Anda di halaman 1dari 33

PERBUATAN MELAWAN HUKUM MATERIIL (MATERIEL WEDERRECHTELIJKEHEID) DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI PADA PRAKTIK PERADILAN INDONESIA PASCA

PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI1

OLEH: NINIL EVA YUSTINA, S.H., M.Hum2

A. PENDAHULUAN Dikaji dari perspektif pembagian hukum berdasarkan isinya maka dikenal adanya pembagian hukum Publik dan Hukum Privat. Hukum Publik merupakan Hukum yang mengatur kepentingan umum (algemene belangen) sedangkan hukum privat mengatur kepentingan perorangan (bijzondere belangen). Apabila ditinjau dari aspek fungsinya maka salah satu ruang lingkup Hukum Publik adalah Hukum Pidana yang secara esensiel dapat dibagi lagi menjadi Hukum Pidana Materiil (materieel strafrecht) dan Hukum Pidana Formal (formeel strafrecht/strafprocesrecht).3 Selanjutnya ketentuan Hukum Pidana dapat diklasifikasikan menjadi Hukum Pidana Umum (ius comune) dan Hukum Pidana Khusus (ius singulare, ius speciale atau bijzonder strafrecht).4 Ketentuan Hukum Pidana Umum dimaksudkan berlaku secara umum seperti termaktub dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sedangkan ketentuan Hukum Pidana Khusus diartikan sebagai

ini merupakan rangkuman Tesis penulis yang telah dipertahankan pada tanggal 21 Februari 2009 untuk meraih gelar Magister Humaniora (M.Hum) pada Program Pascasarjana Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Pidana Universitas Merdeka Malang di bawah bimbingan Pembimbing I (Dr. Lilik Mulyadi, S.H., M.H.) dan Pembimbing II (Muhari Agus Santoso, S.H., M.Hum) 2Hakim Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur 3Lilik Mulyadi, Asas Pembalikan Beban Pembuktian Terhadap Tindak Pidana Korupsi Dalam Sistem Hukum Pidana Indonesia Pasca Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Anti Korupsi 2003, PT. Alumni, Bandung, 2007, hlm 1 4Ibid

1Tulisan

ketentuan hukum pidana yang mengatur mengenai kekhususan subyeknya dan perbuatan yang khusus (bijzonderlijk feiten). Tindak Pidana Korupsi merupakan salah satu bagian dari Hukum Pidana Khusus (ius singulare, ius speciale atau bijzonder strafrecht) dan ketentuan hukum positif (ius constitutum) Indonesia tentang tindak pidana korupsi diatur dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001. Secara yuridis formal pengertian Tindak Pidana Korupsi5 terdapat dalam Bab II tentang Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 sampai dengan 20 Bab III

Secara etimologis kata Tindak Pidana dan Korupsi berasal dari kata: a) Istilah Tindak Pidana merupakan istilah teknis-yuridis dari kata bahasa Belanda Stafbaar feit atau Delict dengan pengertian perbuatan yang dilarang oleh peraturan hokum pidana dan tentu saja dikenakan sanksi pidana bagi siapa saja yang melanggarnya. Dalam kepustakaan ilmu hukum pidana istilah Stafbaar feit atau Delict ini ada yang menerjemahkan dengan istilah-istilah: 1. Peristiwa Pidana (Pasal 14 ayat (1) KRIS dan Undang-Undang Dasar Sementara 1950). 2. Perbuatan Pidana (Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungan Jawab Pidana (Pidana Dies Natalis UGM VI di Yogyakarta, 1955), : Gajahmada, hlm. 9). 3. Perbuatan yang Boleh Dihukum (Mr. Kami, Ringkasan tentang Hukum Pidana, Balai Bukum Indonesia, Jakarta, 1959, hlm. 34). 4. Pelanggaran Pidana (MH. Tirtaamidjaja, Pokok-Pokok Hukum Pidana, Fasco, Jakarta, 1955, hlm. 18). b) Istilah Korupsi berasal dari bahasa latin Corruptie (Foklema Andeae: 1951) atau Corrutus (Webster Dictionary: 1960). Selanjutnya, disebutkan bahwa Corruptio itu berasal dari kata Corrumpore, suatu kata latin yang tua. Dari bahasan latin inilah turun kebanyak bahasa Eropa, seperti Inggris: Corruption, Cor5rupt; Perancis: Corruption; dan Belanda Corruptie (korruptie) (Andi Hamzah, Op. cit., hlm. 9). Dsalam Ensiklopedia Indonesia disebutkan: Korupsi (dari Lat. Corruptio = penyuapan; dari corrumpore = merusak). Gejala di mana para pejabat badan-badan negara menyalahgunakan terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidakberesan lainnya. (Ensiklopedia Indonesia Jilid 4, : Ichtiar Baru van Hoeve dan Elsevier Publising Project, Jakarta, 1983, hlm. 1876). Sedangkan arti harafiah dari korupsi dapat berupa: 1. kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak bermoral, kebejadan dan ketidakjujuran. (S. Wojowasito-W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Hasta, Bandung, hlm. 33 dan 150).

tentang Tindak Pidana lain yang berkaitan dengan Tindak Pidana Korupsi Pasal 21 sampai dengan 24 Undang-Undang Nomor 31 Tahun1999. Dengan bertitik tolak pada ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999, unsur-unsur dari Tindak Pidana Korupsi dalam pasal tersebut adalah: 1. 2. 3. Setiap Orang Perbuatan tersebut sifatnya melawan hukum Perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu Korporasi 4. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Dari unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi tersebut maka rumusan mengenai unsur Perbuatan Melawan Hukum penjabarannya lebih lanjut terdapat dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 tahun 1999 yang menentukan bahwa yang dimaksud dengan secara melawan hukum dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. Dalam ketentuan ini kata dapat sebelum frasa merugikan keuangan negara atau perekonomian negara menunjuk bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi

2. perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka, 1976, hlm. 468). 3. -perbuatan yang kenyataan yang menimbulkan keadaan yang bersifat buruk. -perilaku yang jahat dan tercela, atau kebejadan moral. -penyuapan dan bentuk-bentuk ketidakjujuran. -sesuatu yang dikorup, seperti kata yang diubah atau diganti secara tidak tepat dalam satu kalimat. - Pengaruh-pengaruh yang korup. (Soedjono Dirdjosisworo, Fungsi Perundang-Undangan Pidana dalam Penanggulangan Korupsi di Indonesia, Sinar Baru, Bandung, hlm. 17).

cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat. Selanjutnya (wederrechtelijkeheid) mengenai dimensi sifat melawan hukum

dalam Ilmu Hukum dikenal dua macam yaitu sifat

melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) dan sifat melawan hukum formil (formale wederrechtelijkeheid). Sifat melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) merupakan sifat melawan hukum yang luas yaitu melawan hukum itu sebagai suatu unsur yang tidak hanya melawan hukum yang tertulis saja, tetapi juga hukum yang tidak tertulis (dasar-dasar hukum pada umumnya). Jadi walaupun Undang-Undang tidak menyebutkannya maka melawan hukum adalah tetap merupakan unsur dari tiap tindak pidana. Sedangkan sifat melawan hukum formal (formale wederrechtelijkeheid) adalah merupakan unsur dari hukum positif yang tertulis saja sehingga ia baru merupakan unsur dari tindak pidana apabila dengan tegas disebutkan dalam rumusan tindak pidana.6 Sifat melawan hukum materiil terdiri dari sifat melawan hukum

materiil dalam fungsi positif dan sifat melawan hukum dalam fungsi negatif. Pengertian sifat melawan hukum secara materiil dalam arti positif akan merupakan pelanggaran asas legalitas, pada Pasal 1 ayat 1 KUHP, artinya ajaran sifat melawan hukum dalam fungsi positif yaitu meskipun suatu perbuatan secara materiil merupakan perbuatan melawan hukum apabila tidak ada aturan tertulis dalam perundang-undangan pidana, perbuatan tersebut tidak dapat dipidana.7 Ajaran sifat melawan hukum materiil hanya diterima dalam fungsinya yang negatif, dalam arti bahwa suatu perbuatan dapat hilang sifatnya sebagai melawan hukum, apabila secara materiil perbuatan itu tidak bertentangan dengan hukum.8
Sudrajad Basar (1998:5) dalam Guse Prayudi , Sifat Melawan Hukum Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Majalah Varia Peradilan, Tahun XXII, No. 254 Januari 2007, IKAHI , Jakarta , 2007, hlm. 25. 7Indriyanto Seno Adji, Korupsi dan Hukum Pidana, Kantor Pengacara & Konsultan Hukum Prof. Oemar Seno Adji & rekan, Jakarta, 2002, hlm 18
6M.

Komariah Emong Sapardjaja, Ajaran sifat Melawan Hukum Materiil dalam Hukum Pidana Indonesia, PT Alumni, Bandung, 2002, hlm 26
8

Hukum Pidana Indonesia sendiri menganut pendirian sifat melawan hukum dalam fungsinya yang negatif, hal ini adalah sebagai konsekuensi dari asas legalitas. Hal tersebut ternyata terdapat dalam Yurisprudensi antara lain pada Putusan Nomor 81/K/Kr/1973 tanggal 30 Maret 1977. Selanjutnya juga harus diperhatikan Yurisprudensi yakni Putusan MA Nomor 572 K/Pid/2003 tanggal 12 Februari 2004, dimana dalam perkara tersebut terdapat fakta dari ahli Loebby Loqman yang menyatakan bahwa ajaran melawan hukum materiil negatif ada batasannya, yaitu harus dicari aturan formilnya dan orang tidak boleh dihukum kalau tidak ada aturan formil yang dilanggar.9 Tetapi Yurisprudensi tersebut bukanlah Yurisprudensi yang konstan karena Mahkamah Agung RI ternyata mengakui juga adanya sifat melawan hukum materiil dalam fungsi positif yakni sebagaimana dalam putusannya Nomor 275K/Pid/1982 dalam Perkara Korupsi Bank Bumi Daya. Mahkamah Agung secara jelas mengartikan sifat melawan hukum materiil, yaitu menurut kepatutan dalam masyarakat, khususnya dalam perkara tindak pidana korupsi apabila seorang pegawai negeri menerima fasilitas berlebihan serta keuntungan lainnya dengan maksud agar ia menyalahgunakan kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatannya. Hal itu menurut Mahkamah Agung merupakan perbuatan tercela atau perbuatan yang menusuk rasa keadilan masyarakat banyak.10 Mahkamah Agung melalui yurisprudensinya melakukan pergeseran perbuatan melawan hukum materiil kearah fungsi positif melalui kriteria limitatif dan kasuistik berupa perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik dipandang dari segi kepentingan hukum yang lebih tinggi, ternyata menimbulkan kerugian yang jauh tidak seimbang bagi

masyarakat/negara dibanding dengan keuntungan dari perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik tersebut.11

9Guse 10

Prayudi, Sifat Melawan Hukum ....., Op. Cit., hlm. 25

Ibid.

Mulyadi, Pergeseran Perspektif dan Praktek dari Mahkamah Agung Republik Indonesia Mengenai Putusan Pemidanaan, Majalah Varia Peradilan, Tahun XXI, No. 246, Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI), Jakarta, 2006, hlm. 22
11Lilik

Pada hakikatnya, pertimbangan putusan Mahkamah Agung ini dianggap sebagai perkembangan interprestasi futuristis yang menyelami perasaan keadilan masyarakat di satu pihak, sedangkan lainnya berpendapat bahwa sejak putusan itu ajaran sifat melawan hukum materiil telah mempunyai fungsi positif. Fungsi positif ini, menurut ajaran umum hukum pidana, tidak diperbolehkan karena akan bertentangan dengan asas legalitas.12 Akan tetapi, yurisprudensi tetap (Veste Jurisprudentitie) yang mengacu kepada ketentuan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 telah dibatalkan oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 yang menyatakan Penjelasan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dinyatakan telah bertentangan dengan UUD 1945 dan telah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.13 Adanya Permohonan Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terhadap UUD 1945 yang diajukan oleh Ir. DAWUD DJATMIKO, yang tersangkut perkara dugaan Korupsi dalam Jakarta Outer Ring Road, dan telah diputus oleh Mahkamah Konstitusi melalui Putusannya Nomor 003 /PUU-IV/2006 Tanggal 25 Juli 2006 berdampak pada penerapan unsur perbuatan melawan hukum materiel dalam Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi di Indonesia Normatif, Teoritis, Praktik dan Masalahnya, PT Alumni, Bandung, 2007, hlm. 83 13Ibid., hlm 85
12Lilik

Tahun 1999

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUU-IV/2006 Tanggal 25 Juli 2006 telah memutuskan rumusan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 tahun 1999 yang berkaitan dengan dengan unsur perbuatan melawan hukum materiil bertentangan dengan UUD 1945 dan karenanya tidak mampunyai kekuatan hukum mengikat. Adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUU-IV/2006 tersebut maka tidak diatur lagi mengenai unsur perbuatan melawan hukum materiil dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi namun dalam praktik apakah perbuatan melawan hukum materiil tersebut masih dapat diterapkan hakim dalam praktik peradilan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Dalam perkara tersebut Mahkamah Konstitusi menilai memang terdapat persoalan konstitsionalitas dalam kalimat pertama Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi sehingga Mahkamah perlu mempertimbangkan lebih lanjut hal-hal sebagai berikut : 1. Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 mengakui dan melindungi konstitusional warga negara untuk hak

memperoleh jaminan dan

perlindungan hukum yang pasti, dengan mana dalam bidang hukum, pidana diterjemahkan sebagai asas legalitas yang dimuat dalam pasal 1 ayat (1) KUHP, bahwa asas tersebut merupakan satu tuntutan akan kepastian hukum dimana orang hanya dapat dituntut dan diadili atas dasar suatu peraturan perundang-undangan yang tertulis (lex scripta) yang telah lebih dulu ada; 2. Hal demikian menuntut bahwa suatu tindak pidana memiliki unsur melawan hukum, yang harus secara tertulis lebih dahulu telah berlaku, yang merumuskan perbuatan apa atau akibat apa dari perbuatan manusia secara jelas dan ketat yang dilarang sehingga karenanya dapat dituntut dan dipidana sesuai dengan prinsip nullum crimen sine lege stricta;

3. Konsep melawan hukum yang secara formil tertulis (formele wederrechtelijk) yang mewajibkan pembuat Undang-Undang untuk merumuskan secermat dan serinci mungkin (Vide Jan Remmelink, Hukum Pidana, 200: 358) merupakan syarat untuk menjamin kepastian hukum (lex certa) atau dikenal juga dengan istilah Bestimmheitsgebot; - Bahwa berdasarkan uraian diatas, konsep melawan hukum materil (materiele wederrechtelijk), yang merujuk pada hukum tidak tertulis dalam ukuran kepatutan, kehati-hatian dan kecermatan yang hidup dalam masyarakat, sebagai satu norma keadilan, adalah merupakan ukuran yang tidak pasti, dan berbeda beda dari satu lingkungan masyarakat tertentu ke lingkungan masyarakat lainnya, sehingga apa yang melawan hukum di satu tempat mungkin di tempat lain diterima dan diakui sebagai sesuatu yang sah dan tidak melawan hukum, menurut ukuran yang dikenal dalam kehidupan masyarakat setempat, sebagaimana yang disampaikan Ahli Prof. Dr. Andi Hamzah, SH dalam persidangan. - Bahwa oleh karena Penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi kalimat pertama tersebut , merupakan hal yang tidak sesuai dengan perlindungan dan jaminan kepastian hukum yang adil yang dimuat dalam pasal 28 D Ayat (1) UUD 1945. Dengan demikian, Penjelasan Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi sepanjang mengenai frasa yang dimaksud dengan Secara melawan hukum dalam pasal ini mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun dalam arti materiil, yakni meskipun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan namun apabila perbuatan tersebut dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka perbuatan tersebut dapat dipidana. Harus dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Akan tetapi, walaupun demikian pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUU-IV/2006 Tanggal 25 Juli 2006 tersebut dalam praktiknya

Mahkamah Agung RI tetap menganut ajaran perbuatan melawan mukum materiil (materiele wederrechtelijkheid) sebagaimana dari sekian banyak Putusan tersebut nampak diantaranya adalah pada Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2064K/Pid/2006 tanggal 8 Januari 2007 atas nama Terdakwa H. Fahrani Suhaimi, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 996 K/Pid/2006 Tanggal 16 Agustus 2006 atas nama Terdakwa Hamdani Amin, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1974K/Pid/2006 Tanggal 13 Oktober 2006 atas nama Terdakwa Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira, S.H., kemudian Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 91/Pid.B/2008/PN. Kpj. Tanggal 29 April 2008 atas nama terdakwa Abdul Mukti dan Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 1079/Pid.B/2007/PN.Kpj. Tanggal 23 April 2008 atas nama terdakwa Prayitno.14 Pada dasarnya, keseluruhan putusan tersebut yaitu baik yang telah diputus oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia (Mahkamah Agung RI Nomor 2064K/Pid/2006, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 996 K/Pid/2006, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1974K/Pid/2006) maupun oleh Pengadilan Negeri Kepanjen (Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 91/Pid.B/2008/PN. Kpj. dan Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 1079/Pid.B/2007/PN.Kpj.) dan kasus tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Oleh karena itu, dengan titik tolak demikian maka tulisan ini lebih lanjut akan membahas mengenai bagaimana pengaturan perbuatan melawan hukum materiil dalam Tindak Pidana Korupsi pada kebijakan legislasi Indonesia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi dan bagaimana praktik peradilan terhadap perbuatan melawan hukum materiil dalam Tindak Pidana Korupsi Indonesia pada kebijakan aplikasi Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi

II. KERANGKA PEMIKIRAN Secara substansial, penelitian tesis yang berjudul PERBUATAN MELAWAN
14Ibid,

HUKUM

MATERIIL

(MATERIEL

hlm. 86

WEDERRECHTELIJKEHEID) PADA PRAKTIK

DALAM

TINDAK

PIDANA PASCA

KORUPSI PUTUSAN

PERADILAN

INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI mempergunakan beberapa teori yaitu untuk teori Induk/Utama atau Grand Theory dipergunakan Teori Negara Hukum, kemudian pada tataran teori antara atau Middle Range Theory dipergunakan Teori Hukum Pembuktian Dalam Tindak Pidana Korupsi dan pada tataran Applied Theory (Teori Terapan) dipergunakan Teori-Teori Pemidanaan. Penelitian ini memilih Teori Negara Hukum sebagai Grand Theory karena pertimbangan Negara Indonesia merupakan Negara Hukum (rechtsstaat) sebagaimana ketentuan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 amandemen ketiga juga karena teori negara hukum mengkedepankan kepastian hukum (rechts zekerheids) dan perlindungan terhadap hak asasi manusia (human rights). Pada dasarnya suatu negara yang berdasarkan atas hukum harus menjamin persamaan (equality) setiap individu. Hal ini merupakan conditio sine quanon mengingat bahwa negara hukum lahir sebagai hasil perjuangan individu untuk melepaskan dirinya dari keterikatan serta tindakan sewenang-wenang penguasa. Atas dasar itulah penguasa tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap individu dan kekuasaannya pun harus dibatasi.15 Oleh karena itu dalam suatu negara hukum selain terdapat persamaan (equality) juga pembatasan (restriction). Batas-batas kekuasaan ini juga berubah-ubah, tergantung kepada keadaan. Namun sarana yang dipergunakan untuk membatasi kedua kepentingan itu adalah hukum. Baik negara maupun individu adalah subyek hukum yang memiliki hak dan kewajiban. Oleh karena itu, dalam suatu negara hukum, kedudukan dan hubungan individu dengan negara senantiasa dalam keseimbangan. Keduaduanya mempunyai hak dan kewajiban yang dilindungi oleh hukum.16 Secara teoretis Konsepsi Negara Hukum yang dianut Indonesia tidak dari dimensi formal, melainkan dalam arti materiil atau lazim dipergunakan terminologi Negara Kesejahteraan (welfare state) atau Negara kemakmuran.
Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, PT Alumni, Bandung, 1983, hlm.3 dalam: Lilik Mulyadi, Tindak Pidana Korupsi......., Op. Cit., hlm. 35 16Ibid
15Sudargo

10

Oleh karena itu tujuan yang hendak dicapai Negara Indonesia adalah terwujudnya masyarakat adil dan makmur baik spiritual maupun materiil berdasarkan Pancasila, sehingga disebut juga sebagai negara hukum yang memiliki karakteristik mandiri yaitu Negara Hukum berdasarkan pancasila.17 Pada dasarnya konsep Negara Hukum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doktrin Rule Of law dimana dari beberapa doktrin dapat disimpulkan bahwa semua tindakan (termasuk) Pemerintah harus

berdasarkan atas hukum dan adanya jaminan terhadap hakhak asasi manusia antara lain Asas Praduga tidak bersalah (presumption of innocence) dan Asas Legalitas (principle of legality). Asas Praduga tidak bersalah dan asas legalitas merupakan bagian dari Hukum Pidana Formil dan Hukum Pidana Materiil yang merupakan Sub sistem dari Sistem Hukum Pidana. Marc Ancel menyebutkan sistem hukum pidana abad XX masih harus diciptakan. Sistem demikian hanya dapat disusun dan disempurnakan oleh usaha bersama semua orang yang beritikad baik dan juga oleh semua ahli di bidang ilmuilmu sosial.18 Sistem Hukum Pidana asasnya memiliki empat elemen substantif yaitu nilai yang mendasari sistem hukum (philosophic), adanya asasasas hukum (legal principles), adanya norma atau peraturan perundangundangan (legal rules) dan masyarakat hukum sebagai pendukung sistem hukum tersebut (legal society). Keempat elemen dasar ini tersusun dalam suatu rangkaian satu kesatuan yang membentuk piramida, bagian atas adalah nilai, asas-asas hukum, peraturan perundang-undangan yang berada di bagian tengah, dan bagian bawah adalah masyarakat.19 Walau sistem hukum pidana masih harus diciptakan, bukan berarti hal ini tidak dapat didifinisikan. Marc Ancel memberi pengertian sistem hukum pidana dalam

Amanwinata, Pengaturan dan Batas Implementasi Kemerdekaan Berserikat dan Berkumpul Dalam Pasal 28 UUD 1945, Disertasi, Fakultas Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung, 1996, hlm. 109 18Marc Ancel, Social Defence, A Modern Approach to Criminal Problems (London, Routledge & Kegan Paul, 1965), hlm. 4-5 19Mudzakkir, Posisi Hukum Korban Kejahatan Dalam Sistem Peradilan Pidana, Disertasi, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2001, hlm. 22
17Rukmana

11

tiap masyarakat yang terorganasir memiliki sistem hukum pidana yang terdiri dari: (a) peraturan-peraturan hukum pidana dan sanksinya. (b) suatu prosedur hukum pidana, dan (c) suatu mekanisme pelaksanaan (pidana).20 A. Mulder21 dengan tolok ukur pengertian Marc Ancel tersebut di atas juga memberikan dimensi sistem hukum pidana merupakan garis kebijakan untuk menentukan: (a) seberapa jauh ketentuan-ketentuan hukum pidana yang berlaku perlu diubah dan diperbaharui ; (b) apa yang dapat diperbuat untuk mencegah terjadinya tindak pidana ; (c) cara bagaimana penyidikan, penuntutan, peradilan dan pelaksanaan pidana harus dilaksanakan. Pada konsepsi negara hukum maka teori hukum pembuktian

merupakan aspek yang memegang peranan penting untuk menjatuhkan suatu pidana terhadap orang yang melakukan tindak pidana pada umumnya maupun tindak pidana korupsi pada khususnya. Untuk itu pada tataran teori antara (middle range theory) tesis ini akan mempergunakan teori hukum

pembuktian. Andi Hamzah menyebutkan mengenai dimensi mengenai teori pembuktian ada 4 (empat) yaitu Teori Pembuktian Berdasarkan UndangUndang Secara Positif (Positief Wettelijke Bewijstheorie), Teori Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim Melulu, Teori Pembuktian Berdasar

Keyakinan Hakim atas Alasan yang Logis (Laconviction Raissonnee) dan Teori Pembuktian Berdasarkan Undang-Undang Secara Negatif (Negatief

Wetteljke).22 M. Yahya Harahap, membagi pembuktian menjadi Conviction-in Time, Conviction-Raisonee, Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif dan Pembuktian Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk

Mulder, Loc. Cit. Mulder, Ibid., hlm. 28 22Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana (Edisi Revisi), Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 245-253
20A. 21A.

12

Stelsel).23 Martiman Prodjohamidjojo membagi

teori pembuktian menjadi

teori tradisional yang terdiri dari teori negatif, teori positif dan teori bebas sedangkan teori modern dibagi menjadi teori pembuktian dengan

keyakinan belaka, teori pembuktian menurut undang-undang secara positif, teori pembuktian menurut undang-undang secara negatif, teori keyakinan atas alasan logis, teori pembuktian negatif menurut undang-undang dan teori pembuktian terbalik.24 Djoko Prokoso25 membagi pembuktian menjadi Sistem Keyakinan Belaka, Sistem melulu menurut Undang-Undang (positief wettelijk) dan Sistem menurut Undang-Undang sampai suatu batas (negatief wettelik). Lilik Mulyadi26 dengan titik tolak pandangan beberapa doktrina kemudian membagi hukum pembuktian menjadi tiga klasifikasi yaitu hukum pembuktian menurut Undang-Undang secara Positif (Positief Wettelijke Bewijs Theorie), Sistem Pembuktian Berdasarkan Keyakinan Hakim (Conviction Intime/Conviction Raisonce) dan Sistem Pembuktian menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijke Bewijs Theorie). P.A.F. Lamintang27 membagi hukum pembuktian menjadi negatief-wettelijke stelsel, positief wettelijke systeem dan conviction intieme. Adami Chazawi28 membagi hukum pembuktian menjadi Sistem Keyakinan Hakim (Conviction in Time), Sistem

Keyakinan dengan Alasan Logis (Laconviction in Rainsonnee), Sistem Pembuktian Sistem Melulu Undang-Undang (Positief Wettelijk Bewijstheorie), dan

Undang-Undang Secara Terbatas (Negatief Wettelijk Bewijstheorie).

Lebih lanjut maka Ansorie Sabuan, Syarifuddin Pettanasse dan Ruben


Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 277-279 24Martiman Prodjohamidjojo, Penerapan Pembuktian Terbalik Dalam Delik Korupsi (UU No. 31 Tahun 1999), CV Mandar Maju, Bandung, 2001, hlm. 99-101 25Djoko Prakoso, Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian Di Dalam Proses Pidana, Liberty, Yogyakarta, 1988, hlm. 36-44 26Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana (Normatif, Teoretis, Praktik dan Permasalahannya), Alumni, Bandung, 2007, hlm. 191-196 27P.A.F. Lamintang, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Dengan Pembahasan Secara Yuridis Menurut Yurisprudensi Dan Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana, Sinar Baru, Bandung, 1984, hlm. 421 28Adami Chazawi, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Alumni, Bandung, 2006, hlm. 24-30
23M.

13

Achmad29 membagi hukum pembuktian menjadi menurut Undang-Undang secara Positif (Positief Wettelijke Bewijs Theorie), Sistem Pembuktian

Berdasarkan Keyakinan Hakim (Conviction Intime/Conviction Raisonce) dan Sistem Pembuktian menurut Undang-Undang Secara Negatif (Negatief Wettelijke Bewijs Theorie). Hari Sasangka dan Lily Rosita30 membagi hukum pembuktian menjadi Conviction in Raisone, Sistem Pembuktian Negatif dan Sistem Pembuktian Positif. Ramelan31 membagi hukum pembuktian menjadi Teori (system) pembuktian berdasarkan undang-Undang secara positif (Positief Wettelijk Bewijstheorie), Teori (system) pembuktian berdasarkan keyakinan hakim (conviction intime), Teori (system) pembuktian berdasarkan keyakinan hakim atas alasan yang logis (conviction in Rainsonnee), dan Teori (system)

pembuktian berdasarkan undang- undang secara negatif (Negatief Wettelijk Bewijstheorie). Secara gradual dan fundamental dengan tolok ukur teoritik dan praktik maka dalam ketentuan Ilmu Pengetahuan Hukum Acara Pidana hakikatnya teori-teori sebagaimana dikemukakan doktrina tersebut dapat dibagi menjadi 3 (tiga) teori tentang Sistem Pembuktian. Pertama, Sistem Pembuktian

menurut Undang-Undang Secara Positif dengan tolok ukur sistem pembuktian tergantung kepada eksistensi alat-alat bukti sebagaimana disebut limitatif dalam undang-undang. Singkatnya, adanya undang-undang telah menentukan

alat-alat bukti mana yang dapat dipakai hakim, cara bagaimana

hakim harus mempergunakannya, kekuatan alat-alat bukti tersebut dan bagaimana caranya hakim harus memutus terbukti atau tidaknya perkara yang sedang diadili. Kedua, Sistem Pembuktian Menurut Keyakinan Hakim polarisasinya hakim dapat menjatuhkan putusan berdasarkan keyakinan belaka dengan
Sabuan, Syarifuddin Pettanasse dan Ruben Achmad, Hukum Acara Pidana, Angkasa, Bandung, 1990, hlm. 39-42 30Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana Untuk Mahasiswa dan Praktisi, CV. Mandar Maju, Bandung, 2003, hlm. 14-17 31Ramelan, Hukum Acara Pidana Teori Dan Implementasi, Sumber Ilmu Jaya, Jakarta, 2006, hlm. 224-225
29Ansorie

14

tidak terikat oleh suatu peraturan. Dalam perkembangannya,

sistem

pembuktian berdasarkan keyakinan hakim mempunyai 2 (dua) bentuk polarisasi, yaitu Conviction In time, dimana kesalahan terdakwa

tergantung kepada keyakinan belaka, sehingga hakim tidak terikat oleh suatu peraturan dan sistem pembuktian Conviction Raisonce asasnya identik sistem Conviction Intime, yaitu keyakinan hakim tetap memegang peranan penting untuk menentukan tentang kesalahan terdakwa, akan tetapi penerapan keyakinan tersebut dilakukan secara selektif dalam arti dibatasi oleh alasan-alasan jelas dan rasional dalam mengambil putusan. Ketiga, Sistem Pembuktian menurut Undang-undang Secara Negatif yaitu hakim hanya boleh menjatuhkan pidana kepada terdakwa apabila alat bukti tersebut secara limitatif ditentukan undang-undang dan didukung pula adanya keyakinan hakim terhadap eksistensinya alat-alat bukti tersebut. Secara historis, ternyata sistem pembuktian negatif merupakan peramuan antara sistem pembuktian undang-undang secara positif dan sistem pembuktian berdasarkan keyakinan hakim. Konsekuensi logis peramuan ini, maka substansi sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif tentulah melekat anasir prosedural dan tata cara pembuktian sesuai alat-alat bukti sebagaimana limitatif ditentukan undang-undang dan terhadap alatalat bukti tersebut hakim terikat baik secara material maupun prosedural. Pada dasarnya, teori hukum pembuktian ini relevan bagi hakim dalam membuktikan terhadap anasir perbuatan melawan hukum materiil dalam tindak pidana korupsi. Tegasnya, dengan teori pembuktian tersebut maka perbuatan yang dilakukan terdakwa tersebut apakah dapat

dikategorisasikan sebagai perbuatan melawan hukum materiil, sehingga terdakwa tersebut dapat dijatuhkan pidana. Untuk itu maka kemudian tesis ini dalam tataran teori terapan (applied theory) mempergunakan teori-teori pemidanaan. Pada dasarnya dalam teori pemidanaan dikenal ada 3 (teori) pemidanaan32, yaitu:

32Leden

Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta,

2005, hlm. 105

15

1) Teori Absolut atau teori pembalasan (absulute/vergeldings theorien) 2) Teori Relatif atau teori tujuan (utilitarian/doel theorien) 3) Teori Gabungan (verenigings theorien) Menurut Sahetapy33 teori absolut adalah teori tertua, setua sejarah manusia. Menurut teori ini pidana dijatuhkan karena orang telah melakukan suatu kejahatan (quia peccatum est). Konsekuensi logis aspek ini maka pidana adalah akibat mutlak yang harus ada sebagai pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan. Meskipun kecendrungan melakukan pembalasan merupakan gejala yang normal, akan tetapi pembalasan tersebut dapat dikaji melalui optik sebagai suatu reaksi keras yang bersifat emosional dan karena itu irrasional. Menurut Johannes Andenaes tujuan primair penjatuhan pidana menurut teori absolut bersifat untuk memuaskan tuntutan keadilan (to satisfy the claims of justice) sedangkan pengaruh-pengaruh yang menguntungkan bersifat skunder. Selanjutnya menurut Nigel Warker34 bahwa ada dua golongan penganut teori retributif. Pertama, penganut teori retributif murni yang memandang pidana harus sejalan dengan kesalahan si pelaku. Kedua, penganut teori retributif tidak murni yang diklasifikasi menjadi penganut teori retributif terbatas (The Limiting Retribution) yang memandang bahwa pidana tidak harus sepadan dengan kesalahan. Kemudian penganut teori retributif distribusi (Retribution in Distribution) yang menegaskan bahwa

sanksi dalam hukum pidana harus dirancang dengan pandangan pada pembalasan, namun juga gagasan bahwa seharusnya ada batas yang tepat dalam retribusi pada beratnya sanksi. Pada dasarnya, apabila dikaji lebih detail maka hakikatnya teori retributif secara filosofis bersumber dari landasan pemikiran Imanuel Kant (1724-1804) yang dikenal dengan terminologi retributivisme atau yang populer dengan istilah just desert theory sebagaimana dikenal pakar kriminologi di
Suatu Studi Khusus Mengenai Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana, CV Rajawali, Jakarta, 1982, hlm. 198 34Nigel Warker, Sentencing in a Rational Society, Basic Books, Inc, Publishers, New York, hlm. 8-15
33Sahetapy,

16

Amerika Serikat. Menurut pandangan Kant, bahwa pidana itu merupakan konsekuensi logis yang tidak terpisahkan akibat kejahatan yang telah dilakukan seseorang, bukan sebagai suatu kontrak sosial. Konkretnya, pidana dijatuhkan bukan ditujukan sebagai perbaikan si pelaku atau

masyarakat. Kant hanya menerima satu-satunya alasan bahwa pidana dijatuhkan karena pelaku tersebut telah melakukan kejahatan. Oleh karena itu, secara konkret dapat dikatakan bahwa dari latar belakang filsafat pemidanaan yang dikembangkan Imanuel Kant tersebut lahirlah teori retributif yang mendasari tujuan pemidanaan yang menitikberatkan pada pertanggungjawaban pelaku kejahatan terhadap korbannya. Kemudian terhadap teori relatif atau teori tujuan (utilitarian/doel theorien) maka Muladi dan Barda Nawawi Arief35 mengatakan teori ini menegaskan penjatuhan pidana bukanlah merupakan guna memuaskan tuntutan absolut dari keadilan. Pembalasan tersebut tidak mempunyai nilai, tetapi hanyalah sebagai sarana untuk melindungi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, menurut Johannes Andenaes teori ini disebut juga sebagai teori perlindungan masyarakat (the theory of social defence). Menurut Nigel Walker teori ini lebih tepat disebut teori atau aliran reduktif (the reductive point of view) karena dasar pembenaran pidana menurut teori ini ialah mengurangi frekuensi kejahatan. Konsekuensi logisnya, penganut teori ini dapat disebut golongan Reducers (penganut teori reduktif). Pidana bukanlah sekedar untuk melakukan pembalasan atau pengimbalan kepada orang yang telah melakukan suatu tindak pidana, tetapi mempunyai tujuantujuan tertentu yang bermanfaat. Oleh karena itu teori inipun sering juga disebut dengan teori tujuan (utilitarian theory). Jadi dasar pembenaran adanya pidana menurut teori ini adalah terletak pada tujuannya. Memang, hakikatnya teori pemidanaan tersebut ditransformasikan melalui kebijakan pidana (criminal policy) pada kebijakan legislatif. Ada

dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, PT Alumni, Bandung, 1998, hlm. 11
35Muladi

17

beberapa aspek mengapa kebijakan ini perlu dirumuskan, yaitu36: Pertama, untuk sedapat mungkin diharapkan relatif menekan adanya disparitas dalam pemidanaan (sentencing of disparity) terhadap kasus atau perkara yang sejenis, hampir identik dan ketentuan tindak pidana yang dilanggar relatif sama. Pada hakikatnya, disparitas Molly Cheang merupakan penerapan pidana yang tidak sama terhadap tindak pidana yang sama (same offence) atau terhadap tindak-tindak pidana yang sifat berbahayanya dapat

diperbandingkan (offences of comparable seriousness) tanpa dasar pembenaran yang jelas.37 Dengan adanya pedoman pemidanaan pada kebijakan legislatif maka hakim dalam hal penerapan peraturan sebagai kebijakan aplikatif dapat menjatuhkan pidana lebih adil, manusiawi dan mempunyai rambu-rambu yang bersifat yuridis, moral justice dan sosial justice. Konkritnya, konsekuensi logis aspek ini maka putusan hakim atau putusan pengadilan diharapkan lebih mendekatkan diri pada keadilan yang mencerminkan nilainilai yang hidup di masyarakat. Teori Hukum Pembuktian tersebut dalam middle range theory akan berkorelasi dengan teori-teori pemidanaan sebagai applied theory yang pada dasarnya mengacu kepada konsepsi Negara Hukum sebagai grand theory dalam penyusunan tulisan ini. Untuk lengkapnya kerangka pemikiran ini maka grand theory berupa Negara Hukum kemudian middle range theory berupa Teori Hukum Pembuktian dan applied theory berupa Teori-Teori Pemidanaan dapat dilihat dalam bentuk bagan 1 berikut ini.

Mulyadi, Asas Pembalikan Beban ..., Op Cit. ,hlm 215 Cheang, Disparity of Sentencing, Singapore Malaya Law Journal, PTE Ltd., 1977, hlm. 2
36Lilik 37Molly

18

KERANGKA PEMIKIRAN
Teori Negara Hukum
Negara Hukum Indonesia
M id d le R a n g e T h e o r y
19

Teori Hukum Pembuktian

Teori Pembuktian Negatif

Teori Keyakinan Hakim

Teori Pembuktian Positif

Teori Pemidanaan

Teori Absolut Teori Relatif

Teori Gabungan

Perbuatan Melawan Hukum Materiil Dalam Tindak Pidana Korupsi Pada Praktik Peradilan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi

A p p lie d T h e o ry

G ra n d T h e o ry

C. PENGATURAN DALAM

PERBUATAN PIDANA

MELAWAN KORUPSI

HUKUM PADA

MATERIIL KEBIJAKAN

TINDAK

LEGISLASI KONSTITUSI

INDONESIA

PASCA

PUTUSAN

MAHKAMAH

Sudah dijelaskan dalam pembahasan terdahulu bahwasanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 menyatakan Penjelasan Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dinyatakan telah bertentangan dengan UUD 1945 dan telah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Konsekuensi logis dimensi demikian maka dikaji dari perspektif kebijakan legislasi Indonesia maka perbuatan melawan hukum materiil dalam tindak pidana korupsi tidak ada pengaturannya. Tegasnya, dalam Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tidak mengenal lagi perbuatan melawan hukum materiil. Konsekuensi adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 maka terdapat kekosongan norma hukum terhadap eksistensi pengaturan perbuatan melawan hukum materiil. Di satu sisi, perbuatan melawan hukum materiil tidak dikenal lagi dalam norma hukum yang mengatur tindak pidana korupsi di Indonesia khususnya dalam ketentuan hukum positif Indonesia, akan tetapi di sisi lainnya ternyata perbuatan melawan hukum materiil eksistensinya tetap ada dan terjadi dalam praktik peradilan. Dikaji dari perspektif kebijakan aplikasi maka Hakim harus mempertimbangkan dimensi demikian. Apabila Hakim bertitik tolak pada polarisasi pemikiran yang bersifat formal legalistik maka akan bertentangan dengan norma-norma keadilan yang terdapat dalam suatu masyarakat. Akan tetapi, apabila Hakim lebih mengkedepankan dimensi keadilan maka Hakim akan dihadapkan kepada norma-norma formal legalistik dalam suatu Negara Hukum. Oleh karena dimensi yang demikian Hakim harus memilih suatu langkah yang tepat dalam menghadapi suatu kasus konkrit yang diajukan

20

kepadanya, apakah akan lebih mengkedepankan asas formil legalistik di satu sisi dengan mengabaikan asas keadilan di sisi lainnya, ataukah adanya suatu peramuan antara dimensi yang bersifat formal legalistik dengan asas keadilan di lain pihak. Dalam ilmu hukum pada umumnya maka dalam memutus suatu perkara Hakim dapat melakukan suatu penafsiran hukum, sehingga suatu kasus konkrit dapat diputus oleh Hakim yang dapat bersifat peramuan antara dimensi yang bersifat formal legalistik dengan asas keadilan di lain pihak. Penafsiran yang dilakukan oleh Hakim merupakan penafsiran yang bersifat konkrit oleh karena Hakim dihadapkan dalam memutus suatu perkara yang konkrit pula. Pada kebijakan legislasi hukum di Indonesia maka penafsiran hukum oleh Hakim diperkenankan dan malah merupakan suatu kewajiban dari Hakim Indonesia. Ketentuan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa, Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. Kemudian penjelasan ketentuan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman dengan tegas menyebutkan bahwa, ketentuan pasal ini dimaksudkan agar putusan Hakim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Dengan bertitik tolak dimensi yang demikian, yaitu pasca Putusan Mahkamah Konsitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 memang telah terjadi kekosongan norma hukum pada kebijakan legislasi Indonesia yang mengatur tentang perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid). Aspek ini dapat dideskripsikan sebagaimana penelitian terhadap responden tentang adanya kekosongan norma hukum pada kebijakan legislasi Indonesia tentang perbuatan melawan hukum materiil pasca Putusan Mahkamah Konsitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 sebagaimana Tabel 1 berikut ini.

21

Tabel 1. Pengetahuan Responden Mengenai kekosongan norma hukum pada kebijakan legislasi Indonesia tentang perbuatan melawan hukum materiil pasca Putusan Mahkamah Konsitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006

(n= 30 responden) Pertanyaan A/% Tahu B/% Tidak Tahu C/% Tidak menjawab -

Apakah ada 30/100% kekosongan norma hukum pada kebijakan legislasi Indonesia tentang perbuatan melwan hukum materiil pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006? Sumber: Jawaban Responden

0/0%

Analisis: Seluruh responden mengetahui adanya kekosongan norma hukum pada kebijakan legislasi Indonesia khususnya UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perbuatan melawan hukum materiil pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006. Menurut pendapat penulis, maka putusan Mahkamah Konstitusi tersebut telah diketahui seluruh responden yang menyatakan penjelasan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sehingga terjadi kekosongan norma hukum tentang perbuatan melawan hukum materiil dalam kebijakan legislasi Indonesia.

22

Konsekuensi logis, adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 maka perbuatan melawan hukum materiil tidak dikenal lagi dalam kebijakan legislasi Indonesia. Akan tetapi, bagaimanakah dalam praktiknya? Ternyata, mayoritas responden tetap menterapkan perbuatan melawan hukum materiil. Konklusi dasarnya, ternyata Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 diabaikan dalam kebijakan aplikasi. Aspek ini dapat dideskripsikan penelitian terhadap responden tentang tetap diterapkannya perbuatan melawan hukum materiil pada praktik peradilan tindak pidana korupsi sebagaimana terdapat dalam Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Pengetahuan responden tentang perlunya diterapkan Perbuatan melawan hukum materiil pada praktik peradilan tindak pidana korupsi

Pertanyaan

(n= 30 respondent) A/% B/% Tahu Tidak tahu

C/% Tidak menjawab -

Apakah menurut 25/83 % Sdr/i perbuatan melwan hukum materiil tetap diterapkan pada praktik peradilan tindak pidana korupsi di Indonesia Sumber: Jawaban Responden Analisis:

5/17%

Keseluruhan Responden yang berjumlah 30 orang maka 5 orang (17%) menyatakan tidak perlu eksistensi perbuatan melawan hukum materiil tetap diterapkan pada praktik peradilan tindak pidana korupsi dan sebanyak 25 orang (83%) menyatakan perbuatan melawan hukum materiil tetap perlu dan diterapkan pada praktik peradilan tindak pidana korupsi di Indonesia.

23

Data pengetahuan responden menunjukan 83% responden menyatakan tentang masih pentingnya eksistensi perbuatan melawan hukum materiil tetap diterapkan pada praktik peradilan tindak pidana korupsi. Menurut penulis, perbuatan melawan hukum materiil tetap diterapkan pada praktik peradilan tindak pidana korupsi tersebut relatif diketahui dan dipahami serta dirasakan penting eksistensinya secara substansial. Tabel 3 berikut mendeskripsikan mayoritas responden tetap menginginkan perlunya pengaturan perbuatan melawan hukum materiil pada kebijakan legislasi Indonesia pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 sebagaimana tabel berikut ini.

Tabel 3. Perlunya pengaturan perbuatan melawan hukum materiil pada kebijakan legislasi Indonesia (n= 30 responden) Pertanyaan A/% Perlu Menurut Sdr/i apakah perlu 25/83 % perbuatan melawan hukum materiil diatur dalam kebijakan legislasi Indonesia khususnya dalam UndangUndang Tindak Pidana Korupsi di Masa Mendatang (ius constituendum)? Sumber: Jawaban Responden Analisis: Mengenai hasil respondent tentang apakah perlu perbuatan melawan hukum materiil diatur dalam kebijakan legislasi Indonesia khususnya dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi di Masa Mendatang (ius

B/% Tidak perlu 5/17%

constituendum) maka dari 30 responden sebanyak 25 orang (83%) mengatakan perlunya perbuatan melawan hukum materiil diatur dalam kebijakan legislasi

24

Indonesia khususnya dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi di Masa Mendatang (ius constituendum) dan sebanyak 5 orang (17%) menjawab tidak perlu perbuatan melawan hukum materiil diatur dalam kebijakan legislasi Indonesia khususnya dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi di Masa Mendatang (ius constituendum). Dari dimensi ini, ternyata keseluruhan responden pada tabel 2 tentang perbuatan melawan hukum materiil tetap diterapkan pada praktik peradilan tindak pidana korupsi identik dengan keseluruhan responden tentang perlunya diatur dalam kebijakan legislasi indonesia khususnya dalam Undang-Undang Tipikor. Ternyata, perilaku responden konsisten antara yang tetap menterapkan perbuatan melawan hukum materiil dalam praktik pradilan dengan pengaturan perbuatan melawan hukum materiil dalam kebijakan legislasi Indonesia khususnya dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi selaku ius constituendum. Hasil penelitian responden terhadap perbuatan melawan hukum materiil dalam tindak pidana korupsi pada dasarnya mengetahui bahwa ada kekosongan norma hukum pada kebijakan legislasi Indonesia terhadap pengaturan perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 yang seluruhnya diketahui oleh para respondent (100%). Akan

tetapi, walaupun para respondent mengetahui adanya kekosongan norma hukum terhadap pengaturan perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) tetapi praktiknya hampir mayoritas respondent (83%) tetap menyatakan bahwa perbuatan melawan hukum materiil diterapkan para praktik peradilan tindak pidana korupsi pada kebijakan aplikasi. Aspek ini relatif significant dibandingkan respondent (17%) yang tidak menerapkan perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid). Dari keseluruhan respondent tersebut mendeskripsikan bahwa pada praktik peradilan hendaknya tetap diterapkan perbuatan melawan hukum materiil. Konsekuensi logis keseluruhan respondent yang diteliti pun menginginkan perlunya pengaturan perbuatan melawan hukum materiil pada kebijakan

25

legislasi Indonesia pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUUIV/2006 tanggal 25 Juli 2006 pada hampir hampir mayoritas respondent (83%).

D. PRAKTIK HUKUM

PERADILAN MATERIIL

TERHADAP

PERBUATAN PIDANA

MELAWAN KORUPSI

DALAM

TINDAK

INDONESIA PADA KEBIJAKAN APLIKASI PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Pada dasarnya, kebijakan aplikasi khususnya Mahkamah Agung Republik Indonesia pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUUIV/2006 Tanggal 25 Juli 2006 tetap mempergunakan perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid). Aspek ini menggariskan bahwa Mahkamah Agung tetap mempertahankan dan menerapkan ajaran perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid), walaupun di sisi lainnya kebijakan legislasi tidak mengaturnya lagi. Putusan Mahkamah Agung khususnya Putusan Mahkamah Agung RI Nomor Nomor 2064 K/Pid/2006 Tanggal 8 Januari 2007 atas nama terdakwa H. Fahrani Suhaimi, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 996 K/Pid/2006 Tanggal 16 Agustus 2006 atas nama Terdakwa Hamdani Amin dan Putusan Mahkamah Agung RI No. 1974K/Pid/2006 Tanggal 13 Oktober 2006 atas nama Terdakwa Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira, SH dimana

Mahkamah Mahkamah Agung RI tetap mempergunakan perbuatan melawan hukum materiil (materiele wederrechtelijkheid) dengan melalui penafsiran hukkum dan beserta argumentasi sebagai berikut: Bahwa dengan dinyatakannya penjelasan Pasal 2 ayat 1 UndangUndang No. 20 Tahun 2001 jo Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 sebagai bertentangan dengan Undang-Undang dasar 19451945 dan telah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan demikian unsur melawan hukum tersebut menjadi tidak jelas rumusannya, oleh karena itu berdasarkan doktrin Sen-Clair atau La

26

doctrine du Sen-Clair hakim harus melakukan penemuan hukum dengan memperhatikan : a) Pasal 28 Pasal 28 ayat (1) UU Nomor 4 tahun 2004 yang menentukan, Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilainilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat, dan juga ketentuan Pasal 16 ayat (1) yang menyatakan bahwa, Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya; b) Hakim dalam mencari makna melawan hukum seharusnya mencari dan menemukan kehendak publik yang bersifat unsur pada saat ketentuan tersebut diberlakukan pada kasus konkrit (Bandingkan M.Yahya Harahap, SH., Pembahasan Permasalahan dan penerapan KUHAP, Edisi Kedua, halaman 120); c) Bahwa Hamaker dalam karangannya Het recht en de antara lain

maatschappij dan juga Recht, Wet en Recht berpendapat bahwa

hakim seyogianya mendasarkan putusan

sesuai kesadaran hukum dan penerapan hukum yang sedang hidup dalam masyarakat ketika putusan itu dijatuhkan. Dan bagi I.H. Hymans (dalam karangan: Het recht der werkelijkdend), hanya putusan hakim yang sesuai dengan kesadaran hukum dan kebutuhan hukum warga masyarakatnya yang merupakan hukum dalam makna yang sebenarnya (het recht der werkelijkheid)(lihat Prof.Dr. Achmad Ali, SH,MH. Menguak tabir Hukum Suatu Kajian Filosofis dan sosiologis ). Cetakan ke II (kedua), 2002, hal. 140). d) Bahwa apabila kita memperhatikan Undang-Undang , ternyata bagi kita bahwa Undang-Undang tidak saja menunjukkan banyak

kekurangannya dan bahkan seringkali tidak jelas. walaupun demikian Hakim harus melakukan peradilan. Teranglah , bahwa dalam hal sedemikian Undang-Undang memberi kuasa kepada hakim untuk menetapkan sendiri ketentuan maknanya suatu

27

ketentuan Undang-Undang. Dan Hakim boleh menafsirsuatu ketentuan Undang-Undang secara gramatikal atau historis baik recht maupun wethistoris (Lie Oen Hock, Jurisprudensi sebagai Sumber Hukum, Pidato diucapkan pada waktu Pengresmian Pemangkuan Djabatan Guru Besar Luar Biasa dalam Ilmu Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia pada fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat dari Universitas Indonesia di Djakarta, pada tanggal 19 September 1959, hlm.11). Bahwa memperhatikan butir 1 tersebut, maka Mahkamah Agung

dalam memberi makna unsur melawan hukum dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 akan memperhatikan doktrin dan Yurisprudensi MARI yang berpendapat bahwa unsur melawan hukum dalam tindak pidana korupsi adalah mencakup perbuatan melawan hukum dalam arti formil maupun materiil dan mengenai perbuatan melawan hukum dalam arti materiil dan mengenal perbuatan melawan hukum yang meliputi fungsi positif dan negatif , yang pengertiannya Mahkamah Agung berpedoman pada : a) bahwa tujuan diperluas unsur perbuatan melawan hukum

adalah untuk mempermudah pembuktian di persidangan sehingga suatu perbuatan yang dipandang oleh masyarakat sebagai melawan hukum secara materiil atau tercela perbuatannya, dapatlah dihukum pelakunya melakukan tindak pidana korupsi, meskipun perbuatannya itu tidak melakukan perbuatan melawan hukum secara formal.(Dr. Indriyanto Seno Adji, SH, MH, Korupsi dan Hukum Pidana, Edisi Pertama, hlm 14); b) bahwa pengertian melawan hukum menurut penjelasan Pasal 1 ayat (1) sub a Undang-Undang Nomor 3 tahun 1971, tidak hanya melanggar peraturan yang ada sanksinya melainkan mencakup pula perbuatan yang bertentangan dengan keharusan atau

28

kepatutan dalam pergaulan masyarakat atau dipandang tercela oleh masyarakat. c) Bahwa dari butir 2 Surat Menteri Kehakiman RI tanggal 11 Juli 1970 sebagai pengantar diajukannya RUU Nomor 3 Tahun 1971 dapat disimpulkan pengertian perbuatan melawan hukum secara materiil adalah dititikberatkan pada pengertian yang diperoleh dari hukum tidak tertulis, hal ini tersirat dari surat tersebut yang pada pokoknya berbunyi, maka untuk mencakup perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya bersifat koruptif akan tetapi sukar dipidana, karena tidak didahukui suatu kejahatan atau pelanggaranpelanggaran dalam RUU ini dikemukakan sarana, melawan hukum dalam rumusan tindak pidana korupsi, yang pengertiannya juga meliputi perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma yang lazim atau bertentangan dengan keharusan dalam pergaulan hidup untuk bertindak cermat terhadap orang lain, barang maupun haknya ; d) Bahwa sejalan dengan politik hukum untuk memberantas korupsi dalam Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 275 K/Pid/1983 tanggal 28 Desember 1983, untuk pertama kalinya dinyatakan secara tegas bahwa korupsi secara materiil melawan hukum, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan yang tidak patut, tercela dan menusuk perasaan hati masyarakat banyak, dengan memakai tolok ukur asas-asas hukum yang bersifat umum dan menurut kepatutan dalam masyarakat. bahwa Yurisprudesi dan doktrin merupakan Sumber Hukum Formil selain Undang-Undang dan kebiasaan serta Traktat yang dapat digunakan oleh mahkamah Agung dalam kasus konkrit yang dihadapinya. Yurisprudensi tentang makna perbuatan elawan hukum dalam arti formil dan dalam arti materiil harus tetap dijadikan pedoman untuk terbinanya konsistensi penerapannya dalam perkaraperkara tindak pidana korupsi, karena sudah sesuai dengan kesadaran

29

hukum dan perasaan hukum yang sedang hidup dalam masyarakat , kebutuhan hukum warga masyarakat, nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat ; Kemudian pada tingkat yudex facti di tingkat Pengadilan Negeri ternyata Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kepanjen dalam Nomor 91/Pid.B/2008/PN. Kpj. Tanggal 29 April 2008 dan Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 1079/Pid.B/2007/PN.Kpj. Tanggal 23 April 2008 tetap mempergunakan perbuatan melawan hukum materiil dengan dasar pertimbangan sebagai berikut: Bahwa pengertian MELAWAN HUKUM adalah dalam

pengertian formil maupun materiil dimana ajaran sifat melawan hukum yang formal mengatakan bahwa apabila suatu perbuatan telah mencocoki semua unsur yang termuat dalam rumusan tindak pidana, perbuatan tersebut adalah tindak pidana dan ajaran yang materiil mengatakan bahwa di samping memenuhi syarat-syarat formal, yaitu mencocoki semua unsur yang tercantum dalam rumusan delik, perbuatan itu harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak patut atau tercela (Vide: Ny. Komariah Emong Sapardjaja, Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiel Dalam Hukum Pidana Indonesia (Studi Kasus Tentang Penerapan Dan Perkembangannya Dalam Yurisprudensi), Penerbit PT. Alumni, Bandung, 2001, hlm. 25.); Bahwa sifat melawan hukum formal berarti semua bagian (tertulis dalam undang-undang) dari rumusan delik telah terpenuhi dan sifat melawan hukum materiel berarti bahwa karena perbuatan itu, kepentingan hukum yang dilindungi oleh rumusan delik tertentu telah dilanggar (Vide: D. Schaffmeister, N. Keijzer, E. PH. Sitorus, Hukum Pidana, Editor Penerjemahan J.E. Sahetapy, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 2003, hlm. 50); Bahwa Profesor Van Hattum mengatakan bahwa : menurut ajaran wederrechtelijkheid dalam arti formal suatu perbuatan hanya dapat 30

dipandang sebagai

bersifat wederrechtelijk apabila perbuatan

tersebut memenuhi semua unsur yang terdapat di dalam rumusan suatu delik menurut undang-undang dan menurut ajaran

wederrechtelijkheid dalam arti material, apakah suatu perbuatan itu dapat dipandang sebagai bersifat wederrechtelijk atau tidak, masalahnya bukan saja harus ditinjau sesuai dengan ketentuanketentuan hukum yang tertulis, melainkan juga harus ditinjau menurut asas-asas hukum umum dari hukum yang tidak tertulis (Vide: P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia,

Penerbit PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, hlm. 351) ; Menimbang, bahwa dalam praktik peradilan khususnya melalui perkembangan yurisprudensi pengertian melawan hukum terjadi pergeseran dari perbuatan melawan hukum materiil dengan fungsi positif dan negatif dimana fungsi negatif sebagai alasan peniadaan pidana guna menghindari pelanggaran asas legalitas maupun penggunaan analogi yang dilarang oleh hukum pidana sedangkan pergeseran perbuatan melawan hukum materiil ke arah fungsi positif melalui kretaria limitatif dan kasuistik berupa perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik dipandang dari segi kepentingan hukum yang lebih tinggi ternyata menimbulkan kerugian yang jauh tidak seimbang bagi masyarakat/negara dibandingkan dengan keuntungan dari perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik tersebut ; Bahwa dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 003/PUUIV/2006 tanggal 25 Juli 2006 menyatakan penjelasan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 yang mengatur perbuatan melawan hukum materiil

bertentangan dengan UUD 1945 dan telah pula dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; Bahwa pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 003/PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 Mahkamah Agung dalam beberapa putusannya (Putusan

31

Mahkamah Agung Nomor 996 K/Pid/2006 tanggal 16 Agustus 2006 atas nama terdakwa Hamdani Amin dan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1974 K/Pid/2006 tanggal 13 Oktober 2006 atas nama terdakwa Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira SH.) tetap menerapkan ajaran perbuatan melawan hukum materiil sebagaimana ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001

E. PENUTUP Adanya kekosongan norma hukum terhadap pengaturan perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) dalam Tindak Pidana Korupsi pada kebijakan legislasi Indonesia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi. Oleh karena itu Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUU-IV/2006 tanggal 25 Juli 2006 tidak diatur lagi tentang perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) dalam Tindak Pidana Korupsi. Kemudian praktik peradilan terhadap perbuatan melawan hukum materiil dalam Tindak Pidana Korupsi Indonesia pada kebijakan aplikasi Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUU-IV/2006 Tanggal 25 Juli 2006 maka hakim melalui penafsiran hukum tetap mempergunakan dan menerapkan perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) dalam Tindak Pidana Korupsi sebagaimana terdapat pada Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2064 K/Pid/2006 tanggal 8 Januari 2007 atas nama Terdakwa H. Fahrani Suhaimi, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 996 K/Pid/2006 Tanggal 16 Agustus 2006 atas nama Terdakwa Hamdani Amin, Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 1974K/Pid/2006 Tanggal 13 Oktober 2006 atas nama Terdakwa Prof. Dr. Rusadi Kantaprawira, S.H.,

kemudian Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 91/Pid.B/2008/PN. Kpj. Tanggal 29 April 2008 atas nama terdakwa Abdul Mukti dan Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 1079/Pid.B/2007/PN.Kpj. Tanggal 23 April 2008 atas nama terdakwa Prayitno. Oleh karena itu, hendaknya kebijakan legislasi dalam pembentukan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi masa mendatang (ius constituendum) merumuskan kembali tentang

32

formulasi pasal yang mengatur perbuatan melawan hukum materiil (materiel wederrechtelijkeheid) dalam Tindak Pidana Korupsi sehingga dapat menjamin adanya kepastian hukum (recht-zekerheids) pada kasus tindak pidana korupsi in-concreto, serta pembentuk Undang-Undang melakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi sehingga Undang-Undang tersebut relatif dapat mengikuti perkembangan zaman Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003 /PUU-IV/2006 Tanggal 25 Juli 2006. *****

33