Anda di halaman 1dari 12

Jonathan Albert Soempiet (10.2013.

446) 1



KAIDAH DASAR BIOETIK
Jonathan Albert Soempiet
NIM : 10.2013.446 (PBL D6)
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna utara No. 6 Jakarta Barat 11510. Tlp. 5666952
joe_jonathan_nathan@hotmail.com

ABSTRAK :
Kaidah Dasar Bioetik (KDB) sangat penting bagi para dokter untuk
mengetahui pegangan apa yang harus dipakai dalam menangani pasiennya. KDB
terbagi atas 4 bagian, dimana masing-masing mempunyai fungsi berbeda. Para
dokter akan diajarkan untuk mengerti apa yang akan mereka lakukan dalam
menghadapi pasien di masa mendatang dan mengetahui bahwa pasien harus
dilayani dengan hormat dan perhatian bukan hanya sekedar pengobatan saja.
KATA KUNCI : Kaidah dasar bioetik, KDB.
ABSTRACT :
Kaidah Dasar Bioetik (KDB) very important to all doctor for knowing what
guide/principle used to take care the patient. KDB have 4 kind, which everyone of
them have many functional. All doctor will learn to understand what will they do
when they have a patient in the future and knowing that patient must be treat
with respect and care not just regular treatment.
KEYWORD : Kaidah dasar bioetik, KDB.


Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 2



PENDAHULUAN
KDB disini merupakan hal baru bagi dokter-dokter, para calon dokter harus
diajarkan mengenai bagaimana cara penanganan kasus terhadap pasien. Para
dokter akan lebih memahami dengan adanya KDB, serta dapat mengetahui hal-
hal yang herus dilakukan terhadap pasien bahwa pasien harus dihormati, bukan
hanya diobati saja. Dokter pun akan mengerti pembagian apa saja dari KDB
sehingga mengetahui pegangan apa yang harus dipakai dalam menangani pasien
di masa mendatang.

CONTOH KASUS
Dr. Bagus
Dokter Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang sangat jauh
dari kota. Sehari-harinya ia bertugas di sebuah Puskesmas yang hanya ditemani
oleh seorang mantra, hal ini merupakan pekerjaan yang cukup melelahkan karena
setiap harinya banyak warga desa yang datang berobat karena Puskesmas
tersebut merupakan satu-satunya sarana kesehatan yang ada. Dokter Bagus
bertugas dari pagi hari sampai sore hari tetapi tidak menutup kemungkinan ia
harus mengobati pasien dimalam hari bila ada warga desa yang membutuhkan
pertolongannya.
Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke Puskesmas sudah ada 5 orang
pasien yang sedang mengantri. Dokter Bagus memeriksa pasien sesuai nomor
urut pendaftaran, hal ini dilakukannya agar pemeriksaan pasien berjalan tertib
dan teratur. Pasien pertama adalah seorang ibu, datang dengan keluhan demam 2
hari yang lalu disertai batuk dan pilek. Setelah memeriksa pasien tersebut dr.
Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin serta nasehat agar
istirahat yang cukup
Pasien kedua adalah seorang anak balita tampak lemah digendong oleh
ibunya. Ibunya mengatakan bahwa anak tersebut sudah 2 hari buang air besar.
Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 3



Setelah memeriksakan anak tersebut, dr. Bagus menyarankan agar anak tersebut
dirawat di rumah sakit yang berada di kota. Namun ibu tersebut menolak karena
tidak mempunyai uang untuk berobat. bailah kalau begitu saya akan member
ibu obat dan ORALIT untuk anak ibu, nanti ibu berikan obat tersebut sesuai
dengan aturan dan usahakan anak ibu minum oralit sesering mungkin, nanti sore
setelah selesai tugas saya akan mampir kerumah ibu untuk melihat kondisi
keadaan anak ibu kata dr. Bagus. pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak
ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan cara membuat air oralit pada ibu ini kata
dr. Bagus kepada pak mantri.
Pasien ketiga adalah seorang anak laki-laki. Pasien tersebut menderita
keganasan stadium lanjut. Sebelumnya pasien tersebut pernah dilakukan
pembedahan di rumah sakit. Namun keluarga pasien mengehntikan
pengobatannya lebih lanjut. Orangtua pasien bukanlah orang kaya sehingga
mereka tak mampu membeli obat-obatan kemoterapeutik yang mahal. Tetapi
orangtua pasien ingin anaknya mendapat pengobatan lebih lanjut. Dokter Bagus
menjelaskan kepada orangtuanya bahwa kondisi anaknya tidak dapat
ditingkatkan dan sangat sulit bagi mereka untuk membeli obat-obatan mahal
tersebut. Dokter Bagus ragu apakah ia harus mengatakan pada mereka untuk
tidak usah membeli obat itu. Karena berdasarkan pengetahuannya pada penyakit
ini, beberapa pasien meninggal walaupun telah diterapi dengan kemoterapi
penuh. Pada pemeriksaan fisik pada pasien ini telah timbul asites dan pasien
tampak sesak. Dokter Bagus menjelaskan kepada orangtua pasien bahwa kondisi
anaknya kurang baik dan kemungkinan untuk sembuh sangat kecil walaupun
diberikan obat-obat kemoterapeutik. pak, yang hanya saya dapat lakukan
adalah member obat-obatan penunjang agar anak bapak tidak terlalu mederita
kata dr. Bagus sambil menyerahkan obat kepada orangtua pasien.
Saat mempersilahkan pasien ke empatnya masuk ke ruang periksa, dr.
Bagus terkejut karena serombongan orang memaksa masuk sambil menggotong
seorang pemuda yang tidak sadarkan diri. Dokter Bagus meminta kesediaan
pasien keempat untuk menunggu diluar karena ia akan terlebih dahulu member
pertolongan pada pemuda tersebut. Ketika yang lain sibuk membaringkan
Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 4



pemuda yang tidak sadarkan diri tersebut, salah satu orang mengatakan bahwa
pemuda tersebut telapak tangan sebelah kanannya masuk ke dalam mesin
penggilingan padi dan setelah 15 menit kemudian telapak tangan pemuda
tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan padi. Pada pemeriksaan,
dr. Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda tersebut tampak bengkak dan
pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata tulang-tulang di telapak tangan tersebut
hancur. Dokter Bagus bertanya kepada orang-orang yang mengantar pemuda tadi
apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda tersebut. Dari serombongan
orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia adalah istri dari
pemuda tersebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan
suaminya dan tindakan yang harus dilakukan adalah amputasi. Walau dengan
berat hati, istri pemuda tersebut menyetujui tindakan yang akan dilakukan dokter
Bagus. Sambil bersimbah peluh, dokter Bagus akhirnya menyelesaikan tindakan
amputasi telapk tangan pemuda yang mengalami kecelakaan tersebut. Melihat
kondisi yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan pulang dengan diberi
beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk control.
Pasien keempat adalah seorang bapak berusia 55 tahun diantar oleh anak
laki-lakinya datang dengan keluhan nyeri pada ulu hati dan terasa berat pada
dada serta punggungnya. Dari hasil pemeriksaan tekanan darah 150/90 dan nadi
cepat tidak teratur. Dokter Bagus curiga pasien tersebut menderita penyakit
jantung sehingga ia membuat surat rujukan ke rumah sakit yang berada di kota.
Setelah menerima penjelasan tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya,
pasien pulang dengan membawa surat rujukan tersebut.
Waktu telah memasuki siang hari, pasien kelima adalah seorang ibu muda
yang sangat cerewet, karena begitu masuk ibu tadi sudah mengeluh berbagai
macam keluhan. Dokter Bagus tidak menanggapi keluhan si ibu muda tadi dan
segera membuat surat rujukan untuk ibu tersebut ke LAB KLINIK Cepat tepat
langganannya yang berada di kota, jauh dari puskesmas. Dari Lab Klinik ini Dr.
Bagus mendapat sejumlah uang, ternyata sejajar jumlahnya dengan pasien yang
ia kirim ke situ. Pernah dua bulan lalu dengan 20 pasien yang ia kirim, ia
memeperoleh Rp. 300.000,-
Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 5



Setelah pasien kelima, dokter Bagus melihat keluar ruangan, tampak pasien
yang masih banyak. pak mantri tolong umumkan ke pasien, saya akan istirahat
makan sejenak kata dr. Bagus. Demikianlah kegiatan sehari-hari dr. Bagus dan
tanpa terasa sudah 25 tahun dokter Bagus mengabdi di desa itu.


RUMUSAN MASALAH

Yang dibahas disini adalah mengenai Kaidah Dasar Bioetik.


DEFENISI

Bioetik merupakan cabang dari etika yang membahas mengenai masalah
yang timbul di bidang kedokteran. Menurut F. Abel boetik merupakan studi
interdisipliner tentang problem yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang
biologi dan ilmu kedokteran, pada skala mikro maupun makro, termasuk
dampaknya terhadapa masyarakat luas serta system nilainya, kini dan masa
mendatang.
1
Norma bioetika saat ini banyak yang tumpang tindih dengan/setidaknya
dipengaruhi norma hokum dan yang melatar-belakanginya. Bioetika merupakan
pandangan lebih luas dari etika kedoteran karena begitu saling mempengaruhi
antara manusia dan lingkungan hidup. Bioetika merupakan genus, sedangkan
etika kedokteran merupakan spesies.
1

Etika merupakan bagian ilmu filsafat yang meliputi hidup baik, menjadi
orang baik, berbuat baik dan menginginkan hal-hal baik dalam hidup. Kaidah
dasar (KDB) adalah prinsip yang memberikan pembenaran moral dalam
melakukan tindakan.


Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 6



PRINSIP DASAR KDB
1, 2

1. Beneficence
2. Non Malificence
3. Autonomy
4. Justice

ASAS PRIMA FACIE

Merupakan pemilihan 1 KDB terabash sesuai konteks (data) yang ada
pada kasus. Dalam penanganan pasien di klinik, setelah indikasi medic,
pengelolaan juga ditentukan oleh seni berbasis KDB. Asas prima facie
mengisyaratkan KDB yang lama akan ditinggalkan, diganti dengan KDB yang baru
yang lebih abash (ceteris paribus)
1

BENEFICENCE

Digunakan ketika pasien merupakan kondisi yang wajar dan berlaku pada
banyak pasien lainnya, sehingga dokter akan melakukan yang terbaik untuk
kepentingan pasien. Dokter telah melakukan kalkulasi dimana kebaikan yang akan
dialami pasiennya akan lebih banyak dibandingkan dengan kerugiannya. Prinsip
prima facienya adalah sesuatu yang berubah menjadi atau dalam keadaan yang
umum.
1
Prinsip Beneficence :
1
1. Prinsip positive beneficence
Prevent evil or harm
Remove evil or harm
Do or promote good
2. Prinsip balancing of utility/proportionality
Balancing of benefit and harm
Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 7



Beneficence pun terbagi atas 2 bagian :
1

1. General beneficence :
Melindungi dan mempertahankan hak yang lain
Mencegah terjadinya kerugian pada yang lain
Menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain
2. Spesific beneficence :
Menolong orang cacat
Menyelamatkan orang dari bahaya


NON MALIFICENCE

Dalam konteks prima facienya adalah ketika pasien (berubah menjadi atau
dalam keadaan) gawat darurat dimana diperlukan suatu intervensi medic dalam
ranka penyelamatan nyawanya. Atau konteks ketika menghadapi pasien yang
renta, mudah dimarjinalisasikan dan berasal dari kelompok anak-anak atau orang
uzur ataupun juga kelompok perempuan (dalam konteks isu gender).
1
Prinsip Non Maleficence :
1
1. Primum non nocere (Utamakan kebaikan)
2. Above all do no harm
3. Satu continuum dengan beneficence :
Not to inflict evil or harm
Prevent evil or harm
Remove evil or harm
Do or promote good
4. Prinsip double effect
Tindakan yang merugikan tidak selalu dianggap tindakan yang buruk
Tindakan tersebut secara intrinsic tidak salah (setidaknya netral)
Niatnya memperoleh akibat baik tak boleh dari sebab buruk (akibat
buruk tak boleh foreseen dan tolerated jadi sarana)
Akibat buruk bukan cara untuk mecapai tujuan pokok/akibat baik
Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 8



Perimbangan yang layak (tak ada cara lain > tepat) : akibat baik masih
> akibat buruk


Autonomy

Dalam konteks autonomy, prima facie disini muncul (berubah menjadi atau
dalam keadaan) pada sosok pasien yang dewasa dan berkepribadian matang
untuk menentukan nasibnya sendiri.
1

Pembagian Autonomy :
1

Kant : Otonomi kehendak = otonomi moral
o Kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri
sendiri kesadaran terbaik bagi dirinya.
o Tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar
(heteronomy)
o Motivasi berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia.
Mill : otonomi tindakan / pemikiran = otonomi individu
o Kemampuan lakukan pemikiran dan tindakan (realisasi keputusan
dan kemampuan melaksanakannya)
o Hak penetuan diri dari sisi pandang pribadi
Prinsip Autonomy :
1
Prinsip autonomy adalah dasar dari doktrin informed consent :

Tindakan medis terhadap pasien harus mendapat persetujuam
(otorisasi) dari pasien tersebut, setelah ia diberi informasi dan
memahaminya
Informed Consent :
1,3,4,5
1. Threshold element
Competence :
o Kapasitas membuat keputusan
o Lebih kearah syarat dapat memberikan consent daripada
sekedar daripada sekedar element
Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 9



o Kompetensi adalah suatu continuum :
Dari kompeten penuh hingga tidak kompeten sama
sekali
Ada 1 titik yang sesuai khusus untuk kompetensi ini,
yaitu bila bias membuat keputusan yang reasonable
berdasarkan alasan yang reasonable
2. Information elements
Disclosure of information / penyampaian :
o Ada kuat atau tidaknya ditentukan :
Tradisi praktek professional
Kebutuhan informasi pada individu pasien tersebut
Kebutuhan informasi bagi reasonable person
o Tak perlu disclosure :
Gawat darurat, tak kompeten, waiver (melepaskan
haknya)
Understanding of information :
o Dipengaruhi oleh :
Illness, irrationally, immaturity
o Masalah :
Nonacceptance : menolak informasi sebagai suatu
kebenaran
False belief : keyakinan yang salah atau irrasional
Bahasa atau istilah
waiver
3. Consent elements
Voluntariness :
o Bebas dari tipuan dan paksaan
o Bebas dari ancaman untuk dibiarkan
o Persuasi masih dibolehkan
Authorization

Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 10



JUSTICE

Prima facienya pada (berubah menjadi atau dalam keadaan) konteks
membahas hak orang lain selain diri pasien itu sendiri. Hak orang lain ini
khususnya mereka yang sama atau setara dalam mengalami gangguan kesehatan
di luar diri pasien, serta membahas hak-hak social masyarakat atau komunitas
sekitar pasien.
1
Prinsip Justice :
1
1. Justice : Fairness (orang perorangan)
Seseorang menerima yang selayaknya dia terima
2. Distributive Justice (masyarakat)
Distribusi sumber daya alam masyarakat
Tujuan :
1
Menjamin nilai tak berhingga dari setiap mahluk (pasien) yang berakal budi
(aspek social).

KAIDAH TURUNAN
6

Kejujuran (veracity)
Kesetiaan (fidelity)
Privacy
Konfidensialitas
Menghormati kontrak (perjanjian)
Ketulusan (honesty)
Menghindari membunuh





Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 11



KESIMPULAN :

KDB merupakan hal yang penting sebagai seorang dokter dalam menangani
kasus-kasus yang ada di Indonesia pada pasien. Dimana KDB dapat membantu
para dokter memutuskan apa yang harus dilakukan sekaligus mengingatkan para
dokter bahwa ada hal-hal yang harus dilakukan pada pasien sebelum bertindak
dan jika hal yang itu tak kita lakukan maka akan berakibat fatal bagi dokter itu
sendiri. Dan kita juga para calon dokter dididik tentang hal ini agar dapat mengerti
bahwa dokter bukan hanya mengobati tapi juga menghormati pasien kita.



















Jonathan Albert Soempiet (10.2013.446) 12



DAFTAR PUSTAKA :

1. Dr. Budiman Hartono, M.Pd.Ked. Bahan kuliah blok I modul I who am i?
bioetika, humaniora, dan profesionalisme dalam profesi dokter.
2013/2014. Jakarta : Universitas Kristen Krida Wacana. Bagian 2, 4-7.
2. K. Bertens. Etika biomedis. 2011. Kanisius.
3. J. Guwandi S.H. Hukum dan dokter. 2008. Sagung Seto.
4. Prof. dr. M. Jusuf Hanafiah, sp. OG (K), Prof. dr. AMri Amir, sp. F(K), SH.
Etika kedokteran dan hokum kesehatan. 2009. EGC.
5. dr. Sagiman, M. Kes. Panduan etika medis. 2006. PSKIFK UMP.
6. Ratna Suprapti Samil. Etika kedokteran Indonesia. 2001. Tridasa Printer.