Anda di halaman 1dari 4

Cairan Koloid

Oleh : Dewa Gede Oka Darsana Cairan koloid merupakan cairan homogen, tidak bersifat kristal, terdiri dari molekul zat berukuran besar atau partikel ultramikoskopik yang dilarutkan dalam larutan lain. Partikelpartikel koloid tidak mengendap dan tidak dapat dipisahkan oleh penyaringan atau sentrifusisasi seperti pada darah. Cairan koloid dibedakan menjadi dua : 1 1. Koloid semisintetik : gelatin, dekstran, hydroxyethyl starches. 2. Koloid alamiah : albumin, plasma segar beku, larutan imunoglobulin. Pelarut partikel-partikel koloid adalah kristaloid dan umumnya dilarutkan dalam cairan isotonik, namun terdapat juga koloid yang dilarutkan dalam cairan glukosa hipertonik atau cairan garam hipertonik.2,3 Ukuran molekul dalam koloid berbeda-beda. Albumin manusia terdiri dari 95% albumin dengan ukuran yang sama, sehingga disebut monodisperse. Koloid semisintetik umumnya memiliki ukuran molekul yang berbeda-beda sehingga disebut polydisperse.1 Ekspansi volume koloid ditentukan oleh berat molekul dan ukuran partikelnya karena berat molekul dan ukuran partikel koloid menentukan tekanan onkotik koloid.3,4

1. Gelatin Gelatin merupakan koloid yang terbuat dari kolagen sapi. Terdapat dua macam sediaan gelatin, suksinilasi gelatin dan gelatin dengan ikatan urea. Larutan pelarut gelatin umumnya adalah cairan garam isotonik. Penambahan kalsium pada gelatin ikatan urea mengakibatkan

gelatin sebaiknya tidak diberikan pada set infus yang sama dengan darah. Resiko penularan penyakit Creutzfeld-Jakob dan Bovine spongioform encephalitis membatasi penggunaan gelatin (walaupun penyakit di atas umumnya ditularkan melalui makanan olahan sapi dan tidak ada laporan mengenai penularan melalui cairan intravena).1,2,3

2. Dekstran Dekstran merupakan koloid yang berasal dari sukrosa. Terdapat dua macam dekstran pada pemakaian klinik, dekstran 40 (BM 40.000) dan dekstran 70 (BM 70.000). Pelarut dekstran adalah cairan garam isotonik. Dekstran memiliki dosis relatif terhadap gangguan pembekuan darah. Pemberian dekstran lebih dari 20 mL/kgBB menyebabkan penurunan faktor VIII dan faktor Von Willebrand dan menyebabkan fibrinolisis. Pemakaian dekstran juga dapat menyebabkan gagal ginjal akut, walaupun jarang terjadi. Pemakaian dekstran juga dilaporkan menyebabkan reaksi anafilaktik.2,3

3. Hidroxyethyl starch Hidroxyethyl starch (hetastarch-HES) merupakan turunan amilopektin dari tepung maizena gandum. Amilopektin secara cepat didegradasi oleh alfa amilase. Maka untuk mengurangi degradasi amilopektin dilakukan penggantian residu glukosaanhidrase dengan kelompok hidroxyethyl.5 Berdasarkan berat molekulnya HES dibagi menjadi tiga kelompok : HES dengan berat molekul tinggi (BM 450-480 Da), berat molekul sedang (BM 200 Da) dan berat molekul rendah (BM 70-130 Da).1 HES dengan berat molekul tinggi memiliki aktivitas onkotik tertinggi, namun juga memiliki resiko efek samping paling tinggi. Efek samping tersering penggunaan HES adalah gangguan koagulasi, yang disebabkan oleh inhibisi faktor VII

dan faktor Von Willebrand, serta penurunan fungsi trombosit. Penurunan fungsi koagulasi ini sesuai dengan berat molekul cairan. Paling sering terjadi pada HES dengan berat molekul tinggi, berkurang pada HES dengan berat molekul sedang, serta jarang terjadi pada HES dengan berat molekul rendah. Resiko efek samping ini membatasi penggunaan HES maksimal 20 mL/kgBB dalam 24 jam.2,3

4. Plasma Segar Beku Plasma segar (Frozen Plasma=FP) diambil dari darah dengan memisahkan dan membekukan plasma (200-250 ml) selama enam jam. Plasma beku ini bisa disimpan selama satu tahun pada suhu -180 C atau lebih rendah lagi. Dalam kondisi seperti ini hilangnya faktor V dan faktor VIII kurang dari 30%.6 FP harus dicairkan antara suhu 30-370 C. Setelah dicairkan FP harus digunakan tidak lebih dari 24 jam untuk menjaga keadekuatan faktor V dan VIII, yang akan terus berkurang setelah beberapa jam. FDA sendiri membatasi penyimpanan FP setelah pencairan hanya selama 6 jam. Hanya plasma yang sesuai (sudah diperiksa silang) yang bisa ditransfusi melalui filter darah setandar 170 m.6 FP diberikan jika diperkirakan terjadi penurunan faktor-faktor pembekuan yang bermakna secara klinis. Adapun indikasi pemberian FP antara lain : defisit faktor pembekuan multipel (penyakit hati/ginjal), untuk mengganti kekurangan faktor-faktor tertentu), reversal warfarin, transfusi darah masif (>1,5-2x volume darah penderita). Pada pasien dengan berat badan 70 kg diberikan 800-2000 ml (4-8 kantong) FP untuk setiap kehilangan 1x volume darah, dan diberikan dalam waktu 90-120 menit. Pemberian dengan kecepatan infus yang lebih lambat atau volume yang lebih kecil tidak akan efektif.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Grocott MPW, Mythen MG, Gan TJ. Perioperative fluid management and clinical outcomes in adults. Anesth Analg. 2005;100:1093-1096. 2. Marino PL, penyunting. The ICU Book. Edisi ke-3. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. 3. Grocott MPW, Hamilton MA. Resuscitation fluids. Vox Sanguinis. 2002;82;1-8. 4. Waters J. Fluid physiology. 2007. http://www.anaesthetist.com/fluid. 5. Prough DS, Svensen C. Current concepts in perioperative fluid management. IARS. 2001:70-6. 6. Irving GA. Perioperative blood and blood component therapy. Can J Anaeth. 1992;39:10:1105-15.