Anda di halaman 1dari 1348

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.

com/

Oleh : Wang Yu

Jilid 01

-- 1 --

Itulah malam menyeramkan.........


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Awan gelap menutupi bulan sisir. Kilat berkeredepan, diselingi


oleh bunyinya guntur seolah-olah malam itu bakal turun hujan
besar.

Dalam suasana yang seram itu, ada terdengar percakapan ini :

"In-ji, malam ini cuaca jelek. Kita tak usah latihan ilmu silat."

"Terserah pada Liok Sinshe. Juga bukankah sinshe lagi sakit


?"

"Sungguh terang otakmu, In-ji. Kau bakat menjadi seorang


pandai yang selain mengerti ilmu surat juga silat sekaligus !
Ha ha ha......."

"Terima kasih. Semua ini atas didikan Liok sinshe."

Percakapan ini keluar dari sebuah rumah tua yang mencil


sendirian di atas jurang Tong-hong gay, sebelah barat gunung
Hengsan di propinsi Ouwlam.

Dalam rumah itu yang diterangi dengan dua batang lilin, cukup
terang, tampak duduk menghadapi meja seorang anak kira-
kira umur 12 tahun tengah menulis. Tidak jauh dari padanya,
diatas sebuah kursi malas, ada rebah seorang laki-laki dari
usia pertengahan. Kepalanya diikat setangan dan pada kedua
belah pilingannya ada ditempel koyo.

Orang sakit itu yang dipanggil Liok Sinshe, tabib Liok, tiba-tiba
bangun dari rebahannya, jalan menghampiri si anak kecil,
duduk di bangku di depannya.

Anak kecil itu hentikan tulisannya, bangkit dari duduknya,


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mendekati Liok sinshe.

"Sinshe lagi sakit, sebaiknya Sinshe rebahan saja." kata si


anak dengan roman aleman.

Liok Sinshe ketawa. Ia pegang kedua tangan si bocah, lalu


ditarik dan dipeluk dengan rupa yang sangat menyayang.

"In-ji..." bisiknya di telinga si anak.

"Ya, Sinshe," jawabnya pelan.

Hening sejenak........

Lama ditunggu, belum juga Liok Sinshe menyambung kata-


katanya. Lo In, si anak kecil menjadi heran. Lebih terperanjat
pula di kala ia merasakan pipinya hangat. Itulah air, ketika ia
meraba pipinya.

Dengan pelan ia melepaskan diri dari peluknya Liok sinshe.


Hatinya dirasakan mencelos ketika ia mengawasi Liok Sinshe
bercucuran air mata. Tapi air mukanya tetap bersenyum halus.
Senyuman penuh kesayangan, yang biasa Lo In hadapi
sehari-hari selama ia berkumpul denganLiok Sinshe.

"Liok Sinshe, kau kenapa ?" tanyanya cepat.

"Anak In (In-ji)...." kaat Liok sinshe, tidak lampias suaranya,


"Sebenarnya, malam ini ingin aku menuturkan suatu
kisah......."

Baru sampai di perkataan 'kisah', tiba-tiba saja Liok Sinshe


meniup padam api lilin hingga dalam ruangan itu menjadi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

gelap gulita.

Segera terdengar menyambarnya beberapa senjata rahasia,


disusul oleh suara ketawa : "Ha ha ha, Liok sinshe mau
menutur kisah si bangsat Kwee Cu Gie ! Keluar ! Mari keluar
Liok sinshe, kita bikin perhitungan hutang jiwa dua belas tahun
yang lampau. Ha ha ha, Kwee Cu Gie...... !"

Liok Sinshe dan Lo In saat itu sembunyi di bawah meja hingga


terhindar dari serentetan serangan senjata rahasia musuh
yang dilepas dari jendela. Dalam keadaan biasa, musuh tidak
mudah menyatroni rumahnya, membokong dengan senjata
rahasia. Malam itu rupanya Liok sinshe dipengaruhi oleh
cuaca buruk, membikin kupingnya yang biasanya tajam
menjadi puntul.

"In-ji," bisik Liok sinshe, "Yang datang itu Siauwsan Ngo-ok.


Mereka punya piauw yang direndam racun yang dinamai 'Ngo-
tok piauw', sangat berbahaya. Juga mereka sangat kejam dan
telengas, maka itu, kalau sebentar aku keluar, harap kau lari
selamatkan diri !"

Si bocah tidak menjawab. Hanya ia pegangi kencang


lengannya Liok sinshe seperti juga ia tidak ijinkan sinshe itu
keluar.

"Liok sinshe, lekas keluar. Apa kau takut ? Hmmm... malam ini
kau harus bayar jiwanya Ngo-te. Kau sembunyi........"

Tiba-tiba dari dalam rumah melesat satu tubuh keluar. Dalam


sekejapan sudah berdiri berhadapan dengan si penantang
yang tidak melanjutkan kata-katanya sampai di perkataan
"sembunyikan......", saking kaget nampak kegesitannya orang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

itu.

"Aku sudah ada disini, buat apa kau begini bawel ?" kata Liok
sinshe jenaka.

"Bagus, kau harus bayar jiwanya Ngo-te kami !" kata si


penantang.

"Kau ini aneh," sahut Liok sinshe. "Memangnya kau sudah


linglung ?"

Orang itu melengak dikatakan linglung.

Liok Sinshe ketawa geli dalam hatinya, nampak orang itu


melengak heran.

"Sam-ok Cui Seng," menyambung Liok Sinshe, "aku hanya


hutang satu jiwa. Kau masih ngerembengi minta ganti. Sedang
kalian huta pada mereka yang anggauta keluarganya dibunuh,
entah berapa puluh, tidak mau ambil pusing. Apa ini bukannya
linglung perhitunganmu ? Ha ha ha........"

Si Jahat ketiga, Cui Seng mendelu hatinya mendengar kata-


kata Liok Sinshe, tajam menyindir atas kelakuan mereka yang
jahat.

"Sam-to, kekas beresi saja !" teriak Toa-ok Cui Peng (si Jahat
no. 1).

"Jangan kasih calon bangkai itu banyak omong !" sambung Ji-
ok Cui Kin (si jahat ke-2).

Liok Sinshe awas matanya, ia perhatikan sekitarnya. Nyata


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

selain empat musuhnya yang sudah mengurung, ia dapat lihat


masih ada beberapa orang lagi yang berdiri sedikit jauh dari
mereka.

Kalau tadi ia bersenyum-senyum saja menghadapi empat


lawannya, kini setelah dapat tahu musuhnya ada bawa bala
bantuan, tampak ia kerutkan keningnya.

"Pantas kalian berani datang, kalau kalian bawa bala bantuan"


kata Liok Sinshe jenaka.

Ia sama sekali tidak gentar kelihatannya.

"Hm !" Toa-ok Cui Peng mendengus. "Kau takut ? Aku bisa
kasih kelonggaran padamu. Nah, kau berlutut sekarang,
mengangguk sepuluh kali dihadapan kami kemudian
membunuh diri sendiri. Dengan demikian, kau dapat
selamatkan kematianmu dengan tubuh utuh.........:

"Kentut busuk !" memotong Liok Sinshe. "Dengan turutnya dua


ekor imam busuk dan sebuah kepala gundul bau dalam
keramaian malam ini, apa kalian kira aku tinggal lari ? Kalian
salah hitung, Siauwsan Ngo-ok !"

Suaranya Liok Sinshe dibikin nyaring ketika menyebutkan 'dua


ekor imam busuk' dan 'sebuah kepala gundul', hingga orang-
orang yang bersangkutan mendelik matanya saking menahan
amarahnya.

Memang, malam itu kedatangan Siauwsan Ngo-ok (Lima


orang jahat dari gunung Siauw san) dikawal oleh Tiat Cie
Hweshio Hong Hui (si Hweshio Jari besi) dan Tui-Beng Kiam
Siong Leng Tojin (si pedang Pengejar Jiwa) bersama adik
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seperguruannya, Jin Leng Tojin yang bergelar Pek-houw-kiam


atau si Pedang Macan Putih.

Ketiga orang suci ini, ada jago-jago kelas satu dalam rimba
persilatan. Cuma sayang sekali, mereka melakukan
perbuatan-perbuatan yang nyeleweng dari tujuan agama
hingga menimbulkan kemarahan diantara jago-jago pembela
keadilan. Diantaranya mereka bentrok dengan Liok Sinshe
dimana telah terjadi pertarungan hebat. Kesudahannya
mereka dapat dipecundangai. Sejak mana mereka menaruh
dendaman hati, mereka meningkatkan kepandaiannya untuk
mencari balas pada lawannya.

Kawanan orang-orang jahat dari Siauwsan habis sabar


mendengar kata-katanya Liok Sinshe. Mereka anggap orang
terlalu menganggap enteng.

Lekas juga Toa-ok Cui Peng hunus goloknya dan mulai buka
penyerangan.

Tadinya Liok Sinshe hendak melayani si Empat Jahat dengan


tangan kosong, tapi melihat ada backingnya, tiga jago kelas
berat, maka ia rubah niatnya semula.

Maka begitu Toa-ok membabat goloknya mengarah leher, ia


mendak berkelit. Ia tidak balas menyerang, sebaliknya ia
lompat menerjang pada Su-ok (si Jahat ke-4) yang baru saja
akan menghunus pedangnya.

Gerakan Liok Sinshe gagal untuk merampas pedang Su-ok


Cui Tie.

Sebab barusan saja ulur tangannya, tiba-tiba goloknya Cui


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Seng menyelak, membacok untuk tolong saudaranya.

Su-ok Cui Tie yang mencekal pedang dengan tangan kiri


karena lengan kanannya kutung tempo hari ditabas
pedangnya Liok Sinshe menjadi sangat gusar. Musuhnya mau
merampas senjatanya.

Sambil putar pedang, ia menyerang hebat membantu saudara-


saudaranya yang mengepung Liok Sinshe. Ia sangat gemas
pada musuhnya yang sudah membuat dirinya cacad. Nekad ia
untuk menuntut balas.

Dengan jurusnya 'Tong-cu-ci-louw' -- 'Bocah menunjukkan


jalan', pedangnya menyambar ke arah tenggorokan orang.
Hebat serangan ini karena dilakukan dengan cepat. Tapi Liok
Sinshe ada lebih cepat pula, ia berkelit sambil memutar tubuh
untuk terus lompat tinggi menghindarkan serangan Toa-ok Cui
Peng yang menggunakan tipu 'Hui-hong-sauw-yap'--'Angin
puyuh menyapu dedaunan'. Goloknya yang tajam dua muka,
membabat kaki Liok Sinshe dari kiri ke kanan.

Sungguh mengerikan. Kalau saja Liok Sinshe tidak sangat


gesit, kakinya akan tertabas kuntung tanpa ampun lagi.

Belum kakinya Liok Sinshe menginjak tanah, sudah datang


serangan golok Sam-ok Cui Seng yang mengarah kaki lagi. Si
jahat ketiga itu pikir kali ini ia tidak bakal luput goloknya
membacok kai musuh sebab Liok Sinshe masih belum
menginjakkan kakinya ditanah. Cara bagaimana ia dapat
berkelit ?

Tapi perhitungan Cui Seng meleset. Tampak tubuhnya Liok


Sinshe berputar, berkelit tanpa menginjak tanah hingga ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lolos dari bahaya.

Suatu gerakan yang indah sekali yang dinamani 'Yan-cu-teng-


kong' atau 'Burung walet mumbul di udara' yang membuat
empat lawannya menjadi melongo saking heran. Pikirnya,
musuh begini liehai, apa mereka nanti berhasil menuntut balas
untuk menuntut kematian saudaranya yang kelima ? Hanya
sejenak mereka bersangsi, sebab mereka segera mengurung
lagi.

Liok Sinshe yang perhatikan gerak gerik orang, dapat tahu


lawan-lawannya agak jeri untuk melangsungkan pertandingan.
Inilah suatu keuntungan bagi lawan yang sudah unggul. Ia
tertawa gelak-gelak, lalu berkata : "Kalian percuma
mengepung aku. Hayo undang itu si kepala gundul bau dan
dua imam busuk, bantu kalian mengerubuti aku !"

"Sungguh temberang !" terdengar suaranya Tui-beng-kiam


Siong Leng Tojin. "Undangan sudah datang, tidak baik kalau
ditempuh. Mari, mari kita maju !"

Ajakan itu disusul dengan majunya ia dalam kalangan


pertempuran, diikuti oleh Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin.

"Ha ha ha ! Kwee Cu Gie, saat mampusmu sudah diambang


pintu. Masih bersikap jumawa ? Ha ha ha h...!" teriak si
Hweshio (pendeta) Jari Besi Hong Hui sambil jalan mengikuti
di belakang dua imam kawannya.

Di lain saat, tampak Liok Sinshe sudah dikepung oleh tujuh


musuhnya.

"Liok Sinshe," kata Siong Leng Tojin, suaranya mengejeki,


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau mau tinggalkan pesan apa, sebelum berangkat mati ?"

Liok Sinshe tidak menjawab, ia hanya kerutkan keningnya.

Otaknya bekerja, pikirnya, menghadapi Siauw San Ngo-ok,


meskipun dengan tangan kosong tidak menjadi soal baginya.
Tapi sekarang ia harus menggempur tujuh musuh, tiga
diantaranya ada jago-jago keals berat. Tanpa senjata
bagaimana ia dapat melayani mereka ?

Diantara empat pengepungnya tadi, Ji-ok Cui Kin kelihatan


agak jeri terhadapnya. Sedang senjata pedangnya itulah yang
paling tajam diantara senjata-senjata saudaranya. Mungkinkah
karena kakinya tinggal sebelah, sebab dahulu dikutungi
olehnya hingga ia tidak dapat leluasa bergerak ?

Bagaimanapun, pikir Liok Sinshe, ia harus waspada terhadap


Ji-ok yang cara melepas piauw beracunnya paling pandai
diantara saudara-saudaranya yang lain. Matanya melirik pada
Ji-ok yang berdiri di samping kirinya Toa-ok.

"Bagaimana ?" tegur Siong Leng Tojin, sikapnya jumawa.

"Memang aku mau tinggalkan pesanan," sahut Liok Sinshe.

"Nah, lekas bicara !" girang Siong Leng Tojin.

"Sebentar, kalau tanganmu putus, harap kau jadi orang baik


selanjutnya......" Liok Sinshe berkata seraya tersenyum.

"Sret !" tiba-tiba Siong Leng Tojin menghunus pedangnya.

"Kurang ajar, kau berani main gila ? Rasakan pedangku ini ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

teriak Siong Leng Tojin, hatinya panas. Ingin sekali ia tabas


tubuhnya Liok Sinshe kutung dua.

"Eh, nanti dahulu !" kata Liok Sinshe, sambil berkelit dari
tikaman pedang Siong Leng Tojin, "Aku masih belum bicara
habis."

"Manusia hina, tak usah kau banyak pernik !" teriak Siong
Leng Tojin penuh kemurkaan. Serangannya pun dilakukan
saling susul tidak memberikan ketika kepada lawannya yang
melayani ia dengan tangan kosong.

Liok Sinshe berlaku tenang, meskipun kelihatannya ia repot


menghindari serangan lawan yang bertubi-tubi.

Dengan mengandalkan kegesitannya, Liok Sinshe melayani


Siong Leng Tojin.

Dalam tempo singkat saja, pertempuran sudah berjalan tiga


puluh jurus tetapi Siong Leng Tojin masih belum bisa berbuat
apa-apa atas lawannya yang bertangan kosong. Diam-diam ia
kagumi ilmu entengi tubuh musuh yang sampai sebegitu jauh
ia belum dapat menyentuh walaupun hanya bajunya saja.

Kenapa yang lain-lain berdiri diam saja, tidak datang


mengeroyok ?

Itu ada sebabnya. Siong Leng Tojin orangnya sangat


temberang, memandang rendah siapa juga. Ia anggap dirinya
adalah jago pedang nomor wahid di dunia.

Apalagi sekrang ilmu pedangnya sudah meningkat, sejak pada


dua belas tahun yang lalu dipecundangi Liok Sinshe. Ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

anggap sekarang Liok Sinshe sudah bukan tandingannya lagi.


Maka ketika Siauw-san Ngo-ok minta bantuannya, ia majukan
satu syarat ialah kalau ia bertempur dengan Liok Sinshe, yang
lainnya berdiri menonton saja dahulu sampai ia kasih kode
"turun tangan", barulah dilakukan pengeroyokan.

Imam sombong ini ingin menjatuhkan Liok Sinshe dengan


kepandaiannya sendiri.

Kalau tadi ia mendesak lawannya, selewatnya tiga puluh jurus,


pelan-pelan ia berbalik kedesak hingga si Pedang Pengejar
Jiwa jadi kelabakan.

Melihat si iman sudah kedesak, kawan-kawannya ingin lantas


turun tangan. Tapi masih juga belum dapat tanda dari Siong
Leng Tojin. Sampai kemudian terdengar suara 'prang !',
pedangnya si imam jatuh ke tanah, sedang Liok Sinshe lompat
mundur jumpalitan dengan gerakan 'Kera tua jatuh dari pohon'.

"Maaf Tui-beng-kiam !" kata Liok Sinshe seraya kedua


tangannya diangkat menyoja kepada Siong Leng Tojin yang
saat itu berdiri bagaikan patung. Tak dapat ia berkata-kata,
hanya matanya saja melotot mengawasi musuhnya.

Semua orang tercengang dengan kesudahan pertempuran itu.

Meskipun sudah terdesak, tidak semudah itu Siong Leng Tojin


dijatuhkan lawannya. Ini karena salahnya sendiri. Adatnya
yang berangasan tak dapat mengendalikan kemarahannya,
ingin cepat-cepat ia menjatuhkan lawannya.

Ia menggunakan jurusnya yang paling baharu, 'Ouw in hoan


hui' --'Awan hitam bergulung-gulung', pedangnya dibulang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

baling cepat ke arah muka lawan untuk membuat mata orang


kabur penglihatannya, kemudian menusuk laksana kilat ke
arah tenggorokan.

Sudah berapa banyak ia bikin terjungkal lawannya dengan


ilmu pedangnya ini. Tapi menghadapi Liok Sinshe ia mesti
bayar mahal. Liok Sinshe ada terlalu gesit, hebat ilmu entengi
tubuhnya, penglihatannya tidak jadi kabur oleh bulang baling
pedangnya. Maka ketika pedang menikam ke arah
tenggorokannya, dengan sebat Liok Sinshe berkelit sambil
lompat nyamping ke kiri, akan dari mana sebelum Tui-beng-
kiam sempat menarik pulang pedangnya yang mendapat
sasaran kosong, dua jari tangan kiri Liok Sinshe dengan
totokan 'hong-bun-hiat', menotok jalan darah di bagian pundak
lawan hingga si imam gemetaran tangannya dan dengan
sendirinya, pedangnya juga jatuh ke tanah.

Dengan angkat kedua tangan, Liok Sinshe bersoja pada Siong


Leng Tojin, sebenarnya Liok Sinshe ingin mengadakan
perdamaian, pemusuhan sebaiknya disudahi saja, jangan
ditarik panjang berlarut-larut tidak habisnya. Pikirnya, jagonya
yang paling lihay sudah ia jatuhkan yang lainnya pasti akan
menurut dan hentikan nafsunya untuk menuntut balas.

Tapi sebelum ia membuka suara lebih jauh, tiba-tiba ia


rasakan ada angin menyambar dari belakang. Cepat ia buang
diri ke kanan, sambil bergulingan ia menyelamatkan diri dari
serangan piauw beracun Ji-ok Cui Kin yang datang saling
susul, dibarengi oleh teriakan Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin,
"Turun tangan ! Semua maju, habiskan jiwa keparat itu !"

Mereka ramai-ramai memburu Liok Sinshe yang bergulingan.


Dengan beberapa lompatan enteng, mereka sudah datang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dekat dan hujani tubuh lawan alot itu dengan bacokan,


tusukan dan kemplangan.

Sementara itu........

Awan gelap dari setadian, kini semakin gelap dan..... turunlah


hujan besar.

Orang-orang jahat itu tidak hiraukan lebatnya turun hujan,


mereka bernapsu besar untuk menghabiskan jiwa musuhnya.
Apalagi, musuhnya itu kini sudah mandi darah, lengan kirinya
sudah kena kebacok, mereka jadi beringas !

Ia kumpul tenaganya, kemudian melejit bangun. Dengan


gerakan 'Elang lapar menyambar kelinci', ia menerjang pada
Ji-ok Cui Kin yang berada paling dekat padanya. Cepat Ji-ok
Cui Kin menyambut dengan pedangnya. Tapi ia kalah cepat
sebab Liok Sinshe punya dua jari dari tangan tangan kiri sudah
menotok dengan totokan 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga
kanannya, sedang pedangnya pun lantas pindah tangan Liok
Sinshe.

Bagaikan harimau tumbuh sayap, Liok Sinshe sudah


menyerang musuh-musuhnya tanpa ampun lagi. Ia naik pitam
melihat kekejaman dan ketelengasan kawanan jahat itu ketika
menghujani ia dengan berbagai senjata.

Pedangnya berkelebatan di antara sinar kilat dan lebatnya


hujan.

Segera juga terdengar jeritan saling susul, Ji-ok Cui Kin


lehernya kesabat pedang, hampir putus, Sam-ok Cui Seng
rebah dengan kaki kanannya kutung, Pek-houw-kiam Jin Leng
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tojin terkulai, mendeprok di tanah, pundak kanannya


berlumuran darah.

Hanya ketinggalan tiga musuhnya, Tiat Cie Hweshio, Toa-ok


Cui Peng dan Su-ok Cui Tie. Mereka ciut nyalinya, nampak
kawan-kawannya rubuh saling susul sedang Tui-beng-kiam
Siong Leng Tojin masih dalam keadaan tertotok, tak bisa
diharapkan bantuannya. Hampir berbareng muncul dalam
pikiran mereka, "Lari, paling selamat !"

Demikian, mereka bertempur sambil melihat kesempatan.

Dalam keadaan murka hingga kecerdasannya meningkat, Liok


Sinshe sebenarnya tidak sukar untuk menjatuhkan tiga
musuhnya. Sayang, dari lukanya di lengan kiri, muka dan
punggung banyak mengeluarkan darah membuat ia letih dan
tenaganya menurun banyak, kegesitannya pun dengan
sendirinya agak kurang.

Untung musuh-musuhnya tidak perhatikan itu. Mereka hanya


memikirkan 'jalan lari' saja hingga perlawanan mereka juga
tidak sepenuh tenaga.

Meskipun sudah lelah, Liok Sinshe ingin takluki tiga musuhnya


itu.

Demikian, ketika goloknya Toa-ok Cui Peng membacok, ia


tidak menangkis, hanya elakan pundaknya yang diarah.
Berbareng dengan itu, pedangnya meluncur ke muka lawan
dengan gerakan 'Giok li tek hoa' -- 'Bidadari petik kembang'.
Satu jurus yang lihay sekali sebab sebelum Toa-ok Cui Peng
dapat selamatkan mukanya, hidungnya copot kena disentak
ujung pedang. Ia berkaok-kaok sambil tangan kirinya menekap
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidungnya yang gerumpung lumuran darah.

Si hweshio Jari Besi merasa tidak ungkulan layani musuhnya


yang lihai. Ia coba angkat kaki, tapi ia juga tidak luput dikasih
persen tanda mata, kupingnya yang kiri di papas pedangnya
Lok Sinshe.

Su-ok Cui Tie dari pada ia turut lari, malah jadi lemas kakinya
dan jatuh duduk. Matanya meram, mulutnya kemak-kemik
seperti yang memohon Malaikat Elmaut tidak mencabut
jiwanya.

Sesaat kemudian ia raba lehernya, masih utuh. Ia heran, lalu


membuka matanya. Kiranya Liok Sinshe sudah tidak ada
disitu, ia sedang menguber si Hweshio Jari Besi yang lari ke
tepi jurang.

Tiat Ci Hweshio berlarian di tepi jurang dikejar dari belakang


oleh Liok Sinshe. Keduanya menggunakan lari cepat (enteng
tubuh). Hujan sementara itu masih turun dengan lebatnya.

"Kepala gundul bau, apa kau bisa naik ke la..... Ayo !"

Tiba-tiba saja Liok Sinshe berteriak, tubuhnya menyusul rubuh


dan......... tergelincir masuk ke dalam jurang yang curam.

Tiat Cie Hweshio heran, lalu hentikan larinya, balik


menghampiri tempat dimana Liok Sinshe berteriak dan jatuh
ke dalam jurang. Ia lihat jurang ada demikian dalam, diukur
dari sudut ketika ia dengan kawan-kawannya mendaki Tong-
hong-gay, ia yakin Liok Sinshe pasti menemui ajalnya.

Girang bukan main hatinya si Hweshio Jari Besi.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hahaha !! Hahaha !" ia tertawa gelak-gelak sendirian seperti


orang gila.

"Hai, kepala gundul ! Kau jangan girang dahulu.....!" tiba-tiba


suara orang menyelusup ke dalam kupingnya.

Mungkinkah itu ada setannya Liok Sinshe ? Tiba-tiba


bayangan berkelebat, keluar dari balik pohon.

Tiat Cie Hweshio makin ketakutan, tubuhnya menggigil seperti


yang diserang penyakit malaria.

Hujan mulai berhenti, cuaca agak terang tapi suasana tetap


sunyi menyeramkan dalam daerah pegunungan itu.

Si kepala gundul makin menggigil, kapan pundaknya berasa


ada yang tepuk dari belakang, ketakutannya meningkat dan si
Hweshio Jari Besi bisa jatuh semaput kalau ia tidak
mendengar suara ketawa terkekeh-kekeh, seraya berkata :
"Hweshio pecundang, kau ketakutan ?"

"Ah, Kim Popo, kau bikin aku kaget setengah mati. Hahaha !"
tertawa si kepala gundul sambil putar tubuhnya, menghadapi
orang yang jail tadi.

"Apa kalian lupa dengan pesanku ?" tanya Kim Popo.

Sejenak Tiat-ci Hweshio mengingat-ingat, "Ah, benar-benar


aku harus mati. Aku lupa benar akan pesan Kim Popo",
katanya sambil tepuk-tepuk pahanya.

"Coba kalau kalian tidak mengabaikan pesanku, siang-siang si


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

keparat itu sudah menjadi makanannya kawanan ular dibawah


jurang. Hihihi......." Kim Popo temberang.

Adalah ketika mendamaikan pengeroyokan atas dirinya Liok


Sinshe, Kim Popo diminta bantuannya juga. Ia bersedia
membantu, tapi tidak mau terang-terangan menggempur Liok
Sinshe, hanya dengan cara gelap ia akan menghajar musuh.

Kim Popo memang ada satu nenek jagoan. Selain ilmu


silatnya tinggi, orang takuti senjata rahasia beracunnya yang
dinamai "touw-kut-tok-ciam' atau jarum berbisa menembus
tulang' yang jarang gagal mengambil korban diwaktu ia
menggunakannya. Jarum itu disimpan dalam satu bungbung
mungil, ada alat rahasianya yang membikin jarum melesat.
Keluarnya tidak satu-satu, tapi lima batang sekaligus,
mengarah bagian tubuh si korban, atas, tengah, bawah, kiri
dan kanan, hingga korbannya sukar meloloskan diri.

Asal usulnya Kim Popo tidak seorang yang tahu, sekalipun


siauw San Ngo-ok yang menjadi anak-anak angkatnya.
Tentang cara bagaimana si Lima Jahat bisa jadi anak-anak
angkatnya Kim Popo, akan dituturkan di sebelah belakang
cerita ini.

Kelupaan akan pesan Kim Popo sebenarnya si Hweshio Jari


Besi ngebohong.

Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin, sewaktu mereka mendaki


jurang Tong-hong-gay mengajari kawan-kawannya jangan
meladeni pesan Kim Popo memancing Liok Sinshe ke tempat
sembunyinya si nenek yang hendak membokong.

Katanya itu tidak perlu, malah akan merendahkan derajat


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka yang sudah ada nama dalam kalangan kang-ouw.


Dengan mereka bertujuh, sudah cukup untuk membinasakan
Liok SInshe, malah dianggap kelebihan oleh imam itu, kapan
ia ingat dirinya sendiri punya kepandaian sudah meningkat
banyak. Tidak tahunya mereka dibikin kucar kacir dan Liok
Sinshe binasa ditangannya si nenek tua yang membokong
dengan jarum jahatnya.

Liok Sinshe lihai, tidak mudah ia kena dibokong orang. Kalau


saja saat itu turunnya hujan tidak mengganggu
pendengarannya yang tajam.

Tiat Ci Hweshio ajak Kim Popo untuk melihat kawan-


kawannya. Sesampainya di tempat pertempuran tadi, tampak
Siong Leng Tojin dan Su-ok Cui Tie tengah repot menolongi
kawan-kawannya yang luka. Si imam mukanya merah, bahkan
malu ketika menyambut kedatangannya Kim Popo.

"Maafkan, aku sudah berlaku ceroboh, melupakan pesan


Popo." Siong Leng Tojin sembari angkat tangannya memberi
hormat.

"Kalau tidak, tidak sampai kejadian begini," ia menyambung,


matanya mengawasi kepada korban-korban yang pada rebah
sambil keluarkan rintihannya, menahan rasa sakit.

Tui-beng-kiam Siong Leng Tojin belum lama ia dapat


membebaskan dirinya dari totokan Liok Sinshe, setelah
berkali-kali ia memeras tenaga dalamnya.

"Tidak apa, ini barangkali sudah takdir." sahut Kim Popo acuh
tak acuh.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tui-beng-kiam dalam hatinya mendongkol melihat sikap


sombong si nenek tua.

Tiba-tiba Su-ok Cui Tie menghampiri Kim Popo, di depan


siapa ia tekuk lututnya berkata :

"Popo, sakit hati ini laksana dalamnya lautan, kalau Popo tidak
tolong balaskan, bagaimana kami......."

"Anak tolol !" potong Kim Popo. "Apa yang dibalas ? Musuhmu
sudah mampus masuk ke jurang, sekarang barangkali
tubuhnya tengah dikerubuti oleh ular-ular penghuni disitu.
Hihihi !"

Kaget Su-ok Cui Tie mendengar kabar itu sampai ia lompat


bangun dari berlututnya.

"Apa ini benar ?" ia cepat menanya.

Siong Leng Tojin pun turut kaget, tidak terkecuali Toa-ok Cui
Peng dan Jin Leng Tojin yang sedang merintih-rintih.

"Kalau tidak percaya, kau tanya saja si kepala gundul !" jawab
Kim Popo, sikapnya bangga sambil menunjuk kepada si
Hweshio Jari Besi.

Mereka lalu minta keterangan kepada si Hweshio, lalu ia


menuturkan ketika ia diuber-uber Liok Sinshe hampir
kecandak, tiba-tiba ia dengar musuh berteriak dan tubuhnya
roboh tergelincir ke jurang, akibat bokongan Kim Popo dengan
senjata rahasianya yang lihai.

Semua jadi kegirangan, Siong Leng Tojin sambil bersenyum


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkata, "Dengan mampusnya si keparat itu, kerugian kita


sekarang ini sudah dibayar lunas. Hahaha !"

Disamping kegirangan dan rasa puas dari kawanan penjahat


itu, ada yang menceles hatinya dan mengucurkan air mata
mendengar berita kematiannya Liok Sinshe. Siapa gerangan
orang itu ?

Itulah si bocah Lo In yang saat itu mencuri dengar dibelakang


sebuah batu besar, dimana ia mengumpat, menonton
pertandingan yang menegangkan hatinya, Liok Sinshe
dikeroyok orang banyak.

Menggunakan kesempatan orang tidak memperhatikan


dirinya, karena perhatian kawanan penjahat itu tengah
dipusatkan pada Liok Sinshe, diam-diam Lo In sudah
menyelinap di balik batu besar dimana dengan aman ia
sembunyi.

Dengan begitu, Lo In sudah tidak menurut nasehatnya Liok


Sinshe supaya ia lari untuk menyelamatkan dirinya.

Anak ini besar nyalinya. Ia sebenarnya ingin membantu Liok


Sinshe, melihat orang dikeroyok. Tapi mengingat
kepandaiannya masih rendah, terpaksa ia harus menahan
napsu amarahnya.

Lo In sudah kegirangan melihat Liok Sinshe menjatuhkan


musuh-musuhnya satu per satu. Hampir ia melompat keluar
dari tempat persembunyiannya, kalau ia tidak ingat akan
pesanan Liok Sinshe supaya ia kabur untuk menyelamatkan
diri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In tidak melihat dengan mata sendiri bagaimana Liok


SInshe dirobohkan musuhnya dan tergelincir masuk ke dalam
jurang sebab letak tempat kejadian itu ada jauh dari ia dan
juga teraling oleh pohon-pohon.

Meskipun ia menangis, ia masih sangsikan kebinasaannya


Liok Sinshe.

"Ah, dia lihai. Tidak mungkin dia binasa cuma tergelincir saja
ke dalam jurang." pikir si bocah yang percaya akan
kepandaian Liok SInshe.

Sama dengan pikiran Lo In, terdengar Siong Leng Tojin


menanya, "Popo, dia sangat lihai, mungkinkah dia
menemukan ajalnya ?'

"Hehehe !" Kim Popo ketawa. "Dia boleh lihai tapi racun jarum
mautku, dalam tempo satu jam akan antar dia menghadap
Giam-lo-ong !" Giam-lo-ong dimaksudkan adalah raja akherat.

Kata-kata Kim Popo membuat Lo In kembali sedih. Air


matanya yang barusan sudah berhenti, kembali mengucur.
Suatu kedukaan yang belum pernah ia alami.

Liok Sinshe ada terlalu baik, ramah, sangat memperhatikan


sekali paanya. Sejak ia mengetahui dirinya tak berayah ibu, ia
pandang Liok Sinshe adalah pelindungnya, sebagai gantinya
orang tua.

Sementara itu angin pegunungan meniup agak keras.

Baru sekarang Lo In sadar, bahwa pakaiannya basah kuyup.


Ia merasa kedinginan, tapi ia tidak menggubrisnya. Ia ingin
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyaksikan lebih jauh tindak tanduknya kawanan jahat itu.

Untuk memberikan pertolongan lebih jauh, korban-korbah


pedangnya Liok Sinshe diangkut masuk ke dalam rumah. Su-
ok Cui Tie segera pasang lilin penerangan.

Dalam pemeriksaan, Ji-ok Cui Kin sudah mati dengan leher


hampir putus. Entah dengan Sam-ok Cui Seng yang
keadaannya tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak
mengeluarkan darah dari kaki kanannya yang tertebas
buntung. Pek-houw-kiam Jin Leng Tojin masih merintih,
sambungan tulang pundaknya yang kanan putus hingga
selanjutnya ia tak dapat gunakan lengan kanannya ini.

Toa-ok Cui Peng amat berduka, Siong Leng Tojin kertak gigi,
menampak pemandangan yang mengharukan itu. Sebaliknya,
Kim Popo acuh tak acuh sikapnya. Rupanya ia mendongkol
pada Siong Leng Tojin yang tak mau perhatikan pesannya
sehingga terjadi mala petaka itu.

"Hei, kemana dia ?" berkata Siong Leng Tojin tiba-tiba, agak
kaget romannya.

"Siapa ?" tanya Su-ok Cui TIe.

"Si bocah ! Hayo, lekas cari !" sahut Tui-beng-kiam, seraya ia


sendiri lantas bertindak melakukan penggeledahan.

Sementara orang repot mencari Lo In, adalah Kim Popo


menggeledah orang punya laci, meja, rak, buku-buku, kopor
dan lain-lain.

Kim Popo seperti lagi mencari sesuatu barang.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Siong Leng Tojin merasa heran, lalu menanya, "Popo, kau lagi
cari apa ?"

"Urusanku aku urus sendiri, urusanmu kau urus sendiri. Buat


apa banyak tanya !" sahut Kim Popo, suaranya tidak enak
didengar.

Siong Leng Tojin cuma bisa nyengir. Dalam hatinya ia amat


mendongkol, pikirnya, "Nenek gila. Kau terlalu menghina !
Tunggu, ada satu tempo, aku bikin kau tahu rasa kelihayannya
Tui-beng-kiam !"

Ia kemudian keluar untuk hindarkan bentrokan dengan Kim


Popo, pura-pura turut kawan-kawannya mencari Lo In sebab di
dalam rumah anak itu tidak diketemukan.

Kim Popo memang memandang rendah pada siapa juga,


bukan hanya pada Siong Leng Tojin seorang. Adatnya aneh,
cepat amrah, sedang kata-katanya kasar.

Orang yang tidak mengimbangi adatnya, bicara beberapa


patah dengannya, akan lantas merasa dihinakan dan menaruh
dendam hati.

Kim Popo aduk-aduk lagi apa yang sudah diperiksa waktu


Siong Leng Tojin sudah keluar. Rupanya ia penasaran barang
yang dicari belum diketemukan.

"Celaka !" katanya perlahan, alisnya berdiri, marah rupanya.


"Tidak mungkin bangsat itu bawa ke dalam jurang !" ia
meneruskan berkata-kata sendirian.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Itulah Kim Popo yang kelihatannya putus asa, tak menemui


barang yang dicari.

Lalu ia jalan keluar, akan dari depan pintu dengan beberapa


kali lompatan saja ia sudah menghilang meninggalkan rumah
Liok Sinshe.

Apa sebenarnya yang dicari oleh Kim Popo ?

Ini, kejadian pada lima tahun yang lampau. Pada hari itu lepas
lohor, cuaca agak mendung. Liok Sinshe jalan terburu-buru,
habis mencari akar-akaran obat di sekitar Siauw-san, kuatir
nanti keburu turun hujan.

Ketika ia lewati pohon cemara yang besar, tiba-tiba ia


merandek. Ia berdiri sejenak sambil pasang kuping. Ia dengar
suara beradunya senjata, seperti ada orang yang tengah
bertempur.

Setelah memperhatikan sekian lama, lalu ia menghampiri tepi


jurang, tidak jauh dari ia berdiri barusan. Ia melongok ke
bawah, tampak sebuah lembah datar dimana ada kelihatan
dua orang sedang bertempur seru.

Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, ia lompat ke


bawah mendekati tempat pertempuran untuk menyelidiki siapa
mereka yang bertempur itu. Kiranya mereka itu ada satu
nenek dan satu kakek.

Si nenek menggunakan tongkat sebagai senjatanya, sedang si


kakek bersenjata sebilah pedang panjang. Kenapa mereka
jadi bertempur, itulah ia ingin tahu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tapi tidak menanti lama, Liok Sinshe lantas mendengar si


kakek buka suara, "Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan
?" katanya, seperti yang sudah kewalahan.

"Hm !" mendengus si nenek. "Baru ada persaudaraan kalau


kau serahkan barang itu !"

"Itu toh bukannya hakmu ?" kata lagi si kakek.

"Aku tidak perduli punya siapa, barang itu harus aku punyai !"
teriak si nenek.

"Ah, kau benar-benar telengas !" si kakek mengeluh.

Kelihatannya ia mulai keteter, permainan pedangnya mulai


kalut hingga si nenek dapat kesempatan untuk merangsek
lawannya dengan serangan-serangan tongkatnya yang hebat.

Melihat gelagat jelek, si kakek mecari kesempatan untuk


angkat kaki.

Pada saat si nenek menusuk dengan tongkatnya, si kakek


menyampok, kakinya menjejak tanah akan lompat mundur,
kemudian putar tubuh dan ............ lari.

"Hm ! mau lari ? Lebih sukar lolos dari Kim Popo dari pada
naik ke langit !" si nenek berseru, tangannya merogoh
sakunya, kemudian dari tangan tangan itu melesat senjata
rahasianya, lima jarum beracun menyambar berbareng.

Segera teriakan ngeri terdengar, si kakek roboh ditanah,


pedangnya terlempar jauh, sementara itu Kim Popo sudah
berdiri di depannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

-- 2 --

"Kau mau lari dari tanganku ? Hm !" mengejek Kim Popo.

"Tidak rela aku mati ditanganmu, perempuan jahat !" memaki


si kakek.

"Kau berani maki aku ? Nih, rasai........" sambil angkat


tongkatnya hendak dipukulkan pada batok kepala orang.

"Tring !" tiba-tiba terdengar suara. Tongkat besinya Kim Popo


terdorong nyamping, mengemplang tanah hingga
berhamburan. Selamatlah batok kepala si kakek dengan
kejadian ini, tadinya ia sudah meremkan matanya untuk terima
kematian.

Sebaliknya Kim Popo bukan main marahnya, ia berteriak


seperti orang gila, "Manusia usilan, siapa kau, lekas unjuk diri
di depan Popo !"

"Aku disini, Popo." Kim Popo dengar suara di belakangnya.

Kaget ia, cepat ia putar tubuhnya. Di depannya tampak


seorang laki-laki dengan usia kurang lebih empat puluh tahun.
Mukanya putih, cakap, di atas alis kirinya ada codet sebesar
jari kelingking. Rupanya bekas barang tajam mampir disitu.

"Kau yang barusan main-main ?" tanya Kim Popo gemas.

"Benar," sahut orang itu, sambil soja mulutnya bersenyum.

"Siapa kau ?" tanya lagi Kim Popo, sikapnya galak, tangannya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sudah siap dengan tongkat besinya untuk menghajar orang


usilan yang berdiri di depannya.

"Aku yang rendah si orang she Liok," sahutnya tenang.

Kiranya Liok Sinshe yang menolok si kakek dari bahaya pecah


kepalanya.

"Binatang !" teriak Kim Popo kalap. "Terimalah hadiah ini dari
Popo !" Mulutnya berkata, tongkat besinya bekerja.

Ia menyerang lawannya tidak tanggung-tanggung. Dengan


tipu 'Tay-san-ap-teng' -- 'Gunung Agung menimpa kepala', ia
kemplang batok kepala orang dengan tongkat besinya.

Tapi bukan main terkejutnya si nenek. Serangannya gagal,


musuhnya menghilang dari depannya. Ia celigukan mencari,
panas hatinya.

"Aku disini, Popo," suara halus terdengar di belakangnya.

Kaget Kim Popo. Pikirnya, setan barangkali orang ini, yang


bisa menghilang.

Ia penasaran, tongkat besinya sudah banyak makan korban.


Masa sekarang ia mesti jatuh dalam segebrakan saja ? Ia
harus jaga nama, jangan sampai dikalahkan.

Sebenarnya, Kim Popo sudha harus tahu diri. Ia sudah kalah


jauh. Kalau lawan memang kejam, ditepuk jalan darah di
bebokongnya, ia mesti terkulai jatuh duduk.

Dasar Kim Popo bandel, ia masih mau nekad-nekadan.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan jurusnya "In-li-yu-liong' atau 'Naga melayang di awan',


sambil berputar tubuh, tongkatnya menyabat ke belakang
mengarah iga orang. Serangan ini dilakukan dengan cepat,
lincah. Tapi Liok Sinshe lebih cepat dna gesit akan lompat
tinggi, mundur satu tombak.

Melihat kembali sasarannya menghilang bagai setan, Kim


Popo gemas. Ia lompat menyerang lagi, tongkatnya menyodok
ke arah perut. Liok Sinshe berkelit sambil geser kaki
kanannya, tangan kanannya berbareng menepuk tongkat yang
nyelonong lewat.

Tergetar lengannya Kim Popo. Ia rasakan nyeri. Hampir-


hampir terlepas tongkat dari cekalannya, itulah tepukan Liok
Sinshe yang menggunakan tenaga dalamnya.

Cepat Kim Popo empos tenaga dalamnya, untuk


menghilangkan rasa nyeri.

"Hehe, binatang kau, boleh jgua !" kata si nenek, seraya


kerjakan lagi tongkatnya. Kali ini hendak nenamu ke arah
dada. Liok Sinshe bersenyum, ia tidak berkelit, sebaliknya
ketika ujung tongkat hampir sampai sasarannya, tiba-tiba ia
mengebut dengan lengan bajunya yang kanan, dari bawah ke
atas.

Liok Sinshe hanya gunakan tenaganya tiga bagian, tapi sudah


cukup membuat tongkatnya si nenek hampir terlepas lagi dari
cekalannya. Angin kebutan lengan baju dirasakan si nenek
menumbuk dadanya sampai rasanya susah bernapas,
lengannya juga kembali dirasakan nyeri.

Lawan terlalu alot, sudah seharusnya Kim Popo terima kalah.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Namun, dasar si nenek keras kepala. Ia masih mau coba


dengan serangannya yang terakhir. Tampak ia melemparkan
tongkatnya, matanya mendelik seram, rambutnya yang kasar
hampir pada berdiri, rupanya ia sedang mengerahkan lwekang
(tenaga dalam). Kemudian, kedua tangannya yang kurus
macam cakar bebek diangkat, tampak kukunya seperti
memanjang. Benar-benar dalam sikapnya yang menyeramkan
itu, Kim Popo bisa membikin anak kecil yang melihatnya
menjerit nangis dan jatuh pingsan.

Liok Sinshe air mukanya tetap bersenyum-senyum, tapi ia


waspada akan serangan lawan yang hebat dengan
pengerahan tenaga dalam sepenuhnya.

Si kakek yang rebah di tanah empas empis, masih sempat


membuka matanya, kaget bukan main ia melihat si nenek
kerahkan tenaganya untuk melakukan serangan maut. "Awas
!" teriaknya kepada Liok Sinshe.

Berbareng dengan perkataan "Awas !", Kim Popo sudah


menerjang sambil berseru menyeramkan, "Binatang, aku akan
adu jiwa denganmu !"

Dengan gerakan 'Beng-houw-pok-ye' -- "Harimau liar


menerkam kambing', ia lompat menerjang musuhnya. Kedua
tangannya mencengkeram kepada lawan, dadanya Liok
Sinshe pasti remuk oleh karenanya kalau serangan itu
menemui sasarannya.

Si orang she Liok tidak takut. Ia bergerak sedikit, kedua


tangannya diulur untuk menyambuti. Ia gunakan tenaganya
empat bagian yang keras untuk lawan keras. Kim Popo tahu
juga bahaya. Cepat ia tarik pulang kedua tangannya untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mencegah bentrokan. Ia tidak mau tangannya bentrok dengan


tangan musuh yang unggul banyak tenaga dalamnya.

Serangannya berganti, tangan kanannya diputar lalu dua


jarinya, telunjuk dan tengah bagaikan kilat nyelonong hendak
mengorek sepasang mata lawannya.

Namun, Liok Sinshe sekarang tidak mau kasih si nenek


banyak tingkah lagi. Sambil elakkan kepalanya ke kanan,
tangan kirinya bekerja. Jarinya menyentil dua jari si nenek di
bagian jalan darah tiong-ciong dan siang-yang.

Segera terdengar jeritan melengking, mengalun di sekitar


lembah itu. Itulah jeritan Kim Popo yang kesakitan, jari
telunjuknya kena disentil. Ia rasakan sakit sekali menyelusup
ke ulu hati, panas rasanya.

Berbareng dengan melengking jeritannya, kakinya menjejak


tanah, lompat ke belakang, menjauhkan diri dari lawannya,
kemudian berkata, "Binatang, lain kali kita jumpa lagi."

Setelah mengucap demikian, Kim Popo putar tubuhnya.


Dengan beberapa lompatan tubuhnya sudah menghilang dari
pemandangan.

Oleh karena jeri terhadap kelihaiannya Liok Sinshe, maka


ketika Kim Popo diminta bantuannya oleh Siauw-san Ngo-ok
dan kawan-kawannya untuk mengeroyok si orang she Liok, ia
tidak mau menempur orang dengan berterang, hanya bersedia
membantu dengan jarum mautnya, membokong dari tempat
sembunyi. Tidak ia sangka bahwa rencananya itu dibikin
kacau oleh si imam sombong Siong Leng Tojin.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa dalam pertempuran satu sama satu tadi dengan Liok


Sinshe si nenek tidak menggunakan jarum mautnya ?
Meskipun keras kepala, Kim Popo punya perhitungan akan
untung rugi. Demikian ia lihat musuh sangat lihai, juga tidak
mencelakakan dirinya, ia sangsi untuk menggunakan senjata
mautnya. Pikirnya kalau ia berhasil, tidak jadi soal. Tapi kalau
gagal, apakah Liok Sinshe tidak jadi naik pitam ? Ia sadar,
kalau mau dengan mudah Liok Sinshe dapat ambil jiwanya
bagaikan orang yang membalik tangannya. Kalau si nenek
tinggalkan perkataan 'lain kali kita jumpa pula', itulah hanya
untuk tolong mukanya dari perasaan malu.

Liok Sinshe melambaikan tangannya dengan senyum dikulum,


ketika Kim Popo ambil 'selamat berpisah', kemudian putar
tubuhnya menghampiri si kakek dalam keadaan dekat mati.
Terkejut Liok Sinshe ketika memeriksa si kakek, dua jarum
beracun sudah menembusi bagian pundak dan bebokongnya.
Pada bagian-bagain itu sudah jadi hitam, menjalar ke bagian
lagin dari tubuhnya, mungkin racun jarum sudah menembusi
tulang.

Ketika Liok Sinshe celentangi si kakek, sesudah periksa


bebokongnya, kepalanya rebah dilengannya. Keadaannya
sudah payah. Matanya meram terus. Liok Sinshe terharu
melihatnya. "Kejam...." Liok Sinshe kata dalam hatinya.

Ingin ia menolongi si kakek, namun apa daya ? Racun jahat


sudah menjadi satu dengan darahnya. Tapi bagaimana pun
juga, ia ingin coba dengan obat pilnya yang mustajab. Taruh
kata si korban tak dapat tertolong jiwanya, ia masih akan dapat
keterangan tentang siapa dirinya si kakek, manakala ia dapat
menyadarkannya dengan pertolongan obatnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika tangannya hendak merogoh sakunya, tiba-tiba matanya


si kakek dibuka. Liok Sinshe kegirangan.

"Terima kasih atas pertolonganmu." berkata si kakek,


suaranya lemah.

"Kau siapa, lotiang ?" tanya Liok Sinshe.

"Kau kenal dengan Kwee Cu Gie ?" kakek itu tidak menjawab
pertanyaan Liok Sinshe, ia balik menanya malah.

Liok Sinshe kerutkan keningnya.

"Dia ada satu tayhiap." kata si kakek lagi, tidak menanti


jawabannya Liok Sinshe.

"Dia seharusnya memiliki barang mustika yang kubawa.


Tolong kau kasihkan ini padanya."

Tangan kanannya digerakin, maksudnya hendak merogoh


kantongnya. Tapi sia-sia ia gerakan karena tangan itu sudah
lumpuh.

"Kau siapa, lotiang ?" Liok Sinshe ulangi pertanyaannya.

"Aku....aku... She Kong..... ah....." kepalanya lantas saja


terkulai.

Liok Sinshe terharu menyaksikan kematiannya si kakek she


Kong, air matanya mengembang. Pikirnya, si kakek ini
menyebut nama Kwee Cu Gie, dimana ia kenal Kwee Cu Gie ?
Barang apakah yang hendak dihadiahkan kepada Kwee Cu
Gie ?
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pelan-pelan tangannya Liok Sinshe merogoh kantongnya si


kakek. Ia keluarkan isinya. Tidak ada apa-apa selain perak
hancur dan sebuah buku kecil yang sudah kumal. Kapan ia
baca kalimat di buku itu, tertulis empat huruf yang sudah
banyak luntur. 'Tiam hiat pit koat', terkejut hatinya Liok Sinshe.

"Tiam hiat pit koat......' katanya, tidak tegas. "Dari mana si


kakek dapatkan buku yang sangat berharga itu ?" ia menanya
pada dirinya sendiri.

Liok Sinshe bengong sejenak. Kembali dalam benaknya


muncul pertanyaan, "Ada hubungan apa dia dengan Kwee Cu
Gie ? Begitu sangat dia menghargakan si orang she Kwee,
dengan suka rela ia menghadiahkan buku pelajaran ilmu
menotok jalan darah, suatu buku 'Tiam hiat' yang menjadi
rebutan masa itu dalam Bu-lim (dunia persilatan). Dan apa
hubungannya si nenek dan si kakek, mengingat si kakek
dalam kewalahan bertempur ada mengucapkan kata-kata,
'Apa kau sudah tidak kenal persaudaraan ? Siapa Kim Popo ?

Ia tersadar dalam renungannya, ketika ia meraba si kakek


tubuhnya sudah mulai dingin. Cepat ia masukkan ke sakunya
buku mungil itu, uang perak ancur ia masukkan pula ke dalam
kantongnya si kakek. Setelah mana, dengan menggunakan
pedangnya almarhum ia mulai menggali lubang, ke dalam
mana di lain saat mayatnya si orang she Kong dimasukkan
dan dikubur rapi.

Liok Sinshe gantung pedang si kakek di pinggangnya.


Pikirnya, pelan-pelan ia mau selidiki si kakek dan akan
mengembalikannya. Sebelum angkat kaki, ia soja depan
kuburan si kakek, mulutnya kemak kemik, entah apa yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dikatakannya.

Setelah mana, ia mendengak. Lihat cuaca memburuk dan


segera akan turun hujan kelihatannya. Ia lalu gerakan kakinya
untuk dengan ilmu entengi tubuh 'Pat pou kan siam' atau
'Delapan tindak mengejar tenggeret', ia meninggalkan tempat
itu.

Liok Sinshe tidak tahu kalau gerak geriknya diintip orang.

Itulah Kim Popo yang balik lagi dengan diam-diam. Ia


penasaran untuk dapatkan barang dari tangan si kakek
diganggu orang. Lari belum jauh, ia putar tubuhnya kembali ke
tempat tadi. Cuma ia tidak berani datang dekat. Diatas, dari
jarak beberapa tombak, ia memasang mata atas gerak gerik
Liok Sinshe.

Gusar bukan main si nenek di waktu melihat Liok Sinshe


memegang buku yang bentuknya mungil yang kemudian
dimasukkan ke dalam sakunya. Itulah justru barang yang ia
arah dari si kakek.

Sekarang barang itu sudah berada di tangan orang lihai.


Bagaimana ia dapat mengambilnya pulang ? Dari marah ia
menjadi lesu, hanya melongo mengawasi orang berlalu
dengan ilmu entengi tubuh. Untuk menyusul, menguntit, ilmu
entengi tubuhnya dibawah Liok Sinshe.

Dengan perasaan sakit hati, ia turun ke bawah untuk ambil


pulang tongkatnya kembali. Mulutnya bergerak-gerak dan
matanya melotot pada kuburannya si kakek seolah-olah ia
sedang mencaci maki si orang she Kong. Saking gemas
malah, ia sudah kemplang tiga kali kuburannya si kakek, akan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kemudian dengan uring-uringan ia berlalu dari tempat itu.

Belum berapa jauh, ia rasakan hujan mulai gerimis. Ia cepati


jalannya untuk mencari tempat meneduh. Dari kejauhan,
jalannya ke selatan. Ia melihat ada bangunan rumah berhala.
Ia lari ke sana, untuk meneduh, menyingkir dari serangan
hujan besar yang saat itu sudah mulai turun dengan lebatnya.

Ketika ia datang dekat, hatinya merasa heran melihat rumah


berhala itu dijaga oleh banyak orang yang bersenjata tajam.
Orang yang keluar masuk juga pada bawa senjata masing-
masing. Ada apa gerangan disitu.

Ia jalan terus ke sana, sampai tiba-tiba ada yang menegur


dibalik satu pohon, "Hei, nenek tua, kau mau kemana ?"

Kim Popo menoleh, dilihatnya ada dua orang bermuka bengis


tengah mengawasi kepadanya. Kim Popo yang adatnya aneh,
cepat marah, menjadi tidak senang.

"Apa mentang-mentang kalian bawa golok, begini caranya


menegur seorang tua ?' sahutn si nenek, tidak enak dilihat
mukanya yang kehujanan.

Dua orang jaga itu, yang satu tinggi kurus, temannya gemuk
pendek berewokan.

"Kita tanya benar-benar, bolehnya dia marah. Hahaha !" kata


si gemuk pada kawannya.

"Hmm !" mendengus Kim Popo.

Matanya pelototi si gemuk, kakinya bergerak. Ia mau jalan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terus, tapi si kurus menghadang cepat-cepat. "Nenek tua, kau


jangan tidak tahu diri !" bentaknya, seraya goloknya
dilintangkan di depan Kim Popo, menghalangi untuk berjalan.

"Trang !" segera terdengar golok di kemplang tongkat.

"Aiyoo !" si kurus berteriak, sambil tangan kirinya memegangi


lengan kanannya yang dirasakan sakit bukan main, goloknya
jatuh nancap di tanah. Ia merintih teraduh-aduh, mukanya
pucat mengawasi Kim Popo yang tampak tertawa terkokoh-
kokoh.

Si gemuk bengong sejenak, melihat kawannya dikerjai si


nenek. Dengan gusar ia menyerang Kim Popo dengan
goloknya. Sayang, tenaganya besar tapi tidak ada 'isi' (pandai
silat). Maka satu tangkisa keras dari tongkatnya Kim Popo
cukup bikin ia berkaok-kaok persis macam kawannya tadi.
Lengannya gemetaran, sakitnya bukan main nyelusup ke
jantung.

Si nenek setelah mendupak si gemuk, sampai meloso


mencium lumpur, lalu angkat kaki pergi. Melihat itu, si kurus
masih sempat kasih tanda 'bahaya' pada kawan-kawannya
dengan suitannya.

Sebentar saja dari balik beberapa pohon keluar orang-orang


jaga dengan golok terhunus, mencegat jalannya Kim Popo.

"Kurang ajar !" maki Kim Popo dalam hatinya. "Kalian kalau
tidak dikasih hajaran, memang tidak kenal kelihaian aku si
nenek."

Lalu dengan ilmu entengi tubuh, ia kelit sana sini dari bacokan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orang-orang yang merintangi jalannya. Tongkatnya yang berat


enam puluh kati berkelebatan diantara hujan lebat. Teriakan-
teriakan mengerikan terdengar saling susul dari orang-orang
yang menjadi korban tongkatnya yang berat itu.

Banyak korban jatuh, sedang si nenek dengan seenaknya


jalan berlenggang menghampiri kuil yang dijaga ketat. Orang-
orang jeri melihat si nenek demikian lihai, maka mereka pada
minggir dan di lain saat si nenek sudah ada dalam kuil. Tapi,
sebelum ia bertindak lebih jauh, dari jurusan pintu, satu orang
tinggi besar menghadang di depannya.

"Hehe ! Masih ada juga yang minta dikemplang !" jengek Kim
Popo.

"Kau boleh bertingkah di antara orang-orang kami yang tidak


berguna, tapi di depanku, hmm !" kata si orang tinggi besar,
sikapnya jumawa.

Kim Popo sebal melihat tingkahnya.

"Jadi, kau mau apa ?" bentaknya keras.

Sementara menanya, matanya Kim Popo jelalatan melihat ke


sekitar ruangan.

Kiranya kuil itu adalah rumah berhala tua, rupanya sudah tidak
diurus lagi karena disana sini tampak banyak rusak dan bocor.
Sejauh yang dapat ia lihat, di sebelah dalam ada duduk dua
orang menghadapi meja, satu bermuka berewokan, tengah
mengusap-usap brewoknya yang tebal, satunya lagi bermuka
bengis, berhidung panjang. Di samping dan belakang mereka
ada berdiri beberapa orang dengan senjata di tangan masing-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

masing, siap untuk digunakan.

Di depan mereka ada dua orang tengah berlutut dengan


masing-masing kedua tangannya di ikat ke belakang.
Entahlah, apa yang sudah terjadi. Tapi dari pemandangannya,
Kim Popo dapat menduga bahwa si berewokan dan si hidung
panjang tengah memeriksa dua orang yang berlutut dengan
tangan ditelikung.

Si orang tinggi besar yang mencegat Kim Popo tertawa gelak-


gelak, sebelum menjawab pertanyaan Kim Popo yang
menantang.

"Nenek tua, kau kenali aku siapa ?" ia malah balik menanya.

"Di lihat romanmu, kau ini bukan orang baik-baik". jengek Kim
Popo ketus.

"Nenek celaka !" teriak si tinggi besar. "Buka matamu dan


kenali, aku ada sam-taunia dari gunung Siauw-san !"

Dengan menyebut 'sam-taunia (pemimpin ketiga) dari


Siauwsan' si orang tinggi besar kira orang akan jadi kaget,
tubuhnya gemeteran karena itulah Sam-ok Cui Seng, si Jahat
ketiga yang tersohor paling bengis dan telengas diantara si
Lima Jahat dari Siauwsan (Siauwsan Ngo-ok).

Sam-ok Cui Seng ternyata salah hitung.

Si nenek bukan gemetaran, sebaliknya tertawa terpingkal-


pingkal.

Mendelu bukan main hatinya Sam-ok Cui Seng.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apa yang kau ketawai, nenek gendeng ?" bentaknya.

"Tepat dugaanku, kau ini orang jahat !" sahutnya kontan.

Sam-ok Cui Seng tidak tahan meluap amarahnya. Dengan


'Elang lapar menyambar kelinci', ia menubruk Kim Popo.
Tangan kanannya mencengkeram dada, sedang tangan kiri
bekerja untuk merebut tongkat si nenek.

Cepat gerakan itu dilakukan Sam-ok Cui Seng hanya sayang


ia kalah cepat. Bukan saja tongkat si nenek gagal direbut,
malah kepalanya hampir pecah digaplok tangan Kim Popo
yang keras, kalau saja ia tidak keburu mengelakkan
kepalanya.

Sam-ok Cui Seng terkejut serangannya gagal, malah


kepalanya hampir digempur pecah. Ia lompat mundur,
mengawasi si nenek yang ketawa haha hihi.

Sambil menunjuk dengan tongkatnya, Kim Popo berkata,


"Badanmu memang tinggi besar, menyeramkan tapi tidak ada
'isi'. Buat main-main dengan Kim Popo, kau bukan
tandinganku. Lekas kumpulkan saudara-saudaramu untuk
mengerubuti aku !"

Bukan main gusarnya Sam-ok Cui Seng ditantang demikian.

Pikirnya, mungkin barusan ia kurang cepat gerakannya


lantaran terlalu enteng memandang lawan.

Ia penasaran, cuma sangsi kalau ia lawan si nenek dengan


tangan kosong. Maka itu ia mencabut goloknya, berkata,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jangan temberang. Lihat golok !"

Perkataan Sam-ok Cui Seng disusul dengan satu sabatan


golok pada pinggang.

Kim Popo ketawa terkekeh-kekeh sambil tubuhnya dengan


enteng lompat tinggi mengelakkan serangan, terputar
sebentaran baru turun menginjak lantai lagi. Sam-ok Cui Seng
merangsek, goloknya menyerang bertubi-tubi. Ia mainkan ilmu
goloknya 'Ngo-houw-toan-bun-to' atau 'Lima macan menjaga
pintu'. Tidak ia memberi kesempatan untuk Kim Popo perbaiki
posisinya.

Tapi pengalaman bertempur, Kim Popo jauh diatas Sam-ok


Cui Seng. Ilmu goloknya 'Lima macan menjaga pintu' yang
belum tamat, mana dapat membuat susah pada si nenek
kosen yang menggunakan ilmu entengi tubuhnya baik sekali.

Kim Popo ingin mencoba tenaga dalamnya si Jahat ketiga.


Golok lawan yang mengarah dadanya, ia kelit nyamping ke
kanan, dari mana tongkatnya digeraki menangkis golok dari
bawah ke atas dengan tipu "Lutung hitam petik buah'. "Trang !"
terdengar suara bentrokan dua senjata, goloknya Sam-ok Cui
Seng terlempar jauh ke atas kemudain turun lagi menghajar
lantai, sehingga menerbitkan suara keras.

Sam-ok Cui Seng tampak berdiri menjublak, lengannya yang


barusan mencekal golok gemetaran, sakit bukan main.
Matanya melotot mengawasi Kim Popo yang tengah terkekeh-
kekeh tertawa.

Sekonyong-konyong si nenek merasa ada angin menyambar


dari belakang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia duga akan datangnya senjata rahasia. Cepat ia lompat


nyamping ke kiri. Benar saja, itulah piauw beracun yang
dilepas oleh Ji-ok Cui Kin. Kalau si nenek selamat dari piauw
beracun, adalah orangnya Siauwsan Ngo-ok yang berdiri di
depan Kim Popo menjerit dan jatuh rubuh. Ia terkena senjata
piauwnya Ji-ok Cui Kin tepat sekali, tidak ampun lagi, ia roboh
tidak berapa lama. Tubuhnya berkelojotan dan rohnya segera
terbang.

Berbareng dengan dilepas senjata rahasianya, Ji-ok Cui Kin


enjot tubuhnya melesat, tancap kaki didepannya Kim Popo
yang barusan saja memutar tubuhnya untuk melihat siapa
yang melepas senjata rahasia tadi.

"Nenek tua !" bentak Ji-ok Cui Kin gusar. "Kau datang menhina
kami, apa maksudmu ? Apa kau kira mudah keluar dari kuil ini
setelah kau mengacau ?"

Kim Popo awasi orang di depannya. Ternyata ia tidak lain


adalah si hidung panjang yang duduk berduaan dengan si
berewokan di sebelah dalam. Ia berdiri diatas sebelah kakinya
yang kanan karena kaki kirinya kutung sebatas dengkul.

"Kau yang melepaskan piauw barusan ?" tanya Kim Popo,


keningnya mengkerut.

"Tidak salah !" sahut Ji-ok sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Bagus !" teriak Kim Popo, tongkatnya berbareng diangkat


untuk mengemplang batok kepala Ji-ok Cui Kin, tetapi Ji-ok
cepat menangkis dengan pedangnya. Dua senjata saling
bentur hingga meletikkan bunga-bunga api.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"He he, boleh juga tenagamu," kata Kim Popo ketika melihat
pedang lawannya masih tetap tercekal ditangannya.
"Sambutlah ini !" si nenek melanjutkan kata-katanya seraya
gerakkan tongkatnya menyodok ke arah punya 'gudang
makanan' (perut), menuju jalan darah "Liong-kek-hiat'.

Ji-ok Cui Kin tidak takut. Ketika ujung tongkat sampai ia


mengegos, pedangnya dipakai menekan. Kemudian
diserosotin untuk memapas tangan yang mencekal senjata
berat itu. Inilah gerakan yang dinamai 'Tok coa poan cu' atau
'Ular berbisa melilit tiang', satu jurus yang berbahaya sekali
bagi lawannya, ialah akan terpapasnya tangannya.

Melihat gelagat jelek, Kim Popo cepat tarik pulang tongkatnya,


lompat ke samping kiri musuhnya, akan dari mana tongkatnya
bekerja menotok pada jalan darah di iga. Serangan ini
dilakukan cepat sekali hingga Ji-ok Cui Kin gugup untuk
menangkisnya. Dalam bahaya dia. Tapi ada bintang penolong
yang datang tiba-tiba. Itulah Toa-ok Cui Ping, si berewok tadi
yang menolongi saudaranya menangkis tongkat Kim Popo
dengan goloknya. Sementara itu Ji-ok Cui Kin sudah lompat
menjauhkan diri.

Kim Popo marah, alisnya berdiri. Ia penasaran sekali pada


orang yang sudah gagalkan serangannya yang hampir
berhasil Ia mengawasi Toa-ok dengan roman yang geregetan
sekali. Maka tidak banyak omong lagi, ia angkat tongkatnya
menyerang si berewok.

"Tahan !" kata Toa-ok Cui Peng sambil berkelit dari serangan
dan lompat mundur empat tindak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Binatang, kau mau omong apa lagi ?" bentak Kim Popo kasar.

Toa-ok Cui Peng angkat tanganya bersoja, katanya, "Maafkan,


aku Cui Peng kurang hormat. Tapi tolong jelaskan apa sebab
kau orang tua datang mengacau disini ?"

"Aku mengacau ? Hm ! Kau tanya orang-orangmu sendiri


tanpa sebab sudah datang mengeroyok padaku, memangnya
aku orang apa ?" jawab si nenek mendongkol.

Cui Peng dapat memahami duduknya kejadian. Memang


kesalahan dipihaknya, orang-orangnya suka berlaku
sewenang-wenang dan perbuatan meraka justru kali ini 'kena
batunya' menemui si nenek kosen.

Ia tidak menjawab si nenek yang balik menanya, sebaliknya ia


berkata lagi, "Aku mengagumi kepandaianmu, orang tua !
Untuk menyingkat waktu, bagaimana kalau pertempuran
dengan senjata dirubah dengan pertaruhan ?"

"Kau mau bertaruh apa ?" tanya Kim Popo, suaranya tidak
sekasar tadi. Rupanya ia measa si berewokan ini, meskipun
kelihatannya bengis kasar, tiap pertanyaannya diucapkan
dengan sopan santun.

"Begini saja," sahut Cui Peng, "kita bertaruh dalam dua babak.
Kalau aku menang, kau harus meninggalkan kuil ini tanpa
syarat."

"Kalau aku yang menang ?" Kim Popo memotong


pembicaraan orang yang belum habis.

"Kalau yang yang menangi, kami tiga saudara akan berlutut di


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

depanmu dan angkat kau orang tua menjadi ibu angkat kami.
Akur !" sahut Cui Peng ketawa.

Si nenek termenung sebentar.

"Baiklah, bagaimana caranya bertaruh ?" Kim Popo menanya.

"Babak pertama, kita masing-masing menghadapi batu besar.


Siapa yang memukul lebih patah pada batunya masing-
masing, dialah yang menang." menerangkan Toa-ok Cui Peng.
Dan babak yang kedua, kita masing-masing menghadapi dua
batang besi. Siapa yang dapat menekuk atau mematahkan,
dia yang menang."

Kim Popo kembali temenung. Ia tidak sadar bahwa ia tengah


diliciki oleh Toa-ok Cui Peng. Si berewok memang ada ahli
'Gwakang' (tenaga luar) disamping ia mempelajari juga
lwekang (tenaga dalam). Ia sangat andalkan tenaganya yang
seperti raksasa. Pikirnya, si nenek yang kurus kering seperti
yang kurang makan itu, pasti dengan mudah dikalahkan
olehnya.

Si berewok sangat licin. Ia tahu kepandaiannya Kim Popo ada


di atas mereka tiga saudara dan bila si nenek dikerubuti,
belum tentu mereka akan peroleh kemenangan. Pikirnya dari
pada buang tempo, malah bisa-bisa mendapat celaka, lebih
baik si nenek ia ajak bertaruhan untuk jurusan yang ia
andalkan, yang ia percaya seratus persen Kim Popo akan
tergelincir kalah hingga ia boleh angkat kaki dari kuil itu tanpa
adu senjata lagi.

Setelah termenung, Kim Popo berkata lagi, "Kalau kau kalah,


tak usah ganti berbahasa pakai ibu segala, cukup kau orang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memanggil 'Popo' (nenek) saja."

"Bagus, kami menurut saja kau orang tua punya kemauan."


jawab Cui Peng merendah sambil anggukan kepala.

"Nah, kau unjukkan dimana barangnya yang hendak


digunakan sebagai sasaran bertaruh." tanya Kim Popo.

"Oh, itu ada di belakang kuil ini. Mari turut aku ke sana !" sahut
Cui Peng.

Berbareng ia berjalan diikuti oleh dua saudaranya Ji-ok Cui


Kin dan Sam-ok Cui Seng, sedang Su-ok Cui Tie ada di
markas besarnya, gunung Siauw-san, tidak ikut hadir dalam
keramaian dalam kuil tua itu.

Kim Popo turut dari belakang.

Kemudian yang lain-lainnya, jagoan dibawahnya Siauw-san


Ngo-ok menyusul mengikuti. Mereka kegirangan akan
menyaksikan keramaian yang bakal dilihat.

Sesampainya dibelakang ruangan kuil, Toa-ok dengan muka


bersenyum ramah mengunjukan pada Kim Popo dimana
letaknya dua barang yang bakal dipakai sasaran itu. Tampak
di depan agak sebelah kiri, ada dua buah batu besar
sepelukan orang. Entah berapa ratus kati beratnya. Di sebelah
kanannya di satu pojokan, ada menyandar dua batang besi
dari ukuran tengah dua dim dan panjangnya kurang lebih dua
setengah meter.

Setelah mengawasi sejenak, si nenek tampak kerutkan


keningnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Matanya Toa-ok yang awas, dapat melihat perubahan ini.


Dalam hatinya amat kegirangan. Sebab dengan mengunjuk
sikap demikian, kelihatannya si nenek tidak mungkin akan
menang dalam pertaruhannya.

"Bagaimana, apakah kita boleh mulai ?" tanya si berewok.

"Boleh saja, kau boleh mulai. Tapi tunggu dahulu." kata Kim
Popo seraya berjalan menghampiri dua batu besar bakal
sasaran itu. Ia memeriksa sambil pegang-pegang. Benar-
benar batu itu kelihatannya alot. Lalu ia jalan menghampiri dua
batang besi yang merupakan toya besar. Juga disini ia
pegang-pegang barang itu dan memeriksa dengan teliti.
Mulutnya kemak kemik seperti ada yang dikatakan tapi tidak
kedengaran oleh siapa pun juga disitu.

Makin kegirangan Toa-ok melihat gerak geriknya si nenek.

"Marilah kita mulai." kata si berewok sambil maju menghampiri


satu diantara dua batu besar itu.

"Jangan sungkan, kau boleh mulai !" kata Kim Popo yang
melihat Toa-ok unjuk laga seperti yang pasti akan dapat
memukul belah batu itu.

"Baiklah," sahutnya. Lalu dikerahkanlah tenaga luar.

Kecuali Kim Popo yang sikapnya acuh tak acuh, semua orang
yang ada menyaksikan disitu dan tegang hatinya, masing-
masing kuatir kepala pemimpinnya gagal dalam
pertaruhannya. Setelah mengerahkan tenaganya, tampak
Toa-ok Cui Peng mengangkat tangannya yang kanan, dibeber
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

macam golok lalu dengan tiba-tiba tubuhnya mendak,


tangannya membacok. Segera terdengar suara terbelahnya
batu. Batu besar itu terbelah dua.

Di susul oleh sorak ramai, gegap gempita dan seruan "Hidup


pemimpin kita !".

Kemudian Toa-ok Cui Peng jalan menghampiri para penonton


dengan roman tertawa-tawa. Disambut oleh orang-orangnya
sambil tampik sorak ramai.

"Bagus." memuji Kim Popo. "Toa-taunia, hampir kau bikin aku


jeri dan terima kalah. Kalau hatiku tidak mendesak untuk coba-
coba."

"Ah, kau terlalu merendah, orang tua." sahut Cui Peng ketawa.

Kim Popo pun tertawa. Lalu ia minta salah seorang pegangi


tongkatnya. Ia sendiri jalannya mendekati batu besar bagian
sasarannya.

Setelah datang dekat, ia berdiri sejenak lalu berpaling ke arah


orang banyak. Kepalanya manggut-manggut lalu entah
bagaimana ia bergerak, tangannya yang kanan tiba-tiba
menggaplok batu besar itu. Terdengar suara gemuruh, batu itu
ternyata hancur berantakan.

Orang banyak jadi terkesima melihatnya. Mereka sangat


tertegun sampai lupa bersorak sorai. Suasana menjadi sunyi
sebentaran sampai kemudian Toa-ok Cui Peng yang juga
terbelalak matanya keheranan sudah bisa menghilangkan rasa
cemasnya dan dengan muka tertawa, ia menyambut Kim Popo
yang sudah balik lagi ke tempat orang banyak berkumpul.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Orang tua, kau hebat sekali ! Kali ini kau menang. Marilah kita
mulai dengan babak yang kedua." si berewok menantang
seraya menghampiri dua lonjoran besi berat yang menyandar
di tembok.

Ia ambil satu antaranya. Besi yang berat itu ditangannya


seolah-olah bambu saja entengnya. Ia putar-putar sebentar
lalu berkata pada Kim Popo, "Bolehkah aku mulai, orang tua ?"

Kim Popo manggut. "Kau boleh mulai, Toa-taunia." Ia


menyilahkan.

Toa-ok Cui Peng gunakan dengkulnya sebagai penahan besi.


Tenaganya dikerahkan pada kedua tangannya dan dengkul,
lalu...... besi lonjoran itu pelan-pelan melengkung dan mulai
jadi bundar.

Kembali terdengar tampik sorak riuh rendah dan ucapan


bersemangat "Hidup pemimpin kita" beberapa kali. Malah ada
yang berjingkrakan kegirangan. Ji-ok dan Sam-ok berseri-seri
mengawasi Kim Popo yang tengah mengerutkan keningnya.
Pikir mereka, kali ini Toakonya bakal menang hingga stand
menjadi seri 1-1.

Setelah melengkung hampir bundar, besi itu dilemparkan oleh


Toa-ok Cui Peng dan ia kembali ke rombongannya, mukanya
tersungging senyuman puas. Ia kemudian berkata pada Kim
Popo, "Silahkan orang tua !"

Si nenek tanpa dipersilahkan kedua kalinya, ia sudah lantas


menghampiri besi berat itu. Ia pegang kemudian diputar-putar
seperti Toa-ok tadi berbuat. Setelah mana, ia pegang dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kedua tangannya. Ia timbang-timbang, akan sebentar lagi


orang lihat besi itu dilemparkan ke atas dengan kedua
tangannya, terputar sebentar kemudian jatuh turun dalam
keadaan melintang.

Inilah ada suatu demonstrasi yang mempersonakan. Penonton


tidak tahu apa yang akan dilakukan Kim Popp atas besi yang
berat itu, yang jatuh turun dengan melintang.

Toa-ok Cui Peng dengan dua saudaranya saling mengawasi,


mata seperti saling menanya. Tidak menanti lama keputusan,
sebab tiba-tiba si nenek berseru keras. Sambil lompat
memapaki besi yang jatuh turun, lengan kanannya menghajar
keras persis di tengah-tengah lonjoran besi itu. "Peletak !"
terdengar suara barang patah. Itulah toya besar yang patah
jadi dua turun jatuh ke tanah.

Kali ini, saking heran dan gembiranya menyaksikan


kepandaiannya Kim Popo yang istimewa, penonton bersorak
riuh. Teriakan terdengar, "Hidup, hidup......."

"Hidup Popo !" Toa-ok tambahkan teriakan kawan-kawannya


yang kelihatan ragu-ragu untuk menyebutkan "Popo".

Maka, setelah diberi contoh, lalu teriakan "Hidup Popo, hidup


Popo" menggema dalam ruangan di belakang kuil tua itu yang
tidak seberapa besarnya.

Kini dengan hati rela, Siauw-san Ngo-ok menyerah kalah.

Ketika Kim Popo balik ke tempat rombongan, tanpa ditegur,


Toa-ok dan dua saudaranya yang lain telah menekuk lututnya
sambil menyebut, "Popo, anak-anakmu memberi hormat dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengucapkan selamat panjang umur !"

"Bangunlah Toa..... eh, anak-anak. Aku paling tidak suka


banyak peradatan !" kata Kim Popo yang menyilakan anak-
anak angkatnya bangun dari berlututnya.

Demikianlah ada kejadian cara bagaimana Siauw-san Ngo-ok


menjadi anak-anak angkatnya dari Kim Popo.

Toa-ok Cui Peng dan saudara-saudaranya kegirangan


mendapat ibu angkat yang demikian kosen. Segera mereka
menyuruh orang-orangnya menyiapkan satu meja makanan
untuk mereka berpesta pora menghormati Kim Popo.

Ketika rombongan kembali masuk ke ruangan dalam pula, Kim


Popo dapatkan dua orang yang ditelikung tangannya masih
ada. Ia lalu minta keterangan dari Toa-ok, siapa mereka itu.
Kiranya mereka itu ada dua orang piauwsu dari Sam Seng
Piauw Kiok di kota Tongkwan propinsi Siamsay. Satu
perusahaan pengawalan barang yang sangat terkenal, karena
pengiriman-pengiriman yang diurus oleh Sam Seng Piauw Kok
hampir belum pernah gagal atau mendapat halangan di
jalanan.

Kim Popo tampak kerutkan keningnya setelah mendengar


keterangan Toa-ok Cui Peng. Kemudian mengawasi kedua
piauwsu yang berlutut sambil tundukan kepala.

"Hehe, kenapa si orang she Liong pakai dua orang tidak


berguna begini ?" kata Kim Popo, suaranya pelan tapi cukup
kedengaran oleh dua piauwsu itu.

Berbareng mereka angkat kepalanya, mengawasi pada si


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nenek.

"Kami sudah kena ditawan. mau dibunuh, boleh bunuh. Untuk


apa banyak rewel ?" berkata satu diantara piauwsu itu yang
mukanya persegi.

Kawannya yang jenggotnya jarang, sambil tertawa sini


berkata, "Tanpa perangkap belum tentu dapat merobohkan
kami berdua !"

"Kau bernama apa ?" tanya Kim Popo kepada si muka


persegi.

"Aku bernama Liok Tek Kim. Belum pernah aku menukar


nama !" sahutnya.

"Dan kau ?" tanya Kim Popo pada si jenggot jarang.

"Aku Tan Kim Tie." jawabnya gagah.

"Kau pernah apa dengan Liong Seng, pemimpin dari Sam


Seng Piauw Kiok ?" si nenek tanya Liong Tek Kim.

"Aku adalah keponakannya." sahutnya singkat.

"Bagus." kata Kim Popo. "Sekarang bagaimana kehendak kau


orang ?"

"Sudah kukatakan, mau bunuh boleh bunuh. Tak usah banyak


cingcong !" sahut si muka persegi, suaranya keras, hatinya
tidak gentar.

"Hehe." Kim Popo tertawa. "Anak-anakku, merdekakan dua


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orang ini."

Toa-ok dan saudara-saudaranya melenggak mendengar kata-


kata Kim Popo. Tidak kecuali dengan dua orang tawanan yang
ditelikung tangannya.

"Tapi......ah, Popo........" kata Sam-ok Cui Seng gugup.

"Merdekakan !" potong si nenek. "Aku bilang merdekakan


harus turut !"

Sam-ok Cui Seng melirik pada saudara tuanya seperti minta


pendapat. Toa-ok Cui Peng mengedipkan matanya, kepalanya
manggut sedikit, suatu pertanda saudara ketiga itu bolhe
lakukan perintah si nenek.

Tanpa sangsi, Sam-ok Cui Seng perintahkan orang-orangnya


untuk memerdekakan dua orang tawanannya. Sekejapan saja
tangan mereka sudah merdeka, tapi mereka masih tetap
berlutut.

"Bangun !" kata Kim Popo. "Kenapa kalian masih tetap berlutut
?'

Dua piauwsu itu tidak menyahut, hanya keduanya pada


tundukkan kepala.

Kim Popo heran. Ketika diselidiknya, kiranya mereka sudah


tidak dapat bangkit dari berlututnya karena dengkul masing-
masing lemas akibat hajaran (siksaan) pada kakinya dipaksa
mereka berlutut oleh Sam-ok Cui Seng.

Kim Popo kerutkan keningnya. Kemudian ia suruh orang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

periksa lukanya dan diberi obat lalu diangkut ke lain ruangan


dimana mereka direbahkan dan diberi pertolongan lebih jauh.

"Apa memangnya Popo kenal dengan Liong Seng, pemimpin


dari Sam Seng Piauw Kiok ?" tanya Toa-ok Cui Peng setelah
dua piauwsu itu digotong ke lain ruangan.

Kim Popo anggukan kepalanya. "Orang she Liong itu yang


bergelar Tiat-gee (Si Kerbau Besi), selain ilmu silatnya lihai,
dia juga ada seorang yang peramah." menutur si nenek.
"Luhur budinya, suka tolong orang yang dalam kesusahan
hingga dia sangat dihormati oleh lawan dan kawan. Pun
pergaulannya ada sangat luas, banyak kawan-kawan atau
sahabat-sahabatnya yang berkepandaian tingi di kalangan
putih maupun hitam (baik dan jahat) hingga Piauw kioknya
mendapat banyak kemajuan.........'

"Dia toh tidak punya hubungan penting dengan Popo."


memotong Sam-ok Cui Seng tidak sabaran. Rupanya ia masih
menyesal dua tawanannya dimerdekakan.

Kim Popo pelototi matanya pada si jahat ketiga itu.

Toa-ok dilain pihak mengedipi saudaranya, hingga Cui Seng


tundukkan kepala.

"Aku belum bicara habis, kau sudah main potong saja !" kata
Kim Popo, suaranya kaku. "Aku paling tidak suka orang
potong bicaraku !"

-- 3 --

Si nenek yang adatnya cepat ngambul dan cepat marah,


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hampir tidak mau melanjutkan penuturannya kalau tidak Toa-


ok yang membujuknya dengan sabar.

Kiranya si nenek itu hutang budi pada Tiat-gu Liong Seng yang
memberikan pertolongan di waktu ia sakit dalam sebuah hotel
di Tongkwan. Si Kerbau Besi bukan saja menolong dalam hal
keuangan dan pengobatan, malah dengan ramah tamah
mengundang ia tinggal dalam rumahnya yang besar untuk
beristirahat sampai ia sehat dan segar benar, baharu
dilepaskan ia merantau lagi.

Dilihat romannya yang jelek dan keriputan, ditaksir usianya


Kim Popo sudah dekat mencapai tujuh puluh tahun. Namun,
sebenarnya ia baharu lima puluhan.

Kenapa kelihatannya jadi begitu tua, itu ada sebabnya.


Mukanya yang bagus cantik telah berubah jelek keriputan
akibat ia masak obat beracun yang tiba-tiba meledak
menyambar ke mukanya.

Mendengar ceritanya Kim Popo, Toa-ok Cui Peng manggut-


manggut kepalanya.

Ia merasa bertindak keliru dengan merampas barang-barang


antarannya Sam Seng Piauw Kiok di bawah pimpinannya Tiat-
gu Liong Seng yang mulia hatinya.

Di samping jeri menghadapi pembalasannya si Kerbau Besi


yang banyak kawannya yang lihai, juga Ketua dari si Lima
Jahat itu merasa segan pada ibu angkatnya. Maka barang-
barang rampasan dikembalikan pada Liok Tek Kim dan Tan
Kim Tie dengan tidak kurang suatu apa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dua piauwsu itu mengucapkan terima kasih terutama pada


Kim Popo sebab dengan datangnya si nenek itu telah
membuat perubahan yang mereka tidak sangka-sangka.

Ketika Liong Tek Kim menanya hal hubungannya si nenek


dengan pemimpinnya, Kim Popo hanya ketawa haha hihi saja,
akan kemudian ia berkata juga, "Tak usah banyak tanya. Kau
nanti akan dapat tahu dari si Kerbau Besi kalau kau sudah
kembali di Tongkwan."

Liong Tek Kim tidak berani banyak tanya pula. Maka ia lalu
siapkan orang-orangnya untuk berangkat lebih jauh, ke tempat
barang-barang kiriman itu dialamatkan. Ia dan kawannya
masih belum bisa jalan atau naik kuda karena kakinya masih
lumpuh. Maka terpaksa ikut naik dalam kereta piauw yang
mereka kawal.

Sementara itu, hujan lebat pun sudah berhenti.

Kim Popo diundang Toa-ok Cui Peng sama-sama pulang ke


markasnya di Siauw san, tapi Kim Popo menolak dengan
alasan bahwa ia masih banyak urusan yang perlu diselesaikan
dan berjanji begitu sudah ada ketikanya, ia akan datang ke
sana menyambang anak-anak angkatnya.

Demikianlah, setelah menjamu Kim Popo sebagai kehormatan


menjadi ibu angkat Siauw-san Ngo-ok, maka mereka telah
berpisahan satu dengan lain.

Mari kita lihat Lo In, si bocah yang dicari oleh Siong Leng Tojin
dan kawan-kawannya yang dianggap ada bibit bencana kalau
tidak dibinasakan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika Siong Leng Tojin ingat Lo In, si bocah itu waktu sedang
mengintip jendela. Cepat-cepat ia jauhkan diri waktu ia dengar
dirinya akan dicari di sebelah luar, menyelingkar dibaliknya
sebuah pohon besar.

Pemeriksaan dilakukan sangat teliti, bukan saja diatas pohon-


pohon karena di duga Lo In ngumpat di atas pohon, juga batu
besar itu, dibelakang mana Lo In pernah mengumpat telah
diselidiki dengan seksama.

"Untung aku sudah tidak sembunyi disitu." kata Lo In dalam


hati kecilnya, waktu melihat batu besar itu diperiksa keras.

Hasilnya mereka laporkan pada Siong Leng Tojin, tak dapat


mencari Lo In setelah uber-uberan dicari.

Setelah mayat Ji-ok Cui Kin ditanam, mereka lalu


meninggalkan tempat itu pada esok paginya terang tanah.
Toa-ok jalan sambil panggul tubuhnya Sam-ok Cui Seng yang
kutung kaki kanannya.

Mereka tidak memusingkan kemana perginya Kim Popo sebab


mereka masing-masing sudah tahu adatnya si nenek yang
angin-anginan, setiap waktu ia pergi tak pernah
memberitahukan bahwa ia akan pergi ke mana.

Setelah keadaan aman, barulah Lo In berani memasuki


rumahnya.

Tampak olehnya, keadaan dalam rumah morat marit, bekas


diaduk-aduk kawanan penjahat, hatinya bukan main sedihnya.

Lo In dijatuhkan diri di kursi malas, yang biasa Liok Sinshe


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

rebahan, otaknya berputar, memikirkan hidupnya yang


seterusnya tanpa orang melindungi dirinya.

Air matanya mengembeng, sakit hatinya, tangannya


dikepalkan.

"Aku akan membalas dendam akan kematiannya Liok Sinshe


!" ia berkata sendirian, matanya beringas dan tangannya
dikepal-kepalkan.

Lucu kelihatannya kalau anak kecil lagi lagi.

Kapan ia ingat akan nasehat Liok Sinshe bahwa ia harus


berlaku tenang jika menghadapi sesuatu urusan, biar
bagaimana besar pun, maka amarahnya menjadi reda.

Sebagai gantinya, kembali ia menangis, menangis terisak-


isak.

Lo In terkenang pada masa lampau, lima tahun berselang


hidup terlunta-lunta diantara anak-anak gembel di kota
Lamkoan. Pada hari itu tengah bermain-main di pekarangan
kuil Thian-ong-sie. Tiba-tiba pundaknya ada yang tepuk.
Ketika ia menoleh, tampak seorang laki-laki berparas cakap
menatap kepadanya. Di atas alis kirinya ada tanda codet
seperti bekas barang tajam. Senyumannya yang menawan,
telah menarik sekali hatinya. Itulah orang yang belakangan ia
kenal sebagai Liok Sinshe, yang telah angkat ia dari dunia
gelandangan menjadi seorang anak yang cerdas tangkas,
yang melindungi dan mencintainya sebagai ganti ayahnya.

Masih berbayang saat itu, mula-mula ia ketika ia bertemu Liok


Sinshe.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Anak, apa kau sudah makan ?" tanyanya Liok Sinshe diwaktu
itu.

Lo In menggelengkan kepala.

"Apa mau makan ?" tanya Liok Sinshe.

Lo In mengangguk.

"Mari ikut aku !" kata Liok Sinshe berbareng tangannya Lo In


dipegang, diajak berlalu dari situ untuk kemudian mereka
memasuki sebuah rumah makan.

Lo In menurut disuruh duduk diatas bangku yang kitari meja


makan. Setelah pesan makanan, Liok Sinshe berkata lagi
pada Lo In, "Anak, kau begini kurus."

Lo In tidak menjawab. Kepalanya nunduk, mengawasi bajunya


yang kumel dan robek disana sini.

"Ayah dan ibumu ada dimana ?" tanya Liok Sinshe memancing
si bocah bicara.

Lo In geleng kepala. "Akut idak tahu ayah dan ibu dimana."


sahutnya kemudian.

Sementara itu, pelayan sudah siapkan hidangan di atas meja.

Lo In awasi makanan di depannya. Ia menelan ludah, mengilar


dia rupanya.

Liok Sinshe memperhatikan anak gembel itu, kurus dan pucat


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mukanya. Pakaiannya compang camping, hatinya merasa


sangat kasihan.

"Mari kita makan !" mengajak Liok Sinshe seraya mulai


pegang sumpitnya.

Lo In tidak perlu diundang dua kali, sebab segera ia pegang


sumpit dan mulai cobai makanan yang barusan membuat ia
menelan ludah saking kepingin cicipi. Ia makan banyak, malah
dua kai ia minta tambah nasi.

Liok Sinshe ketawa menampak perbuatan Lo In yang lucu,


simpati serta gerakannya ada cekatan sekali.

"Eh, namamu siapa ?" tanya Liok Sinshe.

"Namaku In, orang bila aku she Lo" jawabnya, mulutnya penuh
nasi.

Geli hatinya Liok Sinshe melihat Lo In yang gembul


makannya.

"Bagus," kata Liok Sinshe. "Kau mau ikut aku ?"

"Kemana ?" Lo In balik menanya.

"Kemana saja." sahut Liok Sinshe. "Kita jalan-jalan melihat-


lihat keramaian kota diberbagai tempat."

Lo In meletakkan sumpitnya, mengawasi sebentar pada orang


didepannya.

"Mau, aku mau !" katanya kegirangan.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Demikian, sejak itu Lo In ikut mengembara dengan Liok


Sinshe ke berbagai tempat, kemudian menetap diatas jurang
Tong-hong-gay.

Melebihi dari dugaannya sendiri, Liok Sinshe lihat kecerdikan


dan ketajaman otaknya Lo In ada luar biasa. Tiap pelajaran
baik surat maupun ilmu silat, belum pernah diulang sampai
tiga empat kali. Paling banyak dua kali sudah cukup, ini juga
kalau ruwet.

Lo In ternyata ada satu anak yang jenaka, banyak menghibur


hatinya Liok Sinshe dikala dalam kesunyian merenungkan
nasibnya yang terumbang ambing.

Semakin Lo In tambah umur, Liok Sinshe tampaknya semakin


sayang pada si bocah hingga Lo In dapat mewariskan
kepandaiannya Liok Sinshe salam ilmu surat dan ilmu silat
yang lihai. Sayang ia masih anak-anak hingga belum dapat
digembleng tenaga dalamnya, kalau tidak, ia sudah selihai
Liok Sinshe, malah ada kemungkinan ia lebih gesir dan cepat
lagi.

Meskipun demikian, pelan-pelan Liok Sinshe memulai dengan


gemblengannya tenaga dalam (lwekang). Dimulai ketika
umurnya Lo In meningkat sepuluh tahun. Maka ketika ada
penyerbuan dari Siauw-san Ngo-ok dengan kawan-kawannya
itu adalah dikala Lo In baru dapat gemblengan lwekang dua
tahun lamanya.

Sebenarnya Lo In ingin membantu Liok Sinshe waktu


dikerubuti. Cuma saja, selain ia ragu-ragu akan
kepandaiannya sendiri, yang terutama ia takuti Liok Sinshe
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tegur dan marahi padanya, tidak menurut perintah untuk lari


menyelamatkan diri.

Maka juga ia tinggal mengintip nonton saja pertarungan seru


itu. Ia perhatikan betul gerak gerik Liok Sinshe
mempraktekkan kepandaian yang telah diajarkan padanya.
Inilah yang membangkitkan nyalinya jadi besar, untuk dalam
usia yang masih anak-anak kelak ia dapat menjatuhkan lawan-
lawan dari penolongnya (Liok Sinshe).

Sekarang Liok Sinshe sudah tidak ada lagi dalam dunia,


kemana Lo In harus pergi ? Apakah ia tinggal tetap saja di
atas jurang Tong-hong-gay untuk meyakinkan ilmu tenaga
dalamnya lebih jauh ?

Pusing kepalanya Lo In memikirkan itu semua.

Tiba-tiba ia rasakan perutnya bergeruyukan minta makan.

"Kurang ajar, orang sedang kesusahan, ada-ada saja !" ia


berkata sendirian, menyesalkan perutnya yang menyelak
diantara alunan ngelamunnya.

Sambil berkata begitu, Lo In bangkit dari duduknya, masuk ke


ruang belakang untuk cari makanan. Sebentar lagi tampak ia
sudah pegang satu potong besar kue. Sambil mengganyang
ransum kering itu ia berjalan keluar.

Maksud Lo In mau duduk ngelamun di atas kursi malasnya


Liok Sinshe tapi sekonyong-konyong ia merandak jalan dan
berdiri terpaku seperti ada apa-apa yang tiba-tiba mundul
dalam ingatannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Matahari pagi sudah mulai naik tinggi, sementara Lo In berdiri


terpaku. "Tidak, tidak. Aku tidak percaya dia mati !" ia
menggumam.

Lo In tidak jadi menghampiri kursi malas. Sebaliknya, ia putar


tubuhnya dan jalan mendekati peti obat-obatan. Ia periksa di
dalamnya sudah berantakan. Rupaynya peti itu tidak menjadi
kekecualian diaduk-aduk oleh Kim Popo yang mencari buku
ilmu menotok jalan darah, Tiam-hiat Pit-koat.

Meskipun berantakan, botol-botol kecil yang terisi obat-obat pil


dan puder (bubuk) tidak sampai berceceran, semuanya masih
utuh. Lalu ia ambil botol-botol terisi obat itu, semuanya ada
enam botol, dimasukkan ke dalam kantongnya.

Sebelum Lo In bertindak, tangannya yang kanan dimasukkan


pula ke dalam sakunya dari mana ia keluarkan dua botol yang
berisi pil dan puder. Tangannya diangkat tinggi-tinggi, matanya
memandang tajam pada dua botol itu. Tiba-tiba ia berteriak
kegirangan, "Hidup, hidup. Dia masih hidup. Ha ha ha !"

Tampak si bocah berjingkrakan seperti orang gila.

Apakah Lo In sudah hilang ingatannya ? Apa ia sudah jadi gila


mendadak ? Kalau tidak, kenapa ia berjingkrakan sekonyong-
konyong ?

Tidak, Lo In tidak gila. Saking girangnya, setelah ia berpikir


bahwa Liok Sinshe akan ketolongan dengan dua rupa obat
ditangannya tadi, maka ia jadi berjingkrak-jingkrak. Maklumlah
anak masih kecil yang kegirangannya meluap-luap.

Di lain saat, kelihatan ia sudah berlari-larian menuju ke tepi


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

jurang. Tapi di tengah jalan tiba-tiba ia rem larinya, lalu putar


tubuh dan balik kembali.

Benar-benar lucu kelakuannya si bocah Lo In. Apa maunya Lo


In balik lagi ? Oh, kiranya ia balik ke rumahnya mengambil
pedangnya Liok Sinshe yang disimpan rapi di balik pintu. Itu
adalah satu pedang pendek, hanya kira-kira dua kaki
panjangnya ketika Lo In hunus dari sarungnya.

Pedang itu tidak mengkilap sinarnya, seperti kebanyakan


pedang-pedang dari jago-jago Sungai Telaga (kang-ouw),
hanya kebiru-biruan kalau terkena sinar matahari. Bentuknya
tidak menarik, hingga pantas sekali kalau ia menjadi penghuni
dalam sarung yang sudah kumel. Entah sudah berapa puluh
tahun pedang itu dipakai oleh Liok Sinshe dalam hidupnya
malang melintang dalam dunia Sungai Telaga.

Siong Leng Tojin dan kawan-kawannya ketika melewatkan


sang malam dalam rumah itu dengan pintu terpentang. Coba
kalau ketika itu, pintu itu ditutup. Pasti senjata tajam Liok
Sinshe akan dibeslag, meskipun bentuknya jelek, demikian
pandangan Lo In si bocah.

"Kenapa Liok Sinshe pakai pedang beginian ?" tanya Lo In


pada dirinya sendiri, seraya membulak balik memeriksa.

Ia baru pertama kali melihat senjatanya Liok Sinshe, selama ia


ikuti penolongnya itu. Yang menarik hatinya si bocah adalah
bobotnya pedang itu enteng sekali, maka ia memasuki pula ke
dalam sarungnya, ia gantung di pinggangnya lalu jalan mundar
mandir dengan sikap perwira.

Sok aksi anak itu, tapi lucu laga lagunya dasar anak-anak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sayang Liok Sinshe tidak ada. Coba ada, tentu akan


terpingkal-pingkal melihat Lo In dalam gayanya sendiri
menjual aksi.

Lo In dilain saat sudah berada diluar rumah, dengan di


pinggangnya menyandang pedang. Bocah itu dalam usia
meningkat dua belas tahun, tubuhnya kurus dan lebih tinggi
dari anak-anak biasa dalam usia pantarannya. Maka, kelihatan
pantas sekali pedang warisan Liok Sinshe itu tergantung di
pinggangnya yang ceking.

Ia berdiri sejenak di depan rumah. Matanya memandang ke


sekitarnya, kemudian gerakin kakinya melangkah. Ternyata
kali ini ia bukannya lari ke tepi jurang, hanya ia lari
menghampiri batu besar yang semalam ia pakai sembunyikan
diri. Di depan batu mana kira-kira satu tindak jauhnya, ia
hunus pedangnya lalu jongkok untuk menggali tanah.
Sebentar lagi, ditangannya sudah terpegang satu kotak
persegi empat dari ukuran empat cun dan tinggi dua cun.
Setelah dipandang, ia mau masukkan barang itu ke dalam
sakunya tapi berbarang pada saat itu ia kaget dan lompat
mundur mendengar suara orang ketawa di balik batu.

"Hi hi hi ! Anak kecil, serahkan barang itu pada nenekmu."


demikian Lo In dengar orang berkata, segera berkelebat tubuh
dari balik batu, siapa ternyata ada si nenek jelek Kim Popo.

Lo In kenali si nenek yang mengaku membokong Liok Sinshe.

Amarahnya timbul seketika. "Nenek jahat, kau mau apa ?"


tegurnya kasar.

"Begini caranya kau sambut nenekmu ?" kata Kim Popo


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seraya tertawa haha-hihi.

"Mana aku ada punya nenek jahat sepertimu." ejek Lo In.

"Jangan banyak cakap, bocah ! Lekas serahkan barang


ditanganmu !" teriak si nenek. Kelihatannya marah bila
dikatakan nenek jahat.

"Kau mau ini ?" Lo In tanya sambil angkat kotak tadi


ditangannya.

"Mari kasih aku." Kim Popo sambil sodorkan tangannya untuk


menjambret.

Lo In tarik pulang tangannya. "Hmm ! Nenek jahat, tidak


semudah itu !" katanya.

Kim Popo rada-rada heran melihat jambretannya gagal. Sebab


menurut pendapatnya, ia sudah bergerak cepat. Tapi si bocah
kelihatan lebih cepat pula menarik tangannya. Ia penasaran. Ia
lompat menubruk untuk merampas barang ditangannya Lo In,
tapi untuk kedua kalinya ia dibuat gregetan karena Lo In sudah
dapat berkelit dengan manis dari terkaman.

"Bocah ini licin seperti si tabib busuk. Aku tidak boleh


sungkan-sungkan lagi !" dmeikian pikirnya Kim Popo dalam
hati. Segera ia gunakan tipu Ki ong pek touw atau elang lapar
menyambar kelinci, dua tangannya yang berkuku runcing
menyambar berbareng mencengkeram dada Lo In. Satu jurus
yang agak ganas untuk digunakan terhadap anak kecil.

Namun si nenek tidak memikir ke situ, ia hanya ingin


menyingkat waktu, barang yang diingini itu lekas pindah dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangannya.

Lo In tahu bahayanya serangan itu, tapi ia tidak takut. Pikirnya


denagn ia majukan dua tangan menangkis, keras lawan keras,
rasanya serangan si nenek dapat dipatahkan. Tapi Lo In lupa
memperhitungkan bahwa tenaga dalamnya kalah jauh di
banding dengan si nenek. Maka tidak heran ia segera rasakan
kelalaiannya, ketika tangannya bentrok dengan tangan si
nenek, ia rasakan dadanya tergentar dan tubuhnya terlempar
jumpalitan sampai sepuluh tindak.

Cepat Lo In bangun tapi dadanya dirasakan masih sesak. Si


nenek, sementara itu sudah lompat maju, berdiri di depannya.
"Bocah bau, kau rasakan nenekmu punya lihai,ya ?" katanya
dengan suara menjengeki.

Lo In tidak berani menjawab sebab ia tengah coba memeras


tenaga dalamnya untuk mendorong pergi rasa sesak dalam
dadanya.

Begitu ia rasakan enak dadanya, tiba-tiba ia rasakan


tangannya dicekal orang.

"Keluarkan hayo keluarkan barang itu !" perintah Kim Popo.


Tangannya si nenek yang mencekal tangannya dirasakan Lo
In seperti sepitan besi.

Lo In mengawasi Kim Popo dengan sorot mata benci.

Melihat anak kecil itu membandel, Kim Popo tidak sabaran.

"Kau masih belum mau keluarkan ?" katanya. Tangannya


dipakai memencet lebih keras hingga butiran-butiran keringat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada merembes keluar dari lubang-lubang tubuhnya Lo In,


saking ia menahan sakit.

Bandel dan keras kepala anak itu. Ia lebih suka menahan rasa
sakit dari pada menangis keluarkan air mata. Matanya
menyala seperti berapi, tapi meluanpnya napsu membunuh ini
hanya sejenak sebab segera tampak ia kalem lagi. Pelan-
pelan ia merogoh sakunya dan dikeluarkan kotak yang
barusan ia gali.

"Nenek jahat, tuh kau boleh gegares !" kata Lo In kasar sambil
melemparkan kotak yang dipegangnya.

Kim Popo lepaskan cekalannya lalu memungut barang yang ia


impi-impikan itu ialah buku mungil 'Tiam-hiat Pit-koat' di dalam
kotak itu.

"Hehe, akhirnya kau menyerah juga bocah !" kata si nenek


sambil coba buka kotak tadi tapi susah terbuka seperti ada
kuncinya.

"Hahaha !" kedengaran Lo In tertawa tiba-tiba.

"Kau ketawai apa ? Lekas serahkan anak kuncinya !" bentak si


nenek.

"Hahaha !" kembali Lo In tertawa.

Kim Popo naik pitam. "Binatang cilik, kau main gila........!"


bentaknya.

"Kau kira hanya kita berdua disini ?" potong Lo In, air mukanya
bersenyum.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kim Popo sudah siap menyerang Lo In tapi hatinya gentar


mendengar kata-katanya si bocah, memotong bicaranya.

"Memangnya ada siapa lagi ?" ia menanya.

"Masih ada yang belum mati dibokong olehmu. Hahaha, si


nenek jahat kena perangkap." Lo In tertawa terbahak-bahak
hingga menimbulkan rasa takut si nenek meningkat.

Pikirnya, apa benar Liok Sinshe tidak mati ? Celaka ia kalau


benar-benar mereka menggunakan perangkap. Liok Sinshe
sudah pasti tak dapat mengampuni perbuatannya yang
telengas membokong orang.

Melihat Kim Popo seperti yang ketakutan, menengok sana sini


sambil memegangi kotak lebih erat, seolah-olah yang takut
dirampas orang. Lo In berkata pula, "Nenek jahat. Kau masih
tunggu apa lagi. Tidak mau lepaskan kotak ditanganmu itu ?"

"Kau mau mempermainkan aku ? Kau membokong orang. Apa


Liok Sinshe tidak akan menagih ?" sahut Lo In dan ia tekankan
suaranya menjadi keras diwaktu menyebut 'Liok Sinshe'.

Justru tekanan suara 'Liok Sinshe' itu yang membikin


semangatnya Kim Popo hampir terbang seketika. Maka lantas
saja ia geraki kakinya melompat kabur. Sebelum jauh, Lo In
yang jail sudah ambil batu kecil dan disentilkannya, jitu
mengenakan sasaran diarah atas sedikit dari kibulnya hingga
dirasakan sangat sakit. Dan ini dianggap Kim Popo ada Liok
Sinshe yang melakukannya hingga ia lari lebih kencang lagi.
Lo In tertawa geli menyaksikan Kim Popo lari terbirit-birit
ketakutan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sebenarnya tidak ada Liok Sinshe. Si nenek hanya takut


bayangannya sendiri saja lari ketakutan. Tadi, ketika dipencet
tangannya oleh Kim Popo, Lo In menyala matanya seperti
yang mengeluarkan apai, napsu dari pembunuhan. Tapi hanya
sejenak ia sudah jadi sabar lagi. Itulah ia ingat akan pesan
Liok Sinshe yang berkata kepadanya, "Anak In, jika kau
menghadapi sesuatu yang genting, harus berlaku tenang.
Sebab ketenangan yang menimbulkan jalan pemecahan !"
Kata-kata Liok Sinshe ini yang mengiang ditelinganya waktu
itu hingga dari meluap amarahnya ia menjadi kalem dengan
tiba-tiba. Dan kemudian timbul dalam otaknya yang cerdik
suatu pikiran yang baik untuk menggertak si nenek lari
tunggang langgang dengan cuma menyebut namanya Liok
Sinshe.

Kejadian itu ialah begitu mudah si nenek kena digertak,


sungguh diluar dugaan Lo In. Sebab ia tidak tahu memang si
nenek jeri betul-betul pada Liok Sinshe sebagai akibat
kesudahannya pertempuran pada lima tahun berselang
dimana Kim Popo dipecundangi dengan sangat mudahnya
ketika si nenek hendak merampas buku rahasia ilmu menotok
jalan darah 'Tiam-hiat Pit-koat' dari tangannya si kakek she
Kong.

Lo In kemudian menghampiri pedangnya yang menggeletak


ditanah lalu memungutnya, disorong lagi di pinggangnya yang
ceking. Kali ini ia tidak balik ke rumahnya hanya memutar
tubuh lari ke jurusan tepi jurang. Ia berlari-larian di tepi jurang
yang curam itu sampai kemudian ia berhenti disuatu tempat
yang ada bekas-bekas seperti disitulah Liok Sinshe sudah
tergelincir masuk ke dalam jurang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia melongok ke bawah. Benar-benar jurang sangat curam.


Entah berapa dalamnya dan didasarnya yang merupakan
lembah, apa tidak ada banyak binatang buasnya.

Tapi Lo In adalah lanak yang besar nyalinya. Ia tidak takut. Ia


lebih perhatikan keselamatan Liok Sinshe dari pada bahaya
yang bisa mengancam pada dirinya sendiri.

Dengan berani Lo In merosot turun sambil memegangi pada


akar-akar rotan yang tumbuh merembet di sana sini. Pelan-
pelan ia terus turun ke bawah. Dengan kepandaian entengi
tubuh ajarannya Liok Sinshe, ia lompat sana sini dan akhirnya
sampai juga ia pada tujuannya, di dasarnya jurang. Ia
celigukan ke sekitarnya. Ia dapatkan banyak pepohonan yang
rindang. Mendengak ke atas, tampak tebing jurang ada sangat
curam.

"Bagaimana aku bisa naik ke atas nanti ?" tanyanya pada diri
sendiri, melihat tepi jurang ada demikian tinggi kelihatan dari
sebelah bawah.

Tapi Lo In tidak mau ambil pusing hal kembali naik keatas.


Yang penting ia harus mencari Liok Sinshe. Tapi dimana ia
harus mencarinya ?

Lekas ia gerakin kakinya, mulai mencari Liok Sinshe, orang


yang sangat cintai. Pikirnya, bagaimana pun ia harus
ketemukan tubuhnya Liok Sinshe, baik dalam keadaan
selamat maupun sudah mati.

Kita balik sebentar, melihat Kim Popo yang lari tunggang


langgang ketakutan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Setelah lari jauh, ia berhenti di bawah sebuah pohon besar


yang rindang daunnya, dimana ia meneduh dengan adem,
menyingkir dari terik panasnya matahari yang waktu itu tengah
mencorong menerangi jagat.

Ia taruh tongkatnya yang berat disampingnya.

Lewat sesaat ia duduk, lantas tangan kirinya merogoh


kantongnya. Dikeluarkan kotak yang ia rampas dari tangan Lo
In. Mukanya berseri-seri, rupanya ia sangat puas dengan
pekerjaannya yang berhasil.

Entah terbuat dari apa, kotak itu kelihatannya sangat kuat tapi
bobotnya enteng sekali. Ia periksa dengan seksama, karena
kotak itu tak dapat dibuka, ia lantas dapatkan ada sebuah
lubang kecil. Pikirnya, disinilah ada lubang kuncinya. Harus ia
dapatkan anak kuncinya. Kalau tidak, cara bagaimana ia bisa
membukanya. Di samping kegirangan, ia mendongkol dan
penasaran. Ia coba membukanya dengan paksa tapi
bagaimana juga kotak tak dapat dibuka.

"Sialan !" ia mengeluh. "Dengan begini aku mesti kerja lagi


untuk dapatkan anak kuncinya." ia meneruskan kata-katanya
sambil membanting kotak itu sekerasnya.

Justru dibanting, kotak itu menjadi terbuka sendirinya. Dari


dalam lompat keluar sebuah buku yang bentuknya mungil.

Matanya Kim Popo terbelalak saking heran. Ia tertegun


sejenak.

Karena ini, ia terlambat mengambil buku yang diimpi-impikan


sebab lain tangan sudah mencomotnya lebih dahulu. Itulah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangan orang yang lompat dari atas pohon, dengan sebat


sekali sudah dahului Kim Popo mencomot buku mungil yang
mencelat keluar dari kotaknya. Kim Popo tercengang oleh
karenanya.

Kapan ia mengawasi orang di depannya, kiranya ia ada satu


thauto (pendeta yang piara rambut panjang) bermuka bengis.
Dua anting-anting besar yang menghias di telinganya
berkerincingan kalau ia geleng-geleng kepalanya, ramai
kedengarannya.

Si nenek menjadi sangat gusar. "Binatang, kau berani rampas


barangku ?" ia membentak sambil lompat menubruk si thauto
untuk merampas pulang buku yang dicomot si thauto tadi.

Tapi tubrukannyaKim Popo kecele sebab dengan elakan


badannya sedikit saja, Kim Popo telah menubruk angin. Gesit
sekali caranya si thauto bergerak.

Tentu saja Kim Popo yang adatnya angin-anginan, marahnya


menjadi-jadi.

"Binatang, kembalikan barangku ! Kalau tidak, hmm !" bentak


Kim Popo, hatinya penasaran barusan tubrukannya gagal.

"Kau ingin dapat pulang barangmu, harus tanya dulu orangku."


sahut si thauto.

Kim Popo kertak gigi, meskipun giginya sudah sisa tidak


seberapa lagi.

"Mana dia orangmu ?" bentaknya sengit.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ini dianya..... ha ha !" sahut si thauto seraya unjuk dua


kepalannya yang besar, mirip buah kelapa kata bohongnya.

"Bagus !" kata Kim Popo mendelu, dadanya dirasakan hampir


meledak.

"Siapa bilang jelek ?" menggoda si thauto. Rupanya orang


jenaka juga.

Habis sabarnya Kim Popo, matanya mendelik hingga


romannya tambah jelek.

"Binatang, lihat seranganku !" serunya, sambil menerjang


dengan tipu pukulan 'Hui heng tong lay' -- 'Angin taufan
menghembus dari Timur', kepalan tangan kanannya mengarah
dada disusul dengan tangan kirinya menyamber orang punya
iga kanan. Cepat serangan saling susul ini datangnya tapi si
thauto tidak gugup. Tangannya yang besar dibuka untuk
menangkap kepalang lawan, sedang iga kanannya yang
diarah dibiarkan saja menjadi sasaran totokan jarinya Kim
Popo.

"Aiyoo !" teriak si nenek tiba-tiba sambil lompat mundur.

Si thauto tidak balas menyerang, hanya berdiri sambil


terbahak-bahak ketawa mengawasi Kim Popo yang teraduh-
aduh seraya tangan kanannya memegangi dua jari tangan
kirinya yang barusan dipakai menotok.

Dengan tipu pukulan 'Angin taufan menghembus dari Timur',


Kim Popo ingin sekali gebrak saja menjatuhkan si thauto yang
kurang ajar. Ketika kepalannya hendak disambut dengan
tangan si thauto yang besar, ia melihat bahaya, maka ia cepat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tarik pulang. Tapi tangan kirinya ia teruskan nyelonong ke iga


musuh.

Pikirnya, si thauto tidak membuat penjagaan pada bagian ini,


sudah pasti totokannya akan berhasil membikin lawannya
terkulai rubuh. Tapi kesudahannya ada lain, si nenek telah
menelan pil pahit. Dua jarinya yang dipakai menotok iga
musuh dirasakan seperti menotok tiang besi, sakitnya bukan
main sampai menyusup di ulu hati.

Melihat serangannya gagal, maka cepat ia lompat mundur


sambil berteriak "Aiyoo !", saking tak tahan menahan sakitnya.

Tapi Kim Popo, dasar si nenek bandel. Kalau hanya begitu


saja ia sudah mesti jadi pecundang, maka sebentar lagi
setelah ia memeras tenaga dalamnya buat usir rasa sakit tadi,
segera ia kembali lakukan penyerangan.

"Hahaha, nenek jelek !" goda si thauto. "Masih berani melawan


?"

"Kiramu mukamu bagus ?" sahutnya menjerit saking


mendongkol.

Kata-katanya Kim Popo disusul dengan serangan gesit. Ia


keluarkan ilmu entengi tubuhnya untuk melayani si thauto
yang bertubuh tinggi besar. Pikirnya, si thauto rupanya ada
punya ilmu 'tiang-pou-san' (ilmu kebal). Tubuhnya keras
laksana besi, maka ia harus mencari kelemahannya yaitu
dibagian matanya.

Demikian, setelah bertempur sepuluh jurus, Kim Popo


gunakan kepalannya yang kiri pura-pura menjotos ke arah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

perut, sedang sasarannya yang sebenarnya adalah sepasang


matanya lawan. dua jari tangan kanannya, telunjuk dan tengah
dengan sebat meluncur akan mengorek sepasang biji mata si
thauto. Serangannya ini yang dinamai 'Lo wan tou ko' atau
'Lutung tua mencuri buah'.

Cepat sih memang cepat gerakannya Kim Popo, cuma


sayang, kembali ia dapat kerugian. Kepalan kirinya yang pura-
pura menjotos kena ditangkap tangan si thauto, sedang dua
jari tangan kanannya belum sampai pada sasarannya, ia
rasakan tenaga dorongan yang keras pada kepalannya yang
kena dipegang lawan. Tenaga dorongan itu benar-benar hebat
sampai ia perpelanting dan jungkir balik ke belakang. Di lain
saat, ketika ia sudah dapat tancap pula kakinya ditanah, ia
rasakan sekujur tubuhnya gemetaran dan dadanya sesak.

Untung lwekangnya cukup tinggi hingga tidak sampai


mendapat luka di dalam.

Meskipun demikian, nyalinya ciut seketika. Untuk melawan lagi


si thauto jagoan itu, pikirnya tidak mungkin. Maka setelah ia
rasakan badannya kembali normal, ia lantas saja putar
tubuhnya dan lari. Persis seperti tempo hari ia tunggang
langgang dipecundangi Liok Sinshe.

"Haha, nenek jelek, kau mau lari !" Kim Popo dengar suaranya
si thauto.

Berbareng dengan ditutup kata-katanya, tampak si thauto


geleng-geleng kepalanya. Sepasang antingnya segera
melesat berbareng menyusul Kim Popo.

Si nenek hanya berkaok satu kali lantas kelihatan tubuhnya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terkulai dan mendeprok di tanah. Seluruh tubuhnya dirasakan


lemas.

Kiranya, sepasang anting-anting dikedua telinganya itu adalah


senjata rahasianya si thauto. Sungguh lihai senjata rahasia itu.
Cuma dengan geleng-geleng saja, sepasang anting-anting itu
meleset laksana kilat hingga membuat Kim Popo semaput
jatuh di tanah. Tidak mudah menggunakan senjata rahasia
yang aneh itu kalau lwekang pemiliknya tidak tinggi. Sebab
barang itu baru dapat melesat dari kuping di dorong oleh
tenaga dalam yang istimewa.

Si thauto tertawa gelak-gelak melihat si nenek sudah tidak


berdaya.

Ketika matanya melirik ke tanah, ia melihat kotak tempat buku


menarik perhatiannya. Maka ia lantas pungut dan diperiksa.
Kemudian rogoh sakunya, keluarkan itu buku mungil, dipaskan
dalam kotak. Tiba-tiba kotak itu menutup seketika hingga si
thauto kaget bukan main. Entah bagaimana rupanya ada alat
rahasianya yang ketekan. Maka kotak itu otomatis menutup
buku yang ditaruh di dalamnya.

Si thauto dari kaget menjadi ketawa girang melihat kemujijatan


kotak dapat menutup sendiri. Maka ia lalu masukan kotak itu
ke dalam sakunya. Pikirnya, pada suatu kesempatan ia akan
membukannya nanti. Setelah mana ia menghampiri Kim Popo,
memungut sepasang anting-antingnya yang jatuh tidak jauh
dari si nenek dan dipakainya kembali.

Thauto itu bengis romannya, menakuti tapi orangnya benar-


benar jenaka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Nenek bagus, bagaimana sekarang ?" ia menanya dengan


senyum dikulum.

Ia godai Kim Popo tidak lagi ia menyebut 'nenek jelek' tapi


diganti jadi 'nenek bagus'. Enak kedengarannya tapi tidak
enak berkumandang ditelinganya si nenek. Anggapnya ia telah
disindir, maka matanya jadi mendelik.

"Sudah aku berlaku murah barusan, tidak mengambil jiwamu,


apa kau masih kurang terima ?" berkata si thauto.

"Hmm ! Murah hati !" menggerutu Kim Popo.

"Memang," berkata lagi si thauto. "Kalau aku berlaku kejam,


barusan anting-antingku mengarah pada jalan darah kematian
di bebokongmu. Apa ini aku sudah tidak berlaku murah ?"

"Hmm !" mendengus si nenek. "AKu Kim Popo tidak rela


dijatuhkan oleh lawan dengan jalan membokong."

"Habis kau mau apa ? tanya si thauto, geli hatinya nampak


orang kepala batu.

"Kalau kau berani, merdekakan aku sekarang !" sahutnya


ketus.

"Jadi ? Kau mau bertempur lagi ?" tanya lagi si thauto.

"Tidak ! Saat ini aku terima kalah. Tapi lihat, tiga tahun lagi
akan kucari kau untuk menetapkan siapa unggul !" sahut Kim
Popo tengik laganya.

Si thauto tertawa terbahak-bahak lalu tanpa menghiraukan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kim Popo yang masih duduk mendeprok, ia tinggal pergi.

"Binatang, kau mau siksa aku dengan cara begini !" teriak Kim
Popo, matanya terbelalak keheranan melihat dengan begitu
saja meninggalkan dirinya.

"Lagi dua jam totokan pada jalan darahmu akan hilang


sendirinya. Kau nenek bandel, mesti dihukum dijemur
dipanasnya matahari dua jam. Hahaha !" demikian terdengar
kata-kata si thauto, meskipun sudah jalan jauh kedengarannya
tegas sekali kuping Kim Popo hingga ia jadi terkejut. Pikirnya,
thauto itu hebat sekali tenaga dalamnya sampai bisa mengirim
suara dari jauh.

Terpaksa Kim Popo, si bandel, mesti menanti dua jam


dibawah panasnya matahari untuk mendapat
kebebasannya.....

Kita kembali kepada Lo In yang tengah mencari Liok Sinshe di


lembah dari jurang Tong-hong-gay.

Dengan hati-hati ia mencari dipinggir-pinggiran lalu pelan-


pelan sedikit ke tengah, tapi belum juga ia dapatkan tanda-
tanda yang mengunjuk dimana adanya Liok Sinshe. Kadang-
kadang ia mendongak ke atas mengawasi diantara tebing-
tebing dengan pengharapan matanya akan bentrok dengan
gerakan sesuatu disana. Tapi sia-sia saja pengharapannya,
malah cuaca pelan-pelan tanpa disadari sudah mulai gelap.

Bermula Lo In kebingungan, bagaimana ia dapat naik pula ke


atas, sedang hari sudah berubah menjadi malam ? Tapi
belakangan hatinya menjadi senang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In tidak memikirkan untuk kembali ke rumahnya lagi. Yang


penting, ia harus cari terus Liok Sinshe sampai dapat
diketemukan.

Untuk mengisi perutnya yang lapar, Lo In sudah banyak petik


buah-buahan dimasukkan dalam perutnya. Ia rasakan lebih
segar dan nyaman perutnya diisi buah-buahan dari pada diisi
kue atau nasi.

Untuk menghindarkan gangguan dari binatang buas maka


malam itu Lo In tidur diatasnya sebuah pohon yang banyak
cabang dahannya. Di atas dahan yang merupakan
pembaringan baru, mana Lo In dapat cepat-cepat pulas.
Pikirannya melayang-layang, mengingat-ingat tempat-tempat
yang dijelajahinya dalam menemui Liok Sinshe, ia harus
mencari suatu tempat yagn aman. Dimana ia bisa bersemedhi
setiap malam untuk meyakinkan tenaga dalamnya. Sebagai
satu anak yagn bernyali besar Lo In merasa penasaran Kim
Popo yang sudah memencet tangannya sampai ia
mengeluarkan keringat dingin.

(Bersambung)

Jilid 02

Pikirnya, nanti suatu waktu kalau lwekangnya sudah mahir ia


akan cari si nenek buat diajak berkelahi lagi. Sebenarnya Lo In
belum tentu kalah kalau ia layani si nenek dengan
kegesitanya, jangan mengadu tenaga. Yang membuat ia
pecundang adalah karena ia coba-coba adu tenaga dengan
Kim Popo, yang sudah tentu bukan tandingannya.

Dalam keadaan tiduran, kupingnya tiba-tiba mendengar suara


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

gedebukan, datangnya dari sebelah selatan. Suara apa itu ? Ia


pasang telinganya lagi, saban kira 1-2 menit ia degnar suara
gedebukan itu.

Di dorong oleh perasaan ingin tahu, ia turun dari atas pohon.

Pelan-pelan ia hampiri tempat dimana ada suara gedebukan


tadi.

Setelah jalan beberapa lama, suara gedebukan itu makin


nyata. Rupanya jaraknya sudah tidak jauh lagi. Maka Lo In
rada cepatin jalannya. Segera dari kejauhan ia nampak seperti
ada dua sinar menyorot ke arahnya.

"Apa itu ?" tanyanya pada diri sendiri.

Ia menduga akan binatang macan. Sebab menurut Liok


Sinshe, matanya macan suka mencorong kalau diwaktu
malam.

Hati Lo In tabah, nyalinya besar, ia tidak takut. Ia menghampiri


lebih dekat. Kiranya itu bukannya macan hanya seekor burung
yang luar biasa besarnya, tengah kebut-kebutkan sayapnya ke
tanah. Suaran gedebukan itu tiada lain dari pada sayapnya si
burung tadi yang dihantamkan ke tanah.

Lo In terus mengintip, ingin tahu apa maunya si burung yang


besar luar biasa itu mengebut-ngebutkan sayapnya ke tanah.

Ia ingat, kalau ia sedang main di tepi jurang sering melihat ada


burung yang luar biasa besarnya melayang-layang diatas
lembah. "Apakah bukan dianya ini ? " tanya Lo In pada dirinya
sendiri. Menurut katanya Liok Sinshe, burung sebesar itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

adalah burung rajawali yang biasa jinak dimiliki orang pandai


yang menyepi tinggalnya di pegunungan. Malah Liok Sinshe
namakan burung itu 'Kim-tiauw' atau 'Rajawali Emas' karena
patuk dan kedua kakinya kekuning-kuningan seperti emas
yang Liok Sinshe dapat lihat sendiri dari dekat pada suatu hari
ia sedang mencari daun obat-obatan di lembah itu.

Apa dia itu benar Kim-tiauw. Ingin Lo In menyaksikan dari


dekat, tapi tak dapat ia lakukan itu. Sayapnya yang memukul-
mukul tanah bukan saja menerbitkan suara gedebukan tapi
juga menerbitkan angin keras menderu. Kalau Lo In berani
datang dekat, sekali dikibas sama sayapnya, pasti tubuhnya
akan melayang entah berapa jauhnya.

Setelah memperhatikan agak lama, Lo In berpendapat si


rajawali hanya mengibaskan sayapnya yang kanan saja,
sedang yang kiri diam saja. Ia seperti mau terbang tapi tak
bisa kalau cuma satu sayap. Pikir Lo In tentu rajawali ini
mendapat luka parah pada sayap kirinya.

Hatinya merasa kasihan, ingin ia periksa lukanya. Tapi


bagaimana mendekatinya ?

Otaknya lantas bekerja mencari akal. Matanya memandang ke


sekitarnya tapi agaknya ia cemas tidak melihat jalan untuk
pemecahan. Sebenrar lagi, setelah ia tundukkan kepala ia
menengadah melihat keadaan diatasnya si rajawali.

Tiba-tiba mulutnya bersenyum, rupanya ia sudah dapat akal


untuk mendekati si rajawali yang dalam kesukaran.

Bagaimana ? Dengan gunakan gerakan ilmu entengi tubuh


'Burung walet tembusi mega', ia enjot tubuhnya mencelat dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

di lain detik sudah tampak ia berloncatan dari satu dahan ke


lain dahan pohon. Dalam tempo pendek saja, ia sudah berada
di atas pohon yang dekat sekali pada si burung rajawali. Si
burung rajawali sama sekali engan kalau ada orang yang
datang dekatinya.

Ia masih sibuk gedebukan dengan sayapnya yang kanan.

Lo In menunggu sampai sayap itu berhenti dikebaskan, pada


saat mana enteng sekali tubuhnya melayang dan mencolok di
punggungnya si rajawali yang ketika sadar ada orang
menyerang, ia sudah tidak berdaya karena jalan darah di
bagian sayap dan lehernya sudah kena ditotok oleh si bocah
yang besar nyalinya.

Ketika itu sayapnya yang kanan berhenti mengebas-ngebas


sedang lehernya sudah menjadi kaku, tak dapat digeraki
hingga ia tak dapat mematuk lawan yang berada di atas
pungggungnya. Hanya sinar matanya saja mencorong seperti
yang sedang gusar sekali.

Meskipun mendapat kesukaran karena beratnya sayap si


rajawali, juga dibawah sayapnya terdapat lukanya yang berat,
Lo In dengan gembira sudah dapat mengobati lukanya itu
memakai obatnya Liok Sinshe yang amat mustajab.

Selain obat bubuk ditabur di tempat luka, juga Lo In paksa si


rajawali menelan pilnya, setelah berkutatan lama ia membuka
patuknya.

"Tiauw-heng" kata si bocah pada si rajawali. "Aku ini


temanmu, jangan takut. Maaf, kalau aku sudah berbuat sedikit
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kasar menolong kamu !"

Gerak gerik Lo In lucu. Ia memanggil 'Tiauw-heng' atau 'Kanda


rajawali' kepada si burung garuda yang tinggal membisu saja.

Kuatir totokannya kurang kuat hingga si rajawali dapat geraki


pula sayapnya, yang menyebabkan lukanya tidak bisa rapat,
maka Lo In memberikan pula beberapa totokan sehingga
betul-betul tenaganya si burung garuda menjadi lumpuh.

Lukanya si rajawali ternyata kena panah beracun. Untung


tenaganya si burung garuda sangat kuat hingga menjalarnya
racun berjalan dengan perlahan dan keburu mendapat
obatnya Liok Sinshe yang mustajab. Kalau saja sampai
menanti besoknya lagi, terang jiwanya si rajawali tak akan
ketolongan.

Entah siapa yang begitu kejam melepaskan panah


beracunnya.

Lo In malam itu tidak jadi nginap di atas pohon yang banyak


dahannya, yang ia tinggalkan. Sebaliknya ia tidur diatas
pohon, tidak jauh dari mendekamnya si rajawali. Diam-diam ia
siap sedia menghadapi kemungkinan datangnya orang jahat
yang hendak mencelakakan si rajawali.

Tapi syukur sampai hari sudah terang tanah, tidak ada


kejadian apa-apa.

Lo In merosot turun dari atas pohon. Ia lihat si rajawali tengah


memejamkan matanya. Rupanya ia juga bisa tidur karena
tidak merasakan sakit lagi pada sayapnya yang kiri. Matanya
dibuka ketika ia mendengar Lo In berkata, "Tiauw-heng, kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

diam-diam saja mengaso. Tunggu aku akan mencari makanan


untuk kau makan."

Ia berkata sambil anggukan kepalanya seperti yang memberi


hormat kepada saudara yang tuaan. Ah, benar-benar lucu
kelakuannya Lo In.

Kemudian ia putar tubuh dan meninggalkan tempat itu.

Berkat kepandaiannya menyentil dengan batu kecil, maka


dalam tempo pendek saja Lo In sudah dapat menyentil jatuh
tiga ekor ayam hutan. Ketiga ekor ayam itu hendak ia bawa ke
tempatnya. Pikirnya, Tiauw-heng tentu gembul makannya,
tidak cukup kalau hanya 2-3 ekor ayam saja. Maka ia lalu
mencari pula ayam di lain tempat dan segera ia sudah
dapatkan lagi.

Empat dari lima ekor ayam itu, Lo In taruh di depannya si


rajawali, sedang yang seekor ia potong dan bersihkan dalam
selokan jernih, karena air gunung mengalir disitu. Kemudian ia
nyalakan api dan memanggang hasil buruannya.

Sambil panggang ayam, matanya Lo In memandang pada si


rajawali yang tinggal melotot saja mengawasi empat ekor
ayam yang ada di depannya. Ia tak dapat kerjakan patuknya
untuk menerkam hidangan didepannya itu sebab lehernya
masih belum bisa digeraki karena pengaruh totokan Lo In.

"Tiauw-heng." kata Lo In seraya bersenyum. "Kau tunggu


sebentar. Kita nanti makan sama-sama. Bukankah itu ada
lebih menyenangkan sebagai tanda terjalinnya persahabatan
diantara kita ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si rajawali yang diajak bicara hanya matanya saja yang


melotot sebagai jawaban, tapi kali ini sinarnya tidak
bermusuhan.

Setelah beres memanggang ayamnya, Lo In mendekati si


rajawali.

"Tiauw-heng, kau jangan marah. Lantaran aku ingin menolong


jiwamu maka terpaksa dalam dua tiga hari ini aku bikin kau
tidak berdaya. Kau sabarlah !" berkata Lo In sambil kemudian
dengan sebat ia menotok bebas lehernya si rajawali berbareng
ia lompat mundur takut dipatuk.

Rupanya burung itu memahami akan kebaikan hatinya si anak


kecil sebab ia tidak perhatikan Lo In lompat tapi terus saja ia
gasak empat ekor burung itu satu persatu hingga dalam
sekejapan saja telah hilang lenyap dalam perutnya.

Lo In tertawa ngakak melihat kecepatan si rajawali


memindahkan empat ekor ayam ke dalam perutnya.

Hari itu usaha Lo In tidak memberikan hasil dalam mencari


Liok Sinshe.

Pada hari ketiga, ia datang dengan roman lesu mendekati si


rajawali yang sekarang menjadi jinak. Barani ia memeluk
lehernya dan menciumi patuknya yang indah seperti emas.

"Tiauw-heng, aku mencari Liok Sinshe." ia kata pada si


rajawali. "Apa kau lihat dia ada dimana ?"

Seperti yang mengerti akan kata-kata manusia, burung itu


geleng kepalanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In makin sayang pada burung itu yang rupanya mengerti


akan omongan orang. Setelah menggelendoti tubuhnya
burung yang seperti raksasa itu, Lo In ingat akan
kewajibannya untuk memeriksa lukanya.

"Tiauw-heng, mari aku periksa lukamu." ia berkata seraya


dengan sebatnya ia menyingkap sayap burung itu, dibawah
mana ada terdapat lukanya yang parah.

Lo In kerutkan keningnya.

"Kau masih belum dapat geraki sayapmu yang terluka, Tiauw-


heng." katanya.

Sementara itu, ia keluarkan obatnya dan mulai beri obat baru


pada luka si rajawali, patuknya Lo In buka dengan tangannya
yang kecil untuk dimasukan pil mujarabnya. Sungguh heran,
burung itu menurut saja, jinak sekali dan pasrah apa yang
diperbuat Lo In. Rupanya ia mengerti akan kebaikan orang.

"Tiauw-heng, mulai saat kita ketemu, aku sudah tahu kau akan
menjadi teman sebagai gantinya Liok Sinshe. Maka
selanjutnya, harap kau selalu jangan meninggalkan aku, ya !"
berkata Lo In sambil mengelus-elus sayapnya si rajawali.

Burung itu angguk-anggukkan kepalanya, matanya merem


melek, girang rupanya ia diusap-usap Lo In dengan
kesayangan.

Pada hari keenam si rajawali sudah sembuh benar-benar dari


luka parahnya. Ia sudah dapat geraki kedua sayapnya seperti
sedia kala. Setelah terbang beberapa putaran, ia turun di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

depan Lo In lalu mendekam dan kepalanya diangguk-


anggukkan seperti yang menghaturkan terima kasih atas
pertolongannya si bocah.

Lo In dapat memahami gerak gerik si burung garuda, maka


sambil menubruk dan menciumi ia berbisik, "Tiauw-heng, kita
sudah jadi saudara. Tak usah kau mengucap terima kasih
segala."

Tangannya mengelus-elus kepalanya si rajawali, ketika ia mau


mengusap-usap patuknya tiba-tiba Lo In merasa heran. Dari
matanya burung itu ada melelehkan air mata. Entahlah,
kenapa burung itu menangis.

Lo In terharu, bukan karena apa. Ia hanya terkenang akan


dirinya Liok Sinshe. Dimanakah adanya penolong itu. Apakah
dia masih hidup atau sudah mati ? Sebab sudah hampir
seminggu ia mencari jejaknya belum juga berhasil
menemuinya.

Siapakah Liok Sinshe itu ? Apa dia Kwee Cu Gie ? Siapakah


Kwee Cu Gie itu ?

Dimana adanya kedua orang tuanya ? Mati sudah atau masih


ada dalam dunia ini ?

Kenapa Liok Sinshe begitu sayang dan memperhatikan dirinya


begitu rupa ? Apa hubungan ia dengan Liok Sinshe ?

Pusing Lo In memikirkannya itu semua. Malah jadi bertambah


sedih hingga saling peluk dengan si rajawali, menangis
sampai terdengar suaranya Lo In terisak-isak.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sang burung, rupanya ingin menghibur Lo In. Kemudian ia


mementang sayapnya akan terbang ke atas pohonjauh disana,
terpisah dari Lo In.

Lo In yang cerdik mengerti maksudnya si rajawali. Maka ia


juga telah berhenti menangis, ia gosok air matanya dengan
tangan bajunya.

Dalam hari-hari berikutnya dalam usaha mencari Liok Sinshe,


Lo In dikawal oleh si rajawali.

Senang hati Lo In. Sering ia ajak si rajawali bercanda.

Hari-hari demikian mereka bergaul, hingga keakrabannya


meningkat.

Sering atau hampir saban hari, tampak Lo In pesiar di atas


lembah sambil menunggang rajawali yang merupakan kapal
terbangnya.

Dasar anak-anak menghadapi apa yang baru, lupa pada yang


lama. Ditemani si burung raksasa, Lo In merasa aman. Betah
ia tinggal dalam lembah itu, lupa pulang ke rumahnya di atas
jurang Tong-hong-gay yang sebenarnya ia bisa pergi ke sana
dengan mudah dengan menunggang kapal udaranya 'si
rajawai'.

Soal makanan Lo In tidak kekurangan, mau ikan ia dapat di


sungai-sungai kecil yang banyak terdapat disitu. Mau daging
ayam, kelinci, babi, mudah sekali ia dapat. Cuma tinggal
perintah si rajawali yang pergi menangkapnya.

Tapi Lo In lebih senang makan buah-buahan yang terdapat


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

disitu. Ia rasakan badannya lebih segar dan nyaman dari pada


makan ikan dan daging.

Yang lucu, Lo In sudah dapat tundukkan kawanan kera liar


dalam lembah itu. Mereka kelihatan sangat berterima kasih
dan menganggap Lo In sbagai rajanya.

Dengan begitu, Lo In bertambah banyak kawan.

Bagaimana Lo In dapat tundukkan kawanan kera liar, kecil


besar ? Itulah kejadian pada suatu hari ketika cuaca mendung.
Selagi ia tiduran celentang di bawah sebuah pohon, tiba-tiba ia
dikurung oleh kawanan monyet liar, bukan satu dua tapi
adalah puluhan hingga ia merasa amat heran.

Lo In bangkit, duduk, sambil kedua tangannya memeluk kedua


dengkulnya yang ditekuk. Kepalanya menunduk seolah-olah
yang tidak memperhatikan dirinya tengah dikurung oleh
kawanan monyet galak.

Suara cetcowetan yang ramai dari kawanan monyet itu tidak


dihiraukan oleh Lo In. Terus saja ia berpura-pura mati ular.

Kelihatannya kera-kera itu amat gusar pada si bocah. Bisa


dilihat dari sikap dan gerakan mereka yang keluarkan suara
'her ! her !' sambil mulutnya nyengir-nyengir menakuti.
Entahlah, kenapa mereka demikian benci pada Lo In.

Mungkinkah karena perbuatannya Lo In ?

Untuk melatih ginkang (ilmu entengi tubuh), Lo In saban hari


melatih diri dengan mencelat sana sini di atas pohon. Gesit
luar biasa hingga mengalahkan jauh dari kepandaian kera-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kera yang ada disitu.

Rupanya hal inilah yang menyebabkan kawanan kera itu


membenci Lo In.

Mereka yang bermula merasa kagum melihat kegesitannya Lo


In, belakangan merasa mengeri dan anggap Lo In adalah
suatu saingan berat dalam dunianya.

Lama juga sudah Lo In perhatikan sikap permusuhan dari


mereka itu. Tapi Lo In tidak memperdulikan sampai pada saat
itu baharu berasa bahwa dirinya benar-benar dibenci.

Tapi Lo In tidak takut. Pikirnya kawanan kera itu tak dapat


membuat susah dirinya. Ia mau lihat apa mereka bisa bikin
terhadapnya. Tak perlu ia minta bantuan si rajawali yang
dengan sayap raksasanya, sekali mengebas saja membuat
puluhan kera itu akan sungsang sumbel dan terbang kemana
tahu. Ia mau taklukan kawanan kera itu dengan usahanya
sendiri.

Dua yang paling besar diantara kawanan monyet itu,


perdengarkan cetcewetannya lebih keras. Rupanya berupa
bentakan-bentakan, memerintah pada kawan-kawannya untuk
segera menggempur Lo In yang tinggal anteng-anteng saja.

Memang dua kera besar itu adalah yang paling pandai dalam
hal meloncat dari satu ke lain cabang pohon. Kawan-
kawannya mengagumi kepandaiannya itu. Merekalah yang
paling menaruh dendam pada Lo In, yang dianggap saingan
alot.

Meskipun bentak-bentakannya makin keras, kawanan kera itu


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

masih belum berani menerjang Lo In. Rupanya mereka jeri


sebab Lo In ada backingnya si rajawali.

Mereka sambil cetcowetan, celigukan sana sini seakan-akan


mengamat-amati apakah si burung raksasa ada di sekitar situ
mengawal si bocah. Si rajawali ternyata tidak ada. Memang
tidak ada. Ia lagi terbang ke lain tempat untuk mencari
makanan.

Hatinya kawanan kera liar itu rupanya jadi berani, sebab suara
'hor, hor !' dari dua pimpinannya paling akhir dibarengi dengan
menyerbunya mereka.

Yang diserbu tiba-tiba saja lenyap dari pandangan mereka.

Terdengar ramai-ramai suara cetcowetan kawanan kera itu.


Sambil kepalanya pada mendongak ke atas dimana mereka
lihat Lo In sedang bercokol di atas dahan sambil ketawa-
ketawa.

Kiranya diwaktu kawanan monyet itu melakukan penyerbuan


serentak, dengan gerakan 'Walet terbang menembusi awan',
tubuhnya Lo In mencelat ke atas, mencelok diatasnya
sebatang dahan pohon, dimana si bocah sambil uncang-
uncang kaki mentertawakan lawan-lawannya yang ribut
cetcowetan di sebelah bawah.

Hanya dua tahun Lo In mendapat gemblengan tenaga dalam


dari Liok Sinshe, ia sudah memanfaatkan sebaik-baiknya
dalam latihan ginkeng (entengi tubuh), cukup untuk melayani
kawanan kera yang menyerang dirinya dengan penuh
kebencian.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Degnan dikepalai oleh dua monyet besar tadi, kawanan


monyet itu segera juga pada menaiki pohon, lelompatan
mengepung Lo In yang segera unjuk kegesitannya untuk
meloloskan diri dari kepungan mereka.

Tampak Lo In loncat ke atas sebatang dahan yang lebih tinggi.


Selag ia terbahak-bahak ketawa, sembari kedua tangannya
bertepuk-tepuk keras menggodai kawanan monyet yang
mengubar dirinya, tiba-tiba terdengar suara 'hor ! hor !'
agaknya keras dan lebih bengis di atas kepalanya. Ketika ia
mendongak, kiranya diatasnya ada dua kera lebih besar lagi
dari dua kera besar tadi, yang ia lihat menjadi pemimpinnya.

Itulah sepasang orang utan hitam legam, lengannya besar-


besar, matanya tajam mengawasi Lo In seraya perdengarkan
suara 'hor ! hor !' menakutkan.

Diam-diam Lo In perhatikan, rupanya dua orang utan itu suami


istri. Yang lelaki kepalanya hampir botak, yang perempuan
matanya tertutup satu disebelah kiri, sedang dibelakangnya
ada menggemblok anaknya, mulutnya ramai cetcewetan.

Lo In hendak enjot tubuhnya menyingkir, tapi sudah terlambat.


Si orang utan yang lelaki menyambar dari atas dan tepat dapat
mencekal lengan Lo In.

Sakit rasanya cekalan si orang utan, lebih-lebih Lo In kaget,


tenaganya seperti lenyap oleh pengaruh cekalan itu hingga ia
tak dapat berkutik.

Celaka, pikirnya, apa ia bakalan mati ditangannya si orang


utan ?
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tengah hatinya berkuatir, sekonyong-konyong terdengar


suaranya si rajawali dari jauh tengah mendatangi hingga ia
jadi sangat kegirangan.

Rupanya si orang utan sudah kenali suaranya si rajawali, tahu


juga Lo In ada kawannya, maka ia jadi ketakutan. Dengan
sendirinya, cekalannya yang melumpuhkan itu terlepas. Ia
lompat pula ke atas, ajak bininya ikut lari.

Angin seperti menderu kedengarannya ketika si rajawali


sampai dengan kebasan sayapnya. Ia mencelok disatu dahan
dekat Lo In. Saking berat badannya membuat pohon sampai
tergetar rasanya.

"Tiauw-heng, syukur kau datang. Kalau lambat sedikit saja,


aku kena dicelakai si orang utan !" Lo In berkata pada
kawannya.

Seperti yang mengerti, si rajawali tampak beringas romannya


ketika mendengar ada makhluk yang mau bikin celaka
kawannya.

Lo In berbareng lompat mendekati si rajawali, ia usap-usap


sayapnya.

Tiba-tiba Lo In mendengar suara teriakan. Matanya yang awas


segera dapat lihat si orang utan yang perempuan terpeleset
jatuh. Ia sendiri dapat tolong dirinya karena sudah menjambret
cabang pohon. Tapi anaknya, dalam kaget sudah melepaskan
cekelan pada leheer ibunya hingga tidak ampun lagi anak
orang utan itu meluncur jatuh terbanting di tanah dan pingsan.

Dalam ketakutannya atas kedatangan si rajawali, dua orang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

utan itu sudah terbirit-birit lari, lompat dari satu ke lain cabang
pohon. Rupanya yang perempuan kurang hati-hati memilih
cabang pohon, maka ketika ia loncat ke cabang yang lapuk, ia
kaget. Cepat lompat lagi ke lain cabang cuma saja saking
gugupnya ia terpeleset dan menjerit ketika terpelanting.

Yang lelaki berada beberapa tindak disebelah depan, ia kaget


bukan main mendengar jeritan sang istri. Cepat ia putar
tubuhnya tapi sudah tak dapat menolong anaknya yang
terpelanting jatuh dari gendongan ibunya.

Mulutnya cetcowetan ramai. Bersama istrinya, ia cepat-cepat


turun ke bawah, lari menghampiri anaknya yang sudah tidak
sadarkan diri. Sang ibu menubruk anaknya sambil
menggoyang-goyang tubuh si orang utan kecil, mulutnya
cetcowetan menangis.

Segera banyak monyet-monyet yang datang merubung.

Lo In yang melihat dan menyaksikan kejadian yang hebat itu,


tidak tega hatinya. Entahlah, bagaimana keadaannya si anak
orang utan itu.

"Tiauw-heng, mari kita tolong dia." ia berkata pada si rajawali.

Berbareng, ia geraki kakinya berloncatan ke bawah yang


diikuti oleh si rajawali. Dengan hanya sekali kibasan sayapnya
sudah sampai ditempat banyak kera berkumpul. Lo In tidak
tahu bagaimana caranya memberi pertolongan. Sebab kalau
ia dengan begitu saja datang dekat, tentu tidak dapat dipahami
maksud baiknya. Apa lagi si orang utan sudah pernah
memencet lengannya, tentu kedatangan Lo In dianggap akan
menuntut balas, menggunakan kesempatan ketika mereka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sedang kesusahan anaknya mendapat kecelakaan.

Baik juga tongkrongan si rajawali dibuat jeri oleh kawanan


kera itu.

Ketika rajawali itu sampai, mendahului Lo In. Kawanan monyet


itu sudah simpang siur lari. Malah dua orang utan itu, saking
ketakutannya sudah lupa akan anaknya dan lari terbirit-birit.

Anak orang utan itu jadi ditinggalkan sendirian.

Lo In girang menampak kejadian itu diluar perhitungannya.


Cepat ia dekati si anak orang utan, ia periksa, meraba-raba
dadanya, pegang nadinya. Lucu, persis lagaknya seorang
tabib.

Ini, Lo In bukannya menjual aksi. Kelakuan ini meniru Liok


Sinshe jika si tabib Liok diundang untuk mengobati orang
sakit, ia suka turut dan menyaksikan caranya Liok Sinshe
berbuat atas dirinya si pasien.

Lo In girang karena si orang utan kecil tidak putus jiwanya. Ia


hanya tidak berkutik karena pingsan, kaget jatuh dari tempat
yang demikian tinggi.

Kelakuan Lo In itu disaksikan oleh banyak kera dari kejauhan,


terutama oleh dua orang utan dengan penuh rasa kuatir,
apakah anaknya akan dibunuh mati Lo In. Buat merebut
anaknya dari tangan Lo In, mereka tak berani lakukan, melihat
si rajawali tengah mendekam didekatnya.

Melihat keadaan anak orang utan itu berat juga, tak dapat
disembuhkan dengan seketika, maka ia lalu angkat tubuhnya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

diempo lantas menghampiri si rajawali, ke atas punggung Lo


In loncat.

"Tiauw-heng, mari kita pergi !" kata Lo In.

Berbareng si rajawali bangkit lalu mengebaskan kedua


sayapnya akan kemudian terbang mumbul. Tinggal dua orang
utan itu berteriak-teriak dengan cara dia sendiri. Rupanya
mereka sangat gusar pada Lo In yang sudah merampas
anaknya.

Lo In ditempatnya sebuah gubuk yang dibangun diatas sebuah


pohon besar. Memakan waktu juga menolong anak orang utan
itu. Sebab anak orang utan itu kecuali mendapat luka dalam,
juga tangannya yang sebelah kiri keseleo yang perlu ditolong
dengan jalan mengurut tiap hari tiga kali.

Selang empat hari, Lo In sudah bikin anak orang utan itu


sembuh benar. Ia kelihatan suka pada Lo In yagn tadinya
ditakuti. Dalam tempo empat hari mereka berkumpul, anak
orang utan itu menjadi jinak, sering menggelendoti Lo In.
Mulutnya cetcowetan seakan-akan mengajak bercakap-cakap.
Tapi sayang Lo In tidak mengerti akan percakapannya.

Meskipun begitu, Lo In suka pada anak orang utan itu. Sering


ia ajak main, diajak bercakap dengan gerakan mulut dan
tangan.

Gembira kelihatannya anak orang utan itu.

Pada hari yang keenam, Lo In berkata pada si anak orang


utan, "Adikku, hari ini kau harus pulang menemui ayah ibumu.
Harap selanjutnya kau akan menjadi sahabatku yang baik
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seperti aku punya Tiauw-heng."

Sambil berkata, Lo In empo anak orang itu lalu keluar dari


gubuknya.

Dengan sekali suitan, segera kapal udaranya sudah datang.


Dengan menumpang si rajawali, Lo In pergi ke tempat dimana
ia telah dikeroyok kawanan monyet liar. Sesampainya disana,
ia dapatkan keadaan sepi. Cuma ada beberapa kera yang
lelompatan sana sini.

Melihat Lo In datang dengan mengempo anak orang utan,


monyet-monyet itu menjadi heran rupanya. Tapi sebentar lagi,
tampak mereka datang lagi membawa kawan-kawannya.

Diantaranya tampak itu sepasang orang utan.

Mereka tidak berani datang dekat pada Lo In karena si rajawali


mendekam di dekatnya. Bagaimana pun, dua orang utan itu
terbelalak matanya melihat Lo In tengah mengempo anaknya
yang cetcowetan menciumi pipinya si bocah.

Lo In dapat melihat pada mereka, maka cepat ia turunkan


anak orang utan itu dari empoannya sambil berkata, "Adikku,
pergi kau ketemui ayah bundamu !" Lo In sambil menunjukkan
kejurusan orang utan yang berada diatas pohon, yang tengah
keheran-heranan mengawasi kejadian itu.

Anak orang utan itu melihat ke jurusan yang ditunjuk oleh Lo


In. Ia melihat pada ayah bundanya. Cepat ia lari sambil
mulutnya cetcowetan. Sang ibu bapak juga tidak tinggal diam.
Mereka loncat-loncat turun dari pohon dan memapaki anaknya
yang lantas diempo oleh si ibu, diciumi dengan penuh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kesayangan.

Dalam empoan ibunya, sang anak cetcowetan sambil


menunjuk-nunjuk kejurusan Lo In. Rupanya ia sedang
bercerita tentang pertolongan yang diberikan Lo In dan
kebaikannya si bocah hingga kelihatannya si ibu merasa
sangat gegetun sekali, sedang si ayah angguk-anggukkan
kepalanya yang botak.

Lo In menyaksikan itu semua dengan bersenyum. Kemudian


putar tubuhnya menyamperi si rajawali, loncat ke
punggungnya. "Mari kita pergi, Tiauw-heng !" katanya sambil
tepok pundaknya si rajawali.

Sebentar saja, Lo In sudah ada di udara bersama kapal


terbangnya.

Meskipun binatang, kawanan kera itu tahu akan kebaikan


orang. Maka sejak itu, mereka telah menghapuskan
kebenciannya dan tidak berani mengganggu lagi Lo In yang
semula dianggap saingan alot.

Malah yang lucu, sejak itu, Lo In boleh dikata tak usah susah-
susah mencari buah-buahan lagi untuk makannya. Karena
setiap pagi, ia dapatkan banyak buah-buahan berserakan di
bawah pohon diatas mana ia tidur. Rupanya ini ada kiriman
dari kawanan keras yang merasa berterima kasih, anak
rajanya sudah ditolongi.

Bebuahan itu ditaruh berserakan. Rupanya kera-kera itu takuti


si rajawali. Maka seenaknya saja mereka melemparkan dan
lari pergi. Lo In memahami ini, maka kepada rajawalinya ia
memesan supaya ia tidak ganggu kera-kera yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengantarkan bebuahan itu. Kawanan kera itu belakangan


jadi berani karena melihat si rajawali tidak apa-apa. Maka
buah-buah yang diantarnya, mereka tumpuk dengan rapih.
Malah ada yang berani naik di pohon dan meletakan buahnya
di depan gubuknya Lo In.

Lo In terharu melihat kecintaannya kawanan kera itu.

Maka terjalinlah persahabatan diantara kawanan kera itu


dengan Lo In.

Dalam pertemuan pertama dua orang utan, seperti manusia,


mereka berlutut dihadapan Lo In sambil manggut-manggut. Di
sampingnya ada anaknya yang juga turut berlutut. Mereka
sangat berterima kasih atas pertolongannya Lo In sehingga
anaknya selamat dari cengkeraman maut.

Lo In ketawa. "Toa-hek, Ji-hek dan adikku," kata Lo In. "Kita


orang sendiri, tak usah banyak pakai peradatan. Kalian
bangunlah. Selanjutnya kita menjadi sahabat saling tolong !"

Seperti yang mengerti omongan Lo In, mereka semua bangkit.

Lo In tatkala itu duduk diatas sebuah batu, tengah menikmati


mengalirnya air sungai, dalam mana banyak terdapat ikan-ikan
yang sedang main-main.

Lo In memanggil Toa-hek (si hitam kesatu) dan Ji-hek (si hitam


kedua) kepada dua orang utan itu adalah panggilan dari
keakraban persahabatan.

Toa-hek dan Ji-hek serta anaknya menghampiri Lo In. Toa-hek


mengusap-usap tangan, Ji-hek mengusap-usap pipi,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sementara Siauw-hek (si kecil) lompat kepangkuan Lo In


sambil cowet-cowetan ngomong dalam bahasanya sendiri. Lo
In suka dan sayang pada Siauw-hek, maka ia elus-elus
kepalanya, sambil katanya, "Siauw-hek, kau lekas gede. Nanti
bisa bantu aku mencari Liok Sinshe."

Sejak itulah mereka bergaul rapat.

Supaya pergaulannya lebih leluasa lagi, maka pelan-pelan Lo


In ada pelajari gerak gerik dan suaranya kera-kera diwaktu
mereka berloncatan di pohon-pohon sambil cetcowetan.
Berkat kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat kemajuan
banyak dalam bahasa monyet, meskipun tidak seluruhnya.
Cukup dengan membuka mulutnya, cowet-cowet, ia dapat
memerintahkan kera-kera yang diajak bicara olehnya untuk
melaksanakan titahnya dengan baik.

Kawanan kera itu semakin menghargai dan menjunjung tinggi


Lo In. Boleh dikatakan ia adalah raja monyet, karena tiap
titahnya dilaksanakan dengan kontan.

Dengan adanya Toa-hek sebagai teman berlatih, lwekangnya


Lo In meningkat. Kalau mula-mula satu kali pegang saja Lo In
tak dapat berontak dari cekalan Toa-hek, pelan-pelan
tangannya makin kuat hingga dari kewalahan Toa-hek menjadi
pecundang. Dalam latihan tenaga, jangan bicara ilmu silat,
sudah tentu Lo In ada di pihak unggul. Girang hatinya Lo In
dengan kemajuan yang diluar perhitungannya itu. Maka pada
suatu hari si rajawali ia ajak berlatih.

"Tiauw-heng, tenagamu sangat hebat. Aku ingin sepertimu.


Coba, mari kita berlatih !" Lo In menantang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mari !" si bocah mengundang lagi ketika melihat si rajawali


tinggal diam mendekam saja. Ia pasang kuda-kuda untuk
menerima serangan si rajawali.

Sesudah kedap kedip matanya, si burung raksasa pelang-


pelan bangkit.

Ketika Lo In menyambar dengan tangannya yang kuat


sekarang, pikirnya, si rajawali tak kuat menahan serangannya.
Tapi si bocah salah hitung. Sebab cuma sekali kebas saja
dengan sayap kirinya, Lo In terdampar oleh angin kebasan
hingga ia jatuh duduk.

"Itu hebat, Tiauw-heng." ia berkata sambil nyengir dan rasakan


pantatnya sakit juga bekas jatuh barusan. "Kau pelan-pelan
dahulu. Jangan terlalu kuat mengebaskan sayapmu !"

Lo In bicara seperti saja terhadap seorang partner, kawan


selatihan. Tapi si burung raksasa seperti yang mengerti akan
maksud Lo In. Benar saja kebasan yang selanjutnya dilakukan
perlahan.

Lo In menjadi girang. Sejak itu ia terus ajak si rajawali berlatih.


Saban hari tenaganya Lo In meningkat an kegesitannya
bertambah. Maka setelah lewat dua bulan, betul-betul luar
biasa tenaga dalamnya si bocah. Ia sudah dapat menahan
kebasan sayap si burung raksasa yang bagaimana keras juga.
Hal mana membuat si rajawali juga merasa heran
kelihatannya.

Lo In bangga dengan latihannya. Ia kira semua itu dari


tenaganya yang meningkat demikian hebatnya. Tapi ia tidak
sadar bahwa tenaga dalamnya itu bisa demikian kokoh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lantaran ia memakan buah Jit-goat-ko atau 'Buah bulan


matahari' yang ia dapatkan diantara buah-buah yang diantar
oleh kawan-kawannya.

Buah itu bentuknya mungil, tidak besar, hanya sebesar telur


angsa. Warnanya separuh merah dan separuh putih. Kapan
buah itu dibelah, segera menyiarkan bau harum yang lama
sekali memenuhi hidung. Kalau disedot, rasanya nyaman dan
segar seluruh badannya. Ini baharu harumnya saja, apalagi
buahnya kalau dimakan rasanya lezat sekali. Tenggorokan
yang dilewati oleh buah itu, selama lima menit terus menerus
akan mengeluarkan hawa wangi yang menyegarkan. Seluruh
badan rasanya kaku sejenak tapi kemudian tangkas lagi.
Tindakan berubah menjadi enteng, sedang tenaga entah dari
mana sudah berlipat tambahnya.

Buah itu Lo In dapatkan dua biji. Entah dari mana sang kera
dapatkan ini, dua-duanya ia sikat habis setelah ia rasakan
bagaimana harum dan enaknya buah itu, dimasukkan ke mulut
lewat tenggorokannya.

Di permulaan cerita dilukiskan bagaimana girang dan bangga


Liok Sinshe menampak kecerdasannya Lo In. Si bocah bukan
saja sudah mewariskan semua kepandaian Liok Sinshe yang
dicatat dalam otaknya, juga rahasia dari ilmu menotok jalan
darah yang terdapat dalam buku 'Tiam-hiat Pit-koat' sudah jadi
miliknya Lo In.

Anak kecil itu tinggal memerlukan gemblengan tenaga alam


yang sempurna, lantas ia akan berubah menjadi satu
pendekar yang sukar menemui tandingan. Tapi peryakinan
lwekang (tenaga dalam) yang sempurna bukannya gampang.
Itu harus meminta bukan satu dua tahun tempo, tapi makan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

puluhan tahun. Meskipun demikian, Liok Sinshe yakin, dalam


bimbingannya dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun, ia
bisa bikin Lo In menjadi jago tak terkalahkan.

-- 5 --

Hanya sayang sekali, Liok Sinshe yang mengasuh Lo In


sampai setengah jalan, baru saja ia menggembleng lwekang
Lo In dua tahun lamanya, tiba-tiba ada bencana dengan
kedatangannya Siauw-san Ngo-ok dan kawan-kawannya. Liok
Sinshe jatuh tergelincir ke dalam jurang yang jejaknya tak
dapat diketemukan oleh Lo In yang berusaha mencarinya
siang malam.

Setelah dapat menahan kibasan sayap si rajawali yang


demikian dahsyatnya, diam-diam Lo In merasa sangat
geregetan. Ia sendiri merasa tenaga dalamnya ada hebat,
tidak berani ia balas menyerang pada burung kesayangannya,
kuatir nanti si rajawali terluka oleh karenanya. Sekarang, siapa
yang ia dapat ajak berlatih setelah si burung raksasa tak
berdaya menghadapi ia ?

Pada suatu malam, ia keluar dari gubuknya. Tidak lagi ia


leloncatan dari satu ke lain dahan pohon untuk turun ke
bawah, meniru si burung raksasa. Benar-benar hebat ilmu
entengi tubuhnya. Bagaimana ia dapat demikian hebat
ginkangnya ? Inilah justru menjadi pertanyaan yang sampai
sebegitu jauh belum dapat dijawab olehnya sendiri.

Tidak jauh dari situ ada terdapat satu lapangan, cukup besar
untuk berlatih silat. Di sekitarnya banyak tumbuh pohon, tinggi
dan rendah, tidak rata. Dan ini semua bagi Lo In merupakan
lapangan untuk melatih ginkangnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Di bawah terangnya sang rembulan, Lo In tampak melatih ilmu


silatnya ajaran Liok Sinshe dengan tangan kosong mula-mula.
Pukulan-pukulannya ternyata luar biasa, semua menerbitkan
angin menderu. Kapan ia tujukan pukulannya ke atas, cabang-
cabang pohon yang jaraknya dua tombak pada bergoyang dan
daun-daunnya pada berjatuhan ke tanah. Gerakannya gesit
luar biasa hingga yang tak melihat dengan mata kepala sendiri
tentu akan tidak percaya Lo In mempunyai tenaga yang
sempurna dan ilmu silat yang aneh-aneh melihat usianya baru
masuk empat belas tahun.

Lo In tidak merasa kalau ia dalam lembah itu diam-diam sudah


melewatkan waktunya hampir 2 tahun. Pantas badannya
makin tinggi, sedang romannya makin nyata kecakapannya.
Sayang pakaiannya mulai compang camping. Maklumlah ia
masuk ke dalam lembah itu tak membawa bekal pakaian. Jadi
ia tiap hari mengenakan pakaian itu-itu juga.

Setelah berlatih dengan tangan kosong, Lo In ganti berlatih


dengan pedangnya, juga tidak kurang hebatnya. Kalau tak
dapat dikatakan lebih hebat dan seram pula. Kecepatan
memainkan pedang yang bobotnya sangat enteng,
menimbulkan angin santar. Suaranya 'bat bet bat bet', bisa
membuat musuh yang menghadapinya ciut nyalinya.

Berhenti berlatih, Lo In duduk termenung di atas rumput.

Ia masih penasaran, lalu bangkit dari duduknya menghampiri


sebuah pohon siong (cemara) yang ukuran bulat batangnya
sebesar betis orang gemuk. Ia pasang kuda-kudanya lalu
kerahkan lwekangnya. Tampak seperti menghembus hawa
putih dari embun-embunannya. Ia berdiri kira-kira satu tombak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dari pohon yagn mau dibuat sasarannya. Setelah merasa


cukup kekuatan untuk menyerang, kedua tangannya digeraki
berbareng, diulur ke depan. Angin menghembus keluar hebat
bukan main. Segera terdengar suara 'krak !'. Disana, pohon
siong yang dipakai sasaran, kelihatan tumbang. Tidak dapat
menahan serangan Lo In yang dahsyat itu.

Lo In berdiri bengong. Ia kagum akan tenaganya sendiri,


berbareng ia menanya dirinya sendiri, dari mana mendapat
tenaga yang luar biasa itu.

"Celaka." katanya dalam hati kecilnya. "Tenagaku begini


dahsyat, aku tidak boleh sembarangan pukul orang !"

Sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat.

Lo In kira tidak ada yang lihat perbuatannya. Tidak tahunya,


diam-diam sambil mendekam di atas dahan pohon, si rajawali
menonton ia tengah berlatih silat dan matanya si burung
terbelalak kagum menyaksikan Lo In memukul tumbang pohon
siong.

Sampai dibawah pohon, dengan gerakan 'walet terbang


menembusi awan', ilmu entengi tubuh yang paling ia suka, Lo
In sebentar saja sudah ada didalam gubuknya lagi.

Bulak balik ia di pembaringannya. Tidak bisa tidur memikirkan


akan keanehan tenaganya yang luar biasa. Tiba-tiba
berkelebat dalam benaknya tentang 'Jit-goat-ko', buah mujizat
yagn ia makan demikian harum dan lezat rasanya.

Pikirnya, apakah oleh karena makan itu ? Ia kemudian merasa


sangsi lagi sebab setelah ia makan buah itu, ia lantas rasakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

perubahan aneh dalam tubuhnya, enteng dan gesit dirasakan


tubuhnya, tenaganya pun meningkat entah berapa puluh kali
karean si burung raksasa kontan pada hari-hari berikutnya
tidak berdaya menghadapi ia berlatih.

Dari mana kawanan kera itu dapatkan buah ajaib itu ?

Maka pada keesokan harinya, ia lantas kumpulkan kawan-


kawan keranya. Ia majukan pertanyaan, siapa diantaranya
yang membawakan buah yang bentuknya macam telur angsa
dan warnanya merah putih.

Lo In gunakan bahasa monyet menanyakannya hingga


puluhan monyet yang hadir dalam pertemuan itu pada
cetcowetan ramai. Rupanya satu dengan lainnya pada saling
bertanya. Tidak lama, satu kera yang berpotongan kecil tapi
gesit, lompat ke depan Lo In, berlutut sambil angguk-
anggukkan kepala.

Lo In girang melihatnya. "Pek-gan, jadi kau yang


membawakannya untukku ?" ia menanya seraya mengelus-
elus kepalanya si kera.

Pek-gan, kera itu dipanggil Lo In, artinya 'Mata Putih'.

Ia ada satu kera jantan yang bertubuh kecil, tapi kegesitannya


melebihi kawan-kawannya. Dua matanya putih seperti mata
yang terbalik, tapi ia melihat terang sebagaimana biasa. Malah
ada keistimewaannya, dengan sepasang matanya yang aneh
itu, pada malam hari gelap ia dapat melihat tegas terang
bagaikan siang hari. Ia mempunyai teman yang hampir sama
gesit dan cerdasnya dengan dia. Kera ini kepalanya putih dan
lebih jangkung sedikit, tapi kurusnya sama. Ia dipanggil 'Pek-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tauw' oleh Lo In, artinya 'Kepala Putih'.

Dua kera ini paling disayang oleh Lo In karena gayanya yang


lucu dan sering bikin ketawa, baik dalam percakapan maupun
dalam kelakuannya. Hingga bagi Lo In, mereka itu ada dua
penghibur yagn menyenangkan.

Lain dari itu, dalam soal mengantar buah-buahan mereka tidak


sembarangan asal petik saja. Selalu mereka pilih buah-buah
yang istimewa untuk dipersembahkanpada junjungannya. Oleh
karenanya Lo In sangat menghargakan mereka.

Pek-gan senang kepalanya diusap-usap Lo In, matanya


melirik bangga pada kawan-kawannya.

"Pek-gan, coba kau terangkan dari mana kau dapatnya. Apa


kau masih bisa dapatkan pula beberapa buah untukku ?"
demikian kata Lo In dalam bahasa kera.

Pek-gan geleng-geleng kepala. Mulutnya kemudian


cetcowetan sambil tangannya menunjuk-nunjuk. Rupanya ia
sedang cerita menuturkan pengalamannya.

Lo In mengerti cerita Pek-gan. Kiranya buah mujizat itu si kera


dapatkan pada satu tebing yang curam disebelah barat
mereka sedang berkumpul. Pohonnya hanya mengeluarkan
dua buah. Malah setelah dipetik buahnya, pohon itu lantas
layu, daun-daunnya pada kuncup.

"Tidak apa." kata Lo In. "Lain kali kau boleh bawakan lagi
buah-buah lain yang sama baiknya. Nah, kau boleh kumpul
lagi dengan teman-temanmu !" Lo In sambil tepuk-tepuk
pundaknya si kera.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Berbareng dengan ini, tiba-tiba Lo In dan kawanan kera


menjadi kaget mendengar suara monyet berteriak-teriak minta
tolong Lo In dan yang lain-lain pasang kuping untuk menegasi
dari mana datangnya suara minta tolong itu.

"Ah, itu suaranya Ji-hek !" kata Lo In sambil lompat dari


duduknya.

Terus ia gunakan ilmu entengi tubuhnya, memburu ke selatan.

Semua kera paling kalut, masing-masing gunakan kecepatan


lari menyusul Lo In. Sedang si rajawali juga tidak ketinggalan,
pentang sayapnya dan terbang mendahului Lo In.

Lo In tidak minta 'kapal terbangnya' stop dahulu untuk


membawa dia, sebab ia tahu Ji-hek lebih perlu lekas ditolong,
jikalau ia mendengar teriakannya yang menyayatkan hati.

Ketika Lo In sampai disatu lapangan terbuka, ia lihat


rajawalinya sedang bertempur dengan manusia, entah siapa
dia. Tidak jauh dari mereka bertempur, tampak menggeletak
Toa-hek, tengah dipeluki oleh Ji-hek sambil berteriak-teriak
menangis minta pertolongan.

Cepat Lo In menghampiri Ji-hek.

Melihat Lo In datang, Ji-hek kegirangan. Mulutnya ramai


menceritakan apa yang sudah terjadi. Kiranya Toa-hek sudah
bertempur dengan orang yang sekarang lagi bertempur
dengansi rajawali. Dalam keadaan tidak waspada, Toa-hek
sudah dirubuhkan dengan senjata beracun.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In tidak perhatikan Ji-hek nyerocos cetcowetan. Ia terus


saja memeriksa lukanya Toa-hek. Keadaannya parah juga,
matanya meram saja ! Lo In girang sebab Toa-hek tidak
terancam bahaya kematian karena lukanya.

Cepat ia bersihkan darah di pundaknya Toa-hek. Dengan


tangan bajunya lalu keluarkan obatnya, dioleskannya, sedang
pil mustajabnya dimasukkan ke dalam mulutnya Toa-hek.
Mustajab benar obatnya Lo In, warisan Liok Sinshe. Karena
tidak lama setelah obat berjalan dalam perut dan pundaknya,
Toa-hek sudah dapat membuka matanya dan merintih pelan-
pelan.

Melihat Toa-hek sudah tertolong, maka Lo In bangun berdiri


menyaksikan pertempuran si garuda dengan lawannya. Ia
perhatikan musuhnya si garuda ternyata adalah seorang tua
dengan hidung bengkok seperti patuk burung kakaktua,
mulutnya lebar, jidatnya jantuk. Entah ada tanda apanya lagi di
mukanya sebab hanya itu saja yang dapat dilihat dari
kejauhan oleh Lo In.

Ternyata orang tua itu ada punya lwekang hebat juga. Sebab
samberan si rajawali terus dapat ditolak mundur. Tampak si
rajawali napsu benar hendak membinasakan musuhnya. Angin
pukulan si orang tua, seolah-olah tidak dihiraukan. Ia terus
menyambar musuhnya sambil perdengarkan pekikan yang
gusar sekali.

Entah ada permusuhan apa si rajawali begitu marahnya.

Lo In lihat, orang tua itu mulai keteter. Ia mulai gunakan


senjata rahasianya. Ser ! Ser ! Lo In dengar suaranya senjata
rahasia si orang tua menyambar pada si rajawali. Tapi sampai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebegitu jauh dengan kebasan sayapnya, saban kali senjata


rahasianya si orang tua dapat dijatuhkan.

Lo In kuatir akan keselamatan burung kesayangannya. Maka


ia lalu bersuit, si rajawali masih bernapsu bertempur. Suitan
tanda memanggil Lo In seperti juga ia tidak mendengarnya.
Tapi, ketika suitan yang kedua nadanya agak keras, membuat
si rajawali tak dapat membandal panggilan tuannya.

Ia putar tubuh dan terbang menghampiri Lo In.

Sementara itu, si orang tua sudah memburu datang.

Kiranya dia itu seorang tua dari usia kira-kira 50 tahun. Selain
tanda-tanda yag Lo In dapat lihat terlebih dahulu, ia saksikan
lagi, orang tuaitu mulutnya dan giginya omping. Entah tinggal
berapa giginya, yang terang di sebelah depannya, atas bawah
sudah sungsang sumbel.

Segera Lo In dan si orang tua sudah berhadap-hadapan, kira


satu tombak jauhnya. Sambil menunjuk dengan jarinya, si
orang tua berkata pada Lo In, "Em ! Jadi kau ini tuannya si
burung celaka itu ?"

Lo In merasa tidak senang burungnya dikatai 'si burung


celaka'.

"Lotiang (orang tua), kau sudah celakai Toa-hek, lantas kau


mau celakai juga aku punya Tiauw-heng, apa maksudmu ?" Lo
In balik menanya tanpa menjawab pertanyaan orang yang
diajukan lebih dahulu.

"Aku tidak peduli kau punya Toa-hek, Tiauw-heng, Sam-heng,


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

apa hek apa heng kek ! Asal aku mau bunuh, tidak ada orang
yang berani rintangi !" si orang tua nyerocos, kasar betul.
Suaranya nyaring macam gembreng pecah.

Lo In mendongkol hatinya. Tapi ia tidak berani kurang ajar. Ia


tetap berlaku sopan terhadap orang asing itu. Selama hampir
dua tahun dalam lembah, hari itu, Lo In untuk yang pertama
kalinya ketemu lagi dengan manusia. Di samping ia suka
berlaku jail, mengocok orang, juga perangainya halus dan
ingin bersahabat sama siapa juga. "Jadi lotiang masih marah
sekarang ?" tanyanya.

Matanya si orang asing mendelik.

"Aku mau bunuh orang utan dan burung busukmu. Kau mau
apa ?" bentaknya.

Lo In kedip-kedipkan matanya, seperti yang ketakutan.

"Lotiang, kau sebenarnya siapa ? Apa namamu ?" tanya Lo In


tenang.

"Hahaha." si orang asing ketawa, seraya tepuk-tepuk dadanya.


"Tidak perlu kau tahu siapa aku sebab kau masih bocah. Tapi
tidak apa aku sebutkan supaya mati merem. Hahaha, aku ini
Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng dari Coa-kok !"

Lo In tidak kaget si orang asing sebutkan namanya, sekaligus


dengan gelarnya 'Toan Bilo-mo' atau 'Si Iblis Alis Buntung'.
Yang membikin ia heran, Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng macam
orang edan. Apa dia setengah atau memang betul-betul
sinting ? Lo In tanya dirinya sendiri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kalau orang baik-baik, tidak semestinya ia menyebutkan


namanya yang seram sambil tepuk-tepuk dada dihadapan
seorang anak kecil seperti Lo In. Sebab Lo In belum tahu apa-
apa dengan dunia Kang-ouw.

Yang lebih aneh pula, Siauw Cu Leng pakai mengatakan


'supaya kau mati merem' segala, apakah maksudnya ? Apa ia
mau bunuh juga Lo In ? Ini pun menjadi pertanyaan dalam
hatinya si bocah.

Lo In memandang mukanya si iblis, benar-benar saja kedua


alisnya pendek (kuntugn), cuma setengah dari alisnya orang
biasa.

Setelah menyebutkan nama dan gelarnya, Siauw Cu Leng


jalan mau menghampiri Toa-hek sehingga Toa-hek
mengerang gusar sedang Ji-hek tampak siap sedia buat
menjaga kalau suaminya diserang.

"Hei, kau mau apa ?" tanya Lo In.

"Ah, kau anak bau, tau apa !" sahut Toan Bilo-mo Siauw Cu
Leng seraya mengebaskan lengan bajunya. Dari mana
mengembus angin keras, menyerang Lo In.

Si Iblis Alis Buntung berdiri heran melihat Lo In tidak apa-apa.


Si bocah tinggal tetap berdiri ditempatnya. Biasanya, kalau
orang akan jungkir balik, apalagi ini anak kecil yang dikebas,
kenapa dia diam saja ? Demikian tanya si iblis dalam hatinya.

Apa kurang kencang kebasannya ? Maka ia lalu mengebas


sekali lagi dengan lwekan ditambah menjadi 7 bagian, tapi......
Lo In masih berdiri ditempatnya sambil bersenyum geli.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya ia masih merasa lucu atas kelakuan si iblis.

Memang, kalau anak kecil biasanya yang dikebut pasti akan


jungkir balik dan mungkin jatuh pingsan. Tapi kali ini Lo In
yang dikebas, tidak bisa mempan sebab tenaga dalam Lo In
ada diatasnya si Iblis Alis Buntung.

"Silahkan, kau mau bunuh Toa-hek ?" tanya Lo In ketika


melihat si iblis berdiri tertegun.

Sebagai tokoh iblis yang ditakuti sepak terjangnya, tentu saja


Siauw Cu Leng tidak mengira dapat dijatuhkan demikian
mudah oleh satu anak kecil yang masih ingusan, kata hati
kecilnya.

Ia lalu lompat menerjang, menghajar Lo In dengan kedua


tangannya yang menghembuskan angin besar. Debu dan
tanah berterbangan saking hebatnya dilanggar angin serangan
Siauw Cu Leng. Tapi Lo In sudah menghilang dari depannya.

Bukan main kagetnya, cepat ia putar tubuhnya. Dilihat Lo In


sudah berada dibelakangnya sambil anteng-anteng saja
menggendong tangan.

"Tanah tidak berdosa kau hajar begitu bengis, lotiang !" Lo In


kata dengan jenaka.

Malu bukan main si Iblis Alis Buntung diejek si bocah, naik


pitam dia. "Bagus, kau jaga pukulan mautku !" teriaknya
nyaring.

Pukulan yang dikerahkan dengan tenaga maksimum kalau


kena tubuh Lo In bisa hancur lebur berkeping-keping, tapi lagi-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lagi pukulan si iblis cuma bisa menghajar tanah sebab Lo In


sudah bisa menghilang lagi kemana tahu.

"Anak busuk, kau berani permainkan aku, Toan Bilo-mo ?"


bentaknya sambil celigukan, matanya mencari bayangan Lo
In.

SI iblis benar heran. Entah bagaimana Lo In bergerak sebab


tahu-tahu ia hanya menghajar tanah lagi. Ia marah-marah
hanya untuk menyimpan mukanya dari perasaan malu sebab
sebenarnya telah takut bukan main dalam menghadapi si
bocah punya kegesitan yang seperti setan saja bisa
menghilang.

Pikirnya, kalau tidak siang-siang angkat kaki, ia bisa susah.

Ia tahu bahwa saat itu Lo in berada di samping kirinya. Ia


bukan menyerang lagi, hanya ia lompat ke depan dan angkat
kaki terbirit-birit lari.

Lo In tidak mau tanam bibit permusuhan, makanya ia tadi


hanya lawan si iblis dengan kelincahannya saja mengelakkan
serangan-serangan. Ketika si iblis melarikan diri, ia hanya
ketawa, tidak mengejar. Tapi tidak demikian dengan si
rajawali, begitu meliaht Siauw Cu Leng lompat lari, ia juga
gerakan sayapnya menyerang dari atas. Cakarnya yang
bagaikan baja, nyaris mencomot hilang kepalanya si iblis,
kalau Siauw Cu Leng tidak menggunakan tipu 'Keledai malas
bergulingan diatas rumput', akan kemudian disusul dengan
gerakan 'Lo hie ta teng' atau 'Ikan gabus meletik', untuk ia
terus melarikan diri.

Lo In tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan pertunjukan itu.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia tidak ijinkan si rajawali mengejar terus lawannya karena ia


tahu orang itu sangat licik hingga mungkin burung
kesayangannya nanti bisa dapat celaka oleh senjata
rahasianya yang berbisa. Oleh karenanya ia lalu
memperdengarkan suitannya memanggil si rajawali untuk
terbang pulang.

Tampak burung kesayangannya unjuk roman bengis dan


penasaran.

"Tiauw-heng, kau kenapa begitu marah pada dia ?" tanya Lo


In seraya elus-elus sayapnya, sebagaimana biasa unjuk
kesayangannya.

Si rajawali tidak geleng atau anggukkan kepalanya, dia diam


saja.

Lo In mengerti burung kesayangannya sedang marah.


Seketika itu ia ingat akan kejadian si burung raksasa
menderita luka, ia terkena anak panah beracun. Maka cepat ia
pungut anak panah yang barusan menancap dipundaknya
Toa-hek. Ketika ia perhatikan dengan seksama, lantas ia
mengerti bahwa yang memanah si rajawali adalah si Iblis Alis
Buntung. Pantesan burung kesayangannya begitu marah pada
Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.

"Tidak apa, lain kali kita ketemu, kita akan kasih hajaran
padanya." menghibur Lo In pada burung garudanya. Si
rajawali kali ini, mendengar Lo In mengucapkan kata-katanya
telah memanggutkan kepalanya.

Kenapa Toa-hek bertempur dengan Toan Bilo-mo Siauw Cu


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng ?

Itu adalah kebetulan kesompokan di jalanan. Ketika Siauw Cu


Leng sedang jalan lewati pohon, tiba-tiba ada bayangan
lompat dari atas. Ia kaget, cepat balik tubuhnya dan ia lantas
berhadapan denga Toa hek sebab bayangan tadi memang
Toa-hek yang barusan turun dari pohon.

Sebenarnya, kalau Siauw Cu Leng tidak timbul niatan ingin


menaluki si orang utan, ia teruskan jalannya, tentu tidak akan
ada kejadian apa-apa, sebab Toa-hek juga tidak
perdulikannya.

Apa mau, Siauw Cu Leng ketarik dengan tubuhnya Toa-hek


yang tegap dan kokoh kuat. Pikirnya, kalau ia bisa taluki orang
utan ini dan dijadikan pembantunya, ada baiknya juga untuk
disuruh-suruh. Segera ia datang mendekati, ia mulai
mengganggu, mengundang kemarahan Toa-hek. Ia berhasil
sebab Toa-hek lantas kedengaran menggerang gusar.
Dengan gerakan 'Hek houw tam jiauw' atau 'Macan hitam
mencengkeram', ia lompat menerjang. Tangan kanannya
menyambar lengan kiri Toa-hek, sedang tangan kiri, dengan
dua jarinya meluncur mau menotok 'hongbun-hiat', jalan darah
di pundak kanan si orang utan.

Inilah gerakan yang dilakukan dengan cepat. Pikirnya, dalam


segebrakan itu ia akan bikin lawan tidak berdaya. Tapi
perhitungan Siauw Cu Leng ternyata keliru sebab Toa-hek
segera elakkan lengannya yang hendak dicekal sedang
tangan kiri si iblis yang hendak menotok pundak sudah kena
ditangkis keras sekali hingga si iblis lompat mundur saking
kaget dan kesakitan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apa mungkin monyet ini bisa ilmu silat ?" ia menanya dirinya
sendiri, sambil matanya mengawasi Toa-hek.

Tapi si orang utan yang sudah marah, tak mengasih


kesempatan untuk Siauw Cu Leng banyak menanya-nanya
dalam hatinya karena segera ia menyerang dengan tangannya
yang gede berbulu dan kepaksa si iblis harus keluarkan
kegesitannya untuk menyelamatkan diri.

Ia rada ngeri untuk kasih tangannya bentrok lagi dengan


tangan Toa-hek sebab barusan ketika ditangkis, ia rasakan
tangannya seperti ditangkis sepotong besi sampai ia rasakan
kesemputan tangannya. Sebaliknya, ia mau menggunakan
lwekang, menggempur rubuh Toa-hek, hatinya tidka
mengirakan karena ia ingin taluki si orang utan, bukannya
hendak membunuhnya.

Jadi, bagaimana ia harus berbuat ? Dalam berkelit sana sini,


menghindarkan sambarang tangan Toa-hek, si iblis putar
otaknya mencari jalan merobohkan Toa-hek.

Ia dapat jalan rupanya sebab sebentar kemudian ia lompat


keluar dari pertempuran, lari dikejar oleh Toa-hek.

Siauw Cu Leng menyelinap dibalik sebuah pohon besar


hampir dua pelukan, disini dia ajak Toa-hek main petak,
berputar ia disini sampai kemudian ia berada dibelakang si
orang utan. Diam-diam ia keluarkan panah beraacunnya,
terdengar Toa-hek menjerit roboh karena pundaknya kena
dilanggar senjata rahasia si iblis.

Siauw Cu Leng kegirangan. Tapi baru saja dengan terbahak-


bahak ia ketawa seraya mendekati Toa-hek, dari atas pohon
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyambar satu bayangan. Untung ia awas. Cepat berkelit


selamatkan diri dari serangan. "Bangsat pembokong !"
bentaknya sambil memandang orang yang membokong tadi.

Ia terkejut juga sebab yang menyerang dirinya bukanlah


manusia, tapi orang utan lagi, orang utan betina. Memang Ji-
hek yang datang hendak menolong suaminya yang terancam
bahaya.

Segera mukanya si iblis berubah. Napsu membunuhnya


tampak dari romannya yang beringas. Ia kerahkan
lwekangnya, maksudnya hendak menghajar Ji-hek dengan
sekali pukul saja. Tapi pada saat Ji-hek terancam bahaya,
tiba-tiba terdengar suara si rajawali mendatangi, bagaikan
kapal terbang yang hendak mendarat saja, si burung raksasa
menyambar Siauw Cu Leng. Pohon dimana si iblis berdiri ada
merintangi si rajawali menyambar dengan leluasa. Maka ia
serempet Siauw Cu Leng dengan sayapnya hingga si iblis
terpental bergulingan, sebelum ia berdaya untuk
menyelamatkan dirinya.

Ia bergulingan menjauhi pohon kemudian ia lompat bangun,


lebih jauh lagi jaraknya dari pohon yang membuat si rajawali
tidak leluasa. Maka dengan enak saja Kim-tiauw permainkan
Siauw Cu Leng dengan kebasan sayap dan cakaran kedua
kakinya yang tajam-tajam. Tapi Siauw Cu Leng ada satu tokoh
iblis yang sudah terkenal dalam kalangan Kang-ouw. Maka
tidak mudah si rajawali mencomot kepalanya yang saban kali
hampir tercakar sebab ketika si iblis dapat memperbaiki
posisinya, segera juga serangan-serangan si rajawali di balas
dengan serangan tangan yang menghembuskan angin santar.
Itulah Pek-kong-ciang, pukulan udara kosong yang digunakan
Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si rajawali dengan demikian terus ketahuan tiap


menyambarnya. Pertarungan dilakukan hebat sekali sebab si
rajawali yang kenali musuhnya yang telah melukai ia,
kelihatannya sangat bernapsu sekali hendak mencakar dan
mematuk binasa musuhnya itu.

Siauw Cu Leng menggempur dengan hati-hati, ia pun sudah


siapkan panah beracunnya untuk merobohkan si rajawali.
Justru ia sudah siap, tiba-tiba terdengar suitannya Lo In.
Suitan pertama si rajawali belaga pilon, tapi suitan kedua yang
nadanya agak keras, membuat si rajawali tak dapat
meremehkan panggilan tuannya dan ia putar tubuh melayang
balik menyampari Lo In.

Siauw Cu Leng menyesal sekali ia terlambat melepas panah


beracunnya karena gara-gara suitan Lo In. Oleh karena itu
juga, maka Siauw Cu Leng sudah mendatangi Lo In dan
marah-marah di depan si bocah seperti orang gila. Tapi
kesudahannya ia kena dipecundangi si jago kecil dengan
hanya menggunakan kegesitan entengi tubuhnya saja.

Toa-hek sangat berterima kasih atas pertolongan Lo In.

Tiba-tiba ia jatuhkan diri, menyembah di depan si jago cilik.

"Kau terlalu menghargai aku, Toa-hek. Bangunlah !" berkata


Lo In sambil tepuk-tepuk pundaknya Toa-hek.

Lo In berjaln pulang dengan diiringi oleh tentara keranya.

Dalam perjalanan, Lo In berpikir mungin dalam lembah itu


bukan ia sendiri manusia yang menjadi penghuninya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Munculnya si Iblis Alis Buntung sudah tentu ada kawan-


kawannya pula yang turut dengannya. Berpendapat bahwa
disekitarnya lembah mesti ada orang-orang lainnya pula yang
tinggal, maka dalam hatinya jago cilik kita ingin ia ketemukan
mereka itu untuk menanyakan keterangan kalau-kalau
diantaranya ada yang mengetahui tentang jejaknya Liok
Sinshe.

Meskipun hampir dua tahun sudah, Lo In menjadi penghuni


lembah, belum pernah ia melupakan Liok Sinshe. Tiap hari ia
masih terus mencari jejaknya Liok Sinshe. Malah tentara
keranya dikerahkan untuk membantu mencarinya. Ia sangat
mencintai Liok Sinshe yang ia anggap sebagai pengganti
orang tuanya, yang ia tidak tahu siapa dan dimana adanya
sekarang.

Tiga hari sejak kejadian diatas, Lo In dengan sendirian coba


melakukan pemeriksaan disekitarnya tempat dengan
pengharapan ia akan bertemu dengan orang yang ia dapat
ajak bicara. Ia menerobos sana menerobos sini, diantara
pepohonan yang lebat sampai akhirnya ia mendekati satu
rimba bambu. Tidak jauh dari sini, ia lihat ada sebuah sungai
kecil. Ia datang mendekati, duduk ditepinya untuk melepaskan
lelah.

Belum lama ia duduk, terbawa oleh silirannya angin, sayup-


sayup ia seperti mendengar ada orang yang merintih. Ia kaget
kapan ia tegasi, rintihan itu keluar dari jalanan masuk ke rimba
bambu tadi.

Siapakah gerangan yang merintih itu ? Dalam hatinya, ia


girang dapat menemukan manusia disitu, tetapi juga kuatir
bahwa ia akan terlambat dapat menolong orang yang dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kesulitan itu sebab dari suara rintihannya, orang itu seperti


mendapat luka berat.

Dengan beberapa kali lompatan saja, Lo In sudha masuk ke


dalam rimba bambu.

Di pinggiran jalan ia nampak ada satu nenek yang sedang


rebah merintih.

Ia datang mendekati, ia pegang lengannya si nenek dari


belakang sebab si nenek sedang rebah miring. "Kau kenapa,
Popo ?" tanya Lo In.

Lo In menduga si nenek bisa silat sebab dari dandanannya


ada lain dari kebanyakan nenek-nenek. Juga ia lihat, tidak
jauh dari si nenek, ada kedapatan sepotong besi, panjang tiga
kaki. Rupanya potongan besi itu yang merupakan toya
pendek, ada gegumamnya si nenek yang roboh merintih.

Merasa lengannya dipegang orang, si nenek berbalik dan


memandang Lo In.

"Oh, anak." sahutnya. "Aku terluka berat oleh itu anjing keparat
!"

Paras mukanya si nenek kelihatan seperti yang marah dan


penasaran.

"Siapa yang lukai Popo ?" tanya Lo In.

"Ah, kalau diceritakan, gemas sekali aku pada si keparat ! Aku


hanya kalah sejurus saja, apa mau betisku kena ditendang
oleh tendangan geledeknya hingga aku rubuh tidak ampun
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lagi. Untung dia tidak barengi mengemplang kepalaku dengan


toyaku yang dia rampas. Kalau sampai begitu, celaka aku si
nenek sekarang sudah mampus !" demikian si nenek menutur.
Ia tidak menjawab langsung pertanyaan Lo In.

Si nenek sambil bercerita, sembari bangkit dari rebahnya dan


duduk. Lalu gulung kaki celananya yang kanan. "Nih, kau lihat.
Bukankah orang itu amat kejam ?" si nenek sambung
bicaranya sambil menunjuk pada lukanya.

Lo In lihat, benar saja betisnya matang biru akibat tendangan


lawannya.

"Siapa yagn lukai Popo ?" Lo In ulangi pertanyaannya tadi.

Si nenek mengawasi Lo In sebentar, lalu berkata, "Ah, kau


masih kecil. Barangkali kau belum kenal dia. Dia itu ada satu
iblis kejam. Namanya Siauw Cu Leng dengan gelarnya si 'Iblis
Alis Buntung'. Anak, sebaiknya kau tolong aku dari pada kau
tanyakan orang yang mencelakai aku sebab toh kau tidak bisa
berbuat apa-apa untuk membalaskan sakit hatiku si nenek !"

Lo In hanya mendehem. Lalu ia segera mau periksa lukanya si


nenek, tapi ia urungkan ketika si nenek berkata lagi, "Eh,
tunggu dulu. Kau tentu mau tahu juga aku berhantam dengan
si iblis, bukan ?"

Lo In hanya manggutkan kepala.

"Lantarannya ia menuduh aku sudah menemukan buah 'Jit-


goat-ko' dan aku sudah memakannya sendiri." kata pula si
nenek.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apa buah 'Jit-goat-ko' itu ?" tanya Lo In.

"Jit-goat-ko," sahut si nenek. "Bentuknya mungil sebesar telur


angsa, warnanya merah putih. Siapa makan ini, tubuhnya
akan kuat luar biasa. Kalau yang pandai silat, lwekangnya
meningkat. Makan satu seperti tambahan tenaga dalam dari
latihan 5 tahun. Makan dua sebagai berlatih 10 tahun. Siapa
yang dapat makan buah ini, rejekinya besar. Mana aku si
nenek punya itu rejeki dapatkan buah yang demikian, tapi
difitnah oleh si jahat itu sampai aku rasakan semaput betisku
ditendang olehnya. Baik, nanti ada satu waktu, aku akan bikin
perhitungan padanya. Ia tak nanti lolos dari pembalasanku !"

Sementara si nenek nyerocos cerita, Lo In diam-diam merasa


terkejut dalam hatinya. Ia tidak sangka buah 'Jit-goat-ko' ada
demikian besar khasiatnya. Pantas dia makan dua buah itu,
tenaganya tambah entah berapa puluh lipat hingga ia bikin
tidak berkutik Toa-hek dan si rajawali, dua teman dalam
latihannya. Kalau begitu, pikirnya, tenaganya meningkat
seperti juga ia berlatih sepuluh tahun sudah lwekangnya.

Parasnya si bocah yang terkejut, tidak lepas dari matanya si


nenek yang berkilat sebentaran, lalu berkata pada Lo In,
"Anak, coba kau tolong periksa lukaku. Aku rasakan sangat
sakit !"

Lo In menurut, ia tekuk lututnya dan memeriksa luka si nenek.

Tiba-tiba terdengar suara 'buk !' disusul oleh jeritan 'aiyoo !'
dari Lo In berbareng badan si bocah lantas rebah terkulai.

Kiranya Lo In kena dibokong si nenek. Ia kena perangkap


sebab si nenek sebenarnya bukan terluka. Betisnya yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

matang biru hanya buatannya sendiri dengan mengerahkan


tenaga dalamnya, disalurkan ke betisnya hingga timbullah itu
tanda seperti yang benar kena ditendang orang.

Lo In masih kecil, belum kenal kecurangan manusia. Ia masih


belum berpengalaman dalam rimba persilatan yang banyak
akal-akal busuk yang dilakukan orang-orang jahat. Ia percaya
saja akan obrolannya si nenek. Ketika ia tekuk lutut, nunduk
untuk periksa luka yang dikatakan si nenek jahat, tiba-tiba
dengan kejam si nenek membokong Lo In dengan tenaga
sepenuhnya.

Tentu saja Lo In yang tidak berjaga-jaga, sekali digebuk ia


jatuh setelah mengeluarkan jeritan 'Aiyoo !' yang
mengenaskan.

"Hehehe !" si nenek tertawa terkekeh-kekeh sambil bangkit


dari duduknya dan mengawasi korbannya yang rebah
tengkurup, tidak sadarkan diri.

"Bagus !" tiba-tiba terdengar suara orang dari gerombolan


pohon bambu, berbareng orangnya muncul. Siapa, ternyata
bukan lain orang adalah Toan Bilo-mo Siauw Cu Leng sambil
ketawa-ketawa datang menghampiri.

"Anak bau !" katanya sambil menendang tubuhnya Lo In


hingga terpental bergulingan setombak jauhnya. "Rasakan
gempuran tangan ciciku !" si iblis menyerang gemas seraya
memburu dan hendak menendang lagi.

"Tahan !" kedengaran si nenek menyetop niatnya Siauw Cu


Leng yang gemas sekali pada Lo In yang pernah bikin ia lari
terbirit-birit.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Siauw Cu Leng tidak jadi menendang. Ia jadi uring-uringan, ia


berkata, "Anak bau ini, buat apa ditinggal hidup ? Mampusi
saja, habis perkara !"

Si nenek goyang-goyang tangannya sambil jalan


menghampiri. Dekat tubuh Lo In, ia jongkok mengawasi
parasnya si bocah yang cakap tengah telentang dengan tidak
ingat orang, mungkin napasnya sudah berhenti.

Pelan-pelan tangannya si nenek ditempelkan pada dadanya


Lo In. Ia dapatkan Lo In masih bernapas meskipun sangat
perlahan. Kembali ia mengawasi pada paras Lo In lalu
menghela napas, "Musti anak ini turunannya dia........." ia
berkata perlahan, tapi cukup nyata bagi telinganya Siauw Cu
Leng.

Si Iblis Alis Buntung juga turut jongkok.

Sambil turut mengawasi si bocah yang seolah-olah sudah


tidak ada napasnya, Siauw Cu Leng menanya, "Siapa yang
kau maksudkan, cici ?"

"Dia..........dia........" sahtu si nenek bengong.

"Oh, aku tahu. Dia si orang she........." Siauw Cu Leng kata


lagi. Ia tak dapat meneruskan kata-katanya karena si nenek
tiba-tiba menaruh telunjuk di mulut, bersuara "sstt !"

Siauw Cu Leng celingukan sebab tanda dari kakaknya itu


menandakan ada orang yang mengintai. Tapi ia tidak lihat
apa-apa kecuali dua monyet kecil yang sedang lelompatan di
pohon bambu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Yang satu kelihatan kepalanya putih sedang yang pendekan


matanya putih. Dua monyet itu kelihatan lucu sekali.

Setelah lama memperhatikan, mereka itu tidak mendengar


gerakan apa-apa lagi, maka Siauw Cu Leng sambil ketawa
berkata, "Ah, cici. Hanya dua binatang itu saja yang
mengagetkan kita." sambil ia menunjuk pada dua kera yang
seenaknya saja bermain lompat-lompatan saling kejar, malah
terkadang sampai mendekati mereka dengan aksinya masing-
masing yang lucu.

Siapa si nenek itu ? Ia bernama entah siapa, tapi ia terkenal


dalam kalangan kang-ouw dengan nama Ang Hoa Lobo atau
si nenek Kembang Merah. Rupanya nama ini diambil dari
kebiasaannya, pada rambutnya suka dicantum kembang yang
warnanya merah.

Kepandaiannya jauh diatas Siauw Cu Leng.

Namanya saja si iblis Siauw cu Leng memanggil cici (kakak).


Tapi sebenarnya mereka itu sudah menjadi laki bini diluar
kawin.

Ang Hoa Lobo 'jago racun', disamping kepandaian silatnya


tinggi hingga Siauw Cu Leng yang biasa tidak takuti siapa
juga, ia tunduk terhadap bininya diluar kawin itu. Ia pun juga
mempunyai panah beracun buatang Ang Hoa Lobo.

Demikian, tatkala mengetahui bahwa kecurigaannya tidak


beralasan, makan Ang Hoa Lobo suruh Siauw Cu Leng
pondong Lo In untuk dibawa pergi dari tempat itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Siauw Cu Leng benci pada Lo In tapi ia tak dapat menolak


perintah sang ratu. Terpaksa dengan uring-uringan ia angkat
si bocah, terus dipanggul di pundaknya.

Ang Hoa dan Kim Popo, jadi sudah dua-dua nenek yang
muncul dalam cerita. Sekarang, mari kita melihat perjalanan
Kim Popo dan asal usul dua nenek itu.

Kim Popo setelah dijemur selama dua jam dibawah terik


panasnya matahari, barulah dengan sendirinya totokan si
thauto bebas. Di samping sangat gusar, ia rasakan
tenggorokannya sangat kering. Cepat ia bangkit lalu
menghampiri tongkatnya dan dipungutnya. Ia meneduh
sebentar di bawah pohon kemudian ia mencari air, kalau-kalau
didekat situ ada kali kecil yang jernih airnya.

Keinginannya Kim Popo kesampaian, sebab tidak lama ia


jalan, ia menemui sebuah kali kecil yang airnya jernih
bagaikan kaca, keluar dari mata-mata air dari pegunungan.
Kegirangan dia sampai di tepi kali, ia rebahkan diri tengkurap,
tangan kanannya dipakai menyendok air. Dengan napsu, ia
minum sekenyangnya. Ia cuci muka dan cacapi kepalanya
yang barusan kena dijemur panasnya matahari.

Ia rasakan adem sekali ketika merasakan air kali itu meresap


di kepalanya.

"Hahaha ! Dia ada disini !" tiba-tiba Kim Popo dibikin kaget
oleh suara laki-laki dari belakangnya. Cepat ia bergulingan
untuk menyelamatkan diri dari serangan gelap kemudian
dengan gerakan 'Ikan gabus meletik', di lain saat ia sudah
tancap kakinya berdiri sambil pegangn kencang tongkatnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia menduga si thauto yagn datang lagi. Maka ia sudah siap


untuk menempur musuhnya dengan mati-matian. Tapi ketika
ia mengawasi orang yang tertawa tadi, amarahnya dengan
seketika lenyap dan malah ia ikut ketawa dan berkata : "Koko,
kau bikin kaget orang saja. Mengapa sih suka jail begitu ?"

Tidak biasanya Kim Popo keluarkan suara dengan nada begitu


empuk dan halus. Kiranya orang itu ada 'kenalan lama' dari
Kim Popo.

"Adik Kim, kau dari mana ?" tanya orang laki-laki itu.

"Kau sendiri, datang dari mana dan mau kemana ?" balik
tanya Kim Popo sambil melirikkan matanya.

"Ah, adik Kim. Kau belum jawab pertanyaanku." kata lagi


orang laki-laki itu sambil jalan menghampiri dekat pada si
nenek.

"Aku..... aku, eh......... kau........." sahut Kim Popo, agak gugup


suaranya.

Laki-laki itu telah mencekal tangannya Kim Popo yang kurus,


dengan tangan kanan ia mencekal, sedang tangan kirinya
memegang lengan kanan si nenek sehingga si nenek coba
berontak dari cekalan dan pegangan si lelaki sambil
mengucapkan kata-kata yang gugup tadi.

Berontaknya Kim Popo hanya 'aksi' atau pura-pura saja.


Sebab iahanya sebentaran saja beraksi demikian. Selanjutnya
ia jinak, antapkan perbuatannya si laki-laki tadi sambil
tundukkan kepala seperti anak dara yang malu-malu kucing.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Orang akan merasa geli dan lucu, melihat adegan yang 'luar
biasa' itu.

Kim Popo yang terkenal dengan adatnya yang angin-anginan


dan kepala batu, eh, bolehnya begini jinak pada lelaki yang
dihadapinya malah mengunjuk aksi manja aleman, bagaikan
anak perawan usia sweet-seventeen.

Siapakah lelaki itu ? Siapa Kim Popo itu ?

Marilah kita menuturkan 'kisah roman' dari mereka yang cukup


menarik.

Di sebelah barat kota Hoa-im dalam provinsi Siamcay, ada


tinggal bekas piauwsu (pengawal antaran barang) bernama
Kong Tek Liang. Ia terkenal dengan ilmu tongkatnya yang
dinamai 'Thian-lo Sin-kuay-hoat' atau 'Ilmu silat tongkat sakti
jatuh dari langit', terdiri dari 6 jalan dan masing-masing jalan
ada mempunyai 8 jurus, sama sekali jadi 48 jurus.

Dengan kepandaiannya ini, ia banyak taluki penjegal-penjegal


atau perampok-perampok besar, dalam perjalanan mengawal
barang-barang antaran. Ketika ia masih jadi piauwsu,
sehingga namanya terkenal dengan julukan Sin-kuay piauwsu
atau Piauwsu Tongkat Sakti. Setelah berusia tua, ia dengan
sendirinya mengundurkan diri dan menetap di sebelah barat
kota Hoa-im.

Kong Tek Liang mempunyai anak perempuan bernama Kong


Kim Nio, yang sangat dimanjakan karena ia hanya puteri satu-
satunya.

Di samping Kong Kim Nio, si Piauwsu Tongkat Sakti


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mempunyai dua murid bernama Siauw Cu Leng dan The Sam.

Kim Nio ada berparas cantik menarik hingga Siauw Cu Leng


dan The Sam tergila-gila oleh kejelitaannya Kim Nio.

Siauw Cu Leng parasnya cakap tapi sifatnya licik dan agak


ceriwis. Sebaliknya The Sam, meskipun kalah cakap dari
Siauw Cu Leng, ia lebih pandai dalam merayu si dara. Hatinya
Kim Nio lebih mendoyong pada The Sam, pergaulan mereka
pun menjadi lebih erat oleh karenanya.

Pada suatu hari, Kim Nio duduk berduaan dengan The Sam
beromong-omong dalam sebuah taman bunga yang terdapat
dipekaranagn rumah Kong Tek Liang yang lebar luas. Mereka
begitu asyiknya ngobrol sampai tak disadari dua tangan
mereka saling pegang.

"Adik Kim," terdengar suara The Sam berkata dengan suara


perlahan. "Mungkinkah kita bisa jadi kawan seumur hidup ?"

"Kenapa tak mungkin, koko ?" sahut Kim Nio dengan mukanya
bersemu merah sebab seketika itu ia merasakan pegangan
tangannya The Sam makin erat dan duduknya menggeser
lebih dekat lagi.

"Aku kuatir kau tidak menjadi milikku, adik Kim." kata The
Sam, suaranyaagak gemetar.

"Kenapa kau memikir begitu, koko ?" tanya Kim Nio seraya
tarik tangannya yang dipegang erat-erat oleh The Sam.

Tapi The Sam tidak mau melepaskan tangan yang ditarik


pulang itu, malah ia menggunakan dua tangan menggenggam,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seolah-olah takut tangan si gadis yang lemas halus laksana


kapas itu terlepas. Kim Nio juga tidak memaksa, ia antapkan
tangannya dalam genggaman kedua tangan The Sam yang
kuat. Hatinya tiba-tiba memukul melihat The Sam duduknya
makin menggeser saja merapati tubuhnya.

"Adik Kim........" kata The Sam, suaranya hampir tidak


kedengaran.

"Kenapa, koko ?" tanya Kim Nio terkejut, melihat gerak gerik
The Sam.

Anak muda itu mengawasi parasnya si nona, dari sela-sela


matanya The Sam menetes air mata turun mengalir di kedua
pipinya.

"Kau kenapa, koko ?" Kim Nio ulangi pertanyaannya, heran


melihat The Sam menangis.

"Aku mencintai kau, tapi aku akan kehilangan kau......." sahut


The Sam. Ia menangis, seperti anak kecil.

-- 6 --

Kim Nio makin heran. Sambil tarik lepas tangannya dari


genggaman The Sam, ia berkata, "Koko, kau omonglah yang
jelas. Jangan kau menangis tidak karuan, membuat aku jadi
menghadapi teka teki."

"Adik Kim, boleh aku bicara terus terang ?" tanya The Sam
setelah menyusut air matanya.

"Kenapa tidak boleh." sahut Kim Nio. "Kau ceritalah dengan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tenang."

"Adik Kim, aku bakal kehilangan kau sebab kau sudah


ditunangi dengan Suheng Siauw Cu Leng dan...." sampai
disini bicara The Sam mandek karena dipotong oleh Kim Nio.

"Dari mana kau tahu ini ?" Kim Nio memotong, seraya bangkit
dari duduknya, berjingkrak saking kaget.

"Suhu yang ceritakan ini padaku." sahut The Sam.

"Kenapa ayah tidak cerita tentang ini padaku ? Aku heran !"
kata Kim Nio.

"Dengan pertunangan ini, hilanglah pengharapanku. Bukankah


itu berarti aku akan kehilangan kau, adik Kim ?" The Sam
berkata lagi sambil tundukkan kepala.

Kim Nio melihat si pemuda yang putus harapan, merasa amat


kasihan.

Hatinya, meskipun suka pada kecakapan Siauw Cu Leng,


sebanding kalau menjadi suami istri, tapi ia tak dapat melupai
Ji suhengnya (kakak kedua dalam perguruan), yang ia cintai
dengan hati murni. Sebagai tanda bahwa ia lebih mesra
terhadap The Sam, terbukti dari panggilannya. Ia seharusnya
memanggil Ji-suheng pada The Sam tapi ia hanya memanggil
'koko' saja. Sebab pikir Kim Nio, panggilan ini ada lebih mesra
kedengarannya.

Tangang Kim Nio yang halus tiba-tiba diangkat lalu memegang


dagu The Sam, diangkat hingga dua pasang mata bertemu
pandangan. "Koko, kau jangan kuatir. Aku akan menjadi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

milikmu......." kata Kim Nio menghibur, mulutnya yang mungil


menyungging senyuman yang tak dapat dilupakan oleh si
pemuda yang kuatir kisah cintanya akan menjadi tamat.

Tampak The Sam pun bersenyum setelah mendengar kata-


kata Kim Nio. Badannya tiba-tiba bergerak maju dan dilain
saat tampak Kim Nio sudah berada dalam rangkulannya The
Sam, jinak sekali kelihatannya.

The Sam mencium pipi kanannya Kim Nio perlahan sambil


berbisik, "Adik Kim......"

"Ya....... koko........." sahut Kim Nio sambil merasakan ciuman


hangat dalam pelukan kekasih yang ia sangat cintai.

"Adik Kim, boleh aku menciummu lagi ?" bisik The Sam lagi.

Kim Nio hanya manggut, bersenyum dan segera ia merasakan


ciuman hangat di pipi kirinya. Keduanya saling peluk dengan
penuh kasih.

"Ha ha ha !" sekonyong-konyong terdengar suara ketawa


mengejek.

Dua makhluk yang sedang asyik dalam lautan asmara terkejut,


melepaskan pelukannya dan masing-masing lompat
menjauhkan diri satu sama lainnya.

Di situ tambah satu orang ialah Siauw Cu Leng. Dengan suara


sinis, Siauw Cu Leng berkata, "Bagus, bagus ya, perbuatan
bagus !"

Kim Nio berdiri tercengang, sedang The Sam tundukkan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kepala seakan-akan persakitan yang merasa bersalah.

Tampak Kim Nio tekap mukanya dengan kedua tangannya, ia


menangis saking malunya lalu lari masuk ke dalam rumah.

"The Sam !" bentak Siauw Cu Leng kasar.

"Apa kau tidak tahu adik Kim sudha menjadi milikku ? Apa kau
belaga pilon dengan perkataan suhu ?"

The Sam tidak menyahut, ia hanya tundukkan kepalanya.

Siauw Cu Leng sebenarnya bukanlah dengan sengaja


mengintip perbuatan mereka, tapi secara kebetulan saja.
Ketika ia ke belakang, ia masuk ke taman bunga mau memetik
sekuntum bunga untuk dihadiahkan pada Kim Nio, apabila
sebentar sore pertunangan mereka diberitahukan pada si jelita
oleh suhunya.

Kong Tek Liang mengambil keputusan Siauw Cu Leng


sebagai mantunya berdasarkan perhitungan bahwa Siauw Cu
Leng cakap parasnya, pintar mengambil hati sang suhu, juga
dengannya ada hubungan famili. Ibunya Siauw Cu Leng ada
adik piauwnya yang menikah dengan orang she Siauw. Atas
permufakatan kedua orang tua, ialah Kong Tek Liang dan
ibunya Siauw Cu Leng, bapaknya sudah mati, mereka setuju
merangkapkan jodoh anak-anaknya.

Kepada Kim Nio sendiri, Kong Tek Liang belum memberi


tahukan tentang pertunangan itu karena Sin-kuay Piauwsu
mau mencari kesempatan yang baik sehingga anaknya tidak
menjadi terkejut. Kong Tek Loang tahu bahwa anaknya ada
lebih mencintai The Sam, maka dengan perlahan ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merenggangkan dahulu pergaulannya kedua orang muda itu.


Kepada The Sam ia sudah beritahukan. Maksudnya supaya
The sam mengundurkan diri karena Kim Nio sudah menjadi
miliknya Siauw Cu Leng. Si orang tua tidak mengira, bukannya
The Sam mundur, malah makin merapat hubungannya hingga
terjadi adegan yang dipergoki Siauw Cu Leng.

Siauw Cu Leng yang pergoki bakal istrinya dipeluki orang,


bukan main marahnya. Ia sudah lantas mau menerjang dan
gebuk mampus The Sam, tapi ia takut salah pukul sehingga
bukannya The Sam yang terpukul tetapi malah tunangannya.
Maka ia hanya perdengarkan suara ketawanya yang bernada
mengejek.

Sekarang mereka hanya berduaan saja, makin meluap


kegemasan Siauw Cu Leng.

"Bangsat she The, kau terlalu kurang ajar !" teriaknya. "Berani
kau merebut bakal istriku ? Nih, rasain !"

Berbareng ia menerjang. Kepalanya The Sam menjadi


sasaran dengan gerakan "Tok pek Hoasan' atau 'Menggempur
gunung Hoasan'. Serangan dilakukan dengan cepat luar biasa,
dibarengi dengan hawa amarah yang meluap-luap. Tidak
heran kalau kepalanya The Sam yang sedang nunduk bisa
berantakan otaknya kalau saja pukulan Siauw Cu Leng
mengenakan sasarannya.

The Sam tahu datangnya bahaya, cepat ia kelit ke kanan.


"Tahan !" serunya.

Siauw Cu Leng tarik pulagn tenaganya yang mengenakan


sasaran kosong. Lalu dengan mata melotot menanya, "Kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mau bicara apa lagi ? Terima sajalah kematianmu ini hari !"

Berbareng dengan itu ia juga sudah lantas mau menyerang


lagi.

"Kau adalah suheng dan aku adalah sute. Tidak seharusnya


bila kakak adik mesti berkelahi. Maka haraplah suheng suka
bersabar." kata The Sam seraya mengelakan tubuhnya,
berkelit sana sini untuk menghindari serangan Siauw Cu Leng
yang dilancarkan bertubi-tubi.

"Hmm !" mendengus Siauw Cu Leng sambil serangannya tidak


ia hentikan.

"Maaf suheng kalau aku kurang ajar !" kata The Sam seraya
kali ini, ia tidak mau mengalah terus terusan.

Dua saudara dalam seperguruan itu jadi saling gasak dengan


serunya.

Dalam tempo pendek saja, sudah lewat 28 jurus. Siauw Cu


Leng sangat penasaran untuk dapat menjatuhkan saudara
mudanya.

Dua saudara itu, sebenarnya kepandaiannya tidak berimbang.


Dengan kata lain dapat dikatakan Siauw Cu Leng selangkah
lebih unggul sebagai saudara tua. Tapi oleh karena Siauw Cu
Leng berkelahinya dengan bernapsu, maka ia telah menelan
pil pahit dari The Sam.

Sehingga terbitlah suatu kejadian. Ketika ia menggunai tipu


'Hiu hi lian po' atau 'Ikan cucut menerjang gelombang'.
Kepalan kirinya menjotos muka, sedang tangan kanannya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan dua jarinya meluncur menotok 'hoa kay hiat', jalan


darah di pundak kiri The Sam.

Serangan cepat itu dilakukan hampir berbareng, tapi The Sam


juga tidak kurang cepatnya untuk menyelamatkan diri. Tangan
kanan menangkis jotosan ke muka sambil kelit miring ke kiri
berbareng ia menyambar lengan kanan lawan yang hendak
menotok pundaknya. Ia menggennak sejenak, kemudian
tangannya membalik, menghajar dada Siauw Cu Leng yang
terjerunuk ke depan.

Ini adalah jurus 'Sin-chiu Pa-houw' atau 'Tangan sakit


menggempur macan', jurus keempat dari jalan kelima dari
'Thian Lo Sin-kuay-hoat', ilmu silat tongkat sakti yang menjadi
kebanggaannya Sin-koay Piauwsu Kong Tek Liang.

Telak hajaran The Sam didadanya Siauw Cu Leng sehingga ia


rubuh seketika setelah mengeluarkan jeritan ngeri, dari
mulutnya kontan menyemburkan darah panas dan ia jatuh
pingsan.

The Sam jadi ketakutan. Ia bukannya datang menolong,


angkut sang suheng ke dalam rumah untuk minta pertolongan
suhunya, sebaliknya ia malah angkat kaki dari situ untuk
melenyapkan diri.

Siauw Cu Leng menggeletak dengan tak sadarkan diri.

Kong Tek Liang yang barusan pulang habis menamu ke rumah


temannya, diberitahukan oleh Kim Nio, dua suhengnya tengah
berkelahi. Lantas buru-buru melihat ke belakang dengan
maksud mau memisahkan, tapi sudah terlambat. Disitu ia
hanya dapatkan Siauw Cu Leng terlentang pingsan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berlumuran darah.

Bukan main kagetnya sang guru. Cepat-cepat ia memberikan


pertolongannya setelah memeriksa lukanya di dada, ia
pondong murid kepalanya itu dibawa masuk ke rumah.

Kim Nio mengikuti dari belakang sambil menangis


sesenggukan.

Si Tongkat Sakti marah-marah dan mengeluarkan ancaman


hendak menghukum The Sam tapi sejak itu tidak kelihatan
pula mata hidungnya sang murid, apalagi pulang ke rumah.
Hal mana sangat mendukakan hatinya Kim Nio.

Karena kejadian itu, karena gara-garanya Kim Nio, maka sang


ayah bertindak bengis menghukum Kim Nio disuruh merawati
dirinya Siauw Cu Leng sampai sembuh.

Mau tidak mau Kim Nio menurut, tidak berani ia


membangkang. Apalagi ia mengingat tiada orang lain yang
dapat merawati Siauw Cu Leng, selain ia berdua ayahnya
yang sudah lanjut usianya.

Dalam perawatan, Kim Nio bersungguh-sungguh sebab ia


merasa berdosa. Ia yang menyebabkan luka parahnya sang
suheng. Maka dengan berangsur-angsur Siauw Cu Leng mulai
sembuh dari luka parahnya.

Di waktu sakit tak dapat bangun, Siauw Cu Leng sering


ditolong Kim Nio, mengangkat bangun dari tidurnya untuk
minum obat. Pun sering membantu ayahnya mengurut-urut
jalan darahnya sang suheng supaya lancar lagi. Dengan
sering bersentuhan badan dan mata pandang memandang,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hatinya Kim Nio pelan-pelan terpikat juga pada Siauw Cu


Leng, lupa ia pada The Sam yang sekarang entah ada
dimana.

Sering Kim Nio menemani sang suheng duduk di tepi


pembaringannya, kasak kusuk mengobrol ketawa-tawa. Dari
memegang jari terus ia memegang tangan, lalu ke lengan. Kim
Nio antapkan tangan nakal si ceriwis, malah ia bersenyum.
Tapi alangkah kagetnya, tiba-tiba Siauw Cu Leng meniup
padam api lilin. Kim Nio rasakan tangannya ditarik hingga ia
terjerunuk menubruk badannya si bangor di atas pembaringan.
Kim Nio berontak tapi sudah terlambat, dua tangan yang kuat
telah memeluk dirinya.

Kim Nio memberontak, tapi tidak berdaya karena ciuman si


ceriwis Siauw Cu Leng yang bertubi-tubi membuat badannya
jadi lemas tak bertulang.

"Adik Kim,... oh...'

"Suheng.... ah...."

Hanya kata-kata ini yang terdengar sejenak dari lubang kunci


pintu kamar Siauw Cu Leng, sayup-sayup kedengarannya
seperti terbawa hembusannya angin.

Itulah kisah pada suatu malam, dimana si Tongkat Sakti Kong


Tek Liang tidak ada di rumah, lagi main tio-ki (catur Tionghoa)
di rumah tetangganya.

Masih terdengar suaranya Kim Nio, sayup-sayup jauh disana,


tapi tegas : "Jangan suheng, jangan........"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lantas sang malam pun menjadi sunyi senyap.......

Sejak itu, dua minggu kemudian dalam rumah Sinkuay


Piauwsu Kong Tek Liang diadakan keramaian, pesta
pernikahan Kim Nio, puteri tunggalnya dengan Siauw Cu
Leng.

Banyak kawan-kawannya Kong Tek Liang yang datang


meramaikan pesta itu.

Diantara tetamunya yang kelihatan sangat dihormati adalah


Teng Siu bersama anak perempuannya bernama Teng Goat
Go yang tinggal di sebelah selatan rumahnya Kong Tek Liang.

Melihat dirinya dihormati lebih dari tetamu yang lainnya, Teng


Siu tampaknya amat angkuh, seakan-akan ia tidak
memandang mata pada banyak tetamu yang hadir dalam
pesta itu. Maka, untuk mereka yang gampang tersinggung
hatinya, tidak mau mendekatinya, kuatir nanti terbit urusan
yang tidak diingini.

Sebenarnya, memang Teng Siu orang takuti. Ditakuti bukan


kepandaian ilmu silatnya yang tinggi atau ia seorang hartawan
besar, ia disungkani kawan dan lawan karena 'racun'nya. Ia
sangat mahir membuat racun hingga dalam kalangan 'hitam'
(kawanan penjahat), ia sangat dihormati karena banyak
diantara kawanan jahat itu yang membuat senjata rahasianya
dengan bisa yang diperoleh dari Teng Siu. Dalam kalangan
jahat, orang hanya kenal nama julukannya Hoa-im, si orang
beracun dari Hoa-im.

Anak perempuannya, Goat Go yang umurnya 24 tahun sebaya


dengan Kim Nio, sudah mewarisi kepandaiannya sang ayah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan Kim Nio, Goat Go kenal baik sebab teman dalam satu
sekolahan.

Meskipun parasnya cantik, Goat Go hatinya tidak cantik. Jelus,


gampang mengiri. Maka tidak heran kalau ia mengiri pada Kim
Nio yang dapatkan Siauw Cu Leng sebagai suami yang
ganteng.

Seperti juga dengan Kim Nio, Goat Go siang-siang sudah


kehilangan ibu, meninggal dunia pada waktu ia berusia 8
tahun. Ia hidup bersama ayah dan Twa-ienya (kakak
perempuan ibunya) yang menggantikan sang ibu yang sudah
berada di alam baka.

Goat Go lebih dimanja oleh orang tuanya dibandingkan


dengan Kim Nio, kemerdekaannya tidak dikekang. Ia boleh
pergi melancong seharian atau satu malaman tidak pernah
ditegur oleh ayahnya, yang percaya penuh Goat Go bisa jaga
diri sendiri.

Begitulah, ketika ia habis pulang dari undangan, otaknya


bekerja untuk mencari pasangan yang lebih cakap dari
suaminya Kim Nio.

Ia memang cantik menarik, banyak pemuda yang incar dirinya


tapi tidak berani majukan lamaran karena pengaruh sang ayah
yang termashur biasanya.

Juga disekitar kampungnya, Goat Go tidak menemui orang


yang secakap suami Kim Nio. Mana ia mau ladeni mereka
yang mengincar dirinya. Ia justru ingin cari orang yang lebih
cakap dan ganteng dari Siauw Cu Leng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Teng Siu tidak memikirkan akan jodohnya sang puteri. Ia


hanya menyerahkan atas pilihan anaknya, ia hanya akur saja.
Pikirnya, ini demi keberuntungna anak tunggalnya.

Pada suatu hari, selagi Goat Go ngelayap, ia mampir dalam


sebuah rumah makan hendak mengisi perutnya yang lapar.
Sikapnya galak betul, main bentak saja kepada pelayan yang
melayaninya. Tapi si pelayan melayani ia dengan ramah
tamah, meskipun dibentak-bentak. Ini karena si pelayan,
siang-siang sudah mendapat bisikan dari majikannya supaya
melayani si nona dengan baik dan manis budi meskipun si
nona berlaku galak kepadanya.

Majikan rumah makan itu sudah tahu ketika Goat Go masuk, ia


kenali itu ada puterinya Hoa-im Tok-jin, maka cepat-cepat ia
bisiki pelayan yang hendak melayaninya supaya layani
dengan baik sehingga tidak terbit onar.

Meskipun si pemilik rumah makan sudah atur demikian rapih,


toh terjadi juga keonaran, tak dapat dicegah. Sebabnya, Goat
Go marah-marah lantaran si pelayan salah membawakan
santapan yang ia pesan. Makanan itu semestinya dibawa ke
meja seorang tamu anak muda yang duduk di pojok, tapi ia
salah bawa ke mejanya si nona. Rupanya ia sangat bingung
karena dipesan lekas-lekas membawa makanan pesanannya
si nona. Dalam marahnya, Goat Go angkat mangkok sayur
yang masih mengepul panas lalu disiramkan ke mukanya si
pelayan. Siapa, sudah tentu saja menjadi gelagapan dan
berteriak-teriak kepanasan mukanya. Para tamu menjadi
tercengang melihat perbuatannya Goat Go.

Mereka yang kenali si nona, pada membayar uang makannya


di tempat kasir dan ngeloyor pergi. Sedang tamu-tamu yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

datang dari lain tempat pada berdiri dari bangkunya


mengawasi Goat Go. Mereka sangat tidak senang melihat
kelakuan si nona yang demikian keterlaluan.

Termasuk si anak muda yang duduk di pojok, yang sayurnya


disiramkan ke muka si pelayan. Merasa tidak puas, ia datang
menghampiri ke tempat Goat Go yang saat itu sedang
terpingkal-pingkal ketawai si pelayan yang gelagapan
kepanasan mukanya, sambil kedua tangannya dipakai
menekap muka.

Sambil tolak si pelayan minggir, anak muda itu maju


mendekati Goat Go berkata, "Cici, perbuatanmu sangat
keliwatan !"

Si nona heran ada orang berani menegur kelakuannya. Ia


angkat kepalanya memandang. Kiranya yang menegur itu
seorang anak muda, dandanannya sebagai pelajar, di
punggungnya ada terselip sebatang pedang pendek.
Pengawakannya tinggi kurus, gagah dan cakap tampangnya,
mengalahkan kecakapan Siauw Cu Leng dalam pandangan
Goat Go yang tengah mencari pasangan.

Diam-diam ia tertegun memandang si anak muda. Pikirnya,


pemuda itulah yang pantas menjadi pasangan dirinya. Tapi
Goat Go wataknya tinggi hati, tidak senang ada orang tegur
dirinya. Maka setelah mengerutkan keningnya, ia bangkit dari
duduknya, menghadapi si anak muda. "Habis kau mau apa ?"
ia jawab teguran si anak muda.

"Pelayan itu tidak berbuat kesalahan beasr, kenapa kau


sampai berbuat yang begitu keliwatan ?" kata si pemuda lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ia, habis kau mau apa ?" tantang si nona.

Tidak marah dia, mukanya tampak berseri-seri seakan-akan


pandang remeh pada anak muda di depannya. Si anak muda
tidak takut, tapi si pemilik rumah makan sebaliknya yang
ketakutan setengah mati. Meskipun takut, ia coba maju dan
ingin melerai antara dua muda mudi yang kelihatannya hendak
bergerak.

"Sudah, sudah." katanya. "Kejadian itu tidak berarti, untuk apa


ditarik panjang. Sudah, sudahlah..........." sambil ajukan diri,
hendak memisahkan.

"Plak !" tiba-tiba terdengar suara, kiranya itu tangannya si


nona yang mampir ke pipinya si pemilik rumah makan.
"Jangan coba melerai, aku tidak suka cecongormu muncul
diantara kita !" bentak si gadis, matanya melotot gusar.

Sambil menekan pipinya yang panas bekas tamparan si nona,


pemilik rumah makan itu mundur teratur. Hanya matanya saja
kedap kedip sambil meringis-ringis kesakitan. Kelakuan mana
mengelitik urat ketawa Goat Go sebab ketika itu ia tertawa
cekikikan sambil matanya melirik pada si anak muda.

Dalam keadaan tertegun, si anak muda dengar Goat Go


berkata : "Apa kau juga ingin rasakan ini ?" seraya unjuk
telapak tangannya yang putih halus.

"Cobalah !" sahut si anak muda, dingin suaranya.

Goat Go memang kepingin usap muka orang yang cakap,


sekarang ada jalan untuk ia berbuat demikian. Maka dalam
girangnya, seketika ia lantas angkat tangannya dipakai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menampar pipinya si anak muda.

Tapi..... tampaknya bukan mengenakan pipi orang, sebaliknya


angin yagn ditampar olehnya sebab si anak muda dengan
otomatis sudah berkelit.

Merah mukanya si nona, bukan main malu dia. Maka di lain


saat ia sudah menampar lagi, malah ia gunakan tipu 'Thian lie
hun hoa' atau 'Bidadari sebarkan kembang', bukan satu tapi
dengan dua tangan ia menampar kalang kabut ke mukanya si
anak muda. Sayang gerakannya meskipun cepat, si pemuda
malah lebih cepat menghindarkan hujan tamparan itu.

Akhirnya Goat Go berhenti sendiri. Kiranya barusan ia hanya


menampari angin tok, sebab si anak muda siang-siang sudah
jauhkan diri dan berdiri di depannya dengan muka tersungging
senyuman ejek.

Goat Go jadi kalap melihat si anak muda mentertawai dirinya.

"Kau berani permainkan nonamu, hmm ! Kau lihat !"


bentaknya, berbareng ia depak terpental bangku di dekatnya,
meja ia terbaliki lalu lompat pada si pemuda. Tangan
kanannya di ulur ke arah dada lawan hendak mencengkeram
sedang tangan kirinya dengan kecepatan kilat menyambar
pada 'thian-ki-hiat', jalan darah di iga kanan. Serangan ini
dilakukan dengan berbareng, ganas kelihatannya tapi si anak
muda tinggal kalem saja. Ia menunggu datangnya serangan,
begitu tangan kanan Goat Go hampir sampai di dada, tangan
kirinya si pemuda sudah siap untuk menyambuti. Sementara
tangan kanan si nona kena dicekal, adalah tangan kirinya yang
hendak menotok jalan darah di iga kena ditekan ke bawah.
Goat Go merasa sesak dadanya menahan tekanan si anak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

muda yang dibarengi dengan sebagian tenaga dalam.

Si anak muda menggunakan gerakan 'Sian-jin tian chiu' --


'Sang Dewa mementang kedua lengannya', untuk menyambuti
serangannya Tong Goat Go yang hebat.

Si nona berontak-berontak untuk meloloskan kedua lengannya


yang sudah kena dicekal si anak muda. Tapi bagaimana pun
ia keluarkan tenaga sepenuhnya, tetap tangannya tak dapat
diloloskan dari cekalan lawan yang makin lama makin sakit
rasanya. Rupanya anak muda ini mau kasih sedikit hajaran
pada Goat Go yang tengik lagaknya, keterlaluan
perbuatannya.

Lwekang si pemuda rupanya tinggi sebab sebentar kemudian


kelihatan Goat Go sudah tak berkutik. Itulah pengaruhnya
lwekang (tenaga dalam) yang disalurkan ke tangannya yang
mencekal tangan si nona yang membuat Goat Go merasakan
lumpuh badannya.

Matanya si nona menatap si anak muda.

"Kau mau apakan kau, setan ?" tanyanya.

Ia sudah tidak meronta-ronta lagi, sudah menyerah kalah


tampaknya.

"Aku mau kau ganti kerugian apa yang sudah kau rusakkan
dan uang obat untuk si pelayan yang kau siram mukanya
dengan sayur !" sahut si anak muda.

"Baik." kata Goat Go tanpa banyak pikir lagi.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si pemuda tertegun. Ia tidak menyangka urusan begitu


gampang, si nona mau menerima permintaannya. Dalam
tercengangnya, ia masih terus mencekali kedua tangannya si
nona.

"Kau masih belum mau melepaskan tanganku ?" Goat Go


tegur, suaranya halus dan ramah, membuat si anak muda
gelagapan dan buru-buru saja ia lepaskannya.

Tampak muka si anak muda bersemu merah saking jengah.

Setelah terlepas kedua tangannya, si nona urut-urut. Rupanya


ia masih merasa sakit bekas cekalan tadi. Tenaganya yang
barusan dirasakan lumpuh, sekarang sudah balik kembali.
Hatinya girang, ia tidak mendendam karena ia memang naksir
pada si anak muda.

Pikirnya, anak muda ini selain berparas cakap juga


berkepandaian tinggi. Mau cari siapa lagi kalau bukan dia,
dijadikan jodohnya ? Memikir sikapnya Goat Go gampang
berubah, mengherankan semua orang termasuk si pemilik
rumah makan yang masih merasakan pipinya panas bekas
tamparan si nona tadi.

"Mari kita ke kasir." mengajak Goat Go pada si anak muda.

"Cici, kau baik betul." kata si anak muda tanpa merasa.

"Memang aku tidak sakit." sahutnya bersenyum sambil melirik


tajam.

Si anak muda kembali tertegun. Pikirnya, anak dara ini benar-


benar aneh kelakuannya. Tadi ia begitu marah, beringas, tapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang begitu ramah dan ketawa, malah bisa melucu lagi.


Anak siapakah dia ? Lirikannya tajam menusuk pusat
asmaranya.

Anak muda itu mesem mendengar jawaban Goat Go yang


lucu.

Ia mengikuti dari belakang si nona, tapi belum sampai di


tempat kasir untuk membikin perhitungan, si pemilik rumah
makan sudah datang menyongsong. Katanya, "Kionghi,
kionghi !" sambil angkat tangannya menyoja kepada kedua
anak muda itu. Perbuatannya mana membuat mereka jadi
heran.

"Apanya yang hendak kau beri selamat ?" tanya Goat Go.

"Oh itu, kalian sekarang sudah akur lagi. Maka aku


mengucapkan kionghi kepada kalian." jawabnya seraya
ketawa haha hehe.

"Oh, begitu."kata Goat Go. "Sekarang mari kita hitung berapa


kerugian yang sudah aku bikin rusak serta itu uang obat untuk
pelayanmu."

"Tidak apa, tidak apa, itu tak usah." kata si pemilik rumah
makan sambil goyang-goyang tangannya. "Itu perkara kecil,
buat apa mesti diganti."

Tapi Goat Go tidak meladeni kata-kata merendah si pemilik


rumah makan, ia kedok kantongnya, keluarkan uang perakan
hancur, lalu ditaruh diatas meja.

"Cukup ?' tanyanya sambil mengawasi si pemilik rumah


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

makan.

Mengingat urusan akan berlarut-larut nanti, maka si pemilik


rumah makan terima saja penggantian si nona tanpa
menyebut 'tak usah' lagi. Ia hanya kata, "Cukup, cukup. Sudah
kelebihan malah."

Setelah selesai berurusan, Goat Go putar tubuhnya lalu


menghadapi si anak muda yang berdiri di belakangnya. Ia
ketawa manis, berkata, "Bagaimanan ? Kau puas sekarang ?"

Si pemuda anggukkan kepalanya.

"Kau belum makan, bukan ?" tanya si nona lagi.

Belum si anak muda menjawab, Goat Go sudah tarik


tangannya diajak duduk menghadapi satu meja yang agak
dipojok.

Si nona teriaki pelayan, pesan makanan untuk dua orang,


katanya, "Lekas siapkan makanan enak untuk kita makan !"

Makanan disiapkan dengan ekstra cepat oleh kok (tukang


masak).

Di lain saat, kelihatan dua muda mudi itu sudah kerjakan


sumpitnya mendahar hidangannya. Kalau si gadis ketawa-
ketawa dan banyak bicara, tetapi si pemuda tinggal membisu
saja.

Sejenak tadi si pemuda membisu saja, rupanya pikirannya


masih terpengaruh oleh laga lagunya Goat Go yang benar-
benar aneh menurut pendapatnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hei, kau berubah jadi orang bisu ?" menegur si nona, ketawa
manis sambil ujung sumpitnya dipakai mencolek hidung si
anak muda.

Pemuda itu kaget, cepat mengelak hingga sang sumpit si nona


tak usah berkenalan dengan hidungnya yang mungil.

Ia tertawa, katanya, "Cici, benar-benar aku dibikin heran oleh


kelakuanmu."

"Herannya kenapa ?" tanya si nona, matanya melirik tajam.

Kembali pusat asmara si pemuda tertusuk oleh lirikannya.

"Barusan aku lihat kau bengis seperti Li-giam-ong (Ratu


akherat)." kata si pemuda. "Sekarang kau berubah sebagai
Tian-li (bidadari) cantik dan ramah tamah........."

"Stop !" memotong Goat Go sambil mulutnya mengunyah


daging bebek panggang, tangannya yang memegang sumpit
diangkat digoyang-goyangkan.

Ketika daging bebek panggang sudah lewat


ditenggorokannya, ia meneruskan kata-katanya : "Kau bisa
juga melucu, hi ! Dari mana kau belajar ? Hi hi hi......."

Anak muda itu tertawa, kini ia tertawa terbahak-bahak.

Goat Go tidak kesepian lagi karena si pemuda mulai kembali


dengan kegembiraannya.

Mereka dapat tertawa-tawa gembira dalam rumah makan yang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang sudah kosong ditinggalkan oleh para tamu.

Hanya pemilik rumah dan para pelayannya yang menonton


adegan lucu, aneh sebab tadinya musuh sekarang mereka
menjadi sahabat seperti juga sahabat lama.

Ketika mereka habis makan, Goat Go bangkit hendak


membayar uang santapannya tapi dicegah oleh si pemuda,
berkata :

"Cici, kali ini aku yang bayar. Tadi kau sudah rogoh kantong
untuk mengganti kerugian. Apa salahnya kalau sekarang aku
yang membayar makanan, bukan ?"

Goat Go hanya tersenyum manis. "Terima kasih" ucapannya


halus.

Setelah membayar makanan, si pemuda balik lagi ke tempat


duduknya. Ia mengajak si nona berlalu. "Eh, nanti dulu." kata
si nona seraya pegang tangan si anak muda yang lemas
seperti juga tangannya sendiri yang halus.

"Ada urusan apa ?" tanya si pemuda.

"Aku duduk dahulu." si gadis menyuruh orang duduk, yang


segera diturut.

"Lama kita mengobrol dan ketawa-ketawa tapi belum kita


mengetahui nama masing-masing. Siapa sebenarnya kau,
adik ?" menanya Goat Go.

"Aku she Kwee, nama Cu Gie." sahut si anak muda.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dan umurmu ?" tanya Goat Go lagi.

"Tahun ini aku masuk 21 tahun." sahut Kwee Cu Gie.

"Pantesan kau panggil aku cici. Kalau begitu memang benar


aku ada lebih tua 3 tahun dari kau, adik Gie." berkata si nona.

Goat Go berkata seraya ketawa manis, melirik tajam dengan


ujung matanya.

Lagi-lagi Kwee Cu Gie dibuat bergoyang pusat asmaranya,


karena lirikan tajam si gadis. Tapi ia ada satu pemuda sopan,
tidak berani ia kurang ajar meskipun Goat Go, si berandalan
mengasih kesempatan Kwee Cu Gie untuk berbuat demikian.

"Sekarang kau hendak kemana ?" tanya Goat Go.

"Aku mau mencari pamanku." sahutnya.

"Adik Gie, bagaimana kalau kau mampir dahulu di rumahku ?"


mengundang si gadis.

"Terima kasih. Aku sangat kesusu. Lain kali saja kita bertemu
pula." jawabnya.

"Kalau begitu, baiklah. Cuma jangan lupa, kalau kau datang ke


sini cari aku ya !" memesan Goat Go, blak-blakan ia berkata,
tak pakai malu-malu lagi.

Kwee Cu Gie yang sopan santun merasa heran si nona


memesan demikian kepada seorang lelaki yang barusan saja
dikenal olehnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Goat Go memahami pikirannya si anak muda, maka lalu


berkata, "Adik Gie, aku bukannya gadis pingitan. Aku sangat
bebas, maka jangan heran kalau aku bicara blak-blakan. Apa
yang aku pikir dan lantas keluarkan."

Kwee Cu Gie anggukkan kepalanya.

"Nah, sampai disini saja kita berpisahan." kata si pemuda


kemudian.

"Bagus, selamat jalan adik Gie." sahut Goat Go. Sedikit pun
kelihatannya ia tidak merasa berat dengan perpisahan itu.

Tapi setelah Kwee Cu Gie berlalu dari sampingnya, ia menjadi


sedih sendirinya. Pilu rasa hatinya berpisahan dengan orang
yang dicintainya. Entah kapan mereka dapat bertemu pula. Ia
menyesal, tadi tidak ia tanyakan nama pamannya si anak
muda itu siapa namanya dan dimana tempat kediamannya.
Dengan mengetahui alamatnya, bisalah ia susul Kwee cu Gie
kesana buat diajak makan-makan lagi dan tertawa-tawa
menghibur hati.

Goat Go pulang dengan perasaan lesu, seperti orang yang


kehilangan sesuatu.

Di lain pihak, Kwee Cu Gie juga mengenangkan dirinya si


gadis. Pikirnya, gadis itu kecantikannya tidak mengecewakan,
dapat menggoncangkan jantung orang yang melihat,
ketawanya yang manis dan lirikannya yang mantap dalam
pusat asmara. Tapi sayang dalam sifarnya yang berandalan
itu ada tersembunyi kegenitan yang seakan-akan
mengundang untuk berbuat kurang ajar terhadapnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kwee Cu Gie menghela napas sambil melanjutkan


perjalanannya.

Hari sudah sore, tidak keburu ia mencari pamannya. Maka


pada malam harinya ia menginap dalam sebuah rumah
penginapan di kota Hoa-im.

Keesokan harinya, setelah tanya-tanya orang, ia sampai di


depan rumah yang terkurung tembok disekitarnya. Ia
mengetok-ngetok pintu rumah dengan gelang besi yang
tergantung di pintu. Rupanya memang ini diperuntukkan bagi
tetamu memanggil orang di sebelah dalam. Tidak lama ia
menanti, sebentar kemudian pintu dibuka. Satu pelayan
perempuan muncul didepannya dan menanyakan ada urusan
apa, siapa yang dicari.

Kwee Cu Gie kasih tahu maksud kedatangannya hendak


menemui tuan rumah. Si pelayan segera masuk ke dalam
setelah memesan Kwee Cu Gie untuk menunggu sebentar.

Tidak lama si pelayan keluar lagi dan mengundang Kwee Cu


Gie masuk.

Ia diantar ke dalam satu ruangan tengah dan disuruh duduk


menanti, sebentar lagi tuan rumah akan muncul menemuinya.

Kwee Cu Gie menunggu. Lama juga belum kelihatan muncul


tuan rumah. Ia jadi kesal, maka ia bangkit dari duduknya lalu
menghampiri satu pigura yang melukiskan pemandangan di
suatu pegunungan dimana ada berkeliaran banyak binatang
buas. Asyik ia memandangi pigur itu hingga tidak merasa
kalau dibelakangnya sekarang ada muncul satu orang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia menjadi kaget ketika sekonyong-konyong kedua matanya


disekap oleh dua tangan dari belakangnya. Cepat, ia mau
nglitik orang dibelakangnya itu, kalau ia tidak tahu bahwa yang
memegang tangan yang halus lemas, disusul oleh suara
empuk merayu, berkata, "Adik Gie, kau toh datang juga ke
rumahku......"

Kwee Cu Gie cepat putar tubuhnya dan... itulah Goat Go yang


berdiri di depannya, bersenyum memikat hati.

(Bersambung)

Jilid 03
Anak muda itu tercengang sebentaran. Belum sempat ia
menanya, Goat Go sudah tarik tangannya si anak muda. "Mari
kita duduk-duduk kongkouw !" katanya.

Ruangan itu perabotannya cukup mewah, pigura-pigura


dengan lukisan indah tergantung pada dinding-dinding
sehingga menarik selera tetamu, pot-pot kembang diatur rapi
sekali, siliran angin yang masuk dari jendela meniup
harumnya, mewangi masuk ke hidung.

Goat Go ajak Kwee Cu Gie duduk di atas bangku panjang


yang beralaskan bahan yang empuk, yang ditempatkan di
bawah jendela yang menghadap ke taman bunga.

"Adik Gie, " kata Goat Go, setelah mereka pada duduk.
"Sekarang aku tahu asal usulmu. Kau bukankah anaknya bibi
San dari Hoay-siang."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kwee Cu Gie ketawa. "Kau benar, cici" sahutnya. "Di mana


adanya paman Siu ? Aku ingin lekas sampaikan pemberian
selamat ibuku dan menanya keselamatannya."

"Sabar adik Gie." kaat Goat Go. "Segera ayah akan keluar, dia
sekarang masih repot dengan pekerjaannya.

Terpaksa Kwee Cu Gie layani si nona kong kouw. Sudah tentu


ngobrolnya urusan famili diantara mereka. Goat Go berkali-kali
menyatakan ia ingin ketemu bibinya (ibu Kwee Cu Gie).
Katanya, sejak ibunya meninggal, ia tidak pernah ketemu lagi
dengan ibunya Kwee Cu Gie yang pindah ke Hoay-siang dari
Hoa-im.

Kiranya ibu Kwee Cu Gie itu ada saudara piauw dari Teng Siu,
ayahnya Goat Go bernama Thio Leng San yang menikah
dengan Bian-ciang Kwee Eng Siang, salah satu jago
terkemuka dalam kalangan kang-ouw.

Ketika masih di Hoa-im, meskipun ada tersangkut famili, Kwee


Eng Siang tidak suka bergaul dengan Teng Siu. Ia tidak suka
akan pergaulannya Teng Siu dengan orang-orang dari
kalangan tidak benar terutama ia benci akan kepandaiannya
Teng Siu membuat racun dipakai membantu orang-orang
jahat.

Pernah Eng Siang satu kali menasehati Teng Siu untuk jangan
bergaul dengan kawanan penjahat dan kepandaiannya
membuat racun sebaiknya disalurkan untuk kebaikan
menolong orang saki. Tapi nasehat Eng Siang tidak digubris,
malah selanjutnya perbuatannya makin mencolok di mata Eng
Siang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Untuk menghindarkan bentrokan diantara famili sendiri, maka


Eng Siang ajak istrinya pindah ke Hoay-siang, suatu kota
dimana ia dilahirkan.

Pada waktu kepindahan itu, Kwee Cu Gie baru berumur lima


tahun.

Demikian, sewaktu mengobrol Goat Go mencoba menarik


hatinya Kwee Cu Gie dengan aksi genitnya. Tiap sebentar ia
pegang tangan si pemuda, mengasi lowongan untuk si
pemuda berbuat kurang ajar terhadap dirinya. Tapi
pancingannya itu ternyata tidak berhasilm, malah dari berani
melayani bicara, kelihatannya Kwee Cu Gie menjadi takut
melihat kegenitan Teng Goat Go.

Si nona jadi tidak sabaran, kenapa sang korban begini alot. Ia


mengundang saudara piauw itu untuk minum arak yang
barusan dibawakan oleh pelayannya.

Untuk membuat cici piauwnya senang, Kwee Cu Gie tidak


menolak. Tapi ketika ia minum baru tiga sloki, ia rasakan
matanya berkunang-kunang. Matanya pun dirasakan seperti
mau mengantuk. Seketika ia tak dapat menahan badannya
lagi. Ia rubuh celentang di atas bangku panjang yang
didudukinya.

"Hihihi, Cu Gie." kedengaran Goat Go ketawa, waktu melihat


korbannya rubuh.

Pipi Goat Go kemerah-merahan karena pengaruh arak yang


diminum barusan membuat si nona kelihatan tambahcanti dan
menggiurkan. Cuma sayang kecantikannya ini dibikin suram
oleh perbuatannya yang tidak bagus.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Goat Go bangkit dari duduknya, menghampiri si pemuda yang


sudah tidur nyenyak tampaknya. Ia tak dapat menahan rindu
hatinya yang meluap seketika. Maka ia lantas menubruk,
memeluk Cu Gie dan mencium pipinya.

"Plak ! Plak !" tiba-tiba terdengar suara pipi ditampar. Ternyata


pipi yang ditampar itu adalah pipinya si nona Goat Go yang
segera melepaskan pelukannya dan lompat mundur seraya
pegangi kedua pipinya yang panas bekas tamparan serta ia
rasakan ada giginya yang rontok.

"Anak kurang ajar !" bentkanya. "Kau berani tampar aku ?"
berbareng ia menerjang Cu Gie yang tengah mencelat bangun
dari rebahnya.

Sambil memutar tubuh, Cu Gie sambuti serangan Goat Go.


Tangan kanan si nona kena dipegang, dipelintir hingga Goat
Go berkaok-kaok kesakitan menangis.

Ketika Goat Go terima kabar dari pelayannya ada satu tama


muda cakap mencari ayahnya, lantas ia menduga akan dirinya
Kwee Cu Gie yang datang. Ia mengintip ketika Cu Gie diajak
masuk oleh pelayan. Benar saja ia lihat si pemuda yang
dirindukannya. Ia tidak jadi mengabarkan pada ayahnya yang
waktu itu sedan dalam kamar laboratoriumnya memasak obat.
Pikirnya, ia akan layani sendiri dahulu, belakangan baru
diberitahukan pada ayahnya. Tidak lupa ia siapkan arak yang
dicampuri beng-han-ye semacam obat tidur, maksudnya kalau
dengan kecantikan dan kegenitannya ia tak berhasil menjaring
si anak muda, ia mau bikin Cu Gie menjadi mabuk dan tertidur
dan selanjutnya ia boleh buat sesukanya atas tubuhnya Cu
Gie. Ia pesan pelayannya untuk membawakan arak dan sedikit
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidangan keluar kalau mereka sedang asyik bercakap-cakap.


Ia menggunakan tempat arak yang mempunyai dua aliran,
yaitu suatu aliran untuk arak biasa dan satu aliran lagi untuk
arak yang dicampuri obat tidur.

Caranya Goat Go untuk menjaring korbannya memang amat


rapih.

Tapi ia tidak memperhitungkan bahwa Cu Gie ada jago muda


yang lihai.

Ketika Cu Gie merasakan gejala tidak baik dari pengaruh arak,


segera ia gunakan lwekangnya yang tinggi untuk mendesak
arak yang diminumnya itu keluar dari lubang-lubang peluh
(keringat). Ia pura-pura seperti benar-benar ia kena
pengaruhnya arak. Setelah melenggut sejenak, ia rubuhkan
dirinya di atas bangku panjang yang didudukinya itu.

Ketika merasa dirinya dipeluk dan diciumi Goat Go, bukannya


ia menyambut dengan mesra, sebaliknya ia menjadi marah.
Bau harum dari tubuhnya Goat Go yang menembus ke dalam
lubang hidungnya tidak ia hiraukan, tangannya segera
melayang dan menampar keras juga sampai giginya si nona
ada beberapa yang rontok.

Selagi mencoba bangun, ia tahu dirinya diserang Goat Go.


Dengan sekali badannya berputar, ia sudah dapat menyambuti
serangan si nona dan tangannya Goat Go kena dicekal,
dipelintir hingga nona genit itu jadi berkaok-kaok kesakitan.

Cu Gie wataknya halus. Kalau tadi ia menampar itu dilakukan


saking tak dapat menahan marahnya. Kini marahnya sudah
hilang. Melihat Goat Go berkaok-kaok kesakitan, ia lepaskan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangannya sambil berkata, "Cici, perbuatanmu bikin aku jadi


lupa ! Harap perbuatanmu ini kau tidak ulangi lagi !" berbareng
Cu Gie putar tubuhnya. Dengan beberapa lompatan saja ia
sudah berada di pintu pekarangan.

Goat Go melenggak. Cepat ia memburu, ia hendak memanggil


balik tapi tak dapat keluar suara dari mulutnya. Ia malu. Ia
hanya menyaksikan si anak muda melenyapkan diri di balik
pintu pekarangan.

Sambil membetulkan pakaian dan rambutnya yang kusut,


Goat Go bantingkan diri diatas bangku panjang tadi yang
membuat riwayatnya tak terlupakan olehnya sampai kemudian
ia merubah dirinya menjadi Ang Hoa Lobo, si Nenek Bunga
Merah.

Di lain pihak, Kim Nio tidak kenal apa artinya 'bisa'. Ia diajari
oleh Goat Go sampai pandai tapi kemudian rusak mukanya
karean hembusan obat yang dimasak sehingga ia belakangan
berubah menjadi Kim Popo. Setelah mukanya jadi jelek tidak
karuan, Siauw Cu Leng yang cakap telah meninggalkannya,
ikut Goat Go. Belakangan nona Goat Go juga mukanya rusak
akibat racun. Buat bikin Siauw cu Leng tidak meninggalkan
dirinya, Goat Go sudah gasak mukanya si cakap dengan 'bisa;
sehingga lebih jelek dari mukanya Goat Go. Si 'Arjuna' tidak
laku lagi di kalangan perempuan baik-baik. Oleh karenanya ia
sangat setia pada Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, puteri
kesayangan dari Hoa-im Tok-jin Teng Siu.

Kisah cinta 'segitiga' antara Kim Popo alias Kim Nio, Siauw Cu
Leng si Arjuna dan Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go, ramai
dan menarik untuk ditutukan dan ini kita akan ceritakan di
sebelah belakang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sekarang, mari kita balik kepada Kim Popo yang bersua


kembali dengan The Sam yang menjadi 'idaman hatinya' di
waktu Kim Nio belum berubah menjadi Kim Popo.

The Sam ketika kabur dari rumah perguruannya karena sudah


memukul parah Siauw Cu Leng yang menjadi suhengnya, ia
terus berkelana di kalangan kang-ouw (Sungai Telaga)
mencari pengalaman. Ia beruntung ketemu dengan salah
seorang Tojin (imam). Ia mengajarkan ilmu 'Thong-pie-kong' --
'ilmu lengan sakti', ialah kalau lengan kanan diulur memanjang
sementara lengan kirinya mengkeret pendek. Dengan
kepandaiannya ini, ia dapat menjagoi meskipun sering kali
juga ia kena dipecundangi lawannya.

The Sam sudah lama tidak ketemu muka dengan Kim Popo
sejak ia kabut dari rumah perguruan baru sekarang ia
berjumpa pula. Ia kenali Kim Popo sebagai bekas ia punya
Kim Nio adalah dari suaranya dan potongan tubuhnya yang
selama ini tak dapat dilupakan olehnya. Ia tahu, memang Kim
Popo bukannya Kim Nio dahulu yang cantik menarik.
Sekarang mukanya sudah rusak. Ini ia dapat tahu dari
kenalan-kenalannya yang dahulu tinggalnya tidak berjauhan
dari rumah si Tongkat Sakti Kong Tek Liang. Ia merasa
kasihan atas nasib bekas kekasihnya. Ia mencari-cari, sampai
hari itu dengan secara kebetulan ia ketemukan bekas
'darlingnya' sedang minum air selokan.

Setelah memperhatikan lebih tegas, baharulah ia berani


ketawa dibelakangnya Kim Popo yang tengah minum air kali
dan cacapi kepalanya supaya adem.

"Mari kita ngobrol di bawah pohon itu." kata The Sam seraya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tuntun tangannya Kim Popo yang jinak sekali bagai mana


kucing peliharaan.

Di bawah pohon mereka ngobrol saling menuturkan


pengalamannya masing-masing sambil ketawa riang gembira.
Inilah mungkin kejadian yang pertama kali dialami si nenek
sejak Kim Popo meninggalkan rumahnya di Hoa-im.

"Koko, aku sekarang sudah jelek begini, apakah kau masih


mencintai aku ?" kata Kim Popo setelah sejenak percakapan
mereka terhenti.

"Adik Kim." sahut The Sam, suaranya mengasihi hingga


membuat Kim Popo terkenang akan masa lampau diwaktu
berkasih-kasihan di taman bunga. "Kau terlalu memandang
rendah akan cintaku. Meskipun mukamu sudah rusak, aku
tetap mencintaimu !" sambung The Sam.

Merasa lega hatinya Kim Popo mendengar kata-kata itu.

Menyesal ia tidak dapat hidup bersuami istri dengan The Sam.


Kalau tidak, tidaklah ia mengalami penghidupan yang gagal
total seperti sekarang ini.

Kim Popo tundukkan kepala lalu menatap wajahnya The Sam,


tersenyum ia tapi sudah tentu senyumannya 'senyuman
istimewa' karena giginya sudah tinggal beberapa buah saja.

Terdengar di lain saat Kim Popo menghela napas.

"Ya, sang tempo sudah membuat kita sama-sama tua." kata


Kim Popo, sauranya berubah. "Tak perlu kita berdendang
asmara lagi. Mari kita bicarakan urusan penting !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

The Sam melongo mendengar kata-kata Kim Popo.

Ia tidak menyangka perubahan sikap si nenek akan begitu


cepat. Ia menanya, "Urusan apa yang kau maksudkan penting,
adik Kim ?"

Kim Popo lalu menceritakan bahwa barusan ia kehilangan


barang berharga dirampas oleh si thauto beranting-anting
emas. Ia amat penasaran. Sebab selain barangnya yang
penting kena dirampas, juga ia sudah kena dijemur 2 jam
lamanya.

"Ah, kau berurusan dengan dia ?" tanya The Sam, romannya
seperti yang terkejut.

"Memangnya kenapa, siapa dia sih ?" balik menanya Kim


Popo.

"Ah, adik Kim." sahut The Sam. "Dia sangat lihai. Orang tidak
tahu siapa namanya, tapi orang kenal julukannya Kim Wan
Thauto (Thauto beranting-anting emas). Dia bukan saja lihai
ilmu silatnya tapi senjata rahasianya di kedua telinganya.
Kalau sudah dilepas, tiada seorang pun korbannya yang dapat
lolos dari sasarannya."

The Sam cerita benar. Senjata rahasia "Kim-wan' dari si thauto


ada sangat hebat sebab dilepas dengan tenaga dalam.
Sampai dimana tingginya lwekan si thauto dapat diukur dari
kepandaiannya melepas senjata rahasia itu. Dan ia dapat
kendalikan yaitu bisa enteng, bisa setengah berat dan berat
waktu ia menghajar orang. Pukulan enteng seperti yang dibikin
terkulai Kim Popo, setengah berat bikin orang terus pingsan,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang berat bisa bikin korbannya terus tidak bangun lagi alias
jiwanya melayang untuk menghadap Giam-lo-ong (Raj
Akhirat).

"Dia begitu lihai....." Kim Popo menghela napas. "Habislah


pengharapanku untuk dapat merebut barangku yang sangat
penting itu."

"Barang apa sebenarnya yang dirampas Kim-wan Thauto ?"


tanya The Sam.

"Barang itu adalah menjadi rebutan oleh kalangan bu-lim


(rimba persilatan) pada dewasa ini." menerangkan Kim Popo.

"Apakah itu ?" The Sam ingin tahu.

"Barang itu adalah sebuah buku mungil yang bernama 'Thiam-


hiat Pit-koat', pelajaran ilmu menotok jalan darah yang luar
biasa pentingnya bagi setiap dunia persilatan." kata Kim Popo.

The Sam kerutkan keningnya, ia tundukkan kepala, berpikir,


lalu menanya, "Sampai begitu penting, bukankah setiap orang
yang pandai ilmu silat dapat menotok lawan dengan baik ?"

"Kau jangan meremehkan 'Thiam-hiat Pit-koat'. Ia dikarang


oleh satu ahli totok kenamaan, The Leng Tong namanya,
orang dari propinsi Shoatang. Pada jamannya yaitu 80 tahun
berselang, The Leng Tong tidak menemukan tandingan dalam
ilmu totokan jalan darah. Banyak orang kepingin berguru
padanya tapi dia tolak. Dia tidak mau menerima murid. Hanya
dia ada lepas kata kalau dia sudah tidak ada dalam dunia, di
belakang hari orang akan menemui bukunya yang dinamai
'Thiam-hiat', kalau orang itu memang berjodoh untuk menjadi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

muridnya. Kau tidak tahu, koko. Buku itu memuat tiga macam
ilmu totokan. Kecuali pelajaran menotok jalan darah
menggunakan satu sampai dua jari dari dekat, dalam bukunya
ada disebut menotok dari jauh dengan menyentil batu kecil
dan kebasan tangan baju. Malah, yang penting, totokan The
Leng Tong dapat dikendalikan berat entengnya dengan jitu
sekali." demikian Kim Popo menutur.

"Aha, aku juga orang she The, siapa tahu ada jodoh
mendapatkan buku itu." kata The Sam kegirangan sambil
tepuk-tepuk pahanya.

"Bagaimana kau bisa bilang begitu ?" tanya Kim Popo heran.

"Aku she The dan Leng Tong juga she The. Kita sama-sama
she The. Tidak mustahil kalau barangnya The Leng Tong
diwariskan padaku, bukan ?" sahut The Sam.

Ia menutup kata-katanya sambil terus tarik tangannya si nenek


diajak pergi.

"Mari kita susul Kim-wan Thauto !" ia mengajak Kim Popo.

"Kau bilang Kim-wan Thauto lihai. Bagaimana kau dapat


merebut kembali 'Thiam-hiat Pit-koat' dari tangannya ?" tanya
Kim Popo sangsi.

"Ah, itu urusan belakangan. Mari kita susul nanti dia keburu
sudah jalan jauh, sukar kita mencarinya." sahut The Sam.

Ia pun, berbareng gerakan kakinya mengajak Kim Popo


berlalu dari situ.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kim Popo tak dapat berbuat apa-apa lagi kecuali mengikuti


bekas kekasihnya itu. Malah diam-diam hatinya merasa girang
The Sam sudah mau bantu ia merebut pulang buku pelajaran
ilmu menotok itu. Apa The Sam berhasil atau tidak, pikirnya,
itu bagaimana nanti saja. Ia percaya bekas kekasihnya itu
sudah mempunyai akal untuk merebut kembali buku mungil
itu, bila dilihat The Sam demikian napsu mengajak ia
menyusul Kim-wan Thauto.

Kita tinggalkan dahulu Kim Popo dan The Sam yang menyusul
Kim wan Thauto. Kita balik kepada Lo In, bagaimana si bocah
itu, apakah dia binasa akibat gebukan Ang Hoa Lobo yang
dilakukan dengan sepenuh tenaga ?

Lo In dibawa masuk ke dalam sebuah rumah yang dibangun


dari bambu dengan separuh batu. Cukup besar rumah itu dan
mempunyai pekarangan depan belakang.

Lo In diletakkan di sebuah bale-bale dengan kasar sekali oleh


Siauw Cu Leng yang sangat membenci bocah itu.

Keadaan Lo In masih belum sadarkan diri.

Kenapa Ang Hoa Lobo begitu kejam menghajar bebokong


anak kecil dengan menggunakan tenaga penuh ? Itu ada
sebabnya.

Siauw Cu Leng ketika pulang habis dipecundangi oleh Lo In


telah mengadu pada Ang Hoa Lobo tentang munculnya satu
bocah luar biasa. Ia telah dipecundangi dengan hanya
kegesitan saja, malahan pukulan gunturnya yang
menghancurkan batu gunung tidak mempan dihadapkan pada
si bocah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ang Hoa Lobo tertawa terkekeh mendengar penuturannya si


Iblis Buntung, yang alisnya dibuntungi oleh Ang Hoa Lobo.

"Sama anak kecil kau kalah, bagaimana kau hadapi anak gede
?" kata Ang Hoa Lobo seraya mentertawakan Siauw Cu Leng.

"Kau tidak tahu, cici." sahut Siauw Cu Leng. "Setelah aku


rubuh, dia menantang, katanya : 'Iblis gila, kau boleh
datangkan iblis temanmu. Biar segerobak aku tidak takut !'
Nah, ini 'kan satu hinaan bagi kita. Mana boleh anak yang
masih ingusan diumbar ngaco begitu."

Siauw Cu Leng mulai menghasut, ketika melihat Ang Hoa


Lobo tidak mau meladeni pengaduannya. Mendengar kata-
kata si Iblis Alis Buntung, tampak Ang Hoa Lobo kerutkan
alisnya, "Apakah benar kata-katamu ?" tanyanya kemudian.

"Kenapa tidak benar ? Memangnya aku mau ambil untung dari


perkataanku yang tidak benar ? Aku bicara yang benar, buat
apa timbulkan yang tidak betul !" nyerocos Siauw Cu Leng,
mukanya kelihatan sungguh-sungguh.

"Anak bandel. Masa dia berani omong besar ?" kata si nenek,
mulai marah dia.

Siauw Cu Leng lalu cerita, Lo In selain kepandainnya hebat


juga mempunya tentara kera dan burung rajawali. Kalau tidak
dibokong, jangan harap bisa menowelnya, apalagi untuk
menangkapnya. Dia mesti sudah makan buah JJit-goat-go,
kalau tidak tentu tidak begitu hebat.

Disebutnya buah Jit-goat-go, mendadak saja Ang Hoa Lobo


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berjingkrak.

Sudah lama ia mendengar akan khasiatnya buah itu. Maka


juga ia sudah mencari dari satu ke lain gunung. Sekarang,
buah itu sudah dimakan si anak kecil. Dimana ia bisa dapatkan
pula dalam daerah pegunungan disitu yang sangat luas ? Ia
benci kepada orang yang sudah mendahului ia memakan buah
yang ia idam-idamkan. Maka setelah berjingkrak, ia berkata
pada Siauw Cu Leng, "Dimana kita bisa menemui dia ?"

"Tidak, tidak bisa kita menemui dia begitu saja. Dia luar biasa
kepandaiannya, apalagi dia mempunyai rajawali dan tentara
keranya yang melindungi."

"Habis, bagaimana ?" tanya si nenek, jeri juga mendengar


kata-kata si iblis.

"Dia mesti dibokong. Kita harus mengatur perangkap, yang dia


tidak curiga sama sekali. Asal sudah ada kesempatan, kau
harus menghajar dia sepenuh tenaga. Sebab tanpa tenaga
penuh mana dia bisa rubuh karena dia sudah makan buah Jit-
goat-go, tenaga dalamnya tentu bukan main hebatnya !"
demikian Siauw Cu Leng mengajukan usulnya yang kejam.

Tapi memang si iblis benar. Tidak mudah Lo In ditakluki


dengan cuma mengadu silat. Sebab anak itu sudah lihai sekali
ditambah dengan tentara kera dan rajawalinya.

Si nenek percaya akan kata-katanya sang suami diluar kawin.


Maka mereka lalu berdamai soal pasang perangkap dalam
menangkap si bocah.

Begitulah, hari itu rupanya Lo In dilanggar apes (sial). Maka ia


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sudah masuk perangkap yang diatur oleh Ang Hoa Lobo dan
Siauw Cu Leng.

Untung Lo In tenaga dalamnya sudah hebat berkat makan


buah Jit-goat-go, kalau saja kejadian itu sebelum ia makan
buah, bisa celaka 2 x 13. Pasti isi perutnya ambrol dan
nyawanya melayang seketika menerima pukulan hebat dari
Ang Hoa Lobo. Ia hanya merasakan dadanya sesak tiba-tiba,
tubuhnya dirasakan lumpuh. Maka ia rubuh pingsan setelah
mengeluarkan jeritan.

Juga Lo In masih untung jiwanya tidak sampai melayang


karena Ang Hoa Lobo menyetop tendangan Siauw Cu Leng
yang kedua kali. Kalau sampai kakinya si iblis bekerja,
rasanya Lo In sudah tidak bernyawa ketika itu. Si Iblis Alis
Buntung sangat benci Lo In, tentu tendangannya yang kedua
kali jauh lebih berat dari yang pertama, yang cuma terpental
tidak seberapa jauh.

Ketika meletakkan Lo In dibale-bale, Siauw Cu Leng dapat


lihat pedang pendek di pinggang si bocah, lalu diloloskan
kemudian diserahkan pada Ang Hoa Lobo sambil berkata, "Ini,
kepunyaan dia."

Ang Hoa Lobo menyambuti, lalu dihunus pedang pendek yang


bobotnya sangat enteng itu lalu diperiksa. Di atas badan
pedang tidak ada apa-apanya yang aneh, tapi ketika diselidiki
gagangnya, Ang Hoa Lobo dapat melihat huruf-huruf kecil
yang berbunyi, 'Kwee Cu Gie Toan-kiam' atau 'Pedang pendek
kepunyaan Kwee Cu Gie'.

"Betul, betul punya dia ?' tanya Siau Cu Leng yang sedari tadi
mengawasi Ang Hoa Lobo memeriksa pedang pendek itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si nenek tidak menjawab, ia hanya angguk-anggukkan kepala


atas pertanyaan si orang she Siauw. Si Iblis kelihatannya agak
cemburuan juga melihat si nenek yang begitu kesemsem
memandangi pedang ditangannya.

"Hm ! Dia keturunannya...." Ang Hoa Lobo tiba-tiba


menggerutu sendirian setlah lama ia memandangi pedang
ditangannya.

"Dia keturunannya, buat apa dikasih hidup. Mampusi saja !"


kata Siauw Cu Leng mendengar Ang Hoa Lobo menggerutu
sendirian.

"Jangan, aku ada jalan." sahut Ang Hoa Lobo.

"Jalan bagaimana ?" tanya Siauw Cu Leng tidak sabaran


kelihatannya.

"Kita bikin rusak mukanya." jawab si nenek.

"Bagus ! Mari kita mulai." kata Siauw Cu Leng. Ia main cara


kilat saja berurusan dengan Ang Hoa Lobo sebab si nenek
sering berubah-ubah pikirannya. Ia mendesak karena ingin
lekas-lekas apa yang Ang Hoa Lobo kata, segera
dilaksanakan. Ia seperti membenci sampai tujuh turunan Lo In
saja.

Siauw Cu Leng mengambil pisau, bersiap-siap untuk merusak


mukanya Lo In.

"Bukan begitu caranya." kata Ang Hoa Lobo seraya goyang-


goyang tangannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Habis, kau mau pakai apa ?" tanya Siauw Cu Leng.

Ang Hoa Lobo tidak menjawab. Sebaliknya dari kantongnya ia


keluarkan sebungkus obat. "Ambil air !" ia memerintah Siauw
Cu Leng.

Segera permintaan si nenek dipenuhi. Si iblis mengambil air


dalam gelas.

Ang Hoa Lobo menyambuti. Air dalam gelas itu ia buang ke


lantai sampai tinggal seperluanya, lalu obat yang berupa
bubuk berwarna hitam ia masukkan dalam gelas, diaduk kira
satu menit. Kemudian ia suruh Siauw Cu Leng ambil sobekan
kain. Ketika barang yang diminta diberikan, ia lalu robek
seperlunya untuk digunakan sebagai kuas. Obat hitam itu ia
polesi pada bagian muka Lo In, dari jidat terus sampai ke
dagu. Hanya bagian leher dan kuping tidak diganggu.
Sebentar saja muka Lo In yang putih cakap berubah menjadi
hitam legam seperti Zwarte Piet (si Piet Hitam, kacung
Sinterklas).

Setelah selesai, tiba-tiba si nenek berkakakan ketawa.

"Nah, inilah pembalasanku ! Aku mau lihat, tanpa diundang dia


akan datang berlutut dihadapanku untuk minta-minta
dikasihani !" ia berkata bangga.

Siauw Cu Leng bingung. Apa yang si nenek sebenarnya


maksudkan dengan kata-katanya. Ia lalu menanya, "Apa yang
kau maksudkan dengan kata-katamu, cici ?"

"Hehehe !" Ang Hoa Lobo ketawa. "Aku bikin anaknya begini.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kalau bapakanya tahu tentu dia bakal mencari aku. Dia tentu
datang berlutut dihadapanku untuk minta obat pemusnahnya,
jangan sampai anaknya yang cakap ini mempunyai dua muka.

Baru sekarang Siauw Cu Leng mengerti maksudnya si nenek.

Kiranya Ang Hoa Lobo hendak membikin malu Kwee Cu Gie.


Dengan bikin wajah Lo In berubah hitam, Kwee Cu Gie pasti
mengerti siapa punya perbuatan. Orang she Kwee itu tentu
akan mencari Ang Hoa Lobo untuk menolong anaknya, minta
belas kasihannya si nenek supaya Ang Hoa Lobo
mengembalikan wajah anaknya pada keadaan semula.

Ang Hoa Lobo alias Teng Goat Go sampai saat itu masih
merasa penasaran pada Kwee Cu Gie yang sudah menampar
pipinya dua kali sehingga beberapa giginya pada rontok dan
sekarang ia sudah ompong !

"Sekarang kita mau apakan dia ?' tanya Siauw Cu Leng.

"Masukan jadi satu dengan si sundal cilik." sahut Ang Hoa


Lobo.

Siauw Cu Leng sangsi tampaknya, ia berdiri saja menjublek.

"Kau masih belum mau bawa dia pergi, mau tunggu apa ?" si
nenek membentak.

"Tapi cici, tapi....... " si iblis terhenti bicaranya ketika si nenek


Kembang Merah memotong. "Tapi, tapi apa ? Lekas kerjakan
!"

"Aku kuatir kejadian selanjutnya." jawab si Iblis Alis Buntung,


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia beranikan hati mendebat Ang Hoa Lobo. "Binatang kecil ini


sangat hebat tenaga dalamnya. Sebentar kalau dia sudah
siuman, apakah dia tidak ngamuk ?"

"Ngamuk ? Hehehe !" si Nenek Kembang Merah ketawa.


"Sudah tidak ambrol isi perutnya menahan pukulanku, sudah
bagus. Mau ngamuk ? Hmm ! Aku mau lihat. Lekas kerjakan
perintahku, jangan banyak cing cong !"

Siauw Cu Leng tak berani banyak kata. Ia lalu angkat


tubuhnya Lo In, dipondong di bawa ke kamar belakang. Ke
dalam mana, tubuhnya Lo In menggelinding karena diletakkan
oleh Siauw Cu Leng separuh dilemparkan.

"Iblis, kau bawa masuk apa kesini ?" bentak seorang anak
perempuan kecil yang ada dalam kamar itu ketika melihat
pintu kamar dibukan dan tubuh Lo In diletakkan di lantai
separuh dilemparkan.

Sambil menutup pintu kamar lagi, Siauw Cu Leng menjawab,


"Sundal cilik, kau tak usah kesepian lagi. Sekarang ditemani si
setan cilik ! Hahaha !"

Si iblis berkata-kata sambil meninggalkan kamar itu yang


merupakan kamar tahanan rupanya. Memang, kamar itu boleh
disebut kamar tahanan sebab dalam kamar itu ada disekap
seorang gadis cilik umur kira-kira belum 15 tahun. Jadi lebih
tua dari Lo In yang usianya baru memasuki tahun ke-14.

Dalam ruangan itu yang lumayan juga lebarnya, mendapat


penerangan dari sela jeruji-jeruji jendela kecil yang kokoh dan
kuat dari bambu pilihan. Tidak ada perabotan didalam situ
kecuali bale-bale yang muat 2 orang serta bangku dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mejanya yang sudah reyot. Tampak si nona kecil berdiri


tertegun melihat 'tamu' datang dalam keadaan tidak sadarkan
diri.

Rambutnya si dara cilik yang dikepang dua tampak sudah


awut-awutan, romannya lesu dan pucat tapi tidak
mempengaruhi air mukanya yang jernih, ramai dengan
senyum dikulum.

Pelan-pelan ia jalan menghampiri tubuhnya Lo In. Ia jongkok


disampingnya lalu memandang parasnya Lo In. Hatinya
merasa geli, ia ketawa melihat mukanya Lo In yang hitam
legam. Di usap-usap pipi Lo In, kemudian melihat pada
tangannya yang barusan dipakai meraba. Oh, kenapa tidak
hitam ? Ia menduga, tadinya wajah hitam itu disengaja si
bocah dengan mengolesi mukanya dengan arang hitam
legam.

Selama itu, Lo In tidak berkutik. Di goyang-goyang badannya,


tapi Lo In tetap tak sadarkan diri. Mulai curiga hatinya si dara
cilik, lalu ia tekuk lututnya, lengkungkan badannya, telinganya
di pasang di atas dada Lo In. Ia dapatkan si bocah masih ada
napasnya. Ia periksa keadaan Lo In lebih jauh, keculai
mukanya hitam, tidak kedapatan tanda-tanda bekas dianiaya.

Ketika ia gerakkan kakinya hendak jongkok pula, tiba-tiba ia


rasakan kakinya lemas dan jatuh ke depan diatas tubuhnya Lo
In. Selagi ia berusaha hendak bangun, tiba-tiba ia mendengar
suara dari sebelah luar kamar, "Eng Lian, kau masih tetap
membandel ? Lihat itu setan cilik contohnya ! Selain aku tidak
kasih makan kau, juga aku akan bikin mukamu yang cantik jadi
berubah hitam seperti si setan cilik ! Hehehe......."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dara cilik itu yang ternyata bernama Eng Lian kenali suaranya
Ang Hoa Lobo yang berkata-kata tadi. Tampak ia menggertak
giginya, tangannya yang kecil mungil mengepal keras,
rupanya ia sangat marah. Sekarang ia mengerti, yang
membuat wajah anak itu hitam adalah si Nenek Kembang
Merah.

"Siapa yang mau berurusan denganmu, nenek jahat !" sahut


Eng Lian kemudian.

"Hehe ! Bagus, baru tiga hari aku hukum kau tidak makan.
Kalau kau masih tetap membandel, hemm ! Aku kasih tempo
tiga hari lagi untuk kau pikir-pikir. Kalau sampai temponya kau
masih tetap membandel, jangan salahkan si nenek bila
berbuat kejam Pikirkanlah !" demikian si nenek mengancam.

Eng Lian tidak mau ladeni Ang Hoa Lobo sampai nenek itu
meninggalkan kamar itu, tidak terdapat jawaban dari sebelah
dalam.

Si dara cilik sudah tiga hari dihukum tidak makan oleh Ang
Hoa Lobo, pantasan kakinya lemas. Dalam bingung, apa yang
akan ia buat menghadapi Lo In yang masih pingsan, sedang
perutnya sudah sangat lapar, tiba-tiba Eng Lian dibikin terkejut
dengan diceploskannya benda-benda bundar melalui sela-sela
jeruji jendela.

Ia merayap menghampiri salah satu benda itu, kiranya itu ada


buah-buah yang diceploskan dari sebelah luar. Siapa yang
mengirimnya ? Matanya mengawasi ke jurusan jendela, ia
melihat ada dua ekor kera disana, sedang repot menceplos-
ceploskan buah-buahan. Dalam herannya, ia ingin mendekati
dua kera itu tapi ia tak dapat bangun karena kakinya amat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lemas.

Dua kera itu, sudah tentu pembaca dapat menebaknya siapa.


Sebab mereka tidak lain adalah Pek-gan dan Pek-tauw, si
monyet mata putih dan kepala putih yang menjadi
kesayangannya Lo In.

Mereka melihat tuannya dibawa masuk ke dalam rumah itu


terus mengintip akan segala tindak tanduknya Siauw Cu Leng
dengan Ang Hoa Lobo. Setelah tahu yang Lo In ditempatkan
dalam kamar belakang, mereka lantas mencari buah-buahan
di sekitar tempat itu untuk dipersembahkan kepada
majikannya. Tapi mereka tidak tahu kalau Lo In dalam
keadaan pingsan. Mereka hanya mengira bahwa majikannya
itu sedang tidur nyenyak.

Eng Lian dapat pungut salah satu buah dan dimakannya. Ia


rasakan manis dan enak. Ia lalu makan lagi beberapa buah
untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Benar-benar ia
rasakan buah-buah yang dimakan istimewa. Kecuali manis
dan lezat, setelah masuk ke dalam perut telah menimbulkan
reaksi tubuh menjadi segar dan kuat.

Bukan main girangnya Eng Lian ketika ia tahu kakinya sudah


dapat digerakkan lagi dengan leluasa. Ia lantas kumpulkan
buah-buah itu supaya nanti jangan sampai ketahuan oleh dua
iblis yang hendak merongrongnya.

Hari berikutnya, Eng Lian repot menerima kiriman dari Pek-


gan dan Pek-tauw. Lucu laga lagunya dua kera itu hingga Eng
Lian merasa suka dan sayang. Ia sendiri tidak mengerti
kenapa dua monyet itu begitu baik mau mengirimkan buah-
buahan kepadanya yang dalam kesukaran. Ia belum tahu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kalau dua kera itu mengirim buah-buahan bukan untuk dia tapi
untuk majikannya, Lo In, yang Eng Lian tidak tahu anak itu
siapa namanya dan datang dari mana.

Sambil melahap buah semacam jambu, Eng Lian memandangi


wajah Lo In.

Pikirnya, anak ini parasnya cakap sayang dibuat hitam oleh si


nenek jahat. Apakah warna hitam yang melekat itu nanti dapat
dicuci dan parasnya anak cakap itu kembali pada asalnya ? Ia
tanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia dibikin kegirangan
melihat Lo In pelan-pelan telah membuka matanya. Saking
girangnya sampai ia lempar buah yang dimakannya dan
tangannya yang kecil halus memegang pipinya Lo In,
menanya, "Oh, adik, aku sudah siuman ? Enak betul tidurmu."

Lucu kelakuannya Eng Lian. Ia kira Lo In tidur nyenyak. Ia


tidak tahu kalau Lo In menderita pukulan dahsyat.

Lo In heran, matanya kecap kecip memandang Eng Lian.


Pikirnya, apakah ia sedang ngimpi atau sudah berada di lain
dunia ? Kenapa ada anak perempuan disampingnya ? Ia
angkat tangan kanannya, jari telunjuknya dimasukkan dalam
mulutnya, digigit, au, tentu saja ia berjengkit kesakitan.

"Hi hi hi.... anak tolol. Kenapa menggigit jari sendiri ?" Eng
Lian ketawa, melihat Lo In kesakitan menggigit jarinya
barusan.

"Kau siapa, cici ?" tanya Lo In, lemah suaranya.

"Aku Eng Lian, kau sendiri siapa ?" balik menanya si dara cilik,
lucu lagaknya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Oh, enci Lian......." Lo In terus bungkam.

"Hei, hei, kenapa kau tidak sebutkan namamu ?" kata Eng
Lian seraya menggoyang-goyang lengan Lo In yang tatkala itu
sudah mau meramkan matanya lagi.

Lo In kembali membuka matanya, ia tersenyum mengawasi si


nona cilik.

"Apa sih yang dilihat ?" kata Eng Lian ketika mereka beradu
pandangan sambil mencibirkan bibirnya yang mungil.

"Enci Lian, aku ini berada dimana ?" tanya Lo In, tidak
melayani orang mencibirkan bibirnya.

"Dalam kamar tahanan." sahut Eng Lian singkat, dongkol


rupanya dia.

Lo In terkejut. Ia coba gerakkan badannya untuk bangun, tapi


belum bisa. Sebab seluruh badannya dirasakan lemas.
Tenaga raksasanya entah pergi kemana. Ia heran, kemana
perginya tenaganya yang dahsyat.

Lantas dia ingat akan kejadian ketika bertemu dengan si


nenek di rimba bambu. Bagaimana ia dibokong. Pikirnya,
mungkin gebukan si nenek yang menyebabkan hilang
tenaganya. Buktinya, ia peras tenaga dalamnya, bukannya
berhasil malah bobokongnya dirasakan sakit bekas gebukan si
nenek.

"Jahat..........." ia menggerendeng, perlahan suaranya.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Perlahan suaranya tapi menusuk telinga Eng Lian. Mukanya


lantas cemberut. "Jahat, jahat, siapa jahat, hah !" tangannya
berbareng mau menampar.

"Tahan !" kata Lo In cepat ketika pipinya hendak ditampar si


dara cilik. "Enci Lian, aku bukan maksudkan kau jahat."
sambung Lo In.

Eng Lian ketawa, sambil tarik pulang tangannya. "Habis, siapa


yang kau maksudkan ? Sebab disini tidak ada orang lain
kecuali kita berdua." katanya.

Lo In anggap dirinya lucu. Oh, bolehlah ketemu ini dara cilik


yang lebih lucu dan aneh adatnya. Seketika juga Lo In merasa
suka berteman dengan Eng Lian, maka sambil bersenyum ia
berkata, "Enci Lian, yang aku maksudkan adalah nenek itu
dengan kembang merah disanggulnya."

"Oh, dianya ?" kata Eng Lian sambil leletkan lidahnya.

"Ya." sahut Lo In. "Dimana dia sekarang ? Aku dibokong


olehnya, digebuk dari belakang sampai rasanya semaput.
Untung aku tak sampai mati."

"Eh, mengapa sampai begitu ? Mengapa, kenapa ?" Eng Lian


minta Lo In tuturkan.

Lo In lantas ceritakan kejadian di rimba bambu ketika ia


hendak menolongi si nenek, tidak tahunya ia kena masuk
perangkap.

Eng Lian yang mendengari cerita Lo In merasa panas hatinya


kepada Ang Hoa Lobo yang kejam. Di samping itu ia merasa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

simpati pada Lo In, anak yang berhati mulia menjadi korban


dari tangan telengas.

"Dia, si nenek itu memang jahat. Dia ada disini, dibantu oleh si
kakak jelek Siauw Cu Leng yang julukannya Toan Bi-lomo."
menerangkan Eng Lian.

"oh, iblis itu juga ada disini ?" tanya Lo In terkejut.

Eng Lian anggukkan kepalanya.

-- 8 --

Tadinya, Lo In tidak mengerti apa salahnya dia digebuk oleh si


Nenek Kembang Merah ? Padahal baru saja ia berjumpa
dengan maksud baik hendak memberikan pertolongan tapi
bukan terima kasih ia dapat dari si nenek, malah gebukan
yang membikin isi perutnya berantakan, untung tenaga
dalamnya cukup dahsyat.

Sekarang, ia mendengar cerita Eng Lian, si Iblis Alis Buntung


itu adalah konconya Ang Hoa Lobo, lantas ia mengerti
duduknya urusan. Tentu gara-gara mulut si iblis yang tajam
menghasut sehingga si nenek menurunkan tangan telengas
atas dirinya.

"Enci Lian, anak si......" Lo In hendak menanya tapi sudah


dipotong oleh si dara cilik, katanya, "Makan dahulu ini.
Perutmu tentu sudah minta diisi !" sambil menjejalkan
sebagian buah yang tengah ia lahap ke mulut Lo In.

Terpaksa Lo In mengganyangnya. Seketika hatinya terkesiap,


karena buah itulah yang biasa ia makan kiriman dari dua
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

keranya yang sangat disayang. Maka ia lalu menanya, "Enci


Lian, kau dapat dari mana buah ini ?" sambil unjukkan
sepotong buah yang belum habis ia makan.

"Entahlah. Ada dua malaikat berupa kera yang mengantarkan


ke sini. " jawab Eng Lian. Gembira dia sebab sekarang ia tidak
usah memikirkan lagi akan kelaparan.

"Oh, itu adalah Pek-gan dan Pek-tauw." kata Lo In.

"Betul, betul. Yang satu berkepala putih, yang lainnya


sepasang matanya yang putih. Kera siapakah mereka itu, apa
kau tahu ?" Eng Lian cerita.

"Mereka ada teman-teman baikku." sahut Lo In.

Eng Lian terbelalak matanya, heran mendengar Lo In


mengatakan dua kera itu ada teman baiknya lalu minta Lo In
cerita bagaimana ia bisa bersahabat dengan dua kera yang
pandai itu.

Lo In tidak berkeberatan. Sebelumnya ia perkenalkan dahulu


namanya Lo In, lalu menuturkan perjalanan hidupnya dari
anak jembel sampai mengerti surat dan ilmu silat atas
pimpinan Liok Sinshe. Ia turun ke dalam jurang mencari Liok
Sinshe yang jatuh dibokong musuh, bagaimana ia hidup dalam
lembah itu bersama-sama dengan si rajawali yang ia
sembuhkan dari lukanya, bagaimana ia taklukan kawanan
monyet lantaran menolong Siauw-hek.

Eng Lian yang hatinya sangat tertarik oleh penuturan Lo In


tidak memotong ceritanya Lo In. Ia sangat kagumi si bocah
yang luar biasa dan besar rejekinya sampai dapat makan buah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

'Jit-goat-ko.'.

"Adik In," kata Eng Lian, setelah mendengar habis cerita Lo In.
"Kau ada satu bocah luar biasa. Bukan mustahil kau nanti jadi
terkenal dan orang menyebut kau 'sinlong', bocah sakti.
Hihihi......"

"Mudah-mudahan," sahut Lo In membanyol. "Dengan doa


restumu, kata-katamu tadi akan menjadi kenyataan."

Si dara cilik mesem manis.

Setelah menutur, Lo In coba gerakkan badannya. Ternyata


masih belum dapat bergerak sebagaimana mestinya. Ia sudah
pegal rebah saja maka ia minta si dara cilik bantu ia untuk
dapat duduk. Eng Lian tidak berkeberatan. Ia bantu sampai Lo
In dapat duduk betul.

"Terima kasih, enci Lian." kata Lo In.

"Terima kasih kembali." sahut si dara cilik jenaka.

Lo In makin girang hatinya ia memperoleh teman yang lebih


jenaka dari dirinya.

"Enci Lian." kata Lo In. "Aku sudah bercerita tentang


perjalanan hidupku. Sekarang giliranmu cerita bukan ?"

"Tentu, tentu, adikku manis." sahut Eng Lian melucu. "Aku


hidup bersama......."

"Hei, Eng Lian. Kau jangan banyak ngobrol. Bagaimana, kau


menyerah tidak ?" tiba-tiba terdengar kata-kata dari sebelah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

luar kamar hingga ceritanya si dara cilik terhenti seketika.

Si Nenek Kembang Merah yang memotong kata-kata Eng Lian


tadi.

Mendongkol hatinya si dara cilik, kelihatan dari romannya yang


merengut, tangannya dikepal-kepal gergetan, lucu
kelihatannya sampai Lo In tak dapat menahan ketawanya
terbahak-bahak.

"Kau ketawai apa, bocah ?" bentak Eng Lian. Tangannya


diangkat mau menampar Lo In tapi tidak jadi ketika ia melihat
Lo In tempelkan satu jari dimulutnya seraya tangan kirinya
digoyang-goyang.

Heran Eng Lian melihat lagaknya Lo In, ia menanya,


"Memangnya ada apa sih ?"

"Tidak apa-apa." sahut Lo In. "Cuma aku lihat enci makin


marah jadi makin ber....... au !" Lo In berjengit karena
perkataannya belum putus, tangan si dara cilik yang mungil
nyelonong ke pipinya, tidak menampar hanya mencubit hingga
Lo In kesakitan.

"Rasakan, ya !" kata Eng Lian sambil cekikikan tertawa melihat


Lo in pegangi pipinya yang kesakitan.

"Hei, Eng Lian, kau dengar tidak ?" bentak suara Ang Hoa
Lobo.

"Janji tiga hari belum sampai, kenapa kau minta putusan


sekarang ?" sahut Eng Lian, suaranya lantang berani.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hehe.... jadi aku mesti tunggu ?" si nenek ketawa.

"Ya, tunggu saja. Sampai pada waktunya, aku beri putusan !"
kata Eng Lian.

Lantas terdengar suara kakinya si nenek berlalu.

Kiranya Siauw Cu Leng yang menggosok-gosok si nenek


supaya mendesak Eng Lian.

Ia mencuri dengar percakapan Eng Lian dan Lo In, lantas


usulkan pada si nenek kembang merah supaya lekas
mendesak Eng Lian berikan keputusannya. Ia menyatakan
kekuatirannya akan Lo In yang sudah siuman dari pingsannya,
nanti membikin susah mereka. Si nenek tidak kuatiri.

"Mengapa kamu harus takut dengan anak sambal itu ?" Ang
Hoa Lobo berkata pada Siauw Cu Leng. "Tenaga dalamnya
sudah musnah, berani dia main gila pada kita ?"

Ang Hoa Lobo percaya benar masa pukulan mautnya yang


sudah memusnahkan tenaga dalamnya Lo In. Ini memang
benar sebab Lo In rasakan tenaga raksasanya hilang lenyap
meskipun ia sudah coba berkali-kali untuk dikumpulkan.

Yang penting, pikir Ang Hoa Lobo adalah Eng Lian yang harus
didesak supaya memberitahukan rahasia pelajaran yang ia
perlukan.

Setelah Ang Hoa Lobo berlalu, Lo In menanya kepada Eng


Lian, "Enci janjikan apa sama dia ? Apa dia mau ?"

Eng Lian lantas cerita pada Lo In hal kedatangannya Ang Hoa


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lobo dan Siauw Cu Leng, sekalian menutur tentang dirinya


dalam rumah itu.

Si dara cilik ternyata ada dari keluarga Oey, menurut


keterangannya.

Ia hidup bersama ayah dan ibunya bertiga dalam desa Teng-


ong chung, sebelah barat kota Gukwan di bawah kaki gunung
Hengsan. Sampai umur 7 tahun Eng Lian ikut ibunya di Teng-
ong-chung, sering pindah dari satu dusun ke dusun lain di
pegunungan sebab ayahnya mempunyai hobi (kesukaan)
memelihara ular dan akhirnya mereka menetap di lembah itu
sudah 4 tahun lamanya.

Pada kira-kira hampir 2 tahun yang lalu, pernah keluarga Oey


kedatangan seorang tamu yang mengaku she Tan, entah
namanya siapa. Tapi menurut ibunya, tamu itu biasa dipanggil
Tan Sianseng. Tamu she Tan itu sangat baik pada ibunya,
sering mengajak omong sambil ketawa-ketawa, malah bukan
jarang mereka kedapatan suka kasak kusuk berduaan saja.
Tapi ayahnya sama sekali tidak menaruh cemburu, malah
kelihatannya seperti yang sangat menghormati pada tamu she
Tan itu. Terhadap Eng Lian, tamu itu juga sangat sayang dan
mencintai sebagai pada anaknya sendiri.

Dua minggu lamanya tamu itu menginap dalam rumahnya


tetapi kemudian menghilang, berbareng juga menghilang
ibunya Eng Lian. Si dara cilik tentu saja menangis ditinggalkan
ibunya, tapi sang ayah menghibur. Kata ayah, ibu pergi
dengan Tan Sianseng buat satu urusan penting dan tidak lama
pun akan kembali.

Tapi sampai sekarang sang ibu belum kelihatan mata


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidungnya muncul kembali. Sampai disini Eng Lian menutur, ia


menangis hingga Lo In yang merasa dirinya piatu menjadi
turut terharu dan turut mengalirkan air mata.

Sambil menyusut air matanya dengan tangan baju, Eng Lian


melanjutkan ceritanya. "Dua minggu yang lalu kita kedatangan
dua iblis yang sekarang ada disini. Katanya numpang
menginap untuk melakuka penyelidikan dalam lembah."

"Ayah tidak berkeberatan atas permintaan mereka, malah


suak antar-antar mereka menjelajah tempat yang asing bagi
mereka. Belakangan mereka lihat ayah banyak pelihara ular.
Mereka heran lalu si nenek jahat minta ayah mengajarinya
cara bagaimana dapat menjinaki atau menaluki ular. Ayah
ketawa, ia bilang kepandaiannya tak dapat diturunkan lain
orang kecuali pada anaknya yaitu aku."

"Jadi, enci Lian pandai menaluki ular ?" menyelak Lo In yang


sedari tadi mendengarkan saja penuturan si dara cilik.

Eng Lian manggut. "Mereka tidak apa-apa permintaannya


ditolak." menyambung Eng Lian dalam ceritanya. "Pada
keesokan harinya, mereka mengajak lagi ayah untuk
menjelajah pegunungan. Ayah tidka menolak sebab dia pun
ingin menyelidiki ular-ular yang ada ditempat-tempat lain. Eh,
tidak tahunya ketika mereka pulang, ayah ternyata tidak turut
pulang. Sampai sekarang ayah hilang. Entah dimana dia
adanya. Setelah ayah tidak ada, orang-orang jahat itu
mendesak aku supaya aku turunkan pelajaran menaluki ular
kepadanya."

"Apa enci tidak tanya pada mereka, kemana ayahmu pergi ?"
tanya Lo In disaat Eng Lian hentikan sebentar penuturannya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

karena ia menangis ketika sampai pada bagian menutur


ayahnya tidak pulang.

"Aku sudah tanya mereka. Tapi mereka bilang ayah pergi


menyusul ibu dan tidak berapa hari juga akan pulang."
menyambung Eng Lian. "Tadinya aku tak keberatan
menurunkan kepandaianku menakluki ular tapi belakangan
aku segan. Aku mogok mengasih pelajaran pada mereka
karena si Nenek Kembang Merah itu sangat jahat. Telah
membunuh aku punya Tok-gan Siancu."

"Apa itu Tok-gan Siancu ?" menyela Lo In.

"Tok-gan Siancu adalah ular kesayanganku, bermata satu,


mempunyai empat sayap, besarnya sebesar betis orang
gemuk." menerangkan Eng Lian.

Tok-gan Siancu artinya Dewi Bermata Satu. Bagus juga Eng


Lian kasi nama ular kesayangannya yang dua meter
panjangnya.

"Kenapa Tok-gan Siancu dibunuh nenek jahat itu ?" tanya Lo


In.

"Kejadian itu pada suatu sore, di waktu dia ajak aku melihat
ular kesayanganku. Tiba-tiba Tok-gan Siancu beringas melihat
si nenek, kepalanya bangun dari melingkarnya kemudian
menyambar tangan si nenek yang sedang pegang jeruji
kerangkeng dari bambu, menggigit tanganya itu hingga dia
semalaman panas dingin tidak bisa tidur. Kalau dia tidak
ketolongan oleh obatku, dia pasti melayang jiwanya. Tapi dia
bukan terima kasih padaku, malah keesokan harinya, aku lihat
aku punya Tok-gan Siancu sudah menjadi bangkai dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kerangkengnya, dibunuh oleh si nenek jahat. Aku menangis


atas kematiannya itu.........'

Eng Lian bercerita sambil menangis, ingat dengan ular


kesayangannya yang sangat jinak dan menjadi teman
mainnya.

Lo In menghibur Eng Lian, tapi diam-diam hatinya merasa


gemas pada Ang Hoa Lobo yang sangat telengas itu. Pikirnya,
ada satu waktu kalau tenaganya sudah pulih kembali, ia ingin
memberi hajaran pada si nenek.

Eng Lian selagi susut air matanya, tiba-tiba mendengar


cetcowetan kunyuk di luar jendela. "Nah, itu teman-temanmu
datang." ia kata pada Lo In.

Lo In mengawasi ke jendela, ia lihat Pek-gan dan Pek-tauw


sedang menurunkan kirimannya melalui sela-sela jeruji. Lo In
perdengarkan suara cetcowetan juga hingga Eng Lian heran
dan merasa lucu. "Hihi, dia juga bisa bicara monyet......."
seraya menekap mulut Lo In, tapi cepat ia tarik pulang lagi
tangannya itu ketika melihat matanya Lo In melotot padanya.

Pikirnya, Lo In tentu sedang bicara serius dengan sang kera,


makanya perbuatannya tadi dipelototi. Memang, Lo In sedang
beri teguran Pek-gan dan Pek-tauw, kenapa dua kera itu tidak
berusaha untuk menolong ia dalam kesusahan. Ia tegaskan si
nenek dan si kakek bukan orang baik-baik, harus mereka
waspada nanti dijebak oleh mereka.

Seperti yang menerima salah, kedua kera itu membungkam


mulutnya pada saat Lo In sedang cetcowetan mengomeli pada
mereka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tidak lama, setelah Lo In tutup mulutnya berhenti bicara, Pek-


gan dan Pek-tauw cetcowetan sebentar, manggut-manggut,
lalu meninggalkan tempat itu.

Setelah melihat Lo In mukanya tenang lagi, baharulah Eng


Lian berani menanya, "Adik In, kau omong apa dengan dua
temanmuitu ?"

"Aku marah-marah, mereka sangat goblok, tidak berusaha


mencari daya untuk menolong aku ! Rupanya mereka
ketakutan dan lari pergi." menerangkan Lo In.

"Pandai benar kau bercakap-cakap dalam bahasa monyet,


adik In." memuji Eng Lian, mesem manis. "Kau lagi marah-
marah, pantesan aku dipelototi. Coba sekarang matamu
melototi aku, kalau aku tidak gasak mukamu, jangan panggil
aku si Lian !"

Dengan serentak Lo In tertawa terbahak-bahak mendengar


kata-kata Eng Lian, apalagi melihat si dara cilik ketika
mengucapkan kata-kata paling belakang, sembari gulung
tangan bajunya dan keluarkan kepalan tangannya yang bulat
kecil mungil, diunjukan pada Lo In.

Sepasang anak jenaka itu kelihatan cocok satu dengan lain,


seolah-olah tidak menghiraukan kekejamannya si Nenek
Kembang Merah dan si Iblis Alis Buntung.

Ketika menjelang malam, dua orang jahat itu berunding.

"Cici, lebih baik kita mampusi saja si setan kecil itu !" usul
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Siauw Cu Leng pada 'darlingnya', masih saja ketakutan dia


terhadap Lo In.

"Kau jangan aduk-aduk rencanaku, Cu Leng." sahut Ang


Hoa Lobo.

Siauw Cu Leng tidak setuju dengan rencanaya si Nenek


Kembang Merah karena ia tahu kepandaiannya Kwee Cu Gie
yang hebat. Nanti bukan Kwee Cu Gie yang berlutut tapi si
nenek yang semaput berlutut di hadapan pendekar tersohor
itu, pikir Siauw Cu Leng. Tapi ia tak mau menyatakan
pikirannya itu pada Ang Hoa Lobo, kuatir si nenek marah-
marah membuat hatinya tidak enak. Sebab si nenek kalau
marah-marah bukan mulutnya saja yang nyap-nyap tapi
tangannya suka nampar.

Mereka terus kasak kuduk berunding, sementara sang malam


sudah mulai sangat sunyi. "Tolong kau tuangkan air dicangkir
untuk aku minum." memerintah si nenek pada kekasihnya.
Siauw Cu Leng menurut, ia tuang air dari teko sebanyak 2
cangkir sebab yang satu lagi cangkir untuknya.

Kemudian ia serahkan satu cangkir pada Ang Hoa Lobo. Ia ini


menyambuti, lalu tempelkan ke mulut untuk dihirup isinya.
Belum menghirup habis, tiba-tiba cangkir itu melesat ke
jendela, dilontarkan oleh Ang Hoa Lobo sambil membentak,
"Bangsat ! Kau berani mengintai ?"

Menyusul suara cetcowetan di luar jendela. Kiranya si kepala


putih yang cetcowetan itu. Ia kesakitan kupingnya yang kiri
kena keserempet pinggiran cangkir yang dilontarkan Ang Hoa
Lobo.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ah, itu kan hanya si kunyuk kecil, cici." kata Siauw Cu Leng
mentertawakan Ang Hoa Lobo yang mengira didatangi musuh
berat.

"TIdak perduli, lekas kejar dan bunuh dia !" perintah Ang Hoa
Lobo bengis.

Siauw Cu Leng tak dapat membangkang perintah ratunya,


meskipun dalam hati ia uring-uringan, terpaksa ia keluar untuk
mengejar si kera.

Tapi baru saja ia muncul di pintu tiba-tiba tangannya ada yang


menyambar. Ia berkelit, selamatkan tangannya dari sambaran
tadi. Kiranya yang menyambar tangannya itu adalah Ji-hek
yang berdiri di depannya, sudah bersiap-siap untuk
menyambar lagi tangan Siauw Cu Leng.

Si Iblis Alis Buntung marah bukan main, ia kerahkan


tenaganya untuk melancarkan pukulan maut pada Ji-hek. Tapi
sebelum tangan jahatnya bergerak, diserang dari belakang
oleh Siauw-hek yang sekarang sudah besar. Siauw Cu Leng
cepat mengegos, kasih lewat serangan membokong itu.
Kemudian ia maju menerjang pada Ji-hek, lagi-lagi
serangannya kecandak karena saat itu lompat dua monyet
kecil berbareng ke arahnya hendak memeluk lehernya.
Kepaksa ia harus mengelak lagi dari serangan dua monyet
tadi, hingga mereka ini tubruk angin. Lain-lain kawanan
monyet datang mengurung hingga dari berani si Iblis Alis
Buntung menjadi jeri melihat datangnya tentara monyet. Entah
dari mana datangnya sebab tahu-tahu sekarang ia
berhadapan ratusan monyet kecil dan besar, dibantu oleh Ji-
hek dan Siauw-hek.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dimana adanya Toa-hek ? Si Iblis bertanya-tanya dalam


hatinya yang jeri.

Ia lalu berteriak-teriak minta bantuan Ang Hoa Lobo yang


segera muncul dengan toya besinya yang berat. Ia melihat
Siauw cu Leng tengah dikerubuti kawanan kera, bukan main
marahnya.

Ia putar toya besinya, maksudnya hendak menyerbu


melepaskan 'darlingnya' dari kepungan tentara kera. Tetapi
sebelum ia dapat bergerak, dari atas genteng rumah
melayang satu tubuh. Itulah Toa-hek yang sudah lama
menanti munculnya si nenek.

Lengannya dirasakan sangat sakit kena dicekal Toa-hek


hingga toya besinya jatuh sendiri. Tapi Ang Hoa Lobo
bukannya si nenek kejam kalau hanya segebrakan saja dapat
dikuasai Toa-hek. Seketika itu ia mengerahkan lwekangnya,
mendorong cekalannya Toa-hek pada lengannya. Sekali
berontak ia sudah lolos dari cekalan Toa-hek. Cepat ia pungut
toyanya lalu menyerang pada si orang utan yang
perdengarkan suara her ! her ! yang menakutkan.

Ang Hoa Lobo tidak gentar dengan roman Toa-hek yang


sedang gusar.

Toyanya digeraki untuk menyodok perut Toa-hek. Tapi


sodokannya lupu karena dengan manis si orang utan dapat
menyelamatkan diri dengan berkelit lompat ke samping kiri si
nenek akan dari mana lengan kanannya yang berbulu dipakai
membentur toya Ang Hoa Lobo terus ditekan ke bawah. Inilah
gerakan 'Kim ke tan tian ci' atau 'Ayam Emas geraki satu
sayap' yang Lo In ajarkan kepada Toa-hek dalam latihannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ternyata si gorila cerdik juga dan dapat mengingat diorakanya


tipu silat istimewa itu. Cuma sayang ia kalah cerdas dengan
Ang Hoa Lobo. Bukan toya si nenek dapat ia rebut, sebaliknya
dadanya hampir ditembusi senjatanya Ang Hoa Lobo, kalau ia
tidak cepat memutar tubuh untuk menyelamatkan diri dari
sodokan maut itu.

Ang Hoa Lobo gunakan tipu 'Hek liong lam cu' atau 'Naga
hitam mencari mutiara' untuk memusnahkan tipu Toa-hek
'Ayam emas menggerakkan satu sayapnya'. Ketika toyanya
ditekan ke bawah, ia tidak lantas tarik pulang, sebaliknya ia
kerahkan tenaga dalamnya disalurkan ke toya yang membuat
toya jadi sangat berat. Dalam heran, melihat toya tak dapat
ditekan, Toa-hek terkejut waktu sekonyong-konyong si nenek
ditarik pulang, kemudian dengan kecepatan kilat disodorkan
ke arah dadanya. Untung ia dapat memutar tubuhnya untuk
berkelit. Kalau tidak, celaka dia kepanggang toyanya si nenek.

"Hehe, pintar juga kau." tertawa si nenek, sedang hatinya


diam-diam merasa gegetun, kenapa gorila ini bisa ilmu silat. Ia
lantas menduga akan Lo In yang ajarkan tentu. Segera ia
sudah mulai menyerang pula pada Toa-hek yang ketika itu
sudah memperbaiki posisinya.

Manusia kontra binatang itu jadi bertempur seru. Selainnya


memang latihan dan kecerdasan. Ang Hoa Lobo pun ada
pakai senjata toya untuk mendesak lawannya yang bertangan
kosong. Maka sudah tentu saja Toa-hek tak dapat
mempertahankan perlawanannya. Belum 10 jurus, ia sudah
patah perlawanannya. Toya si nenek sudah melanggar bahu
kanannya, lantaran kurang cepat ia mengegosi serangan
lawan. Untung sebelum si nenek menghajar lebih telak
padanya, beberapa kunyuk yang melihat si gorila dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bahaya sudah lantas turun tangan mengerubuti sehingga Ang


Hoa Lobo menjadi sangat repot.

Si nenek putar toyanya yang menerbitkan angin menderu-


deru.

Kawanan monyet itu melihat gelagat juga. Sementara Ang


Hoa Lobo tengah memutar toyanya, mereka tidak berani
datang menerjang, hanya menonton saja dari kejauhan.
Menggunakan kesempatan itu, Ang Hoa Lobo sudah enjot
tubuhnya, menyela ke arah Siauw Cu Leng yang sedang
dikerubuti. Di sini Ang Hoa Lobo memutarkan pula toyanya
untuk membubarkan kepungan atas kekasihnya sehingga
kawanan monyet itu pada mundur melihat datangnya bahaya.

Hanya Ji-hek dan Siauw-hek yang masih menempur Siauw Cu


Leng yang sudah kehabisan 'bensin' kelihatannya. Napasnya
tampak ngos-ngosan, keringat mengucur membuat
pakaiannya basah kuyup. Ia merasa girang atas kedatangan
Ang Hoa Lobo, dapat ia bernapas sedikit legaan, apalagi ia
melihat Siauw-hek kena kehantam toyanya si nenek,
menambahkan kegirangannya. Ia tinggalkan Ji-hek dan lompat
mengubar Siauw-hek yang berkaok-kaok kesakitan, melarikan
diri.

Lebih baik barangkali kalau siauw Cu Leng tidak mengejar


Siauw-hek sebab justru ia mengejar, ia telah mengalami
kesulitan, hampir jiwanya melayang. Di saat ia sudah hampir
menyandak si anak gorila, tahu-tahu dari atas pohon
kedengaran suara 'bleber', itulah si rajawali yang pentang
sayapnya menyambar pada Siauw Cu Leng.

Bukan main kagetnya si Iblis Alis Buntung. Musuh alotnya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sudah muncul sedang tenaganya sudah hampir habis. Apa


daya ? Ia jadi menghela napas lalu memeramkan matanya
untuk terima nasib dicengkeram si rajawali yang kukunya
runcing-runcing. Tengah ia berdiri sambil memeramkan
matanya, tiba-tiba ia merasa dirinya disambar orang dan
dibawa lari, dipanggul di atas pundak. Itulah Ang Hoa Lobo
yang menolong kekasihnya dalam bahaya maut. Sambil
memutar toyanya untuk melindungi diri, ia geraki kakinya
sekuatnya untuk menyingkir dari sambaran-sambaran si
rajawali yang amat ganas kelihatannya.

Suara menderu-deru dan angin keras dari putaran toyanya si


nenek membuat si rajawali tidak berani gegabah
mendekatinya. Ia hanya menyambar-nyambar saja sambil
keluarkan pekikan menyeramkan.

Ang Hoa Lobo lama-lama merasa jeri untuk meladeni si


burung raksasa yang makin lama makin beringas
menerkamnya. Ia sembari lari dan memutar toya, matanya
celigukan untuk mencari tempat perlindungan. Di sana, di
sebelah depannya kira-kira sepuluh tombak, ia melihat ada
rimba yang lebar dengan pohon-pohon, maka ia lari kesitu.
Benar saja, ia dengan kekasihnya dapat menyelamatkan diri
sebab untuk masuk mengejar ke dalam rimba itu, tak dapat
dilakukan oleh si burung raksasa karena sukar ia mementang
sayap, dirintangi oleh banyak cabang-cabang pohon.

Si rajawali ketika melihat dua musuhnya dapat melenyapkan


diri ke dalam rimba, ia melampiaskan marahnya dengan
mengeluarkan pekikan-pekikan melengking seram.

Siauw-hek sementara itu sudah balik pula berkumpul dengan


ibu dan ayahnya, bersam-sama sekalian kawan-kawan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

monyetnya.

Atas penunjukan Pek-gan dan Pek-tauw, Toa-hek sudah


hampiri kamar belakang dimana Lo In dan Eng Lian ditahan.
Dengan sekali pukul saja, pintu kamar sudah terpentang lebar.
Toa-hek masuk ke dalam mencari Lo In.

Eng Lian menjerit melihat datangnya si gorila, tanpa disadari ia


sudah menubruk dan memeluki Lo In, ketakutan setengah
mati. Badannya bergemetaran dalam pelukan Lo In hingga Lo
In tidak tahan untuk tidak mentertawakan kelakuan sang
kawan yang jenaka itu.

Lo In usap-usap rambut kepala si dara cilik yang hitam jengat


dan halus, yang saat itu tengah umpatkan mukanya di dada Lo
In, seram melihat kedatangan Toa-hek.

"Enci Lin, kau jangan takut. Mereka adalah kawan-kawan


kita........" kata Lo In, suaranya halus sambil tangannya
memegang dagu si dara supaya Eng Lian melihat pula pada si
gorila.

Eng Lian mendengar kata-kata Lo In memberanikan diri untuk


memandang kepada si orang utan. Kali ini ia melihat, bukan
atu tapi ada tiga orang utan yang sedang berlutut di hadapan
Lo In.

Terbelalak matanya Eng Lian, hatinya berdebar-debar.

"Enci Lian, mereka adalah Toa-hek sekeluarga." Lo In


memperkenalkan pada Eng Lian.

Meskipun Lo In dalam penuturannya, ada menceritakan juga


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tentang tiga gorila ini, Eng Lian tidak dapat lepas dari
perasaan takutnya karena sikapnya ketiga gorila itu benar-
benar menyeramkan.

"A......... aku takut In." sahut si dara cilik.

"Kau jangan takut, nanti aku kenalkan." berbareng Lo In


mulutnya cetcowetan bicara kepada Toa-hek sekeluarga.

Betul-betul membuat Eng Lian heran sebab setelah Lo In


bicara, ketiganya lalu bangkit dan mendekati si dara cilik untuk
mengusap-usap lengan dan pipinya. Karena saking takutnya,
Eng Lian lebih kencang memeluk Lo In, pipinya yang kanan
merapat di dadanya Lo In, hanya sepasang matanya saja yang
bundar jeli bundar, kedap kedip memandang pada tiga kawan
Lo In. Ia rasakan bulu-bulu Ji-hek dan tangannya yang kasar
mengusap-usap pipinya.

Ia beranikan hati untuk menerima 'tanda persahabatan' itu


malah makin lama usapan-usapan Ji-hek itu dirasakan makin
meresap dalam hatinya, tanda kasih sayangnya seorang ibu.
Maka pelan-pelan perasaan takutnya telah terusir pergi jauh.

Eng Lian jadi tabah. Dasar anah jenaka dan berani, seketika
itu juga berubah sikapnya. Ia balas mengusap-usap tangan Ji-
hek seraya menjabat tangan Siauw-hel dan Toa-hek hingga
ketiga kera itu berjingkrak kegirangan.

Eng Lian kaget mereka berjingkrakan, dikira hendak


menerkam dirinya. Tapi setelah Lo In memberi keterangan
bahwa mereka itu kegirangan, si dara berubah sikap,
membuat Eng Lian bersenyum manis dan angguk-anggukkan
kepalanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toa-hek sekeluarga sebenarnya merasa heran wajah Lo In


berubah hitam tapi mereka kenali suaranya.

Lo In yang belum bisa jalan dipondong oleh Toa-hek, dibawa


keluar dimana sudah ada ratusan kera yang menyambut,
ramai cetcowetan yang dapat memekakkan telinga. Sangat
kegirangan rupanya mereka dapatka 'rajanya' selamat.

Malah si kera Mata Putih dan si Kepala Putih sudah datang


mendekat Lo In untuk minta dielus-elus kepanya, rupanya
mereka menagih jasanya yang sudah mengabarkan pada
kawan-kawannya tentang Lo In terancam bahaya. Memang
merekalah yang disuruh Lo In untuk mengabarkan dan
mengatur penyerbuan dari tentara kera ke situ untuk
membebaskan ia dan Eng Lian dari cengkeraman orang-orang
jahat.

Eng Lian kagum pada Lo In yang sudah dapat mengerahkan


tentara keranya untuk mengusir Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu
Leng, dua manusia iblis kejam.

Tiba-tiba terdengar pekikan si rajawali, sebentar saja burung


raksasa itu sudah terbang mendatangi. Ia mendekam di depan
Lo In yang sedang dalam pondongan Toa-hek, kepalanya
manggut tiga kali. Lo In bersenyum, "Tiauw-heng, terima kasih
kau sudah bantu mengusir orang-orang jahat itu, Bagaimana,
kau baik-baik saja berpisah denganku beberapa hari ini ?"
demikian Lo In berkata-kata kepada burung kesayangannya.

Eng Lian yang mendengar kata-kata Lo In, hatinya ketawa


geli. Pikirnya, masa bicara sama seekor burung seperti juga
bicara dengan manusia, mana burung itu mengerti maksud
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

omongannya ? Tapi alangkah ia tercengang ketika melihat si


rajawali mengangguk-anggukkan kepalanya dengan manja
kelihatannya, ia gosok-gosokkan tubuhnya pada kepalanya.
Lucuk lagak-lagaknya si burung raksasa hingga Eng Lian jadi
ketawa, kali ini bukan dalam hatinya saja yang cekikian. Ia
mendekati Lo In mencekal lengannya, lalu berkata, "Adik In,
kau benar-benar hebat." jempolnya yang mungil pun
berbareng diunjukkan hingga Lo In tertawa bangga.

Lo In perlu merawat diri untuk memulihkan tenaga dalamnya,


maka ia perintah tentara keranya termasuk si rajawali supaya
berjaga-jaga di sekitar rumah itu, jangan kasih orang asing
datang mengganggu.

Dalam rumah Eng Lian, Lo In dirawat si dara cilik dengan


penuh perhatian hingga si bocah merasa sangat berterima
kasih pada kawan barunya itu.

Lewat dua hari, Lo In tampak sudah dapat belajar jalan


dipimpin oleh Eng Loan. Pada waktu mereka ngomong-
ngomong di serambi belakang rumah, tiba-tiba Eng Lian
seperti mengingati sesuatu. Seketika ia bangkit dari duduknya.

Lo In cepat pegang tangan si dara cilik menanya, "Ada apa


Enci Lian ?"

"Tunggu !" sahut Eng Lian sambil lepaskan tangannya dari


cekalan Lo In. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan
cepat.

Tidak lama kemudian, ia muncul lagi dengan satu gelas


ditangannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia mendekati Lo In dan berkata, "Adik In, aku mempunyai obat


manjur untuk mengembalikan lwekangmu cuma aku takut kau
tidak berani makan."

Lo In ketawa, "Enci Lian, aku sangat berterima kasih


kepadamu." sahut Lo In. "Jangan kata obat, racun juga kalau
kau suruh aku makan, aku tidak akan menolak pemberianmu."

Si dara cilik cekikikan ketawa mendengar kata-kata Lo In.

"Anak tolol" katanya setelah ia habis ketawa. "Orang mau


kasih obat kenapa jadi racun dibawa-bawa ? Memangnya aku
si Nenek Kembang Merah ? Hihihi......."

Lo In pun turut ketawa. "Mana obat itu ?" ia kemudian


menanya.

"Ini dia obat manjur yang tidak ada duanya." sahut Eng Lian
seraya angsurkan gelas yang ada ditangannya tadi.

Lo In menyambuti. Ia periksa isi gelas, ia dapatkan satu benda


bundar sebesar telu ayam, warnanya meah tua direndam
dengan arak putih. Tampaknya benda itu lunak sekali seakan-
akan telur ayam barusan dipecahkan.

"Barang apa ini ?" tanya Lo In keheranan.

"Kau makan dahulu, nanti baru aku ceritakan," sahut Eng Lian.

Lo In dekati gelas pada hidungnya, ia terkejut, dari dalam


gelas menyambar bau harum yang enak sekali.

"Kau takut makan ?" tanya si dara cilik, mukanya kelihatan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

cemas.

Lo In adalah seorang laki-laki, tidak mungkin ia menarik


pulang apa yang sudah ia kaakan tadi pada Eng Lian,
meskipun itu hanya bersifat main-main.

Maka setelah ia nyengir sebentaran, ia lantas angkat gelas itu


dan isinya sekali teguk saja lenyap lewat tenggorokannya.

"Adik In, oh...kau...." Eng Lian menubruk, memeluk Lo In


kegirangan, hampir ia menciumi pipi orang.

Lo In gelagapan dipeluki Eng Lian dengan tiba-tiba, gelas


yang dipegangnya itu hampir jatuh di lantai.

"Kau kenapa, enci Lian ?" si bocah menanya.

Sambil tangannya masih memegang kedua pundaknya Lo In,


si dara cilik menatap parasnya si bodah, mukanya
menyungging senyuman. Ia berkata, " Adik In, rejekimu besar
senyuman. Kau akan sembuh, sembuh......segera !"

"Enci Lian, bagaimana kau tahu aku bakalan sembuh segera


?" tanya Lo In.

"Adik In, itu yang kau makan adalah lwetam dari Tok-gan
Siancu, ular kesayanganku yang aku ambil setelah mati."
menerangkan Eng Lian sambil duduk pula di tempat duduknya
tadi.

"Hanya lwetam ular, apalah artinya ?" kata Lo In tertawa.

Lwetam artinya nyali, jadi Lo In sudah telan nyali ular.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau tidak tahu khasiatnya." kata Eng Lian lagi. "Menurut kata
ayahku,
Tok-gan Siancu mempunyai lwetam yang tak ternilai. Cuma
saja nyali itu tak dapat dimiliki begitu saja, misalnya dengan
sengaja kita bunuh mati Tok-gan Siancu, lantas diambil
nyalinya. Ini tidak akan ada khasiatnya.

"Jadi, bagaimana semestinya ?" Lo In memotong tidak


sabaran.

"Adik In, kau dengar dulu aku cerita. Jangan kau potong." kata
Eng Lian.

Lo In nyengir. Kemudian Eng Lian meneruskan ceritanya,


"Tok-gan Siancu harus marah dahulu dan lalu menggigit
orang. Dengan begitu bisanya sudah buyar. Bisa itu terpusat
pada nyalinya. Tok-gan Siancu sudah marah dan menggigit si
jahat Nenek Kembang Merah, maka nyalinya sudah bersih
dari racun. Justru ia kena dibunuh Ang Hoa Lobo, aku jadi
ingat akan kata-kata ayahku. Maka aku cepat membelah
perutnya, ambil nyalinya yang berharga itu sebelum aku kubur
bangkainya. Nyali itu aku rendam dalam obat yang dapat
mengawetkan. Pikirku akan aku berikan pada ayah apabila ia
sudah pulang mencari ibu."

"Habis, sekarang kau kasih nyali itu aku makan, ayahmu tidak
kebagian, bagaimana kau nanti dapat
mempertanggungjawabkan pada ayahmu ?" kata Lo In.

Si dara cilik bersenyum. Ia berkata lagi, "Taruh kata ayahku


pulang, dia juga belum tentu berani memakannya. Karena
nyali yang kau makan itu baru dapat sebagai obat dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menimbulkan khasiatnya kalau ia dimakan oleh orang yang


lwekangnya tinggi sedang terluka parah. Khasiatnya untuk
mengembalikan tenaganya yang lenyap dan
menambahkannya berlipat ganda. Ini, entah benar atau tidak,
aku sendiri belum pernah mengalami. Tapi lihatlah nanti
reaksinya bagaimana setalah kau makan nyalinya Tok-gan
Siancu."

Lo In anggukkan kepala. Sementara itu ia rasakan badannya


tiba-tiba panas. Ia minta si dara cilik untuk memimpinnya
masuk. Ia ingin rebah diatas pembaringan.

Eng Lian cepat memenuhi permintaannya. Belum lama Lo In


rebah, tiba-tiba Eng Lian dibikin kaget oleh suara merintih Lo
In.

"Kau kenapa, adik In ?" Eng Lian menanya.

"Panas, oh, panas aku rasakan sekujur badanku.........." Lo In


berteriak.

Eng Lian tidak tahu apa yang harus diperbuatnya ketika


melihat Lo In sangat gelisah diatas bale-balenya, tak tahan
merasakan menyerangnya hawa panas.

Ia mau menghampiri, menjadi takut. Karena Lo In seperti yang


sedang mengamuk. Ia takut kena jotosan kepalannya Lo In.

Betul-betul bingung Eng Lian. Cuma mulutnya saja yang ramai


menanyakan Lo In kenapa bisa jadi begitu. Tapi, ia tak dapat
jawaban dari si bocah. Tiba-tiba ia ingat bahwa Lo In jadi
begitu setelah makan nyalinya ular. Apakah itu yang menjadi
gara-garanya ? Ia jadi takut sebab Lo In makan lwetam itu atas
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

anjurannya. Ia bukannya meracuni, memang dengan sungguh-


sungguh ia hendak menolong Lo In tapi kenyataannya
sekarang jadi begini. Bagaimana ?

Lima menit kira-kira Lo In bergelisahan. Tiba-tiba tubuhnya


diam, tenang dan ia bisa tidur nyenyak. Entah kenapa bisa jadi
begitu. Eng Lian segera mendekat Lo In lalu mencekal
tangannya. Ia periksa sekujur badannya si bocah mandi
keringat. Cepat ia ambil kain-kain tebal untuk menyekanya.
Tak dapat Lo In dibanguni meskipun digoyang-goyang keras
tubuhnya. Ia tidur sampai keesokan harinya baru mendusin
membuat Eng Lian menangis ketakutan kalau-kalau si bocah
mati.

Sekarang melihat Lo In membuka matanya, Eng Lian ketawa,


berhenti menangisnya. Sambil susut airmatanya, ia menanya,
"Adik In, apa kau sudah baik ?"

"Eh, kenapa kau tanya begitu ? Dan kenapa kau menangis,


enci Lian ?" balik menanya Lo In yang menjadi keheranan
nampak si dara cilik menangis.

"Adik In, kau tidak tahu, aku ketakutan kau mati !" sahut si
gadis cilik.

Lalu Eng Lian tuturkan bagaimana Lo In dalam


kegelisahannya mengamuk diatas bale-bale karena
kepanasan, bagaimana si bocah terus tidur nyenyak sampai
sekarang baru mendusin. Hal mana membikin Lo In kaget,
lantas ia mencelat bangun. Begitu enteng ia mencelat, ketika
ia tancapkan kakinya di lantai tidak perdengarkan suara apa-
apa seperti juga jatuhnya selembar daun.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Eng Lian terbelalak matanya, heran melihat Lo In dengan


mendadak saja bisa gerak, badannya lompat mencelat dari
tempat tidurnya yang sebenarnya untuk bangun saja ia harus
mendapat pertolongan si dara cilik.

Belum sempat ia menanya, tiba-tiba ia rasakan pinggangnya


dicekal Lo In dan tubuhnya diapungkan, hampir saja
kepalanya menyundul atap rumah kalau tidak cepat-cepat Lo
In menyusul lompat dan tarik pulang si dara cilik dan dilain
saat, Eng Lian jatuh dalam pelukan Lo In.

"Enci Lian, kau adalah penolongku......." bisik Lo In seraya


mencium pipinya si dara cilik hingga Eng Lian merasa panas
mukanya. Tapi ia tidak mau berontak sebab dalam pelukan Lo
In, ia merasa lebih aman.

Tapi kemudian ia berontak juga sambil mencubit pipi si bocah,


ia berkata :

"Anak nakal. Kenapa kau bikin encimu kaget setengah mati


barusan ?"

"Ah, enci Lian, maafkan aku." sahut Lo In seraya melepaskan


pelukannya. "Saking kegirangan aku, sampai lupa yang
diapungkan itu ada enciku yang baik hati. Hahaha......"

Mulutnya si nona menjebir, lucu tapi ia tidak mengatakan


penyesalan apa-apa sebag memang juga hatinya turut girang
dengan kembalinya lagi tenaga Lo In berkat pertolongan dari
nyali ular kesayangannya, Tok-gan Siancu.

Memang luar biasa khasiatnya nyali ular itu. Sebab Lo In


merasakan bukan saja tenaga lamanya pulih kembali tapi juga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seperti bertambah, badannya dirasakan jauh lebih enteng dari


pada sebelumnya.

Selama Lo In dalam kegirangan, Eng Lian sering menatap


wajahnya Lo In lama, hingga Lo In curiga. Ia menanya, "Ada
apa yang heran diwajahku, enci Lian ?"

"Itu, eh, itu.... tanda yang tidak bisa hilang." sahutnya.

"Tanda apa, enci Lian ?" Lo In kata heran sebab sejak dahulu
ia tidak punya tanda apa-apa diwajahnya yang cakap.

"Itu tanda hitam diwajamu, adik In." sahut Eng Lian. "Kukira
tadinya dengan makan nyali ular kesayanganku itu, sekaligus
akan mengunjuk khasiatnya, menghilangkan tanda hitam pada
wajahmu. Tapi kenyataannya....... masih saja ada."

Sebelum Lo In membuka mulut menanya, Eng Liang sudah


menuturkan bagaimana si Nenek Kembang Merah sudah
membikin wajah Lo In menjadi hitam legam.

Lo In terkejut, ia usap-usap keras pipinya yang hitam lalu


pandang jari-jari tangannya yang dipakai mengusap-usap tadi.
Ia tak dapat lihat ada tanda-tanda hitam. Jadi tanda hitam itu
tak dapat dihapus.

Ia pinjam kaca dari Eng Lian dan mengacai wajahnya. Benar


saja mukanya hitam legam. Bukan main marahnya si bocah.
"Kurang ajar itu nenek dekat mampus. Akan kau rasakan
pembalasanku nanti........."

"Ah, kau jangan marah, adik In." memotong Eng Lian. "Kita
belum tahu betul dia jahat, membunuh orang misalnya, maka
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tak perlu kita balas membalas. Asal kita ketemu dia, dengan
rela dia memberi obat pemusnahnya, kita bikin habis saja
urusan. Dengan begitu tidak saling balsa membalas lagi.

-- 9 --

Lo In adatnya halus. Ia suak mengampuni siapa juga. Kalau


barusan ia mengucapkan kata-kata mau membalas, itu
didorong oleh hawa amarahnya yang muncul seketika. Maka
waktu Eng Lian menasehatkan dengan kata-kata yang lemah
lembut dan masuk dalam sanubarinya, ia angguk-anggukan
kepalanya dan menyatakan penyesalannya.

Dua anak itu suka membanyol, jenaka tapi pribadinya luhur.


Cocok mereka itu menjadi teman yang akrab, di lembah yang
jauh dari pergaulan manusia.

Sampai disini kita tinggalkan Lo In dan Eng Lian. Mari kita lihat
perjalanan Kim-wan Thauto. Setelah ia meninggalkan Kim
Popo begitu saja dibawah terik panasnya matahari, selagi ia
jalan tiba-tiba ia mendengar ada derap kaki kuda mendatangi
dari belakangnya.

Ketika ia menoleh, kiranya ada tiga penunggang kuda yang


mendatangi ke arahnya. Entah siapa gerangan mereka itu.
Mereka melarikan kudanya cukup kencang ketikan melewati
ia. Ia dapat melihat wajahnya mereka itu. Yang satu, yang
paling tua diantara mereka, usianya dikira 45 tahun, yang
kedua 40 tahun dan yang muda ditaksir kurang lebih 20 tahun.
yang pertama mukanya terang, tak berkumis, yang kedua
mukanya hitam, piara kumis berewokan, yang muda parasnya
cakap.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si berewokan pada waktu lewati Kim-wan Thauto bepaling


pada si thauto, matanya melotot mengawasi. Si thauto tidak
senang dipelototi tanpa sebab, tapi sebelum ia menegur,
orang yang berusia paling tua tadi kedengaran berkata pada si
berewokan, "Samte, kau jangan cari urusan sebelum kita
ketemu toako......"

Kim wan Thauto lantas tidak dengar lagi apa yang mereka
bicarakan kemudian karena kudanya dipecut lari makin
kencang.

Dengan menggunakan ilmu entengi tubuhnya, Kim Wan


Thauto menyusul mereka.

Sayang tak dapat menyusul karena mereka sudah jauh


jaraknya, apalagi ketika sampai di satu tikungan, Kim Wan
Thauto kehilangan jejak mereka.

Kim Wan Thauto teruskan perjalanannya sambil menebak-


nebak dalam hatinya, siapakah mereka itu dan apa sebabnya
tiba-tiba si berewokan pelototinya.

Sebentar kemudian ia sampai di desa Kunhiang, satu desa


yang besar juga dan ramah penduduknya. Diantaranya banyak
orang-orang hartawan yang tinggal menetap disitu, pada
membuka perusahaan.

Kim Wan Thauto masuk ke sebuah rumah makan 'An Goan',


dimana kedapatan banyak tamu dari dalam dan luar desa
Kunhiang. Ia terus masuk mengambil tempat disuatu pojokan
lalu pesan makanan pada pelayan yang menghampirinya.

Sementara ia menunggu makanan disiapkan, ia memandang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ke sekitarnya. Ia lihat ada satu tamu yang menghadapi meja


besar sendiri saja, sedang meja besar demikian biasanya
untuk para tamu dalam rombongan besar.

Ia heran melihat tamu itu yang barusan ia lewati ketika


memasuki rumah makan.

Tamu itu mukanya persegi, jenggotnya macam jenggot


kambing. Alisnya yang kanan hilang, rupanya bekas golok
mampir pada bagian dekat alisnya itu, juga matanya meram.
Tegasnya mata kanannya picak. Entah ia sedang menunggu
siapa sebab sikapnya seperti ada yang ditunggu, tiap sebentar
matanya mengawasi ke jurusan pintu masuk.

Sebentar kemudian, sewaktu Kim Wan Thauto mulai dengan


hidangannya, ia mendengar suara ramai orang bercakap di
sebelah luar, pintu pun lantas terbuka, masuklah orang-orang
yang ramai bercakap-cakap tadi. Mereka disambut oleh orang
yang duduk sendirian tadi dengan kata-kata, "Wah, kenapa
kalian datang lama benar ?"

"Maaf toako, barusan kita diajak Kongcu untuk menemukan


ayah Kongcu dahulu sehingga kita terlibat dalam arena
percakapan, itulah yang bikin kita terlambat." kata seorang
diantaranya yang berusaha masuk.

Kim Wan Thauto terkejut sebab mereka itu tiada lain adalah
tiga orang penunggang kuda yang ditemukannya di jalanan
tadi.

Anak muda yang bersama-sama menunggang kuda ternyata


adalah anaknya Tan Wangwee, seorang hartawan yang cukup
terkenal. Mereka bertiga memanggilnya Kongcu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tan Kongcu supaya dikenal baik oleh pemilik rumah makan


termasuk pelayannya karena ia dengan kawan-kawannya
mendapat pelayangan yang istimewa kelihatannya. Dari
percakapan mereka, Kim Wan Thauto dapat mencuri dengar.
Hatinya jadi terkejut juga sebab tiga orang itu tiada lain adalah
Sucoan Sam-sat atau tiga algojo dari Sucoan yang terkenal
kekejamannya di wilayah Sucoan.

Tiga algojo itu mempunyai julukan masing-masing yang


menyeramkan. Si toako bernama Puy Teng alias Giam-ong
(Raja akherat), si jiko yaitu si muka terang namanya Teng
Cong, julukannya Mo-jiauw atau si Cakar Setan, yang bontot si
berewok yang melototi Kim Wan Thauto menamakan dirinya
Sin-mo Lie Kui, si Iblis Sakti.

Gelarannya si hebat-hebat, entahlah kepandaiannya tapi yang


terang mereka terkenal dengan perbuatan yang suka
sewenang-wenang dan buas.

Tiga alogojo dari sucoan itu tidak bisa omong perlahan,


mereka bercakap-cakap dengan berisik sehingga banyak
orang yang ada di situ pada dapat curi pendapatan mereka,
diantaranya tentu Kim Wan Thauto yang menaruh perhatian
istimewa atas kedatangannya Sucoan Sam-sat ke desa itu.

Kiranya mereka itu datang atas undangan Tan Wangwee,


mereka spesial diundang oleh Tan Kongcu untuk membikin
perhitungan dengan Liu Wangwee yang menuduh Tan
Wangwee ada simpanan orang jahat dalam rumahnya.

Kim Wan Thauto paling suka mencampuri urusan yang tidak


adil, maka dalam hal Tan Wangwee dan Liu Wangwee, ia ingin
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tahu duduk perkaranya.

Ia lebih percaya pada Liu Wangwee yang benar kalau melihat


orang-orang undangan Tan Wangwee terdiri dari bajingan
buas. Maka itu, ia harus cari tahu keadaannya Liu Wangwee,
tapi dimana ? Ia masih asing dalam deast itu yang baru
pertama kali ia datangi.

Ia tidak kurang akal, sebab begitu kawanan jahat itu sudah


bubaran dengan tidak memperhatikan dirinya yang duduk di
pojokan, ia lantas panggil pelayan yang melayani ia untuk
menanyakan keterangan dimana letak rumahnya Liu
Wangwee.

Cuaca sementara itu sudah mulai sore. Ia sewa kamar dalam


rumah makan itu yang merupakan juga rumah penginapan.

Ketika hari mulai gelap, ia bikin kunjungan ke rumahnya Liu


Wangwee.

Kiranya rumahnya si hartawa Liu itu sekitarnya dikurung rapat


dengan pagar tembok. Tingginya kira-kira satu setengah
tombak. Kim Wan Thauto tidak mau mengunjunginya dengan
terang-terangan sebab kuatir tuan rumah nanti salah sangka
atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Maka pikirnya lebih baik
sebentar tengah malam saja ia kembali lagi bikin penyelidikan.
Oleh karena itu ia lalu pulang ke hotelnya kembali.

Setelah mengisi perutnya lebih dahulu, Kim Wan Thauto lalu


masuk ke kamarnya.

Sambil menunggu waktu, ia rebahan. Ketika ia merobah


miring, tiba-tiba ia rasakan ada yang mengganjal. Lantas ingat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

akan kotak yang ia rampas dari Kim Popo dalam kantongnya.


Ia lalu merogoh keluarkan, ia main-mainkan ditangannya dan
mencoba membukanya tapi kotak itu tak dapat dibuka. Ia
girang tapi entah apa isinya buku mungil itu, tidak
diketahuinya. Ia menyesal tak ditanyakan itu pada si nenek
bandel.

Ia kelihatannya tidak begitu menghargakan kotak itu, maka


ditaruhnya di bawah bantal setelah beberapa lama dimain-
mainkannya.

Ia kemudian bangun lagi dari rebahannya, ambil buku dari


kantongnya lalu duduk membacanya sampai kemudian ia
mendengar kentongan dua kali dipukul menandakan jam dua
tengah malam. Pikirnya sudah waktunya ia lakukan
penyelidikan. Seketika itu ia keluar dari kamar dengan
mengambil jalan dari jendela supaya tidak mengganggu tamu-
tamu yang nginap disitu dan bikin curiga pemilik hotel.

Sebentar saja ia sudah sampai di dekat rumahnya Liu


Wangwee. Tidak susah, dengan menggunakan ilmu entengi
tubuh, ia sudah lompat melewati tembok pekarangan dari
rumah hartawan Liu.

Rumah itu ternyata berloteng. Pada tingkat satu, ia lihat masih


terang. Apakah masih ada orang yang belum tidur ? Tanyanya
pada diri sendiri.

Ini kebetulan sekali, pikirnya. Lalu dengan menggunakan


kepandaian memanjat, sebentar saja ia sudah sampai di
loteng tingkat satu. Ia mengintai dari jendela. Ia lihat di
dalamnya ada seorang lelaki yang kira-kira berusia lima
puluhan tengah membaca buku, sedang disampingnya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terdapat seorang gadis yang kira-kira berusia 18 tahun sedang


duduk.

Kim Wan Thauto lantas menduga akan Liu Wangwee, ketika ia


mendengar si gadis berkata-kata, "Sudah malam ayah. Untuk
apa urusan demikian dipikirkan."

"Tapi anak Hiang." kata sang ayah. "Kau jangan meremehkan


paman Tan."

"Dia toh takut pada ayah, kenapa mesti dipikirkan ?" kata si
gadis lagi.

Lu Wangwee tarik napas sambil letakkan bukunya diatas


meja, ia berkata lagi, "Anak Hiang, ayah sudah nasehatkan,
kau jangan suka mengatakan apa-apa tentang paman Tan tapi
kau seenaknya saja omong hingga jadi urusan sekarang.
Bagaimana sebenarnya yang menjadi pokok lantaran, coba
kau terangkan. Jangan pakai diumpat-umpatkan.:

"Itulah pada suatu hari," sahut si gadi. "Ketika enci Ciok datang
padaku membujuk aku supaya aku terima lamaran saudara
misannya, si Kongcu ceriwis itu, dia ada menyebut bahwa
kekayaan paman Tan jauh lebih kaya dari pada kita. Hatiku
jadi panas dan meyemprot dia dengan kata, 'Tentu saja
paman Tan lebih kaya lantaran pelihara maling dalam
rumahnya !' Kata-kata ini rupanya disampaikan pada paman
Tan sehingga ia menjadi marah, menegur ayah supaya minta
maaf di depan umum. Aku yang salah, aku yang tanggung
jawab, kenapa ayah dibawa-bawa ?"

Si gadis ketika mengucapkan kata-kata yang paling belakang,


kelihatan marah, menggertakkan giginya, gemas rupanya dia.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Terang si Ciok mesti adukan kata-katamu yang menyinggung


itu." kata Liu Wangwee. "Karena buat dirinya juga tidak enak,
kau mengatakan pamannya pelihara maling. Paman Tan
sendiri, tidak berani padaku, tapi dia ada punya orang. Dia
kasih tempo buat ayah menghaturkan maaf dalam tempo tiga
hari. Kalau dalam tempo tersebut ayahmu tak memenuhi
permintaannya, dia akan minta kawan-kawannya datang untuk
menghajar ayah. Besok sudah hari ketiga, entah bagaimana
nanti kejadiannya. Kabarnya paman Tan sudah mengundang
kawan-kawannya dan sudah datang tadi siang."

"Siapa yang dia datangkan ?" tanya si anak.

"Kau mana tahu kekejaman paman Tan. Dia sudah datangkan


bala bantuannya, tidak tanggung-tanggung ialah Sucoan Sam-
sat yang tersohor sangat buas !"

"Tiga algojo dari Sucoan......." menggumam si gadis. "Kalau


ayah takut, biar saja nanti aku yang layani. Baru tiga algojo,
meskipun dia datangkan selusin algojo juga aku tidak takut !"

"Kau punya kepandaian apa ?" tanya si ayah, melengak heran.

"Ayah nanti lihat saja." sahut sang anak. "Sekarang ayah


masuk tidur saja, urusan diserahkan pada aku saja yang nanti
menghadapinya."

Liu Wangwee bingung. Bagaimana anaknya begini gagah ?


Siapa yang dia bakal andalkan ? Dia sendiri yang
menghadapinya, itu tak mungkin sebab ia tahu benar Bwee
Hiang, anak gadisnya tidak punya kemampuan itu. Ilmu
silatnya hanya ia yang ajari, bagaimana dia begitu besar hati
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

untuk menghadapi musuh berat ?

Tapi untuk membuat anak gadisnya senang, ia pun menurut


disuruh masuh tidur, diantar oleh Bwee Hiang.

Kim Wan Thauto diam-diam memuji kegagahan si gadis. Ia


pun angkat jempolnya. Tapi ketika ia mau angkat kaki dari situ,
ia urungkan karena mendengar suara menangis
sesenggukkan. Itulah Bwee Hiang, yang sudah balik lagi dari
mengantarkan ayahnya masuk tidur.

Ia duduk diatas kursi yang barusan diduduki ayahnya,


menangsi sesenggukkan tanpa ada orang yang
menghiburnya.

"Aku yang sudah menerbitkan bencana, mengapa ayahku


yang harus bertanggung jawab ? Oh, nasib........ibu...... ibu,
kenapa kau sudah meninggalkan aku lebih dahulu ?"
terdengar si gadis berkata-kata sendirian, ia sesambat pada
ibunya yang sudah lama berada di alam baka.

Kim Wan Thauto yang berhati baja, melihat adegan itu tak
dapat mempertahankan kesedihannya. Ia diam-diam merasa
terharu akan nasibnya Bwee Hiang. Kapan ia ingat lagi, ia jadi
heran kenapa si gadis menangis begitu sedang tadi ia lihat
tegas si gadis begitu gagah mengucapkan kata-katanya untuk
tanggung sendiri semua urusan yang mengancam keluarga
Liu. Apa benar si gadis mempunyai kepandaian tinggi untuk
menghadapi Tiga Algojo dari Sucoan ?

Sehingga Kim Wan Thauto masih ragu-ragu. Tapi bisa saja


terjadi keanehan-keanehan, maka Kim Wan Thauto pikir
biarlah ia nanti menonton saja apa yang akan dilakukan oleh si
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

gadis. Malah diam-diam ia berjanji akan membantu si gadis


manakala dipandang perlu. Setelah berpikir demikian, maka ia
lantas berlalu dari tempat mengintainya tanpa diketahui oleh si
gadis yang masih menangis sesenggukkan.

Pada hari esoknya, ada hari penghabisan dari ultimatum yang


dikirimkan pada Liu Wangwee tapi oleh Tan Wangwee
ditunggu-tunggu tidak ada kabar apa-apa dari pihak hartawan
Liu sehingga Tan Wangwee menjadi amat mendongkol.

Oleh karenanya ia lalu himpunkan kawan-kawannya yang


diundang.

Dalam desa kunhiang itu, diantara hartawan-hartawan yang


paling menonjol adalah hartawan Liu. Ia mempunyai banyak
pabrik tahu, tenun dan lain-lainnya dimana ia pakai banyak
buruh sebagai pekerjanya. Dengan adanya mata pencaharian
yang dibuka oleh hartawan Liu, maka tidak heran kalau desa
kunhiang menjadi amat ramai. Buruh dari mana-mana pada
datang minta pekerjaan pada perusahaannya Liu Wangwee.
Kawan-kawannya hartawan Liu yang juga dikenal sebagai
hartawan sangat menghormat Liu Wangwee karena ia ini
meskipun kaya juga tidak sombong dan banyak menolong
orang yang dapat kesusahan.

Di antara kawan-kawan Liu Wangwee termasuk juga Tan


Wangwee.

Hartawan Tan memang terkenal kaya tapi tidak membuka


perusahaan apa-apa. Orang tidak tahunya mendapat
kekayaan dari mana tapi yang terang kekayaannya makin
bertambah saja sejak anak-anaknya pulang dari tempat lain.
Katanya baru tamat dari belajar silat dan pulang ke rumah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

untuk bantu usaha orang tua.

Belum lama Tan Kongcu pulang dari perguruan, dalam desa


kunhiang yang tadinya aman-aman saja, lantas jadi banyak
maling. Hartawan-hartawan yag menetap dalam desat itu
banyak dipreteli kekayaannya oleh maling-maling itu. Itu bukan
maling biasa sebab semua itu dikerjakan oleh satu orang dan
untuk kejadian itu orang desa kunhiang menaakan ia 'Huicat'
atau 'Maling biasa terbang' karena tak dapat diselidiki jejaknya
baik oleh korban-korbannya sendiri maupun oleh pihak yang
berwajib. Yang herannya justru maling terbang itu mengincar
hartawan-hartawan yang 'kaya' saja sebab yang tanggung-
tanggung tak pernah mendapat gangguan. Jadi keadaan tidak
aman hanya dialami oleh mereka yang betul-betul hartawan.

Liu Wangwee meskipun ia sendiri belum pernah mendapat


gangguan, dengan sendirinya sebagai ketua kaum hartawan ia
malu hati buat peluk tangan saja. Maka ia kumpulkan kawan-
kawannya untuk berunding mencari jalan sampai mereka
dapat mengamankan lagi desanya dari gangguan maling.

Belum ada keputusan tentang daya apa dapat diambil untuk


menangkap maling terbang itu, dua hari sejak diadakan rapat
oleh Liu Wangwee, rumahnya sendiri telah didatangi si maling
terbang itu.

Ia sendiri tidak menghadapinya tapi gadisnya, Bwee Hiang,


pada malam itu sudah bertempur seru dengan si maling
terbang yang pakai topeng mukanya.

Sudah menjadi kebiasaan Bwee Hiang, ia baharus masuk tidur


kalau ayahnya terlebih dahulu ia antarkan masuk tidur. Maka
ia tidur lebih larut (malam) dari ayahnya. Waktu barusan saja
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan baca,


kupingnya yang tajam seperti mendengar ada orang yang
membuka jendela perlahan. Ia pura-pura tidak memperdulikan
itu, terus saja ia jalan. Tapi ia tidak menuju ke kamarnya, tapi
ia membelok ke satu gang yang dapat menembus keluar. Ia
lantas dapat memergoki seorang yang sedang mengintip di
jendela. Si nona segera menduga yang datang adalah maling
terbang. Maka dengan tidak bersuara kakinya menotol lantai,
tubuhnya yang langsing mencelat ke arah orang yang sedang
mengintip tadi.

"Maling terbang, akhirnya kau datang juga. " kata si gadis


sekonyong-konyong.

Bukan main kagetnya orang itu sebab segear ia berkelit ke


kanan dengan gugup mengelak serangan Bwee Hiang yang
membarengi kata-katanya tadi.

Itulah kejadian di atas loteng tingkat satu.

Si maling terbang tidak membalas serangan si gadis, hanya ia


lompat ke atas genteng. Enteng sekali tubuhnya, menghampiri
loteng tingkat dua. Ia mengira kegesitannya sudah tidak ada
taranya, tapi bukan main kagetnya ketika ia barusan saja
menginjak genteng terdengar pula suaranya Bwee Hiang,
"Kau mau lari ? Hmm ! Tamu datang tidak disambut, itu tidak
hormat !"

Si maling lantas putar tubuhnya, sekarang ia berhadapan


dengan si gadis yang tersenyum mengejek kepadanya.
Sungguh ia tidak mengira, kalau Bwee Hiang dapat
menandingi kegesitannya, malah kelihatan lebih gesit lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bwee Hiang ketika jalan keluar hendak pergoki si maling, ia


sudah sembat pedang yang biasa ia pakai dalam latihan
dengan ayahnya. Dengan senjata itu ia tunjuk si maling sambil
berkata, "Hui cat, kau tak akan lolos dari aku !"

Si maling tidak menjawab, hanya ia lantas menghunus


pedangnya.

"bagus !" kata Bwee Hiang, "Mari kita main-main !"

Kata-katanya ditutup dengan serangan pada dua jurusan.


Pertama, ujung pedang si nona seperti menyerang
tenggorokan, ketika si maling bertopeng menangkis, ia tarik
pedangnya supaya jangan bentrok dengan senjata lawan,
lantas diteruskan menusuk pada 'kiok-ti-hiat', jalan darah di
bagian pundak kiri untuk sekalian menyontek tulang pundak
orang. Gerakan ini dilakukan dengan cepat laksana kilat, salah
satu jurus yang hebat dari Bwee Hoa Kim Hoat (Ilmu silat
pedang kembang bwee) yang dinamai 'Hoa kay beng goat'
atau 'Kembang mekar memandang rembulan'.

Tapi si maling bertopeng cukup gesit.

Melihat tangkisannya luput sebab pedang lawan cepat ditarik


pulang, pundaknya yang di arah si nona ia elakkan dengan
turunkan pundaknya sedikit hingga ujung pedang tak dapat
sasarannya.

"Aha, boleh juga !" kata Bwee Hiang melihat serangannya


yang ditujukan pada dua arah luput semua. Berbareng, ia pun
lantas menyerang pula dengan jurus-jurus yang mematikan.
Pedangnya berkelebatan menyambar-nyambar ke arah jalan
darah lawan sehingga merupakan tekanan yang berat bagi si
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

maling terbang. Apalagi pikirannya tidak mau melayani si nona


lama-lama. Maka begitu ia mendapat lowongan, lantas enjot
tubuhnya mencelat mundur ke tepi genteng rumah, dari mana
dengan ilmu entengi tubuh ia loncat ke genteng rumah tingkat
satu akan terus loncat ke bagian bawah, lari menghampiri
tembok pekarangan. Tubuhnya enteng sekali diwaktu ia
melompati tembok pekarangan rumah Liu Wangwee, dari
mana ia teruskan larinya ke arah barat dan melenyapkan diri
dalam sebuah rumah besar.

Maling itu mengira dirinya tidak dikejar si nona karena


beberapa kali ia menoleh ke belakang tidak nampak bayangan
yang mengejar apalagi mendengar suaranya si nona. Tapi ia
salah hitung. Ia boleh gesit dan dapat menghilang bagaikan
setan kalau kepandaiannya itu dihadapkan pada orang biasa
atau ilmu silatnya hanya ilmu silat pasaran saja. Tapi kali ini ia
menghadapi Bwee Hiang yang kegesitannya cukup tinggi.
Tentu saja jejaknya tak luput dari kuntitan si nona.

Ketika ia menghilang dalam rumah besar tadi, tiba-tiba Bwee


Hiang berdiri tertegun. Sebab rumah itu adalah rumah Tan
Wangwee. Ia lantas menduga bahwa Tan Wangwee dalam
rumahnya ada pelihara maling, makanya kekayaannya dengan
tentu meningkat tanpa orang mengetahui dari mana
sumbernya.

Si gadis pulang lagi ke rumah. Pikirannya makin yakin bahwa


Tan Wangwee telah pelihara maling. Maka ketika keesokan
harinya ia ketemu ayahnya, lantas ia menceritakan
pengalamannya semalam. Sang ayah terkejut juga mendengar
cerita anaknya, lantas ia berkata, "Anak Hiang, kau sudah tahu
rahasianya paman Tan, harap kau jaga mulutmu jangan
sampai mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggungnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Paman Tan segan dan menghormatku karena dia tahu aku


ada seorang yang dipandang tinggi oelh penduduk kunhiang
dan dia tahu juga aku berkepandaian tidak rendah dalam ilmu
silat. Tapi kalau kita membuat gara-gara menyinggung
kehormatannya, dia tentu akan pandang lagi padaku. Dia
dapat datangkan kawan-kawannya dari golongan jahat untuk
menghadapi aku karena dia sendiri tidak berani untuk
berurusan langsugn dengan aku. Ingat, anak Hiang !"

Bwee Hiang mengiakan atas nasehat itu. Tapi ia lupa ketika


Cok Ciok, teman mainnya yang menjadi keponakan Tan
Wangwee membanggakan kekayaannya hartawan Tan di atas
kekayaan keluarga Lu. Hatinya panas seketika dan
mengatakan tentu saja Tan Wangwee lebih kaya karena
dalam rumahnya ada pelihara maling. Kata-kata inilah yang
menjadi 'urusan' sehingga Tan Wangwee mengundang
Sucoan Sam-sat yang sangat kesohor kebuasannya untuk
menghadapi Liu Wangwee.

Dalam pertemuan dengan tamu-tamu undangannya, Tan


Wangwee menanyakan pikiran mereka bagaimana mereka
akan bertindak kalau sampai nanti malam masih belum terima
kabar dari Liu Wangwee. Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie
Kui ada orang-orang kasar, mereka tidak dapat mengeluarkan
pikiran yang baik, maka diminta pikirannya Mo-jiauw Teng
cong, si Cakar Setan yang banyak akalnya untuk mengusulkan
sesuatu untuk kebaikannya Tan Wangwee.

"Menurut pikiranku," kata Mo-jiauw Teng Cong, "Kalau nanti


malam Liu Wangwee tidak kirim orang mengabarkan apa-apa
kepada kita, sebaiknya kita datangi rumahnya untuk minta
keputusan. Kalau dia lulusi permintaan Tan-heng yaitu
bersedia untuk minta maaf dihadapan umum, kita bikin habis
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

saja urusan ini. Kalau tidak, baik nanti kita lihat gelagat
bagaimana, kalau perlu kita gunakan kekerasan untuk
menaklukinya."

"Ah, kau terlalu bertele-tele." kata Puy Teng Toako dari


Sucoan Sam-sat.

"Kau benar Toako, jiko terlalu berliku-liku. Kita ambil jalan


pendek saja, kalau nanti dia tidak mau meluluskan permintaan
Tan-heng, kita habisi saja jiwanya !" Sin-mo Lie Kui
menyatakan pikirannya.

"Kita harus pakai jalan lunak dahulu, kalau bisa kita jangan
sampai bertempur dengan dia." Mo-jiauw perkuatkan usulnya.

"Memangnya Jie-te takut ?" tanya Puy Teng, si toako.

"Hahaha......!" Sin-mo Lie Kui tertawa. "Biasanya Jiko paling


berani, mengapa disini menghadapi Liu Wangwee saja jadi
ketakutan ?"

Tan Wangwee sementara itu tinggal membungkam. Begitu


juga dengan Tan Kongcu, anaknya yang disuruh mengundang
Sucoan Sam-sat.

Mo-jiauw Teng Cong jadi serba salah.

Si Cakar Setan memang ada sedikit jeri, seelah ia cari


keterangan bahwa Liu Wangwee selainnya ia sendiri ilmu
silatnya tidak renah, juga ada anak daranya yang membantu.
Kabarnya hartawan Liu itu juga banyak mempunyai sahabat
dalam Bu-lim.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Menurut pikirannya, lebih baik digunakan jalan damai saja.


Keterangan yang ia dapat itu tidak ia beritahukan kepada dua
kawannya karena kuatir ia dikatakan pengecut. Tapi akhirnya
si Setan Sakti Lie Kui telah mengatakan juga hingga membuat
ia jadi serba salah.

Belum ia dapat menyatakan pikirannya lagi, tiba-tiba Tan


Wangwee berkata, "Memang, untuk menaikkan pamornya
Sucoan Sam-sat, lebih baik ambil jalan pendek saja."

"Kau maksudkan apa jalan pendek itu ?" tanya Mo-jiauw Teng
Cong.

"Kalau Liu Wangwee tidak mau menurut perintahku, lebih baik


jiwanya dihabiskan saja." jawab Tan Wangwee.

Mo-jiauw Teng Cong kalah suara, maka selanjutnya ia


membungkam.

Demikianlah, ketika sang malam tiba belum juga diterima


kabar apa-apa dari pihak hartawan Liu, maka tiga algojo dari
Sucoan itu, diiringi oleh Tan Kongcu telah menyatroni
rumahnya Liu Wangwee. Tan Wangwee sendirian tidak turut
karena ia malu hati kalau sampai dirumahnya Liu Wangwee ia
mesti tarik urat dengan tuan rumah.

Di pekarangan rumah, kedatangan mereka disambut oleh Liu


Wangwee sendiri.

Tuan rumah kelihatan ramah tamah, sedang pihak tamu


sangat sombong sikapnya.

Tidak termasuk Mo-jiauw yang pandai menggunakan otaknya.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia melihat Liu Wangwee bertubuh sedang tingginya, agak


gemuk, memelihara jenggot yang bagus ! Romannya
berwibawa, keras wataknya meskipun kelihatannya ia sangat
ramah tamah.

Tamu-tamu diundang masuk ke ruangan tengah, dimana


sudah disiapkan barang hidangan seperlunya. Rupanya
hartawan Liu sudah menduga akan kedatangannya mereka,
maka ia sudah suruh pelayan-pelayannya mengadakan meja
perjamuan sederhana.

Tan Kongcu dan Lie Kui yang lagaknya paling tengik.


Terutama Tan Kongcu yang seolah-olah membanggakan para
pahlawannya, amat menyebalkan tingkahnya.

"Aku tidak melihat ayahmu turut datang, dimana dia, anak Sin
?" tanya Liu Wangwee pada Tan Kongcu ketika mereka sudah
sama-sama ambil tempat duduk.

Tan Kongcu pelototkan matanya sebelum ia menjawab


pertanyaannya Liu Wangwee.

Di waktu dalam keadaan biasa, dua keluarga (Liu dan Tan)


ada baik satu dengan lain, malah Liu Wangwee tidak melarang
Tan Kongcu sesudah masing-masing meningkat dewasa untuk
datang ngomong-ngomong dengan Bwee Hiang, puterinya,
karena Tan Kongcu teman sepermainan si nona di waktu
mereka masih kecil.

Jadi persahabatan keluarga Tan dan Liu itu sudah sejak lama.
Apa mau sekarang terbit bentrokan yang sesungguhnya amat
disayagnkan. Sebenarnya Tan Wangwee sendiri segan
bentrokan dengan Liu Wangwee karena urusan tersebut
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hanya persoalan kecil saja. Tetapi lantaran adanya


hasutannya Tan Kongcu, anak muda itu sangat gemas pada
Bwee Hiang yang menolak menjadi isterinya malah
menghinanya bahwa dalam rumahnya ada pelihara maling.

Panggilan Liu Wangwee pada Tan Kongcu biasa saj,


memanggil namanya sebagai juga orang tua itu memanggil
anaknya sendiri.

Setelah pelototi Liu Wangwee, Tan Kongcu menjawab, "Ayah


tidak perlu ketemu paman. Dia bilang kalau paman mau kasih
kabar, katakan saja padaku."

Jawaban yang amat kurang ajar, malah matanya pakai melotot


segala. Tapi Liu Wangwee tidak jadi marah. Ia tetap sabar.
"Anak Sin," kata Liu Wangwee. "Jawabanku singkat saja. Aku
dapat mohon maaf pada ayahmu, tapi tidak dihadapan umum."

"Hmm ! Justru ini kita tidak mau terima !" kata Liung Sin
mendengus.

"Habis, kau mau apa ?" tanya Liu Wangwee, jadi habis sabar
rupanya melihat sikap yang tengik dari si anak muda ceriwis
menurut Bwee Hiang.

Melihat keadaan sudah mulai panas, Mo-jiauw Teng Cong


menyela, "Liu Wangwee, kedatangan kami kesini adalah
hendak mendamaikan urusan bukan hendak mencari ribut
dengan keluarga saudara Liu. Aku pikir, sebaiknya saudara
Liu mengalah saja dan suka memohon maaf di depan umum.
Dengan begitu urusan menjadi beres."

"Saudara ini siapa ?" tanya hartawan Liu yang pura-pura tidak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tahu.

"Mereka adalah Giam-ong Puy Teng." jawab Teng Cong


seraya menunjuk pada saudara tuanya. "Aku sendiri bernama
Teng Cong, sedang dia adalah Sin-mo Lie Kui. Kami bertiga,
entah bagaimana anggapan orang dalam dunia Kangouw,
telah mendapat julukan Su-coan Sam-sat. Julukan ini dilebih-
lebihi."

Liu Wangwee angguk-anggukkan kepalanya sambil mengurut


kumisnya yang panjang.

"Jiko, untuk apa banyak omong. Lekas, bikin beres saja !" kata
Sin-mo Lie Kui sambil matanya melotot pada Liu Wangwee.

Hartawan Liu berlagak pilon atas sikapnya si berewok jahat.

"Aku sudah katakan," kata Liu Wangwee. "Apakah saudara


Teng tidak dengar jawabanku pada anak Sin barusan ?"

"Brak !" tiba-tiba terdengar suara piring mangkok di atas meja


beterbangan. Sayur pada tumpah berlelehan gara-gara Giam-
ong Puy Teng yang menggebrak meja dengan telapak
tangannya yang besar. "Kepala batu !" bentaknya pada tuan
rumah. "Aku mau lihat kepandaian apa yang kau mau
perlihatkan dihadapan Sucoan Sam-sat !"

Teng Cong tidak setuju dengan kelakuan Sang Toako yang


berangasan itu tapi perbuatannya sudah terjadi, maka ia
tinggal menanti reaksi dari tuan rumah saja.

Meskipun Liu Wangwee tidak senang akan kelakuannya si


mata satu, ia masih bisa menahan sabar. Katanya, "Aku si tua
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak berguna lagi tapi untuk melayani kau seorang kasar,


rasanya masih belum tentu !"

"Kau berani sama Sucoan Sam-sat ?" bentak Puy Teng,


marah dia.

"Sucoan Sam-sat lain, tapi dengan kau, aku tidak tinggal lari !"
sahut tuan rumah.

Puy Teng bangkit dari duduknya. Ia tertawa gelak-gelak sambil


katanya, "Mari, mari diluar kita coba." berbareng tubuhnya,
enteng sekali, melesat ke arah pintu.

Liu Wangwee tidak takut. Ia pun bangkit dari duduknya, lantas


jalan keluar. Di pekarangan ia lihat Puy Teng sudah berdiri
menanti.

Tidak sampai tarik urat lagi, mereka telah berhadapan, lantas


bergebrak.

Teng Cong dan Lie Kui tidak berani datang mengeroyok Liu
Wangwee karena mereka tahu akan adatnya sang toako.
Kalau ia belum kalah belum mau dibantui saudara-
saudaranya. Maka juga mereka tinggal menonton saja.

Dua macan berkelahi, tentu saja sangat ramai.

Liu Wangwee mainkan 'Bwee Hoa Ciang Hoat' atau 'Ilmu


pukulan kembang bwee', sedang dipihaknya Giam-ong Puy
Teng menggunakan 'Eng-jiauw-kang' atau 'Tenaga Kuku
Garuda' untuk melayani lawan. Liu Wangwee mendesak
lawannya dengan pukulan-pukulan halus tapi mantap, tapi
dilayani dengan sambaran tangan yang keras berat oleh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Giam-ong Puy Teng yang menggunakan ilmu pukulan Eng


jiauw kang. Tidak kecewa Giam-ong Puy Teng sebagai toako
dari Sucoan Sam-sat karena ilmu pukulannya itu saban-saban
membuat lawannya tergetar. Dari berimbang, pelan-pelan
tampak Liu Wangwee keteter.

Liu Wangwee merasa cemas dengan kepandaiannya karena


ia yakin bahwa ia bukan tandingannya Giam-ong Puy Teng.
Dalam keadaan yang cemas itu, hatinya menjadi makin cemas
ketika ia mendengar beradunya senjata dan melihat puterinya
Bwee Hiang sudah bergebrak dengan Tan Kongcu.

Ia menguatirkan keselamatan puterinya yang tersayang itu,


maka perlawanan yang diberikan pada musuhnya tidak
sebagaimana mestinya. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba
berkelebat tangannya Giam-ong Puy Teng hendak
mencengkeram dadanya, ia geser kaki kirinya berkelit dari
cengkerama ke arah dada, tapi ia lupa datangnya tangan kiri
musuh yang menjambret pinggangnya. Tanpa ampun lagi ia
terkulai roboh setelah menjerit perlahan. Giam-ong Puy teng
telah menggunakan tipu pukulan 'Say pek sie' atau 'Terkaman
singa' untuk mreobohkan lawannya.

Jeritan Liu Wangwee diwaktu terkulai roboh disusul jeritan lain


ialah jeritan Tan Kongcu yang tulang pundaknya kena disontek
ujung pedang Bwee Hiang.

Setelah merobohkan lawannya, Bwee Hiang lantas enjot


tubuhnya mencelat ke arah tempat ayahnya bertempur. Tapi
sudah terlambat karena ayahnya sudah roboh dan tidak
bangun lagi. Alisnya si nona berdiri, saking gusarnya ia
membentak Giam-ong Puy Teng, "Manusia jahat, kau apakan
ayahku ? Aku akan adu jiwa denganmu !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata-katanya ditutup dengan serangan pedangnya yang


tajam. Tapi Giam-ong Puy Teng bukannya Tan Kongcu sebab
dengan satu elakan saja pedang si nona menemui sasaran
kosong. Ketika ia tarik pulang pedangnya hendak menyerang
lagi, di depannya sudah ganti orang. Itulah si berewok Lie Kui
yang bengis.

"Nona manis, kau jangan main-main dengan toakoku. Untung


dia tidak biasa layani bangsa perempuan. Kalau tidak, hmm !
Jangan harap mukamu yang cantik akan tetap utuh !"

Itulah kata-kata Sin-mo Lie Kui yang enak untuk si berewok


sendiri tapi tidak enak untuk telinganya si nona. Tidak heran
kalau Bwee Hiang menggerang disusul dengan serangan
pedangnya ke arah orang punya jalanan makanan
(kerongkongan) tapi si setan sakti sambil ketawa haha hehe
berkelit, "Nona manis jangan galak-galak !" menggoda si muka
berewok.

Bwee Hiang makin meluap amarahnya, pedangnya


menyambar-nyambar tapi si berewok hanya berkelit sana sini
tanpa melakukan serangan membalas. Malah menggodainya
makin menjadi membuat si nona tak dapat mengendalikan
amarahnya. Ia menempur dengan serangan-serangan nekad,
justru inilah kesempatan untuk si berewok berlaku ceriwis,
coba ulurkan tangan untuk menyolek pipi yang putih dari Bwee
Hiang.

Untung Bwee Hiang masih awas, ia dapat menyelamatkan


mukanya dari colokan Lie Kui yang kurang ajar. Ketika di lain
saat si berewok mau menyolek lagi, ia babat tangan orang
tersebut dengan pedangnya hingga si ceriwis amat kaget,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kalau tidak secepat kilat ia tarik pulag tangannya yang bangor.

"Jangan kejam-kejam, nona," ia menggodai Bwee Hiang.

(Bersambung)

Jilid 04
Kepandaian si nona ketinggalan jauh dibandingkan dengan
Sin-mo Lie Kui. Maka ia kena digocok sana sini hingga Tan
Kongcu yang menonton di pinggiran menjadi tertawa terbahak-
bahak meliha si nona sudah mandi keringat meskipun ia
sendiri waktu itu menderita rasa sakit bukan main pada luka
dipundaknya karena barusan kena disontek pedangnya si
nona yang tajam.

"Nah, rasakan sekarang pembalasanku, digecek mampus kau


oleh samko !" Tan Kongcu mengejeki si gadis yang sedang
kepayahan.

Lama-lama si nona menjadi lelah, kata-kata si Kongcu ceriwis


menusuk hatinya, membuat hatinya sangat pedih. Pikirnya,
daripada ia bakal terima hinaan orang-orang jahat itu, lebih
baik ia ambil keputusan nekad. Bunuh diri !

Tiba-tiba si gadis melompat dari arena pertempuran, seraya


berkata, "Tahan !"

"Kau mau bicara apa, nona manis ?" tanya Lie Kui, haha hehe
tertawa.

Si nona tidak meladeni, hanya menubruk ayahnya yang


menggeletak di tanah dengan napas empas empis. Ia girang
ketika mendapat kenyataan ayahnya tidak putus jiwanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ayah, legakan hatimu. Semua ini ada gara-garaku, maka aku


yang akan bertanggung jawab."

Setelah mengucapkan kata-katanya yang gagah itu, si nona


tampak bangkit.

Ia berdiri, pedangnya masih tercekal di tangannya, matanya


mengawasi ke sekitarnya. Tampak olehnya Giam-ong Puy
Teng dan kawan-kawannya tengah mengawasinya dengan
senyuman masing-masing.

"Tuan-tuan." tiba-tiba si nona berkata. "Ayahku tidak berdosa,


kalian harus bebaskan ayahku. Akulah yang mengatakan
dalam rumah paman Tan ada dipelihara maling. Maka
sepantasnya aku yang bertanggung jawab dari itu, sebagai
permohonan maaf, lihatlah sekarang aku lakukan..........."

Kata-kata ini disusul dengan diangkatnya pedangnya dan akan


ditebaskannya lehernya yang putih hingga kawanan jahat
yang biasanya tidak berkedip membunuh orang, melihat
kelakuan nekad si gadis telah pada menutup matanya, merasa
ngeri.

"Tring !" tiba-tiba terdengar suara batu kecil membentur


pedang, segera juga pedangnya si nona terlepas dari
cekalannya. Di susul oleh melayangnya sesosok tubuh dari
atas sebuah pohon.

Apakah Kim Wan Thauto yang datang menolong Bwee Hiang


?

Bukan. Kim Wan Thauto memang mengumpat diatas genteng,


menonton pertarungan yang terjadi di sebelah bawah. Ketika
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liu Wangwee dirubuhkan, ia masih belum mau turun tangan


untuk membantu sebab ia ingin melihat bagaimana tindakan
Bwee Hiang lebih jauh mengingat kata-kata si nona dihadapan
ayahnya. Ia ingin melihat apakah pedangnya si nona akan
dapat mengusi tiga orang jahat itu. Tapi ia kecewa hatinya,
nampak si nona dipermainkan oleh Lie Kui. Pikirnya, apakah si
gadis hanya begitu saja kepandaiannya ? Melihat Bwee Hiang
berlaku nekad, ia sudah siap akan menggoyangkan
kepalanya, untuk melepaskan senjata anting-antingnya ke
arah pedang si nona yang tengah diayunkan ke lehernya. Tapi
ia jadi tercengang karena maksudnya sudah disusul orang
lain.

Dalam tertegunnya, ia mendengar orang yang barusan


menolong Bwee Hiang tertawa gelak-gelak. Hatinya terkejut
sebab suara tertawa itu seperti ia pernah mendengarnya tapi
dimana ? Ia kumpul ingatannya tapi ia lupa dimana ia pernah
dengar suara ketawa yang ia pernah kenal.

Orang barusan melayang turun dari pohon, tampak


menghampiri Bwee Hiang. Ia memungut pedang si nona yang
seketika itu berdiri bagaikan patung. Matanya yang jeli
mencilak mengawasi pada orang yang menolong dirinya.

Orang itu tak tampak mukanya karena kepalanya terbungkus


kerudung kain merah.

"Kau siapa ?" tanya si nona seraya menerima kembali


pedangnya yang diangsurkan oleh orang yang berkerudung
merah.

"Anak Hiang," kata si kerudung merah, tidak menjawab


pertanyaan Bwee Hiang. "Dengan membunuh diri berarti kau
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membunuh ayahmu. Sekarang lekas tolong ayahmu dan tamu-


tamu ini serahkan aku yang melayani !"

Bwee Hiang kaget, mengapa si kerudung merah


memanggilnya 'anak Hiang'. Siapakah dia ? Tapi ia sekarang
tidak dapat mengajukan pertanyaan karena ia lebih perlu
lekas-lekas menolong ayahnya. Cepat ia bertindak
menghampiri ayahnya dan lantas memeriksa luka sang ayah
yang parah, dua tulang iganya patah.

Sementara Sucon Sam-sat yang sedari tadi berdiri tertegun


memperhatikan kedatangan si kerudung merah, lantas
mengurung si orang asing. Mereka sadar bahwa yang datang
niscaya seorang lawan yang alot.

"Hmm !" mendengus si kerudung merah. "Liu Wangwee,


apakah kurang hormat melayani para tamunya ? Biarlah aku
yang menggantikannya........."

"Siapa kau ?" bentak Sin-mo Lie Kui yang berangasan


wataknya.

"Kau panggil saja aku si kerudung merah, wakilnya Liu


Wangwee." sahutnya.

"Bagus, bagus. Hahaha !" kata Giam-ong Puy Teng seraya


ketawa terbahak-bahak.

"Hahaha............ hahaha......... !" si kerudung merah juga ikut-


ikutan ketawa.

Giam-ong Puy Teng mendelikkan matanya. "Kau tertawakan


apa, setan !" bentaknya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku tertawakan kau." sahutnya kontan.

"Kurang ajar, apa yang harus kau tertawakan ?" tanyanya


agak heran.

"Itu......... itu..............." sahut si kerudung merah sambil masih


tertawa. "Itu, menurutmu aku bagus, kau mana tahu bahwa
mukaku bagus sedang aku pakai kerudung."

Ini merupakan jawaban yang 'olok-olok' sehingga


menimbulkan amarahnya toako dari Sucoan Sam-sat menjadi
lebih meluap. Sebelah matanya, yang tinggal satu, mendelik
lagi lalu menyerang si kerudung merah dengan jurusnya yang
paling diandalkan 'Eng Jiauw chiu' atau 'Cengkeraman cakar
garuda', kedua tangannya diulur untuk mencengkeram dada.
Gerakannya cepat, kalau kena dicengkeram, pasti melayang
jiwa korbannya karena cengkeraman itu berisikan tenaga
dalam yang dahsyat.

Tapi si kerudung merah acuh tak acuh menghadapi serangan


dahsyat itu. Ia menunggu sampai serangan datang, kedua
tangannya dirangkap sejenak lalu diajukan ke depan, nyelusup
diantara dua tangan lawan, mendadak dipentangkan secepat
kilat sehingga dua tangan lawan yang mencengkeram dapat
ditolak nyamping. Inilah gerakan 'Siang hong seng thian' atau
'Sepasang burung hong naik ke langit', jurus yang paling tepat
untuk memusnahkan 'Eng jiauw chiu' lawan.

Melihat serangannya gagal, cepat Giam-ong Puy Teng ganti


tipu. Tampak tubuhnya terputar ke belakang lawan.
Tangannya yang kanan diulur, mencengkeram bagian
pinggang untuk membikin remuk tulang iga. Ini adalah gerakan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

istimewa dari Giam-ong Puy Teng yang dinamai 'Mo Lie jiauw
chiu' atau "Cengkeraman Kuntilanak'. Berbareng ia berkata,
"Terima nasib, sahabat !"

Ia berkata demikian, menyangka seratus persen serangannya


kali ini tak akan luput. Tapi diluar dugaannya sang lawan
sudah mengelak dengan gesit sambil lompat satu tindak ke
depan. Sebelum si kerudung merah berputar tubuh, Giam-ong
Puy Teng sudah maju merangsak, ia menggempur batok
kepala musuh dengan gaplokan yang dahsyat. Sayang
bukannya si kerudung merah berantakan kepalanya,
sebaliknya tampak Giam-ong Puy Teng terkulai roboh. Hal
mana membuat dua saudaranya yang tengah menonton
dengan kegirangan toakonya diatas angin menjadi keheranan.

"Sudah cukup !" kata si kerudung merah sambil lompat


menjauhi Giam-ong Puy Teng yang tubuhnya terkulai
mendeprok di tanah.

Kenapa Giam-ong Puy Teng ? Ketika si kerudung merah


lompat satu tindak ke depan, berkelit dari serangan Giam-ong
Puy Teng yang menggunakan tipu 'Cengkeraman Kuntilanak',
ia rasakan dibelakangnya ada sambaran angin. Cepat ia
mendek sambil memutar tubuhnya ke kiri. Dalam posisi ini,
sehingga ia adanya lowongan pada iga kanan Giam-ong Puy
Teng yang sedang angkat tangan kanannya untuk
menggaplok kepala, enak saja dua jari tangan kiri si kerudung
merah nyelonong ke jalan darah 'thian-coan-hiat'. Kontan si
raja akherat menjadi terkulai roboh. Kejadian ini hanya
beberapa detik saja. Saking cepatnya, maka tidak heran kalau
dua saudaranya Giam-ong Puy Teng menjadi melongo
keheranan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dari melongo keheranan, Sin-mo Lie Kui meluap amarahnya.


Lantas saja menerjang si kerudung merah sambil berkata,
"Setan, akan aku cuci kehormatan Sucoan Sam-sat !"

"Dicuci juga bakalan kotor juga !" menggoda si kerudung


merah seraya berkelit dari serangan Lie Kui yang
menggunakan jurus 'Mo lie khoa keng' atau 'Kuntilanak
berkaca'. Sambaran dua tangannya menghembuskan angin
menderu. Biasanya dengan menggunakan serangan ini, Lie
Kui dalam segebrakan dapat menjatuhkan musuhnya. Tapi
kali ini ia salah hitung. Si kerudung merah lwekangnya sangat
kuat. Malah si Setan Sakti tidak menjadi sakti karena kaget
nampak musuhnya hilang dari depannya. Ia merasa dirinya
gesit, dapat mempermainkan orang, tidak dinyana ia kalah
jauh dari si kerudung merah.

Bertarung baru lima jurus, lantas Mo-jiauw Teng Cong dapat


menilai bahwa saudara mudanya tak dapat menandingi
musuhnya. Ia heran kenapa si kerudung merah, tadi waktu
menempur Giam-ong Puy Teng tidak memperlihatkan
kegesitannya seperti sekarang ini menghadapi ia punya
Samte.

Melihat saudaranya hanya beberapa gebrakan saja sudah


terdesak, ia tidak dapat berpeluk tangan untuk menonton.
Maka si Cakar Setan seketika itu lantas menyerbu
mengeroyok si kerudung merah yang tengah mempermainkan
Lie Kui.

Dengan turunnya si Cakar Setan, Lie Kui berharap segera


diperoleh kemenangan dengan cepat sebab kepandaiannya
sang Jiko atau si Cakar Setan ada lebih tingkat dari ia dan
toakonya (Giam-ong Puy Teng). Sayang pengharapannya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

meleset sebab bukannya mempercepat kemenangan, tapi


mempercepat kekalahan.

"Bagus." tiba-tiba si kerudung merah berkata ketika ia elakkan


cengkeraman Mo-jiauw Teng Cong yang ganas. Berbareng
tampak ia mencelat ke atas untuk menghindari gencetan
serangan dari dua arah, Mo-jiauw Teng Cong mencengkeram
bagian atas perutnya seperti mau mengorek hati, sedang Sin-
mo Lie Kui menggempur pinggangnya. Tidak sampai menanti
sang musuh menginjakkan kakinya ditanah lagi, Lie Kui siap
dengan serangan susulan yang mematikan dengan tipu 'Hui
hong tong lay' atau 'Angin taufan datang dari timur'.
Tangannya diulur saling susul untuk menjambret kaki kanan
lawan yang masih dalam keadaan terapung. Tapi kaki lawan
seperti ada matanya, ia mengelak, turun sedikit lantas
menotok ke arah jin-tiong-hiat di jidat si berewok. Ia hanya
menjerit 'aiyoo !' lantas rubuh mendeprok. Totokan pada ujung
sepatu ini, membawa efek pada Mo-jiauw Teng Cong. Tangan
kanannya yang dibeber bagaikan golok dipakai untuk
menebas kaki si kerudung merah yang masih terapung. Ujung
sepatu yang barusan menotok jidatnya Lie Kui tampak berbalik
lalu menyontek pergelangan tangan. Tepat sekali
mengenakan jalan darah 'Yang-kok-hiat', hingga seketika itu
Mo-jiauw Teng Cong merasakan lengannya kesemutan, hawa
panas menjalar ke seluruh tubuhnya dan kontan ia pun roboh
meniru Lie Kui.

Gerakan yang dilakukan si kerudung merah memang luar


biasa sukarnya. Dengan badan masih terapung, ujung
sepatunya dapat menotok roboh dua lawan tangguh sekaligus,
bukan suatu ilmu mengentengi tubuh yang mudah dilatih.
Tanpa mempunyai lwekang sampai pada batas tertinggi,
jangan harap dapat melatihnya. Pun, melatih ilmu demikian
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

akan meminta tempo puluhan tahun. Dalam kalangan Bu-lim,


orang namakan tipu silat itu 'Siang hong ko hong', atau
'Sepasang hong terbang lewati puncak gunung'. Jarang
terlihat di kalangan jago-jago dalam dunia Kangouw.

Bahwa si kerudung merah dapat mendemonstrasikan ilmu


yang langka itu, dapatlah diukur sampai dimana hebatnya
lwekang orang itu. Oleh karenanya, maka Sucoan Sam-sat
dengan sendirinya sudah menjadi ciut nyalinya.

Tang Kongcu yang sangat ketakutan lantas angkat kaki


meninggalkan kawan-kawannya. Tapi belum berapa langkah,
ia rasakan ada angin berkesiur disampingnya dan tahu-tahu si
kerudung merah sudah ada dihadapannya. Ia menggigil
ketakutan, tubuhnya dirasakan lumpuh dan seketika itu juga
dia jatuh duduk.

"Mau lari ?" tegur si kerudung merah, suaranya halus tapi


berwibawa.

"Ampun tayhiap, ampuni aku........." Tan Kongcu meratap


sambil tangannya menyoja-nyoja.

"Kau yang menjadi biang keladi dari ini semua. Cara


bagaimana yang kau hendaki untuk mengampuni kau, anak
jahat !" kata si kerudung merah, suaranya agak bengis.

Terkejut hatinya Tan Kongcu. Pikirnya, dari mana si kerudung


merah dapat tahu bahwa dirinya menjadi biang keladi dari
keonaran itu.

Ketakutan ditambah kaget, tentu saja hatinya si pemuda jahat


jadi terguncang keras dan setelah ia berkata, "Ampun, ampun
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tayhiap......" lantas saja tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan.

Tiga sudah rubuh karena totokan dan satu rubuh karena


ketakutan, membuat si kerudung merah tertawa gelak-gelak
sampai suaranya mendengung di angkasa hingga Kim Wan
Thauto yang berada di atas genteng terpengaruh juga. Untuk
tidak sampai diketahui oleh si kerudung merah yang lihai itu,
Kim Wan Thauto dengan diam-diam sudah meninggalkan
tempat sembunyinya, pulang ke hotelnya.

Pada keesokan harinya ia berkemas-kemas untuk


meninggalkan hotel. Ketika ia meraba ke bawah bantalnya
dimana ia sesapkan kotak kecil mungilnya, kaget ia sebab
kotak itu sudah tidak ada ditempatnya.

Ia ingat betul ketika ia pulang dengan ambil jalan jendela, ia


periksa pintu kamarnya masih tetap terkunci. Dari manakah
datangnya penjahat yang sudah mencuri barangnya ? Ia
periksa barang-barangnya yang lain, tidak ada yang
kehilangan kecuali kotak kecil itu. Pikirnya, tentu orang sudah
masuk dari jendela. Dari kenyataannya orang hanya
mengarah kotak itu, jadi kotak mungil itu tentu sangat
berharga. Tapi apa yang menjadi sebab kotak itu sangat
dimaui ? Ini hanya merupakan pertanyaan saja bagi Kim Wan
Thauto karena ia sendiri belum lihat isinya.

Ia anggap kotak itu tidak penting baginya, maka ia tidak


banyak ribut dalam hotel itu. Setelah ia membayar uang
sewaan kamar dan makannya, lalu ia ngeloyor meninggalkan
rumah makan An Goan untuk meneruskan kelananya.

Balik kepada si kerudung merah. Setelah merobohkan Sucoan


Sam-sat dan si Kongcu ceriwis, lalu ia menghampiri Bwee
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hiang yang sedang repot menolongi ayahnya. Tadi si gadis,


meskipun sedang repot menolongi ayahnya, dapat
menyaksikan juga bagaimana si kerudung merah menjatuhkan
lawannya satu demi satu. Dalam hatinya merasa amat kagum
atas kepandaian tersebut. Entah siapa dia itu, kenpa
memanggil dia 'anak Hiang', apakah dia mempunyai hubungan
keluarga dengan ayahnya ? Demikian dalam hatinya
menanya-nanya akan halnya si kerudung merah.

Ketika si kerudung merah jongkok mau periksa lukanya Liu


Wangwee, si nona sudah siap untuk memajukan pertanyaan
siapa adanya penolong itu, tapi tidak jadi karena penolong itu
lantas berkata, "Anak Hiang, mari kita bawa ayahmu masuk ke
dalam rumah. Ia perlu dengan pertolongan cepat."

Tanpa menanti jawaban, si kerudung merah sudah


memondong Liu Wangwee.

Sampai di dalam rumah, para pelayan yang menggigil


ketakutan, yang turut menyaksikan jalannya pertandingan
barusan sudah menyambut tubuhnya Liu Wangwee untuk
diletaki diatas pembaringan kecil dimana biasanya Liu
Wangwee suka pakai untuk tidur siang.

Hartawan Liu masih terus pingsan. Ketika diperiksa lukanya


oleh si kerudung merah, ternyata dua tulang iganya patah. Si
kerudung merah geleng-geleng kepala setelah melihat lukanya
Liu Wangwee.

Melihat itu Bwee Hiang menjadi ketakutan.

"Apa luka ayah tak dapat disembuhkan ?" ia menanya pada


tamu asing.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dapat, cuma makan tempo lama." sahut si kerudung merah.

"Asal sembuh kembali, tak perduli berapa lama, aku akan


merawatnya." kata Bwee Hiang dengan hati lega.

"Bagus, kau anak baik, anak Hiang." kata si kerudung merah


pula.

"Kau keliru berkata begitu." si nona bersenyum sedih.

"Kenapa ?" tanya si kerudung merah. Heran ia mendengar


kata-kata Bwee Hiang.

"Aku anak puthauw (tidak berbakti) sebab akulah yang


menjadi gara-gara hingga timbulnya kejadian seperti
sekarang." jawab Bwee Hiang seraya menundukkan kepala
dan dari kedua matanya yang bagus mengucur air mata.

"Mari kita tolong ayahmu." si kerudung merah berkata,


menyimpangkan kesedihannya si nona. Sementara itu, ia
minta air kepada salah satu pelayan untuk membersihkan
lukanya Liu Wangwee.

Bwee Hiang usulkan untuk memanggil sinshe, tapi tamu asing


itu menggoyangkan tangannya. "Tak usah, nanti aku obati
sendiri ayahmu." ia berkata.

Si nona percaya akan kepandaian orang tersebut. Ia hanya


membantu saja apa yang ia dapat atas pekerjaan si bintang
penolong untuk kesembuhan ayahnya.

Malam harinya, Liu Wangwee kedengaran merintih. Seluruh


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tubuhnya terasa panas, sedang dibagian yang luka parah


amat sakit. Tapi setelah diberi obat lagi oleh si kerudung
merah, perlahan-lahan Liu Wangwee hilang rintihannya dan
kemudian baru dapat pulas. Dijaga oleh Bwee Hiang yang
tidak tidur baragn sekejap pun pada malam itu. Selama mana,
sering ia tumpahkan air mata. Ia sangat menyesal telah
menerbitkan bencana pada ayahnya.

Pemberesan pada kawanan penjahat dilakukan sangat singkat


oleh si kerudung merah. Setelha memberikan pertolongan
pertama pada Liu Wangwee, ia keluar lagi dari rumah dan
menghampiri korban-korban totokannya.

"Untuk membuat kalian jangan penasaran, nah, mari kita


bertempur lagi !" berbareng ia menyepak satu demi satu
tubuhnya Sucoan Sam-sat.

Giam-ong dan dua saudaranya segera juga bebas dari


totokan. Mereka lompat berdiri mengawasi si kerudung merah.

Hanya Tan Kongcu yang masih belum dibebaskan totokannya,


yang dalam pingsan telah ditotok oleh si kerudung merah.
Maksudnya supaya anak hartawan jahat itu tidak melarikan
diri, sementara ia memberikan pertolongan kepada Liw
Wangwee.

Tiga algojo dari Sucon merasakan badannya segar kembali.


Maka semangat berkelahinya juga lantas timbul dengan
serentak.

"Sahabat, kau buka kerudungmu kalau kau benar laki-laki !"


kata Giam-ong Puy Teng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hahaha !" si kerudung merah tertawa. "Tidak ada yang


istimewa di wajahku, buat apa kalian hendak mengenalinya ?
Kalian terkenal sangat jahat, maka aku ingin memunahkan
tenaga dalam masing-masing. Untuk membikin kalian jangan
jadi penasaran, maka aku pun sudah membebaskan kalian
dari totokan !"

Mendengar itu, tiga jagoan dari Sucoan amat kaget. Belum


pernah mereka sekaget saat itu. Tapi hati mereka angkuh
karena percaya dengan tiga tenaga gabungan, mereka dapat
mengalahkan si kerudung merah yang sangat sombong.

Mo-jiauw Teng Cong yang pandai bicara dan banyak akalnya


berkata, "Kami tidak bermusuhan dengan kau, kenapa kau
hendak memusnahkan lwekang kami ?"

Terdengar si kerudung merah tertawa, lalu berkata, "Memang,


dengan aku pribadi kalian tidak bermusuhan tapi kalian sangat
jahat dan banyak membunuh sesama manusia, tak pandang
bulu, jahat atau baik. Kejahatan kalian sudah tak terkira, maka
aku akan mewakili mereka yang sudah mati penasaran untuk
menghukum kalian........."

"Kentut !" memotong Sin-mo Lie Kui yang menjadi panas atas
kata-kata si kerudung merah, sikapnya sudah hendak
menyerang.

"Jangan temberang, sahabat !" menyela Giam-ong Puy Teng.


"Maksudmu hendak memusnahkan lwekang kami bertiga
hanya merupakan impianmu saja. Ha ha ha.........." berbareng
ia menerjang hendak menjambret kerudung lawan.

Cuma sayang kepandaiannya di bawah si kerudung merah


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebab bukan saja kerudung orang luput menjambret, malah


jari-jari tangannya kena disentil hingga ia merasakan kesakitan
dan lantas lompat mundur lagi.

Mo-jiauw Teng Cong, diantara tiga jagoan jahat itu yang


percaya bahwa si kerudung merah akan buktikan kata-
katanya, sebenarnya mencoba mendamaikan urusan
sehingga dapat dibereskan dengan menyenangkan. Tetapi
usahanya selalu dibikin gagal oleh sikap dan kata-kata kedua
saudaranya yang ingin selalu berkelahi sebagai keputusannya.
Dengan suara kalem terdengar si kerudung merah berkata
lagi, "Sebaiknya kalian bersiap-siap sebab temponya sudah
dekat untuk aku musnahkan lwekang kalian. Lekas siap !"

Dua orang berangasan, Giam-ong Puy Teng dan Sin-mo Lie


Kui, begit kata 'siap!' meluncur dari mulutnya si kerudung
merah, sudah lantas menerjang dengan jurus-jurusnya yang
paling ganas untuk mengirim lawannya ke dunia lain.

"Bukan kami tapi kau yang akan kami musnahkan lwekangnya


!" bentak Giam-ong Puy Teng dengan suara menggelepar,
saking marahnya dia.

"Belum komplit kalau belum turun tiga-tiganya." menyindir si


kerudung merah seraya mengelak sana sini menghindarkan
serangan dua orang yang sudah kemasukan setan. Mo-jiauw
Teng Cong yang berdiri dengan ragu-ragu, merasa tepat sekali
kena sindiran si kerudung merah, maka hatinya pun panas
seketika.

"Jangan jumawa, sahabat !" ia kemudain berkata sambil terjun


dalam arena pertempuran, mengeroyok si kerudung merah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hahaha, ini baru komplit !" katanya. Berbareng dengan


perkataan 'komplit !' segera terdengar suara 'buk ! buk !'
beberapa kali, disusul oleh jeritan saling susul dan........ di lain
detik tampak Sucoan Sam-sat pada tergeletak sana sini.

Sementara si kerudung merah tampak berdiri ketawa-ketawa.

Ketiga jagoan jahat itu tidak melihat, entah bagaimana si


kerudung merah bergerak, tahu-tahu merasakan punggungnya
digebuk dua kali. Kontan rasa panas menyelusup ke ulu hati,
kaki berbareng lumpuh hingga seketika itu tak tahan untuk
mendeprok di tanah.

Tapi hanya sebentaran saja hawa panas yang merupakan


reaksi dari gebukan di punggung itu, sebab segera sudah pulih
lagi kesegarannya. Mereka menjadi kegirangan, tapi tatkala
mereka coba empos tenaga dalamnya, tiba-tiba 'plong....'
hilang lenyap.

Mereka mengerti bahwa tenaga dalam mereka sudah


dimusnahkan oleh si kerudung merah. Mereka pada bangun
berdiri sambil menundukkan kepala.

"Kalian sangat jahat. Kalau watak demikian kalian masih


belum mau buang, lain kali ketemu aku, terang aku tak bisa
ampuni lagi. Nah, sekarang enyahlah kalian !" si kerudung
merah mempersilahkan Sucoan Sam-sat meninggalkan
tempat itu.

Mereka ngeloyor pergi dengan tidak berani angkat kepala.


Sungguh menyedihkan, Sucoan Sam-sat yang biasanya
seenaknya membunuh orang seperti juga memotong rumput,
kini sekaligus mendapat malu di desa Kunhiang. Apakah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka dapat memulihkan pula lwekangnya kemudian belajar


lagi untuk menuntut balas kehinaan yang mereka telah alami
hari itu, entahlah dibelakang hari.

Yang terang, mereka malu untuk pulang ke rumahnya Tan


Wangwee lagi. Langsung mereka pulang ke sarangnya di
Sucoan.

Setelah mereka pergi, si kerudung merah menghampiri Tan


Kongcu dan membebaskan ia dari totokan. Ketika ia bangun
berdiri, lantas mendengar si kerudung merah berkata, "Kau
menjadi biang keladi keonaran, kau harus dihukum !"

Tan Kongcu menggigil ketakutan, takut ilmu silatnya akan


dimusnahkan.

"Tapi mengingat kau tidak sejahat Sucoan Sam-sat, maka aku


kasih kelonggaran. Nah, hunuslah pedangmu dan potong
sebuah kupingmu !" menitah si kerudung merah.

Tan Kongcu ragu-ragu sebab hilangnya kupingnya sebelah


berarti mengurangi parasnya yang cakap, pikirnya.

"Apa perlu aku yang harus turun tangan ?" si kerudung merah
menegur, waktu melihat si kongcu ceriwis ragu-ragu.

"Oh, tidak, tidak....." jawab Tan Kongcu gugup. Berbareng ia


pun menghunus pedangnya untuk memotong sebelah
kupingnya.

Pada saat itu, Bwee Hiang datang menghampiri mereka.


Sambil menunjuk pada si kongcu ceriwis, ia berkata, "Dialah
sebagai maling terbang yang dicari. Kenapa diberi hukuman
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

begitu murah ?" matanya si gadis mengawasi si kerudung


merah.

"Bagaimana kau tahu dia si maling terbang ?" tanya si


kerudung merah.

"Aku dapat tahu dari ilmu silatnya ketika bertempur dengan


aku." sahut Bwee Hiang.

Si kerudung merah tertawa terbahak-bahak sehingga Tan


Kongcu ketakutan setengah mati.

Dalam hatinya, diam-diam ia memaki Bwee Hiang,


"Perempuan sundel, kau bikin celaka aku. Tunggu nanti
pembalasanku !"

Setelah tertawa, si kerudung merah berkata pada Tan Kongcu,


"Kalau begitu, satu kupingmu itu harus menggelinding di tanah
!"

Tan Kongcu mengerti, ia toh tak dapat membangkang. Maka ia


kerjakan lagi pedangnya untuk menebas kutung kupingnya
sehingga ia tak berkuping lagi. Dengan hilangnya kedua
telinganya itu, kelihatannya ia sangat lucu.

Bwee Hiang hampir-hampir tidak dapat menahan ketawanya,


tapi ia tahan sebisanya supaya tidak melukai hatinya si kongcu
ceriwis............

Mari kita lihat Lo In dan Eng Lian yang sudah lama kita
tinggalkan.

Lo In amat berterima kasih pada Eng Lian yang sudah


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menolong memulihkan tenaga dalamnya dengan memberikan


nyali ular kesayangannya.

Sebaliknya Eng Lian girang, ia sudah dapat menolong adik In-


nya yang nakal.

Dua anak itu kelihatan cocok satu dengan lain. Tiap hari
mereka bermain-main disekitar rumahnya. Eng Lian melihat
pakaian Lo In sudah compang camping, merasa tidak tega.
Maka ia gunakan temponya untuk membuat pakaian Lo In dari
pakaian ayahnya yang ia kecilkan hingga pas untuk dipakai si
bocah.

Pada suatu hari ketika Lo In keluar dari kamar dengan pakaian


'baru', tampak gagah benar. Maka ia berkata pada Eng Lian,
"Enci Lian, buatanmu ini bagus betul. Coba lihat, gagah tidak
aku dalam pakaian baru ?"

Eng Lian memandang Lo In kemudian ketawa cekikikan


mendengar kata-kata si bocah. "Anak kecil," katanya. "Aksi
amat nih, pakai mau dipandang gagah segala."

"Anak besar yang bikin, mana tidak jadi gagah dipakainya ?"
sahut Lo In.

Eng Lian monyongkan mulutnya yang mungil. Segera juga


kedua bocah itu pada tertawa gembira, masing-masing
senang dengan kejenakaan mereka.

Oey Hoan Ciang atau ayahnya Eng Lian, ada memelihara


puluhan ular di pekarangan rumahnya. Masing-masing
dikurung dengan kerangkeng dari bambu. Bermacam-macam
ular yang dapat dilihat Lo In ketika Eng Lian ajak si bocah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat-lihat 'kebun binatangnya'.

Pada suatu hari setelah lakukan inspeksi, dua anak itu pada
duduk diserambi belakang rumah, dimana biasanya mereka
suka duduk omong-omong.

Tiba-tiba Lo In terdengar menghela napas.

"Hei, kau kenapa ?" tanya Eng Lian kontan.

Lo In tertawa mesem. "Aku menyayangkan ular-ular itu tinggal


dalam kurungan." kata Lo In. "Coba mereka di.........."

"Diapakan ?" memotong Eng Liang, seperti biasa, dia tukang


potong omongan.

"Dilepaskan aku maksudkan, enci Lian." sahutnya.

"Hihihi, anak tolo." si dara cilik ketawa. "Kalau dilepas


bukankah mereka tak bisa pulang lagi ? Kau ini ada-ada saja."

"Enci Lian," kata Lo In serius. "Coba kalau kita lepas, selain


kita tidak perlu memikirkan makanannya, juga bagi mereka
akan sangat berterima kasih karena telah mendapat
kebebasan."

"Adik In, bagaimana sih. Mana ada ular bisa berterima kasih
segala !" kata Eng Lian.

Setelah menarik napas lagi, Lo In berkata, "Enci Lian, kau lihat


kawanan keraku. Aku dapat menjinakkan mereka dengan
kehalusan, mereka sangat setia kepadaku, apa yang aku mau,
mereka lantas lakukan tanpa ragu-ragu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Eng Lian diam, tapi otaknya bekerja.

"Habis, bagaimana kehendakmu ?" tanyanya.

"Ular hanya dapat mendesis, tapi tidak bisa omong." kata Lo


In. "Menurut Liok Sinshe, ular dapat diperintah dengan suatu
lagu dari tetabuhan. Misalnya kita menggunakan seruling
sebagai alat untuk memerintah ular sengan sesuka kita. Aku
lihat kamu menjinakkan ular hanya untuk dipelihara, tapi tidak
dapat dibuat teman. Ini sayang sekali sebab kalau kita dapat
membuat ular-ular sebagai kawan, sewaktu kita membutuhkan
tenaganya, dapat kita minta pertolongannya. Ini, kau jangan
pandang remeh, enci Lian."

Si dara cilik angguk-anggukkan kepalanya.

"Mulai sekarang, mari kita mencoba akan kata-katanya Liok


Sinshe. Kalau benar ular-ular itu dapat ditundukkan dan
diperintah dengan irama lagu, oh, sungguh suatu keuntungan
besar bagi kita berdua sebab disamping kita sudah punya
teman kawanan kera dan rajawali, juga kita dapat sahabat
kawanan ular." demikian Lo In tambahkan.

Eng Lian lantas saja bertepuk tangan. "Bagus, bagus."


katanya girang. "Mari, kita sekarang mulai. Tapi, eh, dari mana
kiat dapat alat tabuhannya ?"

"Itu mudah. Kita coba dengan seruling saja." sahut Lo In.

"Serulingnya dari mana ?" tanya si dara cilik.

"Mari kita cari serulingnya." kata si bocah seraya pegang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangan Eng Lian, diajak berlalu dari situ.

Eng Lian mengikuti saja dituntun oleh Lo In. Tidak merasa


janggal dia. Karena ini ada kebiasaan Lo In kalau mengajak
encinya pergi main-main.

Segera juga mereka sudah sampai di satu rimba bambu,


dimana Lo In memperhatikan batang-batang pohon bambu
yang baik untuk dipakai membuat seruling yang merdu
suaranya. Sebentar kemudian, tampak ia mencabut pisau
yang diselipkan di pinggangnya dan ia mulai memotong satu
batang bambu yang dianggap akan memenuhi syarat untuk
digunakan sebagai seruling.

Mereka kemudian balik pula ke rumah, dimana dengan cepat


Lo In membuat seruling, sedang Eng Lian hanya menonton
saja si adik In bekerja.

Setelah selesai, Lo In coba-coba meniupnya. Ternyata


bikinannya tidak mengecewakan. Segera juga tiupannya Lo In
berirama keras perlahan dan tinggi rendah.

"Hihihi, adik In." Eng Lian ketawai Lo In. "Kau bisa meniup
seruling, tapi mana bisa kau memerintah ular ? Hihihi...."

Lo In tidak layani ejekan sang enci, ia terus meniupkan


beberapa lagu dekat kurungan-kurungan ular. Ia mencoba
pada satu ular yang sebesar lengan, panjangnya satu meter
lebih.

Beberapa lagu ia perdengarkan tapi ular itu tetap meringkuk,


tidak menghiraukan Lo In yang sedang meniup mati-matian.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Eng Lian melihat itu, terpingkal-pingkal ia ketawai si bocah.

"Aku juga sudah duga, mana dapat ular-ular diperintah dengan


lagu. Ada-ada saja, eh, eh....." tiba-tiba si dara hentikan
ejekannya ketika ia melihat dengan perlahan ular yang tidur
tadi mengangkat kepalanya. Banyak lagu yang ada dalam
otaknya Lo In, si bocah jadi kegirangan. Ia ganti berganti
meniup lagunya sampai ia membuat sang ular terus berdansa
dalam kurungannya. Hal mana membuat Eng Lian jadi berdiri
terpaku sambil leletkan lidahnya, saking keheranan.

Tiba-tiba Lo In hentikan tiupan serulingnya, lantas putar


tubuhnya menghadap Eng Lian yang berdiri terpaku di
belakangnya. "Bagaimana, enciku yang baik ?"

Si dara cilik tidak lantas menyahut, ia hanya unjukkan


jempolnya yang kecil mungil. "Adik In, luar biasa kau......." puji
Eng Lian setelah ia sadar dari keheranannya melihat hasil
yang gemilang dari percobaannya Lo In.

Sambil menghampiri si dara cilik, Lo In berkata, "Selanjutnya,


kita akan latih ular-ular yang ada disini sampai mereka bukan
saja jinak tapi menurut perintah kita. Kalau sudah begitu,
baharulah kita menjadi majikannya."

"Kau benar-benar hebat, adik In."memuji si dara cilik sambil


mencubit hangat pipi Lo In.

Berkat kecerdasan dan kemauan yang sungguh-sungguh, Lo


In berhasil dengan percobaannya menundukkan dan
memerintah kawanan ular. Ular-ular yang ada dalam kurungan
segera pada dilepaskan untuk mendapat kemerdekaannya.
Mereka dapat dipanggil balik bila Lo In meniup serulingnya,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

malah bukan ular-ular yang tadinya dalam kurungan saja,


malahan ular-ular lain yang terdapat disekitarnya pada datang
dan menghadap kita punya jago cilik yang didampingi oleh
ratu ciliknya.

Bukan main girangnya Lo In dan Eng Lian melihat hasil usaha


mereka.

Lo In selainnya mendapat warisan ilmu silat dan surat, juga


mendapat warisan dalam ilmu pengobatan dari Liok Sinshe.
Tidak heran kalau ia sering mencari akar-akar pohon yang
merupakan obat dan menciptakan obat pulung (pil) yang
mustajab untuk menjaga kesehatan ia dan Eng Lian.
Disamping itu, Eng Lian juga giat belajar silat dari Lo In, juga
tidak ketinggalan belajar bahasa monyet hingga selanjutnya ia
dapat bergaul leluasa dengan tentara monyet Lo In. Si burung
garuda juga sudah jinak dengannya. Malah kalau tidak mereka
berduaan naik si rajawali, Eng Lian juga suka pesiar sedirian.

Ada pepatah yang membilang, 'Ada waktu berkumpul, tentu


ada waktu berpisah'. Pepatah ini memang tidak salahnya,
sebagaimana yang dialami oleh Lo In dan Eng Lian.

Itulah pada suatu sore, Lo In melihat burung rajawalinya


pulang dengan tidak membawa Eng Lian, sedang dua jam
yang lalu ia lihat menunggang burung raksasanya
sebagaimana biasa untuk pesiar di sekitar lembah itu.

Lo In terkejut. Segera ia menghampiri burungnya yang sedang


tundukkan kepalanya mendekam. Ia heran, lalu menanya,
"Tauw-heng, kau bersama-sama lagi enci Eng Lian. Kemana
dia pergi ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Burung itu diam saja, seolah-olah merasa bersalah.

Lo In jadi bingung. Bagaimana dia bisa tahu sedang si rajawali


tidak bisa bicara seperti manusia. Maka, ia cepat lompat ke
punggung si burung raksasa, ia tepuk pundaknya sambil
berkata, "Lekas, bawa aku ke tempat enciku !"

Si rajawali lantas bangkit dan pentang sayapnya, segera


terbang ke jurusan barat kemudian turun pada suatu tempat
yang lebat dengan pepohonan.

-- 11 --

Lo In lompat turun dari punggung si rajawali kemudian


melakukan pemeriksaan di sekitar tempat itu. Ia sampai pada
satu tempat yang banyak tumbuh pohon bunga, tentu ia
mendarat di sini. Cepat ia memeriksa, tampak olehnya ada
satu pohon kembang yang berbunga bagus sekali.

Ia menghampiri ke sana, tiba-tiba ia menjadi kaget tatkala


matanya melihat di tanah ada berceceran darah. Apakah enci
Lian dibunuh di sini ? Tanya ia dalam hati kecilnya. Ia jadi
bingung dan sangat kuatir akan keselamatannya enci Liannya.

Ia jongkok dan memeriksa lebih teliti, darah itu berceceran


sampai pada jalanan masuk ke dalam rimba pohon. Ia
mengikuti terus jejak darah yang dapat terlihat, sampai tiba-
tiba ia sadar kalau dirinya sudah dikurung oleh tiga orang yang
ia tidak kenal, belakangan menyusul lagi empat orang yang
keluar dari semak-semak.

Mereka itu rupanya jago-jago silat pilihan, semuanya pada


membawa senjata tajam di pinggangnya masing-masing. Tiba-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tiba seorang, yang menjadi pemimpin rupanya, berkata,


"Hehehe, aku heran. Kenapa Pangcu kirim kita begini banyak
untuk membekuk satu anak hitam begini saja ?"

Lo In mengawasi pada orang yang barusan berkata. Ia lihat


orang itu kira-kira usia pertengahan, mukanya persegi tiga,
hidungnya mancung, mulutnya ada sedikit tongos.

"Kita mesti percaya pada kata-kata Pangcu. Jangan kita


sembarangan memandang enteng, Cin-heng (saudara Cin)."
terdengar yang lain berkata.

"Aku sih bukannya sombong. Kalau hanya menghadapi segala


bocah begini, sembari tiduran juga aku bisa menangkapnya.
Ha ha ha !" kata lagi si pemimpin.

Kecuali yang barusan kasih nasihat pada orang she Cin, yang
lain-lainnya memang pada memandang rendah pada Lo In.

Mengurung makin rapat, Lo In heran. Ia tidak kenal dengan


mereka tapi sikapnya seperti yang memusuhi dirinya.

"Para paman, kalian menghendaki apa dari aku ?" Lo In tanya,


sekenanya saja.

"Kami akan menangkapmu !" bentak salah satu diantaranya.

"Aku tidak bersalah, kenapa mesti ditangkap ?" tanya Lo In.

"Kau anaknya Kwee Cu Gie, bukan ?" balik tanya si pemimpin.

"Siapa itu Kwee Cu Gie, aku tidak kenal." sahut Lo In kontan.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Bocah hitam, kau mau main-main sama engkongmu !" si


pemimpin berkata lagi.

Berbareng ia menjambret tangan Lo In yang sedang


memegang kembang. Tangan Lo In dapat dicekal, sambil
pelintir ia berkata, "Anak hitam, mengakulah. Jangan....... Kau
!" tiba-tiba ia berjengit sebab sekarang menjadi berbalik.
Bukan tangan Lo In yang diplintir tapi tangan si orang kasar
yang diplintir.

Kawan-kawan lainnya menjadi kaget, melihat pemimpinnya


hanya segebrakan saja sudah dapat dikuasai Lo In.

Lo In salurkan sedikit tenaga dalam ke tangannya, segera


tangan si pemimpin yang kena diplintir seperti kena strum
listrik. Ia teraduh-aduh tanpa dapat melepaskan pegangan Lo
In. Meskipun tangannya kecil, seakan-akan melengket.

"Kalian kenapa diam saja ? Lekas maju semua !" teriak si


pemimpin yang sudah jadi mandi peluh kena diplintir Lo In.

Seperti baru sadar dari tidurnya, mereka lantas serentak


menyerbu.

Dua belas tangan menghajar berbareng. Itu bukan main


hebatnya. Lo In bisa hancur lebur badannya. Tapi
kenyataannya lain, ketika serangan serentak sampai, dengan
kegesitannya laksana kilat, Lo In menghilang sambil
melepaskan si pemimpin yang dijadikan temberang.

Si pemimpin jadi berkuing-kuing seperti babi dipotong karena


dihujani pukulan kawan-kawannya sendiri.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kaget mereka, bukan Lo In yang dihujani pukulan tapi


kawannya sendiri. Cepat mereka mancari bayangan Lo In.
Mereka lihat si anak kecil hitam berada tidak jauh dari mereka,
sedang tenang-tenang saja bermain setangkai bunga.

Mereka mulai jeri tapi tak dapat mereka abaikan perintah dari
kepala perkumpulannya. Maka itu mereka maju pula
berbareng untuk menangkap Lo In.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa kalian mau tangkap aku ?"


tanya Lo In.

"Perintah dari atasan tak dapat diabaikan." sahut satu


diantaranya.

"Kalian dari mana sebenarnya ?" tanya si bocah pula, tenang-


tenang saja.

"Kami dari Ceng Gee Pang." sahut tiga orang hampir


berbareng.

"Untuk apa banyak cakap, lekas tangkap dia !" bentak si


pemimpin.

Perintah mana, sudah lantas dikerjakan. Enam orang


mengurung Lo In. Tapi mereka sangat hati-hati, kuatir nanti
bocah lolos lagi.

"Sebetulnya aku ingin main-main dengan kalian, sayang


temponya tidak ada. Karena aku mau mencari enci Lian." kata
Lo In, tersenyum nakal.

"Anak hitam, sebaiknya kau menyerah supaya tidak membuat


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kami jadi berabe dan tubuhmu kesakitan karena hujanan


kepalan kami !" berkata salah satu diantara orang yang
mengepung Lo In.

"Kalian tak dapat menangkap aku." menantang si bocah.

"Jangan sombong, anak kecil !" terdengar jawaban.

Sementara itu pengurungan makin diperketat, kira-kira


jaraknya satu meter lebih.

"Kalau kalian tidak percaya, nah, lihatlah !" kata si bocah.

Lo In berkata begitu, jarak mengepung makin rapat. Setelah itu


berbareng mereka menubruk dan menyangka si bocah akan
tertangkap.

Tapi sebelum maksud mereka kesampaian, tapak Lo In


meremas-remas kembang ditangannya lalu sambil memutar
tubuhnya ia meniup kembang ditangannya hingga
berserabutan terbang mengarah ke hiat-to (jalan darah) di
jidat, leher, pundak dan lain-lainnya. Kontan enam orang yang
mengepung pada lemas kakinya karena kena ditotok oleh
lembaran-lembaran kembang tadi.

Sementara itu Lo in sudah tidak ada bayangannya lagi


dihadapan mereka.

Karena totokan dengan kembang itu hanya totokan main-main


saja dari Lo In, maka hanya beberapa menit saja mereka
lumpuh. Selanjutnya mereka sudah dapat bangun pula dan
segar kembali sebagaimana biasa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat kawan-kawannya dirobohkan dengan hanya tiupan


kembang yang diremas, membuat Cin Lian Hin si pemimpin
menjadi melongo terpaku ditempatnya. Ia geleng-geleng
kepala. Pikirnya, apa bisa jadi ada seseorang bocah yang
mempunyai tenaga dalam begitu hebat, susah diukur ?

"Hahaha, Cin-heng." tiba-tiba diantara mereka ada yang


ketawa terpingkal-pingkal.

"Hei, Kek Kim. Kau tertawakan apa ?" tanya Cin Lian Hin.

"Aku tertawakan kau, Cin heng. Kau bilang, kau mau ganda
dia sembari tiduran, nah sekarang apa buktinya ? Malah kita
bertujuh diganda olehnya seperti memeram mata saja. Aaha !"
kembali Kek Kim tertawa seenaknya.

Cin Lian Hin merah seluruh mukanya, saking jengahnya.

Untuk tidak sampai jadi berkelahi dianara kawan sendiri,


beberapa orang menyela untuk simpangkan pembicaraan itu
hingga dua orang itu tidak sampai adu kepalan.

Mereka tidak ungkulan mencari Lo In, maka pulanglah mereka


untuk memberi laporan kepada Pancu (ketua perserikatan)
mereka.

Sampai cuaca menjadi gelap, Lo In masih juga belum dapat


menemukan Eng Lian.

Hatinya sangat kuatir akan keselamatan si dara cilik, melihat


darah berceceran. Ia menyesal tadi tak menanyakan tentang
enci Lian kepada salah satu orang yang mengeroyok mereka,
lantas terburu-buru untuk mencarinya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In pulang dengan lesu, badannya sangat lemas ketika ia


turun dari punggungnya si garuda. Keadaan mana dilihat oleh
si burung raksasa dengan mengembang air matanya, rupanya
ia turut berduka atas kehilangan Eng Lian.

Esok paginya, Lo In kumpulkan tentara keranya, diperintah


untuk mencari Eng Lian sementara ia sendiri dengan naik si
rajawali mencari disekitar lembah, tapi jejak Eng Lian tak
dapat dijumpai oleh si bocah.

Diam-diam ia menangis kehilangan enci Liannya.

Ketika dua tiga hari dicari disekitar lembah enci Eng Lian tidak
diketemukan, pada hari yang keempat, Lo In mencari sampai
cuaca remang-remang gelap.

Ketika ia mau pulang, tiba-tiba dalam pikirannya berkelebat


pikiran apakah boleh jadi Eng Lian sudah dibawa naik ke atas
? Mungkin si dara cilik ada di atas Tong-hong-gay. Pikirnya,
apa salahnya ia coba-coba naik ke atas sekalian melongok
rumahnya dahulu, bagaimana keadaannya sekarang ini.

Ia tepuk-tepuk burung raksasanya untuk terbang tinggi, ke


atas puncak jurang.

Si rajawali merasa heran. Tidak sari-sarinya sang tuan kecil


menyuruh dia terbang sampai ke atas puncak. Tapi ia terbang
sampai ke atas puncak, tapi ia terbang dengan semangat
karena ia tahu Lo In hendak mencari Eng Lian.

Sampai di atas cuaca sudah gelap, cuma diterangi oleh bulan


sisir yang tenggelam timbul diantara awan yang menutupinya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat itu, Lo In jadi terkenang akan kejadian hampir dua


tahun berselang ketika ia berdiam dengan Liok Sinshe di
puncak jurang itu. Ia turun dari 'kapal terbangnya', menyuruh si
rajawali menantikan disitu saja, jangan ikut ia yang hendak
mencari bekas rumahnya.

Sampai di tempat yang dituju, Lo In merasa heran sebab


rumahnya lain dari dahulu. Kalau tadinya sudah tua, sekarang
bagus mentereng, malahan dijaga oleh beberapa pengawal
yang bersenjata tajam.

Siapakah yang menjadi penghuni baru dari bekas rumahnya


itu ?

Lampu-lampu di sana sini tampak sudah dipasang hingga


cukup terang di sekitar rumah itu. Ingin Lo In menghampiri
rumah itu tapi kuatir orang nanti salah anggapan dan
menghinanya. Jalan paling baik, pikirnya, ia mengintip dengan
diam-diam saja ke dalam rumah itu. Siapa tahu ia dapat kabar
halnya enci Eng Lian yang hilang.

Dengan ginkangnya (ilmu entengi tubuh) yang sudah diukur,


dapat sekejap saja Lo In sudah berada di atas genteng rumah
tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal.

Dari sini Lo In tidak dapat melihat ke ruangan dalam karena


gentengnya dilapis dari sebelah bawah. Rupanya disengaja
dibuat begitu kekar supaya tidak ada orang yang mencuri
dengar apa yang dibicarakan dalam ruangan.

Terpaksa Lo In turun lagi ke bawah.

Dua orang jaga hanya nampak berkesiurnya angin tapi tak


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat adanya bayangan orang, tidak tahu Lo In datang


mendekati mereka.

Dua orang penjaga itu, tengah duduk membelakangi pohon,


yang satu pendek, satu lagi kurus.

"Menurut Cin Lian Hin, calon Tongcu dari cabang Ceng Gie
Pang disini dengan membawa enam pilihannya sudah
menemukan bocah yang diinginkan oleh Pangcu." demikian Lo
In mendengar si pendek berkata pada temannya.

"Habis, apa yang sudah ditangkap ?" tanya si kurus.

"Katanya mukanya hitam legam, cuma kuping dan lehernya


saja putih."

"Heran, masa calon Tocu (pemimpin) bisa dipermainkan,


apalagi dibantu oleh enam orang pilihan yang memperkuat
perserikatan kita."

Demikian Lo In mendengar pembicaraan dua pengawal itu.

Selagi ia sangsi, kenapa ia mau ditangkap, lantas mendengar


pula si kurus menanya pada kawannya, "Hei, Lao Can, kenapa
sih anak kecil itu mau ditangkap ?'

"Mana aku tahu." sahut si pendek. "Cuma aku dengar, dia itu
anaknya Kwee Cu Gie. Siapa Kwee Cu Gie dan kenapa
anaknya mau ditangkap, aku tidak tahu."

"Itu Cin Lian Hin dan kawan-kawannya hanya gentong nasi


saja. Masa anak kecil saja tidak bisa menangkap. Coba kalau
aku yang disuruh, aku bekuk saja batang lehernya sampai dia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terampun-ampun. Hahaha !" membual si kurus, seraya bangkit


mau meninggalkan kawannya yang masih duduk. Tiba-tiba ia
rasakan batang lehernya seperti ada yang menepuk. Sakit
rasanya sampai ia meringis-ringis.

Sambil berbalik, ia tegur temannya, "Hei, Lao Can. Kau jangan


main-main, sakit tuh. Main tepuk belakang batang lehar orang,
tidak ada kira-kiranya !"

"Siapa yang menepuk batang lehermu ?" tanya si pendek


sambil bangkit dan mau ngeloyor meninggalkan si kurus.

Mendadak ia rasakan telinganya seperti disentil, sakit bukan


main. Ia lantas berbalik dan marah-marah menegur si kurus.
"Kenapa kau menyentil telingaku ?"

"Siapa yang menyentil telingamu ?" si kurus melotot.

Dua-dua kelihatan mendongkol. Tapi mengingat akan


kewajiban meronda sudah waktunya, mereka ngeloyor jalan.
Belum dua tindak mereka berlalu, tiba-tiba keduany berseru,
"au !" Si kurus pegangi belakang lehernya, sedang si pendek
pegangi telinganya. Panas rasanya pada bagian yang
dipegangnya itu. Berbareng mereka putar tubuh dan
berhadapan. Masing-masing matanya saling mendelik.

"Betul-betul kau bikin penasaran orang, pendek !" kata si


kurus, katanya marah.

"Kau juga bikin penasaran orang," sahut si pendek.

"Kau tepuk pundakku lagi !"


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau sentil kupingku lagi !"

Mereka bertengkar dan akhirnya berkelahi. Masing-masing


tidak mau mengaku salah. Memang mereka tidak bersalah
sebab yang menyebabkan itu adalah Lo In. Dengan gunakan
kegesitannya, saban-saban menyelingkar di balik pohon, Lo In
godai dua pengawal itu. Ia menepuk belakang lehernya si
kurus, kemudian menyentil kuping si pendek, akhirnya mereka
adu kepalan.

Jail benar si bocah. setelah orang berkelahi, ia nonton dengan


bertepuk tangan. Tanpa disadari bahwa hal itu akan
menimbulkan kecurigaan. Dan ini pun telah terjadi, si kurus
dan si pendek yang tengah berkelahi saling jotos, lantas saja
hentikan perkelahiannya, mengawasi Lo In yang sedang
bertepuk tangan.

"Hei, dari mana datangnya ini bocah bermuka hitam ?" pikir
mereka.

Lantas mereka ingat akan penuturannya Cin Lian Hin. Inilah


rupanya si anak kecil yang dikatakan lihai. Mereka tidak
melihat adanya kelebihan dari si bocah sehingga ia sangat
ditakuti, girang hatinya, masing-masing ingin menangkap Lo
In. Kalau mereka dapat tangkap si bocah, berarti satu jasa
besar dan tidak mustahil bila mereka dinaiki pangkatnya.

Terdorong oleh rasa serakah, dua pengawal itu lantas main


mata satu sama lain untuk kerja sama menangkap Lo In.

"Anak kecil, kau siapa ?" tanya si kurus.

"Aku adalah aku, buat apa kau tanya." sahut Lo In jenaka.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Anak sambel, apa kau tidak tahu masuk ke sini dilarang ?"
bentak si pendek.

Siapa yang berani melarang aku datang untuk main-main


disini ?" Lo In balik menanya.

Kembali dua pengawal itu main mata, segera tangan kiri Lo In


sudah kena disambar si pendek sedang si kurus berbareng
menyekal tangan kanannya. Mereka kegirangan dapat
menangkap Lo In. "Anak kecil, mari ikut kami menghadap Hu-
pancu." berkata si kurus sambil tarik tangan Lo In.

Dengan bangga mereka sudah giring Lo In. Kawan-kawannya


pada merasa heran melihat si kurus dan si pendek menggusur
satu bocah bermuka hitam. Anak siapa itu, berani mati datang
ke situ yang terjaga keras.

Tidak mudah untuk menghadap Hu-pangcu (wakil ketua)


sebab harus melalui beberapa ruangan yang dijaga kuat. Lo In
menjadi benar-benar pangling (tidak mengenali) bekas
rumahnya, diperbesar dan menjadi mewah itu. Ia jinak sekali
dituntun si pendek dan kurus untuk dihadapkan kepada Hu-
pangcu.

Sampai di ruangan tempatnya Hu-pangcu, Lo In lihat ruangan


itu diperaboti indah sekali. Entah berapa banyak Ceng Gee
Pang (Golongan Gigi Hijau) mengeluarkan duit untuk
memperindah ruangan itu.

Lo In lihat kira-kira ada 20 orang tengah mengadakan rapat


menghadapi meja panjang. Ditengah-tengahnya ada seorang
dengan muka lonjong dan kumis pendek, usianya kira-kira di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bawah lima puluh tahun. Tubuhnya agak kegemuk-gemukan,


pakaiannya dari sutra yang mahal harganya.

Lo In menduga orang itu tentu Hu-pangcu dari Ceng Gee


Pang.

Diantara yang hadir dalam rapat itu terdapat calon Tocu Cin
Lian Hin bersama kawannya yang menangkap Lo In. Ketika
melihat si bocah bermuka hitam dibawa masuk, mereka amat
terkejut. Ada juga yang kucak-kucak matanya, tidak percaya
bahwa Lo In begitu mudah dapat ditangkap oleh dua tukang
rondanya.

"Apakah dia anaknya yang mempermainkan kalian ?" tanya


Hu-pangcu kepada Cin Lian Hin dan kawan-kawannya.

"Belum pasti." sahut Cin Lian Hin. "Tak semudah itu dia dapat
ditangkap."

Hu-pangcu tersenyum tidak enak sebab dalam senyuman itu


seolah-olah mengandung sindiran kepada Cin Lian Hin
dengan kawan-kawannya tidak becus menangkap seorang
bocah saja.

Kalau Hu-pangcu itu dapat anggapan remeh pada Lo In,


tidaklah heran sebab si bocah menurut saja dibentak-benatk
dan dijoroki oleh si pendek dan si kurus yang membawanya
menghadap si wakil ketua.

Si pendek dan si kurus setelah melaporkan bagaimana


mereka dapat menangkap si anak kecil, lalu majukan Lo In
untuk diperiksa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Anak kecil, apakah maksud kau untuk masuk kemari ?" tanya
Hu-pangcu, suaranya tidak bengis.

"Aku mau mencari enci Lian." sahut Lo In.

"Siapa itu enci Lian ?' tanya Hu-pangcu.

"Dia adalah enciku, teman karibku." Lo In menerangkan.

"Apa kau yang permainkan dia dengan kawan-kawannya ?"


Hu-pangcu tanya lagi, seraya jarinya menunjuk pada Cin Lian
Hin.

Lo In mengawasi si orang she Cin sebentar, "Kau tanya saja


pada dia." sahutnya.

Si wakil ketua melengak. Pikirnya bocah ini sikapnya acuh tak


acuh, menjawab pertanyaan seenaknya saja, hatinya menjadi
tidak senang.

Matanya tiba-tiba bersinar mengawasi si pendek dan si kurus.

Mereka ketakutan dan gelapan. Mereka tahu kesalahannya,


barusan lupa menyuruh Lo In berlutut untuk menghadap wakil
ketua. Cepat mereka dekati Lo In. Masing-masing pada
pegang lengan Lo In dijoroki supaya berlutut.

Hampir berbareng mereka membentak, "Berlutut !"

Waktu itu para hadirin termasuk Hu-pangcu terkejut dan


katanya terbelalak.

Mengapa mereka ? Mereka melihat ada yang berlutut tapi


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bukannya Lo In malahan dua pengawal yang menjoroki Lo In


sambil berseru 'berlutut !' yang berlutut.

Itulah Lo In yang mendemonstrasikan kelincahannya.

Waktu si bocah dipegang lengannya dan dibentak disuruh


berlutut, ia geraki sedikit badannya, lolos dari pegangan si
pendek dan si kurus lalu berjongkok. Kedua tangannya
dipentang untuk menotok hiat-to di dengkul yang membuat
pengawal itu terkulai dan berlutut, sedang Lo In sudah lantas
berdiri.

Gerakan Lo In sangat cepat laksana kilat. Hanya beberapa


detik saja terjadi sehingga banyak diantara hadirin yang tidak
tahu bagaimana Lo In bergerak.

Hanya Hu-pangcu yagn melihat tegas, bagaimana dua


pengawalnya dirubuhkan dengan satu gerakan kilat dari si
bocah.

Waktu Lo In dapat ditangkap oleh si pendek dan si kurus itu


hanya atas kemauan Lo In. Pikirnya, dengan membiarkan
dirinya ditangkap dan dibawa menghadap pemimpin, ia bisa
dapat tahu keadaan di dalam dan siapa yang kepalai
Golongan Gigi Hijau yang hendak menangkap dirinya.

SI bocah gesit luar biasa, tetapi belum tentu lwekangnya luar


biasa. Kalau nampak usianya yang masih begitu muda, belum
masuk hitungan jago muda.

Pikiran itu muncul diantara para hadirin, diantaranya ada satu


yang mukanya kekuning-kuningan yang bernama Gouw Li Lit
bangkit dari duduknya, datang menghampiri Lo In sambil
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ketawa-ketawa, "Anak kecil, kau hebat !" katanya sambil


menepuk pundaknya si bocah dengan tenaga lima bagian.

Pikirnya, sekali tepuk si bocah akan terkulai sedikitnya, kalau


tidak sampai tergetar jantungnya pasti copot. Tidak disangka,
kalau tepukannya itu membawa akibat yang memalukan.
Ialah, telapak tangannya yang menepuk, ia rasakan seperti
menepuk kapas atas pundaknya Lo In, malah tangannya tak
dapat diangkat dari pundaknya Lo In seakan-akan menempel
saja. Kaget bukan main Gouw Li Lit, apalagi ketika Lo In
menyalurkan lwekangnya ke pundak orang she Gouw itu
hampir menjerit kesakitan dan rasa linu sekujur badannya
seketika. Waktu Lo In goyang sedikit pundaknya, tangan Gouw
Li Lit terlepas dan terdorong sempoyongan, hampir jatuh
duduk kalau ia tidak gunakan 'cian kin tui' atau ilmu
memberatkan bada seribu kati untuk menahan tubuhnya.

Gouw Li Lit pucat mukanya, merasa sangat penasaran


dirubuhkan hanya segebrakan saja oleh bocah yang barusan
lepas netek. Ia ada satu ahli Gwakang (tenaga luar) yang oleh
kawan dan lawan disegani. Dimana ia taruh muka bila hanya
begitu saja dapat keok sama anak kecil. Tidak heran kalau ia
jadi sangat gusar. Matanya mendelik pada Lo In dan berkata,
"Anak kecil, mari kita adu kepandaian !"

"Aku tidak ada tempo, aku hendak mencari enci Lian." sahut
Lo In.

Penerangan dalam ruangan itu cukup, dipasang beberapa lilin,


diantaranya ada empat lilin yang besar ditancap dibelakang
meja rapat.

Gouw Li Lit mendekati Lo In, "Aku tidak rela dengan gebraka


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tadi. Maka marilah kita adu kepandaian." menantang Gouw Li


Lit sambil pasang kuda-kuda.

Melihat lagaknya orang she Gouw, Lo In jadi ketawa. "Aku


tidak mau berkelahi, kenapa kau memaksa ?" katanya seraya
masih ketawa.

Lo In ketawa sebenarnya wajar karena merasa lucu melihat


tingkahnya si orang she Gouw. Tapi ketawanya si bocah justru
dianggap satu hinaan oleh Gouw Li Lit. "Aku ketawa apa,
bocah !" bentaknya lalu disusul dengan serangan hebat
menggunakan tenaga penuh. Angin pukulannya sampai
menderu, segera terdengar suara 'brak !'. Itulah meja yang
berantakan terkena angin pukulannya.

Lo In tatkala itu berdiri tidak jauh dari meja yang hancur tadi.
Kalau serangan Gouw Li Lit itu mengenakan sasarannya, pasti
si anak kecil remuk tulang-tulangnya. Baikna saja ia sudah
menghilang dan sodorkan meja sebagai wakilnya.

Para hadirin jadi tegang. Mereka tahu si orang she Gouw


kalau sudah kalap, untuk mencuci kehormatannya, jalan satu-
satunya adalah menghancurkan tubuh Lo In.

Hanya sayang, si anak kecil terlalu gesit untuk lantas


menghilang dari hadapan Gouw Li Lit yang saban kali
menyerang dengan tenaga maksimum.

"Bocah hitam !" teriak Gouw Li Lit kalap. "Kau jangan


menghilang kayak setan. Kalau berani sambuti seranganku !"

Kelihatannya ia kewalahan dilawan dengan kegesitan Lo In.


Maka ia berteriak kalap tadi. Ia berteriak sambil membarengi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan serangan dahsyat.

"Aku tidak mau berkelahi, kau paksa juga. Nah, baiklah aku
sambuti !" Lo In sambuti seenaknya saja, tanpa pasang kuda-
kuda segala.

Gouw Li Lit girang teriakannya tidak sia-sia. Seketika ia


menyerang dengan jurus yang mematikan, sepasang
kepalannya yang segede kepala bayi, menyambar ke arah
dada Lo In. Ini adalah tipu 'sian coa touw sin' atau 'Sepasang
ular muntahkan bisanya'. Satu jurus yang ganas, mengerikan,
apalagi itu ditujukan kepada Lo In anak kecil. Tidak heran
kalau para hadirin menjadi amat kaget dan kuatir akan
keselamatan si bocah.

Tapi Lo In tenang-tenang saja, malah ia masih bisa ketawa


ketika pukulan sampai. Ia tidak berkelit menghilang,
sebaliknya ia papaki sepasang kepalan lawan dengan satu
sampokan tangan kiri, keras lawan keras. Lucu kelihatannya
sebab dua lengan yang segede anak ditangkis oleh satu
tangan yang kecil halus. Menurut teori, akan patahlah tangan
yang kecil itu. Tapi prakteknya, setelah bentrokan keras, Gouw
Li Lit tarik pulang sepasang lengannya dengan susah payah
seperti yang terlepas dari sambungan pundaknya, wajahnya
meringis-ringis kesakitan, jantungnya tergetar seperti mau
copot saja rasanya. Sementara si bocah hanya berdiri
senyum-senyum saja melihat sang lawan lompat mundur
dengan muka pucat dan meringis-ringis.

Lo In telah gunakan gerakan 'Tan cian cui tah' atau 'Dengan


satu tangan mendorong pagoda', satu tangkisan keras yang
mengandung tenaga dalam yang dahsyat untuk memunahkan
serangan Gouw Li Lit yang ganas.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Para hadirin hampir tak percaya dengan mata kepalanya


sendiri menyaksikan adegan yang langka dalam dunia
persilatan (Bu lim) seperti yang diperlihatkan oleh si anak kecil
berwajah hitam.

"Hek-bin Sin-tong........" menggumam Hu-pangcu dari Ceng


Gee Pang saking kagum ia melihat kepandaian Lo In.

Meskipun perlahan Hu-pangcu itu menggumam tetapi


terdengar nyata di telinga para hadirin yang mempunyai
lwekan tinggi. Mereka pada menoleh pada Hu-pangcu, seraya
dalam hatinya masing-masing pada berkata, "Pantas anak
hitam ini mendapat julukan 'Hek-bin Sin-tong' dari mulutnya
Hu-pangcu Ceng Gee Pang. Belakangan hari telah membuat
namanya Lo In populer dengan julukan itu dalam dunia
Kangouw.

Diantara para jagoan yang hadir dalam rapat itu adalah Gouw
Li Lit yang paling menonjol kepandaiannya. Sekarang si orang
she Gouw sudah dikalahkan dengan begitu mudah, siapa lagi
yang berani maju ?

Hu-pangcu, meskipun jeri hatinya merasa tidak puas kalau


tempatnya diacak-acak oleh anak kecil. Maka seketika itu
lantas memberi tanda pada para hadirin untuk mengepung Lo
In.

Mereka bangun dengan serentak dari masing-masing tempat


duduknya, memburu Lo In.

Si bocah kaget juga. Sebelum ia buka mulut menanyakan


sebabnya mereka datang mengeroyok, ia dibikin repot oleh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hujan kepalan dan tangan dibeber menabas bagaikan golok


tajam. Terpaksa Lo In keluarkan ilmu entengi tubuh ajaran
Liok Sinshe yang dinamai 'Bu eng bu seng sin hoat' atau 'Ilmu
sakti tidak bayangan tiada suara', yang ia yakinkan dengan
mahir betul.

Dengan kepandaian meringankan tubuh yang sakti itu,


membuat jagoan-jagoan yang mengeroyok saban-saban
tubruk angin. Sungguh lucu kalau menyaksikan adegan itu.
Kawanan jagoan seakan-akan merupakan kawanan serigala
yang kelaparan berebut menangkap mangsanya, tapi sang
korban saban-saban menghilang dari hadapannya. Bukannya
jarang, satu sama lain saling beradu tangan, beradu tubuh dan
berbenturan kepala disebabkan berbarengan mereka
menubruk mangsanya. Tapi sang mangsa telah hilang lenyap
seperti masuk dalam rumah atau naik ke langit saja.

Dalam sengitnya mereka mengepung Lo In, sampai tak


menyadari bahwa saat itu ada seorang tamu sudah lama
menonton mereka sedang uber-uberan.

"Hahaha ! Ang Ban Ie, kau menjadi anak kecil lagi ? ha ha


ha......... !" Inilah suara si tamu, keras berwibawa sehingga
semua orang hentikan uber-uberannya.

Mereka tidak tahu kemana si bocah menghilangnya, tapi


mereka lebih perlukan menghadapi tamu yang baru datang itu.
Rupanya mereka kenal baik pada tamu yang datang itu sebab
semuanya kelihatan pada menunjuk muka tegang.

Tamu itu ada seorang tua dengan muka bersih, pakaiannya


pun perlente, dari mana menunjukkan bahwa si tamu itu bukan
orang dari tingkatan rendah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tamu itu memang tiada lain adalah Pangcu dari Ceng Gee
Pang.

Melihat ketuanya yang datang, segera Ang Ban Ie, si wakil


ketua lekas menghampiri memberi hormat. Ia berkata, "Toako,
mengapa malam-malam kau datang kemari ? Tentu ada
urusan penting yang hendak dibicarakan dengan aku."

Pangcu dari Ceng Gee Pang itu ada saudara cintong dari Ang
Ban Ie, namanay Ang Ban Teng. Ia lihai menggunakan senjata
rahasia bentuk panah yang direndam dalam obat, bukannya
racun tapi istimewa kerjanya. Panah itu asal menancap pada
tubuh korbannya, kalau menemui darah lantas menjadi lumer
dan sang korban akan menggigil kedinginan. Kaki tangan tak
dapat digerakkan seperti membeku untuk sepuluh menit
lamanya. Entahlah, Ang Bang Teng menggunakan bahan obat
apa untuk senjata panahnya yang istimewa itu, tapi yang
terang namanya terkenal dengan Soa-cian Ang atau Ang si
Panah Salju.

"Terang kalau tidak ada urusan penting, tak aku datang


malam-malam kesini." jawab Ang Ban Teng, si Panah Salju
sembari jalan menghampiri meja rapat dan lantas duduk di
meja kepala, di dampingi oleh Ang Ban Ie, si wakil ketua.

Orang-orang pada berkumpul lagi mengitari meja rapat


dengan dalam hatinya masing-masing pada menanya urusan
penting apa yang dibawa Pangcu itu.

"Hiante," kata Soat-cian Ang. "Kenapa kalian mengeroyok


anak kecil tadi ? Apakah tidak malu nanti diketahui oleh rekan-
rekan dalam kalangan Kangouw ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ang Ban Ie ketawa, tapi ketawanya tentu saja tidak wajar. Ia


merasa malu dengan teguran saudara tuanya. Meskipun
begitu, ia harus membela diri agar jangan terlalu
dipersalahkan. Ia berkata, "Soalnya bocah itu anaknya Kwee
Cu Gie. Bukankah Siong Leng Totiang ada minta bantuan kita,
diwaktu kita hendak menempati tempat ini supaya kita
membantunya untuk menangkap anaknya Kwee Cu Gie ?'

Soat-cian Ang kerukan keningnya. "Dari mana kau tahu bocah


itu anaknya Kwee Cu Gie ?"

Pada sepuluh hari yagn lalu kita ada kedatangan Ang Hoa
Lobo dengan Toan-bi Lomo Siauw Cu Leng." jawab Ang Ban
Ie.

"Hah ! Dua iblis itu datang kemari?" tanya Soat-cian Ang,


terkejut dia.

"Betul," sahut Hu-pangcu Ang Ban Ie. "Si nenek mengatakan


bahwa dibawah jurang ada satu lembah dimana ada tinggal
seorang anak kecil yang mempunyai tentara kera dan burung
raksasa. Aku jadi ingat akan pesan Siong Leng Totiang
supaya kita membantunya. Maka aku lalu menanya pada si
nenek, apakah anak itu bukannya anak Kwee Cu Gie. Ang
Hoa Lobo manggut. Ang Hoa Lobo kata anak itu lihai, harus
dipancing meninggalkan tentara kera dan burung raksasanya,
baru ada harapan ditangkap degnan menggunakan banyak
orang kuat kita. Kalau diserangnya, ia kata jangan banyak
harap dapat menangkap si bocah karena tentara kera dan
burung rajawalinya, ada pelindung yang sangat kuat......."

"Lalu kau kirim orang untuk memancing dia, bukan ?"


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memotong Soat-cian Ang.

"Betul," melanjutkan Ang Ban Ie. "Aku sudah kirim tujuh orang
kuat kesana dikepalai oleh Cin Lian Hian. Inilah Tocu kita
untuk cabang disini." Ang Ben Ie menunjuk Cin Lian Hin
memperkenalkan kepada Pangcunya.

Soat-cin Ang manggut-manggut. "Teruskan, hayo teruskan


ceritamu." katanya.

"Cin hiante dan kawan-kawan tak usah memancing lagi si


anak kecil meninggalkan sarangnya." melanjutkan Ang Ban Ie.
Karena dalam perjalanan ke sana dia sudah bertemu dengan
anak yang dimaksud, yang mencari kawannya yang bernama
Eng Lian. Rupanya Cin hiante terlalu memandang enteng
pada si anak kecil, karena bukan saja anak yang diarah tak
dapt ditangkap, malah Cin hiante dengan enam kawannya
kena dirobohkan dengan memalukan sekali."

Selanjutnya Ang Ban Ie menuturkan bagaimana Cin Lian Hin


dan kawan-kawan dipecundangi oleh Lo In dan tentang
kedatangannya si bocah malam itu ke markas mereka malam-
malam untuk mencari temannya hingga menjadi adu
kepandaian dengan Gouw Li Lit disusul dengan pengeroyokan
ramai-ramai oleh mereka.

Soat-jian Ang angguk-anggukkan kepalanya, sembari urut-urut


kumisnya.

Diam-diam ia merasa kaget mendengar penuturannya Ang


Ban Ie.

"Anaknya sudah begitu hebat, bagaimana dengan bapaknya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

?" terdengar si Pangcu bergumam. Kiranya gumaman Ang


Ban Teng dapat didengar tegas oleh para hadirin yang
kepandaian lwekangnya tidak rendah.

"Pangcu maksudkan siapa bapaknya ?" tanya Gouw Li Lit tiba-


tiba.

"Aku tidak tahu apa bapaknya si anak kecil itu masih hidup
atau sudah mati. Sebab menurut Siong Leng Totiang, Kwee
Cu Gie yang menyaru jadi Liok Sinshe ada dua tahun yang
lampau sudah mati masuk jurang dibokong oleh Kim Popo."
menerangkan Soat-cian Ang.

"Lalu bagaimana pikiran Toako ?" tanya Ang Ban Ie.

"Kemarin dulu, aku ada kedatangan sobatku. dia itu ada Liu In
Ciang, yang kini terkenal dengan nama Liu Wangwee di desa
Kunhiang." menutur Soat-jian Ang. "Dalam omong-omong dia
menceritakan pengalamannya pada satu setengah tahun yang
lalu dia didatangi Sucoan Sam-sat........"

"Apa Pangcu bilang ? Sucoan Sam-sat ?" memotong Gouw Li


Lit. Ia kaget rupanya.

"Benar." sahut Soat-cain Ang. "Siapa tidak kenal dengan tiga


algojo dari Sucon itu. Rata-rata orang persilatan pernah
mendengar tentang mereka itu."

"Mereka datang ada urusan apa dengan Liu Wangwee ?"


menyela Ang Ban Ie.

"Sucoan Sam-sat datang atas undangannya Tan Kong Ceng,


salah satu hartawan di Kunhiang. Entah ada urusan apa yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyebang Liu In Ciang dan Tan Kong Ceng bentrok hingga


hartawan Tan mengundang tiga algojo dari sucoan. Tapi yang
penting untuk kita adalah keterangan sobatku itu. Katanya
dalam pertempuran dengan Giam-ong Puy Teng, Liu In Ciang
dapat dirobohkan dengan mendapat luka parah, dua tulang
iganya patah. Anak gadisnya, Bwee Hiang, dalam putus
harapan hendak menebas kuntung lehernya, tiba-tiba
pedangnya terpental jatuh dari cekalannya karena benturan
batu kecil yang dilepas dari jurusan pohon, dari mana telah
turun melayang sesosok tubuh, ialah si kerudung
merah..........."

"Siapa itu si kerudung merah ?" menyela beberapa hadirin


hampir berbareng.

"Hahaha !" tertawa Soat-cian Ang. "Si kerudung merah adalah


bintang penolong dari sobatku itu. Dia bukan saja melabrak
Sucoan Sam-sat satu demi satu, malah belakangan disuruh
maju berbareng tapi mereka tidak ungkulan menghadapi si
kerudung merah. Lwekang dari tiga penjahat itu telah
dimusnahkan dan diancam apabila mereka tidak bisa rubah
adatnya dan belakangan hari ketemu lagi dengannya, si
kerudung merah akan mengambil jiwanya."

Sampai disini menutur, kelihatan Soat-cian Ang gembira, air


mukanya berseri-seri sambil elus-elus janggutnya. Atas
desakan hadirin ia menutur lagi, "Liu Wangwee diobati olehnya
sampai sembuh. Ketika ditanyai siapa adanya si kerudung
merah, selalu dia menyimpangkan pertanyaan hingga sobatku
tidak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi yang terang, ilmu
silatnya luar biasa. Sekali gebrak, ia bikin lawannya mati kutu
mendeprok di tanah. Dia meninggalkan rumah sobatku,
menghibur supaya hartawan Liu jangan memikirkan lagi si tiga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

algojo karena dia sudah musnahkan ilmu silatnya dan mereka


tidak berani datang lagi. Tapi perhitungan itu rupanya meleset
sebab Sucoan Sam-sat bukan merubah kelakuannya,
sebaliknya mereka minta pertolongan gurunya, Thie-tauw-eng
Ie Jie Lo (si Garuda Kepala Besi).

"Gurunya sendiri tidak sanggup memulihkan tenaga dalam


mereka. Untung ada supeknya, Hong-hwe-liong Siang Hong
Sin, dapat menolongnya meskipun perlahan-lahan. Sekarang
kepandaian mereka sudah pulih. Setelah mendapat petunjuk
dari guru dan supeknya, kabarnya Sucoan Sam-sat sudah
keluar lagi dari sarangnya mencari si kerudung merah. Tapi
sudah beberapa bulan dicari belum dapat dijumpai dimana
adanya si kerudung merah. Sahabatku, Liu In Ciang menjadi
gelisah. Karena tak dapat menemukan musuhnya maka
mereka akan datang pula ke Kunhiang untuk menghancurkan
keluarga Liu. Liu Wangwee sendiri tidak mohon pertolongan
apa-apa padaku, cuma aku sebagai sobatnya, mana dapat
tinggal peluk tangan menonton Liu In Ciang menghadapi
bahaya maut."

Semua yang hadir tidak membuka suara apa-apa setelah


mendengar penuturannya san Pangcu sampai kemudian Hu-
pangcu, Ang Ban Ie yang memecahkan kesunyian. "Jadi
apakah kita akan ikut campur tangan dalam urusan Liu
Wangwee ?"

Soat-cian Ang angguk-anggukkan kepala.

Kembali keadaan menjadi sunyi.

"Untuk menolong Liu Wangwee adalah wajar." kata Gouw Li


Lit. "Sebab Liu In Ciang ada sahabat Pangcu. Cuma saja,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bagaimana kita harus menghadapinya itu tiga algojo dari


Sucoan yang tersohor sangat ganas ?"

"Justru dalam hal ini aku datang kemari untuk berunding.


Bagaimana pikiran saudara-saudara sekalian ?" berkata Soat-
cian Ang sambil perhatikan wajah hadirin satu demi satu. Ia
mengharap ada pikiran baik keluar dari salah satu
diantaranya.

Mereka berunding, mencari jalan keluar.

Sementara itu soal si anak kecil sudah tidak disinggung-


singgung lagi oleh mereka. Apa lagi sang Pangcu tidak
menanyakan soalnya lebih jauh. Perhatian sekarang jauh
dipusatkan kepada soal mencari jalan untuk menolong Liu
Wangwee yang terancam bahaya.

Dimana si bocah mengumpat ?

Kiranya ia mengumpat di bawah meja rapat yang ditutup


dengan kain merah. Enak saja ia diam-diam disitu mencuri
dengar apa yang dibicarakan oleh mereka. Kembali dalam
benak Lo In timbul pertanyaan : Siapakah dirinya ? Anak
siapa, apakah Kwee Cu Gie benar ayahnya ? Dimana ibunya ?
Liok Sinshe dikatakan menyamar, diam diatas jurang Tong-
hong-gay, apakah benar ia Kwee Cu Gie, kenapa dia tidak
omong bahwa dia adalah anaknya ? Semua telah membikin
pusing kepalanya si bocah lagi.

Memikir dalam ruangan itu ia tidak mempunyai kepentingan


pula, maka diam-diam tanpa disadari oleh para hadirin yang
tengah memusatkan perhatiannya kepada urusan Liu
Wangwee, Lo In sudah bisa menyingkir dari ruangan itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan menggunakan kepandaiannya meringankan tubuh,


tidak seorang pun dapat melihat ia berlalu kecuali
berkesiurnya angin disamping para penjaga. Sebentar lagi Lo
In sudah menghampiri burung raksasanya yang
menantikannya dengan penuh khawatir.

Mari kita lihat keadaan Eng Lian.

Sore itu Eng Lian naik garudanya sendirian, pesiar diatas


lembah. Ketika si rajawali melayang rendah, tiba-tiba burung
raksasa itu nampak berkelebatnya seekor kelinci. Otomatis ia
menyambar ke bawah, tapi sang korban sudah lari
bersembunyi diantara pohon bunga-bungaan.

Melihat banyak pohon kembang, Eng Lian sangat tertarik


hatinya. Ia tepuk-tepuk pundaknya si burung raksasa sambil
berkata, "Tiauw-heng, kau turun disini, aku nanti tangkapkan
kelinci untukmu."

Si dara cilik dari tadi terpingkal-pingkal ketawai burungnya


yang gagal menyambar mangsanya. Ia ingin menolong
tangkapi si kelinci yang menyusup diantara pohon-pohon yang
merintangi si rajawali mementang sayapnya.

Si burung raksasa lantas mendarat. Eng Lian dengan gembira


lompat turun dari bebekong si rajawali kemudian ia lari
menyusup diantara pohon-pohon kembang. Lagaknya seperti
yang mengubar kelinci tapi sebenarnya ia hendak memetika
kembang-kembang yang harum semerbak memenuhi hidung.

Senang sekali Eng Lian berada diantara bunga-bunga.


Tangannya repot memetik sana sini, memilih bunga yang
bagus-bagus untuk dibawa pulang. "Sayang adik In tidak turut,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kalau tidak, oh, bagaimana gembiranya kita memetik kembang


yang harum mewangi ini." ia berkata-kata sendiri.

"Selamat bertemu lagi nona Lian........" tiba-tiba si dara cilik


mendengar orang berkata dari belakangnya hingga ia cepat
menoleh dengan kaget.

Kiranya yang berkata-kata tadi adalah Ang Hoa Lobo, kenalan


lama yang Eng Lian sangat benci. Sambil cemberut, ia
menanya : "Nenek jahat mau apa ?"

"Hehehe !" si nenek ketawa kering. "Bagaimana kau bisa


katakan aku jahat ?"

"Memang kau jahat." sahut Eng Lian berani. "Kau sudah pukul
adik In sampai luka berat, kemudian kau hukum aku tidak
makan beberapa hari. Apa itu tidak jahat ?"

"Aku toh belum gebuk mati si bocah, belum hukum mati kamu,
masih belum terhitung jahat, bukan ?" bantah si Nenek
Kembang Merah seraya haha hihi ketawa.

"Hmm !" si dara cilik mendengus. Mendongkol dia mendengar


alasan si nenek.

"Aku datang hendak menyambut kau, Eng Lian." kata si


nenek.

"Menyambut aku ?" si nona cilik menanya heran. "Aku sudah


tidak ada hubungan lagi dengan kau, untuk apa kau
menyambut aku ?"

"Hubungan kita masih ada. Sebegitu jauh, kau masih tetap


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membandel tidak ajarkan menjinaki ular." sahut si nenek


ketawa.

--12--

Si dara cilik geleng kepala.

"Aku tidak mau ajarkan kau." katanya.

"Kenapa ?" Ang Hoa Lobo menanya heran.

"Kalau kau sudah dapat menjinaki ular, nanti kau akan lebih
jahat lagi." sahut si dara cilik.

"Tidak, tidak. Aku berjanji akan menjadi orang baik, kalau kau
sudah ajarkan menjinaki ular." si nenek cepat menyahut.

"Soalnya ditempatku Coa-kok (Lembah Ular) disana ada


banyak kawanan ular, aku mau bikin kawanan ular itu takluk
padaku, lain tidak."

Si nona kerutkan alisnya yang lentik, ia berpikir rupanya.

"Nona Lian, aku hanya minta kau ajari aku. Setelah mana aku
tak akan mengganggu lagi kau." Ang Hoa Lobo berjanji.

Kembali si nona tidak menjawab. Ia berpikir, memang paling


baik kalau si nenek tidak datang mengganggu ia dan Lo In
punya ketentraman. Apalagi si nenek berjanji akan menjadi
orang baik. Tidak ada salahnya kalau ia mengajari si nenek
menjinaki ular. Setelah mengambil keputusan, ia berkata,
"Baiklah, mari ikut aku."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si nona berkata seraya geraki kakinya hendak berlalu dari situ,


menghampiri si rajawali yang menunggu jauh di sana.

Ang Hoa Lobo sudah tentu saja tidak bersedia mengikuti si


nona karena disana ada si rajawali yang kalau melihat dia
dengan Siauw Cu Leng akan beringas dan mengajak
bertempur. Maka itu ia lalu berkata, "Nona Lian, sebaiknya kita
jangan ke rumahmu. Kau ikut aku saja ke Coa-kok."

Si nona putar tubuhnya. "Mana bisa begitu, adik In sedang


menunggui aku." sahutnya seraya lari hendak lari
meninggalkan Ang Hoa Lobo.

Lari belum jauh, tiba-tiba ia dicegat oleh Siauw Cu Leng.

"Hahaha ! Dara cilik, kau mau lari kemana ?" bentaknya kasar.

"Kakek jahat, kau jangan merintangi aku !" semprot Eng Lian.

Si nona coba hindarkan sambaran tangan Siauw Cu Leng, tapi


ia ada satu gadis cilik yang baru saja belajar silat. Mana dapat
ia lolos dari si Iblis Alis Buntung yang kasar dan kejam. Maka
sambaran tangan yang kedua kali sudah dapat menangkap
pergelanagan tangan si nona cilik hingga ia menjerit karena
pegangan si Iblis Alis Buntung seperti jepitan besi rasanya.

Si dara cilik berontak-rontak tidak menolong.

"Eng Lian sebaiknya jangan kau menolak undangan kami. Hei,


Cu Leng, jangan kau kurang ajar pada guru cilik kita !" kata
Ang Hoa Lobo melihat Toan-bi Lo-mo memencet tangan si
nona kecil dengan keras hingga menjerit kesakitan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Siauw Cu Leng menurut. Ia longgarkan pegangannya.

Si rajawali yang menunggu majikannya jauh dari situ,


bukannya tidak mendengar jeritan nonanya. Ia hanya
mengebas-ngebaskan sayapnya saja. Untuk terbang masuk
ke tempatnya Eng Lian tak dapat ia lakukan karena banyak
rintangan cabang pohon untuk sayapnya bebas bergerak.
Tidak heran, ia kelihatan sangat gelisah sebab suara jeritan
Eng Lian itu ada satu tanda si dara cilik dalam bahaya.

Setelah lama ia nantikan nonanya belum kelihatan muncul,


maka terpaksa ia pulang untuk memberitahukan pada Lo In. Di
lain pihak, Eng Lian sudah kena ditotok oleh Siauw Cu Leng
dan dibawa pergi dari situ.

Belum berapa tindak mereka berlalu, telah berjumpa dengan


Cin Lian Hin dan enam kawannya. Ang Hoa Lobo berkata
pada Cin Lian Hin, "Ini ada cara yang kebetulan. Tak usah
kalian memancing lagi si bocah keluar dari sarangnya, kalian
tunggu saja disini. Pasti si bocah akan datang kemari untuk
mencari temannya."

Cin Lian Hin sangat kegirangan. Pikiranya memang hal itu


sangat baik, tidak berabe lagi harus memancing Lo In keluar
dari sarangnya yang banyak teman kawanan kera.

Sementara itu, atas perintah si nenek, Siauw Cu Leng sudah


tangkap seekor kelinci, ia potong dan daranya dibikin
berceceran dari mulai pohon kembang di mana Eng Lian
berdiri sampai sejauh bisa darah sang kelinci dapat
dikucurkan.

Jadi darah yang berceceran yang Lo In jumpai itu bukannya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

darah Eng Lian tapi darahnya sang kelinci liar yang nasibnya
lagi sial ketemu Siauw Cu Leng.

Ang Hoa Lobo senang dapatkan Eng Lian. Ia bawa ke


sarangnya, Coa-kok yang sukar didatangi orang karena di
lembah itu kesohor banyak ularnya.

Di sana Eng Lian dibujuk lagi oleh Ang Hoa Lobo, dijanjikan ia
akan dibebaskan dan diantarkan kepada Lo In kalau ia sudah
turunkan ajaran menakluki kawanan ular. SI dara cilik dapat
dibujuk, tanpa banyak pikir ia lantas berikan pelajaran pada
Ang Hoa Lobo. Hatinya sudah kepingin buru-buru ketemu Lo
In lagi. Ia kuatirkan putus asa mencari dirinya yang diculik oleh
si Nenek Kembang Merah. Kalau ia sudah menurukan
pelajaran menakluki ular kepada Ang Hoa Lobo, pikirnya, ia
akan mendapat kebebasannya dan segera dapat pulang ke
rumahnya bertemu pula dengan adiknya.

Dasar anak kecil, masih belum tahu kecurangannya manusia.


Eng Lian kena dikibuli Ang Hoa Lobo sebab setelah si nenek
dapat ilmu menakluki ular bukan saja kebebasannya si dara
cilik tidak diberikan, malah Eng Lian dipakai alat untuk
keuntungannya Ang Hoa Lobo dan gula-gulanya (Siauw Cu
Leng).

"Popo." kata Eng Lian pada suatu hari. Ia sekarang memanggil


popo atas usul si nenek sebab katanya diantara mereka tidak
ada permusuhan dan malah dengan panggilan yang halus itu,
kedengarannya lebih mesra dan lebih dekat hubungan
keluarga. "Aku sudah turunkan pelajaran menakluki ular,
kapan aku dibebaskan dan ketemu lagi denan adik In ? Dia
tentu sudah menunggu-nunggu aku dengan tidak sabaran."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ang Hoa Lobo tertawa ramah. Katanya, "Oh, besok ada hari
baik. Tanggal 7 bulan 7, aku akan antarkan kau kembali ke
rumahmu dan ketemu lagi dengan Lo In."

Eng Lian senang mendapat jawaban itu. Ia menubruk Ang Hoa


Lobo, memeluk dengan mesra, katanya berbisik, "Popo, kau
sangat baik......."

Si nenek mengelus-elus rambut kepalanya Lian.

"Anak Lian," katanya, "Besok ada hari berpisahan kita. Maka


sebentar malam sebaiknya aku mengadakan sedikit
perjamuan untuk memberi selamat jalan padamu. Sebab
belum tahu kapan kia bisa ketemu lagi."

"Oh, tidak Popo. Nanti aku dengan adik In akan menyambangi


kau disini. Jangna lupa, kalau adik In kemari, kau mau juga
akan memberi obat pemunah pada mukanya adik In yang
hitam supaya ia dapat kembali pada wajahnya yang asli."
demikian si dara cilik nyerocos, tampaknya ia sangat manja.

Ang Hoa Lobo mendengar kata-kata Eng Lian angguk-


anggukkan kepalanya. "Tentu, itu jangan kau minta juga aku
akan sembuhkan muka anak In." sahutnya ramah.

Hatinya si dara cilik makin girang.

Pada malamnya lantas diadakan perjamuan sederhana.

Eng Lian yang tidak biasa minum arak, ia hanya disuguhi teh
saja. Teh yang wangi dan menyegarkan badannya. Maka ia
beberapa kali meneguk isi cangkir yang saban kali disilahkan
minum oleh Ang Hoa Lobo.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si nenek dan Siauw Cu Leng dengan gembira menemani


pesta perpisahan itu.

Setelah beberapa cangkir teh masuk dalam perutnya Eng


Lian, si dara cilik tiba-tiba menguap beberapa kali lantas
bangkit dari duduknya sambil berkata, "Aku sudah ngantuk,
biarlah aku tidur lebih dahulu........."

Baru saja ia mengucapkan 'dahulu........' lantas roboh terkulai,


dengkulnya dirasakan lemas. Lantas saja ia tidur di lantai, lupa
akan keadaan disekitarnya.

"Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo ketawa seram.

"Hebat obatmu, cici !" memuji si Iblis Alis Buntung.

"Ini baru tidur saja. Sebentar kalau dia sudah siuman, kau
boleh lihat bagaimana pengaruh obatku yang kuberikan
padanya. He he he......" si nenek berkata sangat bangga
tampaknya.

Eng Lian diantapkan saja tidur di lantai, sementara Ang Hoa


Lobo teruskan makan minumnya bersama Siauw Cu Leng
dengan gembira.

Kira-kira 1 jam sudah berlalu, tampak si gadis cilik mulai


mendusin.

Eng Lian kucak-kucak matanya kemudian bangkit dari


rebahnya. Matanya yang jeli halus kini berubah jadi beringas
seperti kerasukan setan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hi...hi....hi...........hihihi.........!" tiba-tiba Eng Lian ketawa


menyeramkan.

"Bagaimana ?" Ang Hoa Lobo tanya Siauw Cu Leng yang saat
itu jadi bengong melihat kelakuan Eng Lian.

"Begini !" sahut si Iblis Alis Buntung seraya mengacungkan


jempolnya.

Beringas sikapnya Eng Lian, menakutkan. Matanya terus


mengawasi Ang Hoa Lobo, tapi yang diawasi tinggal tenang-
tenang saja, malah ketawa ramah.

Tiba-tiba........ Eng Lian berteriak keras, lalu menubruk si


nenek. Kedua tangannya diangkat hendak mencengkeram
muka si nenek. Tapi dengan mudah kedua tangan si dara cilik
dipegangnya, lalu berkata, "Eng Lian, jangan kurang ajar
kepada suhu. Lekas berlutut !"

Sungguh mengherankan. Kata-kata Ang Hoa Lobo diturut


dengan serentak. Eng Lian jatuhkan dirinya berlutut, sambil
mengucap 'Suhu'.

Toan Bi Lo-mo Siauw Cu Leng hanya mendengar dari Ang


Hoa Lobo bahwa 'istrinya' itu mempunyai satu kepandaian
mengherankan. Ia belum mau percaya sebab kalau belum
melihat buktinya. Sekarang dengan mata kepala sendiri ia
menyaksikan kepandaian istimewa dari Ang Hoa Lobo. Diam-
diam bulu tengkuknya dirasakan pada berdiri, seram, makin
takut ia pada si nenek.

"Cu Leng." si nenek berkata pada si Iblis Alis Buntung yang


saat itu kelihatan duduk termangu-mangu. "Inilah kepandaian
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang diwariskan oleh suhuku, Lambay Mo Lie kepadaku,


murid tunggalnya. Obat itu dinamai 'Cian jit su su hun' (Obat
bubuk mematikan ingatan seribu hari). Siapa yang minum
akan membuat lupa siapa dirinya dan kejadian-kejadian yang
lampau, dia hanya mempunyai ingatan ada punya suhu,
kepada siapa dia harus setia dan menurut segala perintahnya.

"Sekarang bagaimana kita harus berbuat atas dirinya ?" tanya


Siauw Cu Leng.

"Eng Lian ada punya sepasang ular kecil." kata si nenek.


"Warnanya kekuning-kuningan seperti emas. Ditaruh dalam
sebuh bumbung mungil yang dia bawa-bawa dibadannya.
Kalau aku tanya kenapa sepasang ular itu tidak dia lepas,
katanya untuk menjaga dirinya. Dia ada seorang lemah, tidak
pandai silat. Kalau ada orang hendak berbuat jahat padanya,
dia dapat melepaskan ularnya untuk menggigit. Siapa yang
kena digigit oleh ular emasnya itu akan keracunan dan dalam
tempo setengah jam, kalau tak mendapat obat pemusnahnya
bakal mati dan tubuhnya lumer menjadi air tanpa bekas.........'

"Ah, sampai begitu hebatnya ?" menyela Siauw Cu Leng,


ketakutan dia.

"Itu aku belum buktikan sendiri. Mungkin omongannya tidak


salah. Katanya sepasang ular itu adalah pemberian ayahnya
dengan pesan kalau tidak keliwat terpaksa jangan dilepaskan
untuk membunuh orang. Makanya sampai sebegitu jauh dia
simpan saja sepasang ular emas itu dalam bumbung di
badannya.

"Aku tidak melihat dia kasih makan ularnya." kata Siauw Cu


Leng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sepasang ular itu bisa tiga bulan berturut-turut tidak makan."


menerangkan Ang Hoa Lobo. "Ini aku tahu dari Eng Lia.
Makanannya apa, aku sendiri tidak tahu sebab si Lian tidak
mau mengatakan padaku."

"Kalau sepasang ular itu begitu jahat, paling baik kita rampas
saja dari padanya, kita bunuh mati. Jadi tidak membahayakan
kita." usul Siauw Cu Leng.

"Jangan, jangan." sahut Ang Hoa Lobo seraya goyang-goyang


tangan. "Mati atau hidup sepasang ular itu bagi kita tidak
penting."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita takluki dia dan dijadikan


alat untuk kita. " usul Siauw Cu Leng bernapsu.

"Tidak bisa." sahut si nenek. "Sepasang ular itu tak dapat


ditakluki oleh kita kecuali oleh Eng Lian yang menjadi
majikannya. Juga tidak akan membahayakan pada kita karena
dalam keadaan tidak sadar, Eng Lian tentu akan menjadi alat
kita yang dapat kita gunakan untuk membunuh musuh-musuh
kita. Ini bukannya baik ?"

Siauw Cu Leng ketawa nyengir.

"Eng Lian selain punya senjata ampuh itu, juga punya senjata
lainnya yang tidak kurang ampuhnya." menerangkan Ang Hoa
Lobo.

"Senjata apa, cici ?" tanya Siauw Cu Leng.

"Setelah makan obatku, pikirannya menjadi linglung, gigitan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

giginya akan membuat orang yang digigitnya akan kepanasan


seperti dibakar jantungnya dalam tempo lima menit setelah
mana si korban akan sembuh kembali tapi ingatannya lantas
berubah dan tunduk kepada Eng Lian, dapat diperintah
sesukanya Eng Lian....."

"Ah, cici....... aku takut ! Kalau orang yang digigit Egn Lian itu
dapat diperintah Eng Lian. Bagaimana kalau Eng Lian perintah
orang menghajar kita ?"

"Tua bangka tolol !" jengek si nenek ketawa. "Mana bisa Eng
Lian suruh hajar kita sebab Eng Lian ada di bawah pengaruh
kita."

Siauw Cu Leng membungkam.

Sementara itu, Eng Lian tinggal berlutut di depan Ang Hoa


Lobo bagaikan patung.

"Sekarang Eng Lian sudah tidak ingat lagi akan dirinya. Perlu
dia mendapat pelayan-pelayan untuk melayaninya. Sebab
mana aku yang menjadi suhunya melayani dia mandi, makan,
temani kongkow segala. Dia harus mempunyai banyak
pelayan." Ang Hoa Lobo utarakan pikirannya.

"Habis, dari mana kita cari pelayan begitu banyak ?" tanya
Siauw Cu Leng, garuk-garuk kepala.

"Culik. Kenapa kau tidak bisa culik anak gadis orang ?" bentak
si nenek.

Si Iblis Alis Buntung ketawa nyengir. Memang jalan yang


paling mudah untuk mendapati pelayan-pelayan Eng Lian
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

harus menculik gadis-gadis orang.

Demikian, dengan menggunakan kepandaiannya yang tinggi,


Ang Hoa Lobo dan Siauw Cu Leng dalam beberapa hari saja
sudah dapat menculik banyak gadis-gadis dan anak lelaki
yang berusia tanggung sebaya dengan Eng Lian. Semuanya
dicekoki obat oleh Ang Hoa Lobo supaya ingatannya masing-
masing lenyap. Apa yang dipikirkan mereka hanya punya 1
suhu (guru) pada siapa haru setia dan menurut segala
perintahnya. Yang mereka anggap suhunya adalah Eng Lian,
bukannya Ang Hoa Lobo sebab si nenek sudah menjadi
suhunya Eng Lian. Tegasnya Ang Hoa Lobo menjadi sucow
(kakek guru) dari itu sekian banyak wanita dan pria tanggung.

Senang bukan main hatinya Ang Hoa Lobo melihat muridnya


Eng Lian dan cucu muridnya demikian banyak. Tentu saja ada
meminta biaya besar untuk mengongkosi mereka. Dari mana
di dapat biaya untuk itu ? Gampang. Suruh saja si Iblis Alis
Buntung mencuri atau membegal, maka biaya didapatkan
dengan mudahnya.

Dalam sedikit tempo saja, Eng Lian berubah menjadi ratu


tanpa mahkota.

Semua dayang-dayang yang menjadi pengiringnya


berseragam sutra putih yang tipis, pakai ikat kepala juga dari
sutra putih tertaneap sekuntum bunga dari sutra merah.
Sebaliknya, pria pakaiannya dari sutra kuning menyolok, ikat
kepalanya juga dari sutra kuning, tertancap sekuntum bunga
dari sutra merah seperti para wanita.

Ang Hoa Lobo namakan prajuritnya ini Ang Hoa Kun atau
Pasukan Kembang Merah, simbol (tanda) yang si nenek paling
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

suka.

Eng Lian berpakaian sutra tipis kuning keemas-emasan,


lapisnya dari sutra warna dadu sangat tipis hingga tubuhnya
yang halus putih berbayang. Ikat kepalanya dari sutra putih
dengan burung-burungan tengah mematuk setangkai bunga
merah. Kalau kepalanya Eng Lian bergerak, burung-burungan
itu angguk-anggukan karena dipasangi per. Indah sekali dan
menarik perhatian.

Para dayang, kecuali sutra tipis warna putih yang merupakan


pakaian luar, di bagian dalam tubuhnya dibungkus oleh sutra
biru ekstra tipis yang ketat hingga tubuhnya yang putih seperti
tercetak, menggiurkan, merangsang napsu lelaki yang
gampang goyah imannya. Sungguh jempol Ang Hoa Lobo
menciptakan mode pakaian yang merangsang napsu birahi.

Rupanya si nenek sudah mempunyai tujuan tertentu


menciptakan mode pakaian istimewa ini, yang membuat Siauw
Cu Leng bengong dan telan ludah.

Ang Hoa Lobo diam-diam bukannya tidak tahu Siauw Cu Leng


yang ceriwis mengiler sampai telan ludah untuk 'cicipi' salah
satu bidadari bikinan itu. Tapi ia pura-pura tidak tahu. Ia mau
kasih hajar pada suami diluar kawin itu supaya kapok atas
perbuatannya yang nyeleweng.

Begitulah telah terjadi. Sore itu Siauw Cu Leng berusaha


pulang dari bepergiannya. Ia dapatkan Ang Hoa Lobo dan Eng
Lian tidak ada ditempatnya. Ia mencari-cari tak terdapat di
sekitar rumah. Diam-diam ia sudah dekati salah satu
dayangnya Eng Lian yang bernama Cui Sian yang waktu itu
sudah benahi pakaiannya Eng Lian yang habis tukaran. Cui
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sian ketawa-ketawa diajak ngobrol oleh Siauw Cu Leng.


Sudah tentu ketawanya tidak wajar, linglung, tak tahu dimana
dirinya berada.

Memandang tubuhnya Cui Sian yang seperti tercetak dibalik


pakaiannya yang gerombongan tipis, bukan main ngilernya si
ceriwis Siauw Cu Leng. Pikirnya ini ada ketika baik, kenapa
dia tak mau gunakan ? Apalagi melihat keadaannya Cui Sian
seperti yang hilang ingatannya, apa ia bisa bikin kalau dia
perkosa atas dirinya ? Napsu birahinya timbul dengan
serentak, tak dapat ia mengendalikannya.

Ia maju lebih dekat, menyambar tangan orang yang putih


halus. Cui Sian hanya tertawa haha hihi seraya berontak-
berontak melepaskan tangannya dari cekalan Siauw Cu Leng.
"Cui Sian, mari kita main." berkata Siauw Cu Leng berbareng
ia memeluk dan mencium pipi Cui Sian. Beradunya tubuh yang
hangat membuat Siauw Cu Leng seperti kalap. Ia pondong si
nona hendak dikerjai di atas pembaringan tapi........'Aiyoo !'.
Sekonyong-konyong Siauw Cu Leng berjengkit, serentak ia
melepaskan pondongannya dan tubuhnya Cui Sian terbanting
di lantai. "Hihihihi........." si nona ketawa seraya lari keluar dari
kamar Eng Lian.

Kenapa Siauw Cu Leng ? Itu hasil dari pekerjaan yang tidak


sopan. Ia memondong Cui Sian dengan maksud keji tapi
sebelum napsu jahatnya kesampaian, lengannya sudah kena
digigit oleh Cui Sian. Bekas gigitan sakit bukan main sehingga
mengeluarkan teriakan 'Aiyoo !' dan lepaskan tubuh si nona
dari pondongannya. Seketika itu ia terkulai roboh, hawa panas
dirasakan meluap ke jantungnya seperti dibakar. Ia menjerit-
jerit beberapa kali kemudian tenang lagi dan dapat berdiri pula
sebagaimana biasa, hanya.... ingatannya hilang. Keadaannya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak beda seperti korban-korban lainnya yang kena dicekoki


obatnya Ang Hoa Lobo.

Siauw Cu Leng tidak sadar dimana dirinya berada. Perlahan-


lahan ia jalan dan berkumpul dengan golongan pria dari Ang
Hoa Kun.

Korban dari obatnya Ang Hoa Lobo yang istimewa memang


benar hilang ingatannya, tidak ingat lagi keadaan dirinya
siapa. Tapi dapat diajak ngobrol, bersenda gurau, ketawa-
ketawa apabila yang diobrolkan dapat mengitik urat ketawa
seperti juga keadaannya ada normal. Dia tidak akan digigit
kalau salah satu dari 3 bagian dari anggautanya tidak
kesentuh. Tiga bagian anggauta penting itu adalah jidat, buah
dada dan perut.

Kalau salah satu bagian ini kena kesentuh, kontan si korban


akan sadar bahwa dirinya dalam bahaya. Lantas saja
menggigit macam anjing gila menularkan racun. Giginya
nancap pada bagian daging yang digigit, menimbulkan hawa
panas nyelusup ke jantung seperti dibakar tapi hanya
sebentaran. Kemudian si korban gigitan normal lagi cuma saja
penyakit hilang ingatannya menular dan ia keadaannya akan
seperti yang menggigitnya.

Tiada seorang pun yang dapat tahu rahasia tiga bagian


anggauta yang tak dapat disentuh ini kecuali Ang Hoa Lobo
yang mewarisi ilmu sakti dari Lamhay Mo Lie.

Buah dadanya Cui San yang bulat menonjol membikin napsu


iblisnya Siauw Cu Leng melonjak, tak dapat ia melewatkan
kesempatan baik pikirnya. Diwaktu memondong Cui Sian ia
sudah mencium buah dada si nona dan.... karena sentuhan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mulut pada buah dada menyebabkan Cui Sian sadar akan


bahaya mengancam dirinya, otomatis seketika itu ia menggigit
lengannya si ceriwis sehingga menjerit kesakitan.

"Hehehe........." tertawa Ang Hoa Lobo ketika ia pulang melihat


keadaannya Siauw Cu Leng yang jadi hilang ingatannya. Ia
tidak mengenali istrinya, hanya ia memberi hormat pada Eng
Lian seperti kawan-kawannya yang lain. "Inilah ada satu
hukuman bagi orang yang menyeleweng. Cu Leng, Cu Leng,
sampai kapan tabiatmu yang buruk itu bisa dibuang ?
Hehehe........"

Siauw Cu Leng seperti tidak mendengar kata-kata Ang Hoa


Lobo, ia diam saja.

Si nenek lalu membisiki kupingnya Eng Lian, segera ia


berkata, "Siapa diantara kalian yang diganggu oleh Yaya ?
Maju ke depan !"

Saat itu Eng Lian sudah duduk diatas kursi kebesarannya,


didampingi oleh Ang Hoa Lobo dan dikitari oleh dayang-
dayangnya yang cantik-cantik. Eng Lian berkata pada dayang-
dayangnya yang berkumpul disitu.

Tanpa Eng Lian mengucapkan kedua kalinya, segera tampak


satu dara muncul tampil ke depan ialah Cui Sian. Ia ini berlutut
di depan Eng Lian. Ang Hoa Lobo perhatikan pakaian Cui
Sian, ternyata ada yang sobek pada bagian buah dadanya.

Si nenek manggut-manggut melihat itu. Ia sudah lantas


menduga sobeknya baju si nona pada bagian buah dadanya
adalah kerjaan tangan nakal dari Siauw Cu Leng.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Setelah hilang ingatannya, Eng Lian merubah panggilannya


kecuali pada si Nenek Kembang Merah sudah ia panggil Popo
(nenek), kepada Siauw Cu Leng ia panggil Yaya (kakek atau
engkong) yang biasanya si dara cilik panggil si nenek dan si
kakek jahat.

"Cu Leng, atas kelakuanmu yang ceriwis, aku hukum kau


untuk beberapa lamanya menjadi anggauta Ang-hoa kun !"
berkata si nenek.

Siauw Cu Leng tinggal membisu saja. Ang Hoa Lobo lupa


bahwa Siauw Cu Leng tak dapa menangkap omongannya
kecuali omongan itu keluar dari mulutnya Eng Lian sebab Eng
Lianlah dalam benaknya ada ia punya suhu.

Kapan Ang Hoa Lobo ingat akan keadaan itu, maka ia suruh
Eng Lian yang bicara pada Siauw Cu Leng dan sekarang si
kakek ceriwis kelihatan pucat mukanya, ia maju ke depan dan
jatuhkan diri berlutut di depan Eng Lian sambil manggut-
manggut dia berkata, "Hamba terima salah, mohon Siancu
punya belas kasihan."

Lucu kelakuan Siauw Cu Leng hingga Ang Hoa Lobo yang


melihatnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah mana, tiba-tiba
hatinya merasa menyesal. Pikirnya jelek, Siauw Cu Leng ada
lakinya dan teman diajak berunding. Kalau sekarang ia
ditinggal begitu, hilang ingatannya, dengan siapa dia dapat
bicara untuk mendamaikan cita-citanya lebih jauh. Lantaran
berpikir demikian, maka si nenek terpaksa mengembalikan
pula ingatannya si kakek ceriwis, dikasih obat pemunahnya.

Obat itu diaduk dengan air teh dalam sebuah mangkok, di


depan siapa ia berkata, "Nah, kau minumlah ini !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Siauw Cu Leng yang masih tetap berlutut tidak meladeni


perintah Ang Hoa Lobo, hanya matanya saja mengawasi si
nenek. Ang Hoa Lobo heran, tapi segera pikiran terangnya
berkelebat. "Ah, dasar sudha jadi nenek, pelupa. Kenapa aku
berbuat begini." ia berkata-kata sendirian sambil jalan
menghampiri Eng Lian.

"Anak Lian, kau suruh orangmu untuk kasih mangkok obat ini
pada yayamu supaya diminum isinya." Ang Hoa Lobo kata
pada Eng Lian seraya menyodorkan mangkok obat pada si
dara cilik yang lantas menyambuti kemudian diserahkan pada
salah satu dayangnya untuk melakukan perintahnya Ang Hoa
Lobo.

Kiranya si nenek kembali lupa bahwa anggauta-anggautanya


Ang-hoa-kun hanya tunduk perintah Siancu (dewi) yang
dianggap suhunya, lain orang jangan harap dapat memerintah
meskipun Ang Hoa Lobo yang menjadi Sucownya (kakek
guru).

Mendengar perintah Siancu, maka Siauw Cu Leng tanpa ragu-


ragu sudah lenyap terima mangkok yang disodorkan padanya
dan minum habis isinya. Sebentar lagi tampak ia menguap
beberapa kali, lalu roboh dilantai dan tidur pulas sampai
mengorok.

Sementara itu Eng Lian sudah suruh Cui Sian bangun dari
berlututnya dan disuruh tukar pakaiannya yang sobek. Cui
Sian menurut lalu meninggalkan ruangan itu.

Eng Lian ada memelihar sepasang ular kecil, warnanya


keemas-emasa yang disimpan dalam sebuah bumbung kecil
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mungil, entah dari dahan apa bumbung itu dibuat, bobotnya


enteng dan licin mengkilat. Sepasang ular itu panjangnya
masing-masing hanya tiga cun (dim), gesit luar biasa. Kalau
bumbung ditekan terbuka maka mereka segera mencelat
keluar dan menyambar pada korbannya untuk menggigit.
Racunnya sangat jahat karena korbannya dalam tempo
setengah jam akan mati dan badannya lumer menjadi air
tanpa meninggalkan bekas, kalau tidak keburu dapat obat
pemusnahnya.

Eng Lian tadinya tidak percaya demikian jahat bisa ular


emasnya itu. Tapi setelah menyaksikan sendiri, ia meleletkan
lidahnya. Itulah ia lihat pada waktu sepasang ular itu hendak
diwariskan padanya oleh sang ayah. Maksudnya untuk
menjaga dirinya. Pada saat itu telah dicoba sang ular disuruh
menggigit ular besar yang panjangnya satu meter. Benar saja
ular besar itu mati setelah kena digigit setengah jam lamanya,
bangkainya lumer menjadi air.

Sang ayah memesan kalau tidak sangat perlu, senjata ampuh


itu jangan dikeluarkan karena akibatnya sangat mengerikan.
Kepada Lo In ia masih belum mau ceritakan ia ada
mempunyai senjata ampuh itu. Takut Lo In nanti melarang ia
membawa-bawanya, sedang ia sangat sayang pada sepasang
ular itu, seakan-akan jimatnya.

Berdasarkan sepasang ular emas itu dan kebetulan Coa-kok


(Lembah ular) ada menjadi tempat kediamannya, maka Ang
Hoa Lobo telah memberi gelaran kepada Eng Lian, Kim Coa
Siancu atau Dewi Ular Emas. Memang gelaran ini sangat tepat
untuk Eng Lian karena si dara cilik adalah penakluk ular. Untuk
membikin si dara cilik lebih ditakuti lagi namanya, disamping
sudah punya kepandaian menakluki ular dan sepasang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

senjata ampuhnya ular emas, Ang Hoa Lobo dengan tidak


mengenal capek, siang malam dia didik Eng Lian dengan ilmu
silat, rahasia ilmu pedang dan pukulan tangan kosong yang
hebat diturunkan semua pada si dara cilik hingga dalam tempo
pendek Eng Lian sudah berubah dirinya dari gadis cilik yang
lemah gemulai menjadi gadis cilik yang gesit dan tangkas.
Tinggal menggembleng lwekangnya (tenaga dalam) saja,
setelah mana Eng Lian dapat digolongkan sebagai jago kelas
satu.

Setelah siuman kembali, Siauw Cu Leng nampak dirinya tidur


menggeletak di atas lantai, ia lantas ingat akan kesalahannya.
Ia jadi ketakutan pada Ang Hoa Lobo.

"Orang she Siauw." kata si nenek, setelah tertawa terkekeh-


kekeh. "Masih ada nyali untuk berbuat yang bukan-bukan lagi
nanti ? Kali ini aku mau ampunkan selembar jiwamu tapi lain
kali, hmm !"

Siauw Cu Leng malu, tidak berani ia angkat kepala. Ia masih


tinggal duduk dilantai, kalau tidak Ang Hoa Lobo membentak,
katanya, "Lekas bangun, atur pekerjaanmu sebagaimana
biasa !"

Siauw Cu Leng dengan roman lesu dan malu telah


meninggalkan ruangan itu untuk berkumpul dengan 'Pasukan
Kembang Merah' di lapangan latihan dimana ia biasa
mengajar ilmu silat kepada mereka.

Ang-hoa-kun bagian pria, mendapat didikan dari Siauw Cu


Leng sedang buat bagian wanitanya dididik sendiri oleh Ang
Hoa Lobo. Ketika hari pertama mendidik anak buahnya, si
nenek pernah berkata pada Siauw Cu Leng. "Kita masing-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

masing mendidik orang-orang muda yang berbakat. Sampai


dimana kepandaian mereka, kita tidak tahu. Tapi satu waktu
nanti aku akan mengadakan pertemuan umum, dimana murid-
muridmu akan dihadapkan dengan murid-muridku. Lihatlah
siapa yang lebih jempol mendidiknya !"

Karena sudah ada kata-kata demikian dari Ang Hoa Lobo,


maka Siauw Cu Leng tidak berani alpakan kewajibannya dan
mendidik orang-orangnya dengan sungguh-sungguh. Maka
tidak heran kalau dalam sedikit waktu orang-orangnya menjadi
pandai silat juga walau belum boleh dikatakan masuk kelas
satu.

Kata-kata Ang Hoa Lobo pada Siauw Cu Leng hanya sebagai


anjuran pada si kakek ceriwis. Sebab umumnya anak murid
Ang Hoa Lobo ada lebih tinggi ilmu silatnya karena dididik oleh
orang yang pandai seperti Ang Hoa Lobo. Kepandaian Siauw
Cu Leng kalah jauh dengan si nenek, apa lagi lwekang Ang
Hoa Lobo ada sangat tinggi.

Tidak sembarangan Ang Hoa Lobo maupun Siauw Cu Leng


menculik anak-anak tanggung pria dan wanita. Mereka
memilih hanya mereka yang dinilai berbakat untuk mendapat
didikan ilmu silat, barulah diculik dibawa ke Coa-kok.

Tidak heran kalau ada beberapa anak jago-jago silat


kenamaan yang hilang lenyap diculik Ang Hoa Lobo atau
Siauw Cu Leng sehingga orang tuanya menjadi gelagapan
mencarinya.

Adanya penculikan-penculikan itu telah menghebohkan


kalangan Kangouw.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jago-jago silat bergerak dengan serentak untuk mencari


jejaknya si penculik.

Sebenarnya perbuatan-perbuatan menculik dari kedua iblis itu


susah dicari jejaknya kalau tidak si nenek yang 'sok' dengan
kepopuleran nama. Pada belakangan ini, ia setelah menculik
anak orang telah meninggalkan nama Kim Coa Siancu. Malah
yang paling menghebohkan adalah kejadian dirumahnya Hek-
houw Ma Liong, guru silat kenamaan di kota Lengkoan,
Hokkian, dimana Ang Hoa Lobo membuat huru hara.

Sudah beberapa hari memang Ang Hoa Lobo ada tinggal di


kota Lengkoan untuk mencari gadis-gadis yang berbakat untuk
menjadi pelayannya Eng Lian. Ia ada mengincar pada Ma Sian
Bwee ialah gadisnya Hek-houw Ma Liong yang usianya hampir
sebaya dengan Eng Lian. Sian Bwee tubuhnya kecil, gesit dan
cerdik rupanya. Maka Ang Hoa Lobo sangat ketarik padanya.

Untuk terangkan meminta langsung pada orang tuanya, sudah


tentu tidak mungkin. Maka ia gunakan jalan sebagaimana
biasa menculik anak orang dengan menggunakan obat pulas,
tidak ada yang merintanginya. Tapi sekali ini perhitungan Ang
Hoa Lobo meleset. Ma Liong bukan sembarangan guru silat, ia
memang jago, murid kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng
Kim, Si Burung Kepala Dua yang terkenal dalam kalangan
jago-jago silat propinsi Hokkian.

Malam itu Ma Liong sedang berlatih dengan tiga orang


muridnya, Mak Kian anaknya sendiri, Gouw Liu Pa dan Hoan
Tek Huy. Tempat berlatih letaknya di pekarangan belakang
rumah, cukup lebar hingga mereka berlatih dengan penuh
semangat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cuaca malam itu tidak menentu, kadang-kadang terang dan


kadang-kadang gelap disebabkan sang awan yang menutupi
bulan muda baru nongol. Hek-houw Ma Liong yang tengah
memberi petunjuk-petunjuk pada murid-muridnya, tiba-tiba
bungkam mulutnya sambil matanya mengawasi ke jurusan
loteng rumahnya. Sekilas ia merasa seperti melihat ada
mencelat ke sana sesosok bayangan gesit luar biasa, sebentar
saja sudah lenyap.

Hatinya merasa tidak enak sebab diloteng sana ada tidur ia


punya anak gadis, Sian Bwee, hanya ditemani oleh seorang
pelayannya. Hek-houw Ma Liong menduga bayangan itu
mungkin ada Cay-hoa-cat (maling tukang petik bunga), hatinya
makin tidak enak akan keselamatan anak gadisnya.

"Kalian teruskan berlatih, aku ada urusan sebentar." ia berkata


tiba-tiba kepada ketiga muridnya berbareng ia sudah gerakkan
badannya melesat ke bawah loteng, dari mana ia enjot
tubuhnya untuk terus hinggap diatas melalui langkan.
Perlahan-lahan ia menghampiri pintu kamar anaknya. Melalui
lubang kunci, ia dapat lihat dalam kamar ada satu nenek
sedang membungkus tubuh anaknya dengan kain sprei.
Bukan main marahnya Hek-houw Ma Liong. Ia tendang pintu
hingga terbuka dan lompat masuk menerjang si nenek yang
tiada lain adalah Ang Hoa Lobo.

Mendengar pintu ditendang terbuka, dari mana ada bayangan


lompat menerjang dirinya, Ang Hoa Lobo cepat berkelit sambil
lepaskan bungkusan yang saat itu sudah siap diangkat ke
pundaknya.

"Maling kurang ajar, kau berani ganggu keluarga Ma ?"


demikian ada bentakan si Macan Hitam Ma Liong dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

marahnya ketika ia menerjang masuk dalam kamar Sian


Bwee. Ia menggunakan tipu 'Beng houw Pok yo' atau 'Harimau
buas menubruk kambing', dua tangannya diulur
mencengkeram kedua pundak si nenek untuk dengan
sekaligus menarik copot lengan orang sebatas pundak. Satu
serangan yang ganas karena si Macan Hitam Ma Liong sangat
gusar kepada si nenek.

Mungkin serangan Ma Liong yang ganas dan cepat itu berhasil


kalau yang diserang itu bukannya Ang Hoa Lobo, si nenek
yang sudah kawakan menggempur jago-jago silat dimana
saja. Dengan sedikit menggeser badannya, Ang Hoa Lobo
sudah dapat meluputkan diri dari serangan si Macan Hitam.

Melihat serangannya gagal, si guru silat sudah menyerang lagi


dengan gerakan 'Coa ong sim hiat' atau 'Ular mencari liang'. Ia
merangsak, tangan kirinya menyambar perut sedang tangan
kanannya berbareng nyelonong ke arah mata, dua jarinya
hendak mengorek sepasang lampu lawan. Tentu saja Ang Hoa
Lobo tidak ijinkan orang main-main dengan matanya. Tangan
kanannya menekan ke bawah tangan Ma Liong yang
menyambar perutnya sedang tangan kirinya menyentil dengan
cepat sekali pada 'siang-yang-hiat', jalan darah di jari telunjuk
lawan yang mau mengorek matanya.

'Nyer !' rasanya ketika telunjuknya kena disentil. Ma Liong


rasakan kesemutan dan ngilu. Tapi ia ada jago silat yang
keras kepala dan bandel, hanya sebentar saja ia sudah dapat
membebaskan rasa kesemutan dan ngilu.

"Nenek maling !" bentak Hek-houw Ma Liong gemas tapi agak


jeri juga melihat si nenek sangat lihai. Dua serangannya yang
dahsyat dapat dipatahkan dengan mudah, malah ia hampir
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dirobohkan dengan totokan 'siang-yang-hiat'. "Aku tidak


bermusuhan dengan kau. Kenapa kau mau mencelakakan
keluarga Ma ?" tanya Ma Liong.

"Aku tidak pernah mencelakakan keluarga Ma, aku hanya mau


ajak anak gadismu untuk menjadi pelayannya Kim Coa
Siancu....." jawab Ang Hoa Lobo tenang-tenang. Tapi ia tak
dapat meneruskan kata-katanya karena lantas dipotong oleh
Ma Liong, "Hah ! Apa kau kata ? Kim Coa Siancu ? Siapa kau,
apa kau Kim Coa Siancu sendiri ?"

"He he he !" tertawa Ang Hoa Lobo yang melihat Hek-houw Ma


Liong seperti yang ketakutan mendengar disebut Kim Coa
Siancu. "Aku bukannya Kim Coa Sincu, tapi aku ada
suruhannya saja. Kepandaianku amat rendah, beda jauh
dengan majikan Kim Coa Siancu yang dapat pergi dan pulang
dengan hanya berkesiur angin saja. Tak seorang pun dapat
melihat bayangannya kalau dia memasuki rumah orang."

(Bersambung)

Jilid 05
Hek-houw Ma Liong terkejut. Pikirnya, orang suruhannya
sudah begini lihai. Sudah terang si nenek tidak ngebohong
kalau Kim Coa Siancu sendiri ada jauh lebih lihai dari
padanya. Meskipun sangat jeri, ia tidak ingin kehilangan anak
gadisnya. Begitu melihat Ang Hoa Lobo sudah menyentuh
pula tubuh anak gadisnya, hendak diangkat. Lantas ia kalap.
Ia terjang si nenek dengan pukulan maut, tapi Ang Hoa Lobo
hanya geraki badannya sedikit, lantas tangan kanannya
diulurkan untuk menangkis. 'Krak' segera terdengar satu
suara, berbareng si Macan Hitam lompat mundur sambil
pegangi tangan kirinya yang telah patah tulangnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiba-tiba tiga sosok tubuh sudah menyerbu masuk. Mereka


ternyata murid-muridnya Ma Liong. Si guru silat melihat
kedatangan murid-muridnya bukannya girang malah ia jadi
ketakutan karena ia sudah perhitungkan, mereka bukan
tandingannya si nenek.

Ia hendak membuka mulut mencegah tapi sudah terlambat


karena Gouw Liu Pa yang berangasan sudah menerjang Ang
Hoa Lobo dibantu oleh Hoan Tek Huy sedang Ma Kian
menolong ayahnya yang dalam semaput kesakitan.

Ang Hoa Lobo pikir tidak seharusnya ia membuang-buang


waktu, maka ketika si berangasan Gouw Liu Pa mengulur
tangannya ke arah dada, ia menyampok dengan tangan
bajunya yang berisi lwekang. Tentu saja si berangasan tidak
tahan. Kedua lengannya ia rasakan seperti copot. Si nenek
susul dengan totokan ke iga kiri sehingga Gouw Liu Pa
seketika itu juga roboh di lantai.

Tek Huy melihat kawannya hanya segebrakan saja


dirobohkan, hatinya panas lalu menerjang Ang Hoa Lobo. Si
nenek berkelit ke samping, dari mana jarinya yang kurus diulur
meluncur menotok 'ceng-leng'hiat' di lengan kanan Tek Huy
sehingga merasakan lengan yang tertotok itu kesemutan dan
ngilu kemudian ia pun roboh terkulai seperti Gouw Liu Pa.

Ma Kian terkejut. Apa mau, sebelum ia turun tangan, dengan


kegesitannya si nenek sudah mendahului si anak guru silat,
menotok 'thian-ki-hiat' di iga kanan. Lantas Ma Kian juga roboh
seperti teman-temannya. Serangan is nenek tak puas sampai
disitu sebab segera menyusul si guru silat Ma Liong sendiri
dibikin mendeprok di lantai karena totokan si nenek yang lihai.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hehehe !" terdengar Ang Hoa Lobo tertawa ketika melihat


musuh-musuhnya sudah dirobohkan semua. Ia menghampiri
pembaringan Sian Bwee, membungkus tubuh si dara yang tak
bergerak karena ditotok lalu diangkat lantas dipanggul dibawa
pergi dari situ. "Aku hanya menotok tidak berat. Maka dalam
tempo tidak lama kalian sudah bebas pula dari totokan.
Hehehe....!" demikian si nenek meninggalkan kata-katanya
ketika ia mau berjalan pergi membawa Sian Bwee.

Si Macan Hitam Ma Liong dan ketiga muridnya hanya matanya


saja dapat bergerak-gerak mengawasi si nenek, mulutnya tak
dapat membuka suara untuk mencaci atau meminta belas
kasihannya Ang Hoa Lobo supaya jangan membawa Sian
Bwee.

Adalah pada saat si nenek menginjakkan kakinya ditanah,


barusan lompat dari atas genteng rumah tiba-tiba ia dibikin
kaget dengan teguran dari belakangnya, "Jalan perlahan
sedikit, orang tua. Jangan tergesa-gesa !"

Ang Hoa Lobo cepat menoleh, kiranya yang berkata-kata tadi


adalah seorang perempuan usia kira-kira 40 tahun. Mukanya
bundar, alisnya lentik, tingginya sedang, cantik wanita itu,
sedang ditangannya ada mencekal sebatang pedang yang
siap untuk digunakan dimana perlu.

"Kau siapa ?" tanya Ang Hoa Lobo.

Wanita itu ketawa manis sebelum menjawab, "Aku adalah


nyonya dari rumah ini." kemudian sahutnya, suaranya halus
terang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Oh, jadi kau ada nyonya Ma ?" tanya Ang Hoa Lobo pula.

"Tidak salah, aku adalah nyonya Ma.' sahutnya. "Ingin aku


menanyakan sebab apa kau orang tua mencari perkara
dengan keluarga kami disini ?"

"Heheheh !" tertawa Ang Hoa Lobo. "Soalnya aku mau


membawa anak gadismu dirintangi oleh suamimu. Kalau tidak,
tak akan aku menganggu ketentramanmu."

Nyonya Ma bersenyum tawar. Alisnya tampak berkerut,


"Meskipun kau sudah mengacau dalam rumahku, melukai
suamiku dan menotok rubuh tiga muridnya, tidak aku tarik
panjang. Kau boleh berlalu dengan tenang asal kau tinggalkan
itu bungkusan yang digemblik dipunggungmu. Akur ?" kata si
nyonya Ma.

Diam-diam si nenek merasa heran. Ia mengawasi wanita


cantik, pikirnya, bisa ada orang yang sikapnya begini tenang
menghadapi musuh yang sudah timbulkan kerugian. Ucap
katanya begitu merendah, seharusnya si nenek mengalah dan
kembalikan bungkusan gede itu kepada nyonya Ma, tapi dasar
watak si nenek mau unggul saja, tidak mau ia pulang dengan
tangan kosong. Maka ia lalu menjawab, "Seharusnya aku
menurut apa kau katakan, cuma dalam menjalankan perintah
Kim Coa Siancu, siapa yang berani membantah ? Inilah yang
menjadikan aku keberatan......."

Ia tutup kata-katanya sambil putar tubuhnya, disusul dengan


satu lompatan jauh untuk lantas meninggalkan si wanita
cantik. Tapi niatnya si nenek tidak kesampaian sebab
dibelakangnya lantas terdengar pula nyonya Ma berkata,
"Kalau begitu, marilah kita main-main untuk menetapkan siapa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

unggul !"

Kapan Ang Hoa Lobo balik tubuhnya, lantas ia menghampiri


nyonya Ma yang sudah siap dengan pedangnya. Melihat
caranya si nyonya menyusul ia yang lari menggunakan ilmu
larinya yang istimewa dengan mudah saja dapat membayangi
dirinya, maka Ang Hoa Lobo menduga bahwa wanita ini
bukannya lawanan empuk. Maka itu ia lalu turunkan
bungkusannya yang berisi Sian Bwee kemudian menghadapi
nyonya Ma, ia berkata, "Jika kau inin main-main, tidak ada
halangannya kita mencoba beberapa jurus !"

Toya besinya si nenek sudah disiapkan di tangan kanan.

"Bagus !" kata nyonya Ma. "Nah, sambutlah seranganku !" ia


menyambung tanpa ada tawar menawar lagi dalam hal siapa
lebih dahulu menyerang. Rupanya nyonya Ma sangat
mendongkol atas kelakuannya si nenek, meskipun sudah
dilayani dengan kerendahan juga masih kepala batu saja.

Dua jago betina segera sudah bertempur seru.

Ilmu pedang nyonya Ma baik sekali hingga Ang Hoa Lobo


berhati-hati melayaninya. Salah sedikit saja ia bisa
dipecundangi dan habislah cita-citanya untuk membangun
Ang-hoa-pay (Partai Kembang Merah). Maka itu si nenek
Kembang merah melayani nyonya Ma dengan sungguh-
sungguh hingga pertarungan menjadi seru.

Si wanita cantik (nyonya Ma) adalah puteri tunggal dari Siang-


tauw-niauw Kam Eng Kim, namanya Lian Eng dan mendapat
julukan 'Lengkoan Giok-li' atau 'Wanita elok dari kota
Lengkoan'. Selain kesohor kecantikannya, juga kesohor ilmu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pedangnya yang hebat.

Maklumlah puteri tunggal dari si Burung Kepala Dua yang


terkenal dalam propinsi Hokkian, semua kepandaiannya yang
ada diturunkan pada Lian Eng sehingga si juwita dari
Lengkoan itu menjadi jago betina yang belum menemukan
tandingannya. Kepandaiannya itu ada setingkat lebih tinggi
dari Hek-houw Ma Liong yang menjadi suaminya atau murid
kepala dari Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim.

Pertempuran antara Lian Eng Kam dan Ang Hoa Lobo benar-
benar ramai. Pedangnya Lian Eng berkelebatan mencari
sasaran penting pada tubuh si nenek. Sebaliknya, Ang Hoa
Lobo dengan toya besinya yang berat, berputaran dan toyanya
menyambar-nyambar keluarkan suara menderu-deru. Diam-
diam Lian Eng berpikir, orang suruhannya begini lihai,
bagaimana dengan Kim Coa Siancu sendiri kalau menyatroni
rumahnya ?

Lengkoan Giok-li lalu merangsek. Pedangnya berputar


sebentaran lalu dengan gerakan kilat ia menikam ke arah
tenggorokan Ang Hoa Lobo. Ini ada gerakan 'Giok li touw
kang' atau 'Wanita elok menyeberang sungai', salah satu jurus
yang penting dari Liu-su Kian-hoat atau ilmu silat pohon Liu,
yang menjadi kebanggaan ayahnya.

Biasanya Lian Eng belum pernah gagal menggunakan tipu


'Giok li touw kang', tapi kali ini yang dihadapi adalah Ang Hoa
Lobo. Terang tak semudah yang ia alami sebelumnya. Melihat
pedang hendak menikam 'jalan makanan', si nenek menaiki
badannya, toyanya dipegang dengan dua tangan dilintangi
menangkis serangan, kaki kanannya berbareng bekerja
menyapu kaki Lengkoan Giok-li. Ini adalah gerakan 'Liong
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pang heng ouw' atau 'Toya naga melindungi telaga'.

Melihat serangan gagal, malah kakinya hampir disapu si


nenek, cepat Lian Eng ganti serangannya dengan 'Peng ouw
se ie' atau 'Hujan gerimis ditengah telaga'. Pedangnya susul
menyusul mengarah mta, tenggorokan, pundak dan
sebagainya. Cepat gerakan pedang itu hingga kalau bukan
Ang Hoa Lobo yang ilmu toyanya tinggi, siang-siang ia sudah
dapat dirobohkan oleh si jago betina dari kota Lengkoan. Si
nenek tahu bahayanya serangan musuh lalu memutar
toyanya, dibarengi dengan suara ketawanya yang melengking,
menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat kacau pikiran
musuhnya yang sedang hebat menyerang. Inilah salah satu
jurus Ang Hoa Lobo yang paling ampuh yang dinamai 'Yu lim
mo siauw' atau 'Di rimba sunyi iblis tertawa'.

Benar saja, tipu silat si nenek membawa efek buruk bagi Lian
Eng. Sebab seketika ia mendengar suara tertawa yang seram
melengking, pemusatan pikirannya jadi terganggu. Hatinya
tergetar oleh suara tawa Ang Hoa Lobo, serangannya jadi
kacau. Kelemahan ini tidak disia-siakan oleh si nenek, toyanya
yang berputar tadi berganti arah, nyelonong ke 'hoa-kay-hiat',
jalan darah di bagian pundak kiri Lian Eng, kontan si wanita
cantik terkulai roboh. Ia rasakan totokan ujung toya si nenek
melumpuhkan lengan kirinya. Tangan kanannya masih
mencekal pedang tapi tak dapat digerakkan karena
kelumpuhan itu dari lengan kiri menjalar ke lengan kanan.
Tidak heran kalau pedangnyajatuh dengan sendirinya dan ia
mendeprok di tanah tak berdaya.

"Hehehe !" tertawa si nenek. "Bagaimana nyonya Ma yang


botoh ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ang Hoa Lobo berkata sambil bekerja, angkat dan panggul


pula bungkusan gede yang terisi Sian Bwee. Setelah selesai
dan tinggal berangkat, ia berkata pada Lian Eng, "Nyonya Ma,
kau tak usah kuatir. Anakmu akan kupelihara seperti anak
sendiri. Dia akan menjadi pelayannya Kim Coa Siancu.
Belakangan hari, kalau berjumpa pula dengannya, kau akan
kegirangan sebab ilmu silatnya akan berada diatas kalian
suami istri. Nah, selamat tinggal........"

Setelah melemparkan senyumannya yang tidak enak dilihat, si


nenek meninggalkan nyonya Ma yang tidak berdaya.
Lengkoan Giok-li mengawasi berlalunya Ang Hoa Lobo
dengan berlinang-linang air mata. Ia sangat berduka dan
penasaran anak gadisnya digondol orang tapi ia tak dapat
menolongnya.........

Sudah lama kita tinggalkan Kim Popo. Marilah kita lihat si


nenek bandel dengan pacarnya The Sam. Bagaimana
perbuatan mereka untuk dapat merebut kembali kotak yang
berisi buku Tiam-hiat Pit-koat yang berada di tangan Kim Wan
Thauto.

Belum lama Kim Wan Thauto sampai di Kunhiang, mereka


juga sudah datang menyusul dan dari kejauhan
memperhatikan gerak gerik dari si Thauto beranting emas.

Kim Popo tidak ambil tempat di rumah penginapan An Goan,


dimana Kim Wan Thauto menginap. Ini untuk menjaga jangan
sampai ia dikenali oleh Kim Wan Thauto sedang The Sam, ia
suruh ambil di rumah penginapan An Goan untuk
memperhatikan gerak gerik Thauto dimana bila ada
kesempatan The Sam boleh turun tangan untuk merampas
pulang kotak mungil berisi kitab pelajaran menotok jalan darah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang amat berharga.

The Sam menurut perintah pacarnya.

Tidak berani The Sam menghadapi Kim Wan Thauto dengan


terang-terangan. Maka ia menunggu sampai si Thauto lenah,
baru ia akan turun tangan. Pada malam kedua meliaht gerak
gerik Kim Wan Thauto pada waktu makan malam, The Sam
yang lihai matanya dapat menduga bahwa Kim Wan Thauto
sedang menghadapi suatu urusan, pikirnya, pasti ia akan
keluar lagi sebentar tengah malam. Ia sudah menduga pasti si
Thauto akan ambil jalan dari jendela kamarnya. Supaya
jangan bikin kaget orang, maka malam itu ia terus pasang
mata ke jurusan jendelanya si pendeta rambut panjang.

Benar lihai dugaannya sebab Kim Wan Thauto lewat tengah


malam betul saja keluar melalui jendela kamarnya. Girang
hatinya The Sam. Tidak lama si Thauto pergi, ia lantas masuk
ke kamar Kim Wan Thauto melalui jendela tadi dimana ia
menggeledah dan kegirangan menemukan barang yang
diselipkan dibawah bantal.

Barang itu ia masukkan ke kantongnya, kemudian meniup lilin


yang ia pasang ketika ia masuk dalam kamar itu yang dalam
keadaan gelap. Cepat ia keluar dari jendela dan dilain saat ia
sudah berada dalam kamarnya sendiri.

Setelah menyalakan lilin, ia duduk menghadapi meja. Dari


sakunya ia keluarkan kotak kecil yang barusan ia sikat dari
kamarnya Kim Wan Thauto.

Ia pandang kotak mungil itu sekian lama lalu mencoba


membukanya tapi tak dapat dibuka. Ia coba dan coba lagi,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kotak mungil itu tetap tak dapat dibuka.

Setelah dipandang lagi barang itu untuk sesaat lamanya, tiba-


tiba ia tertawa, "Hahaha ! Barng berharga memang sukar
didapat, biarlah aku buka belakangan."

Kemudian kotak itu ia letakkan diatas meja. Kembali ia


memandangnya, tiba-tiba pikiran serakah timbul seketika.
"Tidak, aku tidak akan serahkan barang ini pada Kim Nio. Aku
harus miliki dulu. Bila aku sudah pandai meyakinkannya dan
benar-benar dapat malang melintang dengan ilmu menotokku
yang hebat, barulah aku akan menemui Kim Nio lagi. Waktu itu
dia toh tidak akan memarahi aku lagi sebab aku sudah dapat
membujuk dia dengan turunkan sedikit kepandaian menotokku
kepadanya. Dia tentu sudah kegirangan dengan ilmu yang
didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat. Hahaha......" demikian ia
berkata-kata sendirian.

Sebentar lagi tampak The Sam menguap beberapa kali,


ngantuk dirasakan matanya. Lalu ia menghampiri
pembaringan dan tidur nyenyak disana tanpa memperhatikan
pula barang berharganya yang terletak diatas mejanya. Malah
ia lupa untuk meniup padam api lilin, yang biasanya
dipadamkan bila orang hendak masuk tidur.

Dalam keadaan gelap, tiba-tiba sesosok tubuh telah masuk


dalam kamar itu melalui jendela, kemudian cepat melompat
keluar lagi.

Pada keesokan harinya The Sam baru bangun setelah


matahari naik tinggi.

"Celaka, kenapa aku jadi kepulasan seperti orang mati !"


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkata The Sam sembari turun dari pembaringan,


menghampiri meja diatas mana ia taruh kota mungilnya.

"Hah !" ia terkejut karena kotak berharga itu sudah tidak ada
ditempatnya.

Dengan gugup ia memeriksa, malah sampai di kolong


mejanya, kalau-kalau kotak itu jatuh pikirnya. Tapi barang itu
tak diketemuka, lenyap, hilang entah siapa yang ambil. Baru
sekarang ia sadar akan keserakahan hatinya untuk memiliki
kepandaian hebat tapi akhirnya gigit jari.

Siapa yang ambil kotak berharga itu ? Apakah Kim Wan


Thauto ? Bagaimana ia harus melaporkan pada Kim Nio akan
kejadian itu ? Pikirnya, bagaimana juga ia harus menemui Kim
Nio (dimaksudkan Kim Popo) supaya bisa berdamai.
bagaimana baiknya untuk mendapatkan kembali barang
berharga itu.

Maka setelh ia cuci muka dan berpakaian rapi, lalu ia keluar


dari hotel An Goan menuju ke hotel Hok Lai untuk menemui
Kim Popo.

Belum sampai ia bertindak mencari kamar Kim Popo, tiba-tiba


ia dicegat oleh kuasa hotel yang berkata, "Aku ada titipan
sepucuk surat untuk tuan, marilah ikut ke kantorku." si pemilik
ajak The Sam ke kantornya.

"Surat dari siapa ?" tanya The Sam.

"Sebentar kalau tuan sudah lihat, tentu tahu surat itu dari
siapa." sahutnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sebentar lagi mereka sudah berada dalam kamar hotel. Si


kuasa hotel ambil surat dari dalam lacinya lalu diserahkan
kepada The Sam.

Ia tidak punya sahabat atau kenalan yang dapat mengadakan


surat menyurat. Dari mana datangnya surat itu ? Tanyanya
dalam hati kecilnya. Tapi bagaimana juga ia harus membuka
dan membaca isinya, baru ketahuan siapa pengirimnya.

Koko,
Setelah aku sudah pandai meyakinkannya dan dapat
malang melintang dengan ilmu menotokku yang hebat,
barulah aku akan menemui kau lagi. Waktu itu, sebab aku
sudah dapat membujuk kau dengan menurunkan sedikit
kepandaian menotokku kepadamu. Kau tentu akan kegirangan
dengan ilmu totok yang didapatkan dari Tiam-hiat Pit-koat.
Hihihi...."

Surat itu tidak ditandatangani tapi sudah terang sekali bagi


The Sam bahwa surat itu ditulis oleh Kim Popo alias Kim Nio.
Kata-katanya persis seperti yang dikatakan tadi malam, maka
kotak kecil itu juga sudah tentu telah terbang bersama Kim
Popo. Ia sesalkan dirinya yang tidak jujur. Sekarang ia
kehilangan kotak berharga dan kehilangan juga Kim Nio,
malah kehilangan juga kepercayaan sang pacar itu,
bagaimana ia ada muka nanti bertemu lagi dengan Kim Popo
?

Dalam keadaan lesu The Sam meninggalkan kantor hotel Hok


Lay, tidak jadi mencari kamarnya Kim Popo sebab
penghuninya sudah terbang tadi pagi-pagi sekali, menurut
kuasa hotel.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya Kim Popo tidak percaya seratur persen atas


kejujuran The Sam. Maka kalau The Sam membayangi Kim
Wan Thauto, ia sendiri tidak tahu kalau dirinya dibayangi juga
oleh Kim Popo. Kata-katanya yang diucapkan dalam
kamarnya, semua terdengar tegas oleh Kim Popo yang
mengintip dari jendela.

"Kurang ajar ! Dia mau main gila denganku. Hmm !" diam-diam
Kim Popo berkata dalam hati kecilnya. Kemudian dia menyulut
hio obat pulas yang asapnya ia tiup masuk ke dalam kamar
The Sam. Sebentar saja tampak The Sam mengantuk dan
menguap beberapa kali, akan kemudian saking tidak tahan ia
sudah banting dirinya di pembaringan dan tidur nyenyak, tidak
menghiraukan kotak berharganya disikat Kim Popo.

Sekarang kita kembali pada Liu Wangwee.

Liu Wangwee sangat berterima kasih kepada si kerudung


merah. Disamping itu, ia menyesal sekali tidak dapat
mengetahui siapa adanya bintang penolongnya itu sampai
pada saat si kerudung merah meninggalkan rumahnya.

Dari suara bicara bintang penolongnya, seperti ia pernah


mendengarnya cuma ia lupa dimana ia pernah mendengar
suara itu. Meskipun ia coba kumpul ingatannya, tapi tetap
luput untuk mengingatkan dimana ia pernah ketemu dengan
orang yang suaranya tidak asing ditelinganya. Ingin sekali ia
menjambret kerudung si kerudung merah tetapi sudah tentu
keinginan itu tak dapat ia wujudkan karena perbuatan itu tentu
tak sopan.

Ia hanya boleh terhibur hatinya ketika si kerudung merah


meninggalkan, memesannya, "Toako, kau jangan kuatirkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lagi kepada Sucoan Sam-sat karena mereka tentu tidak akan


berani lagi datang kemari sedang bentrokan dengan Tan Kong
Ceng sebaikanya diselesaikan saja agar tidak menanam
permusuhan yang tidak ada gunanya."

"Terima kasih atas nasihat Injin (tuan penolong),aku akan


perhatikan betul-betul. Cuma saja....." Liu Wangwee tidak
dapat menemukan kata-katanya, sebaliknya ia tersenyum
kepada tamunya yang aneh itu.

"Cuma saja apa, toako ?" tanya si kerudung merah.

"Cuma saja aku menyesal tak dapat melihat wajah Injin." sahut
Liu Wangwee.

"Untuk apa melihat wajahku. Kita berkenalan cara begini saja


sudah cukup." kata si kerudung merah, ia tertawa gelak-gelak.

Liu Wangwee terkejut, suara tertawa itu seperti ia kenal baik


tapi dimana ia pernah mendengarnya, siapa orangnya ? Maka
dengan bernapsu berkata, "Injin, suara ketawamu aku kenal
benar, hanya dimana aku pernah mendengarnya aku sudah
lupa lagi. Dasar aku sudah tua, tukang pelupa !"

"Toako kenal suara tawaku, itu sudah bagus." sahut si


kerudung merah. "Sekarang belum waktunya aku
memperkenalkan wajahku tapi ada suatu waktu, tentu aku
akan datang pula untuk menyambangi toako dan disitulah
toako nanti kenali siapa diriku."

Liu Wangwee tidak memaksa si kerudung merah untuk


memperkenalkan diri karena sudah jelas si bintang penolong
sungkan berbuat demikian. Maka ia suruh seorang pelayan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

untuk panggil keluar nonanya, untuk kasih selamat jalan


kepada bintang penolongnya yang hendak berangkat hari itu.
Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah keluar, lalu Liu
Wangwee berkata pada gadisnya, "Anak Hiang, Injin akan
berangkat hari ini juga. Lekas kau mengucapkan selamat jalan
dan terima kasih."

Bwee Hiang lantas berlutut dihadapan si kerudung merah


yang sedang duduk di kursi.

"Budi Injin sebesar gunung, entah dengan apa kami dari


keluarga Liu dapat membalasnya. Moga-moga Thian akan
melindungi Injin dalam perjalanan dengan tak kurang suatu
apa pun. Bwee Hiang mengharap perpisahan ini hanya untuk
sementara saja dan segera akan disusul oleh kunjungan Injin
sehingga Bwee Hiang dapat melayani Injin lagi..." demikian si
gadis mengucapkan kata-kata selamat berpisahnya, air
matanya tampak bercucuran jatuh di lantai.

Bwee Hiang sangat duka hatinya. Ia tidak menduga si


kerudung merah akan meninggalkan mereka demikian
cepatnya sebab hari kemarin ia duduk berkumpul dengan si
bintang penolong, tidak ada omongan bahwa si kerudung
merah akan berangkat hari ini.

Dalam beberapa hari berkumpul, disamping si kerudung


merah terus mengobati ayahnya, tamu asing itu sangat ramah
terhadap dirinya. Ia dapat banyak petunjuk dalam hal ilmu silat
maupun sastra, dan Bwee Hiang juga sangat hormat dalam
pelayanannya sehingga si kerudung merah kelihatan betah
tinggal dalam rumah Liu Wangwee.

Sebagaimana dengan ayahnya, Bwee Hiang juga sudah


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berusaha memancing siapa dirinya si kerudung merah tapi


tamu itu selalu kesampingkan omongan yang menyinggung
tentang keadaan dirinya, maka Bwee Hiang tidak berani
mendesak.

Kini tiba-tiba ia mendengar si kerudung merah akan angkat


kaki dari rumahnya, tentu saja si nona menjadi terkejut dan
merasa sangat sedih.

Seraya mengelus-elus rambut si nona, si kerudung merah


berkata, "Anak Hiang, kau tak usah menangis. Kau lupa
dengan peribahasa yang mengatakan, 'Tiap ada berkumpul.
selalu ada berpisah'. Maka perpisahan ini semoga disusul
dengan kunjunganku berikutnya. Kata-katamu ini tepat sekali.
Nah, bangunlah nak !"

Sementara Bwee Hiang bangkit dari berlututnya sambil


menyusuti air matanya dengan saputangan berbareng si
kerudung merah juga bangkit dari duduknya. Setelah angkat
tangan menyoja pada Liu Wangwee, dengan tidak berkata
apa-apa lagi ia putar tubuhnya dan meninggalkan ruangan itu
dengan cepat sehingga Liu Wangwee tertegun ditempatnya
melihat sikap tamunya yang aneh itu.

Sebentar saja si kerudung merah sudah lenyap dari


pandangan mereka.

Sejak itu ayah dan anak itu berlatih keras dalam ilmu pukulan
maupun pedang untuk berjaga-jaga kalau-kalau dari pihaknya
Tan Kong Ceng mencari gara-gara pula.

Dengan dapat beberapa petunjuk yang berharga dari si


kerudung merah, dalam tempo pendek ilmu pedang Bwee
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hiang sudah berubah jauh. Ia merasa girang akan


kemajuannya itu tapi ia tidak pernah lupa untuk berterima
kasih kepada tamu anehnya itu.

Hari lewat dengan cepat laksana anak panah yang melesat


dari busurnya. Tanpa terasa sudah satu tahun setengah
dilewati sejak kunjungannya si kerudung merah. Ternyata si
bintang penolong tidak kelihatan mata hidungnya pula. Tapi
Liu Wangwee dan Bwee Hiang tentram hatinya karena ilmus
ialtnya sudah banyak maju.

Sementara itu desa Kunhiang pun sudah banyak berubah.


Desa itu maju karena pabrik-pabrik disitu bertamah banyak.
Penduduk makin banyak sehingga makin ramai desa itu,
tentam dan aman. Hartawan Tan juga tidak mencari gara-gara
pula kepada Liu Wangwee.

Liu Wangwee mengira keadaan akan dinikmati terus dampai


hari tuanya, tidak dikira pada suatu hari ia dibikin terkejut
dengan adanya kabar yang tersiar bahwa Sucoan Samsat
sudah kembali mengganas. Mereka sedang mencari si
kerudung merah.

Kabar yang mengagetkan Liu Wangwee adanya berita yang


mengatakan bahwa Sucoan Sam-sat akan membakar dan
menghancurkan desa Kunhiang kalau mereka tidak
menemukan si kerudung merah. Mereka hendak
melampiaskan angkara murkanya kepada desa Kunhiang
sebagai gantinya si kerudung merah.

Bingung hatinya Liu Wangwee bersama gadisnya. Kemana


mencari si kerudung merah yang sampai sebegitu jauh tidak
mengunjungi rumahnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiba-tiba Liu Wangwee ingat akan sahabatnya yang tinggal


dikota Gakwan, dibawah kaki gunung Hengsan, ialah Soat-
cian Ang Ban Teng, Pangcu dari Ceng Gee Pang.

Pikirnya, Ceng Gee Pang ada mempunyai banyak anggauta,


tersebar luas, siapa tahu dengan bantuan Pangcu dari Ceng
Gee Pang, ia dapat berita dimana adanya si kerudung merah
supaya dapat diberitahukan tentang maksud Sucoan Sam-sat
mencarinya.

Demikianlah, Liu Wangwee setelah memesan Bwee Hiang


untuk berhati-hati dirumah, ia berangkat ke kota Gakwan
menemui Ang Ban Teng dan minta pertolongan sahabat ini.

Ang Ban Teng dan Liu Wangwee ada sahabat dari banyak
tahun, maka pertemuan mereka sangat menggembirakan. Liu
Wangwee tidak minta bantuan sang sahabat untuk
menghadapi tiga algojo dari Sucoan, ia hanya minta bantuan
supaya mendengar-dengar dimana adanya si kerudung
merah. Ang Ban teng menjanjikan akan membantunya.

Meskipun tidak diminta bantuan untuk menghadapi Sucoan


Sam-sat, Ang Ban Teng tidak enak nampak sahabatnya
menghadapi bencana, maka Pangcu dari Ceng Gee Pang itu
sudah perlukan malam-malam mengunjungi markas
cabangnya di atas jurang Tong-hong-gay seperti yang kita
ceritakan disebelah atas.

Sudah dua minggu lamanya sejak kunjungannya pada Ang


Ban Teng, diam-diam Liu Wangwee merasa cemas hatinya
karena belum mendapat berita apa-apa dari sahabat itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pada suatu siang hari untuk menghibur diri dari


kecemasannya, Liu Wangwee jalan-jalan disekitra desa dan
akhirnya memasuki rumah makan An Goan dimana ia minta
disediakan arak dan makanan sederhana untuk mengisi
perutnya.

Setelah ia menengak beberapa sloki araknya, tiba-tiba ia


dibikin kaget oleh suara ramai-ramai diatas loteng. Ketika ia
melihat ke loteng, saat itu satu anak kecil tengah dilemparkan
oleh dua pelayan rumah makan melalui langkan.

Liu Wangwee memeramkan matanya saking ngeri melihat


adegan itu. Pikirnya, anak kecil dilempar dari atas loteng yang
demikian tinggi, bagaimana jadinya kalau sebentar jatuh diatas
lantai. Kalau tidak hancur, sedikitnya anak itu bakalan
setengah mati keadaannya. Ketika ia membuka pula matanya,
tiba-tiba ia berseru, "Eh...."

Matanya terbelalak heran sebab anak kecil itu tampak lagi


berdiri tidak kurang suatu apa, hanya kedua tangannya
memegangi perutnya.

Tampak dua pelayan yang melemparkan si bocah turun dan


satu diantaranya yang dipanggil Lo-ji telah mendamprat. "Enak
saja kau ngomong. Besok-besok sampai kapan kau akan
membayarnya ? Memangnya uang sewa kamar disini boleh
diulur-ulurkan ? Hmm ! Bocah, lebih baikkau sekarang pergi
dari sini supaya jangan aku si Lo-ji menggebuki kau setengah
mati. Hayu, pergi sana. Bocah tukang sikat !"

"Aku bukan mau sikat uang sewaan kamar cuma aku mau
minta tempo besok." kata si anak kecil.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo-sam, kawannya Lo-ji menghampiri si bocah, katanya,


"Sudah, sudah, hayo keluar. Jangan sampai Lo-ji turun tangan
!"

Lo-sam berkata sambil menjoroki si anak kecil hingga


sempoyongan.

Tamu-tamu rumah makan itu jadi pada menonton kejadian itu.

Mereka lihat si anak kecil wajahnya hitam legam seperti pantat


kuali, usianya kira-kira baru 14 tahun, cuma perawakannya
ada tinggi kurus. Entah anak siapa dia, para tamu menanya
dalam hatinya.

Ada yang menanyakan pada Lo-ji, lalu menerangkan. "Aku


tidak tahu dia anak siapa, hanya dia sudah menginap disini
selama tiga malam. Ketika diminta uang sewa kamar dan
makan, katanya besok, besok kapan ? Dia memang anak
gembel yang kesasar ke sini rupanya."

Lo-ji tutup kata-katanya sambil menghampiri si bocah yang


belum mau pergi.

Ia ulur tangannya dan menjoroki lagi sambil berkata, "Lekas


keluar, aku tak ingin melihat cecongormu, tukang sikat !"

Kembali si bocah sempoyongan, malah kali ini sampai


terpelanting tapi ia cepat bangun lagi. Para tamu pada ketawa
terbahak-bahak melihat kejadian itu.

Hanya Liu Wangwee yang lihai matanya tidak turut ketawa.

Sedari tadi, pada saat ia buka matanya melihat si bocah tidak


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

apa-apa dilempar dari atas loteng, hatinya merasa heran.


Sekarang ia menyaksikan si anak kecil dijoroki sempoyongan
sampai terpelanting lagi, tapi kakinya antap betul. Anak itu
seperti mempunyai kepandaian yang disembunyikan.

Melihat si bocah belum mau keluar, dua pelayan itu makin


marah. Dua orang lalu menubruk mau menggusur si anak
hitam dilempar keluar. Benar si bocah kena dicekal tapi waktu
mau diseret tidak bergeming seperti nyangkut pada tiang besi.
Tapi ini hanya sejenak saja, sebab lantas si bocah dapat
diseretoleh dua pelayan itu.

Dasar orang-orang dogol, pikirnya, barusan si bocah tidak


bergeming diseret lantaran kurang keras gentaknya, maka
mereka ulangi lagi, benar saja anak kecil itu kena diseret.

"Tahan !" tiba-tiba Liu Wangwee berkata ketika melihat si


bocah mau dilempar keluar.

Dua pelayan itu hentikan niatnya melempar si anak kecil


keluar. Mereka lihat ada orang menghampiri mereka, lantas
mereka kenali itu adalah Liu Wangwee, ketua dari orang-orang
kaya dalam desa itu.

Dengan sangat hormat, mereka menanyakan apa maksudnya


si hartawan mengucapkan kata 'Tahan !' yang mana dijawab
oleh Liu Wangwee, "Kalian lepaskan anak ini, semua
hutangnya aku yang tanggung !"

Dua pelayan itu melengak. Tapi tidak berani membantah,


maka seketika itu mereka melepaskan cekalannya hingga si
anak kecil sekarang bebas.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Anak itu ketawa nyengir pada mereka, lalu membungkukkan


badan memberi hormat pada Liu Wangwee, katanya, "Terima
kasih atas kebaikan Lope."

"Anak kurang ajar, Loya begitu kenapa dipanggil Lope ?"


semprot Lo-ji mau ambil muka Liu Wangwee.

Tapi hartawan Liu menggoyangkan tangannya, "Kalian sudah


tidak ada urusan lagi, lekas layani tamu-tamu lainnya !"

Lo-ji jadi bengong. Dikira bakal dipuji tapi kenyataannya


menerima kata-kata pahit dari Liu Wangwee.

Lo-ji dan Lo-sam pada ngeloyor pergi.

"Anak, mari kita makan sama-sama." kata Liu Wangwee


seraya tangannya diulur mencekal lengan si anak kecil diajak
ke mejanya.

Liu Wangwee minta pelayan tambah hidangan lagi.

Setelah sama-sama sudah ambil tempat duduk, Liu Wangwee


menanya, "Anak, namamu siapa ?"

"Aku she Lo, nama In." sahut si anak kecil, yang memang Lo
In adanya. "Aku ribut dengan pelayan itu lantaran......."

"Sudah, sudah." memotong Liu Wangwee seraya goyang-


goyang tangannya. "Urusan dengan mereka sudah aku
bereskan, jadi tak usah kau sebut-sebut lagi. Aku hanya mau
berkenalan dengan kau, sebenarnya kau anak siapa ?"

Mendapat pertanyaan itu, Lo In tidak lantas menjawab. Ia


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kerutkan keningnya, berpikir apakah ia boleh mengaku ia


anaknya Kwee Cu Giok ? Tidak bisa, sebab ia tidak kenal
siapa Kwee Cu Giok itu. Anak Liok Sinshe juga tidak tepat
sebab Liok Sinshe janya pelindungnya saja, ia jadi sangsi.

"Anak, kau dapat kesulitan untuk menyebutkan nama orang


tuamu ?" tanya Liu Wangwee yang melihat Lo In seperti yang
ragu-ragu akan menyebutnya.

"Oh, bukan, bukan." sahut Lo In gugup. "Aku sendiri tidak tahu


aku anak siapa, maka aku jadi ragu-ragu untuk menjawabnya."
Lo In berkata dengan malu-malu, sambil tundukkan kepalanya.

Liu Wangwee ketawa. "Tidak apa, mari kita makan. Eh,


barusan aku lihat kau memegangi perut saja, apa kau sakit ?"

"Memang aku lagi sakit perut, tapi sekarang sudah baik."


jawab Lo In.

"Lantaran tubuhmu didorong-dorong tadi oleh dua orang dogol


itu, rupanya perutmu terkojak-kojak hingga perutmu kabur
sendirinya. Hahaha..." Liu Wangwee tertawa.

Lo In turut tertawa.

"Mari kita makan." mengundang hartawan Liu.

Lo In tidak diundang untuk kedua kalinya, ia hantam saja


makanan yang sudah tersedia di depannya. Sudah lama ia
hanya makan buah-buahan saja, kini menghadapi makanan
enak bukan main senangnya. Hampir kenyang, tiba-tiba ia
ingat sesuatu dalam benaknya, maka seketika itu ia letakkan
mangkok dan sumpitnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia bengong, dari kedua matanya tampak ada mengembeng air


mata.

Liu Wangwee heran melihat kelakuannya Lo In, ia menanya,


"Nak, kenapa ? Apa kau rasakan perutmu sakit lagi ?"

Lo In geleng kepala. "Aku menghadapi makanan seenak ini,


aku jadi ingat kepada seseorang yang pernah mengajak aku
makan seperti Lope sekarang ini." kata Lo In seraya menyusut
air matanya dengan tangan bajunya.

"Siapa orang itu ?" tanya Liu Wangwee.

"Lebih baik aku tidak menyebutkan namanya." sahut Lo In.


"Sebab dengan menyebutkan namanya aku menjadi lebih
sedih lagi."

Liu Wangwee tidak menanya panjang. Ia hanya menghibur,


"Orang baik memang selalu diingat orang, biarlah orang itu
mendapat lindungan Thian. Anak, kau jangan sedih, sebaiknya
kau makan terus dan lebih banyak."

Mendengar hiburan Liu Wangwee, bukannya Lo In terhibur


sebaliknya malah ia menangis tersedu-sedu hingga membuat
tamu-tamu yang duduk disekitarnya menjadi heran.

Liu Wangwee merasa tidak enak. "Nak, mari kita pulang. Di


rumah ada enci yang dapat menghiburmu."

Dengan serentak Lo In hentikan tangisnya yang terisak-isak


ketika mendengar Liu Wangwee menyebutkan kata 'enci'. Ia
ingat akan enci Eng Lian-nya. Apakah yang dimaksud oleh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orang tua didepannya ini ada enci Eng Lian-nya ?

Lo In anggukkan kepalanya.

Liu Wangwee heran melihat kelakuannya si anak hitam,


apakah dia kurang waras ingatannya, tadi menangis tersedu-
sedu sekarang berhenti menangis seraya mengangguk,a pa
yang ia anggukkan ? Justru kelakuan Lo In yang ia anggap
aneh itu yang membuat Liu Wangwee makin keras niatnya
untuk mengetahui rahasia dirinya si bocah.

Meskipun ditutup oleh wajahnya yang hitam, mata Lo In yang


tajam bercahaya tidak bisa menutup matanya Liu Wangwee
yang lihai. Orang tua itu menduga pasti si bocah ada
berkepandaian sangat tinggi dilihat dari sorot matanya yang
tajam luar biasa seakan-akan ada membungkus tenaga dalam
yang dahsyat.

Setelah membayar uang makanan, Liu Wangwee lantas ajak


Lo In berlalu dari situ.

"Kau mau ajak aku kemana, Lope ?' tanya Lo In seperti yang
linglung.

"mari kita pulang." sahut Liu Wangwee manis budi.

"Pulang kemana ?" si bocah menanya heran.

"Ke rumahku. Mari, disana kita bisa ngomong-ngomong


dengan tiada yang ganggu." Liu Wangwee kata seraya tarik
tangan Lo In.

"Nanti dulu, aku mau ambil pakaianku sebentar." kata Lo In


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sambil terus lari naik tangga loteng masuk ke kamarnya.


Sebentar lagi ia sudah turun lagi dengan membawa buntalan
kecil. Liu Wangwee ketawa melihat kelakuan Lo In yang lucu.

Dalam perjalanan, Lo In menanya, "Lope kata tadi di rumah


ada enci ?"

"Ya, benar ada enci. Di sana kau akan ketemu enci." sahut Liu
Wangwee.

Lo In kegirangan. Jalannya makin cepat hingga Liu Wangwee


terheran-heran sebab ia sudah gunakan jalan cepat untuk
mencoba meninggalkan si bocah, kenyataannya Lo In masih
terus mengintil dalam jarang yang dekat sekali dengannya.

-- 14 --

Ketika sampai dirumah, Bwee Hiang heran melihat ayahnya


membawa pulang satu anak berwajah hitam seperti pantat
kuali. "Nah, ini encimu." kata Liu Wangwee memperkenalkan
anak gadisnya pada si bocah.

"Bukan, bukan, dia bukan enci Lianku." sahut si bocah


mengawasi Bwee Hiang.

"Siapa itu enci Lianmu ?" tanya Bwee Hiang, tersenyum


manis.

Lo In ketawa nyengir. Lucu kelihatannya hingga Bwee Hiang


tertawa ngikik.

"Anak Hiang, kau bawa masuk adikmu itu." kata Liu Wangwee
dari sebelah dalam, yang sudah masuk lebih dahulu setelah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memperkenalkan Bwee Hiang pada Lo In.

"Adik, mari masuk." kata Bwee Hiang.

"Ah, aku tidak mau. Tidak ada enci Lian, buat apa aku masuk."
kata si bocah seraya mundur dan mau ngeloyor dari depan
pintu masuk.

"hei, kau mau kemana ? Mari masuk, di dalam nanti enci kasih
makanan enak." membujuk Bwee Hiang seraya cekal
tangannya Lo In ditarik masuk ke dalam.

Lo In sudah mau bebaskan tangannya yang dicekal si gadis


kalau ia tidak mendengar Bwee Hiang kata 'mau kasih
makanan enak'. Ia ragu-ragu makanan enak apa yang akan
diberikan padanya oleh enci yang baru dikenal itu.

Lagian Bwee Hiang kelihatan ramah tamah meskipun tidak


selincah enci Liannya, si bocah merasa malu hati. Maka ia
menurut dituntun oleh Bwee Hiang dibawa masuk ke dalam
rumah dimana Lo In dapat lihat perabotan dan perhiasan
rumah itu sangat indah dan menarik perhatiannya.

Dasar orang gunung, ia menanya ini itu pada Bwee Hiang,


kapan ia melihat barang yang menarik hatinya. Si gadis sangat
sabar, ia memberi keterangan dengan terang hingga Lo In
menjadi girang.

"Ini namanya apa ?" tanya Lo In pada Bwee Hiang seraya


menunjuk sesuatu ketika ia dibawa ke ruang belakang.

Bwee Hiang pintar, otaknya cerdas. Melihat Lo In laga lagunya


seperti baru keluar dari pegunungan, maka ia selalu melayani
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

gerak geriknya supaya si bocah senang.

Apalagi barusan dikisiki oleh ayahnya supaya ia perlakukan si


bocah baik-baik karena bocah itu ada isinya. Maka Bwee
Hiang menjaga hati-hati supaya tidak membikin hatinya si
anak kecil kurang senang.

Ketika ia ditanya Lo In sambil tersenyum ia menjawab, "Aku


Bwee Hiang, dan kau, siapa namamu ?"

"Aku she Lo nama In, enci Hiang." jawabnya seraya nyengir


ketawa.

Nyengir ketawa dalam wajah hitam macam pantat kuali, tentu


saja kelihatannya lucu dan tak tahan Bwee Hiang untuk tidak
tertawa. Ia ngikik ketawa sambil menekap mulutnya dengan
tangannya yang halus putih.

Lo In senang melihat teman barunya banyak ketawa. Pada


Bwee Hiang ternyata Lo In lebih terlepas omongannya hingga
diam-diam si gadis pun merasa suka pada anak hitam ini.

Ditanya kenapa Lo In ribut dalam rumah makan, Lo In lantas


saja nyerocos cerita. ia kata bukannya ia tidak mau bayar
uang sewa kamar tapi lantaran uangnya kena dicopet orang,
maka ia minta tempo besok. Apa mau pada hari yang
dijanjikan ia sakit perut tidak bisa keluar hingga kembali
berjanji besok. Tapi orang-orang rumah makan tidak mau
mengerti dan mengusir dia seperti mengusir binatang. Untung
ketemu sama Liu Wangwee dan membereskannya, kalau tidak
entah bagaimana jadinya.

"Orang usirmu seperti binatang, kenapa kau tidak melawan ?"


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tany Bwee Hiang.

"Aku anak kecil, mana bisa menang sama orang tua." sahut Lo
In ketawa.

"Kau bohong, ya. Kalau kau mau, mungkin dua orang dogol itu
bukan tandinganmu." berkata lag si gadis yang hendak
memancing Lo In.

Lo In ketawa nyengir. "Enci Hiang bisa saja. Aku tidak pandai


berkelahi. Bagaimana aku bisa menangkan dua orang tua itu"
jawab Lo In kemudian.

Si bocah suka dengan humor, maka laga lagunya saban-


saban bikin Bwee Hiang ketawa ngikik hingga diam-diam si
gadis merasa suka sama adik kecil ini.

Omong-omong tidak terasa lagi hari sudah sore. Lo In permisi


pada Bwee Hiang hendak berlalu, tapi si gadis menahan.
"Nanti dulu, aku akan kabarkan pada ayah." katanya.

"Jangan ganggu orang tua. Biarkan dia mengaso. Sebentar


pun masih boleh enci sampaikan aku punya rasa hormat dan
terima kasih padanya." berkata Lo In ketawa.

"Adik kecil, kau jangan pergi dulu. Kalau aku pergi, aku nanti
marah !" kata Bwee Hiang sambil bangkit dari duduknya dan
masuk ke dalam menemui ayahnya.

Lo In tidak berani tinggalkan tempat itu, karena ia takut


membuat marah Bwee Hiang yang ia pandang sebagai enci
yang sangat baik padanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Selagi menanti Bwee Hiang, pikirannya melayang pada Eng


Lian. Dimana enci nakal itu sekarang berada, dimana ia harus
mencaharinya ?

Dalam keadaan ngelamun, tiba-tiba ia ditegur oleh Bwee


Hiang, "Adik kecil, kau lagi ingati apa saja sampai terbengong-
bengong kulihat."

Lo In seperti tersadar dari tidurnya, dengan gugup ia


menjawab, "Tidak, oh tidak. Aku hanya memikiri dimana
malam ini aku harus menginap. Aku tidak punya uang untuk
membayar uang sewa penginapan, nanti diusir orang lagi."

Bwee Hiang tersenyum, "Adik kecil kalau tidak, seharusnya


kau tidur di pohon." si gadis berkata sambil ngikik ketawa.

"Oh, kalau di lembah, oh, tidak, kalau.... kalau....." omongan Lo


In jadi kacau.

Ia kesalahan omong maka ia jadi gugup tidak karuan tapi


Bwee Hiang yang cerdik sudah lantas dapat menangkap apa
yang Lo In ingin maksudkan omongannya itu.

"Nah, anak tukang ngebohong." ia berkata sambil jari


telunjuknya menuding pada Lo In. "Ngomongnya saja sudah
gaga gugu hihihi..."

Mau tidak mau Lo In jadi ketawa melihat teman barunya


bergaya lucu.

"Begini, adik kecil." berkata lagi Bwee Hiang. "Ayah kata


sedikitnya kau harus menjadi tamu kita seminggu lamanya, itu
baru betul. Kau tidak boleh sekarang pergi dari sini sebab
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ayah kata kalau kau paksa pergi artinya kau tidak memandang
mata pada orang tua."

Lo In jadi melengak mendengar kata-kata Bwee Hiang. "Habis,


aku tidur dimana ?" tanyanya.

"Di pohon, tuh !" jawab Bwee Hiang sembari jarinya


telunjuknya menunjuk ke jurusan pohon, lucu gayanya hingga
Lo In jadi tertawa terbahak-bahak.

Senang Lo In dapatkan teman barunya yang jenaka, sekalipun


tidak seperti Eng Lian yang kejenakaannya suka dibarengi
dengan mencubit. Si bocah tidak ingat bahwa usia Eng Lian
dan Bwee Hiang jauh bedanya. Eng Lian masih terhitung
anak-anak sedang Bwee Hiang sudah masuk hitungan gadi
yang sudah matang 'keluar pintu', mana bisa antara Eng Lian
dan Bwee Hiang disamakan kelakuannya.

Bwee Hiang demikian open pada Lo In selain sendirinya kena


ketarik sama kejenakannya si bocah, adalah keinginan
ayahnya supaya ia dapat mengetahui asal usulnya Lo In.

Liu Wangwee percaya anak gadisnya yang cerdik dapat


mengorek rahasia dirinya Lo In yang diduga menyembunyikan
kepandaian sangat tinggi. Liu Wangwee curigai Lo In bukan
anak sembarangan, siapa tahu bapaknya ada orang lihai yang
dapat menolong ia dalam kesulitan menghadapi Sucoan Sam-
sat.

Matanya Liu Wangwee lihai. Memang betul Lo In hendak


sembunyikan kepandaiannnya. Hanya sayang, dasar anak
kecil 'sok aksi', dipancing-pancing akhirnya si bocah bercerita
juga pada Bwee Hiang bahwasanya ia di lembah ada
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mempunyai kawan-kawan tentara kera, burung rajawali, gorila


serta teman mainnya Eng Lian yang nakal jenaka.

Perihal ia makan buah 'Jit-goat-ko' dan nyalinya Tok-gan


Siancu tidak ia ceritakan pada si gadis. Bwee Hiang separuh
percaya, setengah tidak. Tapi melihat Lo In bercerita sambil
bergaya dan tangannya tidak bisa diam dan unjuk aksinya,
mau tidak mau tiap sebentar si nona jadi cekikikan ketawa.

Lo In girang dapat membikin teman barunya itu ketawa ngikik.


Dengan pertemuan ini, membuat ia tidak begitu kehilangan
atas lenyapnya Eng Lian.

Keluarga Liu ada kaya raya, rumahnya besar bertingkat,


dilingkari dengan pekarangan yang lebar dan luas. Malah
dibelakang rumahnya ada satu tempat yang dinamakan 'rimba
kecil', dimana orang bisa jalan-jalan cari angin seperti di
Kebon Raja. Untuk mengurus rumah dan tanahnya yang luas
itu, sudah tentu hartawan Liu ada memakai banyak pegawai
dan pelayan. Bwee Hiang sendiri ada pakai dua pelayan yang
ia beri nama sendiri Ling Ling dan Lan Lan yang berusia kira-
kira 15 dan 16 tahun.

Bwee Hiang bukan gadis hartawan yang sombong dan


angkuh, sebaliknya ia sangat ramah tamah sehingga dua
pelayannya sangat suka dan setia padanya. Begitulah dengan
bergaul sama Bwee Hiang yang diramaikan oleh Ling Ling dan
Lan Lan, kelihatannya si bocah Lo In senang tinggal dalam
rumahnya Liu Wangwee.

Pada suatu sore, cuaca ada adem sekali. Tampak Lo In


sedang mendongeng apa tahu, yang terang Bwee Hiang
terpingkal-pingkal ketawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau mendengar dari mulutmu yang banyak omong, kukira


kau hanya satu bocah tukang ngobrol saja, adik kecil." berkata
Bwee Hiang setelah ia berhenti ketawa.

Kiranya Lo In sedang mendongeng bagaimana ia dapat


memerintah tentara keranya dengan bahasa monyet, perintah
burung garudanya dengan hanya siulan saja, lompat tinggi ke
atas pohon dengan hanay sekali gerakan saja, inilah rupanya
yang membuat Bwee Hiang terpingkal-pingkal ketawa.
Pantasan si gadis sama sekali tidak percaya. Pikirnya,
bagaimana manusia bisa bercakap bahasa monyet,
memerintah dan memanggil burung raksasa hanya dengan
siulan saja. Maka juga, setelah ia terpingkal-pingkal ketawa ia
mengatakan si bocah hanya pandai omong besar saja. Ia tidak
kira justru kata-kata ini membuat si bocah penasaran.

"Enci Hiang mau bukti ?" tanya si bocah dalam penasarannya.

"Coba kau tangkan tuh burung gereja yang saling kejar di


pohon !" sahut Bwee Hiang ketawa seraya jarinya menunjuk
ke pohon.

Lo In menoleh ke jurusan yang ditunjuk. Benar saja ada dua


ekor burung gereja yang terbang saling kejar. Tanpa banyak
omong si bocah dekati pohon, kemudian enjot tubuhnya
ngapung ke atas pohon. Entah bagaimana ia menyergap,
tahu-tahu dua ekor burung gereja itu sudah berada
ditangannya dan dibawa lompat turun.

Sambil ketawa-ketawa ia menghampiri Bwee Hiang, seketika


itu sedang terbelalak keheranan melihat gerakan si bocah
yang sangat gesit.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Nah, ini lihat, burung yang enci suruh tangkap." berkata si


bocah seraya taruh dua ekor burung gereja itu ditelapakan
tangan kirinya.

Burung yang tadinya lincah, terbang dengan gesitnya,


sekarang berada di telapak tangan si bocah kelihatannya
jinak, hanya sayapnya mengebas-ngebas seperti mau terbang
tapi tak dapat mereka pergi dari telapak tangan Lo In seakan-
akan sepasang kakinya pada melengket pada telapak tangan
si bocah.

Bwee Hiang lihat burung itu tampak gemetaran, seperti yang


kedinginan. Ia heran, tapi ia lantas berkata, "Pantas tidak bisa
terbang, burung-burung itu barusan kau pencet sih !"

"Siapa yang pencet ? Nah, nih lihat !" berkata Lo In seraya ia


lemparkan dua ekor burung itu ke udara. Lantas saja dua
burung itu dapat bergerak bebas lagi, terbang gesit sekali
seperti tadinya. Malah, kali ini mereka seperti yang ketakutan,
sudah terbang jauh dari situ.

Bwee Hiang tidak merasa heran. Ia kira si bocah tentu bisa


main sulap dengan dua ekor burung gereja yang ditangkapnya
tadi. Tapi untuk membikin si bocah jangan sampai kurang
senang, maka ia berkata sambil unjukkan jempolnya, "Begini,
kau benar hebat adik kecil. Kau ajari aku nanti, ya !"

Lo In hanya ketawa, tapi diam-diam si bocah yang 'sok aksi'


bangga dalam hatinya.

Pada malam harinya, ketika Bwee Hiang omong-omong


dengan ayahnya, sang ayah menanya : "Anak Hiang,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bagaimana dengan usahamu, apa sudah berhasil ?"

"Ah, itu anak tidak punya kepandaian apa-apa. Cuma omong


kosong saja. Katanya ada punya teman kawanan kera dan ia
bisa bahasa monyet. Hihihi...." jawab Bwee Hiang.

Liu Wangwee kerutkan alisnya mendengar si putri menutur.

Sebelum ia buka mulut menanya, Bwee Hiang sudah


menyambung, "Tapi ayah, lompatannya ke atas pohon dan
menangkap burung memang begini !" Bwee Hiang unjuk
jempolnya.

"Lompatan bagaimana, coba, coba kau tuturkan." mendesak


sang ayah.

Bwee Hiang lantas tuturkan bagaimana Lo In lompat ke pohon,


tahu-tahu dua ekor burung gereja sudah kena ditangkapnya.
Kemudian ditaruh ditelapak tangan dan burung-burung itu tak
dapat terbang seolah-olah kedinginan. "Anak hitam itu
mungkin hanya bisa sulap saja, yah. Tidak sebagaimana ayah
duga ada menyembunyikan kepandaiannya...." kata Bwee
Hiang menutup penuturannya. Tapi ia terhenti kata-katanya
karena tiba-tiba ia dibikin kaget oleh kelakuan sang ayah yang
sekonyong-konyong tertawa terbahak-bahak.

"Oh, ayah ketawakan dia ? Memang juga lucu caranya


menangkap burung dan ditaruh ditangannya, persis tukang
sulap." menyambung Bwee Hiang, turut ketawa.

"Anak tolol !" kata Liu Wangwee kepada puterinya, hingga


sang puteri menjadi kaget karena tidak biasanya sang ayah
mengatakan ia 'anak tolol'.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ayah, kenapa kau bilang aku tolol ?" ia menanya dengan


penasaran.

"Anak Hiang, itu bukannya ilmu sulap dari si bocah."


menerangkan sang ayah dengan roman kegirangan. "Anak itu
telah memperlihatkan 'Han ki bian kang', Ilmu tenaga lunak
berhawa dingin, satu ilmu yang tak mudah dilatih kalau
orangnya tidak punya lwekang yang dahsyat dalam tubuhnya.
Hahaha, memang tidak meleset dugaanku. Dia satu anak yang
luar biasa, harus kau baik-baik melayaninya dan coba-coba
pancing kepandaian silatnya, anak Hiang."

Bwee Hiang melongo mendengar kata-kata ayahnya.

Pikirnya, kalau begitu si bocah benar bukannya main sulap


seperti yang dikiranya. Entahlah, apa dia hanya punya
kepandaian itu saja ? Maka ia girang ketika ayahnya
menganjurkan buat ia coba-coba pancing kepandaiannya si
bocah hitam dengan ilmu silat.

Demikian pada suatu sore, Bwee Hiang ajak Lo In ke lapangan


tempat berlatih.

Belum lama mereka omong-omong, muncul Liu Wangwee


menghampiri mereka. Mereka jadi ngobrol bertiga. Setelah
beberapa lama Liu Wangwee berkata kepada anaknya, "Anak
Hiang, cuaca begini baik, bagaimana kalau kita berlatih
pedang ?"

"Bagus, bagus !" kata sang anak sambil bertepuk tangan. "Eh,
Ling Ling, coba kau ambilkan sepasang pedang yang biasa
aku dan ayah pakai berlatih !" kata Bwee Hiang suruh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pelayannya.

Ling Ling lekas berlalu ambil barang yang diperlukan, sebentar


lagi ia sudah ambilkan sepasang pedang pada nonanya.

Satu batang pedang ia pegang sendiri, lainnya ia angsurkan


kepada ayahnya. Sambil melirik pada Lo In yang tinggal
tenang-tenang saja duduk. Bwee Hiang berkata, "Adik kecil,
kau lihat encimu main pedang. Kau nonton disitu !"

Liu Wangwee sementara itu sudah siap, ia mengedipkan


matanya pada si gadis, satu tanda supaya Bwee Hiang
berlatih benar-benar lalu serang menyerang dimulai. Perlahan
mula-mulanya, tapi makin lama main seru. 'Bwee hoa kiam
hoat' dimainkan dengan indah sekali, banyak jurus-jurus yang
berbahaya diperlihatkan hingga sepasang pedang
berkelebatan seakan-akan lihat sambaran. Ling Ling dan Lan
Lan yang menyaksikan merasa sangat kagum dan bertepuk
tangan beberapa kali.

Sebaliknya, Lo In menonton acuh ta acuh kelihatannya. Sikap


si bocah tak lolos dari matanya Liu Wangwee yang lihai.
"Sudah, kita sampai disini saja." kata Liu Wangwee sambil
lompat keluar dari arena pertempuran.

Bwee Hiang juga merasa heran si bocah seperti yang tidak


tertarik dengan latihan mereka yang sangat hebat. Terdengar
Liu Wangwee menanya, "Anak In, apa kau tidak tertarik
dengan latihan kami barusan ?"

"Aku tidak bisa berkelahi seperti kalian, mana aku mengerti."


sahutnya, nyengir ketawa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liu Wangwee menggelengkan kepala. Di luar tahunya Lo In,


matanya mengedip pada gadisnya, disambut dengan
manggutan oleh Bwee Hiang.

"Anak In tidak bisa main pedang. Coba kau ajari anak Hiang.
Aku ada urusan. Biarlah kalian berdua teruskan berlatih."
berkata Liu Wangwee sambil terus bertindak meninggalkan Lo
In dan Bwee Hiang.

Bwee Hiang ambil tempat disampingnya Lo In. Ia berkata,


"Adik kecil, mari aku ajari kau bermain pedang supaya jangan
nanti dihina orang." sambil menarik tangannya Lo In diajak ke
tengah lapangan. "Nah, ini pakai pedangku. Aku pakai pedang
ayah." menyambung si nona seraya angsurkan pedangnya
pada si bocah, sedang ia mengambil pedang Liu Wangwee
yang diletakkan tidak jauh dari situ.

"Ketika mereka sudah berhadapan, Lo In berkata, "Eh,


barusan aku tidak ingat bagaimana kau mainkan pedangmu.
Coba sekarang unjuk sekali lagi."

Jengkel juga Bwee Hiang menghadapi anak yang cerewet ini,


sembari putar pedangnya ia berkata, "Nah, ini lihat !"

Bwee Hiang mainkan tipu-tipu silat 'Bwee hoa kiam hoat' atau
'Ilmu pedang kembang bwee'. ialah 'Bwee swat tiauw goat'
atau 'Kembang bwee mekar menghadapi rembulan'. Pedang si
nona menusuk ke depan, ke kanan dan ke kiri dengan cepat
sekali. Kemudian disusul dengan tipu 'Bwee hiang boan wan'
atau 'Harumnya bunga bwee memenuhi taman', salah satu
jurus dari 'Bwee hoa kiam hoat' yang paling disukai oleh Bwee
Hiang. Mungkin karena namanya 'bwee hiang' ada termasuk di
dalamnya. Tampak Bwee Hiang bersemangat memainkan tipu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

'Bwee hiang boan wan', pedangnya menari-nari dengan


indahnya, berkelebat laksana kilat, tubuhnya si nona yang
tinggi seolah-olah tebungkus oleh sinar pedang yang
dimainkan.

Lo In kelihatan tersenyum-senyum. "Enci Hiang, hebat


permainan pedangmu. Sayang aku tak dapat melayani kau.
Aku ngeri melihat pedangmu menyambar-nyambar. Bisa-bisa
leherku putus oleh.... eh, kau jangan main-main...."

Berbareng si bocah menghilang dari hadapannya Bwee Hiang


sehingga pedangnya Bwee Hiang menyabet angin. Matanya si
gadis celingukan mencari Lo In sementara dua pelayannya
Ling Ling dan Lan Lan pada mendekap mulutnya untuk
menahan ketawa karena saat itu tampak Lo In berada di
belakangnya Bwee Hiang sambil leletkan lidahnya dalam
gayanya yang sangat lucu.

Melihat Bwee Hiang celingukan mencari dirinya, Lo In berkata,


"Enci Hiang, aku ada disini."

Bwee Hiang cepat putar tubuhnya. Benar saja si nakal sudah


ada dibelakangnya.

"Setan kecil." kata Bwee Hiang, ketawa kegirangan. "Kau


membohongi encimu, ya !"

"Habis, leherku mau disabet pedang, siapa mau kasih." sahut


Lo In melucu seraya pegangi lehernya hingga Bwee Hiang
ngikik ketawa dibarengi oleh ketawanya Ling Ling dan Lan
Lan. Ramailah saat itu pada ketawa.

Apa sebenarnya sudah terjadi hingga Lo In kepaksa


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memperlihatkan kepandaiannya yang istimewa ? Saat itu,


Bwee Hiang sedang enaknya memainkan tipu silatnya 'Bwe
hiang boan wan', ia mendengar si anak kecil nyerocos
ngomong lantas berkelebat dalam benaknya untuk menyerang
tiba-tiba pada si bocah dengan telengas. Kalau Lo In bisa silat,
tentu ia akan berkelit dari serangannya. Sebaliknya kalau si
bocah tak punya guru, paling-paling si anak kecil akan terluka
batang lehernya.

Mendapat pikiran bagus itu, maka selagi ia putar pedangnya,


diam-diam ia balik mata pedangnya sehingga belakang saja
yang ia gunakan membabatleher Lo In dengan jurus yang
ampuh dan seperti kilat menyambar. Dalam kagetnya,
otomatis keluar ilmu saktinya Lo In 'Bu eng bue seng' (tiada
bayangan tiada suara), menghilang dari hadapannya Bwee
Hiang sehingga si nona terperanjat. Pikirnya, hanya setan saja
yang bisa menghilang demikian.

Hatinya kegirangan sebab percobaannya berhasil. Ia tidak


ragu-ragu lagi bahwa si bocah memang ada mempunyai
kepandaian luar biasa seperti kata ayahnya.

"Anak kecil, kau jangan suka gede bohong." kata Bwee Hiang
sehabisnya ngikik ketawa. "Sekarang sudah ketahuan rahasia
dirimu, kau mau bilang apa ?"

Lo In ketawa nyengir. Tiba-tiba ia rasakan adanya angin


menyambar dari belakangnya, tangannya yang kanan
menyampok ke belakang lalu tangan kirinya diacungkan,
kemudian tubuhnya berputar. Tahu-tahu dia sudah menggigti
sebuah benda. Ia melihat si penyerang gelap lompat dari balik
pohon mau melarikan diri. Benda yang digigit di mulutnya ia
tiup sambil berkata, "Perlahan jalan, sahabat...."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Orang itu menjerit dan jatuh meloso, badannya menggigil


kedinginan.

Lo In sudah mau lompat menyusul tapi dari balik pohon-pohon


kembali muncul lima orang yang memegat dan
mengurungnya. Ternyata orang-oang itu hebat-hebat
pengawakannya, tinggi besar dan bengis-bengis. Tapi Lo In
tidak takut seperti biasa, ia menanya dengan tenang, "Para
paman, aku tidak bermusuhan dengan kalian, kenapa kalian
mau tangkap aku ?"

"Hahaha !" tertawa seorang diantaranya, seraya usap-usap


jenggotnya yang panjang. "Anak kecil, kau anaknya Kwee Cu
Gie, bukan ?"

"Aku tidak kenal siapa Kwee Cu Gie." kata Lo In tenang.

"Tidak perduli kau anak Kwee Cu Gie atau bukan, kami harus
tangkap sebab kau sudah membuat malu namanya Ceng Gee
Pang !" kata lagi orang tadi.

"Oh, jadi kalian adalah orang-orangnya Ceng Gee Pang ?"


tanya Lo In.

"Kalau benar, kau mau apa ?"

"Aku sih cuma mau menanya saja." Lo In berkata sambil


bejak-bejak benda ditangannya. Kiranya itu ada dua panah
kecil yang barusan ia tangkap dengan tangannya dari si
penyerang gelap.

Lima orang yang mengurung si bocah terbelalak matanya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

karena mereka kenali panah kecil itu terbuat dari logam


istimewa tapi diremas-remas Lo In si bocah seperti juga
meremas tepung terigu. Dua panah itu hancur menjadi bubuk.

"Maju semua !" bentak orang tadi yang berkata pada Lo In,
menganjurkan kawan-kawannya mengepung rapat.

Dengan rada-rada jeri mereka maju.

"Aku hanya satu bocah. Kalau sebentar kalian kalah sama


anak kecil, jangan salahkan aku berbuat kurang ajar, ya !"
berkata Lo In, ketawa nyengir dia.

Panas hatinya orang-orang yang mengepung si bocah. Masa


mereka yang sudah tercatat namanya dikalangan Kangouw
sebagai jago-jago kenamaan boleh diingusi oleh satu bocah
yang belum lepas tetek, pikir masing-masing.

"Anak sombong, lebih baik kau menyerah supaya dengan baik


kita bawa kau ke pusat untuk dihadapkan kepada Pangcu."
kata satu diantara lima orang itu.

"Buat apa aku menghadap Pangcu kalian ?" kata si bocah


acuh tak acuh.

Kalau Lo In menghadapi lima jago itu dengan santai saja,


sebaliknya Bwee Hiang dan dua orang pelayannya Ling Ling
dan Lan Lan menjadi ketakutan. Mereka kuatirkan
keselamatannya Lo In. Meskipun Bwee Hiang tahu barusan Lo
In ada unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, pikirnya,
anak kecil menghadapi orang-orang gede yang sudah
kawakan dalam kalangan kangouw, mana bisa menang ?
Apalagi Bwee Hiang melihat semuanya pada membawa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

senjata tajam yang menyeramkan.

Ia diam-diam heran kenapa ada orang-orang masuk ke dalam


rumahnya, sang ayah diam-diam saja ? Apakah ayahnya
memang tidak ada di rumah ? Mungkinkah sang ayah keluar
sebab tidak kelihatan muncul orang tua itu disitu justru
keadaan sedang gentingnya.

Bwee Hiang menjadi nekat. Ia lalu lompat menghampiri Lo In,


katanya, "Adik kecil, kau jangan takut. Encimu datang
membantu !"

Lo In menoleh ke arah Bwee Hiang. "Enci Hiang, kau tenang-


tenang saja nonton. Lihat adikmua akan bikin semua paman
ini tangkap angin."

"Kentut !" memotong si orang yang berjenggot panjang.


"Jangan jumawa, anak kecil. Lihat kami tangkap kau !"

Berbareng ia ajak kawan-kawannya maju, kira-kira jaraknya


empat langkalh lagi mereka mendekati Lo In, tiba-tiba si bocah
ketawa terbahak-bahak lalu tubuhnya berputar seperti gasing,
perlahan seperti asap tubuhnya naik ke atas hingga lima orang
itu jadi heran dan matanya mengikuti tubuh Lo In yang
ngapung seperti asap. Dalam tertegunnya tiba-tiba mereka
rasakan dengkulnya pada terkulai roboh mendeprok ditanah
dibarengi dengan jatuhnya sepotong baju dari udara. Kiranya
yang mencolot ke udara tadi bukan tubuh Lo In, sebaliknya
bajunya yang melayang ke udara bagaikan asap, sementara
Lo In berbareng sudha jongkok dan lalu menotok 'leng-coan-
hiat' jalan darah di dengkul masing-masing lawannya.

Sambil pakai lagi bajunya, Lo In jalan menghampiri Bwee


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hiang yang saat itu berdiri terkesima di tempatnya. Ling Ling


dan Lan Lan terbelalak matanya nampak kejadian yang
mempesonakan di depannya, satu kejadian yang mungkin
dilakukan hanya oleh tukang sulap kawakan dengan ilmu
sihirnya, tapi tidak oleh si anak kecil seperti Lo In. Sungguh
kejadian itu mengagumkan kepada yang melihatnya.
Termasuk itu orang-orang kasar yang telah menjadi korban
totokan Lo In.

"Enci Hiang, kau mau apakan orang-orang jahat ini ?" tanya Lo
In.

Bwee Hiang masih belum hilang kesimanya, ia hanya


memandang si bocah dengan air mata mengembeng saking
girangnya ia menyaksikan ilmu sakti Lo In.

"Kenapa kau menangis, enci Hiang ?" tanya Lo In kaget.

"Oh, oh, adik kecil. Aku menangis saking kegirangan.


Kau,kau...... selamat."

"Sekarang enci mau apakan mereka itu ?"

"Adik kecil, biarkan saja dahulu, tunggu ayah pu...."

"Tahan, tahan !" terdengar suara dari kejauhan hingga si nona


berhenti bicaranya.

Kiranya yang datang itu adalah Liu Wangwee. Ketika is orang


tua sampai pada mereka, Bwee Hiang cepat berkata, "Ayah,
orang-orang ini....."

"Tunggu, aku bicara dahulu." memotong Liu Wangwee.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Semua ada orang sendiri. Kejadian yang menegangkan


barusan adalah gara-gara ayahmu."

Bwee Hiang terkejut, "Ayah....."

"Tunggu dahulu, aku belum bicara habis." kata Liu Wangwee.


"Anak In, harap kau jangan marah, Semua ini ada aku yang
atur. Aku lihat kau selalu mau umpatkan kepandaianmu yang
sakti, membuat aku jadi tidak sabaran. Maka, kebetulan ada
Pangcu datang dari Ceng Gee Pang dan orang-orangnya.
Pangcu dari Ceng Gee Pang adalah sahabatku. Ketika aku
ceritakan hal dirimu, dia kaget. Karena dia menduga pasti
bahwa kau ada anak itu yang membuat repot cabangnya di
Tong-hong-gay. Sahabatku ingin mencoba-coba dengan
panah saljunya, dibantu oleh lima anak buahnya, ternyata
percobaan mereka telah membuka kedokmua yang
menyembunyikan kepandaian saktimu. Anak In, nanti aku
akan ceritakan panjang lebar duduknya urusan. Sekarang aku
perkenalkan kau dengan Ang Pangcu dari Ceng Gee Pang...."

Berbareng maju satu orang, ternyata orang itu adalah si


pembokong denan panah lihainya, hingga Lo In menjadi
tertawa terbahak-bahak.

Setelah Lo In ketawa puas, Soat-cian Ang berkata, "Siauw-


hiap (pendekar cilik), harap kau jangan marah. Barusan apa
yang aku lakukan adalah hanya main-main saja. Tidak
sebenarnya kami mau berbuat kurang ajar padamu."

"Main-main tinggal main-main, paman." sahut Lo In, melucu


dia. "Kalau aku tidak punya sedikit kepandaian, barusan aku
sudah ditembusi oleh tiga panah tanganmu."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Semua orang jadi ketawa, begitu juga Bwee Hiang, Ling Ling
an Lan Lan. Lega hatinya masing-masing, setelah tahu
duduknya perkara.

Lima orang yang masih mendeprok di tanah lalu dibebaskan


dari totokan oleh Lo In. Mereka pada bangun serentak,
salaman dengan si bocah, memohon maaf untuk kelakuannya
yang barusan dibuat. Tapi Lo In sudah lantas berkata, "Para
paman, kalian tidak bersalah. Malah yang harus minta maaf
pada kalian yang sudah berbuat kurang ajar membikin kalian
duduk ditanah sebentaran. Hahaha.... "

Meskipun kata-kata Lo In membanyol sifatnya, tapi mereka


merasa tersindir juga, tampak muka semuanya pada bersemu
merah saking jengah.

Dari musuh sekarang sudah menjadi teman, maka dengan


gembira orang-orang pada masuk ke dalam untuk
menyambung pembicaraan lebih jauh.

Lo In yang tadinya hendak menyembunyikan kepandaiannya,


sekarang sudah tidak bisa lagi. Rahasianya sudah bocor.
Maksudnya menyembunyikan kepandaia, ia tidak mau cari
urusan, kuatir ketahan perjalanannya mencari enci Liannya.
Tidak tahunya ia ketemu dengan Liu Wangwee yang lihat
matanya hingga rahasia dirinya jadi terbongkar.

Soat-cian Ang bersama dengan lima orang pilihannya datang


ke rumah Liu Wangwee untuk memberitahukan bahwa ia tidak
mendapat kabar perihal si kerudung merah. Ia mau damaikan
bagaimana baiknya nanti menghadapi Sucoan Sam-sat. Tiba-
tiba ia mendengar si bocah hitam ada dirumahnya Liu
Wangwee, membikian ia disamping kegirangan ingin juga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mencoba-coba kepandaian si bocah yang dikatakan Hu-


pangcu Ang Ban Ie si bocah boleh dijuluki 'Hek bin sin tong'
atau 'si bocah sakti hitam'.

Setelah sekarang ia menjajal kepandaiannya Lo In, barulah ia


mau percaya memang anak itu sakti dalam ilmu silat. Tiga
panahnya yang diarahkan dengan sungguh-sungguh malah
disambut dengan tangan dan mulut. Itu adalah kepandaian
luar biasa yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Malah
yang membikin ia kaget adalah lima orangnya, bukan orang
sembarangan, jago-jago pilihan sudha kena dikerjakan
demikian mudahnya, membuat ia merasa takluk pada
kepandaian si bocah.

Dalam omong-omong, Liu Wangwee menyatakan kesulitannya


pada Lo In bahwa ia akan disatroni oleh Sucoan Sam-sat
sedang si kerudung merah yang ditunggu-tunggu tidak
kunjung datang, malah diselidiki juga tidak ketahuan jejaknya
ada dimana.

"Mendengar namanya," kata Lo In. "Tiga algojo itu benar-


benar seram. Entah kepandaiannya bagaimana, tapi kalau
sepanjang aku masih ada disini, aku nanti coba-coba
menghadapinya. Harap Lope jangan kuatir."

Liu Wangwee saling pandang dengan Ang Ban Teng.

"Memangnnya kau mau pergi dari sini, Siauw-hiap (pendekar


cilik) ?" tanya Ang Ban Teng.

"Jangan panggil Siauwhiap segala. Panggil saja aku anak In.


Aku paling suka dengar, karena itu ada panggilannya Liok
Sinshe." kata Lo In.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik, baik." sahut Ang Ban Teng cepat. "Aku selanjutnya akan
panggil kau, anak In. Tapi kalau aku boleh tahu, siapa itu Liok
Sinshe yang kau sebutkan ?"

"Liok Sinshe ada seorang baik. Biarlah kita jangan omong


tentang Liok Sinshe sebab nanti bikin aku menangis karena
ingat kepadanya." kata Lo In, sedih tampaknya.

Liu Wangwee dan Soat-cian Ang saling pandang nampak


kelakuannya si bocah.

"Anak In, kau mau kemana ?" tanya Soat-cian Ang, nampak Lo
In bangkit dari duduknya dan mau ngeloyor keluar.

Lo In balik tubuhnya, sambil ketawa nyengir ia menyahut. "Aku


mau mencari enci Hiang."

Rupanya si bocah tidak kerasan duduk berunding dengan


orang-orang tua.

Liu Wangwee kedipi matanya pada sahabatnya hingga Soat-


cian ANg tidak membuka mulut lagi. Mereka hanya
mengawasi saja si bocah ngeloyor keluar.

"Biarkan dia pergi pada Bwee Hiang. Anak itu selama disini
kelihatan akur betul dengan puteriku. Aku percaya Bwee
Hiang dapat menahan dia." kata Liu Wangwee pada Soat-cian
Ang dan para hadirin lainnya.

Soat-cian Ang anggukkan kepalanya. "Adatnya aneh tapi


terang ia mempunyai kepandaian yang luar biasa sampai aku
dan lima Hiocu pilihan digulingkan." menyatakan Pangcu dari
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Gee Pang sambil melirik pada anak-anak buahnya.

Lima Hiocu (pemimpin pusat) pada ketawa, tapi dalam hatinya


merasa malu.

Soat-cian Ang alihkan pembicaraan sekarang pada soal


Sucoan Sam-sat.

"Bagaimana sekarang pikiran toako ?" tanya Ang Ban Teng.

"Bagaimana kau pikir tentang si bocah ?" balik menanya Liu


Wangwee.

"Anak itu berkepandaian tinggi. Hanya aku sangsikan


pengalamannya bertempur dengan jago-jago kelas berat
seperti Sucoan Sam-sat." menyatakan Soat-cin Ang.

"Jadi bagaimana baiknya ?" Liu Wangwee seperti yang


keputusan akal.

"SUcoan Sam-sat adalah sangat ganas." menyatakan Soat-


cian Ang. "Kalau toako gagal majukan kita punya jago cilik,
akibatnya mengerikan. Seluruh keluarga toako akan dibasmi
olehnya. Ini justru yang aku sedang pikirkan."

Liu Wangwee ketawa. Tapi ketawanya mengandung


kecemasan. Ia rupanya dapat mengerti akan kekuatiran
sahabatnya itu. Memang juga ia sangsikan Lo In nanti bisa
tempur tiga algojo dari Sucoan yang buat itu tapi apa daya ?
Keadaan sudah memaksa, si kerudung merah yang diharap-
harap kedatangannya kini ditumplek pada si bocah saja. Kalau
toh Lo In tidak tahan mengusir tiga jagoan jahat dari Sucoan
itu, apa boleh buat. Sudah nasibnya mesti hancur lebur
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dibawah keganasannya mereka. Cuma ia menyesal kalau


dalam urusannya itu si bocah nanti kebawa-bawa membuang
jiwa dengan percuma. APa nanti kata orang tuanya apabila
mengetahui duduknya urusan bahwa jago cilik itu dibawa-
bawa olehnya sehingga menemui kebinasaannya.

Memikir kesitu, hartawan Liu menjadi lesu.

Untuk beberapa saat dalam ruangan itu menjadi sunyi.

"Pangcu, bukankah kita akan ketamua Kian-san Ji-lo ?"


nyeletuk salah satu Hiocu dari Ceng Gee Pang yang bernama
Lie Goan Tay.

"Aaa... " tiba-tiba Ang Ban Teng terkejut girang. "Kau benar Lie
Hiocu. Aku sampai lupa akan kedatangan Kian-san Ji-lo. Ya,
ya, betul toako."ia meneruskan kata-katanya pada Liu
Wangwee. "Dalam dua hari ini Ceng Gee Pang akan
kedatangan Kian-san Ji-lo, aku nanti coba untuk minta
bantuannya. Asal mereka bersedia membantu, rasanya kita
tak usah kuatirkan akan kedatangannya tiga orang jahat itu
kemari."

"Kian-san Ji-lo...." menggumam Liu Wangwee.

"Bukankah toako juga kenal dengan Kian-san Ji-lo Cia Kie dan
Cia Liang ? Dua orang tua dari Kian-san itu kepandaiannya
susah diukur."

Liu Wangwee anggukkan kepala. "Aku tidak kenal dengan dua


orang tua dari gunung Kian-san (Kian-san Ji-lo)." katanya.
"Hanya kau dengar sepak terjangnya dalam rimba persilatan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak menentu sehingga orang sangsi apakah mereka itu


masuk kalangan Pek-to atau Hek-to.

Liu Wangwee belum jelas benar apakah Kian-san Ji-lo itu


masuk Pek-to (golongan ksatria) atau Hek-to (golongan jahat).

"Mereka ada hubungan baik dengan suhuku." berkata Soat-


cian Ang. "Kalau aku minta bantuannya, rasanya mereka tentu
mau terima."

"Ya, kalau Hiante yang minta untuk memecahkan kesulitan


Hiante sendiri rasanya mereka tidak menolak." menyatakan
Liu Wangwee.

"Tapi ini halnya menyangkut diriku, mana dapat mereka


dimintakan bantuannya sedang aku tidak kenal kepada
mereka ?"

"Hahaha...." tertawa Soat-cian Ang.

"Toako ini anggap aku seperti orang lain atau bagaimana ?


Urusan toako sama juga ada urusanku, kenapa mesti dibeda-
bedakan ?"

Senang Liu Wangwee mendengar kata-kata sahabatnya itu,


dengan siapa memang ia bersahabat rapat meskipu tidak
angkat saudara.

"Kalau begitu terserahlah untuk mana sebelumnya aku


mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas perhatian
Hiante." kata Liu Wangwee seraya bangkit dari duduknya dan
angkat tangannya menyoja pada Ang Ban Teng hingga
tergopoh-gopoh Soat-cian Ang berdiri untuk membalasnya. Ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkata, "Jangan seeji, toako."

Demikian perundingan sudah didapat pemecahan.

Kian-san Ji-lo atau dua orang tua dari gunung Kian-san, she
Cia bernama Kie dan Liang, pendek saja. Sepak terjangnya
disamping membuat kagum orang, juga membikin orang
membenci mereka. Itulah karena perbuatannya yang murah
hati dan kejam buas hingga orang tak dapat memastikan
mereka masuk golongan baik atau jahat.

Mereka ada hubungan baik dengan gurunya Soat-cian Ang, si


panah salju ialah Ang Hui Kin, satu she dengan Soat-cian Ang,
gelarnya 'Touw-kut-ciang' atau 'si pukulan menembus tulang',
cukup kenamaan dalam kalangan Kangouw.

Omong-omong dalam hal berkelana, Ang Hui Kin dapat tahu


kalau dua sahabatnya ini bakal lewati kota Gakwan, maka Ang
Hui Kin minta kalau dua orang tua itu lewat disana, sukalah
mampir di pusat Ceng Gee Pang. Disana muridnya Ang Ban
Teng menjadi Pangcu.

Cia Kie dan Cia Leng terima baik undangan itu. Maka diam-
diam Ang Hui Kin sudah mengabarkan pada Ang Ban Teng
bakal kedatangannya dua orang tua itu ke Gakwan.

Benar jgua, dua jago tua yang sepak terjangnya tak menentu
itu datang di Gakwan, selewatnya dua hari dari kejadian-
kejadian yang diceritakan diatas.

Kedatangan mereka sangat dihormatai sekali oleh Ang Ban


Teng dan anak buahnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dalam omong-omong, Soat-cian Ang menceritakan tentang


sahabatnya Liu Wangwee menghadapi kesuakaran akan
disatroni Sucoan Sam-sat dan minta bantuannya dua orang
tua itu untuk menjadi perantara suapaya urusan dapat
didamaikan.

Cia Kie kerutkan alisnya setelah mendengar penuturan Ang


Ban Teng.

"Untuk menjadi perantara, kami tidak keberatan." kata Cia Kie.


"Cuma soalnya, apakah Sucoan Sam-sat dapat memahami
atau tidak kami punya maksud baik ? Biasanya, tiga algojo itu
suka bawa kemauannya sendiri, tidak ingin urusannya
dicampuri orang lain. Inilah yang sulit. Akhirnya, tentu akan
terjadi pertempuran."

Ang Ban Teng terdiam. Lalu ia ceritakan tentang Sucoan Sam-


sat yang dipecundangi si kerudung merah. Sebenarnya
mereka ada mencari si kerudung merah tapi oelh karena orang
yang dicari tak dapat diketemukan, maka Liu Wangwee yang
akan dijadikan sasaran dari kekejamannya sebagai
pembalasan sakit hati.

"Memang aku dengar." Cia Liang kali ini yang bicara. "Pada
waktu belakangan ini ada muncul satu pendekar dengan
kerudung merah. Katanya ia selalu membuat kebaikan dalam
sepak terjangnya sehingga orang sangat memujanya. Kami
belum tahu siapa adanya dia dan ingin sekali kalau ketemu,
kami juga akan coba-coba kepandaiannya yang hebat seperti
dikatakan orang."

-- 15 --
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lalu Ang Pangcu ceritakan halnya si bocah Lo In, bagaimana


dia (Soat-cian Ang) dan lima Hiocunya dipecundangi si bocah
secara yang mempesonakan. Dua orang tua itu diam-diam
terkejut mendengar ceritanya Pangcu dari Ceng Gee Pang.

"Ah, masa ada kejadian begitu ?" tanya Cia Liang, tidak
percaya dia.

"Memang, kalu tidak menyaksikan dengan mata kepala


sendiri, tidak akan percaya dengan ceritaku barusan." kata
Ang Ban Teng. "Nanti kedua Lo-suhu saksikan sendiri
kepandaiannya yang luar biasa itu."

Tadinya Kian-san Ji-lo mau menolak dengan halus permintaan


bantuan Ang Bang Teng. Tapi setelah mendengar tentang
adanya bocah hitam yang gaib kepandaiannya, maka mereka
jadi rubah haluan. Ingin mereka menyaksikan kepandaiannya
bocah sakti itu.

Demikianlah, pada malam harinya dengan diantar oleh Ang


Ban Teng, Kian-san Ji-lo telah bikin kunjungan pada Liu
Wangwee, oleh siapa diterima dengan manis budi hormat
hingga dua orang tua itu menjadi girang.

Selain mereka bertiga, juga Ang Ban Teng ajak lima Hiocunya.
Pikirnya, jikalau perlu mereka bisa dikerahkan tenaganya.

Meskipun bulan muda, malam itu malamnya Sie-gww ce-cit


(bulan 4 tanggal 7 Tionghoa), cuaca tampak terang. Sudah
menjadi kebiasaan dari Liu Wangwee, kalau ada datang tamu
yang menjadi kenalan baiknya, ia suka bawa tamunya itu ke
taman bungan yang dikitari oleh banyak pohon besar dan
tinggi yang terawat baik. Kali ini kedatangan Pangcu dari Ceng
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Gee Pang yang membawa serta Kian-san Ji-lo dan lima anak
buahnya juga oleh Liu Wangwee dibawa ke taman tersebut.

Disana, selain mereka menikmati hidangan yang mencocoki


selera, juga menikmati harumnya bunga-bunga yang baru
mekar dalam taman yang luas itu.

Senang kelihatannya para tamu dibawa ke tempat ini. Mereka


memuji Liu Wangwee yang dapat menciptakan taman
sedemikian indah dan menariknya.

Dalam omong-omong Kian-san Ji-lo matanya selalu melirik


sana sini. Liu Wangwee diam-diam heran, tapi Ang Ang Teng
lantas sudah dapat tebak maksud dua jago tua itu. Ia lantas
berkata pada Liu Wangwee, "Toako, kedua Lo-suhu ini ingin
berkenalan dengan anak In. Dimana dia sekarang ?"

"Oh, begitu." sahut Liu Wangwee, tahu sekarang ia kenapa


dari setadian dua jago tua itu larak lirik saja. "Nanti aku suruh
panggil dia."

Lantas Liu Wangwee suruh salah satu pelayannya untuk


memanggil Lo In.

Tidak lama pelayan itu datang kembali tapi tidak dengan Lo In.
Ia berkata pada Liu Wangwee, "Loya, anak itu tidak ada
ditempatnya."

"Coba cari, tentu dia ada bersama Siocia."

"Sudah kucari dan menanyakan pada Siocia. Katanya anak


kecil itu sejak siang tadi keluar dan sampai sekarang belum
kembali."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liu Wangwee heran. Kemana perginya Lo In sebab biasanya


anak itu hampir tidak berkisar dari samping puterinya. Lalu ia
minta maaf kepada dua jago tua itu, katanya, "Harap kedua
Lo-suhu dapat memaafkan, bocah itu katanya tidak ada."

"Jangan seeji, Liu-heng." kat Cia Kie. "Kedatangan kami


kemari memang pertama ingin belajar kenal dengan bocah
sakti itu. Tapi biarlah, kalau dia tidak ada di rumah. Kami
rupanya tidak berjodoh menemuinya."

"Maksud kedua." menyambung Cia Liang, adiknya. "Adalah


hendak mendamaikan urusan Liu-heng dengan Sucoan Sam-
sat. Kami harap saja berjalan memuaskan dan...."

Cia Leng berhenti bicaranya karena melihat ada satu pelayan


yang berlarian datang menghampiri Liu Wangwee kepada
siapa diserahkan sebatang pisau kecil dengan secarik kertas.
Tanpa menanya lagi pada si pelayan, Liu Wangwee lantas
baca surat itu diterangi rembulan. Tampak mukanya pucat
setelah membaca.

"Toako, ada urusan apa yang membuat kau kaget ?" tanya
Ang Ban Teng.

Liu Wangwee tidak menjawab, hanya serahkan secarik kertas


itu kepada sahabatnya, siapa lalu menyambuti dan dibaca
isinya.

"Sucoan Sam-sat datang !" sekonyong-konyong Ang Ban Teng


berteriak hingga membuat terkejut para hadirin seketika itu,
tidak terkecuali Kian-san Ji-lo.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Inilah Lo-suhu, coba baca." kata Ang Ban Teng seraya


menyerahkan secarik kertas itu kepada Cia Kie yang lalu
membacanya. Surat itu hanya pendek saja bunyinya :
"Liu In Ciang, meskipun kau minta bala bantuan dua tua
bangka dari Kian-san, rumahmu toh akan kami hancurkan dan
bakar habis. Serumah tanggamu tak ada satu jiwa yang kami
tinggalkan !

Sucoan Sam-sat"

"Hehehe !" tertawa Cia Kie. "Kami tidak bermusuhan dengan


kalian, tapi kalau kalian anggap kami sebagai musuh, apa
boleh buat. !"

Kemudian ia berpaling pada Liu Wangwee yang masih


tertegun ditempatnya. Ia berkata, "Liu-heng, mereka
memasukkan nama kita berdua. Biarlah kami berdiri
dibelakangmu. Jangan takut Liu-heng. Dan....."

"Hahaha !" sekonyong-konyong kedengaran suara tawa dari


balik gerombolan rumput alang-alang hingga bicaranya Cia
Kie menjadi terhenti lalu berpaling ke jurusan orang tertawa
tadi yang lantas muncul dan Liu Wangwee kenali itulah Sin-mo
Lie Kui, si berewok ganas, saudara ketiga dari Sucoan Sam-
sat. Terdengar kata-katanya menyambung ketawanya tadi.
"Tua bangka, biarpun kalian berdua berdiri di belakangnya,
percuma saja. Paling baik, kalau kalian tahu gelagat lantas
enyah dari sini dan biarkan kami mengganas pada keluarga
Liu !"

Cia Kie dan Cia Liang bangkit dengan serentak. Yang disebut
duluan berkata, "Kian-san Ji-lo belum pernah terbirit-birit lari
oleh karena gertakan. Malah makin digertak mereka makin
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nekad. Hahaha..."

Tertawanya berhenti karena sebatang piauw menyambar pada


tenggorokannya.

"kau kirim barang rongsokan begini. Mana masuk hitungan


jago Kangouw !" Cia Kie kata seraya tangannya diangkat dan
piauw tahu-tahu sudah terjepit pada dua jarinya lalu dibuang
begitu saja hingga membuat Lie Kui panas hatinya melihat
senjata rahasianya dihina oleh Cia Kie.

Melihat akan terjadi pertempuran ramai, maka semua orang


pada mundur. Sedang pelayan-pelayan yang hatinya kecil
sudah pada lari ketakutan.

"Kau sambuti lagi ini !" teriak Lie Kui, berbareng tangannya
saling susul hingga beberapa batang piauw menyambar
dahsyat ke arahnya Cia Kie.

Ta[i si orang she Cia tidak gentar. Dengan berkelit dan


kebasan lengan bajunya yang gedombrongan, semua piauw
Lie Kui kena dijatuhkan. Tidak heran kalau Lie Kui menjadi
jengkel dan penasaran, cepat ia enjot tubuhnya lompat
mendekati Cia Kie.

Setelah berhadapan, si berewok obral makiannya pada Cia


Kie sambil dua kepalannya bekerja saling susul menyerang
toako dari Kian-san Ji-lo. Mereka jadi bertempur seru saling
jotos, hebat sekali, sama-sama tandingan.

Liu Wangwee merasa tidak enak hatinya. Belum apa-apanya,


tamu barunya sudah bertarung dengan musuhnya yang ganas.
Bagaimana kalau Cia Kie nanti mengalami celaka ?
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ai, kemana perginya si bocah perginya ? Demikian pikir Liu


Wangwee yang menjadi kacau pikirannya memikirkan Lo In
yang diharap tenaganya.

Sementara itu perkelahian hebat berlangsung terus. Diam-


diam tanpa diketahui oleh orang-orang disitu yang tengah
memusatkan perhatiannya kepada mereka yang sedang
bertempur, disitu sudah tambah dua orang yang bukanlain
adalah Giam-ong Puy Teng dan si Cakar Setan Teng Cong.
Mereka menyaksikan Sam-tenya berkelahi tenang-tenang
saja, seolah-olah sudah memperhitungkan bahwa Cia Kie
bukan tandingan Samtenya yang belakangan ini sudah dipale
oleh gurunya.

Lie Kui berkelahi bagaikan banteng ngamuk, pukulannya


mendatangkan suara menderu-deru dan betul-betul saja Cia
Kie keteter. Melihat gelagat jelek, Cia Liang adiknya sudah
lantas nyerbu untuk bantu engkonya tapi si Raja Akherat Puy
Teng sudah menghadang di hadapannya. "Jangan kesusu,
sobat !" katanya. "Kalau mau main-main, jangan ganggu orang
yang sedang enaknya berlatih. Mari aku layani kau !"

Cia Liang gemas. Tanpa banyak cing-cong lagi ia sudah


menerjang Puy Teng. Si Raja Akherat ganas pukulan-
pukulannya. Lwekangnya bertambah setelah dipale oleh
gurunya, sebagai bekal untuk menuntut balas. Ia bersilat
degan Mo-jiauw Sin-kang atau Tenaga sakti cengkeraman
setan. Jurus-jurus yang digunakan sangat berbahaya sekali.
Tangannya menjambret dan mencengkeram hingga dalam
sedikit tempo saja Cia Liang menjadi kewalahan melayaninya.

"Celaka !" kata Liu Wangwee dlam hatinya ketika melihat


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kedua penolongnya keteter. Bagaimana sekarang ? Dari takut,


hatinya Liu Wangwee menjadi nekad. Seketika itu juga lompat
ke dalam kalangan berkelahi hendak membantu Cia Liang
yang sudah kepayahan.

Perbuatan Liu Wangwee dicegat oleh Teng Cong hingga dua


orang ini jadi bertempur. Liu Wangwee gunakan 'Bwee hoat
Kun-hoat (Ilmu jotosan bunga bwee) untuk menggempur Mo-
jiauw Teng Cong. Meskipun kelihatannya perlahan serangan-
serangannya tapi antap dan telak sekali mengarah
sasarannya. Dalam beberapa bulan ini, ia berlatih tekun
bersama puterinya. Maka telah didapat kemajuan yang baik
sekali. Ia kelihatan bersilat lebih lincah dan cepat. Kalau tempo
hari ketemu Teng Cong, saat itu Liu Wangwee sudah punya
pukulan-pukulan seperti sekarang, mungkin dapat sama kuat
kalau tidak sampai menang. Tapi sekarang dimana Mo-jiauw
juga sudah mendapat pelajaran dari gurunya sebagai bekal
untuk mencahari si kerudung merah, mau tidak mau Lin In
Ciang harus mengakui pihak lawan ada lebih unggul.

Teng Cong dari dahulu memang adalah setingkat lebih tinggi


kepandaiannya dari dua saudaranya. Ia pun disayang oleh
gurunya Thitouw-eng Ie Jie Lo atau Garuda Kepala Besi yang
menciptakan ilmu pukulannya tersendiri yang dinamai 'Sin-mo
Siang jiauw Ciang-hoat' atau 'Ilmu pukulan Sepasang Cakar
Iblis Sakti'.

Melayani Mo-jiauw Sin-kang dari Teng Cong yang lihai, sudah


tentu Liu In Ciang alias Liu Wangwee bukan tandingannya. Hal
mana membuat Pangcu dari Ceng Gee Pang yang menonton
menjadi khawatir. Ia lalu mengedipkan pada lima anak
buahnya. Tidak sampai dikedipi dua kali, mereka sudah sama
mengerti sebab dengan serentak sudah menyerbu ke dalam
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

arena pertarungan sehingga adegan-adegan saling gempur


dalam taman bunga itu menjadi ramai bukan main.

Tiga orang lawan delapan orang, Sucoan Sam-sat tidak


menjadi keder malah tampak makin bernapsu. Tubuhnya
berkelebatan gesit sekali hingga lawan-lawannya saban-saban
kebogehan serangannya tidak mendapat sasarannya.

Sebentar lagi terdengar jeritan saling susul. Itu adalah jeritan


tanda dari kesakitan. Tampak beberapa tubuh pada roboh
tersungkur, terkulai atau mendeprok di tanah dengan sukar
bangun pula. Mereka yang roboh itu adalah lima Hioucu
bersama Pangcu dari Ceng Gee Pang, mereka kedengaran
merintih kesakitan. Yang masih kuat bertempur tnggal Kian-
san Ji-lo dengan tuan rumah. Tapi juga tidak lama sebab Cia
Kie sudah dibikin mental tubuhnya kena tendangan Lie Kui,
Cia Liang adiknya menyusul kena dicengkeram pundaknya
oleh Giam-ong Puy Teng sedang Liu Wangwee tampak masih
terus bertahan. Ini bukannya karena Liu Wangwee ilmu
silatnya lebih tinggi dari Kian-san Ji-lo, yang sebenarnya kalau
ia masih terus dapat bertahan adalah Teng Cong tidak
sekejam dua saudaranya. Ia bermaksud mau bikin Liu
Wangwee lelah dan roboh sendirinya, ia peras tenaga Liu
Wangwee dengan kegesitannya lompat sana sini.

Dalam keadaan sudah tinggal robohnya saja, tiba-tiba Liu


Wangwee mendengar teriakan puterinya dari jauh yang
barusan keluar dari rumahnya. Bwee Hiang barusan saja
mendapat laporan dari salah satu pelayannya bahwa ayahnya
terancam bahaya di taman bunga, berhantam dengan salah
satu orang dari Sucoan Sam-sat.

Ia cepat sembat pedangnya dan lari keluar. Tampak olehnya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sang ayah sudah lelah dan tinggal robohnya saja. Hatinya


sedih bercampur gusar, ia berteriak, "Orang jahat, kau jangan
lukai ayahku !"

Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai di taman bunga.

Mo-jiauw Teng Cong lompat mundur ketika diserang Bwee


Hiang dengan pedangnya. Berbareng tampak Liu Wangwee
sudah jatuh duduk saking lelahnya karena barusan diperas
tenaganya oleh si Ji-ko dari Sucoan Sam-sat.

"Jangan melukai ayah ! Berani ganggu lagi, jangan sesalkan


pedang nonamu tidak mengenal ampun !" kata si nona dengan
gagah, ia berdiri di samping Liu Wangwee yang mengeletak
empas-empis kecapaian.

Kian-san Ji-lo dan yang lainnya sudah pada rebah malang


melintang, dari mulutnya keluar rintihan kesakitan.

Melihat kejadian itu semua, hatinya si nona sangat sakit. Ia


menyesal orang kabarinya telah terlambat. Kalau tidak, tentu
ia sudah keluar siang-siang membantu para tamu yang
membantu ayahnya menempur si tiga algojo buas.

"Ji-ko, serahkan dia padaku." kata Lie Kui yang kegirangan


melihat si botoh dapat ia jumpai kembali. "Kalau sebentar kita
basmi keluarga Liu, biar tinggalkan dia untuk aku. Hahaha....."

Bwee Hiang kenali si berewok yang tempo hari kurang ajar


terhadap dirinya. Matanya melotot gemas ke arah si ceriwis
hingga Lie Kui kembali berkakakan ketawa.

"Kau ketawai apa, orang jelek !" semprot si gadis.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau jangan marah. Jelek-jelek aku bakal suamimu, bukan ?"


goda Lie Kui.

"Fui !" si gadis meludahi muka Lie Kui, saking gemasnya.

Sin-mo Lie Kui keburu berkelit hingga mukanya tidak sampai


berkenalan dengan ludah si nona. Ia tidak marah, malah
dengan ketawa hahah hihi, ia menghampiri Bwee Hiang.
Tangannya yang nakal diulur untuk mencolek pipi orang, tapi
pedang si nona menyabet laksana kilat. Cepat ia tarik
tangannya, kalau tidak, pasti tangan nakal itu akan kutung dan
kutungannya pasti jatuh di tanah.

"Nona manis, kau jangan galak-galak. Nanti aku cium kau di


depan orang banyak !" Lie Kui mengancam dengan
omongannya yang tidak enak di dengar untuk telinga si nona.

"Tutup mulut kotormu !" bentak Bwee Hiang. Berbareng


pedangnya dikasi kerja untuk menyerang si setan sakti.
Pikirnya, ia sudah berlatih banyka dengan ayahnya, masa ia
tidak bisa menabas si berewok yang memuakkan ini ? Ia tidak
tahu bahwa Lie Kui juga sudah dapat kemajuan banyak,
dibekali oleh gurunya.

Serangan si nona meskipun bagus dan berbahaya, tidak


ubahnya seperti dahulu ketika ia menghadapi Lie Kui. Ia hanya
diganda dengan berkelit sana sini saja hingga diam-diam
Bwee Hiang mengeluh kenapa dirinya goblok amat tidak bisa
menjatuhkan Lie Kui.

Si setan sakti sebaliknya merasakan bahwa ilmu pedang si


nona sudah jauh berbeda dengan dahulu. Diam-diam ia amat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berterima kasih pada gurunya sebab kalau tidak


kepandaiannya ditambah, sekarang menghadapi si nona,
salah-salah lehernya bisa dibabat pedang yang menari-nari
dengan sangat cepatnya.

Bwee Hiang gunakan gurus serangan kesayangannya, ialah


'Bwee hiang boan-wan' (harumnya bunga bwee memenuhi
taman), bagus sekali dimainkan oleh si gadis. Gerakan
pedang menari-nari dengan indahnya. Menyabet ke kiri ke
kanan, ke atas ke bawah dengan cepat sekali. Dengan itu ia
coba mendesak si setan sakti tapi tidak bermanfaat. Lie Kui
adalah lebih gesit dari dahulu. Malah sekarang lantaran agak
kewalahan, selainnya berkelit sana sini, lengan bajunya sering
dipakai menyampok pedang hingga serang si nona sering
mencong dari sasarannya.

Teng Cong dan Puy Teng ketawa bergelak-gelak melihat si


bontot tengan permainkan si nona yang sudah jadi mandi
keringat.

Sebaliknya, Kian-san Ji-lo menonton dengan rasa penuh


penasaran. Pangcu dari Ceng Gee Pang dengan lima anak
buahnya merintih-rintih menahan sakit dari lukanya sedang Liu
Wangwee keadaannya dalam sadar atau tidak, mengikuti
jalannya pertempuran si gadis lawan si bontot dari Sucoan
Sam-sat.

Sebentar lagi, tampak si gadis menusuk dengan bernapsu.


Inilah tindakan yang ditunggu-tunggu oleh Lie Kui. Dengan tipu
'Han mo tui ho' atau 'Setan kedinginan mengejar api', ia lihat
pedang Bwee Hiang tangan bajunya dibarengi dengan
kekuatan lwekang, ia menyentak hingga senjata itu terlepas
dari cekalannya si gadis. Malah Bwee Hiang hampir
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terhuyung-huyung menubruk si berewok kalau sja ia tidak


cepat-cepat tancap kakinya dengan ilmu 'cian kin tui' yang
membuat berat badannya seribu kati.

Bwee Hiang berdiri terkesima. Putuslah semua harapannya.


Tadinya ia berbesar hati dengan ilmu pedangnya yang hebat,
ia dapat melindungi orang-orang yang kini rebah malang
melintang. Kenyataannya, ilmu pedangnya meskipun
meningkat berkat pengunjukkannya si kerudung merah, tidak
bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi si muka berewok.

Ia lupa bahwa lwekannya kalah jauh dengan Lie Kui. Jago


pedang tak dapat menjadi jago pedang yang kesohor jikalau
ilmunya itu tidak dibarengi dengan lwekang yang tinggi.
Seperti Bwee Hiang, ilmu pedangnya bukannya jelek, ia bisa
bikin Lie Kui mandi keringat dan mungkin tertusuk salah satu
anggotanya kalau saja lwekangnya Bwee Hiang sedikit sama
dengan tenaga dalamnya si berewok.

Bwee Hiang hanya merasa cemas, cemas karena latihannya


kurang mahir pikirnya. Sayang, sebenarnya Bwee Hiang bisa
menjadi jago betina kelas wahid sebab ia berbakat kalau saja
ia mendapat didikan yang baik dari seorang berilmu dan
melatih lwekangnya yang dahsyat untuk menghadapi jago-
jago kuat.

Dalam putus asa dan hilang harapan, Bwee Hiang cuma bisa
jongkok dan menubruk ayahnya, dipeluki sambil menangis.
"Oh, ayah, anakmu yang celaka ini, yang membuat gara-gara
ini semua. Oh, ayah, ayah....." ia menangis makin keras ketika
sang ayah digoyang-goyang tubuhnya tinggal diam saja.

Dasar orang buas, dengan tidak punya perasaan sedikitpun


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat orang sedang bersedih. Sin-mo Lie Kui seraya


menghampiri si nona, ia menggodai, "Nona manis, kalau aku
Lie Kui tidak pandang kau ada calon istriku, siang-siang sudah
aku cabut nyawamu. Sekarang jangan nangis, marilah ikut
aku..........."

"Tahan, tahan, aku datang....." terdengar orang berteriak,


keluar dari pintu belakang rumah. Teriakan mana membikin
Lie Kui tidak jadi mencekal lengan si botoh yang lemas halus.

Dalam sekejapan saja lantas berdiri di depan Sucoan Sam-sat


seorang anak berwajah hitam. Mereka tidak tahu bagaimana si
bocah bergerak sebab tahu-tahu setelah terdengar
teriakannya 'Tahan, tahan, aku datang........', orangnya sudah
berdiri di hadapan mereka. Sudah tentu mereka tidak pandang
mata pada Lo In yang hanya satu bocah mukanya hitam, lain
tidak.

Lie Kui tertawa, kapan melihat anak kecil itu wajahnya hitam.
Ia berkata, "Anak kecil, pantas benar kalau kau jadi anak aku
Lie-toaya (tuan besar Lie)."

Lo In ketawa nyengir. "Sama-sama hitam, bagus sekali kalau


kau pelayan dari aku Losiauwya (tuan kecil)". sahut Lo In.

Matanya Lie Kui mendelik pada si bocah.

"Hei, anak kecil. Lekas kau enyah dari sini !" kata Giam-ong
Puy Teng nyaring.

"Kenapa aku harus pergi ?" tanya Lo In.

"Di sini bukan urusan anak kecil, semua urusan orang tua !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sahut Puy Teng.

Lo In tiba-tiba ketawa gelak-gelak. Meskipun suaranya tidak


sekeras orang dewasa, tapi bagi telinga bukan main berisiknya
hingga dirasakan pekak oleh karenanya. Sucoan Sam-sat
bukan main kagetnya apabila merasakan suara ketawa itu
selain menyelusup ke kuping memekakkan juga jantung rasa
tergetar.

Teng Cong yang sangat berhati-hati dalam segala hal lalu


menanya pada si bocah, "Saudara kecil, apa maksudmu
datang kemari ?"

Matanya si bocah berkilat melihat ke sekitarnya, banyak orang


bergeletakan rebah keluarkan rintihan sedang enci Hiangnya
sedang menangis sesengukkan memeluki Liu Wangwee. "Enci
Hiang, kau mengapa menangis ?" ia tanyai Bwee Hiang dan
tidak meladeni pertanyaannya Mo-jiauw Teng Cong.

"Adik kecil, kau terlambat datang. Oh, ayah, ayah


sudah.........." Bwee Hiang tak dapat melampiaskan kata-
katanya. Karena sangat sedih, ia tersedu-sedu menangis
sembari peluki tubuhnya Liu Wangwee dan digoyang-goyang,
mulutnya tak hentinya memanggil : "ayah, ayah !"

"Anak bau, kau bikin ribut saja !" bentak Lie Kui seraya
tangannya yang segede apa tahu, digaploki ke kepala Lo In.
Badannya si berewokan mendadak terputar sendiri karena
saking kerasnya ia memukul, ia telah menggaplok angin sebab
Lo In sudah lenyap dari hadapannya.

Mo-jiauw Teng cong yang lihat gelagat jelek sudah lantas


hendak mencegah Lie Kui berlaku kasar pada si bocah tapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

gagal akeran Giam-ong Puy Teng yang berangasan sudah


turun tangan mencengkeram kedua pundak Lo In saat itu ada
dibelakangnya Lie Kui.

"Celaka !" pikir Mo-jiauw Teng Cong dalam hati kecilnya.


Sebelum ia membuka mulut hendak mencegah toakonya
berlaku kasar, tiba-tiba terdengar : plak ! plak ! tiga kali.
Tubuhnya Giam-ong Puy Teng tampak terputar bagaikan
gasing, seraya tangannya memegangi pipinya yang kena
digampar oleh Lo In. Kesakitan bukan main dia, sebab giginya
sampai pada rontok, malah kepalanya jadi keleyengan pusing
karena tubuhnya terputar. Entah dibagaimanakan oleh si
bocah nakal.

Bwee Hiang sembari tersedu-sedu menangis, diam-diam ia


perhatikan gerak gerik adik kecilnya. Melihat Lo In dalam
segebrakan saja membuat dua jagoan yang kesohor
kebuasannya menjadi pecundang, bukan main girangnya.
Malah ia tertawa ngikik waktu nampak Giam-ong tubuhnya
berputar macam gasing seraya memegangi pipinya yang
bekas digampar si bocah.

Melihat keadaan genting, Mo-jiauw Teng Cong tak dapat


berpeluk tangan menonton. Segera ia melompat, maksudnya
hendak membekuk Lo In yang berdiri membelakanginya.
Adegan itu sangat menegangkan urat syaraf sampai-sampai
Bwee Hiang menjerit saking ngerinya melihat si bocah
dibokong. Tapi bukannya si bocah yang kena dibekuk,
sebaliknya si Cakar Setan yang tersungkur dan ngusruk habis,
mukanya mencium tanah.

Terbelalak matanya si gadis. Ia hampir tidak percaya akan


penglihatannya sebab Lo In tampaknya lenyap seperti asap
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

saja. Gerakannya bagaikan kilat, seantero tubuhnya seperti


ada matanya, tidak mudah di bokong lawan.

Giam-ong Puy Teng tampak roboh terkulai, setelah main


gasing sebentaran. Ia rasakan kepalanya pusing benar,
mulutnya berlumuran darah. Ketika ia semburkan ada tiga
empat biji giginya yang ikut lompat keluar dengan darahnya.

Lie Kui naik pitam. Goloknya yang berkilauan dihunus dari


sarungnya.

"Anak haram jadah ! Kau rasakan golok kakakmu !" bentaknya


disusul dengan serangan membacok dari atas ke bawah
kemudian dari samping kiri ke kanan dan sebaliknya, disusul
dengan tikaman ke arah dada, dahsyat sekali. Cepat
serangannya Lie Kui, bertubi-tubi. Tidak heran sebab ia
menggunakan salah satu jurus yang paling ampuh dari 'Sin-
mo Siang jiauw Ciang-hoat' yang dinamai 'Han mo hoan sin'
atau 'Setan kedinginan jungkir balik'.

Cuma si berewokan merasa amat gegetun karena tiap


tebasan, tikaman dan sontekan dari goloknya, seakan-akan
menebas, menikam dan menyontek bayangan saja. Lo In di
depannya bergerak terlalu gesit, meskipun melayani ia dengan
tangan kosong.

Mata Lie Kui serasa mabuk, nampak Lo In seperti menari-nari


dengan lima bayangan, mengitari dirinya. Terpaksa ia
membacok sana sini, serabutan saja.

Untuk mengocok si berewokan itu, Lo In sudah gunakan


gerakan 'Thian lie pian in', ialah 'Bidadari menari di awan'. Si
bocah punya 'Bu ong sin kang' (tenaga sakti tanpa bayangan)
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yagn sempurna, telah memungkinkan ia memerkan gerakan


yang indah, lincah dan gesit laksana kilat dalam jurusnya
'Bidadari menari di awan' tubuhnya tampak bagaikan menari-
nari diikuti dengan lima bayangan. Karena ini si bontot dari
Sucoan Sam-sat matanya menjadi mabuk.

Bwee Hiang berhenti menangis. Ia terpesona dengan


kepandaiannya si bocah sakti yang nakal, lupa ia kepada
ayahnya yang barusan ia peluki dengan tangisan terisak-isak.

Demikian mudah si bocah permainkan Lie Kui yang tinggi


besar, kasar. Hatonya merasa puas. Pikirnya, "Aku sendiri tak
dapat membalas si kurang ajar. Biarlah adik In yang tolong
balaskan !"

Dalam berpikir demikian, tiba-tiba ia menjerit, "Adik kecil, awas


!"

Berbareng dengan jeritan si gadis tampak Lo In jumpalitan.


Ujung sepatunya yang kecil menotok jalan darah di
pergelangan tangan kanan Lie Kui hingga goloknya terpental
dan orangnya jatuh numprah. Badannya Lo In kemudian
berputar, mencelat ke atas beberapa kali. Ketika si bocah
berhenti bergerak, tampak ia berdiri dengan mulut menggigit
pisau dah dua tangannya juga menggenggam pisau.

Dari mana Lo In dapat tiga pisau dengan berbareng ?

Itu ketika sedang gembiranya Bwee Hiang menonton si


berewokan dipermainkan oleh adik kecilnya, tiba-tiba matanya
yang awas melihat Mo-jiauw Teng Cong tengah mengayun
tangannya melepaskan senjata rahasianya 'Thoat-beng-ciam'
(Jarum pencabut nyawa) dan Giam-ong Puy Teng
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyambitkan 'Hui-to' (pisau terbang).

Mereka lepaskan senjata-senjata rahasianya dengan serentak


dan saling susul hingga Bwee Hiang menjerit 'Adik kecil, awas
!' dan hatinya ketakutan adik kecilnya mati dibokong oleh dua
orang jahat itu. Mendengar tanda bahaya, si bocah lantas
jungkir balik, ujung sepatunya menotok pergelangan Lie Kui
hingga goloknya jatuh untuk hindarkan hujan jarum, badannya
berputar mengebut dengan bajunya sedang sambaran-
sambaran pisau terbang Giam-ong Puy Teng, ia punahkan
dengan tubuhnya mencelat pergi datang beberapa kali. Dua
pisau ia tangkap dan satu ia gigit hingga waktu ia tancap kaki
pula ke tanha, tampak gayanya lucu sekali. Mulutnya yang
menggigit pisau seperti ketawa, dua pisau yang dipegang
kedua tangannya diacung-acungkan. Tapi hanya sejenak saja
si bocah hitam bergaya lucu sebab kemudian pisau di tangan
kiri ia lontarkan pada Lie Kui, mengarah kuping sebelah kiri
hingga si berewokan menjerit dan memegang telinganya yang
daunnya sudah copot. Pisau di mulut ia tiup, menyambar
telinga Mo-jiauw Teng Cong sebelah kanan hingga ia pun
menjerit, daun kupingnya mental jatuh di tanah. Tinggal pisau
di tangan kanannya yang membuat Giam-ong Puy Teng
menggigil ketakutan sebab saat itulah ada gilirannya.

Si bocah dengan wajahnya yang hitam legam memandang


toako dari Sucoan Sam-sat. Kemudian ia menengadah ke
langit lalu tertawa gelak-gelak yang memekakkan telinga tiga
algojo pecundang, setelah mana ia memandang pula Giam-
ong Puy Teng dan berkata, "Kau ada paman jahat, biar
hukuman begini saja !"

Berbareng dengan kata-katanya, pisau ditangan kanannya


juga sudah lantas meluncur ke arah mata kirinya. Pisau itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

meluncur cepat karena di dorong oleh kekuatan lwekang


sehingga tahu-tahu sudah nancap pada matanya si raja
akherat tanpa ia dapat berkelit lagi. Ia teraduh-aduh sambil
pegangi matanya yang berlumuran darah.

Sucoan Sam-sat rasakan hukuman yang mereka terima lebih


berat dari si kerudung merah sebab dua daun kuping yang
mental dari tempatnya tak dapat ditempel lagi dan matanya
Giam-ong Puy Teng menjadi meram dua-duanya. Ia menjadi
buta.

Untuk mengeroyok Lo In, itu sudah tak mungkin. Si bocah


kepandaiannya benar-benar mempesonakan. Belum pernah
mereka saksikan jago silat yang mana juga, apalagi Lo In
hanya satu anak kecil saja. Dengan memimpin toakonya yang
sudah buta, Teng Cong dan Lie Kui berlalu meninggalkan
tempat itu. Mereka ketakutan ditahan oleh Lo In tapi
kenyataannya tidak demikian sebab si bocah sudah bertindak
menghampiri Bwee Hiang, tidak menghiraukan lagi pada
mereka.

"Adik kecil, kau datang terlambat. Kemana saja kau pergi ?"
tanya Bwee Hiang sambil deliki matanya, ia memarahi si adik
kecil.

Lo In hanya tertawa nyengir. Ia tidak ladeni enci Hiangnya.


Sebaliknya, ia lantas jongkok untuk memeriksa keadaan Liu
Wangwee.

"Gara-gara kau adik kecil datang terlambat, ayah, ayah


sudah....." Bwee Hiang kembali menangis sesenggukkan,
seraya goyang-goyang tubuhnya Liu Wangwee.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bwee Hiang rupanya ngeri untuk mengatakan 'ayah sudah


MATI', hanya sampai pada kata 'sudah' lantas ia nangis
sesenggukan seperti anak kecil.

"Enci Hiang, kenapa kau menangisi lope begini sedih ?" kata
Lo In setelah si bocah memeriksa Liu Wangwee.

Sambil menyeka air matanya dengan lengan baju, Bwee


Hiang menyahut, "Kau bisa kata begitu tapi bagaimana aku
tidak bisa menangis karena dia sudah pulang..... Oh, ayah,
ayah, kau tega tinggalkan Bwee Hiang....."

Bwee Hiang menangis keras, malah kali ini gegerungan.

Lo In menjadi heran, dari heran ia jadi tertawa terbahak-bahak.

Sudah menjadi wataknya rupanya, kalau Lo In menghadapi


sesuatu yang akan meminta tenaganya, ia suka tertawa
terbahak-bahak.

Orang sedang kematian bapak, sedih bukan main. Menangis


untuk melampiaskan kesedihan, tiba-tiba mendengar si bocah
ketawa terbahak-bahak, sudah tentu si nona menjadi jengkel.
Tak tahan meluapnya hawa amarah, maka seketika itu ia
sudah lantas merangsang Lo In yang sedang jongkok di
dekatnya. Ia ingin cekek mampus saja si bocah seketika itu
sampai melupakan badannya bersentuhan dengan si bocah.
Gemas ia hendak menggigit Lo In yang saat itu dengan sabar
melayani tangan si nona yang saling susul hendak
mencengkeram mukanya. Dua tangannya si nona sudah kena
dipegangi Lo In, lalu Bwee Hiang gunakan mulutnya menggigit
pipi si bocah muka hitam. Heran, Lo In tinggal antapkan saja
pipinya digigit si nona.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In kelihatan seperti yang bercanda dengan Bwee Hiang,


tapi sebaliknya si nona beringas hendak menerkamnya.

Orang-orang yang melihat perbuatan Lo In pada mencela,


diam-diam pada mengutuk kelakuan si bocah yang
keterlaluan. Masa orang yang menangisi ayahnya yang mati
ditertawakan, mereka tidak menyalahkan kalau si nona begitu
marah. Malah, kalau mereka tidak sedang terluka, tentu
dengan serentak turut mengganyang si bocah.

Bwee Hiang rasakan menggigit pipinya Lo In bukannya


menggigit daging tapi seperti menggigit kapas, lunak bukan
main. Dalam sikapnya itu ia bukan menggigit, sebaliknya
seperti ia menciumi si hitam. Ketika ia sadar atas kelakuannya
yang tidak benar, ia rasakan dirinya sudah berada dalam
pelukan Lo In. Ia berontak tapi tanpa hasil. Kedua tangan Lo In
yang memeluk dirinya seperti besi seberat seribu kati, susah
disingkirkan. Ia jadi jengah dengan sendirinya, selebar
mukanya merah karena malu. Ketika mulutnya sudah siap
hendak mencaci maki, tiba-tiba ia mendengar si bocah
berkata, seperti berbisik di kupingnya, "Enci Hiang, jangan
marah. Juga jangan menangis sebab Lope tidak apa-apa....."

Bwee Hiang mendelik matanya, "Apa kau masih belum mau


lepaskan encimu ?" Bwee Hiang menegur tatkala si bocah
masih terus memeluki tubuhnya.

Sambil ketawa haha hihi, Lo In lepaskan pelukannya.

Kelakuan Lo In hanya bersifat main-main saja. Ia anggap


Bwee Hiang seperti Eng Lian. Sebaliknya bagi Bwee Hiang
yang sudah dewasa, merasa tidak enak Lo In perlakukan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dirinya demikian di depan orang banyak.

Ketika ia hendak melampiaskan amarahnya via mulutnya, Lo


In sudah mendahului berkata, "Enci Hiang, Lope hanya
kehabisan tenaga. Dia tidak mati !"

"Hah ! Masa ?" Bwee Hiang kaget tapi timbul harapannya.

"Kau lihat, nanti adikmu tolong Lope." kata Lo In.

Sambil berkata, tangan Lo In bekerja. Ia angkat tubuhnya Liu


Wangwee supaya dikasih duduk, lalu berkata pada Bwee
Hiang, "Kau bantu aku, enci Hiang. Kau pegangi tubuh Lope
supaya dia dapat duduk tegak."

Bwee Hiang cepat membantu, memegangi tubuhnya Liu


Wangwee yang lemas dan hendak jatuh rebah lagi. Kemudian
Lo In tempelkan tangan kirinya ke bokong si orang tua, tangan
kanannya menempel di dada. Seperti strum mengalir, tenaga
dalamnya Lo In yang dikerahkan, sudah nyusup membuka
otot-otot yang mecet dan saluran-saluran darah yagn jalannya
mampet. Dalam tempo tidak lama, kelihatan Liu Wangwee
bergerak, kemudian menarik napas dan membuka matanya.

Saking kegirangannya, Bwee Hiang lantas mau berteriak dan


memeluk ayahnya tapi melihat Lo In geleng-geleng kepalanya,
ia tidak berani sembarangan. Ia taat pada kewajibannya
sampai si orang tua pulih kesegarannya. Ia melihat Lo In dan
Bwee Hiang ada didekatnya. Si gadi tengah memegangi
tubuhnya, sedang Lo In menempelkan telapakan tangannya di
dada dan di bebokongnya.

Liu Wangwee mengerti bahwa Lo In sedang menolong dirinya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan tenaga dalamnya yang dahsyat sebab ia rasakan


hawa panas menyelusup dimana-mana dalam tubuhnya dan
segera ia merasakan kesegarannya kembali.

"Anak-anak, terima kasih atas pertolongan kalian." Liu


Wangwee tiba-tiba berkata.

Bwee Hiang memandang Lo In dan Lo In anggukkan


kepalanya. Itu sebagai tanda si nona boleh bicara dengan
ayahnya. Seketika si nona sudah menubruk ayahnya dan
berkata sambil berlinang-linang air mata, "Ayah, kau sudah
sembuh. Oh, untung ada adik kecil. Kalau tidak, entahlah
bagaimana jadinya kita." Bwee Hiang berkata seraya
menunjuk pada Lo In yang saat itu juga ia sudah hentikan
pertolongannya pada Liu Wangwee yang sudah kembali
kesehatannya.

"Anak In, terima kasih. Kau anak baik. Semoga selamanya kau
mendapat perlindungan dari Thian...." Liu Wangwee berkata,
seraya ia bangkit dari duduknya dibantu oleh Bwee Hiang
yang sangat kegirangan.

Setelah melihat sang ayah dapat bergerak bebas, si nona


lepaskan tangannya yang membantu Liu Wangwee untuk
berdiri. Lalu ia rapihkan rambut kepalanya yang awut-awutan
dan ketika ia merapihkan pakaiannya yang juga awut-awutan,
matanya melirik pada Lo In yang mengangguk sambil ketawa.
Bwee Hiang pelototi matanya sebentar, tapi ia pun ketawa
mesem. Ia sadar sekarang, bahwa perbuatan Lo In barusan
bukannya kelakuan kurang ajar. Itu hanya kelakuan dari
seorang bocah nakal yang menganggap ia (Bwee Hiang)
sebagai teman sebayanya memain.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kalaupun dimisalkan Lo In barusan main gila terhadap dirinya,


si nona pun tidak merasa menyesal sebab pertolongan Lo In
pada orang tuanya ada jauh lebih berharga dari kenakalannya
si bocah barusan atas dirinya. Maka itu, barusan setelah
pelototi Lo In, ia telah kasih senyum mesem memikat pada si
bocah hitam.

Liu Wangwee melihat Kian-san Ji-lo dan Pangcu beserta anak


buahnya roboh malang melintang terluka karena
mengganasnya Sucoan Sam-sat, hatinya sangat terharu.
Sebab oleh karena hendak membantu dirinya, mereka telah
menjadi korban.

"Anak In, coba kau periksa lukanya para pamanmu itu.


Barangkali kau dapat menolongnya." berkata itu Liu wangwee
kepada Lo In.

(Bersambung)

Jilid 06
Si bocah menurut. Yang luka parah ternyata Cia Liang dari
Kian-san Ji-lo, tulang sambungan pundak sebelah kiri remuk
dicengkeram Giam-ong Puy Teng. Cian Kie sang engko tidak
seberapa berat kena tendangan Lie Kui sedang Pangcu dan
lima anak buahnya dari Ceng Gee Pang hanya luka-luka
ringan. Mungkin karena takut, mereka tidak berani maju lagi
dan pura-pura merintih kesakitan ketika mereka dirobohkan.

Sementara Lo In memberi pertolongan kepada mereka yang


terluka, Bwee Hiang di lain pihak sudah nyerocos menuturkan
bagaimana Lo In menempur tiga jago jahat dari Sucoan dan
merobohkannya satu persatu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liu Wangwee ketika Lo In datang, ia sudah jatuh pingsan,


tidak menonton pertempuran ramai itu. Maka sambil angguk-
anggukan kepala, diam-diam Liu Wangwee merasa sangat
kagum akan kepandaian Li In yang sakti.

"Hek-bin Sin-tong...." kedengaran ia menggumam setelah


mendengar habis si nona bercerita. Ini adalah cetusan
perkataan yang tanpa terasa dari bibirnya Liu Wangwee
seperti juga kejadian dengan Hu-pangcu dari Ceng Gee Pang
tempo hari.

Julukan bagi Lo In ialah 'Hek-bin Sin-tong' atau 'Si bocah sakti


berwajah hitam', sejak membuat kucar kacir Sucoan Sam-sat
telah menjadi populer di kalangan Kangouw. Nama Hek-bin
Sin-tong untuk Lo In dengan serentak telah menjadi terkenal.

Seraya mengurut-urut jenggotnya, Liu Wangwee menarik


napas tatkala Bwee Hiang habis menutur. Parasnya kelihatan
sangat berduka, hingga Bwee Hiang jadi kaget.

"Ayah, kau kenapa ?" tanya sang gadis penuh kuatir.

"Aku menyesal anak In datang terlambat. Kalau tidak, tentu


para pamanmu tidak sampai mengalami malapetaka seperti
sekarang ini." jawab sang ayah lesu.

"Aku juga tidak tahu kemana anak nakal itu sudah pergi. Coba
aku nanti tanya padanya." kata Bwee Hiang seraya bertindak
menghampiri si bocah yang sedang repot.

Kiranya Lo In tidak boleh disalahkan. Sebab ia tidak tahu kalau


pada malam ini bakal kedatangan Sucoan Sam-sat. Ia permisi
pada Bwee Hiang untuk jalan-jalan keluar lantaran ada urusan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sendiri.

Si bocah masih penasaran pada orang yang menggasak


miliknya berupa bungkusan kecil. Uang ia tidak buat pikira.
Yang ia sayangi obat-obatan yang ia bawa ada dalam
bungkusan itu. Maksudnya ia keluar jalan-jalan, siapa tahu ia
dapat pergoki orang yang menyikat barang miliknya itu. Dari
siang ia kelayapan tanpa tujuan sampai pada saat cuaca
remang-remang ia lihat ada seorang yang kebetulan
kesamprokan dengannya seperti ketakutan dan menjauhkan
diri.

Orang yang potongannya kurus kecil tapi gesit. Romannya


seperti kunyuk, ketawanya tidak enak dilihat. Lo In lantas
curiga, mungkin orang ini yang sudah ambil buntelan kecilnya.
Ia pura-pura tidak memperhatikan tapi diam-diam ia pasang
mata kemana perginya orang itu. Lo In harus melewati
beberapa lapangan dan tikungan untuk menguntit orang yang
mencurigakan itu. Waktu sampai pada satu jalan yang
menikung ke belakang sebuah kuil kecil, Lo In kehilangan jejak
orang yang dikuntitnya. Ia merasa heran. Bagaimana orang itu
bisa lolos dari kuntitannya.

Pikirnya, tidak bisa salah. Orang itu tentu masuk ke dalam kuil
di situ.

Dasar anak bernyali besar, tanpa pikir dirinya bisa terjebak, Lo


In sudah masuk dalam kuil itu. Di dalam ia disambut oleh
Hweshio (pendeta) muda dari kira-kira berusia 18 tahun dan
menanyakan pada Lo In, "Saudara kecil, ada urusan apa kau
datang kemari ?"

"Aku hendak sembahyang, suhu." sahutnya singkat, sedang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

matanya berkilat memperhatikan sekitarnya. Ia mengharap


kalau-kalau dapat melihat orang yang dikuntitnya.

Omongnya mau sembahyang tapi Lo In tidak maju ke tempat


pemujaan, sebaliknya ia jalan sana sini melongok-longok
mencari orang yang dicurigai.

"Saudara kecil, kau cari apa ?" tanya si Hweshio mesem,


rupanya sudah tahu apa yang diinginkan oleh si bocah.

"Tidak, aku mau mencari orang. Apa suhu dapat lihat ada
orang kurus kecil masuk ke sini barusan ?" Lo In balik
menanya.

"Bukankah saudara kecil hendak sembahyang ?" menanya


lagi si Hweshio.

"Sembahyang belakangan kalau aku sudah ketemu orang itu."


sahutnya, nyengir.

"Saudara kecil, tempat disini tidak boleh dipakai main-main !"


kata si Hweshio.

"Aku omong benar, bagaimana kau katakan main-main ?"

"Tadi bilangnya mau sembahyang, sekarang mau cari orang.


Apa itu bukannya main-main ?"

"Kau keluarkan dulu orang itu, aku nanti sembahyang !"

Si Hweshio jadi kurang senang, matanya mendelik. Ia angkat


tangannya, menunjuk ke pintu sambil katanya, "Keluar, lekas
keluar !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau suruh aku keluar, mudah saja. Asal kau sudah keluarkan
orang yang sembunyi dalam kuilmu disini !"

Panas hatinya si Hweshio. Si bocah diusir, bukannya menurut


malah menantang !

"Aku Tong Seng, murid keempat dari Ceng Bian Hweshio.


Belum pernah menemui tamu macam kau yang tidak tahu adat
!" teriaknya sambil tepuk-tepuk dada.

"Baru murid keempat, biar kau murid nomor wahid juga aku
tidak takut. Asal kau masih membandel tidak mau keluarkan
orang yang kucari !" sahut Lo In.

Meluap amarahnya Tong Seng Hweshio.

"Kau kira disini biasa sembunyikan maling ?" bentaknya


berbareng tangannya melayang hendak menyekik batang
leher Lo In.

"Hehehe, kau mau berkelahi ?" kata Lo In, tangan si Hweshio


yang melayang dapat ditangkapnya. Sekali sentak tubuh Tong
Seng Hweshio terjerunuk ke depan, jidatnya membentur meja
tepekong hingga kontan tambah daging.

"Rampok ! Rampok !" teriaknya seraya pegangi jidatnya yang


kesakitan.

Lo In tenang-tenang saja meskipun dari berbagai jurusan pada


bermunculan kawanan kepala gundul dengan masing-masing
membawa gegaman pentungan kayu besar. Si bocah hitung
kira-kira ada 15 orang yang muncul berbareng mendengar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

teriakannya Tong Seng Hweshio tapi diantaranya tidak


kelihatan orang yang dicari.

Satu Hweshio yang usianya lebih tua dari Tong Seng tampak
maju mendekat Lo In. Dengan bengis ia membentak, "Anak
kecil, kau mau merampok di sini ?"

"Buat apa aku merampok kuilmu yang tidak ada harganya."


sahut Lo In. "Aku hanya mau minta orang yang kucari, kau
keluarkan !"

"Siapa yang kau cari ?" tanya si Hweshio.

"Hehehe, kau juga mau main putar-putar ?" kata Lo In tidak


senang.

"Nih, main putar-putar !" bentak si Hweshio seraya pentungnya


melayang mau mengepruk kepala Lo In.

"Bagus !" kata Lo In, berbareng ia berkelit nyamping. Ketika


pentungan lewat, kakinya maju, tangan kanannya dengan satu
jari telunjuk menotok lengan si Hweshio jagoan yang menjerit
seketika dan roboh terkulai.

Semuanya menyerbu Lo In. Sesosok tubuh menjadi sasaran


pentungan ramai-ramai hingga yang dijadikan sasaran
menjadi berkuing-kuing seperti babi dipotong. Kiranya orang
yang dihujani pentungan bukannya Lo In sebab si bocah
sudah lenyap tanpa setahu mereka. Mereka
celingukanmencari seraya minta maaf pada si Hweshio yang
menjadi sasaran pentungan tadi. Siapa, ternyata ada Hong
Seng, murid kepala dari Ceng Bian Hweshio dalam kuil itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kemana itu anak anjing ?" teriak Hong Seng penuh


kegusaran. Ia dapat bergerak bebas pula dari totokan Lo In
sebab si bocah hanya menotok main-main saja.

Mendengar ribut-ribut, Ceng Bian Hweshio keluar dari kamar


semedhinya. Murid-muridnya repot melapor tentang
munculnya bocah berwajah hitam membuat onar dalam kuil.

Ketika ditanyaka apa sebabnya, Hong Seng lapor kalau si


bocah hitam itu mencari jejaknya si kurus kecil.

"Aku sudah katakan, kalian jangan suka campur dengan si


Tangan panjang Ong Cit. Sebab satu waktu Ong Cit akan
ketemu batunya. Benar ia pandai memindahkan milik orang
dengan menggunakan kesebatan tanganya, tapi itu perbuatan
tidak baik. Satu waktu bila ia diterjang sial bisa susah. Nah,
buktinya sekarang, bagaimana ? Kuil kita menjadi kerembet-
rembet oleh perbuatannya Ong Cit."

Kawanan Hweshio itu ada komplotannya Ong Cit. Mereka


suka melindungi si Tangan Panjang dengan menyuruh Ong Cit
melenyapkan diri dalam kuilnya sebab tidak ada orang berani
carinya kalau ia sudah berada dalam kuil itu. Orang segan
kepada Ceng Bian Hweshio yang menjadi kuil tersebut.

Mereka begitu perlu melindungi si Tangan Panjang latnaran


mereka sering mendapat bagian dari penghasilan yang
diperoleh Ong Cit.

Mendengar kata-kata gurunya, Hong Seng membela


kawannya. Ia berkata, "Suhu, Ong Cit banyak membantu kuil
kita. Apa suhu hendak pungkir kedermawanannya ? Orang
sudah hinakan kuil kita, bukannya suhu mencari tahu siapa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orangnya, sebaliknya suhu marahi kita dan sesalkan bergaul


dengan Ong CIt."

Ceng Bian Hweshio juga bukannya pendeta suci. Maka ketika


mendengar jawaban sang murid kepala, seketika itu menjadi
gusar.

"Mari kita cari anak hitam itu !" katanya seraya ajak anak
muridnya untuk memeriksa seluruh kuil.

Tapi Lo In tidak diketemukan, entah kemana bocah itu larinya.

Ketika Hong Seng membuka sebuah kamar yang biasa dipakai


untuk mengumpat oleh Ong cit, kaget bukan main si murid
kepala dari Ceng Bian Hweshio. Dalam kamar itu tampak Ong
Cit, dua daun kupingnya hilang, empat jari tangan kanannya
sudah kuntung dan kuntungannya jatuh di lantai. Dari tangan
dan kedua belah telinganya tampak berlumuran darah, bekas
bekerjanya pisau tajam yang menggeletak tidak jauh dari si
Tangan Panjang. Malah pisau itu pun miliknya Ong Cit.

Si copet lihat dalam keadaan tidak bergerak karena kena


ditotok terpaksa Hong Seng lapor pada gurunya untuk sekalian
minta bantuan supaya membuka totokan.

Ceng Bian Hweshio sudah lantas datang ke kamarnya Ong


Cit.

Ia geleng-geleng kepala nampak nasib yang dialami si Tangan


lihai. Cepat ia bekerja untuk membuka totokan tapi sana sini
ditepuk tubuhnya si copet lihai oleh si kepala kuil untuk
membebaskan totokan tetap tak berhasil.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hong Seng heran. Ceng Bian Hweshio malah lebih heran dan
terkejut karena sebagai orang Kangouw kawakan ia tidak bisa
membuka totokan orang.

Bagaimana ia berusaha ternyata tidak peroleh hasilnya malah


Ong Cit tiap sebentar berjengit kesakitan dan matanya
mengucurkan air. Ia menangis dan matanya saja yang
mencilak-cilak seolah-olah memohon supaya percobaa Ceng
Bian Hweshio jangan diteruskan karena ia merasakan suatu
siksaan ditepuk sana sini bagian anggautanya untuk mencari
tempat membuka totokan.

Ceng Bian Hweshio yang sudah banyak pengalaman dapat


memahami keadaan si Tangan Panjang. Maka ia hentikan
percobaannya. Ia berkata, "Biasanya totokan macam ini tidak
sembarang orang bisa buka, berjalan dua jam lamanya dan si
korban akhirnya bebas dengan sendirinya. Maka tunggu saja
dua jam lagi, lihat bagaimana jadinya." Ceng Bian Hweshio
berkata seraya ngeloyor keluar dari kamar.

Tinggal Hong Seng dan kawan-kawannya pada menemani


Ong Cit sambil menanti sang waktu lewat dua jam
sebagaimana dikatakan oleh suhunya. Selama menemani,
diam-diam mereka ketakutan kalau-kalau si bocah wajah
hitam itu datang lagi menotok mereka dan menyiksa
sebagaimana yang dialami si Tangan Panjang Ong Cit.

Syukur-syukur si bocah tidak datang lagi dan mereka


kegirangan. Ketika sudah lewat dua jam, benar saja totokan
pada Ong Cit terbuka dengan sendirinya. Kini baru terdengar
rintihan si Tangan Panjang yang kesakitan karena sepasang
daun telinga dan empat jari di tangan kanannya dihilangkan
orang dengan paksa.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hong Seng sudah memberi obat pil bikinan Ceng Bian


Hweshio untuk menahan rasa sakit dan obat bubuk untuk
diborehkan pada bagian-bagian angguta yang terluka maka
Ong Cit tidak sampai menderita kesakitan terus menerus.

Menurut penuturan Ong Cit, ketika ia kesomplokan dengan Lo


In, ia lihat matanya Lo In berkilat tajam menotok di jantungnya
hingga berdebaran. Maka ia jadi ketakutan sebab menurut
penuturan jago-jago persilatan kalau orang punya mata
demikian berwibawa mempunyai lwekang (tenaga dalam)
yang dahsyat.

Tadinya ia tidak takuti Lo In ketika dalam rumah makan ia


sambar bungkusa kecilnya yang saat itu si bocah tengah
bicara dengan seorang pelayan, berdiri membelakangi
bungkusannya. Tapi tadi, ketika ia kesomplokan dan
pandangannya kebentrok dengan mata Lo In yang berkilat
menusuk jantung, membuat ia jadi ketakutan.

Sebagai copet yang lihai, ia tahu dirinya dikuntit Lo In. Maka


pikirnya, jalan yang selamat adalah masuk ke dalam kuil Thian
Ong Bio dimana ia banyak kawan yang dapat membantu
melindungi dirinya. Setelah kasak kusuk dengan Tong Seng
lalu ia masuk ke kamar biasa ia mengumpat tapi tidak urung ia
dapat diketemukan oleh si bocah muka hitam. Tatkala mana ia
sudah berlaku nekad dengan pisaunya yang tajam luar biasa,
ia menerjang Lo In.

"Hehe, mau melawan ?" si bocah berkata berbareng Ong Cit


rasakan nadi tangannya yang memegang pisau kena disentil,
kesemutan lemas, pisaunya dengan sendirinya jatuh ke lantai.
Ia coba menerobos keluar tapi satu tendangan mengenai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pahanya membuat ia jatuh melongsor. Cepat ia bangun lagi


tapi bukan untuk lari, sebaliknya ia lantas jatuhkan diri berlutut
di depan Lo In untuk minta ampun.

"Asal kau kembalikan barangku, aku nanti kasih kelonggaran."


kata Lo In.

"Ada, oh, ada. Aku tidak ganggu sedikit pun barang Siaoya."
sahut Ong Cit.

Setelah berkata, Ong Cit bangun dari berlututnya dan jalan


menghampiri satu lemari kecil dimana ia keluarkan miliknya Lo
In.

"Inilah barang Siaoya." katanya seraya menyerahkan pada Lo


In.

Lo In menyambuti lalu periksa isinya, ternyata benar saja tidak


diganggu.

Uang yang jumlahnya tidak seberapa dan botol obat-obatan


yang si copet tidak tahu obat apa membikin Ong Cit tidak
bernafsu untuk mengganggunya. Makanya juga ia lantas
simpan saja di dalam lemari kecil, spesial untuk menyimpan
barang-barang rongsokkan (tidak berharga) dari hasil kerja
tangan panjangnya.

"Bagus." kata Lo In setelah memeriksa isi bungkusa kecilnya.


"Nasibmu masih baik. Coba kau bikin hilang barangku.
Sebagai gantinya aku bikin hancur batok kepalamu. Nah, ini
kau lihat !" berbareng tangan Lo In diulur mengambil sebuah
patung kecil diatas meja tidak jauh dari situ. Patung itu dikepal
Lo In sejenak lalu setelah kepalannya dibuka, ia perlihatkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada Ong Cit.

Matanya Ong Cit terbelalak ketakutan, badannya menggigil


seperti disambar penyakit malaria layaknya. Kembali ia tekuk
lututnya dan minta-minta ampun.

"Ampun, Siaoya, ampunilah selembar jiwaku........." ia


meratap.

Kiranya patung itu, meskipun kecil terbuat dari logam murni


yang kuat. Di taruh dalam kamar itu, merupakan tepekongnya
Ong Cit dalam pekerjaan jahatnya.

Patung yang sekeras itu ternyata dalam genggamannya Lo In


telah berubah menjadi tepung terigu. Sudah tentu saja Ong Cit
menjadi ketakutan menyaksikan demikian dahsyatnya tenaga
dalam si bocah wajah hitam.

Setelah meniup berhamburan patung yang berubah menjadi


tepung itu dari tangannya, Lo In berkata pada Ong Cit, "Kau
jahat, suka bikin susah orang tapi tidak sejahat orang yang
membunuh sesamanya. Maka aku kasih kelonggaran
hukuman. Sekarang kau ambil pisau ini dan iris kedua daun
telingamu !"

Ong Cit gemetaran tubuhnya. Matanya memandang Lo In


seperti yang mohon dikasihani tapi Lo In belagak pilon, malah
katanya, "Lekas kerjakan !"

Si Tangan Panjang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ambil


pisaunya sendiri yang tadi jatuh di lantai, sambil kuatkan hati,
ia mengiris dua daun telinganya satu demi satu. Darah
mengetel jatuh dari telingan yang sudah kehilangan daunnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat itu, hatinya Ong Cit terkesiap dan ia jatuh pingsan.

Kapan ia siuman kembali, ia dapatkan dirinya tak dapat


bergerak. Empat jari di tangan kanannya sudah berserakan di
lantai bersama dua daun kupingnya.

Mulutnya tak dapat bersuara untuk minta tolong karena urat


gagunya sudah kena ditotok Lo In. Maka terpaksa ia
menantikan orang datang membuka kamarnya saja.

Mendengar penuturan Ong Cit, semua orang menjadi gentar


terhadap si bocah wajah hitam. Mereka mengharap Lo In tidak
mengulangi kedatangannya ke kuil mereka.

Demikianlah, Lo In sambil bersiul-siul kegirangan mendapat


pulang barangnya yang tak ternilai harganya. Ia berjalan
pulang ke ruman Liu Wangwee. Justru tatkala itu Kian-san Ji-
lo dan jago-jago dari Ceng Gee Pang sudah dirobohkan oleh
Sucoan Sam-sat. Si botoh Bwee Hiang tengah dipermainkan
oleh Lie Kui. Pelayan yang melihat si bocah pulang lantas
memberikan laporannya. Kaget Lo In. Cepat ia lari ke taman
bunga, dimana ia lihat enci Hiang sedang peluki tubuhnya Liu
Wangwee yang dalam keadaan kehabisan tenaga. Kapan ia
lihat Lie Kui hendak menganggu Bwee Hiang, mengulur
tangan hendak memegang si nona, lantas ia berteriak :
'Tahan, tahan, aku datang.....!' dari kejauhan, sementara
tubuhnya melesat seperti meluncurnya roket yang barusan
dilepaskan, bagaimana si bocah bergerak tahu-tahu sudah
muncul dihadapan mereka.

Tidak mudah untuk memberi pertolongan kepada mereka yang


menjadi korban keganasan Sucoan Sam-sat, apalagi Cia
Liang yang remuk sambungan tulang pundaknya di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

cengkeram Giam-ong Puy Teng. Untung, dengan secara


kebetulan, Lo In sudah dapat kembali obat mustajabnya
sehingga dapat menolong mereka dengan tidak usah ke sana
sini mencari obat.

Obat buatan Lo In, yang mewariskan kepandaian Liok Sinshe


memang manjur sekali. Maka dalam tempo pendek korban-
korban yang terluka karena keganasan Sucoan Sam-sat
sudah dapat bergerak pula. Hal mana membikin Liu Wangwee
jadi sangat kegirangan. Segera ia suruh Bwee Hiang supaya
pelayan-pelayannya menyiapkan satu meja perjamuan untuk
memberi selamat pada mereka, yang membantu dirinya
dengan tidak sampai mengorbankan jiwanya.

Dengan dipimpin oleh Liu Wangwee dan Pangcu dari Ceng


Gee Pang, dilain saat para tamu sudah kelihatan pada
memasuki rumahnya Liu Wangwee. Mereka diantar ke sebuah
ruangan makan yang lebar luas dan diperaboti indah lengkap.

Mereka kelihatan amat senang dapat memasuki ruangan yang


mencocoki seleranya sehingga mereka pada melupakan apa
yang sudah terjadi barusan dan rasa sakitnya kena dihajar
oleh Sucoan Sam-sat.

Sementara, Lo In tidak mau turut dengan mereka. Ia hanya


menyusul Bwee Hiang yang pergi dari situ untuk
menyampaikan perintah Liu Wangwee kepada para pelayan
yang bertugas menyiapkan barang hidangan.

"Kenapa kau ikuti aku ?" tanya Bwee Hiang. "Bukannya


berkumpul dengan para paman. Siapa tahu mereka mau
dengar ceritamu yang lucu-lucu. Hihihi...."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku tidak kerasan berkumpul dengan orang tua. Maka aku


menyusul enci kemari." sahut si bocah. "Apa tidak boleh ?"

"Bukannya tidak boleh, cumanya tidak pantas begitu saja


meninggalkan mereka."

"Tidak pantas dalam pandangan mereka, tidak jadi soal. Asal


pantas dalam pandangan enci Hiang, aku sudah puas."

Kata-kata Lo In mengingatkan Bwee Hiang pada kejadian, ia


menciumi pipinya si bocah yang maksudnya mau gigit hancur
dagingnya, tahu-tahu si bocah berbalik memeluki tubuhnya.
Ingat kesitu, wajah si nona menjadi merah dan berkata, "Tidak
pantas kelakuanmu barusan terhadap encimu. Malu ditonton
banyak orang !"

"Enci yang mulai, bagaimana bisa salahkan aku ?"

"Hah ! Aku mulai apa ?" si gadis cepat menanya, kaget ia


dituduh yang mulai.

"Mencium pipiku, apakah itu bukan mulai dulu ? Maka lantas


saja kalau aku main-main memeluk tubuh enci, bukan ?
Hehehe... "

Bwee Hiang pucat wajahnya lalu merah karena jengah.


Pikirnya, kurang ajar bocah hitam ini. Tapinya memang
alasannya tepat juga. Ia jadi membisu. Kemudian, ia gerakan
kakinya lebih cepat meninggalkan Lo In dengan tidak berkata-
kata seperti yang sedang mendongkol.

Sebelum ia bertindak jauh, tiba-tiba kupingnya mendengar Lo


In berkata, "Baik, kau marah. Aku pun akan pergi dari sini !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Terkejut si nona. Cepat ia balik tubuhnya dan lekas


menghampiri Lo In. Sambil pegang tangan si bocah, dituntun,
ia berkata, "Adik kecil, kau gampang ngambek ya ? Mari ikut
encimu !"

Lo In ketawa nyengir, sebaliknya si nona gondok. Cuma ia


tidak berani berlaku kasar lagi pada si bocah, takut Lo In
benar-benar pergi dari rumahnya. Kalau Lo In berlalu gara-
gara ia (Bwee Hiang), pasti ia akan didamprat oleh ayahnya.
Juga, andaikata diantara Sucoan Sam-sat ada yang balik lagi,
siapa yang berani melayaninya ? Dalam bahaya, keluarga Liu,
bagaimana dapat membiarkan si bocah pergi begitu saja ?
Oleh sebab itu, maka Bwee Hiang sudah robah sikapnya yang
mendongkol menjadi ramah seperti biasanya hingga Lo In
senang hatinya.

Demikian, tidak lama perjamuan sudah disiapkan.

Lo In ada bersama-sama Bwee Hiang di ruangan belakang


lagi ngomong-ngomong. Tiba-tiba muncul satu pelayan,
berkata pada Bwee Hiang, "Siocia, loya suruh aku undang
adik kecil turut serta dalam perjamuan !"

"Nah, kau dapat kehormatan. Lekas pergi turut makan ke


sana. Makanannya enak-enak, tentu kau dapat makan
banyak." berkata Bwee Hiang pada Lo In, menggodai si
bocah.

"Brengsek !" Lo In menggerutu hingga Bwee Hiang menjadi


heran.

"Apanya yang brengsek, adik kecil ?" si nona lantas menanya.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In tidak menjawab perkataan Bwee Hiang, sebaliknya ia


berkata pada si pelayan, "Kau katakan pada Loya, aku tidak
bisa ke sana, lagi tidak enak badan."

"Hihihi..." Bwee Hiang tertawa ngikik, sambil tekap mulutnya.


"Orangnya segar bugar dikatakan tidak enak badan. Kalau
tidak enak badan iut, biasanya rebah di pembaringan. Ah, adik
kecil, kau kenapa sih permainkan orang tua ?"

Lo In ketawa nyengir. Kepalanya digeleng-gelengkan. "Aku


tidak mau ke sana, kalau tidak bersama enci." ia berkata
kemudian.

Bwee Hiang melengak. "Kenapa mesti sama-sama encimu ke


sana ?" ia menanya.

"Kalau bersama enci, aku jadi punya teman ngobrol." sahut si


bocah.

Bwee Hiang memandang paa pelayannya yang saat itu tengah


tersenyum-senyum melihat lagak lagunya dan kata-katanya si
bocah yang serba lucu. "Kau katakan pada Loya apa yang
dikatakan adik kecil barusan." Bwee Hiang berkata pada si
pelayan yang sedang menanti keputusan.

Pelayan itu lantas berlalu. Tak lama lagi ia kembali, katanya,


"Loya minta adik kecil ke sana bersama-sama Siocia."

"Nah, ini baru betul !" kata Lo In seraya bertepuk tangan


kegirangan.

Bwee Hiang jebirkan bibirnya yang mungil pada Lo In yang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kontan disambut dengan jebiran pula hingga si pelayan yang


menyaksikan adegan itu tidak tahan untuk tidak ketawa
cekikikan. Bwee Hiang tidak marah sebab ia tahu, memang
kelakuan mereka waktu itu dapat mengitik urat ketawa.

Si nona tak usah tukar pakaian lagi karena ia sekarang sudah


berdandan rapih.

Tadi, setelah ia pesan tukang masak untuk menyiapkan


hidangan, ia sudah masuk ke kamarnya untuk menukar
pakaian yang kotor dan awut-awutan. Rambutnya pun sudah
rapih dibereskan oleh dua pelayannya Ling Ling dan Lan Lan.
Waktu ia menemui Lo In pula, kecantikannya membuat kagum
si bocah berbareng bau harum menusuk ke lubang hidungnya.
Entah minyak wangi apa yang dipakai Bwee Hiang. Yang
terang si bocah setelah menghirum bau harum itu merasakan
dadanya lega dan segar.

"Hebat enciku ini." ia berkata dalam hati kecilnya. Tidak berani


ia mengatakan terang-terangan, nanti sang enci salah paham.
Coba kalau Eng Lian yang ia hadapkan, sudah lantas
mulutnya ramai memuji dan mungkin ia memeluk si dara
harum sambil membisiki kata-kata pujian pada telinganya.

Kalau dalam keadaan biasa, sudah tentu Liu Wangwee


keberatan puterinya turut dalam perjamuan diantara orang-
orang lelaki yang bukan menjadi famili dekatnya. Tapi kali ini
ia terpaksa karena Lo In tanpa Bwee Hiang biar bagaimana
juga tak akan menghadiri perjamuan itu. LO In justru orang
penting dimana Kian-san Ji-lo berkali-kali ada mengatakan
keinginannya berkenalan dengan si bocah.

Demikian ketika Lo In dan Bwee Hiang muncul, orang-orang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada bertepuk tangan. Malah Soat-cian Ang, Pangcu dari


Ceng Gee Pang berseru, "Hidup, jago kecil kita." beberapa
kali, disambut riuh oleh anak buahnya.

Kian-san Ji-lo hanya ketawa ngekeh, kepalanya manggut-


manggut.

Segera perjamuan dimulai karena sekarang sudah komplit


dengan hadirnya Lo In.

Dalam omong-omong, Cia Kie berkata pada Lo In, "Siohiap,


eh, anak In. Tiga manusai dari Sucoan itu sangat jahat. Kau
telah memberi hukuman terlalu enteng pada mereka. Mereka
jadi keenakan, malah mungkin akan menuntut balas !'

Kian-san Ji-lo sudah dikisiki oleh Ang Ban Teng, kalau bicara
dengan Lo In jangan menggunakan perkataan 'Siaohiap'
sebab si bocah paling suka dipanggil 'anak In'. Ia menyatakan
penyesalannya pada Lo In yang memberikan hukuman terlalu
enteng pada Sucoan Sam-sat yang kesohor kebuasannya.

"Paman-paman itu toh tidak membunuh orang." sahut Lo In


acuh tak acuh.

"Ha ha ha !" Cia Kie tertawa. "Anak In, kau masih kecil. Belum
banyak mendengar dalam kalangan Kangouw orang ributi
kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh mereka. Kau tahu
anak In, mereka membunuh orang tanpa berkedip matanya.
Entah sudah berapa banyak jiwa yang dikirimkan pada Giam-
lo-ong oleh mereka. Tapi yang terang, kalangan Pekto
maupun Hekto pada mengutuk atas perbuatannya.

Terbelalak matanya Lo In. Lucu tampaknya sepasang mata


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang bening dan berwibawa terdapat diantara wajahnya yang


hitam legam.

"Ah, masa sampai begitu ?" Lo In menanya, heran dia.

"Seharusnya mereka itu dibasmi habis." menyela Cia Liang.

"Apa dibasmi, paman maksudkan apa dibasmi ?" si bocah


tidak mengerti.

"Di basmi ialah dibunuh habis mereka itu." menegaskan Cia


Liang, ketawa.

"Mana bisa dibunuh, aku tidak biasa membunuh." Lo In ketawa


nyengir.

"Mereka datang ke sini mau membunuh keluarga Liu, tidak


satu juga yang mereka mau kasih tinggal. Kenapa kita tidak
mau bunuh habis mereka ?" tanya Cia Kie.

Lo In geleng-geleng kepala. "Aku belum pernah bunuh orang."


katanya lucu.

Para hadirin jadi saling pandang melihat kelakuan si bocah.


Bwee Hiang ingin menegur atas ketololan Lo In tapi ia tidak
berani buka mulut dihadapan banyak orang tua. Hanya
matanya saja mengawasi si bocah seolah-olah menyesalkan
dengan kata-kata yang diucapkan Lo In. Tapi Lo In tidak dapat
memahami isi hatinya si enci Hiang. Ia tinggal tenang-tenang
saja.

Ang Pangcu tidak sabaran. Ia lantas berkata, "Anak In, kalau


mereka tidak dibasmi habis, dibunuh semua aku maksudkan,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka akan...."

Kata-kata Ang Pancu tidak diteruskan karena ia kaget tiba-tiba


melihat satu orangnya bernama Kang Kiat muncul diantar oleh
satu pelayan.

kang Kiat ada salah satu Tocu dari markas cabang Ceng Gee
Pang di sebelah barat desa Kunhiang (tempatnya Liu
Wangwee). Belum berapa lama dibangun, masih dibawah
penilikan Hoan Hiocu dari pusat di Gakwan. Disana selainnya
Kang Tocu, masih ada tiga Tocu lagi yang menjadi pemimpin
cabang itu, dibantu oleh beberapa anak buahnya yang
semuanya ada pandai silat.

Ceng Gee Pang pada waktu belakangan ini mendapat


kemajuan pesat, membangun cabang di beberapa tempat.
Ang Ban Teng merasa sangat girang karena dalam
pimpinannya Ceng Gee Pang mendapat banyak kemajuan.

Melihat kedatangan Kang Kiat dengan air muka kusut dan


bajunya berlepotan darah, dengan cepat Ang Ban Teng
menaya, "Kang Tocu, kelihatannya ada kabar penting untukku.
Ada apa ?"

Setelah memberi hormat dan disuruh ambil tempat duduk oleh


Liu Wangwee, Kang Tocu lalu menyampaikan kabar duka
untuk Ceng Gee Pang.

Kan Kiat menceritakan telah kedatangan dua orang itu malam,


satu bermuka kelimis bersih dan satu lagi hitam berewokan
bengis. Mereka menanyakan apa disitu ada pusat dari Ceng
Gee Pang. Kang Kiat jawab bukan, hanya cabangnya saja
yang baharu dibangun belum lama. Tiba-tiba ia dengar si
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berewokan ketawa terbahak-bahak lalu berkata pada


temannya, "Jiko, Ceng Gee Pang suah menjadi alatnya Liu In
Ciang, mari kita bereskan !"

Leng Tongcu yang berdiri tidak jauh dari Kang Kiat panas
hatinya mendengar kata-kata si berewokan, lalu maju dan
berkata, "Apa yang dibereskan ?" -- tangannya berbareng
melayang hendak menggaplok kepala tamu yang tidak
diundang itu.

Tapi si berewokan yang bukan lain Lie KUi adanya, sudah


lantas berkelit. Cepat bagaikan kilat tangannya diulurkan
menepuk pundaknya Leng Tongcu yang tidak keburu
mengelakkannya. Hanya menjerit sekali, Leng Tongcu sudah
roboh tersungkur tidak bangun lagi. Kang Kiat melihat hal itu
menjadi gusar. Ia sudah lantas mau menerjang Lie Kui tapi
Ong Tocu sudah mendahului.

Orang-orang Ceng Gee Pang beringas dan ramai-ramai


mengeroyok si berewokan hitam tapi mereka diganda hanya
dengan ketawa-ketawa saja, malah ketika Mo-jiauw Teng
Cong, si muka kelimis turun tangan, segera terdengar
beberapa jeritan ngeri dan orang-orang Ceng Gee Pang pada
roboh dihajar dua tamu tidak diundang itu.

Kemudian muncul orang-orang bersenjata dipimpin oleh Hoan


Hiocu.

Barangkali lebih baik kalau rombongan bersenjata tajam ini


tidak muncul sebab akibatnya sangat mengerikan. Lie Kui dan
Teng cong lantas merampas golok lawan, dengan senjata
mana mereka mengganas. Teriakan-teriakan ngeri
menyayatkan hati, kepala orang pating berjatuhan bagaikan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

buah kelapa yang berjatuhan dari pohonnya. Banjir darah


disitu, malah Hoan Hiocu pun menjadi salah satu korbannya.
Kepalanya menggelinding jatuh dilantai karena ditebas oleh
Lie Kui.

Kang Kiat yang masih sempat menyelamatkan diri, sudah


lantas meninggalkan mereka yang sedang ngamuk dalam
markasnya, lari ke rumahnya Liu Wangwee. Ia tahu
Pangcunya ada disana untuk memberi laporan.

Ang Pangcu mendengar kejadian yang menyedihkan itu


sampai tidak bisa membuka mulut, saking sangat gusar dan
jeri pada Sucoan Sam-sat.

"Ang-hiante, bagaimana baiknya ini ?" Liu Wangwee berkata


pada Ang Ban Teng.

"Hahaha !" sekonyong-konyong Cia Kie ketawa.

"Anak In, kalau kau tidak menyaksikan dengan mata kepala


sendiri, tentu kau mengatakan aku si kakek omong kosong.
Nah, sekarang buktinya bagaimana ?"

"Anak In, coba kau turut paman Ang pergi ke sana


menengoknya." Liu Wangwee berkata pada si bocah yang
acuh tak acuh mendengar hal itu.

Mendengar kata-katanya Liu Wangwee, barulah ia seperti


tersadar. Tapi ia tidak menyahut, sebaliknya ia memandan
Bwee Hiang yang pucat wajahnya mendengar kabar jelek
yang disampaikan oleh Kang Kiat.

"Kau ikut paman Ang ke sana, adik kecil." berkata Bwee Hiang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ketika si bocah tinggal diam saja duduk di kursinya. "Apa mesti


encimu turut ke sana ?"

Nada suaranya paling belakang agak keras, seperti teguran.

"Anak In, turutlah kata-kata encimu." Liu Wangwee


menganjurkan.

Lo In tinggal diam saja.

Liu Wangwee dan Bwee Hiang saling pandang nampak Lo In


tidak bergerak dari duduknya. Mereka mengerti kalau tidak
bersama Bwee Hiang, si bocah tidak mau pergi. Keadaan
sudah demikian mendesak, Ang Pangcu kelihatan amat
gelisah. Ia tidak punya nyali untuk pergi ke markas cabangnya
tanpa Lo In, sebab percuma saja akan mengantarkan jiwa saja
kepada Sucoan Sam-sat.

Matanya mengawasi Liu Wangwee seperti memohon


pertolongan. Liu Wangwee menjadi sangat tidak enak, maka ia
lalu berkata pada puterinya, "Anak HInga, kau bawa
pedangmu dan antarkan adik kecilmu kesana, ikut paman
Ang."

Bwee Hiang bangkit dari duduknya dan berlalu, diikuti oleh Lo


In, seolah-olah yang tidak mau ketinggalan. Kemana Bwee
Hiang pergi, ia harus ikut. Sungguh lucu lagaknya si bocah
hitam. Sebenarnya bukan apa-apa kelakuannya Lo In itu, ia
memang ketakutan kehilangan Bwee Hiang seperti ia sudah
kehilangan Eng Lian.

Sebentar lagi tampak Bwee Hiang sudah muncul kembali


dengan pakaian ringkas, pedangnya disorong di pinggang. Di
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

belakangnya tampak Lo In mengintil.

"Habis, kalau anak pergi, siapa yang temani ayah ?" tanya si
gadis. Ia khawatir ayahnya ditinggal sendirian.

"Legakan hatimu, kami disini akan menemani ayahmu." Cia


Kie berkata tertawa.

Lega hatinya si gadis, lalu ia bersama Lo In ikut Ang Pangcu


dan Kang Kiat pergi ke markas cabang Ceng Gee Pang.
Karena masing-masing dapat menggunakan jalan cepat, maka
dalam tempo pendek saja mereka sudah sampai di tempat
tujuan.

Keadaan dalam markas cabang itu benar-benar mengerikan.


Mayat tampak malang melintang, yang kuntung tangan, kaki,
paha dan kepala terdapat di sana sini.

Sunyi senyap, hanya terkadang seperti ada terdengar rintihan


dari korban-korban yang belum mati. Sementara Lie Kui dan
Teng cong yang diharapkan masih dapat dijumpai disitu,
ternyata sudah tidak kelihatan mata hidungnya.

Ang Pangcu nampak semua itu telah mengucurkan air mata,


diikuti oleh lima Hiocunya. Bwee Hiang juga tidak dapat
menahan rasa terharunya, ia menangis. Beberapa kali ia
menyeka air mata dengan lengan bajunya.

Lo In yang belum pernah melihat orang dibunuh demikian


kejam, tampak geleng-geleng kepala. Pernah ia melihat orang
terluka, berceceran darahnya, kejadian itu dua tahun yang lalu
dimana Liok Sinshe mengamuk menghajar musuh-musuhnya.
Di sini ia nampak bukan darah berceceran saja, tapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengumpiang di sana sini, sedang kepala, tangan, kaki dan


lain-lain anggota tubuh manusia berserakan mengerikan.

Hatinya yang lemah tidak mau membunuh orang, tiba-tiba


tergugah. Tangannya yang kecil dikepal-kepalkan, romannya
sangat gusar. Ia menyesal tadi kenapa ia tidak membereskan
jiwanya Sucoan Sam-sat. Kalau tidak, tentu ia tidak
menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan seperti
sekarang ini.

Bwee Hiang melirik pada adik kecilnya, ia tahu bahwa Lo In


sangat gusar.

"Adik kecil," katanya. "Lantaran kau punya murah hati, nah


kejadiannya begini. Kau lihat, bagaimana kejamnya Sucoan
Sam-sat mengganas !"

"Biarlah sekali lagi kita ketemu mereka, aku tak akan kasih
ampun !" jawab si bocah seraya angguk-anggukkan
kepalanya.

Terkejut Bwee Hiang. Pikirnya, kenapa bocah ini mengatakan


'kita' ? Apakah dimaksudkan dia dengan ia (Bwee Hiang) yang
kelak akan menghadapi Sucoan Sam-sat ?

Ia tidak sempat memecahkan soal ganjil itu karena segera


mendegnar Ang Pangcu berkata pada Lo In, "Anak In, inilah
bukti dari perbuatan ganas Sucoan Sam-sat. Maka kalau
belakang hari kau ketemu mereka, aku harap kau suka
menghukum mereka yang setimpal dengan kebuasannya !"

"Aku mengerti paman Ang. Semoga dalam perjalanan


berkelana aku akan menjumpai mereka supaya para paman
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang mati sekarang toh akhirnya mendapat kepuasan di alam


baka !" demikian si bocah berjanji.

-- 17 --

Kata-kata Lo In membuat Bwee Hiang ketawa girang sebab


sudah terang si bocah sekarang sudah berubah
pandangannya terhadap orang-orang jahat. Kelemahan
hatinya berubah menjadi suatu keganasan. Yang paling girang
adalah Ang Pangcu sebab ia percaya meskipun ia sendiri tidak
bisa membalas kekejamannya Sucoan Sam-sat, sekarang ada
si bocah sakit yang menyanggupinya.

Mendengar kedatangannya ketua dari pusat, maka orang-


orang Ceng Gee Pang yang tadi pada lari menyembunyikan
diri dari angkara murka Sucoan Sam-sat pada muncul dan
memberikan pertolongan pada mereka yang belum tewas
jiwanya. Atas perintahnya Pangcu, tempat itu dibersihkan dari
mayat-mayat yang malang melintang.

Ketika Kang Kiat berada jauh dari Bwee Hiang dan Lo In, Kang
Tocu berkata pada Ang Pangcu, "Pangcu, kalau tadi kita tidak
berkutat dulu membujuk si bocah muka hitam, kita pasti
datang disini dalam waktunya. Kita masih bisa menjumpai dua
orang jahat itu dan kita dapat menolong saudara-saudara kita,
tidak sampai mengambil korban begini banyak !"

"Kang Tocu." katanya. "Kau tidak tahu." Ang Pangcu ketawa.


"Justru si bocah yang penting kita bawa ke sini. Apa dengan
tenaga kita, dapat kita usir Sucoan Sam-sat ? Hmm ! Kau
jangan mimpi. Bocah itu mempunyai kepandaian yang susah
diukur, dialah yang telah mengusir pergi Sucoan Sam-at dari
taman bungan Liu Wangwee, dimana kita berenam dan Kian-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

san Ji-lo sudah roboh tidak berdaya. Kalau tidak ada dia,
sekarang, kau tentu tidak bisa berhadapan dengan
Pangcumu........."

"Ha ! Apa iya ?" memotong Kang Kiat, matanya terbelalak


kurang percaya.

Ang Pangcu hanya tersenyum melihat kelakuan Tocunya.


Sementara itu ia sudah bertindak ke arah Bwee Hiang dan Lo
In yang tengah ngomong-ngomong.

Sebelum ia membuka mulut bicara, Bwee Hiang sudah


mendahului, "Paman Ang, musuh sudah pergi. Sedang paman
juga repot menghadapi para paman yang mati dan terluka.
Maka sebaiknya aku dan adik In pulagn saja. Aku masih
kuatirkan di rumah ada terjadi apa-apa yang tidak diingini !"

Sebenarnya Ang Pangcu hendak menahan mereka tapi


karena alasannya Bwee Hiang cukup teguh maka ia pun tidak
bisa berkata apa-apa selain mengucap terima kasih pada Lo in
dan si nona atas perhatiannya.

"Aku harap saja di rumah tidak terjadi apa-apa, anak Hiang !"
berkata Ang Pangcu ketika ia mengantar muda mudi itu keluar
dari kantor cabangnya.

Hanya diwaktu menyaksikan pemandangan yang mengerikan


tadi, tampak Lo In seperti hatinya tergerak, gusar dan berubah
kelemahan hatinya dengan ketegasan. Tapi waktu dalam
perjalanan si bocah hanya biasa lagi saja. Riang gembira dan
saban-saban menggodai enci Hiangnya supaya tertawa. Lo In
senang hatinya, kalau melihat Bwee Hiang ngikiki ketawa
karena kejenakaannya. Dalam perjalanan pulang ini juga
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bukan sedikit Bwee Hiang dibikin ketawa ngikik oleh ucapan


atau lagaknya si bocah.

Kapan mereka sampai di rumah pula, Bwee Hiang berasa


tidak enak hatinya. Ia tidak melihat ada pelayannya yang
membukai pintu pekarangan. Malah pintu itu tidak terkunci,
tidak biasanya demikian. Masuk ke dalam rumah, biasanya ia
disambut oleh Ling Ling dan Lan Lang. Kali ini tidak kelihatan
satu juga pelayannya itu. Kemana mereka sudah pergi ? Ia
masuk lebih jauh ke ruangan dimana ayahnya dan Kian-san Ji-
lo pasang omong di waktu ia meninggalkan rumah. Tidak
tampak mereka disitu.

"Adik kecil, mungkin ada kejadian hebat di sini !" kata Bwee
Hiang. Hatinya sangat tegang, sedang Lo In terus mengintil di
belakangnya si gadis.

Bwee Hiang cepatkan tindakannya, menghampiri kamarnya.


Ketika ia membuka pintu kamar, matanya terbelalak. Lo In
tidak turut masuk ketika melihat Bwee Hiang tergesa-gesa
masuk ke dalam kamarnya, ia menanti di luar sambil bersiul-
siul.

Bwee Hiang lihat Lan Lan menggeletak di lantai sudah tidak


bernapas. Ia jongkok memeriksa. Terkejut ia ketika melihat
pakaiannya si pelayang sobek sana sini seperti yang disobek
orang. Kapan Bwee Hiang angkat pakaian yang menutupi
tubuh si pelayan, kiranya Lan Lang sudah telanjang sehingga
pusar ke bawah. Dari tanda-tanda yang mencurigakan, Bwee
Hiang duga Lan Lan dibunuh setelah diperkosa. Tidak
terdapat tanda penganiayaan. Rupanya Lan Lan dibunuh
dengan totokan maut.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bwee Hiang ngeri. Ia menekap mulutnya. Kemudia ia buka


tekapan tangannya, ia memandang ke pembaringannya. "Hei,
kenapa ada orang lagi tidur ?" ia menanya pada dirinya
sendiri. Cepat ia bangkit dari jongkoknya lantas menghampiri
orang yang seperti tertidur dengan pakai selimut.

"Kurang ajar, siapa berani tidur di pembaringanku ?" bentak


Bwee Hiang seraya ia menyingkap selimut yang dipakai
menutup kepala orang yang lagi tidur.

"Ah, Ling Ling !" teriaknya ketika ia mengenali wajah orang


yang tidur.

Pada wajahnya Ling Ling yang cantik tampak sepasang mata


yang melotot penasaran. Meskipun merasa ngeri melihat
wajahnya si pelayan, Bwee Hiang masih sempat membuka
selimut yang menutupi tubuh. "Aiyaaa !" Bwee Hiang
mengeluarkan teriakan tertahan, seraya ia mundur setelah
menutupi pula selimut tadi yang menutupi tubuhnya Ling Ling.

Apakah yang membikin si nona sangat kaget ?

Kiranya, ketika selimut dibuka, tampak tubuh Ling Ling


telanjang bulat. Sepasang buah dadanya yang montok sudah
dikupas orang hingga rata. Kemana sepasang buah dadanya
itu ? Sedang tangan kirinya, 3 dim diatas nadi berlumur darah,
tertabas kutung oleh senjata tajam.

Bwee hiang tak tahan menghadapi dua adegan di depannya,


maka ia berteriak, "Adik kecil, adik kecil, lekas kau masuk !"

Lo In terkejut mendengar panggilan Bwee Hiang seperti yang


ketakutan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sekali lompat ia sudah berada di dalam mendekati Bwee


Hiang yang berdiri gemetaran di tepi pembaringan di atas
mana ada terlentang mayatnya Ling Ling.

Ketika Lo In sudah berada di dekatnya, Bwee Hiang tak tahan


dengan goncangan hatinya maka ia roboh terkulai dan akan
mendeprok di lantai kalau tidak keburu Lo In datang
menyangga. "Enci Hiang, enci Hiang !" memanggil si bocah
ketika melihat si nona lemas badannya dan kedua matanya
tertutup.

Apa yang sudah terjadi ? Tanyanya dalam hati. Sementara


matanya melirik ke bawah, ia melihat tubuhnya Lan Lan yang
terkapar tak berkutik. Cepat Lo In pondong Bwee Hiang dan
diletakkan di atas satu dipan, tidak jauh dari pembaringan.

Meskipun biasanya Lo In sangat tenang, kali ini kelihatan ia


gugup juga.

Cepat si bocah menghampiri Lan Lan yang menggeletak di


lantai. kapan ia membuka baju yang sobek sana sini yang
menutupi tubuhnya Lan Lan, tampak Lan Lan telanjang bagian
bawahnya. Cepat ia menutupi pula Lan lan, lalu meraba
tangan si pelayan diperiksa urat nadinya. Kiranya Lan Lan
sudah tidak bernyawa. Ia geleng-geleng kepala tampaknya ia
merasa kasihan pada si pelayan yang bernasib malang itu. Ia
mengerti bahwa Lan lan mati karena totokan jahat pada jalan
darah.

Lo In jadi termenung sejenak dalam keadaan berjongkok.


Kapan matanya kemudian melirik ke pembaringan, ia lihat ada
sesosok tubuh yang ditutupi selimut seluruhnya. Cepat ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bangkit dan menghampiri. Perlahan-lahan ia membuka selimut


yang menutupi. Kaget ia karena itulah Ling Ling yang
ketawanya manis dan mukanya botoh, sekarang sudah jadi
mayat dengan mata melotot.

Dalam terkejutnya, ia menyingkap terus selimut yang menutupi


tubuh Ling Ling. Bukan main gusarnya Lo In nampak
sepasang buah dadanya si pelayan yang cantik dikupas orang.
Berbayang di matanya si bocah, kapan Ling Ling turut tertawa
ngikik, sepasang buah dadanya yang bulat menonjol seperti
turut bergoyang.

Pikir si bocah, Ling Ling toh sudah jadi mayat. Apa


halangannya kalau ia diperiksa lebih jauh tanda-tanda
kekejaman manusia atas dirinya si pelayan. Maka, ia sudah
menyingkap terus selimut dan.... hatinya terkesiap kapan
melihat tangan kirinya si Ling Ling dekat pergelangan
terkutung mengeluarkan banyak darah. Kekejaman itu
sedikitnya dengan pedang, kalau tidak dengan golok
dikerjainya. Lo In sambil bergidik. Ia bergidik dan bulu
tengkuknya dirasakan berdiri. Bukannya takut tapi meluap
kegusarannya yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Cepat-cepat ia menutupi pula tubuhnya Ling Ling dengan


selimutnya.

Lo In tampak berdiri bengong. Pikirnya, apakah mungkin ada


manusia demikian kejam merusak anggauta tubuh si Ling Ling
yang botoh mungil ? Tapi bukti sudah ada, bagaimana juga Lo
In dapat melupakan kekejamannya manusia jahat dalam dunia
yang lebar ini.

Kalau tadi ia acuh tak acuh meskipun sudah menyaksikan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kekejaman dalam markas cabang Ceng Gee Pang, sekarang


setelah menyaksikan Ling Ling dan Lan Lang menjadi korban
keganasan manusia jahat, maka hatinya benar-benar menjadi
sadar bahwa seharusnya ia membasmi kejahatan untuk
menolong si lemah.

Tiba-tiba ia teringat akan Liu Wangwee, maka seketika itu ia


lompat keluar kamar.

Saban beberapa tindak ia jalan, ia menemukan mayat para


pelayan yang mengerikan. Ia tidak ada tempo untuk
memeriksa satu demi satu. Yang penting ia mau cari Liu
Wangwee, orang tua yang telah perlakukan dirinya sangat
baik.

Setelah ia berputar-putar mencari, tidak juga ia menemukan si


orang tua. Akhirnya ia sampai ke taman bunga, dimana belum
lama berselang ada dilakukan pertempuran dengan Sucoan
Sam-sat. Di sini ia telah menemui mayatnya Cia Kie terkapar
dengan leher hampir putus, tidak jauh darinya terlihat
mayatnya Cia Liang terlentang dengan kepala sudah terpisah.

Cemas hatinya Lo In, sebab Liu Wangwee masih juga belum


diketemukan.

Ia berdiri bengong. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam


menangkap seperti ada suara rintihan dalam gerombolan
alang-alang. Dengan beberapa lompatan ia sudah sampai
disana, ia menerobos masuk dan kemudian keluar lagi dengan
sesosok tubuh dipanggul di atas pundaknya. Itulah Liu
Wangwee yang keadaannya sudah hampir mati.

Lo In letaki orang tua yang bernasib buruk di tempat terbuka.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan meminjam penerangan rembulan, Lo In periksa


keadaannya si orang tua.

Si bocah cepat menotok beberapa bagian jalan darah untuk


menghentikan darah yang keluar tidak hentinya dari luka-luka
di bagian muka, bahu dan kedua tangannya yang sudah
menjadi buntung. Keadaan lukanya si hartawan sangat parah.
Lo In putus harapan untuk merampas jiwanya dari malaikat
elmaut. Meskipun demikian, ia coba keluarkan obatnya yang
manjur untuk menolongnya. Dalam repotnya, tiba-tiba ia
dibikin kaget oleh Bwee Hiang yang menubruk ayahnya dan
menangis menggerung-gerung.

Bwee Hiang ketika mendusin dari pingsannya, ia tidak melihat


adik kecilnya dalam kamar. Ia lantas menduga Lo In tentu
sedang mencari ayahnya. Cepat ia bangun dan lari keluar. Ia
tidak perdulikan mayat-mayat para pelayannya yang malang
melintang ia ketemukan. Terus ia mencari Lo In sampai ia
jumpai si bocah sedang memberikan pertolongan pada
ayahnya di taman bunga.

Bukan main takutnya si gadis tampak keadaan ayahnya sudah


sangat payah. Ia memeluki sambil menangis, tangannya
meraba-raba wajah si orang tua yang sudah mandi darah.

Dengan jari-jarinya yang halus, si nona beberapa kali coba


melekkan matanya Liu Wangwee yang meram saja seperti
sudah mati. Putus harapan si nona, ia menangis makin
menjadi.

"Enci Hiang." tiba-tiba si gadis mendengar adik kecilnya


berkata halus. "Lope tidak dapat ditolong hanya dengan
tangisan saja. Maka tenangkanlah hati enci dan marilah kita
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sama-sama menolongnya."

Bwee Hiang seperti tersadar mendengar kata-kata si bocah. Ia


melepaskan pelukannya sambil masih terisak-isak ia
menyusuti air matanya.

"Adik kecil, bagaimana ini..........?" si gadis kebingungan,


tangisnya belum berhenti.

"Tenang, enci Hiang." menghibur Lo In. "Jiwa ada di tangan


Thian (Tuhan). Kita manusia harus pasrah kepada nasib, asal
kita sudah menolong dengan sebisanya kepada Lope. Coba
aku periksa lagi keadaannya."

Lo In berkata sambil tangannya mengangkat tubuhnya Liu


Wangwee hendak di pondong, di bawa pergi dari situ.

Tiba-tiba matanya Liu Wangwee yang barusan meram saja


tampak dibuka, sebelum badannya terangkat oleh Lo In. Si
bocah tersenyum kepadanya. Bwee Hiang lihat itu, mukanya
mendekati wajah si orang tua. Katanya, "Ayah, oh, ayah......"

Si orang tua tersenyum. Terdengar ia berkata, "Anak Hiang,


anak Hiang. Selanjutnya kau harus akur-akur dengan adik
kecilmu. Eh, anak In." Liu Wangwee teruskan kata-katanya
pada si bocah. "Tolong kau jaga encimu. Biarlah kalian hi...."

Sampai disitu kata-kata Liu Wangwee terputus berbareng


jiwanya juga sudah pergi. Kepalanya teklok dengan
sendirinya. Lo In menghela napas. Liu Wangwee mati dengan
disangga tangannya. Suatu kematian yang mengharukan,
setelah meninggalkan pesa pada putri kesayangannya dan si
bocah wajah hitam.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sementara itu, setelah mendengar pesan sang ayah kemudian


melihat ayahnya menutup mata, Bwee Hiang tidak tahan
dengan getaran hati yang sangat sedih dan putus harapan.
Maka ia tidak bisa menangis, sebaliknya, ia jatuh pingsan........
Sampai disini kita melihat pada Eng Lian.

Seperti diceritakan di sebelah atas, Eng Lian setelah dicekoki


'Cian jit su su hun' atau 'Obat bubuk mematikan ingatan seribu
hari', ingatannya sudah berubah dan menjadi lupa kepada
segala kejadian yang sudah-sudah. Si bocah Lo In sudah tidak
ada dalam alam pikirannya lagi. Ia hanya ingat Ang Hoa Lobo
ada suhunya dan kepada siapa ia harus bersetia dan menurut.
Meskipun demikian, obat itu tidak mengganggu alam
pikirannya yang cerdik, lincah dan gayanya yang lucu. Ang
Hoa Lobo sangat kegirangan setelah menguasai Eng Lian.
Cita-citanya yang besar untuk mendirikan partay baru, segera
kesampaian dengan bantuannya Siauw Cu Leng.

Ang Hoa Pay (Partay Bunga Merah) telah terbentuk dan


perlahan-lahan dikenal di kalangan Kangouw. Akan tetapi
orang tak dapat menemukan dimana pusat atau cabangnya
Partay Bunga Merah itu. Orang hanya dengar perkumpulan
baru itu dikepalakan oleh satu nona muda yang menamakan
dirinya Kim Coa Siancu atau Dewi Ular Emas.

Kabarnya Kim Coa Siancu ada sangat lihai, pergi dan datang
tak kelihatan bayangannya, menakjubkan dan membuat jago-
jago rimba persilatan (Bulim) menjadi khawatir akan sepak
terjangnya partai baru itu. Apakah partai itu berhaluan baik
atau jahat. Tapi yang terang, belakangan ini banyak terjadi
penculikan anak-anak tanggung usianya, menimbulkan
kegemparan karena diketahui penculikan-penculikan itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dilakukan oleh Kim Coa Siancu.

Eng Lian yang sudah berubah dirinya menjadi Kim Coa Siancu
memang juga berkepandaian lihai. Ia bukan saja dapat didikan
serius dari Ang Hoa Lobo tapi juga disayang oleh Sucouwnya
ialah Lamhay Mo Lie atau 'Si Iblis wanita dari lautan kidul
(selatan)' yang kepandaiannya susah diukur.

Lamhay Mo Lie yang melihat Eng Lian ada berbakat jempolan,


tidak ragu-ragu lagi ia mendidik si dara cilik dengan luar bisa.
Lwekangnya Eng Lian dahsyat oleh karena emposan dari
obat-obat gaib Lamhay Mo Lie. Dalam tempo pendek atau
tidak sampai dua tahun, dari satu dara kecil yang lemah, Eng
Lian berubah menjadi si 'Jelita 17 tahun' yang tegap, cantik
luar biasa dan kepandaiannya sangat tinggi. Memang tidak
dilebih-lebihkan kalau Ang Hoa Lobo suka membual bahwa
Kim Coa Siancu ada seorang yang hebat kepandaiannya
sebab memang demikian kenyataannya si dara cilik di bawah
didikan langsung dari Lamhay Mo Lie.

Sepanjang muncul Kim Coa Siancu yang memimpin Ang Hoa


Pay, ada juga beberapa orang kuat yang dapat menyelidiki
dimana tempatnya partai baru itu. Tapi Coa-kok (lembah ular)
adalah sangat berbahaya untuk dikunjungi, maka ada sedikit
orang yang berani menempuh bahaya untuk pergi ke sana.

Diantara yang sedikit orang yagn berani menempuh bahaya


terhitung Siang-tauw niauw Kam Eng Kim, puteri dan
mantunya (Lengkoan Giok Lie Kam Lian Eng dan Hek-houw
Ma Liong). Mereka sangat penasaran dengan diculiknya Ma
Sian Bwee, cucu dan puteri kesayangannya mereka.

Setelah Ma Sian Bwee diculik Ang Hoa Lobo, dengan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bercucuran air mata Kam Lian Eng melapor pada ayahnya, si


Burung Kepala Dua Kam Eng Kim. Mendengar laporan yang
mengagetkan itu, bukan main marahnya si Burung Kepala
Dua. Sambil menggebrak meja ia mencaci si nenek yang
menculiknya, ia tidak tahu siapa namanya si nenek culik itu.
Hanya ia tahu si nenek adalah suruhannya Kim Coa Siancu
sebagaimana diterangkan oleh Lengkoan Giok-Lie Kam Lian
Eng.

Sejak itu, penyelidikan dilakukan dengan sungguh-sungguh


untuk mengetahui dimana tempatnya Kim Coa Siancu itu.
Sampai beberapa lama dia berusaha, akhirnya dapat juga
keterangan yang dingini oleh mereka.

"Coa-kok letaknya ada di sebelah utara barat gunung


Hengsan." menyatakan Ma Liong dalam membicarakan soal
menolong anaknya.

"Jauh tentunya dari tempat kita." kata sang isteri, Lengkoan


Giok Lie.

"Jauh tidak menjadi soal." menyela Kam Eng Kim. "Yang


dipikirkan tempat itu merupakan lembah yang banyak ular
jahatnya. Banyak orang bilang yang memasuki lembah itu,
bisa masuk tidak bisa keluar lagi."

"Apa benar sampai begitu bahayanya, ayah ?" tanya


Lengkoan Giok-lie.

"Aku sendiri belum tahu ke sana, bagaimana aku tahu ?"


jawab sang ayah.

"Biar bagaimana, kita tidak tega anak Bwee diantapkan begitu


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

saja !" Ma Liong menyatakan kecemasannya.

Kam Eng Kim dan puterinya membungkam.

Tampak si Burung Kepala Dua mengurut-urut jenggotnya yang


panjang. "Memang begitu." katanya. "Tidak perduli ada
gunung golok di sana, kita harus pergi untuk menolong Sian
Bwee !" si jago tua meneruskan, bersemangat dia.

"Kapan kita berangkat ?" Lengkoan Giok-lie juga


bersemangat.

Ma Liong melirik pada mertuanya, tidak berkata apa-apa.

"Nanti aku tanyakan dahulu pada sahabatku Louw Bin Cie,


apa dia bersedia untuk mengikuti kita atau tidak." Kam Eng
Kim menyatakan.

"Bagus." kata Ma Liong. "Kalau Louw Su-siok turut, kita dapat


tambah tenaga yang sangat berarti. Dia kepandaiannya
menggunakan sepasang pedang, tiada yang dapat
menandinginya !"

Ma Liong kelihatan kegirangan mendengar Louw Bin Cie akan


diajak dalam kepergiannya itu. Tidak heran ia kegirangan
karena Louw Bin Cie ada tersohor kepandaiannya bersilat
dengan sepasang pedangnya. Dua pedang yang digunakan
olehnya bukan pedang dari ukuran biasa, tapi pendek. Dari
ujung pedang samapi di ujung gagangnya kira-kira panjang
dua kaki. Pedang biasa, tajam hanya satu muka. Tapi pedang
Louw Bin Cie ada dua muka, depan belakang.

Kepandaiannya menggunakan sepasang pedang itu, membuat


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

namanya Louw Bin Cie terkenal dengan julukan Sian-jin


Siang-kiam Louw Bin Jie atau 'Si Sepasang Pedang Dewa'
dan dengan kepandaiannya ini bukan sedikit jago-jago silat
yang menjadi pecundang. Malah di kalangan Hekto (jahat)
namanya sangat ditakuti.

Dengan Kam Eng Kim, si Sepasang Pedang Dewa ada


bersahabat baik, lebih-lebih dari saudara putusan perut. Maka
ketika Louw Bin Cie mendapat kabar hal diculiknya Sian
Bwee, dia juga sangat gusar. Sian Bwee ada satu anak
perempuan yang berbakat untuk belajar ilmu silat. Maka Louw
Bin Cie sering memberi beberapa petunjuk dan pandangan
kepada si dara cilik sebagai cucunya juga, karena atas
perintah Kam Eng Kim, kepadanya Sian Bwee ada memanggil
Yaya (engkong atau kakek).

Demikian, ketika ditanya pikirannya, Louw Bin Cie tidak pikir-


pikir lagi. Ia sudah lantas menyanggupi untuk pergi bersama-
sama dengan Kam Eng Kim ke Coa-kok.

"Aku ingin lihat, Kim Coa Siancu itu macam bagaimana.


Apakah dia ada mempunyai tangan delapan sampai orang
ketakutan kepadanya ? Hmm !" Louw Bin Cie menyatakan
kesengitannya ketika Kam Eng Kim mengatakan si Dewi Ular
Emas ada sangat lihai ilmu silatnya, disamping juga ada
pembantunya yang lihai-lihai.

Pada keesokan harinya, genap satu setengah tahun Sian


Bwee menghilang. Ma Liong dan isteri dengan dikawal oleh
dua jago tua Kam Eng Kiam dan Louw Bin cie, mereka
melakukan perjalanan ke lembah ular dimana ada
bersemayam Kim Coa Siancu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dalam perjalanan kesana, mereka dapat kesukaran mencari


keterangan. Waktu jarak tempat yang dituju masih jauh,
mereka masih dapat petunjuk dari orang dimana letaknya
Coa-kok. Tapi makin mendekat ke tempat tujuan, makin sukar
mereka dapat keterangan. Orang-orang yang ditanyai
kebanyakan menggeleng kepala, mengatakan tidak tahu.
Lengkoan Giok-lie coba gunakan pengaruh uang, menyogok,
supaya orang mau kasih petunjuk tetapi tidak ada yang mau
terima. Mereka jadi heran.

"Kalau begitu jalannya, bagaimana kita cari sarangnya Kiam


Coa Siancu ?" tiba-tiba Kam Eng Kiam mengutarakan
pikirannya.

Ma Liong dan isterinya hanya memandang si jago tua, hanya


diam saja. Rupanya mereka satu pikiran. Memang sukar untuk
mencari sarangnya Kim Coa Siancu, manakala tidak
mendapat petunjuk dari orang-orang yang berdekatan dengan
Coa-kok.

Louw Bin Cie juga terdiam di tempat berdirinya.

Setelah semuanya membisu untuk beberapa lama, tiba-tiba


Louw Bin Cie berkata, "Mari ikut aku. Di sana ada orang yang
akan menolong kita."

Louw Bin Cie berkata sambil tangannya menunjuk ke


jurusandepan, nyamping ke kiri hingga kawan-kawannya
menjadi heran, "Memangnya siapa ada tinggal disana ?" tanya
Kam Eng Kim pada sahabatnya.

"Aku kira toako tentu kenal orangnya manakala sudah jumpa."


jawabnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Louw Bin Cie tidak menerangkan siapa adanya orang itu,


hanya ia terus memimpin orang-orangnya dengan jalan lebih
dahulu menuju ke arah yang barusan ia tunjuk sehingga Kam
Eng Kim sungkan untuk menanya lebih jauh.

Tidak lama mereka jalan, segera menemukan sebuah rumah


sederhana dikurung oleh pagar bambu sekitarnya. Mereka
sampai didekatnya, tiba-tiba dibikin kaget oleh anjing yang
menyalak. Gonggongan anjing itu keras dan galak. Rupanya
anjing jantan sebab kemudian disusul menyalaknya anjing lain
yang tidak begitu galak, anjing betina rupanya. Sebentar lagi
tampak muncul seorang wanita yang berusia pertengahan,
melihatnya, Louw Bin Cie menyapa, "Thio Jiso (enso kedua),
apa kau baik-baik saja ? Sungguh girang aku dapat melihat
kau lagi."

Wanita tadi memandang ke jurusan Louw Bin Cie, "Eh, kau


yang datang Louw-ji (si Louw kedua). Sungguh tidak disangka-
sangka." kata si wanita seraya menghampiri pintu pekarangan,
berbareng mulutnya ramai melarang anjing-anjingnya
menyalak.

"Mari, mari masuk. Kau bawa banyak teman ?" kata si wanita
lagi seraya membuka pintu pekarangan, menyilahkan tamu-
tamunya masuk.

"Bagaimana, apa toako ada di rumah ?" tanya Louw Bin Cie
sambil terus berjalan mengikuti si Thio Jiso, nyonya rumah
rupanya.

Si wanita yang dipanggil Thio Jiso tidak menyahut, hanya


jalannya dipercepat dan masuk lebih dahulu ke dalam rumah.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sebentar lagi tampak muncul lagi wanita lain. Lian Eng yang
melihat merasa bingung sebab wanita itu romannya hampir
sama dengan yang tadi, hanya sedikit tuaan. Tapi kalau dilihat
sepintas lalu, orang bisa keliru dan menyangka wanita yang
baru muncul itu yang tadi juga.

"Selamat datang, selamat datang !" menyambut si wanita yang


barusan muncul.

"Thio Toaso, bagaimana kau baik-baik saja ?" kata Louw Bin
Cie sambil angkat tangannya menyoja si nyonya dan diturut
oleh yang lain.

Lian Eng bingung Louw Bin Jie memanggil Jiso dan Toaso
(enso kedua dan kesatu). Apa tuan rumah punya dua isteri ?
Tanya hati kecilnya.

Lengkoan Giok-lie tak usah lama-lama menebak dalam


hatinya karena ia segera diperkenalkan kepada tuan rumah
dan dua wanita tadi.

Dan benar saja dua wanita itu adalah isterinya tuan rumah.

Mereka itu Sian Kin dan Sian Lian, orang she Kho, keduanya
adalah isteri dari Kim to Thio Tiat, si Golok Emas yang pada
10 tahun berselang terkenal namanya sebagai guru silat di
kota Hokciu (Hokkian). Sian Kin dan Sian Lin adalah sepasang
dara kembar dari puteri hartawan Kho di kota Hokciu yang
bersama-sama mencintai Thio Tiat gara-gara belajar silat. Thio
Tiat tidak memilih-milih lagi, ia sikat sekaligus kedua-duanya
menjadi istrinya. Matanya Thio Tiat benar-benar lihai sebab
dua isterinya memang benar isteri-isteri yang pantas
mendapat cinta sang suami.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Karena mereka betul-betul setia dan merawat suaminya


dengan baik. Satu sama lain bisa akur, tidak main iri-irian
seperti biasanya bila satu suami dengan dua istri bila dijadikan
satu (srumah) pasti cakar-cakaran. Tetapi mereka dapat hidup
dengan bahagia.

Belakangan Thio Tiat merasa bosan dengan penghidupan di


kota, maka ia sudah ajak dua istrinya menyepi di tempat
pegunungan, yang ditinggali sekarang, ialah dusun Cit-seng-
tin, termasuk wilayah Coa-kok juga.

Thio Tiat dengan Louw Bin Cie adalah teman baik dari kecil.
Malah ketika si guru silat bercinta-cintaan dengan sepasang
dara kembar, ia tahu juga. Malah sering menggodai mereka.
Pada waktu itu ia sering mendapat pesanan Sian Kin dan Sian
Lin, bukannya suatu hadiah tapi pesanan cubit karena si dara
jengkel digodai. Thio Tiat hanya ketawa terbahak-bahak dapat
melihat Louw Bin Cie teraduh-aduh terima cubitan Sian Lin
yang lebih galak dari encinya.

Louw Bin Cie dipanggil Louw-ji karena masih ada engkonya


yang dipanggil Louwtoa (si Louw kesatu atau tua) yang
bernama Bin Gie, yang juga mengenali sepasang dara itu tapi
tidak suka bersenda gurau seperti Louw Bin Cie.

Demikian pertemuan antara Thio Tiat dan Louw Bin Cie,


sungguh-sungguh menggirangkan kedua pihak karena sejak si
orang she Thio menyepi di kampungnya situ, belum pernah
ketemu lagi dengan teman sepermainan di waktu masih kecil
itu.

Louw Bin Cie mengenalkan Kam Eng Kim dan lain-lainnya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada Thio Tiat dimana Thio Tiat memberi sambutannya indah


dan sopan hingga menyenangkan para tamunya. Siang-tauw-
niauw Kam Eng Kiam memang kenal dengan Thio Tiat tapi
hanya kenal nama saja. Begitu juga sebaliknya dengan Thio
Tiat. Tapi sekarang, begitu berani, kelihatan mereka cocok
dan dapat mengobrol banyak.

Demikian, dilain pihak Lian Eng pun dapat mengobrol dengan


gembira dengan dua nyonya rumahnya, yang ternyata suka
ngomong. Tidak hentinya dua nyonya rumah itu menghujani
Lian Eng dengan rupa-rupa pertanyaan tentang keadaan di
kota sekarang ini. Lengkoan Giok-lie tidak keberatan untuk
menceritakan perubahan-perubahan yang ia tahu sehingga
dua nyonya itu kelihatannya merasa senang.

Selama mereka bercakap-cakap, tak terasa cuaca mulai


gelap.

Dengan ramah tamah, tuan dan nyonya rumah mengundang


mereka untuk melewatkan sang malam dalam rumah itu saja.
Para tamu tidak melihat alasan untuk menolak. Apalagi urusan
yang penting hendak ditanyakan belum dilakukan. Maka itu
mereka dengan baik telah menerima undangan untuk
menginap dalam rumah Thio Tiat.

Nyonya rumah telah menyediakan hidangan sekedarnya tapi


cukup lezat dimakan oleh para tamu dan semuanya pada
mengatakan banyak terima kasih.

Pada mulanya, di waktu omong-omong dengan perlahan-


lahan Louw Bin Cie timbulkan persoalan Kim Coa Siancu.
Waktu mendengar disebutnya Kim Coa Siancu, otomatis,
tampak wajah Thio Tiat dan dua istrinya menjadi pucat.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tapi Thio Tiat dapat menguasai getaran jantungnya yang


kaget. "Sebaiknya jangan kita bicarakan soal itu." katanya,
perlahan suaranya.

Ma Liong tidak puas. Ia lantas ceritakan tentang diculiknya


Sian Bwee dan maksud mereka lewat di Cit-sen-tin adalah
hendak menyatroni sarangnya Kim Coa Siancu di Coa-kok.
Hanya menyesal sekali, tidak ada seorang yang dapat
memberi petunjuk yang jelas untuk pergi ke sana.

Mendengar itu, Thio Tiat saling pandang dengan kedua


istrinya.

"Urusan kalian memang hebat." kata Sian Lin tiba-tiba. "Dalam


hal lain mungkin kita dengan lantas dapat membantu tapi
dalam itu, maaf saja."

"Kenapa begitu ?" tanya Kam Eng Kim, tidak puas dia.

"Dalam wilayah di sini, ada satu pantangan untuk orang


menyebut apa-apa mengenai dirinya, apalagi petunjuk seperti
yang kalian ingini." berkata lagi Sian Lin, wajahnya sudah
pucat ketakutan.

Thio Tiat dan Sian Kin juga kelihatan gelisah.

"Hahaha !" terdengar Kam Eng Kim tertawa.

"Kalian tidak berani kasih tahu, kami juga tak berani lama-lama
tinggal disini. Nah, marilah kita pergi !" ia bangkit dari
duduknya mengajak kawan-kawannya berlalu dari rumah itu,
malam-malam itu juga.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ayah, kau jangan bawa adat yang bukan-bukan !" berkata


Lian Eng yang merasa jengkel dengan kelakuan sang ayah
yang tidak benar.

"Apa kau bilang ? Bukan-bukan ? Hmm !" tidakk senang ia


ditegur anaknya.

"Orang sudah begitu baik terhadap kita, masa dibalas dengan


kelakuan yang demikian tidak sopan ?" berkata lagi Lien Eng,
berani ia menyela ayahnya.

"Kau, kau, anak apa ! Tidak punya isi perut. Orang sudah
ketakutan masih mau ngotot lagi. Mereka boleh takut pada si
sundal Kim Coa Sian....." berbareng api lilin yang sengaja
dipasang dua batang telah menjadi padam.

"Hihihi....." kedengaran suara ketawa wanita di sebelah luar,


perlahan suara ketawa itu tapi menusuk ke telinga orang yang
ada disitu. Thio Tiat dan dua istrinya saling peluk ketakutan
sementara Ma Liong dan Liang Eng juga jeri hatinya, hanya
Louw Bin Cie yang besar hatinya. Dengan sekali lompat ia
sudah berada di luar pintu. Di sana si orang she Louw hanya
melihat seperti segulungan asap ketiup angin pergi, pergi tidak
kelihatan ditelan kegelapan sang malam.

Louw Bin Cie sebenarnya hendak mencegat larinya si wanita


yang ketawa tadi tapi sudah terlambat. Wanita itu sudah
lenyap seperti asap bergulung-gulung.

Si orang she Louw hanya bisa menghela napas dengan


mendongkol. Ketika ia masuk lagi ke dalam, api lilin
penerangan sudah dipasang lagi. Mendadak Lian Eng menjerit
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat ayahnya sedang duduk menyender di kursi dengan


kedua matanya tertutup.

Waktu Thio Tiat dan dua istrinya mendekati, mereka menjadi


menggigil seperti yang merian, "Kim...... Kim..... Coa....
Sian.....cu.....!" kata-kata ini molor keluar dari bibirnya sian Lin
seraya tangannya menunjuk pada jidatnya Kam Eng Kim
dimana terdapat goresan seperti gambar ular kecil tengah
meloget-loget jalan.

"Ayah, ayah........." Lian Eng bangkit dari duduknya hendak


menubruk ayahnya, tapi cepat dihalangi oleh Sian Lian hingga
mereka jadi berkutatan. Lian Eng berontak hendak
menghampiri ayahnya sedang Sian Lian bertahan
menghalanginya.

Segera Sian Kin sudah turun tangan juga, katanya, "Nona


Eng, kau dengar dulu omonganku. Sabar, satu sudah hilang,
masa harus yang lain menyusul ?"

Ma Liong dan Louw Bin Cie heran mendengar kata-kata Sian


Kin.

Sementara itu, Lian Eng juga sudah menjadi tenang. Tidak lagi
ia berontak untuk memeluk ayahnya yang sudah jadi mayat. Ia
ingin mendengar penjelasan Sian Kin, yang lalu berkata lagi,
"Nona Eng, kalau adikku barusan mencegah kau menubruk
ayahmu adalah demi keselamatanmu. Kam Lo-enghiong
setelah mendapat totokan maut dari Siancu, badannya
menjadi beracun. Kalau kena diraba, orang yang merabanya
akan ikut ia ke alam baka. Inilah yang dapat kuterangkan.
Harap kau tidak menjadi kecil hati. Sekarang paling baik kita
urus jenasah ayahmu baik-baik. Mau ditanam disini boleh saja,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mau di bawa pulang, itu terserah."

Lengkoan Giok-lie mendengar perkataan Sian Kin, berdiri bulu


kuduknya. Seram dia, hatinya berdebar keras, ketakutan.
Matanya saling pandang dengan suaminya.

Ma Liong ragu-ragu akan Sian Kin, maka ia tinggal membisu


saja, tak dapat ia memberi putusan. Sang istri paham dengan
sikapnya sang suami, maka dari takut ia juga menjadi ragu-
ragu atas keterangannya Sian Kin.

Louw Bin Cie juga masih tidak percaya, masa sampai begitu
ampuh totokan si Dewi Ular Emas. Dapatkan ia menyimpan
bisa di dalam tubuhnya sang korban ?

Melihat sikap mereka, kuatir salah satu antaranya nanti nekad


mencoba-coba meraba mayatnya Kam Eng Kiam, maka si Jiso
(Sian Lin) berkata, "Kalian mungkin tidak percaya akan kata-
kata enciku. Nanti aku kasih bukti !" berbareng ia berlalu dari
situ masuk ke belakang. Tidak lama ia kembali dengan
membawa seekor anak anjing yang masih kecil hingga para
tamu menjadi heran.

"Nah, lihat, aku korbankan makhluk yang tidak berdosa !"


katanya berbareng ia pegang kepalanya si anjing kecil,
mukanya ditempelkam pada pipinya Kam Eng Kim, lalu
dilepaskan dengan cepat hingga si anak anjing jatuh di lantai.
Ia tidak berkuing-kuing lari mencari ibunya, sebaliknya, begitu
badannya menyentuh lantai, tampak ia berkelejetan seperti
makan racun layaknya. Sebentar kemudian terdengar suara
'Ngik' hanya sekali dan anjing kecil itu melayang jiwanya dan
tubuhnya sudah tak bergerak lagi.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lian Eng lompat menubruk Ma Liong. Ia memeluk suaminya


dengan ketakutan bukan main.

Ma Liong pun tergetar hatinya, tapi tidak ketakutan seperti Lian


Eng.

Louw Bin Cie dilain pihak, tampak angguk-anggukkan


kepalanya. Hatinya cemas tercampur terharu. Ia cemas karena
gara-gara ia yang membawanya ke rumah Thio Tiat sehingga
Kam Eng Kim menemukan kematian konyol, terharu
kehilangan si Burung Kepada Dua yang tidak sedikit tahun
menjadi sahabatnya. Ia jadi berdiri menjublek.

Sekonyong-konyong Lian Eng melepaskan pelukan dari


suaminya lalu menghampiri Sian Lin, di dekapnya Lian Eng
jatuhkan diri berlutut sambil berkata, "Lin koukou, kau adalah
Injinku, terimalah hormatku dan aku mohon maaf atas
kelakuanku barusan yang tidak benar." air matanya tampak
bercucuran.

Koukou artinya bibi dan Injin (tuan penolong).

Melihat kelakuan Lengkoan Giok-lie, Sian Lin mengelus-elus


rambut si juwita dari kota Lengkoan, "Anak Eng. Kita orang
sendiri, tak usah banyak peradatan. Nah, bangunlah !" Sian
Lin menyilakan si nyonya muda bangun.

Mengingat nanti berabe diperjalanan kalau mayatnya Kam


Eng Kim di bawa pulang, maka atas kemauan Lin Eng sendiri,
mayat Kam Eng Kim dikubur di Cit-seng-tin. Mayat itu
dibungkus dengan kain tebal dan selimut supaya tubuhnya
yang beracun tidak sampai teraba oleh orang yang
menggotongnya ke dalam liang kubur. Lian Eng mengucurkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

banyak air mata, menyaksikan penguburan jenasah ayahnya


yang kesohor itu hanya disaksikan oleh ia sendiri, sang mantu
Ma Liong, sahabatnya Louw Bin Cie serta Thio Tiat dan dua
nyonya yang mulia hatinya. Coba kematian Siang-tauw-niauw
Kam Eng Kim kejadian di tempatnya sendiri, sudah tentu
banyak yang datang melayat dan penguburan dilakukan
dengan ramai sekali dengan diantar oleh banyak kawan-
kawannya dalam dunia Kangouw.

Setelah selesai membereskan penguburan jenasah ayahnya,


Lian Eng ajak kawan-kawannya untuk meneruskan perjalanan.
Kepada tuan rumah dan dua nyonya rumah, Lengkoan Giok-lie
mengucapkan banyak terima kasih. Malahan ia mau
tinggalkan uang untuk ongkos selama mereka tinggal disitu,
akan tetapi ditolak oleh tuan dan nyonya rumah yang manis
budi.

Dalam perjalanan, mereka mampir disebuah rumah makan An


Seng untuk melepaskan lelah dan mengisi perut. Mengingat
akan nasehat dua nyonya Thio Tiat bahwa ada pantangan
bagi orang-orang yang tinggal di wilayah dekat Lembah Ular
menyebutkan nama Kim Coa Siancu atau menyinggung-
nyinggung soalnya, maka Lian Eng dan dua kawannya tak
berani dengan terang-terangan berbicara mengenai soal Kim
Coa Siancu lagi. Mereka kini tahu akan kelihaiannya si Dewi
Ular Emas.

Meskipun demikian, diam-diam Lian Eng ada mengandung


maksud bahwa suatu waktu ia mesti menemui Kim Coa Siancu
untuk menentukan siapa unggul. Tapi hal ini ia tidak dapat
lakukan sekarang. Pikirnya, ia akan belajar atau
memperdalam ilmu silatnya lagi, setelah mana ia baru akan
mencari Kim Coa Siancu yang telah menculik puterinya dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membunuh ayahnya.

Dalam rumah makan itu mereka kasak kusuk untuk mengambil


keputusan, apakah perjalanan baik diteruskan atau baik
pulang saja. Louw Bin Cie tidak berkata apa-apa sebab ia
memang hanya sebagai pengantar saja. Putusannya sudah
tentu ada pada Ma Liong dan istrinya yang mempunyai
kepentingan dalam hal itu.

"Diteruskan juga percuma, kita hanya akan mengantarkan jiwa


saja." Ma Liong menyatakan pikirannya. "Sebaiknya kita
pulang saja dahulu untuk berdamai dengan orang-orang tua
dirumah, untuk meminta nasehatnya bagaimana kita harus
berbuat menghadapi musuh yang sangat tangguh."

Louw Bin Cie pikir, itulah jalan paling baik. Maka Lian Eng pun
tidak bisa membantah dan mereka sekarang telah putar
haluan untuk balik kembali saja.

Tidak jauh dari meja makan mereka, tampak ada 4 orang, juga
sedang makan dengan bernapsu. Mereka ketawa geli dalam
hati melihat satu diantaranya yang bermuka merah dan gendut
pendek, makannya sangat gembul. Beberapa kali telah
tambah nasi dalam mangkoknya tapi masih belum juga
kelihatan merasa kenyang.

"Tan-heng, aku kuatir perutmu nanti kembung seperti balon !"


kawannya bermuka putih menggodai si gendut yang makan
tanpa batas.

"Hahaha !" si gendut tertawa seraya letakkan mangkok dan


sumpitnya di meja, mulutnya masih penuh dengan nasi.
Setelah menelan habis nasi di mulutnya, ia meneruskan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkata, "Perjalanan kita ke Coa-kok harus melewati banyak


tempat sepi. Maka aku harus bekal makanan dalam perutku
supaya tidak kelaparan di jalan. Hahaha !"

Si gendut tertawa seraya tepuk-tepuk perutnya.

Louw Bin Cie terkejut mendengar kata si gendut. Pikirnya,


kalau begitu 4 orang yang sedang makan itu bermaksud
hendak pergi ke lembah ular. Apa maksud mereka ke sana ?
Apa ada urusan yang sama dengan urusannya Ma Liong ?

Louw Bin Cie saling berpandangan dengan Ma Liong serta


istrinya.

Si Sepasang Pedang Dewa Louw Bin Cie ingin mencari tahu,


kalau benar mereka ada bertujuan sama, baik sekali kalau
diajak menjadi teman seperjalanan. Ketika ia mau bangkit dari
duduknya, tiba-tiba ia mendengar seorang lain yang memakai
kumis berkata pada si gemuk, "Tan-heng, jangan-jangan
belum sampai disana bekal dalam perutmu itu sudah
digerembengi orang............ Hehehe !"

Si gemuk ketawa, "Aku Tan Thiat Ga, datang kemari


mengantar dia, aku punya toako." berkata si gemuk seraya
menunjuk orang di depannya yang berperawakan jangkung.
"Kalau aku si orang she Tan tidak punya 'isi', mana berani
begitu gegabah mengantar orang ke tempat yang seram !"

Maksud si gemuk 'isi' itu artinya 'punya kepandaian silat'. Tapi


temannya, si kumis berlagak pilon dengan arti yang
sebenarnya, ia menggodai, katanya, "Tentu saja ada isi, ialah
isi perut. Hahahaha...."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Semua orang ketawa kecuali si jangkuk yang kelihatannya


sedari tadi bermuram durja saja. Thiat Gu rupanya seorang
yang jenaka diantara mereka, maka kawannya suka
menggodainya. Sebab kemudian dengan gayanya yang lucu
ia berkata lagi pada si kumis seraya mengusap-usap perutnya,
kepalanya nunduk memandang perutnya yang seperti balon
ditiup, katanya, "Lie-heng, isi ini penuh dengan lwekang
(tenaga dalam) yang dahsyat. Siapa berani raba isinya ? Hmm
! Jago-jago temanku, jungkir balik dengan iniku !" si gemuk
perlihatkan kepalannya. Lalu meneruskan, "Di sini aku mau
coba si dara jelita yang disohorkan berkepandaian sangat
tinggi !"

"Siapa itu dara jelita, Tan-heng ?" tanya si kumis seraya


menahan tertawa.

"Hehehe...." kepalanya mendongak. "Itulah Kim Coa Sian......


!"

Baru saja menyebut 'Kim Coa Sian...', belum 'cu'-nya


keucapkan, badan si gemuk tiba-tiba gemetaran dan jatuh ke
lantai bersama bangku yang didudukinya.

Semua orang kaget, apa lagi kawan-kawannya yang serentak


turun tangan menolong temannya yang diserang penyakit
ayan, pikir mereka.

"Hi hi hi..... !" terdengar suara ketawa wanita di sebelah luar.

-- 18 --

Suara ketawa itu tidak diperhatikan oleh kawan-kawannya Tiat


Gu yang sedang repot menolong si gemuk yang kelenger
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan tiba-tiba itu. Tapi bagi Louw Bin Cie dengan kawan-
kawannya, tertawa wanita itu mereka kenal baik. Itulah Kim
Coa Siancu, berkata dalam hati masing-masing. Tidak berani
mereka mengucapkan dengan terang-terangan karena takut
mati konyol seperti Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim dan si
gemuk yang barusan mereka saksikan menemui ajalnya.

Louw Bin Cie hanya dapat berpandangan dengan dua


kawannya.

Sementara itu Tiat Gu yang digoyang-goyang lengannya tetap


tidak sadarkan diri. Si jangkung, toakonya si gemuk lalu ulur
tangannya meraba pipi dan dahinya sang kawan. Tiba-tiba ia
bergemetaran dan jatuh meloso di lantai. Berkelejatan
sebentar seperti anak anjing beberapa malam yang lalu Lian
Eng saksikan, lantas si jangkung tidak berkutik lagi.

Melihat si jangkung keracunan gara-gara meraba pipi si


gemuk, maka dua kawannya yang lain ketakutan, tidak berani
meraba tubuh sang kawan. Apalagi si kumis yang barusan
menggoyang-goyang lengan si gemuk, bukan main ia
ketakutan. Ia tidak apa-apa menggoyang-goyang lengan si
gemuk lantaran lengan si korban ketutupan lengan baju. Coba
bila tidak, pasti si kumis yang direnggut duluan jiwanya oleh
racun dahsyat dari Kim Coa Siancu. Keadaan waktu itu
menjadi panik, para tamu yang takut tentang hal itu sebentar
saja sudah padalari keluar kecuali tamu-tamu yang datang dari
luar tempat tidak mengerti akan kematiannya si gemuk dan si
jangkung. Penduduk disitu sudah lantas tahu bahwa si gemuk
mendapat hadiah 'Bu-im In-coa' atau 'Cap ular tanpa suara',
senjata rahasia Kim Coa Siancu yang menggemparkan.

Pada dahi si gemuk tampak goresan gambar ular yang sedang


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melegot-legot jalan.

Entah macam apa bentuknya senjata rahasia dari Kim Coa


Siancu, tiada orang yang tahu. Orang-orang hanya tahu
korban-korban yang kena sasarannya akan gemetaran
sebentar dan kemudian lantas mati. Pada jidat si korban akan
diketemukan satu goresan gambar ular kecil yang jalan
melegot-legot. Berdasar inilah rupanya orang menamakan
senjata yang ampuh dari Kim Coa Siancu 'Bu-im In-coan' atau
'Cap ular tanpa suara'.

Si muka putih dan si kumis mengeluarkan banyak uang juga


untuk mengubur jenazah kedua kawannya karena mereka tak
dapat melakukannya sendiri tapi harus minta bantuannya
beberapa penduduk disitu yang sudah biasa menguburkan
korban-korban dari Kim Coa Siancu sehingga tidak sampai
keracunan.

Louw Bin Cie dan dua kawannya tidak menyaksikan


penguburan itu karena mereka sudah lantas melakukan
perjalanan pulang.

Meskipun sudah kawakan dalam dunia Kangouw, Louw Bin


Cie menyaksikan kejadian yang sehebat dilakukan Kim Coa
Siancu, diam-diam keberaniannya menjadi kecut untuk
menghadapi Kim Coa Siancu. Ia ingin buru-buru pulang untuk
berunding dengan kawan-kawannya yang lebih tua tentang
halnya Kim Coa Siancu.

Ketika matahari mendoyon ke sebelah barat, si Sepasang


Pedang Dewa Louw Bin Cie dan dua kawannya menjadi
kebingungan karena sudah kesasar jalan. Hari sudah
mendekati sore, bagaimana mereka nanti dapat tempat
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pemondokan sebab disitu jalan-jalan yang dilewati boleh


dikata hanya hutan-hutan yang sepi saja.

Di depan sana, tiba-tiba Lian Eng nampak ada satu kebun


bunga.

Ia memang paling suka pada kembang-kembang, maka


seketika itu ia cepatkan jalannya meninggalkan kawan-
kawannya. Ia tidak mengira bahwa disana sudah ada seorang
gadis tengah memetik bunga-bungan yang indah seraya dari
mulutnya terdengar suara nyanyian yang amat merdu
kedengarannya.

"Hm, siapa anak dara ditengah-tengah hutan ini ?" Lian Eng
menanya pada dirinya sendiri seraya teruskan jalannya
mendekati si anak dara yang tengah asyik memetik bunga.
Lengkoan Giok-lie menggunakan ilmu entengi tubuh maka
juga si gadis jelita tadi tidak mengetahui kalau dirinya ada
yang dekati.

"Adik manis, kau sendirian saja memetik kembang ?" tiba-tiba


ia menegur si gadis yang kelihatan kaget dan hentikan
menyanyinya.

Ka[an ia menoleh pada Lengkoan Giok-lie, si Lengkoan Giok-


lie menjadi sangat terperanjat hatinya. "Eh, kau, kau ada disini,
anak Bwe..." tiba-tiba mulutnya nyonya Ma tercetus ucapan
aneh.

Aneh untuk si gadis sebab ia tidak kenal sama wanita di


depannya.

"Siapa yang kau maksudkan dengan anak Bwee ?" ia lantas


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menanya.

"Eh, apa kau bukan anak Bwee ?" Lengkoan Giok-lie


menegasi berbareng hatinya rada sangsi karena reaksi dari si
gadis di luar dugaannya.

Gadis itu geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan


Lengkoan Giok-lie.

Lian Eng menjadi penasaran, ia datang lebih dekat dan


mengawasi wajah gadis itu.

Ia lihat si gadis pengawakannya agak berubah, lebih jangkung


dan lebih botoh dari Sian Bwee anaknya satu setengah tahun
yang lalu. Pikirnya, perubahan itu wajar karena satu setengah
tahu ia tidak ketemu anaknya itu. Ibu mana sih yang tidak
mengenali anaknya, maka juga Lian Eng sudah berkata pula,
"Tidak salah, kau adalah Sian Bwee anakku. Kalau buka,
siapa ada orang tuamu, adik manis ?"

"Hihihi..... bibi ini lucu. Aku jadi anakmu, aku sudah keliru. Aku
bernama Cui Sian bukannya Sian Bwee !" si gadis
menyangkal seraya terus memetik bunganya, tidak
memperdulikan Lian ENg yang haus akan cintanya sang puteri
yang hilang !

Sementara itu Ma Liong, suaminya sudah datang mendekati


isterinya yang sedang terpaku, tercengang mendapat
perlakuan dari si gadis yang ia kira anaknya.

"Engko Liong, coba kau lihat siapa dia." kata Lian Eng ketika
mengetahui suaminya ada didepannya. "Eh, nona. Coba kau
lihat siapa ini." Lian Eng kata pada si gadis yang sedang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membelakangi mereka, asyik memetik bunga.

Si gadis menolah kepada mereka. Ma Liong terkesiap hatinya


nampak wajah si gadis tapi dia sangsi sebab gadis yang
dilihatnya ini pengawakannya lebih jangkung dan lebih botoh
dari anaknya Sian Bwee yang hilang.

"Adik Eng, anak ini mirip dengan anak kita." akhirnya ia


berkata juga.

Liang Eng tidak menyahuti kata-katanya sang suami tapi ia


gapaikan tangannya pada Louw Bin Cie yang berdiri sedikit
jauh dari mereka, si Sepasang Pedang Dewa dengan segera
lantas datang menghampiri.

"Louw susiok (paman), coba kau lihat, siapa gadis itu." kata
Lian Eng.

Louw Bin Cie memandang pada gadis yang asyik memetik


bunga, "Hei, nona, coba kau berpaling sebentar !" katanya
pada si gadis.

Si nona menoleh dan melemparkan senyuman manis.

"Ah, dialah Sian Bwee." kataya setelah melihat tegas roman


muka si gadis.

"Nah, bagaimana pendapatmu ?" Lian Eng menanya


suaminya.

Ma Liong juga memang menduga gadis itu adalah anaknya


hanya ia ragu-ragu karena perbedaan perawakan si gadis itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mendengar perkataan sang isteri dan ucapan Louw Bin Cie,


mau tidak mau ia harus akui bahwa gadis di depannya itu ada
puterinya yang hilang. Maka ia lantas maju mendekati dan
berkata, "Anak Sian, apakah kau sudah lupa kepada ayah
bundamu ? Kau disini sendirian, mari kita pulang !"

"Hihihi...." si gadis ketawa empuk. "Pulang ? Pulang kemana ?


Aku tidak bisa meninggalkan suhu, lagian aku tidak kenal
kalian !" si gadis berbareng angkat kaki hendak meninggalkan
mereka.

"Tunggu !" kata Lian Eng, agak bengis suaranya.

Si gadis hentikan tindakannya. Ia agak kaget, wanita ini main


bentak, pikirnya.

"Kau mau apa ? Aku tidak ada urusan dengan kau. Kenapa
kau tetap juga mengaku aku sebagai anakmu ? Hihihi, ada-
ada saja."

Lian Eng dan dua kawannya seketika mempunyai satu


anggapan baha gadis di depannya ini memang Sian Bwee
adanya, cuma saja ingatannya sudah tidak waras, memungkiri
ayah bundanya sendiri. Maka mendengar kata-kata Cui Sian,
Louw Bin Cie saling pandang bertiga. Dengan satu tanda
kedipan dari Lian Eng, segera juga Ma Liong bergerak hendak
menangkap Cui Sian.

Pikrinya, dengan sekali jambret tangan Cui Sian sudah dapat


dicekal olehnya sebab dalam gerakannya ia gunakan tipu
'Sianjin hian chiu' atau 'Sang Dewa perlihatkan tangan', salah
satu jurus dari 'Liu su ciang hoat' (Ilmu pukulan pohon Liu)
yang menjadi kebanggaan dalam perguruannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tangan kiri di dada untuk menjaga serangan membalik,


tangan kanan menyambar tangan si gadis. Ma Liong sangsi
kalau Cui Sian bukan puterinya dan pandai silat, maka ia
sudah gunakan tipu itu. Tapi sebaliknya sang isteri, Lian Eng
menganggap perbuatan sang suami itu terlalu kasar terhadap
anak sendiri.

Meskipun kelihatannya tidak berjaga-jaga, tangannya yang


halus terancam bakal kena dicekal Ma Liong, si gadis
waspada juga. Begitu tangan Ma Liong menyambar, segera ia
tarik sedikit tangannya sehingga sambaran tangan Ma Liong
hanya menangkap angin.

"Hihihi..." Cui Sian ketawa, seraya lari dari situ.

Ma Liong terbelalak matanya, Lian Eng terpaku ditempatnya


dan Louw Bin Cie manggut-manggut kepalanya. Kenapa ? Ma
Liong suami isteri dan Louw Bin Cie bukannya heran atas
kegesitannya si gadis, hanya mereka kenali Cui Sian
menyelamatkan tangannya dari sambaran Ma Liong adalah
jurus 'Thian lie kay tay' atau "Bidadari meloloskan sabuk'.
Suatu gerakan yang khusus untuk mengelakkan tipu 'Sian jin
hian ciu' dari ilmu silat 'Liu su ciang hoat'.

Dengan begitu, Cui Sian itu benar-benar adalah Sian Bwee,


puterinya yang hilang itu.

Lian Eng tidak sabaran setelah mendapat bukti ini, maka ia


sudah lompat menyusul sebelum Cui Sian pergi jauh, "Anak
Bwee, kau mau kemana ?" ia memanggil.

Cui Sian tidak meladeni, ia terus lari seperti yang ketakutan.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiba-tiba ia hentikan larinya dan kebingungan karena di


depannya sudah ada Ma Liong yang mencegat. Ia tidak
kekurangan akal, lantas ia belik ke kanan, lari menghampiri
sebuah pohon besar seraya berteriak-teriak minta tolong. Tapi
sebelum ia sampai ke pohon yang dituju, tiba-tiba muncul
Louw Bin Cie dari balik sebuah pohon yang terus mencekal
tangan si gadis sehingga tidak berkutik meskipun Cui Sian
berontak-rontak keras untuk melepaskan tangannya. Tidak
lama lagi, sudah sampai Ma Liong dan Lian Eng kesitu.

Lian Eng peluk Cui Sian seraya mengelus-elus rambutnya,


"Anak Bwee, kau benar-benar adalah puteriku yang hilang.
Apa kau tidak kenali aku, ibumu ?" berkata Lian Eng dengan
penuh kesayangan. Tapi si gadis terus berontak-rontak,
mulutnya ribut tidak mengakui Lian Eng dan Ma Liong sebagai
ayah ibunya, hingga suami isteri itu kewalahan.

"Mari kita bawa dengan paksa saja." Ma Liong mengusulkna.


"Nanti setelah di rumah, kita pikir bagaimana baiknya
mengobati pikirannya yang ngawur."

Louw Bin Cie setuju dengan usul itu.

Tiada ada lain jalan dari pada demikian, maka Lian Eng juga
jadi mufakat dan seketika itu juga, Ma Liong sudah gunakan
jarinya menotok jalan darah si gadis yang membuat ia tidak
berontak-rontak dan gampang diangkutnya. Tiba-tiba mereka
mendengar suara, "hihihi!". Suara ketawa wanita yang sangat
dikenal oleh mereka.

"Kim Coa Siancu..." ucap mereka dalam hati masing-masing.

Ma Liong dan Lian Eng tanpa disadari sudah menggigil


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tubuhnya.

Louw Bin Cie masih dapat menahan getaran jantungnya, ia


tidak demikian jeri seperti Ma Liong suami isteri. Ia pasrah
kepada nasib apabila senjata rahasianya Kim Coa Siancu
ialah 'Buim In-coa' mengambil jiwanya seketika itu.

Mereka sudah pada memeramkan matanya untuk menerima


kematian.

Tapi lama ditunggu, kiranya tidak ada apa-apa yang


menakutkan sebab disana tidak jauh dari pohon besar tampak
seorang dara manis yang umurnya sebaya dengan Cui Sian
lagi ketawa-tawa manis ke arahnya.

Kapan Lian Eng perhatikan si dara manis yang sedang jalan


mendatangi, ia lihat, gadis itu benar-benar sangat cantik.
Terpesona ia oleh kecantikan gadis itu. Kecantikannya sendiri
yang sampai mendapat julukan Lengkoan Giok-lie atau si
Jelita dari kota Lengkoan, ia merasa belum menemui
tandingan, sekarang ia menjumpai nona di depannya sungguh
menakjubkan hatinya.

Dalam pakaian serba tipis yang menggiurkan, burung-


burungan yang bergerak-gerak memain pada ikat kepalanya
yang pantas sekali, sungguh nona ini pantas menjadi satu ratu
yang dipuja dalam suatu negera. Demikian mempesonakan
wajahnya si dara manis, hingga Lian Eng tanpa merasa dari
bibirnya telah berkata, "Nona, kau sangat cantik....." tatkala si
dara manis sudah berhadapan dengan Lengkoan Giok-lie.

"Terima kasih atas pujianmu." suaranya ramah dan meresap di


hati.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cui Sian sementara itu masih tetap dikuasai oleh Ma Liong


dan isterinya.

Ketika melihat yang datang itu lantas saja Cui Sian berkata,
"Siancu, mereka hendak membawa aku. Katanya aku adalah
anak mereka. Tolong Siancu supaya dapat mengusir mereka
yang mengganggu kesenangan kita !"

Lenkoan Giok-lie dan dua kawannya menjadi terkejut. Kiranya


dara manis itu adalah Kim Coa Siancu yang ditakuti bagaikan
hantu. Mereka kira tadinya Kim Coa Siancu itu adalah satu
wanita yang berwajah jelek menakuti dengan jari-jarinya yang
berkuku panjang-panjang runcing menyeramkan. Tidak
tahunya, ia hanya satu dara manis dari usia yang sebaya
dengan Sian Bwee dan cantik sekali.

Lian Eng memberanikan hati apalagi melihat Kim Coa Siancu


tidak ada apa-apanya yang harus ditakuti dan seram. Ia
berkata, "Mohon Siancu punya kemurahan supaya anakku ini
dikembalikan ingatannya dan mengenali ayah bundanya lagi."

Kim Coa Siancu tertawa manis. "Dari mana kau tahu CUi Sian
adalah puteri kalian ? Bagaimana kalian dapat mengenalinya
?" tanya Kim Coa Siancu.

"Aku yang menjadi ibunya, mana tak bisa mengenali anaknya.


Juga ayahnya dan Yayanya (dimaksudkan Louw Bin Cie) pasti
mengenalinya."

"Orang bisa saja keliru kecuali bila ada buktinya."

"Bukti apa yang Siancu maksudkan ?" menyela Ma Liong.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalian mengatakan Cui Sian adalah anak kalian, tapi apa


buktinya ?" sahut si Dewi Ular Emas.

Lengkoan Giok-lie dan suaminya merenungkan apa yang


dimaksud oleh Kim Coa Siancu.

Akhirnya Lengkoan Giok-lie dapat tahu maksud si Dewi Ular


Emas, lalu katanya :"Aku dapat buktikan bahwa pada jidat
puteriku ada satu andeng-andeng kecil. Sepintas lalu memang
tidak kelihatan. Tapi kalau diperhatikan tampak nyata."

"Bagus." kata Kim Coa Siancu. "Coba kau unjukkan padaku,


dimana adanya andeng-andeng itu pada jidatnya Cui Sian.
Kalau benar ada, tentu Cui Sian adalah anak kalian."

"Baik !" sahut Lian Eng hampir berbareng dengan Ma Liong.

Lengkoan GIok-lie lantas pegang kepala Cui Sian dan


memeriksa. Bukan main girangnya sebab tanda yang
dimaksudkan itu memang ada diatas jidat Cui Sian.

"Siancu, ini dia...." kata Lengkoan Giok-lie seraya dengan


jarinya ia tekan andeng-andeng paa jidat si gadis.

Karena jidatnya kena disentuh, otomatis Cui Sian beringas


dan tangannya si wanita cantik dari kota Lengkoan kena digigit
seketika. Cui Sian berbareng berontak dan lari kepada Kim
Coa Siancu sambil ketawa hi hi hi....

Cui Sian merasa dirinya aman disampingnya Kim Coa Siancu.

Sementara Ma Liong dan Louw Bin Cie berdiri bengong


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat kejadian itu. Kim Coa Siancu telah berkata, "Nah, lihat
buktinya !"

Apa yang dimaksudkan 'Nah, lihat buktinya' oleh Kim Coa


Siancu, Ma Liong dan Louw Bin Cie tidak paham tapi yang
terang bahwa dengan sekonyong-konyong setelah digigit Cui
Sian, Lengkoan Giok-lie telah tertawa Hi hi hi..., berbareng
gerakan kakinya lari pada Kim Coa Siancu.

Pikirannya Lengkoan Giok-lie sudah berubah sekarang,


berubah dalam alam pikiran untuk Kim Coa Sianculah adanya
suhunya dan pelindungnya. Ia sudah tidak mengenali Ma
Liong lagi sebagai suaminya, apalagi kepada Louw Bin Cie.

Ma Liong jadi kebingungan. Anak belum dapat ditarik pulang,


sekarang isterinya lagi ikut pihak sana. Dalam tertegunnya itu,
Ma Liong dengar kata-kata Louw Bin Cie, "Lekas tarik pulang
isterimu sebelum dikuasai orang !"

Ma Liong tiba-tiba menjadi nekad. Ia lompat dan menyambar


tangan isterinya. Tapi sang isteri berkelit seperti Cui Sian
barusan menggunakan gerak 'Bidadari loloskan sabuknya',
hingga Ma Liong menjadi sangat cemas.

"Adik Eng, ingat mari kita pulang !" kata Ma Liong seraya
kembali ia lakukan percobaannya untuk menjambret tangan
Lengkoan Giok-lie.

Lagi-lagi Ma Liong jambret angin, malah diluar dugaannya,


sang isteri telah menyerangnya dengan jurus yang sangat
berbahaya. Coba kalau ia tidak siap sedia dengan
kemungkinan itu, tentu kena dihajar oleh Lengkoan Giok-lie.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Pulang ? Pulang kemana ? Aku tidak kenal dengan kau !"


bentak Lengkoan Giok-lie, sambil maju menyerang Ma Liong
lagi.

"Adik Eng, ingat, kau adalah istriku." kata Ma Liong sambil


menangkis serangan-serangan Lengkoan Giok-lie yang hebat.

"Susiok !" teriak Ma Liong. "Kau jangan diam saja, lekas bantu
aku !"

Mendengar teriakan Ma Liong, Louw Bin Cie seperti yang baru


tersadar dari tidurnya. Ia sudah lantas maju untuk bantu
menangkap Lengkoan Giok-lie.

Pertempuran menjadi seru. Lengkoan Giok-lie dikerubuti dua


orang yang kepandaiannya sudah terkenal dalam kalangan
Kangouw.

Kim Coa Siancu dan Cui Sian hanya menonton saja, tidak
begitu menaruh perhatian kelihatannya. Rupanya mereka
hanya menunggu bagaimana kesudahannya pertempuran
sengit itu.

Lengkoan Giok-lie tampak beringas menempur dua lawannya.

Karena kalah unggul, akhirnya Lian Eng menjadi kewalahan


dan kena disergap oleh Louw BIn Cie. Lengkoan Giok-lie
masih terus berontak-rontak.

Tidak enak Louw Bin Cie pikir, saat itu ia memeluki istri orang,
maka ia teriaki Ma Liong, "Lekas, lekas kau gantikan aku !"

Dengan cepat Ma Liong menggantikan yang masih terus


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

meronta-ronta, "Jahanam, kau tidak mau lepaskan nyonyamu


!" ia semprot Ma Long hingga sang suami jadi kebingungan.

"Adik Eng, kau toh ada istriku. Bagaimana kau maki aku
jahanam ?" kata Ma Liong sambil pererat pelukannya, kuatir
sang isteri terlepas lagi.

"Kau dua orang jahat, bagaimana mau menghina nyonyamu ?"


semprot Lian Eng, sepasang matanya beringas menakutkan.

Ma Liong hanya saling pandang dengan Louw Bin Cie.

Louw Bin Cie gerak-gerakkan tangannya, mengasih isyarat


pada Ma Liong. Si Macam Hitam Ma Liong mengira sang
paman menyuruh ia menotok jalan darah isterinya supaya
jangan ia berontak-rontak terus-terusan. Dalam keadaan
tertotok, meskipun pikirannya sudah berubah, Lengkoan Giok-
lie mudah diangkut pulang.

Tapi bagaimana ? Dua tangannya dipakai memeluki Lian Eng.


Bagaimana mungkin dengan satu tangan ia bisa kuasai Lian
Eng sedang dengan satu tangan lain dapat menotok Lengkoan
Giok-lie ? Tapi ia tidak kekurangan akal rupanya, tangan
kanannya yang memeluk Lian Eng digeser pindah ke atas,
maksudnya hendak menotok 'tee-hiat' (jalan darah dibawah
tetek) tapi justru tiba-tiba Lian Eng berontak, jari yang hendak
menotok 'tee-hiat' tadi, sesudah menyentuh buah dadanya
Lengkoan Giok-lie, otomatis si cantik dari kota Lengkoan itu
menggigit lengan Ma Liong hingga Ma Liong jadi kesakitan
dan berbareng dengan Lengkoan GIok-lie yang terlepas dari
pelukannya, ia lari menghampiri Kim Coa Siancu seraya
ketawa hihihi !
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tampak Ma Liong berdiri kesakitan digigit Lengkoan Giok-lie


tadi.

"Liong-jie, kau kenapa ?" tanya Louw Bin Cie seraya


menghampiri pada Ma Liong.

"Siapa kau ?" bentak Ma Liong tiba-tiba hingga Louw Bin Cie
sangat kaget.

"Aku adalah kau punya susiok." sahut Louw Bin ie terang.

"Susiok ? Siapa susiok ?" kata Ma Liong, matanya beringas.

Louw Bin Cie mengerti bahwa Ma Liong juga sudah ketularan


berubah pikirannya seperti istrinya tadi. Tapi toh ia mau coba
juga, katanya, "Liong-jie, ingat ! Kau kena dikerjai orang. Ingat,
lekas ingat !"

Ma Liong bukannya mengingatkan malah ia jadi marah pada


Louw Bin Cie. "Pergi kau ! Aku tidak kenal denganmu !"
bentaknya kasar. Berbareng ia juga sudah jalan menghampiri
Kim Coa Siancu yang memandang Louw Bin Cie dengan
senyuman manis mempesonakan.

"Bagaimana, paman ?" tanyanya pada Louw Bin Cie.

Louw Bin Cie jadi serba salah. Ia mau marah salah, tidak
marah memang ia tahu sudah dipermainkan oleh Kim Coa
Siancu. Perlahan dari jeri hatinya menjadi nekad. Pikirnya, ia
tempo hari meninggalkan kampung halaman dengan empat
orang, masa sekarang ia harus pulang dengan sendirian.

"Siancu." katanya dengan hati mantap setelah ia berhadapan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan Kim Coa Siancu yang tatkala itu sudah hendak berlalu
meninggalkan tempat itu, diiringi oleh Cui Sian, Ma Liong
dengan istrinya, "Kau adalah satu Dewi yang sangat dipuja.
Tidak seharusnya kau berlaku kejam...."

"Aku kejam apa ?" memotong Kim Coa Siancu.

"Setelah merampas anaknya, masa sekarang kau mau kuasai


juga ayah bundanya ? Itu suatu perbuatan yang tidak betul,
masuk hitungan kejam." berkata si orang she Louw berani.

"Orang she Louw," Kim Coa Siancu ketawa manis. "Kalau aku
tidak pandang kau orang baik yang belum pernah berbuat
kejahatan, siang-siang aku sudah ambil jiwamu." kata si Dewi
Ular Emas.

"Bagus." sahut Louw Bin Cie. "Kau sudah menghargai aku,


tapi aku juga tidak akan angkat kaki dari sini sebelum aku adu
jiwa dengan kau."

Berbareng dengan kata-katanya, Louw Bin Cie sudah


mencabut dua belah pedangnya.

Pikirnya, ia kesohor kepanaiannya dengan sepasang


pedangnya yang aneh, belum pernah dipecundangi musuh,
masa menghadapi satu gadis cilik saja ia mesti terima takluk
sebelum bertempur ? Sungguh hatinya yan berani tidak mau
terima.

"Siancu." katanya lagi. "Dengan sepasang pedangku ini, akan


aku adu jiwa denganmu. Mari, marilah kita menetapkan siapa
unggul !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kim Coa Siancu yang sedari tadi menonton saja laga lagunya
Louw Bin Cie yang sudah nekad, tiba-tiba ia tertawa. Suaranya
kali ini melengking menusuk telinga hingga Louw Bin Cie kalau
tidak merasa malu, saat itu ia sudah kepingin angkat
tangannya untuk menutupi kupingnya yang sakit seperti
ditusuk-tusuk.

Setelah berhenti tertawa, Kim Coa Siancu memandang Louw


Bin Cie.

"Kau mau berkelahi ?" tanyanya halus, bukan satu bentakan.

"Ya !" sahut Louw Bin Cie singkat.

"Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda.

"Sudah siap ?" Kim Coa Siancu menggoda.

"Ya !" sahut Louw Bin Cie gemas. Berbareng ia mulai


menyerang, tidak menanti Kim Coa Siancu bersiap-siap
dahulu. Pikirnya, dengan secara tidak menduga-duga
serangannya akan berhasil. Tapi ia tidak mengira bahwa Kim
Coa Siancu tidak boleh dipandang enteng.

Demikian ketika sepasang pedangnya menusuk berbareng ke


arah dada, tiba-tiba tangan kiri Louw CIn Bie kesemutan dan
pedang jatuh dengan sendirinya. Saat itu Louw Bin Cie hanya
lihat Kim Coa Siancu bergerak sedikit tangannya, berkelebat
menyentil jalan darah pada nadi tangan kirinya.

Louw Bin Cie bukan jago kampungan, sentilah Kim Coa


Siancu pada nadinya hanya membuat jatuh satu pedangnya
tidak sampai membuat ia jatuh terkulai oleh pengaruh totokan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Boleh juga, ya !" berkata Kim COa Siancu seraya berkelit dari
serangan susulan Louw Bin Cie yang hebat sebab si orang
she Louw sudah menggunakan tipu yang sukar dielakan yang
dinamai 'Beng goat Kiam eng' atau 'Bayangan pedang
diterang bulan'. Ujung pedang seperti menusuk dada tapi
sebenarnya yang diarah adalah 'jalanan nasi' (tenggorokan).
Cepat laksana kilat gerakan ini dilakukan, maklumlah Louw
Bin Cie adalah jago pedang maka julukannya juga 'Sian-jin
Siang-kiam', si Sepasang Pedang Dewa.

Tapi.... terbelalak sepasang matanya si Sepasang Pedang


Dewa ketika melihat ujung pedangnya bukan menusuk
tenggorokan tapi nancap diantara dua jari mungil si Dewi Ular
Emas, wajahnya si elok bersenyum manis ke arahnya.

Louw Bin Cie kerahkan tenaga dalamnya untuk menarik


pulang pedangnya yang dijepit dua jarinya Kim Coa Siancu
tapi meskipun ia berdegingan, tidak dapat ia tarik lolos dari
jepitan jari lawan. Kaget si Sepasang Pedang Dewa, peluh
bercucuan di seluruh tubuhnya.

"Mari, kita jangan terlalu lama main-main !" berkata Kim Coa
Siancu berbareng terdengar suara 'pletak !'. Itu adalah suara
patahnya pedang Louw Bin Cie hingga si jago pedang hanya
memegangi pedang buntung di tangannya sambil berdiri
menjublek, tidak tahu apa yang ia harus berbuat saking
kagetnya.

Pedang Louw Bin Cie bukan sembarangan pedang. Dibuat


dari baja pilihan, meskipun pendek, bobotnya berat juga.
Bukan sedikit menemui senjata lawan yang lebih besar dan
berat, pedangnya dapat memapas kuntung. Tapi sekarang,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang ditangannya Kim Coa Siancu hanya ujungnya saja


dijepit oleh dua jarinya yang halus mungil, sekali dikutik,
pedang sudah patah persis pada tengah-tengahnya.

SAmpai dimana tenaga alam Kim Coa Sianvu, benar-benar


susah diukur.

Oleh karenanya si Sepasang Pedang Dewa menjadi


menjublek, tidak tahu apa yang ia harus bikin saat itu.
Kepalanya nunduk dengan perasaan kagum.

"Hi hi hi !" suara ketawa yang membuat si Sepasang Pedang


Dewa tersadar dari kekagetannya. Cepat ia angkat mukanya,
kiranya suara ketawa itu sudah berada di tempat jauh. Kim
Coa Siancu sudah tidak ada pula disitu, berbareng Cui Sian
alias Sian Bwee dengan ayah bundanya sekali, sudah tidak
kelihatan mata hidungnya. Louw Bin Cie hanya bisa menghela
napas beberapa kali dengan putus harapan.

Ia lalu membongkoki badannya, memungut pedangnya yang


jatuh tadi.

Perlahan-lahan ia bertindak meninggalkan tempat itu dengan


penuh teka teki akan kelihaian Kim Coa Siancu yang muda
belia dan cantik luar biasa.

Beberapa lie ia jalan tanpa merasa, tiba-tiba ia melihat jauh di


depan seperti ada dua orang sedang meneduh di bawah
pohon, yang satu tengah berdiri, yang lainnya tengah duduk,
dua-dua kelihatan menyandar pada batang pohon. Louw Bin
Cie kegirangan akan menemui dua orang ditempat yang sepi
itu. Pikirnya, dapatkah mereka ia buat teman kongkouw
(ngomong) dalam perjalanan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia cepatkan jalannya. Beberapa tindak lagi mendekati dua


orang itu, ia lantas hendak membuka mulut menyapa tapi kata-
katanya urung meluncur dari bibirnya karena matanya tiba-tiba
jadi terbelalak kaget. Kiranya orang-orang yang menyandar itu
bukan seperti biasanya menyandar melepaskan lelah,
keduanya tertusuk dengan pedang. Yang menyandar sambil
berdiri adalah seorang yang masih muda, dadanya tertusuk
pedang hingga menembus ke batang pohon, sementara yang
satunya lagi adalah wanita muda, lehernya disate pedang
menembus pohon.

Mata keduanya melotot gusar seakan-akan kematian mereka


itu penasaran. Meskipun si Sepasang Pedang Dewa banyak
pengalamannya bertempur, kematian-kematian seperti yang ia
saksikan sekarang adalah wajar. Tapi mengingat bahwa
kematian mereka ini bukan dari perkelahian tapi akibat
keganasan Kim Coa Siancu, membuat hatinya tergetar setelah
melihat tanda goresan Cap Ular Kecil yang berlegot-legot jalan
pada jidatnya si korban masing-masing. Suatu tanda cap yang
menakutkan bagi siapa yang melihatnya.

Siapakah korban-korban itu ? Louw Bin Cie tidak berani


memeriksa kantong baju mereka, untuk mendapatkan
petunjuk siapa sebenarnya mereka itu. Ia takut akan
keracunan dan menemui kematian konyol.

Kembali Louw Bin Cie melihat lagi akan sepak terjangnya Kim
Coa Siancu.

Sebenarnya menurut hatinya yang tidak tega, Louw Bin Cie


ingin gulung tangan baju bantu mengubur dua mayat itu tapi
mengingat bahanyanya racun Kim Coa Siancu. Ia urungkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

niatnya, ia lalu meneruskan perjalanannya sambil menghela


napas. Baru kali ini si Sepasang Pedang Dewa banyak
keluarkan elahan napas dalam perjalanan. Biasanya ia paling
gembira dan nyalinya besar, meskipun dalam perjalanan
menempuh bahaya.

Belum berapa lama Louw Bin Cie berjalan, kembali ia


menemukan sesosok tubuh yang sedang celentang. Ketika ia
datang mendekati, kaget bukan main sebab orang itu adalah si
muka putih, temannya si gemuk yang tampak sudah jadi
mayat dengan tanda goresan Cap Ular pada jidatnya.

Kemana perginya si kumisan, temannya si gemuk yang


satunya lagi ? Demikian tanya Louw Bin Cie dalam hati
kecilnya.

Louw Bin Cie makin jeri hatinya. Tak ada tempo ia untuk
memeriksa tubuh si muka putih yang sudah jadi mayat, ia
lantas teruskan perjalanannya. Ingin cepat-cepat ia sampai di
rumah untuk mendongeng kepada kawan-kawan halnya si
Dewi Ular Emas yang hebat dan menggemparkan sepak
terjangnya.

Pikirnya, yang penting ia harus lekas-lekas keluar dari daerah


berbahaya yang termasuk wilayah Coa-kok supaya jangan
sampai menemukan kematian konyol.

Akhirnya ia sampai juga di Tong-pek-cun, satu dusun yang


ramai dan banyak penduduknya, terletak di luar wilayah
berbahaya dari Lembah Ular. Hatinya Louw Bin Cie baru
merasa lega. Ia mamir pada sebuah rumah makan 'Ce-lam-
tiam' yang kesohor dengan arak wanginya. Banyak orang dari
lain tempat datang, kebanyakan pada masuk dalam rumah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

makan itu. Maka tidak heran kalau sabah hari rumah makan itu
penuh dengan tamu-tamu, kalau tidak dari luar dudun, tentu
yang datang makan dari dalam dusun itu sendiri.

Sedang enaknya Louw Bin Cie mencicipi makanan lezat dan


arak wangi sebagai pengantarnya, tiba-tiba matanya melihat
pada seorang tamu yang barusan masuk. Ia kenali itulah si
kumis teman si gemuk. Ia ingin dapat beromong-omong
dengan si kumis, mengerti teman-temannya yang telah gugur
dan maksud mereka ke Lembah Ular.

Dengan cara kebetulan, si kumis kehabisan tempat dan


datang makan satu meja dengan Louw Bin Cie. Mereka lalu
berkenalan, sementara menunggu hidangan si kumis yang
perawakan kecil kurusm memperkenalkan namanya Tiong Kiat
she Lie asalah dari propinsi Kwitang.

Louw Bin Cie terkejut. Pikirnya, apa bukan dianya ? Lantas ia


menanya, "Lie-heng ini bukannya Kengcu Kim-kauw cian yang
menggemparkan Kwitang ?"

Kengcu Kim-kauw-cian artinya 'Si Gunting Emas dari kota


Kengcu'.

"Ah, itu hanyalah nama kosong saja." sahut Lie Tiong Kiat
merendah. "Aku sendiri tidak punya kepandaian apa-apa tapi
teman-teman Kangouw main sembarangan memberi julukan
'si Gunting Emas', sungguh berkelebihan."

Louw Bin Cie terkejut mendengar namanya Lie Tiong Kiat


yang bergelar di Gunting Emas, lantaran mendengar sepak
terjangnya si Gunting Emas yang hebat dan pantas dapat
pujian. Ia menindas si jahat menolong si lemah. Di samping
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ilmu silatnya tinggi, tubuhnya enteng seperti jatuhnya


selembar daun kalau ia lompat dari atas menginjak tanah,
tidak ada suaranya. Lompat tingginya melebihi kepandaian
jago-jago silat kelas satu, khusus ia namakan ilmu entengi
tubuhnya itu 'Kim cian coan in' atau 'Panah emas tembusi
mega'.

"Sepantasnyalah kalau orang memberikan julukan kau


demikian." kata Louw Bin Cie seraya manggut-manggut
kepalanya, air mukanya tersenyum ramah.

"Nama saudara Louw juga sangat santar terdengar di


telingaku. Maka aku girang sekali dapat berkenalan dengan
saudara." si Gunting Emas balas memuji.

(Bersambung)

Jilid 07
Letak meja mereka makan di satu pojokan, agak jauh dari
meja tamu lain. Maka dengan leluasa mereka dapat
membicarakan soal-soal yang rahasia, asal tidak keras-keras
bicaranya. Demikian, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh
Louw Bin Cie untuk menanyakan halnya si Gunting Emas
datang ke Lembah Ular.

Lie Tiong Kiat kaget Louw Bin Cie timbulkan soal Kim Coa
Siancu.

Mengingat ia sudah berada di luar wilayah Lembah Ular, tidak


ada halangan untuk berbicara dengan Louw Bin Cie mengenai
halnya Kim Coa Siancu. Ia menanya, "Dari mana saudara tahu
halnya aku ke Coa-kok ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ketika kawan saudara yang gemuk itu menemui ajalnya, aku


juga beserta kawan-kawan berada di sana menyaksikan."
sahut Louw Bin Cie.

"Louw-heng kata bersama-sama kawan, sekarang kawan-


kawanmu ada dimana ?" tanya Lie Tiong Kiat. Ia heran Louw
Bin Cie hanya sendirian tapi menyebutkan ada kawan-
kawannya.

"Lie-heng jangan kaget." sahut Louw bin Cie. "Seperti dengan


kau, aku juga sudah kehilangan kawan-kawan dalam
perjalanan."

"Juga dibunuh Kim Coa Siancu ?' tanya Lie Tiong Kiat.

"Satu yang di bunuh, sedang yang lain pada mengikuti si Dewi


Ular Emas."

"He, bagaimana bisa begitu ?"

Louw Bin Cie menghela napas. Lalu ia ceritakan terbunuhnya


Siang-tauw-niauw Kam Eng Kim, pertemuannya dengan Cui
Sian yang dikenali Lengkoan Giok-lie dan Ma Liong sebagai
puterinya yang hilang diculik. Kemudian muncul Kim Coa
Siancu, Lengkoan Giok-lie digigit Cui Sian dan ingatannya
menjadi berubah dan lalu menggigit Ma Liong sehingga
suaminya ini pun menjadi berubah pikirannya dan mengikuti si
Dewi Ular Emas dengan kesukaan sendiri. Kemudian ia
sendiri maju, nekad untuk menempur Kim Coa Siancu tapi
kesudahannya dipecundangi dengan cara yang memalukan
sekali.

Si Gunting Emas Lie Tiong Kiat manggut-manggut, kemudian


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terdengar ia menghela napas.

Atas permintaan Louw Bin Cie, si Gunting Emas lalu


menuturkan riwayat perjalanannya ke Lembah Ular yang ia
tidak sangka-sangka akan berbahaya sekali.

Pada suatu malam gelap dan hujan turun dengan rintik-rintik.


Keadaannya sunyi senyap dan hawanya dingin membuat
orang tidur nyenyak berselimut tebal.

Pada saat itu, Tan Eng Sian (si jangkung teman si gemuk)
barusan saja pulang dari rumah kawannya yang tinggal di luar
kota Hokcu dimana ia menginap dua malam untuk memberi
pertolongan kepada anak temannya yang dapat sakit.

Tan Eng Siang selainnya terkenal pandai silat, juga pandai


obat-obatan. Maka tidak jarang ia mendapat undangan
sahabat atau kenalan yang anggota keluarganya dalam sakit
untuk diminta pertolongannya.

Tatkala ia samapi di halaman rumahnya, tiba-tiba ia dibikin


kaget oleh berkelebatnya bayangan keluar dari jendela
rumahnya. Ia tidak tahu bayangan siapa yang merupakan
asap menghilang ditelan kegelapan, yang terang ia
mendengar suara seram, "Hihihi..." sehingga ia kaget dan
menduga bayangan tadi manusia yang masuk ke dalam
rumahnya.

Tan Eng Sian tergopoh-gopoh menggedor pintu yang segera


dibukai oleh seorang pelayan laki-laki tau yang sudah
bongkok.

"Siapa yang masuk barusan ?" tanya Eng Sian cepat.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tidak ada yang masuk kemari," sahut si kakek bongkok.

Eng Sian tidak sempat memajukan pertanyaan lebih jauh


karena hatinya penuh dengan kekuatiran rupanya sebab
sikapnya amat gugup.

Cepat ia pergi ke kamarnya. Ternyata kamar dikunci dari


sebelah dalam. Ia heran sebab tidak biasanya sang istri tidur
dengan pintu kamar terkunci. Sebab menurut kata istrinya
sebaiknya pintu kamar jangan dikunci, kalau ada apa-apa
gampang keluarnya. Ini ada alasan yang janggal tapi karena ia
sangat mencintai istrinya ialah istri kedua yang baru dua tahun
ia nikah, karena istri pertamanya meninggal dunia pada lima
tahun berselang, ia tidak keberatan dengan usulnya itu.

Tapi kenyataannya sekarang dikunci dari sebelah dalam ?


Kenapa ? Ah, tentu perbuatan orang jahat yang merupakan
bayangan tadi, pikirnya. Dalam keadaan mendesak, diliputi
oleh kekuatiran, tidak ada jalan lain Tan Eng Sian mendobrak
pintu kamar dengan paksa karena sang isteri yang dipanggil-
panggil beberapa lamanya belum juga membuka pintu
kamarnya.

Waktu sang pintu sudah terpentang, sekali lompat Tan Eng


Sian sudah berada di dalam kamar. Matanya terbelalak ketika
ia melihat ke atas pembaringannya. Ia tampak berdiri
menjublek dengan wajah gusar, matanya tidak berkedip
memandang ke arah pembaringan dimana isterinya tampak
rebah celentang dalam pakaian hawa (telanjang) sedang di
sisinya ada seorang lelaki yang memeluk sang isteri dalam
pakaian adam. Adegan dua orang telanjang bulat inilah yang
membuat Tan Eng Sian berdiri menjublek dengan mata
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terbelalak.

Dari sangat gusar, Eng Sian menjadi heran sebab dua


manusia yang main-main pat-pat gulipat itu tidak bergerak,
apalagi lompat ketakutan dan pakai pakaiannya kembali.

Ketika Tan Eng Sian mendekati dengan kegusaran yang


meluap-luap, ternyata dua manusia mesum itu sudah tidak
ada napasnya. Jiwanya telah melayang, entah sejak kapan.
Cepat Tan Eng Sian periksa, ternyata mereka tidak terluka
apa-apa.

Kapan diselidiki lebih tegas, kiranya mereka itu telah ditotok


urat kematiannya dalam keadaan telanjang bulat seperti yang
dihadapi ia sekarang.

Saking gemasnya tiba-tiba tangan Tan Eng Sian menyambar


saling susul dan dua manusia mesum itu dilain saat tubuhnya
sudah pada pindah ke lantai, sedikitpun tidak mengeluarkan
kesakitan meskipun terbanting keras karena memang dua
manusia menjijikan itu sudah tidak bernapas lagi.

Eng Sian lalu keluar, ia berteriak memanggil si bongkok.


Meskipun suaranya keras dan diulang-ulang, tidak kelihatan si
bongkok datang menghampiri.

"Kemana si bongkok perginya, apa dia sudah mampus ?"


berkata Tan Eng Sian dalam marahnya seraya kakinya
bertindak ke kamar si bongkok. Di situ tidak ada orangnya,
makin meluap amarahya Tan Eng Sian. Ia pergi ke belakang
berteriak-teriak memanggil pelayan-pelayannya yang lain tidak
ada kelihatan muncul satu juga.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si kakek bongkok itu Eng Sian belum jelas benar asal usulnya.
Ia menemukan si bongkok di halaman kuil 'Malaikat Bumi',
ketika ia mengantar Loan Giok, isterinya sembahyang
membayar kaul penyakitnya supaya sembuh. Si bongkok
dengan roman yang mengharukan soja-soja minta pekerjaan
pada Eng Sian suami isteri untuk pekerjaan apa saja ia mau
terima asal dapat makan katanya.

Atas usulnya Loan Giok yang merasa kasihan pada si kakek


bongkok, ia telah diterima bekerja untuk membikin bersih
kebun di pekarangan sebab kebetulan tukan kebunnya Eng
Sian berhenti pada dua hari yang lalu.

Melihat kecerdikannya si kakek bongkok setelah satu minggu


tinggal pada keluarga Tan Eng Sian sudah percayakan
padanya untuk menjaga pintu di waktu malam sebab Eng Sian
sering bepergian. Tuan rumah puas dengan pekerjaan si
bongkok, ia sangat cekatan dan gesit. Kalau Eng Sian pulang
malam, menggedor rumahnya tidak sampai diulangi berkali-
kali, si bongkok sudah lantas membukainya.

Sudah jangka dua minggu si bongkok bekerja pada Tan Eng


Sian.

Melihat bujang-bujangnya tidak muncul, si bongkok juga


kemana tahu, Eng Sian lari masuk lagi, menghampiri satu
pojokan dalam ruangan tengah rumahnya dimana terdapat
sebuah lemari cukup besar dan berta, tapi untuk Eng Sian
tidak menjadi halangan, ketika ia menggeser lemari itu
kelihatan enteng dapat dikisarkan.

Terkejut Eng Sian seketika, mukanya tampak pucat melihat


lubang rahasia tempat menyimpan hartanya sudah dibongkar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orang. Tiada seorang yang tahu tempat menyimpan harta itu


dibawahnya lemari kecuali Loan GIok isterinya. Maka itu,
lantas saja ia mencurigai isterinya. Tapi bagaimana ia
menegur dan tanya Loan Giok karena sang isteri sudah tidak
bernyawa lagi ?

Sejak ia masuk ke dalam rumah tadi, yang ia kuatir adalah


lubang rahasia itu karena di dalamnya ada tersimpan satu
kalung lehe dari batu giok (kumala) tertabur berlian yang ia
dapat miliki dari Gouw Tiang Su saudara angkatnya dengan
mempertaruhkan jiwanya.

Gouw Tiang Su adalah satu maling terbang yang licin, entah


dari mana ia dapat menyikat kalung kumala sangat berharga
itu. Ketika ia memperlihatkan hasilnya itu kepada Tan Eng
Sian, lantas timbul dalam hatinya si orang she Tan yang
serakah untuk memiliki barang-barang berharga. Ketika
diminta, malah mau dibeli dengan uang, barang itu tak
diberikan oleh Gouw Tiang Su, maka Eng Sian terpaksa
menggunakan kekerasan untuk memilikinya. Dalam
perkelahian yang sangat seru, Eng Sian hampir celaka kalau
tidak ada orang ketiga yang datang menyela. Ialah seorang
muda dari usia tiga puluhan, mukanya tampan, namanya Coan
Sim, she Tan sama dengan Eng Sian yang telah bantu
mengerubuti Gouw Tiang Su hingga ia kewalahan dan
akhirnya ia menyerah, barangnya dirampas oleh Tan Eng
Sian.

Karena kejadian itu maka Coan Sim sering-sering suka datang


bertamu ke rumah Eng Sian yang disambut dengan manis
budi dan ramah oleh tuan dan nyonya rumah.

Loan Giok ketika ikut Tan Eng Sian sudah janda, ditinggal mati
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

oleh suaminya yang menjadi sahabar Eng Sian. Ia ambil Loan


Giok terdorong oleh perasaan kasihan. Tatkala mana usia
Loan Giok bukan muda lagi, sudah 45, lebih tua 4 tahun dari
Eng Sian. Tapi lantaran Loan Giok bisa merawat diri,
wajahnya tetap segar seperti juga wanita yang baru berusia
30an.

Wajahnya yang hitam manis botoh, kalau tertawa memincuk


jantung membuat Eng Sian yang sudah lama bujangan, tidak
punya pilihan lain selain mengambil Loan Giok sebagai istrinya
untuk menyambung kebahagiaan sampai di hari tuanya.

Memang benar Loan Giok ada seorang istri yang baik, tidak
genit dan mencintai suaminya hingga selama itu Eng Sian
merasa puas dengan pelayanan Loan Giok.

Kebahagiaan yang diharap sampai tua oleh Eng Sian suami


isteri ternyata tak dapat terlaksana. Manusia boleh
mengharap, tapi guratan nasib tak dapat dielakkan.

Demikian awan mendung telah muncul memayungi keluarga


Tan ialah dengan munculnya Coan Sim, bintang penolong Eng
Sian ketika menghadapi Gouw Tiang Su.

Coan Sim tampan wajahnya, tapi hatinya busuk. Tukang


mempermainkan anak isteri orang degnan ketampanannya
sebagai modal. Ia tidak punya pekerjaan, sehari-harinya hanya
luntang lantung saja. Kalau ia bisa berlaku royal dalam
hidupnya yang workloss itu karena berkat dari tante girang
yang membantunya.

Pada sore itu dimana Tan Eng Sian sedang keluar, Coan Sim
dapat kesempatan ngobrol dengan Loan Giok. Nyonya untuk
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

rumah pandang Coan Sim adalah pemuda sopan santun.


Memang demikian ia membawa kelakuannya di depan Tan
Eng Sian dan Loan Giok apabila sedang omong-omong. Maka
Loan Giok tidak berkeberatan menemani Coan Sim
mengobrol, malah si pemuda dapat suguhan hidangan enak
berupa kue-kue dan teh hangat sebagai kawan dalam
menikmati pasang omong.

Dalam omong-omong, bukan sekali dua kali mereka beradu


pandangan hingga Loan Giok sering tundukkan kepala,
hatinya tergetar karena pandangan tajam dari matanya si anak
muda tampan. Sebaliknya, Coan Sim makin tergiur
memandang calon tante girang didepannya yang hitam manis
dengan senyum memikat.

Dari omong-omong sopan lantas melantur kepada kata-kata


melantur, itulah Coan Sim yang mulai keluarkan aksi
merayunya. Ia berkata, "Siapa tidak jadi kegirangan omong-
omong dengan Tan-hujin yang sangat cantik...."

Tan-hujin artinya nyonya Tan.

"Saudara Tan, kau omong berlebihan." sahut Loan Giok


seraya angkat kepalanya dari menunduk marusan karena
tikaman mata lihai si anak muda.

Coan Sim ketawa. Ia kata lagi, "Selama aku ingat belum


pernah aku memuji siapa juga kecuali pada hujin yang
memang aku kagumi kecantikannya...."

Berdebar hatinya Loan Giok. Belum pernah ia mendengar


kata-kata yang dapat membanggakan sanubarinya seperti
yang ia dengar dari mulut Coan Sim yang seolah-olah
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bunyinya musik mengalun di telinganya.

Ia diam saja. Sampai Coan Sim berkata lagi, "Kecantikan


hupjan diatas dari segala gadis cantik dari umur 17 keatas.
Hahaha, ini bukannya bohong. Aku berani bersumpah.
Gerakan hujin diwaktu jalan, diwaktu duduk, dilengkapi oleh
senyuman manis memikat, siapa yang akan tidak gugur
imannya ?"

"Aha, saudara ini suka main-main. Aku sudah menjadi nenek


dan...."

"Itu hanyalah pikiran hujin." Coan Sim cepat memotong


sebelum Loan Giok melanjutkan kata-katanya. "Usia tidak
menjadi ukuran, kalau memang wajah sendiri memang cantik
dipandangan orang."

Mau tidak mau, Lok Giok yang biasanya tidak genit, menjadi
berubah mendadak sontak mendengar rayuan Coan Sim yang
dahsyat itu.

Dari suaminya yang dulu maupun yang sekarang, belum


pernah Loan Giok mendengar pujian tentang kecantikan
dirinya apalagi yang demikian muluk seperti yang ia dengar
dari mulutnya si anak muda yang tampan. Waktu ia melirik
pada wajah si pemuda yang tengah berseri-seri ke arahnya,
jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tersenyum membalas,
kemudian dengan lagak manja ia berkata, "Apa iya ?"

"Siapa yang membohongi hujin ?" si anak muda kata,


romannya serius.

"Baiklah, aku akan kasih hadiah...." kata si nyonya rumah.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Berbareng ia bangkit dari duduknya, entah mau kemana.

Coan Sim juga cepat bangkit, ia menghadang. Dengan berani


ia pegang kedua lengan Loan Giok, ia menarik dan mendekap
badan Loan Giok di dadanya. Dua tubuh bersentuhan hangat,
tergetar hatinya Loan Giok. Ia coba berontak, susah terlepas
dari pelukannya Coan Sim. Ketika ia angkat mukanya
mendongak, tahu-tahu mulurnya sudah ditekan bibirnya Coan
Sim. Dari berontak ia menjadi jinak. Hanya tangan kirinya
mengikuti tangan kanan Con sim yang mulai galak dan
berkeliaran meraba buah dada yang jadi berombak dan lain-
lain anggota tubuh sampai si nyonya bergemetaran ketika
tangan nakal Coan SIm sampai pada bagian yang hanya oleh
tangan suami yang syah bagian itu boleh disentuh.

"Ah, kau. Jangan disini...." kata Loan Giok perlahan,


tangannya yang kanan berbareng mendorong dada si pemuda
hingga ia terlepas dari pelukan Coan Sim yang ceriwis
kemudian jalan tanpa menoleh lagi.

Coan Sim kesima sebentaran tapi ia segera mengikuti si


nyonya. Ia sudah dapat menduga maksudnya si nyonya dan
benar saja ia telah dibawa ke kamarnya.

Girang seperti menemui gunung emas, ketika Coan Sim sudah


berada dalam kamar si tante girang. Terdengar dari sebelah
luar suaranya Loan Giok. "Ah, kau begini nakal terhadap
nenek-nenek. Hihihi....."

"Nenek-nenek justru yang bisa main... ma..."sahut Coan Sim


terputus. Berbareng terdengar suara pintu didorong terbuka,
seorang kakek bongkok masuk ke dalam dengan pisau
ditangannya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dua manusia mesum itu terbelalak kaget.

Loan Giok sembat selimut untuk menutupi tubuhnya yang


telanjang.

"Kakek gila, kenapa kau berani masuk ke kamar nyonyamu !"


semprot Loan Giok.

Coan Sim yang memang punya kepandaian silat sudah segera


hendak melompat menerkam si kakek, ia tidak takut orang ada
bawa pisau tajam. Sayang, sebelum ia bergerak si bongkok
sudah sampai dan menotok 'thian ki hiat', jalan darah pada iga
kanannya hingga ia terkulai di ranjang dalam keadaan tidak
berpakaian.

Loan Giok menjadi ketakutan, mukanya pucat seperti


kehabisan darah.

"Hehehe, jangan takut !" kata si bongkok. "Asal kau mau


katakan dimana disimpannya kalung kumala, aku tidak akan
apa-apakan kau dan lelaki jahanam ini !" sambil menunjuk
pada Coan Sim yang tidak berkutik.

Loan Giok memang menyayangi kalung kumala berharga itu


seperti juga dengan Eng Sian suaminya. Tapi dalam keadaan
yang genting itu dimana jiwanya tentu lebih pentind dari pada
kalung kumala, maka ia lantas berkata, "Kau cari di bawah
lemari yang terletak dipojokan dari ruang tengah !"

"Bagus ! Kau tunggu sampai aku ketemukan barang itu. Kalau


kau bohong, awas !" mengancam si bongkok seraya putar
tubuhnya jalan kelua dan pintu ia kunci dari sebelah luar
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hingga Loan Giok tidak bisa keluar menggunakan kesempatan


si kakek lagi pergi.

Loan Giok menangis lalu bangkit memeriksa keadaan Coan


Sim yang hanya sepasang matanya saja berputar, badannya
sendiri tak dapat digerakkan.

"Oh, kau kenapa jadi begini ?" tanya si nyonya Tan seraya
menggoyang-goyang tubuh si pemuda yang diam saja.
Nyonya Tan tidak tahu kalau Coan Sim kena ditotok.

Tante girang tidak jadi girang menghadapi kegawatan pada


saat itu.

Sebagai nyonya yang tidak genit dan memang baik


kelakuannya, Loan Giok menangis menyesalkan kelakuannya
yang tidak benar. Ia telah khilap seketika, pada saat
mendengar rayuan asmara dari si pemuda tampan tapi busuk
hatinya. Apa daya sekarang ? Ia hanya mengharap belas
kasihan si kakek bongkok, sebentar bila ia sudah kembali. Ia
tahu bahwa si bongkok tidak akan gagal mencari kalung
kumala.

Sebentar lagi ia mendengar pintu di buka, si kakek tampak


berjalan masuk sambil ketawa-ketawa. Tapi ketika sampai
tidak jauh dari tepi pembaringan, Loan Giok kaget melihat
sikapnya berubah bengis. Ia ketakutan, hampir ia selimuti
kepalanya sekali kalau tiak keburu mendengar si kakek
berkata, "Tan-hujin terima kasih. Ini !" berbareng ia kodok
sakunya dan keluarkan kalung kumala dan diperlihatkan pada
Loan Giok.

"Bagus, kau bawalah !" sahut nyonya Tan, hatinya agak lega
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

karena si bongkok tidak sebengis tadi malah suaranya pun


enak didengar.

Pikirnya, ada harapan ia. Tapi tiba-tiba ia terkejut ketika si


bongkok datang lebih dekat ke tepi pembaringan dan
cenderungkan badannya, tangannya diulur seperti hendak
memegang tubuhnya. Ia memeramkan matanya, ia pasrah
pada nasib kalau sampai si kakek hendak memperkosa dirinya
asal jiwanya dikasih hidup. Kiranya si bongkok bukannya
hendak memeluk Loan Giok yang sudah siap menyerahkan
diri, sebaliknya ia menototk urat kematian Loan GIok yang
seketika itu si tante girang berkelejetan sebentaran dan
napasnya pun lantas putus.

Coan Sim melihat kejadian itu menjadi ketakutan. Tidak lama


sebab ia juga lantas menyusul arwahnya si nyonya hitam
manis yang belum jauh meninggalkannya. Setelah
membereskan si pemuda mesum, si bongkok singkap selimut
yang menutupi tubuh Loan Giok kemudian angkat badannya
Coan Sim yang sudah jadi mayat, di gabrukan ke tubuhnya
Loan Giok hingga keadaannya seperti yang saling peluk dalam
keadaanya yang tidak genah dipandang untuk mereka yang
beriman teguh.

Demikian, si bongkoklah yang membereskan dua manusia


mesum itu, sekarang kemana si kakek bongkok dengan kalung
kumalanya ? Eng Sian berdiri terpaku sekian lama tatkala
menyaksikan lubang rahasia penyimpanan hartanya sudah
dibongkar orang.

Ia jongkok lalau memeriksa, benar saja kalung kumalanya


sudah terbang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hehehe ! " Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa


dibelakangnya. Cepat Tan Eng Sian balik tubuhnya, kiranya
yang ketawa itu tiada lain adalah si bongkok yang dicari-cari.

Eng Sian bangun dari jongkoknya lantas menghajar si


bongkok dengan dua kepalannya tapi ia menghajar angin
karena si bongkok sudah berkelit dengan lincahnya. Malah
Eng Sian menjadi kaget sebab si bongkok sekarang sudah
tidak bongkok pula badannya.

"Kau.... kau, siapa sebenarnya ?" Eng Sian menanya gugup.

"Hehehe, kau mau tahu siapa aku ? Aku adalah Kut-nia Hui-
ma Sie Toan Leng !" di kakek memperkenalkan namanya
sehingga tergetar hatinya Eng Sian.

Tan Eng Siang kaget karena Kut-nia Hui-ma atau 'Si Kuda
Terbang dari Bukit Tulang' Sie Toan Leng adalah begal
tunggal yang malang melintang di sekitar pegunungan
Kiansan. Wataknya angin-anginan hingga orang bisa serba
salah menghadapinya, kalau bukan kawan karibnya yang
biasa galang gulung dengannya.

"Kenapa kau menjadi orang bongkok dan nyelusup ke


rumahku ?" tanya Eng Sian.

"Kalau tidak ada kepentingan, mana si Kuda Terbang mau


merendah menjadi orang bongkok segala !" jawabnya,
seenaknya saja kelihatannya.

"Jadi, kau yang curi kalung kumala dalam rumahku ?"

"Tepat dugaanmu, saudara Tan."


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau yang bunuh dua manusia hina itu dalam kamar ?"

"Kau menebak jitu sekali, saudara Tan."

"Aku tidak perduli dengan dua manusia hina itu, tapi kalung
kumala itu. Hm ! Apabila kau tidak kembalikan, jangan harap
kau bisa keluar dari rumahku !"

Sie Toan Leng tiba-tiba tertawa terbahak-bahak hingga Tan


Eng Sian heran.

"Kau mentertawakan apa ? Memangnya aku tidak bisa


buktikan ucapanku barusan ?"

"Aku tertawa bukannya tertawakan kau." sahut si Kuda


Terbang. "Aku tertawa karena kedogolanku hingga barang
yang sudah ada di tangan bisa hilang dirampas orang.
Saudara Tan, kau paham akan kata-kataku ini ?"

Tan Eng Sian melongo. Ia belum dapat menangkap betul apa


maksud kata-kata Sie Toan Leng barusan, maka ia lalu minta
ketegasan.

"Setelah aku membereskan dua manusia terkutuk itu, aku


keluar kamar dan kuncikan mereka dari luar. Pikirku, kalau kau
pulang aakn dapat pergoki bagaimana tidak setianya istrimu
dan kawan mudamu itu." demikian Kut-nia Hui-ma Sie Toan
Leng bercerita kepada Tan Eng Sian.

"Lalu, terus, terus bagaimana dengan kalung kumala itu."


mendesak Eng Sian tidak sabaran.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ketika aku jalan sampai di pertengahan rumah, aku masih


sempat mengodok keluar dari sakuku kalung kumala itu untuk
aku memandangnya sekali lagi. Sekonyong-konyong aku
rasakan ada angin dingin berkesiur disampingku. Aku kaget.
Sebelum aku tahu apa-apa kalung kumala itu sudah pindah
tangan. Kaget dan gusar saat itu, lantas aku melihat di
depanku gadis cantik tersenyum ke arahku."

"Kalung kumala tampak ada ditangannya yang putih halus.


Aku merasa gegetun, cara bagaimana ia dapat merampas
barang itu dari tanganku tanpa merasa apa-apa. Apakah dia
satu setan gentayangan ? Tapi kupikir di dunia mana ada
setan, maka aku lantas membentak, 'Anal sambel, kau berani
permainkan kakekmu ? Lekas kembalikan barang yang
ditanganmu itu !' Dia tidak menyahut hanya ketawa manis
saja."

"Aku si Kuda Terbang, mana ketarik dengan senyuman wanita


cantik. Hatiku lebih ketarik oleh kalung kumala yang dengan
susah payang aku dapatkan. Maka seketika itu aku
membentak lagi, 'Kau berani permainkan kakekmu !'
Berbareng aku pun maju untuk menyerang dan merampas
pulang kalung kumala. Tapi.... ia hanya mengebas perlahan
dengan lengan bajunya ke arahku, tiba-tiba aku rasakan
serangkum angin menerjang sangat kuat sekali hingga
tindakanku tertahan oleh karenanya. Aku heran, kukerahkan
tenaga dalam dan maju terus. Si jelita kembali mengebas
dengan lengan bajunya, kali ini agak kerasan dikit tapi cukup
membuat aku terpelanting hingga dahiku tambah daging
karena kebentur pinggir meja. Sialan, pikirku. Amarahku jadi
meluap. Berbareng terdengar suara ketawa 'Hihihi..'. Gadis itu
sudah menghilang dari pandanganku, lenyap bersama dengan
kalung kumala...." Demikian si Kuda Terbang menutup
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ceritanya.

Tan Eng Siang berdiri termangu-mangu mendengar si Kuda


Terbang ceritanya.

Ia menghela napas. Apa daya ? Pikirnya kalau kalung kumala


itu masih ada pada Sie Toan Leng, biarpun ia harus mengadu
jiwa, ia akan berusaha untuk merampas pulang barangnya.
Tapi sekarang, putuslah harapannya. Bagaimana ia bisa
menghadapi lawan, sedang si Kuda Terbang sendiri yang
kepandaiannya sangat tinggi, hanya dikebas sekali sudah
terpelanting.

Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng lalu ngeloyor pergi.

"Tunggu." kata Tang Eng Sian tiba-tiba.

"Kau mau apa lagi ? Barangmu toh sudah tidak ada padaku,
apa kau tidak percaya ?" berkata si Kuda Terbang seraya
ketawa.

"Bukan itu maksudku." sahut Tan Eng Sian.

"Aku hanya mau tahu apa kau kenal gadis yang datang kesini
itu ?"

"Mana aku tahu, sebab kenal wajahnya juga baru pada saat
itu."

"Sebagai begal tunggal, kau harus tahu !"

Si Kuda Terbang termenung sebentar.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Eh," katanya sekonyong-konyong seperti yang teringat


sesuatu, telunjuknya ditekankan pada jidatnya. Ia
meneruskan, katanya : "Sekarang aku ingat. Menurut katanya
kawan-kawanku yang suka tinggal suara ketawa berbareng
orangnya menghilang adalah Kim Coa Siancu dari Coa-kok !"

"Kim Coa Siancu...." menggumam Tan Eng Sian.

Ia pun pernah dengar tentang munculnya Kim Coa Siancu


yang melakukan penculikan beberapa lama berselang.
Menurut berita, datang dan perginya hantu itu ada
menakjubkan seakan-akan bagaikan asap yang lenyap ketiup
angin. Tiada seorang pun yang pernah mempergoki wajahnya.
Ia sendiri menduga hantu itu romannya menakutkan luar
biasa, maka kepandaiannya ada sangat tinggi. Kalau seperti
yang dikatakan sekarang oleh si Kuda Terbang, dia hanya ada
satu gadis cantik saja, ia sangsi apakah dia itu ada Kim Coa
Siancu yang dihebohkan dalam kalangan Kangouw ?

"Kim Coa Siancu sangat lihai." si Kuda Terbang berkata lagi.


"Datang dan perginya hanya seperti bayangan. Aku belum
yakin ada manusia demikian lihai tapi setelah sekarang aku
menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mau tidak mau aku
harus mengakui memang Kim Coa Siancu ada begini !"
berbareng ia menunjukkan jempolnya.

Tan Eng Sian cemas hatinya. Pikirnya, bagaimana ia bisa


dapat pulang barangnya yang sangat berharga itu di tangan
seorang yang sangat lihai ?

"Kalung kumala itu ada sangat berharga, bagaimana kau pikir


?" tanya Eng Sian.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku tahu, kalau tidak, bagaimana aku berusaha untuk


memilikinya ?"

Tan Eng Sian manggut-manggut. "Sekarang." katanya.


"Kalung kumala ada di tangan Kim Coa Siancu, apakah kau
tidak ada niat untuk merebutnya kembali ?"

"Itu bukan pekerjaan mudah." sahut si Kuda Terbang. "Aku


harus runding dulu dengan teman-temanku, tentang
bagaimana baiknya."

"Bagus ! Marilah kita berlomba, siapa yang dapat merampas


pulang lebih dulu."

"Baiklah !" sahut si Kuda Terbang, berbareng ia pun lantas


ngeloyor dari situ.

Tan Eng Sian pun lantas bekerja, mengubur mayatnya Loan


Giok dan Coan Sim dengan diam-diam di belakang rumahnya
yang terdapat kebun yang rindang.

Dengan begitu, maka Tan Eng Sian tidak perlu lagi berurusan
dengna yang berwajib.

Kalung kumala yang menjadi rebutan itu, kecuali harganya


sukar dinilai, juga mempunyai khasiat untuk kesehatan. Siapa
yang pakai kalung itu, katanya tidak akan didatangi penyakit
dan badan akan selalu merasa sehat dan segar.

Bagaimana Kut-nia Hui-ma Sie Toan Leng dapat tahu adanya


kalung kumala itu dirumahnya Tan Eng Sian, sebabnya karena
Gouw Tiang Su yang memberitahukan padanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kalau digunakan kekerasan, si Kuda Terbang menyangsikan


kepandaiannya. Maka si Kuda Terbang berpikiran
menggunakan jalan halus yaitu menjadi pembantu Tan Eng
Sian, dalam rumah diam-diam ia menyelidiki dimana
disimpannya barang permata itu. Tuakng kebun Tan Eng Sian,
ia sogok suruh berhenti bekerja. Maka dengan mudah si Kuda
Tebang diterima bekerja di rumahnya keluarga Tan.

Sudah dua minggu ia lakukan penyelidikan dengan sabar,


tidak juga ia berhasil.

Kebetulan Tan Eng Sian tidak ada dirumah, ia pergoki nyonya


rumah sedang main gila dengan Coan Sim. Menggunakan
kesempatan ini, ia berhasil menggertak Loan Giok dan
menemukan barang permata yagn dicarinya sekian lama. Tapi
dasar bukan miliknya, tiba-tiba muncul Kim Coa Siancu.
Barang yang sudah ada ditangannya dipindah tangan oleh
Kim Coa Siancu dengan demikian mudahnya.

Kim Coa Siancu datang ke rumahnya Eng Sian pun


bermaksud hendak memiliki kalung kumala karena tertarik
dengan khasiatnya untuk kesehatan. Kiranya barang itu
sebenarnya adalah milik seorang pangeran Boan yang
ternama. Lantaran kehilangan barangnya itu, ia telah membuat
pengumuman. Barang siapa yang dapat mengembalikan
kalung kumala itu akan diberi hadiah besar atau pangkat
dalam pemerintahan. Rupanya pangeran itu sangat
berpengaruh, maka dengan mudah dapat menjanjikan pangkat
pada siapa yang dapat mengembalikan barangnya yang
sangat berharga itu. Kim Coa Siancu dapat tahu hal kalung
kumala itu berdasarkan pada pengumuman itu.

Tan Eng Sian adalah jago silat ulung, banyak pengalamannya


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dan banyak kenalannya. Seperti katanya si Kuda Terbang Sie


Toan Leng, pikirnya, memang tidak mudah dengan sendirian
saja berurusan dengan Kim Coa Siancu. Maka itu, ia sudah
kumpul kawan-kawannya yang dianggap paling akrab dan
dapat mengawal menyatroni Lembah Ular.

Keputusan Tan Eng Sian pergi dengan diantar oleh tiga orang
kawannya.

Lembah ular belum dapat dicari, Tan Eng Sian sudah harus
menyerahkan jiwanya dalam perjalanan sebagaimana yang
sudah diceritakan di atas.

Demikian Kim-kauw-cian Lie Tiong Kiat menutur pada Louw


Bin Cie.

Kita kembali pada Lo In yagn tinggal dalam rumahnya Liu


Wangwee.

Melihat Bwee Hiang berubah menjadi pendiam dan selalu


berduka sejak ayahnya meninggal dunia, membuat Lo In
menjadi tidak betah lama-lama dalam rumah orang hartawan
itu. Wataknya paling suka bergembira, tidak memusingkan hal
yang dihadapi, apalagi untuk urusan yang sudah lewat.
Makanya, ia paling cocok dengang Eng Lian.

Tapi kemana perginya enci Lian ? Lo In sering-sering


menanya pada dirinya sendiri.

Mengingat bahwa dia keluar lembah, meninggalkan rajawali


dan kawan-kawan keranya disebabkan untuk mencari Eng Lia,
maka dalam pikirannya kini selalu berbayang Eng Lian yang
lincah jenaka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pada suatu sore ia berkata pada Bwee Hiang : "Enci Hiang,


sudah lama aku berada disini. Maka besok pagi aku akan
teruskan perjalanan mencari enci Lian. Harap enci Hiang baik-
baik saja di rumah sampai aku sudah menemui enci Lian.
Tentu akan datang pula kemari untuk menyambangmu lagi."

Bwee Hiang terkejut mendengar kata-kata Lo In yagn tidak


diduga-duganya.

"Adik kecil, apa kau tega meninggalkan encimu begitu saja ?"
ia menanya.

"Semua urusan sudah beres, tidak halangannya kalau aku


meninggalkan enci sekarang. Aku toh sudah janji akan
kembali kalau nanti sudah menemui enci Lian."

"Tapi bukan itu yang kumaksudkan."

"Habis, aku harus berbuat bagaimana ?"

"Sucoan Sam-sat adalah musuh besarku." kata Bwee Hiang,


romannya beringas ketika ia menyebutkan 'Sucoan Sam-sat',
ia meneruskan, "Hutang darah pada keluarga Liu harus aku
tagih berikut dengan bunganya !"

"Nah, tagihlah ! Mudah saja, bukan ?" kata Lo In wajar, bukan


melucu.

"Adik kecil, kau kelewatan...." Bwee Hiang tiba-tiba menutup


mukanya dan menangis.

Lo In menjadi heran. Ia berkata, "Enci Hiang, kau jangan


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menangis. Aku jadi tidak enak melihatnya."

"Adik kecil, kau tahu aku tidak berdaya terhadap mereka." kata
Bwee Hiang seraya susut air matanya dan terisak-isak. "Aku
harus belajar kepandaian lagi, baru aku akan mencari mereka.
Dengan kedua tanganku akan kubereskan jiwa mereka !"

"Oh, mau tambah kepandaian ? Mudah saja. Cari guru yang


pandai dan belajar sungguh-sungguh, bukankah itu jalan yang
paling baik. Untuk apa enci menangis ?"

"Adik kecil, kau sungguh kelewatan terhadap encimu...." si


gadis menangis makin menjadi, ia sangat menyesalkan Lo In.

"Enci Hiang, jangan menangis. Apa salahnya omonganku


yang barusan ?"

Bwee Hiang tundukkan kepala seraya masih terisak-isak


menangis.

Lo In kebingungan karena kata-katanya disalahkan. Ia


menanya, "Habis, bagaimana aku harus berbuat supaya hati
enci senang ?"

"Adik kecil." sahut Bwee Hiang sambil menyusut air matanya.


"Kepandaianmu di atas jago silat yang mana juga, kenapa kau
begitu pelit untuk mengajarkan satu dua jurus pada encimu
untuk bekal bagiku untuk menuntut balas ?"

"Hehehe, jadi enci mau angkat aku jadi guru ?"

Bwee Hiang mengangguk, ketawa mesem ia melihat lagak si


bocah yang lucu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mana bisa begitu." Lo In kata. "Usia enci jauh lebih banyak


dariku, bagaimana aku lebih muda boleh menjadi gurumu.
Hahaha...." Lo In tertawa terbahak-bahak.

Bwee Hiang jengkel. Ia merasa seperti dipermainkan si bocah


saja, suaranya agak kaku ketika ia berkata, "Adik kecil, kalau
kau tiadk mau ajari encimu, aku juga tidak hendak memaksa !"

"Bukan begitu, aku masih kecil masa harus jadi guru ?"

"Tak usah main guru-guruan, kalau kau mau ajari encimu !"

"Hehehe, enci marah ya ?" Lo In menggodai si gadis yang


sedang cemberut.

"Memang, memang aku marah !" sahutnya kaku.

"Senang aku melihatnya kalau enci Hiang marah !"

Gemas hatinya Bwee Hiang mendengar ucapan Lo In. "Bagus,


kau mau suruh aku mati kejengkelan, bocah !" bentak Bwee
Hiang.

Lo In ketakutan melihat enci Hiang benar-benar marah. "Enci


Hiang, kau jangan marah." kata Lo In cepat melihat gelagat
jelek.

"Hm, kau senang melihat aku marah, kenapa sekarang suruh


aku jangan marah ?"

"Bukan lantaran itu, enci Hiang !"


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Habis, lantaran apa kau senang ?"

"Lantaran wajah enci, makin marah kelihatan makin cantik.


Aduh !"

Lo In tiba-tiba mengaduh karena tangan Bwee Hiang yang


lemas halus tiba-tiba menyambar kupingnya, dipuntir agak
keras.

"Nah, rasakan hadian dari mulut bocormu !" kata Bwee Hiang.
Ketawa si gadis karena serangan mendadaknya berhasil
menemui sasarannya.

Lo In sudah sangat lihai. Sebeanrnya, tidak semudah yang


dipikirkan Bwee Hiang, si bocah kena dijewer kupingnya. Ia
melihat gerakan si gadis tapi ia antapkan supaya si gadis
merasa senang, malah ia berteriak mengaduh lagi sehingga
benar-beanr membuat Bwee Hiang merasa puas dengan hasil
gerakannya yang tiba-tiba.

Lo In pura-pura kesakitan, kedua tangannya memegangi


telinganya yang dipuntir tadi, dengan gerak griknya yang lucu
ia berkata, "Enci Hiang, kau betul kejam. Masa kuping orang
dipuntir hampir copot ? Sakit tuh !"

Mau tidak mau Bwee Hiang jadi ngikik ketawa geli.

Sejak itulah Bwee Hiang belajar kepandaian pada Lo In.

Selama bergaul dengan Lo In, Bwee Hiang dapat menyelami


watak si bocah yang selalu bergembira, seakan-akan dalam
alam pikirannya tidak ada kata-kata 'sedih' atau 'duka'. Ia
senang bersenda gurau, ketawa-ketawa riang, bersentuhan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

badan saking sengitnya bercanda. Semua itu terjadi karena


wataknya yang polos, bukan timbul karena kelakuan kurang
ajar yang disengaja.

Bwee Hiang yang sudah 'matang' dalam usia dewasa, mula-


mula merasa jengah mengimbangi gerak gerik Lo In,
ketakutan kepada kedua tangannya dipegang, ditarik untuk
diajak berjoget di lantai ruangan atau dilapangan berlatih, tapi
belakangan setelah menyelami watak polos dari si bocah, ia
tidak ragu-ragu lagi untuk menyerah di ajak bergembira ria
oleh Lo In. Berpegangan tangan dan bersentuhan badan,
sudah tidak menjadi soal lagi bagi si gadis. Lantaran ini juga,
si bocah jadi betah berkumpul dengan Bwee Hiang.

-- 20 --

Eng Lian untuk sementara seperti terlupa saja dalam alam


pikirannya Lo In karena Bwee Hiang dapat diajak bermain
seperti juga si bocah bermain-main dengan si dara cilik yang
sekarang sudah berubah nama menjadi Kim Coa Siancu yang
menyeramkan sepak terjangnya.

Bwee Hiang adalah gadis berbakat, cerdas otaknya untuk


memahami sesuatu pelajaran terutama dalam hal ilmu silat,
yang ia rindukan mendapat kepandaian tinggi untuk dengan
tangannya sendiri ia dapat menuntut balas kepada musuh-
musuhnya.

Di bawah didikan si 'guru cilik', dalam tempo pendek


kepandaiannya Bwee Hiang meningkat berlipat kali,
lwekangnya hebat hingga jurus 'Bwee hiang boan wan' atau
'Harumnya bunga bwee memenuhi taman' yang si nona paling
suka mainkan menjadi sangat lihai. Pedangnya yang menari-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nari diisi dengan tenaga dalam yang kuat, membuat senjata itu
menyambar-nyambar laksana kilat cepatnya mengarah
tempat-tempat yang berbahaya di tubuh lawan. Kenyataan ini
Bwee Hiang rasakan ketika berlatih dengan Lo In. Si 'guru cilik'
minta supaya si gadis menyerang dengan sungguh-sungguh
seperti menghadapi musuh yang sungguhan, ia lalu mainkan
jurus 'Bwee hiang boan wan' yang hebat luar biasa hingga
ketika latihan dihentikan, tampak si gadis air mukanya
menyungging senyum puas.

Bwee Hiang tadinya seorang gadis yang keras hati, agak


angkuh. Maklumlah puterinya seorang hartawan. Tidak mudah
untuk mengundang ketawanya yang mahal. Tapi, malah ia
kenal si bocah berwajah hitam, malah belakangan
pergaulannya makin rapat dengan guru angkatnya Lo In
sebagai 'guru ciliknya', dalam tempo satu setengah tahun si
gadis menjadi berubah segala-galanya. Kepandaian silatnya
meningkat berlipat ganda, wataknya juga jadi ketularan watak
Lo In yang selalu bergembira ria.

Setelah Lo In merasa Bwee Hiang sudah dapat dilepas dalam


suatu pertarungan kelas wahid, untuk mencari pengalaman, si
bocah usulkan untuk Bwee Hiang ikut berkelana dengannya
dalam dunia Kangouw. Ia sendiri tidak tahu bagaimana
sebenarnya yang dinamai dunia Kangouw, tapi tujuan
pertamanya adalah hendak mencari tahu halnya Eng Lian,
entah dimana enci Liannya itu sekarang.

Ketika mendengar usulnya Lo In, cepat Bwee Hiang


menyahut, "Memang aku sedang pikirkan untuk keluar cari
pengalaman, kebetulan kau membuka jalan. Mari, kapan kita
berangkat, adik kecil ?"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Bagaimana dengan rumah yang begini besar dan pabrik-


pabrik kalau enci tinggalkan ?" balik menanya Lo In yang
menaruh perhatian juga rupanya selama ia diam satu tahun
lebih dengan Bwee Hiang.

"Adik Hiang, kau perhatikan juga soal rumah dan pabrikku, itu
bagus." berkata Bwee Hiang. "Semua itu mudah saja aku atur.
Nanti aku angkat pamanku Liue Keng Sin menjadi kuasa
penuh untuk mengurusnya.

"Kalau begitu." sahut Lo In ketawa, "Kapan saja enci sudah


bereskan urusan, sehingga boleh kita berangkat."

Bwee Hiang setuju. Pada malamnya si nona mengajak Liu


Keng Sin berunding, ternyata ia tidak keberatan diserahi
pertanggungan jawab yang besar sebab memang sejak Liu
Wangwee mati, ia meamng sudah diserahi kuasa atas semua
kekayaan hartawan Liu.

Setelah membereskan urusannya, Bwee Hiang pada hari


berikutnya telah mengajak Lo In berangkat untuk berkelana.

"Bagus !" Lo In kegirangan. "Mari kita berangkat !" kata Lon In,
nampak Bwee Hiang sudah berdandan rapi, ketawa nyengir ke
arah si gadis.

"Apa yang kau ketawai, anak kecil ?" tegur Bwee Hiang.

"Kau kelihatan lebih... eh, eh, jangan...." Lo In terputus


omongannya karena dengan serentak tangannya si noan
kelihatan berkelebat hendak menjewer kupingnya tatkala ia
mengatakan 'lebih'...
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bwee Hiang seolah-olah sudah tahu kemana arahnya kata-


kata nakal si bocah.

"Tahu takut kok !" Bwee Hiang kata, ketawa manis.

"Sejak tempo hari telingaku dipuntir." kata Lo In, "Sampai


sekarang rasanya masih meresap dalam jantung. He he he...."

Kata-kata si bocah dengan sewajarnya, tidak mengandung


apa-apa tapi Bwee Hiang tanpa merasa wajahnya berubah
semu merah sehingga ia mau cekikikan tidak jadi.

Si gadis artikan kata-kata Lo In seperti yang hendak


membilang,"Jiwamu adalah tanda kasih yang kusimpan dalam
hari sampai sekarang." Cuma si bocah memakai kata-kata
yang tidak langsung hingga arti sebenarnya tersembunyi di
dalamnya.

Lo In sekarang sudah gede, umurnya sudah 16 tahun, tidak


bisa disamakan dengan 2 tahun berselang dalam usia 14
tahun kata-katanya ngawur, demikian pikirnya Bwee Hiang.
Apakah si bocah dalam perjalanan nanti kurang ajar
terhadapnya ? Ia jadi ragu-ragu untuk berangkat.

"Enci Hiang." berkata Lo In. "Dalam perjalanan kita ini, kalau


kita menemui hotel, kita pesan 2 kamar. Kalau kebetulan kita
nginap di hutan, aku nanti tidur di pohon dan kau dibawahnya.
Bukankah ini menyenangkan perjalanan kita ?"

Bwee Hiang tercengang, "Baik, baik, bagus..." sahut Bwee


Hiang ngawur.

Ia agak gugup dalam menghilangkan kecurigaannya tadi.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kiranya ia curiga tanpa beralasan. Si bocah ada demikian


sopan, dengan dalih apa ia menuduh si bocah akan berbuat
sesuatu yang kurang ajar terhadapnya.

Kata-kata Lo In itu membuat kesangsian Bwee Hiang tersapu


pergi tanpa bekas.

Dengan gembira ia mengajak si bocah mulai meninggalkan


rumahnya.

Ketika sampai di pintu pekarangan, tiba-tiba Bwee Hiang


merandek dan memandang si bocah dengan senyumannya
yang manis.

"Masih ada yang ketinggalan ?" tanya Lo In.

"Bukan itu." sahut Bwee Hiang. "Aku lihat kau tidak membekal
senjata. Bagaimana nanti kalu kita ketemu orang jahat ?"

Lo In tertawa terbahak-bahak. Katanya, "Enci Hiang, kau


masih sangsikan aku si bocah dengan tangan kosong dapat
menundukkan lawan ?"

"Bukan tidak percaya." sahut Bwee Hiang.

"Paling baik kalau kau membawa senjata. Aku pikir pedang


adalah benda yang paling mudah untuk dibawa-bawa.
Bagaimana kalau kau bawa pedang ayahku ?'

Lo In geleng kepala.

Bwee Hiang tahu Lo In kepala batu juga, maka ia tidak


memaksa dan ia berkata, "Kalau begitu, mari kita berangkat !"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bwee Hiang berkata seraya gerakkan kakinya diikuti oleh Lo In


yang segera sudah berada disisinya untuk diajak omong-
omong.

Seperti burung yang terlepas dari kurungan, tampak Bwee


Hiang amat gembira melakukan perjalanan berkelana.

Perjalanan mereka sangat menarik perhatian umum yang


berlalu lalang lantaran wajah mereka yang sangat menyolok
perbedaannya. Bwee Hiang yang cantik lemah gemulai
sedang Lo In wajahnya hitam legam kelihatannya lucu.

Kalau banyak yang lalu lalang sering tersenyum memandang


ke arah mereka, hanya yang memperhatikannya Bwee Hiang
sedang Lo In acuh tak acuh dengan perasaan heran mereka.

Biasanya kalau apa-apa yang ganjil suka mendapat


gangguan, begitulah terjadi dengan perjalanan muda mudi itu
yang belum lama meninggalkan kampungnya.

Ketika 2 lie lagi sampai di dusun Suyang-tin, Lo In dan Bwee


Hiang telah kesamprokan dengan rombongan pemuda
berandal. Kira-kira ada lima belas orang, mereka smeua pada
membekal senjata tajam. Ada yang membawa pedang, golok
dan sebagainya. Rupanya mereka barusan habis latihan ilmu
silat.

Ketika mereka melewati Lo In dan Bwee Hiang, satu diantara


dari mereka yang kepalanya gundul nyeletuk, "Sayang, gadis
begitu cantik dikawal oleh satu bocah hitam. Coba yang
temani aku, tentu akan lebih pantas ! Hahaha...."
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ciang Hong, kau jangan suka usilan !" mencegah temannya


yang jalan di belakang, rupanya adalah pemimpin rombongan.

Pemuda yang dipanggil Ciang Hong menoleh ke belakang,


bukan ke arah si pemimpin ia memandang tetapi ke arah
Bwee Hiang yang kebetulan mengawasinya. Matanya
mengedipi Bwee Hiang hingga si gadis menjadi mendongkol.

Memang sejak mendengar kata-kata Ciang Hong tadi si gadis


sudah gusar, sekarang ia melihat sikap pemuda tersebut yang
makin kurang ajar, bukan main marahnya.

Si gadis meludah, tanda muak melihat lagaknya Ciang Hong.

Melihat itu, Ciang Hong tidak senang. Ia keluar dari


rombongannya yang sedang jalan, menghampiri Bwee Hiang
yang seketika itu juga sudah sampai di depannya sebab
memang sama-sama mau ke dusun Suyangtin.

"Kau meludah untuk apa, hah !" bentak Ciang Hong,


tangannya berbareng nyelonong mau menyolek wajah Bwee
Hiang yang cantik.

Bwee Hiang tidak banyak cakap. Begitu tangan si ceriwis


sampai, kepalanya mengelak sedikit berbareng tangan Ciang
Hong ditangkap. Cukup dengan satu sentakan si ceriwis
nyelonong nyungsep dalam gerombolan rumput alang-alang di
tepi jalan.

Kawan-kawannya Ciang Hoang hentikan jalannya melihat


Ciang Hong sekali gebrak dipecundangi si gadis. Sebentar lagi
mereka lihat Ciang Hong sudah keluar lagi dari gerombolan
alang-alang. Dengan gusar ia membentak, "Kau berani
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menghina Tong-sinoya ? aduh ! aduh !... " omongnya ditutup


dengan kata-kata mengaduh.

Kiranya Tong Ciang Hong kena dua tamparan dari Bwee


Hiang hingga beberapa giginya rontok dan mulutnya
berlumuran darah. Ketika ia semprotkan, tiga buah giginya ikut
lompat keluar dibarengi dengan darah.

"Kau berani kurang ajar pada nonamu ? Hmm ! Itulah


bagiannya...." kata Bwee Hiang dengan gusar. "Adik kecil,
mari kita jalan !" Ia mengajak Lo In yang tinggal menonton saja
bagaimana sang enci menghajar orang yang iseng mulutnya.

"Perlahan jalan !" tiba-tiba Bwee Hiang mendengar orang


berkata di belakangnya.

Ketika ia menoleh kiranya adalah teman Ciang Hong yang


berdiri di depannya sambil ketawa haha hihi macam monyet
kena terasi.

"Oo, kau mau bela kawanmu itu ? Hmm !" kata Bwee Hiang.

"Terang aku musti bela kawanku, aku mau lihat kau bisa pergi
dari sini atau tidak !"

Si gadis sangat mendongkol, matanya melirik pada Lo In tapi


si bocah diam saja. Ia hanya kedipkan matanya seperti
menganjurkan 'lawan'.

Lo In memang sengaja tidak mau turun tangan, mau melihat


bagaimana kemajuan si gadis selama dididik olehnya.

Sang kawan mengerti akan maksud si bocah wajah hitam.


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Nah, marilah kita berkelahi !" si gadis kemudian menantang.

Pemuda itu tidak sungkan-sungkan lagi. Ia keluarkan tipu


silatnya 'Burung elang menyambar kelici'. Dua tangannya
dipentang bagaikan kilat menyambar ia menubruk Bwee Hiang
tapi si gadis sudah lenyap dari pandangannya. Tahu-tahu ia
rasakan pinggulnya ditendang dari belakang hingga ia jatuh
ngeyungsep, mukanya memakan tanah jalanan yang banyak
batu kerikilnya.

Kawan lainnya datang memburu, juga dengan sekali tarikan


tangan, lawan Bwee Hiang sudah mengaduh-aduh kesakitan,
berkutatan dalam gerombolan rumput alang-alang kemana
barusan tubuhnya si gundul nyungsep.

Melihat si nona ada demikian tangkas, kawan-kawannya yang


lain datang mengeroyok.

"Jangan, enci Hiang." berkata Lo In ketika ia melihat si gadis


hendak menghunus pedangnya hingga ia masukkan lagi. Ia
mengerti sang kawan menyuruh ia lawan banyak orang itu
dengan tangan kosong.

Bwee Hiang gunakan ajaran Lo In menggunakan 'Bu eng sin


kang' (Tenaga sakti tanpa bayangan), bagi Bwee Hiang sudah
kelebihan untuk melayani 15 pemuda yang mengeroyok
dirinya, meskipun diantara mereka ada yang menggunakan
senjata, membokong dirinya. Tubuhnya si nona berputaran
hingga kawanan pengeroyok tak dapat menyentuh meskipun
ujung bajunya saja.

Saban-saban bila mereka kira si nona tak bisa lolos dari


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

jambretan atau pukulan, dengan mendadak si nona seperti


menghilang, tahu-tahu sudah ada di belakangnya. Tidak
heran, kalau mereka berkelahi sambil berteriak-teriak
mengutuk Bwee Hiang hingga si nona merasa tidak enak
mendengar caci maki mereka.

Lo In kuatir enci Hiangnya melakukan pembunuhan, melihat si


gadis beringasan, maka ia berseru, "Cukup, enci Hiang !"

Lantas, beberapa kali si nona berkelebat. Maka 15 pemuda


berandalan itu semuanya rebah kena ditusuk oleh Bwee
Hiang.

Sambil berseri-seri si nona menghampiri si bocah wajah hitam


sambil menarik tangannya, ia berkata, "Adik kecil, mari kita
jalan. Aku kuatir disini aku bisa membunuh orang !"

Lo In memahami hati si gadis yang amat mendongkol kepada


mereka yang mengeroyoknya karena sudah mengeluarkan
kata-kata yang tidak enak didengar oleh si gadis. Maka begitu
tangannya ditarik diajak jalan, Lo In sudah lantas saja
mengikuti tanpa banyak rewel. Dalam perjalanan Bwee Hiang
berkata, "Adik kecil, ajaranmu hebat benar ! Hihihi, sekali
gebrakan sudah menjatuhkan 15 orang !"

"Jangan bangga dulu enci Hiang. Mereka itu adalah jago kelas
tiga, paling banyak kelas dua. Belum dapat diukur kepandaian
enci. Eh, enci Hiang !"

Tiba-tiba si bocah mendorong Bwee Hiang ke samping hingga


si gadis terhuyung-huyung.

Kurang ajar, pikir Bwee Hiang. Kenapa si bocah main-main


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

begini, mendorong orang sampai terhuyung-huyung. Ketika ia


menoleh, Lo In sedang berhadapan dengan satu kakek yang
jenggot dan rambutnya sudah pada putih semua. Ia
mendengar Lo In berkata, "Kakek tua, tidak seharusnya kau
membokong orang. Kalau kau mempunyai kepandaian, boleh
tantang enciku terang-terangan !"

Bwee Hiang kaget mendengar kata-kata Lo In. Kalau begitu,


barusan Lo In bukan main-main mendorong dirinya sampai
terhuyung-huyung. Ia berbuat demikian untuk menyelamatkan
dirinya dari bokongan jahat. kakek tua itu membokong dengan
senjata apa ? tanya Bwee Hiang dalam hatinya. Matanya
mengawasi ke batang pohon sebab tadi mereka sedang jalan
enak-enak menuju ke arah pohon. Ia lihat disitu tertancap
sebatang panah kecil sampai hampir amblas semua. Rupanya
senjata itu dilepas dengan kekuatan besar sampai menancap
demikian rupa.

Bwee Hiang bergidik. Di samping itu ia merasa bersyukur atas


pertolongan adik kecilnya. Sekarang ia memandang ke arah si
pembokong. Tiba-tiba ia menjadi gusar lalu menghampiri Lo In
yang sedang bertengkar dengan si kakek.

"Adik kecil, dia membokong aku barusan ?" tanyanya lantas.

Lo In menganggukkan kepalanya.

"Hehehe, kakek tua. Kau mau berkelahi denganku ?" tanya


Bwee Hiang.

Si kakek tua hanya mengawasi si nona dengan roman bengis.

"Kalau mau berkelahi, sebutkan dahulu apa lantarannya." si


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

gadis kata dengan tawar.

"Itu sudah dikatakan." menyela Lo In.

"Enci sudah bikin sungsang sumbel anak muridnya maka dia


jadi mendendam hati padamu dan dia mencoba
membokongmu !"

"Hei, kakek tua kalau begitu kau adalah kakek pengecut !"
jengek Bwee Hiang.

"Kau punya kepandaian apa hendak melawan aku ?" tanya si


kakek.

"Hihihi... !" Bwee Hiang tertawa. "Kau tentu tidak punya isi apa-
apa makanya kau membokong. Kalau benar-benar satu laki-
laki, kau harus berani lawan aku dengan berhadapan muka !"

Panas hatinya si kakek dikatakan tidak punya isi apa-apa,


maka ia tepuk-tepuk dadanya sambil berkata, "Aku Kie Giok
Tong, jago kenamaan dalam dusun Suyangtin, siapa dalam
dusun ini yang tidak kenal namaku yang kesohor sebagai guru
silat !"

"Hihihi." tertawa Bwee Hiang, ia menggodai, "Jago kampungan


hanya terkenal di dalam kampung saja dan kesukaannya
membokong orang lantaran tidak sanggup menghadapinya
sendiri. Cis, tidak tahu malu !"

Meluap amarahnya Kie Giok Tong. Tanpa banyak cakap lagi,


seketika ia sudah menyerang Bwee Hiang hingga mereka jadi
bertempur. Baru bertempur lima jurus, Kie Giok Tong sudah
empas empis kepayahan. Lo In jadi ketawa geli, kasihan ia
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat si kakek hanya dipermainkan oleh Bwee Hiang, ia


lantas berkata, "Enci Hiang cukup !", berbareng Kie Giok Tong
sudah ditotok roboh oleh si nona.

Rupanya kata 'cukup' yang meluncur dari bibirnya Lo In


seakan-akan kode untuk Bwee Hiang mengakhiri pertempuran
dengan satu kemenangan.

"Adik kecil," kata Bwee Hiang ketika ia datang dekat pada Lo


In. "Brengsek kampung ini kakek sudah hampir mampus
masih mau gerembengi ilmu silatku !"

"Hus ! Jangan omong kasar begitu." Lo In kata sambil ketawa


geli.

"Mari kita jalan !" Bwee Hiang mengajak adik kecilnya.

Kie Giok Tong hanya bisa mengawasi berlalunya dua muda


mudi itu tanpa dapat bergerak dari mendeprok dari tanah.

Kakek she Kie itu memang jagoan dalam dusun Suyangtin. Di


waktu mudanya ia bekerja pada salah satu Piauw kiok
(perusahaan pengawalan barang) ke kota Gukwan, namanya
lumayan juga terkenal sebagai Piauwsu (pengawal antaran
barang). Sudah lima belas tahun ia tinggal di Suyangtin, pada
sepuluh tahun belakangan ia membuka perguruan silat dan
menerima banyak murid.

Pernah datang dua tiga orang yang pandai silat ke dusun


Suyangtin dan bergebrak dengannya, tidak satu yang dapat
menjatuhkan dirinya. Oleh karenanya Kie Giok Tong menjadi
bangga dengan kepandaiannya itu. Ia mengira bahwa
kepandaian silatnya sudah sangat tinggi, ia tidak mengira
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bahwa kepandaian orang-orang yang mencobanya hanya jago


kampungan saja.

Kini ia dipermainkan oleh hanya satu gadis yang pantas


menjadi jujurnya, malah umurnya kurang lebih dua puluh
tahun, pedih rasa hatinya, ia tidak puas dijatuhkan si gadis, ia
tidak puas dijatuhkan si gadis meskipun kekalahannya itu
adalah wajar.

Ia coba empos tenaga dalamnya untuk membebaskan totokan,


girang ia ketika dapat kenyataan tiba-tia ia sudah bisa gerakan
pula kaki tangannya seperti biasa.

Ia merasa bahwa lwekangnya sangat sempurna dengan


mudah ia dapat membebaskan diri dari totokan tapi ia tidak
tahu, kalau totokan Bwee Hiang hanya totokan main-main saja
ajaran Lo In yang dinamai 'Poan ban tiam hiat' atau 'Totokan
setengah iseng' yang si bocah dapatkan dari buku 'Tiam-hiat
Pit-koat'.

Barusan saja ia bangkit dari mendeproknya, Kie Giok Tong


sudah dikerubungi anak muridnya yang juga sudah bebas dari
totokan Bwee Hiang.

"Gadis itu sangat lihai." berkata Kie Giok Tong setelah ia


menghela napas.

"Suhu, apa tidak baik kita kumpulkan para paman untuk bikin
perhitungan dengan wanita liar itu ?" usul pemuda yang
menjadi kepala rombongan pemuda bergajul yang sudah
dikasih 'rasa' oleh Bwee Hiang.

Kie Giok Tong anggukkan kepalanya, "Tapi, dimana para


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pamanmu sekarang ?" ia menanya.

Sebelum Kie Giok Tong mendapat jawaban tiba-tiba ia melihat


ada 4 orang yang berlari-larian ke arahnya. Si kakek
mengawasi, ia berkata kepada pemuda yang mengajukan usu
yang ternyata adalah murid kepalanya beranam Cia Kim Seng.
"Kim Seng, kebetulan. Nah, tuh lihat para pamanmu sudah
datang."

Sebentar kemudian 4 orang tadi sudah sampai. Mereka adalah


saudara-saudara angkat dari Kie Giok Tong dan mereka
menamakan dirinya 'Suyangtin Ngo-houw' atau 'Lima harimau
dari Suyangting'. Seram juga kedengarannya, memang juga
menyeramkan bagi penduduk Suyangtin, mereka sangat
menghormati Lima Harimau itu. Suyangtin Ngo-houw tidak
jahta, mereka sebagai pelindung dari dusun, hanya tabiatnya
agak sombong. Maklumlah jago-jago silat kampungan, kalau
merasa dirinya jagoan sudah lantas perlihatkan
keangkuhannya di hadapan penduduk yang lemah.

"Toako, aku mendapat kabar kau dengan keponakan murid


mendapat kesusahan dari seorang wanita liar, apa benar ?"
tanya salah seorang saudara angkat Kie Giok Tong yang
bernama Tan Him yang termasuk nomor tiga dari Lima
Harimau.

"Kabar itu tidak salah." sahut Kie Giok Tong. "Dari siapa
Samte dapat kabar itu ?" balik menanya si kakek she Kie.

"Dari si A Kong yang lari dengan napas tersengal-sengal


mengabarkan padaku." sahut Tan Him. "Aku terkejut
mendengar ada orang yang coba-coba tarik kumis harimau,
segera aku beritaku pada jiko, sute dan ngote. Maka kami
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berempat lanas menyusul kemari. Dimana sekarang adanya


wanita liar itu ?"

"Samte." kata Kie Giok Tong seraya geleng-geleng kepala.


"Aku belum pernah menemukan tandingan sejak aku
berkelana di dunia Kangouw maupun tinggal dalam kampung
kita disini. Kalian semua toh tahu, bukan ? Tapi kali ini aku
ketemu gadis liar itu, cuma dalam lima jurus saja aku
dijatuhkan. Benar-benar aku merasa sangat penasaran !"

Terkejut hati empat saudaranya. Mreka mendengar si jago tua


dirobohkan dalam tempo lima jurus, itu hebat sekali ! Kie Giok
Tong, meskipun usianya sudah lanjut sangat alot kalau
bertempur, napasnya panjang dan sangat tangkas. Mereka
sering saksikan manakala mereka sedang berlatih sialt.

"Gadis itu sangat lincah, serangan-seranganku yang


mematikan dielakkan dengan berkelit ke sana sini. Coba
kalian pikir, apakah ini tidak menjengkelkan ? Dalam sengit,
aku keluarkan serangan dengan tipu 'Kim Liong seng thian'
(Naga emas naik ke langit) yang seperti kalian tahu, jurus ini
sangatlah ampuh untuk menjatuhkan lawan, tapi.... tiba-tiba
kurasakan kesemutan ketika dia menowel pundak kananku.
Kiranya towelan itu bukan sembarang towel sebab dari
kesemutan aku jadi lemas dan jatuh terduduk di tanah. Dia
telah menotok lo-ji-hiat, halan darah di pundak kanan. Syukur
lwekangku tinggi hingga aku dapat membebaskan totokan
kejinya itu..." Demikian si kakek menutur, tampak ia sangat
bangga ketika mengatakan lwekangnya sangat tinggi dapat
membebaskan totokan Bwee Hiang.

Dasar jago kampungan, seperti katak (kodok) di dalam


tempurung yang tidak bisa menilai kepandaian orang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seberapa tingginya, hanya menyangka lwekannya yang hebat.


Ia tidak insyaf bahwa Bwee Hiang sudah bermurah hati
kepadanya, hanya menotok secara main-main saja.

"Memang, kalau bukan toako memiliki tenaga dalam yang


tinggi, tidak mudah membebaskan diri dari totokan jahat !"
memuji Song Cie Liang, jiko dari Lima Harimau hingga si
kakek she Kie senang mendengarnya.

Tinggal Cia Kim Seng saling berpandangan dengan kawan-


kawannya. Mereka heran si kakek mengatakan dengan
menggunakan lwekangnya dapat membebaskan totokan
orang sedang apa yang mereka alami, totokan itu bebas
dengan sendirinya, tidak lama setelah mereka dirobohkan oleh
Bwee Hiang. Tapi karena mereka percaya akan
kepandaiannya sang Suhu (guru) maka mereka juga tidak mau
mengatakan apa-apa.

"Sekarang, kemana perginya wanita liar itu ?" tanya Teng


Hauw, si nomor empat dari Lima Harimau.

"Aku kira mereka belum pergi jauh dari kampung kita." sahut
Kie Giok Tong.

"Mereka, toako kata ? Apa gadis itu ada temannya ?" Tan Him
menanya.

"Ya, satu bocah berwajah hitam bagai pantat kuali." sahut si


kakek.

"Cuma satu bocah, apa artinya. Mari kita susul !" mengajak
Song Cie Liang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rombongan pemuda bergajulan itu sekarang ditambah


dengan Suhu dan empat pamannya pergi menyusul. Mereka
besar hatinya sebab dengan tambahan tenaga yang sanat
berarti itu mereka harap dapat membalas hinaan yang mereka
derita.

Baru saja mereka hendak berangkat, tiba-tiba melihat seorang


anak tanggung berlari-lari ke arah mereka. Cepat juga lari
anak itu.

"Itulah si A Kong yang datang !" kata Tan Him

Yang lain-lainnya juga sudah segera kenali si A Kong, anak


tanggung yang biasa dipakai sebagai mata-mata oleh
Suyangtin Ngo-houw. Anak itu cerdik dan gesit, maka ia
sangat disayang oleh Lima Harimau dari Suyangtin.

"A Kong, kau datang tergopoh-gopoh. Ada kabar penting apa


hendak disampaikan pada kami ?" tanya Kie Giok Tong
setelah anak itu sudah berada di depan mereka.

Dengan masih sengal-sengal napasnya, A Kong menyahut,


"Toa-loya sekarang ada di rumah makan An Hok sedang
makan minum bersama si bocah muka hitam !"

"Bagus, kerja kau baik sekali A Kong." memuji Kie Giok Tong.

Senang kelihatannya anak itu mendapat pujian toako dari


Lima Harimau.

Kie Giok Tong lantas berunding dengan empat saudaranya.

"Kalau kita ramai-ramai masuk ke dalam rumah makan, kita


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebagai pengacau." Kie Giok Tong menyatakan pada saudara-


saudaranya. "Bagaimana kalau kita memencar ?"

"Maksud toako bagaimana ?" tanya Song Cie Liang, si Jiko.

"Kita saja berlima yang masuk, sedang Kim Seng dan


saudara-saudaranya boleh menunggu di sebelah luar. Kalau
sampai terjadi keributan dengan lawan, kita pancing lawan
keluar. Di situ kita keroyok ramai-ramai, bukankah ini bagus ?"

"Bagus, bagus, kita turut pikiran toako." memuji Tan Him.

Sesampainya di sana, Ngo-houw lihat si gadis sedang ketawa-


ketawa gembira dengan si bocah muka hitam. Diam-diam
mereka nyelusup masuk dan ambil meja sedikit jauh dari meja
dimana Lo In dan Bwee Hiang tengah menikmati barang
hidangannya.

Mereka terus menerus pasang mata pada dua tamu dari luar
dusun Suyangtin itu.

Diam-diam empat saudaranya Kie Giok Tong memandang


enteng pada Bwee Hiang yang kelihatannya tidak ada apa-
apanya yang harus ditakuti. Romannya yang cantik
menyinarkan welas asih malah. Bagaimana seorang dara
yang lemah gemulai itu dapat memiliki kepandaian yang hebat
sehingga toakonya dalam lima jurus sudah digulingkan ?

"Enci Hiang, kau lihat kelihaian aku." tiba-tiba Ngo-houw


mendengar Lo In berkata pada Bwee Hiang. Mereka lihat,
berbareng dengan kata-katanya, si bocah muka hitam
tangannya memegang poci arak. Mulut poci ditegakki ke atas.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mau apa dia ?" tanya Ng-houw dalam hatinya masing-masing.

Belum sempat mereka menduga apa-apa, sekonyong-


konyong mereka lihat meluncur keluar arak dari dalam poci,
naik ke atas kira dua kaki tingginya. Arak itu diatas dapat
bertahan dua menit lamanya sehingga arak itu tidak jatuh
diatas meja. Setelah itu, arak itu nyerosot masuk lagi ke mulut
poci, tidak ada setetes pun yang berlumuran jatuh di atas
meja.

Itu suatu pertunjukkan yang tidak mudah sebab hanya dengan


lwekang yang sudah sempurna saja, dapat dilakukan. Lo In
unjuk kepandaian ini bukan hendak membanggakan
kepandaiannya, hanya hendak membikin ngeri Suyangtin Ng-
houw tanpa kekerasan. Diam-diam Lo In sudah tahu
kedatangannya Kie Giok Tong bersama empat temannya,
maka ia kisiki Bwee Hiang untuk belaga pilon akan kehadiran
mereka dan Lo In menjatakan ia hendak tundukkan mereka
dengan kepandaiannya yang istimewa.

Dasar dogol, lima jago kampungan itu benar kagum melihat


caranya Lo In bermain arak tapi mereka mengira bahwa si
bocah wajah hitam itu hanya pandai main bersulap saja, lain
tidak ! Sebentar Lo In kasih pertunjukan kedua. Ia pegang
mangkok kosong, lalu diangkat ke atas. Pantat mangkok ia
sanggah dengan sumpit, tahu-tahu mangkok sudah terputar,
sebentar naik sebentar turun tapi tak lolos dari sebatang
sumpit yang ada di tangannya Lo In.

Ini juga suatu pertunjukan lwekang yang dahsyat. Sebaliknya


juga, ini dianggap oleh kawanan dogol itu si bocah hanya main
sulap saja. Sedang mereka hendak ketawa berkakakan, tiba-
tiba matanya pada terbelalak kaget ke arahnya Lo In.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Saat itulah yang membuat mereka kagum bukan main.

Lo In setelah bikin mangkok berputar turun naik disanggah


oleh sebatang sumpitnya, tiba-tiba tangan kirinya menyambuti
mangkok yang turun berbareng sumpit di tangan kanannya
melesat ke atas. Terdengar suara 'ngik !' disusul dengan
jatuhnya suatu benda dari atas. Kiranya yang jatuh itu adalah
seekor tikus yang jatuh dari bubungan rumah, tubuhnya sudah
terbidik oleh sumpitnya Lo In yang barusan meluncur ke atas,
sumpit itu telah jatuh dibawah berbareng dengan badannya si
tikus yang bernasib malang. Kejadian ini bukan permainan
sulap tapi satu kepandaian yang luar biasa hingga Lima
Harimau termangu-mangu duduk di tempatnya. Mereka tidak
bisa mengatakan si bocah main sulap lagi karena dengan
mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan kepandaian
yang luar biasa, yang baru pernah mereka melihat dalam
seumurnya mereka.

Terdengar suara tempik sorak dari para tamu yang melihat


kejadian itu.

"Toako," kata Tan Him, perlahan suaranya. "Selembar


rambutnya saja pun, kita tak dapat mengganggunya."

Kie Giok Tong angguk-anggukan kepalanya, yang lainnya


tinggal membisu.

Meskipun adatnya angkuh, tinggi hati, si kakek orang she Kie


orangnya suka bersahabat. Ia menghormati kepandaian orang
yang ia kagumi, maka juga selama ia jadi Piauwsu banyak
orang-orang gagah yang menjadi sahabat baiknya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kini ia melihat kepandaian si bocah yang luar biasa, ingin ia


mengikat persahabatan. Karena timbulnya pikirani tu, maka
Kie Giok Tong bangkit dari duduknya, jalan menghampiri meja
Lo In dimana ia menjura kepada muda mudi itu, sambil
berkata, "Siao-hiap dan Li-hiap, terima hormatku, si kakek
yang punya mata tapi tidak melihat !"

Bwee Hiang masih cekikikan ketawa dan mengagumi


kepandaian adik kecilnya, tiba-tiba Kie Giok Tong
menghampiri. Ia mengira si kakek akan cari urusan lagi. Ia
berhenti ketawa dan siap sedia tapi tidak tahunya si kakek
menjura memberi hormat hingga ia dan Lo In jadi tergopoh-
gopoh membalas hormatnya si orang tua.

Lo In tidak banyak omong, maka Bwee Hiang yang mewakili


bicara, "Lo-enghiong (jago tua), jangan begini merendah.
Karena kami berdua yang muda menjadi tidak enak oleh
kehormatan Lo-enghiong yang berlebihan. Mari, mari duduk
makan sama-sama kami !"

Kie Giok Tong tidak merendah lagi, ia lantas turut duduk di


meja Lo In dan Bwee Hiang. Sebelum membuka suara, ia
menoleh kepada empat saudaranya, tangannya menggapai.
Sebentar lagi mereka sudah datang menghampiri. Dengan
sendirinya mereka pada mengambil kursi dan duduk mengitari
meja makan Lo In.

Bwee Hiang girang melihat taktik Lo In berhasil baik, dapat


dengan halus menundukkan Lima Harimau dari Suyangting.
Bwee Hiang teriaki pelayan, minta tambah hidangan untuk
lima orang yang baru datang. Mereka mula-mula menampik,
tapi Bwee Hiang dengan ramah berkata, "Ini adalah
pertemuan kita yang menggirangkan. Tidak baik kalau kalian
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo-enghiong menampik undangan kami yang muda."

Melihat si nona demikian ramah dan kata-katanya diucapkan


dengan tulus hati, maka Kie Giok Tong dan kawan-kawan
menjadi malu hati, lantas pada menghaturkan terima kasih
atas undangan manis budi dari si gadis yang semula
dipandang musuh alias si gadis liar.

Mereka segera berkenalan satu dengan lain. Bwee Hiang tidak


bicara sewajarnya tentang siapa dirinya, ia hanya mengaku
dengan Lo In adalah kakak beradik dan dalam perjalan
merantau yag kebetulan melewati di dusun itu. Kie Giok Tong
minta maaf untuk kelakuan sendiri dan anak muridnya yang
kurang ajar.

"Ah, itu hanya kejadian biasa." kata si nona merendah. "Kalau


tidak didahului dengan perkelahian, mana bisa kita jadi
bersahabat seperti sekarang ini ?"

Lima Harimau itu makin menghormat kepada si nona yang


bisa bicara merendah dan menunjukan pribadinya yang luhur.

Lo In selama itu hanya tertawa nyengir saja, tidak turut bicara.

Kie Giok Tong yang merasa kagum pada si bocah, telah


membuka mulutnya menanya : "Aku, si kakek merasa kagum
atas kepandaian Siaohiap, sekarang Siaohiap sudah umur
berapa ?"

"Tahun ini aku masuh..... eh, tunggu !" berbareng tubuh Lo In


melesat ke arah pintu, menyusul seorang Thauto yang sedang
jalan keluar.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Thauto itu selain membawa buntelan kecil, juga ada


menyelipkan sebilah pedang pendek di bebokongnya.

Bwee Hiang kaget melihat kelakuan si adik kecil, cepat ia


menyusul keluar diikuti oleh Lima Harimau dibelakangnya.

Bwee Hiang lihat jauh disana, disuatu lapangan tampak Lo In


sedang berhadapan dengan si Thauto. Ia menyusul ke sana,
juga Lima Harimau tidak mau ketinggalan mereka dibelakang
si nona. Mereka kepingin tahu, ada urusan apa dengan begitu
tergopoh-gopoh si bocah hitam menyusul si Thauto.

Di sana mereka menyaksikan Lo In sedang bertengkar dengan


si pendeta rambut panjang.

Terdengar Lo In berkata, "Aku tidak perduli kau dapat dari


siapa, tapi itu adalah pedangku. Kau harus mengembalikan
pada pemiliknya !"

Si Thauto yang tiada lain adalah Kim Wan Thauto tertawa


bergelak-gelak mendengar ucapan Lo In, setelah itu ia
berkata, "Anak kecil, jangan kau cari urusan dengan aku.
Pedang orang lain diakui pedang sendiri, belajar dari mana
kau hendak memiliki barang orang ? Kau ngimpi barangkali ?"

"Pedang pendek itu kepunyaan orang yang kuhormati, mana


aku tidak bisa mengenalinya !"

"Dengan bukti apa kau mengatakan pedang itu adalah milikmu


?"

Lo In jadi kebingungan sebab ia memang tidak perhatikan


betul tanda-tanda yang ada pada pedang pendek Liok Sin-she
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sampai hilang digondol Siauw Cu Leng.

Melihat Lo In termangu-mangu, Kim Wan Thauto berkata,


"Tanpa bisa mengunjuk bukti, mana aku mau mengembalikan
padamu, anak kecil !"

"Tidak, aku mesti dapat kembali." sahutnya tegas.

"Dengan apa kau bisa dapat kembali barangmu ?"

"Dengan kepandaianku !"

Kim Wan Thauto gelak-gelak ketawa. "Anak kecil, dengan


kepandaianmu tersebut tadi dalam rumah makan, hendak kau
merampas pedangku ? Hm ! Jangan harap !'

"Betul kau tidak mau mengembalikannya dengan baik ?"

Diam-diam Kim Wan Thauto waspada menghadapi bocah


hitam ini karena Lo In bukan bocah sembarangan. Bila melihat
lwekang (tenaga dalam) yang dipertunjuki tadi di dalam rumah
makan.

Tadinya ia mau mengeloyor diam-diam, tidak tahunya Lo In


matanya lihai lantas mengenali kalau Kim Wan Thauto di
bebokongnya membawa pedang Liok Sinshe. Lama memang
Lo In memikirkan pedang itu. Ia percaya pedang pendek itu
diambil Siauw Cu Leng ketika ia sedang pingsan di bokong
oleh Ang Hoa Lobo.

Di samping mencari Eng Lian, juga ia saban-saban pasang


mata pada siapa yang dijumpainya, kalau-kalau ia mendapat
lihat ada orang yang membawa pedangnya itu.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan cara kebetulan matanya yang lihai dapat melihat


barang itu ada di punggungnya Kim Wan Thauto yang tengah
berjalan keluar dari rumah makan. Seketika itu ia enjot
tubuhnya melesat, menyusul si Thauto.

Maksud Lo In tidak mau mencari urusan, asal pedang sudah


dikembalikan, urusan sudah selesai. Ia tidak kira bahwa yang
diajak urusan adalah Kim Wan Thauto, bukannya jago
sembarangan yang dapat digertak dengan permainannya tadi.

Melihat si bocah bertindak maju, Kim Wan Thauto sudah siap


sedia.

"Thauto kesasar, kau lihat tuan kecilmu ambil pedang !"


berbareng ia menyerang pendeta rambut panjang. Kim Wan
Thauto memang sudah siap, ia mendorong dengan tangannya,
menggunakan lwekang 5 bagian. Tampak Lo In terpental
jumpalitan. Tapi hanya sekejap saja, si bocah sudah ada lagi
di hadapannya hingga ia mau ketawa terbahak-bahak tidak
jadi.

Sekali lagi Lo In menerjang, kali ini Kim Wan Thauto mengibas


dengan bajunya, menggunakan lwekan tujuh bagian.

Tampak si bocah berputar tubuhnya kemudian berjumpalitan


hingga Kim Wan Thauto tidak tahan untuk tidak tertawa
terbaha-bahak. Kepalanya sampai mendongak ke atas saking
enaknya ketawa.

Sekonyong-konyong ia rasakan ada angin berkesiur disisinya.


Ketika ia sadar kena diakali si bocah, tapi sudah terlambat
sebab Lo In sambil ketawa nyengir tampak sedang acungkan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pedang pendek yang barusan masih menyelip di


bebokongnya.

"Terima kasih atas kebaikan hatimu untuk mengembalikan


pedangku." kata si bocah dengna gayanya yang lucu.

Kim Wan Thauto cepat meraba punggungnya, memang


pedang sudah tidak ada ditempatnya. Bukan main gusarnya,
pikirnya, masa anak kecil ini begitu hebat kepandaiannya ?
Sebagai jago kawakan, ia tidak rela dipermainkan anak kecil.
Maka seketika itu ia membentak, "Bocah hitam, kalau kau
tidak kembalikan pedang itu, jangan sesalkan Hudyamu
(Budhamu) berlaku kasar terhadap anak kecil !"

"Untuk dapat pulang, mudah saja. Asal kau unjuk kepandaian


!" sahut Lo In, lalu putar tubuhnya dan lari kepada Bwee
Hiang.

Kim Wan Thauto marah bukan main, lantas kepalanya


digelengkan. Sekaligus dua anting-antingnya melesat dari
kedua telinganya, saling susul menyambar ke arah jalan darah
Lo In di pundak dan tengkuk.

"Adik kecil, awas !" teriak Bwee Hiang melihat senjata rahasia
anting-anting Kim Wan Thauto sudah mendekati sasarannya.
Si gadis sampai memeramkan matanya karena ngeri adik
kecilnya akan roboh dihajar anting-antingnya si Thauto yang
gede.

Di saat ia memeramkan matanya, berbareng ia dengar suara


'tring ! tring !' dua kali. Ketika ia membuka matanya lagi, ia lihat
adik kecilnya tengah tersenyum-senyum ke arah Kim Wan
Thauto yang berdiri terpaku di tempatnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lo In sangat lihai, tidak semudah yang dikira Kim Wan Thauto


si bocah akan kena dibokong meskipun senjata rahasia
anting-anting emas Kim Wan Thauto belum pernah luput
mengarah sasarannya.

Ketika Bwee Hiang berteriak, Lo In sudah membalik tubuhnya.


Dengan pedang Liok Sinshe, ia hajar dua anting-anting Kim
Wan Thauto hingga keduanya jatuh ditanah, setelah
mengeluarkan suara 'tring ! tring!' dua kali.

Kalau Bwee Hiang merasa bersyukur adik kecilnya selamat,


adalah Kim Wan Thauto di lain pihak merah padam mukanya,
saking gusar rupanya.

"Masih ada lagi ?" Lo In ngeledek Kim Wan Thauto.

"Bocah hitam, kau jangan bangga dulu !" sahut Kim Wan
Thauto seraya merogoh sakunya, kemudian ia mengayunkan
tangannya. Lima anting-anting emas menyambar berbareng
laksana kilat cepatnya, mengarah sasaran atas, tengah,
bawah dan di kanan kiri. Disinilah adanya keistimewaan Kim
Wan Thauto melepas senjata rahasianya sebab lawan yang
diserang dari lima jurusan sangatlah sukar untuk meluputkan
dirinya sehingga tanpa ada salah satu dari lima senjata
rahasia itu yang mengenakan sasarannya.

Lo In mengerti serangan lawan sangat berbahaya, ia


keluarkan ilmu saktinya 'Bu im sin kang', badannya berputar
bagaikan asap bergulung naik ke atas hingga Kim Wan Thauto
terkejut menyaksikan keanehan itu. Tidak lama, ia melihat Lo
In sudah berdiri ketawa ke arahnya. Ia berkata, "Taysu, terima
kasih atas pemberian anting-anting emasmu !" Lo In berkata
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

seraya dari tangan bajunya ia keluarkan lima anting-anting


emas Kim Wan Thauto yang barusan dilontarkan kepada si
bocah.

Kim Wan Thauto berdiri melongo....

Sebagai orang Kangouw kawakan, Kim Wan Thauto tahu akan


itu peribahasa, "Ksatria harus tahu pada saat maju dan pada
waktu mundur", pepatah tersebut adalah suatu nasehat yang
baik. Mengingat ini, Kim Wan Thauto jadi menghela napas.

-- 21 --

Tidak sampai menunggu Lo In membuka mulut lagi, ia sudah


menghampiri si bocah di depannya. Ia angkat tangannya
bersoja, katanya, "Siao-hiap, kau menang ! Kau adalah orang
pertama yang membuka mataku bahwa orang pandai masih
ada yang lebih pandai. Aku mengira tadinya tidak sukar aku
menemukan tandingan, tidak tahunya, menghadapi kau Siao-
hiap aku tidak berkutik. Hahaha... !"

Berbareng dengan menutup kata-katanya, Kim Wan Thauto


telah jatuhkan diri berlutut sehingga Lo In repot dan
menyingkir ke samping, serta katanya, "Taysu, kau jangan
bikin diriku lekas tua dengan caramu begini."

Kemudian ia tepuk-tepuk pundak orang perlahan tapi diam-


diam ia gunakan lwekangnya untuk bikin si Thauto bangun
dari berlututnya. Kim Wan Thauto tahu Lo In tengah
mengerahkan tenaganya, ia juga kerahkan tenaga dalamnya
untuk bertahan. Tapi akhirnya ia mesti mengakui keunggulan
Lo In dalam tenaga dalam. Maka ia pun tidak berani mencoba-
coba terus. Segera ia bangkir dari berlututnya dan berkata,
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Siaohiap, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu. Aku


harap kau akan menerima baik !"

"Dalam urusan apa itu, Taysu ?" tanya si bocah.

"Caramu yang luar biasa memusnahkan serangan dari tujuh


anting-anting emasku, membuat aku sangat kagum ! Aku
sudah lepas kata, barang siapa yang bisa meluputkan diri dari
serangan senjata rahasiaku ialah yang berupa tujuh anting-
anting emas, orang itu akan aku angkat menjadi guruku. Aku
sangka bahwa guru itu pastilah orang yang lebih tua dariku,
tidak tahunya malahan sebaliknya adalah seorang anak kecil.
Siaohiap, kau jangan menolak kalau sekarang aku harus
memenuhi sumpahku...."

Berbareng Kim Wan Thauto kembali hendak tekuk lututnya,


tapi Lo In keburu mencegah. Ia berkata, "Taysu, kau adalah
jago kelas wahid dalam Kangouw, sukar menemukan
tandingan. Untuk perkara kecil saja masa harus berlaku begini
merendah terhadap aku si bocah. Kalau Taysu punya senjata
rahasia yang lihat dapat aku punahkan, ituhanya dengan cara
kebetulan saja, lantaran Taysu tidak sungguh-sungguh
melepasnya dan menaruh kasihan kepada aku masih anak
kecil."

"Tidak, tidak. Memang aku menyerah kalah padamu." sahut


Kim Wan Thauto.

Si pendeta yang memelihara rambut panjang adalah satu


pendeta yang jujur dan belum pernah menarik kembali apa
yang ia sudah katakana, maka ia merasa tidak enak kalau ia
tarik kembali kata-kata yang ia sudah keluarkan dari bibirnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Maka, ia sudah mendesak supaya Lo In suka terima ia


menjadi muridnya, ia berjanji akan setia kepada si bocah.
Sebaliknya, Lo In terus menolak.

Melihat mereka tarik urat, yang satu ingin diterima jadi murid
dan yang lain menolak, dengan tiada ada keputusan sama
sekali, Bwee Hiang lalu campur tangan. Dengan air muka
berseri-seri ia datang menghampiri, kepada Kim Wan Thauto
si gadis memberi hormat serta berkata, "Kalau kalian tidak
keberatan, bagaimana kalau aku majukan diri sebagai orang
perantara untuk memutuskan urusan kalian ?"

"Bagus, bagus !" kata Kim Wan Thauto mendahului Lo In yang


hendak membuka mulutnya berbicara hingga si bocah muka
hitam urung berkata dan anggukkan kepalanya saja seperti
tanda bahwa ia pun mufakat dengan turun tangannya Bwee
Hiang.

Lo In percaya kecerdikan sang enci. Dengan keputusannya


Bwee Hiang pasti akan disetujui oleh mereka kedua pihak.

"Dari pembicaraan Taysu," Bwee Hiang mulai. "Aku memuji


Taysu adalah seorang yang jujur, tidak ingin memungkiri janji.
Tapi mendengar alasan adik In juga benar, masa ia harus
punya murid Taysu, lebih pantas bila adik In menjadi muridnya
Taysu. Ini baru pantas....."

"Tapi Liehiap...." memotong Kim Wan Thauto, terputus, karena


si nona goyang-goyang tangannya.

"Aku belum habis bicara, harap Taysu jangan memotong


dulu." kata Bwee Hiang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jadi dua-duanya ada punya alasan kuat." berkata si nona


meneruskan. "Sekarang begini saja. Taysu mengagumi adik
In, sedagn adik In juga sangat menghargai Taysu. Bagaimana
kalau angkat saudara saja.....?"

"Bagus, bagus !" Lo In tiba-tiba memotong bicaranya si gadis.


Saking kegirangan, setuju dengan enci Hiangnya, Lo In
sampai bertepuk tangan.

Sebaliknya Kim Wan Thauto kerutkan keningnya. Agaknya


mereka kurang menyetujui putusan Bwee Hiang sebab
menyeleweng kepada sumpahnya. Si gadis yang cerdik sudah
lantas dapat menyelami pikiran si Thauto yagn kurang setuju.
Maka ia lantas berkata pula, "Seorang murid setia, selalu akan
bikin gurunya senang. Maka, apa salahnya kalau Taysu
menerima keputusan yang disenangi adik In agar adik In
hatinya merasa senang. Apa ini bukan sama saja Taysu
sebagai seorang murid telah membuat senang pada gurunya ?
Aku kira dengan keputusan kalian angkat saudara, tidak
menyimpang dari maksud Taysu yang sebenarnya."

Mendengar si gadis demikian fasih ucapan katanya dan teguh


alasannya, Kim Wan Thauto angguk-anggukkan kepalanya
dan kemudia ia tertawa ke arah Bwee Hiang hingga si gadis
kegirangan melihat usahanya akan berhasil.

"Liehiap, kau sungguh pandai membuka pikiran orang yang


bodoh." memuji Kim Wan Thauto. "Aku senang, kalau kau juga
termasuk dalam upacara angkat saudara. Harap kau jangan
menolak !"

Bwe Hiang kaget. Ia tidak mengira si Thauto akan bawa-bawa


juga dirinya. Tapi ia tidak keberatan untuk angkat saudara
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan Kim Wan Thauto yang ia lihat pendeta itu benar


mukanya bengis tapi orangnya jujur dan termasuk salah satu
ksatria di kalangan jago-jago silat budiman. Malah dengan
mempunyai saudara angkat macam Kim Wan Thauto,
untuknya ada satu keuntungan, tenaganya dapat dipakai
membantu dalam usahanya menuntut balas kepada Sucoan
Sam-sat.

Memikir demikian, maka wajah Bwee Hiang berseri-seri. Ia


berkata, "Terima kasih Taysu. Sungguh tidak kukira kau
sangat menghargakan aku yang rendah."

Kim Wan Thauto kegirangan bahwa si nona tidak menolak.


Demikian selanjutnya tiga orang itu telah angkat saudara
dalam upacara sederhana disaksikan oleh Lima Harimau dan
anak-anak muridnya mereka yang jumlahnya bukan sedikit.

Kim Wan Thauto dipanggil 'Toako' oleh Bwee Hiang dan Lo In


sedang pada dua anak tersebut, atas permintaan mereka, Kim
Wan Thauto memanggil anak Hiang dan anak In, yang
sederhana saja. Si Thauto rambut panjang senang juga dapat
memanggil 'anak' pada si gadis dan si bocah, karena mereka
itu memang pantas menjadi anaknya Kim Wan Thauto.

Lima macan dari Suyangtin sangat menghormati tiga orang


tamu itu, terutama kepada Lo In yang mereka anggap adalah
'Bocah Sakti' yang tidak ada duanya. Kepandaiannya sukar
diukur. Mereka merasakan penglihatannya seolah-olah kabut
ketika menyaksikan tubuh Lo In tiba-tiba berputar-putar dan
seperti asap bergulung-gulung, tahu-tahu setelah si bocah
tersenyum ke arah Kim Wan Thauto dari lengan bajunya
mengeluarkan lima senjata rahasia anting-anting emas dari si
pendeta yang dilontarkan dengan tenaga lwekang yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dahsyatnya bukan main.

Mereka berlomba mengundang Lo In dan dua saudaranya


untuk menginap di rumahnya. Tapi Bwee Hiang tidak mau
membuat berabe mereka maka dengan manis budi undangan
itu ditolak hingga tidak punya alasan lagi mereka untuk
mendesak terus. Meskipun demikian, mereka mengundang
untuk mampir bertemu ke rumah masing-masing selama Lo In
dan dua saudaranya ada di Suyangtin. Hal ini tidak ditampik
oleh Bwee Hiang dan dua saudaranya, demi untuk
menyenangkan pada hati mereka.

Atas pilihan Bwee Hiang, tiga saudara itu mondok di hotel Hok
An, suatu rumah penginapan yang sangat bersih dalam dusun
Suyangtin.

Dalam omong-omong, sebelumnya masuk tidur, Kim Wan


Thauto berkata pada Bwee Hiang, "Anak Hiang, aku masih
belum bisa lupakan wajahmu pada tiga tahun yang lalu."

Bwee Hiang heran. Ia lantas menanya, "Bagaimana toako bisa


kenali wajahku ? Apa memang toako sudah kenal sebelum kita
angkat saudara ? Aku sendiri lupa. Harap toako tidak kecil hati
kalau adikmu pelupa."

"Anak Hiang, aku kenal tanpa berkenalan tapi kukenali


wajahmu di atas loteng pertama dari rumahmu.''

Bwee Hiang terkejut. Sepasang matanya yang jernih halus


memandang pada Kim Wan Thauto tidak berkedip. Kata-kata
si toako betul-betul mengagetkan hatinya karena katanya
mengenali wajahnya adalah dari jendela kamar di atas loteng
pertama.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Toako, kau jangan bikin aku bertanya-tanya. Lekas ceritakan


apa yang sudah terjadi pada saat itu." berkata Bwee Hiang
kemudian.

Melihat adik angkatnya tidak sabaran seperti cacing kena abu,


maka Kim Wan Thauto lantas bercerita bagaimana ia telah
melakukan penyelidikan dalam rumah Liu Wangwee untuk
mendapat keterangan tentang kedatangannya Sucoan Sam-
sat. Ia mendengar tentang percakapan Bwee Hiang dengan
ayahnya dalam kamar kemudian ia bertekad akan membantu
Liu Wangwee akan tetapi kenyataannya bahwa bantuannya
tidak diperlukan dengan turun tangannya si kerudung merah.
Dituturkan dengan jelas pada Bwee Hiang, hingga si nona
yang tidak memotong pembicaraan orang, mendengarkan
semua itu tanpa terasa telah mengucurkan air mata.

"Anak Hiang." kata Kim Wan Thauto, kaget ia melihat adik


angkatnya menangis. "Kau kenapa menangis ? Apa
penuturanku melukai hatimu karena aku tidak turun tangan
membantu keluargamu ? Kepandaian si kerudung merah
sudah lebih dari cukup. Untuk apa aku membikin berabe dia
dengan memunculkan diri pada saat itu ?"

Bwee Hiang geleng-geleng kepala, seraya menyusut air


matanya yang berlinang-linang.

"Toako, bukan begitu duduknya." berkata si nona, masih


sesenggukan.

Lo In pun jadi kaget, enci Hiangnya tiba-tiba menangis.

"Enci Hiang, kau kenapa ? Barusan toako cerita, tiba-tiba saja


TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kau menangis." Lo In menanya sang enci yang sedang sedih


saja.

Bwee Hiang tidak menjawab Lo In, hanya berkata pula kepada


Kim Wan Thauto.

"Toako, bukan begitu duduknya. Sebetulnya aku sangat


berterima kasih atas perhatianmu hendak menolong
keluargaku. Yang aku sedihkan adalah cerita toako itu
membuat aku terkenang pada ayahku almarhum."

"Hah ? Ayahmu sudah meninggal dunia ? Sakit apa ?" tanya


Kim Wan Thauto otomatis.

"Toako, kau tidak tahu." sahut Bwee Hiang, tersenyum sedih.


"Ayahku bukannya mati karena sakit tapi dibunuh oleh Sucoan
Sam-sat. Ah, toako....."

Bwee Hiang putus bicaranya karena ia tidak tahan dengan


kesedihannya, ia menangis lagi. Agak keras sekarang hingga
Kim Wan Thauto dan Lo In kebingungan kalau-kalau tangisan
itu dapat mengganggu penghuni kamar lainnya sehingga bisa
membikin orang-orang pada keluar untuk menanyakan ada
urusan apa sampai menangis begitu sedih.

Kim Wan Thauto dan Lo In bergiliran menghibur Bwee Hiang.

Si gadis cepat terhibur rupanya sebab kemudian ia hentikan


tangisnya lalu menceritakan pada Kim Wan Thauto tentang
keganasannya Sucoan Sam-sat yang membunuh seisi
rumahnya termasuk Kian-san Ji-lo, setelah pada sebelumnya
mereka kena dihajar oleh Lo In. Mereka telah mengganas juga
dalam markas cabang Ceng Gee Pang sehingga banyak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

meminta korban jiwa.

Kim Wan Thauto sangat gusar mendengar laporan Bwee


Hiang.

"Aku dapat kabar tentang kebuasannya Sucoan Sam-sat, akan


tetapi tidak mengira sampai begitu kejam dan menganggap
jiwa manusia seperti jiwa kecoak !" kata Kim Wan Thauto,
seraya giginya kedengaran berkeretak, menahan amarahnya.

"Toako," kata Bwee Hiang. "Kita sudah angkat saudara. Maka


dalam halnya Sucoan Sam-sat, aku mengharap sekali bantuan
toako dalam usahaku menuntut balas."

"Anak Hiang, meskipun kita belum angkat saudara, aku juga


akan membantu kau sebisa-bisanya untuk membasmi orang-
orang jahat itu !" jawab Kim Wan Thauto tegas.

Diam-diam Bwee Hiang merasa sangat berterima kasih atas


janji Kim Wan Thauto.

"Sayang anak In pada waktu itu tidak membinasakan saja


kawanan jahat itu." Kim Wan Thauto menyatakan sangat
menyesalkan.

"Adik In masih terlalu kecil, belum sampai berpikiran ke situ.


Apalagi memang dia berhati lemah untuk bertindak kejam !"
kata Bwee Hiang sambil melirik pada Lo In yang tidak campur
dalam percakapan mereka berdua.

Lo In hanya nyengir ketawa melihat Bwee Hiang melirik


kepadanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ya, memang anak In masih kecil." sahut Kim Wan Thauto


ketawa. "Sebagai jago kecil berkelana dalam dunia Kangouw,
nanti dia akan bertambah pengalaman dan mempunyai
pandangan terhadap orang-orang yang jahat dan licik. Maka
itu anak In, kau harus waspada menjaga diri."

"Terima kasih atas nasihat toako." kata Lo In, tertawa nyengir.

"Tapi, anak In." Kim Wan Thauto berkata lagi, matanya


memandang wajah Lo In yang hitam legam. "Aku lihat
wajahmu tidak semestinya hitam, cara bagaimana kau
memoles wajahmu jadi hitam begini ?"

"Panjang untuk diceritakan, toako." sahut Lo In. "Tapi


sekarang aku minta toako dulu bercerita bagaimana toako
dapatkan pedang pendekku itu ?"

"Sebenarnya aku mau minta adikku dulu bercerita, tapi tidak


apalah. Biar toakomu mengisahkan satu kejadian yang lucu."

Selanjutnya Kim Wan Thauto mengisahkan dari mana ia


dapatkan pedang pendek.

Pada suatu hari menjelang sore, hujan turun dengan lebat.


Kim Wan Thauto dalam perjalanan mengunjungi salah satu
sahabatnya, kebingungan tidak menemui rumah untuk
meneduh, untuk menyingkir dari serangan hujan lebat.
Dengan menggunakan ilmu jalan cepat, sekira dua lie maju ke
depan, tiba-tiba ia menemukan satu kuil rusak.

Ke dalam kuil itu ia masuk. Lumayan juga dapat menyingkir


dari serangan hujan lebat meski pun di sana sini tampak kuil
itu pada bocor gentengnya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya kuil itu sudah lama ditinggalkan penghuninya tapi


masih ada towie (taplak meja) rombeng yang panjang sampai
menutupi kolong meja, diatasnya terdapat sebuah tepekong
yang lagi duduk bersila. Pikirnya kalau ia masuk ke kolong
meja itu, baik juga. Sebab tidak kedinginan dari hembusan
angin yang masuk ke dalam rumah berhala itu yang hampir
tidak berpintu. Setelah berpikir ia lalu masuk ke kolong meja
tadi.

Benar saja di kolong itu ia merasa agak hangat juga.

Belum lama ia rebahan, tiba-tiba ia mendengar seperti ada


orang yang masuk ke dalam kuil itu. Ia lalu mengintip melalui
lubang dari towie yang rombeng.

Ia lihat yang datang itu adalah seorang laki-laki berperawakan


tinggi kurus, mukanya tidak enak dilihat saking jeleknya. Di
bebokongnya ia menggendong sebuah bungkusan besar.
Entah apa isinya buntelan besar itu.

Ketika si orang jelek tadi sudah berada di dalam, ia lalu


gubraki di atas lantai buntelan yang digendongnya lalu ia
gibrik-gibriki bajunya yang basah kuyup kehujanan.

"Kurang ajar, tadi terang benderang, eh, mendadak turun


hujan besar. Dasar anak sialan !" or