Anda di halaman 1dari 12

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa

FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

PERANGKINGAN BERDASARKAN JUMLAH DOMINASI PADA METODE ELECTRE II

Arif Junaidi, M. Isa Irawan, Imam Mukhlash. Program Program Pascasarjana Jurusan Matematika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Email: rifa_john@yahoo.co.id ABSTRAK
Metode ELECTRE II secara luas diakui dapat digunakan untuk menganalisis kebijakan yang melibatkan kriteria kualitatif dan kuantitatif. Prosedur perangkingan pada metode ELECTRE didahului dengan terbentuknya suatu graf berarah sebagai representasi dari hubungan outranking. Salah satu kelemahan prosedur perangkingan berdasarkan level adalah jika terdapat siklik pada graf yang terbentuk, proses perangkingan menjadi rumit. Dalam paper ini akan dilakukan perangkingan berdasarkan jumlah dominasi dengan memanfaatkan matriks transitive closure yang terbentuk dari representasi hubungan outranking dalam bentuk matriks ketetanggaan. Metode entropi digunakan untuk menentukan koefisien bobot tiap kriteria. Salah satu aplikasinya, digunakan untuk menentukan prioritas pembangunan kembali jembatan yang rusak akibat bencana banjir di Kabupaten Trenggalek. Analisis sensitifitas dilakukan dengan mengubah beberapa nilai threshold corcondance dan discordance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkingan berdasarkan jumlah dominasi dapat diaplikasikan pada permasalahan penentuan prioritas pembangunan kembali jembatan yang rusak akibat bencana banjir walaupun terdapat siklik pada graf yang terbentuk dan perubahan nilai threshold corcondance dan discordance memberikan hasil perangkingan yang berbeda. Kata kunci: Metode ELECTRE II, Metode Entropi, Prioritas, Transitive Closure.

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

I.

PENDAHULUAN Metode ELECTRE sebagai salah satu metode MADM secara luas diakui mempunyai

performa yang baik untuk menganalisis kebijakan yang melibatkan kriteria kualitatif dan kuantitatif. Metode ELECTRE telah berkembang melalui sejumlah versi (I, II, III, IV, 1S). Semua versi didasarkan pada konsep dasar yang sama namun secara operasional berbeda (Huang dan Chen, 2005). Metode ELECTRE I didesain untuk pemilihan sedangkan ELECTRE II digunakan untuk perangkingan. Kedua versi ini menggunakan tipe kriteria yang sederhana, dalam arti nilai thresholdnya sama untuk semua kriteria sedangkan versi yang lain menggunakan pseudo criteria yang nilai thresholdnya tidak sama untuk semua kriteria. Prosedur perangkingan pada metode ELECTRE II didahului dengan terbentuknya suatu graf berarah sebagai representasi dari hubungan outranking, kemudian dilakukan perangkingan berdasarkan graf tersebut dengan prosedur tertentu. Salah satu perangkingan yang banyak digunakan peneliti berdasarkan prosedur umum diantaranya terdapat dalam paper Ahn, dkk. (2005), serta Anand dan Nagesh (1996). Namun prosedur ini memiliki yaitu jika terdapat siklik pada graf yang terbentuk, proses perangkingan menjadi lebih rumit (Ciptomulyono dan Triyanti, 2008). Dalam paper ini akan dilakukan perangkingan dengan memanfaatkan hubungan dominasi. Gagasan sederhana dalam perangkingan ini yaitu: berapa banyak suatu alternatif mendominasi atau didominasi alternatif yang lain. Untuk mengetahui berapa banyak suatu alternatif mendominasi atau didominasi alternatif yang lain akan digunakan matriks transitive closure yang terbentuk dari representasi hubungan outranking dalam bentuk matrik ketetanggaan. Pada metode ELECTRE II, untuk membuat hubungan outranking dari tiap pasang alternatif diperlukan koefisien bobot untuk tiap kriteria. Namun ketika terdapat beberapa pengambil keputusan, pembobotan kriteria mungkin menjadi lebih sulit, karena preferensi tiap pengambil keputusan terhadap suatu kriteria mungkin berbeda-beda. Oleh karena itu, dalam paper ini akan digunakan metode entropi untuk pembobotan kriteria. Berdasar uraian di atas, akan dilakukan kajian prosedur perangkingan berdasarkan jumlah dominasi pada metode ELECTRE II dengan pembobotan kriteria menggunakan metode entropi digunakan untuk menentukan prioritas pembangunan kembali jembatan yang rusak akibat bencana banjir di kabupaten Trenggalek.

II. METODOLOGI
1. Studi Literatur

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengerjaan penelitan ini adalah: Tahap ini merupakan tahapan persiapan yang meliputi pengumpulan informasi dan teori

penunjang yang berkenaan dengan permasalahan yang akan diteliti. Sumber informasi dan teori penunjang yang akan digunakan dapat berupa buku teks, artikel dan jurnal yang berasal dari
2

media elektronik maupun nonelektronik yang berkaitan dengan metode entropi, MADM, ELECTRE, ELECTRE II, matriks adjecency, transitif klosur, dan algoritma Warshall. 2. Studi Lapangan

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

Tahap studi lapangan dilakukan untuk mendapatkan informasi berupa data jumlah jembatan yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir serta informasi lain yang berkaitan dengan masalah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lokasi penelitian yang berasal dari persepsi/pemahaman responden/stakeholder yang memiliki kompetensi dan terkait dalam perencanaan infrastruktur jembatan di wilayah penelitian melalui wawancara maupun diskusi. Metode pemilihan responden dengan teknik purposive random sampling/sample random bertujuan dengan pertimbangan bahwa responden adalah pelaku baik individu atau lembaga yang dianggap mengerti permasalahan yang terjadi dan mempunyai kemampuan dalam pembuatan kebijakan atau memberi masukan kepada para pengambil kebijakan. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh dari Dinas atau Instansi terkait berupa dokumen dan lain-lain. 3. Menentukan bobot untuk setiap kriteria Setelah mendapatkan kriteria-kriteria yang digunakan untuk menentukan prioritas penanganan kerusakan jembatan akibat bencana banjir selanjutnya akan dihitung bobot setiap kriteria berdasarkan preferensi tingkat kepentingan menggunakan metode entropi. Dalam penelitian ini metode penilaian adalah menggunakan angka bulat 1 sampai dengan 5. Tiap angka menunjukkan tingkat kepentingan/rating kecocokan tertentu, mulai dari angka 1 sangat rendah, 2 rendah, 3 cukup, 4 tinggi dan 5 sangat tinggi. 4. Mengaplikasikan metode ELECTRE II untuk perangkingan. Dalam penelitian ini akan dilakukan dua prosedur perangkingan yaitu berdasarkan jumlah dominasi. 5. Analisis Setelah dilakukan perangkingan akan dilakukan analisis permasalahan-permasalahan yang muncul kemudian dilakukan pembahasan selanjutnya ditentukan prioritas pembangunan kembali jembatan berdasarkan perangkingan dengan metode ELECTRE II.

III. PEMBAHASAN
Dasar Teori Metode Entropi Metode pembobotan entropi merupakan metode pengambilan keputusan yang memberikan sekelompok kriteria, dan menaksir preferensi suatu bobot menurut penilaian pihak pengambil keputusan (Ciptomulyono dan Triyanti, 2008).

Adapun langkah-langkah pembobotan dengan menggunakan metode entropi adalah sebagai berikut: 1. Semua pengambil keputusan harus memberikan nilai yang menunjukkan kepentingan suatu kriteria tertentu terhadap pengambilan keputusan. Tiap pengambil keputusan boleh menilai sesuai preferensinya masing-masing.

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

2. Kurangkan tiap angka tersebut dengan nilai paling ideal, hasil pengurangan tersebut dinyatakan dengan kij. 3. Bagi tiap nilai (kij) dengan jumlah total nilai dalam semua kriteria
a ij k ij
m n

untuk m>1
k ij

(3.1)

i 1 j 1

dimana

m = jumlah pengambil keputusan n = jumlah kriteria

4. Menghitung nilai entropy untuk tiap kriteria dengan rumus berikut :


Ej 1 ln m
i

a ij ln a ij

(3.2)

5. Menghitung dispersi tiap kriteria dengan rumus berikut :


Dj 1 E
j

(3.3)

6. Karena diasumsikan total bobot adalah 1, maka untuk mendapatkan bobot tiap kriteria, nilai dispersi harus dinormalisasikan dahulu, sehingga :
Wj Dj Dj

(3.4)

Salah satu kelebihan dari pendekatan entropi adalah kemampuannya dalam mengakomodasi nilai bobot yang berasal dari beberapa pembuat keputusan. Metode ELECTRE II Metode ELECTRE adalah salah satu metode analisis multi-kriteria keputusan yang berasal dari Eropa pada pertengahan tahun 1960-an. ELECTRE singkatan: Eliminasi Et Choix Traduisant la Realite. Metode ini menjadi lebih dikenal luas ketika paper B. Roy muncul di sebuah jurnal riset operasi Prancis. Ada dua bagian utama pada aplikasi ELECTRE: pertama, membangun satu atau hubungan beberapa outranking, yang bertujuan untuk membandingkan secara komprehensif setiap pasangan tindakan. Kedua, prosedur eksploitasi yang menguraikan rekomendasi yang diperoleh pada tahap pertama. Sifat rekomendasi tergantung pada masalah yang sedang ditangani: pemilihan, perangkingan atau penyortiran. Langkah-langkah untuk menerapkan metode ELECTRE II secara sederhana diuraikan sebagai berikut : Langkah 1: Mendapatkan nilai ternormalisasi untuk semua kriteria.
4

Metode ELECTRE II dimulai dengan membentuk matrik keputusan untuk setiap alternatif di setiap kriteria x ij . Kemudian dinormalisasi kedalam suatu skala yang dapat diperbandingkan
r ij . Secara umum metode ELECTRE II menggunakan persamaan normalisasi sebagai berikut :

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

rij

x ij
m

dengan i
2

1, 2 , , m dan j

1, 2 , , n

(3.5)

x ij
i 1

persamaan di atas tidak dapat digunakan jika terdapat kriteria biaya pada penilaian alternatif kecuali jika kriteria biaya telah di ubah kedalam bentuk skala preferensi/tingkat kepentingan sehingga semua kriteria menjadi kriteria keuntungan. Persamaan normalisasi yang memperhatikan kriteria biaya dan kriteria keuntungan salah satunya sebagai berikut:
x ij max x ij
i

jika j adalah atribut keuntungan

( benefit )

rij min x ij
i

(3.6)
x ij jika j adalah atribut biaya ( cost )

Langkah 2 : menentukan matriks keputusan yang ternormalisasi terbobot menggunakan rumus:

v ij

rij

(3.7)

dengan w j adalah bobot kepentingan dari kriteria ke-j. Langkah 3 : Mengembangkan matriks concordance dan discordance. Untuk membuat hubungan outranking pengambil keputusan terlebih dahulu menghitung indeks concordance dan discordance yang kemudian dibandingkan dengan threshold yang ditentukan. Agar lebih mudah untuk membandingkan indeks tersebut, maka dapat disajikan dalam bentuk matrik concordance dan discordance. Indeks concordance dihitung menggunakan rumus:

c j, k
g i Aj

Wi ,
g i Aj

j, k

1, 2 , , n .

(3.8)

dan indeks discordance menggunakan rumus:

0 d j, k max gi A k

jika g i A j gi A j gi A j

gi A k

g i Ak

g i Aj

i 1 , , m

max

gi A k

yang lain , j, k

1, 2 , , n j

(3.9)

dengan g i Aj adalah evaluasi/nilai alternatif j pada krieria i.

Langkah 4 : Menetapkan tiga penurunan level dari nilai threshold corcondance, P*, Po, P- (0 P- Po P* 1) dan 0 < qo < q*< 1 menyatakan dua penurunan level dari nilai threshold discordance. Setelah menetapkan nilai threshold corcondance dan disconcordance, pengambil keputusan dapat membuat hubungan outranking. Hubungan outranking kuat didefinisikan dengan rumus:
c j, k p
*

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

d j, k

dan

(3.10)

atau
c j, k p
o

d j, k

dan

(3.11)

Sedang hubungan outranking lemah didefinisikan sebagai berikut:


c j, k p d j, k q
*

dan

(3.12)

Langkah 5 : Mengembangkan sebuah graf yang mewakili hubungan dominasi di antara alternatif. Dalam graf ini, jika alternatif Aj dominan terhadap alternatif Ak, maka ada busur yang diarahkan dari Aj ke Ak. Dari hubungan outranking tersebut dapat dibangun dua buah graf yaitu graf kuat untuk hubungan outranking yang kuat dan graf lemah untuk hubungan outranking yang lemah. Graf kuat selalu merupakan sub-graf dari graf lemah, namun perbedaan kinerja antara yang kuat dan lemah dilakukan untuk mendapatkan peringkat dari alternatif dengan sebuah prosedur iteratif. Langkah 6 : Menentukan peringkat alternatif (Ahn, B.S., dkk. (2005), dan Anand, R.P. dan Nagesh K.D. (1996)). Transitive Closure Bila X adalah suatu himpunan berhingga dan R adalah relasi pada X. Relasi
R R R R . pada X, disebut transitive closure R pada X (Heri S, 2008).
1 2 3

Sebagai ilustrasi untuk menentukan

Transitive Closure dapat dilihat contoh berikut:

Misalkan ada relasi R = {(1, 3), (1, 4), (2, 1), (3, 2)} pada himpunan X = {1, 2, 3, 4}. Relasi R pada data X yang dinyatakan dalam matriks ketetanggaan dan proses pembentukan Transitive Closure untuk relasi R dapat diuraikan sebagai berikut:

0 R 1 0 0 1 R 3 0 0 0

0 0 1 0 0 1 0 0

1 0 0 0 0 0 1 0

1 0 0 0 0 0 1 0 R 4 R 2

0 0 1 0 0 1 0 0

1 0 0 0 0 0 1 0

0 1 0 0 1 0 0 0

0 1 0 0 1 0 0 0

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

1 R* RR 2 R 3 R 4 1 1 0

1 1 1 0

1 1 1 0

1 1 1 0

Transitive closure merupakan suatu matriks yang berisi informasi tentang keberadaan lintasan antar vertex dalam sebuah graf berarah. Ada beberapa metode/cara untuk menentukan transitive closure yaitu metode grafik, metode matriks seperti contoh di atas dan algoritma Warshall (Rosen, 1994). Pembahasan Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan pihak-pihak pengambil keputusan dalam menentukan prioritas pembangunan kembali/rehabilitasi jembatan yang rusak akibat bencana banjir di Kabupaten Trenggalek serta pengambilan data diperoleh pembobotan kriteria dan nilai alternatif pada setiap kriteria disajikan dalam Tabel 3.1 dan Tabel 3.2: Tabel. 3.1 Hasil Pembobotan Kriteria oleh Pengambil Keputusan P1 P2 Biaya (C1) 3 3 Partisipasi Masyarakat (C1) 4 3 Jenis Jembatan (C1) 4 4 Tingkat Kerusakan (C1) 3 4 Manfaat Ekonomi (C1) 2 2 Manfaat Sosial (C1) 2 2 Keterangan Pi : Pengambil Keputusan ke-i Tabel 3.2. Daftar Penilain Alternatif untuk Setiap Kriteria Nama Jembatan/Alternatif C1 C2 C3 C4 A1 400 12 2 5 A2 200 15 1 4 A3 60 25 1 3 A4 300 10 1 5 A5 240 15 1 5 A6 65 20 2 3 A7 350 10 2 4 A8 200 15 2 4 A9 140 20 1 3 A10 150 10 1 3 A11 100 15 1 4 A12 100 15 1 3 A13 70 20 2 3 A14 150 10 2 4 A15 50 25 1 2 A16 30 30 1 2 A17 250 8 1 4 Kriteria P3 3 4 4 3 2 2 P4 3 4 4 4 2 2 P5 2 3 4 4 2 2

C5 17 7 8 13 15 19 19 20 14 5 7 7 12 14 7 6 7

C6 15 6 8 12 15 19 16 20 16 7 13 10 12 14 6 8 11

Dengan menggunakan langkah-langkah pembobotan pada metode entropi dan data pada Tabel 3.1. diperoleh hasil pembobotan setiap kriteria sebagai berikut: Kriteria Dana 0.1584, Partisipasi Masyarakat 0.1855, Jenis Jembatan 0.1997, Ekonomi 0.1355 dan Manfaat Sosial 0.1355. Penentuan nilai threshold sebenarnya tergantung pada kebijakan pengambil keputusan namun dalam penelitian ini akan ditentukan sebagai berikut: nilai threshold terendah dari indeks corcondance diambil dari nilai rata-rata corcondance kemudian nilai yang didapat berturut-turut ditambah 0,1 sedangkan threshold discordance terendah diambil dari rata-rata discordance dikurangi 0,1 sehingga didapat nilai threshold masing-masing: p- = 0.5959 , po = 0.6959, p* = 0.7959 dan discordance qo = 0.6208, q* = 0.7208. Dengan menggunakan threshold di atas dan data pada Tabel 3.2 dengan pembobotan yang diperoleh dari perhitungan dengan metode entropi diperoleh matriks hubungan outranking disajikan pada tabel 3.3. Tabel 3.3 Matriks Hubungan Outranking A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A1 0 1 0 3 1 0 0 A2 0 0 0 0 0 0 0 A3 0 3 0 0 0 0 0 A4 0 0 0 0 0 0 0 A5 0 3 0 3 0 0 0 A6 0 3 1 0 0 0 1 A7 0 1 0 1 0 0 0 A8 0 3 1 3 3 0 3 A9 0 3 0 0 0 0 0 A10 0 0 0 0 0 0 0 A11 0 3 0 0 0 0 0 A12 0 0 0 0 0 0 0 A13 0 3 1 0 0 0 0 A14 0 3 0 3 0 0 0 A15 0 0 0 0 0 0 0 A16 0 1 0 0 0 0 0 A17 0 0 0 0 0 0 0 Ket: 0 : Tidak ada hubungan 2 : Hubungan Outranking kuat A8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 A9 0 0 0 0 0 3 1 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 1 : 3 : A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17 3 1 1 0 3 0 0 3 2 0 1 0 0 0 0 0 3 1 3 0 0 3 0 1 3 0 1 0 0 0 0 3 3 3 3 0 0 1 0 3 3 3 3 3 3 1 0 3 3 1 1 0 3 0 0 3 3 3 3 0 3 1 0 3 3 0 3 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 0 0 0 3 1 3 0 0 1 0 3 3 1 1 0 0 0 0 3 1 0 1 0 0 0 0 1 3 0 0 0 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 Hubungan Outranking lemah Hubungan Outranking kuat Tingkat Kerusakan 0.1855, Manfaat

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

Hubungan outranking yang terjadi pada metode ELECTRE II bersifat kardinal artinya A1 lebih disukai dari pada A2 namun tidak diketahui berapa besar A1 lebih disukai dari pada A2. Oleh karena itu, performa hubungan outranking kuat dan outranking lemah tidak dibedakan atau dianggap sama. Selanjutnya hubungan outranking tersebut dapat dinyatakan dalam matriks ketetanggaan disajikan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Matriks Ketetanggaan A1 A2 A3 A4 A5 A1 0 1 0 1 1 A2 0 0 0 0 0 A3 0 1 0 0 0 A4 0 0 0 0 0 A5 0 1 0 1 0 A6 0 1 1 0 0 A7 0 1 0 1 0 A8 0 1 1 1 1 A9 0 1 0 0 0 A10 0 0 0 0 0 A11 0 1 0 0 0 A12 0 0 0 0 0 A13 0 1 1 0 0 A14 0 1 0 1 0 A15 0 0 0 0 0 A16 0 1 0 0 0 A17 0 0 0 0 0

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

A6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

A7 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0

A8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

A9 A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0

Tabel 3.5 merupakan matriks transitive closure yang terbentuk dari matriks ketetanggaan dengan menggunakan algoritma Warshall : Tabel 3.5 Matriks Transitive Closure A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 1 A2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A3 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 A4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A5 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 A6 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 A7 0 1 0 1 0 0 0 0 1 1 1 A8 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 A9 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 A11 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A12 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A13 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 A14 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 A15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A16 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 A17 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 JML 0 11 3 6 2 0 2 0 4 16 8 Jumlah kolom pada matriks transitive closure di atas A12 A13 A14 1 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 14 1 4 menunjukkan A15 A16 A17 JML 1 0 1 9 0 0 0 2 1 0 1 6 0 0 1 3 1 0 1 7 1 0 1 12 0 0 1 8 1 0 1 12 0 0 1 4 0 0 0 0 0 0 1 4 0 0 0 1 1 0 1 8 0 0 1 6 0 0 1 3 1 0 1 5 0 0 0 1 7 0 13 banyaknya sisi/busur

yang berasal dari alternatif (titik) tersebut (outdegree) sedangkan jumlah baris menunjukkan banyaknya sisi yang menuju alternatif tersebut (indegree) termasuk jika terdapat alternatif yang mempunyai sisi yang berasal dari dirinya sendiri (terdapat siklik). Terjadinya hubungan outranking siklik dapat diketahui dari matriks transitive closure yang terbentuk yaitu apabila ditemukan 1 pada Aij dengan i=j. Dengan menghilangkan hubungan pada Aij dengan i=j, jumlah kolom dan jumlah baris pada matriks transitive closure menunjukkan
9

banyaknya suatu alternatif yang mendahului/mendominasi atau didahului/didominasi selain langsung digunakan untuk menentukan jumlah dominasi antar alternatif.

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

alternatif itu sendiri. Karena pada matriks transitive closure di atas tidak ada siklik maka dapat Gagasan sederhana yang akan dijadikan dasar pada prosedur perangkingan yaitu semakin sedikit suatu alternatif didahului/didominasi alternatif yang lain maka alternatif tersebut menempati peringkat lebih tinggi sedangkan semakin banyak suatu alternatif mendahului/mendominasi alternatif yang lain maka alternatif tersebut menempati peringkat lebih tinggi. Perangkingan akhir yaitu dengan mencari rata-rata tertinggi untuk menempati peringkat pertama dan seterusnya. Tabel 3.6 Perangkingan Berdasarkan Indegree, Outdegree dan Perangkingan Akhir No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Perangkingan Perangkingan Perangkingan Rata-rata Berdasarkan Indegree Berdasarkan Outdegree Akhir 1 2 1,5 2 A1 9 9 9 11 A2 4 5 4,5 6 A3 6 8 7 9 A4 3 4 3,5 5 A5 1 1 1 1 A6 3 3 3 4 A7 1 1 1 1 A8 5 7 6 8 A9 12 11 11,5 14 A10 8 7 7,5 10 A11 11 10 10,5 13 A12 2 3 2,5 3 A13 5 5 5 7 A14 7 8 7,5 10 A15 1 6 3,5 5 A16 10 10 10 12 A17 Dari hasil perangkingan tersebut, selanjutnya ditentukan prioritas yaitu rangking pertama Alternatif Berdasarkan hasil penelitian dengan prosedur perangkingan berdasarkan jumlah dominasi dan nilai threshold concordance masing-masing p- = 0.5959 , po = 0.6959, p* = 0.7959 dan discordance qo = 0.6208, q* = 0.7208, diperoleh prioritas pertama yaitu A6 dan A8 sedangkan prioritas kedua A1, ketiga A13, keempat A7, kelima A5 dan A16, keenam A3, ketujuh A14, kedelapan A9, kesembilan A4, kesepuluh A11 dan A15, kesebelas A2 keduabelas A17, ketigabelas A12 dan prioritas terakhir yaitu A10. Dari hasil perangkingan tersebut terdapat dua alternatif yang berada pada prioritas pertama, namun jika pengambil keputusan hanya ingin mengambil satu alternatif maka hasil perangkingan ini belum bisa dijadikan sebagai alternatif prioritas yang sesuai dengan kebijakan pengambil keputusan.

menempati prioritas pertama dan seterusnya.

10

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

Analisis Sensitivitas. Analisis sensitivitas dilakukan dengan merubah beberapa nilai threshold concordance dan discordance. Selanjutnya dan hasil perangkingan disajikan pada tabel 3.7. Tabel 3.7 Hasil Perangkingan Untuk Beberapa Nilai Threshold Concordance dan Discordance NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 p,p ,p qo, q* A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17
0 *

0.6, 0.7, 0.8 0.6, 0.7 2 12 6 9 5 1 4 1 8 15 10 14 3 7 11 5 13

Rangking 0.6, 0.7, 0.8 0.7, 0.8 2 10 6 8 5 1 3 1 7 12 9 11 4 6 9 5 11

0.7, 0.8, 0.9 0.6, 0.7 2 10 4 9 3 1 3 1 6 12 7 11 4 7 8 5 11

0.7, 0.8, 0.9 0.7, 0.8 3 9 4 9 5 1 4 2 6 12 7 10 5 7 8 6 11

Dari hasil perangkingan pada Tabel 3.10, pengambil keputusan dapat memilih hasil perangkingan dengan nilai threshold concordance masing-masing p- = 0.7, po = 0.8, p* = 0.9 dan discordance qo = 0.7, q* = 0.8 jika pada prioritas pertama hanya satu alternatif yang hendak dipilih. Secara umum, untuk beberapa nilai threshold concordance yang diberikan, A6 dan A8 menempati prioritas pertama dan A10 selalu menempati prioritas terakhir. Sedangkan hasil perangkingan dengan nilai threshold concordance masing-masing p- = 0.6, po = 0.7, p* = 0.8 dan discordance qo = 0.6, q* = 0.7 memberikan jumlah perangkingan yang paling banyak.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Perangkingan berdasarkan jumlah dominasi dapat diaplikasikan pada permasalahan penentuan prioritas pembangunan kembali hembatan yang rusak akibat bencana banjir walaupun terdapat siklik pada graf yang terbentuk.

11

2. Berdasarkan analisis sensitifitas, perubahan nilai threshold concordance dan discordance memberikan hasil perangkingan yang berbeda. Saran. Dengan memperhatikan uraian pada pembahasan, kesimpulan dan kesulitan-kesulitan pada saat penelitian maka disarankan: 1. 2. 3. Untuk memperoleh prioritas yang lebih akurat disarankan data-data yang digunakan diperoleh berdasarkan alat evaluasi yang lebih baik dan kriteria yang lebih banyak. Melakukan analisis sensitivitas untuk nilai threshold concordance dan discordance yang lain. Membandingkan atau menggabungkan dengan prosedur perangkingan yang lain.

Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Peran Matematika dan Pembelajarannya dalam meningkatkan Daya Saing Bangsa FKIP Universitas Negeri Jember, 23 Juli 2011

DAFTAR PUSTAKA [1] Ahn, B.S., Choi, D.H., Kim, S.H. (2005), Prioritization of Association Rules In Data Mining: Multiple Criteria Decision Approach, Expert Systems With Application, 29: hal 867-878. [2] [3] Anand, R.P. dan Nagesh K.D. (1996), Ranking of River Basin Alternatives Using ELECTRE, Journal des Sciences Hydrologiques: hal 697-713. Chen, C.H. dan Huang, W.C. (2005), Using The ELECTRE II Method to Apply and Analyze The Differentiation Theory, Proceding of The Eastern Asia Society for Transportation Studies, Vol. 5, hal. 2237-2249. Ciptomulyono, U dan Triyanti, V (2008), Metode MCDM-ELECTRE III Untuk Analisis Penetapan Segmen Pemasaran Usaha Jasa Barang Melalui Telpon Untuk Sebuah Supermarket di Kota Surabaya, Jurnal Eksekutif, Volume 5 Nomor 1. Harjoko, A, Hartanti, S, Kusumadewi, S, Wardoyo, R (2006). Fuzzy Multi-Attribute Decesion Making. Graha Ilmu, Yogyakarta. Heri, S. (2008). Teori Bahasa dan Otomata, Lecture Handout, Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Rosen, Kenneth H (1994), Discrete Mathematics and Its Applications, Third Edition, McGraw-Hill, Inc.

[4]

[5] [6] [7]

12