Anda di halaman 1dari 13

BAB II PEMBAHASAN 2.

1 Defenisi Henti napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi asap/uap/gas, obstruksi jalan napas oleh benda asing, tersengat listrik, tersambar petir, serangan infark jantung, radang epiglotis, tercekik (suffocation), trauma dan lain-lainnya.4 Pada awal henti napas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi, pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Kalau henti napas mendapat pertolongan segera maka pasien akan teselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung.4 Henti jantung primer (cardiac arrest) ialah ketidak sanggupan curah jantung untuk memberi kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya secara mendadak dan dapat balik normal jika dilakukan tindakan yang tepat atau akan menyebabkan kematian atau kerusakan otak. Henti jantung terminal akibat usia lanjut atau penyakit kronis tentu tidak termasuk henti jantung.5 Sebagian besar henti jantung disebabkan oleh fibrilasi ventrikel atau takikardi tanpa denyut (80-90%), kemudian disusul oleh ventrikel asistol (+10%) dan terakhir oleh disosiasi elektro-mekanik (+5%). Dua jenis henti jantung yang terakhir lebih sulit ditanggulangi karena akibat gangguan pacemaker jantung. Fibirilasi ventrikel terjadi karena koordinasi aktivitas jantung menghilang.2,4 Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis femoralis, radialis) disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali, pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnue), dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar.6 Pengiriman O2 ke otak tergantung pada curah jantung, kadar hemoglobin (Hb), saturasi Hb terhadap O2 dan fungsi pernapasan. Iskemi melebih 3-4 menit pada suhu normal akan menyebabkan kortek serebri rusak menetap, walaupun setelah itu dapat membuat jantung berdenyut kembali.4 Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi pernafasan dan atau sirkulasi pada henti nafas (respiratory arrest) dan atau henti jantung (cardiac arrest) pada orang dimana fungsi tersebut gagal total oleh suatu sebab yang memungkinkan untuk hidup normal selanjutnya bila kedua fungsi tersebut bekerja kembali.7

Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 1

Resusitasi jantung paru otak dibagi dalam tiga fase : bantuan hidup dasar, bantuan hidup lanjut, bantuan hidup jangka lama.7

2.2 Bantuan Hidup Dasar Bantuan hidup dasar merupakan dasar dalam penyelamatan hidup setelah terjadinya henti jantung. Aspek penting dari bantuan hidup dasar pada usia dewasa meliputi identifikasi secara cepat henti jantung mendadak, tindakan awal resusitasi jantung yang berkualitas (kuat dan cepat), dan defibrilasi secepatnya. Bantuan hidup dasar bertujuan untuk oksigenasi darurat secara efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri secara normal. Resusitasi mencegah agar sel-sel tidak rusak akibat kekurangan oksigen. Sirkulasi yang berhenti 3-4 menit akan mengakibatkan kerusakan otak yang permanen. Jika pasien mengalami hipoksemia sebelumnya, batas waktu menjadi lebih pendek.4 Tanpa bantuan hidup dasar (Resusitasi Jantung Paru) kemungkinan korban untuk bertahan hidup berkurang antara 7-10% /menit, dengan bantuan hidup dasar (Resusitasi Jantung Paru) kemungkinan korban untuk bertahan hidup bertambah antara 3-4% /menit sampai dilakukan defibrilasi.8 Indikasi bantuan hidup dasar yakni : 1. Henti nafas (apnue) Bila terjadi henti nafas primer, jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit, dan sisa O2 yang ada di dalam paru dan darah akan terus beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada korban dengan henti nafas atau sumbatan jalan nafas dapat mencegah henti jantung.7 2. Henti jantung (cardiac arrest) Bila terjadi henti jantung primer, Oksigen tidak beredar dan oksigen yang tersisa dalam organ vital akan habis dalam beberapa detik.7 Perkembangan terbaru pada Guideline American Heart Asosiation (AHA) untuk RJP dan perawatan kegawatan kardiovaskular tahun 2010 adalah perubahan urutan langkah Bantuan Hidup Dasar dari ABC menjadi CAB baik untuk pasien dewasa maupun anak-anak (anak dan balita kecuali bayi baru lahir). Guideline AHA untuk RJP dan perawatan kegawatan kardiovaskular tahun 2010 merekomendasikan perubahan ini karena:7,9 Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 2

1. Sebagian besar henti jantung terjadi pada dewasa dan angka keberhasilan tertinggi adalah henti jantung yang terjadi pada pasien henti jantung dengan irama VF (ventricular fibrillation) atau VT (ventricular tachycardia) tanpa nadi. Pada pasienpasien ini elemen awal yang paling penting dari RJP adalah kompresi dada dan defibrilasi secepatnya. 2. Pada urutan kompresi dada ABC seringkali terlambat ketika penolong membuka jalan nafas untuk memberikan bantuan nafas dari mulut ke mulut atau memasukkan perlengkapan ventilasi. Dengan merubah ke urutan CAB, kompresi dada dapat dimulai lebih cepat dan ventilasi hanya akan sedikit memperlambat kompresi dada hingga selesai satu siklus (kompresi 30 kali diselesaikan dalam waktu 18 detik). Langkah-langkah bantuan dasar hidup:7,9 1. Pastikan keamanan Sebelum melakukan pertolongan hal yang paling diutamakan adalah keamanan bagi si penolong. 2. Periksa kesadaran Lihat tingkat kesadaran penderita misalnya dengan cara seperti mengguncangkan bahu dengan lembut lalu menanyakan : apakah anda baik-baik saja? Jika ada respons maka : Jangan ubah posisi korban. Cari hal yang tidak beres. Ulangi pemeriksaan berkala. 3. Panggil bantuan / telpon ambulan 4. Buka jalan nafas & nilai pernafasan Nilai Airway Control dengan Look, Listen and Feel dalam waktu kurang dari 10 detik. Pastikan korban bernafas spontan dan normal. Jika tidak ada nafas spontan buka jalan nafas penderita.4,7 Sumbatan jalan nafas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring merupakan persoalan yang sering timbul pada pasien tidak sadar yang terlentang.7 Ada cara yang dianjurkan untuk menjaga agar jalan nafas tetap terbuka, yaitu: a. Metode Head Tilt Penolong mengekstensikan kepala korban dan dengan satu tangan sementara tangan yang lain menyangga bagian atas leher korban.7 b. Metode Chin lift Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 3

Kepala diekstensikan dan dagu diangkat ke atas. Metode ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu tangan penolong mendorong dahi ke bawah supaya kepala tengadah, tangan lain mendorong dagu dengan hati-hati tengadah, sehingga hidung menghadap ke atas dan epiglotis terbuka.7

Gambar 2.2 Metode Head Tilt dan Chin Lift

c. Metode Jaw Thrust Kepala diekstensikan dan mandibula didorong maju dengan memegang sudut mandibula korban pada kedua sisi dan mendorongnya ke depan.7 Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangkat didorong ke depan pada sendinya tanpa menggerakkan kepala-leher.4 Pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala juga merupakan metode paling aman untuk memelihara jalan nafas atas tetap terbuka, pada pasien dengan dugaan patah tulang leher.4

Gambar 2.2 Metode Jaw Thrust

Bila korban yang tidak sadar bernafas spontan dan adekuat (tidak ada sianosis), korban sebaiknya diletakkan dalam posisi sisi mantap untuk mencegah aspirasi. Ekstensikan kepalanya dan pertahankan mukanya lebih rendah. Letakkan tangan pasien sebelah atas di bawah pipi sebelah bawah untuk mempertahankan ekstensi Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 4

kepala dan mencegah pasien berguling ke depan. Lengan sebelah bawah yang berada di punggungnya, mencegah pasien terguling ke belakang.7 5. Beri nafas buatan pertama 2x Breathing support yang diberikan pertama kali adalah ventilasi buatan sebanyak 2x setelah airway baik pada oksigenasi paru darurat. Pertukaran gas yang terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.8 Bila pernafasan spontan tidak timbul, diperlukan ventilasi buatan.7 Nafas buatan tanpa alat dapat dilakukan dengan cara mulut ke mulut (mouth-to-mouth), mulut ke hidung (mouth-to-nose), mulut ke stoma trakeostomi atau mulut ke mulut via sungkup muka.4 Untuk melakukan ventilasi mulut-kemulut penolong hendaknya

mempertahankan kepala dan leher korban dalam salah satu sikap yang telah disebutkan di atas dan memencet hidung korban dengan satu tangan atau menutup lubang hidung pasien dengan pipi penolong. Selanjutnya diberikan 2 kali ventilasi dalam dalam (1 kali ventilasi = 1-1 detik). Kemudian segera raba denyut nadi karotis atau femoralis. Bila ia tetap henti nafas tetapi masih mempunyai denyut nadi diberikan ventilasi dalam (800-1200 ml) setiap 5 detik.2 Bila denyut nadi karotis tak teraba, 2 kali ventilasi dalam harus diberikan sesudah tiap 30 kompresi dada. 6,7

Gambar 2.3 Mouth to mouth Bila ventilasi mulut ke mulut atau mulut ke hidung tidak berhasil baik, walaupun jalan nafas telah dicoba dibuka, faring korban harus diperiksa untuk melihat apakah ada sekresi atau benda asing. Pada tindakan jari menyapu hendaknya korban digulingkan pada salah satu sisinya. Sesudah dengan paksa membuka mulut korban dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya, penolong memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain ke dalam satu sisi mulut korban, melalui Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 5

bagian belakang faring, keluar lagi melalui sisi lain mulut korban dalam satu gerakan menyapu. Bila tindakan ini gagal untuk mengeluarkan benda asing, hendaknya dikerjakan hentakan abdomen (abdominal thrust, gerak heimlich) atau hentakan dada (chest thrust). Hentakan dada dilakukan pada korban yang terlentang, tekhnik ini sama dengan kompresi dada luar. Urutan yang dianjurkan adalah berikan 6-10 x hentakan abdomen, buka mulut dan lakukan sapuan jari, reposisi pasien, buka jalan nafas dan beri ventilasi buatan. Urutan ini hendaknya diulang sampai benda asing keluar dan ventilasi buatan dapat dilakukan dengan sukses.7 Bila sesudah dilakukan gerakan triple (ekstensi kepala, buka mulut dan dorong mandibula) dan pembersihan mulut dan faring, ternyata masih ada sumbatan jalan nafas, dapat dicoba pemasangan orofaringeal airway atau nasofaringeal airway. Bila dengan ini belum berhasil, perlu dilakukan intubasi trakheal. Bila tidak mungkin atau tidak dapat dilakukan intubasi trakheal sebagai alternatifnya, krikotirotomi atau punksi membran krikotiroid dengan jarum berlumen besar ( misal dengan kanula intra vena 14 G).7 6. Kompresi jantung + nafas buatan (30 : 2) Telah dikembangkan teknik baru manual RJP sebagai usaha untuk memperbaiki perfusi selama resusitasi pada pasien dengan henti jantung, untuk memperbaiki kurva harapan hidup. Dibandingkan dengan teknik RJP sebelumnya, teknik-teknik dan peralatan lebih membutuhkan banyak orang, pelatihan dan alat-alat, atau teknik

spesifik lainnya. Beberapa teknik dari RJP dan peralatannya memperbaiki hemodinamik dan angka keselamatan jangka pendek jika digunakan oleh penolong yang terlatih.5 Penggunaan beberapa peralatan telah menjadi fokus utama dari penelitian klinis baru. Penggunaan dari Impedance Threshold Device (ITD) meningkatkan terjadinya ROSC (kembalinya sirkulasi secara spontan) dan survival jangka pendek jika digunakan pada pasien henti jantung di luar rumah sakit, namun tidak ada kemajuan berarti pada pasien yang berhasil selamat dan keluar dari rumah sakit atau secara neurologi klinisnya membaik.5 Teknik RJP dimulai dengan mengkompresi dada sebelum memberikan bantuan nafas (C-A-B daripada A-B-C). Kompresi dada dapat dimulai sesegera mungkin, sedangkan tindakan mengatur posisi kepala, mendapatkan lapisan penutup untuk bantuan nafas dari mulut ke mulut atau memasang masker akan memakan waktu. Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 6

Dengan memulai kompresi dada 30 kali dibandingkan ventilasi 2 kali akan mempersingkat perlambatan kompresi pertama.5 Kompresi dada yang adekuat memerlukan kompresi dengan kedalaman dan kecepatan yang sesuai, dengan pengembangan dada yang komplit setelah setiap kompresi dan penekanan dalam meminimalkan penghentian kompresi dan menghindari ventilasi yang berlebihan. Penolong harus memastikan bahwa kompresi dada dilakukan dengan benar. Kedalaman kompresi yang direkomendasikan pada korban dewasa meningkat dari kedalaman 1,5-2 inci menjadi setidaknya 2 inci.5

Gambar 2.4. Pijat jantung

Langkah dalam melakukan kompresi dada luar yakni korban hendaknya terlentang pada permukaan yang keras bila kompresi dada luar dilakukan. Penolong berlutut di samping korban dan meletakkan pangkal sebelah tangannya di atas tengah pertengahan bawah sternum korban sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak 2 jari sefalad dari persambungan sifisternum. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Dengan jari-jari terkunci, lengan lurus dan kedua bahu tepat di atas sternum korban, penolong memberikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4-5 cm. Setelah kompresi harus ada relaksasi.7 Penderita dewasa baik terdiri dari satu atau dua penolong, dilakukan 30 kompresi dada luar (laju : 80100 kali/menit = 9-12 detik) harus diikuti dengan pemberian 2 kali ventilasi dalam (23 detik). Bila penderita anak-anak dan bayi, bila terdiri dari satu penolong diberikan 30 kompresi dada luar dan 2 ventilasi dalam. Sedangkan bila terdapat dua penolong , dilakukan 15 kompresi dada luar dan 2 ventilasi dalam. 5,7

7. Evaluasi setiap 2 menit Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 7

Setiap 2 menit setelah dilakukan kompresi jantung + nafas buatan lakukan penilaian terhadap penderita. Periksa apakah ada tanda-tanda sirkulasi seperti bergerak, bernafas atau batuk 8. Jangan hentikan Kompresi jantung dan nafas buatan 30:2 sampai ada indikasi stop BHD Keadaan penderita yang tidak sadar, tidak ada pernafasan spontan, reflek muntah dan dilatasi pupil yang menetap selama 15-30 menit atau lebih merupakan petunjuk kematian otak kecuali pasien hipotermik atau dibwah efek barbiturat atau dalam anestesi umum. Akan tetapi, tidak adanya tanggapan jantung terhadap tindakan resusitasi dibanding dengan tanda-tanda klinis kematian otak, adalah titik akhir yang lebih baik untuk membuat keputusan mengakhiri upaya resusitasi. Tidak ada aktifitas listrik jantung (asistole) selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapi obat yang optimal, ini menandakan mati jantung.9 Indikasi stop BHD adalah : Kembalinya sirkulasi dan ventilasi spontan Pasien dialihrawatkan kpdyg lebih berwenang Baru diketahui telah ada tanda-tanda kematian yang irreversibel Penolong lelah atau keselamatannya terancam Jika 30 setelah ACLS yang adekuat tidak didapatkan tanda-tanda kembalinya sirkulasi spontan (asistole yang menetap), bukan intoksikasi obat atau hipotermia. Seseorang dinyatakan mati jantung bila :7 1. Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti atau irreversibel. 2. Telah terbukti terjadi kematian batang otak

Dalam keadaan darurat tidak mungkin untuk menegakkan diagnosis mati batang otak. Dalam resusitasi darurat, seseorang dapat dinyatakan mati jika :7 1. Terdapat tanda-tanda mati jantung 2. Sesudah dimulai resusitasi pasien tetap tidak sadar, tidak timbul ventilasi spontan dan refleks muntah (gag reflex), serta pupil tetap dilatasi selama 15-30 menit atau lebih, kecuali kalau pasien hipotermik atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesi umum

Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 8

Circulation support merupakan langkah untuk pengenalan tidak adanya denyut nadi dan pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung, penghentian perdarahan dan posisi untuk shock. Circulation support digambarkan melalui : a. Volume darah dan cardiac output Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca bedah. Suatu keadaan hipotensi pada penderita trauma harus dianggap disebabkan oleh hipovolemi sampai terbukti sebaliknya. Ada tiga penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi mengenai keadaan hemodinamik yakni tingkat kesadaran, warna kulit dan nadi.8 b. Tingkat kesadaran Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang, yang dapat mengakibatkan penurunan kesadaran.8 c. Warna kulit Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Penderita trauma yang kulitnya kemerahan terutama pada wajah dan ekstremitas, jarang dalam keadaan hipovolemia. Sebaliknya wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang pucat merupakan tanda hipovolemia.8 d. Nadi Pemeriksaan nadi besar seperti a.femoralis atau a.karotis (kiri-kanan), untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Nadi yang tidak cepat, kuat dan teratur biasanya merupakan tanda normo-volemia (bila penderita tidak minum obat beta-blocker). Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda hipovolemia, walaupun dapat disebabkan keadaan yang lain. Kecepatan nadi yang normal bukan jaminan bahwa normovolemia. Nadi yang tidak teratur biasanya merupakan tanda gangguan jantung. Tidak ditemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi segera.8 e. Perdarahan Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada luka. Spalk udara (pneumatic splinting device) juga dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan. Sumber perdarahan internal (tidak terlihat) adalah perdarahan dalam rongga toraks, abdomen, sekitar fraktur dari tulang panjang, retro-peritoneal akibat fraktur pelvis atau sebagai akibat daari luka tembus dada/perut.8 Penilaian lain dapat dilihat juga pada tanda-tanda henti jantung, yakni kesadaran hilang (dalam waktu 15 detik setelah henti jantung), tak teraba denyut arteri besar Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 9

(femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakialis pada bayi), henti nafas atau mengap-mengap (gasping), terlihat seperti mati (death like appearance), warna kulit pucat sampai kelabu, pupil dilatasi (45 detik setelah henti jantung). Diagnosis henti jantung dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. Pemberian ventilasi buatan dan kompresi dada luar diperlukan pada keadaan sangat gawat ini.7,9

2.3 Bantuan Hidup Lanjut Bantuan hidup lanjut berhubungan dengan teknik untuk memperbaiki ventilasi dan oksigenasi korban dan pada diagnosis serta terapi gangguan irama utama selama henti jantung.7 Bantuan hidup kardiovaskular lanjut meliputi intervensi untuk mencegah henti jantung, menangani henti jantung, dan meningkatkan luaran pasien yang mencapai kembalinya sirkulasi yang spontan setelah henti jantung.5 Setelah dilakukan CAB RJP dan belum timbul denyut jantung spontan, maka resusitasi diteruskan seperti langkah berikut :7 1. Disability Menjelang akhir primary survey, dilakukan evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat, yang dinilai adalah tingkat kesadaran serta ukuran dan reaksi pupil. Satu cara sederhana untuk menilai tingkat kesadaran adalah metode AVPU.8 A : Alert (sadar) V : Respon terhadap rangsangan vokal (suara) P : Respon terhadap rangsangan nyeri (pain) U : Unresponsive (tidak ada respon) Cara lain yang digunakan sebagai pengganti AVPU yaitu GCS (Glasgow Coma Scale) yang merupakan sistem scoring yang sederhana yang dapat meramal kesudahan atau outcome penderita.8 Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi dan atau penurunan perfusi ke otak atau disebabkan trauma langsung pada otak. Penurunan kesadaran menuntut dilakukannya reevaluasi terhadap keadaan oksigenasi ventilasi dan perfusi.8 Alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita. Walaupun demikian, bila sudah disingkirkan kemungkinan hipoksia atau hipovolemia sebagai sebab penurunan kesadaran, maka trauma capitis dianggap sebagai penyebab penurunan kesadaran dan bukan alkoholisme sampai terbukti sebaliknya.8 2. Exposure (kontrol lingkungan) Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 10

Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya dengan cara menggunting guna memeriksa dan evaluasi penderita. Setelah pakaian dibuka, penting agar penderita tidak kedinginan (mencegah hipotermi), harus dipakaikan selimut hangat, ruangan cukup hangat dan diberikan cairan intravena yang sudah dihangatkan.8

2.4 Bantuan Hidup Jangka Lama Bantuan hidup jangka lama merupakan pengelolaan pasca resusitasi yang terdiri dari: 1. Gauging Gauging merupakan cara untuk menentukan dan memberi terapi penyebab kematian dan menilai sampai sejauh mana pasien dapat diselamatkan.7,9

2. Human Mentation Sistem saraf pusat diharapkan pulih dengan tindakan resusitasi otak yang baru.7 3. Intensive care Intensive care merupakan resusitasi jangka panjang. Jenis pengelolaan yang diperlukan pasien yang telah mendapat resusitasi bergantung kepada hasil resusitasi. Pasien yang tidak mempunyai defisit neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya memerlukan pantauan intensif dan observasi terus-menerus terhadap sirkulasi, pernafasan, fungsi otak, ginjal dan hati. Pasien yang mempunyai kegagalan satu atau lebih dari satu sistem, memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi, terapi aritmia, dialisis dan resusitasi otak.7,9 Organ yang paling terpengaruh oleh kerusakan hipoksemia dan iskemik selama henti jantung adalah otak. Bila pasien tetap tidak sadar hendaknya dilakukan upaya untuk memelihara perfusi dan oksigenasi otak. Tindakan-tindakan ini meliputi penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sistemik yang normal, penggunaan steroid untuk mengurangi sebab otak dan penggunaan diuretik untuk menurunkan tekanan intra kranial. Oksigen tambahan hendaknya diberikan dan hiperventilasi derajat sedang juga membantu (Pa CO2 = 25-30 mmHg).7

Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1. Resusitasi jantung paru otak merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi sirkulasi dan atau pernafasan pada henti jantung (cardiac arrest) dan atau henti nafas (respiratory arrest) dengan bantuan pernapasan dan kompresi dada. 2. Indikasi dilakukan resusitasi jantung paru otak adalah henti napas dan henti jantung 3. Fase-fase pada resusitasi jantung paru otak adalah bantuan hidup dasar, bantuan hidup lanjut dan bantuan hidup jangka lama. 4. Guideline American Heart Asosiation (AHA) untuk RJP dan perawatan kegawatan kardiovaskular tahun 2010 adalah perubahan urutan langkah Bantuan Hidup Dasar dari ABC menjadi CAB dengan kompresi dada 30 kali diikuti 2 kali napas buatan untuk dewasa. 5. Prosedur resusitasi otak jantung paru dapat diterapkan pada bayi, anak dan dewasa.

Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 12

DAFTAR PUSTAKA

Andrey, 2008. Resusitasi Jantung Paru Pada Kegawatan Kardiovaskuler. Diakses tanggal 1 Januari 2013. http://yumizone.wordpress.com/2008/11/27/resusitasi- jantung-parupada-kegawatan-kardiovaskuler/

Sanif E. Metode baru resusitasi jantung paru. Diakses tanggal 1 Januari 2013. http://www.scribd.com/doc/6240591/Resusitasi-Jantung-Dan-Paru

Basket P, dkk. Buku panduan resusitasi jantung, paru, otak. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1998.

Latief S, Suryadi K, Dachlan R. Petunjuk praktis anestesiologi edisi 2. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2007.

Hazinski M, et all. 2010 Hand book of emergency cardiovaskular care for healthcare provider. Chicago: American Heart Association. 2010.

Mayo Clinic staff. 2008. Cardiopulmonary Resusistation. Diakses tanggal 1 Januari 2013. http://www.mayoclinic.com/health/first-aid-cpr/FA00061

Muhiman M, dkk. Anestesiologi. Jakarta: Staf Pengajar Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2004. Comittee on Trauma Advanced Trauma Life Supportfor doctors 7th edition. Chicago. American College of Surgeon Committee on Trauma.

Agarwal P.S.& Jadon A., 2008. Cardiopulmonary Resuscitation. TATA Motors Hospital. Jamshedpur. India.

10 Santoso Pamuji. RJP menurut AHA 2010. Diakses tanggal 1 januari 2013. Diakses di : http://nspamuji.blogspot.com/2012/10/rjpcpr-menuruh-aha-2010.html

Resusitasi Jantung Paru AHA 2010 | Akbar sidiq 13