Anda di halaman 1dari 23

PENGERTIAN Keracunan merupakan setiap keadaaan yang menunjukan setiap kelainan multisystem dengan penyebab yang tidak jelas.

Misalnya bila ditemukan penurunan tingkat kesadaran mendadak, gangguan napas, manifestasi berat pada pasien psikiatri, sakit dada pada anak remaja, aritmia yang mengancam nyawa, atau gejala klinis pada pekerja dengan lingkungan yang mengandung bahan kimia, asidosis metabolic yang sukar dicari penyebabnya, tingkah laku aneh, ataupun kelainan neurologis dengan penyebab sukar diketahui. Pada hakekatnya semua zat dapat berlaku sebagai racun, tergantung pada dosis dan cara pemberiannya. Karena gejala yang timbul sangat bervariasi, kita harus mengenal gejala yang ditimbulkan oleh setiap agens agar dapat bertindak dengan cepat dan tepat pada setiap kasus dengan dugaan keracunan. Seseorang juga bisa dicurigai keracunan bila : Seorang yang sehat mendadak sakit Gejalanya tak sesuai dengan suatu keadaan patologik tertentu. Gejala menjadi progresif dengan cepat karena dosis yang besar dan intolerable Anamnestik menunjukkan kearah keracunan, terutama pada kasus bunuh diri / kecelakaan. Keracunan kronik dicurigai bila digunakan obat dalam waktu lama atau lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan zat-zat kimia. Juga perhatikan benda-benda sekitar penderita dan simpan semua zat yang ada disitu ; hal ini terutama pada kecurigaan pembunuhan / bunuh diri. Meskipun sampai sekarang kira-kira 95% kasus keracunan tidak dikenal antidotumnya, pengobatan simtomatik yang segara sering cukup efektif. B. JENIS JENIS RACUN, GEJALA, DAN TINDAKANNYA Jenis racun Gejala Tindakan Alkohol Emosi labil, kulit merah, muntah, Emesis dan bilas lambung (Miras) depresi pernafasan, stupor, koma. dengan air/NaHCO3 5% beri kopi pahit Infuse glukosa untuk menghindari hipoglikemi Deterjen anionic Muntah dan diare Emesis dan bilas lambung (sabundan deterjen rumah hanya bila tertelan dalam tangga) jumlah besar Biasanya tidak berbahaya Deterjen kationik Mual, muntah, diare, kejang, Bilas lambung dengan air (deterjen bakterisid di syok, koma sabun biasa rumah sakit) Deterjen untuk mesin cuci Dapat mengenai kulit, mata, atau Jangan lakukan emesis atau ditelan. Tanda korosi pada mulut bilas lambung dan farings : sangat nyeri dan Netralisasi : asam kuat kecoklatan. Muntah dan diare : dengan antacid, jangan dengan cairan kehitaman. Nyeri dada dan NaHCO3 karena menghasilkan perut gas. Basa kuat dengan sari buah atau asam cuka 10%. Bila tidak diketahui beri susu atau air biasa Anitibiotik : penisilin 800000 1,2 juta U/hari. Sreptomisin 25 50 mg/hari. Kortikosteroid : kortison 300 500 mg/hari atau prednisone 60mg/hari dengan tapering off selama 2 3 minggu Perhatikan kemungkinan perforasi dan struktur esophagus. Kalsium glukonat 10 % 5 ml

Fenotiazin CPZ (Klorpomazin) Trifluoperazin

IV bila tetani Mulut kering, anoreksia, mual, Difenhidramin (Benadryl) 2 sumbatan hidung, hipotensi, 3 mg/kgBB IV/IM takikardi, ataksi, tremor, Jangan gunakan epinefrin hipotermi, kegagalan pernafasan, atau levarterenol koma, lekopeni, gangguan pembekuan darah, ikterus.

Fenotiazin CPZ (Klorpomazin) Trifluoperazin

Mulut kering, anoreksia, mual, Difenhidramin (benadryl) 2 sumbatan hidung, hipotensi, 3 mg/KgBB IV/IM takikardi, ataksi, tremor, Jangan gunakan epinefrin hipotermi, kegagalan pernafasan, atau levarterenol koma, lekopeni, gangguan pembekuan darah, ikterus.

Formaldehid Formalin (larutan 4%) LD 60ml Formalin

Inhalasi : iritasi mata, hidung dan Bilas lambung, bila ada saluran pernafasan, edema dan dengan larutan ammonia 0,2 % spasme laring, disfagia, lalu beri activated charcoal atau bronchitis, pneumoni. susu. Kulit : iritasi, nekrosis, dermatitis.Hati-hati asidosis Ditelan : nyeri perut, mual, hematemesis, hematuri/anuri syok, koma, kegagalan pernafasan

sHidrokarbon senyawa, bensin, minyak tanah

Inhalasi : nyeri kepala, mual, lemah, dispnea, depresi pernafasan. Ditelan : korosi, muntah, diare. Sangat berbahaya bila terjadi aspirasi

Jangan lakukan emesis Bilas lambung hati-hati, lalu berikan pencahar. Depresi pernafasan dapat diatasi dengan kavein 200500mg im. Perhatikan kemungkinan edema paru/pneumoni aspirasi.

Makanan-botulisme Makan dalam kaleng yang tidak sempurna Cegah dengan memanaskan 80C selama 30 menit Kausa : clostridium botulimun

Masa laten 18-36 jam lemah, Bilas lambung dengan gangguan penglihatan , reflex KMnO4 1/5000 dan pupil (-) , paresis bulber (disartri activatedcharcoal disfagi , regurgitasi nasal), Antitoksin 10.000 U di kelemahan otot lurik. Tidak ada encerkan 10 kali iv lambat tiap gangguan pencernaan dan 4 jam, waspada reaksi terhadap gangguan kesadaran. serum dapat digunakan untuk pencegahan (10.000 U)

Makanan-bongkrek Kausa : Pseudomonas Cocovenenans Makanan-ikan

Mengantuk, nyeri perut, berkeringat, dispnea, spasme otot, vertigo, koma Masa laten - jam panas sekitar mulut, rasa baal pada ekstermita, mual, muntah, diare, nyeri perut, nyeri sendi, pruritus, demam, kelemahan otot umum, paralisa otot pernafasan

Hanya simtomatik

Emesis dan bilas lambung dengan KMnO4 1/5000 lalu berikan pencahar.

1. 2.

Makanan jamur Amanita muscarina Amanita phalloidine

1. Masa laten kurang 2 jam, Idem keracunan ikan. lakrimasi, salvias, keringat, 1. Atropine sulfat 1mg sk/im miosis, muntah, nyeri perut, diare, diulang tiap 1-2 jam sampai pusing, kejang, koma. atropinisasi 2. Masa laten 6-24 jam mual, 2. Hati-hati hipoglikemi, beri muntah, melena, dehidrasi, infuse glukosa 10%. ikterik, anemi, syok, koma.

Makanan jengkol

Kolik ureter, hematuri, oliguri/anuri Hati-hati uremi

Na-Bikarbonat 4x2g oral/hari Infuse NaHCO3 1 %

Makanan singkong

Nyeri kepala, mual, mengantuk, Inhalasi milnitrit 0,2 ml tiap 2 hipotensi, takikardi, dispnea, menit (kecuali bila sistolik kejang, koma. kurang 80mmHg) Dapat meniggal dalam 1-15 menitNa-Nitrit 3% 10 ml iv dalam 3 menit dan Na-Tiosulfat 25% 50 ml iv dalam 10 menit Masa laten 2-8 jam, mual, Obat seperti gastroenteritis muntah, diare, nyeri perut, nyeri akut kepala, demam, dehidrasi. Dapat menyerupai disentri

Makanan stafililokokal (tersering)

Marijuana (ganja)

Serupa atropine dengan halusinasiCukup simtomatik, kesadaran nyata, mulut kering, nidriasis tak akan pulih dalam -1 hari begitu jelas

Metal alcohol (metanol) Masa laten 8-32 jam nyeri kepala Bilas lambung dengan Dalam spiritus bakar 5-10% dan pusing, nyeri perut, kulit NaHCO3 hanya efektif dalam 2 LD 30ml methanol dingin, kekacauan mental, kejang, jam bradikardi, gangguan penglihatan,Methanol 50% sampai buta, asidosis, koma. (wiski) 30ml tiap 3-4 jam. NaHCO3 4g oral tiap 15 menit atau 4 mEq/kgbb iv tiap 4 jam

Naftalena (kamper) LD 2g

Natrium hipiklorit Pemutih (3-6%) LD 30ml larutan 15%

Kontak : dermatitis, ulkus kornea.Prednison : 30-50 mg/hari Inhalasi: nyeri kepala , muntah, untuk mengatsi hemolosis. dispnea, kekacauan mental. Alkalisasi urin dengan Ditelan : nyeri perut, muntah , NaHCO3 oral. nyeri kepala, kekacauan mental, disuria , hemolisis intravaskuler, kejang Korosi Demulsen : susu, antacid Jangan beri NaHCO3 /asam Beri Na-sulfat 5% 200ml oral.

Narkotik Heroin Moorfin Kodein LD 120-150 mg Morfin

Mual, muntah, pusing, kulit dingin , pin point pupil, pernafasan dangkal, koma.

Nikotin LD 60 mg (setara denagn 3 batang rokok) Salisilat LD 20-30 g aspirin

Gelisah, nyeri dan pusing kepala, tremor, kejang, paralisa, pernafasan, palpitasi, koma. Tinnitus, demam, hiperventilasi, keringat, muntah, delirium, kejang, koma, depresi pernafasan. Pada anak-anak : asodosis metabolic Dewasa : alkalosis respiratorik. -

Jangan lakukan emesis Nalokson 5 ug/KgBB iv/ nalorpine 0,1 mg/KgBB iv tiap 5 menit (max 40 mg dalam 4 jam) atau lefalorpan 0,02mg/KgBB iv Obat terpilih : nalokson Karena tidak mendepresi pernafasan dan memperbaiki kesadaran. Bilas lambung dengan KMnO4 atau activated charcoal, lalu beri pencahar. Emesis dan bilas lmbung masih efektif sampai 6-8 jam, lalu beri pencahar. Infuse glukosa 10% : Nacl 0,9%=2 : 1 Bila asidosis : NaHCO3 1-2 mEq/kgbb iv; anak-anak 3-4 mEq/kgbb iv KCI 3-5 mEq/KgBB/24 jam iv Vit K 25-50mg/hari im.

Sianida Singkong racun

Nyeri kepala, mual, mengantuk, Inhalasi amilnitrit 0,2ml tiap hipotensi, takikardi, dipsnea, 2 menit (kecuali bila sistolik kejang , koma. kurang 80 mmHg) Dapat meninggal dalam 1-15 Na-nitrit 3% 10ml iv dalam 3 menit menit dan Na-tiosulfat 25% 50ml iv dalam 10 menit. Korosi. Pewarnaan coklat, kolaps Bilas lambung dengan dan sirkulatorik, nefritis, delirium, dengan air tajin dan susu : bila stupor. ada dengan Na-tiosulfat 10%.

Yodium tingtura LD 30-60ml Larutan 7 %

C.

PENATALAKSANAAN Prinsip : 1. Mencegah / menghentikan penyerapan racun 2. Mengeluarkan racun yang telah diserap 3. Pengobatan simtomatik 4. Pengobatan spesifik dan antidotum.Yangmana dari keempat hal tersebut yang paling penting, berbeda-beda pada setiap kasus, oleh karena itu urutan diatas bukanlah menyatakan urutan tindakan yang pasti, melainkan berubah-ubah tergantung mana yang lebih darurat. D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Satu-satunya diagnosis pasti keracunan diperoleh melalui analisis laboratorium. Bahan analisis dapat berasal dari bahan cairan, lambung, atau urin. Pemeriksaan penyaring yang cepat dan sederhana menggunakan kromatografi lapisan tipis dapat dilakukan pada 90% keracunan umum yang terjadi. E. PENCEGAHAN/ PENGHENTIAN PENYERAPAN RACUN : Bila racun ditelan : 1. Encerkan racun yang ada dalam lambung, sekaligus menghalangi penyerapannya. Cairan yang dapat dipakai : Air biasa Susu dan / atau telur mentah Activated charcoal (Norit) 2 sendok the penuh dalam satu gelas air. Universal antidote terdiri dari : 2 bagian activated charcoal (dapat diganti dengan roti yang dibakar hangus) 1 bagian asam tanat (dapat diganti dengan the pekat) 1 bagian MgO (dapat diganti dengan antasida). 2. Kosongkan lambung Tindakan ini hanya efektif bila dilakukan dalam 4 jam setelah racun ditelan a. Emesis, dialakukan dengan cara : Mekanik : dengan merangsang dinding farings daengan jari dapat dikombinasi dengan pemberian emetic. Obat-obatan Air garam / mustard pekat kurang lebih 1 2 sendok makan dalam 1 gelas air hangat per oral Sirup ipekak 15 20 ml dalam 1 gelas air hangat per oral ; untuk anak <2 thn cukup 8 ml ; dapat diulang 2 3 kali setiap 15 menit Apomorfin 0,06 mg/kgbb im atau 0,01 mg/kgbb iv CuSO4 0,25 gr/100ml air per oral atau ZnSO4 1 2 gr/200ml air per oral. Kontra indikasi : Karacunan zat korosif ; asam /basa kuat , fenol, striknim Keracunan senyawa hidro karbon : minyak tanah , bensin Penurunan kesadaran Kejang.

b. Bilas lambung Cara : Penderita telungkup dengan kepala dan bahu lebih rendah. Pasang mouth gag dan bila terdapat penurunan kesadaran atau bahaya aspirasi iritan dapat dipasang cuffed endotracheal tube Gunakan pipa lambung yang cukup besar. Cairan pembilasa yang dapat dapat digunakan : air, kalium permanganate, asam asetat / sitrat 5%. Natrium bikarbonat 5% , larutan activated charcoal (norit) Bilas dengan cairan pembilas yang hangat kurang lebih 250ml setiap kali, sampai kira-kira 20 kali. Cairan yang terakhir dimasukkan ditinggalkan saja dalam lambung. Kontra indikasi : Keracunan zat korosif Kejang 3. Bilas usus besar, dengan : Pencahar : natrium sulfat/ magnesium sulfat 20gr dalam 200ml air, untuk anak 3 - 4 gr dalam 200ml air per oral. Klisma : air sabun / gliserin per rectal. Bila racun melalui kulit/mata : 1. Pakaian yang terkena kontaminsi dilepas 2. Cuci/bilas bagian yang terken dengan air dan sabun ; dapt digunakan asam cuka encer atau natrium bukarbonat encer untuk menetralisasi basa atau asam kuat. Jangan digunakan zat lain. 3. Perhatikan jangan sampai penolong ikut terkontaminasi. Bila racun melalui inhalasi : 1. Pindahkan penderita ketempat yang aman 2. Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang terhisap. Jangan lakukan pernafasan buatan secara mulut ke mulut. Bila racun melalui suntikan : 1. Pasang turniket proksimal tempat suntikan : jaga agar denyut arteri bagian distal masih teraba dan lepaskan selama 1 menit setiap 15 menit 2. Beri epinefrin 1/1000 dengan dosis 0,3 0,4 mgsk/im. Atau kompres dingin ditempat suntikan. Mengeluarkan racun yang telah diserap : 1. Forced dieresis : Furocemid (lasix) 40mg iv atau Larutan manitol mula-mula 50ml larutan 25 % iv, diikuti dengan infuse larutan 5-10% dengan kecepatan 5-10ml/menit. 2. Dialisa : hemodialisa atau dialisa peritoneal 3. Exchange transfusion. Pengobatan simtomatik : 1. Fungsi pernafasan dan sirkulasi Berikan resusitasi bila perlu Edema larings diatasi dengan Epinefrin 1/1000 0,3 mg sk, dapat diulang Trakeotomi Edema paru diatasi dengan Oksigen Deksametason 1 mg/m luas permukaan badan/ 6 jam Cegah dan atasi syok dan hipotensi. 2. Fungsi susunan saraf pusat : Bila terdapat gejala penekanan (depresi), tidak perlu diberi obat stimulant atau analgetik, kecuali bila disebabkan oleh keracunan narkotik. Bila terdapat gejala rangsangan (stimulasi), berikan diazepam 5-10 mg iv (anak 0,1- 0,2 mg/kgbb iv) atau fenobarbital 100-200 mg im (anak 4-7 mg/kgbb) Edema otak diatasi dengan manitol 20% 5-10 ml/kgbb iv secara lambat, dan atau deksametason 1 mg/m luas permukaan badan/ 6 jam atau di dalam infuse.

3. -

Nyeri : berikan (bila tidak ada kontra indikasi) : Salisilat (Aspirin) 0,3-0,6 g oral tiap 2-4 jam. Kodein 8-32 mg oral. Meperidin (Pethidin) 50-100 mg oral/im tiap 2-4 jam.

F.

TIPS MENGATASI KERACUNAN DAN ALERGI Saat keracunan makanan kadang membuat kita panik, walaupun panik malah bisa memperburuk keadaan. Kita harus tenang dan lihat kondisi dari penderita, apakah dia keracunan atau hanya alergi. Lalu kita bisa mengambil cara yang terbaik dan tercepat mengatasi hal tersebut. 1. Kenali dulu apa saja gejalanya, mungkin : a. Kram perut b. Demam c. Muntah-muntah d. Sering BAB yang bercampur darah, nanah, atau lendir. e. Merasa lemas dan menggigil f. Kehilanagn nafsu makan, dll Catatan : Muntah-muntah dan buang air besar bisa jadi masalah serius pada bayi atau balita, karena bisa mengakibatkan dehidrasi. 2. Berapa lama gejala yang dialami Gejala keracunan makanan dapat terlihat sekitar 4-24 jam setelah terkontaminasi makanan yang beracun. Gejala ini bisa berlangsung sekitar 3-4 hari. Tapi bisa jadi lebih lama lagi, jika orang yang keracunan tak sengaja masih mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Catatan : Gejala akanlebih cepat terlihat pada anak kecil, karena tubuhnya lebih rentan. Misalnya hanya 2 jam setelah ia mengosumsi makanan yang terkontaminasi. 3. Tindakan pertama yang harus dilakukan Jika terjadi muntah-muntah dan sering BAB, periksa suhutubuhnya. Siapa tahu juga demam, perikas juga tinjanya. Apakah ada lendir atau darah, baringkan penderita dan jangan beri makanan yang harus dikunyah dulu. Sebagai gantinya, berikan oralit sedikit demi sedikit. Jika anda tidk punya oralit, beri saja air yang dicampur dengan garam dan gula. Telusuri lagi apa yang mnenyebabkan penderita keracunan. 4. Kapan waktunya ke dokter a. Jika dia muntah dan diare terus sementara asupan cairan tidak bisa maksimal b.Jika dia masih bisa dan mau minum, tapi kondisinya tidak membaik dalam jangka waktu 12 jam. c. Dia masih saja diare dan demam. Catatan : Jika dokter anda tidak bisa segera menanganinya, cepat bawa ke UGD RS terdekat. Bisa jadi ia perlu di infuse. 5. Mencegah keracunan a. Biasakan memperhatikan kebersihan tangan, harus selalu mencuci bersih tangannya sehabis BAB b. Jika anda yang mengurus kotoran anda juga harus mencuci tangan sampai bersih sehabis membersihkan tinja c. Simpan makanan matang di kulkas. Kalaupun mau dihangatkan, pastikan panasnya merata. Karena salmonela (yang jadi biang keladi keracunan makanan) biasany senang dan tumbuh subur dimatangan hangat. Tapi bakteri ini akan mati pada temperature tinggi. d. Masaklah makana sampai benar-benar matang. Artinya, matangnya harus merata kedalam bahan makanan 6. Kiat seputar memilih makanan a. Ketika membeli makan : Perhatikan kaleng dan tutupnya Apakah masih mulus ataukah sudah terbuka Apakah kalengnya agak menggelembuny atau tidak

Jangan sekali-kali memilih makanan yang kemasannya cacat atau kalengnya menggelembung. Bisa jadi, makanan tersebut sudah terkontaminasi bakteri. b. Belilah daging dan makanan hasil laut ditempat yang dapat dipertanggung jawabkan kebersihannya. kASUS INTOKSIKASI BAB I PEMBAHASAN A. Pengertian Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan adalah keadaan sakit yang ditimbulkan oleh racun. Bahan racun yang masuk ke dalam tubuh dapat langsung mengganggu organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati, ginjal dan lainnya. Tetapi zat tersebut dapat pula terakumulasi dalam organ tubuh, tergantung sifatnya pada tulang, hati, darah atau organ lainnya sehingga akan menghasilkan efek yang tidak diinginkan dalam jangka panjang. B. Etiologi Ada berbagai macam kelompok bahan yang dapat menyebabkan keracunan, antara lain : Bahan kimia umum ( Chemical toxicants ) yang terdiri dari berbagai golongan seperti pestisida ( organoklorin, organofosfat, karbamat ), golongan gas (nitrogen metana, karbon monoksida, klor ), golongan logam (timbal, posfor, air raksa,arsen) ,golongan bahan organik ( akrilamida, anilin, benzena toluene, vinil klorida fenol ). Racun yang dihasilkan oleh makluk hidup ( Biological toxicants ) mis : sengatan serangga, gigitan ular berbisa , anjing dll Racun yang dihasilkan oleh jenis bakteri ( Bacterial toxicants ) mis : Bacillus cereus, Compilobacter jejuni, Clostridium botulinum, Escherichia coli dll Racun yang dihasilkan oleh tumbuh tumbuhan ( Botanical toxicants ) mis : jamur amnita, jamur psilosibin, oleander, kecubung dll Pathofisiologi Penyebab terbanyak keracunan adalah pada sistem saraf pusat dengan akibat penurunan tingkat kesadaran dan depresi pernapasan. Fungsi kardiovaskuler mungkin juga terganggu,sebagian karena efek toksik langsung pada miokard dan pembuluh darah perifer,dan sebagian lagi karena depresi pusat kardiovaskular diotak.Hipotensi yang terjadi mungkin berat dan bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal,hipotermia terjadi bila ada depresi mekanisme pengaturan suhu tubuh. Gambaran khas syok mungkin tidak tampak karena adanya depresi sistem saraf pusat dan hipotermia, Hipotermia yang terjadi akan memperberat syok,asidemia,dan hipoksia

C.

Faktor penyebab Masuknya racun kedalam tubuh melalui mulut,inhalasi pernapasan Terakumulasi kedalam darah,paru ,hati dan ginjal Depresi SSP Distress pernapasan Pola napas inefektif Mekanisme koping inefektif Cemas

Penurunan kesadaran & depresi pernapasan Efek toksis pada miokard & pembuluh darah perifer Depresi Cardiovascular Hipotensi,sianosis,syok Perubahan perfusi

D.

a.

b.

Manifestasi Klinis Ciri-ciri keracunan umumnya tidak khas dan dipengaruhi oleh cara pemberian,apakah melalui mata,paru,lambung atau melalui suntikan. Karena hal ini mungkin mengubah tidak hanya kecepatan absorpsi dan distribusi suatu bahan toksik,tetapi juga jenis dan kecepatan metabolismenya,pertimbangan lain meliputi perbedaan respon jaringan. Hanya beberapa racun yang menimbulkan gambaran khas seperti pupil sangat kecil (pinpoint),muntah,depresi,dan hilangnya pernapasan pada keracunan akut morfin dan alkaloid. Kulit muka merah,banyak berkeringat,tinitus,tuli,takikardia dan hiperventilasi sangat mengarah pada keracunan salisilat akut (aspirin). Riwayat menurunnya kesadaran yang jelas dan cepat,disertai dengan gangguan pernapasan dan kadang-kadang henti jantung pada orang muda sering dihubungkan dengan keracunan akut dekstroprokposifen,terutama bila digunakan bersamaan dengan alkohol. Untuk zat aditif,gejala terdiri dari dua kelompok besar yaitu : Kelompok Sindrom Simpatotimetik Gejala yang sering ditemukan adalah dilusi,paranoid,takikardia,hipertensi,keringat banyak,midriasis,hiperefleksi,kejang (pada kasus berat),hipotensi (pada kasus berat) dan aritmia. Obat-obat dengan gejala tersebut adalah : Amfetamin Kokain Dekongestan Intoksikasi teofilin Intoksikasi kafein Golongan Opiat (morfin,petidin,heroin,kodein) dan sedatif Tanda dan gejala yang sering ditemukan adalah koma,depresi napas,miosis,hipotensi,bradikardi,hipotermia,edema paru,bising usus menurun, hiporefleksi dan kejang. Obat pada kelompok ini yaitu : Narkotik Barbiturat Benzodiazepin Meprebamat Etanol Pemeriksaan Penunjang Diagnosis pada keracunan diperoleh melalui analisis laboratorium. Bahan analisis dapat berasal dari bahan cairan,cairan lambung atau urin. Komplikasi Kejang Koma Henti jantung Henti napas Syok

E.

F. G.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan kasus keracunan adalah sebagai berikut : 1. Penatalaksanaan Kegawatan Walaupun tidak dijumpai adanya kegawatan,setiap kasus keracunan harus diperlakukan seperti keadaan kegawatan yang mengancam nyawa. Penilaian terhadap tanda-tanda Vital seperti jalan napas, sirkulasi,dan penurunan kesadaran harus dilakukan secara cepat. 2. Penilaian Klinis Upaya yang paling penting adalah anamnese atau aloanamnesis yang rinci. Beberapa pegangan anamnesis yang penting dalam upaya mengatasi keracunan,ialah :

3.

4.

5. 6. 7.

Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang digunakan,termasuk yang sering dipakai Kumpulkan informasi dari anggota keluarga,teman dan petugas tentang obat yang digunakan. Tanyakan dan simpan sisa obat dan muntahan yang masih ada untuk pemeriksaan toksikologi Tanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilaktik Pada pemeriksaan fisik diupayakan untuk menemukan tanda/kelainan fungsi autonom yaitu pemeriksaan tekanan darah,nadi,ukuran pupil,keringat,air liur, dan aktivitas peristaltik usus. Dekontaminasi Umumnya bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap melalui kulit sehingga dekontaminasi permukaan sangat diperlukan. Di samping itu,dilakukan dekontaminasi saluran cerna agar bahan yang tertelan hanya sedikit diabsorpsi,biasanya hanya diberikan pencahar,obat perangsang muntah,dan bilas lambung. Induksi muntah atau bilas lambung tidak boleh dilakukan pada keracunan parafin,minyak tanah, dan hasil sulingan minyak mentah lainnya. Upaya lain untuk megeluarkan bahan/obat adalah dengan dialisis. Pemberian antidot/penawar Tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah mengatasi keadaan sesuai dengan masalah. Terapi suportif,konsultasi,dan rehabilitasi Terapi suportif,konsultasi dan rehabilitasi medik harus dilihat secara holistik dan efektif dalam biaya. Observasi dan konsultasi Rehabilitasi

BAB II I. 1. PENGKAJIAN Aktifitas dan istirahat Gejala : Keletihan,kelemahan,malaise Tanda : Kelemahan,hiporefleksi Sirkulasi Tanda : Nadi lemah (hipovolemia), takikardi,hipotensi (pada kasus berat) ,aritmia jantung,pucat, sianosis,keringat banyak. Eliminasi Gejala : Perubahan pola berkemih,distensi vesika urinaria,bising usus menurun,kerusakan ginjal. Tanda : Perubahan warna urin contoh kuning pekat,merah,coklat Makanan Cairan Gejala : Dehidrasi, mual , muntah, anoreksia,nyeri uluhati Tanda : Perubahan turgor kulit/kelembaban,berkeringat banyak Neurosensori Gejala : Sakit kepala,penglihatan kabur,midriasis,miosis,pupil mengecil,kram otot/kejang Tanda : Gangguan status mental,penurunan lapang perhatian,ketidakmampuan berkonsentrasi kehilangan memori,penurunan tingkat kesadaran(azotemia), koma,syok. Nyaman/ nyeri Gejala : Nyeri tubuh,sakit kepala Tanda : Perilaku berhati-hati/distraksi,gelisah Pernafasan Gejala : Nafas pendek,depresi napas,hipoksia Tanda : Takipnoe,dispnoe,peningkatan frekuensi,kusmaul,batuk produktif Keamanan Gejala : Penurunan tingkat kesadaran,koma,syok,asidemia Penyuluhan/pembelajaran

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Gejala : Riwayat terpapar toksin(obat,racun),obat nefrotik penggunaan berulang Contoh : Keracunan kokain dan amfetamin serta derivatnya. II. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul 1. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan distress pernapasan 2. Resiko kekurangan cairan tubuh. 3. Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat 4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,muntah 5. Perubahan perfusi berhubungan dengan efek toksik pada miokard 6. Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan depresi mekanisme suhu tubuh 7. Cemas berhubungan dengan Tidak efektifnya koping individu. Rencana Asuhan Keperawatan Pada Kasus Intoksikasi Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan efek toksik pada mioakrd Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat Intervensi : Kaji adanya perubahan tanda-tanda vital. Rasional : Data tersebut berguna dalam menentukan perubahan perfusi Kaji daerah ekstremitas dingin,lembab,dan sianosis Rasional : Ekstremitas yang dingin,sianosis menunjukan penurunan perfusi jaringan Berikan kenyamanan dan istirahat Rasional : Kenyamanan fisik memperbaiki kesejahteraan pasien istirahat mengurangi komsumsi oksigen Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antidotum Rasional : Obat antidot (penawar) dapat mengakumulasi penumpukan racun.

III. 1.

2.

Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pernapasan Tujuan : Mempertahankan pola napas tetap efektif Intervensi : Observasi tanda-tanda vital. Rasional : Untuk mengetahui keadaan umum pasien dalam menentukan tindakan selanjutnya Berikan O2 sesuai anjuran dokter Rasional : Terapi oksigen meningkatkan suplai oksigen ke jantung Jika pernafasan depresi ,berikan oksigen(ventilator) dan lakukan suction. Rasional : Ventilator bisa membantu memperbaiki depresi jalan napas Berikan kenyamanan dan istirahat pada pasien dengan memberikan asuhan keperawatan individual Rasional : Kenyamanan fisik akan memperbaiki kesejahteraan pasien dan mengurangi kecemasan,istirahat mengurangi komsumsi oksigen miokard Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan dapat mempertahankan tingkat kesadaran klien (komposmentis) Intervensi : Monitor vital sign tiap 15 menit Rasional : bila ada perubahan yang bermakna merupakan indikasi penurunan kesadaran Catat tingkat kesadaran pasien Rasional : Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah otak. Kaji adanya tanda-tanda distress pernapasan,nadi cepat,sianosis dan kolapsnya pembuluh darah Rasional : Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada otak, ginjal, jantung dan paru. Monitor adanya perubahan tingkat kesadaran Rasioanal : Tindakan umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup, meliputi resusitasi : Airway, breathing, sirkulasi

3.

Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti dotum Rasional : Anti dotum (penawar racun) dapat membantu mengakumulasi penumpukan racun 4. Cemas berhubungan dengan koping yang tidak efektif Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan berkurang Intervensi : Kaji tingkat kecemasan pasien Rasional : Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa Jelaskan mekanisme pengobatan Rasional : Pengetahuan terhadap mekanisme pengobatan diharapkan dapat mengurangi kecemasan pasien Tingkatkan mekanisme koping yang efektif Rasional : Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki efektif Jika keracunan sebagai usaha untuk bunuh diri maka lakukan safety precautions . Rasional : Konsultasi psikiatri atau perawat psikiatri klinis dapat membantu proses pengobatan DAFTAR PUSTAKA Noer Syaifoellah,1996,Ilmu Penyakit Dalam,FKUI,Jakarta Mansjoer Arif,2000, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 jilid 1 Media Aesculapius,FKUI,Jakarta Suzanne C. Brenda G.2001,Keperawatan Medikal Bedah,EGC,Jakarta KERACUNAN A. Pengertian Racun adalah zat yang ketika tertelan, terisap, diabsorbsi, menempel pada kulit atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil menyebabkan cedera dari tubuh dengan adanya reaksi kimia. Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dan karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya kesehatan. Sekitar 7% dari semua pengunjung departemen kedaruratan dating karena masalah toksik. B. Macam-macam Keracunan 1. Mencerna (menelan) racun Tindakan yang dilakukan adalah menghilangkan atau menginaktifkan racun sebelum diabsorbsi, untuk memberikan perawatan pendukung, untuk memelihara system organ vital, menggunakan antidote spesifik untuk menetralkan racun, dan memberikan tindakan untuk mempercepat eliminasi racun terabsorbsi. Penatalaksanaan umum : a. Dapatkan control jalan panas, ventilasi, dan oksigensi. Pada keadaan tidak ada kerusakan serebral atau ginjal, prognosis pasien bergantung pada keberhasilan penatalaksanaan pernapasan dan sisitem sirkulasi. b. Coba untuk menentukan zat yang merupakan racun, jumlah, kapan waktu tertelan, gejala, usia, berat pasien dan riwayat kesehatan yang tepat. c. Tangani syok yang tepat. d. Hilangkan atau kurangi absorbsi racun. e. Berikan terapi spesifik atau antagonis fisiologik secepat mungkin untuk menurunkan efek toksin. f. Dukung pasien yang mengalami kejang. Racun mungkin memicu system saraf pusat atau pasien mungkin mengalami kejang karena oksigen tidak adekuat. g. Bantu dalam menjalankan prosedur untuk mendukung penghilangan zat yang ditela, yaitu: Diuresis untuk agens yang dikeluarkan lewat jalur ginjal. Dialisis

Hemoperfusi (proses melewatkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal dan cartridge containing an adsorbent [karbon atau resin], dimana setelah detoksifikasi darah dikembalikan ke pasien. h. Pantau tekanan vena sentral sesuai indikasi. i. Pantau keseimbangan cairan dan elektrolit. j. Menurunkan peningkatan suhu. k. Berikan analgesic yang sesuai untuk nyeri. l. Bantu mendapatkan specimen darah, urine, isi lambung dan muntah. m. Berikan perawatan yang konstan dan perhatian pada pasien koma. n. Pantau dan atasi komplikasi seperti hipotensi, disritmia jantung dan kejang. o. Jika pasien dipulangkan, berikan bahan tertulis yang menunjukan tanda dan gejala masalah potensial dan prosedur untuk bantuan ulang. Minta konsultasi dokter jiwa jika kondisi tersebut karena usaha bunuh diri Pada kasus keracunan pencernaan yang tidak disengaja berikan pencegahan racun dan instruksi pembersihan racun rumah pada pasien atau keluarga 2. Keracunan melalui inhalasi Penatalaksanaan umum : 1. Bawa pasien ke udara segar dengan segera; buka semua pintu dan jendela. 2. Longgarkan semua pakaian ketat. 3. Mulai resusitasi kardiopulmonal jika diperlikan. 4. Cegah menggigil; bungkus pasien dengan selimut. 5. Pertahankan pesien setenang mungkin. 6. Jangan berikan alcohol dalam bentuk apapun. 3. Keracunan makanan Keracunan makanan adalah penyakit yang tiba-tiba dan mengejutkan yang dapat terjadi setelah menelan makanan atau minuman yang terkontaminasi. Pertolongan Pertama Pada Keracunan Makanan 1. Untuk mengurangi kekuatan racun, berikan air putih sebanyak-banyaknya atau diberi susu yang telah dicampur dengan telur mentah. 2. Agar perut terbebas dari racun, berikan norit dengan dosis 3-4 tablet selama 3 kali berturut-turut dalam setia jamnya. 3. Air santan kental dan air kelapa hijau yang dicampur 1 sendok makan garam dapat menjadi alternative jika norit tidak tersedia. 4. Jika penderita dalam kondisi sadar, usahakan agar muntah. Lakukan dengan cara memasukan jari pada kerongkongan leher dan posisi badan lebih tinggi dari kepala untuk memudahkan kontraksi 5. Apabila penderita dalam keadaan p[ingsan, bawa egera ke rumah sakit atau dokter terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. 4. Gigitan ular Bisa (racun) ular terdiri dari terutama protein yang mempunyai efek fisiologik yang luas atau bervariasi. Sisitem multiorgan, terutama neurologic, kardiovaskuler, sisitem pernapasan mungkin terpengaruh. Bantuan awal pertama pada daerah gigitan ular meliputi mengistirahatkan korban, melepaskan benda yang mengikat seperti cincin, memberikan kehangatan, membersihkan luka, menutup luka dengan balutan steril, dan imobilisasi bagian tubuh dibawah tinggi jantung. Es atau torniket tidak digunakan. Evaluasi awal di departemen kedaruratn dilakukan dengan cepat meliputi : Menentukan apakah ular berbisa atau tidak. Menentukan dimana dan kapan gigitan terjadi sekitar gigitan. Menetapkan urutan kejadian, tanda dan gejala (bekas gigi, nyeri, edema, dan eritema jaringan yang digigit dan didekatnya). Menentukan keparahan dampak keracunan. Memantau tanda vital. Mengukur dan mencatat lingkar ekstremitas sekitar gigitan atau area pada beberapa titik. Dapatkan data laboratorium yang tepat (mis. HDL, urinalisi, dan pemeriksaan pembekuan). 5. Sengatan serangga

Manifestasi klinis bervariasi dari urtikaria umum, gatal, malaise, ansietas, sampai edema laring, bronkhospasme berat, syok dan kematian. Umumnya waktu yang lebih pendek diantara sengatan dan kejadian dari gejala yang berat merupakan prognosis yang paling buruk. Penatalaksanaan umum: Berikan epineprin (cair) secara langsung. Masase daerah tersebut untuk mempercepat absorbsi. Jika sengatan pada ekstermitas, berikan tornikuet dengan tekanan yang tepat untuk membendung aliran vena dan limfatik. Instruksikan pasien untuk hal-hal berikut: Injeksi segera dengan epineprin Buang penyengat dengan garukan cepat kuku jari Bersihkan area dengan sabun air dan tempelkan es Pasang tornikuet proksimal terhadap sengatan Laporkan pada fasilitas perawatan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut C. Gambaran Klinik Yang paling menonjol adalah kelainan visus,hiperaktifitas kelenjar ludah,keringat dan gangguan saluran pencernaan,serta kesukaran bernafas. Gejala ringan meliputi : Anoreksia, nyeri kepala, rasa lemah,rasa takut, tremor pada lidah,kelopak mata,pupil miosis. Keracunan sedang : nausea, muntah-muntah, kejang atau kram perut, bradikardi. Keracunan berat : diare, reaksi cahaya negatif ,sesak nafas, sianosis, edema paru ,inkontenesia urine dan feces, koma D. Penatalaksanaan 1. Resusitasi. Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan,periksa pernafasan dan nadi.Infus dextrose 5 % kec. 15- 20 tts/menit .,nafas buatan,oksigen,hisap lendir dalam saluran pernafasan,hindari obat-obatan depresan saluran nafas,kalu perlu respirator pada kegagalan nafas berat.Hindari pernafasan buatan dari mulut kemulut, sebab racun organo fhosfat akan meracuni lewat mlut penolong.Pernafasan buatan hanya dilakukan dengan meniup face mask atau menggunakan alat bag valve mask. 2. Eliminasi. Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan pemeberian sirup ipecac 15 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak berhasil. Katarsis,( intestinal lavage ), dengan pemberian laksan bila diduga racun telah sampai diusus halus dan besar. Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya menurun,atau pada penderita yang tidak kooperatif.Hasil paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan. Keramas rambut dan memandikan seluruh tubuh dengan sabun. Emesis,katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan terjadi kurang dari 4 6 jam . pada koma derajat sedang hingga berat tindakan kumbah lambung sebaiknya dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi pnemonia. 3. Anti dotum (penawar racun) Atropin sulfat ( SA ) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh pada tempat penumpukan. a. Mula-mula diberikan bolus IV 1 2,5 mg b. Dilanjutkan dengan 0,5 1 mg setiap 5 10 15 menitsamapi timbulk gejala-gejala atropinisasi ( muka merah,mulut kering,takikardi,midriasis,febris dan psikosis). c. Kemudian interval diperpanjang setiap 15 30 60 menit selanjutnya setiap 2 4 6 8 dan 12 jam. d. Pemberian SA dihentikan minimal setelaj 2 x 24 jam. Penghentian yang mendadak dapat menimbulkan rebound effect berupa edema paru dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal. E. Asuhan Keperawatan a. Pengkajian. Pengkajian difokusakan padfa masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi yang mengancam jiwa,adanya gangguan asam basa,keadaan status jantung,status kesadran. Riwayat kesadaran : riwayat keracunan,bahan racun yang digunakan,berapa lama diketahui setelah

keracunan,ada masalah lain sebagi pencetus keracunan dan sindroma toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya. b. Intervensi. Pertolongan pertama yang dilakukan meliputi : tindakan umum yang bertujuan untuk keselamatan hidup,mencegah penyerapan dan penawar racun ( antidotum ) yan meliputi resusitasi, : Air way, breathing, circulasi eliminasi untuk menghambat absorsi melalui pencernaaan dengan cara kumbah lambung,emesis, ata katarsis dan kerammas rambut. Berikan anti dotum sesuai advis dokter minimal 2 x 24 jam yaitu pemberian SA. Perawatan suportif; meliputi mempertahankan agar pasien tidak samapi demamatau mengigil,monitor perubahan-perubahan fisik seperti perubahan nadi yang cepat,distress pernafasan, sianosis, diaphoresis, dan tanda-tanda lain kolaps pembuluh darah dan kemungkinan fatal atau kematian.Monitir vital sign setiap 15 menit untuk bebrapa jam dan laporkan perubahan segera kepada dokter.Catat tanda-tanda seperti muntah,mual,dan nyeri abdomen serta monotor semua muntah akan adanya darah. Observasi fese dan urine serta pertahankan cairan intravenous sesuai pesanan dokter. Jika pernafasan depresi ,berikan oksigen dan lakukan suction. Ventilator mungkin bisa diperlukan. Jika keracunan sebagai uasaha untuk mebunuh diri maka lakukan safety precautions . Konsultasi psikiatri atau perawat psikiatri klinis. Pertimbangkan juga masalah kelainan kepribadian,reaksi depresi,psikosis neurosis, mental retardasi dan lain-lain BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Keracunan Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian. Keracunan adalah kondisi atau keadaan fisik yang terjadi jika suatu zat, dalam jumlah relatif sedikit, terkena zat tersebut pada permukaan tubuh, termakan, terinjeksi, terhisap, atau terserap dan selanjutnya menyebabkan kerusakan struktual atau gangguan fungsi. (Donna L. Wong, 2003) 2.2 Etiologi Keracunan pada Anak Pada dasarnya semua bahan dapat menyebabkan keracunan tergantung seberapa banyak bahan tersebut masuk kedalam tubuh. Bahan-bahan yang dapat menyebabkan keracunaan adalah : 1) Obat-obatan :, digitalis, aminofilin Salisilat, asetaminofen 2) Gas toksin : Karbon monoksida, gas toksin iritan 3) Zat kimia industri : Metil alkohol, asam sianida, kaustik, hidrokarbon 4) Zat kimia pertanian : Insektisida 5) Makanan : Singkong, Jengkol, Bongkrek 6) Bisa ular atau serangga 2.3 Gejala Keracunan pada Anak 1) Rasa terbakar di tenggorokan dan lambung. 2) Pernafasan yang cepat dan dalam, hilang selera makan, anak terlihat lemah. 3) Mual, muntah, haus, buang air besar cair. 4) Sakit kepala, telinga berdenging, sukar mendengar, dan pandangan kabur. 5) Bingung. 6) Koma yang dalam dan kematian karena kegagalan pernafasan. 7) Reaksi lain yang kadang bisa terjadi ; demam tinggi, haus, banyak berkeringat, bintik merah kecil di kulit dan membran mukosa. 2.4 Patofisiologi Keracunan pada Anak Pada dasarnya semua bahan dapat menyebabkan keracunan tergantung seberapa banyak bahan tersebut masuk kedalam tubuh. Bahan-bahan yang dapat menyebabkan keracunaan adalah : 1. Makanan

2. Bahan-bahan kimia 3. Obat-obatan 4. Bahan-bahan keperluan rumah tangga (Household poison) Oleh karena anak kecil lebih sering berada dirumah maka keracunan yang terjadi pada anak biasanya disebabkan oleh bahan-bahan yang ada di rumah atau sekitar rumah. 2.5 Macam-macam Keracunan pada Anak A. KERACUNAN HIDROKARBON Kelompok hidrokarbon yang sering menyebabkan keracunan adalah minyak tanah,bensin, minyak cat ( tinner ) dan minyak untuk korek api. Gejala klinik : terutama terjadi sebagai akibat dari irritasi pulmonal dan depressi susunan saraf pusat. 1. Irritasi pulmonal: batuk,sesak,retraksi,tachipneu,cyanosis,batuk darah dan udema paru.Pada pemeriksaan foto thorak bisa didapatkan adanya infiltrat di kedua lapangan paru, effusi pleura atau udema paru. 2. Depressi CNS : Terjadi penurunan kesadaran mulai dari patis sampai koma,kadang-kadang disertai kejang. 3. Gejala-gejala GI Tract : Mual, muntah, nyeri perut dan diare. B. KERACUNAN MAKANAN Keracunan makanan dapat terjadi karena : 1. Makanan tersebut memang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya (singkong, jamur dsb.) 2. Timbul zat beracun dalam makanan tersebut karena proses pengolahan dan penyimpanan 3. Makanan tercemar oleh zat beracun baik disengaja ( pengawet,zat warna,penyedap ) ataupun tidak disengaja (salmonella, staphylococcus dsb.)

C. KERACUNAN KETELA POHON Dapat terjadi karena ketela pohon yang mengandung cyanogenic unamarine (mengandung HCN). Gejala klinis: 1. Tergantung pada kandungan HCN, kalau banyak dapat menyebabkan kematian dengan cepat 2. Penderita merasa mual, perut terasa panas, pusing, lemah dan sesak 3. Pernafasan cepat dengan bau khas ( bitter almond ) 4. Kejang, lemas, berkeringat,mata menonjol dan midriasis 5. Mulut berbusa bercampur darah 6. Warna kulit merah bata ( pada orang kulit putih ) dan sianosis D. KERACUNAN JENGKOL Pada keracunan jengkol terjadi penumpukan kristal asam jengkolat di tubuli,ureter dan urethrae. Keluhan terjadi 5 - 12 jam sesudah makan jengkol. Gejala klinik: 1. Sakit pinggang,nyeri perut,muntah,kencing sedikit-sedikit dan terasa sakit 2. Hematuria,oliguria sampai anuria dan kencing bau jengkol 3. Dapat terjadi gagal ginjal akut E. BOTULISME Disebabkan oleh kuman Clostridium botulinum yang sering terdapat dalam makanan kaleng yang rusak atau tercemar kuman tersebut. Gejala klinik: 1. Mata kabur,refleks cahaya menurun atau negatif,midriasis dan kelumpuhan otot-otot mata 2. Kelumpuhan saraf-saraf otak yang bersifat simetrik 3. Dysphagia, dysarthria 4. Kelumpuhan ( general paralyse ) F. SALISILAT Merupakan keracunan obat-obatan yang paling sering dijumpai pada anak. Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya keracunan salisilat adalah:

1. Kemasan salisilat yang dibuat dengan bentuk yang menarik dengan rasa yang disukai anak-anak ditambah dengan gencarnya usaha promosi melalui media massa. 2. Penggunaan obatt-obatan yang mengandung salisilat secara berlebihan oleh orang tua yang tidak mengetahui bahaya salisilat. 3. Obat-obatan salisilat bisa didapatkan dengan mudah dan harga yang murah. 2.6 1. 2. 3. 4. 5. Komplikasi Keracunan pada Anak Henti nafas Henti jantung Korosi esofagus/trachea jika substansi penyebabnya teringesti Syok, syndrome gawat nafas akut Edema serebral, konvulsi

2.7 Pemeriksaan Penunjang Keracunan pada Anak 1. Tes Ferrichloride : tambahkan ferri chloride 10% pada urine. Tes positif bila urine kemudian berwarna ungu. 2. Pemeriksaan darah lengkap, kreatinin serum ( N: 0,5-1,5 mg/dl), elektrolit serum (termasuk kalsium (N: 9-11 mg/dl)). 3. Foto thorax kalau ada kecurigaan udema paru. 4. Pemeriksaan EKG Pemeriksaan ini juga perlu dilakukan pada kasus keracunan karena sering diikuti terjadinya gangguan irama jantung yang berupa sinus takikardi, sinus bradikardi, takikardi supraventrikuler, takikardi ventrikuler, fibrilasi ventrikuler, asistol, disosiasi elektromekanik. Beberapa faktor predosposisi timbulnya aritmia pada keracunan adalah keracunan obat kardiotoksik, hipoksia, nyeri dan ansietas, hiperkarbia, gangguan elektrolit darah, hipovolemia, dan penyakit dasar jantung iskemik. 2.8 Penanganan keracunan pada Anak 1) Tindakan emergensi a. Airway : Bebaskan jalan nafas, kalau perlu lakukan intubasi. b. Breathing : Berikan pernafasan buatan bila penderita tidak bernafas spontan atau pernapasan tidak adekuat. c. Circulation : Pasang infus bila keadaan penderita gawat dan perbaiki perfusi jaringan. 2) Identifikasi penyebab keracunan. Bila mungkin lakukan identifikasi penyebab keracunan, tapi hendaknya usaha mencari penyebab keracunan ini tidak sampai menunda usaha-usaha penyelamatan penderita yang harus segera dilakukan. 3) Eliminasi racun. 1. Racun yang ditelan a) Rangsang muntah Akan sangat bermanfaat bila dilakukan dalam 1 jam pertama sesudah menelan bahan beracun, bila sudah lebih dari 1 jam tidak perlu dilakukan rangsang muntah kecuali bila bahan beracun tersebut mempunyai efek yang menghambat motilitas (memperpanjang pengosongan) lambung. Rangsang muntah dapat dilakukan secara mekanis dengan merangsang palatum mole atau dinding belakang faring, atau dapat dilakukan dengan pemberian obat- obatan: : - Sirup Ipecac. Dapat diberikan pada anak diatas 6 bulan. Pada anak usia 6 - 12 bulan 10 ml, 1 12 tahun 15 ml > 12 tahun 30 ml. Pemberian sirup ipecac diikuti dengan pemberian 200 ml air putih. Bila sesudah 20 menit tidak terjadi muntah pada anak diatas 1 tahun pemberian ipecac dapat diulangi. - Apomorphine. Sangat efektif dengan tingkat keberhasilan hampir 100%, dapat menyebabkan muntah dalam 2 - 5 menit. Dapat diberikan dengan dosis 0,07 mg/kg BB secara subkutan. Kontraindikasi rangsang muntah:

Keracunan hidrokarbon, kecuali bila hidrokarbon tersebut mengandung bahan-bahan yang berbahaya seperti camphor, produk-produk yang mengandung halogenat atau aromatik, logam berat dan pestisida. Keracunan bahan korossif Keracunan bahan-2 perangsang CNS (CNS stimulant, seperti strichnin) Penderita kejang Penderita dengan gangguan kesadaran b) Kumbah lambung Kumbah lambung akan berguna bila dilakukan dalam 1-2 jam sesudah menelan bahan beracun, kecuali bila menelan bahan yang dapat menghambat pengosongan lambung. Kumbah lambung seperti pada rangsang muntah tidak boleh dilakukan pada: Keracunan bahan korosif Keracunan hidrokarbon Kejang c) Pemberian Norit ( activated charcoal ) Jangan diberikan bersama obat muntah, pemberian norit harus menunggu paling tidak 30 - 60 menit sesudah emesis. Dosis 1 gram/kg BB dan bisa diulang tiap 2 - 4 jam bila diperlukan, diberikan per oral atau melalui pipa nasogastrik. Indikasi pemberian norit untuk keracunan: Obat2 analgesik/ antiinflammasi : acetamenophen, salisilat, antiinflamasi non steroid, morphine, propoxyphene. Anticonvulsants/ sedative : barbiturat, carbamazepine, chlordiazepoxide, diazepam phenytoin, sodium valproate. Lain-lain : amphetamine, chlorpheniramine, cocaine, digitalis, quinine, theophylline, cyclic anti depressants Norit tidak efektif pada keracunan Fe, lithium, cyanida, asam basa kuat dan alcohol. d) Catharsis Efektivitasnya masih dipertanyakan. Jangan diberikan bila ada gagal ginjal, diare yang berat ( severe diarrhea ), ileus paralitik atau trauma abdomen. e) Diuretika paksa ( Forced diuretic ) Diberikan pada keracunan salisilat dan phenobarbital ( alkalinisasi urine ). Tujuan adalah untuk mendapatkan produksi urine 5,0 ml/kg/jam,hati-hati jangan sampai terjadi overload cairan. Harus dilakukan monitor dari elektrolit serum pada pemberian diuresis paksa. Kontraindikasi : edema otak dan gagal ginjal. f) Dialysis Hanya dilakukan bila usaha-usaha lain sudah tidak membawa hasil. Bermanfaat hanya pada bahan beracun yang bisa melewati filter dialisis ( dialysa ble toxin ) seperti phenobarbital, salisilat, theophylline, methanol, ethylene glycol dan lithium. Dialysis dilakukan bila : Asidosis berat Gagal ginjal Ada gejala gangguan visus Tidak ada respon terhadap tindakan pengobatan. g) Hemoperfusi masih merupakan kontroversi dan jarang digunakan. 2. Racun yang disuntikkan atau sengatan a) Immobilisasi b) Pemasangan torniquet diproksimal dari suntikan c) Berikan antidotum bila ada 3. Racun pada kulit dan mata Lepaskan semua yang dipakai kemudian bersihkan dengan sabun dan siram dengan air yang mengalir selama 15 menit. Jangan diberi antidotum. 4. Racun yang dihisap melalui saluran nafas

Keluarkan penderita dari ruang yang mengandung gas racun. Berikan oksigen. Kalau perlu lakukan pernafasan buatan. 4) Pengobatan Supportif 1. Pemberian cairan dan elektrolit 2. Perhatikan nutrisi penderita 3. Pengobatan simtomatik ( kejang, hipoglikemia, kelainan elektrolit dsb.) 2.9 Pencegahan keracunan pada Anak Upaya-upaya pencegahan keracunan pada anak : Memberikan informasi secara intensif kepada orang tua atau orang yang bertanggung jawab dalam perawatan anak dan kepada masyarakat Produsen bahan-bahan beracun Menjauhkan semua bahan-bahan yang potensial beracun dari jangkauan anak-anak Pathway :

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian Identitas klien (nama, umur biasanya sering terjadi pada anak usia prasekolah sampai usia sekolah yaitu pada usia 1 4 tahun, jenis kelamin, agama, suku bangsa / ras, pendidikan, nama orang tua dan alamat) Keluhan Utama: Keluhan utama yaitu bau napas, dan penurunan tingkat kesadaran. Riwayat penyakit sekarang: Didapatkan riwayat yang cermat dan terperinci mengenai apa, kapan, dan seberapa banyak zat toksik yang telah masuk ke tubuh dan adanya bukti-bukti racun (wadah, tanaman, muntahan). D. Riwayat penyakit dahulu: Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami keracunan seperti yang dialami sekarang. E. Riwayat penyakit keluarga: Apakah keluarga punya riwayat depresi ataupun hal-hal yang bisa jadi pencetus keracunan. F. ADL (Activity Daily Life) a. Nutrisi Anak-anak cenderung mengalami penurunan nafsu makan. b. Istirahat tidur

Kebutuhan istirahat terganggu karena terganggu akibat tindakan medis. c. Eliminasi Penurunan pengeluaran urine d.Personal Higiene Kebutuhan personal higiene terganggu karena terganggu akibat tindakan medis. e. Aktivitas Aktivitas akan terganggu karena bedrest G. Pemeriksaan a. Pemeriksaan TTV 1. SUHU TUBUH (N: 36-370C) Hipothermia : Sedatif hipnotik, ethanol, carbonmonoksida, clonidin, fenothiazin Hiperthermia : Anticholinergik, salisilat, amfetamin, cocain, fenothiazin, theofilin 2. TEKANAN DARAH (N: 120-80 mmHg) Hipertensi : Simpatomimetik, organofosfat, amfetamin Hipotensi : Sedatif hipnotik, narkotika, fenothiazin, clonidin, beta-blocker 3. NADI (N: 80-100x/menit) Bradikardia : Digitalis, sedatif hipnotik, beta-blocker, ethchlorvynol Tachikardia : Anticholinergik, amfetamin, simpatomimetik, alkohol, cokain, aspirin, theofilin Arithmia : Anticholinergik, organofosfat, fenothiazin, carbonmonoksida, cyanida, beta-blocker b. Pemeriksaan Fisik 1. Kepala a. Inspeksi : Normosepal, simetris Palpasi : Tidak ada lesi/odema b. Mata : Ikterus Acetaminofen, carbontetrachlorida, besi, fosfor, jamur c. Mulut : Berbau. aceton : Methanol, isopropyl alcohol, acetyl salicylic acid Coal gas : Carbon monoksida Buah per : Chloralhidrat Bawang putih : Arsen, fosfor, thalium, organofosfat Alkohol : Ethanol, methanol Minyak : Minyak tanah atau destilat minyak d. Hidung : Tidak ada pernafasan cuping hidung e. Telinga : Tidak ada lesi/odema 2. Leher Tidak ada odema/lesi 3. Dada Inspeksi: simetris, tidak ada retraksi dada Palpasi: Tidak ada krepitasi a. Paru-paru Inspeksi Depressi : Alkohol, narkotika, barbiturat, sedatif hipnotik Tachipnea : Salisilat, amfetamin, carbonmonoksida Kussmaull : Methanol, ethyliene glycol, salisilat Palpasi Dingin Perkusi Sonor Auskultasi vesikuler b. Jantung Inspeksi Bradikardia : Digitalis, sedatif hipnotik, beta-blocker, ethchlorvynol Tachikardia : Anticholinergik, amfetamin, simpatomimetik, alkohol, cokain, aspirin, theofilin Palpasi Dingin Perkusi Dullnes Auskultasi Suara I

4. Abdomen Inspeksi Tak ada lesi Palpasi adanya nyeri tekan Perkusi Tympani Auskultasi Bising usus 13x/menit (N: 5-12x/menit) - Muntah, diare : Besi, fosfat, logam berat, jamur, lithium, flourida, organofosfat - Nyeri perut 5. Kulit Kemerahan : Co, cyanida, asam borax, anticholinergik Berkeringat: Amfetamin, LSD, organofosfat, cocain, barbiturate Kering : Anticholinergik Bulla : Barbiturat, carbonmonoksida Purpura : Aspirin, warfarin, gigitan ular Sianosis : Nitrit, nitrat, fenacetin, benzocain 6. Ekstremitas Tidak ada kelumpuhan. 7. Genital dan Anus Anus : Tidak ada lesi/odema Genetalia : Tidak ada lesi/odema 3.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan keracunan adalah : 1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal. 2. Resiko pola napas tidak efektif berhubungan dengan efek langsung toksisitas, proses inflamasi. 3. Ansietas berhubungan dengan proses pengobatan. 4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi, kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi. 5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelumpuhan. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 1. Keracunan adalah kondisi atau keadaan fisik yang terjadi jika suatu zat, dalam jumlah relatif sedikit, terkena zat tersebut pada permukaan tubuh, termakan, terinjeksi, terhisap, atau terserap dan selanjutnya menyebabkan kerusakan struktual atau gangguan fungsi. (Donna L. Wong, 2003) 2. Pada dasarnya semua bahan dapat menyebabkan keracunan tergantung seberapa banyak bahan tersebut masuk kedalam tubuh. Bahan-bahan yang dapat menyebabkan keracunaan adalah : Obat-obatan, Gas toksin, zat kimia industri, zat kimia pertanian, makanan, bisa ular atau serangga. 3. Gejala Keracunan pada Anak: Rasa terbakar di tenggorokan dan lambung, Pernafasan yang cepat dan dalam, hilang selera makan, anak terlihat lemah, Mual, muntah, haus, buang air besar cair, Sakit kepala, telinga berdenging, sukar mendengar, dan pandangan kabur, Bingung, Koma yang dalam dan kematian karena kegagalan pernafasan, Reaksi lain yang kadang bisa terjadi ; demam tinggi, haus, banyak berkeringat, bintik merah kecil di kulit dan membran mukosa 4. Pada dasarnya semua bahan dapat menyebabkan keracunan tergantung seberapa banyak bahan tersebut masuk kedalam tubuh. Bahan-bahan yang dapat menyebabkan keracunaan adalah :Makanan, Bahan-bahan kimia, Obat-obatan, Bahan-bahan keperluan rumah tangga (Household poison). 5. Macam-Macam Keracunan Pada Anak: Keracunan Hidrokarbon, Keracunan Makanan, Keracunan Ketela Pohon, Keracunan Jengkol, Botulisme, Salisilat

6. Komplikasi Keracunan pada Anak: Henti nafas, Henti jantung, Korosi esofagus/trachea jika substansi penyebabnya teringesti, Syok, syndrome gawat nafas akut, Edema serebral, konvulsi. 7. Pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan lengkap ( urin, gula darah, cairan lambung, analisa gas darah, darah lengkap, osmolalitas serum, elektrolit, urea, kreatinin, glukosa, transaminase hati ), EKG, Foto toraks/ abdomen, Skrining toksikologi untuk kelebihan dosis obat, Tes toksikologi kuantitatif. 8. Penanganan keracunan pada Anak: Tindakan emergensi, Identifikasi penyebab keracunan, Eliminasi racun, Pengobatan Supportif. 9. Pencegahan keracunan pada Anak: Memberikan informasi secara intensif kepada orang tua atau orang yang bertanggung jawab dalam perawatan anak dan kepada masyarakat, Produsen bahan-bahan beracun, Menjauhkan semua bahan-bahan yang potensial beracun dari jangkauan anak-anak. 10. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan keracunan adalah: Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan tubuh secara tidak normal, Resiko pola napas tidak efektif berhubungan dengan efek langsung toksisitas, proses inflamasi, Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kerentanan pribadi, kesulitan dalam keterampilan koping menangani masalah pribadi, Ansietas berhubungan dengan proses pengobatan, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelumpuhan. 4.2 Saran Dengan dibuatnya makalah ini para pembaca baik para perawat maupun tenaga kesehatan lainya dapat memberikan penatalaksanaan pada pasien keracunan pada anak dengan baik dan benar sehingga makalah kami bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA Arief, dkk (2000), Kapita Selekta Kedokteran ed. 3, jilid 2, Medika Aesculapius, Jakarta. Betz, Cecily (2002), Keperawatan Pediatrik Edisi 3, EGC, Jakarta. Hudak & Gallo (1996), Keperawatan Kritis, Pendekatan Holistik, EGC, Jakarta. Marylin. D (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC Jakarta. Ngastiyah (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.