya untuk memutar sudu pada kincir air dan pipa yang terpasang pada kincir menyedot air dan keluar menuju area pertanian. 2. Unjuk kerja yang dihasilkan kincir air skala laboratorium adalah sebagai berikut: Debit air maksimum yang dihasilkan yaitu 2,83x10-6 m3/det pada bukaan pintu 0,010 m sedangkan debit air minimum yang dihasilkan yaitu 2,36x10-6 m3/det pada tinggi bukaan pintu 0,005 m. Gaya maksimum untuk memutar kincir yaitu 36,13 N pada bukaan pintu 0,005 m dan gaya minimum sebesar 0,74 N pada bukaan pintu 0,035 m. Efisiensi alat maksimum yaitu 24,87 % pada tinggi bukaan pintu 0,035 m dan efisiensi minimum sebesar 7,09 % pada bukaan 0,005 m. 5.2. Saran Setelah menganalisa kinerja dari kincir air ini didapatkan beberapa kekurangan, olehnya itu disampaikan saran-saran sebagai berikut : Untuk pengujian selanjutnya, diharapkan untuk mengukur debit terlebih dahulu sehingga pembuatan alat lebih efisien dsan kerugian-kerugian dalam mendesain dapat diminimalisir. Perlu adanya alat untuk mengukur kecepatan aliran sehingga data yang diperoleh lebih baik. Sebaiknya peralatan dibengkel dilengkapi, agar mahasiswa yang akan membuat alat tidak mengalami kesulitan. DAFTAR PUSTAKA Elektro Indonesia, Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Energi Aditif di 31

Jurnal Adiwidia edisi September 2009

Indonesia, http://energi.lipi.go.id, diakses pada tanggal 15 Desember 2008 Baskoro, Dampak Penggunaan Air Tercemar untuk irigasi Pertanian dan Rekomendasi Penggunaannya(online), http://baskoro1.blokspot.com, diakses pada tanggal 28 November 2008 Radheika, Kincir Pusair Untuk Irigasi (online), http://radheika.com, diakses pada tanggal 15 Desember 2008 Wikipedia, Irigasi (online), http://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 3 Desember 2008 S. Gatot Irianto Pedoman Teknis Air Permukaan (online), diakses pada tanggal 28 November 2008 Radheika, Kegunaan Kincir Air Untuk BerbagaiKepentingan (online), http://radheika.com, diakses pada tanggal 15 Desember 2008 Kusnaedi 2002, Kincir Air: Pembangkit Listrik, Jakarta : PT Penebar Swadaya, M White Frank 1998, Mekanika Fluida Edisi Kedua Jilid 1 Jakarta Erlangga Heribertus dkk..Analisis Kinerja Kincir Air Type Propeller Berdaun empat, Skripsi Sarjana Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus, Makassar, 2007. Yohanis Upa dan Agustinus Tandi, Desain Kincir Air Tipe Breastshot Untuk Saluran Irigasi Dalam Skala Laboratorium, Skripsi Sarjana Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus, Makassar,2008

32