Anda di halaman 1dari 48

Depok, 2011

Penalaran Statistik 1
Penyusun: Penyusun :

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Lingkup bahasan
Data dan Sampling Data Organisasi dan Visualisasi Data Distribusi Data
Naskah ini disusun lebih mirip sebagai suatu ringkasan diktat dengan tujuan agar mahasiswa dapat menggunakannya untuk belajar mandiri. Isi naskah berupa kalimat-kalimat pendek sebagai pokok atau kunci materi sehingga mahasiswa dapat cepat mempelajari dan mudah mengingatnya.
2

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Data dan Sampling Data

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Bagaimana Cara Menyelesaikan Permasalahan (Pertanyaan Pertanyaan) ) Ini? Ini?


Pertanyaan: Apakah mahasiswa UI suka mengendarai sepeda di lingkungan kampus? Kurang tepat jika sekadar dijawab: suka atau tidak suka. Orang juga ingin tau berapa banyak yang suka atau jumlah mahasiswa yang tidak suka.

Jawaban:

Jawaban pertanyaan seperti di atas dapat diselesaikan melalui langkah pengumpulan informasi. Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan cara survei atau eksperimen. Hasil survei atau eksperimen (informasi) yang berupa angka-angka disebut data.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 4

Ilmu apa yang digunakan untuk mempelajari data?


Ilmu yang berkaitan dengan pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan penyimpulan informasi atau data untuk mengetahui dan memahami dunia di sekitar kita disebut statistik. Belajar data (statistik) dapat dibagi menjadi dua: Statistik deskriptif: mengumpulkan, mengorganisasi, menganalisis, dan mempresentasikan data. Inti dari statistik deskriptif adalah tabel data, grafik, dan perhitungan kuantitas seperti nilai rata-rata. menyimpulkan, memutuskan, dan memprediksi sesuatu berdasarkan data.

Statistik inferensial:

Pada kuliah ini kita akan belajar tentang statistik deskriptif.


MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 5

Contoh Pernyataan Statistik


Setelah dilakukan survei, untuk menjawab pertanyaan: Apakah mahasiswa UI suka mengendarai sepeda di lingkungan kampus? Diperoleh hasil: Survei 1: Lebih dari 70% mahasiswa UI suka mengendarai sepeda di lingkungan kampus. Survei 2: Hanya sekitar 20% saja dari mahasiswa UI yang suka mengendarai sepeda di lingkungan kampus.

Hasil ini membingungkan, karena terdapat dua survei dengan kesimpulan yang berbeda. Ketika kita menghadapi peryataan statistik seperti ini, perlu ditanyakan:

Bagaimana metode pengambilan informasi atau datanya?


MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 6

Populasi dan Sampel

Apakah surveinya dilakukan pada semua mahasiswa UI (40.000 mahasiswa)? Atau survei hanya dilakukan pada sebagian mahasiswa saja, misalnya hanya 1000 mahasiswa UI. Angka 40.000 ini disebut sebagai populasi, sedangkan Angka 1000 disebut sebagai sampel.
Populasi

Sampel

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Mengumpulkan Informasi

Melakukan survei pada 40.000 mahasiswa merupakan pekerjaan yang sangat berat, memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Terkadang, survei pada populasi tidak mungkin dilakukan.
Contoh 1: Kita ingin menghitung jumlah ikan yang hidup di danau Salam UI.

Statistik pada umumnya mengumpulkan informasi dengan cara sampling, yaitu mengambil informasi dari sebagian elemen di populasi (sampel).
8

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

HatiHati -hati dengan Sampling!

Ketika kita mengambil keputusan berdasarkan informasi dari sampel, selalu ada kemungkinan terjadi kesalahan.
Contoh 2: Sebuah toples berisi 100 kelereng berwarna putih dan hitam. Seorang anak ingin memprediksi warna kelereng tsb, karena dia tidak dapat melihat langsung warna kelereng di dalam toples. Untuk itu, dia mengambil 5 kelereng dari dalam toples. Pada kasus ini, 100 kelereng adalah populasi, dan sebagai sampel adalah 5 kelereng.

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

HatiHati -hati dengan Sampling! (lanjutan)

Jika anak tsb mendapati 5 kelereng yang diambilnya dari toples semua berwarna putih, maka dia dapat mengambil kesimpulan yang salah yaitu semua kelereng di dalam toples berwarna putih. Pada contoh ini anak tersebut membuat prediksi warna kelereng di dalam toples berdasarkan sample 5 kelereng yang diambilnya. Seandainya dia mengambil 15 sampel kelereng, ada kemungkinan akan diperoleh beberapa kelereng berwarna hitam, sehingga akan memberikan kesimpulan yang berbeda. Sudah tentu, percobaan yang paling akurat adalah jika diambil 100 kelereng (seluruh populasi), tetapi hal ini jarang dilakukan pada kasus statistik.
10

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Bagaimana Agar Sampling Menjadi Benar Benar? ?

Sampling disebut benar jika dapat memberikan prediksi yang akurat pada
populasi.

Prediksi dapat akurat jika sampel yang dipilih merupakan replika atau
gambaran karakteristik dari populasi. Sampel seperti ini disebut sampel representatif (representative sample).

Sebaliknya, jika sampel tidak dapat menggambarkan populasi, akan


memberikan kesimpulan yang salah. Sampel seperti ini disebut sampel bias.

Salah satu teknik agar pengambilan sampel tidak bias adalah Sampling Acak. Sampel Acak (random sample) adalah sampel yang diperoleh dengan cara
tertentu, sehingga setiap elemen populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sebuah sampel.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 11

Contoh 3: Memilih Teknik Sampling


Suatu survei ingin dilakukan untuk mengetahui apakah mahasiswa UI suka mengendarai sepeda di lingkungan kampus Depok. Dari tiga macam survei berikut, pilih dan beri alasan, survei mana yang menghasilkan sampel acak. 1. Dilakukan survei acak pada mahasiswa yang menunggu di semua halte bus fakultas di UI Depok. 2. Dilakukan survei pada 200 mahasiswa yang terdaftar di urutan awal data mahasiswa di SIAKNG. 3. Dilakukan survei acak pada mahasiswa di lingkungan gedung kuliah di fakultas yang ada di UI Depok.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 12

Penyelesaian contoh 3: memilih teknik Sampling


1. Melakukan survei acak pada mahasiswa di semua halte bus fakultas di UI Depok merupakan ide yang tidak baik. Mahasiswa yang di halte pada umumnya lebih menyukai naik bus dibandingkan dengan naik sepeda. 2. Survei pada 200 mahasiswa yang terdaftar di urutan awal data mahasiswa di SIAKNG, tidak memberikan kesempatan yang sama pada semua mahasiswa UI untuk di survei. Mahasiswa yang terdaftar di urutan lebih dari 200 tidak mempunyai kesempatan untuk disurvei. 3. Survei acak pada mahasiswa di lingkungan gedung kuliah di fakultas yang ada di UI Depok adalah cara yang tepat. Metode ini memberikan kesempatan yang sama pada semua mahasiswa untuk disurvei. Kesimpulan: Sampel acak harus memberikan kesempatan yang sama pada semua mahasiswa UI Depok untuk di survei, jadi cara nomer tiga adalah yang paling tepat. 13

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Organisasi dan Visualisasi Data

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

14

Bagaimana cara mengatur data agar terlihat polanya polanya? ?


Setelah melakukan survei atau eksperimen dengan mengambil sampel dari suatu populasi, kita memperoleh data. Data ini umumnya berupa deretan angka yang banyak. Agar data mudah diinterpretasikan, perlu diatur atau diorganisasi. Contoh 4: Suatu survei dilakukan secara acak pada 64 keluarga untuk mengetahui jumlah anak yang dimiliki oleh setiap keluarga. Hasil survei adalah sebagai berikut: 0,1,1,2,2,3,4,5,5,6,4,4,0,0,1,1,1,1,2,2,3,3,2,2,0,0,0,1,1,1,2,2,2, 4, 4,4,6,6,7,3,3,3,2,2,2,2,2,3,0,0,1,1,2,2,2,2,3,3,5,5,3,3,8,9. Jika kita lihat sepintas, angka-angka yang ditulis dengan format di atas tidak memperlihatkan suatu pola. Marilah kita coba untuk mengorganisir angkaangka ini.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 15

Pengorganisasian Data
Data: 0,1,1,2,2,3,4,5,5,6,4,4,0,0,1,1,1,1,2,2,3,3,2,2,0,0,0,1,1,1,2,2,2, 4,4,4,6,6,7,3,3 ,3,2,2,2,2,2,3,0,0,1,1,2,2,2,2,3,3,5,5,3,3,8,9. Di sini terdapat 64 angka. Setiap angka disebut sebagai item data. Pada data tersebut kita jumpai beberapa angka yang sama, misalnya angka 0 muncul delapan kali, angka 1 muncul 11 kali, dst. Agar data terlihat polanya, angka-angka ini dapat disusun berdadasarkan urutannya dari angka terkecil sampai terbesar, sbb: 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 6 6 7 8 8 9 Susunan ini telah mengelompokkan angka-angka yang sama dan ditulis secara berurutan, sehingga terlihat bahwa data menunjukkan suatu pola. Cara lain untuk megorganisir data adalah menggunakan distribusi frekuensi.
16

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi adalah suatu daftar data berdasarkan frekuensi kemunculannya. Data jumlah anak sebelumnya dapat dituliskan distribusi frekuensinya seperti tabel di samping. Kolom 1 mengurutkan hasil survei yaitu jumlah anak dari angka terkecil (0) sampai angka terbesar (9). Kolom 2 mengoleksi item data yang muncul untuk jumlah anak yang didaftar. Kolom 3 menghitung jumlah keluarga yang mempunyai jumlah anak seperti yang terdaftar di kolom 1 atau dikenal sebagai frekuensi keluarga dengan jumlah anak tertentu.

Kolom 1 Jumlah anak (Hasil survei) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kolom 2

Kolom 3

Tabel 1
Item data
0,0,0,0,0,0,0,0 1,1,1,1,1,1,1, 1,1,1,1 2,2,2,2,2,2,2,2,2,2,2,2, 2,2,2,2,2,2 3,3,3,3,3,3,3,3,3,3,3 4,4,4,4,4,4 5,5,5,5 6,6 7 8,8 9

Jumlah keluarga (Frekuensi) 8 11 18 11 6 4 2 1 2 1


17

Jumlah keluarga = frekuensi total = 64

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Distribusi Frekuensi (lanjutan)


Pada tabel Distribusi Frekuensi, pola data dapat teramati lebih jelas. Keluarga yang tidak mempunyai anak (0) berjumlah 8, punya anak 1 berjumlah 11 keluarga, dst. Pola data di Kolom 3 (frekuensi) menunjukkan bahwa jumlah keluarga yang mempunyai anak dari 0 ke 2 menjadi semakin besar, kemudian setelah itu menurun sesuai dengan pertambahan jumlah anak.

Kolom 1 Jumlah anak (Hasil survei) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kolom 2

Kolom 3

Tabel 1
Item data
0,0,0,0,0,0,0,0 1,1,1,1,1,1,1, 1,1,1,1 2,2,2,2,2,2,2,2,2,2,2,2, 2,2,2,2,2,2 3,3,3,3,3,3,3,3,3,3,3 4,4,4,4,4,4 5,5,5,5 6,6 7 8,8 9

Jumlah keluarga (Frekuensi) 8 11 18 11 6 4 2 1 2 1


18

Jumlah keluarga = frekuensi total = 64


MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Distribusi Frekuensi (lanjutan)


Tabel 2 Frekuensi total adalah 64 = jumlah item data, sesuai dengan jumlah keluarga yang disurvei. Pada distribusi frekuensi, dapat juga ditambahkan satu kolom lagi, yaitu frekuensi relatif. Frekuensi relatif adalah nilai frekuensi dibagi nilai frekuensi total ( f/n ). Berdasarkan frekuensi relatif, pola data jumlah keluarga dengan jumlah anaknya dapat terlihat dengan jelas.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia Jumlah anak (Hasil survei) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah keluarga ( Frekuensi = f ) 8 11 18 11 6 4 2 1 2 1 Frekuensi relatif ( f/n ) (8/64) x 100% = 12,5% (11/64) x 100% = 17,2% (18/64) x 100% = 28,1% (11/64) x 100% = 17,2% (6/11) x 100% = 9,4% (4/64) x 100% = 6,3% (2/64) x 100% = 3,1% (1/64) x 100% = 1,6% (2/64) x 100% = 3,1% (1/64) x 100% = 1,6%

Jumlah keluarga = frekuensi total = 64 = n

19

Apa yang harus dilakukan jika data sulit dibuat distribusi frekuensinya frekuensinya? ?
Terkadang data yang diperoleh dari survei atau eksperimen terlalu banyak atau angkanya berbeda-beda sehingga sulit untuk dibuat distribusi frekuensinya. Data seperti ini dapat ditata menjadi beberapa kelompok data atau kelas sehingga membentuk Distribusi Frekuensi Kelompok. Meskipun tidak ada cara yang pasti untuk membuat kelas, tetapi panduan berikut sangat bermanfaat:

1. Urutkan data dari angka terkecil sampai angka terbesar. 2. Kelompokkan data hingga terbentuk 5 sampai 12 kelas saja. (Jumlah kelas yang
terlalu sedikit atau terlalu banyak akan menyebabkan pola data tidak tergambarkan dengan baik.)

3. Buatlah setiap kelas mempunyai lebar yang sama. 4. Batas-batas setiap kelas tidak boleh tumpang tindih. 5. Pastikan setiap item data hanya masuk dalam satu kelas saja.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 20

Distribusi Frekuensi Kelompok


Contoh 5: Sejumlah 35 mahasiswa yang ada di kafetaria kampus disurvei secara acak untuk mendapatkan informasi jam belajar mahasiswa (di kelas dan di luar kelas) setiap pekan. Data jam belajar per pekan yang diperoleh adalah sebagai berikut: 60 72 58 20 10 26 29 26 41 45 25 32 24 22 55 30 31 39 29 44 29 40 31 43 62 52 47 38 36 23 33 44 24 39 38 Di sini terdapat 35 angka = 35 item data. Bagaimana kita membuat distribusi frekuensi kelompoknya? Panduan ke-1: angka harus diurutkan dari kecil ke besar:
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 21

Distribusi Frekuensi Kelompok (lanjutan)


Data yang sudah diurutkan dari angka terkecil ke terbesar diberikan di sebelah kanan. Angka terkecil adalah 10 dan terbesar 72, sehinga jangkauan datanya 72 10 = 62 unit. Panduan ke-2: mengelompokkan data menjadi 5 12 kelas. Jika menjadi 5 kelas, maka lebar kelas adalah 62/5 = 12,4. Jika ingin jumlah kelas 12, maka lebar kelas adalah 62/12 = 5,2. Misalnya kita ambil lebar kelasnya 10, suatu pembulatan yang baik untuk angka antara 5,2 12,4. Jadi sekarang kelasnya dimulai dari jangkauan 10 19, 20 29, , 70 79. Jadi terdapat 7 kelas.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Angka terkecil

10 20 22 23 24

24 25 26 26 29 29 29 30 31 31

32 33 36 36 38 39 40 41 43 44

44 45 47 52 55 55 58 60 62 72

Angka terbesar

22

Distribusi Frekuensi Kelompok (lanjutan)


Hasil pengelompokan data jika ditampilkan dalam distribusi frekuensi kelompok dapat dilihat sbb.
Batas Kelas Lebar kelas: (30 20) = 10 unit Data di Kelas 10 20, 22, 23, 24, 24, 25, 26, 26, 29, 29, 29 30, 31, 31, 32, 33, 36, 36, 38, 39 40, 41, 43, 44, 44, 45, 47 52, 55, 55, 58 60, 62 72

Tabel 3
Frekuensi (f) Frekuensi Relatif ( f/n )
(1/35) x 100% = 2,9% (11/35) x 100% = 31,4% (9/35) x 100% = 25,7% (7/35) x 100% = 20,0% (4/35) x 100% = 11,4% (2/35) x 100% = 5,7% (1/35) x 100% = 2,9% 23

10 19 20 29 30 39

1 11 9 7 4 2 1 Total: n = 35

Batas bawah kelas 10, 20, 30, , 70

40 49 50 59 60 69 70 79

Batas atas kelas 19, 29, 39, , 79

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Bagaimana Cara Memvisualisasikan Data?


Pengorganisasian data dalam bentuk distribusi frekuensi ataupun distribusi frekuensi kelompok lebih memudahkan kita untuk mempelajari pola dari data. Suatu cara lain, agar data dapat dipelajari polanya dan diinformasikan ke masyarakat dengan mudah dan menarik adalah dengan memvisualisasikannya dengan grafik. Bentuk grafik yang biasa digunakan dalam statistik adalah Histogram, Poligon, Lingkaran (Pie), dan Garis. Di sini kita akan memvisualisasikan data Tabel 1, 2, dan 3 dengan beberapa jenis grafik.
24

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Histogram (di Excel: Insert Charts Column)


Data dari Tabel 1.

Sumbu tegak menyatakan jumlah keluarga yang memiliki jumlah anak tertentu (frekuensi). Setiap angka di sumbu jumlah anak diberi gambar satu batang. Tinggi batang dari setiap angka jumlah anak menyatakan jumlah keluarga yang memiliki sejumlah anak tsb. Keluarga dengan 2 anak mempunyai jumlah terbesar. Jumlah keluarga yang mempunyai anak lebih dari 2, mempunyai kecenderungan semakin kecil dengan semakin besarnya jumlah anak.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Jumlah keluarga

Keluarga yang disurvei mempunyai 0 9 anak. Angka-angka jumlah anak ini diletakkan di sumbu mendatar.

20 15 10 5 0

Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga

3 4 5 6 7 Jumlah anak

25

Grafik Batang (di Excel: Insert Charts Bar)


Data dari Tabel 1.
20 Jumlah keluarga 16 12 8 4 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah anak Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga Jumlah anak
9 8 7 6 5 4 3 2 1 0

Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga

8 12 16 Jumlah keluarga

20

Grafik batang (kiri) mirip dengan histogram. Pada umumnya grafik batang lebih sering ditampilkan secara mendatar (kanan). Sumbu mendatarnya adalah frekuensi dan sumbu tegaknya adalah angka hasil survei.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

26

Perbandingan Histogram dan Grafik Batang


Histogram
Jumlah keluarga Jumlah keluarga Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah anak 8 9 20 16 12 8 4 0

Grafik Batang
Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga

3 4 5 6 7 Jumlah anak

Histogram mirip dengan grafik batang yang ditampilkan secara tegak. Sumbu mendatar dan sumbu tegaknya sama. Setiap angka di sumbu mendatar (hasil survei) digambarkan dengan satu batang yang tingginya sama dengan frekuensi (skalanya ada di sumbu tegak). Perbedaan histogram dan grafik batang terletak pada jarak antar batang. Di histogram, tidak ada jarak di antara batang-batangnya, sedangkan di grafik batang antar batang ada jaraknya. Grafik batang dapat digambarkan secara mendatar, sedangkan histogram selalu digambarkan secara tegak.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

27

Poligon (di Excel: Insert Charts Line)


Data dari Tabel 1. Poligon menggambarkan data dengan titik dan garis yang menghubungkan titiktitik datanya.
Jumlah keluarga Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga 20 16 12 8 4 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jumlah anak

Sumbu mendatarnya adalah angka hasil survei dan sumbu tegaknya adalah frekuensi. Setiap angka hasil survei (jumlah anak) digambarkan dengan satu titik yang letaknya bersesuaian dengan frekuensi di skala sumbu tegak (jumlah keluarga). Distribusi frekuensi dari data hasil survei dapat dilihat jelas dengan mengamati pola titik dan garis yang menghubungkan setiap titik data.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

28

Perbandingan Histogram dan Poligon


Data dari Tabel 1. Histogram menggambarkan setiap data dengan sebuah batang. Poligon menggambarkan setiap data dengan titik dan menghubungkan titik-titik datanya dengan garis lurus. Titik di poligon adalah titik tengah di permukaan atas dari batang di histogram.
Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga

Histogram Poligon

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

29

Grafik Lingkaran (di Excel: Insert Charts Pie)


Data dari Tabel 1.
Grafik lingkaran digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi relatif dalam bentuk sebuah lingkaran. Satu lingkaran penuh menggambarkan nilai 100% atau sudut 360o . Setiap data /angka hasil survei (jumlah anak) digambarkan oleh satu potongan lingkaran. Setiap potongan lingkaran mempunyai warna (atau degradasi warna) yang berbeda. Besar potongan (atau besar sudut potongan) menunjukkan nilai frekuensi relatif dari data (jumlah keluarga). Distribusi data dapat diamati dengan melihat besar kecilnya setiap potongan lingkaran.

Distribusi frekuensi relatif untuk jumlah anak per keluarga


1,6% 3,1% 12,5% 6,3% 9,4% 17,2% 3,1% 1,6% 0 1

Jumlah anak

2 3 4 5 6 7 8 9

17,2% 28,1%

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

30

Grafik Garis (di Excel: Insert Charts Scatter)


Grafik garis menggambarkan distribusi frekuensi dalam bentuk garis saja (di Excel: Insert Charts Scatter Scatter with straight lines atau with smooth lines) atau garis dan titik. Garis yang menghubungkan setiap titik data dapat berupa garis lurus (di Excel: Insert Charts Scatter Scatter with straight lines and markers) atau garis lengkung (di Excel: Insert Charts Scatter Scatter with smooth lines and markers). Sumbu mendatar, sumbu tegak, dan tampilan gambar dari grafik garis mirip dengan poligon.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Data dari Tabel 1. Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga
20

Jumlah keluarga

16 12 8 4 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jumlah anak
31

Perbandingan Grafik Garis dan Poligon


Poligon
20 Jumlah keluarga 16 12 8 4 0 0 1 2 3 4 5 6 Jumlah anak 7 8 9 Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga 20

Grafik Garis
Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga

Jumlah keluarga

16 12 8 4 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jumlah anak

Poligon dan grafik garis (tipe titik dan garis lurus) mempunyai tampilan yang mirip. Perbedaan dari keduanya terletak pada posisi titik-titik data frekuensi. Di Poligon, titiktitik data frekuensi terletak di tengah daerah skala data sumbu mendatar, sedangkan di grafik garis, titik-titik data frekuensi terletak tepat di atas skala data sumbu mendatar.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

32

Distribusi Frekuensi dan Distribusi Frekuensi Kelompok


Histogram Tabel 2
Distribusi frekuensi untuk jumlah anak per keluarga
Jumlah mahasiswa 30.0% 25.0% 20.0% 15.0% 10.0% 5.0% 0.0% 0 1 2 3 4 5 6 Jumlah anak 7 8 9 Jumlah keluarga 40.0% 30.0% 20.0% 10.0% 0.0% 10 19 20 29 30 39 40 49 50 59 60 69 70 79 Jam belajar

Histogram Tabel 3
Distribusi frekuensi kelompok untuk jam belajar mahasiswa per pekan

Sumbu tegak di histogram, poligon, grafik garis, ataupun grafik batang dapat berupa data frekuensi ataupun frekuensi relatif. Kedua histogram di atas menggunakan data frekuensi relatif untuk sumbu tegaknya. Perbedaan tampilan antara distribusi frekuensi dan distribusi frekuensi kelompok terletak di skala sumbu mendatarnya. Angka skala di distribusi frekuensi berupa item data, sedangkan di distribusi frekuensi kelompok berupa kelas.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 33

Distribusi Data

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

34

Bagaimana Cara Mempelajari Pola dari Suatu Data?


Pola suatu data dapat dipelajari dengan sederhana ketika sudah digambarkan distribusi frekuensinya di grafik. Bentuk dari distribusi frekuensi menunjukkan pola dari data tersebut. Cara yang paling berguna untuk mempelajari pola data adalah dengan menganalisis kesimetrian dari distribusi frekuensinya. Secara umum distribusi data dapat dikelompokkan ke distribusi simetri dan distribusi tak simetri. Suatu data terdistribusi secara simetri jika pola frekuensi di sebelah kiri dan sebelah kanan dari titik pusatnya adalah sama. Jika terdistribusi tak simetri, maka pola frekuensi di sebelah kanan dan sebelah kiri titik pusatnya, berbeda.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

35

Distribusi Data Simetri


Frekuensi
Distribusi frekuensi (nilai-nilai frekuensi dari setiap nilai yang diamati) di sebelah kanan titik pusat sama besar atau hampir sama besar dengan distribusi frekuensi di sebelah kiri titik pusat.

Titik pusat

Nilai yang diamati


36

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Distribusi Data Tak Simetri


Frekuensi

Distribusi frekuensi (nilai-nilai frekuensi dari setiap nilai yang diamati) di sebelah kanan titik pusat tidak sama dengan distribusi frekuensi di sebelah kiri titik pusat.

Titik pusat

Nilai yang diamati


37

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Berbagai Bentuk Distribusi Data yang Simetri


Setelah data diolah menjadi histogram, maka sumbu mendatarnya adalah nilai yang diamati dan sumbu tegaknya adalah frekuensi. Di sini kita akan mengunakan histogram sebagai contoh untuk mempelajari distribusi data. Distribusi simetri Frekuensi

Distribusi seragam

Distribusi normal Nilai yang diamati

Distribusi bimodal

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

38

Distribusi Seragam
Distribusi seragam disebut pula distribusi rektangular. Semua nilai yang diamati memiliki frekuensi yang sama. Contoh: Ketika kita melempar sebuah dadu, angka 1 6 mempunyai kemungkinan yang sama untuk tampil. Dengan demikian frekuensi kemunculan angka 1 6 adalah sama, sehingga histogramnya menampilkan distribusi seragam. Histogram eksperimen ini mempunyai sumbu mendatar angka 1 6 (nilai disetiap sisi dadu) dan sumbu tegaknya adalah frekuensi kemunculan angka 1 6.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

39

Distribusi Normal
Distribusi normal disebut pula distribusi Gaussian. Bentuknya seperti lonceng. Distribusi ini sangat penting sebab banyak kejadian di alam mempunyai bentuk distribusi normal. Contoh: Berat dan tinggi pria. Panjang bayi yang baru lahir. Berat semangka. Waktu hidup baterai. dll.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia 40

Distribusi Bimodal Simetri


Distribusi bimodal mempunyai dua puncak frekuensi. Tinggi kedua puncak frekuensi tidak harus sama. Distribusi ini merupakaan gabungan dari dua distribusi normal. Contoh:
Berat pria dan wanita. Berat pria dan wanita masingmasing membentuk distribusi normal dengan letak puncak frekuensi yang berbeda, sehingga dihasilkan distribusi bimodal. Waktu hidup lampu pijar. Lampu pijar mempunyai dua kondisi saat selesai diproduksi yaitu cacat atau baik. Kedua kondisi ini memberikan dua distribusi dengan letak puncak frekuensi yang berbeda.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

41

Berbagai Bentuk Distribusi Data yang Tak Simetri


Di sini kita akan mengunakan histogram sebagai contoh untuk mempelajari distribusi data tak simetri. Distribusi tak simetri Frekuensi

Distribusi bentuk J

Distribusi miring Nilai yang diamati

Distribusi bimodal

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

42

Distribusi Bentuk J
Distribusi bentuk J memberikan nilai frekuensi yang semakin membesar atau semakin mengecil. Contoh: Jam belajar siswa per pekan. Distribusi frekuensi kelompok di Tabel 3, memberikan distribusi bentuk J.

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

43

Distribusi Miring
Distribusi miring memberikan letak frekuensi puncak yang tidak di tengah-tengah distribusi datanya. Dapat dibedakan menjadi distribusi miring kanan (ekornya di sebelah kanan) dan miring kiri (ekornya di sebelah kiri). Contoh: Jumlah anak per keluarga. Distribusi frekuensi di Tabel 1, memberikan distribusi miring kanan. Jumlah penghasilan per keluarga. Distribusi frekuensinya akan miring kiri. Cacah radioaktif dari ruang angkasa yang sampai di permukaan bumi. Distribusi frekuensinya miring kanan.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Distribusi miring kiri

Ekor di kiri Distribusi miring kanan

Ekor di kanan
44

Distribusi Bimodal Tak Simetri


Distribusi bimodal tak simetri mempunyai dua letak puncak frekuensi. Distribusi ini merupakaan gabungan dari dua distribusi tak simetri. Contoh:
Jam belajar per pekan dari siswa SD dan SMA. Jam belajar per pekan dari siswa SD dan SMA masing-masing membentuk distribusi bentuk J dengan letak puncak frekuensi yang berbeda, sehingga dihasilkan distribusi bimodal tak simetri.

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

45

Kesimpulan

Ilmu yang berkaitan dengan pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan Statistik pada umumnya mengumpulkan informasi dengan cara sampling. Sampel disebut benar jika dapat memberikan prediksi yang akurat pada populasi. Pengorganisasian data dapat menghasilkan distribusi frekuensi atau distribusi frekuensi kelompok. Distribusi frekuensi digunakan untuk mempelajari pola dari data. Data dapat divisuilisasikan dengan grafik. Grafik yang biasa digunakan dalam statistik adalah Histogram, Poligon, Lingkaran (Pie), dan Garis. Distribusi data dapat dibedakan menjadi distribusi simetri dan tak simetri.
MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

penyimpulan informasi atau data untuk mengetahui dan memahami dunia di sekitar kita disebut statistik.

46

Daftar Pustaka
Angel, R.A, Abbott, D.C, Runde, C.D. 2009, A Survey of Mathematics with Application, Ed. Ke-8, Boston, Pearson Addison Wesley. Blitzer, R. 2008, Thinking mathematically, Ed. Ke-4, New Jersey, Pearson Addison Wesley. Miller, D.C, Heeren, E.V, Hornsby, J, Morrow, L.M, Newenhizen, V.J, 2008, Mathematical Ideas, Ed. Ke-11, Boston, Pearson Addison Wesley. Pirnot, L.T, 2007, Mathematics All Around, Ed.Ke-3, Boston, Pearson Addison Wesley.

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia

47

MPKT B. Dipergunakan hanya di lingkungan akademik Universitas Indonesia