Anda di halaman 1dari 17

KARIES GIGI

Klasifikasi dan bahan-bahan eksternal

Kerusakan gigi berupa lubang yang disebabkan karies Karies gigi adalah sebuah penyakit gigi yang merusak struktur gigi. Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian. Peningkatan prevalensi karies banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan. Etiologi karies gigi Mula-mula, lokasi terjadinya karies dapat tampak seperti daerah berkapur (white point) namun berkembang menjad lubang coklat. Walaupun karies mungkin dapat saja dilihat dengan mata telanjang, kadang-kadang diperlukan bantuan radiografi untuk mengamati daerah-daerah pada gigi dan menetapkan seberapa jauh penyakit itu merusak gigi. Ada empat hal utama yang berpengaruh pada karies : permukaan gigi, bakteri kariogenik (penyebab karies), karbohidrat yang difermentasikan, dan waktu

1. Permukaan Gigi (Host) Anatomi gigi (bentuk dan ukuran) juga berpengaruh pada pembentukan karies. Celah atau alur yang tidak rata dalam pada gigi dapat menjadi lokasi perkembangan karies. Karies juga sering terjadi pada tempat yang sering terselip sisa makanan. Bagian yang paling sering terserang karies adalah bagiian pit dan fissure pada permukaan oklusal dan premolar Ada penyakit dan gangguan tertentu pada gigi yang dapat mempertinggi faktor risiko terkena karies Amelogenesis imperfekta yang timbul pada 1 dari 718 hingga 14.000 orang, ada penyakit di mana enamel tidak terbentuk sempurna. Dentinogenesis imperfekta adalah ketidak sempurnaan pembentukan dentin. Pada kebanyakan kasus, gangguan ini bukanlah penyebab utama dari karies. 2. Bakteri

Preparat Streptococcus mutans.

Mulut merupakan tempat berkembanganya banyak bakteri, namun hanya sedikit bakteri penyebab karies, yaitu Streptococcus mutans dan Lactobacili di antaranya. Khusus untuk karies akar bakteri yang sering ditemukan adalah Lactobacilus acidophilus, Actinomycetes viscosus, Nocardia spp. Dan Streptococcus mutans. Contoh bakteri dapat diambil pada plak. Lubang gigi disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk surosa, fruktosa dan glukosa. Asam yang diproduksi tersebut mepengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH rendah. Sebuah gigi akan mengalami demineralisasi dan remineralisasi. Ketika pH turun menjadi di bawah 5,5, proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi. 3. Karbohidrat yang dapat difermentasikan Bakteri pada mulut seseorang akan mengubah glukosa, fruktosa, dan sukrosa menjadi asam laktat melalui sebuah proses glikolisis yang disebut fermentasi. Bila asam ini mengenai gigi dapat menyebabkan demineralisasi. Proses sebaliknya, remineralisasi dapat terjadi bila pH telah dinetralkan. Mineral yang diperlukan gigi tersedia pada air liur dan pasta gigi berflorida dan cairan pencuci mulut. Karies lanjut dapat ditahan pada tingkat ini. Bila demineralisasi terus berlanjut, maka akan terjadi proses pelubangan. 4. Waktu Tingkat frekuensi gigi terkena dengan lingkungan yang kariogenik dapat memengaruhi perkembangan karies. Setelah seseorang mengonsumsi makanan mengandung gula, maka bakteri pada mulut dapat memetabolisme gula menjadi asam dan menurunkan pH. PH dapat menjadi normal karena dinetralkan oleh air liur dan proses sebelumnya telah melarutkan mineral gigi. Demineralisasi dapat terjadi setelah 2 jam. Faktor lainnya Selain empat faktor di atas, terdapat faktor lain yang dapat meningkatkan karies.

Air liur dapat menjadi penyeimbangan lingkungan asam pada mulut. Terdapat keadaan dimana air liur mengalami gangguan produksi, seperti pada sindrom sjogren, diabetes mellitus, diabetes insipidus, dan sarkoidosis

Karies yang merajalela karena penggunaan metamfetamin. Obat-obatan seperti antihistamin dan antidepresan dapat memengaruhi produksi air liur. Terapi radiasi pada kepala dan leher dapat merusak sel pada kelenjar liur Penggunaan tembakau juga dapat mempertinggi risiko karies. Tembakau adalah faktor yang signifikan pada penyakit periodontitis, seperti dapat menyusutkan gusi. Dengan gusi yang menyusut, maka permukaan gigi akan terbuka. Sementum pada akar gigi akan lebih mudah mengalami demineralisasi. Karies kanak-kanak/karies botol susu adalah pola lubang yang ditemukan di anak-anak pada gigi sus. Gigi yang sering terkena adalah gigi depan di rahang atas, namun kesemua giginya dapat terkena juga. Sebutan "karies botol susu" karena karies ini sering muncul pada anak-anak yang tidur dengan cairan yang manis (misalnya susu) dengan botolnya. Sering pula disebabkan oleh seringnya pemberian makan pada anak-anak dengan cairan manis. Ada juga karies yang merajalela atau karies yang menjalar ke semua gigi. Tipe karies ini sering ditemukan pada pasien dengan xerostomia, kebersihan mulut yang buruk, pengonsumsi gula yang tinggi, dan penggunaan metamfetamin karena obat ini membuat mulut kering. Bila karies yang parah ini merupakan hasil karena radiasi kepala dan leher, ini mungkin sebuah karies yang dipengaruhi radiasi.

Klasifikasi

Bentuk-bentuk karies, didalam buku Rasinta Tarigan (1993) : 1. Berdasarkan stadium karies ( dalamnya karies gigi ) terbagi menjadi 3 yaitu: - Karies Superficialis Dimana karies baru mengenai email saja, sedang dentin belum terkena. - Karies Media Dimana karies sudah mengenai dentin, tetapi belum melebihi setengah dentin. - Karies Profunda Dimana karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang-kadang sudah mengenai pulpa. Karies profunda ini dibagi lagi atas : - Karies profunda stadium I : Karies telah melewati setengah dentin, biasanya radang pulpa belum dijumpai.

- Karies profunda stadium II : Masih dijumpai lapisan tipis yang membatasi karies dengan pulpa. terjadi radang pulpa. - Karies profunda stadium III : Pulpa telah terbuka. Dijumpai bermacam-macam radang pulpa. 2. Berdasarkan banyaknya permukaan gigi yang terkena karies, yaitu : - karies ringan : jika serangan kariesnya hanya pada gigi yang paling rentan seperti pit dan fisure sedangkan kedalaman kariesnya hanya menganai email - karies sedang : serangan karies yang meliputi permukaan oklusal dan aproksimal gigi posterior , kedalaman karies mencapain dentin - karies berat : jika meliputi gigi anterior dan kedalaman kariesnya sudah mencapai pulpa 3. Berdasarkan lokalisasinya menurut G.V.Black, yaitu : a. Klas I Karies yang terdapat pada bagian oklusal ( pits dan fissure ) dari gigi premolar dan molar ( gigi posterior ). Dapat juga terdapat pada gigi anterior di foramen caecum. b. Klas II Karies yang terdapat pada bagian approximal dari gigi molar atau premolar, yang umumya meluas sampai kebagian oklusal. c. Klas III Karies yang tedapat pada bagian apprioximal dari gigi depan, ( tetapi belum mencapai 1/3 incisal gigi ) . d. Klas IV Biasanya disini telah

Karies yang terdapat pada bagian approximal dari gigi depan dan sudah mencapai margo incisal ( telah mencapai 1/3 incisal gigi ) e. Klas V Karies yang terdapat pada bagian 1/3 leher dari gigi gigi depan maupun gigi belakang pada permukaan labial, lingual, palatal, ataupun bukal dari gigi Faktor lain yang mempengaruhi pembentukan karies terjadinya karies merupakan multi faktor yang terdiri dari faktor luar dan dalam, dari faktor luar antara lain faktor dari usia, suku bangsa kultur sosial penduduk dan kesadaran, sikap dan perilaku, individu terhadap kesehatan gigi. 1. Usia Sejalan dengan pertambahan usia seseorang, jumlah karies pun semakin bertambah. Hal ini jelas, karena faktor resiko terjadinya karies akan lebih lama berpengaruh terhadap gigi. 2. Suku bangsa keadaan sosial ekonomi, pendidikan, makanan, cara pencegahan karies dan jangkauan pelayanan kesehatan gigi yang berbeda di setiap suku. 3. Kultur sosial penduduk Faktor yang mempengaruhi perbedaan ini ialah pendidikan, dan penghasilan yang berhubungan dengan diet, kebiasaan merawat gigi dan lain-lain. Perilaku sosial dan kebiasaan akan menyebabkan perbedaan jumlah karies. 4. Kesadaran, sikap dan perilaku terhadap kesehatan gigi Anak yang dipisahkan dari ibunya dan dititipkan di institusi ( Panti Asuhan ) akan mengalami kehampaan psikis. Biasanya anak kurang mendapatkan perawatan sehingga pertumbuhan pisik dan mental anak agak terlambat terutama intelegensia dan emosi. 5.Faktor jenis kelamin

Bahwa karies pada perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini disebabkan antara lain erupsi gigi perempuan lebih lama dalam mulut. Akibatnya gigi anak perempuan akan lebih lama berhubungan dengan faktor resiko terjadinya karies.

PEMERIKSAAN Pemeriksaan klinis merupakan tahapan yang penting dalam prosedur perawatan gigi.Dengan dilakukannya pemeriksaan klinis, dapat diketahui bentuk-bentuk yang tidak normal maupun kerusakan yang terjadi pada jaringan keras gigi, jaringan lunak, serta jaringan pendukung pada mulut seperti muskulus ataupun TMJ. Pemeriksaan klinis dapat dibagimenjadi 2 bagian, yaitu: 1. Pemeriksaan ekstra oral. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan TMJ, sinus ekstraoral, pembengkakan pada wajah,kelenjar limfe, dan tampilan umum wajah pasien 2. Pemeriksaan intra oral. Pemeriksaan ini dibagi lagi menjadi 2 tahapan, yaitu : pemeriksaan jaringan keras dan jaringan lunak.Pemeriksaan jaringan keras gigi Gigi yang akan dilakukan perawatan harus diperiksa

apakah terdapat karies, restorasi, diskolorisasi, pemeriksaan mahkota, fraktur, atrisi, abrasi,dan erosi. Pemeriksaan pada jaringan keras pada umumnya dilakukandengan bantuan sonde atau explorer, oleh karena itu biasa disebut dengan sondasi. Dengan bantuan sonde, kita dapat mengetahui adanya margin atau celah tepi pada restorasi,kedalaman karies, serta kedalaman pit dan fissure gigi. Pemeriksaan jaringan lunak gigi (jaringan periodontal) Mukosa oral dan gingiva

diperiksa, apakah terdapat diskolorisasi, inflamasi, ataupun pembentukan sinus. Selain dua pemeriksaan di atas, terdapat pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yangakan membantu dalam menentukan diagnosis dan tindakan.

Gejala Karies ditandai dengan adanya lubang pada jaringan keras gigi, dapat berwarna coklat atau hitam. Gigi berlubang biasanya tidak terasa sakit sampai lubang tersebut bertambah besar dan mengenai persyarafan dari gigi tersebut. Pada karies yang cukup dalam, biasanya keluhan yang sering dirasakan pasien adalah rasa ngilu bila gigi terkena rangsang panas, dingin, atau manis. Bila dibiarkan, karies akan bertambah besar dan dapat mencapai kamar pulpa, yaitu rongga dalam gigi yang berisi jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila sudah mencapai kamar pulpa, akan terjadi proses peradangan yang menyebabkan rasa sakit yang berdenyut. Lama kelamaan, infeksi bakteri dapat menyebabkan kematian jaringan dalam kamar pulpa dan infeksi dapat menjalar ke jaringan tulang penyangga gigi, sehingga dapat terjadi abses Pencegahan 1. Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur. 2. Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi. 3. Hindari makanan yang terlalu manis dan lengket, juga kurangi minum minuman yang manis seperti soda. 4. Lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali. 5. Perhatikan diet pada ibu hamil dan pastikan kelengkapan asupan nutrisi, karena pembentukan benih gigi dimulai pada awal trimester kedua. 6. Penggunaan fluoride baik secara lokal maupun sistemik.

Penatalaksanaan Biasanya perawatan yang diberikan adalah pembersihan jaringan gigi yang terkena karies dan penambalan (restorasi). Bahan tambal yang digunakan dapat bermacam-macam, misalnya resin

komposit (penambalan dengan sinar dan bahannya sewarna gigi), glass ionomer cement, kompomer, atau amalgam (sudah mulai jarang digunakan). Pada lubang gigi yang besar dibutuhkan restorasi yang lebih kuat, biasanya digunakan inlay atau onlay, bahkan mungkin mahkota tiruan. Pada karies yang sudah mengenai jaringan pulpa, perlu dilakukan perawatan saluran syaraf. Bila kerusakan sudah terlalu luas dan gigi tidak dapat diperbaiki lagi, maka harus dilakukan pencabutan.

PULPITIS adalah suatu radang yang terjadi pada jaringan pulpa gigi dengan gambaran klinik
yang akut. Merupakan penyakit lanjut karena didahului oleh terjadinya karies, hyperemia pulpa baru setelah itu menjadi Pulpitis, yaitu ketika radang sudah mengenai kavum pulpa. Pulpitis ada 2 macam antara lain : 1. Pulpitis Reversible : nyeri saat ada rangsangan 2. Pulpitis Ireversible : nyeri spontan
ETIOLOGI : Penyebab Pulpitis yang paling sering ditemukan adalah kerusakan email dan dentin,

penyebab kedua adalah cedera.


GEJALA :

- Sondasi (+) - Perkusi (-) - Reaksi dingin, manis dan asam (+) - Pembesaran kelenjar (-) - Rasa sakit tidak terus menerus, terutama pada malam hari - Rasa sakit tersebar dan tidak bias dilokalisasi. - Rasa sakit berdenyut khas, yaitu rasa sakit yang tajam dan dapat menjalar ke kepala dan telinga kadang ke punggung.

DIAGNOSA : ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan klinis. Dalam hal ini dapat

dilakukan beberapa pengujian : - Diberikan rangsangan dingin, asam, manis Pasien terasa sakit sekali/sakit bertambah menusuk. Rangsangan dingin, asam dan manis (+) - Penguji Pulpa Elektrik pada pengujian dengan alat penguji elektrik, pasien merasa sangat nyeri, kadang belum tersentuh pun pasien terasa sangat nyeri - Perkusi Dengan Pangkal Sonde pada pulpitis perkusi (-), tapi pasien merasa nyeri/perkusi (+), disebabkan karena pada dasarnya pasien sudah merasa sakit pada giginya sehingga hanya paktor sugesti yang mendasarinya. Bila perkusi terasa nyeri/perkusi (+), maka peradangan telah menyebar ke jaringan dan tulang sekitarnya. - Roentgen Gigi pada pemeriksaan dengan roentgen maka didapatkan gambaran radiologist berupa gambaran radioluscent yang telah mencapai kavum pulpa. Pemeriksaan radiologist dilakukan untuk memperkuat diagnosa dan menunjukkan apakah peradangan telah menyebar ke jaringan dan tulang sekitarnya. Rencana Terapi a. Endodontics (perawatan saraf gigi) b. Ekstraksi gigi (Exodontia) : tindakan pembedahan yg melibatkan jaringan tulang dan jaingan lunak dari rongga mulut.

PULPITIS REVERSIBLE : Menurut arti katanya, pulpitis reversible adalah inflamasi pulpa
yang tidak parah. Jika penyebabnya telah dihilangkan, inflamasinya akan pulih kembali dan pulpa akan kembali normal. Pulpitis reversible dapat ditimbulkan oleh stimuli ringan atau yang

berjalan sebentar seperti karies insipien, erosi servikal atau atrisi oklusal, sebagian prosedur operatif, kuretasi periodontium yang dalam, dan fraktur enamel yang menyebabkan terbukanya dentin. Biasanya pulpitis reversible tidak menimbulkan gejala (asimtomatik), akan tetapi jika ada, gejala biasanya timbul dari suatu pola tertentu. Aplikasi cairan atau udara dingin/panas misalnya, bisa menimbulkan nyeri tajam sementara. Jika stimuli dihilangkan, yang secara normal tidak menimbulkan nyeri atau ketidaknyamanan, nyeri akan reda segera. Stimuli panas atau dingin menghasilkan respons nyeri yang berbeda-beda pada pulpa normal. Jika panas diaplikasikan pada gigi yang pulpanya tidak terinflamasi, akan timbul respon awal yang lambat; intensitas nyerinya akan makin naik jika suhunya dinaikkan. Sebaliknya, nyeri sebagai respons terhadap aplikasi dingin pada pulpa normal akan segera terjadi; intensitas nyeri cenderung menurun jika stimulus dinginnya dipertahankan tetap. Berdasarkan observasi-observasi ini, respons pulpa pada kedua keadaan, sehat atau sakit, tampaknya Pulpitis reversibel dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan inflamasi ringan hingga sedang terbatas pada daerah dimana tubuli dentin terlibat. Secara mikroskopis terlihat dentin reparatif, gangguan lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah dan adanya sel inflamasi kronis yang secara imunologis kompeten. Meskipun sel inflamasi kronis menonjol dapat dilihat juga sel inflamasi akut.
GEJALA PULPITIS REVERSIBLE : ada yang simtomatik dan asimtomatik.

- Simtomatik : seacara klinik ditandai dengan gejala sensitive dan rasa sakit tajam yang hanya sebentar, disebabkan oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut bila penyebabnya ditiadakan. Lebih sering diakibatkan oleh rangsangan dingin daripada panas. Ada keluhan rasa sakit bila kemasukan makanan, terutama makanan dan minuman dingin. - Asimtomatik : dapat disebabkan oleh karies yang baru mulai dan normal kembali setelah karies dihilangkan dan gigi direstorasi dengan baik.
CARA MENDIAGNOSA PULPITIS REVERSIBLE adalah:

- Anamnesa: ditemukan rasa sakit / nyeri sebentar bila ada rangsangan, dan hilang setelah rangsangan dihilangkan

- Gejala Subyektif: ditemukan lokasi nyeri lokal (setempat), rasa linu timbul bila ada rangsangan, durasi nyeri sebentar. - Gejala Obyektif: kariesnya tidak dalam (hanya mengenai enamel, kadang-kadang mencapai selapis tipis dentin), perkusi, tekanan tidak sakit. - Tes vitalitas: gigi masih vital.
PATOLOGI : pulpitis reversible dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan inflamasi ringan

sampai sedang terbatas pada daerah dimana tubuli dentin terlibat, seperti misalnya karies dentin. Secara mikroskopis, terlihat dentin reparatif, gangguan lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah, ekstravasasi cairan edema dan adanya sel inflamasi kronis yang secara imunologis kompeten. Meskipun sel inflamasi kronis menonjol, dapat dilihat juga sel inflamasi akut.
RENCANA PERAWATAN: Perawatan terbaik untuk pulpitis reversibel adalah pencegahan.

Perawatan periodik untuk mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas meluas, desensitisasi leher gigi dimana terdapat resesi gingiva, penggunaan pernis kavitas atau semen dasar sebelum penumpatan, dan perhatian pada preparasi kavitas dan pemolesan dianjurkan untuk mencegah pulpitis lebih lanjut. Bila dijumpai pulpitis reversibel, penghilangan stimulasi (jejas) biasanya sudah cukup, begitu gejala telah reda, gigi harus dites vitalitasnya untuk memastikan bahwa tidak terjadi nekrosis. Apabila rasa sakit tetap ada walaupun telah dilakukan perawatan yang tepat, maka inflamasi pulpa dianggap sebagai pulpitis irreversibel, yang perawatannya adalah eksterpasi, untuk kemudian dilakukan pulpektomi.
PROGNOSA : untuk pulpa adalah baik, bila iritasi diambil cukup dini, kalau tidak kondisinya

dapat berkembang menjadi pulpitis irreversibel.

PULPITIS IREVERSIBLE : suatu kondisi inflamasi pulpa yang persisten, dapat simtomatik
atau asimtomatik yang disebabkan oleh suatu stimulus/jejas, dimana pertahanan pulpa tidak dapat menanggulangi inflamasi yang terjadi dan pulpa tidak dapat kembali ke kondisi semula atau normal.

Pulpitis irreversibel akut menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan oleh stimulus panas atau dingin, atau rasa sakit yang timbul secara spontan. Rasa sakit bertahan untuk beberapa menit sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus/jejas termal dihilangkan. Pulpitis irreversibel kebanyakan disebabkan oleh kuman yang berasal dari karies, jadi sudah ada keterlibatan bakterial pulpa melalui karies, meskipun bisa juga disebabkan oleh faktor fisis, kimia, termal, dan mekanis. Pulpitis irreversibel bisa juga terjadi dimana merupakan kelanjutan dari pulpitis reversibel yang tidak dilakukan perawatan dengan baik
GEJALA : Pada awal pemeriksaan klinik pulpitis irreversibel ditandai dengan suatu paroksisme

(serangan hebat), rasa sakit dapat disebabkan oleh hal berikut: perubahan temperatur yang tibatiba, terutama dingin; bahan makanan manis ke dalam kavitas atau pengisapan yang dilakukan oleh lidah atau pipi; dan sikap berbaring yang menyebabkan bendungan pada pembuluh darah pulpa. Rasa sakit biasanya berlanjut jika penyebab telah dihilangkan, dan dapat datang dan pergi secara spontan, tanpa penyebab yang jelas. Rasa sakit seringkali dilukiskan oleh pasien sebagai menusuk, tajam atau menyentak-nyentak, dan umumnya adalah parah.
CARA MENDIAGNOSA PULPITIS IREVERSIBLE :

- Anamnesa: ditemukan rasa nyeri spontan yang berkepanjangan serta menyebar - Gejala Subyektif: nyeri tajam (panas, dingin), spontan (tanpa ada rangsangan sakit), nyeri lama sampai berjam-jam. - Gejala Obyektif: karies profunda, kadang-kadang profunda perforasi, perkusi dan tekan kadang-kadang ada keluhan. - Tes vitalitas: peka pada uji vitalitas dengan dingin, sehingga keadaan gigi dinyatakan vital.
PATOLOGI : disebabkan oleh suatu stimulus berbahaya yang berlangsung lama seperti karies.

Bila karies menembus dentin dapat menyebabkan respon inflamasi kronis. Venula pascakapiler menjadi padat dan mempengaruhi sirkulasi di dalam pulpa, serta dapat mengakibatkan nekrosis. Daerah nekrotik ini menarik leukosit PMN dengan kemotaktik dan memulai reaksi inflamasi akut. Terjadi fagositosis oleh PMN pada daerah nekrosis. Setelah itu PMN yang masa hidupnya

pendek, mati dan melepaskan enzim lisosomal. Enzim ini menyebabkan lisis beberapa stroma pulpa dan bersama debris seluler PMN yang mati membentuk eksudat purulen (nanah). Reaksi ini menghasilkan mikroabses (pulpitis akut). Pulpa memproteksi dengan membatasi daerah mikroabses dengan jaringan penghubung fibrus. Di pusat abses tidak dijumpai mikroorganisme karena aktivitas fagositik PMN. Bila proses karies berlanjut dan menembus pulpa akan terjadi ulserasi (pulpitis ulseratif kronis) yang cairannya keluar melalui pembukaan karies ke dalam kavitas mulut dan mengurangi tekanan intrapulpa dan rasa sakit. Secara histologis terlihat suatu daerah fibroblas yang berproliferasi membentuk dinding lesi, dimana mungkin terdapat massa mengapur. Daerah di luar abses atau ulserasi mungkin normal atau mungkin mengalami perubahan inflamatori. RENCANA PERAWATAN : terdiri dari pengambilan seluruh pulpa, atau pulpektomi, dan penumpatan suatu medikamen intrakanal sebagai desinfektan atau obtuden (meringankan rasa sakit) misalnya kresatin, eugenol, atau formokresol. Pada gigi posterior, dimana waktu merupakan suatu faktor, maka pengambilan pulpa koronal atau pulpektomi dan penempatan formokresol atau dressing yang serupa di atas pulpa radikuler harus dilakukan sebagai suatu prosedur darurat. Pengambilan secara bedah harus dipertimbangkan bila gigi tidak dapat direstorasi. PROGNOSA : adalah baik apabila pulpa diambil kemudian dilakukan terapi endodontik dan restorasi yang tepat

PULPITIS KRONIS HIPERPLASTIK

Pulpitis hiperplastik (polip pulpa) adalah bentuk pulpitis irreversible akibat bertumbuhnya pulpa muda yang terinflamasi secara kronik hingga ke permukaan oklusal. Bisanya ditemukan pada mahkota yang karies pada pasien muda. Pulpa polip biasanya diasosiasikan dengan kayanya pulpa muda akan pembuluh darah, memadainya tempat terbuka untuk drainase, dan adanya proliferasi jaringan. Pada pemeriksaan histology terlihat adanya epitel permukaan dan jaringan ikat di bawahnya yang terinflamasi. Sel-sel epitel oral tertanam dan bertumbuh menutupi permukaan dan membentuk tutup epitel. Polip pulpa biasanya asimtomatik dan terlihat sebagai benjolan jaringan ikat seperti kol yang berwarna kemerah-merahan mengisi kavitas karies di permukaan oklusal yang besar. Hal ini kadang-kadang diasosiasikan dengan tanda-tanda klinis pulpitis ireversibel seperti nyeri spontan serta nyeri yang menetap terhadap stimulus panas dan dingin . Ambang rangsang terhadap stimulus elektrik adalah sama dengan pulpa normal. Respon gigi terhadap palapasi atau perkusi normal. Perawatannya adalah pulpotomi, perawatan saluran akar atau ekstraksi.

KOMPLIKASI
PERIODONTITIS bisa meningkatkan risiko penyakit kronis sebagai berikut: - Penyakit jantung dan stroke Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara bakteri mulut dengan tersumbatnya arteri dan pembekuan darah yang dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Semakin parah penyakit gusinya, makin tinggi risikonya. - Kadar gula darah yang tak terkendali Penderita diabetes memang beresiko lebih besar terkena penyakit gusi maupun infeksi lain. Begitu juga sebaliknya, infeksi mulut juga membuat kadar gula darah sulit dikendalikan. - Pneumonia Jika Anda menderita penyakit gusi yang parah dan paru bermasalah, menghirup bakteri dari mulut ke paru dapat menyebabkan pneumonia atau radang paru. - Osteoporosis Para ahli menduga adanya hubungan antara penurunan densitas mineral tulang pada osteoporosis dengan peningkatan kerentanan terhadap bakteri mulut. Jika osteoporosis juga

menyebabkan tulang mulut kehilangan densitasnya, maka hal ini akan meningkatkan risiko terkena gusi dan gigi tanggal. - Komplikasi pada kehamilan Penelitian terkini menunjukkan bahwa perempuan yang menderita penyakit gusi selama kehamilan beresiko tinggi untuk melahirkan bayi prematur dan berat badan kurang. karena pulpa gigi tersebut. MALOKLUSI : kerusakan gigi, ketidaknyamanan selma penatalaksanaan, iritasi mulut dan gusi, kesulitan menelan dan brebicara selama penatalaksanaan GINGGIVITIS : di dalam plak gigi berkumpul bakteri akteri yg menghasilkan toksin atau racun yg akan mengiritasi gusi dan menyebabkan infeksi, saat tubuh mengeluarkan respon imun untuk melawan infeksi maka gusi akan mengalami peradangan semakin lama, plak dapat menyebar dan berkembang sampai dibawah garis gusi. Gusi akan dilepaskan dari gigi dan akan membentuk poket/kantong gusi, semakin lama semakin dalam sehingga merusak jaringan gusi, jaringan penyangga dan tulang alveolar PERIKORONITIS