Anda di halaman 1dari 9

HIPERBILIRUBIN

A. Pengertian Hiperbilirubinema adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang biasanya diserta dengan ikterus. Kadar bilirubin normal adalah 0 1 mg/%. ( suriadi & rita yuniani, 2010) Heperbilirubinemia adalah peningkatan konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi yang ditunjukan dengan ikterik . (askep jurnal keperawatan .blogspot.com.2011) Hiperbilirubin adalah merupakan gejala fisiologis (terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan. (IKA, 2002) Sedangkan menurut Wong Dounal and Whaley Lucille, 1990 : 1236 mengatakan hyperbilirubiemia ( joundace) pada bayi baru lahir adalah timbunan dari serum bilirubin melebihi batas normal ( 5 7 mg/100 dl). Normal nilai bilirubin = bilirubin indirek 0,3-1,1 mg/dl ,bilirubin direk 0,1-0,4mg/dl.

B. Etiologi Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi sebagai berikut : a. Produksi bilirubin berlebihan dapat terjadi karena kemampuan struktur darah merah, keracunan obat (hemolisis kimia, kortikosteroid, klorampenikol) chepalomatoma. b. Gangguan pada proses pengambilan dan kenjugasi hepar dapat disebabkan oleh imaturasi hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, hypoksia, dan gangguan fungsi hepar dan infeksi. c. Gangguan transportasi dalam metabolisme bilirubin. d. Gangguan dalam ekskresi bilirubin. (Ni Luh Gede Y,1995) Menurut IKA,2002 penyebab ikterus dibagi atas:
1. Ikterus pra hepatik Terjadi akibat produksi bilirubin yang mengikat yang terjadi pada hemolisis sel darah merah. 2. Ikterus pasca hepatik (obstruktif)

Adanya bendungan dalam saluran empedu (kolistasis) yang mengakibatkan peninggian konjugasi bilirubin yang larut dalam air yang terbagi menjadi : a. Intrahepatik : bila penyumbatan terjadi antara hati dengan ductus koleductus. b. Ekstrahepatik : bila penyumbatan terjadi pada ductus koleductus. 3. Ikterus hepatoseluler (hepatik) Kerusakan sel hati yang menyebabkan konjugasi blirubin terganggu. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama dengan penyebab : Inkomtabilitas darah Rh, ABO atau golongan lain Infeksi intra uterin (oleh virus, toksoplasma, lues dan kadang bakteri) Kadang oleh defisiensi G-6-PO

Ikterus yang timbul 24 72 jam setelah lahir dengan penyebab: Biasanya ikteruk fisiologis Masih ada kemungkinan inkompatibitas darah ABO atau Rh atau golongan lain. Hal ini diduga kalau peningkatan kadar bilirubin cepat, misalnya melebihi 5 mg%/24 jam Polisitemia Hemolisis perdarahan tertutup (perdarahan sub oiponeurosis, perdarahan hepar sub kapsuler dan lain-lain) Dehidrasis asidosis Defisiensi enzim eritrosis lainnya

C. Tanda dan Gejala 1. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar 2. Letargik (lemas) 3. Kejang 4. Tidak mau menghisap 5. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental 6. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus, kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot (Ngastiyah, 1997) 7. Perut membuncit 8. Pembesaran pada hati

9. Feses berwarna seperti dempul (Ni Luh Gede Y, 1995) 10. Tampak ikterus. 11. Muntah, anoreksia, fatigue, warna urin gelap, warna tinja gelap. (Suriadi, 2001)

D. Patofisiologi Ikterus pada bayi baru lahir disebabkan oleh stadium maturasi fungsional (fisiologis) atau manifestasi suatu penyakit (patologik). Tujuh puluh lima persen (75%) bilirubin bayi berasal dari penghancuran hemoglobin dan 25% sisanya dari mioglobin, sitokrom, katalase dan triptofan pirolase. Satu gram eritrosit yang hancur menghasilkan 35 mg bilirubin. Bayi yang cukup bulan, menghancurkan eritrosit sebanyak 1 gram / hari dan menghasilkan bilirubin dalam bentuk indirect yang terikat dengan albumin bebas (1 gram albumin dapat mengikat 16 mg biliribin). Bilirubin indirect larut dalam lemak dan bila menembus sawar darah otak akan menimbulkan kernikterus. Yang memudahkan terjadinya hal tersebut antara lain imaturitas, asfiksia / hipoksia, trauma lahir, BBLR (<2500 gram), infeksi, hipoglikemia hiperkarbia, dll. Dalam hepar, bilirubin indirect akan diikat oleh enzim glukoronil transferse dan diubah menjadi bilirubin direct yang larut dalam air, kemuadian dieksresikan ke sistem empedu, selanjutnya masuk ke dalam usus dan menjadi sterkobilin, sebagian diserap kembali dan keluar melalui urine sebagai urobilinogen. Pada bayi baru lahir, bilirubin direct diubah menjadi bilrubin indirect di dalam usus, karena di sini terdapat beta glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan tersebut. Bilirubin indirect ini diserap kembali oleh usus dan selanjutnya masuk lagi ke hati. (Ngastiyah, 1997; American Family Physician, 2002)

E. Pathways Hepar yang belum matang, Eritroblastosis foetalis, sepsis, Penyakit inklusi sitomegalik, Hipertermi inflamasi

Rubela, toksoplasmosis kongenital

Hati

Bilirubin direk

Bilirubin bebas >> Sistemik

Otak

Letargi, kejang, opistotonus, Tidak mau menghisap Fototerapi Resti kurang cairan Resti injuri

Menetap

Resti kernikterus

Gangguan rasa nyaman & aman

Resti injuri mata

Resti gangguan integritas kulit

F. Pemeriksaan penunjang : 1. Bilirubin serum , indirek dan indirek. 2. Golongan darah ibu dan bayi, serologi darah tali pusat. 3. Hb dan HCT. 4. Protein total. 5. Leukosit darah untuk memantau adanya infeksi. 6. BJ urine.

7. USG untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.

8. Radio isotop scan untuk dapat membantu membedakan hepatitis dari atresia bilier.

G. Penatalaksanaan Teraupeutik 1. Fototerapi.. 2. Fenobarbital. 3. Antibiotik. 4. Tranfusi tukar. (IKA II, 2002)(Suriadi,2000) D. Komplikasi 1. Terjadi kernikterus. 2. Kernikterus.. 3. Bilirubin encephalopathy (kompikasi serius).

PRIORITAS DIAGNOSA 1. Kurangnya volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairan,fototerapy dan diare. 2. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) b/d proses inflamasi pada konjugasi hepar. 3. Kecemasan orang tua b/d kondisi bayi terhadap tidakan foto terapy dan kurangnya

infomasi. INTERVI DX.1 Kurangnya volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairan,fototerapy dan diare. Intervensi: 1. Pertahankan intake,beri minum sesuai kebutuhan karena bayi malas minum.berikan berulang-ulang,jika tidak mau menghisap dapat diberikan menggunakan sendok atau sonde. 2. Berikan terapy infus sesuai indikasi: meningkatnya temperatur,meningkatnya konsentrasi urin dan cairan hilang berlebihan. 3. Kaji adanya dehidrasi: membran mukosa,ubun- ubun, turgor kulit, mata. 4. Monitor suhu tiap 2 jam DX.2 Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) b/d proses inflamasi pada konjugasi hepar. Intervensi: 1. Monitor suhu tiap 2 jam sekali. 2. Berikan ASI sesuai jadwal. 3. Berikan kompres hangat.

4. Berikan suhu lingkungan yang netral. DX.3 Kecemasan orang tua b/d kondisi bayi terhadap tidakan foto terapy dan kurangnya infomasi. Intervensi: 1. Pertahankan kontak orang tua-bayi 2. Jelaskan tentang pengobatan bayi yaitu dari keuntungan dan kerugian foto terapy. 3. Beri dorongan moril terhadap orang tua bayi. 4. Ajarkan orang tua bayi untuk mengekspresikan perasaan, dengarkan keluhan rasa takutnya. 5. 6. ASUHAN KEPERAWATAN

IDENTITAS PASIEN 1.Nama 2.TT L 3.Usia 4.Nama ayah / ibu 7. Alamat 8. Agama 9. Pekerjaan ayah / ibu : bayi Ny.K : Semarang, 29 Juli 2012 : 10 hari : Ny. K : Nangkosawit, Gunung pati : Islam : ibu rumah tangga

10. Pendidikan Ayah/ ibu: SMA PENANGGUNG JAWAB 1.Nama 2. TTL 3.Usia 4.Agama 5.Pekerjaan 6. alamat : Tn. P : 25 Juli 1976 : 36 tahun : Islam : Swasta : Nangkosawit,Gunung Pati

7. Hubungan dengan Pasien: Ayah KELUHAN UTAMA Kulit bayi berwarna kuning dan badan pasien panas

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN 1. Prenatal Jumlah kehamilan : sebulan 1x dan pada kehamilan bulan ke 8 dan ke 9 , dilakukan 3x pemeriksaan

Bidan/dokter Penkes yang didapat HTTP

: bidan : kebutuhan nutrisi selam kehamilan : Ny. K mengatakan lupa pada siklus haidnya

Kenaikan BB selama hamil

: setiap bulan 2 kg, jadi selama kehamilan

RIWAYAT KELUARGA Keluarga pasien mengatakan bahwa tidak ada dalam silsilah keluarga yang mempunyai penyakit me nular dan tidak ada yang mempunyai penyakit keturunan. RIWAYAT SOSIAL 1. Sistem pendukung / keluarga terdekat yang dapat dihubungi : Ibu mengatakan hubungannya dengan bayi sanagat baik dan apabila bayinya menangis, ibu dan ayahnya akan menenangkannya.

2. Hubungan orang tua dengan bayi

IBU MENYENTUH MEMELUK BERBICARA KELOPAK MATA

AYAH

. ANALISA DATA

TANGGAL DS =

DATA FOKUS

PROBLEM Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh

ETIOLOGI Kadar bilirubin meningkat

DO= turgor kulit kering 8 Juli 2012

Bayi malas menghisap Ubun-ubun cekung Mukosa bibir kering

Berpengaruh ke otak

Latargi, malas menghisap

Tidak adekuatnya intake cairan

DS= DO= suhu 37,8C 8 Juli 2012

Peningkatan suhu tubuh (hipertermi)

Hepar belum matang sepsis

Bayi malas menghisap Turgor kulit kering

Inflamasi

hipertermi

DS= DO= ibu terlihat cemas

Kecemasan orang tua

Bayi nampak kuning

Ibu pasien selalu bertanya tentang keadaan anaknya

Indikasi foto terapi

8 Juli 2012

Ketidak tahuan tentang foto terapi

cemas

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. 2. 3.

Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak adekuatnya intake cairan Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) b.d proses infeksi pada konjugasi hepar Kecemasan orang tua b.d kondisi bayi terhadap tindakan foto terapi dan kurangnya informasi