Anda di halaman 1dari 24

1

IKHWANUL MUSLIMIN: DARI ISLAM FUNDAMENTALIS MENJADI ISLAM MODERAT


Oleh: Nurul Huda

Latar Belakang Masalah Gerakan Revolusi di negara-negara arab yang terjadi sejak akhir tahun 2010 yang lalu, memperlihatkan sebuah angin segar bahwa negara-negara arab akan mengalami perubahan. Gelombang demonstrasi yang tengah terjadi di negara-negara arab dapat dikatakan mempunyai issue yang hampir sama yaitu menuntut adanya reformasi terhadap sistem otoritarianisme. Tuntutan reformasi ini diawali dari Tunisia yang berhasil menjatuhkan presiden Zain alAbidin Ibn Ali, lalu mesir yang memksa Husni Mubarak mundur, Libiya berhasil menjatuhkan presiden Muammar Qadafi melalui perang saudara, dan dibeberapa negara Arab lainnya yang tengah berlangusng pertarungan antara kelompok pro-reformasi dengan rezim yang berkuasa. Tuntutan reformasi yang terjadi di negara-negara arab (timur tengah), menunjukkan sebuah kesadaran baru untuk membangun sistem negara yang lebih baik. Dalam kasus seperti ini, sistem demokrasi biasanya menjadi solusi yang paling tepat untuk mengganti sistem otoritarianisme. Karena demokrasi adalah sistem yang saat ini masih diakui dapat menjamin kebebasan, memberikan keadilan, meletakkan kedaulatan di tangan rakyat, dan lain sebagainya.

Persoalannya negara-negara Arab yang notabe berpenduduk muslim sebagian masih mempunyai keyakinan yang sangat kuat, bahwa jawaban terhadap berbagai persoalan yang menimpa umat Islam kini adalah dengan kembali sepenuhnya terhadap ajaran Islam. Dengan kata lain, Islam diyakini sebagai agama sempurna yang mengajarkan cara-cara hidup dalam beragama, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara. Al-Quran dan al-Hadits tidak saja sebagai pedoman hidup dalam arti individual, melainkan dalam skala yang lebih luas termasuk dalam bernegara. Sehingga, dalam bernegara al-Quran dijadikan sebagai konstitusi dengan meletakkan kedaulatan di tangan Tuhan.1 Dengan keyakinan tersebut, kehadiran demokrasi yang dibawa oleh negara-negara Barat sejak masa kolonial seringkali dibenturkan dengan Islam. Menurut Bassam Tibi penolakan terhadap Barat selalu diawali dengan penolakan terhadap sistem negara-bangsa.2 Oleh sebab itu, menguatnya tuntutan reformasi di timur tengah, tidak berarti bahwa negara-negara Arab akan membentuk pemerintahan demokratis-sekuler, melainkan tidak menutup kemungkinan nilai-nilai Islam akan diadaptasikan dengan demokrasi. Inilah yang terjadi di Mesir.

1 Menurut Sayyid Qutb, manusia sebagai Khalifah Allah pada hakikatnya adalah pelaksana
kedaulatan Tuhan dan karenanya mereka tidak boleh menempuh kebijaksanaan politik dan hukum yang bertentangan dengan ajaran dan hukum Tuhan. Ia menambahkan, bahwa hanya kaum muslimin saja yang berhak menjadi Khalifah Allah. Karena itu, hak memilih dan dipilih sebagai kepala Negara dan anggota-anggota majlis syura hanya dimiliki oleh umat Islam saja. Islamlah yang menyatukan seluruh umat Islam ke dalam satu Negara yang supranasional. Muhammad Iqbal dkk, Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2010), 213. 2 Bassam Tibi, The Challenge of Fundamentalism: Political Islam and the New World Disorder (Berkeley: university of California Press, 1998), 6.

Revolusi yang terjadi di mesir menurut para pengamat bukanlah revolusi Islam.3 Artinya, demontrasi itu adalah pertarungan rakyat dengan pemerintah. Mesir memang negara yang mempunyai akar sejarah yang kuat dalam melakukan perubahan. Pada bulan Juli 1952 terjadi revolusi di Mesir yang berhasil menggulingkan Raja Farouk dan pada bulan Oktober 1981 Anwar Sadat dibunuh oleh IM.4 Hanya saja, perubahan-perubahan yang terjadi sebelumnya tidak merata.5 Perubahan di Mesir hanyalah perubahan pemimpin bukan perubahan rezim. Sekalipun antara Naser dan Sadar berbeda ideologi, tetapi keduanya mempunyai kesamaan dalam mengontrol masyarakat. Berbeda dengan revolusi kali ini, dimana pasca turunnya Husni Mubarok sebagai presiden, kelompok Islam yang justru menjadi pemenang. Padahal sebelumnya, Mesir selalu diperintah oleh kalangan meliter, setidak pasca revolusi tahun 52. Hasil pemilihan legislatif dan presiden, menjadi bukti bahwa rakyat mesir kali lebih mempercayai al-Ikhanul al-Muslimun melalui partai Keadilan dan Kebebsan (PKK) untuk mengawal jalannya revolusi. IM nampanya telah berhasil membangun pondasi sosial yang kuat, sehingga pasca tumbangnya rezim Mubarak, IM mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan (PKK). Partai ini dengan mengejutkan memperoleh kemenangan yang luar biasa pada pemilihan anggota parlemen Mesir yang dimulai sejak 28 November 2011 dengan memperoleh 235 kursi, partai salafi 123 kursi, al3 Erlangga Jumina, Revolusi di Mesir Bukan Revolusi Islam dalam |
http://nasional.kompas.com/read/2011/02/06/0824015(Minggu, 6 Februari 2011) 4 Stefen A. Cook, Can Egypt Change dalam Revolution in the Arab World: Tunisia, Egypt, and The Unmaking of An Era (A Special Report From Freign Policy: Published by the Slate Group, a division of The Washington Post Company, 2011), 23-24. 5 Carrie Rosefsky Wickham, Mobilizing Islam: Religion, Activism, and Political Change in Egypt (New York: Columbia University Press, 2003), 64.

Wafd 37 kursi, Koalisi Parlemen Revolusi 34 kursi. Artinya PKK (Partai alHurriyah wa al-adalah) memenangi 70,4%. Tidak hanya itu, ketika sidang parlemen untuk mengangkat ketua parlemen, Mohamed Saad Al Katatni Sekjen PKK berhasil menjadi pemenang dengan mandapat 399 suara dari 504 anggota Dewan.6 Selain itu, IM melalui partai PKK juga berhasil menang dalam pemilihan presiden dengan terpilihnya Muhammad Mursi, calon presiden dari PKK. Kemengan IM dalam pemilu legislatif dan presiden ini mengejutkan para pengamat yang sebelumnya memprediksi bahwa IM belum tentu menjadi pemenang dalam pemilu Mesir. Prediksi pengamat tersebut wajar saja karena didasarkan pada pengamatan terhadap revolusi Mesir yang menggambarkan pertaruangan rakyat dengan penguasa. Tetapi, bila melihat gerakan IM sejak 80-an yang sudah medapatkan dukungan yang luas dan berhasil menjadikan dirinya sebagai organisasi sosial yang rapi, maka wajar juga bila IM berhasil mendapatkan dukungan yang kuat dari masyarakat. Ikwanul Muslimin saat ini, tentu saja bebeda dengan IM ketika baru berdiri. segala tuduhan-tuduhan negatif yang ditujukan kepada IM yang terjadi di masa lalu telah kehilangan relevansinya. Kemenangan PKK yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin pada pemilu Mesir yang dinilai paling demokratis sepanjang sejarah pemilu Mesir, menjadi bukti bahwa Ikhwanul Muslimin telah mengalami perubahan.

6 Khalid Elfiq, Katatni Terpilih sebagai Ketua DPR Mesir dalam


http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/01/293532/39/6 (Selasa, 24 Januari 2012)

Perubahan organisasi IM menurut al-Ghobazy menunjukkan sebuah komitmen menuju demokrasi.7 Hal ini didasarkan pada statement domocracy yang dikeluarkan oleh IM yang meliputi empat isu pokok yaitu: non muslim, hubungan agama dengan politik, kekerasan dan politik, dan hak asasi manusia.8 Isu pertama, persoalan sikap terhadap non muslim, IM hari ini telah menunjukkan sikap akomudatif terhadap mereka. Ini bisa dilihat dari masuknya tokoh-tokoh non muslim dalam pemerintahan Morsi. Terobosan Mursi menjadikan dirinya disebut sebagai tokoh paling berpengaruh ke-4 di dunia versi majalah Time. Sikap pluralisme yang ditunjukkan IM tentu saja terbentuk bukan untuk kepentingan sesaat (untuk mendapatkan legitimasi dunia), tetapi sikap ini meruapakan hasil dari proses yang cukup panjang. Pola gerakan IM kini sangat berbeda dengan oganisasi-organisasi seperti HT, FPI dan organisasi fundamentalis lainnya yang memilih pola top down. Pola gerakan IM menurut Bayat adalah buttom up (dari bawah ke atas). 9 Sehingga, memungkinkan mempunyai pemahaman yang lebih utuh terhadap

keberagaman. Dalam konteks ini, IM mengeluarkan sebuah pernyataan yaitu: We the Muslim Brothers always say that we are advocates and not judges, and thus we do notever consider compelling anybody to change his belief, in accordance with Gods words: No compulsion in religion.Our position regarding our Christian brothers in Egypt and the Arabworld is explicit, established and known: they have the same rights and duties as we do. . . . Whoever believes or acts otherwise is forsaken by us.10 7 Mona al-Ghabashy, The Metamorphosis Of The Egyptian Muslim Brothers (United States of
America: Cambridge University Press, 2005), 381. 8 Ibid., 384. 9 Asef Bayat, Pos-Islamisme terj. Faiz Tajul Milah (Yogyakarta: LKiS, 2011), 251. 10 al-Ghabashy, The Metamorphosis Of The Egyptian Muslim Brothers, 385.

Kedua, hubungan agama dan politik. Porsoalan ini sebenarnya adalah problem umum yang dihadapi oleh umat Islam semenjak runtuhnya sistem khilafah Turki Uthmani. Menurut catatan Abdul Kholik, setidaknya ada empat aliran yang muncul pada waktu itu. Pertama, aliran Barat yang menggemakan peniruan terhadap Barat dalam semua aspek kehidupan (westernisasi). Kedua, aliran relegius anti Barat yang berusaha merestorasi kejayaan Islam dengan cara kembali pada sumber-sumber agama (salafiyah). Katiga, aliran nasionalisme lokal yang tidak memberikan nasionalisme universal dan PanIslamisme. Keempat, nasinolisme Pan-Arab yang muncul pada akhir 1800-an dan menjadi intens pada abad 20 di mana banyak komonitas Kristen terlibat di dalamnya.11 IM jika dilihat tahun-tahun sebelum 70-an bisa digolongkan ke dalam aliran kedua. Sedangkan IM hari ini tentu berbeda, karena IM sudah terlibat dalam pemilu dengan mendidirikan sayap politik PKK. Ketiga, kekerasan dan politik. IM terbentuk sebagai bagian dari proses pembentukan negara Mesir. Karena kerasnya situasi yang dihadapi IM pada masa lalu, membuat organisasi ini membentuk sayap militer yang disebut Komando Khusus. Perjuangan IM melawan rezim otoriter di Mesir memang sering diwarnai aksi kekerasan, terutama yang dilakukan oleh Komando Khusus.12 Hal ini berdampak pada munculnya stigmatisasi buruk, yaitu

11 Abdul Chalik, Islam & Kekerasan: Dinamika Politik dan Perebutan dalam Ruang Negara
(Yogyakarta: Interpena, 2012), 162. 12 Imam Ghazali Said, Ideologi Kamum Fundamentalis: Pengaruh Pemikiran Politik al-Maududi Terhadap Gerakan Jamaah Islamiyah Trans Pakistan-Mesir (Surabaya: Diantara, 2003), 167.

sebagai organisasi radikal.13 Barulah pada tahun 80-an IM telah berhasil menjadi organisasi masyarakat yang moderat, besar, dan kuat.14 Hari ini IM melalui PKK mampu menarik simpati masyarakat dengan memangang kekuasaan dominan di mesir. Keempat, hak asasi manusia. Memperhatikan perkembangan hari ini, organisasi IM bisa dikatakan telah mempunyai sensitifitas yang cukup tinggi terhadap hak setiap warga. Terobosan Presiden Muhammad Morsi dalam mengakomudasi orang-orang non muslim untuk duduk di pemerintahan adalah bukti bahwa IM telah menghargai pluralisme. Selain itu, terkait isu gender, dalam organisasi IM sudah terdiri dari kader perempuan. Tidak tanggungtanggung, Sabah al-Sakkari, aktivis perempuan IM, masuk dalam bursa pemilihan pimpinan PKK yang ditinggalkan oleh Presiden Mursi. 15 Padahal, menurut sebagian orang Islam atau kebanyakan organisasi Islam

fundamentalis, keterlibatan perempuan dalam ranah publik dianggap menyalahi kodratnya. IM yang dikenal sebagai organisasi radikal nampaknya telah tuntas dalam persoalan ini. Dalam sikap resmi IM terhadap perempuan sudah dipublikasikan dalam situs resminya, bahwa tanggung jawab perempuan dalam ranah publik sama dengan laki-laki.16

13 Istilah radikal dan beberapa istilah yang serumpun seperti fundamentalime, konservatisme,
fanatisme, ekstremisme dan lain sebgainya, muncul sebagai simbol sebuah trend global yang bisa terjadi dalam agama-agama yang lain, tetapi image terhadap pola keberagamaan yang demikian secara khusus tertuju pada Islam. Lebih-lebih setelah peristiwa serangan teroris pada 11 September 2001. Bayat, Pos-Islamisme, 1. 14 Ibid., 252. 15 Abu Ghozzah, Aktivis Perempuan Ikhwan Calon Presiden FJP dalam http://alikhwan.net/akhbar-ikhwan) (Kamis, 4 Oktober 2012) 16 Noname, Sikap Resmi IM Dalam Masalah Perempuan (http://al-ikhwan.net/topik/raddusysyubuhat)

Keempat isu pokok tersebut, pada dasarnya sejalan dengan prisipprinsip demokrasi, di mana hakikat kekuasan berada di tangan demos (rakyat). Satu hal yang pentig disini adalah IM telah mampu beradaptasi dengan demokrasi tanpa harus menghilangkan spirit Islam. Artinya, IM mampu mengambil nilai-nilai Islam yang pada dasarnya sejalan dengan demokrasi sperti al-shura, al-adalah, al-musawah, al-hurriyah dan lain sebagainya, meski dalam prakteknya, setiap dinasti bisa berbeda dalam menerapkan nilainilai ideal tersebut.17 Menurut Bayat yang penting bukan pertanyaan apakah Islam sesuai dengan demokrasi, melainkan apakah umat Islam mampu beradaptasi.18 Bila pertanyaan ini harus dijawab, maka IM adalah salah satu organisasi Islam yang berhasil beradaptasi dengan cara-cara yang baik. Dengan meminjam istilah Bayat negara Islam berwatak Demokratis. Perubahan pola gerakan dan beberapa prinsip dasar IM ini, telah memperoleh hasil yang cukup baik. Gagasan untuk memperbaiki masyarakat dan negara yang diperjuangkan sejak dulu, kini peluangnya lebih terbuka. Mayoritas masyarakat Mesir telah memberikan kepercayaannya kepada IM untuk mengawal revolusi dan membentuk pemerintahan Islam yang demokratis. Dengan kekuasaan yang dimiliki, perubahan yang diingankan nampakya akan mudah. Sebagai bukti bahwa perubahan konstitusi negara 17 Contoh Perapan al-shura menurut sharur penerapan al-shura pada masa al-khulau al-rashidun
sampai dinasti-dinasti mengalami pergeseran makna tidak sebagaimana pada masa Rasulullah. Sahrur membagi 4 macam shu>ra> sesuai dengan perjalanan konsep kehilafah, yaitu: pertama, wa sha>wirhum fi al-amri terjadi pada masa Rasulullah. Kedua, wa laita alaikum wa lastu bikhairikum terjadi pada masa al-Khulafa>u al-Rashidu>n. Ketiga, hadza> qada>u al-Alla>hi wa qadrihi terjadi pada masa Umaiyyah. Keempat, nahnu khulaf>au al-Allahi fi al-ardi terjadi pada masa Abbasiyah. Muhammad Sharur, Tirani Islam: Genealogi Masyarakat dan Negara (Yogyakarta: LKiS, 2003), 162. 18 Bayat, Pos-Islamisme, 7-8.

Mesir yang didasarkan pada nilai-nilai Islam, saat ini telah berhasil dirumuskan dengan relatif mudah, meski terdapat kelompok oposisi yang menentangnya. Salah satu kelemahan organisasi IM dulu yang menyebabkan kegagalan perjuangnnya, karena menjadi oposisi di luar sistem pemerintahan. Mereka terlalu yakin tujuan untuk mendirikan daulah islamiyah bisa dicapai dengan cara demikian. Bahkan setelah terjadi kudeta pada tahun 1952 dengan menyingkirkan raja Faruq, Ikhwanul Muslimin tidak mengambil sebuah posisi yang jelas terhadap rezim baru. IM tetap tidak bersedia terlibat dalam pemilu. Karena bagi mereka partai politik hanya memecah belah umat Islam.19 Sehingga, organisasi IM mudah dihancurkan oleh pemerintah yang berkuasa dengan alasan mengganggu satabilitas negara. Ini berbeda jauh dengan hari ini, dimana masih tidak hanya berada dalam sistem tetapi menjadi aktor penting mengawal Revolusi Mesir menuju perubahan yang lebih baik. Berbeda halnya dengan beberapa organisasi yang lain yang kini masih dianggap sebagai kelompok radikal, fundamintalis, atau bahkan yang disebut teroris. Mereka masih mempunyai kecendrungan untuk meealisasikan perjuangannya dengan tidak menyertakan diri dalam sistem pemerintahan. Jumlah organisasi yang seperti ini masih banyak hinga kini. Menurt S. Yunanto di Indonesia saja terdapat beberapa organisasi melitan, diantaranya; Laskar Jihad, ahlussunnah wal jamaah, FPI, Front Pemuda Islam Surakarta, MMI, dan HTI.20 Organisasi-organisasi seperti ini masih mencurigai 19 Al-Banna, Majmuah rasail al-Imam al-Shahid Hasan al-Banna (ttp:tt) 214-215. 20 Ainur Rofiq al-Amin, Membongkar Proyek Khilafah Ala Hizbut Tahrir di Indonesia
(Yogyakarta: LKiS, 2012), 8.

10

demokrasi sebagai proyek asing untuk menghancurkan Islam. Bagi mereka Islam adalah agama sempurna yang mempunyai ajaran untuk mengatur segala aspek kehidupan, sehingga, tidak memerlukan aturan-aturan lain. Perubahan yang terjadi dalam organisasi IM layak menjadi contoh bagi beberapa organisasi yang berbasis Islam atau mengatasnamakan organisasi Islam. Oleh sebab itu, penelitian terhadap perubahan IM yang meliputi, proses, faktor, dan lain sangat penting dan relevan untuk dilanjtkan lebih jauh.

Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah Ikhwanul Muslimin adalah organisasi trans-nasional pertama yang berasaskan Islam. Organisasi ini muncul sebagai respon terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. IM memandang bahwa kemunduran umat Islam dalam segala aspek kehidupan disebabkan Islam tidak lagi sebagai pedoman hidup khusunya dalam berbangsa dan bernegar karena berada dalam genggaman penjajah. Berdasarkan situasi seperti ini, visi perjuagan IM lebih pada visi politik yaitu membebaskan negara-negara Arab dari kekuatan asing dan mendirikan negara Islam.21 Perjuangan Ikhwanul Muslimin untuk sampai pada kesuksesan saat ini adalah perjalanan yang sangat panjang dan berliku. Berbagai tindakan repsesif dari negara, hukuman penjara sampai hukuman mati telah dilaluinya. Tindakan-tindakan keras yang dilakukan pemerintah terjadi tidak semata-mata karena kekhawatiran terhadap gerakan IM yang natinya mengancam stabilitas

21 Yusuf al-Qardhawi, 70 Tahun al-Ikhwan al-Muslimun: Kilas balik Dakwah, Tarbiyah dan
Jihad terj. Mustolah Maufur (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999), 85-86.

11

negara, tetapi juga karena Fundamentalisme Islam pasca perang dunia ke-2 dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas dunia. Peran asing sangat kuat dalam upaya membarangus pergerakan IM. Di sampaing itu prinsip-perinsip yang dianut dan pola gerakan yang dilakuan oleh organisasi IM sedikit banyak juga membenarkan stigma buruk terhadapnya. Sikap IM yang tidak mau kompromi dengan sistem kenegaraan modern dan tindakan-tindakan anarkis juga mewarnai gerakan IM, manjadi dasar munculnya padangan miring. Sehingga pejalanan organisasi ini dilalui dengan jatuh-bangun sampai akhirnya terjadi perubahan-perubahan mendasar dalam diri IM terkait prinsip dan pola gerakannya. Keberhasilan IM dalam menduduki pmerintahan Mesir pasca demonstrasi tahun 2011 lalu adalah buah dari proses yang sangat lama. Hanya saja, keberhasilan ini masih dalam perebutan kekkuasaan. Dengan kata lain keberhasilan IM belum sampai pada capaian-capaian dalam skala yang lebih luas, yaitu membangun negara Mesir sesuai yang diharapakan rakyat Mesir. Apakah sistem negara Islam yang berwatak demokratis dapat mensejahterakan rakyat dan membawa negara Mesir menjadi negara kuat dan maju? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja untuk Mesir di masa yang akan datang, bukan untuk saat ini. Begitu juga dengan dampak keberhasilan IM terhadap organisasi-organisasi Islam melitan lainnya yang ada di negara-negara lain, masih perlu ditunggu di masa-masa yang akan datang.

12

Berdasrakan identifikasi tersebut, maka penelitian ini mengambil batasan hanya pada perubahan organisasi IM dari Islam Fundamental ke Islam moderat dengan menjelaskan beberapa aspek sebagai berikut 1 2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan IM. Proses dan Pola Gerakan IM dalam membangun legitimasi masyarakat.

Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 2 Apa saja faktor-faktor yang mempengruhi perubahan IM? Bagaimana proses dan pola gerakan yang dilakukan IM dalam membangun legitimasi masyarakat?

Tujuan Penelitian Sedangkan yang menjadi tujuan penelitian adalah: 1 2 Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan IM? Memahami proses dan pola gerakan yang dilakukan IM dalam membangun legitimasi masyarakat?

Kgunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1 Sebagai sumbangsih pemikiran untuk meningkatkan khazanah keilmuan Islam terutama menyangkut politik Islam.

13

Sebagai tawaran formulasi baru menyangkut hubungan antara Islam dan demokrasi.

3 4

Menambah daftar pustaka di perpustakaan IAIN Sunan Ampel Menningkatkan keteguhan hati bagi peneliti dan umat Islam secara umum untuk membuka diri pada dunia luar tanpa harus mengubur warisan masa lalu.

Kerangka Teoritis Penelitian ini mengambil topik shura dan peralihan kepemimpinan di Pondok Pesantren Nurul Jadidi untuk diteliti secara obyektif dan ilmiah. Oleh sebab itu, dalam rangka menghasdilkan penelitian yang obyektif dan ilmiah tersebut, peneliti mendasarkan pada basis teori Fungsionalisme Talkot Par sons. Dalam teori Parsons, bahwa untuk menjelaskan masyarakat sebagai sistem yang saling berhubungan mencakup 4 poin, yakni, Organisasi, Personalitas, Pergerakan Struktur Sosial dari struktur yang kecil seperti kekerabatan sampai pada pada yang lebih luas, dan tata nilai yang dipegang (supra struktur).22 Melalui teori ini, IM sebagai salah satu organisasi masyarakat (ormas) tertentu dapat dianalisa dengan cara memahami strutur, personalitas yang biasanya lebih cendurng pada ulamaulama atau tokoh IM, pergerakan struktural dari organisasi IM dalam membangun basis massa yang lebih luas

22 A. Khozin Afandi, Langkah-Langkah Praktis Merancang Proposal (Surabaya: Pustakamas,


2011), 91.

14

yakni rakya Mesir itu sendiri, dan tata nilai yang dianut oleh IM. Keempat ini saling terkait sebagai satu kesatuan (sistem) yang saling mempengaruhi. Untuk menganalisa perubahan organisasi IM dari Islam fundamentalis sampai moderat, digunakan teori konflik. Dalam teori ini, menjelaskan bahwa pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Sumber yang paling penting dalam perubahan sosial menurut perspektif ini adalah konflik kelas sosial di dalam masyarakat. Perspektif ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial merupakan dua hal yang selalu melekat pada struktur masyarakat. Perubahan IM menurut teori ini didasrakan pada konflik kelas. Artinya organisasi IM selalu berada dalam tekanan pemerintah yang hegemonik. IM dianalisa sebagai kelas yang tertindas yang memicu perubahan terhadap prinsip dan pola gerakan IM. Dengan begitu analisa terhadap perubahan organisasi IM secara umum didsarakan pada prinsip sebagai berikut: 1 2 3 4 Setiap masyarakat terus-menerus berubah. Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang perubahan masyarakat. Setiap masyarakat biasanya berada dalam ketegangan dan konflik. Kestabilan sosial akan tergantung pada tekanan terhadap golongan yang satu oleh golongan yang lainnya.

15

Penelitian Terdahulu Berdasarkan tinjauan sementara peneliti, bahwa karya-karya yang membahas tentang Ikhwanul Muslimin sudah banyak baik berupa buku maupun tesis dan disertasi. Berikut karya-karya terdahulu yang berhasil peneliti temukan adalah: 1 Muhammad Iqbal dkk, Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2010). 2 Asef Bayat, Pos-Islamisme terj. Faiz Tajul Milah (Yogyakarta: LKiS, 2011). 3 Imam Ghazali Said, Ideologi Kamum Fundamentalis: Pengaruh Pemikiran Politik al-Maududi Terhadap Gerakan Jamaah Islamiyah Trans Pakistan-Mesir (Surabaya: Diantara, 2003). 4 Yusuf al-Qardawi, 70 Tahun al-Ikhwan al-Muslimun: Kilas balik Dakwah, Tarbiyah dan Jihad terj. Mustolah Maufur (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999). 5 Tesis Mukhtar Hadi, Fundamentalisme Islam: Studi Hermeneutika Gerkan Ikhwabul Muslimin. Tetapi, karya-karya di atas masih berkisar pada Ikhwanul Muslimin dahulu yang masih dikenal dengan kelompok Islam fundamentalis. Sedangkan penelitian yang membahas secara khusus perubahan IM sampai sukses menduduki pemerintahan Mesir saat ini belum peneliti temukan.

16

Metode Penelitian Dalam penelitian yang akan dilaksanakan, ada dua macam metode yang dipakai yaitu; pertama, metode penggalian data dan kedua metode analisa data. 1 Metode Penggalian Data Penelitian ini menggunakan metode Library Research (riset kepustakaan). Artinya, semua data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari bahan-bahan atau literatur-literatur tertulis, yang berkaitan langsung dengan tema penelitian, maupun tidak langsung sebagai pendukung penjelasan penelitian ini. Dengan kata lain, penelitian pustaka adalah penelitian yang membatasi kegiatannya hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja, tanpa memerlukan riset lapangan.23 Secara sederhana, terdapat dua jenis literatur yaitu, primer dan sekunder. Literatur primer terdiri dari karya-karya tokoh IM, seprti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Yusuf al-Qardawi, dan lain sebagainya. Sementara itu karya-karya lain yang berkenaan dengan masalah ini yang berasal dari buku karangan orang lain, majalah dan data informasi website merupakan sumber sekunder. Sumber sekunder ini juga penting terutama ketika membuat komparasi, sebagai penunjang penjelasan maupun analisa. Sedangkan tekhnik pengumpulan data adalah sebagai berikut: a Pengumpulan data dalam bentuk verbal simbolik, yaitu mengumpulkan naskah-naskah yang belum dianalisis.

23 Mestika Zed, Metode Penelitian kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), 2.

17

kartu data yang berfungsi untuk mencatat hasil data yang telah didapat untuk lebih memudahkan peneliti dalam mengklarifikasi data yang telah didapatkan. Karena efesiensi waktu sangat penting peneliti agar tidak berlarut-larut dalam satu sumber data, sehingga

mengganggu alokasi waktu yang lain. Dengan begitu, seorang peneliti dituntut untuk mempunyai metode membaca dengan cepat dan tepat. Dalam hal ini ada dua tekhnik membaca; pertama, membaca pada tingkat simbolik, yaitu dengan menangkap sinopsis buku, bab, sub-bab sampai bagian terkecil, kedua, membaca pada tingkat semantik, yaitu membaca data yang telah dikumpulkan dengan lebih terperinci, terurai dan menangkap esensi dari data tersebut, hal ini membutuhkan ketekunan dan waktu yang cukup lama. 2 Analisa Data Dalam menganalisa data, penelitian ini menggunakan metode komparatif. Metode komparatif ini digunakan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan IM dulu dan sekarang. Menurut Abu Bakar Ebyhara bahwa komparatif harus mempunyai kesamaan dan perbedaan. 24 Oleh karena itu, metode ini dapat juga disebut sebagai analitis-komparatif. Dalam kontes ini, analisa data dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut: a Pengkodean Pengkodean ini merupakan kelanjutan dari teknik pengumpulan data. Pengkodean ini diperlukan untuk memberikan kategori terhadap 24 Abu Bakar Ebyhara, Pengantar Ilmu Politik (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2010), 53.

18

data yang dikumpulkan. Dalam pengumpulan data, sebagian pengkodean sudah muncul. Hanya pada bagian, data-data yang dikumpulkan siap untuk disortir. Pengkodean data ini disesuaikan ke dalam kotegori-kategori seperti latar/konteks (topik atau subyek), situasi (definisi subyek pada latar), prespektif subyek, cara subyek berfikir tentang orang lain dan obyek, proses (urutan peristiwa, perubahan, dan peralihan), aktifitas (prilaku), peristiwa (data yang berhubungan secara khusu dengan aktivitas khusu), strategi, dan struktur sosial.25 Dengan pengkodean seperti ini, data-data tentang IM dikelompokkan ke dalam kategori-kategori ini. b Reduksi Data Pada tahap ini, data yang sudah diberi kode, kemudian dilakukan pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi dan pentransformasian data mentah dalam catatan-catatan tertulis. Tujuannya adalah untuk melakukan temuan-temuan yang kemudian menjadi fokus dalam penelitian tersebut. c Display Data Tahap ini data yang sudah direduksi kemudian didisplay hingga memberikan pemahaman terhadap data tersebut agar bisa menentukan langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh seorang peneliti dalam proses penelitiannya. d Konklusi

25 Emzir, Metodologi Penelitian Kulitatif Analisa Data (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 113-122.

19

Tahapan ini berisi gambaran kesimpulan/verifikasi (Conclusion drawing/verification), setelah reduksi data dan display data terlaksana, maka dilakukan konklusi atau penarikan kesimpulan dari data yang telah diteliti. Dari kesimpulan ini dipaparkan penemuan baru dari penelitian yang dilakukan. Tetapi hasil ini masih bisa di teliti kembali dan kembali dilakukan reduksi, display data dan kembali akan menghasilkan konlusi, begitu seterusnya sampai pada titik jenuh. Rangkain analisa tersebut, supaya sesuai dengan tema yang diinginkan harus disesuaikan dengan kontruksi metode yang diinginkan. Dalam hal ini disesuaikan dengan metode komparatif, yaitu untuk menemukan pergeseran ideologis IM dahulu dengan sekarang. Sebagai sebuah organisasi, tentu seja seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami perkembangan-perkembangan atau bahkan perubahan sebagaiman teori siklus. Perkembangan dan perubahan ini dikemukakan berdasarkan analisa perbandingan atau analisa perbedaan dan persamaan organisasi IM pada masa berdiri dan saat ini.

Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah:

20

BAB I

: bab ini adalah pendahulaun yang berisi latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka teoritis, penelitian terdahulu, metode penelitian, sistematika pembahasan, outline, dan daftar pustaka sementara.

BAB II

: bab ini membahas landasan teoritis yang menjelaskan tentang perbandingan Islam fundamentalis dan moderat.

BAB III

: bab ini menjelaskan gambaran atau profil yang terdiri dari sejarah berdirinya, penetapan nama, faktor-faktor yang

mendorong terbentuknya, tujuan berdirinya, dasar gerakan, pola gerakan dan pandangannya terhadap berbagai aspek kehidupan yang dikhusukan pada masa Hasan al-Banna sampai Sayyid Qutb. BAB IV : bab ini membahas analisa pergeseran ideologis IM dengan menjelaskan perjalanan IM jatuh dan kebangkitannya, faktor yang mendorong perubahan, dan persamaan dan perbedaan dulu dan sekarang. BAB V : bab ini adalah penutup yang terdiri dari kesimpulan, saran-saran, dan bibliografi.

Outline 1 BAB I Pendahuluan

21

a b c d e f g h i j k 2

Latar belakang masalah Identifikasi dan pembatasan masalah Rumusan masalah Tujuan penelitian Kegunaan penelitian Kerangka teoritis Penelitian terdahulu Metode penelitian Sistematika pembahasan Ont line Daftar pustaka sementara

BAB II Landasan Teritis a b c Definisi fundamentalisme dan Islam moderat Prinsip-prinsip fundamentalisme dan Islam moderat Sikap-sikap fundamentalisme dan Islam moderat dalam beragai bidang aspek kehidupan d Nilai-nilai yang diperjuangkan fundamentalisme dan Islam moderat

BAB III Profil IM a b c d e Kondisi Mesir pada masa-masa berdirinya IM Sejarah berdirinya IM Faktor-faktor berdirinya Struktur organisasi Dasar gerakan

22

f g 4

Tujuan gerakan Pola gerakan

BAB IV Analisa a b c d e Sejarah kejatuhan dan kebangkitan IM Prose perubahan Pola perubahan Faktor-faktor perubahan Perbandingan IM dulu dan sekarang

BAB V Penutup a b Kesimpulan Saran-saran

BLIOGRAFI

23

Afandi, A. Khozin. Langkah-Langkah Praktis Merancang Proposal. Surabaya: Pustakamas, 2011. Amin (al), Ainur Rofiq. Membongkar Proyek Khilafah Ala Hizbut Tahrir di Indonesia. Yogyakarta: LKiS, 2012. Banna (al), Hasan. Majmuah rasail al-Imam al-Shahid Hasan al-Banna. tp:tt. Bayat, Asef. Pos-Islamisme terj. Faiz Tajul Milah. Yogyakarta: LKiS, 2011. Chalik, Abdul. Islam & Kekerasan: Dinamika Politik dan Perebutan dalam Ruang Negara. Yogyakarta: Interpena, 2012. Cook, Stefen A. Can Egypt Change dalam Revolution in the Arab World: Tunisia, Egypt, and The Unmaking of An Era. A Special Report From Freign Policy: Published by the Slate Group, a division of The Washington Post Company, 2011. Ebyhara, Abu Bakar. Pengantar Ilmu Politik. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2010 Emzir. Metodologi Penelitian Kulitatif Analisa Data . Jakarta: Rajawali Pers, 2010. Ghabashy (al), Mona. The Metamorphosis Of The Egyptian Muslim Brothers . United States of America: Cambridge University Press , 2005. Iqbal dkk, Muhammad. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Klasik Hingga Indonesia Kontemporer. Jakarta: Kencana, 2010.

24

Qardhawi (al), Yusuf. 70 Tahun al-Ikhwan al-Muslimun: Kilas balik Dakwah, Tarbiyah dan Jihad terj. Mustolah Maufur .Jakarta: Pustaka alKautsar, 1999. Said, Imam Ghazali. Ideologi Kamum Fundamentalis: Pengaruh Pemikiran Politik al-Maududi Terhadap Gerakan Jamaah Islamiyah Trans Pakistan-Mesir. Surabaya: Diantara, 2003. Sharur, Muhammad. Tirani Islam: Genealogi Masyarakat dan Negara.yogyakarta: LKiS, 2003. Tibi, Bassam. The Challenge of Fundamentalism: Political Islam and the New World Disorder. Berkeley: university of California Press, 1998. Wickham, Carrie Rosefsky. Mobilizing Islam: Religion, Activism, and Political Change in Egypt. New York: Columbia University Press, 2003. Zed, Mestika. Metode Penelitian kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008. Media Online Elfiq, Khalid. Katatni Terpilih sebagai Ketua DPR Mesir (Selasa, 24 Januari 2012) http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/01/293532/39/6 Ghozzah, Abu. Aktivis Perempuan Ikhwan Calon Presiden FJP (Kamis, 4 Oktober 2012, http://al-ikhwan.net/akhbar-ikhwan) Jumina, Erlangga. Revolusi di Mesir Bukan Revolusi Islam (Minggu, 6 Februari 2011) |http://nasional.kompas.com/read/2011/02/06/0824015 Noname, Sikap Resmi IM Dalam Masalah Perempuan (http://al-

ikhwan.net/topik/raddusy-syubuhat)