Anda di halaman 1dari 19

PAKAN AYAM BURAS

INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN DKI JAKARTA 1996

KATA PENGANTAR

Usahatani ayam buras merupakan salah satu usaha yang telah lama dilakukan oleh para peternak di DKI Jakarta. Prospek usahatani ini mempunyai masa depan yang cukup balk, mengingat permintaan ayam buras baik petelur maupun pedaging terus berkembang sejalan dengan peningkatan pendapatan dan penduduk serta pengetahuan tentang pemenuhan gizi bagi keluarga. Pakan ayam buras merupakan salah satu komponen yang terbesar (60-80%) dalam seluruh biaya yang dikeluarkan dalam usahatani tersebut. Untuk itu informasi mengenai beberapa alternatif bahan yang dapat dijadikan pakan ayam buras secara ekonomis menguntungkan sangat diperlukan.

Brosur ini memberikan informasi tentang beberapa alternatif bahan yang dapat dijadikan pakan ayam buras yang secara ekonomis menguntungkan. Informasi yang ada dalam brosur ini merupakan kumpulan informasi hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian Ternak Bogor dan beberapa hasil kajian yang telah dilakukan oleh BIP DKI Jakarta dalam kegiatan Penelitian Adaptif. Terimakasih diucapkan kepada semua pihak yang telah membantu hingga tersusunnya brosur ini. Semoga bermanfaat.

Kepala Instalasi,

Ir. Santoso W. NIP 080.048.899

I. PENDAHULUAN

Sampai saat ini ayam buras masih mempunyai peranan yang penting dalam memenuhi kebutuhan daging dan telur. Bagi pemiliknya ayam buras merupakan sumber penghasilan atau tabungan hidup yang sewaktu-waktu dapat diuangkan. Bagi konsumen, ayam buras masih banyak dicari karena ciri khas rasa daging dan telurnya sebagai campuran jamu tradisional yang tidak boleh ditinggalkan. Usahatani ternak ayam buras banyak dilakukan oleh masyarakat DKI Jakarta, baik yang bersifat sambilan ataupun yang benar-benar ditekuni sebagai mata pencaharian. Produktivitas lahan dapat dicapai secara maksimal, karena meskipun lahan sempit tetapi bisa beternak dengan populasi tinggi. Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan kandang baterai (bertingkat) dan pemberian pakan yang memadai. Pada pemeliharaan dengan sistem ayam dikandangkan (intensif) penyediaan pakan tergantung pada peternaknya. Ini artinya bahwa peternak menyediakan seluruh kebutuhan pakan baik jumlah maupun mutunya sehingga mencukupi kebutuhan gizi ayam buras. Dengan demikian ayam buras akan dapat berproduksi lebih baik. Dalam usaha ternak ayam buras biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan pakan paling besar yakni (60-80%) dari seluruh komponen biaya produksi yang dikeluarkan. Untuk menghemat biaya ransum dapat disusun sendiri oleh peternak dari bahan-bahan pakan yang mudah didapat disekitar kita, murah harganya tetapi memenuhi kebutuhan gizinya. Bioteknologi yang terus berkembang menghasilkan sejenis probiotik yang berasal dari mikroba rumen. Probiotik ini berfungsi untuk memecahkan selulosa, hemiselulosa, lignin protein serta lemak sehingga ransum yang dikonsumsi lebih mudah diserap oleh usus. Disamping itu bau kotorannya menjadi berkurang. Hal ini cocok dengan kondisi wilayah DKI Jakarta dimana peternak berlokasi didaerah padat penduduk.

II. PRODUKTIVITAS DAN KEBUTUHAN ZAT GIZI AYAM BURAS.

A.

Produktivitas
Produktivitas ayam buras sangat rendah bila dibandingkan dengan ayam ras, baik

pertumbuhan maupun produksi telurnya. Keadaan ini antara lain disebabkan oleh a. b. c. Faktor genetis. Cara pemeliharaan. Pemberian pakan yang belum memadai. Untuk memilih jenis ayam buras yang diharapkan tinggi produksinya dan mengarah kepada usaha yang efektif, kemampuan produksi ayam buras yang akan dipelihara perlu diketahui terlebih dahulu. Berbagai jenis ayam buras yang banyak dipelihara secara intensif mempunyai kemampuan produksi dan reproduksi yang berbeda. Ada beberapa jenis ayam buras lokal yang banyak dipelihara antara lain adalah a. b. c. d. e. Ayam Pelting Ayam Kedu Hitam Ayam Kedu Putih Ayam kampung/ayam sayur Ayam Nunukan

Ayam Pelting dapat dijadikan salah satu ayam yang dapat dikembangkan untuk produksi daging. Ayam kedu baik yang berwarna hitam maupun yang berwarna putih mempunyai potensi yang lebih baik untuk dikembangkan sebagai penghasil telur dibanding dengan ayam buras lainnya. Sementara itu jenis ayam kampung biasa atau ayam sayur tidak mempunyai karakteristik yang mantap sehingga tidak dapat dikelompokkan ke dalam galur yang spesifik. Ayam Nunukan adalah ayam lokal yang berkembang di pulau Tarakan, Kalimantan Timur, ayam ini sangat potensial sebagai penghasil daging dan telur.

B.

Kebutuhan Gizi Ayam Buras


Pada prinsipnya macam zat gizi yang dibutuhkan ayam buras sama dengan yang

dibutuhkan ayam ras yaitu a. b. c. d. e. Protein Vitamin Energi (Karbohidrat dan lemak) Mineral dan Air.

Akan tetapi jumlah zat gizi yang dibutuhkan oleh kedua jenis ayam tersebut mungkin berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan zat gizi untuk ayam buras lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan ayam ras. Oleh karena itu penggunaan 100% ransum ayam ras komersial untuk ayam buras merupakan pemborosan karena pertumbuhan maupun produksi telur masih jauh di bawah pertumbuhan maupun produksi telur ayam ras. Hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan genetis ayam buras. Banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi, diantaranya

a. b. c. d.

Jenis ternak Umur unggas Lingkungan, terutama cuaca Tingkat produksi

Berdasarkan hasil-hasil penelitiannya, Balitnak Ciawi menyarankan ransum ayam buras hendaknya disusun dengan kandungan gizi seperti pada tabel 1. Tabel 1. Saran Kandungan Gizi Ransum Untuk Ayam Buras. Zat Gizi Yang Diperlukan Energi metabolisme (kkal) Kalsium (%) Pospor (%) Protein (%) Metionin (%) Lisin (%) Umur (Minggu ) 0-12 2600 0,9 0,45 14 -17 0,37 0,87

12-22 2400 1,0 0,45 14 0,21 0,45

>22 2400 - 2600 3,4 0,34 14 0,22 - 0,30 0,68

III. RAGAM BAHAN PAKAN AYAM BURAS


Mengingat kapasitas produksi dan pertumbuhan ayam buras lebih rendah dibandingkan ayam ras, maka dalam memberi pakan ayam buras sebaiknya dipilih dari bahan-bahan yang mudah didapat, murah harganya dan nilai gizinya memadai.

A.

Bahan Pakan Nabati


Bahan pakan nabati adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Bahan pakan nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan daun-daunan yang suka dimakan oleh ayam buras. Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai kandungan protein tinggi seperti bungkil kelapa. bungkil kedele dan bahan pakan asal kacang-kacangan. Dan tentu saja kaya akan energi seperti jagung. 1. Dedak halus Dedak sebagai limbah penggilingan padi banyak terdapat di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil padi. Pada saat musim panen, dedak mudah diperoleh dan murah harganya. Dedak sebagai bahan pakan ternak luas penggunaannya, dapat digunakan sebagai bahan pakan berbagai jenis dan tipe ternak. Dedak halus dibedakan antara dedak halus pabrik dan dedak halus kampung. Dedak halus kampung mengandung lebih banyak serat kasar dibandingkan dedak halus pabrik, serta kandungan proteinnya hanya 10,1 %, sedangkan dedak halus pabrik mengandung protein 13,6%. Sedangkan kandungan lemaknya tinggi, sekitar 13%, demikian juga serat kasarnya kurang lebih 12%. Oleh karena itu penggunaan dedak halus dalam pakan ayam buras sebaiknya tidak melebihi 45%. Bila beras yang sudah putih digiling kembali, maka akan didapatkan limbah berupa bekatul dengan kandungan proteinnya 10,8%, ini dapat juga digunakan sebagai bahan pakan ayam buras.

2.

Jagung Jagung sebagai pakan ayam buras sudah sejak lama digunakan. Jagung

mengandung protein agak rendah (sekitar 9,4%), tetapi kandungan energi metabolismenya tinggi. (3430 kkal/kg). Oleh karena itu jagung merupakan sumber energi yang baik. Kandungan serat kasarnya rendah (sekitar 2%), sehingga memungkinkan jagung dapat digunakan dalam tingkat yang lebih tinggi. Jagung kuning mengandung pigmen karoten yang disebut "xanthophyl". Pigmen ini memberi warna kuning telur yang bagus dan daging yang menarik, tidak pucat.

3.

Bungkil Kelapa Bungkil kelapa merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa dapat digunakan

sebagai pakan lemak. Indonesia kaya akan pohon kelapa dan banyak mendirikan pabrik minyak goreng, sehingga bungkil kelapa banyak tersedia kandungan protein cukup tinggi sekitar 21,6% dan energi metabolis sekitar 1540 - 1745 Kkal/Kg. Tetapi bungkil kelapa ini miskin akan Cysine dan Histidin serta kandungan lemaknya tinggi sekitar 15%. Oleh karena itu penggunaan dalam menyusun ransum tidak melebihi 20%, sedang kekurangan Cysine dan Histidin dapat dipenuhi dari tepung itu atau Cysine buatan pabrik.

Secara umum bungkil kelapa berwarna coklat, ada coklat tua ada coklat muda (coklat terang) sebaiknya dipilih bungkil kelapa yang berwarna coklat muda atau coklat terang inilah yang kita pilih. Bungkil Kelapa mudah dirusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harus hati-hati dalam menyimpannya. 4. Singkong/Ketela Pohon Parutan singkong mentah dapat dijadikan bahan pakan pokok ayam buras yang dipelihara secara intensif. Singkong dapat diberikan dalam bentuk mentah (segar) ataupun setelah melalui pengolahan misalnya gaplek atau aci. Penggunaan tepung gaplek dalam ransum tidak lebih dari 40%. Dalam bentuk mentah, singkong sebaiknya digunakan dalam tempo 24 jam setelah masa panennya. Lebih dari tempo itu maka nilai gizinya akan menurun (rusak). Selain umbinya, daun singkong juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam buras, baik dalam bentuk tepung ataupun dalam bentuk segar (sebagai hijauan). Tepung daun singkong ini dapat menggantikan kacang hijau dan kedelai sampai jumlah 8%.

5.

Bungkil kedelai. Kacang kedelai mentah tidak dianjurkan untuk dipergunakan sebagai pakan ayam

karena kacang kedelai mentah mengandung beberapa trypsin, yang tidak tahan terhadap panas, karena itu sebaiknya kacang kedelai diolah lebih dahulu. Bungkil kedelai merupakan limbah pembuatan minyak kedelai, mempunyai kandungan protein 42,7% dengan kandungan energi metabolisme sekitar 2240 Kkal/Kg, kandungan serat kasar rendah, sekitar 6%. Tetapi kandungan methionisne rendah. Penggunaan bungkil kedelai dalam ransum ayam dianjurkan tidak melebihi 40%, sedang kekurangan methionisme dapat dipenuhi demi tepung ikan atau methionisme buatan pabrik. 6. Daun lamtoro. Pemberian daun lamtoro mesti hati-hati karena daun lamtoro mengandung alkoloid yang beracun dengan nama mimosin. Pemberian tepung daun lamtoro dalam jumlah yang banyak akan mengakibatkan ayam berhenti bertelur. Karena itu, kendatipun kandungan protein daun lamtoro cukup tinggi (22,30%), dalam penggunaannya dianjurkan tidak melebihi dari 5% dalam pakan ayam. 7. Daun turi. Tepung daun turi sudah biasa dipergunakan dalam pakan ayam. Daun turi yang berbunga merah mengandung kadar protein sekitar 31,68%, sedangkan daun turi yang berbunga putih mengandung kadar protein 40,62%.

B.

Bahan Pakan Hewani.


Bahan pakan asal hewan ini umumnya merupakan limbah industri, sehingga

sifatnya memanfaatkan limbah. Bahan pakan hewani yang biasa digunakan adalah tepung ikan, tepung tulang, tepung udang dan tepung kerang. Beberapa bahan pakan hewan yang lain adalah cacing, serangga, ulat dll. Bahan-bahan pakan ini ditemukan ayam yang dipelihara secara intensif, cacing, serangga dan lain-lain tidak diberikan. Tetapi bekicot yang banyak didapat di musim hujan, sudah mulai diternakkan, merupakan bahan pakan alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.

1.

Tepung Ikan. Tepung ikan merupakan bahan pakan yang sangat terkenal sebagai sumber protein

yang tinggi. Tetapi perlu diketahui bahwa kandungan gizi tepung ikan ini berbeda, sesuai dengan jenis ikannya (Tabel 2). Disamping jenis ikan, proses pengeringan ikan juga mempengaruhi kualitas tepung ikan tersebut. Ada beberapa macam proses pengeringan, yaitu pengeringan matahari, pengeringan vacum, pengeringan dengan uap panas dan pengeringan dengan pijar api sesaat. Pengeringan matahari merupakan proses termudah dan termurah, tetapi juga rendah kadar proteinnya. Tepung ikan lokal yang bersumber dari sisa industri ikan kalengan atau limbah tangkapan nelayan dan hanya dijemur dengan panas matahari mempunyai kandungan protein kasar hanya 51-55%. Selain sebagai sumber protein dengan asam amino yang baik, tepung ikan juga merupakan sumber mineral dan vitamin. Dengan kandungan gizi yang sangat baik ini maka tak heran bila harganyapun mahal. Oleh karena itu, untuk menekan harga ransum, pengguna tepung ikan dibatasi dibawah 8%. Di Indonesia, tepung ikan ada beberapa macam b aik produk lokal maupun import dengan kualitas yang beragam. Dengan kondisi ini peternak disarankan membeli tepung ikan dari penjual yang terpercaya dan sudah biasa menjual tepung ikan yang baik. Tabel 2. Komposisi nutrisi tepung ikan alami dari beberapa jenis ikan Nutrisi Protein kasar Serat Abu Calcium Phospor Methionine Tryptophan Lysine Jenis Ikan Herring Menhaden 70,0 1,0 12,0 3,0 2,0 2,0 0,9 6,3 60,0 1,0 0,0 5,0 3,0 1,8 0,7 5,3 Merah 57,0 1,0 26,0 7,7 3,8 1,7 0,6 6,5' Sardine 6,5 1,0 19,0 4,5 2,4 2,0 0,5 5,9 Tuna 62,0 1,0 20,0 4,0 2,5 1,7 0,7 5,2 Putih 63,0 1,0 22,0 62,0 3,5 1,7 0,6 11 4,3

2.

Tepung Udang Tepung udang berasal dari limbah industri udang, sehingga kualitas gizinya

tergantung dari bagian yang ikut tergiling. Apabila bagian kepala dan kaki ikut tergiling tentu kualitasnya lebih baik daripada hanya kulit udangnya saja. Kandungan protein tepung udang berkisar antara 43 - 47%. Tepung udang merupakan bahan pakan alternatif sebagai sumber protein, karena tidak semua tempat tepung udang ini dapat diperoleh. 3. Tepung Tulang Tepung tulang digunakan sebagai sumber mineral. Tepung tulang umumnya mengandung Calcium antara 24 - 25% dan Phospor antara 12-15%. Karena sifatnya sebagai pelengkap, pemakaian tepung tulang hanya sedikit. 4. Tepung Kerang Tepung kerang merupakan sumber Calcium, karena mengandung Calcium hampir 36%. Dengan berkembangnya mineral dan vitamin buatan pabrik, bahan pakan alami sudah banyak ditinggalkan. Tetapi apabila harganya murah dan kesediaannya terjamin, peternak dapat memanfaatkan tepung kerang ini sebagai sumber Calcium untuk ransum ayam burasnya. 5. Bekicot Bekicot merupakan bahan pakan yang murah sekali karena kita dapat dengan mudah memperolehnya disekitar lingkungan hidup dan mudah pula membudidayakannya. Hampir 95% dari tubuh bekicot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ayam, yang terbuang hanyalah kotoran dan lendirnya. Cara memanfaatkannya adalah sebagai berikut : - 60 gr bekicot dipuasakan selama 2 hari agar kotorannya habis - Rendamlah dalam air garam dengan perbandingan 1 liter air dengan 50 gr garam dapur, kemudian diaduk selama 15 - 20 menit.

- Daging bekicot dicuci kemudian masukkan ke dalam air mendidih selama 10 menit (sampai masak). Daging bekicot dapat diberikan sebagai pakan ayam, baik dalam bentuk basah (segar), kering ataupun, dalam bentuk tepung, dengan kandungan protein untuk masing-masingnya adalah sebagai berikut :

a. b. c.

Dalam bentuk basah (segar) Dalam bentuk kering Dalam bentuk tepung

54,29% 64,13 % 24,80%

Meskipun kandungan protein tepung bekicot tinggi, tetapi pemakaiannya tidak boleh melebihi 10%. Cangkang bekicot dapat digunakan sebagai pakan tambahan menggantikan tepung kapur dan grit.

6.

Bahan Pakan Pelengkap/Suplemen. Bahan pakan pelengkap ini merupakan bahan buatan pabrik dan diproduksi untuk

melengkapi zat-zat gizi yang biasanya kurang banyak atau kurang lengkap dikandung oleh bahan pakan alami.

a. Vitamin, merupakan zat gizi yang berfungsi untuk pembentukan tulang, pertumbuhan serta memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi. b. Mineral, merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang tidak banyak tetapi sangat penting untuk pembentukan alat-alat tubuh antara lain untuk pembentukan tulang (Ca dan P). darah (zat besi/Fe) dan kerabang telur (Ca dan P). c. Lysine dan Methionine Seperti diketahui dalam formula ransum ayam buras, 90% disusun dari bahan pakan nabati yang umumnya tidak mengandung Asam Amino yang imbang. Biasanya bahan pakan nabati ini miskin akan Lysine dan Methionine. Biasanva kekurangan Asam Amino ini dapat diatasi dengan penggunaan tepung ikan pada formula ransum. Tetapi karena harganya mahal penggunaan tepung ikan ini terbatas. sehingga untuk mengatasi kekurangan Asam Amino ini digunakan Lysine dan Methionine buatan pabrik. Lysine dan Methionine merupakan Asam Amino esensial yang dibutuhkan oleh ternak. Dewasa ini kedua Asam Amino sudah diproduksi dan dikemas sebagai produk siap pakai oleh pabrik. d. Probiotik, adalah koloni kecil bibit mikroba yang berasal dari lambung sapi, yang dikemas dalam campuran tanah, akar rumput dan daun-daunan atau ranting yang dibusukkan. Mikroba-mikroba tersebut berfungsi sebagai penghuni protein, serat kasar dan nitrogen fiksasi non simbiotik. Dengan menambahkan probiotik tersebut dalam ransum ayam, maka ransum yang digunakan menjadi lebih efisien dan kadar amonia lebih rendah sehingga bau menyengat yang biasanya kita cium disekitar kandang menjadi berkurang karena sifatnya sebagai pengurai. Penggunaan probiotik ini juga lebih luas, tidak saja sebagai suplemen pada ransum ayam buras tetapi juga digunakan untuk menjinakkan berbagai limbah (yang berbentuk organik) seperti bau spesifik dari septitank, limbah rumah potong dan limbah industri. Seiring dengan perkembangan teknologi, probiotik ini sudah diproduksi secara massal (pabrik) dengan dikemas dalam bentuk siap pakai sehingga menjadi lebih mudah dalam penggunaannya. Aturan penggunaan biasanya sudah disertakan pula dalam kemasannya. Produk ini sudah diperdagangkan dan peternak dapat memperolehnya di Poultry Shop. Mengenai penggunaan probiotik ini, Balai Informasi Pertanian (BIP) DKI Jakarta pernah melaksanakan uji adaptif penggunaan suplemen probiotik yang dicampurkan dalam ransum ayam buras petelur (TA 1995/1996). Dengan menambahkan probiotik dalam ransum yang biasa digunakan oleh peternak ternyata hasilnya dapat: meningkatkan produksi telur penggunaan pakan lebih efisien

kadar air feses (kotoran) lebih rendah dan bau feses menjadi berkurang.

di

lingkungan

kandang

Secara ekonomis harga probiotik tersebut relatif lebih murah, hanya Rp. 4.000 - Rp. 5.000 per kg. Sedang penggunaannya relatif sedikit, hanya sekitar 25 gr per 1 kg ransum.

IV. TEKNIK MENYUSUN RANSUM DAN PEMBERIANNYA.

Yang dimaksud dengan ransum adalah susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Jadi dengan mencampur beberapa jenis bahan pakan diharapkan kandungan gizi ransum sesuai dengan kebutuhan gizi ayam sehingga ayam dapat berproduksi dengan baik. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menyusun ransum ayam buras adalah metode coba-coba, metode persamaan simulat, metode matriks dan metode persamaan linear. Macam-macam metode tersebut pada prinsipnya sama, hanya teknis penghitungannya yang berbeda. Persamaan linear yang banyak digunakan dalam program komputer tentunya lebih mudah dan cepat dalam menyusun ransum. Dengan metode ini banyak pilihan bahan pakan yang dapat digunakan dalam menyusun ransum sehingga akan didapat kombinasi bahan pakan yang mudah diperoleh di sekitar tempt tinggal peternak, sesuai kebutuhan gizinya dan harga yang termurah. Yang banyak digunakan orang untuk menyusun ransum ayam buras adalah metode coba-coba. Cara ini relatif mudah bila bahan pakan yang digunakan tidak banyak jenisnya, tetapi pertimbangan harga minimum sulit dilakukan. Contoh : untuk menyusun ransum ayam buras petelur dengan kadar protein 14%, kita menggunakan bekatul, jagung, menir, tepung ikan dan bungkil inti sawit. Berdasarkan pengalaman, ransum ayam buras bisa terdiri dari 50% bekatul, 20% jagung dan 10% menir.

Dengan demikian, jumlah protein dari ketiga bahan tersebut adalah: 1. 2. 3. Bekatul Jagung Menir Jumlah 50% = 20% = 10%0 = 80% 50 x 11,2% 20 x 8,5% 10 x 10,2% = = = = 5,6% 1,7% 1,0% 8,3%

Kekurangan protein yang harus dicukupi dari tepung ikan dan bungkil inti sawit = 14 8,3% = 5,7% Jadi campuran tepung ikan dan bungkil inti sawit harus mempunyai kandungan protein sebesar 5,7 : 0,2 (20%) = 28,5%. Untuk memperoleh campuran tersebut maka dibuat perhitungan bujur sangkar sbb : Tepung ikan Bungkil inti sawit 55 28,5 22 Jumlah 33,0 Jadi jumlah tepung ikan dalam ransum = Jumlah bungkil inti sawit = 6,5/33,0 x 20% = 3,9% 26,5/33,0 x 20% = 16,1 % 26,5 6,5

Tabel 3. Susunan Ransum menurut perhitungan diatas adalah sebagai berikut : No Nama bahan 1. 2. 3. 4. 5. Bekatul Jagung Menir Tepung lkan Bungkil inti sawit Jumlah Jumlah 50 20 10 3,9 16,1 100 Prot 5,6 1,7 1,0 2,15 3,54 13,99 ME(kkal/Kg) 1050 703 309 120 3,54 2474 Ca (% ) 0.04 0,01 0,01 0.20 0.03 0,29

Dari susunan diatas dapat dilihat bahwa kandungan protein dan energi ransum sesuai dengan yang diinginkan akan tetapi, kandungan kapur (Ca) untuk ayam petelur masih terlalu rendah. Untuk melihat hal ini dapat ditambahkan bahan yang banyak mengandung Ca seperti tepung kapur, tepung tulang atau tepung kulit kerang. Selain itu perlu juga ditambahkan campuran vitamin dan mineral-mineral mikro dan Probiotik sebanyak 25 gram per 1 kg ransum.

2.

Cara Pemberian Pakan Pemberian pakan harus disesuaikan dengan umur atau periode pertumbuhan.

Pada ayam buras ada tiga tahapan dalam pemberian pakan, yaitu periode untuk anak ayam umur 0 - 3 bulan membutuhkan pakan 10 gram makanan/ekor/hari, periode dara umur 3-5 bulan membutuhkan pakan 60 - 70 gram makanan/ekor/hari dan periode dewasa umur lebih dari 5 bulan membutuhkan makanan 80 - 90 gram/ekor/hari.

Pada periode kutuk pakan disediakan dalam wadah yang mudah dicapai tetapi tidak mengakibatkan banyak pakan yang tumpah. Pakan yang diberikan adalah ransum ayam ras starter. Mulai dari umur 7 hari sampai 1 bulan dapat diberikan pakan campuran, yaitu pakan ayam ras starter dicampur dengan katul dan dedak halus dengan perbandingan 1:1 atau memberikan jagung giling halus ditambah katul dengan perbandingan 2:1 dan ditambah protein hewani. Ayam dara umur 3-5 bulan dan seterusnya akan menguntungkan bila pakan dicampur sendiri dengan formulasi seperti tabel 3 diatas. Makanan diberikan 2 sampai 3 kali sehari, separuhnya diberikan pada pagi hari dan sisanya diberikan pada siang hari.