Anda di halaman 1dari 47

31.

Benda Asing (Corpus Alienum) Pengertian Memberikan tindakan pertolongan akibat adanya benda padat atau binatang yang masuk kedalam telinga dan hidung Tujuan 1. Agar luka tidak terjadi infeksi lanjut 2. Mengembalikan fungsi indera Prosedur PERS APA! A"AT # Steril 1. $ak instrumen a. Spuit irigasi %& '' b. Pinset anatomis '. Pinset 'hirrugis d. Arteri klem 2. T(T set ). *assa dan depres dalam tromol +. (ands'hone , glo-es steril %. !eerbeken .bengkok/ 0. "ampu kepala 1. *om ke'il, sedang 2. Tetes telingga 3. 4airan pen'u'i luka dan disinfektan .4airan !S/ !on Streril 1. S'hort , go5n 2. Perlak 6 alas perlak , underpad ). (ands'hone , glo-es bersih

+. Sketsel , tirai %. !eerbeken , bengkok Penatalaksanaan 'orpus alienum pada telinga dan hidung 1. Pera5at memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga,pasien menandatangani nformed 'on'ern. 2. Pera5at menyiapkan alat dan didekatkan pada pasien ). Pera5at memeriksa lokasi 'orpus alienum ditelingga baik dengan langsung atau memakai lampu kepala +. Pera5at menetukan tindakan yang akan dilakukan berdasarkan letak dan jenis benda yang masuk ke telingga , hidung antara lain # a. $enda Padat $iji7bijian dan $enda kotak a/ Pera5at memakai alat sonde telingga , hidung .ukuran sonde sesuai dangan ukuran biji didalam/ b/ Pera5at memasukan sonde kedalam telinga , hidung dengan arah masuk melalui bagian luar biji7bijian tersebut. '/ Setelah sonde masuk kedalam telingga , hidung dan posisi sonde sudah lebih dalam dari pada posisi biji7bijian8 maka dilakukan pergerakan untuk mengeluarkan biji7bijian. d/ $ila biji7bijian belum keluar dilakukan pengulangan mulai dari a5al. b. $inatang 1/ "intah a/ Pera5at memasukan sonde kedalam telinga , hidung dengan arah masuk melalui bagian luar lintah tersebut. b/ Setelah sonde masuk kedalam telingga , hidung dan posisi sonde sudah lebih dalam dari pada posisi lintah8 maka dilakukan pergerakan untuk mengeluarkan lintah '/ Pera5at memakai alat sonde telingga , hidung .ukuran sonde sesuai dangan ukuran lintah didalam/ d/ $ila lintah belum keluar dilakukan pengulangan mulai a5al

32. Epistaksis Pengertian Pendarahan dari rongga hidung8 sebagian besar akan berhenti se'ara spontan atau memerlukan tindakan sederhana sepeti penekanan hidung. Meskipun demikian8 pada beberapa kasus harus dilakukan tindakan segera agar tidak berakibat fatal.

Menurut sumbernya8 terdapat 2 ma'am epistaksis# 1. Epitaksis anterior $erasal dari pleksus *iesselba'h atau arteri etmoidalis anterior. Terutama ditemui pada anak7 anak 8 biasanya ringan dan mudah diatasi. 2. Epistaksis posterior $erasal dari arteri sfenopalatina atau arteri etmoidalis posterior. Sering terdapat pada usia lanjut akibat hipertensi atau arteriosklerosis. $iasanya pendarahan hebat dan jarang berhenti spontan. Penatalaksanaan Mempunyai prinsip 1. menghentikan pendarahan 2. men'egah komplikasi ). men'egah berulang dengan men'ari penyebab

1. Tentukan asal pendarahan dengan memasang tampon yang dibasahi dengan adrenalin 1,1&&& dan pantokain 298 dibantu dengan alat penghisap. Sedapat mungkin penderita dalam posisi duduk. 2. $ila ternyata pendarahan dari anterior#

a. Pasang kembali tampon yang dibasahi adrenalin 1,1&&& dan pantokain 29 selama %7 1& menit8 dan ala nasi ditekan kea rah septum. b. Setelah tampon diangkat8 asal pendarahan di kaustik dengan larutan Ag!:) 1&7)&9 atau asam trikloroasetat 27 09 atau dengan elektrokauter. '. $ila masih berdarah8 pasang tampon anterior yang terdiri dari kapas atau kassa yang diberi boor;alf atau bismuth iodine paraffin paste .$ PP/. Tampon ini dipertahankan selama 172 hari .bila menggunakan boor;alf/ atau )7 + hari .bila menggunakan $ PP/. ). $ila ternyata pendarahan dari posterior# a. 'oba atasi dengan kaustik dan tampon anterior .lihat atas/ b. bila gagal8 pasang tampon posterior .$ello'g/8 'aranya# 7 tampon ini terdiri dari gulungan kassa yang mempunyai dua benang disatu ujung dan satu benang di ujung lain. 7 Masukkan kateter karet dari nares anterior ke dalam sampai tampak di orofaring dan ditarik keluar melalui mulut. 7 Pada ujung kateter diikatkan salah satu dari dua yang ada pada satu ujung dan kateter ditarik kembali melalui hidung. <engan 'ara yang sama benang yang lain dikeluarkan melalui hidung yang lain. 7 *emudian kedua benang yang telah keluar melalui hidung itu ditarik8 sedang telunjuk tangan yang lain membantu mendorong tampon kearah nasofaring8 sampai tempat menutup koana. 7 "alu kedua benang itu diikat pada tampon lain yang terletak dekat sekat rongga hidung. $enang dari ujung lain dikeluarkan melalui mulut dan diletakkan se'ara longgar di pipi8 benang ini berguna untuk menarik keluar tampon bila akan dilepas. 7 7 $ila perlu dapat dipasang tampon anterior Penderita harus dira5at dan tampon diangkat setelah 17 2 hari. $erikan antibioti'.

$ila pendarahan menetap 5alaupun telah dilakukan tindakan di atas8 pertimbangkan operasi ligasi arteri. '. =ntuk pendarahan anterior dilakukan ligasi arteri etmoidalis anterior dengan membuat sayatan dari bagian medial alis mata ke ba5ah kantus internus8 setelah jaringan dipisahkan akan tampak arteri etmoidalis anterior. d. =ntuk pendarahan posterior dilakukan ligasi arteri maksilaris interna dengan membuat sayatan dilipatan gingi-obukal seperti pada operasi 4ald5ell "u'8 setelah memasuki sinus diangkat sehingga tampak arteri maksilaris interna dan 'abang7 'abangnya di fosa pterigomaksilaris.

*omplikasi pendarahan 7 7 Anemi Syok

*omplikasi pemasangan tampon 7 7 7 Sinusitis8 otitis media8 septikami (emotimpanum "aserasi palatum mole

33. Influenza Penyakit flu adalah salah satu penyakit pernafasan yang disebabkan oleh -irus .-irus influen;a/. Penyebaran -irus penyakit flu biasanya melalui udara8 berbagai alat makan dan minum8 atau kontak langsung dengan penderita. >irus yang menempel di kulit dapat masuk ke dalam tubuh saat menyentuh atau menggaruk hidung dan mulut dan penyebarannya begitu mudah. ?ejala

<emam dan perasaan dingin yang ekstrem .menggigil8 gemetar/

$atuk (idung tersumbat !yeri tubuh8 terutama sendi dan tenggorok *elelahan !yeri kepala ritasi mata8 mata berair Mata merah8 kulit merah .terutama 5ajah/8 serta kemerahan pada mulut8 tenggorok8 dan hidung Ruam pete'hiae Pada anak8 gejala gastrointestinal seperti diare dan nyeri abdomen8 .dapat menjadi parah pada anak dengan influen;a $/

Penatalaksanaan 1. Simptomatik .sesuai dengan gejala yang mun'ul8 misal# parasetamol8 ekspektoran8 antihistamin8 dll/8 sebab antibiotik tidak efektif mengobati -irus. 2. $edrest ). Peningkatan intake 'airan jika tidak ada kontraindikasi +. >itamin 4 %. >aksinasi .untuk pen'egahan/ *omplikasi =ntuk anak7anak dan orang de5asa8 influen;a adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri dalam satu minggu. !amun untuk orang yang tidak sehat atau daya tahannya menurun8 influen;a bisa berakibat fatal. Tanda7tanda yang disebutkan di atas bisa menjadi sangat parah8 dan mungkin terjadi komplikasi seperti pneumonia8 sinusitis8 dan radang dalam telinga. *ebanyakan komplikasinya adalah infeksi kuman karena daya tahan tubuh menjadi menurun untuk mela5an kuman7kuman yang masuk. 34. Pertusis (Batuk Rejan/ Whooping Cough)

Pengertian Suatu penyakit pernapasan menular yang mengakibatkan batuk tak terkendali dan kesulitan dalam bernafas. Penyakit ini biasanya diakibatkan oleh bacterium Bordetella namun tidak jarang diakibatkan oleh Bardotella parapertussis. iagn!sis <iagnosis ditegakkan berdasarkan atas anamnesis8 pemeriksaan fisis8 dan pemeriksaan laboratorium. 7 Pada anamnesis penting ditanyakan adanya ri5ayat kontak dengan pasien pertusis8 adakah serangan khas yaitu paroksismal dan bunyi whoop yang jelas. Perlu pula ditanyakan mengenai ri5ayat imunisasi. ?ejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisis tergantung dari stadium saat pasien diperiksa. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis 2&.&&&7%&.&&&,@" dengan limfosistosis absolut khas pada akhir stadium kataral dan selama stadium paroksismal. Pada bayi jumlah lekositosis tidak menolong untuk diagnosis8 oleh karena respons limfositosis juga terjadi pada infeksi lain. solasi B. pertussis dari sekret nasofaring dipakai untuk membuat diagnosis pertusis pada media khusus $ordet7gengou. $iakan positif pada stadium kataral 3%71&&98 stadium paroksismal 3+9 pada minggu ke7)8 dan menurun sampai 2&9 untuk 5aktu berikutnya. <engan metode P4R yang lebih sensitif dibanding pemeriksaan kultur untuk mendeteksi B. pertussis8 terutama setelah )7+ minggu setelah batuk dan sudah diberikan pengobatan antibiotik. P4R saat ini merupakan pilihan yang paling tepat karena nilai sensiti-itas yang tinggi8 namun belum tersedia. Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk menentukan adanya infeksi pada indi-idu dengan biakan. 4ara E" SA dapat dipakai untuk menentukan gM8 g?8 dan gA serum terhadap A(A dan PT. !ilai gM serum A(A dan PT menggambarkan respons imun primer baik disebabkan oleh penyakit atau -aksinasi. g? toksin pertusis merupakan tes yang paling sensitif dan spesifik untuk mengetahui infeksi alami dan tidak tampak setelah imunisasi pertusis. Pemeriksaan lainnya yaitu foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler8 atelektasis8 atau empisema.

7 7

7 7 7

"!#plikasi Pertusis 1$%$ & 1$$1 (' ')( )*A

Persentase "!#plikasi .tanpa penggolongan usia/ Pneumonia *ejang Ensefalopati *ematian 129 29 &819 &829

Memerlukan ra5at inap +19

Pengel!laan 7 7 Pemberian antibiotik tidak memperpendek stadium paroksismal. Pemberian eritomisin8 klaritromisin8 atau a;itromisin telah menjadi pilihan pertama untuk pengobatan dan profilaksis. Eritromisin .+&7%& mg,kgbb,hari dibadi dalam + dosis peroral8 maksimum 2 gram per hari/ dapat mengeleminasi organisme dari nasofaring dalam )7+ hari. Eritromisin dapat mengeleminasi pertusis bila diberikan pada pasien dalam stadium kataral sehingga memperpendek periode penularan. Penelitian membuktikan bah5a golongan makrolid terbaru yaitu a;itromisin .1&712 mg,kgbb,hari8 sekali sehari selama % hari8 maksimal %&& mg,hari/ atau klaritromisin .1%72& mg,kgbb,hari dibagi dalam 2 dosis peroral8 maksimum 1 gram perhari selama 1 hari/ sama efektif dengan eritromisin8 namun memiliki efek samping lebih sedikit.

7 7

Terapi suportif terutama untuk menghindari faktor yang menimbulkan serangan batuk8 mengatur hidrasi dan nutrisi. :ksigen hendaknya diberikan pada distres pernapasan yang akut dan kronik.

Pen+ega,an 4ara terbaik untuk mengontrol penyakit ini adalah dengan imunisasi. Pen'egahan penyebarluasan penyakit dilakukan dengan 'ara# Is!lasi# men'egah kontak dengan indi-idu yang terinfeksi8 diutamakan bagi bayi dan anak usia muda8 sampai pasien setidaknya mendapatkan antibiotik sekurang7kurangnya % hari dari 1+ hari pemberian se'ara lengkap. Atau ) minggu setelah batuk paroksismal reda bilamana pasien tidak mendapatkan antibiotik. "arantina# kasus kontak erat terhadap kasus yang berusia B1 tahun8 tidak diimunisasi8 atau imunisasi tidak lengkap8 tidak boleh berada di tempat publik selama 1+ hari atau setidaknya mendapat antibioti' selama % hari dari 1+ hari pemberian se'ara lengkap. isinfeksi# direkomendasikan untuk melakukan pada alat atau ruangan yang terkontaminasi sekret pernapasan dari pasien pertusis PR-./-*I* Prognosis tergantung usia8 remaja memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang memiliki risiko kematian .&8%719/ akibat ensefalopati. 30. 1aringitis (Radang 2engg!r!kan)

Pengertian Aaringitis .pharyngitis/ Akut8 adalah suatu penyakit peradangan tenggorok .faring/ yang sifatnya akut .mendadak dan 'epat memberat/. =mum disebut radang tenggorok. Radang ini menyerang lapisan mukosa .selaput lendir/ dan submukosa faring. <isebut faringitis kronis bila radangnya sudah berlangsung dalam 5aktu lama dan biasanya tidak disertai gejala yang berat. Penyebab
7

Radang ini bisa disebabkan oleh -irus atau kuman.

$iasanya disebabkan oleh bakteri streptokokus grup A. !amun bakteri lain seperti N. gonorrhoeae, C. diphtheria, H. influenza juga dapat menyebabkan faringitis. Apabila disebabkan oleh infeksi -irus biasanya oleh Rhinovirus, Adenovirus, virus danCo!sac"ie virus. arainfluenza

Aaringitis juga bisa timbul akibat iritasi udara kering8 merokok8 alergi8 trauma tenggorok .misalnya akibat tindakan intubasi/8 penyakit refluks asam lambung8 jamur8 menelan ra'un8 tumor. Penularan Penularan dapat terjadi melalui udara .air borne disease/ maupun sentuhan. <roplet masuk melalui saluran napas atau mulut kemudian masuk ke lapisan faring. Aaring bereaksi terhadap proses infeksi tersebut8 terjadilah radang. ?ejala dan tanda 1. 2. ). +. %. 1. 2. !yeri tenggorok dan nyeri menelan Tonsil .amandel/ membesar Mukosa yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang ber5arna keputihan atau mengeluarkan pus .nanah/. <emam8 bisa men'apai +&C4. Pembesaran kelenjar getah bening di leher. "esu dan lemah8 nyeri pada sendi7sendi otot8 tidak nafsu makan dan nyeri pada telinga. Peningkatan jumlah sel darah putih.

Setelah bakteri atau -irus men'apai sistemik maka gejala7gejala sistemik akan mun'ul8

Pemeriksaan fisik 1. *emerahan dan peradangan dinding belakang mukosa mulut. 2. Pembengkakan mukosa ). Adanya selaput8 bintik7bintik8 nanah pada mukosa +. <engan menggunakan penilaian tertentu atas gejala dan tanda8 bisa diprediksi penyebab faringitis apakah -iral atau bakterial 1aringitis 3irus $iasanya tidak tenggorokan 1aringitis Bakteri ditemukan nanah di Sering ditemukan nanah di tenggorokan

<emam8 biasanya tinggi. <emam. Dumlah sel darah putih normal atau agak Dumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang meningkat *elenjar getah bening normal atau sedikit Pembengkakan ringan sampai sedang pada kelenjar getah membesar bening Tes apus tenggorokan memberikan hasil Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif

negati-e untukstrep throat Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh $akteri tumbuh pada biakan di laboratorium bakteri Pemeriksaan penunjang
7 7 7 7

Pemeriksaan terhadap apus tenggorok. Skrining terhadap bakteri Streptokokus. <arah rutin menunjukkan peningkatan jumlah lekosit. *ultur dan uji resistensi bakteri bila diperlukan. Penatalaksanaan a. =ntuk mengurangi nyeri tenggorok dapat diberikan obat antinyeri .analgetik/ seperti asetaminofen8 obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. b. Dika disebabkan -irus maka pengobatan bersifat simtomatik .hanya mengobati gejala/8 tidak diberikan antibiotika. $isa dibantu dengan obat7obatan imunomodulator. '. Dika diduga penyebabnya adalah bakteri8 diberikan antibiotika. Penting bagi penderita untuk meminum obat antibiotik sampai habis sesuai anjuran dokter8 agar tidak terjadi resistensi pada kuman penyebab faringitis Antibiotik golongan peni'ilin atau sulfanomida a. b. Aaringitis streptokokus paling baik diobati peroral dengan penisilin .12%72%& mg penisilin > $ila alergi penisilin dapat diberikan eritromisin .12% mg,0 jam untuk usia &72 tahun dan 2%& tiga kali sehari selama 1& hari/ mg,0 jam untuk usia 272 tahun/ atau klindamisin.

Edukasi pasien a. nstruksikan pasien menghindari kontak dengan orang lain sampai demam hilang. (indari penggunaan alkohol8 asap rokok8 tembakau dan polutan lain. b. Anjurkan pasien banyak minum. $erkumur dengan larutan normal salin dan pelega tenggorokan bila perlu. Prognosis =mumnya baik8 tingkat kesembuhan tinggi. *omplikasi
7 7 7

Sumbatan jalan napas .pada peradangan yang berat/ Abses di tonsil atau dinding belakang mukosa faring. nfeksi bakteri Strepto'o''us bisa berlanjut ke infeksi telinga8 sinusitis8 <emam rematik .Penyakit katup jantung akibat infeksi/8 abses tonsil8 peradangan ginjal8 dll.

34. 2!nsilitis Pengertian Tonsilitis adalah peradangan amandel sehingga amandel menjadi bengkak8 merah8 melunak dan memiliki bintik7bintik putih di permukaannya. Pembengkakan ini disebabkan oleh infeksi baik -irus atau bakteri. ?ejala dan tanda
7 7 7 7 7

merah dan , atau bengkak amandel putih atau kuning pat'h pada amandel tender8 kaku8 dan , atau leher bengkak sakit tenggorokan sulit menelan makanan

7 7 7 7 7 7 7 7 7

batuk sakit kepala sakit mata tubuh sakit otalgia demam panas dingin hidung mampet tonsil tampak bengkak8 merah8 dengan dendrtitus berupa folikel atau membrane.

Penatalaksanaan
7

berikan terapi kausal antibioti' berupa 1. amoksisilin anak# +&7%& mg,*g$$,hari8 terbagi dalam ) dosis de5asa# )E %&&mg selama % hari

2. eritromisin .untuk pasien alergi penisilin/


7

anak# +&7%&mg,*g$$,hari dalam dosis terbagi de5asa# 2E 30&mg

berikan terapi simptomatik .parasetamol8 obat kumur, disinfektan/

35. 6aringitis Pengertian peradangan pada laring yang terjadi karena banyak sebab. nflamasi laring sering terjadi sebagai akibat terlalu banyak menggunakan suara8 pemajanan terhadap debu8 bahan kimia5i8 asap8 dan polutan lainnya8 atau sebagai bagian dari infeksi saluran nafas atas. *emungkinan juga disebabkan oleh infeksi yang terisolasi yang hanya mengenai pita suara.

?ejala
7

"aringitis akut ditandai <engan suara serak atau tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali .afonia/ dan batuk berat. "aringitis kronis ditandai <engan suara serak yang persisten. "aringitis kronis mungkin sebagai komplikasi dari sinusitis kronis dan bron'hitis kronis.

Penatalaksanaan
7

Terapi pada laringitis akut berupa mengistirahatkan pita suara8 antibiotik8 mnambah kelembaban8 dan menekan batuk. :bat7obatan dengan efek samping yang menyebabkan kekeringan harus dihindari. Terapi pada laringitis kronis terdiri dari menghilangkan penyebab8 koreksi gangguan yang dapat diatasi8 dan latihan kembali kebiasaan menggunakan -o'al dengan terapi bi'ara. Antibiotik dan terapi singkat steroid dapat mengurangi proses radang untuk sementara 5aktu8 namun tidak bermanfaat untuk rehabilitasi jangka panjang. Eliminasi obat7obat dengan efek samping juga dapat membantu. Pada pasien dengan gastroenteriris refluks dapat diberikan reseptor (2 antagonis8 pompa proton inhibitor. Duga diberikan hidrasi8 meningkatkan kelembaban8 menghindari polutan. Terapi pembedahan bila terdapat sekuester dan trakeostomi bila terjadi sumbatan laring. "aringitis kronis yang berlangsung lebih dari beberapa minggu dan tidak berhubungan dengan penyakit sistemik8 sebagian besar berhubungan dengan pemajanan rekuren dari iritan. Asap rokok merupakan iritan inhalasi yang paling sering memi'u laringitis kronis tetapi laringitis juga dapat terjadi akibat menghisap kanabis atau inhalasi asap lainnya. Pada kasus ini8 pasien sebaiknya dijauhkan dari faktor pemi'unya seperti dengan menghentikan kebiasaan merokok. 3%. As#a Br!nkial

7 7

*riteria <iagnosis# 1.$atuk8 sesak napas berulang8 ri5ayat atopi sendiri , keluarga 2.!apas berbunyi .mengi/ berulang8 retraksi8 hipersonor ).Ekspirasi memanjang , 5hee;ing +.PAR dan AE> menurun <iagnosis $anding# 1.$ronkiolitis .pada anak berumur kurang dari 2 tahun/ 2.*orpus alienum di saluran napas .pada anak ke'il/ atau kelenjar thymus yang menekan trakea

).Penyakit Paru *ronik .Aibrosis kistik8 bronkiektasi/ +."aringotrakeobronkitis %.*ompresi trakeobronkial 0.Asma *ardial 1.*elainan trakea dan bronkus .Trakeobronkomalasi,stenosis bronkus/ Pemeriksaan Penunjang 1.<arah rutin,eosinofil total 2.Aoto toraks ).=ji Aaal Paru +.MantouE Test %.=ji *ulit Alergi dan munologi 0. A?< .bila perlu/ 1. E*? Pera5atan # Ra5at nap pada kasus sedang dan berat Terapi 1.Asma serangan ringan berikan salah satu obat # a.Teofilin )7+ mg,kg$$,kali oral8 tiap 072 jam b.Salbutamol &8&27&812 mg,kg$$,kali '.Terbutalin &8&%7&8&1% mg,kg$$,kali d.Metaproterenol &8) mg,kg$$,kali 2. Asma serangan sedang F berat8 inhalasi atau nebuli;er golongan bronkodilator# 1/=ntuk inhalasi # 17 2 semprotan8 tiap + F 0 jam 2/=ntuk !ebuli;er # 1/ Salbutamol &8%9 # &8&17 &8&) ml,kg$$ .maksimum 1 ml/ 2/ Terbutalin 19 # &8&)9 ml,kg$$ .maksimum 1 ml/ )/ Metoproterenol %9# &8&&%7 &8&1 ml.kg$$ .maksimum &839/ +/Aeneterol &819# % tetes8 bila &8%9 # 2 tetes %/<apat ditambahkan $romheEin 1 ml dan !a4l &839 18% ml. 0/Dika tidak ada nebuli;er , tidak bisa inhalasi dapat diberikan adrenalin 1,1&&& # &8&1ml,kg$$8 maksimum &8)% ml S48 diberikan selang 2&7)& menit8 27) kali ).Status Asmatikus# a. nhalasi atau nebuli;er bronkodilator b.:ksigen 172 liter,menit .melalui nasoorofaring atau masker/ '. nfus . untuk mengoreksi kekentalan 'airan dan gangguan asam basa elektrolit/ d.Posisi setengah duduk e.*ortikosteroid # <eksametason8 inisial &8) mg,kg$$8 > dilanjutkan &8) mg,kg$$,haridibagi ) dosis A. Teofilin 1/A5al # $ila dalam 072 jam terakhir tidak mendapat teofilin8 berikan %71 mg,kg$$dalam larutan !a4l,<ektrose 1&9 1#) 6 *4l % mEG,%&& ml dalam 1% F 2& menit.$ila telah mendapat teofilin dalam 072 jam

terakhir8 periksa kadar teofilin dalamdarah .kadar terapeutik 1& F 2& mg,ml/ atau diberikan dengan dosis yangditurunkan menjadi )7+ mg,kg$$. 2/Pemeliharaan# Teofilin per drip .)7+ mg,kg$$ setiap 072 jam/ pantau tanda7 tandakera'unan teofilin g.Postural drainage , 'hest 'lapping h.Mukolitik .kalau perlu dapat diberikan/ i.$ila tidak dapat diatasi ra5at 4= Penatalaksanaan asma pada de5asa

<erajat Asma

:bat Pengontrol .harian/

:bat Pelega

Asma ntermiten

Tidak perlu

$ronkodilator singkat8 yaitu inhalasi agonis beta2 bila perlu

ntensitas pengobatan tergantung beratnya serangan

nhalasi agonis beta2 atau !a7kromolin dipakai sebelum akti-itas atau pajanan allergen

Asma Persisten Ringan

nhalasi 7 kortikosteroid 2&&7 %&&g,!a7 kromolin, nedrokromil atau teofilin lepas lambat

nhalasi agonis beta2 aksi singkat bila perlu dan tidak melebihi )7+ kali sehari.

<osis kortikosteroid dapat dinaikkan menjadi 2&& mg atau ditambahkan bronkodilator kerja panjang .oral atau hirup/

Asma Persisten Sedang

nhalasi kortikosteroid 2&&& m'g

7 2&&7

nhalasi agonis beta2 hirup aksi singkat bila perlu dan tidak melebihi )7+ kali sehari

$ronkodilator aksi lama terutama untuk untuk mengontrol asma malam8 berupa agonis beta 2 aksi lama inhalasi8 oral atau teofilin lepas lambat

Asma Persisten $erat

nhalasi Agonis beta 2 hirup .kerja kortikosteroid 2&&7pendek/ bila ada gejala 2&&& m'g atau lebih

$ronkodilator aksi lama8 berupa agonis beta2 inhalasi atau oralatau teofilinlepas lambat

*ortikosteroid oral

jangka panjang

$ERAT!HA SERA!?A!

TERAP

":*AS

R !?A!

Terbaik#

<i rumah

Akti-itas normal.

hampir 7

Agonis $eta2 isap .M< / 2 isap boleh diulangi 1 jam kemudiGan atau tiap 2& menit dalam 1jam

$i'ara dalam kalimat penuh. Alternatif#

<enyut B1&&,menit

nadi 7 Agonis beta2 oral dan atau )E1,2 F1 tablet .2mg/ oral

.APEI0&9/ 7 Teofilin 1%71%& mg

"ama terapi menurut kebutuhan

SE<A!?

Terbaik#

Puskesmas

(anya mampu 7 berjalan jarak dekat

$i'ara kalimat putus

dalam terputus7

Agonis $eta72 7 se'ara nebulisasi 28% F %mg8 dapat diulangi sampai dengan ) kali dalam 1jam pertama 7 dan dapat dilanjutkan setiap 17+ jam kemudian 7

*linik ra5at jalan

=nit ?a5at <arurat

Praktek umum

dokter

<enyut nadi 1&&7 12&,menit 7 <ira5at RS bila tidak respons dalam 27+ jam

.APE +&70&9/

$ERAT

Terbaik#

=nit ?a5at <arurat

Sesak istirahat

pada 7

$i'ara dalam kata7 kata terputus

Agonis beta72 se'ara 7 nebulisasi dapat diulangi s.d )kalidalam 1jam pertama selanjutnya dapat diulangi setiap 17+ jam kemudian 7

Ra5at bila tidak ada responns dalam 2 jam maksimal ) jamm

Pertimbangkan ra5at 4= bila 'enderung

memburuk Progresif 7 <enyut nadi I12& 7 ",menit 7 7 .APE B +&9 atau 1&&",menit/ 7 Teofilin i- dan infus

Steroid i- dapat diulang, 2712jam

Agonis beta 2 sk,i- , 0jam

:ksigen liter,menit

Pertimbangkan nebulisasi ipratropiumbromide 2& tetes

ME!?A!4AM D JA

Terbaik#

4=

*esadaran menurun

"anjutkan sebelumnya

terapi

*elelahan

Pertimbangkan intubasi dan -entilasi mekanik

Sianosis 7 Pertimbangkan anastesi umum untuk terapi

(enti napas

pernapasan intensif. $ila perlu dilakukan kurasan bron'o al-eolar .$A"/

Terapi a5al yaitu 1. :ksigen +70 liter ,menit 2. Agonis $eta7 2 .salbutamol %mg atau feneterol 28% mg atau terbutalin 1&mg/ inhalasi nebulasi dan pemberiannya dapat diulang setiap 2& menit sampai 1 jam. <apat diberikan se'ara subkutan atau idengan dosis salbutamol &82% mg atau terbutalin &82% mg dalam larutan deEtrose %9 dan diberikan perlahan. ). Aminofilin bolus i- %70 mg,kg $$8 jjikasudah menggunakan obat ini dalam 12jam sebelumnya 'ukup diberikan setengah dossis +. *ortikosteroid hidrokortison 1&&72&& mg i- jika tidak ada respon segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. Respon terhadap terapi a5al baik8 jika didapatkan keadaan berikut # 1. Respon menetap selama 0& menit setelah pengobatan. 2. Pemeriksaan fisik normal. ). Arus pun'ak ekspirasi .APE/ I1&9. #i"a respon tida" ada atau tida" bai" terhadap terapi awal ma"a sebai"nya pasien dirawat di rumah sa"it.

3$. Br!nkitis Akut Pengertian# proses radang akut yang pada umumnya disebabkan oleh -irus. Akhir F akhir ini ternyata banyak juga disebabkan oleh $ycoplasma dan Chlamydia. A. .ejala "linis 7 7 7 7 7 $atuk7batuk biasanya dahak jernih sakit tenggorok nyeri dada biasa disertai tanda bronkospasme.

<emam tidak terlalu tinggi. atau

$. Pe#eriksaan Penunjang 7 Aoto rontgen toraks8 untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia tuber'ulosis. Pada bron'hitis akut tidak terlihat kelainan di foto thoraE 7 Pemeriksaan serologi untuk melihat infeksi $ycoplasma atau Chlamydia '. iagn!sis Banding7 Pneumonia8 Tuberkulosis. . 2erapi 7 Simtomatis bila disebabkan -irus. 7 $ila infeksi karena $ycoplasma atau Chlamydia dapat diberi # Tetrasiklin + E %&& mg atau <oksisiklin 2 E 1&& mg atau Eritromisin + E %&& mg 48. Pneu#!nia( Br!nk!pneu#!nia

Pengertian# peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme .bakteri8 -irus8 jamur8 parasit/. . $ycobacterium tuberculosis tidak termasuk/. Sedangkan peradangan paru yang disebabkan oleh nonmikroorganisme .bahan kimia8 aspirasi bahan toksik8 obat7obatan dan lain7lain/disebut pneumonitis Etiologi di rumah sakit banyak disebabkan bakteri ?ram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob *lasifikasi 1. $erdasar klinis dan epidemiologis # a. Pneumonia komuniti b. Pneumonia nosokomial '. Pneumonia aspirasi d. Pneumonia pada penderita immunocompromised. 2. $erdasar bakteri penyebab a. Pneumonia bakterial , tipikal. b. Pneumonia atipikal8 disebebkan My'oplasma8 "egionella dan 4hlamydia. '. Pneumonia -irus d. Pneumonia jamur. Pada penderita dengan daya tahan lemah .immuno'ompromised/. ). $erdasar predileksi infeksi a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumonia bakterial8 jarang pada bayi dan orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misal # Pada aspirasi benda asing8 atau proses keganasan.

b. $ronkopneumonia. <itandai dengan ber'ak7ber'ak infiltrat pada lapangan paru. <apat disebabkan oleh bakteria maupun -irus. Sering pada bayi dan orang tua8 Darang dihubungkan dengan obstruksi bronkus. '. Pneumonia interstisial Anamnesis 7 7 7 7 demam8 menggigil8 suhu tubuh meningkat dapat melebihi +& K4 batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang7kadang disertai darah sesak napas nyeri dada.

Pemeriksaan fisis 7 tergantung dari luas lesi di paru. 7 # bagian yang sakit tertinggal 5aktu bernapas8 7 P # fremitus dapat mengeras 7 P # redup 7 A # suara napas bronko-esikuler sampai bronkial yang mungkin disertai ronki basah kasar pada stadium resolusi. Pemeriksaan Penunjang a. Radiologis Aoto toraks .PA , lateral /# infiltrat sampai konsolidasi dengan L air bron'hogram L8 penyebaran bronkogenik dan interstisial serta gambaran ka-iti. 7 ?ambaran pneumonia lobaris %itreptococcus pneumonia 7 infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia seudomonas aeruginosa 7 konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan &lebsiela pneumoniae b. "aboratorium 7 "eukositosis 7 Shift to the left 7 peningkatan "E< 7 diagnosis etiologi# pemeriksaan dahak8 kultur darah dan serologi. 7 Analisis gas darah hipoksemia dan hipokarbia8 pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.

Per9edaan ga#9aran klinik pneu#!nia atipik dan tipik 2anda dan gejala :nset Suhu $atuk P.atipik gradual kurang tinggi non produktif P.tipik akut tinggi8 menggigil produktif

<ahak ?ejala lain

?ejala diluar paru Pe5arnaan ?ram Radiologis "aboratorium ?angguan fungsi hati

mukoid nyeri kepala8 mialgia Sakit tenggorokan8 suara parau8 !yeri telinga. sering flora normal atau spesifik L pat'hyM atau normal leukosit normal kadang rendah sering

purulen Darang

lebih jarang kokus ?ram .6/ atau .7/ konsolidasi lobar lebih tinggi jarang

Pengobatan a. Penderita ra5at jalan Pengobatan suportif , simptomatik 7 stirahat di tempat tidur 7 Minum se'ukupnya untuk mengatasi dehidrasi 7 $ila panas tinggi perlu dikompres atau minum obat penurun panas 7 $ila perlu dapat diberikan mukolitik dan ekspektoran Pengobatan antibiotik harus diberikan .sesuai bagan/ kurang dari 2 jam. b. Penderita ra5at inap diruang ra5at biasa Pengobatan suportif , simptomatik 7 Pemberian terapi oksigen 7 Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit 7 Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik8 mukolitik Pengobatan antibiotik harus diberikan .sesuai bagan/ kurang dari 2 jam '. Penderita ra5at inap di Ruang Ra5at ntensif Pengobatan suportif , simptomatik 7 Pemberian terapi oksigen 7 Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi kalori dan elektrolit 7 Pemberian obat simptomatik antara lain antipiretik8 mukolitik Pengobatan antibiotik .sesuai bagan/ kurang dari 2 jam $ila ada indikasi penderita dipasang -entilator mekanik Penderita pneumonia berat yang datang ke =?< diobser-asi tingkat kega5atannya8 bila dapat distabilkan maka penderita dira5at inap ruang ra5at biasa N bila terjadi respiratory distress maka penderita dira5at di Ruang Ra5at ntensif. *omplikasi Efusi pleura Empiema Abses paru Pneumotoraks ?agal napas

Sepsis

Pneumonia $erat Menurut ATS kriteria pneumonia berat bila dijumpai O sala, satu atau le9i,P kriteria di ba5ah ini. 7 *riteria minor # Arekuensi napas I )&,menit Pa:2,Ai:2 kurang dari 2%& mm(g Aoto toraks paru menunjukkan kelainan bilateral Aoto toraks paru melibatkan I 2 lobus Tekanan sistolik B 3& mm(g Tekanan diastolik B 0& mm(g 7 *riteria mayor# Membutuhkan -entilasi mekanik nfiltrat bertambah I %&9 Membutuhkan -asopresor I + jam .septik syok/ *reatinin serum Q 2 mg,dl atau peningkatan Q 2 mg,dl8 pada penderita ri5ayat penyakit ginjal atau gagal ginjal yang membutuhkan dialisis.

41. 2u9erkul!sis paru tanpa k!#plikasi Pat!genesis 1. 2u9erkul!sis Pri#er *uman T$ saluran napas bersarang di jaringan paru memebentuk sarang primer afek primer peradangan saluran getah bening menuju hilus . imfangitis lokal/ pembesaran kelenjer getah bening di hilus . imfadenitis regional/. Afek primer 6 imfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. *ompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut # 1. Sembuh dengan tidak meninggalkan 'a'at sama sekali 2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas .sarang ?hon8 garis fibrotik8 sarang perkapuran di hilus/ ). menyebar dengan 'ara # a. Perkontinuitatum .menyebar ke sekitarnya/ b. Penyebaran se'ara bronkogen8 baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya. Tertelannya dahak bersama ludah. Penyebaran juga terjadi ke dalam usus. '. Penyebaran se'ara hematogen dan imfogen. Sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh8 jumlah dan -irulensi basil. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh spontan8 akan tetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat8 penyebaran ini akan menimbulkan keadan 'ukup ga5at seperti tuberkulosis milier8 meningitis tuberkulosa. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya8 misalnya tulang8 ginjal8 anak ginjal8 genitalia dan sebagainya.

2. 2u9erkul!sis p!st&pri#er <ari tuberkulosis primer akan mun'ul bertahun7tahun kemudian tuberkulosis post7primer. Tuberkulosis post primer mempunyai ma'am7ma'am nama8 tuberkulosis bentuk de5asa8 lo'ali;ed tuber'ulosis8 tuberkulosis menahun8 dan sebagainya. $entuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat8 karena dapat menulari sekitarnya. Tuberkulosis post7primer dimulai dengan sarang dini8 yang umunya terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. !asib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan# 1. <iresorpsi kembali8 dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan 'a'at 2. Sarang tadi mula7mula meluas8 tapi segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih keras8 terjadi perkapuran8 dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali8 membentuk jaringan keju dan menimbulkan ka-iti8 bila jaringan keju dibatukkan keluar. ). Sarang pneumonik meluas8 membentuk jaringan keju .jaringan kaseosa/. *a-iti akan mun'ul dengan dibatukkannya jaringan keju tadi keluar. *a-iti a5alnya berdinding tipis8 kemudian dindingnya akan menjadi tebal .ka-iti sklerotik/. !asib ka-iti ini # a. Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang sebutkan diatas. b. <apat pula memadat dan membungkus diri dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh8 tapi mungkin pula aktif kembali8 men'air lagi dan menjadi ka-iti lagi. '. *a-iti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed 'a-ity8 atau ka-iti menyembuh dengan membungkus diri8 akhirnya menge'il. *emungkinan berakhir sebagai ka-iti yang terbungkus8 dan men'iut sehingga kelihatan sebagai bintang .stellate shaped/. B. "lasifikasi 1. 2B Paru tuberkulosis yang menyerang jaringan paru8 tidak termasuk pleura .selaput paru/ 1. $erdasarkan hasil pemeriksaan dahak .$TA/8 T$ paru dibagi dalam # a. Tuberkulosis paru $TA .6/ 2 dari ) spesimen dahak positif Satu spesimen dahak positif 6 radiologi tuberkulosis aktif. Satu spesimen dahak positif 6 biakan positif b. Tuberkulosis paru $TA .7/ dahak ) kali negati-e 6 gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif 6 tidak respons antibiotik spektrum luas dahak negatif 6 biakan negatif 6 gambaran radiologik positif 2. $erdasarkan tipe penderita a. *asus baru belum pernah mendapat :AT atau menelan :AT kurang dari satu bulan b. *asus kembuh . relaps / pernah mendapat :AT dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap8 kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak $TA positif atau biakan positif. '. *asus pindahan .transfer/

d. e.

f. g.

sedang pengobatan di kabupaten lain pindah berobat ke kabupaten ini. *asus lalai berobat paling kurang 1 bulan8 dan berhenti 2 minggu atau lebih8 kemudian datang kembali berobat. *asus gagal penderita $TA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau lebih penderita $TA negatif gambaran radiologik positif menjadi $TA positif pada akhir bulan ke72 pengobatan dan atau gambaran radiologik ulang hasilnya perburukan. *asus kronik Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak $TA masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategoti 2 dengan penga5asan yang baik. *asus bekas T$ mikroskopik negatif ?ejala klinik tidak ada Radiologik lesi T$ inaktif Ri5ayat pengobatan :AT yang adekuat

2. 2B Ekstra Paru a. T$ ekstra paru ringan Misalnya # T$ kelenjer limfe8 pleuritis eksudati-a unilateral8 tulang .ke'uali tulang belakang/8 sendi dan kelenjer adrenal. b. T$ ekstra paru berat # Misalnya # meningitis8 millier8 parikarditis8 peritonitis8 pleuritis eksudati-a bilateral8 T$ tulang belakang8 T$ usus8 T$ saluran ken'ing dan alat kelamin. '. Ana#nesis 1. ?ejala respiratorik '. $atuk Q ) minggu d. $atuk darah e. Sesak napas f. !yeri dada .T$ ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat8 misalnya pada limfadentis tuberkulosis akan terjadi pembesaran *?$ yang lambat dan tidak nyeri/ 2. ?ejala sistemik a. <emam b. ?ejala sistemik lain # malaise8 keringat malam8 anoreksia8 berat badan menurun . Pe#eriksaan 1isik *elainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeE dan segmen posterior8 serta daerah apeE lobus inferior. 7 suara napas bronkial8 amforik8 7 suara napas melemah8 ronki basah 7 tanda7tanda penerikan paru8 diafragma R mediastinum.

Pada pleuritis tuberkulosis8 kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyak 'airan di rongga pleura. 7 perkusi pekak 7 suara napas yang melemah tidak terdengar pada sisi yang terdapat 'airan. Pada imfadenitis tuberkulosis8 terlihat pembesaran *?$ tersering di daerah leher .pikirkan kemungkinan metastasis tumor/8 kadang7kadang didaerah ketiak. Pemeriksaan kelenjer tersebut dapat menjadi L 'old abs'essM. E. Pe#eriksaan Penunjang & Pe#eriksaan spesi#en 1. $ahan pemeriksaan# dahak8 'airan pleura8 li'uor cerebrospinal8 bilasan bronkus8 bilasan lambung8 kurasan bronkoal-eolar .bron'hoal-eolar la-ege,$a"/8 urin8 fae'es dan jaringan biopsi .termasuk biopsi jarum halus,$D(/ 2. 4ara pengumpulan dan pengiriman bahan 4ara pengambilan dahak ) kali8 setiap pagi ) hari berturut7turut atau dengan 'ara # A. Se5aktu , spot .dahak se5aktu saat kunjungan/ $. <ahak pagi .keesokan harinya/ 4. Se5aktu , spot . pada saat mengantarkan dahak pagi / $ahan pemeriksaan , spesimen yang berbentuk 'airan dikumpulkan , ditampung dalam pot yang bermulut lebar8 berpenampung 0 'm atau lebih dengan tutup berulir8 tidak mudah pe'ah dan tidak bo'or. & Pe#eriksaan Radi!l!gik foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral. .Pemeriksaan lain atas indikasi # foto toraks apiko7 lordotik8 ablik8 4T7S'an/ 1. T$ aktif # a/ bayangan bera5an , nodular di segmen apikal dan posterior lobus atau dan segmen superior lobus ba5ah paru b/ *a-iti8 terutama lebih dari satu8 dikelilingi oleh bayangan opak bera5an atau nodular '/ $ayangan ber'ak milier d/ Efusi pleura unilateral 2. T$ inaktif a/ Aibrotik8 terutama pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas dan segmen superior ba5ah paru b/ *alsifikasi '/ Penebalan pleura "uas proses yang tampak pada foto toraks# 1. 6esi #ini#al8 bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari -olume paru yang terletak diatas chondrostemal (unction dari iga kedua dan prosesus spinosus dari -ertebrata torakalis > atau korpus -ertebra torakalis > .sela iga 11/ dan tidak dijumpai ka-iti 2. 6esi luas $ila proses lebih luas dari lesi minimal Pe#eriksaan ara,

1. "aju endap darah ."E</ 2. Pemeriksaan serologi# a. )nzym lin"ed immunosorbent assay . E" SA/ b. $ycodot '. =ji peroksidase anti peroksidase .PAP/ Pe#eriksaan lain a. analisis 'airan pleura R uji Ri-alta pada penderita efusi pleura Ri-alta positif dan kesan 'airan eksudat b. olymerase chain reastion .P4R/ )ji tu9erkulin 1. Peng!9atan 2u9erkul!sis terbagi menjadi 2 fase# 7 fase intensif .27) bulan/ 7 fase lanjutan + atau 1 bulan. -9at Anti 2u9erkul!sis 1. Denis obat utama yang digunakan adalah # a. Rifampisin b. !( '. Pira;inamid d. Streptomisin e. Etambutol 2. *ombinasi dosis tetap . AiEed dose 'ombination / *ombinasi dosis tetap ini terdiri dari + obat antituberkulosis8 yaitu rifamsinin8 !(8 pira;inamid dan etambutol dan ) obat antituberkulosis8 yaitu rifampisin8 !( dan pira;inamid. ). Denis obat tambahan lainnya a. *anamisin b. *uinolon '. :bat lain masih dalam penelitian # makrolid8 amaksilin 6 asam kla-ulanat d. <eri-at rifampisin dan !( !sis -A2 1. Rifampisin 1& mg,kg $$8 maksimal 0&& mg 27) E , minggu atau $$ I 0& kg # 0&& mg $$ +&70& kg # +%& mg $$ B +& kg # )&& mg <osis intermiten 0&& mg, kali 2. !( % mg,kg $$8 maksimal )&& mg8 7 1& mg,kg $$ ) E seminggu8 7 1% mg,kg $$ 2 E seminggu 7 )&& mg,hari untuk de5asa. 7 ntermiten # 0&& mg , kali

). Pira;inamid # fase intensif 2% mg,kg $$8 )% mg,kg $$ ) E seminggu8 %& mg,kg $$ 2 E seminggu atau # $$ I 0& *g # 1%&& mg $$ +&70& kg # 1&&& mg $$ B +& kg # 1%& mg +. Etambutol # fase intensif 2& mg,kg $$8 fase lanjutkan 1% mg,kg $$8 )& mg,kg $$ ) E seminggu8 +% mg,kg $$ 2 E seminggu atau# $$ I 0& kg # 1%&& mg $$ +&70& kg # 1&&& mg $$ B +& kg # 1%& mg <osis intermiten +& mg,kg $$ ,kali %. Streptomisin # 1% mg,kg $$,kali $$ I 0& kg # 1&&& mg $$ +&70& kg # 1%& mg $$ B +& kg # sesuai $$ 0. *onSmbinasi dosis tetap Efek sa#ping -A2 # 1. sonia;id . !(/ 7 Efek samping ringan# tanda7tanda kera'unan pada syarat tepi8 kesemutan8 rasa terbakar di kaki dan nyeri otot. Efek ini dapat dikurangi dengan pemberian piridoksin dengan dosis 1&& mg perhari atau dengan -itamin $ kompleks. Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan. *elainan lain ialah menyerupai defisiensi piridoksin . syndrom pellagra/ 7 Efek samping berat # hepatitis. (entikan :AT dan pengobatan sesuai dengan pedoman T$ pada keadaan khusus. 2. Rifampisin a. Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan simtomatik ialah # Sindrom flu berupa demam8 menggigil dan nyeri tulang Sindrom perut Sindrom kulit seperti gatal7gatal kemerahan b. Efek samping yang berat tapi jarang# (epatitis Purpura8 anemia hemolitik yang akut8 syok dan gagal ginjal. Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas Rifampisin dapat menyebabkan 5arna merah pada air seni8 keringat. Air mata8 air liur. karena proses metabolisme obat ). Pira;inamid Efek samping utama# hepatitis8 !yeri sendi juga dapat terjadi .beri aspirin/ dan kadang7kadang dapat menyebabkan sarangan arthritis ?out8 hal ini kemungkinan sisebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbuhan asam urat. *adang7kadang terjadi reaksi demam8 mual8 kemerahan dan reaksi kulit yang lain. +. Etambutol ?angguan penglihatan berupa berkurangnya ketajaman8 buta 5arna untuk 5arna merah dan hijau. ?angguan penglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat

dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit untuk dideteksi. %. Streptomisin Efek samping utama# kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran. ?ejala efekya samping yang terlibat ialah telinga mendenging .tinitus/8 pusing dan kehilangan keseimbangan. Reaksi hipersensiti-iti kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba7tiba disertai sakit kepala8 muntah dan eritema pada kulit. Efek samping sementara dan ringan .jarang terjadi/ seperti kesemutan sekitar mulut dan telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah suntikan. Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh diberikan pada 5anita hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin. Panduan -9at Anti 2u9erkul!sis 7 *ategori . 2 :R;E/4:3R3 atau 2 :R;E/4:R atau 2 :R;E/4:E / T Penderita baru T$4 Paru $TA .6/ T Penderita T$4 Paru $TA .7/ Rontgen .6/ yang Lsakit beratM dan T Penderita T$4 Ekstra Paru berat 7 *ategori ( 2 :R;E*/:R;E/0:3R3E3 atau 2 :R;E*/:R;E/0:RE/ T Penderita kambuh .relaps/ T Penderita gagal . failure / T Penderita dengan pengobatan setelah lalai .after default/ 7 *ategori . 2:R;/4 :3R3 atau 2:R;/4:R atau 2:R;/4:E / T Penderita baru $TA .7/ dan Rontgen .6/ sakit ringan T Penderita Ekstra Paru ringan 7 *ategori > . Sesuai =ji Resistensi atau !( seumur hidup / T Penderita T$ Paru kasus kronik *ETERA!?A! U R V Rifampisin8 W V Pira;inamid8 ( V !(8 E V Etambutol S V Streptomisin. U Pada kasus dengan resistensi kuman8 pilihan obat ditentukan sesuai hasil uji resistensi. !sis !9at 9erdasarkan 9erat 9adan 7 Denis obat $$ B )& kg R ( W S E )&& mg )&& mg 1%& mg %&& mg %&& mg $$ )& F %& kg +%& mg )&& mg 1&&& mg 1%& mg 1%& mg $$ I %& kg 0&& mg +&& mg 1%&& mg 1%& mg 1&&& mg

Peng!9atan *up!rtif / *i#t!#atik a. Makan7makanan yang bergi;i8 bila dianggap perlu dapat diberikan -itamin tambahan .tidak ada larangan makanan untuk penderita tuberkulosis/

b. $ila demam obat penurunan panas,demam '. $ila perlu obat untuk mengatasi gejala batuk8 sesak napas atau keluhan lain. Indikasi ra<at inap # $atuk darah .profus/ *eadaan umum buruk Pneumotoraks Empiema Efusi pleura masif , bilateral Sesak napas berat .bukan karena efusi pleura/ T$ ekstra paru yang mengan'am ji5a # T$ paru milier Meningitis T$

.. E=aluasi Penderita T$ yang telah dinyatakan sembuh tetap die-aluasi minimal 2 tahun setelah sembuh untuk mengetahui terjadinya kekambuhan. Hang die-aluasi adalah mikroskopi $TA dahak dan foto toraks. Mikroskopi $TA dahak )80812 dan 2+ bulan setelah dinyatakan sembuh. E-aluasi foto toraks 081282+ bulan setelah dinyatakan sembuh. :. Peng!9atan tu9erkul!sis pada keadaan k,usus 2B #ilier 1. Ra5at inap 2. Paduan obat # 2 R(WE , + R( ). Pada keadaan khusus .sakit berat/8 tergantung keadaan klinik8 radiologik dan e-aluasi pengobatan8 maka pengobatan lanjutan dapat diperpanjang samapi dengan 1 bulan 2R(WE , 1 R( +. Pemberian kortikosteroid tidak rutin8 hanya diberikan pada keadaan a. tanda , gejala meningitis b. sesak napas '. Tanda , gejala toksik d. <emam tinggi %. *ortikosteroid # prednison )&7+& mg,hari8 dosis diturunkan %71& mg setiap %718 lama pemberian +70 minggu Pleuritis Eksudati=a 29 ( Efusi Pleura 29 / aduan obat * + RH,) - .RH E-akuasi 'airan8 dikeluarkan seoptimal mungkin8 sesuai keadaan penderita. =langan e-akuasi 'airan bila diperlukan dan berikan kortikosteroid. 2B Ekstra Paru aduan obat + RH,) - /0 RH

2B Paru > ia9etes ?elitus 1. Paduan obat # 2 R(W .E7S/ , + R( dengan regulasi baik , gula darah terkontrol 2. $ila gula darah tidak terkontrol8 fase lanjutan 1 bulan # 2 R(W .E7S/ , 1 R( ). <M harus dikontrol +. (ati7hati dengan penggunaan etambutol8 karena efek samping etambutol ke mata # sedangkan penderita <M sering mengalami komplikasi kelainan pada mata %. Perlu diperlihatkan penggunaan rifampisin akan mengurangi efekti-iti obat oral anti diabetes .sulfonil urea/8 sehinggga dosisnya perlu ditingkatkan 0. Perlu kontrol , penga5asan sesudah pengobatan selesai8 untuk mengontrol , mendeteksi dini bila terjadi kekambuhan 2B paru dengan :I3 / AI * 1. Paduan obat yang diberikan berdasarkan rekomondasi ATS yaitu # 2 R(WE , R( diberikan sampai 073 bulan setelah kon-ersi dahak 2. Menurut J(: paduam obat dan lama pengobatan sama dengan T$ paru tanpa ( > , A <S ). Dangan berikan Thia'eta;on karena dapat menimbulkan toksik yang hebat pada kulit +. :bat suntik kalau dapat dihindari ke'uali jika sterilisasinya terjamin %. Dangan lakukan desensitisasi :AT pada penderita ( > , A <S .mis !(8 rifampisin/ karena mengakibatkan toksik yang serius pada hati 0. !( diberikan terus menerus seumur hidup 1. $ila terjadi M<R8 pengobatan sesuai uji resistensi 2B pada ke,a#ilan dan #en@usui 1. Tidak ada infeksi pengguguran pad penderita T$ dengan kehamilan 2. :AT tetap dapat diberikan ke'uali streptomisin karena efek samping streptomisin pada gangguan pendengaran janin ). Pada penderita T$ dengan menyusui8 :AT R AS tetap dapat diberikan8 5alupun beberapa :AT dapat masuk ke dalam AS 8 akan tetapi konsentrasinys ke'il dan tidak menyebabkan toksik pada bayi +. Janita menyusui yang mendapat pengobatan :AT dan bayinya juga mendapat pengobatan :AT dianjurkan tidak menyusui bayinya8 agar bayi tidak mendapat dosis berlebihan %. Pada 5anita usia produktif yang mendapat pengobatan T$ dengan rifampisin dianjurkan untuk tidak menggunakan kontrasepsi hormonal8 karena dapat terjadi interaksi obat yang menyebabkan efekti-iti obat kontrasepsi hormonal berkurang. 2B paru gagal ginjal 1. Dangan menggunakan :AT streptomisin8 kanamisin dan 'apreomy'in 2. Sebaiknya hindari penggunaan etambutol karena 5aktu paruhnya memanjang dan terjadi akumulasi etambutol. <alam keadaan sangat diperlukan8 etambutol dapat diberikan dengan penga5asan kreatinin ). Sedapat mungkin dosis disesuikan dengan faal ginjal .44T8 =reum8 *reum8 *reatnin/ +. Rujuk ke ahli Paru 2B paru dengan kelainan ,ati

1. 2. ). +.

$ila ada ke'urigaan gangguan fungsi hati8 dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan Pada kelainan hati8 pira;inamid tidak boleh digunakan Paduan obat yang dianjurkan , rekomendasi J(: # 2 S(RE , 0 R( atau 2 S(E , 1& (E pada penderita hepatitis akut dan atau klinik ikterik8 sebaiknya :AT ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan sangat diperlukan dapat diberikan S dan E maksimal ) bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan 0 R( %. Sebaiknya rujuk ke ahli paru :epatitis I#9as -9at 1. <ikenal sebagai kelainan hati akibat penggunaan obat7obat hepatotoksik .drug indu'ed hepatitis/ 2. Penatalaksanaan a. $ila klinik .6/ . kterik X 6Y8 gejala , mual8 muntah X6Y/ Z -A2 *t!p b. $ila klinis .7/8 "aboratorium terdapat kelainan # '. $ilirubin I 2 Z :AT stop S?:T8 S?PT Q % [ # :AT Stop S?:T8 S?PT Q ) [8 gejala .6/ # :AT stop S?:T8 S?PT Q ) [8 gejala .7/Z teruskan pengobatan dengan penga5asan Paduan :AT yang dianjurkan # 1. Stop :AT yang bersifat hepatotoksik .R(W/ 2. Setelah itu8 monitor klinik dan laboratorium. $ila klinik dan laboratorium normal kembali .bilirubin8 S?:T8 S?PT/8 maka tambahkan ( . !(/ desensitisasi sampai dengan dosis penuh .)&& mg/. sela ma itu perhatikan klinik dan periksa laboratorium normal tambahkan rifampisin8 desensitisasi samapi dengan dosis penuh .sesuai berat badan/. Sehingga paduan obat menjadi R(ES 42. :ipertesi esensial (ipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. $eberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer8 untuk membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab7sebab yang diketahui. Menurut 1he %eventh Report of 1he #oint National Committee on revention, 2etection, )valuation, and 1reatment of High Blood ressure .D!4 1/ klasifikasi tekanan darah pada orang de5asa terbagi menjadi kelompok normal8 prahipertensi8 (ipertensi derajat dan derajat 2 2a9el "lasifikasi 2ekanan ara, #enurut A/' 5 "lasifikasi 2 * 2 (##:g) 2ekanan ara, (##:g) !ormal B12& dan B2& Prahipertensi 12&71)3 atau 2&723 (ipertensi derajat 1 +&71%3 atau 3&733 (ipertensi derajat 2 Q1&& atau Q1&& T<S V Tekanan <arah Sistolik8 T<< V Tekanan <arah <iastolik

E-aluasi pasien hipertensi adalah dengan melakukan anamnesis tentang keluhan pasien8 ri5ayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga8 pemeriksaan fisis serta pemeriksaan penunjang. Anamnesis meliputi# 1. "ama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah 2. ndikasi adanya hipertensi sekunder a) *eluarga dengan ri5ayat penyakit ginjal .ginjal polikistik/ b/ Adanya penyakit ginjal8 infeksi saluran kemih8 hematuri8 pemakaian obat7obat analgesik dan obat,bahan lain '/ Episoda berkeringat8 sakit kepala8 ke'emasan8 palpitasi .feokromositoma/ d) Episoda lemah otot dan ma ni .aldosteronisme/ ). Aaktor7faktor risiko a) Ri5ayat hipertensi atau kardio-askular pada pasien atau keluarga pasien b) Ri5ayat hiperlipidemia pada pasien atau keluarganya '/ Ri5ayat diabetes melitus pada pasien atau keluarganya d) *ebiasaan merokok e) Pola makan f) *egemukan8 intensitas olah raga g) *epribadian +. ?ejala kerusakan organ a/ :tak dan mats# sakit kepala8 -ertigo8 gangguan penglihatan8 transient ischemic attac"s8 defi'it sensoris atau motoris b/ Dantung# palpitasi8 nyeri dada8 sesak8 bengkak kaki '/ ?injal# ha5s8 poliuria8 nokturia8 hematuri d/ Arteri perifer# ekstremitas dingin8 klaudikasio intenniten %. Pengobatan antihipertensi sebelumnya 0. Aaktor7faktor pribadi8 keluarga dan lingkungan Pemeriksaan fisis selain memeriksa tekanan darah8 juga untuk e-aluasi adanya penyakit penyerta8 kerusakan organ target serta kenningkinan adanya hipertensi sekunder. Pengukuran tekanan darah# 1. Pengukuran rutin di kamar periksa 2. Pengukuran 2+ jam 3ainbulator.y blood pressure monitoring4abpm5 3. Pengukuran sendiri oleh pasien $eberapa indikasi penggunaan A$PM antara lain# 1. (ipertensi yang borderline atau yang bersifat episodi' 2. (ipertensi office atau white coat 3. Adanya disfungsi saraf otononi 4. (ipertensi sekunder

%. Sebagai pedoman dalam pemilihan jenis obat antihipertensi 6. Tekanan darah yang resisters terhadap pengobatan antihipertensi 1. ?ejala hipol'nsi yang berhubungan dengan pengobatan antihipertensi Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari# 1. Test darah rutin 2. ?lukosa darah .sebaiknya puasa/ 3. *olesterol total serum 4. *olesterol ldl dan hdl serum 5. Trigliserida serum .puasa/ 6. Asam urat serum 7. *reatinin serum 8. *alium serum 9. (emoglobin dan hematokrit 10. =rinalisis .uji 'arik 'elup serta sedimen urin/ 11. Elektrokardiogram $eberapa pedoman penanganan hipertensi rnenganjurkan test lain seperti# 1. Ekokardiogram 2. =S? karotis .dan femoral/ 3. C4reactive protein +. Mikroalbuminuria atau perbandingan albumin,kreatinin urin %. Proteinuria kuantitatif .jika uji 'arik positif/ 0. Aunduskopi .pada hipertensi berat/ E-aluasi pasien hipertensi juga diperlukan untuk menentukan adanya penyakit penyerta sistemik8 yaitu# 1. Aterosklerosis .melalui pemeriksaan profit lemak/ 2. <iabetes .terutama pemeriksaan gula darah/ ). Aungsi ginjal .dengan pemeriksaan proteinuria8 kreatinin serum8 serta memperkirakan laju filtrasi glomerulus/ Pada pasien hipertensi8 beberapa pem'riksaan untuk menentukan adanya kerusakan organ target dapat dilakukan se'ara rutin8 sedang pemeriksaan lainnya hanya dilakukan bila ada ke'urigaan yang didukung oleh keluhan dan gejala pasien. Pemeriksaan untuk menge-aluasi adanya kerusakan organ target meliputi# 1. Dantung a. Pemeriksaan finis b. Aoto polos dada .untuk melihat pembesaran jantung8 kondisi arteri intratoraks dan sirkulasi pulmoner/ '. Elektrokardiografi .untuk deteksi iskernia8 gangguan konduksi8 aritinia8 serta hipertrofi -entrikel kiri/ d. Ekokardiografi 2. Pembuluh darah

a. Pemeriksaan finis termasuk perhitungan pulse pres4sure b. =ltrasonograli .=S?/ karotis c. Aungsi endotel .masih dalarn penelitian/ 3. :tak

a. Pemeriksaan neurologi' b. <iagnosis strok ditegakkan dengan menggunakan cranial computed tomography .4T/ s'an atau magnetic c resonance imaging maging .MR / .untuk pasien dengan keluhan gangguan neural8 kehilangan mernori atau gangguan kognitit/ +. Mata a. Aunduskopi %. Aungsi ginjal a. Pemeriksaan fungsi ginjal dan penentuan adanya proteinuria,mikro makroalbuminuria serta rasio albumin kreatinin urin b. Perkiraan laju filtrasi glomerulus8 yang untuk pasien dalarn kodisi stabil dapat diperkirakan dengan menggunakan modifikasi rumus dari 4o'kroft7?ault sesuai dengan anjuran National &idney 6oundation 3N&65 yaitu# D!4 1 menyatakan bah5a tes yang lebih mendalam untuk men'ari penyebab hipertensi tidak dianjurkan ke'uali jika dengan terapi memadai tekanan darah tidak ter'apai. PE/.-BA2A/ Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah# 1. Target tekanan darah B1+&,3& mmhg8 untuk indi-idu berisiko tinggi .diabetes8 gagal ginjal proteinuria/ B1)&, 2& mmhg 2. Penurunan morbiditas dan mortalitas kardio-askular ). Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Terapi nonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor7faktor risiko serta penyakit penyerta lainnya. Terapi nonfarmakologis terdiri dari# 1. Menghentikan in'rokok 2. Menurunkan berat badan berlebih 3. Menurunkan konsumsi alkohol b'rl'bih 4. "atihan fisik 5. Menurunkan asupan garam 0. Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak Denis7jenis obat antihipertensi untukterapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan oleh D!4 1# 1. <iuretika8 terutama jenis Thia;ide .Thia;/ atau Alelosterone Antagonist .Aldo Ant/ 2. Beta Bloc"er .$$/ ). Calcium Channel Bloc"er atau Calciumln antagonist .44$/ +. Angiotensin Converting )nzyme 7nhibitor .A4E /

%. Angiotensin 77 Receptor Bloc"er atau A1, receptor antagonist7bloc"er .AR$/ Masing7masing obat antihipertensi memiliki efekti-itas dan kearnanan dalam pengobatan hipertensi8 tetapi pemilihan obat antihipertensi juga dipengaruhi beberapa faktor8 yaitu# 1. Aaktor sosio ekonomi 2. Profit faktor risiko kardio-askular 3. Ada tidaknya kerusakan organ target 4. Ada tidaknya penyakit penyerta %. >ariasi indi-idu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi 0. *emungkinan adanya interaksi dengan obat yang gunakan pasien untuk penyakit lain 1. $ukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akin digunakan dalam menurunkan risiko kardio-askular *ombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah# 1. <iuretika dan A4E atau AR$ 2. 44$ dan $$ ). 44$ dan A4E atau AR$ +. 44$ dan diuretika %. A$ dan $$ 0. *adang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat

*emungkinan kombinaasi obat antihipertensi

2a9el 2. Indikasi dan "!ntraindikasi "elas&kelas )ta#a -9at Anti,ipertensi ?enurut E*: "elas -9at Indikasi "!ntraindikasi ?utlak 2idak ?ut,lak <iuretika .Thia;ied/ ?agal jantung kongestif. =sia ?out *ehamilan lanjul. 7solated systolic
hypertension, ras afrika

<iuretika .8oop/

nsutisiensi ginjal8 jantung kongestif

gagal

<euretika .antialdosteron/ Penyekat \

?agal jantung kongestif8 pas'a ?agal ginjal8 infark miokardium hiperkalemia Angina pektoris8 pas'a infark Asam8 penyakit miokardium8 gagal jantung paru obstruktif kongestif8 kehamilan. "akiaritmia menahun8 A7> bloc" .derajat 2 atau )/ Penyakit pembuluh darah perifer8 intoleransi glukosa8 atlit atau pasien yang aktif se'ara fisik Takiaritmia8 gagal jantung kongestif

Calcium Antagonist =sia lanjut8 isolated systolic .dihydropiridine/ hypertension, angina pektoris8 penyakit pembuluh darah perifer8 aterosklerosis karotis8kehamilan Calcium Antagonist Angina pektoris8 .-erapamil8 A7> bloc" aterosklerosis karotis8 ditia;em/ .derajat 2 atau )/8 takikardia supra-entrikuler gagal jantung kongestif Penghambat A4E ?agal jantung kongestif8 *ehamilan8 disfungsi -entrikel kiri8 pas'a infark hiperkalemia8 arteri miokardium8 non7diabetik stenosis renalis bilateral nefropati8 nefropati <M tipe 1. proteinuria Antigotensin 77 receptor antagonist !efropati <M .AT17blo'ker/ mikroalbuminuria 28 *ehamilan8 diabetik8 hiperkalemia8 arteri proteinuria8 hiperfrofi -entrikel kiri8 stenosis tipe

batuk karena A4E

renalis bilateral .$P(/8 (ipotensi ortostatis ?agal kongensif jantung

] 7 $lo'ker

(iperplasia prostat hiperlipidemia

2a9el 3. 2atalaksana :ipertensi ?enurut A/' 5 "lasifikasi 2 * 2 Per9aikan 2ekanan (##:g) (##:.) P!la ara, :idup !ormal B12& dan B2& dianjurkan Prehipertensi 12&71)3 atau 2&7 ya 3& (ipertensi derajat 1 1+&71%3 atau 3&7 ya 33

2erapi -9at A<al 2anpa Indikasi engan Indikasi @ang ?e#aksa @ang ?e#aksa Tidak indikasi obat :bat7obatan untuk indikasi yang memaksa :bat7obatan untuk indikasi yang memaksa obat antihipertensi lain .diuretika8 A4E 8 AR$8 $$8 44$/ sesuai kebutuhan

(ipertensi derajat 2

Q 10&

atau 1&&

Q ya

<iuretika jenis Thia;ide untuk sebagian besar kasus8 dapat dipertimbangka n A4E 8 AR$8 $$8 44$ atau kombinasi *ombinasi 2 obat untuk sebagian besar kasus umumnya diuretika jenis Thia;ide dan A4E atau AR$ atau $$ atau 44$

43. "andidiasis #ulut Pengertian# nfeksi oportunistik pada area oral dan perioral yang biasanya disebabkan oleh pertumbuhan abnormal . overgrowth/ dari mikroorganisme .jamur/ 4andida endogen.

Etiologi 7 7 7 4andida Albi'ans .komensal8 pada dasarnya tidak berbahaya8 namun dapat menjadiin-asif dan bersifat patogen ketika terjadi gangguan pada keseimbangan flora atau penurunan daya tahan tubuh penjamu .host/ Penyebab lainN 4. ?labrata8 4. *rusei8 4. Tropi'alis dan 4. Parapsilasti'Aaktor Predisposisi"okal# higienitas oral buruk8 Eerostomia8 kerusakan mukosa8 pemakaian gigi palsu8 pemakaianmouthwash yang mengandung antibioti'. S istemik# pemakaian antibitik spe'trum luas8 steroid8 obat7obatan yg dpt menekan systemimun8 radiasi8 kemoterapi8 neutropenia akibat keganasan hematology8 anemia defisiensi besi8 kurang gi;i8 imunodefisiensi seluler8 gangguan endokrin .<M/8 penyakit yg menekansitem imun .infeksi ( >/

*lasifikasi dan ?ambaran *linis ?ambaran klinis kandidiasi oral tergantung pada keterlibatan lingkungan dan interaksi organisme dengan jaringan pada host. Adapun kandidiasis oral dikelompokkan atas tiga8 yaitu # A. Akut8 dibedakan menjadi dua jenis8 yaitu # 1. *andidiasis Pseudomembranosus Akut

*andidiasis pseudomembranosus akut yang disebut juga sebagai thrush8 pertama sekali dijelaskan kandidiasis ini tampak sebagai plak mukosa yang putih8 difus8 bergumpal atau seperti beludru8 terdiri dari sel epitel deskuamasi8 fibrin8 dan hifa jamur8 dapat dihapus meninggalkan permukaan merah dan kasar. Pada umumnya dijumpai pada mukosa pipi8 lidah8 dan palatum lunak. Penderita kandidiasis ini dapat mengeluhkan rasa terbakar pada mulut. *andidiasis seperti ini sering diderita oleh pasien dengan system imun rendah8 seperti ( >,A <S8 pada pasien yang mengkonsumsi kortikosteroid8 dan menerima kemoterapi. <iagnose dapat ditentukan dengan pemeriksaan klinis8 kultur jamur8 atau pemeriksaan mikroskopis se'ara langsung dari kerokan jaringan. 2. *andidiasis Atropik Akut *andidiasis jenis ini membuat daerah permukaan mukosa oral mengelupas dan tampak sebagai ber'ak7ber'ak merah difus yang rata. mfeksi ini terjadi karena pemakaian antibioti' spe'trum luas8 terutama Tetrasiklin8 yang mana obat tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem oral antara "a'toba'illus A'idophilus dan 4andida Albi'ans. Antibioti' yang dikonsumsi oleh pasien mengurangi populasi "a'toba'illus dan memungkinkan 'andida tumbuh subur. Pasien yang menderita 'andidiasis ini akan mengeluhkan sakit seperti terbakar.

$. *ronik8 dibedakan menjadi tiga jenis8 yaitu#

1. *andidiasis Atropik *ronik <isebut juga 9denture stomatitisM atau 9alergi gigi tiruan:. Mukosa palatum maupun mandibular yang tertutup basis gigi tiruan akan menjadi merah8 kondisi ini dikategorikan sebagai bentuk dari infeksi 'andida. *andidiasis ini hampir 0& 9 diderita oleh pemakai gigi tiruan terutama pada 5anita tua yang sering memakai gigi tiruan selagi tidur. 2. *andidiasis (iperplastik *ronik nfeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa bintik7bintik putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah merah. *ondisi ini dapat berkembang menjadi dysplasia berat atau keganasan8 dan kadang disebut sebagai 'andida leukoplakia. $intik7bintik putih tersebut tidak dapat dihapus8 sehingga diagnose harus ditentukan dengan biopsy. *andidiasis ini paling sering diderita oleh perokok. ). Median Rhomboid ?lossitis Median rhomboid glositis adalah daerah simetris kronis di anterior lidah ke papilla sirkum-alata8 tepatnya terletak pada duapertiga anterior dan sepertiga posterior lidah. ?ejala penyakit ini asimptomatis dengan daerah tidak berpapila. 4. *eilitis Angularis *eilitis angularis merupakan infeksi 'andida albi'an pada sudut mulut8 dapat bilateral maupun unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi tampak merah dan pe'ah7pe'ah8 dan terasa sakit ketika membuka mulut. *eilitis angularis ini dapat terjadi pada penderita defisiensi -itamin $12 dan anemia defisiensi besi

+. Pengobatan *ebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat daerah bukal dan lidah dengan sikat lembut. Pada pasien yang memakai gigi tiruan8 gigi tiruan harus direndam dalam larutan pembersih seperti *lorheksidin8 hal ini lebih efektif dibanding dengan hanya menyikat gigi tiruan8 karena permukaan gigi tiruan yang tidak rata dan porus menyebabkan 'andida mudah melekat8 dan jika hanya menyikat gigi tiruan tidak dapat menghilangkannya. $eberapa golongan antijamur yang efektif untuk kasus7kasus pada rongga mulut8 sering digunakan antara lain # 1. Amfoteri'ine $8 dihasilkan oleh Streptomy'es nodusum8 mekanisme kerja obat ini yaitu dengan 'ara merusak membrane sel jamur. Efek samping terhadap ginjal seringkali menimbulkan nefrositik. Sediaan berupa lo;enges .1& ml/ dapat digunakan sebanyak +E,hari.

2.

).

+. %.

0.

1.

!ystatin8 dihasilkan oleh Streptomy'es noursei8 mekanisme kerja obat ini dengan 'ara merusak membrane sel yaitu terjadi perubahan permeabilitas membrane sel. Sediaan berupa suspense oral 1&&.&&& =,%ml dan bentuk 'ream 1&&.&&& =,g8 digunakan untuk kasus denture stomatitis. Mi'ona;ole8 4lotrima;ole8 mekanisme kerjanya dengan 'ara menghambat en;im 'yto'hrome P +%& sel jamur8 lanosterol 1+ demethylase sehingga terjadi kerusakan sintesa ergosterol dan selanjutnya terjadi ketidaknormalan membrane sel. Sediaan dalam bentuk gel oral .2& mg,ml/8 digunakan +E,hari setengah sendok makan8 ditaruh diatas lidah kemudian dikumurkan dahulu sebelum ditelan. 4lotrima;ole8 mekanismenya kerja sama dengan mi'ona;ole8 bentuk sediaannya berupa tro'he 1&mg8 sehari )7+E. *etokona;ole .kt;/ adalah antijamur broad spe'trum. Mekanisme kerjanya dengan 'ara menghambat 'yto'hrome P+%& sel jamur8 sehingga terjadi perubahan permeabilits membrane sel8 obat ini dimetabolisme di hepar. Efek sampingnya berupa mual, muntah8 sakit kepala8 parastesia dan rontok. Sediaan dalam bentuk tablet 2&&mg dosis 1E,hari dikonsumsi pada 5aktu makan. trakona;ole8 efektif untuk pengobatan kandidiasis penderita immuno'ompromised. Sediaan dalam bentuk tablet8 dosis 2&&mg,hari selama ) hari. $entuk suspense .1&&7 2&& mg/ , hari8 selama 2 minggu. Efek samping obat berupa gatal7gatal8 pusing8 sakit kepala8 sakit dibagian perut .abdomen/8 dan hypokalemi. Alukona;ole8 dapat digunakan pada seluruh penderita kandidiasis termasuk pada penderita immunosipresi-. Efek samping mual8 sakit dibagian perut8 sakit kepala8 eritme pada kulit. Mekanisme kerjanya dengan 'ara mempengaruhi 'yto'hrome P+%& sel jamur8 sehingga terjadi perubahan membrane sel. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Sediaan dalam bentuk 'apsul %&mg8 1&&mg8 1%&mg8 dan 2&&mg single dose dan intra -ena. *ontra indikasi pada 5anita hamil dan menyusui. 44. )lkus ?ulut (apt!sa( ,erpes)

Pengertian =lkus oral juga disebut aphthous ul'er yang mun'ul sendiri atau dalam kelompok di dalam mulut bibir atau pipi. Mereka bisa ditemukan di ba5ah atau di pinggir lidah. =lkus oral 'epat terbentuk dan dapat sangat nyeri. =lkus biasanya sembuh dengan sendirinya dalam 5aktu satu sampai dua minggu8 tetapi mungkin terulang beberapa kali dalam setahun. Meskipun nyeri8 terutama ketika makan atau berbi'ara8 ulkus oral tidak menular. !amun8 mereka mungkin merupakan gejala gangguan yang mendasari seperti kanker mulut8 kekurangan gi;i8 atau penyakit menular seksual.

Tipe =lkus mulut <ua tipe yang biasanya mengikuti gejala ulkus mulut yaitu aphthous ul'ers .yang ditunjukkan dengan mun'ulnya suatu luka terbuka yang menyakitkan di dalam mulut atau tenggorokan bagian atas/ dan 'old sores .selaput terlihat melepuh/. 4old sores di bibir disebabkan oleh -irus herpes simpleks.

Penyebab 4edera fisik8 trauma ke mulut adalah penyebab umum ulkus mulut. Tepi gigi yang tajam8 menggigit se'ara tidak sengaja .hal ini sangat umum dengan gigi taring yang tajam/8 gigi yang run'ing8 gigi yang kasar8 atau makanan asin berlebihan8 gigi palsu yang kurang pas bentuknya8 dan ka5at gigi atau trauma dari sikat gigi yang dapat melukai lapisan mukosa dari mulut dan mengakibatkan tukak lambung. =lkus ini biasanya dapat disembuhkan dengan mudah jika sumber 'edera dihilangkan .misalnya# jika kurang pas8 gigi palsu diperbaiki atau diganti/. (al serupa juga dapat terjadi setelah pera5atan gigi8 bisa saja terjadi le'et se'ara tidak sengaja pada jaringan lunak mulut. Seorang dokter gigi dapat menerapkan lapisan pelindung petroleum jelly sebelum melakukan pera5atan gigi untuk meminimalkan terjadinya 'edera pada jaringan mukosa yang lembut. 4edera kimia8 bahan kimia seperti aspirin atau alkohol yang kontak dengan mukosa mulut dapat menyebabkan jaringan menjadi nekrotik .kematian prematur sel atau jaringan hidup/ dan men'iptakan suatu permukaan yang luka. Sodium lauryl sulfat .S"S/8 salah satu bahan utama di sebagian besar pasta gigi8 kadang terlibat dalam peningkatan insiden ulkus mulut. Penghentian merokok8 biasanya8 setelah satu minggu berhenti merokok8 seseorang dapat mengalami radang mulut. <urasinya ber-ariasi antar indi-idu8 dan dapat berkisar dari bulan ke tahun. ni hanya merupakan efek dari berhenti merokok8 efek ini lama7kelamaan akan hilang dengan sendirinya. nfeksi8 -irus8 jamur dan bakteri dapat menyebabkan proses luka mulut. Salah satu kebiasaan yang bisa menimbulkan ulkus mulut adalah dengan menyentuh bibir pe'ah7pe'ah tanpa men'u'i tangan terlebih dahulu. nfeksi dapat terjadi karena bakteri dari tangan berpindah ke luka terbuka yang disebabkan oleh bibir pe'ah7pe'ah tadi. >irus8 (erpes simpleE -irus .(S>/ adalah umum menjadi penyebab berulangnya herpetiform ul'erations .ul'er herpes/. $iasanya ini menimbulkan rasa nyeri dan didahului dengan pe'ahnya bisul yang ada pada mulut. >ari'ella Woster .'a'ar air8 herpes ;oster/8 -irus 4oEsa'kie dan subtype -irus lainnya yang terkait adalah jenis7jenis -irus yang dapat menyebabkan ulserasi mulut. ( > men'iptakan immunodefi'ien'ies yang memungkinkan infeksi oportunistik atau neoplasma untuk berkembang biak. $akteri8 proses bakteri yang menyebabkan ulserasi oral .luka mulut/ dapat disebabkan oleh My'oba'terium tuber'ulosis .T$4/ dan Treponema pallidum .sifilis/. *egiatan oportunistik oleh kombinasi dari flora bakteri normal lain8 seperti aerobik streptokokus8 !eisseria8 A'tinomy'es8 spiro'hetes8 dan spesies $a'teroides dapat memperpanjang proses ulseratif. Damur8 4o''idioides immitis .demam lembah/8 4rypto'o''us neoformans .kriptokokosis/8 $lastomy'es dermatitidis . L$lastomy'osis Amerika =taraM/ adalah sebagian dari proses jamur menyebabkan ulserasi oral. Proto;oa8 Entamoeba histolyti'a8 suatu parasit proto;oa ini kadang7kadang diketahui menyebabkan borok mulut melalui pembentukan kista.

Sistem kekebalan8 banyak peneliti melihat penyebab borok aphthous sebagai produk akhir yang umum dari berbagai proses penyakit8 masing7masing diperantarai oleh sistem kekebalan tubuh. $orok Aphthous diperkirakan terbentuk ketika tubuh berada dalam kondisi 5aspada .sistem kekebalan mulai bekerja/. mmunodefi'ien'y .kekurangan imun,kekebalan tubuh/8 =l'er mulut berulang dapat merupakan indikasi dari suatu immunodefi'ien'y8 menandakan rendahnya tingkat imunoglobulin pada selaput lendir di dalam mulut. *emoterapi8 ( >8 dan mononukleosis adalah penyebab7 penyebab umum terjadinya immunodefi'ien'y yang bisa menimbulkan ul'er mulut. Autoimmunity8 adalah kegagalan dari suatu organisme untuk mengenali bagian7bagian penyusunnya sendiri sebagai diri sedniri8 yang memungkinkan respon imun terhadap sel dan jaringan sendiri. ni juga merupakan penyebab ulserasi oral. Selaput lendir pemphigoid8 reaksi autoimmune membran basal epitel8 dan menyebabkan desGuamation , ulserasi mukosa oral. Alergi8 kontak dengan alergen seperti amalgam dapat menyebabkan ul'erations dari mukosa. Makanan8 kekurangan -itamin 4 dapat mengakibatkan penyakit kudis yang mengganggu penyembuhan luka8 yang dapat berkontribusi pada pembentukan ulkus. <emikian juga kekurangan -itamin $12 telah dikaitkan dengan ulserasi oral. Penyebab umum lainnya adalah penyakit 4oelia' .adalah gangguan autoimun usus ke'il yang terjadi karena ke'enderungan genetik seseorang dari segala usia/8 dalam hal ini konsumsi gandum8 rye8 atau barley dapat mengakibatkan borok kronis mulut. Dika sensitif terhadap gluten menjadi penyebabnya maka pen'egahan berarti mengikuti diet bebas gluten dengan menghindari roti8 pasta8 bir8 dan lain sebagainya. <alam hal ini menggantinya dengan -arietas bebas gluten jika tersedia. ?ula buatan .Aspartame , !utris5eet , et'/ seperti yang ditemukan dalam diet 'ola dan permen karet tanpa gula8 telah dilaporkan sebagai penyebab ulkus oral juga. *anker8 kanker mulut dapat menyebabkan ulserasi karenapusat lesi kehilangan suplai darah dan ne'roses .kematian sel atau jaringan hidup/. Pengobatan 7 Tujuan dari pengobatan adalah menghilangkan gejala.Penyebabnya8 jika diketahui8 harus diobati."embut8 kebersihan mulut menyeluruh dapat meredakan beberapa gejala. 7 Topikal .dioleskan pada/ antihistamin8 anta'ids8 kortikosteroid8 atau preparat menenangkan lain dapat direkomendasikan untuk menerapkan di atas bisul.(indari makanan panas atau pedas8 yang sering meningkatkan rasa sakit bisul mulut. $eberapa manfaat orang dari menggunakan $onjela o-er7the7'ounter gel topikal yang mengandung salisilat kolin 7 salisilat kolin adalah analgesik lokal yang membantu untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan yang terkait dengan ulkus oral. "o;enge steroid juga dapat mengurangi rasa sakit8 dan dapat membantu untuk menyembuhkan borok lebih 'epat.<engan menggunakan lidah Anda Anda dapat

menyimpan permen dalam kontak dengan maag sampai permen larut.Sebuah permen steroid bekerja terbaik 'epat itu dimulai setelah maag meletus.Dika digunakan a5al8 mungkin ^menggigit dalam kun'up^8 dan men'egah maag dari sepenuhnya meletus.
7

$erkumur dengan obat kumur antiseptik atau air garam hangat dapat mengurangi rasa sakit.<emikian pula8 berhati7hati untuk tidak makan apa7apa dengan tepi tajam8 seperti keripik8 karena dapat mengikis terhadap ulkus menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit.

40. Par!titis Pengertian Penyakit gondongan atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan parotitis atau mumps adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi -irus .ParamyEo-irus/ dan menyerang jaringan kelenjar dan saraf. Penyakit ini sering menyerang anak7anak usia %71& tahun dengan gejala khas rasa nyeri dan bengkak pada salah satu atau kedua kelenjar leher .parotis/. Seorang anak akan mendapatkan kekebalah tubuh terhadap -irus ParamyEo-irus dari ibunya sampai usia 1271% bulan saja. tupun jika ibu pernah menderita gondongan atau mendapatkan imunisasi sebelumnya. Penegakan diagnosis 7 7 Tidak semua orang yang terinfeksi mengalami keluhan. Sebanyak )&7+&9 penderita tidak menunjukkan gejala sakit8 tetapi tetap menjadi sumber penularan. ?ejala a5al penyakit gondongan berupa demam8 rasa lesu8 nyeri otot terutama daerah leher8 nyeri kepala8 nafsu makan menurun diikuti pembesaran 'epat dari satu atau dua kelenjar leher .parotis/. ?ejala klasik yang mun'ul dalam 2+ jam adalah anak akan mengeluh sakit telinga dan diperberat jika mengunyah makanan terutama makanan asam. <emam akan turun dalam 170 hari8 dimana suhu tubuh akan kembali normal sebelum pembengkakan kelenjar hilang. Pembengkakan kelenjar menghilang dalam )71 hari. Pada anak laki7laki yang belum pubertas dapat juga mun'ul pembengkakan testis pada minggu pertama atau kedua. Testis yang terserang terasa nyeri8 bengkak dan kulit sekitarnya ber5arna merah. Dika menyerang indung telur pada 5anita dapat ditemukan keluhan nyeri perut bagian ba5ah. *omplikasi dapat berupa infeksi otak .ensefalitis/ dan ketulian namun jarang.

<iagnosis penyakit parotitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium8 ke'uali gejala klinis yang mun'ul tidak klasik untuk parotitis.

Pengobatan 7 Parotitis merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Pengobatan diberikan hanya untuk mengurangi gejalanya saja yaitu parasetamol mengurangi rasa nyeri dan menurunkan demam. Pengobatan dengan anti -irus sampai saat ini masih belum terbukti bermanfaat8 begitu pula dengan obat imunomodulator yang bertujuan meningkatkan daya tahan tubuh. yang untuk dapat untuk

Pemberian nutrisi dan 'airan yang adekuat dapat membantu memper'epat penyembuhan. Penderita penyakit gondongan masih dapat menjadi sumber penularan sampai 1&71+ hari setelah keluhan bengkak ditemukan. Sebaiknya selama periode tersebut8 penderita dianjurkan untuk tidak masuk sekolah atau melakukan aktifitas di keramaian. =ntuk men'egah penularan gondongan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan8 mulai dari 'u'i tangan8 men'u'i bersih peralatan makan atau mainan atau benda lain yang sering disentuh

Pen'egahan 4ara pen'egahan terbaik untuk parotitis adalah dengan imunisasi MMR .mumps8 measles8 rubella/. >aksin ini merupakan kombinasi dengan -aksin measles .'ampak/ dan rubella .'ampak Derman/. <iberikan sebanyak 2 kali8 yaitu pada usia 1% bulan dan kemudian usia %70 tahun.