Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada awalnya falsafah keperawatan dikenal sebagai bentuk pelayanan komunitas dan pembentuknya berkaitan dengan dorongan alami untuk melayani dan melindungi keluarga. Keperawatan lahir sebagai bentuk keinginan untuk menjaga seseorang tetap sehat dan memberikan rasa nyaman, pelayanan dan keamanan bagi orang yang sakit. Penyusunan dan pengorganisasian berbagai fakta, fenomena keyakinan dan pandangan secara sistematis ke dalam suatu konsep pengetahuan umum biasanya disusun dalam bentuk falsafah, konsep, teori dan proses. Falsafah keperawatan merupakan pandangan dasar tentang hakekat manusia dan esensi keperawatan yang menjadikan kerangka dasar dalam praktek keperawatan. Hakekat manusia yang dimaksud di sini adalah manusia sebagai mahluk yang meliputi : pertama, memandang bahwa pasien sebagai manusia yang utuh (holistik) yang harus dipenuhi segala kebutuhannya baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang diberikan secara komprehensif dan tidak bisa dilakukan secara sepihak atau sebagian dari kebutuhannya; kedua, bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan harus secara langsung dengan memperhatikan aspek kemanusiaan; ketiga, setiap orang berhak mendapatkan perawatan tanpa memandang perbedaan suku, kepercayaan, status sosial, agama dan ekonomi; keempat, pelayanan keperawatan tersebut merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan mengingat perawat bekerja dalam lingkup tim kesehatan bukan sendiri-sendiri; dan kelima, pasien adalah mitra yag selalu aktif dalam pelayanan kesehatan, bukan seorang penerima jasa yang pasif

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu menjelaskan tentang falsafah keperawatan dalam fenomena keperawatan 1.2.2 Tujuan Khusus a. Menjelaskan pengertian falsafah keperawatan b. Menjelaskan falsafah keperawatan berdasarkan konsep dan teori c. Menjelaskan pentingnya falsafah keperawatan dalam fenomena keperawatan d. Menjelaskan kontribusi falsafah keperawatan dalam pengetahuan keperawatan

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian 2.1.1. Falsafah Secara Umum a. Falsafah adalah keyakinan terhadap nilai-nilai yang menjadi pedoman untuk mencapai suatu tujuan dan dipakai sebagai pandangan hidup. (Nasrul Efendy, 1998) b. Falsafah adalah suatu pandangan dan pengetahuan yang mendasar yang selanjutnya untuk digunakan untuk mengembangkan dan membangun suatu pesepsi atau asumsi tertentu tentang pendidikan. (Gaffar, 1999) c. Falsafah adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi menngenai sebab-sebab, azas-azas, hukum yang ada di dalam semesta ataupun mengenai kebenaran arti adanya sesuatu. (Pro Health, 2009) 2.1.2. Falsafah Keperawatan Falsafah keperawatan menurut kelompok, merupakan suatu pemikiran atau pandangan yang mendasar tentang ilmu keperawatan. Sehingga falsafah keperawatan memberikan gambaran tentang nilai-nilai positif dalam keperawatan yang berfungsi sebagai penuntun atau pedoman bagaimana perawat berperilaku dan bersikap. Falsafah keperawatan sangat penting dalam bidang keperawatan dan pelayanan keperawatan sehingga tercipta suatu asuhan keperawatan yang sistematis,

komprehensif dan logis 2.2. Konsep Inti Falsafah Menurut Para Pakar 2.2.1. Florence Nightingale Teori Nightingale berfokus pada lingkungan. Lingkungan yang berpengaruh terhadap proses pemulihan klien atau membuat lingkungan yang kondusif bagi manusia untuk hidup sehat.

2.2.2. Martha Rogers Teori ini berfokus pada proses kehidupan manusia. Menurutnya kehidupan seseorang dipengaruhi alam sebagai lingkungan hidup manusia. 2.2.3. Jean Watson Menurut Watson Caring merupakan inti dari keperawatan. 2.2.4. Dorothea E. Orem Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraannya. Oleh karena itu teori ini dikenal sebagai Self Care atau Self Care Defisit Teori.

2.3. Penjelasan Falsafah Menurut Para Pakar 2.3.1. Florence Nightingale Pandangan Nightingale tentang Keperawatan lebih menekankan pada lingkungan fisik dari pada lingkungan sosial dan lingkungan psikologi. Lingkungan yang dimaksud meliputi empat komponen yang

mempengaruhi kesehatan individu, yaitu : udara bersih, air yang bersih, pemeliharaan lingkungan yang efisien, kebersihan dan penerangan cahaya. Nightingale tidak memandang perawat secara sempit yang hanya sibuk memberikan obat dan pengobatan tetapi lebih berorientasi pada pemberian udara, lampu, kenyamanan lingkungan, kebersihan, ketenangan, dan nutrisi yang adekuat. Perawat atau tenaga kesehatan. (Tommey & Alligood, 2006:75). 2.3.2. Martha Rogers Rogers berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda (Hidayat, 2007:53). Manusia yang utuh merupakan empat sumber dimensi energi yang diidentifikasi oleh pola dan manifestasi karakteristik spesifik yang menunjukkan kesatuan dan yang tidak dapat ditinjau berdasarkan
4

bagian pembentuknya. Ke empat dimensi yang digunakan oleh teori Rogers yaitu : sumber energi, keterbukaan, keteraturan dan

pengorganisasian. Dan empat dimensi tersebut digunakan untuk menentukan prinsip mengenai bagaimana manusia berkembang (Tommey & Alligood, 2006:245). 2.3.3. Jean Watson Pandangan Watson asuhan keperawatan berupaya untuk mendefinisikan hasil dari aktivitas keperawatan yang berhubungan dengan aspek humanistic dari kehidupan. Tindakan keperawatan mengacu langsung pada pemahaman hubungan antara sehat-sakit dan perilaku manusia (Tommey & Alligood, 2006:95). Fokus keperawatan ditujukan pada promosi kesehatan dan

penyembuhan penyakit dan dibangun dari sepuluh factor carativ, yang meliputi : a. Pembentukan sistem humanistic dan altruistic. Pembentukan sistem nilai humanistic dan altruistic dalam diri seseorang dapat dinilai pada usia dini. Dimana nilai-nilai ini didapatkan dari orang tua. Sistem nilai humanistic altruiistic ditingkatkan melalui pengalaman hidup seseorang, proses

pembelajar dan paparan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. b. Penanaman (melalui pendidikan) faith-Hope Merupakan hal yang sangat penting dalam caratif dan curatif. Perawat perlu selalu memiliki positif thingking sehingga dapat menularkan kepada klien yang akan membantu meningkatkan kesembuhan dan kesejahteraan klien. c. Pengembangan sensitifitas atau kepekaan diri kepada orang lain, d. Pengembangan hubungan yang bersifat membantu dan saling percaya (a helping trust relationship) Sebuah hubungan saling percaya digambarkan sebagai hubungan yang memfasilitasi untuk penerimaan perasaan positif dan negatif

yang termasuk dalam hal ini, kejujuran, empati, kehangatan dan komunikasi efektif. e. Meningkatkan dan saling menerima pengungkapan ekspresi perasaan, f. Menggunakan metode ilmiah dan menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan, g. Meningkatkan dan memfasilitasi proses belajar mengajar yang bersifat interpersonal. h. Menciptakan lingkungan yang mendukung, melindungi dan

meningkatkan atau memperbaiki keadaan mental, sosial, kultural dan lingkungan spiritual. i. Membantu pemenuhan kebutuhan dasar manusia dengan antusias j. Mengembangkan kekuatan faktor excistensial phenomenologic

2.3.4. Dorothea E. Orem Orem mengembangkan definisi keperawatan yang menekankan kepada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri. Dalam konsep praktek keperawatan Orem mengembangkan tiga bentuk teori self care : a. Perawatan diri sendiri (Self Care) Teori tentang perawatan diri yang menjelaskan tentang mengapa dan bagaimana manusia merawat diri mereka sendiri. b. Defisit Perawatan Diri (Self care Deficit) Menjabarkan dan menjelaskan mengapa manusia perlu bantuan perawat c. Teori Sistem keperawatan (Nursing of System) Menjelaskan bagaimana kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi oleh perawat atau klien sendiri.(Tommey & Alligood, 2006:269).

2.4. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Perawat Bersikap Dan Berperilaku Yang Tidak Sesuai Dengan Falsafah Keperawatan 2.4.1. Florence Nightingale Menurut Nightingale perawat kurang memperhatikan masalah

lingkungan baik di klinik maupun di Rumah Sakit. Misalnya : kebersihan lantai, dinding, pengaturan ruangan, tempat tidur. Apabila kebersihan lingkungan diperhatikan maka kontaminasi/infeksi

nosokomial tidak akan terjadi. Perawat bersikap dan berperilaku yang tidak sesuai dengan falsafah keperawatan adalah : 1. Lebih mengutamakan aktivitas fisik / lebih cenderung merawat fisik klien daripada memperhatikan lingkungan, padahal pada dasarnya lingkungan yang mendukung akan mempercepat kesembuhan fisik klien 2. Perawat lebih mengutamakan kegiatan administrasi /

pendokumentasian 2.4.2. Martha Rogers Perawat bersikap dan berperilaku yang tidak sesuai dengan falsafah keperawatan adalah : 1. Perawat kurang menghargai keberadaan lingkungan, dimana lingkungan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh manusia. 2. Perawat kurang memahami pentingnya lingkungan bagi manusia 2.4.3. Jean Watson Perawat bersikap dan berperilaku yang tidak sesuai dengan falsafah keperawatan adalah : 1. Kurang memahami faktor-faktor biofisikal (makan, cairan, eliminasi dan ventilasi) 2. Kurang memahami faktor-faktor psichophisycal (aktivitas, istirahat dan seksualitas) 3. Kurang memahami faktor-faktor Psycosocial (berprestasi dan berorganisasi)
7

4. Kurang memahami faktor-faktor Interpersonal (aktualisasi diri) Padahal kondisi sejahtera pada manusia karena adanya keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa.

2.4.4. Dorothea E. Orem Perawat bersikap dan berperilaku yang tidak sesuai dengan falsafah keperawatan adalah : 1. Perawat kurang membina dan mempertahankan hubungan terapeutik antara perawat dan pasien 2. Perawat kurang bisa menentukan kapan seseorang membutuhkan bantuan atau pertolongan 3. Perawat kurang memperhatikan respon pasien 4. Perawat tidak bisa menilai mengapa klien tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar manusia 5. Perawat tidak mampu membantu klien melakukan sebagian atau keseluruhan kebutuhan klien

2.5. Penyebab Perawat Indonesia Belum Bersikap Dan Berperilaku Sesuai Dengan Falsafah Keperawatan 1. Pemahaman perawat tentang falsafah dan teori keperawatan masih kurang (masih sebatas level kognitif) 2. Tingkat pendidikan perawat masih bervariatif sehingga menimbulkan rasa kurang percaya diri 3. Kurangnya ide dan kreatifitas perawat Indonesia 4. Pemikiran bahwa perawat adalah pembantu dokter 5. Keberadaan Undang-undang keperawatan masih belum jelas 6. Organisasi profesi keperawatan masih kurang berani membela hak-hak perawat 7. Belum semua pelayanan keperawatan saat ini mengadopsi salah satu falsafah keperawatan dari pakar keperawatan

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan Falsafah keperawatan sangat penting untuk dipahami dan dilakukan oleh perawat Indonesia. Sebagai tolok ukur, pandangan hidup, dasar keyakinan dan nilai dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.

3.2 Saran 1. Perawat Indonesia harus lebih meningkatkan kesadaran, rasa kepercayaan diri dan meningkatkan jenjang pendidikan. 2. Institusi pelayanan keperawatan menetapkan salah satu teori/falsafah keperawatan 3. Manajer keperawatan lebih memotivasi dan memberi penghargaan terhadap besar atau kecilnya tindakan keperawatan yang dilakukan 4. Manajer keperawatan melakukan evaluais secara rutin terhadap kinerja perawat