Anda di halaman 1dari 22

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Manusia yang mempunyai sifat suka dengan keindahan, menjadikan rambut

sebagai penunjang penampilan seseorang. Bahkan ada ungkapan yang menunjukkan betapa pentingnya rambut bagi penampilan seseorang, yaitu rambut adalah mahkota kecantikan seseorang. Manusia berusaha untuk menjaga kesehatan rambut dari kerusakan ataupun kerontokan (Dalimartha & Soedibyo, 1999). Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut berkisar lebih dari 100 helai perhari dan bila kerontokan ini berlanjut dapat menyebabkan alopecia (kebotakan) (Brown, Graham, &Tony, 2007). Kerontokan rambut dapat dipengaruhi secara fisiologik dan patologik antara lain status gizi, hormonal, pemakaian obat, stress dan lainnya (Soepardiman, 2002). Kerontokan rambut ditandai dengan pemendekan fase anagen dan mengecilnya ukuran folikel rambut (Park, Shin, & Ho, 2011). Penggunaan obat tradisional dalam upaya pemeliharaan kesehatan dan membantu mengatasi penyakit cenderung meningkat dari tahun ke tahun (BPOM, 2010). Minyak kelapa, minyak kemiri dan minyak cem-ceman telah digunakan secara turun-temurun dalam mengatasi kerontokan rambut, tetapi mekanisme kerjanya belum jelas (Komiarsih, 2003). Panax ginseng C.A. Meyer atau ginseng telah lama digunakan sebagai obat tradisional di banyak negara Asia untuk kerontokan rambut (Matsuda et al., 2003). Selain itu, Panax ginseng telah banyak ditambahkan pada produk perawatan rambut yang aman (Park, Shin, & Ho, 2011). Salah satu kandungan ginseng adalah ginsenosida Rb1 yang termasuk ke dalam golongan saponin triterpenoid yang telah diidentifikasi sebagai senyawa paling aktif terkait dalam mengatasi kerontokan rambut. Ginsenosida Rb1 menunjukkan efek menstimulasi proliferasi pada dermal papilla rambut yang merupakan parameter dalam pertumbuhan rambut (Choi et al., 2007). Oleh karena itu, rute pemberian menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk dapat mengoptimalkan kerja dari

ginsenosida dalam mengatasi kerontokan rambut. Untuk mencapai dermal papilla maka ginsenosida harus masuk melalui folikel rambut yang dikenal dengan rute transfolikular (Asmara et al., 2012). Ukuran partikel menjadi hal penting bagi suatu zat aktif untuk melalui folikel rambut yang mempunyai barier yaitu stratum korneum (Wosicka & Cal, 2010). Dengan demikian, perlu dilakukannya modifikasi fisik ginsenosida meliputi perubahan ukuran partikel yang mengarah ke bentuk nanopartikel (Wahyono, 2010). Pada beberapa dekade terakhir ini penggunaan nanopartikel meluas termasuk dalam bidang pengobatan, baik dalam sediaan oral, parenteral, maupun topikal. Nanopartikel memiliki kemampuan untuk menembus folikel rambut dan lapisan epidermis (Baroli et al, 2007). Bahan aktif yang masuk ke dalam folikel rambut akan berpartisipasi dan selanjutnya berdifusi ke dalam sebum yang terdapat didalam folikel rambut hingga mencapai epitel pada bagian dalam folikel dan kemudian berdifusi menembus folikel. Selain itu dengan nanopartikel dapat mempertahankan sepuluh kali lebih lama keberadaan bahan aktif di dalam folikel rambut dibandingkan terapi stratum korneum (Asmara et al., 2012). Pembentuk nanopartikel yang banyak digunakan adalah kitosan. Kitosan memiliki sifat biodegradabel, biokompatibel, dan tidak toksik. Selain itu kitosan memiliki kemampuan dalam mengontrol pengeluaran zat aktif, tidak perlu menggunakan pelarut organik karena kitosan larut di dalam asam. Untuk membentuk nanopartikel kitosan, bahan yang digunakan adalah kitosan, tripolifosfat (TPP), dan surfaktan (Wahyono, 2010). Penambahan TPP bertujuan untuk membentuk silang ionik antara molekul kitosan sehingga dapat digunakan sebagai bahan penguat (Mi et al., 1999). Meskipun kitosan memiliki keunggulan sebagai biomaterial, kitosan tidak sepenuhnya larut dalam air melainkan larut terhadap asam. Kelarutan kitosan dalam asam dapat membatasi penggunaan kitosan sebagai pembawa atau barier terhadap zat aktif yang tidak stabil didalam asam. Dengan mempertimbangkan stabilitas ginsenosida dalam pembentukan nanopartikel ginsenosida dengan pembawa kitosantripolifosfat yang mana telah diteliti oleh Shibata (2001) pada penambahan asam klorida pada total ginsenosida pada ekstrak ginseng akan menghidrolisis ginsenosida

menjadi panaksa-diol dan triol maka penelitian ini digunakan kitosan larut air. Kitosan larut air mudah larut dalam larutan netral (air). Kelebihan kitosan larut air adalah kemudahan dalam modifikasi sebagai pembawa atau barier (Zhang et al., 2010). Pada penelitian ini akan dibuat nanopartikel ginsenosida dari ekstrak ginseng dengan pembawa kitosan yang disambung silang dengan tripolifosfat dengan tujuan agar ginsenosida mencapai tujuan target yaitu dermal papila dan dalam upaya untuk mengatur pelepasan ginsenosida yang terdapat didalam pembawa kitosantripolifosfat. Nanopartikel ini dibuat dengan metode sambung silang, dimana amin pada kitosan yang bersifat kationik akan membentuk ikatan silang dengan anionik yang terdapat pada tripolifosfat.

1.2

Rumusan Masalah Bagaimana karakteristik nanopartikel ginsenosida dari ekstrak ginseng dengan

pembawa kitosan-tripolifosfat yang meliputi: a. Ukuran partikel b. Efisiensi enkapsulasi

1.3

Tujuan Penelitian Mengetahui karakteristik nanopartikel ginsenosida dari ekstrak ginseng

dengan pembawa kitosan-tripolifosfat yang meliputi ukuran partikel dan efisiensi enkapsulasi. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang karakteristik nanopartikel ginsenosida dari ekstrak ginseng dengan pembawa kitosantripolifosfat yang meliputi ukuran partikel dan efisiensi enkapsulasi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Ginseng

[Sumber: Arpia et al., 2007)

Gambar 1. Panax ginseng Ginseng diklasifikasikan sebagai berikut (T. Lakshmi, Roy, & R.V, 2011) Kingdom Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Angiospermae : Asterid : Apiales : Araliaceae : Panax : Panax ginseng L. Kata ginseng dari bahasa Cina yaitu jen dan shen. Jen berarti manusia, kata ini dipakai karena bentuk akar ginseng menyerupai bentuk tubuh manusia. Shen berarti akar, akar merupakan bagian paling penting dan berguna. Akar ginseng yang masih muda bentuknya menyerupai bagian tubuh manusia, seperti tangan dan kaki dan kadang-kadang seperti organ reproduksi manusia (Moramarco, 1998). Ginseng mengandung dua bahan aktif, yakni fitokimia dan nutrien. Fitokimia berupa betasitosterol, kampesterol, kariofilen, asam sinamik, escin, asam ferulik, asam fumarik, ginsenosides, kaempferol, asam oleanolik, asam panasik, saponin, stigmasterol, asam vanilik. Nutrien yang dikandung adalah kalsium, serat, folat, zat

besi, magnesium, mangan, fosfor, potassium, silikon, zink, vitamin B1, B2, B3, B5, dan C. Ginsenosida merupakan elemen terpenting dari tanaman ginseng yang berguna bagi kesehatan (Samuel, 2000). Ginseng mengandung komponen serta kandungan kimia seperti lemak, protein, fenolik, vitamin, karbohidrat (Mazza & Oomah, 2000). Komponen utama aktif dari Panax ginseng adalah 30 saponin triterpenoid yang berbeda, atau disebut juga sebagai ginsenosida, yang bervariasi dari spesies yang berbeda dari ginseng. Berdasarkan struktur dammarane, lebih dari empat puluh ginsenosida telah diidentifikasi dan salah satunya adalah ginsenosida Ro, yang berasal dari asam olenoat. Saponin dammarane adalah turunan dari protopanaksadiol atau protopanaksatriol. Secara umum ekstrak ginseng biasanya mengandung ginsenosida. 6 Ginsenosida terbanyak yang telah diidentifikasi (Rb1, Re, Rc, Rd, Rb2, dan Rg1) yang merupakan standar dari produk ginseng (Khalid, Akhtar, & Tahir, 2012).

2.1.1

Ginsenosida

(a)

(b)

Gambar 2. (a)Struktur umum ginsenosida (b) ginsenosida Rb1 (Popovich, Yeo, & Zhang, 2012; Kim et al., 2011) Ginsenosida Rb1 adalah saponin yang merupakan salah satu komponen dari ekstrak ginseng yang telah tercatat sebagai senyawa paling aktif yang berhubungan dengan penumbuh rambut dalam pengobatan tradisional (Choi et al., 2007). Total saponin pada Panax ginseng memiliki efek merangsang folikel rambut menggunakan organ yang telah dikulturasi. Folikel rambut manusia dan folikel vibrissa tikus diobati

dengan total saponin pada Panax ginseng akan meningkatkan penyerapan sistein. Sistein adalah komponen utama dari batang rambut yang kaya filamen keratin. Total saponin juga menunjukkan efek menstimulasi proliferasi pada dermal papila rambut manusia yang dikultur secara in vitro. Dermal papilla merupakan turunan dari sel mesenkim yang berperan pada regulasi dalam menentukan jenis rambut yang diproduksi. Morfologi dari dermal papila dapat berubah melalui siklus pertumbuhan rambut, fase pertumbuhan (anagen), dan fase istirahat (telogen). Hal ini diakibatkan oleh perubahan jumlah sel dan jumlah dari extracellular matrix (ECM) dalam dermal papilla. Dengan demikian proliferasi dari dermal papila dianggap salah satu parameter penting dalam pertumbuhan rambut (Choi et al., 2007).

2.2

Rambut Rambut termasuk salah satu dari adneksa kulit yang tumbuh berasal dari kulit.

Rambut tumbuh dari akar rambut yang ada di dalam lapisan dermis kulit dan melalui saluran folikel rambut keluar dari kulit. Bagian rambut yang keluar dari kulit dinamakan batang rambut (Iswari et al., 2007).

[Sumber: Gawkrodger, 2002]

Gambar 3. Anatomi kulit 2.2.1 Folikel dan Perkembangan Rambut Folikel rambut merupakan selubung yang terdiri atas sarung jaringan ikat di bagian luar (sarung akar asal dermis) yang berasal dari dermis dan sarung akar asal

epitel di bagian dalam yang berasal dari epidermis. Sarung asal epitel terbagi menjadi dua yaitu lapis dalam dan luar. Mengarah ke ujungnya, folikel mengembung membentuk bulbus rambut tempat akar rambut dan selubungnya menyatu sebagai massa sel-sel primitif yang disebut matrix. Dasar bulbus didesak oleh jaringan ikat papilla dan yang berhubungan papilla tempat persatuan antara akar rambut dan selubungnya. Papila rambut, walaupun jauh lebih besar, strukturnya sama dengan papilla dermis yang lain dan mengandung serat jaringan ikat halus, unsur sel dan kaya akan pembuluh darah serta saraf (Lesson T, Lesson C, & Paparo, 1990). Struktur di dalam kulit yang dapat menumbuhkan rambut disebut folikel rambut. Rambut mulai tumbuh pada pangkal folikel rambut (hair bulb) sebagai hasil keratinisasi dari sel-sel epitelial. Sel-sel tersebut terdorong keluar permukaan dikarenakan mitosis yang terjadi pada sel germinal matriks (hair bulb epithelium) (Paulsen, 1980). Pada kehamilan lima atau enam bulan, fetus bayi telah ditumbuhi dengan rambut-rambut halus (lanugo). Kemudian setelah bayi lahir, hampir seluruh lanugo tersebut rontok kecuali pada kulit kepala, alis dan bulu mata. Beberapa bulan setelah kelahiran, keberadaan lanugo digantikan oleh rambut-rambut terminal; tubuh ditutupi dengan lapisan rambut-rambut halus dan pendek yang disebut vellus. Pada masa pubertas, vellus digantikan dengan rambut-rambut terminal tumbuh pada axial dan pubis, wajah, dan meluas pada bagian tubuh lainnya. Sedangkan pada wanita, umumnya hanya pada bagian axial dan pubis (Paulsen, 1980).

Gambar 4. Anatomi rambut (Gawkrodger, 2002)

2.2.2 Folikel dan Struktur Rambut Folikel rambut berada diantara hipodermis atau dermis hingga ke permukaan dalam kulit. Pangkal folikel rambut (hair bulb) terdiri atas sel epitelial (germinal matriks). Sel tersebut menyelubungi dermal papila yang dilalui syaraf dan pembuluh darah. Sel-sel yang berasal dari germinal matriks mengalami keratinisasi membentuk lapisan-lapisan konsentris batang rambut yang bergerak memanjang hingga ke permukaan kulit (Paulsen, 1980). Struktur rambut umumnya dibedakan atas 3 bagian yang terdiri atas (Paulsen, 1980) : a. Germinal matriks Pengelompokkan sel-sel epitelial pada dermal papila dibagi menjadi 4 daerah, walaupun dalam hal pembagiannya belum diketahui secara jelas. Daerah terdekat dengan dermal papila meyerupai stratum basal epidermis dalam struktur dan fungsi. Daerah tersebut mengandung sel-sel epidermal dan melanosit yang berfungsi sebagai pemberi warna pada rambut. Lapisan germinal matriks perlahan berkembang menjadi sel keratin sederhana membentuk medula pada batang rambut dan 3 daerah sel epitelial lainnya. Pada dasar hair bulb, lapisan germinal matriks tumbuh terus-menerus karena selubung akar eksternal mengelilingi seluruh bulb dan rambut. Setelah dekat dengan permukaan kulit, lapisan germinal ini tumbuh terus karena aktivitas dari stratum basal. Sel-sel yang berada pada lapisan selanjutnya membentuk kutikula rambut dan hampir semua lapisan sekeliling germinal matriks membentuk sel-sel keratin selubung dalam akar rambut. b. Lapisan Batang rambut Batang rambut adalah bagian yang menjulur keluar dari permukaan kulit. Batang rambut terdiri dari 3 lapisan konsentris yang dibentuk dari germinal matriks, 3 lapisan tersebut yaitu : (Paulsen, 1980)

1. Kutikula Kutikula merupakan bagian terluar dari lapisan batang rambut yang terdiri dari sel-sel pipih berupa sisik kecil tersusun seperti genting dan mengandung pigmen. Selama lapisan kutikula ini berhubungan dengan pangkal folikel rambut (hair bulb), maka batang rambut tumbuh dengan baik, meninggi, kemudian menjadi batang rambut yang memadat yang disertai dengan sel-sel keratin didalamnya. Akhirnya, sel-sel kertain tersebut keras, membentuk kutikula kembali yang menyirip seperti genting dan menutup permukaan luar rambut. 2. Korteks Korteks merupakan lapisan tengah rambut yang mengandung pigmen, tersusun dari serat-serat sehingga rambut mudah dilenturkan. Korteks mengelilingi medulla dan kemudian membentuk beberapa lapisan sel-sel keratin poligonal yang sempurna. 3. Medula Medula merupakan lapisan rambut yang paling dalam dan terdiri dari 2-4 barisan sel-sel kubus atau poligonal yang termodifikasi, sel-sel ini mengandung keratohialin, butir lemak, rongga-rongga udara dan pigmen. Medula membentuk batang inti yang tipis, yang kemudian membentuk keratin sederhana dan sel-sel vakuola. c. Selubung Akar Rambut Akar rambut adalah seluruh bagian rambut yang terbenam dalam kulit, akar rambut ini diselubungi oleh kantong yang disebut folikel. Pada dasar folikel terdapat dermal papila yang terdiri dari jaringan-jaringan penghubung dan dari sinilah dimulainya pertumbuhan rambut baru. Selama folikel rambut sehat dan berhubungan dengan dermal papila, rambut baru akan tumbuh (Paulsen, 1980). Folikel tidak tegak lurus pada permukaan kulit, tapi membentuk sudut sehingga bagian rambut di permukaan tumbuh merebah ke satu arah (Paulsen, 1980).

Selubung konsentris yang mengelilingi rambut diantara area pangkal folikel (bulb) dan permukaan dalam kulit dapat dibedakan menjadi 4 lapisan, yaitu (Palusen, 1980) : 1. Selubung akar bagian dalam (Internal root sheath) Selubung akar ini merupakan lapisan yang paling dekat dengan batang rambut. Lapisan tersebut memanjang dari bagian pangkal folikel (bulb) sampai ke bagian kelenjar keringat. Dalam hal ini keratin yang kurang keras mengisi follicular canal. Terdapat 3 lapisan komponen yang terdiri atas : kutikula selubung akar bagian dalam (cuticule of the internal root sheath) yaitu lapisan sel pendek yang terpisah dari kutikula rambut karena adanya follicular canal; lapisan tengah yaitu huxleys layer yang terdiri dari satu sampai tiga lapisan sel cuboidal; dan lapisan terluar adalah henleys layer tembus cahaya yang menyerupai stratum lusidum pada epidermis. 2. Selubung akar bagian luar (external root sheath) Selubung ini mengelilingi selubung dalam akar yang tumbuh terusmenerus pada epidermis. Di atas kelenjar keringat, lapisan ini meliputi semua lapisan epidermal. Pada bagian bawah kelenjar keringat, lapisan ini meliputi granulosum, spinosum dan basal. Granulosum menghilang pada dasar folikel, spinosum dan basale berubah secara terus-menerus bersamaan dengan lapisan germinal matriks. 3. Membran kaca (glossy membrane) Membran ini merupakan lapisan tebal yang merupakan dasar dari stratum basal selubung luar akar dan memisah dari jaringan lapisan penghubung. 4. Jaringan lapisan penghubung (connective tissue sheath) Jaringan lapisan penghubung merupakan sebuah lapisan yang mengelilingi seluruh folikel rambut dan membentuk lapisan penghubung terhadap dermal papila yang telah terpisah.

2.2.3 Pertumbuhan Rambut Rambut tumbuh tidak terus-menerus, melainkan berdasarkan periode waktu siklus rambut fase pertumbuhan dan fase istirahat. Pada fase pertumbuhan, sel-sel dalam lapisan germinal matrix mengalami proliferasi dan diferensiasi sehingga rambut menjadi bertambah panjang. Sedangkan pada fase istirahat, germinal matriks dalam keadaan tidak aktif dan terhenti. Rambut mengalami pelepasan dari bulb, bergerak ke atas dan selubung akar bagian luar seperti menarik ke arah permukaan. Akhirnya, terjadi pelepasan rambut (Paulsen, 1980). Selama fase pertumbuhan berikutnya, bagian terbawah dari selubung akar bagian luar tumbuh kembali ke arah bawah, dan kemudian membentuk germinal matriks yang baru dari dermal papila yang sebelumnya atau dari dermal papila yang baru. Kemudian pembentukan hair bulb yang baru yang diikuti dengan proses proliferasi dan diferensiasi sehingga tumbuh rambut yang baru. Siklus pertumbuhan rambut pada seluruh bagian tubuh tidak sama. Melainkan, terjadi pada suatu daerah kecil yang disebut pertumbuhan mosaik. Beberapa hormon, khusunya androgen, mempengaruhi distribusi dan kecepatan pertumbuhan rambut. Pertumbuhan rambut terus berlangsung sampai mencapai panjang tertentu dimana panjang yang dicapai tiap-tiap daerah pertumbuhan rambut berbeda. Setelah panjang maksimal tercapai, rambut akan lepas dan digantikan oleh rambut yang baru (Paulsen, 1980).

2.2.4 Siklus Rambut Kecepatan pertumbuhan rambut di kulit kepala tidak seragam di sepanjang usia. Rambut akan tumbuh sekitar 1/3 milimeter setiap hari atau 1 cm per bulan. Rambut baru akan tumbuh terus secara aktif, tetapi pada suatu saat pertumbuhan itu akan berhenti, istirahat sebentar, dan rambut lama akan rontok, digantikan rambut baru yang telah disiapkan oleh papil rambut yang sama (Iswari & Latifah, 2007). Fase rambut tumbuh disebut fase anagen, lamanya atara 2-5 tahun, dengan rata-rata 3,5 tahun (1.000 hari). Tetapi pada keadaan-keadaan tertentu atau dengan perawatan yang baik, fase anagen dapat diperpanjang. Fase istirahat yang disebut fase

katagen (pendek), yaitu hanya beberapa minggu. Sedangkan fase kerontokan atau fase telogen berlangsung kurang lebih selama 100 hari (Iswari & Latifah, 2007). Selama fase istirahat (katagen), rambut berhenti tumbuh, umbi rambut mengkerut dan menjauhkan diri dari papilla rambut, membentuk bonggol rambut atau rambut gada (club hair), tetapi rambut belum rontok. Sementara itu, papilla mulai membentuk rambut baru. Ketika rambut baru sudah cukup panjang dan akan keluar dari kulit, rambut lama terdesak dan rontok (Iswari & Latifah, 2007). Folikel rambut memiliki siklus fase pertumbuhan rambut yang lama tiap fasenya tergantung dari tempat tumbuh rambut tersebut, umur, nutrisi, hormon, dan fisiologi serta faktor patologi. Siklus rambut tersebut dibagi menjadi 3 fase yang diantaranya adalah (Happle, 2000): a. Fase Anagen Selama fase anagen disebut juga fase aktif atau fase pertumbuhan, pada fase ini folikel berada di bagian dermis kulit dimana keadaan sel-sel matriks, lapisan batang rambut (medula, korteks, kutikula) dan selubung akar rambut bagian dalam (kutikula, Huxley layer;s, Henles layer) dalam keadaan aktif. b. Fase Katagen Fase katagen merupakan fase disaat folikel rambut diubah dari keadaan aktif pada fase pertumbuhan ke fase istirahat. Selama fase katagen, folikel rambut mengalami perubahan morfologi dan fungsi. Pertumbuhan folikel berada pada lapisan kulit dermis yang mengalami penyusutan sekitar sepertiga dari panjangnya, sehingga struktur pertumbuhan rambut dieliminasi menjadi struktur baru berupa folikel rambut fase istirahat. c. Fase Telogen Selama fase telogen atau disebut juga fase istirahat, folikel rambut telah berada pada tahapan akhir yang stabil. Struktur rambut fase istirahat sangat berbeda sekali dari struktur rambut fase pertumbuhan. Struktur dan lapisan sel pada fase pertumbuhan seperti matriks, selubung akar rambut bagian dalam, selubung akar rambut bagian luar dan kutikula rambut

berkurang, dermal papila cenderung membentuk bulb yang terletak di bawah kapsul-kapsul germs cell. Panjang rambut fase istirahat sekitar setengah sampai sepertiganya dari panjang rambut fase pertumbuhan.

Gambar 5. Siklus Pertumbuhan Rambut (Cotsarelis et al., 2001) 2.2.5 Komposisi Rambut Rambut adalah hasil pertumbuhan dari sel-sel epidermis dimana rambut terdiri atas struktur tipis yang bertanduk dengan warna dan ukuran yang berbeda-beda, namun pada umumnya rambut tersebut tersusun atas komponen-komponen rambut, yaitu (Paulsen, 1980): a. Keratin Keratin adalah zat tanduk yang tersusun oleh sel-sel yang telah mati. Keratin terdiri dari asam-asam amino dengan sistein sebagai komponen dengan jumlah terbanyak. b. Sulfur Sulfur terdapat sebagai residu dari sistein dalam lapisan tanduk. Kedua zat ini memegang peranan dalam proses keratinisasi. c. Air Kondisi air merupakan hal yang penting dalam hubungannya dengan sifat fisik dan penampilan rambut. Rambut bersifat higroskopis, beratnya meningkat 12-18% bila air meresap ke dalamnya. Proses absorbsinya sangat cepat.

d. Lemak Lemak rambut meningkat setelah masa pubertas baik pada wanita maupun pria, lemak menurun dengan bertambahnya usia pada wanita tetapi tidak pada pria. Lemak rambut juga berbeda jumlahnya berdasarkan ras bangsa. e. Zat-zat lain Rambut juga mengandung zat-zat lain seperti; ammonia, logam, alkali, logam alkali tanah dan logam berat.

2.2.6 Kerontokan Rambut Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut terminal dalam bentuk apapun dan dimanapun asal mula terjadinya yang berkisar lebih dari 100 helai per hari. Dapat terjadi difus atau lokal. Bila kerontokan ini berlanjut dapat terjadi alopecia (kebotakan) (Brown, 2007). Tipe kerontokan rambut terbanyak adalah kerontokan rambut telogen (telogen efluvium), dimana rambut yang berada pada fase anagen berubah secara prematur manjadi fase telogen sehingga terjadi peningkatan jumlah rambut telogen yang rontok sekitar dua sampai tiga bulan kemudian (Harrison et al., 2009).

2.3

Jalur Transfolikular Bahan aktif yang masuk ke dalam folikel rambut akan berpartisipasi dan

selanjutnya berdifusi ke dalam sebum yang terdapat di dalam folikel rambut hingga mencapai lapisan epitel pada bagian dalam folikel dan kemudian berdifusi menembus epitel folikel hingga mencapai lapisan epidermis (Asmara et al., 2012). Untuk mengetahui adanya penyerapan obat melalui jalur ini, digunakan kombinasi teknik tape stripping dan cyanoacrylate surface biopsy. Dengan

menggunakan kombinasi teknik tersebut, kadar suatu zat di dalam folikel rambut setelah diaplikasikan pada kulit dapat ditentukan (Asmara et al., 2012).

2.4

Nanopartikel Nanopartikel merupakan suatu teknik penyalutan bahan yang ukurannya

sangat kecil, dengan diameter rata-rata 50-200 nm (Baroli et al., 2007). Nanopartikel didefinisikan sebagai suatu padatan pengantar obat yang berukuran submikron (nano), dapat bersifat biodegradabel (Reis et al., 2006). Penelitian nanopartikel sedang berkembang pesat karena dapat diaplikasikan secara luas seperti dalam bidang lingkungan, elektronik, optis, dan biomedis (Jain, 2008). Keuntungan penggunaan nanopartikel sebagai sistem pengantaran terkendali obat ialah ukuran dan karakterisktik permukaan nanopartikel mudah dimanipulasi untuk mencapai target pengobatan. Nanopartikel juga mengatur dan memperpanjang pelepasan obat selama proses transpor ke sasaran, dan obat dapat dimasukkan ke dalam sistem peredaran darah dan dibawa oleh darah menuju target pengobatan (Mohanraj & Chen, 2006). Dibandingkan mikropartikel, nanopartikel memiliki kelebihan yaitu daya serap intraseluler yang relatif tinggi. Ukuran nanometer mampu melewati biological barrier (Reis et al., 2005). Permukaan nanopartikel menjadi pertimbangan yang sangat penting dalam mencapai target pengobatan. Sebenarnya dalam aliran darah, umumnya nanopartikel konvensional (tanpa modifikasi permukaan) dan partikel-partikel bermuatan negatif dengan cepat akan dibersihkan oleh makrofage. Modifikasi permukaan pada sistem nanopartikulat dengan menggunakan polimer hidrofilik adalah cara yang sangat umum untuk mengontrol proses opsonisasi dan meningkatkan sifat permukaan sistem, atau dengan modifikasi penyalutan. Modifikasi penyalutan dapat dilakukan dengan penempelan senyawa polimer seperti polyethylene glycol (PEG) (Reis et al., 2005). Menurut Mohanraj dan Chen (2006), nanopartikel terbagi dua berdasarkan bentuk permukaannya yaitu nanosfer dan nanokapsul. Nanosfer adalah sistem yang memiliki tipe struktur matriks. Pada sistem nanosfer, suatu bahan tersebar secara fisik dan merata yang kemudian diserap oleh permukaan penyalut. Nanokapsul adalah sistem vesikular, suatu bahan pada rongga yang terdiri dari inti dikelilingi oleh

membran polimer. Suatu bahan aktif dapat berada di dalam inti (nanokapsul) dan juga teradsorpsi di sekeliling permukaan (nanosfer). Dua sifat istimewa nanokapsul adalah dapat melindungi atau mengisolasi zat inti dari pengaruh lingkungan luar dan melepaskannya dengan pola terkontrol. Penggunaan nanokapsul pada pangan dapat membantu penyerapan zat gizi yang lebih baik. Nanokapsul dapat mengurangi rasa dan bau yang kurang menyenangkan dari bahan pangan. Nanoteknologi memungkinkan dibuatnya lapisan tipis untuk melindungi makanan (Reis et al., 2006). Ada dua metode yang dapat digunakan dalam sintesis nanomaterial, yaitu secara top down dan bottom up. Top down merupakan pembuatan struktur nano dengan memperkecil material yang besar, sedangkan bottom up merupakan cara merangkai atom atau molekul dengan menggabungkannya melalui reaksi kimia untuk membentuk nanopartikel. Metode yang digunakan pada proses top down antara lain, Pearl/Ball Milling, High Pressure Homogenization, Lithography/etching. Sedangkan proses bottom up yaitu dengan menggunakan teknik sol-gel, presipitasi kimia, dan aglomerasi fasa gas (Raval & Patel, 2011). Teknik penyiapan nanopartikel kitosan dikembangkan dengan 4 metode antara lain : gelasi ionik, mikroemulsi, difusi emulsifikasi pelarut, kompleks polielektrolit (Sailaja, Amareshwar, & Chakravarty, 2010).

2.5

Gelasi Ionik Pembentukan nanopartikel dengan teknik gelasi ionik pertama diperkenalkan

oleh Calvo et al. dan telah diuji dan dikembangkan secara luas. Mekanisme pembentukan nanopartikel kitosan didasarkan dengan interaksi elektrostatik antara amin dari kitosan dan muatan negatif dari polianion seperti tripolifosfat. Teknik ini sangat sederhana dan metode penyiapan dengan lingkungan yang mengandung air. Kitosan dapat dilarutkan dengan asam asetat atau dengan adanya zat penstabil, seperti poloxamer, yang bisa ditambahkan pada larutan kitosan sebelum dan setelah penambahan polianion. Polianion atau polimer anionik kemudian ditambahkan dan

terbentuk nanopartikel secara spontan dengan pengadukan magnetic stirrer pada suhu kamar (Sailaja, Amareshwar, & Chakravarty, 2010).

2.6

Kitosan Kitosan merupakan senyawa berbobot molekul besar yang memiliki rantai

polisakarida (1-4)-2-amino-2-deoksi-D-glukosa dengan rumus kimia (C6H11NO4)n. Gugus amino menggantikan OH pada atom C2 (Muzzarelli et al., 1997). Kitosan diperoleh dari limbah perikanan seperti kulit udang, kepiting, rajungan, dan lain-lain. Kitosan diketahui memiliki sifat yang istimewa yaitu biokompatibel, biodegradabel, dan non toksik, sehingga merupakan biomaterial yang menarik dikarenakan memiliki kemampuan sebagai bahan pembawa obat dan dapat dimodifikasi (Dong-Gon, 2006).

Gambar 6. Struktur Kitosan (Zhigang, 2007) Kitosan merupakan bahan yang tidak berbau, berupa serbuk atau serpihan berwarna krim sampai putih. Kitosan merupakan polisakarida yang terdiri dari kopolimer glukosamin dan N-asetil glukosamin. Derajat deasetilasi yang penting untuk mendapatkan kelarutan produk yang baik adalah sekitar 80-85%. Kitosan secara komersial terdapat dalam berbagai tipe dan grade dengan beragam berat molekul ( antara 10.000 sampai 1.000.000), beragam derajat deasetilasi dan viskositas (Rowe et al., 2009). Kitosan larut dalam sebagian besar larutan asam organik pada pH kurang dari 6,5 seperti formiat, asetat, tartarat, dan asam sitrat serta tidak larut dalam asam fosfat dan asam sulfat. Berat molekul dan derajat deasetilasi adalah faktor utama yang mempengaruhi ukuran partikel, pembentukan partikel dan agregasi (Tiyaboonchai, 2003).

2.7

Tripolifosfat Pembentukan ikatan silang ionik salah satunya dapat dilakukan dengan

menggunakan senyawa tripolifosfat. Penggunaan tripolifosfat untuk pembentukan gel kitosan dapat meningkatkan mekanik dari gel yang terbentuk. Hal ini karena tripolifosfat memiliki muatan negatif yang tinggi sehingga interaksi dengan polikationik kitosan akan lebih besar (Shu & Zhu, 2002). Pembentukkan nanopartikel hanya terjadi pada konsentrasi tertentu kitosan dan TPP. Peran TPP sebagai zat pengikat silang akan memperkuat matriks nanopartikel kitosan (Yongmei & Yumin, 2003). Dengan semakin banyaknya ikatan silang yang terbentuk antara kitosan dan TPP maka kekuatan mekanik matriks kitosan akan meningkat sehingga partikel kitosan menjadi semakin kuat dan keras, serta semakin sulit untuk terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (Wahyono, 2010).

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

3.1 3.1.1

Tempat dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioavailability Bioequivalency

(PBB), Laboratorium Pharmacy Drug Research (PDR) Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Laboratorium Multiguna Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Laboratorium Nanotech Indonesia Serpong. 3.1.2 Waktu Penelitian Proses penelitian ini berlangsung selama April 2013 sampai Mei 2013.

3.2 3.2.1

Alat dan Bahan Alat Particle Size Analyzer (PSA), pengaduk magnetik, spuit, Spektrofotometer

UV-Vis, sentrifus, peralatan gelas, timbangan analitik. 3.2.2 Bahan Ginsenosida dari ekstrak Panax ginseng (PT. Phyto Nutraceutical Inc-China), ginsenosida standar, kitosan (PT. Biochitosan Indonesia), Natrium tripolifosfat (Wako-Japan), tween 80 (PT. Brataco), aquadest.

3.3 3.3.1

Prosedur Kerja Pembuatan Nanopartikel Ginsenosida dari Ekstrak Ginseng dengan Pembawa Kitosan-Tripolifosfat Tabel 1. Formulasi Nanopartikel Ginsenosida F1 Konsentrasi Kitosan 0,1% F2 0,2% F3 0,3% F4 0,4%

Konsentrasi TPP Konsentrasi Tween 80 Ginsenosida

0,1% 0,1% 10 mg/mL

0,1% 0,1% 10 mg/mL

0,1% 0,1% 10 mg/mL

0,1% 0,1% 10 mg/mL

1. Pembuatan Larutan Kitosan 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4% dengan Volume 100 mL Kitosan ditimbang masing-masing sebanyak 0,1 gram, 0,2 gram, 0,3 gram, 0,4 gram dengan menggunakan kaca arloji, kemudian kitosan dilarutkan ke dalam gelas kimia yang berisi aquadest sebanyak 50 mL dan kemudian ditambahkan aquadest sampai 100 mL dan diaduk dengan pengaduk magnetik hingga larut. Setelah itu, larutan kitosan disaring dengan bantuan vacuum menggunakan corong porselen yang dilapisi kain. 2. Pembuatan Larutan Natrium Tripolifosfat 0,1% dengan Volume 100 mL Natrium tripolifosfat 0,1 gram ditimbang dengan menggunakan kaca arloji, kemudian dilarutkan dengan aquadest 80 mL didalam gelas kimia. Setelah itu, dimasukkan dalam labu ukur 100 mL dan genapkan dengan aquadest sampai tanda batas 3. Pembuatan Larutan Tween 0,1% dengan Volume 100 mL Tween 80 sebanyak 0,1 mL kemudian dilarutkan dengan aquadest sebanyak 90 mL didalam gelas kimia. Setelah itu dimasukkan dalam labu ukur 100 mL dan genapkan dengan aquadest sampai tanda batas. 4. Pembuatan Nanopartikel Ginsenosida dengan Pembawa Kitosan-Tripolifosfat Masing-masing larutan kitosan 0,1-0,4% dimasukkan ke dalam gelas kimia sebannyak 20 mL. Ginsenosida dengan konsentrasi 10 mg/mL dilarutkan dalam larutan tween 80 0,1 % dalam gelas kimia yang berbeda dan dilarutkan menggunakan pengaduk magnetik. Kemudian 10 mL larutan ginsenosida ditambahkan ke dalam larutan kitosan 0,1-0,4% dan dihomogenkan dengan pengaduk magnetik, kemudian larutan kitosan 0,1-0,4% ditambahkan sampai 50 mL. Setelah itu, ke dalam larutan kitosan ditambahkan 10 mL natrium

tripolifosfat 0,1% tetes demi tetes dan sambil diaduk dengan pengaduk magnetik dengan kecepatan 700 rpm selama 30 menit.

3.4 3.4.1

Evaluasi Nanopartikel Karakteristik Nanopartikel (Saha, Goyal, & Rath, 2010) Ukuran partikel diukur dengan menggunakan alat Particle Size Analyzer

(PSA). 5 mL suspensi nanopartikel gisenosida diukur diameternya menggunakan alat Particle Size Analyzer.

3.4.2

Karakterisasi Gugus Fungsi Nanopartikel dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) (Zhang et al., 2010) Sebanyak 2 mg sampel nanopartikel dicampur dengan 100 mg KBr untuk

dibuat pelet. Pelet yang terbentuk diukur dengan FTIR pada jangkauan panjang gelombang 4000-400 cm-1.

3.4.3

Efisiensi Enkapsulasi (Rafeeq et al., 2010) Larutan ginsenosida dalam metanol dengan konsentrasi 100 ppm diukur

absorbansinya pada panjang gelombang 190-400 nm. Panjang gelombang maksimum (maks) yang diperoleh digunakan untuk analisis selanjutnya. Kurva standar dibuat dengan konsentrasi ginsenosida standar 10, 20, 30, 40, 50 ppm. Nanopartikel ginsenosida disentrifugasi dengan kecepatan 16000 rpm pada suhu 250C selama 30 menit. Supernatan yang diperoleh diukur dengan spektrofotometer UV pada maks. Efisiensi enkapsulasi dihitung dengan persamaan:

Efisiensi enkapsulasi =

x 100%

3.5

Alur Penelitian Pembuatan nanopartikel ginsenosida dari ekstrak ginseng dengan konsentrasi kitosan 0,1%, 0,2%, 0,3%, 0,4%

Evaluasi

Karakterisasi Nanopartikel Efisiensi Enkapsulasi 1. PSA 2. FTIR

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan