Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL BISNIS PEMBENIHAN BUDIDAYA IKAN NILA

di Desa Janti, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.

Surakarta, 22 November 2012 Disusun oleh:

DWI WORO PUSPO RIANTI HERRA ASTUTI

F3610039 F3610056

UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2012

A. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN

1. DATA PERUSAHAAN Nama Perusahaan Bidang Usaha Jenis Produk / Jasa Alamat Perusahaan No. Telp Mulai Berdiri : Pembenihan Ikan Nila : Perikanan : Ikan Nila : Desa Janti, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten : (0272) 3124078 : 2 November 2012

B. STRUTUR ORGANISASI

PEMILIK

KARYAWAN 1

KARYAWAN 2

C. ANALISIS PASAR DAN PEMASARAN PRODUK ATAU JASA YANG DIHASILKAN

Ikan Nila adalah sejenis ikan konsumsi air tawar. Ikan ini diintroduksi dari Afrika tepatnya Afrika bagian timur yaitu di sungai Nil (Mesir), danau Tanganyika, Chad, Nigeria, dan Kenya pada tahun 1969, dan kini menjadi ikan peliharaan yang populer di kolam-kolam air tawar di Indonesia. Nama ilmiahnya adalah Oreochromis niloticus, dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia.Genus Oreochromis merupakan genus ikan yang beradaptasi tinggi dan mempunyai toleransi terhadap kualitas air dengan kisaran yang lebar. Genus ini dapat hidup dalam kondisi lingkungan yang ekstrim sekalipun karena sering kali ditemukan hidup normal pada habitat-habitat yang ikan air tawar dari jenis lain tidak dapat hidup. Ciri ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah garis vertikal yang berwarna gelap di sirip ekor sebanyak enam buah, di sirip punggung (dorsal), sirip dubur (anal), berpunggung tinggi dan rendah. Ikan nila yang masih kecil belum tampak perbedaan alat kelaminnya. Setelah berat badannya mencapai 50 gram, dapat diketahui perbedaaan antara jantan dan betina. Untuk membedakan antara ikan jantan dan betina dapat dilakukan dengan mengamati seksama lubang genitalnya (kelamin sekunder). Pada ikan jantan, warna tubuhnya lebih gelap, tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh, terdapat lubang anus dan satu lubang genital yang berupa tonjolan agak kecil meruncing sebagai saluran pengeluaran air kencing dan sperma. Rasio jumlah ikan jantan dan betina ideal adalah 3:1, yaitu jumlah ikan betina ebih banyak daripada ikan jantan. Padat penebaran disesuaikan dengan wadah atau kolam budidayanya. Bila ikan nila dipelihara dalam kepadatan populasi yang tinggi, pertumbuhannya kurang pesat. Kualitas air yang kurang baik akan mengakibatkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Berikut parameter yang menentukan kualitas air : Suhu air Suhu air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu juga mempengaruhi oksigen terlarut dalam perairan. Suhu optimal untuk hidup ikan nila pada kisaran 14-38 C, secara alami ikan ini dapat memijah pada suhu 2237 C namun suhu yang baik untuk perkembanganbiakannya berkisar 25-30 C. pH air

Nilai pH merupakan logaritma negatif dari aktivitas ion hydrogen. Beberapa faktor yang mempengaruhi pH perairan yaitu aktivitas fotosintesis dan suhu.

Ammonia (NH3) Amonia merupakan bentuk utama ekskresi nitrogen dari organisme akuatik. Sumber utama ammonia (NH3) adalah bahan organik dalam bentuk sisa pakan, kotoran ikan maupun dalam bentuk plankton dari bahan organik tersuspensi. Pembusukan bahan organik terutama yang banyak mengandung protein menghasilkan ammonium (NH4+) dan NH3. Bila proses lanjut dari pembusukan (nitrifikasi) tidak berjalan lancar maka akan terjadi penumpukan NH3 sampai pada konsentrasi yang membahayakan bagi ikan.

Oksigen Terlarut (DO) Oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan, aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Sumber oksigen dapat berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer sekitar 35% dan aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran (untuk kolam yang bagian dasarnya berlumpur) juga akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air yang disebabkan oleh adanya plankton, air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuning dan hijau kecoklatan karena banyak mengandung diatom. Plankton ini baik untuk makanan ikan nila. Sedangkan plankton biru kurang baik. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan.

BUDIDAYA IKAN NILA DAN PROSPEKNYA Budidaya ikan nila disukai karena ikan nila mudah dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Selain dipelihara di kolam biasa seperti yang umum dilakukan, ikan nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti kolam air deras, kantung jaring apung, karamba, sawah, bahkan dalam tambak (air payau) sekalipun.

Salah satu daerah yang potensial untuk budidaya ikan nila di Indonesia adalah Provinsi Jawa Tengah, khusunya Kabupaten Klaten. Bahkan ikan nila merupakan komoditas unggulah Jawa Tengah. Ini mengingat ikan nila selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet (daging tanpa tulang dan kulit). Budidaya ikan nila di wilayah Klaten, dilakukan di lahan kolam maupun lahan nonkolam berupa sawah dan perairan umum seperti rawa/waduk, sungai dan genangan air lainnya. Sementara itu luas lahan kolam di Kabupaten Klaten yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan mencapai 110,37 ha. Namun demikian, mengingat kedalaman air dan debit air yang terbatas dan cenderung berfluktuasi, maka hanya sebagian kecil saja yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Sedangkan lahan non-kolam yang kini telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan antara lain adalah sawah (mina padi), rawa/waduk (karamba dan jaring tancap), dan perairan umum. Sumber air utama untuk memenuhi kebutuhan air kolam adalah berupa mata air (umbul).

D. PEMBENIHAN DAN PEMBESARAN Di Kabupaten Klaten, perikanan budidaya ikan nila berkembang pesat. Perkembangan ini didukung dengan adanya usaha pembenihan dan pembesaran. a. Pembenihan Ikan Kegiatan pembenihan ikan nila di kolam sangat ditentukan oleh ketersediaan air yang kontinyu dan dalam jumlah yang mencukupi. Di Kabupaten Klaten, Kecamatan Polanharjo dan Kecamatan Tulung yang memiliki sumber air berlimpah berupa mata air, dikenal sebagai penghasil benih ikan nila terbesar di wilayah tersebut. Di Kecamatan Polanharjo yang memiliki kolam paling luas di Kabupaten Klaten yaitu 6,41 ha (15,21% dari total luas kolam di Klaten) sangat potensial dijadikan sebagai sentra produksi benih.

Gambar 4.1 Kolam pemijahan di Desa Janti, Klaten b. Pembesaran Ikan Usaha pembesaran ikan nila dilakukan di banyak Kecamatan di Kabupaten Klaten. Seperti halnya usaha pembenihan, maka usaha pembesaran ikan nila di Kabupaten Klaten juga berlangsung di lahan kolam maupun non kolam. Sentra pembesaran ikan di kolam terdapat di Kecamatan Polanharjo, Kecamatan Karanganom dan Kecamatan Tulung. Faktor sumber air yang melimpah serta banyak bermunculannya restoran apung dan kolam pemancingan di kedua Kecamatan tersebut telah memicu usaha pembesaran ikan di sana. Rerata produksi ikan konsumsi di kedua Kecamatan Polanhardjo sebesar 371,439 ton per tahun. Produksi ikan konsumsi di Kecamatan Polanharjo secara pelan namun pasti terus mengalami peningkatan dibanding wilayah lainnya. Terkait dengan perikanan budidaya ikan nila, maka pada buku pola pembiayaan usaha kecil ini akan diuraikan lebih banyak tentang usaha pembersarannya.

Gambar 4.2. Kolam Pembesaran Ikan Nila di Kecamatan Polanharjo

E. TARGET ATAU SEGMEN PASAR YANG DITUJU Meskipun jumlah petani ikan nila cukup banyak di Kabupaten Klaten, namun karena sampai saat ini jumlah permintaan lebih banyak dibandingkan penawaran, maka para petani ikan nila di sana dapat dikatakan belum merasakan persaingan. Peluang usaha untuk budidaya ikan nila ini masih sangat besar. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan pemenuhan gizi dari sumber protein hewani yang murah serta kepedulian akan kesehatan dengan mengurangi konsumsi daging merah. Harga Penentuan harga ikan nila dilakukan oleh kelompok petani ikan dan pasar. Harga yang diberikan untuk pedagang (yang membeli dalam jumlah banyak) berbeda dengan harga untuk pembeli eceran. Saat survei dilakukan (tahun 2011), harga ikan nila untuk pembelian dalam jumlah banyak sebesar Rp10.700,- per kilogram, sedangkan harga ikan nila eceran mencapai Rp14.000,- per kilogram. Jalur Pemasaran Jalur pemasaran ikan nila sangatlah sederhana. Pembeli (baik membeli dalam jumlah besar maupun eceran) dapat langsung mendatangi pemilik kolam yang sedang panen dan membeli hasil panenannya setelah ditimbang di tempat. Pembeli berasal dari daerah setempat dan luar daerah.

Gambar 5.1. Kolam Ikan Nila yang Dilengkapi Dengan Timbangan Pembeli dalam partai besar (pedagang pengepul) akan menjual ikan nila tersebut untuk restoran terapung atau tempat-tempat pemancingan. Pedagang pengepul akan mengangkut

ikan nila yang dibelinya dari pembudidaya ikan ke tempat pemancingan ikan di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Semarang.

Gambar 5.2. Jalur Pemasaran Ikan Nila Kendala Pemasaran Masa budidaya usaha pembesaran ikan nila adalah 4 (empat) bulan. Apabila ikan berada di kolam lebih dari waktu yang sudah ditentukan maka akan memperbesar biaya pakannya. Untuk itu ikan nila setelah 4 bulan dipelihara di kolam pembesaran harus dipanen. Mengingat permintaan ikan nila masih lebih besar dibandingkan penawarannya, sejauh ini pembudidaya ikan nila belum merasakan adanya kendala dalam pemasaran, karena ikan yang dipanen selalu habis terjual.

F. ASPEK PRODUKSI Lokasi Usaha Lokasi usaha budidaya ikan nila sangat menentukan keberhasilan budidaya tersebut. Terdapat beberapa persyaratan untuk lokasi budidaya ikan nila, antara lain : 1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan ikan nila adalah jenis tanah liat/lempung. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam. 2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi. 3. Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m di bawah permukaan laut). 4. Air jangan terlalu keruh dan tidak tercemar baik dari limbah industri ataupun rumah tangga. Kecerahan untuk di kolam yang baik + 45 cm sedangkan di tambak + 30 cm. 5. Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih. Nilai keasaman air (pH) berkisar 6-8,5 dengan nilai optimal 7-8.

6. Suhu air yang optimal berkisar antara 25oC-30oC. 7. Ikan nila mampu hidup pada kadar garam 0-35 permil. 8. Dekat dengan sumber air, dimana sumber air bisa berasal dari saluran irigasi, sungai, sumur ataupun umbul.

Gambar 6.1. Pembesaran Ikan Nila dengan Menggunakan Happa Teknis Budidaya a. Kolam Pembesaran Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Benih yang akan dibesarkan dapat berasal dari pendederan I (gelondongan kecil) ataupun pendederan II. Kalau benih yang berasal pendederan II, berarti ukuran benih sudah cukup besar, sehingga waktu yang dibutuhkan sampai panen tidak terlalu lama. Usaha semacam ini mengandung resiko yang lebih kecil, karena tingkat mortalitasnya rendah. Hasil panen yang seragam atau serempak pertumbuhannya dengan ukuran super adalah salah satu target yang harus dicapai. Ada 3 (tiga) faktor penting yang harus diperhatikan dalam usaha pembesaran, yaitu : kualitas benih, kualitas pakan yang diberikan dan kualitas airnya itu sendiri.
a.

Kualitas benih. Benih unggul berasal dari induk yang unggul, karena itu sebaiknya benih dibeli dari tempat pembenihan yang dapat dipercaya atau yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah, seperti BBI. Benih baik bisa

berasal dari hasil rekayasa genetika seperti nila gift, proses seleksi, proses persilangan dan sebagainya. Ciri-ciri benih yang berkualitas yaitu tubuhnya tidak cacat/ luka, aktif berenang, senang bergerombol dan apabila dikejutkan benih akan berpencar secara cepat, sisik teratur rapi dan tidak kaku serta sirip lengkap dan proporsional. b. Kualitas pakan. Pakan yang diberikan harus tepat dan dalam jumlah yang mencukupi. Yang dimaksud tepat dalam hal ini adalah tepat ukuran, nilai nutrisi, keseragaman ukuran dan kualitas. c. Kualitas air. Air yang digunakan untuk usaha pembesaran harus memenuhi syarat, dalam arti kandungan kimia dan fisika harus layak, bebas dari pencemaran dan tersedia sepanjang waktu. b. Fasilitas Produksi dan Peralatan Langkah awal yang paling penting pada usaha budidaya pembesaran ikan nila adalah mempersiapkan kolam yang akan digunakan sebagai sarana budidaya. Sebelum benih ditebarkan, kolam harus dikeringkan selama beberapa hari. Selama pengeringan tanah perlu dibolak-balik agar gas-gas beracun seperti H2S dan NH3 dapat menguap. Disamping itu perlu ada perbaikan pematang, saluran air, pintu pemasukan dan pengeluaran. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran yang menyebabkan hama masuk ke dalam kolam. Langkah selanjutnya adalah melakukan pengapuran dengan maksud untuk memberantas hama dan penyakit. Untuk menumbuhkan plankton, selanjutnya kolam perlu dipupuk dengan pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik yang biasa di gunakan adalah dari kotoran ternak seperti kotoran sapi, kambing, kerbau ataupun ayam, sedangkan pupuk anorganiknya adalah Urea dan TSP. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian, pembudidaya ikan nila di wilayah tersebut, tidak melakukan kegiatan persiapan kolam sebelum benih ditebarkan. Artinya, setelah panen selesai dilakukan, benih ikan kemudian langsung ditebarkan (masa pemeliharaan di kolam pembesaran selama 4 bulan). Pertimbangannya adalah dengan debit air yang cukup besar dan mengalir sepanjang tahun, maka sisa kotoran hasil metabolisme dan sisa pakan akan keluar sehingga

kualitas air tetap terjaga. Dengan demikian mereka menganggap tidak perlu melakukan pengeringan kolam. Terlebih karena sumber air yang digunakan pembudidaya setempat berasal dari mata air (umbul) yang mengalir sepanjang tahun. Air umbul merupakan sumber air bebas pathogen, terutama bila jarak antara sumber air dengan unit budidaya tidak terlalu jauh dan bebas dari kontaminasi.

Gambar 6.2. Kolam Pembesaran Nila yang Memanfaatkan Sumber Air (Umbul) Meskipun ada sisi baiknya, namun sumber air tersebut miskin plakton, sementara kandungan nitrogen, besi, dan logam beratnya tinggi. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan ikan yang dibudidayakan terganggu dan menimbulkan penyakit non infeksi. Untuk mendukung operasional maka diperlukan beberapa peralatan seperti: jala, anco, drum, ember, timbangan, tabung oksigen, serok, jaring dan cangkul. Pada kolam intensif mestinya harus dilengkapi dengan peralatan untuk mengukur kualitas air seperti: DO meter, pH meter, Thermometer dan Spektrophotometer kalau memungkinkan. Alat yang terakhir ini sangat diperlukan mengingat pada kolam intensif dihasilkan sisa buangan yang banyak dan memungkinkan tercemarnya kolam tersebut ( NH3 dan H2S). Teknik Operasional Usaha pembesaran nila di Kecamatan Karanganom dan Polanharjo, Kabupaten Klaten dilakukan dengan cara sederhana. Karena sumber airnya bersih dan mengalir lancar, maka

petani nila di Kabupaten Klaten tidak melakukan usaha persiapan kolam seperti pengeringan kolam, penjemuran dan pembersihan kolam dari rumput dan kotoran. Juga tidak dilakukan usaha pengapuran dan pemupukan kolam. Yang dilakukan pembudidaya adalah mengecek saluran air dan saringan yang dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran, untuk memperlancar aliran. a. Penebaran Benih dan Pengaturan Kepadatan Benih ikan yang ditebarkan harus mempunyai kualitas yang baik dan seragam ukurannya. Benih ditebar pada pagi/sore hari saat suhu udara masih rendah. Hal ini dimaksudkan supaya benih ikan tidak mengalami stres. Kepadatan atau kerapatan ikan yang dibudidayakan harus disesuaikan dengan standar atau tingkatan budidaya. Peningkatan kepadatan akan menyebabkan daya dukung kehidupan ikan per individu menurun. Kepadatan yang terlalu tinggi (overstocking) akan meningkatkan kompetisi pakan, ikan mudah stress dan akhirnya akan menurunkan kecepatan pertumbuhan

Gambar 6.3 Tingkat Kepadatan Ikan Nila yang Tinggi di Kolam Pembesaran Pembudidaya setempat menggunakan kepadatan 1 ton benih (sekitar 20.000 ekor) untuk kolam seluas 100 m2. Benih yang ditebar ukurannya 5-7 cm dan diambil dari daerah setempat. Padat penebaran sebesar itu dianggap sudah tinggi dan dapat dikategorikan dalam tipe usaha pembesaran yang intensif. b. Pemberian Pakan

Ikan nila termasuk dalam golongan ikan omnivora atau pemakan segala. Jenis, ukuran dan jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran ikan nila yang dipelihara. Ada dua jenis pakan ikan nila, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Disamping itu dapat pula diberikan pakan alternatif. Pakan alami ikan nila adalah jasad - jasad renik, kutu air, cacing, jentik-jentik serangga dan sebagainya. Pakan alternatif yang biasa diberikan adalah sisa - sisa dapur rumah tangga. Yang perlu dicermati dalam pemberian pakan alternatif ini adalah bahwa pakan tersebut merupakan reservoir parasit/mikro organisme, sehingga pemanfaatan makanan tersebut akan melengkapi siklus hidup beberapa parasit ikan. Oleh karena itu pemberian pakan alternatif, terutama yang sudah jelek kualitasnya (busuk) sejauh mungkin dihindari. Kebersihan pakan, cara pemberian dan penyimpanannya perlu diperhatikan benar agar transmisi parasit dan penyakit tidak terjadi pada hewan budidaya. Dengan melihat kekurangan yang ada pada pakan alternatif/tambahan, maka seyogyanya ikan nila diberikan pakan buatan yang memenuhi persyaratan baik nutrisinya maupun jumlahnya. Walaupun banyak nilai kebaikan dari pakan buatan, tapi harus diperhatikan pula dari segi finansialnya, karena hampir 50% dari biaya produksi merupakan biaya pakan. Pakan ikan yang digunakan oleh pembudidaya di daerah survei adalah pakan buatan (pelet). Pakan ini diberikan dengan cara ditebarkan secara merata dengan tujuan adar setiap individu ikan akan mendapatkannya, sehingga tidak terjadi persaingan. Dosis yang dipergunakan adalah 3-5% dari bobot tubuhnya setiap hari. Pakan diberikan 2-3 kali sehari. c. Pemanenan Panen ikan nila dilakukan secara total, yaitu dengan cara mengeringkan kolam hingga ketinggian air tinggal 10 cm. Petak pemanenan atau petak penangkapan dibuat seluas 1 m2 di depan pintu pengeluaran. Dengan demikian ikan yang sudah terkumpul akan mudah ditangkap. Pemanenan dilakukan pada pagi hari saat cuaca belum panas

dengan menggunakan waring yang halus. Pemanenan dilakukan dengan hati-hati dan waktu yang secepatnya, hal ini untuk menghindari luka pada ikan.

Kendala Produksi Kendala yang sering dihadapi oleh pembudidaya ikan nila adalah serangan hama dan penyakit. Kerugian akibat hama biasanya tidak sebesar serangan penyakit. Meskipun demikian kedua-duanya harus mendapat perhatian penuh, sehingga usaha budidaya dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Pencegahan merupakan tindakan yang paling efektif dibandingkan dengan pengobatan. Dengan padat penebaran yang demikian tinggi pada pembudidaya yang intensif, maka serangan penyakit dapat terjadi sewaktu-waktu, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan tinggal menunggu waktu. Monitoring yang ketat dan konsisten merupakan langkah yang harus dikerjakan dalam usaha budidaya yang modern. Monitoring tidak hanya dilakukan pada ikan yang dibudidayakan saja, tetapi juga terhadap kondisi airnya. Kalau diperhatikan dengan cermat, sebelum ikan terkena penyakit maka akan menunjukkan gejala-gejala terlebih dahulu, diantaranya nafsu makan yang berkurang, gerakan menjadi lambat, pengeluaran lendir yang berlebihan dan pada stadium selanjutnya akan terlihat perubahan warna, bahkan mulai ada luka pada tubuhnya. Semua gejala tersebut dapat dilihat secara visual. Gejala ini sebenarnya tidak hanya tampak pada ikannya saja, tapi juga kondisi airnya. Air kolam tampak lebih kental atau pekat, akibat pengeluaran lendir yang berlebihan. Apabila melihat gejala ini, maka harus segera dilakukan langkah pengobatan sebelum penyakitnya menjadi lebih parah. Pengobatan yang lebih dini akan mengurangi jumlah ikan yang mati, bahkan akan menyelamatkan ikan yang kita budidayakan.

Hama Hama adalah organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh dan mempengaruhi produktifitas, baik secara langsung ataupun bertahap. Hama ini bisa

berasal dari aliran air masuk, udara maupun darat. Ada 2 (dua) cara yang biasanya digunakan untuk mencegah hama: 1. 2. Dengan melakukan pengeringan dan pemupukan kolam. Dengan memasang saringan pada pintu pemasukan air (inlet). Hama pada ikan nila yang biasanya ditemui adalah ular, kodok, "ucrit" (larva capung), ikan-ikan buas, linsang dan burung pemakan ikan.

Gambar 4.4. Kolam Yang Dilengkapi Dengan Perangkat Pencegah Hama

Penyakit Penyakit dapat disebabkan karena adanya gangguan dari jasad hidup atau sering disebut dengan penyakit parasiter dan yang disebabkan oleh faktor fisik dan kimia perairan atau non parasiter. Jasad hidup penyebab penyakit tersebut diantaranya adalah virus, jamur, bakteri, protozoa, nematoda dan jenis udang renik. Penyebaran penyakit dari satu ikan ke ikan lainnya dapat melalui: 1. 2. 3. 4.
5.

Aliran air yang masuk ke kolam. Media tempat ikan tersebut hidup Kontak langsung antara ikan yang sakit dan ikan yang sehat. Kontak tidak langsung yaitu melalui peralatan yang terkontaminasi (selang air, gayung, ember dsb). Agent atau carrier perantara atau pembawa).

Beberapa tindakan untuk mengatasi serangan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: 1. Penambahan bahan kimia ke air. Cara ini dilakukan dengan merendam ikan yang sakit ke dalam air yang telah diberi larutan senyawa kimia. Setelah direndam beberapa saat kemudian ikan dikembalikan ke kolam. Selain itu dapat juga dengan menambahkan larutan senyawa kimia ke dalam air kolam secara langsung. 2. Penambahan bahan kimia ke dalam pakan. Prinsip pengobatan dengan cara ini adalah dengan mencampurkan obat ke dalam pakan. Tujuannya adalah selain untuk membunuh organisme penyebab penyakit juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 3. Aplikasi obat langsung ke ikan. Pengobatan ini dapat dilakukan melalui penyuntikan. Tindakan pengobatan melalui penyuntikan ini hanya efektif jika ikan yang terserang penyakit jumlahnya sedikit. Bakteri, jamur dan parasit merupakan sumber utama penyakit pada ikan nila, walaupun demikian masih ada penyakit lain yang belum diketahui penyebabnya. Berikut ini disajikan tabel yang memuat gejala klinis, diagnosa dan pengobatannya. Tabel 4.2 Gejala Klinis dan Pengobatan pada Ikan Nila yang Terkena penyakit Gejala klinis Ada bintik putih di sekujur tubuh (white spot) Pertumbuhan lambat, badan kurus Lernea Diagnosa Ichthyopthirius Pengobatan Methylene Blue (MB), NaCl, PK Formalin

G. ASPEK SOSIAL EKONOMI Aspek Ekonomi Usaha budidaya ikan nila memberikan manfaat secara ekonomis bagi masyarakat setempat, antara lain berupa :

1.

Penyediaan lapangan kerja, bukan hanya bagi petani ikan, tetapi juga pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha budidaya ini, seperti pedagang ikan, buruh, usaha pengangkutan dan lain-lain.

2. 3.
4.

Sumber pendapatan keluarga bagi pembudidaya dan pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha budidaya ini. Meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDRB) Pemerintah Daerah setempat baik melalui peningkatan volume produksi dan atau perluasan pasar. Sumber penerimaan devisa negara melalui penjualan ikan nila baik dalam bentuk utuh beku, fillet segar, atau fillet beku ke pasar luar negeri (ekspor). Usaha ini juga memiliki kaitan ke hulu ( backward linkage) yaitu pada usaha pembuatan pakan ikan, pupuk buatan serta budidaya pembenihan ikan nila. Disamping itu juga memiliki kaitan ke hilir ( forward linkage) seperti pada usaha perdagangan ikan, jasa pengangkutan, rumah makan, jasa rekreasi peman-cingan, pengolahan fillet ikan, dan sebagainya.

5.

Aspek Sosial Dengan tersedianya sumber protein yang harganya terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, maka secara tidak langsung usaha budidaya ikan nila ini juga bermanfaat untuk memperbaiki gizi masyarakat. Disamping itu dengan menyediakan lapangan kerja, budidaya ikan nila ini dapat berfungsi untuk mengurangi tingkat pengangguran, yang pada akhirnya juga berdampak pada pengurangan kemiskinan dan kerawanan sosial.

H. ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN Pada saat penggantian air kolam, maka air yang mengalir dari kolam ikan nila tersebut bercampur dengan kotoran ikan, sisa-sisa makanan dan ikan yang mati, yang kadang-kadang menimbulkan bau tidak sedap. Air kolam tersebut dapat dianggap mencemari ataupun mendukung lingkungan tergantung pada lokasi budidaya. Jika lokasi budidaya ikan nila dilakukan di perairan umum, dapat dianggap menimbulkan pencemaran air dan udara karena kotoran dan baunya. Namun bila budidaya ikan ini dilakukan di lahan yang bercampur

dengan tanaman atau di sawah, air kolam yang bercampur kotoran ini justru dianggap menyuburkan tanaman.

I.

PROYEKSI PENJUALAN Estimasi Penjualan PEMBENIHAN Satu Paket Indukan yang berisi 400 ekor ikan nila seberat 200 kilogram, dengan 100 nila jantan dan 300 nila betina yang nantinya bisa menghasilkan sekitar 600.000 anakan Indukan Pelet : 200 kg : 3 sak x x Rp. 18.000,00 Rp. 225.000,00 = = = Rp. 3.600.000,00 Rp. Rp. 675.000,00 200.000,00 +

Peralatan Panen:

Total Modal :

Rp. 4.475.000,00

Total panen anakan ikan nila

600.000 x Rp. 10,00 =

Rp. 6.000.000,00

Keuntungan = =

Rp. 6.000.000,00 Rp. 4.475.000,00 Rp. 1.525.000,00

Jadi, Keuntungan yang diperoleh adalah Rp. Rp. 1.525.000,00 TAHUN PERTAMA PENDEDERAN I

Membesarkan anakan ikan nila sampai dengan ukuran 2 cm, 4 cm, sampai 5 cm. waktu yang dibutuhkan untuk budidaya ini adalah 3 bulan.

Modal : Larva Ikan Nila : Rp. 10,00 x 600.000 ekor Pelet Total Setelah 3 bulan ditimbang seberat 575 kg Penjualan : Kolam pertama : 200 kg x Kolam Kedua :135 kg x Kolam Ketiga : 165 kg x TOTAL PENJUALAN Rp. 20.000,00 Ro.20.000,00 Rp.20.000,00 = = = = Rp. 4.000.000,00 Rp. 2.700.000,00 Rp. 3.300.000,00 Rp.10.000.000,00 + : Rp 225.000,00 x 8 = = = Rp. 6.000.000,00 Rp. 1.800.000,00 Rp. 7.800.000,00 +

PENDEDERAN II Pendederan II, benih yang dibutuhkan lebih sedikit dan waktu yang dibutuhkan untuk memanen sekitar 3 bulan. Estimasi Usaha : Benih Pelet TOTAL : Rp. 10,00 x 400.000 = = = Rp. 4.000.000,00 Rp. 1.350.000,00 Rp. 5.350.000,00 +

: Rp. 225.000,00 x 6

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 6 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 356 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp. 20.000,00 Penjualan : Kolam pertama : 108 kg x Kolam Kedua : 114 kg x Kolam Ketiga : 134 kg x TOTAL PENJUALAN Rp. 20.000,00 Ro.20.000,00 Rp.20.000,00 = = = = Rp. 2.160.000,00 Rp. 2.280.000,00 Rp. 2.680.000,00 Rp. 7.120.000,00 +

PENDEDERAN KE III Jangka waktu Panen 3 Bulan Estimasi Usaha : Benih Pelet : Rp. 10,00 x 650.000 = Rp. 6.500.000,00 = Rp. 1.800.000,00 +

: Rp. 225.000,00 x 8

TOTAL

= Rp. 8.300.000,00

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 14 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 550 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp. 20.000,00 Penjualan : Kolam pertama : 180 kg x Kolam Kedua : 235 kg x Rp. 20.000,00 Ro.20.000,00 = = Rp. 3.600.000,00 Rp.4.700.000,00

Kolam Ketiga : 130 kg x

Rp.20.000,00

Rp.2.700.000,00

TOTAL PENJUALAN

Rp. 11.000.000,00

PENDEDERAN KE IV Jangka waktu Panen 4 Bulan Estimasi Usaha : Benih Pelet : Rp. 10,00 x 800.000 = Rp. 8.000.000,00 +

: Rp. 225.000,00 x 15

= Rp. 3.375.000,00

TOTAL

= Rp. 11.375.000,00

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 15 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 980 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp.19.000,00

Penjualan : Kolam pertama : 325 kg x Kolam Kedua : 375 kg x Kolam Ketiga : 380 kg x Rp. 21.000,00 Ro.21.000,00 Rp.21.000,00 = = = Rp. Rp. Rp. 6.825.000,00 7.875.000,00 7.980.000,00 +

TOTAL PENJUALAN

Rp. 22.680.000,00

TAHUN KE 2 PENDEDERAN I Pendederan I, benih yang dibutuhkan lebih banyak dan waktu yang dibutuhkan untuk memanen lebih panjang sekitar 3 bulan.

Estimasi Usaha : Benih Pelet : Rp. 15,00 x 500.000 = Rp. 7.500.000,00 = Rp. 2.250.000,00 +

: Rp. 225.000,00 x 10

TOTAL

= Rp. 9.750.000,00

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 10 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 480 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp.23.000,00

Penjualan : Kolam pertama : 200 kg x Kolam Kedua : 140 kg x Kolam Ketiga : 140 kg x TOTAL PENJUALAN Rp. 23.000,00 Ro.23.000,00 Rp.23.000,00 = = = = Rp. 4.600.000,00 Rp. 3.220.000,00 Rp . 3.220.000,00 Rp.11.040.000,00 +

PENDEDERAN II Pendederan II, benih yang dibutuhkan lebih sedikit dan waktu yang dibutuhkan untuk memanen lebih panjang sekitar 3 bulan. Estimasi Usaha : Benih Pelet TOTAL : Rp. 15,00 x 580.000 = Rp. 8.700.000,00

: Rp. 225.000,00 x 8

= Rp. 2.700.000,00 + = Rp. 11.400.000,00

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 8 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 480 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp.23.000,00

Penjualan : Kolam pertama : 115 kg x Kolam Kedua : 167 kg x Kolam Ketiga : 198 kg x Rp. 23.000,00 Ro.23.000,00 Rp.23.000,00 = = = Rp. 2.645.000,00 Rp.3.841.000,00 Rp.4.554.000,00 +

TOTAL PENJUALAN

Rp. 7.505.000,00,00

PENDEDERAN KE III Jangka waktu Panen 3 Bulan Estimasi Usaha : Benih : Rp. 15,00 x 800.000 = Rp. 12.000.000,00

Pelet TOTAL

: Rp. 225.000,00 x 16

= Rp. 3.600.000,00 + = Rp. 15.600.000,00

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 15 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 720 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp.23.000,00

Penjualan : Kolam pertama : 215 kg x Kolam Kedua : 300 kg x Kolam Ketiga : 205 kg x Rp. 24.000,00 Ro.24.000,00 Rp.24.000,00 = = = Rp. 7.580.000,00 Rp.7.200.000,00 Rp.4.920.000,00 +

TOTAL PENJUALAN

Rp. 19.700.000,00

PENDEDERAN KE IV Jangka waktu Panen 3 Bulan Estimasi Usaha : Benih Pelet : Rp. 15,00 x 960.000 = Rp. 14.400.000,00 = Rp. 3.825.000,00 +

: Rp. 225.000,00 x 17

TOTAL

= Rp. 18.225.000,00

Untuk perbandingan pakan dan daging yang dihasilkan dengan pelet 17 sak, per sak 30 kg maka akan menghasilkan 800 kg bobot benih ikan dan dijual per kg Rp.25.000,00

Penjualan : Kolam pertama : 340 kg x Kolam Kedua : 280 kg x Kolam Ketiga : 180 kg x Rp. 25.000,00 Ro. 25.000,00 Rp. 25.000,00 = = = Rp. 8.500.000,00 Rp. 7.000.000,00 Rp. 4.500.000,00 +

TOTAL PENJUALAN

Rp. 20.000.000,00

ANALISA SWOT

STRENGHT

1. 2. 3. 4.

Usaha kami menawarkan harga yang terjangkau daripada yang lainnya. Kami memiliki ikan nila dan bibit yang berkualitas baik Memiliki link distributor bibit ikan nila yang siap menyuplai kebutuhan kami Menjual obat-obat untuk ikan yang akan terkena penyakit sehingga mengalami penurunan kematian yang bisa di tanggulangi.

WEAKNESS

1. 2.

Membutuhkan kesabaran dalam memelihara ikan dalam jumlah banyak Membutuhkan pengalaman bisnis untuk mengembangkan budidaya ikan

OPPORTUNITIES

1.

Dari info data dapertemen kelautan dan perikanan ikan nilka masih terpenuhi sekitar 60% dari target produksi sebesar 491.800 ton pertahun. Sehingga meeupajan peluang pasar cukup besar bagi bisnis kami.

2.

Banyak teknologi yang makin canggih dan membantu prosesnya.

THREATS

1. 2.

Banyak pesaing yang sudah menguasai pasar ikan nila Adanya penyakit yang menyerang ikan.