Anda di halaman 1dari 38

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif, seperti gagal jantung congestive, gagal ginjal, dan penyakit vaskuler. Hipertensi disebut silent killer karena sifatnya asimptomatik dan telah beberapa tahun menimbulkan stroke yang fatal atau penyakit jantung. Meskipun tidak dapat diobati, pencegahan dan penatalaksanaan dapat menurunkan kejadian hipertensi dan penyakit yang menyertainya. Diperkirakan terjadi 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, diketahui hampir seperempat (24,5%) penduduk Indonesia usia di atas 10 tahun mengkonsumsi makanan asin setiap hari, satu kali atau lebih. Sementara prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas. Dari jumlah itu, 60% penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Pada orang dewasa, peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 20 mmHg menyebabkan peningkatan 60% risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler. Berdasarkan American Heart Association (AHA, 2001), terjadi

peningkatan rata-rata kematian akibat hipertensi sebesar 21% dari tahun 1989 sampai tahun 1999. Secara keseluruhan kematian akibat hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46%. Data Riskesdas menyebutkan hipertensi sebagai penyebab kematian nomor tiga setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia.

Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case-finding maupun penatalaksanaan pengobatannya jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15% tetapi angka-angka ekstrim rendah seperti di Ungaran, Jawa Tengah 1,8%; Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya 0,6%; dan Talang Sumatera Barat 17,8%. Kebanyakan orang merasa sehat dan energik walaupun hipertensi. Menurut hasil Riskesdas Tahun 2007, sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdeteksi. Keadaan ini tentunya sangat berbahaya, yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada masyarakat. Oleh karena cukup besarnya angka kejadian hipertensi maka, akan dikaji lebih lanjut mengenai penyakit hipertensi tersebut. Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain meningkatnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.6 Puskesmas Barabai sebagai unit pelaksana fungsional berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peranan yang penting dalam menekan peningkatan angka prevalensi hipertensi. Di wilayah kerja Puskesmas Barabai, pada laporan bulanan dari Oktober 2012 jumlah pasien Hipertensi mencapai 256 kasus, dengan kasus baru sejumlah 66 kasus. Kasus terbanyak berasal dari kelompok umur 45-54 tahun sebanyak 45 kasus sedangkan rentang usia penderita muda (15 19 tahun) mencapai 15 kasus.

1.2 Pernyataan Masalah Mengidentifikasi masalah tingginya angka kejadian hipertensi di Kecamatan Barabai sebagai wilayah kerja Puskesmas Barabai, dilihat dari faktor faktor penyebab yang berperan terhadap kejadian tersebut.

1.3 Tujuan 1.3.1 Mengidentifikasi masalah tingginya angka kejadian penyakit hipertensi yang ada di Puskesmas Barabai. 1.3.2 Menetapkan prioritas masalah dan menemukan penyebab utama tingginya penyakit hipertensi yang ada di Puskesmas Barabai. 1.3.3 Menganalisis penyebab masalah tingginya angka kejadian hipertensi di Kecamatan Barabai. 1.3.4 Menentukan alternatif pemecahan masalah tingginya angka kejadian hipertensi di Kecamatan Barabai.

1.4 Manfaat 1.4.1 Bagi Puskesmas Sebagai masukan kepada pihak puskesmas dalam upaya mencegah peningkatan angka kejadian hipertensi di kecamatan Barabai. 1.4.2 Bagi Masyarakat Sebagai acuan bagi masyarakat khususnya di kecamatan Barabai untuk mengikuti berbagai kegiatan promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi. 1.4.3 Bagi Tenaga medis Sebagai pedoman bagi mahasiswa agar mampu menyusun rencana kegiatan promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi Penyakit darah tinggi atau Hipertensi adalah suatu keadaan di mana

seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya. Berdasarkan rekomendasi dari Seventh Report of the Joint National Committee of Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VIII), klasifikasi tekanan darah (dalam mmHg) untuk dewasa berusia 18 tahun ke atas adalah sebagai berikut* : Normal : Sistolik <120, diastolik < 80

Prehipertensi : Sistolik 120-139, diastolik 80-99 Stage 1 Stage 2 : Sistolik 140-159, diastolik 90-99 : Sistolik 160, diastolik 100

* Berdasarkan rata-rata dua atau lebih pengukuran yang diambil di masingmasing dua atau lebih kunjungan setelah screening pertama. Prehipertensi, sebuah kategori baru yang ditunjuk dalam laporan JNC VII, menekankan bahwa pasien dengan prehipertensi berisiko untuk berkembang menjadi hipertensi dan modifikasi gaya hidup merupakan strategi pencegahan yang penting. Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur (rutin), maka hal ini dapat membawa si penderita kedalam kasus-kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Tekanan darah tinggi yang terus menerus menyebabkan jantung seseorang bekerja extra keras, akhirnya kondisi ini berakibat terjadinya kerusakan pada pembuluh darah jantung, ginjal, otak dan mata. Penyakit hipertensi ini merupakan penyebab umum terjadinya stroke dan serangan jantung.

2.2 Epidemiologi Hipertensi adalah epidemi di seluruh dunia, di banyak negara, 50% dari populasi usia > 60 tahun mengalami hipertensi. Secara keseluruhan, sekitar 20% dari orang dewasa di dunia diperkirakan menderita hipertensi. Prevalensi meningkat secara dramatis pada pasien berusia > 60 tahun.2 Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak dikumpulkan dan menunjukkan, di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Prevalensi terbanyak berkisar antara 6 sampai dengan 15% tetapi angka-angka ekstrim rendah seperti di Ungaran, Jawa Tengah 1,8%; Lembah Balim Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya 0,6%; dan Talang Sumatera Barat 17,8%. Di wilayah kerja Puskesmas Barabai, pada laporan bulanan dari Oktober 2012 jumlah pasien Hipertensi mencapai 256 kasus, dengan kasus baru sejumlah 66 kasus. Kasus terbanyak berasal dari kelompok umur 45-54 tahun sebanyak 45 kasus sedangkan rentang usia penderita muda (15 19 tahun) mencapai 15 kasus.

2.3 Faktor Risiko Hipertensi

Hipertensi disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan serta faktor yang tidak dapat dimodifikasi. a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi atau dikendalikan 1. Genetik Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai resiko menderita hipertensi. Individu dengan orangtua hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Pada 70-80% kasus Hipertensi primer, didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan Hipertensi primer lebih besar. Hipertensi juga banyak dijumpai pada penderita kembar monozigot (satu telur), apabila salah satunya menderita Hipertensi. Dugaan ini

menyokong bahwa faktor genetik mempunyai peran didalam terjadinya Hipertensi.

2. Umur Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Individu yang berumur di atas 60 tahun, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.

3. Jenis Kelamin Laki-laki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Laki-laki juga mempunyai resiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler. Sedangkan di atas umur 50 tahun hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan.

4. Etnis Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang berkulit hitam daripada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, namun dalam orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar.

5. Penyakit Ginjal Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara: Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan mengembalikan tekanan darah ke normal. Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke normal. Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon

angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah, karena itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.

6. Obat-obataan Penggunaan obat-obatan seperti beberapa obat hormon (Pil KB), Kortikosteroid, Siklosporin, Eritropoietin, Kokain, dan Kayu manis (dalam jumlah sangat besar), termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi)
secara terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.

7.

Preeklampsi pada kehamilan Preeklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Preeklamsi terjadi sebagai akibat dari gangguan fungsi organ akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang mengakibatkan iskemia plasenta (ari-ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin.

b. Faktor yang dapat dimodifikasi atau dikendalikan 1. Stress Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Adapun stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal. Mekanisme hubungan antara stress dengan Hipertensi, diduga melalui aktivasi saraf simpatis. Saraf simpatis adalah

saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas, saraf parasimpatis adalah saraf yang bekerja pada saat kita tidak beraktivitas. Peningkatan aktivitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan, dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti, akan tetapi angka kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami kelompok masyarakat yang tinggal di kota.

2. Obesitas Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi. Pada populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring umur, tidak dijumpai peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur. Obesitas terutama pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut.

3. Nutrisi Sodium adalah penyebab penting dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Asupan garam tinggi yang dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi adalah lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi kedalam takaran sendok makan adalah lebih dari dua sendok makan.

4. Merokok Penelitian terakhir menyatakan bahwa merokok menjadi salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalam upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia.

5. Kurang olahraga Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga) bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan.

2.4 Etiologi Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi beberapa golongan yaitu: 1. Hipertensi Primary Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktifitas sistem saraf simpatis, sistem renin angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia. Hipertensi primer biasanya timbul pada usia 30 50 tahun.

2. Hipertensi Secondary Hipertensi secondary adalah suatu kondisi dimana terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi sebagai akibat seseorang

mengalami/menderita penyakit lainnya seperti gagal jantung, gagal ginjal, atau kerusakan sistem hormon tubuh. Sedangkan pada Ibu hamil, tekanan darah secara umum meningkat saat kehamilan berusia 20 minggu. Terutama pada wanita yang berat badannya di atas normal atau gemuk (gendut). a. Hipertensi pada penyakit ginjal b. Hipertensi pada penyakit renovaskular c. Hipertensi pada kelainan endokrin d. Sindrom Cushing Sindrom cushing disebabkan oleh hiperplasi adrenal bilateral yang disebabkan oleh adenoma hipofisis yang menghasilkan

Adenocorticotropin Hormone (ACTH ). e. Hipertensi adrenal kongenital

Hipertensi adrenal kongenital merupakan penyabab terjadinya hipertensi pada anak (jarang terjadi). f. Feokromositoma g. Koarktasi aorta h. Hipertensi pada kehamilan Hipertensi pada kehamilan merupakan penyebab utama

peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal, janin dan neonatus. Kedaruratan hipertensi dapat menjadi komplikasi dari preeklampsia sebagaimana yang terjadi pada hipertensi kronik. Perempuan hamil dengan hipertensi mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi yang berat seperti abruptio plasenta, penyakit

serebrovaskuler, gagal organ, koagulasi intravaskular. Penggunaan obat yang paling banyak berkaitan dengan hipertensi adalah pil kontrasepsi oral (OCP) dimana 5% perempuan mengalami hipertensi sejak mulai penggunaan. Perempuan usia lebih tua (>35tahun) lebih mudah terkena., begitupula dengan perempuan yang pernah mengalami hipertensi selama kehamilan. Pada 50 % tekanan darah akan kembali normal dalam 36 sesudah penghentian pil.

2.5 Patofisiologi

Tekanan darah arteri merupakan hasil dari cardiac output dan resistensi vaskular sistemik. Oleh karena itu, faktor-faktor yang mempengaruhi cardiac output dan resistensi vaskuler dapat mempengaruhi tekanan darah . Viskositas darah, dinding pembuluh darah yang tipis, dan kecepatan aliran darah memiliki relevansi yang potensial berkaitan dengan regulasi tekanan darah pada manusia melalui fungsi pembuluh darah dan endotel. Faktor-faktor yang mempengaruhi cardiac output seperti asupan natrium, fungsi ginjal, dan mineralokortikoid; efek inotropik terjadi melalui augmentasi volume cairan ekstraseluler dan peningkatan denyut jantung dan kontraktilitas. Resistensi pembuluh darah perifer tergantung pada sistem saraf simpatik, faktor humoral, dan autoregulasi lokal.

10

2.6 Patogenesis hipertensi2,10

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I-converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan

meningkatkan volume dan tekanan darah. 2.7 Manifestasi Klinis2 2.7.1 Anamnesis 1. Setelah hipertensi ditemukan, yang dikonfirmasi setelah pengukuran tekanan darah dengan tepat yang telah dicatat pada paling sedikit 3 kali pemeriksaan yang berbeda (berdasarkan rata-rata 2 atau lebih pembacaan

11

diambil di masing-masing 2 kunjungan atau lebih dilihat setelah skrining awal), dilakukan anamnesis yang rinci meliputi: 2. Tingkat kerusakan organ target Penilaian status risiko kardiovaskuler pasien Penyebab sekunder hipertensi

Riwayat faktor risiko kardiovaskuler termasuk hiperkolesterolemia, diabetes mellitus, dan kebiasaan merokok.

3.

Riwayat penggunaan obat over-the-counter dan obat-obatan herbal, seperti teh herbal yang mengandung licorice, efedrin, riwayat pengobatan dengan antihipertensi sebelumnya, kontrasepsi oral, etanol, dan obat-obatan terlarang, seperti kokain.

4.

Temuan yang menunjukkan adanya hipertensi sekunder seperti riwayat penyakit ginjal, massa abdomen, anemia, dan pigmentasi urochrome.

2.7.2 Pemeriksaan Fisik Pengukuran tekanan darah yang akurat adalah kunci diagnosis. Pada setiap kunjungan, rata-rata dilakukan 3 kali pembacaan tekanan darah yang diambil dalam selang 2 menit menggunakan manometer raksa. Tekanan darah harus diukur dalam posisi duduk telentang dan dilakukan auskultasi dengan bel stetoskop. Pada kunjungan pertama, tekanan darah harus diperiksa pada kedua lengan dan satu kaki untuk menyingkirkan diagnosis koarktasio aorta atau stenosis arteri subklavia. Karena ukuran manset yang tidak tepat dapat mempengaruhi pengukuran tekanan darah, manset yang lebih lebar lebih baik digunakan, terutama jika lingkar lengan pasien melebihi 30 cm. Pasien harus beristirahat tenang setidaknya selama 5 menit sebelum pengukuran. Palpasi dari semua denyut perifer harus dilakukan. Tidak adanya denyut femoralis menunjukkan koarktasio aorta atau penyakit pembuluh darah perifer. Carilah bising arteri renalis di perut bagian atas; adanya bising unilateral pada kedua komponen sistolik dan diastolik menunjukkan stenosis arteri ginjal. Pemeriksaan jantung dilakukan untuk mengevaluasi tanda-tanda LVH. Ini

12

termasuk perpindahan apeks, impuls apeks yang meluas atau menguat, dan adanya bunyi jantung S4.

2.7.3. Pemeriksaan Laboratorium a. Pemeriksaan darah lengkap, elektrolit serum, kreatinin serum, glukosa serum, asam urat, dan urinalisis. b. Profil lipid (kolesterol total, low density lipoprotein [LDL], high density lipoprotein [HDL], dan trigliserida). c. Pengukuran rasio aldosteron / aktivitas renin plasma dilakukan untuk mendeteksi hiperaldosteronisme primer. Rasio yang lebih dari 20-30 menunjukkan hiperaldosteronisme primer. Hipokalemia dan alkalosis metabolik merupakan manifestasi lanjut dari gangguan ini. d. Pemeriksaan thyroid-stimulating hormone (TSH) untuk menilai hipotiroidisme atau hipertiroidisme sebagai penyebab hipertensi. e. Jika feokromositoma diduga, katekolamin urin dan fraksi metanefrin adalah tes pilihan.

2.8 Penatalaksanaan Hipertensi 2.8.1 Modifikasi gaya hidup A. Mencapai dan mempertahankan berat badan ideal 11 Pola makan sehat bertujuan untuk menurunkan dan mempertahankan berat badan ideal, sehingga dianjurkan untuk menyeimbangkan asupan kalori dengan kebutuhan energi total dengan membatasi konsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi dan atau makanan yang kandungan gula dan lemaknya tinggi. Disamping itu, agar melakukan aktifitas fisik yang cukup untuk mencapai kebugaran jasmani yang baik dengan menyeimbangkan pengeluaran dan pemasukan energi/kalori. Secara umum untuk menurunkan berat badan dapat dicapai dengan menurunkan asupan total kalori. Dianjurkan untuk menurunkan berat badan 0,5 1 kg per minggu. Sehingga kebutuhan kalori harus dikurangi 500 1000 KKal/hari. Dianjurkan untuk meningkatkan penggunaan sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan dan produk biji-bijian serta mengurangi bahan makanan hewani

13

(daging merah), lemak atau minyak jenuh (mentega atau santan), karbohidrat murni (gula, tepung-tepungan) dan yang mengandung alkohol. Dalam menjalankan diet rendah kalori, agar berhati-hati terjadinya kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Oleh karena itu, dianjurkan banyak makan sayuran dan buah-buahan. B. Mempertahankan kadar kolesterol11 Lemak jenuh adalah penentuan utama peningkatan kadar kolesterol,

sehingga dianjurkan untuk menurunkan asupan lemak jenuh < 10% asupan total energy dengan membatasi asupan makanan kaya asam lemak jenuh (susu tinggi lemak dan produknya, daging berlemak serta minyak kelapa). Pada orang dengan kadar kolesterol LDL tinggi atau dengan penyakit kardiovaskuler, lemak jenuhnya harus lebih rendah (< 7% total energi). Asam lemak trans diet dapat meningkatkan kolesterol LDL dan menurunan kolesterol HDL. Asam lemak ini terdapat pada produk makanan jadi yang mengandung minyak tumbuhan yang terhidrogenasi sebagian seperti kue kering, kraker, makanan yang dipanggang dan digoreng. Minyak yang digunakan pada makanan yang digoreng di kebanyakan restoran kemungkinan mengandung asam lemak trans yang tinggi. Untuk menjaga agar tidak terjadi peningkatan kadar kolesterol, dianjurkan untuk mengkonsumsi total sumber asam lemak (< 10% kebutuhan energi). Disamping itu juga harus menurunkan konsumsi bahan makanan tinggi kolesterol,walaupun bahan makanan tersebut rendah sumber asam lemak jenuh. Kolesterol dalam makanan dapat juga meningkatkan kadar kolesterol LDL, walaupun tidak sebanyak lemak jenuh. Kebanyakan makanan tinggi lemak jenuh juga merupakan sumber kolesterol, sehingga mengurangi komsumsi makanan ini akan memberikan keuntungan lebih yaitu pembatasan asupan kolesterol. Makanan kaya kolesterol tetapi rendah kadar asam lemak jenuh (kuning telur) serta kacangkacangan dengan kadar lebih rendah sehingga efeknya lebh kecil terhadap kolesterol LDL. Dari berbagai penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan

penggunaan serat untuk setiap gram dapat menurunkan kolesterol LDL rata-rata

14

2,2 mg/dl. Sehingga dianjurkan diet tinggi serat yang diperoleh dari sumber karbohidrat seperti nasi, jagung, ubi, gandum, kentang, talas. Makanan yang diperkaya dengan asam lemak tak jenuh berguna untuk merubah sifat-sifat aterogenik karena disiplidemia yang ditandai dengan kadar kolesterol HDL yang rendah, trepliserida yang meningkat dan kolesterol LDL meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa makanan kaya asam lemak tak jenuh omega-3, khususnya EPA dan Docosa Hexaaonoat Acid (DHA), dapat memperbaiki profil lipoprotein darah. Asam lemak omega-3 yang lain yaitu asam linoleat dapat menurunkan risiko infark imokard dan penyakit jantung iskemik pada usinta. Makanan sumber asam lemak omega 3 antara lain adalah ikan terutama ikan berlemak dari laut seperti ikan tongkol, sarden, salem dan minyak tumbuh-tumbuhan seperti kedelai, jagung, kacang. Dianjurkan untuk mengkonsumsi ikan minimal 2 porsi / mg (50 gr / porsi). Selain itu, untuk menurunkan dan mempertahankan kadar kolesterol dan lipoprotein dalam darah, dianjurkan untuk mengurangi konsumsi makanan yang kaya akan kandungan asam lemak jenuh dan kolesterol tinggi, serta memperbanyak konsumsi sayuran, ikan, polong-polongan dan kacang-kacangan sebagai sumber asam lemak tak jenuh. C. Mempertahankan tekanan darah normal 11 Asupan garam (Natrium Chlorida) dapat meningkatkan tekanan darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penurunan asupan natrium + 1,8 gram/hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4 mmHg dan diastolik 2 mmHg pada penderita hipertensi dan penurunan lebih sedikit pada individu dengan tekanan darah normal. Respons perubahan asupan garam terhadap tekanan darah bervariasi diantara individu yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan juga faktor usia. Disarankan asupan garam < 6 gram sehari atau kurang dari 1 sendok teh penuh. Dari berbagai penelitian, terbukti bahwa kenaikan berat badan dapat meningkatkan tekanan darah dan terjadinya hipertensi, walaupun pada program penurunan berat badan. Penurunan tekanan darah dapat terjadi sebelum tercapai berat badan yang diinginkan. Penurunan sistolik dan diastolik rata-rata per kg

15

penurunan berat badan adalah 1,6 / 1,1 mmHg. Sehingga dianjurkan untuk selalu menjaga berat badan normal, untuk menghindari terjadinya hipertensi. Dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi alkohol atau bahan makanan yang mengandung alkohol karena dapat meningkatkan tekanan darah. Disamping itu alkohol juga dapat menyebabkan kecanduan. Dari penelitian-penelitian klinis memperlihatkan pemberian suplemen kalium dapat menurunkan tekanan darah. Dengan suplementasi diet kalium 60120 mmol/hari dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik 4,4 dan 2,5 mmHg pada penderita hipertensi dan 1,8 serta 1,0 mmHg pada orang normal. Diet kaya kalium juga dihubungkan dengan penurunan risiko stroke. Asupan diet kalium, Mg dan kalsium sebaiknya bersumber pada bahan makanan alami. Pemberian suplemen harus dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu. D. Penatalaksanaan diet11 Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg, selain pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus. Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut : a. Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang. b. Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita. c. Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis makanan dalam daftar diet. Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuhtumbuhan. Salah satu sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan konsumsi garam dapur tidak lebih dari - sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain diluar natrium.

16

Daftar bahan pangan yang dianjurkan : 1. Serelia, dan umbi-umbian serta hasil olahannya: beras, jagung, sorgum, cantle, jail, sagu, ubi, singkong, kentang, talas, mie, roti, bihun, oat. 2. Sayuran: Sayur daun: kangkung, bayam, pucuk labu, sawi, katuk, daun singkong, daun pepaya, daun kacang, daun mengkudu, dan sebagainya. Sayur buah: kacang panjang, labu, mentimun, kecipir, tomat, nangka muda,dan sebagainya. Sayur akar: wortel, lobak, bit, dan sebagainya.

3. Buah: jambu biji, pepaya, jeruk, nanas, alpukat, belimbing, salak, mengkudu, semangka, melon, sawo, mangga. 4. Kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu) serta polong-polongan. 5. Unggas, ikan, putih telur. 6. Daging merah, kuning telur. 7. Minyak, santan, lemak (gajih), jeroan, margarine, susu dan produknya. 8. Gula, garam. Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau infark jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah: 1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa,gajih). 2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker, keripik dan makanan kering yang asin). 3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah buahan dalam kaleng, soft drink). 4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin, selai kacang). 5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur,kulit ayam).

17

6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium. 7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape. Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki rasa tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang (merah/putih), jahe, kencur dan bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium. Makanan dapat ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas meja makan dapat dilakukan untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih. Dianjurkan untuk selalu menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan lebih dari 1 sendok teh per hari. Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 175 mEq/hari) dapat memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian kalium juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium akibat dan rendah natrium. Pada umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg kalium), jeruk (250 mg kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium) kentang panggang (503 mg kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg kalium). Kecukupan kalsium penting untuk mencegah dan mengobati hipertensi yaitu 2-3 gelas susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram keju rendah natrium dapat memenuhi kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan kebutuhan kalsium perhari rata-rata 808 mg. Pada ibu hamil makanan cukup akan protein, kalori, kalsium dan natrium yang dihubungkan dengan rendahnya kejadian hipertensi karena kehamilan. Namun pada ibu hamil yang hipertensi apalagi yang disertai dengan bengkak dan protein urin (pre eklampsia), selain obat-obatan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam dapur serta meningkatkan makanan sumber Mg (sayur dan buahbuahan).

2.8.2 Terapi farmakologis Belum ada konsensus yang menetapkan standar terapi optimal untuk penyakit hipertensi; namun kebanyakan dokter merekomendasikan pemberian

18

terapi inisial dengan satu macam obat dan dikembangkan hingga terapi kombinasi dengan dosis rendah. Semua terapi lini pertama dapat menurunkan tekanan darah pada 40-60% pasien dengan hipertensi ringan-sedang. Pada pasien yang tidak responsif, dilakukan penggantian obat (tanpa dikombinasikan dengan obat pertama) atau mengganti dengan obat ketiga jika obat kedua tidak efektif. 2 JNC VII merekomendasikan penggunaan diuretik thiazide atau beta bloker sebagai terapi inisial pada hipertensi tanpa komplikasi. Dosis rendah diuretik thiazide (12,5-25 mg hydrochlorthiazide) merupakan terapi yang low-cost dan dapat memberikan perlindungan kardiovaskuler. Pasien yang tidak responsif dengan terapi thiazide dosis rendah dapat diberikan ACE Inhibitor, beta bloker, atau calcium channel blocker. Pasien yang tidak responsif dengan diuretik biasanya juga tidak responsif dengan calcium channel blocker, sehingga sebaiknya digunakan ACE Inhibitor dan beta bloker sebagai terapi lini kedua. 2 Terapi inisial berdasarkan rekomendasi JNC VIII :2 Prehipertensi (sistolik 120-139, diastolic 80-89) : tidak direkomendasikan obat antihipertensi Hipertensi stage I (sistolik 140-159, diastolic 90-99) : direkomendasikan diuretic thiazide sebagai terapi lini pertama. ACE Inhibitor, Angiotensin II Receptor Blocker (ARB), beta bloker, CCB digunakan sebagai terapi lini kedua Hipertensi stage II (sistolik > 160, diastolic > 100) : direkomendasikan kombinasi dua obat (biasanya digunakan diuretic thiazide dan ACE Inhibitor atau ARB atau beta bloker atau CCB) Umur dan adanya penyakit merupakan faktor yang akan mempengaruhi metabolisme dan distribusi obat, karenanya harus dipertimbangkan dalam memberikan obat antihipertensi. Hendaknya pemberian obat dimulai dengan dosis kecil dan kemudian ditingkatkan secara perlahan. Adanya penyakit penyerta lainnya akan menjadi pertimbangan dalam pemilihan obat antihipertensi. Pada penderita dengan penyakit jantung koroner, penyekat beta mungkin sangat bermanfaat; namun demikian terbatas penggunaannya pada keadaan-keadaan seperti penyakit arteri tepi, gagal jantung/ kelainan bronkus obstruktif. Pada penderita hipertensi dengan gangguan fungsi jantung dan gagal jantung kongestif,

19

diuretik, penghambat ACE (angiotensin convening enzyme) atau kombinasi keduanya merupakan pilihan terbaik.12 Dosis obat diuretic (mg/hari) yang dianjurkan: bendrofluazid 1,25- 2,5, klortiazid 500-100, klortalidon 25-50, hidroklortiazid 12,5-25, dan indapamid SR 1,5. Dosis obat-obat penyekat beta yang direkomendasikan adalah asebutolol 400 mg sekali atau dua kali sehari, atenolol 50 mg sekali sehari, bisoprolol 10-20 mg sekali sehari, celiprolol 200-400 mg sekali sehari, metoprolol 100-2000 mg sekali sehari, oksprenolol 180-120 mg dua kali sehari, dan pindolol 15-45 mg sekali sehari. Dosis obat-obat penghambat ACE yang direkomendasikan adalah kaptopril 6,25-50 mg tiga kali sehari, lisinopril 2,5-40 mg sekali sehari, perindropil 2-8 mg sekali sehari, quinapril 2,5-40 mg sekali sehari, ramipril 1,2510 mg sekali sehari. Dosis obat-obat penyakat kanal kalsium yang

dianjurkanadalah: amlodipin 5-10 mg sekali sehari, diltiazem 200 mg sekai sehari, felodipin 5-20 mg sekali sehari, nikardipin 30 mg dua kali sehari, nifedipin 30-60 mg sekali sehari, verapamil 120-240 mg dua kali sehari. Dosis obat-obat penyakat alfa yang dianjurkan adalah; doksazosin 1-16 mg sekali sehari, dan prazosin 0,5 mg sehari sampai 10 mg dua kali sehari.12

20

BAB III METODE

3.1 Analisa Masalah 3.1.1 Metode Belum adanya program promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi yang efektif di Puskesmas Barabai

3.1.2

Lingkungan Pola makanan di Barabai Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang. Namun dari beberapa kecenderungan menyatakan bahwa konsumsi tinggi

kolesterol dan lemak memicu terjadinya aterosklerosis.

3.1.3

Material Masih kurangnya pemanfaatan media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang komplikasinya. hipertensi, pencegahan, dan

3.2 Alternatif Pemecahan Masalah 3.2.1 Manusia : 1. Petugas : Meningkatkan keaktifan petugas kesehatan dalam melakukan upaya promotif dan preventif hipertensi. a. Rencana : membuat program mengenai hipertensi Mengadakan staff meeting Membahas mengenai kendala yang ditemukan selama ini Merancang program hipertensi

21

Menunjuk penanggung jawab program hipertensi. Membuat target pencapaian program Melakukan pertemuan minimal 1x dalam setahun untuk mengevaluasi program mengenai hipertensi.

b. Pelaksana : c. Sasaran d. Target : :

Pimpinan Puskesmas, Promkes petugas promkes. petugas dapat berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan program dan mencapai target pencapaian program yang direncanakan

2. Masyarakat Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan faktor resikonya. a. Rencana : Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hipertensi yang tercakup dalam program kegiatan promotif dan preventif hipertensi yang diadakan. Menyusun jadwal kegiatan penyuluhan Menyusun materi penyuluhan yang akan diberikan meliputi pengertian hipertensi, faktor risiko, bahaya hipertensi dan upaya pencegahannya. Menyiapkan tempat dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan acara. Menyebar undangan kepada pihak terkait. Penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan konsep yang ditentukan. b. Pelaksana : Penanggung jawab program dan Promkes c. Pelaksanaan : Dalam gedung : dilakukan penyuluhan kepada masyarakat yang datang berobat, penyuluhan tentang hipertensi dilakukan 1 kali sebulan. Luar gedung : melakukan penyuluhan pada saat puskesmas keliling. d. Sasaran : masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Barabai. e. Target : Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi

22

3.2.2 Metode : Membuat rancangan progam kegiatan promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi di Puskesmas Barabai a. Rencana : Merancang program promotif dan preventif hipertensi Mengadakan staff meeting Menunjuk penanggung jawab program hipertensi Membentuk kader yang akan menjalankan program Membuat rancangan program berupa : penyuluhan massal penyuluhan yang berkesinambungan di Puskesmas dan kelurahan. olahraga rutin baik di puskesmas atau di balai desa

Menyusun jadwal program Merencanakan pertemuan dengan stake holder terkait untuk mensosialisasikan program yang akan dilakukan

b. Pelaksana c. Sasaran

: : :

Pimpinan Puskesmas, Promkes. Seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Barabai Terbentuknya suatu program yang menjadi upaya promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi

d. Target

3.2.3 Material : Membuat dan memperbanyak media promosi yang menarik. a. Rencana : Membuat dan menyebarkan leaflet dan poster tentang hipertensi secara berkelanjutan. Membuat design leaflet dan poster tentang hipertensi. Mencetak leaflet dan poster tentang hipertensi. Memperbanyak leaflet dan poster tentang hipertensi. Menyebarluaskan leaflet dan poster hipertensi di tempat umum yang ada di setiap kelurahan di wilayah kerja puskesmas Barabai.

23

Membagikan leaflet hipertensi di acara penyuluhan yang dilaksanakan oleh puskesmas.

b. Pelaksana c. Target

: :

penanggung jawab program dan Promkes. Terdapatnya leaflet, poster tentang hipertensi di tempattempat umum seperti kantor kelurahan, sekolah, tempattempat organisasi masyarakat.

3.2.4 Lingkungan : Memberikan penyuluhan tentang pola makanan yang sehat. a. Rencana : melakukan penyuluhan mengenai pola hidup yang sehat yang diintegrasikan dalam program yang diadakan Puskesmas. b. Pelaksana : Pimpinan Puskesmas dan Penanggung jawab Promkes & P2P dilaksanakan sesuai jadwal materi program penyuluhan Puskesmas d. Sasaran e. Target : : masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Barabai Meningkatnya pengetahuan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Barabai mengenai pola hidup sehat

c. Pelaksanaan :

24

BAB IV HASIL

4.1. Profil Komunitas Umum

25

4.2 Data Geografis

4.3 Data Demografi Batas Wilayah : Sebelah Barat Sebelah Utara Sebelah Timur : Kecamatan Batang Alai Utara : Kecamatan Pandawan : Kecamatan Batang Alai Selatan

Sebelah Selatan: Wilayah Kerja Puskesmas Awang Besar

4.4 Sumber daya kesehatan yang ada Sumber daya ketenagaan tenaga kesehatan Dokter Umum Dokter Gigi : 2 orang :-

26

Sarjana Kesehatan masyarakat Perawat (DIII Akper & SPK) DIII kesling dan SPPH Analis Kesehatan (SMAK) Akademi Gizi Bidan Puskesmas (DIII Akbid) Bidan Desa Perawat Gigi (DIII & SPRG) Pelaksana Farmasi (AA) Tenaga administrasi Sopir Pesuruh TU TKS

: 1 orang : 5 orang : 2 orang : 1 orang : 1 orang : 2 orang : 8 orang : 5 orang : 3 orang : 3 orang : 1 orang : 1 orang : - orang : 4 orang

4.5 Sarana pelayanan kesehatan yang ada Sarana Fisik Kesehatan Puskesmas Induk Puskesmas Pembantu Mobil Pusling Kendaraan Roda Dua Rumah Dinas dr/drg Rumah Dinas Paramedis Rumah Bidan Desa Pesawat Telekomunikasi Bangunan Poskesdes : 1 buah : 2 buah : 1 buah : 4 buah : 1 buah : 2 buah : 1 buah : 1 buah : 3 buah

27

4.6 Data kesehatan masyarakat (primer) 4.6.1 Prevalensi masalah kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah intervensi Berdasarkan laporan tahunan untuk 10 penyakit terbanyak pada tahun 2011, hipertensi merupakan penyakit terbanyak kedua setelah infeksi saluran pernapasan akut.

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Penyakit Infeksi akut saluran pernapasan atas Hipertensi Primer Dermatitis Pharingitis Penyakit lain sistem otot & jaringan Penyakit pulpa & jaringan periapikal Dispepsia Gangguan pertumbuhan gigi & erupsi Batuk Demam

Jumlah 5184 1626 1425 1424 1422 1412 1241 1236 1161 1148

persentasi (%) 30,0 9,4 8,2 8,2 8,2 8,2 7,2 7,2 6,7 6,7

Tabel 2. Urutan 10 Penyakit Terbanyak menurut Laporan Tahun 2011

28

50% 40% 30% 20% 10% 0% umur 40 - 49 tahun 50-59 tahun 60 tahun

Grafik 1. Distribusi umur pasien penderita hipertensi di barabai

Dengan data yang terkumpul dilakukan intervensi berupa penyuluhan mengenai Hipertensi yang berlangsung bersamaan dengan kegiatan Puskesmas Keliling, Puskesmas Lansia dan Pengajian warga yang berlangsung pada Tanggal : Tanggal : Tanggal Tanggal :

Kemudian juga telah dibuat leaflet dan poster tentang hipertensi dengan desain terlampir. Diharapkan setelah berjalannya intervensi melalui program yang sudah direncanakan ini angka prevalensi penyakit hipertensi dapat diturunkan.

4.6.2

Perilaku kesehatan masyarakat Untuk menilai tingkat pengetahuan dan perilaku kesehatan masyrakat

terutama mengenai penyakit hipertensi maka dirancang sebuah mini kuesioner yang. Melalui hasil pengolahan data kuesioner ini didapatkan data mengenai tingkat pengetahuan pasien mengenai penyakit hipertensi, factor resiko serta perilaku kesehatan masyarakat terhadap penyakit hipertensi yang diderita.

29

90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

Tidak Ya

Grafik 2. distribusi faktor resiko hipertensi di barabai

30

BAB V DISKUSI

Hipertensi adalah masalah kesehatan masyarakat. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat memicu timbulnya penyakit degeneratif, seperti gagal jantung congestive, gagal ginjal, dan penyakit vaskuler. Diperkirakan terjadi 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara berkembang dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, menjadi 1,15 milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan pertambahan penduduk saat ini. Sementara prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7% dari populasi pada usia 18 tahun ke atas. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Di wilayah kerja Puskesmas Barabai, pada laporan tahunan 2011 jumlah pasien Hipertensi mencapai 1626 orang menjadi penyakit kedua terbanyak setelah infeksi saluran pernapasan akut dengan prevalensi 9,4%. Belum adanya program promotif dan preventif yang efektif terhadap penyakit hipertensi yang terlaksana di Puskesmas Barabai, pola konsumsi makanan di Barabai serta masih kurangnya pemanfaatan media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang hipertensi, pencegahan, dan komplikasinya merupakan beberapa point yang menjadi perhatian terhadap tingginya angka kejadian hipertensi di Barabai Berlandas pada masalah-masalah ini kami mencoba meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan faktor resikonya dengan membuat dan memperbanyak media promosi yang menarik serta rancangan progam kegiatan promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi di Puskesmas Barabai. Beberapa hal yang berhasil kami capai dalam waktu yang cukup singkat untuk pengerjaan kegiatan ini adalah penyuluhan serta pembuatan media informasi yang menarik yang dapat disebar kepada masyarakat serta di tempattempat umum yang ada di wilayah kerja Puskesmas Barabai yang dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat terhadap bahaya hipertensi.

31

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa tingginya angka kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Barabai dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan faktor resiko nya Belum adanya program promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi di Puskesmas Barabai Belum adanya komunitas hipertensi yang dapat menjadi salah satu sarana fasilitator upaya promotif dan preventif hipertensi Masih kurangnya pemanfaatan media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, dan leaflet tentang komplikasinya. hipertensi, pencegahan, dan

B. Saran Perlunya diadakan program promotif dan preventif terhadap penyakit hipertensi di Puskesmas Barabai berupa penyuluhan tentang hipertensi dan pola hidup sehat secara berkesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pola hidup sehat dan faktor resiko hipertensi Perlunya penyusunan kembali jadwal penyuluhan bersama Promkes, sehingga pelaksanaan penyuluhan dapat dijalankan dengan teratur Perlunya dijadwalkan olahraga rutin bagi di setiap kelurahan, yang merupakan salah satu pola hidup sehat yang dapat mencegah penyakit hipertensi Perlunya dibentuk suatu komunitas hipertensi yang dapat menjadi salah satu sarana fasilitator upaya promotif dan preventif hipertensi

32

Perlunya peningkatan kreatifitas dalam memanfaatkan media informasi seperti papan informasi, poster, pamflet, leaflet dan stiker dalam rangka pomosi kesehatan tentang pencegahan hipertensi

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, W.A. Newman. Kamus Kedokteran Dorland edisi 29. Jakarta. EGC. 2002 2. Dreisbach, Albert W. Hypertension. University of Mississippi Medical Center.2009. Diakses dari emedicine.com tanggal 16 Juni 2010. 3. Sudoyo, Aru.W, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi IV. Jakarta. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. 4. Husnul Amalia, Ridwan Amiruddin, Armilawaty. Hipertensi dan Faktor Risikonya Dalam Kajian Epidemiologi .Makassar. Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.2007. Diakses dari tanggal 11 Juli 2010. 5. Kartari DS. Review Hipertensi di Indonesia Tahun 1980 ke Atas. Jakarta. Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I. 2006. Diakses dari Cermin Dunia Kedokteran tanggal 11 Juli 2010. 6. Lipoeto, Nur Indrawati, Asnil Sahim, Delmi Sulastri, Firdawati. Tekanan Darah Berhubungan Erat dengan Lingkaran Pinggang.. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Diakses dari repository.unand.ac.id tanggal 15 Juli 2010. 7. Laporan Tahunan Puskesmas Andalas 2007 8. Laporan Tahunan Puskesmas Andalas 2008 9. Laporan Tahunan Puskesmas Andalas 2009 10. Price,sylvia A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Proses Penyakit Jilid 1. Edisi ke 6. Jakarta. EGC. 2006. 11. Kurniawan Anie. Gizi seimbang untuk mencegah hipertensi. Jakarta. Direktorat Gizi Masyarakat.2005 12. Kuswardhani,Tuty. Penatalaksanaan hipertensi pada lanjut usia. Denpasar. Divisi Geriatri Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UNUD.2008. ridwanamiruddin.wordpress.com

34

Lampiran 1
MINI PROJECT INTERNSHIP PUSKESMAS BARABAI BARABAI - HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN

KUESIONER HIPERTENSI

Identitas pasien
Nama Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Nama KK : : : : : L/P* (*coret salah satu)

Ukuran
Berat Badan Tinggi Badan IMT Tekanan Darah : : : : / mm Hg kg cm

No 1

Pertanyaan Umur : ..................

Ya

Tidak

a. 40-49 tahun b. 50-59 tahun c. 2 > 60 tahun

Pendidikan Terakhir : a. Tidak tamat SD b. SD sampai SMP c. SMA

d. Perguruan Tinggi 3 Apakah Bapak/Ibu tahu berapa tekanan darah untuk dinyatakan tekanan darah tinggi? 4 5 6 Apakah Bapak/Ibu tahu apa saja yang dapat meningkatkan tekanan darah? Apakah Bapak/Ibu tahu akibat tekanan darah tinggi tidak diobati teratur? Apakah Bapak/Ibu tahu apa saja yang dapat menurunkan tekanan darah selain obat?

35

Apakah Bapak/Ibu menderita hipertensi? Jika Ya, sudah berapa lama? ......................... (TD pertama kali ................... mm Hg)

Apakah Bapak/Ibu memiliki kebiasaan berolahraga minimal 3x setiap minggu?

9 10

Apakah Bapak/Ibu seorang perokok atau memiliki riwayat merokok? Apakah Bapak/Ibu sering mengkonsumsi (> 3 x seminggu) a. Gorengan (camilan) ....................... b. Makanan asin/awetan ......................... c. Daging kambing ...........................

d. Jeroan .......................... 12 14 Apakah Bapak/Ibu mempunyai anggota keluarga yang menderita hipertensi? Apakah Bapak/Ibu sering merasa kesal

36

Lampiran 2 Leaflet Hipertensi Depan

Belakang

37

Lampiran 3 POSTER HIPERTENSI

38