1

Universitas Kristen Petra
LAPORAN ABDIMAS/ SERVICE-LEARNING
No. 019/PPM/LPPM-UKP/2013









REDESAIN RUMAH ATAU TEMPAT TINGGAL UNTUK YPAB,
YPAC, BILIC DAN KAMPUNG BRATANG TANGKIS



Oleh:


Gunawan Tanuwidjaja, ST., M.Sc., NIP: 10-012









LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS KRISTEN PETRA
TAHUN 2014
2
Universitas Kristen Petra
LEGALISATION PAGE
HALAMAN PENGESAHAN

1. Name of Service Learning
(Nama Service Learning)
: Service Learning course C – Inclusive Design,
Shelter Or Home Redesigning for YPAB,
YPAC, BILIC and Bratang Tangkis Village
(Kuliah Kerja Pelayanan C – Desain Inklusi,
Redesain Rumah atau Tempat Tinggal untuk
YPAB, YPAC, BILIC dan Kampung Bratang
Tangkis)
No Report (No Laporan) /SL/Arsitektur/2014
Field of Research (Bidang Ilmu Riset) : Architectural History and Theory (Sejarah dan
Teori Arsitektur)

2. Lecturer in Charge/ Dosen Pengampu
a. Name (Nama) : Gunawan Tanuwidjaja ST. MSc.
b. Gender (Jenis Kelamin) : Male (Laki – laki)
c. Employee Index Number/Title (NIP/
Pangkat)
: 10-012/ IIIC
d. National Lecturer Index Number (Nomor
Indeks Dosen Nasional/ NIDN)
: 0708087806
e. Strata/ Functional Position (Strata/
Jabatan Fungsional)
: Asisten Ahli
f. Structural Position (Jabatan Struktural) : -
g. Field of Expertise (Bidang Keahlian) : Architectural History and Theory / Inclusive
Design (Sejarah dan Teori Arsitektur/ Desain
Inklusi)
h. Faculty/Program Study (Fakultas/
Program Studi)
: Civil Engineering and Planning/ Architecture
(Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan)
i. Telephone/Faks/E-mail (Telepon/ Fax/
Email)
: 031 298 3382/+62 812 212 208 42/
gunte@peter.petra.ac.id, gunteitb@yahoo.com
4. Students of Service Learning (Mahasiswa
Peserta Service Learning):

: - 22411003, REBECCA ASTRID GUNAWAN
- 22411018, CINDY FRANSISCA TANRIM
- 22411044, ANNEKE DEBORA KUNCORO
- 22411053, WENNY STEFANIE
- 22411055, NERISSA KUMALA TANDIONO
- 22411061, ANNEKE CLAUVINIA PATRIAJAYA
- 22411066, VERONICA YUWONO
- 22411072, MICHELLE MIMOSA
- 22411074, PUSPITA RANI
- 22411075, CENDANA MARCHELIWAN PUTRA
- 22411077, MELLISA STEFANI YOLINO
- 22411086, HENDY GUNAWAN
- 22411095, YOVITA HADI
- 22411096, DICKY LIENARDO LIE
- 22411107, AARON SUTANTO PUTRA
- 22411108, IVAN VILANO
- 22411109, FENNY GUNAWAN
3
Universitas Kristen Petra
- 22411110, THEODORUS AKWILA PREVIAN
- 22411117, ANDRE SUGIANTO
- 22411123, MARINA VICTORIA DHARMAWAN
- 22411124, RONNY CHANDRA KURNIAWAN
- 22411145, TERRY CHRISTIANTO SUROSO
- 22411150, TIFFANY TOMMY
- 22411160, ROBY ISMANTO
- 22411162, MARIA MONICA RAMPISELA
- 22411094, LOUIS SATRIA PURWANTO

5. Project Location (Lokasi Proyek) : in Several Homes in Surabaya (di berbagai
Rumah di Surabaya)
6. Cooperation with Other Institution
Name of Institution/ Address : SMPLB - A YPAB, Jl Gebang Putih no 5,
Surabaya, Rumah Tutus Setiawan
Yayasan Pendidikan Anak Cacat Surabaya
(YPAC), Jl Semolowaru Utara V/2A
Surabaya, Rumah Abdul Syakur dan Rumah
Ahmad Fauzi
Bandung Independent Living Center (BILIC),
yang beralamat di Jl, Jimbaran no D-5
Kompleks Cluster Bali 2, Bandung,
Kampung Bratang Tangkis, Jl, Bratang Gede
VIi, Surabaya , Rumah Hariyono Karno
Rumah Paulina Mayasari, Jalan Bibis no 3
Surabaya
7. Time Extend (Jangka Waktu Kegiatan) : 4 months: February 2014 to May 2014 (4 bulan :
Februari 2014 – Mei 2014)
8. Cost
a. from Petra University : -
b. Other Sources : - Contribution from Students Rp. 1.250.000,-
- Green Impact Indonesia Rp. 650.000,-




Mengetahui :
Head of Program Study
(Ketua Program Studi)





Eunike Kristi Julistiono, S.T., M.Des.Sc.(Hons.)
NIP. 04-001
Surabaya, 24
th
June 2014
(Surabaya, 24 June 2014)

Lecturer of Service Learning Course C –
Inclusive Design
(Dosen Pengampu KKP C - Desain Inklusi )





Gunawan Tanuwidjaja, ST., M.Sc.
NIP: 10-012

4
Universitas Kristen Petra
Menyetujui:
Head of Research and Community Outreach Petra Christian University
(Kepala LPPM-UK Petra)





Juliana Anggono, M.Sc., Ph.D.
NIP: 94-016



5
Universitas Kristen Petra

ABSTRACT (ABSTRAK)

Tempat Tinggal atau Rumah yang aksesibel dan layak merupakan hak yang penting untuk warga
Kota. Karena identifikasi kebutuhan tempat tinggal ini didapati pada observasi kami tentang toilet
atau MCK di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Buta (SMPLB - A
YPAB) maupun di Kampung Bratang Tangkis. Maka kami mengusulkan pengembangan SERVICE –
LEARNING Desain Inklusi tahun lalu menjadi Redesain Rumah atau Tempat Tinggal untuk YPAB,
YPAC, BILIC dan Kampung Bratang Tangkis.

Hal ini dapat dipecahkan dengan proses desain inklusif. Karena itu mata kuliah Kuliah Kerja
Pelayanan Desain Inklusi ini dilakukan dengan tujuan melibatkan para Mahasiswa untuk
menghasilkan desain Rumah atau Tempat Tinggal dengan metode desain inklusif.Selain itu, hal ini
juga bertujuan untuk memberikan pemahaman akan pentingnya proses pelibatan pengguna dalam
desain agar lebih berkelanjutan dan dapat diterima sesuai kebiasaan lokal setempat (pengetahuan
lokal).

Kata Kunci: Aksesibilitas, Redesain Rumah atau Tempat Tinggal untuk YPAB, YPAC, BILIC dan
Kampung Bratang Tangkis)


6
Universitas Kristen Petra
1. Nama Kegiatan:
Kuliah Kerja Pelayanan C – Desain Inklusi, Redesain Rumah atau Tempat Tinggal untuk
YPAB, YPAC, BILIC dan Kampung Bratang Tangkis

2. Bentuk Service Learning:
Bentuk dari Service Learning ini ialah melakukan observasi kebutuhan dari pengguna,
melakukan desain partisipatif dengan melibatkan pengguna dan mensosialisasikan desain tersebut
dalam Program Abdimas Sosialisasi Desain pada tahun mendatang.

3. Identitas Sasaran Service Learning:
3.1. Nama Komunitas Sasaran & Lokasi:
Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Yayasan Pendidikan Anak Buta (SMPLB - A YPAB),
Jl Gebang Putih no 5, Surabaya, ialah sekolah yang membina rekan – rekan siswa Tuna netra. Dan
Yayasan ini ingin mengembangkan tempat tinggal untuk guru (difabel) di dalam kompleks sekolah
ini. Hal ini diperlukan agar meningkatkan kemudahan akses guru dan siswa.
Yayasan Pendidikan Anak Cacat Surabaya (YPAC), Jl Semolowaru Utara V/2A Surabaya,
adalah organisasi sosial swasta yang bersifat nirlaba, yang bekerja untuk memberi layanan rehabilitasi
secara terpadu kepada penyandang cacat anak atau anak berkebutuhan khusus. Salah satu fungsinya
ialah meningkatkan mutu pelayanan dengan sistem terpadu antar rehabilitasi. Hal ini juga menyangkut
penyediaan lingkungan rumah yang aksesibel. Karena itu diperlukan juga desain asrama/ rumah /
tempat tinggal yang aksesibel.
Bandung Independent Living Center (BILIC), yang beralamat di Jl, Jimbaran no D-5
Kompleks Cluster Bali 2, Bandung, adalah lembaga non pemerintah yang memiliki konsep dasar
pergerakan Independent Living atau kemandirian bagi penyandang cacat. Berdasarkan filosofi
tersebut, penyandang cacat dianggap lebih mengetahui dan memahami kebutuhannya. Misi BILIC
juga untuk mengembangkan filosofi Independent Living sebagai pemberdayaan dan penguatan
penyandang cacat untuk meningkatkan partisipasinya dan memperoleh pengakuan sebagai warga guna
mencapai keseteraaan dalam hidup bermasyarakat. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan BILIC
bersama Gunawan T. ST. MSc. di masa lalu ialah Sayembara Internasional Desain Kamar Mandi dan
Evaluasi Aksesibilitas di Ruang Publik Kota Bandung. Serupa dengan organisasi lainnya di atas
BILIC juga mengemukakan kebutuhan desain rumah – tempat usaha yang aksesibel bagi difabel
(mayoritas difabel daksa).
Sedangkan komunitas keempat ialah Kampung Bratang Tangkis, Jl, Bratang Gede VIi,
Surabaya. Warga Kampung Bratang Tangkis dipilih karena kearifan lokal warganya untuk
membangun kawasannya secara swadaya dan kreatif terutama pembangunan rumah secara swadaya.
7
Universitas Kristen Petra
Saat ini warga kampung senior dan difabel juga membutuhkan desain rumah – tempat usaha yang
aksesibel dan kreatif.

3.2. Jumlah Komunitas/ Masyarakat yang dilayani :
Di SMPLB - A YPAB, terdapat 7 orang guru, dan 27 siswa (11 siswa perempuan dan 16 siswa
laki – laki). Sementara YPAC memiliki TKLB, SDLB-D, SDLB-D1, SDLB-G, SMPLB, dan SMALB
dengan jumlah siswa dan guru yang cukup banyak. Sedangkan BILIC memiliki anggota total 200
orang dengan variasi kecacatan tuna daksa, Cerebral Palsy, tuna rungu, tuna netra dll. Sementara itu,
di Kampung Bratang Tangkis terdapat 429 KK di RW 12 dan RW 11, dan beberapa warga senior dan
difabel juga ditemukan di kampung ini dengan persentase 5%.

3.3. Permasalahan Komunitas:
Fasilitas Rumah atau tempat tinggal yang aksesibel merupakan isu penting bagi para difabel
(penyandang cacat), orang senior (usiawan) dan pengguna desain inklusi lainnya seperti ibu hamil,
orang yang membawa barang dan lain – lain. Untuk itu diperlukan sebuah desain partisipatif (yang
melibatkan) penggunanya untuk memberikan masukan dalam desain.

3.4. Tujuan dan Manfaat dari Service Learning:
Tujuan Kuliah Kerja Pelayanan C – Desain Inklusi adalah:
• Memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang desain inklusi
• Memberikan pelayanan desain rumah atau tempat tinggal yang diterima secara lokal bagi komunitas
tersebut pada kedua komunitas di atas
• Memberikan contoh kepada masyarakat awam tentang penerapan prinsip desain inklusi.
Manfaat kegiatan ini ialah :
a. Mahasiswa Arsitektur
• Membantu mahasiswa mengerti dan menghargai keberagaman yang ada di masyarakat.
• Membuka wawasan mahasiswa arsitektur untuk membangun konsep berpikir mengenai desain
inklusi dalam perancangan rumah / tempat tinggal yang berdasarkan pengetahuan lokal
b. Komunitas Dampingan
• Membuka wawasan Komunitas untuk YPAB, YPAC, BILIC dan Kampung Bratang Tangkis)
tentang desain rumah / tempat tinggal yang berdasarkan pengetahuan lokal dan dengan proses
desain yang lebih inklusif.




8
Universitas Kristen Petra
4. Jadwal Kegiatan Service Learning:
N
o
Tahapan
Proyek
Time
(Wakt
u)
Year
(Tahun)
2
0
1
4


Month
(Bulan
ke)
2

F
e
b


3

M
a
r


4

A
p
r


5

M
e
i


Week
(Ming
gu)
Week
(Minggu
ke)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1
0

1
1

1
2

1
3

1
4

1 Kuliah
Desain
Rumah yang
Inklusif
10 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
2 Studi
Literatur
Sederhana
(Desain
Rumah yang
Inklusif)
4 1 1 1 1

3 Penjajakan ke
Masyarakat
dan Perijinan
2 1 1
4 Wawancara
dan
Dokumentasi
Foto
4 1 1 1 1
5 Desain dan
pelaporan
oleh
Mahasiswa
3 1 1 1
6 Lokakarya
Desain di UK
Petra
1 1
7 Penyempurna
an Desain
3 1 1 1
8 Pelaporan
akhir
3 1 1 1
Total 14 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1


9
Universitas Kristen Petra
4.1. Service Learning Proposed Budget (Usulan Biaya Kegiatan Service Learning ) :
Karena dana Service Learning KKP-C tahun ini dialokasikan kepada KKP-A maka dana tidak
ada yang terserap dari Program Studi Arsitektur UK Petra.
No Planned Activities Planned Budget
Percentage to
Total Fund
1 Personnel Fee Rp 0 0.0%
2 Supplies Rp 0 0.0%
3 Equipments Rp 0 0.0%
4 Transportation Rp 0 0.0%
5 Others Rp 0 0.0%
Total Funding Rp 0 0.0%

5. Activities Description (Uraian Kegiatan – Kegiatan):
Program ini difokuskan pada desain fasilitas Rumah atau tempat tinggal yang aksesibel
merupakan isu penting bagi para difabel (penyandang cacat), orang senior (usiawan) dan pengguna
desain inklusi lainnya seperti ibu hamil, orang yang membawa barang dan lain – lain; dengan metode
desain partisipatif (yang melibatkan) penggunanya untuk memberikan masukan dalam desain.
Tahapan yang akan dilakukan mencakup:
• Kuliah Desain Rumah yang Inklusif
• Studi Literatur Sederhana (Desain Rumah yang Inklusif)
• Penjajakan ke Masyarakat dan Perijinan
• Wawancara dan Dokumentasi Foto
• Desain dan Pelaporan oleh Mahasiswa
• Lokakarya Desain di UK Petra
• Penyempurnaan Desain
• Pelaporan Akhir

5.1. Persiapan
Kuliah Desain Rumah yang Inklusif, Studi Literatur Sederhana (Desain Rumah yang Inklusif)
dan Penjajakan ke Masyarakat dan Perijinan diadakan dalam tahapan persiapan.

5.1.1. Kuliah Desain Rumah yang Inklusif
Pada tanggal 19 Februari 2014, diadakan Kuliah 1 - Pengantar Desain Inklusi. Dalam
kuliah pertama disampaikan keseluruhan materi yang sekiranya akan dibahas selama satu
semester.
10
Universitas Kristen Petra
Selanjutnya pada 26 Februari 2014, diadakan Kuliah 2 – dengan Nara Sumber Tamu
Pak Tutus tentang Desain Inklusi. Pak Tutus menjelaskan tentang proses orang-orang difabel
untuk tetap bertahan hidup dengan mandiri. Beliau menjelaskan bahwa fasilitas di Kota kita
ini tidak ramah terhadap mereka, orang-orang berkebutuhan khusus. Perlu gebrakan baru dari
arsitek dalam mendesain bangunan tidak hanya memikirkan keindahan belaka, namun juga
kenyamanan termasuk bagi kaum difabel.
Kemudian pada 12 Maret 2014 diadakan Kuliah 3 - Simulasi Desain Inklusi.
Mahasiswa diberikan kesempatan untuk merasakan menjadi berragam orang difable mulai
dari orang pincang, orang buta, sampai dengan orang berkursi roda. Simulasi dilakukan mulai
dari Gedung P lantai 7, Gedung P lantai 1, menyebrang ke Auditorium, dilanjutkan ke
Gedung W lantai 10. Mahasiswa berpasangan dua-dua demi saling menjaga satu dengan yang
lainnya. Dari simulai dapat dirasakan bagaimana susahnya menjadi orang difable. Selain itu
terbukti bahwa kampus UK Petra belum cukup ramah akan aksesibilitas kaum difabel.

Gambar 1 Kuliah Desain Inklusi
11
Universitas Kristen Petra

Gambar 2 Kuliah Desain Inklusi

Gambar 3 Simulasi Desain Inklusi
12
Universitas Kristen Petra

Gambar 4 Simulasi Desain Inklusi

5.1.2. Studi Literatur Sederhana
Fenomena aksesibilitas yang buruk terkait dengan sebuah pendekatan baru dalam Arsitektur
yang disebut Universal Design atau Inclusive Design.


13
Universitas Kristen Petra

Gambar 5 Ilustrasi Universal Design atau Inclusive Design

Inclusive Design dapat didefinisikan sebagai “Rancangan produk mainstream dan/atau jasa
yang dapat diakses, dan digunakan oleh sebanyak mungkin orang secara wajar tanpa perlu untuk
adaptasi khusus atau desain khusus." Hal ini berarti desain ini dihasilkan secara holistik (http://www-
edc.eng.cam.ac.uk/betterdesign/).
1

Kebutuhan desain ini dihasilkan karena biasanya desain yang konvensional melayani mereka
yang memiliki kemampuan biasa, sehingga orang – orang yang memiliki kemampuan berbeda tidak
dapat menggunakan bangunan yang ada dan akhirnya mengalami diskriminasi bahkan pengucilan
secara tidak langsung dari masyarakat.
Di sisi lain terdapat definisi Desain Universal yang mengacu spektrum yang luas dari ide - ide
perencanaan arsitektur untuk menghasilkan bangunan, produk dan lingkungan yang lebih aksesibel
baik bagi individu berbadan sehat dan berkemampuan berbeda (penyandang cacat).
Istilah Universal Design/ Desain Universal diciptakan oleh arsitek Ronald L. Mace untuk
menggambarkan proses merancang semua produk dan lingkungan dibangun untuk menjadi estetika
dan digunakan semaksimal mungkin oleh semua orang, terlepas dari usia mereka, kemampuan, atau
status hidup. Hal ini kemudian dituangkan oleh Selwyn Goldsmith, penulis Designing for the
Disabled (1963), (Merancang untuk Penyandang Cacat), yang benar-benar memelopori konsep akses
yang mudah untuk orang cacat. Prestasinya yang paling signifikan adalah penciptaan ramp pinggir
jalan yang menjadi fitur standar dari lingkungan binaan
(http://en.wikipedia.org/wiki/Universal_design).
2

Berbeda dengan Desain Universal, Desain Inklusi menyadari bahwa desain seharusnya
mewadahi kebutuhan semakin banyak orang dengan desain yang cukup adaptif dan tetap terjangkau.

1
ttp://www- edc.eng.cam.ac.uk / betterdesign /
2
http://en.wikipedia.org/wiki/Universal_design
14
Universitas Kristen Petra
Hal ini diawali dengan pelibatan pengguna dalam desain yang ada.
(http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/).
3

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Inclusive Design bahkan Inclusive Architecture sangat
diperlukan untuk memfasilitasi pengguna – pengguna yang selama ini terpinggirkan seperti kaum
difabel, orang tua dan anak - anak. Golongan masyarakat ini memang biasanya tidak diperhatikan
karena kurangnya perhatian Pemerintah, Pihak Swasta dan Masyarakat terhadap kebutuhan mereka.
Salah satu pengguna Desain Inklusi ialah kaum difabel (different-ability people) yang berarti
orang dengan kemampuan yang berbeda (http://cakfu.info). Kaum difabel pada umumnya dipandang
sebelah mata, tetapi sebenarnya mereka memiliki potensi untuk berkembang jika didukung oleh
dengan fasilitas bangunan yang aksesibel.
Aksesibilitas para difabel di bangunan- bangunan umum telah dijamin dalam Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1997, pasal 1 (ayat 1) dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1998, khususnya
pasal 1 (ayat 1) bahwa “kaum difabel berhak mempunyai kesamaan kedudukan, hak dan kewajiban
dalam berperan dan berintegrasi secara total sesuai dengan kemampuannya dalam segala aspek
kehidupan dan peng -hidupannya” (Undang – Undang No 4 Tahun 1997 dan PP 43 Tahun 1998).
Tetapi dalam kenyataannya bangunan – bangunan umum tidak mengikuti standar aksesibilitas
bagi pengguna desain inklusi. Data SUSENAS tahun 2000 menunjukkan bahwa kaum difabel di
Indonesia mencapai 1,46 juta penduduk (0,74 % dari 197 juta jiwa penduduk Indonesia pada tahun
itu). Sehingga mereka tidak menikmati aksesibilitas pada bangunan – bangunan umum terutama
pendidikan sehingga secara sosial mereka termarjinalisasikan.
Fasilitas Mandi Cuci Kakus merupakan bagian penting rumah bagi semua pengguna. Karena itu
diperlukan sebuah desain fasilitas mandi cuci kakus di SMPLB-A YPAB dan Kampung Bratang
Tangkis yang berdasarkan pengamatan prilaku dan wawancara penggunanya.
Pendekatan Desain Inklusi harus memenuhi etos sbb
(http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/):
4

• User Centered (Berpusat pada Kebutuhan Pengguna) – setiap Individu dalam populasi memiliki
berbagai kemampuan, ketrampilan, pengalaman masa lalu, keinginan dan pendapat yang berbeda.
Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hal ini dengan waktu yang tepat, dengan fokus yang
tepat dan dalam kerangka desain yang tepat agar dapat menghasilkan pemahaman dan kebutuhan
pengguna.
• Population aware (Kesadaran atas Populasi) – Sudut pandang umum yang salah ialah seseorang
menggolongkan sebagai penyandang cacat atau sebagai orang yang mampu sepenuhnya, namun
sesungguhnya terdapat spektrum kemampuan yang luas yang tampak jelas pada populasi apapun.

3
ttp://www- edc.eng.cam.ac.uk / betterdesign /
4
ttp://www- edc.eng.cam.ac.uk / betterdesign /
15
Universitas Kristen Petra
• Business focused (Terfokus pada Bisnis) - Setiap keputusan yang dibuat selama siklus desain dapat
mempengaruhi hasil desain inklusi dan kepuasan pengguna. Kegagalan untuk memahami
kebutuhan pengguna dapat menghasilkan produk yang memisahkan orang - orang secara tidak
perlu dan menimbulkan lebih banyak frustrasi, sehingga menimbulkan masalah lainnya.
Sebaliknya, keberhasilan implementasi desain inklusi dapat menghasilkan produk yang
fungsional, bermanfaat, diinginkan, dan akhirnya menguntungkan.
Dapat disimpulkan bahwa dengan pendekatan Desain Inklusi di atas maka desain arsitektural
juga harus memperhatikan kelayakan ekonomi, jumlah dan typologi pengguna, dan kebutuhan
pengguna yang akan menggunakannya. Untuk itu diperlukan riset awal sebelum melakukan desain.
Kondisi ini menyebabkan sulitnya penerapan Desain Inklusi dibandingkan dengan Desain
konvensional.
The 7 Prinsip Desain Universal dikembangkan pada tahun 1997 oleh sebuah kelompok kerja
dari arsitek, desainer produk, teknisi dan peneliti desain lingkungan, yang dipimpin oleh almarhum
Ronald Mace di North Carolina State University.The tujuan Prinsip adalah untuk memandu desain
lingkungan, produk dan komunikasi. Menurut Pusat untuk Desain Universal di NCSU, Prinsip "dapat
diterapkan untuk mengevaluasi desain yang ada, membimbing proses desain dan mendidik kedua
desainer dan konsumen tentang karakteristik produk yang lebih bermanfaat dan lingkungan."
(http://www.universaldesign.ie/exploreampdiscover/the7principles):
• PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan)
• PRINSIP DUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan)
• PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif)
• PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas)
• PRINSIP KELIMA: Tolerance for Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan)
• PRINSIP KEENAM: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah).
• PRINSIP KETUJUH: Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan Ruang
untuk Pendekatan dan Penggunaan)
PRINSIP PERTAMA: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan) - Desain akan menjadi
berguna dan dapat dipasarkan untuk seluruh orang dengan kemampuan yang beragam.
Panduan:
1a Menyediakan sarana yang sama untuk digunakan oleh semua pengguna: fasilitas yang identik bila
memungkinkan, fasilitas yang setara bila tidak memungkinkan.
1b Hindari memisahkan atau melakukan stigmatisasi pada pengguna manapun.
1c Menyediakan privasi, keamanan, dan keselamatan yang sama bagi semua pengguna.
1d Membuat desain yang menarik bagi semua pengguna.
PRINSIP KEDUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan) - Desain
mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
16
Universitas Kristen Petra
Panduan:
2a. Memberikan pilihan dalam metode yang digunakan.
2b. Mengakomodasi kemungkinan pengguna tangan kanan atau tangan kiri.
2c. Memfasilitasi keakuratan dan tingkat presisi dari pengguna.
2d. Memberikan kemungkinan adaptasi terhadap kecepatan pengguna.
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif) -
Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
Panduan:
3a. Menghilangkan kompleksitas yang tidak perlu.
3b. Konsisten untuk mencapai harapan pengguna dan mengantisipasi intuisi pengguna.
3c. Mengakomodasi berbagai jenis keterampilan melek huruf dan keterampilan bahasa.
3d. Mengatur informasi sesuai dengan derajat kepentingannya.
3e. Menyediakan masukan dan umpan balik yang efektif selama dan setelah selesai penggunaan atau
tugas.
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas) – Desain harusnya
mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada pengguna, terlepas
dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
Panduan:
4a. Menggunakan bentuk komunikasi yang beragam ( engan gambar, verbal, taktil) untuk
mempresentasikan informasi penting secara memadai.
4b. Memberikan kontras yang cukup antara informasi penting dan sekitarnya.
4c. Memaksimalkan "keterbacaan" informasi penting.
4d. Melakukan diferensiasi elemen – elemen cara menjelaskan (misalnya, memudahkan untuk
penyampaian instruksi atau petunjuk).
4e. Menyediakan kesesuaian dengan berbagai teknik atau peralatan yang digunakan oleh orang-orang
dengan keterbatasan indrawi.
PRINSIP KELIMA: Tolerance for Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan) –
Desain harus meminimalkan bahaya dan konsekuensi yang merugikan dari tindakan disengaja atau
kecelakaan.
Panduan:
5a. Mengatur elemen untuk meminimalkan bahaya dan kesalahan: elemen yang paling mudah diakses;
unsur yang sangat berbahaya harus dieliminasi, terisolasi, atau dilindungi.
5b. Memberikan peringatan atas potensi bahaya dan kesalahan.
5c. Menyediakan gagal fitur yang tidak memberikan kesempatan untuk gagal (atau aman walaupun
gagal bekerja).
17
Universitas Kristen Petra
5d. Mencegah terjadinya tindakan yang tidak sadar dalam hal yang membutuhkan kewaspadaan.
PRINSIP KEENAM: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah) - Desain
dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
Panduan:
6a. Membiarkan pengguna untuk mempertahankan posisi tubuh netral.
6b. Menggunakan kekuatan operasi yang wajar.
6c. Meminimalkan tindakan berulang.
6d. Meminimalkan upaya fisik yang terus menerus.
PRINSIP KETUJUH: Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan
Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan)- Ukuran dan ruang yang sesuai seharusnya disediakan
untuk memudahkan pendekatan, pencapaian, manipulasi, dan penggunaan terlepas dari ukuran tubuh
pengguna, postur, atau mobilitasnya.
Panduan:
7a. Memberikan garis yang jelas terlihat pada unsur-unsur penting bagi setiap pengguna yang berada
pada posisi duduk atau berdiri.
7b. Membuat setiap pengguna dapat mencapai semua komponen secara nyaman baik dalam posisi
duduk atau berdiri.
7c. Mengakomodasi variasi di tangan dan ukuran genggaman.
7d. Menyediakan ruang yang cukup untuk penggunaan alat bantu atau bantuan pribadi.
(http://www.ncsu.edu/ncsu/design/cud/pubs_p/docs/poster.pdf).
5

Dapat disimpulkan bahwa Aksesibilitas dalam Desain Inklusi bukan semata - mata mengikuti
standar atau pedoman aksesibilitas, Tetapi mewadahi kebutuhan pengguna dengan solusi desain yang
kreatif, efektif dan layak secara ekonomi. Sehingga seharusnya kriteria Desain Inklusi mencakup sbb
(http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/)
6
:
• Functional (Fungsional) – Produk - produk harus menyediakan fitur yang sesuai untuk memenuhi
kebutuhan – kebutuhan dan keinginan – keinginan pengguna dimaksud. Sebuah produk dengan
banyak fitur tidak dijamin akan fungsional!
• Usable (Dapat digunakan) – Produk – produk yang mudah dioperasikan adalah yang menyenangkan
dan memberikan kepuasan bagi pengguna, sedangkan produk – produk yang memberikan tuntutan
tinggi pada pengguna akan menyebabkan frustrasi bagi banyak orang dan bahkan memisahkan
beberapa orang sama sekali.
• Desirable (Diinginkan) – Sebuah produk mungkin sangat diinginkan karena berbagai alasan,
termasuk menjadi mencolok dari segi estetis atau menyenangkan untuk disentuh, menunjukkan status
sosial, atau membawa dampak positif terhadap kualitas hidup.

5
http://www.ncsu.edu/ncsu/design/cud/pubs_p/docs/poster.pdf
6
http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/):
18
Universitas Kristen Petra
• Viable (Layak) – Keberhasilan bisnis dari produk dapat diukur dengan profitabilitasnya. Hal ini
biasanya merupakan hasil dari produk yang fungsional, bermanfaat, dan diinginkan, dan yang
dipasarkan pada saat yang tepat dengan harga yang tepat.


Gambar 6. Proses Desain Inklusi (http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/)
7
:
Rumah yang Universal adalah kehidupan yang mudah untuk semua orang dengan membuat
rumah lebih dapat digunakan banyak orang dengan sedikit atau tanpa biaya tambahan. Desain
universal adalah sebuah pendekatan untuk desain yang menggabungkan produk serta fitur bangunan
dan unsurnya, sedapat mungkin dapat digunakan oleh semua orang. Sementara persyaratan desain
yang diperoleh atau diadaptasi oleh kode atau standar untuk beberapa bangunan dan ditujukan hanya
untuk menguntungkan beberapa orang (orang-orang dengan keterbatasan mobilitas), konsep desain
universal menargetkan semua orang dari segala usia, ukuran, dan kemampuan yang diterapkan untuk
semua bangunan (Mace, R, 1998).
8

Apa yang dimaksud dengan fitur desain rumah yang universal? Setiap komponen dari sebuah
rumah yang dapat digunakan oleh semua orang, terlepas dari tingkat kemampuan atau kecacatan. Fitur
Universal adalah produk umumnya pada bangunan standar atau fitur yang telah ditempatkan berbeda,
dipilih dengan cermat, atau dihilangkan. Sebagai contoh, stopkontak yang standar dapat ditempatkan
lebih tinggi dari biasanya di atas lantai, standar tapi pintu yang lebih luas bisa dipilih, dan pijakan
pada pintu masuk dapat dihilangkan untuk membuat perumahan lebih universal digunakan (Mace, R,
1998).
9


7
http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/):
8
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
9
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
19
Universitas Kristen Petra
Bangunan dan desain industri telah merespon kebutuhan ini untuk perubahan dengan
memproduksi produk khusus dan ruang untuk kelompok khusus. Tapi "khusus" sering identik dengan
"mahal". Spesialisasi mengarah ke standar bangunan yang rumit dan produk yang pada akhirnya
jarang memenuhi kebutuhan lebih dari sebagian kecil dari mereka. Mereka dimaksudkan untuk
membantu dan sering tampak untuk menstigmatisasi dan memisahkan mereka lebih dari orang lain
(Mace, R, 1998).
10

Desain universal berhasil karena melampaui spesialisasi. Konsep mempromosikan rancangan
setiap produk dan bangunan dilakukan sehingga setiap orang dapat menggunakannya semaksimal
mungkin - setiap kran, lampu, shower stall, telepon umum, atau pintu masuk. Desain universal adalah
lompatan revolusioner, tetapi praktis maju dalam evolusi bangunan dan prosedur desain. Ketika
desainer dan produsen merebut konsep ini, desain universal akan menjadi umum, nyaman, dan
menguntungkan (Mace, R, 1998).
11

Fitur DESAIN UNIVERSAL di Perumahan yang penting diperhatikan adalah elemen, fitur, ide
atau konsep yang berkontribusi atau bisa juga terhadap komponen perumahan universal. Daftar ini
dimaksudkan sebagai panduan. Fitur yang dideskripsikan adalah yang akan kita cari di perumahan
universal, tetapi tidak semua diharapkan untuk dimasukkan dalam setiap rumah yang diberikan
(Mace, R, 1998).
12

Beberapa rekomendasi yang terbatas, beberapa daftar pilihan, dan beberapa lingkup pernyataan
yang mengidentifikasi berapa banyak fitur tertentu harus atau akan dimasukkan. Jelas, karakteristik
desain yang lebih universal atau fitur yang disertakan, semakin membuat rumah mudah digunakan
(Mace, R, 1998).
13

Sebuah komponen kunci dari desain universal adalah daya tarik pasar, itu ditambahkan pada
rumah karena fitur universal terintegrasi ke dalam desain secara keseluruhan. Dilakukan dengan baik,
desain universal menjadi elemen yang hampir tak terlihat (Mace, R, 1998).
14

Daftar ini berisi fitur struktural dan non-struktural. Fitur struktural, harus dipertimbangkan
untuk rumah baru dan renovasi besar. Fitur Non-struktural, yang lebih murah dan lebih mudah untuk
dimasukkan ke dalam rumah yang sudah jadi (Mace, R, 1998).
15


10
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
11
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
12
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
13
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
14
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
15
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing and
Urban Development, U.S.
20
Universitas Kristen Petra
PINTU MASUK
1. PINTU MASUK TANPA TANGGA (STEPLESS)
Karakteristik
• Cara terbaik adalah untuk membuat semua pintu masuk rumah stepless.
• Lebih dari satu pintu masuk stepless lebih disukai.
• Setidaknya satu pintu masuk stepless sangat penting, tidak melalui garasi atau dari teras atau
deck.
Manfaat
• Mudah untuk memindahkan perabot dan peralatan masuk dan keluar.
• Baik untuk kereta bayi dan sepeda.
• Mudah untuk membawa bahan makanan dan paket.
• Aman di kondisi basah atau dingin.
• Mudah untuk membersihkan salju, es, dan daun.
2. FITUR LAIN PINTU MASUK (ENTRANCE)
• Kenaikan maksimum satu-setengah inci pada ambang pintu. Mengurangi bahaya tersandung.
Boneka dan gerobak pindah dengan mudah .
• Minimum 5 ' x 5 ' ruang bersih di dalam dan di luar pintu masuk. (Bisa lebih kecil jika pintu
otomatis disediakan). Memungkinkan untuk manuver saat membuka atau menutup pintu.
• Perlindungan cuaca seperti teras, tenda, overhang atap, dan / atau carport. Menyediakan ruang
terlindung bagi orang-orang saat membuka pintu, menunggu carpool, dll. Sedikit kerusakan akibat
cuaca pada pintu.
• Jendela di pintu , dan / atau jendela di dekatnya. Memungkinkan semua penghuni, termasuk anak-
anak dan pengguna kursi roda untuk melihat siapa yang di pintu sebelum membukanya.
• Bel yang menyala pada ketinggian terjangkau, atau interkom dengan link telepon portabel.
Memungkinkan pengunjung untuk berkomunikasi dengan penghuni.
• Cahaya di luar pintu masuk dan detektor gerakan melalui cahaya. Menambahkan penerangan
umum dan rasa aman. Menghilangkan pandangan gelap ke rumah.
• Nomor rumah harus besar, kontras, terletak di tempat yang menonjol. Mudah untuk teman dan
personel gawat darurat untuk mencari tempat tinggal.
3. INTERIOR SIRKULASI
• Sebuah desain yang terbuka. Meminimalkan lorong-lorong dan pintu dan memaksimalkan garis
pandang.
• Setidaknya satu kamar tidur dan kamar mandi yang dapat diakses harus ditempatkan pada lantai
dasar (tingkat yang sama seperti dapur, ruang tamu, dll)
• Lebar bukaan bersih pintu (32" minimum, 34" - 36" lebar pintu), untuk semua pintu.
Meningkatkan sirkulasi, terutama dengan banyak pengunjung, seperti di pesta-pesta. Mengurangi
kerusakan kusen pintu saat memindahkan furnitur besar atau peralatan, peralatan, tangga.
21
Universitas Kristen Petra
• Lebar rute sirkulasi minimum 42". Ruang berputar di semua kamar (5 'diameter). Menyediakan
ruang manuver di lorong dan lengkungan.
4. SIRKULASI VERTIKAL
• Semua tangga harus memiliki lebar yang tepat dan memiliki ruang di bagian bawah untuk
instalasi lift platform, jika diperlukan. Akses mudah antara lantai.
Jika dua lantai hunian:
• Setidaknya satu set lemari tumpuk, pantries, atau ruang penyimpanan.
• Sebuah lift dengan minimal 3' x 4' luas lantai yang dipasang pada saat pembangunan awal.
Menjadi poros untuk instalasi lift di kemudian hari untuk penghematan biaya yang besar.
• Pegangan tangga yang diperpanjang secara horizontal di luar anak tangga pada bagian atas dan
bawah. Pengguna yang stabil di atas dan bawah tangga.
5. KAMAR MANDI
• Ruang bersih ( 3 ') di depan dan satu sisi toilet. Memudahkan untuk manuver di sekitar toilet.
• Bebaskan dinding sekitar toilet , bak mandi , dan mandi untuk penempatan pegangan di masa
depan. Memungkinkan untuk penempatan pegangan setelah konstruksi tanpa membuka dinding
untuk menambahkan blocking.
• Pegangan tidak boleh stainless steel atau krom. Gunakan warna untuk mencocokkan dekorasi.
Pegangan membuatnya lebih mudah dan lebih aman untuk semua orang untuk masuk dan keluar
dari bak mandi atau shower. Pegangan juga berfungsi ganda sebagai tempat handuk.
• Cermin panjang harus ditempatkan dengan bagian bawah tidak lebih dari 36 " di atas lantai dan
ketinggian atas setidaknya 72 “. Anak-anak dan orang-orang yang duduk dapat menggunakan
cermin ketika di wastafel. Mengurangi kerusakan akibat air untuk dinding finish di belakang
wastafel. Membuat ruang tampak lebih luas.
• Kepala pancuran yang dapat digerakkan atau 60"-72" selang fleksibel memungkinkan mudah
digunakan oleh orang-orang dari semua ketinggian . Dapat disesuaikan dengan tinggi tiap
pengguna. Membantu menghindari basahnya rambut, perban, gips.
6. SAKLAR DAN KONTROL
• Saklar lampu tingginya 44 "- 48", dan termostat dengan ketinggian maksimum 48”. Mudah
dijangkau dengan seluruh tangan (misalnya dengan siku). Lebih mudah diakses oleh anak-anak.
• Outlet listrik di tempat tidur dan meja, setiap sisi untuk komputer dan peralatan elektronik serta
peralatan pribadi yang sering digunakan.
• Outlet listrik, tinggi minimum 18”. Mudah untuk mencapai tanpa membungkuk dan dari posisi
duduk. Pengguna cenderung untuk mencabut peralatan dengan menarik kabel.
7. JENDELA
• Jendela untuk melihat, tinggi maksimum 36”. Bisa melihat keluar dari posisi duduk. Jendela yang
lebih panjang menambahkan cahaya alami dan elegan untuk kamar. Mengurangi pencapaian
untuk membuka, menutup, dan mengunci jendela.
22
Universitas Kristen Petra

Steinfeld, E. & White, J., (2009)
16
mengungkapkan bahwa tujuan dari desain inklusi adalah
membuat bangunan dan masyarakat yg semakin layak huni bagi semua orang. Desain inklusi harus
merangkul tujuan desain lain yg baik dan memperkuatnya, & tidak bertentangan dengan hal tersebut.
Lima hal yg paling penting adalah aspek berkelanjutan, pemasaran, keterjangkauan, keamanan, dan
interaksi sosial.
Dalam buku ini, ditunjukkan bagaimana aksesibilitas desain dapat menjadi sesuai dengan tujuan
tersebut. Visitability merupakan strategi yang sangat terfokus dalam kontinuitas evolusi yang
merupakan akses kebijakan perumahan dan praktek di Amerika Serikat. Ini adalah pendekatan
terjangkau yang dapat diarungi serta berkelanjutan untuk mengintegrasikan fitur aksesibilitas dasar
sebagai praktik konstruksi rutin di semua rumah yang baru dibangun pada 1-3 keluarga (Steinfeld, E.
& White, J., 2009)
17
.
Seperti yg dipahami, visitability berusaha untuk membuat rumah lebih mudah diakses dengan
bertemu tiga kondisi:
• One zero-step pintu masuk di depan, samping atau belakang rumah;
• jarak lebar pintu 32 inch dan lorong dengan setidaknya 36 inci lebar dalam;
• Dan, setidaknya half bath yang dapat diakses di lantai utama.



16
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for Inclusive
Design & Environmental Access, New York, United States of America.
17
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for Inclusive
Design & Environmental Access, New York, United States of America.
23
Universitas Kristen Petra
Gambar 7. Denah Rumah yang dapat didatangi (Visitable Home) (Steinfeld, E. & White, J., 2009)
18
.
Hal-hal ini yg dianggap paling penting bagi orang dengan gangguan mobilitas, baik yg
mengunjungi atau tinggal di rumah, setidaknya untuk sementara (Steinfeld, E. & White, J., 2009)
19
.
Ini adalah contoh desain rumah keluarga tunggal yang menerapkan visitability. Dengan
memiliki sebuah pintu masuk dan teras di belakang rumah, teras depan dapat diakses dari dalam,
perencanaan terbuka, dan kamar mandi yg terletak pada lantai dasar. Kamar mandi memiliki pintu 36-
inch dan cukup untuk menggunakan kursi roda yang nyaman. Denah ini juga memiliki fitur tambahan
yang mendukung orang tua. Dapur berbentuk U mengurangi upaya untuk semua pengguna. Rumah
memiliki ruang untuk lift bagi perencanaan yg akan datang dan lantai kedua sepenuhnya dapat
diakses. Perancangan terbuka memungkinkan orang untuk menggunakan ruang-ruang yang ada
dengan banyak cara. Desain ini merupakan salah satu strategi desain inklusi (Steinfeld, E. & White, J.,
2009)
20
.
Standar Visitability: Sisa buku ini memberikan ringkasan dari persyaratan untuk unit hunian
visitable di ICC / ANSI A117.1 (2009). The ICC / ANSI A117.1 Standar Sarana Akses dan
Penggunaan Bangunan adalah standar konsensus di AS yg mendefinisikan rincian akses konstruksi,
serta direferensikan oleh sebagian besar kode bangunan di negara AS (Steinfeld, E. & White, J., 2009)
21
.
Unit Entrance (1006.2): Setidaknya satu unit masuk akan berada pada jalur sirkulasi
sesuai dengan bagian 1006,5 (Circulation Path) dari jalan umum atau trotoar, unit hunian
jalan, atau garasi.
Connected and Interior Spaces/ Ruang Interior (1006.3 & 1006.4): Sebuah jalur sirkulasi
sesuai dengan bagian 1006,5 (Circulation Path) akan menghubungkan pintu masuk unit yang
terletak di jalur sirkulasi ke ruang berikut:
• Pintu masuk toilet/ kamar mandi
• Satu ruang hunian tambahan dengan area 70 m
2
minimum
• Ketika berada pada lantai entrance, area persiapan makanan sesuai dengan bagian 1006.7 (food
preparation areas).

18
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for Inclusive
Design & Environmental Access, New York, United States of America.
19
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for Inclusive
Design & Environmental Access, New York, United States of America.
20
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for Inclusive
Design & Environmental Access, New York, United States of America.
21
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for Inclusive
Design & Environmental Access, New York, United States of America.
24
Universitas Kristen Petra
Jalur Sirkulasi (1006.5): Komponen (1006.5.1): Jalur sirkulasi harus melengkapi satu atau
lebih dari elemen-elemen berikut: permukaan jalan dengan kemiringan yg tidak lebih dari 1:20,
perihal pintu, ramp, eskalator, & lift.


Gambar 8 Lorong & koridor minimum 36 inchi, dengan pinch points yg diijinkan sebesar 32 inchi.
Lebar bersih tidak lebih dari 24 inchi. Pintu berengsel – minimal lebar 31 ¾ inchi diukur dari kusen
ke pintu bagian dalam ketika terbuka 90
0
.
Ramps (1006.5.4): Landai sesuai dengan pasal 405 mengenai ramp.
Kamar Mandi & Toilet (1006.6): Kamar mandi/ toilet sesuai dengan bagian 1006.4
(Ruang Interior), & mencakup hal-hal sebagai berikut
• WC & toilet
• Perkuatan & sisa ruang untuk pembersihan instalasi yg akan datang di toilet.
• Perkuatan dinding untuk instalasi yang akan datang pada grab bars sebesar 18 inchi (455 mm)
diukur dari dari tengah toilet.
• WC setidaknya 15 inchi (380 mm) diukur dari tengah toilet.
• Sisa ruang pada toilet harus memenuhi atau bahkan melampai persyaratan minimum untuk
setidaknya satu dari bagian-bagian berikut:

25
Universitas Kristen Petra
Gambar 9 Denah Toilet Aksesibel di Rumah dengan “Pencapaian secara Pararel” (1004.11.3.1.2.1):


Gambar 10 Denah Toilet Aksesibel di Rumah dengan “Pencapaian dari Depan” (1004.11.3.1.2.2):
Area Persiapan Makanan (1006.7): Ketika ditempatkan pada level entrance, area untuk
persiapan makanan harus mencakup wastafel, alat memasak, dan kulkas. Jarak bebas antara semua
lemari yg berlawanan, counter tops, peralatan atau dinding dalam area persiapan makanan minimum
40 inchi (1015 mm).
Kontrol Pencahayaan & Wadah Outlet (1006.8): Garis tengah dari wadah outlet dan bagian
operasi kontrol terletak mininum 15inchi (380 mm) & maksimum 48 inchi (1220 mm) diatas lantai
finishing.

Thompson, A., (2005)
22
mengungkapkan bahwa manusia membutuhkan sebuah rumah
sebagai tempat berlindung. Namun konsekuensinya, manusia harus merawat rumahnya.

22
Thompson, A., (2005), “Homes That Heal and Those That Don’t”, New Society Publisher, Canada.
26
Universitas Kristen Petra
Apabila manusia menjaga rumahnya tetap sehat, maka manusia juga turut menjaga kesehatan
keluarga kita.
1. Slab on grade (Lantai Beton)
Slab on grade berarti fondasi tiang beton dituangkan langsung ke site bangunan, setelah
site tersebut selesai disiapkan. Metode yang sederhana ini akan meminimalisir kemungkinan
adanya hewan-hewan dan benda-benda menjijikkan lain tinggal di daerah bawah rumah anda.
2. Attics You Can Live With (Lantai Attic yang dapat ditinggali)
Loteng yang sehat dapat didesain dengan insulasi yang terbuat dari kapas manufaktur
limbah jeans biru. Sebelum melakukan insulasi, ruang loteng harus dibersihkan dengan
vacuum cleaner HEPA untuk memastikan tidak ada puing-puing atau zat kontaminan.
Keseluruhan pipa ventilasi diarahkan keluar atap sehingga tidak menimbulkan kelembaban
atau bau-bauan sisa masakan di loteng rumah tersebut.
3. Big Fat Walls (Dinding tebal)
Mari membahas tentang high mass walls. High mass mengacu kepada kepadatan
material yang akan dibangun. Hal ini sangat penting dalam perancangan dinding eksterior
sebuah bangunan. Apakah penghuni menginginkan lingkungan yang hangat atau dingin,
apabila penghuni sudah mencapai suhu yang sesuai dan nyaman, maka high mass walls akan
secara dramatis memperlambat perubahan suhu yang tidak diinginkan. Contoh material yang
dapat digunakan adalah kayu dan semen blok khusus yang dikembangkan di Eropa.
4. The Delight Warm Floors (Lantai yang hangat)
Terdapat dua jenis metode floor heating (penghangatan lantai). Metode pertama adalah
dengan memanfaatkan air panas yang mengalir melalui pipa-pipa yang biasanya telah
tertanam dalam beton dibawah lantai. Metode kedua adalah dengan menggunakan kabel
listrik yang memanas karena ketahanan listrik yang dialirkan melalui kawat. Metode pertama
sangat mendukung kesehatan, sementara metode kedua tidak disarankan.
5. Floor Covering (Penutup Lantai)
• Untuk ruang tamu, dapat menggunakan lantai kayu yang dibuat dari veneer pohon maple
• Untuk dapur, dapat menggunakan ubin batu alam
• Untuk kamar tidur utama, kamar tidur anak, dan kamar mandi, dapat menggunakan gabus
alami
• Untuk ruang makan, lorong, mudroom, dan ruang-ruang lain, dapat menggunakan beton
berpigmen dengan berbagai komposisi alami yang berbeda
• Untuk ruang laundry, dapat menggunakan linoleum alami.
27
Universitas Kristen Petra

6. Timeless Design and Modern Day Functionally (Desain yang tidak lekang oleh waktu
dan fungsional untuk kegiatan sehari – hari)
Ketika sebuah rumah didesain dan dibangun, maka rumah tersebut akan memberikan
suatu tampilan yang menarik bagi banyak orang. Yang menarik adalah bahwa ketika kita
mengunjungi sebuah “rumah sehat”, maka rumah tersebut meninggalkan sebuah kesan yang
tidak terlupakan yang bisa dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain.
7. Ventilation and Natural Sunlight (Ventilasi dan sinar matahari)
Jendela adalah salah satu fitur penting dalam sebuah rumah sehat. Jendela memberikan
pencahayaan, view, ventilasi, dan karakter visual. Dalam sebuah rumah sehat, jendela tidak
hanya harus banyak, namun dapat juga double dan triple glazed untuk menghemat energi dan
harus diletakkan di posisi yang menerima cahaya paling maksimum serta memungkinkan
cross ventilasi. Jendela perlu dibuka setiap hari supaya udara segar, oksigen, dan penangkal
ion negatif dapat masuk kedalam rumah, serta polusi hasil kegiatan sehari-hari dapat keluar
dari rumah.
8. Low EMR Design (Radiasi elektromagnetik yang rendah)
• Beberapa poin utama untuk mengurangi EMR (Radiasi Elektromagnetik)
• Power supply yang masuk ke rumah dan panel listrik utama harus diletakkan jauh dari
kamar tidur atau area didalam rumah dimana banyak orang menghabiskan waktunya
• Panel listrik utama diletakkan dengan kohesif, mudah diakses dan dengan format yang
mudah diuji
• Dengan mengelompokkan entry point dari semua utilitas keseluruhan arus
elektromagnetik yang mengalir melalui jalur utilitas publik akan didorong kembali tanpa
masuk kedalam rumah
• Seluruh kabel di dinding harus dilapisi dengan logam
• Semua kamar tidur harus memiliki “kill switches” didalamnya
9. Water : The Elixir of Life (Air: cairan hidup)
Untuk memiliki rumah dengan air yang sehat dapat dilakukan dengan menginstal sistem
penyaringan air dengan blok karbon di seluruh rumah. Selain itu terdapat unit khusus yang
dipasang di keran dapur untuk menyaring air minum dan air untuk memasak.
10. Formaldehyde - Free Cabinets, Doors, and Built Ins (Lemari, pintu, lemari tanam
yang bebas dari formaldehyde)
Seluruh lemari, pintu, dan perabot dalam rumah dapat menggunakan material Wheat
Board (papan gandum) yang bebas dari formalin sintetis.
28
Universitas Kristen Petra
11. Detached Garagei (Garasi yang terpisah)
Garasi mobil sebaiknya diletakkan terpisah dari rumah utama. Garasi sebaiknya
diletakkan di belakang rumah dan terhubung ke gang untuk masuk dan keluar. Saat pintu
garasi terbuka, exhaust fan yang terpasang di garasi akan menyala secara otomatis selama 30
menit setelah pintu tertutup.
12. Central Vacuum System (Sistem penyedot debu terpusat)
Fitur lain yang perlu ada untuk mencapai rumah sehat adalah Central Vacuum System
(CVS) yang berfungsi untuk membersihkan debu dan kotoran dalam rumah.

5.1.3. References (Daftar Pustaka)
Mace, Ron, (1998), Universal Design: Housing for the Lifespan of all People, Department of Housing
and Urban Development, U.S.
Steinfeld, E. & White, J., (2009), Visitability An Inclusive Design Approach of Housing, Center for
Inclusive Design & Environmental Access, New York, United States of America.
Thompson, A., (2005), “Homes That Heal and Those That Don’t”, New Society Publisher, Canada.
http://en.wikipedia.org/wiki/Universal_design
http://www- edc.eng.cam.ac.uk / betterdesign /
http://www.inclusivedesigntoolkit.com/betterdesign2/
http://www.ncsu.edu/ncsu/design/cud/pubs_p/docs/poster.pdf

5.1.4. Penjajakan ke Masyarakat dan Perijinan
Dilakukan penjajakan ke berbagai institusi di atas dalam kegiatan S-L semester sebelumnya
atau pada saat liburan semester. Hal ini dilakukan agar Masyarakat dapat menerima program S-L dan
juga dapat mengerti kebutuhan awal dari Masyarakat yang dilayani.
29
Universitas Kristen Petra

Gambar 11 Pendekatan ke BILIC Bandung

Gambar 12 Pendekatan ke PWSS Surabaya

5.2. Pelaksanaan
Wawancara dan Dokumentasi Foto, Desain dan pelaporan oleh Mahasiswa, Lokakarya Desain
di UK Petra, Penyempurnaan Desain, dan Pelaporan akhir dilakukan pada tahapan pelaksanaan.
30
Universitas Kristen Petra
Kegiatan ini dilakukan oleh Mahasiswa dibimbing dosen dan dikerjakan di sela – sela waktu Studio
Merancang 6 yang cukup padat.

5.2.1. Wawancara dan Dokumentasi Foto
Dilakukan wawancara dan dokumentasi foto dan video di kediaman para nara sumber sebagai
perwakilan masyarakat yang ada yaitu:
• Bapak Ahmad Fauzi M.Hum.yang didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed.
• Bapak Abdul Syakur S.E.
• Ibu Paulina Mayasari S.Sn.
• Bapak Tutus Setiawan S.Pd. dan Ibu Desy S.Pd.
• Bapak Hariyono Karno

Gambar 13 Kegiatan Wawancara dengan Narasumber Ibu Paulina Mayasari S.Sn.
31
Universitas Kristen Petra

Gambar 14 Kegiatan Wawancara dengan Narasumber Bapak Ahmad Fauzi M.Hum. dan Ibu Lilik
Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed.

Gambar 15 Kegiatan Wawancara dengan Bapak Hariyono Karno

32
Universitas Kristen Petra

Gambar 16 Kegiatan Wawancara dengan P Tutus Setiawan S.Pd.

Gambar 17 Kegiatan Wawancara dengan Bapak Abdul Syakur S.E.
Keenam nara sumber ini diwawancarai di tempat kerja atau rumah tinggal selama proses 3
minggu eksplorasi mandiri Mahasiswa. Sesekali Dosen pengampu juga mendampingi eksplorasi
seperti menemui Ibu Paulina Mayasari S.Sn. Didapati ternyata proses eksplorasi ini memberikan
banyak sekali informasi tentang kebutuhan masing – masing pengguna yang spesifik.
33
Universitas Kristen Petra
Bapak Ahmad Fauzi M.Hum. yang didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed.
adalah seorang penyandang cerebral palsy. Keadaan medis ini menyebabkan kelumpuhan dari leher
sampai ke badan sebelah bawah. Hal ini menyebabkan keterbatasan gerak Beliau terutama untuk
berdiri. Sehingga semua kegiatan Beliau dilakukan dengan merangkak. Beberapa kegiatan perlu
dibantu oleh Ibu Lilik atau anggota keluarga yang lain karena keterbatasan ini.
Bapak Abdul Syakur S.E. adalah penyandang keterbatasan gerak lokomotif (fungsi mobilitas
kaki) tetapi masih mampu memindahkan tubuh dengan lengan. Hal ini menyebabkan beliau harus
menggunakan kursi roda atau kruk pada saat bergerak. Di Sekolah YPAB, Beliau menggunakan kursi
roda untuk mencapai ruang – ruang kelas dan beraktivitas. Sementara itu di rumah, Beliau masih bisa
menggunakan kruk. Kebutuhan beliau ialah ramp dan juga lemari dan lainnya yang bisa dijangkau
pada saat duduk di kursi roda. Selain itu juga kebutuhan railing untuk memindahkan tubuh.
Ibu Paulina Mayasari S.Sn. mewakili Nenek, Bapak dan Ibu beliau yang tinggal di rumah toko
yang terletak di Kota Lama Surabaya. Rumah Toko ini kurang aksesibel bagi para penggunanya yang
merupakan warga senior. Nenek Bu Maya menggunakan kursi roda, sementara Bapak dan Ibu Bu
Maya masih dapat bergerak tetapi sangat rentan terhadap kecelakaan. Kebutuhan mereka ialah
aksesibilitas ramp, desain pengamanan lainnya.
Bapak Tutus Setiawan S.Pd. adalah penyandang tuna netra total blind sementara Ibu Desy
S.Pd.adalah penyandang tuna netra low vision. Kebutuhan Pak Tutus ialah kebutuhan alat
pengamanan dan pembedaan dengan tekstur di dalam rumah. Sementara Bu Desy membutuhkan alat
pengaman seperti warna yang kontras di dalam rumah.
Bapak Hariyono Karno adalah warga senior dari kampung pinggir kali. Beliau masih aktif
bekerja membuat usaha cetok di kampung ini. Kebutuhan beliau ialah tempat usaha yang aksesibel
dan rumah tinggal yang juga aksesibel. Selain itu keterbatasan dana menjadi salah satu kendala dalam
desain rumah ini.

5.2.2. Desain dan Pelaporan oleh Mahasiswa
Selanjutnya kebutuhan desain di atas dipikirkan oleh Mahasiswa, didampingi Dosen.
Lalu lima buah desain dihasilkan untuk ketujuh klien di atas. Desain ini dibagi dalam
beberapa konsep pada Sub-Bab 5.2.6. Hasil Desain

5.2.3. Lokakarya Desain di UK Petra
Lokakarya Desain di UK Petra juga dilakukan mengundang ketujuh nara sumber
tersebut. Ketujuh nara sumber ini diundang ke Petra dengan dukungan biaya dari Mahasiswa
peserta KKP-C ini . Kemudian sisa dana juga dikontribusikan kepada YPAC dan YPAB.
Lokakarya Desain ini dilakukan dengan metode desain partisipatif yang berlangsung selama
kurang lebih satu sampai dua jam. Waktu lokakarya ini dirasakan terlalu pendek oleh
34
Universitas Kristen Petra
beberapa nara sumber. Kemungkinan dapat dibuat yang lebih panjang dengan waktu yang
lebih sore.

Gambar 18 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 19 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
35
Universitas Kristen Petra

Gambar 20 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 21 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
36
Universitas Kristen Petra

Gambar 22 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 23 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
37
Universitas Kristen Petra

Gambar 24 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 25 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
38
Universitas Kristen Petra

Gambar 26 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 27 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
39
Universitas Kristen Petra

Gambar 28 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 29 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
40
Universitas Kristen Petra

Gambar 30 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 31 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
41
Universitas Kristen Petra

Gambar 32 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

5.2.4. Penyempurnaan Desain
Hasil lokakarya desain di atas dikumpulkan dan disempurnakan kembali oleh
Mahasiswa dan Dosen. Kemudian dibuat sebuah desain sederhana bersama – sama
berdasarkan hasil lokakarya ini. Karena keterbatasan waktu masih banyak kelemahan dari
desain ini. Tetapi konsep rumah yang layak bagi semua (aksesibel bagi para penggunanya)
dapat dihasilkan.
Kuliah penjelasan Prinsip Desain Inklusi juga dilakukan untuk menunjang
kesempurnaan desain ini. Kegiatan ini dilakukan dengan penjelasan 7 prinsip dan diskusi
tentang hasil desain sesuai 7 prinsip di atas.
42
Universitas Kristen Petra

Gambar 33 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 34 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
43
Universitas Kristen Petra

Gambar 35 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 36 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

44
Universitas Kristen Petra
5.2.5. Pelaporan Akhir
Pelaporan akhir dilakukan oleh Dosen dan Mahasiswa pada bulan Juni 2014. Kegiatan ini
merangkum seluruh proses yang dilakukan dari awal KKP-C Desain Inklusi.

5.2.6. Hasil Desain
Lima buah hasil desain dihasilkan oleh Mahasiswa bersama Dosen KKP-C yang dapat
dijelaskan sebagai berikut:
5.2.6.1. Desain Rumah untuk Penyandang Cerebral Palsy (Klien Bapak Ahmad Fauzi M.Hum.
yang didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed. )
Desain Rumah untuk Penyandang Cerebral Palsy (Klien Bapak Ahmad Fauzi M.Hum. yang
didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed. ) didesain oleh Hendy Gunawan (22411086),
Rebecca (NRP 22411003), Dicky (NRP 22411096), Yovita Hadi (NRP 22411095), Theodorus
Akwila P (NRP 22411110). Rumah ini memiliki konsep yang unik karena memperhatikan kebutuhan
pergerakan di lantai oleh Bapak Ahmad Fauzi. Konsep Rumah itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Spektrum difabilitasnya pengguna ialah Cerebral Palsy (CP) yang mengalami kelumpuhan
tubuh bagian bawah tubuhnya (dari kepala sampai kaki). BApak A Fauzi ini tetap masih mampu
menggerakan sebagian tubuhnya khususnya tangan sebelah kanan. Dan pengguna melakukan seluruh
aktivitasnya dalam kondisi merayap di lantai.
Kebutuhan tambahan yang diberikan oleh Dosen KKP-C ini ialah: lebar akses pintu dan koridor
harus memadai untuk kursi roda. Selain itu pengguna harus mampu memanaskan makanan di dapur
yang ditambahkan. Jangkauan pengguna juga perlu diperhatikan.
Konsep rumah secara umum ialah rumah untuk penyandang CP yang dapat digunakan
beraktivitas secara mandiri dan nyaman (tidur, ke toilet, kerja, makan, memanaskan makanan). Selain
itu rumah ini juga akan memperhatikan kenyamaan secara termal dan kesehatan pengguna lebih
lanjut.











45
Universitas Kristen Petra

Gambar 37 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP


46
Universitas Kristen Petra

Gambar 38 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP

Gambar 39 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP

47
Universitas Kristen Petra

Gambar 40 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP
Rumah ini menggunakan prinsip Selanjutnya 7 Prinsip Desain Inklusi yaitu sbb (modifikasi
sesuai kebutuhan):
PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan)
- Desain akan menjadi berguna dan dapat dipasarkan untuk seluruh orang dengan kemampuan yang
beragam.
- Menyediakan sarana yang sama untuk digunakan oleh semua pengguna: fasilitas yang identik bila
memungkinkan, fasilitas yang setara bila tidak memungkinkan.
- Hindari memisahkan atau melakukan stigmatisasi pada pengguna manapun.
- Menyediakan privasi, keamanan, dan keselamatan yang sama bagi semua pengguna.
- Membuat desain yang menarik bagi semua pengguna.
Penerapan: Desain secara utama diperuntukkan bagi penderita cerebral palsy, namun secara
sirkulasidapatmemberikankenyamanan untuk pengguna kursi roda. Penggunaan ramp dan bukaan
dengan lebar yang cukup untuk kursi roda menyediakan keamanan dan keselamatan bagi
penggunanya. Penempatan sebagian besar perabot pada bagian bawah diterapkan atas dasar kebutuhan
penderita cerebral palsy, namun masih dapat digunakan oleh orang lain meskipun dengan tingkat
kenyamanan yang berbeda. Selain perabot, penempatan ventilasi/ bukaan yang ada pada bangunan ini
juga diletakkan pada bagian bawah. Hal ini juga mempertimbangkan prinsip kesetaraan dimana
pengguna dapat menikmati pemandangan serta dapat memperoleh udara yang cukup.
PRINSIP DUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan)
- Desain mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
48
Universitas Kristen Petra
- Memberikan pilihan dalam metode yang digunakan.
- Mengakomodasi kemungkinan pengguna tangan kanan atau tangan kiri.
- Memfasilitasi keakuratan dan tingkat presisi dari pengguna.
- Memberikan kemungkinan adaptasi terhadap kecepatan pengguna.
Penerapan: Sirkulasi pada rumah ini diperpendek dan cenderung linear sehingga memudahkan
penderita cerebral palsy untuk mengakses keseluruhan ruang dalam bangunan dengan jarak yang
pendek. Pintu pada bagian kamar dibuat miring sehingga pengguna dapat menjangkau pintu kamar
dengan mudah dari sisi manapun. KM/ WC memiliki 2 pintu yang bertujuan untuk memudahkan
akses jalan masuk dan keluar, serta menghindari kesulitan berotasi/ berputardi dalam ruang tersebut
(searah).
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif)
- Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
- Menghilangkan kompleksitas yang tidak perlu.
- Konsisten untuk mencapai harapan pengguna dan mengantisipasi intuisi pengguna.
- Mengakomodasi berbagai jenis keterampilan melek huruf dan keterampilan bahasa.
- Mengatur informasi sesuai dengan derajat kepentingannya.
-Menyediakan masukan dan umpan balik yang efektif selama dan setelah selesai penggunaan atau
tugas.
Penerapan: Peletakkan jet flush berada di sisi kanan bawahsehingga mudah dijangkau oleh
pengguna. Menyesuaikan kemampuan pengguna secara khusus (tangan kanan yang berfungsi) dan
pengguna lain pada umumnya menggunakan jet flush dengan tangan kanan. Stop kontak diletakkan di
sisi bawah, menyesuaikan dengan kemampuan pengguna secara khusus yang beraktivitas di bawah.
Selain itu peletakkan stop kontak yang dekat dengan barang-barang elektronik sehingga tidak
memerlukan kabel yang panjang dan tidak perlu usaha ekstra saat mau menggunakan stop
kontaktersebut.
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas)
– Desain harusnya mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada
pengguna, terlepas dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
- Menggunakan bentuk komunikasi yang beragam ( dengan gambar, verbal, taktil) untuk
mempresentasikan informasi penting secara memadai.
- Memaksimalkan "keterbacaan" informasi penting.
- Melakukan diferensiasi elemen
– Elemen cara menjelaskan (misalnya, memudahkan untuk penyampaian instruksi atau petunjuk).
Menyediakan kesesuaian dengan berbagai teknik atau peralatan yang digunakan oleh orang-orang
dengan keterbatasan indrawi.
49
Universitas Kristen Petra
Penerapan: Terdapat gambar arah panah kanan dan kiri pada penutup stop kontak yang
bertujuan untuk menyampaikan informasi secara jelas. Arah panah kanan dan kiri yang diletakkan
disesuaikan dengan arah bukaan penutup stop kontak yang
ada.Perbedaanwarnakeramiksebagaipembatasantarakamardanruanglainnyamemberikaninformasibahw
amemasukiruang yang berbedatingkatprivasinya.
PRINSIP KELIMA: Tolerance for Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan)
– Desain harus meminimalkan bahaya dan konsekuensi yang merugikan dari tindakan disengaja atau
kecelakaan.
- Mengatur elemen untuk meminimalkan bahaya dan kesalahan: elemen yang paling mudah diakses;
unsur yang sangat berbahaya harus dieliminasi, terisolasi, atau dilindungi.
- Memberikan peringatan atas potensi bahaya dan kesalahan.
- Menyediakan gagal fitur yang tidak memberikan kesempatan untuk gagal (atau aman walaupun
gagal bekerja).
- Mencegah terjadinya tindakan yang tidak sadar dalam hal yang membutuhkan kewaspadaan.
Penerapan: Pada desain bangunan banyak menggunakan ramp untuk memberi perbedaan
ketinggian ruang, sisi-sisi tajam pada ramp dihaluskan untuk menghindari kemungkinan melukai
penderita cerebral palsy yang beraktifitas dengan merayap di lantai. Stop kontak yang berada di sisi
bawah, diberi penutup untuk menghindari bahaya tersengat listrik terutama bila ada anak-anak di
dalam rumah tersebut. Selain itu peletakkan stop kontak menyesuaikan alat elektronik yang ada, agar
tidak ada kabel panjang yang terbentang di mana-mana, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
kemungkinan tersandung atau tersangkut. Selain itu, penempatan microwave yang masih diberikan
alas dan tidak diletakkan pada lantai bertujuan untuk mengantisipasi bahaya sengatan listrik dan
konsleting. Begitu pula dengan penempatan dispenser di bawah yang bertujuan untuk
memudahkanketikamengambil air danmenghindari pengguna agar tidak tertumpah air panas.
PRINSIP KEENAM: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah)
- Desain dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
- Membiarkan pengguna untuk mempertahankan posisi tubuh netral.
- Menggunakan kekuatan operasi yang wajar.
- Meminimalkan tindakan berulang.
- Meminimalkan upaya fisik yang terus menerus.
Penerapan: Dipilih televisi layar datar agar tidak mengganggu sirkulasi yang linear, diletakkan
di bagian atas sesuai dengan arah pandang pengguna yang menonton televisi dengan posisi berbaring.
Hal ini akan meningkatkan kenyamanan pengguna agar tidak terjadi kram pada bagian leher. Berbeda
dengan perabotan lainnya yang justru diletakkan di bawah, karena pengguna butuh untuk
menjangkaunya. Pada bagian kamar mandi, jet flushdan showerdiletakkan pada bagian bawah kanan,
sesuai dengan kemampuan jangkauan pengguna. Kloset juga ditanam ke dalam lantai disesuaikan
dengan kebiasaan pengguna yang menggunakannya dengan posisi tidur. Selain itu, lemari pakaian dan
50
Universitas Kristen Petra
juga penggantung handuk juga diletakkan di bagian bawah untuk mempermudah jangkauan
pengguna. Tempat tidur ditanam sebagian di bawah lantai untuk memudahkan pengguna untuk naik
ke atasnya, namun tidak menghilangkan sisi kenyamanan dari tempat tidur tersebut. Meja komputer
dibuat pendek dengan tinggi kurang lebih 15cm sesuai dengan kebutuhan pengguna. Begitu pula
dengan beberapa perabot lainnya seperti rak buku, microwave, hingga stop kontak. Penempatan
dispenser yang juga diletakkan rendah (posisikeran15-20 cm), serta bukaan-bukaan pada bangunan
seperti jendela dan handlenya bertujuan untuk meminimalkan upaya fisik pengguna dalam
menggapainya. Selain itu, semua perabot yang dapat dibuka seperti lemari, jendela, rak, dan lain
sebagainya menggunakan pintu geser agar pengguna dapat mengaksesnya dengan upaya fisik yang
rendah. Akses pintu dalam bangunan pun dihilangkan dengan menggantinya dengan tirai dengan
dasar tujuan yang sama.
PRINSIP KETUJUH: Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan
Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan)
- Ukuran dan ruang yang sesuai seharusnya disediakan untuk memudahkan pendekatan, pencapaian,
manipulasi, dan penggunaan terlepas dari ukuran tubuh pengguna, postur, atau mobilitasnya.
- Memberikan garis yang jelas terlihat pada unsur-unsur penting bagi setiap pengguna yang berada
pada posisi duduk atau berdiri.
- Membuat setiap pengguna dapat mencapai semua komponen secara nyaman baik dalam posisi
duduk atau berdiri.
- Mengakomodasi variasi di tangan dan ukuran genggaman.
- Menyediakan ruang yang cukup untuk penggunaan alat bantu atau bantuan pribadi
Penerapan: Keseluruhan desain bangunan telah menyediakan ukuran dan ruang dalam
pendekatan serta penggunaannyabagi pengguna cerebral palsy. Pertama-tama, seluruh jalur sirkulasi
pada bangunan dapat dilewati oleh kursi roda sebagai antisipasi kebutuhan pengguna cerebral palsy.
Kebutuhan space dan ruang pengguna disediakan pada setiap aktivitas yang dilakukannya, seperti
berbaring, berputar/ berotasi, hingga kebutuhan berguling dari posisi tengkurap menuju posisi
terlentang. Ruang yang disediakan tersebutmempertimbangkan dimensi atau ukuran pengguna.
PEMILIHAN MATERIAL. Lantai menjadi elemen yang penting dalam desain ini. Hal ini
disebabkan karena pengguna yang aktivitasnya secara dominan dilakukan di lantai, sehingga material
lantai menjadi sangat perlu untuk dipikirkan lebih jauh. Dalam kasus ini dipilih material lantai vinyl
yang bermotif kayu agar memberikan kesan hangat.
51
Universitas Kristen Petra

Gambar 41 Lantai Vinyl Motif Kayu untuk Rumah Penyandang CP
Selain itu terdapat kelebihan lain dari lantai vinyl yang sangat bermanfaat bagi pengguna, yaitu
:Tabel 1 Kelebihan Material Vinyl

Kesimpulannya, Desain Rumah untuk penyandang Cerebral Palsy membutuhkan aksesibilitas
pengguna merangkak dan menggapai berbagai peralatan di lantai. Akibatnya diperlukan perletakkan
52
Universitas Kristen Petra
perabotan dan jendela pada ketinggian pengguna (sekitar 0-30 cm) dari lantai. Hal ini merupakan hal
yang unik yang tidak ditemukan pada standar desain universal.

5.2.6.2. Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Daksa Kursi Roda (Klien Bapak Abdul Syakur
S.E.)
Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Daksa Kursi Roda (Klien Bapak Abdul Syakur S.E.)
didesain oleh Louis Satria Purwanto (22411004), Ivan Vilano (22411108), Andre Sugianto
(22411117), Terry Christianto Suroso (22411145), Tiffany Tommy (22411150), dan Maria Monica
Rampisela (22411162).
Spektrum Penghuni rumah ini ialah Pak Abdul Syakur (30 tahun) dan kedua orangtuanya (50
tahun). Secara khusus Pak Abdul Syakur adalah pria usia 35 tahun. Spektrum difabilitasnya adalah
kemampuan tubuh dari pinggul kebawah kurang bisa digerakkan karena penyakit polio yang
dideritanya saat berusia 5 tahun. Walaupun demikian Bapak Abdul Syakur masih mampu beraktivitas
menggunakan tongkat atau dengan bersandar di sisi tembok karena sebenarnya bagian kaki Beliau
masih mampu menopang tubuhnya. Namun di tempat pekerjaan Beliau, di Yayasan Panti Anak Cacat
Surabaya, Bapak Abdul Syakur memilih untuk menggunakan kursi roda agar lebih leluasa bergerak.
Kebutuhan tambahan yang diberikan oleh Tutor kami dalam Kuliah Kerja Pelayananan C
adalah kebutuhan pengguna kursi roda untuk dapat masuk ke dalam setiap ruang, yaitu ruang tidur,
toilet, ruang makan, dapur, ruang laundry, ruang tamu, ruang sholat meskipun tidak beraktivitas
(seperti memasak, mencuci baju). Benda khusus yang dimiliki oleh Bapak Syakur adalah kursi roda
dan sepeda motor roda tiga sehingga desain rumah perlu memikirkan kebutuhan ruang untuk benda
tersebut
Konsep rumah secara umum adalahpendalaman aspek-aspek pendukung aksesibilitas di dalam
rumahseperti kesederhanaan dan kemudahan untuk beraktivitas, fleksibilitas dan luas ruang yang
memenuhi kebutuhan ruang gerak, serta memperhatikan kenyamanan arsitektural, agar Bapak Abdul
Syakur beserta keluarga dapat beraktivitas dengan baik, mandiri, dan nyaman.
53
Universitas Kristen Petra

Gambar 42 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda
Pada entrance dan ruang tamu menggunakan prinsip:
• Equitable Use
Ada ramp dari arah carport menuju pintu masuk rumah dengan kemiringan 4 derajat (perbedaan
ketinggian 15 cm). Ramp dibatasi oleh dinding dengan lasan keselamatan dan keamanan. Ramp
yang landai ini dapat digunakan oleh semua orang, baik orang biasa maupun kaum difabel, dan
tidak berbahaya
• Simple and Intuitive Use
Desain rumah secara keseluruhan dapat dikatakan sederhana melalui penempatan ruang yang
bersifat linear dan tidak ada dinding yang keluar dari axis. Selain itu, penempatan handrail di
daerah carport membuat pengguna kursi roda dengan mudah memahami fungsi handrail tersebut,
yaitu digunakan ketika berpindah tempat dari kendaraan ke kursi roda atau sebaliknya.
• Low Physical Effort
Handrail di beberapa spot dan ramp yang cukup landai dengan menggunakan material beton
(tidak licin) membuat pengguna lebih mudah untuk mengakses setiap ruang yang ada di dalam
rumah. Pintu sliding juga mempermudah pengguna kursi roda untuk membuka pintu dan
melintasi ruang
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi ruang tamu cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.
54
Universitas Kristen Petra
Pada ruang tidur menggunakan prinsip:
• Equitable Use
Perabot yang digunakan adalah meja belajar tanpa kaki dengan ketinggian 80 cm sehingga kursi
roda dapat dengan mudah masuk ke dalam meja tersebut, tanpa tertahan oleh sudut-sudut meja.
Terdapat juga lemari baju dengan ketinggian 90 cm agar pengguna dapat meraih hingga tempat
teratas lemari tersebut.
• Low Physical Effort
Pintu dan jendela menggunakan sistem slide dengan ketinggian handle yang dapat dicapai dengan
mudah oleh pengguna kursi roda.
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi ruang tidur cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.
Pada ruang sholat menggunakan prinsip:
• Low Physical Effort
Pintu dan jendela menggunakan sistem slide dengan ketinggian handle yang dapat dicapai dengan
mudah oleh pengguna kursi roda.
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi ruang sholat cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.

Gambar 43 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (entrance dan ruang tamu)
55
Universitas Kristen Petra

Gambar 44 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang tidur)

Gambar 45 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang sholat)
56
Universitas Kristen Petra

Gambar 46 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Kamar mandi)

Gambar 47 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang makan dan dapur)



57
Universitas Kristen Petra

Gambar 48 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang makan dan dapur)

Gambar 49 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang makan dan dapur)





58
Universitas Kristen Petra

Gambar 50 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang laundry)
Pada kamar mandi menggunakan prinsip:
• Equitable Use
Penggunaan kloset duduk mudah bagi pengguna kursi roda, orang tua, dan orang biasa
• Flexibility in Use
Terdapat handrail yang bisa digunakan secara horizontal maupun vertikal dengan hanya
mendorongnya sebesar 90 derajat.
• Simple and Intuitive Use
Penempatan handrail di spot khusus yang memerlukan perpindah tempat dari kursi roda.
Ada pula dudukan di bawah shower (bahan keramik) untuk pengganti kursi roda saat pengguna
mandi
• Perceptible Information
Papan instruksi agar pengguna kursi roda berhati-hati jika lantai licin karena basah
• Tolerance for Error
Kelandaian ramp dan penggunaan material yang bertekstur dan tidak licin
• Low Physical Effort
Handraildipasang pada ketinggian 80 cm untuk mempermudah aktivitas di dalam kamar mandi.
Perabot-perabot, alat dan bahan juga diletakkan lebih rendah sesuai dengan jangkauan pengguna
kursi roda. Keran dan shower menggunakan sistem pengungkit.
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi kamar mandi cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.
Pada ruang makan dan dapur menggunakan prinsip:
• Flexibility in Use
59
Universitas Kristen Petra
Terdapat meja yang dapat dilipat untuk kebutuhan ibu saat memasak, karena meja untuk
pengguna kursi roda lebih rendah.
• Tolerance for Error
Perabotan tidak menggunakan kaki-kaki dan ujung lancip yang dapat membahayakan pengguna
kursi roda. Meja makan menggunakan satu kaki agar kursi roda dapat masuk ke meja makan
• Size and Space for Approach and Use
Area ruang makan dan dapur besar
Pada ruang laundry menggunakan prinsip:
• Size and Space for Approach and Use
Ruang laundry dapat diakses oleh pengguna kursi roda karena dimensi yang cukup besar.
Kesimpulannya, Desain Rumah untuk Tuna Daksa (pengguna Kursi Roda) membutuhkan
aksesibilitas pengguna ke semua ruangan dengan kursi roda. Pintu dan akses sirkulasi menjadi lebih
besar. Sementara ramp harus disediakan di setiap perbedaan ketinggian. Selain itu jangkauan
pengguna yang tidak terlalu tinggi (150cm) menyebabkan perabotan juga harus diletakkan terjangkau
oleh pengguna. Dan desain rumah seperti ini sudah banyak dibahas oleh Standar Desain Universal.
Tetapi memang perlu dicatat bahwa keadaan Klien pengguna seringkali tidak diperhatikan.
Desain pengguna kursi roda ini juga serupa dengan kebutuhan Bu Laeli Yuntari dan Bapak
Aden Al Hadad di BILIC Bandung. Sehingga desain ini dapat direplikasikan juga di Bandung dengan
perubahan minor.

5.2.6.3. Desain Rumah Toko (Bangunan Konservasi Arsitektur) untuk Warga Senior di Kota
Lama Surabaya (Klien Ibu Paulina Mayasari S.Sn.)
Desain Rumah Toko untuk Warga Senior di Kota Lama Surabaya (Klien Ibu Paulina Mayasari
S.Sn.) didesain oleh Aaron Sutanto Putra (22411107), Fenny Gunawan (22411109), Marina
Victoria Darmawan (22411123), Ronny Chandra Kurniawan (22411124), dan Roby Ismanto
(22411160). Bangunan merupakan rumah tinggal dua lantai yang dihuni oleh keluarga Ibu Maya.
Rumah tersebut dihuni oleh lima orang di mana terdapat nenek dan kedua orang tua Ibu Maya.
Spektrum difabilitas merupakan keadaan lanjut usia yang memiliki keterbatasan dalam berjalan.
Desain renovasi merupakan persiapan dari penghuni dalam menyambut masa tua, di mana pengghuni
senior akan menggunakan tongkat atau bahkan kursi roda.
Konsep rumah secara umum ialah menambahkan unsur-unsur arsitektural demi kenyamanan
yang dikhususkan untuk penghuni lanjut usia. Daerah yang direnovasi adalah daerah dimana beliau
biasa beraktivitas, meliputi kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, dapur, dan ruang makan.
Sistem struktur yang ada tetap dipertahankan karena rumah merupakan bangunan lama di mana
memiliki sistem struktur khusus yang tidak dapat diubah.
Tuntutan kebutuhan yang diharapkan adalah hunian yang ramah terhadap pengguni senior yang
menggunakan tongkat dan kursi roda. Diharapkan elemen-elemen arsitektural yang ditambahkan tidak
60
Universitas Kristen Petra
hanya menjadi ornamen namun juga membantu pengghuni dalam beraktifitas baik di dalam ruang
maupun antar ruang.

Gambar 51 Gambar Kondisi Asli Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior
61
Universitas Kristen Petra

Gambar 52 Gambar Kondisi Asli Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior



62
Universitas Kristen Petra

Gambar 53 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior
63
Universitas Kristen Petra

Gambar 54 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior

Gambar 55 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Tangga
dengan ketinggian 10 cm demi memudahkan akses penghuni senior dan efisiensi ruang)

64
Universitas Kristen Petra

Gambar 56 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Pispot
dalam kamar demi memudahkan penghuni lanjut usia untuk buang air pada malam hari).

Gambar 57 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Plat pada
pintu yang memudahkan pengguna untuk memahami bahwa pintu hanya dapat di dorong).



65
Universitas Kristen Petra

Gambar 58 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Kanopi
polikarbonat demi mengurangi air hujan yang masuk).

Gambar 59 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Pintu geser
pada kamar utama).
66
Universitas Kristen Petra

Gambar 60 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Desain
toilet dan pintunya yang lebar demi memudahkan pengguna kursi roda unruk mengakses).
Penerapan Prinsip Desain Inklusi pada desain ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan)
Pada dasarnya desain ditawarkan telah memenuhi prinsip Equitable Use, dimana ramp dan tangga
telah tersajikan dan dapat diakses oleh keseluruhan penghuni bangunan. Namun hal tersebut tidak
dapat direalisasikan karena ramp akan merubah pembalokan lantai dua dan mengurangi efisiensi
ruang keluarga. Solusi akhir yang ditawarkan adalah memperpendek anak tangga yang semula 20
cm menjadi 10 cm dan penambahan railing di tepinya sehingga memudahkan penghuni senior
untuk mengakses ruang tersebut.
2. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan)
Desain awal yang ditawarkanuntuk menambahkan ramp sebagai akses sirkulasi telah memenuhi
prinsip Flexibility in Use. Ramp menjadi jalur sirkulasi yang dapat diakses oleh semua penghuni
termasuk pengguna tongkat dan kursi roda. Namun pada realisasinya, ramp tersebut tidak dapat
direalisasikan karena keterbatasan struktur dan efisiensi ruang.
3. Simple and Intuitive Use (Penggunaan Sederhana dan Intuitif)
Prinsip Simple and Intuitive Use diterapkan pada penggunaan plat pada pintu. Hal ini dapat
memudahkan penghuni dalam memahami bahawa pintu tersebut hanya dapat didorong. Selain itu
memberikan pispot pada kamar utama demi memudahkan penghuni senior dalam buang air pada
malam hari.
4. Perceptible Information (Informasi yang Jelas)
67
Universitas Kristen Petra
Desain yang ditawarkan tidak perlu menerapkan prinsip Perceptible Information karena penghuni
rumah tersebut sudah terbiasa dengan keadaan dan sirkulasi dalam rumah sehingga tidak
memerlukan tanda atau grafis informatif.
5. Tolerance of Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan)
Pada desain rumah lama, bagian taman tidak tertutup oleh atap, sehingga air hujan dapat masuk
dan menggenang. Hal tersebut dapat membahayakan sirkulasi penghuni terutama penghuni senior.
Untuk menyelesaikan masalah tersebut, dirancanglah kanopi untuk menutup bagian taman dan
selasar sehingga mengurangi kapasitas air hujan yang masuk. Sebagian air hujan tetap masuk dan
jatuh tepat di area taman. Dari taman, air hujan akan disalurkan ke pembuangan melalui gutter.
Kanopi juga dirancang untuk tetap memasukkan angin supaya sirkulasi udara tetap terpenuhi.
6. Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yang Rendah)
Prinsip Low Physical Effort telah diterapkan pada penggunaan pintu geser. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi upaya fisik penghuni terutama bagi penghuni senior yang berkursi roda. Degan
hadirnya pintu geser akan memudahkan penghuni senior untuk mengakses ruang-ruang yang ada.
7. Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan Ruang untuk Pendekatan
dan Penggunaan)
Pada desain bangunan awal, terdapat pemisahan antara kamar mandi dan WC. Hal tersebut akan
mempersulit akses dari penghuni difable dan penghuni lanjut usia. Untuk memaksimalkan efisiensi
ruang di kamar mandi dan WC, maka dinding pembatas dihilangkan sehingga kamar mandi dan
WC menjadi satu ruang dan dapat diakses dengan mudah oleh semua penghuni termasuk penghuni
senior bertongkat maupun berkursi roda.
Kesimpulannya, Desain Rumah Toko (Bangunan Konservasi Arsitektur) untuk Warga Senior di
Kota Lama Surabaya membutuhkan aksesibilitas untuk penggunanya memasuki setiap ruangan. Lebar
pintu dan sirkulasi sebenarnya diperlukan lebih lebar tetapi karena struktur bangunan konservasi yang
perlu dipertahankan dan mungkin juga keterbatasan keuangan, maka desain pada bangunan ini berupa
perubahan minor yang memperhatikan kebutuhan penggunanya seperti tangga yang lebih pendek
pijakannya, railing, lantai anti-slip dan sosoran polykarbonat.

5.2.6.4. Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision (Klien Bapak
Tutus Setiawan S.Pd. dan Ibu Desy S.Pd.
Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision (Klien Bapak Tutus
Setiawan S.Pd. dan Ibu Desy S.Pd. didesain oleh: Cindy Fransisca (22411055), Anneke Debora
(22411044), Wenny (22411053), Nerissa Kumala Tandiono (22411055), dan Melissa Stefani
(22411077).
Spektrum pengguna rumah ini ialah Tuna Netra Total Blind dan Low Vision. Kebutuhan rekan –
rekan Tuna Netra ialah kebutuhan pengarah yang bisa diraba untuk beraktivitas dan perabotan atau
layout yang tidak berubah – ubah agar memudahkan aksesibilitasnya. Sementara Tuna Netra Low
68
Universitas Kristen Petra
Vision membutuhkan warna – warna kontras yang bisa dipakai membedakan ujung tangga atau
dinding yang bisa membahayakan kegiatan mereka ketika beraktivitas. Kemudian juga menghindari
kesilauan karena mereka masih dapat menangkap cahaya secara terbatas (buram). Sehingga material
matte (tidak menyilaukan) sebaiknya dipakai.

Gambar 61 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
69
Universitas Kristen Petra

Gambar 62 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
Konsep rumah secara umum ialah bagaimana memberi kemudahan pengguna rumah (Tuna
Netra Total Blind dan Low Vision) untuk beraktivitas dengan rasa nyaman maupun aman. Rumah
yang “bebas hambatan” / Free-Barrier bagi spektrum pengguna yang menghuni rumah.
Tuntutan kebutuhan ialah rumah ini dapat digunakan secara mandiri oleh kedua spektrum
pengguna dan mengurangi kecelakaan atau kesulitan menemukan jalan.


70
Universitas Kristen Petra

Gambar 63 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Tactile tiles yang bertujuan untuk membatasi/ petunjuk area entrance)

71
Universitas Kristen Petra

Gambar 64 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Ramp pada penurunan level lantai dengan kemiringan 1:12)

72
Universitas Kristen Petra

Gambar 65 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Perancangan guiding path yang dipasang secara vertikal)


Gambar 66 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Perbedaan warna ekstrem di dapur lantai 1)

73
Universitas Kristen Petra

Gambar 67 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Perbedaan warna ekstrem di selasar tempat istri bekerja)

Gambar 68 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Organisasi ruang yang terstruktur)
74
Universitas Kristen Petra

Gambar 69 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Detail Guiding path pembatas ruang)



Gambar 70 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Handrail yang diberi tekstur tactiles dengan Braille)
75
Universitas Kristen Petra

Gambar 71 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Detail Tactile pada pijakan tangga)

Gambar 72 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Suasana ruang santai dengan skylight)

76
Universitas Kristen Petra

Gambar 73 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Suasana ruang makan dengan vertical garden )

Selanjutnya tujuh Prinsip Desain Inklusi diterapkan di dalam desain ini:
PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan) - Desain akan menjadi
berguna dan dapat dipasarkan untuk seluruh orang dengan kemampuan yang beragam.
- Menyediakan sarana yang sama untuk digunakan oleh semua pengguna: fasilitas yang identik bila
memungkinkan, fasilitas yang setara bila tidak memungkinkan.
- Hindari memisahkan atau melakukan stigmatisasi pada pengguna manapun.
- Menyediakan privasi, keamanan, dan keselamatan yang sama bagi semua pengguna.
- Membuat desain yang menarik bagi semua pengguna.
Penerapannya: Semua pengguna melalui level entrance,Rumah di desain dengan lebih banyak
mengandalkan indera peraba (permainan tekstur sebagai petunjuk arah), dan permainan warna
ekstrem ( untuk istri yang low-vision). Penerapan rancangan dapat dilihat pada gambar 1.1,
penggunaan tactile tiles dengan warna cerah(ekstrem) agar memberi petunjuk arah entrance bagi
pengguna tunanetra maupun lowvision
PRINSIP DUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan) - Desain
mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
- Memberikan pilihan dalam metode yang digunakan.
- Mengakomodasi kemungkinan pengguna tangan kanan atau tangan kiri.
- Memfasilitasi keakuratan dan tingkat presisi dari pengguna.
- Memberikan kemungkinan adaptasi terhadap kecepatan pengguna.
77
Universitas Kristen Petra
Penerapannya: Penggantian penurunan level dengan ramp dengan kemiringan 1:12 agar
fleksibel pagi semua spektrum pengguna, memudahkan pengguna seperti pak Tutus agar bisa
beraktivitas dengan aman. Hal ini juga diterapkan dengan pemberian warna perabot yang ekstrem
berbeda dengan warna dinding. Perancangan guiding path yang terpasang secara vertikal sebagai
petunjuk. Material guiding path memakai metal agar ketika diraba, terdapat efek dingin yang
dirasakan oleh pengguna sehingga memberi rasa nyaman (dalam kasus pengguna ditujukan untuk pak
Tutus).
Selain itu juga diterapkan warna merah yang cukup ekstrem agar pengguna (dalam kasus istri
pak Tutus) dapat mudah mengenali perabotan sehingga meningkatkan kecepatan dalam beraktivitas.
Pada ruang belajar istri yang terdapat di selasar lantai 2 juga menggunakan diterapkan permainan
dinding bewarna ekstrem karena sang istri merupakan low vision. Rancangan tersebut bertujuan agar
pengguna low-vision bisa lebih cepat membedakan mana perabot mana dinding (kemampuan adaptasi
lebih cepat dalam beraktivitas)
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif) -
Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
- Menghilangkan kompleksitas yang tidak perlu.
- Konsisten untuk mencapai harapan pengguna dan mengantisipasi intuisi pengguna.
- Mengakomodasi berbagai jenis keterampilan melek huruf dan keterampilan bahasa.
- Mengatur informasi sesuai dengan derajat kepentingannya.
- Menyediakan masukan dan umpan balik yang efektif selama dan setelah selesai penggunaan atau
tugas.
Penerapannya: Desain perancangan bukaan pintu terlihat jelas dan mudah ditemukan (tidak
tersembunyi) sehingga memudahkan pengguna untuk pencapaian ruang yang berbeda. Perancangan
ruang yang teratur, hanya bercabang satu sisi, organisasi ruang lantai 1 & 2 sama sehingga
memudahkan pengguna dalam proses pengenalan ruang (Gambar 3.1). Perbedaan ruang tanpa bukaan
pintu dapat diketahui melalui penggunaan tactile tiles sebagai guiding path (gambar 3.2)
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas) – Desain harusnya
mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada pengguna, terlepas
dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
- Menggunakan bentuk komunikasi yang beragam ( dengan gambar, verbal, taktil) untuk
mempresentasikan informasi penting secara memadai.
- Memaksimalkan "keterbacaan" informasi penting.
- Melakukan diferensiasi elemen – elemen cara menjelaskan (misalnya, memudahkan untuk
penyampaian instruksi atau petunjuk).
78
Universitas Kristen Petra
- Menyediakan kesesuaian dengan berbagai teknik atau peralatan yang digunakan oleh orang-orang
dengan keterbatasan indrawi.
Penerapannya: Pengggunaan teks braille di tempat-tempat yang membutuhkan penjelasan.
Petunjuk arah yang dapat dikenali oleh pengguna dengan perubahan tekstur (bisa menggunakan
tactile tiles, penggunaan warna kontras pada perabot. Perancangan tangga dibuat sedemikian rupa
agar mampu memberi informasi yang jelas, setiap pijakan tangga diberi tactile sebagai petunjuk, pada
handrail di ujung anak tangga diberi tekstur teks braille agar dapat mengetahui jumlah anak tangga
yang tersisa.
PRINSIP KELIMA: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah) - Desain
dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
- Membiarkan pengguna untuk mempertahankan posisi tubuh netral.
- Menggunakan kekuatan operasi yang wajar.
- Meminimalkan tindakan berulang.
- Meminimalkan upaya fisik yang terus menerus.
Penerapannya: Perancangan perabot sesuai dengan posisi tubuh normal pengguna, peletakkan
objek dengan jarak yang mudah diraih dan pemberian tekstur berbeda maupun permainan warna
ekstrim agar memudahkan pengguna pak Tutus beserta istri mengakomodasinya.
Karena lahan rumah Pak Tutus memanjang ke dalam, menjadikan ruang-ruang dalam tidak
dapat terkena cahaya matahari (pencahayaan alami) dan angin tidak dapat masuk sampai dalam
(penghawaan alami). Oleh karena itu ruang dirancang dengan skylight sebagai sumber cadangan
pencahayaan alami, dan memberi ruang hijau agar bisa terjadi pertukaran udara yang baik pada ruang,
Kesimpulannya, Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
membutuhkan layout yang lebih efektif dan tidak berbelok – belok. Sementara itu pembedaan dengan
tekstur, railing juga warna yang kontras akan berguna bagi teman – teman Tuna Netra. Hal ini juga
ditunjang dengan furnitur yang lebih bersifat tidak berubah – ubah.

5.2.6.5. Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Klien Bapak
Hariyono Karno)
Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Klien Bapak Hariyono
Karno) didesain oleh: Anneke Clauvinia Patriajaya (22411061), Veronica Yuwono
(22411066), Michelle Mimosa (22411072), Puspita Rani (22411074) dan Cendana Marcheliwan Putra
(22411075). Spektrum pengguna rumah ini ialah 2 Warga Senior (60 tahun) dan 2 orang dewasa (20-
30 tahun)
Kebutuhan tambahan yang diberikan oleh Dosen kami dalam Kuliah Kerja Pelayananan C ini
ialah Fasilitas tempat bekerja membuat cetok untuk pupuk kompos di dalam rumah.

79
Universitas Kristen Petra
Konsep Rumah ini berada di stren kali sungai bratang, sehingga menurut rencana pemerintah
Kota Surabaya, sehingga tampak depan rumah adalah bagian yang menghadap sungai Bratang. Hal ini
disebabkan karena untuk kedepannya, sungai akan dimanfaatkan sebagai daerah wisata. Pemilik
rumah adalah pria manula yang berusia 60 tahun, walaupun kondisi pemilik rumah masih segar
rumah,tetapi rumah ini didesain untuk jangka waktu ke depan dengan pertimbangan apabila pemilik
rumah ini nantinya memiliki disabilitas akibat lanjut usia. Rumah ini juga didesain dengan
pertimbangan agar dapat digunakan untuk bekerja walaupun nantinya pemilik rumah ini sudah tidak
dapat menjangkau lantai 2. Rumah ini juga didesain agar mengeluarkan biaya seminimal mungkin
mengingat berlokasi di Kampung Tepi Sungai.

Gambar 74 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai
Rumah ini menggunakan prinsip Selanjutnya 7 Prinsip Desain Inklusi yaitu sbb:

80
Universitas Kristen Petra
PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan) - Desain akan menjadi
berguna dan dapat dipasarkan untuk semua kalangan dengan kemampuan yang beragam.
Penerapannya: Ruang-ruang untuk kegiatan kebersamaan (seperti ruang kerja (1) dan dapur
(2)) diletakkan di bawah sehingga dapat dijangkau oleh orang tua, maupun orang dewasa pada
umumnya. Ruang kerja (1) dibuat lapang dan tak bersekat. Ada kemenerusan dari pintu masuk (di
sebelah kanan) ke belakang sehingga dapat digunakan untuk pekerjaan komunal dan nyaman. Pintu
lipat berfungsi untuk memberi pemandangan ke arah sungai saat pemilik rumah bekerja juga sebagai
ventilasi silang untuk menciptakan desain yang sehat.

Gambar 75 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Ruang kerja
untuk kegiatan komunal).
Terdapat 2 kamar mandi yaitu di lantai atas (7) dan lantai bawah (5) sebagai upaya
menyetarakan kebutuhan penyandang disabilitas dan pengguna pada umumnya.
PRINSIP KEDUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan) - Desain
mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
Penerapannya: Ruang kerja didesain agar dapat dijangkau baik oleh pengguna manula maupun
orang dewasa. Pada ruang kerja perabot diposisikan rendah sesuai dengan tahapan pembuatan cetok
yang dapat dilakukan dengan duduk lesehan maupun berdiri, dan dalam proses kerjanya, pengguna
banyak merubah posisi badan , jongkok, berdiri, duduk bersila , berjalan. Peletakan perabot di bagian
samping ruangan untuk menciptakan ruang luas yang digunakan dalam proses pembuatan cetok yang
dilakukan oleh orang banyak.

81
Universitas Kristen Petra

Gambar 76 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Fleksibilitas
dalam penggunaan pada ruang kerja).
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif) -
Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
Penerapannya: Pada Kamar Mandi, Pintu kamar mandi menggunakan knop bulat sehingga
pengguna secara otomatis mendorong pintu.Letak Ember di kanan closet sehingga langsung dapat
dijangkau tanganTerdapat Railing pada sisi closet agar pengguna dapat memegang dan stabil saat
jongkok .

Gambar 77 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Railing pada
Dinding Samping Closet).
82
Universitas Kristen Petra
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas) – Desain harusnya
mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada pengguna, terlepas
dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
Penerapannya: Penggunaan pintu lipat pada ruang kerja, penggunaan bentuk handle pintu
pada kamar tidur dan kamar mandi.
PRINSIP KELIMA: Tolerance for Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan) –
Desain harus meminimalkan bahaya dan konsekuensi yang merugikan dari tindakan disengaja atau
kecelakaan.
Penerapannya: Kamar tidur Pak Hariyono diletakkan di lantai satu agar mudah diakses
kapanpun dengan tujuan pertimbangan faktor usia yang akan terus bertambah dan pertimbangan
disabilitas manula dari Pak Hariyono untuk ke depannya. Jarak railing (4) disesuaikan untuk ukuran
pengguna. Untuk pertimbangan pengguna di masa depan apabila memiliki anak kecil railing
menyesuaikan dengan jarak 15 cm agar anak kecil tidak jatuh dari lubang railing.

Gambar 78 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Jarak lubang
railing menyesuaikan postur tubuh anak kecil).


83
Universitas Kristen Petra



Penerapannya: Penggunaan Railing Pada kamar mandi pak Hariyono memudahkan Pak
Hariyono untuk dapat jongkok tanpa terjatuh dan Penggunaan jendela Geser pada area kamar tidur
guna agar saat jendela terbuka, tidak terkena kepada pengguna dan tidak mengakibatkan kecelakaan.

Gambar 79 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Jendela geser
untuk menghindari kecelakaan)
PRINSIP KEENAM: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah) - Desain
dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
Penerapannya: Prinsip ini hanya bisa diterapkan untuk pengguna senior yaitu untuk Bapak dan
Ibu Hariyono, mengingat minimnya modal yang tersedia namun semakin bertambahnya usia
pengguna. Oleh karena itu fasilitas yang digunakan oleh pengguna senior diletakkan di lantai bawah
dan berada pada satu area . Hal tersebut bertujuan agar pengguna senior tidak harus mengeluarkan
energy lebih untuk menjangkau kebutuhannya di lantai atas serta dalam bekerja, tidak perlu mondar-
mandir dalam bekerja seperti pada rumah yang lama .

84
Universitas Kristen Petra

Gambar 80 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Lantai 1 yang
dikhususkan untuk memudahkan pergerakan Pak Hariyono).
PRINSIP KETUJUH: Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan
Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan)- Ukuran dan ruang yang sesuai seharusnya disediakan
85
Universitas Kristen Petra
untuk memudahkan pendekatan, pencapaian, manipulasi, dan penggunaan terlepas dari ukuran tubuh
pengguna, postur, atau mobilitasnya.
Penerapannya: Pada kamar mandi (5 dan 7) digunakan closet jongkok karena permintaan dari
Pak Haryono sendiri dan juga harga lebih terjangkau dibanding closet duduk untuk meminimalkan
biaya desain, sehingg diperoleh kebutuhan ruang yang mencukupi namun tidak terlalu membuang
tempat. Hal ini sesuai dengan prinsip ketujuh yaitu penyesuaian desain dengan pendekatan kebutuhan
dan penggunaan. Penggunaan ember disesuaikan dengan ukuran toilet yang tidak terlalu besar agar
ruang gerak Pak Haryono Lebih lebar dan leluasa.
Perlu dicatat bahwa Pak Hariyono tidak mau mengubah desain rumahnya seperti usulan di atas
karena pertimbangan dampak psikologi. Sehingga diusulkan desain kedua yang lebih konservatif
untuk Beliau seperti berikut ini juga.

Gambar 81 Usulan P Hariyono untuk Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi
Sungai (Lantai 1 yang dikhususkan untuk memudahkan pergerakan Pak Hariyono).
86
Universitas Kristen Petra

Gambar 82 Denah Usulan P Hariyono untuk Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di
Kampung Tepi Sungai.
Kesimpulannya, Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai
membutuhkan aksesibilitas pengguna senior ke tempat pekerjaan juga tempat tidur di lantai satu.
Selain itu juga desain harus terjangkau secara ekonomi sehingga menimbulkan inovasi desain yang
terjangkau. Sementara itu lantai kedua dapat digunakan oleh anggota keluarga yang lebih muda atau
kos-kosan yang disewakan kepada orang lain.

6. Evaluasi Hasil Kegiatan
Disimpulkan ternyata kegiatan ini sangat bermanfaat karena dapat memberikan kontribusi nyata
kepada para difabel dan senior berbentuk usulan desain. Kegiatan ini mungkin cukup berat mengingat
beban Studio Merancang 6 yang cukup berat dan juga kebutuhan eksplorasi di masyarakat. Terakhir
kegiatan ini dapat direplikasikan di bebagai Program Studi yang lain.
Evaluasi lainnya ialah didapati ternyata waktu eksplorasi dan lokakarya desain dirasakan
kurang memadai sehingga nara sumber mengusulkan kegiatan ini dapat diadakan pada hari yang lebih
leluasa (seperti Jumat siang) agar interaksi wawancara dan loka karya dapat dilaksanakan dengan
maksimal.

7. Rekomendasi Untuk Kegiatan Selanjutnya
Diusulkan dapat dilanjutkan kegiatan ini di masa depan. Terutama untuk berkolaborasi dengan
mata kuliah yang berbasis SL lainnya di Prodi Arsitektur maupun dalam lingkup Universitas.

87
Universitas Kristen Petra
8. Lampiran
Surat Permohonan
SMPLB - A YPAB, Jl Gebang Putih no 5, Surabaya, Tutus Setiawan

88
Universitas Kristen Petra
Yayasan Pendidikan Anak Cacat Surabaya (YPAC), Jl Semolowaru Utara V/2A Surabaya,
Abdul Syakur dan Ahmad Fauzi


89
Universitas Kristen Petra
Bandung Independent Living Center (BILIC), yang beralamat di Jl, Jimbaran no D-5
Kompleks Cluster Bali 2, Bandung

90
Universitas Kristen Petra
Paguyuban Warga Strenkali Surabaya, Kampung Bratang Tangkis, Jl, Bratang Gede VIi,
Surabaya, Hariyono Karno

91
Universitas Kristen Petra
Paulina Mayasari, Jalan Bibis no 3 Surabaya


92
Universitas Kristen Petra
Surat Tugas
(Belum)

93
Universitas Kristen Petra
Surat Ucapan Terima Kasih
SMPLB - A YPAB, Jl Gebang Putih no 5, Surabaya, Tutus Setiawan


94
Universitas Kristen Petra
Yayasan Pendidikan Anak Cacat Surabaya (YPAC), Jl Semolowaru Utara V/2A Surabaya,
Abdul Syakur dan Ahmad Fauzi


95
Universitas Kristen Petra
Bandung Independent Living Center (BILIC), yang beralamat di Jl, Jimbaran no D-5
Kompleks Cluster Bali 2, Bandung


96
Universitas Kristen Petra
Paguyuban Warga Strenkali Surabaya, Kampung Bratang Tangkis, Jl, Bratang Gede VIi,
Surabaya, Hariyono Karno


97
Universitas Kristen Petra
Paulina Mayasari, Jalan Bibis no 3 Surabaya


98
Universitas Kristen Petra
Daftar Hadir


99
Universitas Kristen Petra
Rincian Biaya Kegiatan
Tidak Ada
100
Universitas Kristen Petra
Materi Kegiatan
Usulan Desain Rumah untuk Penyandang Cerebral Palsy (Klien Bapak Ahmad Fauzi M.Hum.
yang didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed. )
Desain Rumah untuk Penyandang Cerebral Palsy (Klien Bapak Ahmad Fauzi M.Hum. yang
didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed. ) didesain oleh Hendy Gunawan (22411086),
Rebecca (NRP 22411003), Dicky (NRP 22411096), Yovita Hadi (NRP 22411095), Theodorus
Akwila P (NRP 22411110). Rumah ini memiliki konsep yang unik karena memperhatikan kebutuhan
pergerakan di lantai oleh Bapak Ahmad Fauzi. Konsep Rumah itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Spektrum difabilitasnya pengguna ialah Cerebral Palsy (CP) yang mengalami kelumpuhan
tubuh bagian bawah tubuhnya (dari kepala sampai kaki). BApak A Fauzi ini tetap masih mampu
menggerakan sebagian tubuhnya khususnya tangan sebelah kanan. Dan pengguna melakukan seluruh
aktivitasnya dalam kondisi merayap di lantai.
Kebutuhan tambahan yang diberikan oleh Dosen KKP-C ini ialah: lebar akses pintu dan koridor
harus memadai untuk kursi roda. Selain itu pengguna harus mampu memanaskan makanan di dapur
yang ditambahkan. Jangkauan pengguna juga perlu diperhatikan.
Konsep rumah secara umum ialah rumah untuk penyandang CP yang dapat digunakan
beraktivitas secara mandiri dan nyaman (tidur, ke toilet, kerja, makan, memanaskan makanan). Selain
itu rumah ini juga akan memperhatikan kenyamaan secara termal dan kesehatan pengguna lebih
lanjut.











101
Universitas Kristen Petra

Gambar 83 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP


102
Universitas Kristen Petra

Gambar 84 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP

Gambar 85 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP

103
Universitas Kristen Petra

Gambar 86 Gambar Konsep Rumah Penyandang CP
Rumah ini menggunakan prinsip Selanjutnya 7 Prinsip Desain Inklusi yaitu sbb (modifikasi
sesuai kebutuhan):
PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan)
- Desain akan menjadi berguna dan dapat dipasarkan untuk seluruh orang dengan kemampuan yang
beragam.
- Menyediakan sarana yang sama untuk digunakan oleh semua pengguna: fasilitas yang identik bila
memungkinkan, fasilitas yang setara bila tidak memungkinkan.
- Hindari memisahkan atau melakukan stigmatisasi pada pengguna manapun.
- Menyediakan privasi, keamanan, dan keselamatan yang sama bagi semua pengguna.
- Membuat desain yang menarik bagi semua pengguna.
Penerapan: Desain secara utama diperuntukkan bagi penderita cerebral palsy, namun secara
sirkulasidapatmemberikankenyamanan untuk pengguna kursi roda. Penggunaan ramp dan bukaan
dengan lebar yang cukup untuk kursi roda menyediakan keamanan dan keselamatan bagi
penggunanya. Penempatan sebagian besar perabot pada bagian bawah diterapkan atas dasar kebutuhan
penderita cerebral palsy, namun masih dapat digunakan oleh orang lain meskipun dengan tingkat
kenyamanan yang berbeda. Selain perabot, penempatan ventilasi/ bukaan yang ada pada bangunan ini
juga diletakkan pada bagian bawah. Hal ini juga mempertimbangkan prinsip kesetaraan dimana
pengguna dapat menikmati pemandangan serta dapat memperoleh udara yang cukup.
PRINSIP DUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan)
- Desain mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
104
Universitas Kristen Petra
- Memberikan pilihan dalam metode yang digunakan.
- Mengakomodasi kemungkinan pengguna tangan kanan atau tangan kiri.
- Memfasilitasi keakuratan dan tingkat presisi dari pengguna.
- Memberikan kemungkinan adaptasi terhadap kecepatan pengguna.
Penerapan: Sirkulasi pada rumah ini diperpendek dan cenderung linear sehingga memudahkan
penderita cerebral palsy untuk mengakses keseluruhan ruang dalam bangunan dengan jarak yang
pendek. Pintu pada bagian kamar dibuat miring sehingga pengguna dapat menjangkau pintu kamar
dengan mudah dari sisi manapun. KM/ WC memiliki 2 pintu yang bertujuan untuk memudahkan
akses jalan masuk dan keluar, serta menghindari kesulitan berotasi/ berputardi dalam ruang tersebut
(searah).
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif)
- Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
- Menghilangkan kompleksitas yang tidak perlu.
- Konsisten untuk mencapai harapan pengguna dan mengantisipasi intuisi pengguna.
- Mengakomodasi berbagai jenis keterampilan melek huruf dan keterampilan bahasa.
- Mengatur informasi sesuai dengan derajat kepentingannya.
-Menyediakan masukan dan umpan balik yang efektif selama dan setelah selesai penggunaan atau
tugas.
Penerapan: Peletakkan jet flush berada di sisi kanan bawahsehingga mudah dijangkau oleh
pengguna. Menyesuaikan kemampuan pengguna secara khusus (tangan kanan yang berfungsi) dan
pengguna lain pada umumnya menggunakan jet flush dengan tangan kanan. Stop kontak diletakkan di
sisi bawah, menyesuaikan dengan kemampuan pengguna secara khusus yang beraktivitas di bawah.
Selain itu peletakkan stop kontak yang dekat dengan barang-barang elektronik sehingga tidak
memerlukan kabel yang panjang dan tidak perlu usaha ekstra saat mau menggunakan stop
kontaktersebut.
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas)
– Desain harusnya mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada
pengguna, terlepas dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
- Menggunakan bentuk komunikasi yang beragam ( dengan gambar, verbal, taktil) untuk
mempresentasikan informasi penting secara memadai.
- Memaksimalkan "keterbacaan" informasi penting.
- Melakukan diferensiasi elemen
– Elemen cara menjelaskan (misalnya, memudahkan untuk penyampaian instruksi atau petunjuk).
Menyediakan kesesuaian dengan berbagai teknik atau peralatan yang digunakan oleh orang-orang
dengan keterbatasan indrawi.
105
Universitas Kristen Petra
Penerapan: Terdapat gambar arah panah kanan dan kiri pada penutup stop kontak yang
bertujuan untuk menyampaikan informasi secara jelas. Arah panah kanan dan kiri yang diletakkan
disesuaikan dengan arah bukaan penutup stop kontak yang
ada.Perbedaanwarnakeramiksebagaipembatasantarakamardanruanglainnyamemberikaninformasibahw
amemasukiruang yang berbedatingkatprivasinya.
PRINSIP KELIMA: Tolerance for Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan)
– Desain harus meminimalkan bahaya dan konsekuensi yang merugikan dari tindakan disengaja atau
kecelakaan.
- Mengatur elemen untuk meminimalkan bahaya dan kesalahan: elemen yang paling mudah diakses;
unsur yang sangat berbahaya harus dieliminasi, terisolasi, atau dilindungi.
- Memberikan peringatan atas potensi bahaya dan kesalahan.
- Menyediakan gagal fitur yang tidak memberikan kesempatan untuk gagal (atau aman walaupun
gagal bekerja).
- Mencegah terjadinya tindakan yang tidak sadar dalam hal yang membutuhkan kewaspadaan.
Penerapan: Pada desain bangunan banyak menggunakan ramp untuk memberi perbedaan
ketinggian ruang, sisi-sisi tajam pada ramp dihaluskan untuk menghindari kemungkinan melukai
penderita cerebral palsy yang beraktifitas dengan merayap di lantai. Stop kontak yang berada di sisi
bawah, diberi penutup untuk menghindari bahaya tersengat listrik terutama bila ada anak-anak di
dalam rumah tersebut. Selain itu peletakkan stop kontak menyesuaikan alat elektronik yang ada, agar
tidak ada kabel panjang yang terbentang di mana-mana, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
kemungkinan tersandung atau tersangkut. Selain itu, penempatan microwave yang masih diberikan
alas dan tidak diletakkan pada lantai bertujuan untuk mengantisipasi bahaya sengatan listrik dan
konsleting. Begitu pula dengan penempatan dispenser di bawah yang bertujuan untuk
memudahkanketikamengambil air danmenghindari pengguna agar tidak tertumpah air panas.
PRINSIP KEENAM: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah)
- Desain dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
- Membiarkan pengguna untuk mempertahankan posisi tubuh netral.
- Menggunakan kekuatan operasi yang wajar.
- Meminimalkan tindakan berulang.
- Meminimalkan upaya fisik yang terus menerus.
Penerapan: Dipilih televisi layar datar agar tidak mengganggu sirkulasi yang linear, diletakkan
di bagian atas sesuai dengan arah pandang pengguna yang menonton televisi dengan posisi berbaring.
Hal ini akan meningkatkan kenyamanan pengguna agar tidak terjadi kram pada bagian leher. Berbeda
dengan perabotan lainnya yang justru diletakkan di bawah, karena pengguna butuh untuk
menjangkaunya. Pada bagian kamar mandi, jet flushdan showerdiletakkan pada bagian bawah kanan,
sesuai dengan kemampuan jangkauan pengguna. Kloset juga ditanam ke dalam lantai disesuaikan
dengan kebiasaan pengguna yang menggunakannya dengan posisi tidur. Selain itu, lemari pakaian dan
106
Universitas Kristen Petra
juga penggantung handuk juga diletakkan di bagian bawah untuk mempermudah jangkauan
pengguna. Tempat tidur ditanam sebagian di bawah lantai untuk memudahkan pengguna untuk naik
ke atasnya, namun tidak menghilangkan sisi kenyamanan dari tempat tidur tersebut. Meja komputer
dibuat pendek dengan tinggi kurang lebih 15cm sesuai dengan kebutuhan pengguna. Begitu pula
dengan beberapa perabot lainnya seperti rak buku, microwave, hingga stop kontak. Penempatan
dispenser yang juga diletakkan rendah (posisikeran15-20 cm), serta bukaan-bukaan pada bangunan
seperti jendela dan handlenya bertujuan untuk meminimalkan upaya fisik pengguna dalam
menggapainya. Selain itu, semua perabot yang dapat dibuka seperti lemari, jendela, rak, dan lain
sebagainya menggunakan pintu geser agar pengguna dapat mengaksesnya dengan upaya fisik yang
rendah. Akses pintu dalam bangunan pun dihilangkan dengan menggantinya dengan tirai dengan
dasar tujuan yang sama.
PRINSIP KETUJUH: Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan
Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan)
- Ukuran dan ruang yang sesuai seharusnya disediakan untuk memudahkan pendekatan, pencapaian,
manipulasi, dan penggunaan terlepas dari ukuran tubuh pengguna, postur, atau mobilitasnya.
- Memberikan garis yang jelas terlihat pada unsur-unsur penting bagi setiap pengguna yang berada
pada posisi duduk atau berdiri.
- Membuat setiap pengguna dapat mencapai semua komponen secara nyaman baik dalam posisi
duduk atau berdiri.
- Mengakomodasi variasi di tangan dan ukuran genggaman.
- Menyediakan ruang yang cukup untuk penggunaan alat bantu atau bantuan pribadi
Penerapan: Keseluruhan desain bangunan telah menyediakan ukuran dan ruang dalam
pendekatan serta penggunaannyabagi pengguna cerebral palsy. Pertama-tama, seluruh jalur sirkulasi
pada bangunan dapat dilewati oleh kursi roda sebagai antisipasi kebutuhan pengguna cerebral palsy.
Kebutuhan space dan ruang pengguna disediakan pada setiap aktivitas yang dilakukannya, seperti
berbaring, berputar/ berotasi, hingga kebutuhan berguling dari posisi tengkurap menuju posisi
terlentang. Ruang yang disediakan tersebutmempertimbangkan dimensi atau ukuran pengguna.
PEMILIHAN MATERIAL. Lantai menjadi elemen yang penting dalam desain ini. Hal ini
disebabkan karena pengguna yang aktivitasnya secara dominan dilakukan di lantai, sehingga material
lantai menjadi sangat perlu untuk dipikirkan lebih jauh. Dalam kasus ini dipilih material lantai vinyl
yang bermotif kayu agar memberikan kesan hangat.
107
Universitas Kristen Petra

Gambar 87 Lantai Vinyl Motif Kayu untuk Rumah Penyandang CP
Selain itu terdapat kelebihan lain dari lantai vinyl yang sangat bermanfaat bagi pengguna, yaitu
:Tabel 2 Kelebihan Material Vinyl

Kesimpulannya, Desain Rumah untuk penyandang Cerebral Palsy membutuhkan aksesibilitas
pengguna merangkak dan menggapai berbagai peralatan di lantai. Akibatnya diperlukan perletakkan
108
Universitas Kristen Petra
perabotan dan jendela pada ketinggian pengguna (sekitar 0-30 cm) dari lantai. Hal ini merupakan hal
yang unik yang tidak ditemukan pada standar desain universal.

Usulan Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Daksa Kursi Roda (Klien Bapak Abdul Syakur
S.E.)
Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Daksa Kursi Roda (Klien Bapak Abdul Syakur S.E.)
didesain oleh Louis Satria Purwanto (22411004), Ivan Vilano (22411108), Andre Sugianto
(22411117), Terry Christianto Suroso (22411145), Tiffany Tommy (22411150), dan Maria Monica
Rampisela (22411162).
Spektrum Penghuni rumah ini ialah Pak Abdul Syakur (30 tahun) dan kedua orangtuanya (50
tahun). Secara khusus Pak Abdul Syakur adalah pria usia 35 tahun. Spektrum difabilitasnya adalah
kemampuan tubuh dari pinggul kebawah kurang bisa digerakkan karena penyakit polio yang
dideritanya saat berusia 5 tahun. Walaupun demikian Bapak Abdul Syakur masih mampu beraktivitas
menggunakan tongkat atau dengan bersandar di sisi tembok karena sebenarnya bagian kaki Beliau
masih mampu menopang tubuhnya. Namun di tempat pekerjaan Beliau, di Yayasan Panti Anak Cacat
Surabaya, Bapak Abdul Syakur memilih untuk menggunakan kursi roda agar lebih leluasa bergerak.
Kebutuhan tambahan yang diberikan oleh Tutor kami dalam Kuliah Kerja Pelayananan C
adalah kebutuhan pengguna kursi roda untuk dapat masuk ke dalam setiap ruang, yaitu ruang tidur,
toilet, ruang makan, dapur, ruang laundry, ruang tamu, ruang sholat meskipun tidak beraktivitas
(seperti memasak, mencuci baju). Benda khusus yang dimiliki oleh Bapak Syakur adalah kursi roda
dan sepeda motor roda tiga sehingga desain rumah perlu memikirkan kebutuhan ruang untuk benda
tersebut
Konsep rumah secara umum adalahpendalaman aspek-aspek pendukung aksesibilitas di dalam
rumahseperti kesederhanaan dan kemudahan untuk beraktivitas, fleksibilitas dan luas ruang yang
memenuhi kebutuhan ruang gerak, serta memperhatikan kenyamanan arsitektural, agar Bapak Abdul
Syakur beserta keluarga dapat beraktivitas dengan baik, mandiri, dan nyaman.
109
Universitas Kristen Petra

Gambar 88 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda
Pada entrance dan ruang tamu menggunakan prinsip:
• Equitable Use
Ada ramp dari arah carport menuju pintu masuk rumah dengan kemiringan 4 derajat (perbedaan
ketinggian 15 cm). Ramp dibatasi oleh dinding dengan lasan keselamatan dan keamanan. Ramp
yang landai ini dapat digunakan oleh semua orang, baik orang biasa maupun kaum difabel, dan
tidak berbahaya
• Simple and Intuitive Use
Desain rumah secara keseluruhan dapat dikatakan sederhana melalui penempatan ruang yang
bersifat linear dan tidak ada dinding yang keluar dari axis. Selain itu, penempatan handrail di
daerah carport membuat pengguna kursi roda dengan mudah memahami fungsi handrail tersebut,
yaitu digunakan ketika berpindah tempat dari kendaraan ke kursi roda atau sebaliknya.
• Low Physical Effort
Handrail di beberapa spot dan ramp yang cukup landai dengan menggunakan material beton
(tidak licin) membuat pengguna lebih mudah untuk mengakses setiap ruang yang ada di dalam
rumah. Pintu sliding juga mempermudah pengguna kursi roda untuk membuka pintu dan
melintasi ruang
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi ruang tamu cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.
110
Universitas Kristen Petra
Pada ruang tidur menggunakan prinsip:
• Equitable Use
Perabot yang digunakan adalah meja belajar tanpa kaki dengan ketinggian 80 cm sehingga kursi
roda dapat dengan mudah masuk ke dalam meja tersebut, tanpa tertahan oleh sudut-sudut meja.
Terdapat juga lemari baju dengan ketinggian 90 cm agar pengguna dapat meraih hingga tempat
teratas lemari tersebut.
• Low Physical Effort
Pintu dan jendela menggunakan sistem slide dengan ketinggian handle yang dapat dicapai dengan
mudah oleh pengguna kursi roda.
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi ruang tidur cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.
Pada ruang sholat menggunakan prinsip:
• Low Physical Effort
Pintu dan jendela menggunakan sistem slide dengan ketinggian handle yang dapat dicapai dengan
mudah oleh pengguna kursi roda.
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi ruang sholat cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.

Gambar 89 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (entrance dan ruang tamu)
111
Universitas Kristen Petra

Gambar 90 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang tidur)

Gambar 91 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang sholat)
112
Universitas Kristen Petra

Gambar 92 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Kamar mandi)

Gambar 93 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang makan dan dapur)



113
Universitas Kristen Petra

Gambar 94 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang makan dan dapur)

Gambar 95 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang makan dan dapur)





114
Universitas Kristen Petra

Gambar 96 Gambar Konsep Rumah Difabel dengan Kursi Roda (Ruang laundry)
Pada kamar mandi menggunakan prinsip:
• Equitable Use
Penggunaan kloset duduk mudah bagi pengguna kursi roda, orang tua, dan orang biasa
• Flexibility in Use
Terdapat handrail yang bisa digunakan secara horizontal maupun vertikal dengan hanya
mendorongnya sebesar 90 derajat.
• Simple and Intuitive Use
Penempatan handrail di spot khusus yang memerlukan perpindah tempat dari kursi roda.
Ada pula dudukan di bawah shower (bahan keramik) untuk pengganti kursi roda saat pengguna
mandi
• Perceptible Information
Papan instruksi agar pengguna kursi roda berhati-hati jika lantai licin karena basah
• Tolerance for Error
Kelandaian ramp dan penggunaan material yang bertekstur dan tidak licin
• Low Physical Effort
Handraildipasang pada ketinggian 80 cm untuk mempermudah aktivitas di dalam kamar mandi.
Perabot-perabot, alat dan bahan juga diletakkan lebih rendah sesuai dengan jangkauan pengguna
kursi roda. Keran dan shower menggunakan sistem pengungkit.
• Size and Space for Approach and Use
Lebar bersih pintu masuk adalah 1 meter termasuk ruang bebas gerak untuk pengguna kursi roda.
Dimensi kamar mandi cukup bagi kursi roda untuk melakukan manuver.
Pada ruang makan dan dapur menggunakan prinsip:
• Flexibility in Use
115
Universitas Kristen Petra
Terdapat meja yang dapat dilipat untuk kebutuhan ibu saat memasak, karena meja untuk
pengguna kursi roda lebih rendah.
• Tolerance for Error
Perabotan tidak menggunakan kaki-kaki dan ujung lancip yang dapat membahayakan pengguna
kursi roda. Meja makan menggunakan satu kaki agar kursi roda dapat masuk ke meja makan
• Size and Space for Approach and Use
Area ruang makan dan dapur besar
Pada ruang laundry menggunakan prinsip:
• Size and Space for Approach and Use
Ruang laundry dapat diakses oleh pengguna kursi roda karena dimensi yang cukup besar.
Kesimpulannya, Desain Rumah untuk Tuna Daksa (pengguna Kursi Roda) membutuhkan
aksesibilitas pengguna ke semua ruangan dengan kursi roda. Pintu dan akses sirkulasi menjadi lebih
besar. Sementara ramp harus disediakan di setiap perbedaan ketinggian. Selain itu jangkauan
pengguna yang tidak terlalu tinggi (150cm) menyebabkan perabotan juga harus diletakkan terjangkau
oleh pengguna. Dan desain rumah seperti ini sudah banyak dibahas oleh Standar Desain Universal.
Tetapi memang perlu dicatat bahwa keadaan Klien pengguna seringkali tidak diperhatikan.
Desain pengguna kursi roda ini juga serupa dengan kebutuhan Bu Laeli Yuntari dan Bapak
Aden Al Hadad di BILIC Bandung. Sehingga desain ini dapat direplikasikan juga di Bandung dengan
perubahan minor.

Usulan Desain Rumah Toko (Bangunan Konservasi Arsitektur) untuk Warga Senior di Kota
Lama Surabaya (Klien Ibu Paulina Mayasari S.Sn.)
Desain Rumah Toko untuk Warga Senior di Kota Lama Surabaya (Klien Ibu Paulina Mayasari
S.Sn.) didesain oleh Aaron Sutanto Putra (22411107), Fenny Gunawan (22411109), Marina
Victoria Darmawan (22411123), Ronny Chandra Kurniawan (22411124), dan Roby Ismanto
(22411160). Bangunan merupakan rumah tinggal dua lantai yang dihuni oleh keluarga Ibu Maya.
Rumah tersebut dihuni oleh lima orang di mana terdapat nenek dan kedua orang tua Ibu Maya.
Spektrum difabilitas merupakan keadaan lanjut usia yang memiliki keterbatasan dalam berjalan.
Desain renovasi merupakan persiapan dari penghuni dalam menyambut masa tua, di mana pengghuni
senior akan menggunakan tongkat atau bahkan kursi roda.
Konsep rumah secara umum ialah menambahkan unsur-unsur arsitektural demi kenyamanan
yang dikhususkan untuk penghuni lanjut usia. Daerah yang direnovasi adalah daerah dimana beliau
biasa beraktivitas, meliputi kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, dapur, dan ruang makan.
Sistem struktur yang ada tetap dipertahankan karena rumah merupakan bangunan lama di mana
memiliki sistem struktur khusus yang tidak dapat diubah.
Tuntutan kebutuhan yang diharapkan adalah hunian yang ramah terhadap pengguni senior yang
menggunakan tongkat dan kursi roda. Diharapkan elemen-elemen arsitektural yang ditambahkan tidak
116
Universitas Kristen Petra
hanya menjadi ornamen namun juga membantu pengghuni dalam beraktifitas baik di dalam ruang
maupun antar ruang.

Gambar 97 Gambar Kondisi Asli Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior
117
Universitas Kristen Petra

Gambar 98 Gambar Kondisi Asli Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior



118
Universitas Kristen Petra

Gambar 99 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior
119
Universitas Kristen Petra

Gambar 100 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior

Gambar 101 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Tangga
dengan ketinggian 10 cm demi memudahkan akses penghuni senior dan efisiensi ruang)

120
Universitas Kristen Petra

Gambar 102 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Pispot
dalam kamar demi memudahkan penghuni lanjut usia untuk buang air pada malam hari).

Gambar 103 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Plat pada
pintu yang memudahkan pengguna untuk memahami bahwa pintu hanya dapat di dorong).



121
Universitas Kristen Petra

Gambar 104 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Kanopi
polikarbonat demi mengurangi air hujan yang masuk).

Gambar 105 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Pintu geser
pada kamar utama).
122
Universitas Kristen Petra

Gambar 106 Gambar Konsep Rumah Toko (Bangunan Konservasi) untuk Warga Senior (Desain
toilet dan pintunya yang lebar demi memudahkan pengguna kursi roda unruk mengakses).
Penerapan Prinsip Desain Inklusi pada desain ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan)
Pada dasarnya desain ditawarkan telah memenuhi prinsip Equitable Use, dimana ramp dan tangga
telah tersajikan dan dapat diakses oleh keseluruhan penghuni bangunan. Namun hal tersebut tidak
dapat direalisasikan karena ramp akan merubah pembalokan lantai dua dan mengurangi efisiensi
ruang keluarga. Solusi akhir yang ditawarkan adalah memperpendek anak tangga yang semula 20
cm menjadi 10 cm dan penambahan railing di tepinya sehingga memudahkan penghuni senior
untuk mengakses ruang tersebut.
2. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan)
Desain awal yang ditawarkanuntuk menambahkan ramp sebagai akses sirkulasi telah memenuhi
prinsip Flexibility in Use. Ramp menjadi jalur sirkulasi yang dapat diakses oleh semua penghuni
termasuk pengguna tongkat dan kursi roda. Namun pada realisasinya, ramp tersebut tidak dapat
direalisasikan karena keterbatasan struktur dan efisiensi ruang.
3. Simple and Intuitive Use (Penggunaan Sederhana dan Intuitif)
Prinsip Simple and Intuitive Use diterapkan pada penggunaan plat pada pintu. Hal ini dapat
memudahkan penghuni dalam memahami bahawa pintu tersebut hanya dapat didorong. Selain itu
memberikan pispot pada kamar utama demi memudahkan penghuni senior dalam buang air pada
malam hari.
4. Perceptible Information (Informasi yang Jelas)
123
Universitas Kristen Petra
Desain yang ditawarkan tidak perlu menerapkan prinsip Perceptible Information karena penghuni
rumah tersebut sudah terbiasa dengan keadaan dan sirkulasi dalam rumah sehingga tidak
memerlukan tanda atau grafis informatif.
5. Tolerance of Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan)
Pada desain rumah lama, bagian taman tidak tertutup oleh atap, sehingga air hujan dapat masuk
dan menggenang. Hal tersebut dapat membahayakan sirkulasi penghuni terutama penghuni senior.
Untuk menyelesaikan masalah tersebut, dirancanglah kanopi untuk menutup bagian taman dan
selasar sehingga mengurangi kapasitas air hujan yang masuk. Sebagian air hujan tetap masuk dan
jatuh tepat di area taman. Dari taman, air hujan akan disalurkan ke pembuangan melalui gutter.
Kanopi juga dirancang untuk tetap memasukkan angin supaya sirkulasi udara tetap terpenuhi.
6. Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yang Rendah)
Prinsip Low Physical Effort telah diterapkan pada penggunaan pintu geser. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi upaya fisik penghuni terutama bagi penghuni senior yang berkursi roda. Degan
hadirnya pintu geser akan memudahkan penghuni senior untuk mengakses ruang-ruang yang ada.
7. Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan Ruang untuk Pendekatan
dan Penggunaan)
Pada desain bangunan awal, terdapat pemisahan antara kamar mandi dan WC. Hal tersebut akan
mempersulit akses dari penghuni difable dan penghuni lanjut usia. Untuk memaksimalkan efisiensi
ruang di kamar mandi dan WC, maka dinding pembatas dihilangkan sehingga kamar mandi dan
WC menjadi satu ruang dan dapat diakses dengan mudah oleh semua penghuni termasuk penghuni
senior bertongkat maupun berkursi roda.
Kesimpulannya, Desain Rumah Toko (Bangunan Konservasi Arsitektur) untuk Warga Senior di
Kota Lama Surabaya membutuhkan aksesibilitas untuk penggunanya memasuki setiap ruangan. Lebar
pintu dan sirkulasi sebenarnya diperlukan lebih lebar tetapi karena struktur bangunan konservasi yang
perlu dipertahankan dan mungkin juga keterbatasan keuangan, maka desain pada bangunan ini berupa
perubahan minor yang memperhatikan kebutuhan penggunanya seperti tangga yang lebih pendek
pijakannya, railing, lantai anti-slip dan sosoran polykarbonat.

Usulan Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision (Klien Bapak
Tutus Setiawan S.Pd. dan Ibu Desy S.Pd.
Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision (Klien Bapak Tutus
Setiawan S.Pd. dan Ibu Desy S.Pd. didesain oleh: Cindy Fransisca (22411055), Anneke Debora
(22411044), Wenny (22411053), Nerissa Kumala Tandiono (22411055), dan Melissa Stefani
(22411077).
Spektrum pengguna rumah ini ialah Tuna Netra Total Blind dan Low Vision. Kebutuhan rekan –
rekan Tuna Netra ialah kebutuhan pengarah yang bisa diraba untuk beraktivitas dan perabotan atau
layout yang tidak berubah – ubah agar memudahkan aksesibilitasnya. Sementara Tuna Netra Low
124
Universitas Kristen Petra
Vision membutuhkan warna – warna kontras yang bisa dipakai membedakan ujung tangga atau
dinding yang bisa membahayakan kegiatan mereka ketika beraktivitas. Kemudian juga menghindari
kesilauan karena mereka masih dapat menangkap cahaya secara terbatas (buram). Sehingga material
matte (tidak menyilaukan) sebaiknya dipakai.

Gambar 107 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
125
Universitas Kristen Petra

Gambar 108 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
Konsep rumah secara umum ialah bagaimana memberi kemudahan pengguna rumah (Tuna
Netra Total Blind dan Low Vision) untuk beraktivitas dengan rasa nyaman maupun aman. Rumah
yang “bebas hambatan” / Free-Barrier bagi spektrum pengguna yang menghuni rumah.
Tuntutan kebutuhan ialah rumah ini dapat digunakan secara mandiri oleh kedua spektrum
pengguna dan mengurangi kecelakaan atau kesulitan menemukan jalan.


126
Universitas Kristen Petra

Gambar 109 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Tactile tiles yang bertujuan untuk membatasi/ petunjuk area entrance)

127
Universitas Kristen Petra

Gambar 110 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Ramp pada penurunan level lantai dengan kemiringan 1:12)

128
Universitas Kristen Petra

Gambar 111 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Perancangan guiding path yang dipasang secara vertikal)


Gambar 112 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Perbedaan warna ekstrem di dapur lantai 1)

129
Universitas Kristen Petra

Gambar 113 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Perbedaan warna ekstrem di selasar tempat istri bekerja)

Gambar 114 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Organisasi ruang yang terstruktur)
130
Universitas Kristen Petra

Gambar 115 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Detail Guiding path pembatas ruang)



Gambar 116 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Handrail yang diberi tekstur tactiles dengan Braille)
131
Universitas Kristen Petra

Gambar 117 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Detail Tactile pada pijakan tangga)

Gambar 118 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Suasana ruang santai dengan skylight)

132
Universitas Kristen Petra

Gambar 119 Gambar Konsep Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
(Suasana ruang makan dengan vertical garden )

Selanjutnya tujuh Prinsip Desain Inklusi diterapkan di dalam desain ini:
PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan) - Desain akan menjadi
berguna dan dapat dipasarkan untuk seluruh orang dengan kemampuan yang beragam.
- Menyediakan sarana yang sama untuk digunakan oleh semua pengguna: fasilitas yang identik bila
memungkinkan, fasilitas yang setara bila tidak memungkinkan.
- Hindari memisahkan atau melakukan stigmatisasi pada pengguna manapun.
- Menyediakan privasi, keamanan, dan keselamatan yang sama bagi semua pengguna.
- Membuat desain yang menarik bagi semua pengguna.
Penerapannya: Semua pengguna melalui level entrance,Rumah di desain dengan lebih banyak
mengandalkan indera peraba (permainan tekstur sebagai petunjuk arah), dan permainan warna
ekstrem ( untuk istri yang low-vision). Penerapan rancangan dapat dilihat pada gambar 1.1,
penggunaan tactile tiles dengan warna cerah(ekstrem) agar memberi petunjuk arah entrance bagi
pengguna tunanetra maupun lowvision
PRINSIP DUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan) - Desain
mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
- Memberikan pilihan dalam metode yang digunakan.
- Mengakomodasi kemungkinan pengguna tangan kanan atau tangan kiri.
- Memfasilitasi keakuratan dan tingkat presisi dari pengguna.
- Memberikan kemungkinan adaptasi terhadap kecepatan pengguna.
133
Universitas Kristen Petra
Penerapannya: Penggantian penurunan level dengan ramp dengan kemiringan 1:12 agar
fleksibel pagi semua spektrum pengguna, memudahkan pengguna seperti pak Tutus agar bisa
beraktivitas dengan aman. Hal ini juga diterapkan dengan pemberian warna perabot yang ekstrem
berbeda dengan warna dinding. Perancangan guiding path yang terpasang secara vertikal sebagai
petunjuk. Material guiding path memakai metal agar ketika diraba, terdapat efek dingin yang
dirasakan oleh pengguna sehingga memberi rasa nyaman (dalam kasus pengguna ditujukan untuk pak
Tutus).
Selain itu juga diterapkan warna merah yang cukup ekstrem agar pengguna (dalam kasus istri
pak Tutus) dapat mudah mengenali perabotan sehingga meningkatkan kecepatan dalam beraktivitas.
Pada ruang belajar istri yang terdapat di selasar lantai 2 juga menggunakan diterapkan permainan
dinding bewarna ekstrem karena sang istri merupakan low vision. Rancangan tersebut bertujuan agar
pengguna low-vision bisa lebih cepat membedakan mana perabot mana dinding (kemampuan adaptasi
lebih cepat dalam beraktivitas)
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif) -
Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
- Menghilangkan kompleksitas yang tidak perlu.
- Konsisten untuk mencapai harapan pengguna dan mengantisipasi intuisi pengguna.
- Mengakomodasi berbagai jenis keterampilan melek huruf dan keterampilan bahasa.
- Mengatur informasi sesuai dengan derajat kepentingannya.
- Menyediakan masukan dan umpan balik yang efektif selama dan setelah selesai penggunaan atau
tugas.
Penerapannya: Desain perancangan bukaan pintu terlihat jelas dan mudah ditemukan (tidak
tersembunyi) sehingga memudahkan pengguna untuk pencapaian ruang yang berbeda. Perancangan
ruang yang teratur, hanya bercabang satu sisi, organisasi ruang lantai 1 & 2 sama sehingga
memudahkan pengguna dalam proses pengenalan ruang (Gambar 3.1). Perbedaan ruang tanpa bukaan
pintu dapat diketahui melalui penggunaan tactile tiles sebagai guiding path (gambar 3.2)
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas) – Desain harusnya
mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada pengguna, terlepas
dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
- Menggunakan bentuk komunikasi yang beragam ( dengan gambar, verbal, taktil) untuk
mempresentasikan informasi penting secara memadai.
- Memaksimalkan "keterbacaan" informasi penting.
- Melakukan diferensiasi elemen – elemen cara menjelaskan (misalnya, memudahkan untuk
penyampaian instruksi atau petunjuk).
134
Universitas Kristen Petra
- Menyediakan kesesuaian dengan berbagai teknik atau peralatan yang digunakan oleh orang-orang
dengan keterbatasan indrawi.
Penerapannya: Pengggunaan teks braille di tempat-tempat yang membutuhkan penjelasan.
Petunjuk arah yang dapat dikenali oleh pengguna dengan perubahan tekstur (bisa menggunakan
tactile tiles, penggunaan warna kontras pada perabot. Perancangan tangga dibuat sedemikian rupa
agar mampu memberi informasi yang jelas, setiap pijakan tangga diberi tactile sebagai petunjuk, pada
handrail di ujung anak tangga diberi tekstur teks braille agar dapat mengetahui jumlah anak tangga
yang tersisa.
PRINSIP KELIMA: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah) - Desain
dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
- Membiarkan pengguna untuk mempertahankan posisi tubuh netral.
- Menggunakan kekuatan operasi yang wajar.
- Meminimalkan tindakan berulang.
- Meminimalkan upaya fisik yang terus menerus.
Penerapannya: Perancangan perabot sesuai dengan posisi tubuh normal pengguna, peletakkan
objek dengan jarak yang mudah diraih dan pemberian tekstur berbeda maupun permainan warna
ekstrim agar memudahkan pengguna pak Tutus beserta istri mengakomodasinya.
Karena lahan rumah Pak Tutus memanjang ke dalam, menjadikan ruang-ruang dalam tidak
dapat terkena cahaya matahari (pencahayaan alami) dan angin tidak dapat masuk sampai dalam
(penghawaan alami). Oleh karena itu ruang dirancang dengan skylight sebagai sumber cadangan
pencahayaan alami, dan memberi ruang hijau agar bisa terjadi pertukaran udara yang baik pada ruang,
Kesimpulannya, Desain Rumah untuk Penyandang Tuna Netra Total Blind dan Low Vision
membutuhkan layout yang lebih efektif dan tidak berbelok – belok. Sementara itu pembedaan dengan
tekstur, railing juga warna yang kontras akan berguna bagi teman – teman Tuna Netra. Hal ini juga
ditunjang dengan furnitur yang lebih bersifat tidak berubah – ubah.

Usulan Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Klien Bapak
Hariyono Karno)
Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Klien Bapak Hariyono
Karno) didesain oleh: Anneke Clauvinia Patriajaya (22411061), Veronica Yuwono
(22411066), Michelle Mimosa (22411072), Puspita Rani (22411074) dan Cendana Marcheliwan Putra
(22411075). Spektrum pengguna rumah ini ialah 2 Warga Senior (60 tahun) dan 2 orang dewasa (20-
30 tahun)
Kebutuhan tambahan yang diberikan oleh Dosen kami dalam Kuliah Kerja Pelayananan C ini
ialah Fasilitas tempat bekerja membuat cetok untuk pupuk kompos di dalam rumah.

135
Universitas Kristen Petra
Konsep Rumah ini berada di stren kali sungai bratang, sehingga menurut rencana pemerintah
Kota Surabaya, sehingga tampak depan rumah adalah bagian yang menghadap sungai Bratang. Hal ini
disebabkan karena untuk kedepannya, sungai akan dimanfaatkan sebagai daerah wisata. Pemilik
rumah adalah pria manula yang berusia 60 tahun, walaupun kondisi pemilik rumah masih segar
rumah,tetapi rumah ini didesain untuk jangka waktu ke depan dengan pertimbangan apabila pemilik
rumah ini nantinya memiliki disabilitas akibat lanjut usia. Rumah ini juga didesain dengan
pertimbangan agar dapat digunakan untuk bekerja walaupun nantinya pemilik rumah ini sudah tidak
dapat menjangkau lantai 2. Rumah ini juga didesain agar mengeluarkan biaya seminimal mungkin
mengingat berlokasi di Kampung Tepi Sungai.

Gambar 120 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai
Rumah ini menggunakan prinsip Selanjutnya 7 Prinsip Desain Inklusi yaitu sbb:

136
Universitas Kristen Petra
PRINSIP SATU: Equitable Use (Kesetaraan dalam Penggunaan) - Desain akan menjadi
berguna dan dapat dipasarkan untuk semua kalangan dengan kemampuan yang beragam.
Penerapannya: Ruang-ruang untuk kegiatan kebersamaan (seperti ruang kerja (1) dan dapur
(2)) diletakkan di bawah sehingga dapat dijangkau oleh orang tua, maupun orang dewasa pada
umumnya. Ruang kerja (1) dibuat lapang dan tak bersekat. Ada kemenerusan dari pintu masuk (di
sebelah kanan) ke belakang sehingga dapat digunakan untuk pekerjaan komunal dan nyaman. Pintu
lipat berfungsi untuk memberi pemandangan ke arah sungai saat pemilik rumah bekerja juga sebagai
ventilasi silang untuk menciptakan desain yang sehat.

Gambar 121 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Ruang kerja
untuk kegiatan komunal).
Terdapat 2 kamar mandi yaitu di lantai atas (7) dan lantai bawah (5) sebagai upaya
menyetarakan kebutuhan penyandang disabilitas dan pengguna pada umumnya.
PRINSIP KEDUA: Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam Penggunaan) - Desain
mengakomodasi berbagai preferensi dan kemampuan setiap individu.
Penerapannya: Ruang kerja didesain agar dapat dijangkau baik oleh pengguna manula maupun
orang dewasa. Pada ruang kerja perabot diposisikan rendah sesuai dengan tahapan pembuatan cetok
yang dapat dilakukan dengan duduk lesehan maupun berdiri, dan dalam proses kerjanya, pengguna
banyak merubah posisi badan , jongkok, berdiri, duduk bersila , berjalan. Peletakan perabot di bagian
samping ruangan untuk menciptakan ruang luas yang digunakan dalam proses pembuatan cetok yang
dilakukan oleh orang banyak.

137
Universitas Kristen Petra

Gambar 122 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Fleksibilitas
dalam penggunaan pada ruang kerja).
PRINSIP KETIGA: Simple and Intuitive Use (Penggunaan yang Sederhana dan Intuitif) -
Penggunaan desain harus dapat dimengerti dengan mudah, tidak tergantung pada perbedaan
pengalaman, pengetahuan, keterampilan bahasa, atau tingkat konsentrasi saat itu dari seluruh
pengguna.
Penerapannya: Pada Kamar Mandi, Pintu kamar mandi menggunakan knop bulat sehingga
pengguna secara otomatis mendorong pintu.Letak Ember di kanan closet sehingga langsung dapat
dijangkau tanganTerdapat Railing pada sisi closet agar pengguna dapat memegang dan stabil saat
jongkok .

Gambar 123 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Railing pada
Dinding Samping Closet).
138
Universitas Kristen Petra
PRINSIP KEEMPAT: Perceptible Information (Informasi yang Jelas) – Desain harusnya
mengkomunikasikan informasi yang penting (diperlukan) secara efektif kepada pengguna, terlepas
dari kondisi lingkungan atau kemampuan indra pengguna.
Penerapannya: Penggunaan pintu lipat pada ruang kerja, penggunaan bentuk handle pintu
pada kamar tidur dan kamar mandi.
PRINSIP KELIMA: Tolerance for Error (Memberikan Toleransi terhadap Kesalahan) –
Desain harus meminimalkan bahaya dan konsekuensi yang merugikan dari tindakan disengaja atau
kecelakaan.
Penerapannya: Kamar tidur Pak Hariyono diletakkan di lantai satu agar mudah diakses
kapanpun dengan tujuan pertimbangan faktor usia yang akan terus bertambah dan pertimbangan
disabilitas manula dari Pak Hariyono untuk ke depannya. Jarak railing (4) disesuaikan untuk ukuran
pengguna. Untuk pertimbangan pengguna di masa depan apabila memiliki anak kecil railing
menyesuaikan dengan jarak 15 cm agar anak kecil tidak jatuh dari lubang railing.

Gambar 124 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Jarak lubang
railing menyesuaikan postur tubuh anak kecil).


139
Universitas Kristen Petra



Penerapannya: Penggunaan Railing Pada kamar mandi pak Hariyono memudahkan Pak
Hariyono untuk dapat jongkok tanpa terjatuh dan Penggunaan jendela Geser pada area kamar tidur
guna agar saat jendela terbuka, tidak terkena kepada pengguna dan tidak mengakibatkan kecelakaan.

Gambar 125 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Jendela geser
untuk menghindari kecelakaan)
PRINSIP KEENAM: Low Physical Effort (Memerlukan Upaya Fisik yg Rendah) - Desain
dapat digunakan secara efisien dan nyaman dan hanya menimbulkan kelelahan minimum.
Penerapannya: Prinsip ini hanya bisa diterapkan untuk pengguna senior yaitu untuk Bapak dan
Ibu Hariyono, mengingat minimnya modal yang tersedia namun semakin bertambahnya usia
pengguna. Oleh karena itu fasilitas yang digunakan oleh pengguna senior diletakkan di lantai bawah
dan berada pada satu area . Hal tersebut bertujuan agar pengguna senior tidak harus mengeluarkan
energy lebih untuk menjangkau kebutuhannya di lantai atas serta dalam bekerja, tidak perlu mondar-
mandir dalam bekerja seperti pada rumah yang lama .

140
Universitas Kristen Petra

Gambar 126 Desain Rumah Bengkel untuk Warga Senior di Kampung Tepi Sungai (Lantai 1 yang
dikhususkan untuk memudahkan pergerakan Pak Hariyono).
PRINSIP KETUJUH: Size and Space for Approach and Use (Menyediakan Ukuran dan
Ruang untuk Pendekatan dan Penggunaan)- Ukuran dan ruang yang sesuai seharusnya disediakan
141
Universitas Kristen Petra
untuk memudahkan pendekatan, pencapaian, manipulasi, dan penggunaan terlepas dari ukuran tubuh
pengguna, postur, atau mobilitasnya.
Penerapannya: Pada kamar mandi (5 dan 7) digunakan closet jongkok karena permintaan dari
Pak Haryono sendiri dan juga harga lebih terjangkau dibanding closet duduk untuk meminimalkan
biaya desain, sehingg diperoleh kebutuhan ruang yang mencukupi namun tidak terlalu membuang
tempat. Hal ini sesuai dengan prinsip ketujuh yaitu penyesuaian desain dengan pendekatan kebutuhan
dan penggunaan. Penggunaan ember disesuaikan dengan ukuran toilet yang tidak terlalu besar agar
ruang gerak Pak Haryono Lebih lebar dan leluasa.
142
Universitas Kristen Petra
Daftar Nama & NRP Mahasiswa yang Terlibat
- 22411003, REBECCA ASTRID GUNAWAN
- 22411018, CINDY FRANSISCA TANRIM
- 22411044, ANNEKE DEBORA KUNCORO
- 22411053, WENNY STEFANIE
- 22411055, NERISSA KUMALA TANDIONO
- 22411061, ANNEKE CLAUVINIA PATRIAJAYA
- 22411066, VERONICA YUWONO
- 22411072, MICHELLE MIMOSA
- 22411074, PUSPITA RANI
- 22411075, CENDANA MARCHELIWAN PUTRA
- 22411077, MELLISA STEFANI YOLINO
- 22411086, HENDY GUNAWAN
- 22411095, YOVITA HADI
- 22411096, DICKY LIENARDO LIE
- 22411107, AARON SUTANTO PUTRA
- 22411108, IVAN VILANO
- 22411109, FENNY GUNAWAN
- 22411110, THEODORUS AKWILA PREVIAN
- 22411117, ANDRE SUGIANTO
- 22411123, MARINA VICTORIA DHARMAWAN
- 22411124, RONNY CHANDRA KURNIAWAN
- 22411145, TERRY CHRISTIANTO SUROSO
- 22411150, TIFFANY TOMMY
- 22411160, ROBY ISMANTO
- 22411162, MARIA MONICA RAMPISELA
- 22411094, LOUIS SATRIA PURWANTO
143
Universitas Kristen Petra
Dokumentasi Kegiatan

Gambar 127 Pendekatan ke BILIC Bandung

Gambar 128 Pendekatan ke PWSS Surabaya
144
Universitas Kristen Petra

Gambar 129 Kegiatan Wawancara dengan Narasumber Ibu Paulina Mayasari S.Sn.

Gambar 130 Kegiatan Wawancara dengan Narasumber Bapak Ahmad Fauzi M.Hum. dan Ibu Lilik
Ghoniyah Sofyan S.Pd. M.Ed.
145
Universitas Kristen Petra

Gambar 131 Kegiatan Wawancara dengan Bapak Hariyono Karno

Gambar 132 Kegiatan Wawancara dengan P Tutus Setiawan S.Pd.
146
Universitas Kristen Petra

Gambar 133 Kegiatan Wawancara dengan Bapak Abdul Syakur S.E.

Gambar 134 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
147
Universitas Kristen Petra

Gambar 135 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 136 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
148
Universitas Kristen Petra

Gambar 137 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 138 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
149
Universitas Kristen Petra

Gambar 139 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 140 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
150
Universitas Kristen Petra

Gambar 141 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 142 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
151
Universitas Kristen Petra

Gambar 143 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 144 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
152
Universitas Kristen Petra

Gambar 145 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 146 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
153
Universitas Kristen Petra

Gambar 147 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 148 Kegiatan Lokakarya Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
154
Universitas Kristen Petra

Gambar 149 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 150 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
155
Universitas Kristen Petra

Gambar 151 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra

Gambar 152 Kuliah dan Diskusi dalam Penyempurnaan Desain Inklusif Rumah Tinggal di UK Petra
156
Universitas Kristen Petra
Refleksi Mahasiswa
Kelompok Bapak Ahmad Fauzi M.Hum.yang didampingi oleh Ibu Lilik Ghoniyah Sofyan
S.Pd. M.Ed.
Dicky Lienardo Lie, 22411096
Nama Dicky Lienardo Lie
NRP 22411096
Email Mahasiswa dicky.lienardo@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 20 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Penjelasan awal tugas mata kuliah inklusi yaitu mendesain ruang bagi kaum difabel serta
kebutuhan-kebutuhan dari beberapa jenis difabel.
Perasaan yang dirasakan Semakin tertarik dengan desain inklusi dengan melihat bahwa hak kesetaraan mereka di
Indonesia belum terlalu dipikirkan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kebutuhan akan difabel belum terlalu diperhatikan bahkan diabaikan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada, hanya sekedar mencari tahu mengenai desain bagi kaum difabel yang sudah
ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 27 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah mengenai desain inklusi yang dibawakan oleh Pak Tutus sebagai narasumber. Pak
Tutus memberikan banyak hal, mulai dari pengalamannya di fasilitas-fasilitas umum yang
tidak memperhatikan aksesibilitas kaum difabel, cara memegang tongkat, mengajarkan
fungsi penanda khusus dan perbedaannya masing-masing, penataan ruang untuk kaum tuna
netra, kesulitan-kesulitan yang didapatkan saat beraktivitas.
- Selalu berjalan di dekat pembatas berupa dinding atau semacamnya untuk
memudahkan mengetahui arah, atau berjalan sambil meraba
- Menggunakan tongkat untuk mengetahui arah
- Ketika kaki kanan melangkah ke depan, maka tongkat diarahkan ke kiri, dan
sebaliknya
- Tidak perlu mengayunkan tongkat terlalu tinggi
- Cara memegang tongkat (teknik grip) harus rileks, tidak kaku, dan tidak terlalu erat.
Jari telunjuk yang akan menggerakkan tongkat ke kanan dan ke kiri.
Sewaktu hendak berjalan hendaknya mengecek keadaan yang ada di depannya
menggunakan tongkat
Perasaan yang dirasakan Merasakan bahwa kebutuhan orang normal dan yang memiliki disabilitas sangat berbeda,
sehingga semakin tertarik untuk mempelajari mata kuliah ini agar bisa mendesain bagi
kaum tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Tuna netra mengandalkan memori dalam beraktivitas, sehingga perabot dalam rumah
sebaiknya tidak dipindahkan atau selalu ditata dengan posisi yang sama.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memperlajari lebih dalam lagi mengenai desain bagi kaum disable pada fasilitas-fasilitas
umum agar mereka bisa menikmati juga fasilitas umum tersebut dengan lebih baik.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
- Ramp membutuhkan kemiringan tertentu agar mudah dilewati kursi roda
- Material ramp tidak boleh licin, untuk pengguna kursi roda maupun tuna netra
Perasaan yang dirasakan Terdapat perasaan khawatir ketika menjalani simulasi sebagai tuna netra. Tentunya
perasaan malu tidak dapat dihindari.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dalam mendesain ramp sangat dibutuhkan standard yang tepat dari kemiringan hingga
material yang digunakan. Saat ini cukup banyak designer yang kurang memperhatikan hal
tersebut secara detail, sehingga banyak kaum difabel yang mengalami kesulitan ketika
melewati ramp.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mempelajari desain yang bersifat universal agar dapat digunakan oleh banyak orang
termasuk difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 4
157
Universitas Kristen Petra
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan Narasumber (Luar Kampus)
Kami mewawancarai Pak Fauzi, yang merupakan penderita CP. Ia menjalani
kesehariannya dengan berbaring. Perabotan dalam rumahnya semua didesain dengan
ketinggian pendek agar mudah dijangkau dalam posisi berbaring. Ia mengaku tidak
mengalami kekurangan apapun dalam rumah yang saat ini ia tempati. Namun kami melihat
bahwa itu disebabkan karena kebiasaan. Kenyataannya masih banyak kekurangan yang
bisa didesain ulang agar membuat ia semakin lebih nyaman dalam beraktivitas.
Perasaan yang dirasakan Simpati sekaligus kagum terhadap P. Fauzi yang menjadi penderita cerebal palsy, namun
masih memiliki semangat yang luar biasa untuk hidup.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Studi mengenai desain bagi penderita CP sangat jarang bahkan belum ditemui, sehingga
sulit untuk mempelajarinya. Akibatnya desain bagi penderita CP hanya sekedar
berdasarkan pengalaman.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan simpati dan menggali info terhadap narasumber yang lebih dalam mengenai
kebutuhan-kebutuhannya.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan narasumber (Luar Kampus) – Kelompok berdiskusi perihal hasil
wawancara dan mulai melakukan pemecahan desain.
Perasaan yang dirasakan Semakin mengerti bagaimana menjadi seorang yang menderita cerebal palsy dilihat
melalui kegiatan sehari-harinya.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Untuk dapat mendesain harus dapat mengerti bagaimana pengguna yang di desain baik
secara mental maupun fisik. Pengalaman secara nyata menjadi referensi dalam desain.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba untuk memberikan gambaran kasar desain secara sketsa dan gambaran untuk
kedepannya.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Perasaan yang dirasakan Penasaran untuk berpikir lebih kompleks dikarenakan banyak hal yang kami lupakan
dalam mendasain dan diingatkan oleh dosen pembimbing.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memperdalam teori yang di dapat serta membandingkannya dengan keadaan nyata
dilapangan dengan dosen pembimbing.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menatata ulang desain yang sudah di buat sebelumnya serta mengatur dimensi yang
dibutuhkan.
Kuliah/ Pertemuan ke 7 - 8
Tanggal 9 April 2014 & 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada, merupakan pekan Ujian Tengah Semester (UTS).
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Merasa tertarik karena ada pembicara dari luar Indonesia.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataan terkadang belum sesuai dengan teori yang ada, namun teori dapat menjadi
pembelajaraan kedepannya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Tidak ada
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Berdikusi dengan kelompok untuk menyatukan pendapat agar lebih mendalami bagaimana
perasaan narasumber. Tujuannya adalah desain yang dapat menjadi lebih sesuai dengan
pengguna.
158
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Rumah Pak Fauzi didesain ulang agar sirkulasi antar ruang lebih pendek dengan
mengeliminasi ruang-ruang yang kurang terpakai. Selain itu sirkulasi udara dalam ruang
juga perlu diperhatikan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyusun desain dalam sebuah skematik dan sketsa.
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Semakin tersadar setelah mendengar langsung dari sumber-sumber yang telah menghadiri
workshop sehingga bisa lebih mengerti dan menambah pengetahuan mengenai desain
kaum disable.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap teori belum tentu sesuai dengan narasumber yang didesainkan karena terkadang
pengguna lebih memiliki preferensi sendiri dan juga teori dapat menjadi tolak ukur dalam
desain.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan ide – ide tambahan yang didapat melalui narasumber lainnya. Mengupdate
kembali pekerjaan desain rumah Pak Fauzi agar dapat lebih asesibel dengan masukan dari
kelompok lain serta sumber workshop.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 14 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Menjadi semakin tertarik dan menjadi mengerti bagaimana prinsip – prinsip yang belum
pernah di dengar dan menjadi dapat tambahan untuk desain yang dibuat.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Adanya tujuh prinsip dalam desain inklusi yaitu :
1. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan, menarik bagi semua pengguna)
2. Flexibility in Use (Pengguna mampu beradaptasi dengan mudah)
3. Simple and Intuitive Use (Penggunaan desain mampu dimengerti, sederhana)
4. Perceptible Information (Informasi yang penting)
5. Tolerance for Error (Meminimalkan bahaya)
6. Low Physical Effort (Menimbulkan kelelahan minimum)
7. Size and Space for Approach and Use (Ruang yang cukup untuk bergerak)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan prinsip tersebut ke dalam desain rumah satu per satu dengan detail sesuai
kebutuhan.
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi tugas akhir.
Perasaan yang dirasakan Yakin membuat desain yang baik untuk narasumber.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Melakukan pengecekan terhadap terori yang didapat dengan desain yang dibuat.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil akhir dengan melakukan finalisasi terhadap gambar 3d serta penyusunan laporan
untuk dijadikan buku yang diharapkan mampu membantu dalam desain.
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 28 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Pengumpulan tugas akhir (UAS).
Perasaan yang dirasakan Senang karena bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-


Hendy Gunawan, 22411086
Nama Hendy Gunawan
NRP 22411086
Email Mahasiswa Hendy.gunawan@hotmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 20 Februari 2014
159
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Penasaraan terhadap desain inklusi dan masih bingung detailnya seperti apa
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belum terlalu jelas karena baru hanya gambaran besar seluruh pelajaran
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah mengenai desain inklusi yang dibawakan oleh Pak Tutus sebagai narasumber.
Perasaan yang dirasakan Menjadi lebih peka terhadap orang – orang berkebutuhan khusus
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belajar untuk mulai memperhatikan orang – orang yang berkebutuhan khusus dan menjadi
simpati dan mulai berpikir desain untuk arsitekturnya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Cukup was – was dan malu saat melakukan simulasi karena di lihat banyak orang.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belajar bagaimana menjadi orang yang berkebutuhan khusus itu tidak lah mudah. Selain
secara fisik mental pun perlu diperkuat. Teori yang didapatpun tidak semudah seperti
kenyaataannya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan Narasumber (Luar Kampus)
Perasaan yang dirasakan Simpati terhadap P. Fauzi yang menjadi penderita cerebal palsy
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Khusus untuk penderita ini teori belum terlalu dipaparkan dikelas namun memperoleh
pelajaran yang langsung nyata walaupun di desain oleh orang awan melalui pengalaman
saja.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan simpati dan menggali info terhadap narasumber
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan narasumber (Luar Kampus) – Kelompok berdiskusi perihal hasil
wawancara dan mulai melakukan pemecahan desain.
Perasaan yang dirasakan Semakin mengerti bagaimana menjadi seorang yang menderita cerebal palsy dilihat
melalui kegiatan nya sehari – hari
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Untuk dapat mendesain harus dapat mengerti bagaimana pengguna yang di desain baik
secara mental maupun fisik. Pengalaman secara nyata menjadi referens desain
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba untuk memberikan desain secara sketsa dan gambaran kedepannya
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Perasaan yang dirasakan Tidak ada
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memperdalam teori yang di dapat serta membandingkannya dengan keadaan nyata
dilapangan dengan dosen pembimbing
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menatata ulang desain yang sudah di buat sebelumnya serta mengatur dimensi yang
di butuhkan.
Kuliah/ Pertemuan ke 7 - 8
Tanggal 9 April 2014 & 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada, merupakan pekan Ujian Tengah Semester (UTS).
160
Universitas Kristen Petra
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Merasa tertarik karena ada pembicara dari luar Indonesia.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyaataan terkadang belum sesuai dengan teori yang ada namun teori dapat menjadi
pembelajaraan kedepannya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Tidak ada
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Berusaha untuk makin mendalami bagaimana perasaan narasumber agar desain dapat
menjadi lebih sesuai dengan pengguna
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyusun desain dalam sebuah skematik dan sketsa
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Menjadi makin mengerti bagaimana keadaan narasumber lain yang juga membutuhkan
bantuan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap teori belum tentu sesusai dengan narasumber yang di desainkan karena terkadang
pengguna lebih memiliki preferensi sendiri dan juga teori dapat menjadi tolak ukur dalam
desain.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan ide – ide tambahan yang di dapat melalui narasumber lain juga.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 14 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Menjadi semakin tertarik dan menjadi mengerti bagaimana prinsip – prinsip yang belum
pernah di dengar dan menjadi dapat tambahan untuk desain yang dibuat.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori – teori yang di dapat dengan kenyaataan yang ada belum tentu sama serta sesusai
dengan kebiasaan dan kenyamaan an pengguna menjadi pertimbangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mereview ualng desain yang telah dibuat dengan prinsip desain inklusi yang didapat
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi tugas akhir.
Perasaan yang dirasakan Yakin membuat desain yang baik untuk narasumber
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Melakukan pengecekan terhadap terori yang di dapat dengan desain yang dibuat
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil akhir dengan melakukan finalisasi terhadapa gamabr 3d
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 28 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Pengumpulan tugas akhir (UAS).
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami -
161
Universitas Kristen Petra
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-

Rebecca Astrid Gunawan, 22411003
Nama Rebecca Astrid Gunawan
NRP 22411003
Email Mahasiswa rebecca_gunawan@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 20 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Semakin tertarik untuk lebih memahami dan mengenal desain inklusi lebih dalam.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belum terlalu memahami karena masih berupa pengantar singkat dan belum langsung
terjun di lapangan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah mengenai desain inklusi yang dibawakan oleh Pak Tutus sebagai narasumber.
Perasaan yang dirasakan Simpati melihat kondisi nyata yang dialami oleh narasumber mengingat selama ini hanya
memikirkan namun tidak pernah melihat secara langsung
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori yang ada bukan merupakan hal yang paten & dapat langsung diterapkan dalam
kenyataan di lapangan, namun masih harus memperhatikan & melihat kebutuhan serta
kondisi orang yang bersangkutan secara langsung.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Merasakan perasaan narasumber tuna netra & berkursi roda secara langsung dengan
melakukan simulasi di Gedung W dan EH Universitas Kristen Petra. Perasaan yang
dirasakan cukup kaget merasakan keadaan yang ternyata tidak semudah dipikirkan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori merupakan hal pendukung dalam lapangan, namun bukan merupakan hal yang
langsung 100% dapat diterapkan dalam kenyataan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan Narasumber (Luar Kampus)
Perasaan yang dirasakan Simpati melihat kondisi narasumber yang terjadi (P. Fauzi yang menderita Cerebral Palsy)
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Merupakan 2 hal yang berkesinambungan & tidak dapat terpisahkan (Jangan selalu
berpatokan pada teori & tidak memperhatikan kondisi narasumber yang bersangkutan).
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada secara khusus, hanya menampung kondisi & kebutuhan yang diperlukan oleh
narasumber.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan narasumber (Luar Kampus) – Kelompok berdiskusi perihal hasil
wawancara dan mulai melakukan pemecahan desain.
Perasaan yang dirasakan Semakin memperdalam perasaan setelah bertemu narasumber dan berusaha merasakannya
secara langsung agar desain yang dihasilkan pun maksimal.
Apakah yang saya pahami Dilatih untuk merasakan pengalaman penyandang cacat serta permasalahan mereka, serta
162
Universitas Kristen Petra
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
mencari desain yang lebih baik agar dapat memenuhi kenyamanan narasumber.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menghasilkan ide-ide desain yang masih abstrak.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Perasaan yang dirasakan Sama dan semakin belajar untuk merasakan keadaan narasumber.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Semakin menggali & mendalami teori serta kenyataan di lapangan dengan asistensi hasil
wawancara pada dosen pembimbing.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Penataan ide-ide desain yang ada dan didiskusikan secara lebih mendalam.
Kuliah/ Pertemuan ke 7-8
Tanggal 9 April 2014 & 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada, merupakan pekan Ujian Tengah Semester (UTS).
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Merasa semakin terbekali
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Sama dengan anggapan sebelumnya, yaitu keduanya harus diperhatikan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Semakin berusaha memahami perasaan narasumber agar dapat menciptakan desain yang
baik bagi narasumber.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Sama dengan pertemuan sebelumnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Ide desain yang mulai tersusun dengan rapi & sistematis.
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Semakin simpati terutama setelah melihat kehadiran dan keadaan narasumber kelompok
lain.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap teori yang ada memiliki hubungan yang berbeda-beda bagi tiap-tiap orang yang
berbeda pula terutama terhadap kebutuhan yang berbeda. Hal ini disadari setelah melihat
kehadiran narasumber kelompok lain dalam Workshop Desain ini.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain ide kelompok, namun masih akan mengalami proses perubahan lagi kedepannya.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 14 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Semakin terbekali dalam mendesain khususnya dalam tugas yang saat ini sedang
dikerjakan, juga semakin tertantang untuk memenuhi prinsip-prinsip tersebut dalam desain
yang sedang dilakukan oleh kelompok.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
Dari prinsip-prinsip di atas kami tahu bahwa ada standar-standar yang harus dipenuhi
dalam mendesain rumah untuk penderita disabilitas, kita tidak bisa menyamakan dengan
163
Universitas Kristen Petra
kenyataan di lapangan rumah pada umumnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Koreksi ulang desain yang sedang dikerjakan agar memenuhi 7 prinsip desain inklusi yang
telah dijelaskan.
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi tugas akhir.
Perasaan yang dirasakan Semakin yakin dalam penyelesaian proses desain.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Semakin paham & berusaha menerapkannya dalam tugas akhir yang sedang dikerjakan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil desain yang semakin mencapai tahap akhir finalisasi serta kelengkapannya.
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 28 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Pengumpulan tugas akhir (UAS).
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-

Yovita Hadi, 22411095
Nama Yovita Hadi
NRP 22411095
Email Mahasiswa yovitahadi@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan, S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 20 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Ingin tahu lebih jauh apa yang dimaksud dengan desain inklusi
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belum terlalu paham, karena hanya mendengar teorinya saja, dan hanya dijelaskan
gambaran besar dari desain inklusi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah mengenai desain inklusi dengan narasumber Pak Tutus, penyandang tuna netra
Perasaan yang dirasakan Menjadi lebih peka pada kebutuhan orang-orang dengan disabilitas
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belajar untuk memahami kebutuhan orang-orang berkebutuhan khusus, menjadi lebih
simpati dan mulai terbayang penerapannya dalam arsitektur
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi (tuna netra)
Perasaan yang dirasakan Malu karena menjadi sorotan mata banyak orang dan takut karena kehilangan arah saat
mata ditutup
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Menjadi orang berkebutuhan khusus tidaklah mudah, terlebih dengan desain yang tidak
ramah terhadapnya. Selain secara fisik, mental pun juga harus lebih kuat. Teori yang
diberikan di kelas tidak semudah yang dijalani
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
164
Universitas Kristen Petra
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 19 maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara Dengan Narasumber (Luar Kampus)
Perasaan yang dirasakan Simpati terhadap Bp. Fauzi penderita cerebral palsy
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kebutuhan untuk penderita cerebral palsy tidak dibahas di kelas, namun dengan melihat
apa yang telah dirancang oleh keluarga Bp. Fauzi sendiri untuk memenuhi kebutuhannya,
mendapat pelajaran langsung di lapangan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan simpati dan menggali info terhadap narasumber
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan narasumber (Luar Kampus) – Kelompok berdiskusi perihal hasil
wawancara dan mulai melakukan pemecahan desain.
Perasaan yang dirasakan Semakin peka dalam mencari tahu kebutuhan dari penderita cerebral palsy untuk
melakukan aktivitas sehari-hari
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Untuk dapat mendesain, harus mengerti pengguna dari desain kita sendiri baik secara
mental dan fisik, karena tanpa pengalaman yang cukup, banyak hal akan terlewatkan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba untuk memberikan desain secara sketsa dan gambaran kedepannya
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Perasaan yang dirasakan Tidak ada
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mencari teori yang didapat dan menerapkannya pada desain kenyataan yang ada di
lapangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menatata ulang desain yang sudah di buat sebelumnya serta mengatur dimensi yang
di butuhkan.
Kuliah/ Pertemuan ke 7-8
Tanggal 9 April 2014 & 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada, merupakan pekan Ujian Tengah Semester (UTS).
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Antusias
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyaataan terkadang belum sesuai dengan teori yang ada namun teori dapat menjadi
modal untuk mendesain di kemudian hari
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Tidak ada
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Berusaha untuk makin mendalami bagaimana perasaan narasumber agar desain dapat
menjadi lebih sesuai dengan pengguna
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyusun desain dalam sebuah skematik dan sketsa
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
165
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Menjadi makin mengerti bagaimana desain untuk orang berkebutuhan khusus lainnya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap teori belum tentu sesusai dengan narasumber yang di desainkan karena terkadang
pengguna lebih memiliki preferensi sendiri dan juga teori dapat menjadi tolak ukur dalam
desain
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan ide – ide tambahan yang di dapat melalui narasumber lain juga.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 14 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Semakin mengerti akan prinsip-prinsip yang harus diterapkan di dalam desain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori – teori yang di dapat dengan kenyaataan yang ada belum tentu sama serta sesusai
dengan kebiasaan dan kenyamaanan pengguna menjadi pertimbangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mereview desain yang telah dibuat dan merecheck apakan prinsip-prinsip sudah diterapkan
semua di dalam desain
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi tugas akhir
Perasaan yang dirasakan Berusaha semaksimal mungkin membuat desain yang baik untuk narasumber
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Melakukan pengecekan ulang desain yang telah dibuat dan membandingkannya dengan
teori yang ada
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil akhir dengan melakukan finalisasi terhadap gambar 3d
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 28 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Pengumpulan tugas akhir (UAS).
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-


Theodorus Akwila Previan, 22411110
Nama Theodorus Akwila Previan
NRP
22411110
Email Mahasiswa
aquilaprevian@yahoo.com
Mata Kuliah
KKP-C , Desain Inklusi
Dosen Pengampu
Gunawan Tanuwidjaja, ST, M.Sc
Kuliah Pertemuan ke
1.
Tanggal
Rabu, 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan
Pengantar Desain Inklusi. Pertemuan pertama membahas tentang pengantar Desain
Inklusi. Bapak Gunawan menjelaskan tentang definisi desain inklusi, perlunya desain
inklusi, dan beberapa studi kasus tentang desain-desain yang memperhatikan disabilitas
pengguna.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Saya mendapatkan pengetahuan baru tentang Desain Inklusi. Desain Inklusi merupakan
desain yang memperhatikan secara khusus kebutuhan penggunanya. Kebanyakan yang
dibahas merupakan pengguna yang memiliki kebutuhan khusus, antara lain seperti tuna
netra dan tidak bisa berjalan biasa. Di lapangan saya beberapa kali menemui desain-
desain untuk difabel, tetapi belum mengetahui secara detail.
166
Universitas Kristen Petra
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada, baru sebatas perkenalan materi.
Kuliah Pertemuan ke
2.
Tanggal
Rabu, 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan
Kuliah Tamu dari Narasumber Bp. Tutus. Pertemuan kedua mendatangkan
narasumber dari luar, yaitu Bp. Tutus. Beliau merupakan penyadang kebutuhan khusus
tuna netra. Beliau datang bersama istrinya yang juga penyandang tuna netra. Bedanya bila
Bp. Tutus memiliki jenis tuna netra full (sama sekali tidak bisa melihat), istrinya memiliki
tuna netra setengah (bisa melihat tetapi kurang jelas, semacam katarak tetapi lebih di atas
katarak). Bp.Tutus membagikan pengalamannya dalam beradaptasi dengan fasilitas
umum, yang sebagian besar ditujukan secara umum untuk orang-orang normal sehingga
beliau harus beradaptasi.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Saya mendapatkan pengetahuan baru tentang adaptasi penyandang tuna netra terhadap
lingkungan umum di sekitarnya. Yaitu bagaimana penggunaan tongkat tuna netra yang
ternyata memiliki beberapa teknik penggunaan tersendiri yang tidak diketahui oleh orang
banyak. Diantaranya dengan meraba bidang-bidang di hadapan pengguna, dan meraba
tekstur bidang tersebut untuk mengenali suatu tempat atau lingkungan. Di samping itu
saya terkesan juga dengan usaha para penyandang tuna netra yang mau untuk berusaha
mandiri tanpa dibantu orang lain.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada, baru sebatas perkenalan materi.
Kuliah Pertemuan ke
3.
Tanggal
Rabu, 11 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan
Simulasi Desain Inklusi. Pada pertemuan ketiga kami melakukan simulasi penyandang
cacat. Beberapa peralatan yang kami gunakan yaitu tongkat tuna netra, penutup mata dan
kursi roda. Kami melakukannya dengan jalur dari gedung P sampai dengan puncak
gedung W. Diusahakan spot-spot simulasi merupakan tempat-tempat yang mewakili
lingkungan yang biasa dijumpai oleh penyandang cacat, contohnya seperti tangga, ramp,
kamar mandi, dan lift.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Saya mendapatkan pengetahuan baru juga dan berkesempatan untuk mengalami sendiri
apa yang dialami oleh orang-orang berkebutuhan khusus dan bagaimana cara mereka
beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Yang paling berkesan menurut saya adalah
bagaimana menggunakan kursi roda pada jalan yang berundak (tangga), pada ramp yang
curam, menghadapi keterbatasan ruang pada kamar mandi, dan juga keterbatasan ruang
pada lift juga untuk sirkulasi ke lantai atas yang cukup tinggi. Saya jadi memahami bahwa
diperlukan waktu penyesuaian yang cukup lama terhadap semua itu dan butuh usaha yang
lebih besar untuk bisa beradaptasi, sehingga pelajaran yang saya dapat adalah saya
menjadi lebih menghargai para penyandang cacat karena mereka berpengalaman untuk
memiliki usaha yang lebih besar untuk beradaptasi dibandingkan dengan orang normal.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada, baru sebatas pengenalan dan praktek tentang pengguna berkebutuhan khusus
Kuliah Pertemuan ke
4
Tanggal Rabu, 18 Maret 2014
167
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan
Wawancara dengan Narasumber di luar kampus (1). Kami mewawancarai
narasumber di luar kampus bersama dengan kelompok yang sudah dibagi. Kelompok
kami mendapat tugas menganalisis kebutuhan Bp. Fauzi yang memiliki penyakit cerebral
palsy, yaitu kelumpuhan permanen yang dialami sejak kecil berupa keterbatasan
penggunaan alat tubuh, yaitu kaki yang tidak memungkinkan penderita tidak dapat
berjalan dan duduk layaknya orang biasa. Bp. Fauzi diharuskan untuk merangkak dalam
geraknya dan perpindahannya. Di rumah bapak Fauzi, kami mendapati bahwa rumah
beliau yang direnovasi sedemikian rupa sehingga dapat menyesuaikan kebutuhan Bp.
Fauzi sendiri, antara lain peletakan meja-meja belajar yang pendek dan menyesuaikan
pergerakan Bp. Fauzi, lantai area mandi yang diturunkan dan wc yang selevel lantai
sehingga memudahkan Bp. Fauzi untuk mandi dan buang air.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Kami mendapatkan pengetahuan baru tentang penyakit cerebral palsy dan kondisi
penderita cerebral palsy tersebut. Selain itu juga bagaimana penyesuaian diri mereka
terhadap lingkungan sekitar, juga penyesuaian desain rumah tinggal mereka yang dapat
memenuhi segala kebutuhan penggunanya yang memiliki kebutuhan khusus. Di samping
itu, pelajaran yang saya dapatkan adalah bahwa ditengah keterbatasannya, Bp. Fauzi
ternyata merupakan seorang yang berprestasi tinggi dan bisa menempuh pendidikan tinggi
seperti orang-orang lainnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
belum ada, baru sebatas perkenalan dan eksplorasi .
Kuliah Pertemuan ke
5
Tanggal
Rabu, 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan
Wawancara dengan Narasumber di luar kampus (2). Waktu ini kami gunakan untuk
berdiskusi dalam kelompok tentang pemecahan masalah yang perlu dalam usaha
peningkatan kenyamanan penyandang cacat dalam menghuni rumahnya.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Kami dilatih untuk merasakan pengalaman penyandang cacat dan menganalisa
permasalahan mereka, serta mencari desain yang lebih baik untuk dapat memenuhi
kenyamanan penyandang cacat dalam menghuni rumah mereka.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Analisis kebutuhan pengguna dan konsep awal pemecahan masalah desain.
Kuliah Pertemuan ke
6
Tanggal
Rabu, 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan
Workshop UNDK. merupakan seminar internasional yang membahas mengenai berbagai
macam hal. Dalam hal ini diundang tamu dari berbagai macam Negara khususnya
ASEAN. 2 sesi yang sempat di ikuti saat itu yaitu mengenai cara pembelajaran yang
kreatif melalui teknologi dan teknik. Selain itu terdapat materi tentang arsitektur
tradisional dengan tema Arsitektur Tionghoa.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Saya mendapat banyak pengetahuan tentang teknologi-teknologi dalam arsitektur yang
dapat mempermudah kita dalam melakukan aktifitas. Selain itu juga pengetahuan tentang
arsitektur tradisional Tionghoa yang ternyata juga telah memperhatikan kebutuhan dan
kenyamanan penghuninya. Ini bisa dilihat dari bentuk desain dan tata ruang yang unik
bila dibandingkan dengan arsitektur di daerah lain.
168
Universitas Kristen Petra
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
belum ada, sebatas pengenalan kepada desain-desain berteknologi maju.
Kuliah Pertemuan ke
7
Tanggal
Selasa, 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan
Persiapan Workshop Desain. Waktu ini kami gunakan untuk mencari info lebih
mengenai contoh desain rumah untuk penderita cerebral palsy beserta kebutuhan
mendasarnya, dan juga mendata kebutuhan khusus yang dibutuhkan oleh Bp. Fauzi
karena setiap penderita disabilitas memiliki kebutuhan yang berbeda meskipun sama-
sama menderita cerebral palsy. Kami juga mencoba mensimulasikan untuk menjadi Bp.
Fauzi dan melakukan aktivitas.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Kegiatan ini melatih kepekaan kita dalam menganalisis karakteristik dan mencari
kebutuhan yang diperlukan oleh pengguna sehingga mereka dapat nyaman dalam
melakukan aktifitasnya melalui arsitektur yang bersahabat dengannya. Kami juga
memperoleh pandangan arsitektur dari mata pengguna difabel melalui proses mencoba
menjadi pengguna yang berkebutuhan khusus.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Pendalaman lebih tentang analisis karakter pengguna dan solusi yang lebih efektif lagi
untuk pengguna.
Kuliah Pertemuan ke
8
Tanggal
Rabu, 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan
Pertemuan ke 8 mengundang narasumber dari luar untuk membahas tentang kebutuhan
khusus yang dimilikinya. Narasumber kelompok kami Bp. Fauzi berhalangan hadir
dikarenakan sedang mengikuti ibadah umroh. Yang kami lakukan adalah membahas
desain apa yang diperlukan untuk dapat menampung kebutuhan penghuni sehingga bisa
beraktivitas dengan baik. Setelah itu kami mempresentasikan desain tersebut dihadapan
narasumber, Bp. Gunawan, dan peserta mata kuliah Desain Inklusi yang lain.
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Di sini yang kami dapatkan adalah berpikir kritis dan solutif mengenai apa yang perlu
diperbaiki pada rumah penyandang kebutuhan khusus ini. Kami dilatih untuk
menganalisis masalah-masalah yang sering dialami oleh pengguna selama di rumahnya
dan bagaimana pemecahannya sehingga pengguna bisa lebih nyaman dalam menghuni
rumahnya dan melakukan kegiatannya sehari-hari. Di sini kami juga berdiskusi dengan
kelompok lain yang narasumbernya datang dan berkesempatan untuk sharing
pengalamannya. Dari mereka, kami memahami bahwa kenyataannya yang terjadi di
lapangan mungkin beberapa desain ideal tidak dapat terlaksana dikarenakan beberapa
kendala, baik dari segi pembangunan maupun nanti mau-tidaknya pengguna menerima
desain ideal kita. bisa juga ternyata pengguna sudah merasa nyaman dengan desain yang
selama ini mereka gunakan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah Pertemuan ke
9
Tanggal
Rabu, 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan
Pertemuan ke-9 membahas pengenalan 7 prinsip desain inklusi, yaitu:
169
Universitas Kristen Petra

1. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan). Desain harus memiliki kesetaraan,
yaitu mampu untuk dipakai semua pengguna yang memiliki kemampuan dan karakteristik
yang beragam.

2. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam penggunaan). Desain harus dapat memenuhi
kebutuhan setiap individu dan memberikan kemungkinan untuk setiap individu
beraktifitas di dalamnya.

3. Simple and Intuitive Use (Pengunaan yang sederhana dan intuitif). Desain dapat
dinikmati dan digunakan dengan mudah, tanpa membutuhkan perlakuan khusus yang
menyulitkan pengguna, justru harus dapat mempermudah pengguna.

4. Perceptible Information (Informasi yang jelas). Desain dapat memberikan
informasi yang penting bagi pengguna yang dapat dimengerti oleh setiap pengguna
dengan bantuan indera apapun.

5. Tolerance for Error (Toleransi terhadap kesalahan). Desain harus meminimalkan
bahaya dan dan konsekuensi merugikan dari tindakan kecelakaan yang disengaja maupun
tidak disengaja.

6. Low Physical Effort (Meminimalkan upaya fisik). Desain sebaiknya jangan terlalu
menuntut pengguna melakukan upaya fisik yang besar, sebaliknya dengan upaya fisik
seminimal mungkin untuk mencapai tujuan yang besar.

7. Size and Space forApproach and Use (Menyediakan ukuran dan ruang yang cukup
untuk pendekatan dan penggunaan).
Perasaan yang dirasakan
Senang dan penasaran.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan yang ada di
lapangan
Kami mendapatkan pengetahuan baru tentang prinsip-prinsip yang benar dalam desain
inklusi. Menurut kami prinsip-prinsip ini sebaiknya juga dapat digunakan dalam semua
desain arsitektur sehingga kita dapat menciptakan sebuah space yang ramah bagi semua
pengguna. Yang sering membuat bingung adalah pada saat kita ingin idealis membuat
suatu desain dengan bentuk yang kita inginkan tetapi ternyata bila diintegrasikan dengan
prinsip inklusi jadinya adalah bertentangan dan tidak dapat dimasukkan. Tantangan yang
harus kita pecahkan adalah bagaimana membuat sebuah desain yang ideal dengan bentuk
yang baik dan juga bisa ramah dengan semua pengguna dengan karakter dan kemampuan
yang berbeda-beda.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
belum ada, sebatas pengenalan terhadap 7 prinsip desain inklusi.

Kelompok Bapak Abdul Syakur S.E.
Louis Satria Purwanto, 22411094
Nama Louis Satria Purwanto
NRP 22411094
Email Mahasiswa louis.purwanto@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 20 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Pertemuan pertama kami dijelaskan mengenai tugas mata kuliah Inklusi secara garis besar,
bahwa kami akan mendesain ruang bagi kaum difabel, misalnya tuna netra, tuna daksa,
lansia, dan sebagainya. Bapak Gunawan mulai memberi contoh fasilitas umum yang tidak
aksesibel bagi kaum difabel. Misalnya bagi tuna netra, mereka butuh bimbingan berupa
ubin dengan penanda khusus pada trotoar jalan. Penanda khusus pada jalan berbeda-beda
dengan fungsi yang berbeda. Ada yang menandakan bahwa jalan lurus, berhati-hati, atau
perbedaan ketinggian. Tuna netra dapat mengetahuinya melalui bantuan tongkat. Misalnya
170
Universitas Kristen Petra
bagi tuna daksa yang menggunakan kursi roda, sebaiknya menggunakan pintu geser,
karena pintu standar akan dapat menyusahkan bahkan membahayakan pengguna.
Perasaan yang dirasakan Ketidak setaraan hak untuk aksesibilitas antara manusia normal biasa dengan para kaum
difabel, yang saat ini masih sangat kurang perhatian dari kita semua bagi mereka yang
membutuhkan itu. Pedestrian yang ada di Indonesia ini sangat tidak layak bagi kalangan
mereka
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Aksesibilitas fasum pedestrian saat ini hanya ditujukan pada masyarakat umum saja. Para
penyandang disabilitas belum mendapatkan perhatian yang layak. Di beberapa titik kota
sudah ada yang mulai menggalakan atau memberikan perhatian lebih kepada mereka, tapi
belum 100% baik diterapkannya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai berpikir dan bertindak dengan kacamata kaum orang difable agar turut dapat
merasakan kekurangan dan kesulitan yang dialami mereka sehingga bisa lebih bereksplor
dalam mendesain.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 27 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kedatangan Pak Tutus
Pak Tutus menceritakan banyak hal, mulai dari pengalaman Beliau di fasilitas-fasilitas
umum yang tidak memperhatikan aksesibilitas kaum difabel, cara memegang tongkat,
mengajarkan fungsi penanda khusus dan perbedaannya masing-masing, penataan ruang
untuk kaum tuna netra, kesulitan-kesulitan yang didapatkan saat beraktivitas.
- Selalu berjalan di dekat pembatas berupa dinding atau semacamnya untuk
memudahkan mengetahui arah, atau berjalan sambil meraba
- Menggunakan tongkat untuk mengetahui arah
- Ketika kaki kanan melangkah ke depan, maka tongkat diarahkan ke kiri, dan
sebaliknya
- Tidak perlu mengayunkan tongkat terlalu tinggi
- Cara memegang tongkat (teknik grip) harus rileks, tidak kaku, dan tidak terlalu erat.
Jari telunjuk yang akan menggerakkan tongkat ke kanan dan ke kiri.
- Sewaktu hendak berjalan hendaknya mengecek keadaan yang ada di depannya
menggunakan tongkat
Perasaan yang dirasakan Perbedaan kesulitan yang sangat besar antara orang normal dan orang disabilitas dalam
menjalankan kegiatannya sehari-hari. Mengingatkan kita untuk lebih peka dalam
mendesain sehingga selalu berusaha untuk measukan unsur-unsur tersebut pada setiap
rancangan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Tuna netra bergerak melalui memori yang ada. Apabila mereka sudah terbiasa atau hafal
dengan keadaan di sekitarnya maka mereka dapat beraktivitas lebih mudah. Maka dari itu
pada tempat tinggal Pak Tutus keadaan perabot di rumahnya tidak boleh dipindah sedikit
pun. Pada kehidupan bermasyarakat masih kurang teraplikasikan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Semakin menerapkan desain-desain bagi kaum disabillitas terutama pada fungsi fungsi
fasilitas umum lebih ditingkatkan kembali karena saat ini masih sangat kurang pada
kenyataannya di lapangan.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
- Ramp membutuhkan kemiringan tertentu agar mudah dilewati kursi roda
- Pengguna kursi roda sulit menaiki ramp di gedung EH, dan handrail yang disediakan
tidak berguna
- Material ramp tidak boleh licin, untuk pengguna kursi roda maupun tuna netra
Perasaan yang dirasakan Sulit menaiki kursi roda karena membutuhkan tenaga ekstra, dan sangat berbahaya jika
menaiki atau menuruni ramp yang curam.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ada suatu standar universal dalam perancangan ramp agar dapat dilalui dengan mudah
baik oleh pengguna kursi roda atau tongkat, maupun oleh tuna netra, lansia, ibu hamil,
dsb. Semakin landai suatu ramp maka akan lebih mudah diakses. Pemilihan material yang
tepat juga akan membantu aksesibilitas kaum difabel.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain yang bersifat universal agar dapat digunakan oleh kaum difabel bahkan orang
normal.
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Kami mewawancarai Bapak Syakur di YPAC, Beliau adalah pengguna kursi roda di
YPAC, tetapi menggunakan tongkat di rumah karena masalah keterbatasan ruang. Bapak
Syakur mengaku bahwa tidak terlalu menemukan kesulitan dalam menggunakan tongkat,
tetapi jika menggunakan kursi roda hal yang sering terjadi adalah kursi roda yang
menabrak perabot, misalnya tidak bisa masuk ke dalam meja makan, dsb.. Perabotan juga
171
Universitas Kristen Petra
memerlukan tinggi yang dapat dijangkau oleh pengguna kursi roda, jadi segala
penempatan perabotan lebih rendah dari biasanya.
- Kursi roda membutuhkan ruang yang lebih besar untuk manuver
- Kursi roda membutuhkan ramp untuk melalui naikan atau turunan, dengan
kemiringan yang cocok
- Kursi roda mempunyai berbagai macam jenis dan semakin canggih untuk
membantu aktivitas penggunanya
- Pengguna kursi roda memerlukan kekuatan lebih untuk berpindah dari kursi roda
ke tempat lain, misalnya sofa, atau toilet
- Saat berpindah tempat, pengguna kursi roda membutuhkan bantuan handrail
Perasaan yang dirasakan Para kaum difabel mampu untuk melakukan kegiatan-kegiatan sehari-hari nya secara
mandiri membuat rasa respect pada diri saya muncul. Yang diharapkan oleh mereka
hanyalah kesataran dan sedikit perhatian agar mereka mendapatkan kemudahan yang sama
dengan masyarakat umum lainnya. Tidak dibeda-bedakan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Pengguna setiap fasilitas umum adalah semua orang baik itu masyarakat umum maupun
kaum difable. Meskipun tidak cacat semua orang pasti akan tua atau dapat hamil. Sehingga
sebenarnya apabila kita telah membiasakan diri untuk mendesain dengan target spectrum
seperti di atas, maka desain kita kaan berhasil untuk semua pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Ingin lebih mengeksplore dan mengetahui bagaimana kesulitan-kesulitan yang dialami
oleh sumber sehingga bisa lebih mengena dan sadar agar dapat menjadi perhatian yang
lebih.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Perasaan yang dirasakan Rumah Pak Syakur sangat tidak mendukung dengan aksebilitas bagi kaum difabel
membuat prihatin
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap ruang harus didesain dengan ukuran yang pas sehingga dapat dilewati oleh kursi
roda, maupun kursi roda tersebut bermanuver. Namun pada lorong-lorong ruang tersebut
terlalu sempit untuk melakukan manuver kursi roda. Kemudian pintu-pintu yang
digunakan menggunakan pintu engsel yang membuat pak Syakur kesulitan untuk
membuka pintu apabila menggunakan kursi roda. Pak Syakur sendiri menggunakan
kendaraan roda tiga yang diparkir pada ram depan rumahnya yang terlalu curam. Di dalam
rumahnya sendiri banyak terdapat perbedaan ketinggian yang menyulitkan pak Syakur
untuk bergerak.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai memikirkan cara dan mendesain bagaimana desain yang ideal bagi rumah pak
syakur yang baru dengan menambahkan akses ram-ram agar memudahkan sirkulasi kursi
roda.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 3 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Perasaan yang dirasakan Semangat untuk membuat rancangan rumah Pak Syakur yang lebih asesibel bagi pengguna
kursi roda
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Pemberian handrail serta perbanyakan ramp harus ditambahkan agar kemudahan dan
keamanan aksesibilitas lebih meningkat dari yang sebelumnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengajukan ide-ide desain dan saran yang ingin diberikan untuk lebih mendukung
pengerjaan desain rumah Pak Syakur.
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 10 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan Mencari tahu lebih tentang desain inklusi yang benar
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlu adanya prinsip-prinsip desain inklusi untuk semua desain bangunan yang bersifat
universe.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 17 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan Mencari tahu lebih tentang desain inklusi yang benar
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Desain inklusi yang benar juga perlu memerhatikan kebutuhan dari setiap penggunanya
apabila lingkup kerjanya bersifat lebih mikro seperti rumah pengguna, ruang kerja dan
sebagainya. Namun untuk fasilitas umum, desain yang digunakan dapat bersifat universal
172
Universitas Kristen Petra
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 24 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Semangat memikirkan desain yang diterapkan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlu adanya 7 prinsip desain inklusi untuk semua desain bangunan yang bersifat universe.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 1 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Berdikusi dengan kelompok untuk menyatukan pendapat agar dapat menemukan ide
desain yang tepat untuk rumah Pak Syakur
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Rumah Pak Syakur didesain ulang agar lebih luas dengan mengeliminasi ruang-ruang yang
kurang terpakai. Selain itu pembuatan bukaan yang lebih nyaman agar selain sesuai
dengan tempat tinggal penyandang disabilitas, tetapi juga tetap memikirkan aspek
kesehatannya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan saran serta pendapat pada kelompok
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 8 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Mata menjadi terbuka setelah mendengar langsung dari sumber-sumber yang telah
menghadiri workshop sehingga bisa lebih mengerti dan menambah pengetahuan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori yang didapatkan lebih teori praktis dari sumber-sumber penyandang disabilitas
sendiri, selain itu saran-saran dari teman-teman kelompok lainnya menjadi ilmu yang baru
bagi saya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengupdate kembali pekerjaan desain rumah Pak Syakur agar dapat lebih asesibel dengan
masukan dari kelompok lain serta sumber workshop
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Menambah pengetahuan mengenai desain inklusi yang benar dan sesuai dengan prinsip
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Adanya tujuh prinsip dalam desain inklusi yaitu :

8. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan, menarik bagi semua pengguna)
9. Flexibility in Use (Pengguna mampu beradaptasi dengan mudah)
10. Simple and Intuitive Use (Penggunaan desain mampu dimengerti, sederhana)
11. Perceptible Information (Informasi yang penting)
12. Tolerance for Error (Meminimalkan bahaya)
13. Low Physical Effort (Menimbulkan kelelahan minimum)
14. Size and Space for Approach and Use (Ruang yang cukup untuk bergerak)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan prinsip tersebut ke dalam desain rumah pak Syakur satu per satu dengan
detail sesuai kebutuhan
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi
Perasaan yang dirasakan Mengusahakan menyempurnakan kembali desain rumah Pak Syakur
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kurang detailnya 7 prinsip desain inklusi pada desain sebelumnya. Perabot-perabot yang
ada belum inklusif serta aksesibilitas belum mencukupi idealnya di beberapa titik di
ruangan rumahnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain kembali rumah yang telah ada agar lebih baik lagi
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kumpul UAS
173
Universitas Kristen Petra
Perasaan yang dirasakan Senang karena bisa memberikan kontribusi bagi masyarakat difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Materi dengan kenyataan sangatlah sulit diterapkan seluruhnya secara mendetail. Harus
ada dorongan lebih untuk mencapai desain yang baik
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyelesaikan pekerjaan cadding serta sketchup untuk penyajian.
174
Universitas Kristen Petra
Ivan Vilano, 22411108
Nama Ivan Vilano
NRP 22411108
Email Mahasiswa Ivanvilano@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Merasa ingin tahu lebih banyak bagaimana desain inklusi seharusnya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Untuk setiap public space memang perlu adanya accessible untuk setiap pengguna jalan
termasuk orang-orang difable. Namun pada kenyataannya, orang-orang cenderung
menghiraukan hal tersebut. Karena itu perlu adanya pengetahuan tentang inklusi pada
bidang arsitektur sehingga desain pada setiap bangunan dapat diakses oleh semua orang
karena memang itu hak milik semua orang.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha mencari tahu masalah yang dihadapi oleh orang-orang difable sehingga dapat
mendesain fasilitas umum dengan baik dan dapat diakses oleh semua orang
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kedatangan Pak Tutus
Perasaan yang dirasakan Menambah pengetahuan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami studi gerak para difable dengan kenyataan pada lapangan.
- Dimana orang yang berjalan dengan menggunakan tongkat dan tidak dapat
melihat membutuhkan adanya jalur pembantu seperti lantai yang bertekstur
ataupun handrail untuk menuntun mereka
- Studi tentang luasan gerak orang difable dimana mereka memerlukan ukuran-
ukuran perabotan tersendiri untuk memudahkan mereka mengakses hal tersebut.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha memahami kekurangan dari pak Tutus dan menerapkannya pada pekerjaan
lapangan lebih dalam lagi, sehingga orang-orang seperti pak Tutus ini tidak perlu
kerepotan untuk menuju ke suatu tempat
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 11 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Susah dan memang perlu adanya perhatian khusus
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Difable perlu adanya akses-akses khusus yang membantu mereka seperti ram, handrail dan
sebagainya. Dari simulasi ini pula kita mempelajari bahwa ukuran tinggi ram untuk
pengguna kursi roda tidak bisa terlalu curam. Perlu juga adanya penunjuk-penunjuk jalan
untuk membantu mereka menemukan lokasi yang ingin dituju. Adanya handrail ataupun
guiding path akan sangat membantu mereka untuk bergerak. Penggunaan lift dimana
tombol lift harus terdapat huruf braille dan tidak boleh terlalu tinggi agar dapat lebih
mudah diakses.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha mengerti dan memahami kebutuhan para difable dimana hal-hal penting yang
perlu diperhatikan dalam mendesain
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Perasaan yang dirasakan Perlu adanya perhatian lebih bagi orang-orang difable salah satunya adalah orang yang kita
wawancara yaitu pak Syaukur
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Orang-orang difable seperti pak Syakur dimana ia adalah pengguna kursi roda. Beliau
hanya bisa menuju ke public space yang memiliki accessibilitas dimana perlu adanya
tuntunan untuk menuju ke tiap-tiap lokasi. Karena itu desain-desain public space yang
sekarang tidak memenuhi syarat untuk accessibilitas. Seperti misalnya tidak adanya
guiding path atau ram yang terlalu curam untuk dinaiki.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menawarkan desain inklusi kepada rumah Pak Syakur untuk dapat dibuat lebih
accessibilty namun tetap berestetika
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Perasaan yang dirasakan Prihatin terhadap desain rumah pak Syakur yang cukup susah untuk diakses oleh orang-
orang difable
175
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap ruang harus didesain dengan ukuran yang pas sehingga dapat dilewati oleh kursi
roda, maupun kursi roda tersebut bermanuver. Namun pada lorong-lorong ruang tersebut
terlalu sempit untuk melakukan manuver kursi roda. Kemudian pintu-pintu yang
digunakan menggunakan pintu engsel yang membuat pak Syakur kesulitan untuk
membuka pintu apabila menggunakan kursi roda. Pak Syakur sendiri menggunakan
kendaraan roda tiga yang diparkir pada ram depan rumahnya yang terlalu curam. Di dalam
rumahnya sendiri banyak terdapat perbedaan ketinggian yang menyulitkan pak Syakur
untuk bergerak.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain rumah pak Syakur harus jelas terdapat ram-ram untuk membantu pergerakan. Pintu
yang digunakan diganti dengan sliding door untuk memudahkan pak Syakur. Toilet
didesain secara khusus dengan berbagai peralatan mandi untuk orang-orang difable, seperti
shower, closet duduk, dan kursi mandi.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Perasaan yang dirasakan Semangat memikirkan desain yang diterapkan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlu adanya perubahan ukuran denah dari rumah pak Syakur dimana lorong rumah harus
diperbesar untuk memudahkan manuver, dan mengganti tinggi permukaan lantai supaya
lebih accessible dan nyaman untuk pak Syakur. Ram kendaraan diperlebar dan diberi
handrail untuk menuntun beliau. Ukuran pintu harus disesuaikan dengan ukuran kursi roda
pak Syakur.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan Mencari tahu lebih tentang desain inklusi yang benar
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlu adanya prinsip-prinsip desain inklusi untuk semua desain bangunan yang bersifat
universe.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan Mencari tahu lebih tentang desain inklusi yang benar
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Desain inklusi yang benar juga perlu memerhatikan kebutuhan dari setiap penggunanya
apabila lingkup kerjanya bersifat lebih mikro seperti rumah pengguna, ruang kerja dan
sebagainya. Namun untuk fasilitas umum, desain yang digunakan dapat bersifat universal
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Semangat memikirkan desain yang diterapkan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlu adanya 7 prinsip desain inklusi untuk semua desain bangunan yang bersifat universe.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Berusaha untuk menemukan solusi desain inklusi yang sesuai dengan rumah pak Syakur
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Setiap ruangan di dalam rumah pak Syakur harus memiliki accesibilitas yang dapat
digunakan oleh pak Syakur sendiri maupun keluarganya. Pemilihan material yang aman
dan nyaman juga perlu diperhitungkan di dalam perancangan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kritik terhadap desain inklusi yang diajukan
Kuliah/ Pertemuan ke 11
176
Universitas Kristen Petra
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan Terinspirasi oleh pembicara workshop yang memberikan wawasan tambahan mengenai
desain inklusi
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Prinsip desain yang telah diajarkan di kuliah sesuai dengan kenyataan yang dialami oleh
pembicara workshop, seperti penggunaan toilet yang accessible, penggunaan ramp, dain
lain-lain. Sekaligus mendapatkan masukan dari kelompok lain mengenai desain yang
disarankan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan masukan-masukan dan kiritik berdasarkan ilmu tambahan yang didapat dari
workshop
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Menambah pengetahuan mengenai desain inklusi yang benar dan sesuai dengan prinsip
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Adanya tujuh prinsip dalam desain inklusi yaitu :
15. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan, menarik bagi semua pengguna)
16. Flexibility in Use (Pengguna mampu beradaptasi dengan mudah)
17. Simple and Intuitive Use (Penggunaan desain mampu dimengerti, sederhana)
18. Perceptible Information (Informasi yang penting)
19. Tolerance for Error (Meminimalkan bahaya)
20. Low Physical Effort (Menimbulkan kelelahan minimum)
21. Size and Space for Approach and Use (Ruang yang cukup untuk bergerak)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan prinsip tersebut ke dalam desain rumah pak Syakur satu per satu dengan
detail sesuai kebutuhan
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi
Perasaan yang dirasakan Berusaha mencapai desain inklusi yang lebih baik lagi dari hasil sebelumnya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Bahwa desain inklusi juga tetap harus memikirkan tentang fungsi rumah secara sains
dimana cross ventilasi tetap harus dipertahankan. Butuh adanya integrasi antara prinsip
desain inklusi dan nilai estetika suatu bangunan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain dan konsep renovasi rumah pak Syakur yang baru dan sudah didesain secara
inklusi.


Andre Sugianto, 22411117
Nama Andre Sugianto
NRP 22411117
Email Mahasiswa andresugianto14@hotmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Pada pertemuan pertama dilakukan pengenalan tentang mata kuliah desain inklusi bagi
kaum difabel (tuna daksa, tuna rungu, lansia, tuna netra, low vision, dan lain-lain).
Pengenalan tentang bagaimana seharusnya mendesain bangunan dengan memperhatikan
elemen-elemen desain yang seharusnya ada. Pada pertemuan ini dijelaskan juga tentang
tugas dan jadwal perkuliahan yang akan dijalani selama satu semester.
Perasaan yang dirasakan Tertarik terhadap apa tentang desain inklusi itu. Mendesain dengan memperhatikan
aksesibilitas kaum difabel. Tertarik untuk memperlajari kebutuhan setiap kaum difabel
yang relatif berbeda-beda. Tertarik untuk mempelajari penerapan desain kedalam
bangunan terhadap setiap kebutuhan yang diperluka kaum difabel tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Rata-rata bangunan dan fasilitas umum yang ada terutama di Indonesia belum
memperhatikan elemen desain yang memenuhi kebutuhan pengguna kaum difabel. Seperti
contoh trotar yang belum didesain untuk tuna netra yang baik.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha untuk menghargai setiap kebutuhan kaum difabel dan ikut berkontribusi bagi
mereka lewat karya-karya desain kita sebagai seorang arsitek yang baik.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kedatangan Pak Tutus
177
Universitas Kristen Petra
Pada pertemuan ini Bapak Tutus selaku pembicara banyak menjelaskan tentang
kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan kaum difabel dari segi pengguna tuna netra. Bapak
Tutus juga menjelaskan dan banyak memberi contoh tentang kesalahan yang sering
dilakukan oleh perancang bangunan dalam mendesain sehingga tidak memenuhi
kebutuhan orang-orang difabel khususnya tuna netra. Bapak Tutus mempraktekan
bagaimana seorang tuna netra melakukan aktivitas mereka sehari-hari dengan
menggunakan tongkat bantu. Bagaimana cara mereka berjalan dan beradaptasi pada suatu
ruang atau tempat yang baru bagi mereka.
Perasaan yang dirasakan Tertarik tentang setipa pembicaraan Bapak Tutus mengenai semua kebutuhan yang
diperlukan sebagai seorang kaum difabel. Tertarik untuk dapat menerapkan setiap
bangunan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Sebagai mahasiswa arsitek saya sadar akan pentingnya kebutuhan kaum difabel.
Pentingnya desain yang benar-benar nyaman bagi kaum ini. Banyak kebutuhan yang
seharusnya dipenuhi dalam mendesain bangunan. Mendesain bukan semata-mata
keindahan dan fungsi ruang saja tetapi juga memperhatikan aksesibiltas kaum difabel juga.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha memahami dan mengerti kebutuhan kaum difabel dan mengaplikasikan pada
desain bangunan setiap kebutuhan mereka dalam berkativitas sehari-hari sehingga dapat
memudahkan dan memberi kenyaman kepada mereka.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 11 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Pada pertemuan ini dilakukan simulasi desain dimana kita sebagai mahasiswa
mensimulasikan kaum difabel dengan menggunakan beberapa alat bantu seperti tongkat,
penutup mata dankursi roda yang dilakukan di gedung W dan di Entrance Hall.
Perasaan yang dirasakan Semangat untuk mencoba mensimulasikan bagaimana menjadi seorang difabel. Hal-hal
apa saja yang menjadi kendala dalam berkativitas seperti berjalan, duduk, membuka pintu,
buang air, menggunakan kursi roda, dan lain-lain.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham dan dapat merasakan sendiri bagaimana kebutuhan sebenarnya seorang tuna
netra dan tuna daksa. Pentingnya sebuah desain bagi mereka kaum difabel.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Pada pertemuan ini saya bersama kelompok wawancara dengan klien desain kami bernama
Bapak Syakur yang merupakan seorang tuna daksa yang hanya mampu beraktivitas dengan
setengah badan keatas saja. Dari wawancara ini kami paham akan kebutuhan Bapak
Syakur dan aktivitas sehari-hari beliau di rumahnya. Kami juga belajar bahwa sebenarnya
semua ketentuan dan peraturan tentang difabel sudah tercantum dalam peraturan
pemerintah. Hanya saja pelaksanaan yang belum benar-benar terlaksana di seluruh fasilitas
umum dan bangunan yang ada.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk mendesain rumah Bapak Syakur dan memperhatikan setiap kebutuhan
Bapak Syakur sehingga menunjang dan memberi kenyaman untuk beraktivitas di dalam
rumah setiap hari.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham apa yang menjadi kebutuhan Bapak Syakur. Setiap perabot harus dapat diraih
dengan mudah oleh kursi roda, lebar pintu dan jalan menyesuaikan kebutuhan kursi roda,
memperhatikan ketinggian lantai dan kemiringan ramp yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Pertemuan ini saya bersama kelompok berkunjung ke rumah Bapak Syakur untuk melihat
kondisi rumha. Mencatat setiap kekurangan dan hal-hal yang menjadi kendala pada rumah
Bapak Syakur. Mempelajari perabot-perabot yang ada di rumah tersebut. Tingkat
aksesibilitas pada rumah beliau. Selanjutnya mengukur setiap ruangan dalam rumah beliau.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk dapat mendesain rumah beliau
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya memahami setiap kebutuhan beliau beserta setiap alat yang ia butuhkan dan kegiatan
sehari-hari beliau di dalam rumah. Dari referensi tersebut dapat memudahkan kita untuk
menngerti dan mendesain rumah beliau sehingga tepat sesuai dengan kebutuhan beliau
dengan baik.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
178
Universitas Kristen Petra
dampingan kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Menceritakan ulang hasil dari wawancara dan observasi tentang klien (Bapak Syakur)
kepada dosen dan diskusi bersama dosen tentang setiap kebutuhan mereka dan penerapan
desain ke dalam bangunan.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk berdiskusi bersama untuk mendapatkan solusi desain yang baik dan tepat
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami hasil diskusi dan menemukan bersama solusi yang seharusnya dapat masuk
dalam desain rumah Bapak Syakur
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Mencari referensi untuk desain rumah kaum tuna daksa.
Perasaan yang dirasakan Senang karena tidak ada Ujian Tengah Semester
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mencari referensi desain dan mempelajari desain serta mencoba desain untuk rumah
Bapak Syakur. Lalu mencoba mengevaluasi hasil desain dengan setiap pelajaran yang telah
didapatkan selama setengah semester tentang desain inklusi.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Mendiskusikan hasil desain bersanma dengan teman kelompok dan saling mengkritik serta
mmberi masukan desain untuk rumah Bapak Syakur. Mengombinasi semua hasil desain
menjadi satu desain yang nyaman dan aksesibel bagi Bapak Syakur dan mengasistensi hasi
desain bersama dosen.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk dapat bertukar pikiran serta saling memperbaiki hasil desain dan kebutuhan
desain rumah Bapak Syakur.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham bahwa desain yang baik untuk tuna daksa tidak mudah. Perlu memperhatikan
setiap detail yang ada dalam rumah seperti lebar pintu, tinggi jendela, bentuk perabot, jenis
pintu, tekstur lantai, hand rail, letak perabot kamar mandi dan jenisnya, dan lain- lain.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Senang karena banyak mendapat hal baru dalam berpikir dan mendesain sesuatu
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Banyak hal yang saya dapatkan dan pahami dalam mendesain bangunan. Bagaimana cara
mendesain bangunan yang baik dan nyaman. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
mendesain bangunan. Serta langkah-langkah mendesain yang baik dan efektif
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Pada pertemuan ini saya bersama kelompok mencoba berdiskusi kembali serta
memperbaiki hasil desain yang telah kami buat. Kami mulai mencoba membuat gambar
kerja dan bentuk 3D dari desain kami. Kami juga mencoba untuk berdiskusi kembali
dengan Bapak Syakur tentang hasil desain yang telah kami buat dan terbuka terhadap
masukan-masukan beliau
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk membuat gambar kerja serta memperbaiki desain yang telah dibuat menjadi
desain yang lebih baik dan benar-benar nyaman untuk Bapak Syakur
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham ternyata solusi desain yang telah kami buat tidak sepenuhnya dapat menjawab
semua kebutuhan Bapak Syakur. Bahkan ada beberapa desain yang malah menghambat
aktivitas beliau dan membuat beliau tidak nyaman.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
179
Universitas Kristen Petra
dampingan kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Pada pertemuan ini saya bersama kelompok mencoba mempresentasikan kepada
mahasiswa lain dan kepada dosen hasil dari desain rumah yang kami buat untuk Bapak
Syakur. Kami mencoba untuk menjelaskan setiap kebutuhan beliau dan menjelaskan
eksekusi desain yang kami lakukan di dalam desain kami.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk dapat menjelaskan ulang kepada mahasiswa lain serta belajar dari hasil
presentasi proyek dari mahasiswa lain sehingga pengetahuan akan kebutuhan difabel lain
bertambah.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya menjadi mengerti apa yang menjadi kebutuhan kaum difabel lain selain Pak Syakur
seperti lumpuh kaki, tuna netra, tuna rungu dan lain-lain serta bagaimana solusi desain
untuk memenuhi kebutuhan mereka semua.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberi masukan kepada kelompok lain tentang kekurangan dan kelebihan desain mereka
masing-masing dan mencoba merefleksi hasil desain yang telah kami buat bersama
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Pada pertemuan ini dijelaskan tentang 7 prinsip desain iklusi yang sebenarnya dibutuhkan
bagi kaum difabe oleh dosen. Ke tujuh prinsip tersebut adalah
1. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan, menarik bagi semua pengguna)
- Penggunaan WC duduk untuk pengguna kursi roda atau orang tua
- Pemberian ramp di bagian depan untuk masuknya kursi roda

2. Flexibility in Use (Pengguna mampu beradaptasi dengan mudah)
- Misalnya ada meja yang dapat dilipat untuk kebutuhan ibu saat memasak,
karena meja untuk pengguna kursi roda lebih tinggi/rendah

3. Simple and Intuitive Use (Penggunaan desain mampu dimengerti, sederhana)
- Handrail untuk pengguna kursi roda atau orang tua

4. Perceptible Information (Informasi yang penting)
- Papan instruksi untuk hal-hal baru misalnya untuk meja lipat

5. Tolerance for Error (Meminimalkan bahaya)
- Handrail agar memudahkan orang berdiri dari kursi roda
- Material lantai tidak licin
- Penggunaan ramp
- Dinding tidak bersudut 90
o

- Perabotan tidak mempunyai kaki yang menyulitkan pengguna kursi roda
- Pintu dan jendela sliding

6. Low Physical Effort (Menimbulkan kelelahan minimum)
- Handrail
- Ramp
- Pintu dan jendela sliding
- Perabotan khusus
7. Size and Space for Approach and Use (Ruang yang cukup untuk bergerak)
- Lebar pintu (lebar bersih) 1 meter untuk masuknya kursi roda
- Ukuran toilet agar kursi roda mampu berputar atau berpindah
- Manufer kursi roda muat di ruang ruang lainnya (misalnya ruang keluarga)
Perasaan yang dirasakan Saya tertarik untuk memeriksa ulang hasil desain yang telah kami buat. Apakah sudah
sesuai dengan ketujuh prinsip utama desain inklusi yang ada.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya mengerti konsep-konsep yang benar-benar harus dipenuhi dalam desain dan harus
diperhatikan dalam mendesain demi kepentingan kaum difabel
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi
Mendiskusikan hasil akhir desain yang telah saya buat bersama kelompok. Mencoba
memperbaiki sedikit kekurangan yang ada dari hasil desain dan melengkapi gambar-
180
Universitas Kristen Petra
gambar kerja yang ada
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk dapat menyelesaikan hasil final dari desain rumah Bapak Syakur
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham bahwa dalam mendesain dengan memperhatikan ke tujuh prinsip desain
tidaklah mudah. Sangat banyak hambatan serta kekurangan dalam mendesain demi
memenuhi prinsip-prinsip tersebut.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel

Terry Christianto Suroso, 22411145
Nama Terry Christianto Suroso
NRP 22411145
Email Mahasiswa Tare_terry@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Pada pertemuan ini dilakukan pengenalan akan desain inklusi bagai mana dampak desain
arsitek kepada kaum difabel, pentingnya desain inklusi dalam sebuah desain arsitektur.
Bagaimana desain inklusi sangat bermanfaat bagi kaum difabel. Di lanjutkan dengan
system perkuliahan dan materi materi yang akan di berikan
Perasaan yang dirasakan Cukup prihatin tentang desain inklusi yang belum pernah diajarkan pada semester
sebelumnya, karena sebelumnya kita mahasiswa menganggap gampangan tentang
ketinggian handrail, penggunaan material, kemiringan ramp dan lain lain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Pada kenyataan di lapangan desain inklusi di sekitar kita sangat kurang di perhatikan,
mulai dari parkiran, ramp, toilet, trotoar dan lain lain. Di bandingkan dengan luar negeri
desain inklusi di Indonesia bisa di katakana gagal.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha untuk menghargai setiap kebutuhan kaum difabel dan ikut berkontribusi bagi
mereka lewat karya-karya desain kita sebagai seorang arsitek yang baik.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kedatangan Pak Tutus
Hari ini kami bertemu dengan Bapak Tutus yang mengalami difabel tuna netra dan
membagi pengalaman tentang keseharian dia dan kebutuhan kebutuhan yang terpenting
yang di butuhkan oleh penderita tuna netra. Bapak tutus juga banyak bercerita tentang
kesalahan kesalahan desain di kota Surabaya yang sering kita kunjungi. Bapak tutus juga
memperaktekan cara berjalan Seorang tuna netra dengan menggunakan alat bantu tongkat.
Perasaan yang dirasakan Senang karena berbagi pengalaman dengan narasumber langsung, serta mendapatkan
berbagai praktek cara berjalan menggunakan tongkat.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mungkin hanya sebagian kecil yang berani untuk berjalan jalan di kota Surabaya seperti
contohnya pak tutus. Kota kita Surabaya kurang dapat membantu penyandang tuna netra ,
mulai dari path hungga cara penyandang tuna netra berkomunikasi dengan rakyat sekitar
Surabaya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai memandang tinggi desain inklusi terhadap kaum difable, dan belajar bagaimana
keperluan yang di butuhkan tuna netra
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 11 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Pada pertemuan ini dilakukan simulasi desain dimana kita sebagai mahasiswa
mensimulasikan kaum difabel dengan menggunakan beberapa alat bantu seperti tongkat,
penutup mata dankursi roda yang dilakukan di gedung W dan di Entrance Hall.
Perasaan yang dirasakan Merasa sangat susah untuk pertama kali mencoba menjadi seorang difabel, dan pastinya
senang dapat mencoba berpraktek secara langsung mulai dari berjalan, duduk hingga
menggunakan toilet.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya mulai sadar bagaimana perasaan penyandang difabel jika berkehidupan di sekitar
kita. Mereka pasti sangat kesusahan jika ingin keluar dari daerah mereka.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
181
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Pada pertemuan pertama ini saya sekelompok dalam matakuliah desain inklusi datang ke
YPAC untuk bertemu secara langsung dengan bapak Syakur selaku tuna daksa yang hanya
mampu menggerakan bagian setengah badan ke atas saja. Sedangkan bagian pinggul
kebawah masih dapat berfungsi tapi tidak secara normal. Karena terkena gangguan syaraf
pada bagian kakinya. Pada pertemuan ini bapak Syakur sangat banyak memberi
pengalaman tentang peraturan peraturan undang undang untuk kaum difabel tapi belum
terlaksanakan atau terpenuhi di sekitar kita kota Surabaya .
Perasaan yang dirasakan Cukup senang karena dapat bertemu langsung dengan pak syakur dan mendengar keluhan
keluhan yang dia alami selama berkehidupan di sekitar Surabaya. Saya juga sangat prihatin
dengan desain desain arsitek yang besar tapi sangan menyampingkan desain inklusi.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham apa yang menjadi kebutuhan Bapak Syakur. Setiap perabot harus dapat diraih
dengan mudah oleh kursi roda, lebar pintu dan jalan menyesuaikan kebutuhan kursi roda,
memperhatikan ketinggian lantai dan kemiringan ramp yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai mendapat bayangan dan mencatat beberapa yang harus diperhatikan dalam desain
inklusi.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Pada pertemuan ini kami bersama kelompok mengunjungi rumah orang tua Pak syakur
sebagai refrensi rumah yang akan kami desain , kami mulai mengukur ukuran ruang ,
perabot , dan ketinggian lantai. Dan mempelajari kesusahan aksesbilitan beliau dalam
rumah tersebut.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk dapat mendesain rumah beliau
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya mulai mengerti apa saja keluhan keluhan beliau dan bagai mana cara mengatasi pada
desain kita nanti.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan apa yang telah saya perlajari tentang desain untuk kaum difabel
kepada desain sebagai seorang arsitektur yang berempati terhadap orang lain khususnya
kaum difabel
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Asistensi dengan dosen inklusi kami tentang apa saja data yang kita dapat dan diskusi
bersama dosen bagaimana menanggapi setiap kebutuhan hingga penerapan kedalam desain
bangunan.
Perasaan yang dirasakan Mulai bersemangat karena kita mendapatkan banyak solusi untuk desain bangunan
selanjutnya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami hasil diskusi dan menemukan bersama solusi yang seharusnya dapat masuk
dalam desain rumah Bapak Syakur
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Penerapan pada desain bangunan bagaimana menerapkan 5 prinsip inklusi dalam bangunan
yang akan di desain. Mulai dari setiap ruangan.
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Berdiskusi dengan kelompok bagaimana tindakan selanjutnya untuk desain bangunan
rumah pak syakur serta memberi masukan dan kritik tentang prinsip prinsip yang akan di
ambil. Dan akhirnya berdikusi dengan dosen tentang apa saja yang akan dilakukan.
Perasaan yang dirasakan Mulai pusing dengan berbagai kritik dan masukan, serta bangga dapat bertukar pikiran
dengan teman sekelompok
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya mulai memahami bagaimana seorang penyandang lumpuh setengah badan untuk
mengakses rumah dia sendiri, dan kendala kendala dalam lapangan, seperti kemiringan
ramp, material yang terlalu licin, atau adanya undukan tangga yang sangat susah untuk di
akses oleh kursi roda.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Melakukan penerapan pada bangunan yang akan di desain, serta memasukan prinsip
prinsip dalam desain inklusi.
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Pada pertemuan ini kami satu kelompok mencoba berdikusi dengan bapak syakur tentang
desain kasaran 3D kepada bapak syakur
182
Universitas Kristen Petra
Perasaan yang dirasakan Merasa senang karena Bapak syakur ikut berpartisipasi sehingga kebutuhan yang di
inginkan pak Syakur dapat tercapai.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Saya paham ternyata solusi desain yang telah kami buat tidak sepenuhnya dapat menjawab
semua kebutuhan Bapak Syakur. Bahkan ada beberapa desain yang malah menghambat
aktivitas beliau dan membuat beliau tidak nyaman.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mencoba menerapkan hasil diskusi bersama pak syakur serta melakukan perbaikan dalam
desain 3D yang telah kami buat.
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Pada Pertemuan ini kami sekelmompok mencoba mempersentasikan hasil karya kami serta
mendapat masukan dari dosen tentang pemenuhan kebutuhan dalam desain bangunan pak
Syakur.
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan pengalaman lebih dari kelompok lain tentang desain inklusi
yang harus spesifik terhadap penggunanya.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mulai sedikit paham akan kebutuhan difabel lain seperti tuna netra, tuna rungu, hingga
lumpuh kaki.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberi masukan kepada kelompok lain tentang kekurangan dan kelebihan desain mereka
masing-masing dan mencoba merefleksi hasil desain yang telah kami buat bersama
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Pada pertemuan ini dijelaskan tentang 7 prinsip desain iklusi yang sebenarnya dibutuhkan
bagi kaum difabe oleh dosen. Ke tujuh prinsip tersebut adalah
8. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan, menarik bagi semua pengguna)
- Penggunaan WC duduk untuk pengguna kursi roda atau orang tua
- Pemberian ramp di bagian depan untuk masuknya kursi roda

9. Flexibility in Use (Pengguna mampu beradaptasi dengan mudah)
- Misalnya ada meja yang dapat dilipat untuk kebutuhan ibu saat memasak,
karena meja untuk pengguna kursi roda lebih tinggi/rendah

10. Simple and Intuitive Use (Penggunaan desain mampu dimengerti, sederhana)
- Handrail untuk pengguna kursi roda atau orang tua

11. Perceptible Information (Informasi yang penting)
- Papan instruksi untuk hal-hal baru misalnya untuk meja lipat

12. Tolerance for Error (Meminimalkan bahaya)
- Handrail agar memudahkan orang berdiri dari kursi roda
- Material lantai tidak licin
- Penggunaan ramp
- Dinding tidak bersudut 90
o

- Perabotan tidak mempunyai kaki yang menyulitkan pengguna kursi roda
- Pintu dan jendela sliding

13. Low Physical Effort (Menimbulkan kelelahan minimum)
- Handrail
- Ramp
- Pintu dan jendela sliding
- Perabotan khusus
14. Size and Space for Approach and Use (Ruang yang cukup untuk bergerak)
- Lebar pintu (lebar bersih) 1 meter untuk masuknya kursi roda
- Ukuran toilet agar kursi roda mampu berputar atau berpindah
- Manufer kursi roda muat di ruang ruang lainnya (misalnya ruang keluarga)
Perasaan yang dirasakan Mulai senang karena mendapatkan banyak masukan mengenai prinsip prinsip yang harus
di penuhi demi kenyamanan pengguna difabel.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mahasiswa mulai paham akan kegagalan kegagalan desain inklusi , dan mulai
mempraktekannya dalam desain masing masing bangunan mereka.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menerapkan Ketujuh prinsip tersebut, walaupun tidak semua prinsip terpenuhi
dalam setiap ruangan.
183
Universitas Kristen Petra
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi
Mendiskusikan hasil akhir 3D kepada dosen inklusi kami
Perasaan yang dirasakan Merasa tertantang dan senang mendapat masukan dari dosen kami
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ternyata sangat banyak yang di perhatikan dalam desain inklusi melalui 7 prinsip tersebut
dan tidak mudah untuk memperaktekan itu semua, sebagaimana matakuliah desain inklusi,
kita terus belajar bagaimana memenuhi prinsip tersebut secara maksimal
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan 7 prinsip tersebut dalam desain , mulai dari perubahan ramp, denah , sirkulasi,
perabotan, material. Hingga vegetasi dalam desain bangunan rumah pak Syakur


Tiffany Tommy, 22411150
Nama Tiffany Tommy
NRP 22411150
Email Mahasiswa tiffanytommy@ymail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi dijelaskan oleh Bapak Gunawan. Penjelasan tersebut meliputi
definisi desain inklusi, fungsi desain inklusi, dan beberapa studi kasus tentang desain-
desain yang memperhatikan disabilitas pengguna. Saya belajar mengenai Desain Inklusi
pada kesempatan ini. Bagaimana desain inklusi sangat penting bagi mereka yang
merupakan penyandang cacat ataupun lansia.
Perasaan yang dirasakan Merasa tertarik mengenai desain inklusi yang memperhatikan aksesibilitas kaum difabel.
Selain itu, kebutuhan kaum difabel yang berbeda satu sama lain menjadi tantangan untuk
dipelajari serta diterapkan dalam desain bangunan ke depannya.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kebanyakan bangunan dan fasilitas umum yang ada di Indonesia masih kurang
memperhatikan bagi pengguna kaum difabel. Contohnya masih kurangnya toilet bagi
kaum difabel di tempat umum.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menghargai setiap kebutuhan kaum difabel dan menolong kaum difabel jika lagi
memerlukan bantuan, mengaplikasikan teori ke dalam desain bangunan agar dapat
memenuhi kebutuhan kaum difabel dalam beraktivitas setiap harinya dengan nyaman dan
mudah.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kedatangan Pak Tutus
Pada pertemuan ini Bp. Tutus dan istrinya diundang sebagai pembicara tamu. Beliau dan
istrinya merupakan penyandang tuna netra maupun tuna netra setengah. Pada kesempatan
ini, beliau membagikan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari terutama berkaitan
dengan fasilitas umum yang tidak memadai bagi mereka sehingga mereka harus
beradaptasi.
Saya belajar secara langsung dari penyandang cacat mengenai kebutuhan mereka dalam
kehidupan sehari-hari. Saya juga belajar mengenai cara mereka beradaptasi dengan
menggunakan tongkat. Pada kesempatan ini saya juga belajar terhadap semangat dan usaha
mereka untuk bisa beradaptasi tanpa mengharapkan bantuan terus menerus.
Perasaan yang dirasakan Merasa tertarik dengan kehidupan Bp. Tutus sebagai seorang kaum difabel, mengenai
kebutuhan yang diperlukan serta ketertarikan sebagai seorang arsitek untuk menerapkan
kebutuhan kaum difabel pada masa yang akan datang.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Sebagai seorang mahasiswa arsitek haruslah sadar akan pentingnya kebutuhan kaum
difabel. Desain harus kompleks dan tidak hanya mementingkan sisi keindahan namun juga
memperhatikan kebutuhan pengguna khususnya bagi kaum difabel.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menghargai setiap kebutuhan kaum difabel dan menolong kaum difabel jika lagi
memerlukan bantuan, mengaplikasikan teori ke dalam desain bangunan agar dapat
memenuhi kebutuhan kaum difabel dalam beraktivitas setiap harinya dengan nyaman dan
mudah.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 11 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Pada pertemuan ini kami belajar melalui simulasi penyandang cacat. Kami juga dilengkapi
dengan peralatan berupa tongkat tuna netra, penutup mata, dan kursi roda. Kami
melakukan simulasi ini dengan menyesuaikannya sebisa mungkin dengan lingkungan yang
184
Universitas Kristen Petra
dijumpai penyandang cacat seperti tangga, lift, dan kamar mandi. Kami mengawalinya di
gedung P hingga ke puncak gedung W.
Saya belajar untuk memahami penyandang tuna netra dengan sangat baik melalui
kesempatan ini karena dapat mencoba mengalami apa yang mereka rasakan. Saya juga
belajar bahwa lingkungan yang tidak memadai bagi mereka sangat menyulitkan untuk
melakukan kegiatan sehari-hari, bagaimana mereka harus berusaha lebih dan
membutuhkan waktu lebih untuk dapat beradaptasi. Saya menjadi lebih mengapresiasi
kebutuhan mereka dan berharap bahwa kedepannya fasilitas umum dapat lebih disesuaikan
lagi terhadap kebutuhan penyandang cacat.
Perasaan yang dirasakan Bersemangat untuk mensimulasikan bagaimana caranya menjadi salah satu dari kaum
difabel. Menyadari berbagai kendala yang ditemui dalam beraktivitas sehari-hari seperti
buang air, membuka pintu, masuk ke lift, menaiki ramp, duduk, dll.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Melalui simulasi saya memahami berbagai kendala dan kebutuhan yang sebenarnya
dialami serta diperlukan oleh tuna netra dan tuna daksa. Desain seorang arsitek sangat
penting bagi para kaum difabel.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menghargai setiap kebutuhan kaum difabel dan menolong kaum difabel jika lagi
memerlukan bantuan, mengaplikasikan teori ke dalam desain bangunan agar dapat
memenuhi kebutuhan kaum difabel dalam beraktivitas setiap harinya dengan nyaman dan
mudah.
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Pada pembelajaran hari ini kami lakukan di luar kampus berupa wawancara terhadap
penyandang cacat Bp. Syahkur di YPAC (Yayasan Pendidikan Anak Cacat) yang telah di
alaminya sejak kecil dan pada saat mengalami kecelakaan. Bp. Syahkur mengalami
kesulitan untuk berjalan secara normal, dan terkadang menggunakan kursi roda maupun
alat bantu untuk berjalan.
Kami dapat belajar lebih mengenai kesulitan yang dihadapi para penderita disabilitas dari
penderitanya langsung. Kami tidak hanya belajar mengenai tuna daksa saja tapi juga
bagaimana penderitanya beradaptasi dan juga menyesuaikan lingkungan sekitar dengan
kebutuhannya. Saya juga belajar bahwa keterbatasan gerak yang dialami Bp. Syahkur tidak
menghalanginya untuk senantiasa tetap semangat dan berprestasi.
Perasaan yang dirasakan Bersemangat dan tertarik untuk mendesainkan rumah tinggal yang memperhatikan
kebutuhan Bapak Syahkur sebagai penderita tuna daksa yaitu lumpuh setengah badan,
sehingga desain rumah dapat menunjang serta memudahkan Bapak Syahkur dalam
beraktivitas setiap hari.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami berbagai hal yang merupakan kebutuhan Bapak Syahkur dalam beraktivitas di
rumahnya. Setiap ruangan harus dapat mudah diakses dengan kursi roda, perabot yang
sesuai, kemiringan ramp, serta lebar pintu dan ruangan untuk manuver kursi roda.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menghargai setiap kebutuhan kaum difabel dan menolong kaum difabel jika lagi
memerlukan bantuan, mengaplikasikan teori ke dalam desain bangunan agar dapat
memenuhi kebutuhan kaum difabel dalam beraktivitas setiap harinya dengan nyaman dan
mudah.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Kesempatan pada pertemuan hari ini, kami sekelompok berkunjung ke rumah Bapak
Syahkur untuk melihat kondisi rumah. Kami mencatat berbagai kebutuhan dan kekurangan
serta hal-hal yang menjadi kendala Bapak Syahkur untuk beraktivitas dalam rumah. Kami
juga mempelajari perabot yang ada dalam rumah serta mengukur setiap ruangan dalam
rumah dan tingkat aksesbilitas pada rumah.
Perasaan yang dirasakan Bersemangat dan merasa tertantang untuk mendesain rumah tinggal yang memenuhi
kebutuhan bagi Bapak Syahkur. Tertantang untuk dapat menganalisa permasalahan yang
dialami dan memikirkan solusi yang lebih baik bagi penyandang cacat untuk dapat
memperoleh kenyamanan dalam menghuni rumah mereka. Saya berharap kami dapat
melakukan kontribusi yang berarti bagi penyandang cacat.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Banyak materi yang tidak diterapkan di lapangan, atau penerapan tidak sesuai dengan yang
di ajarkan sehingga kenyataan di lapangan menjadi tidak maksimal.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan apa yang telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek
yang berempati khususnya terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Menceritakan ulang hasil dari wawancara dan observasi tentang klien yaitu Bapak Syahkur
185
Universitas Kristen Petra
kepada dosen. Melakukan diskusi bersama dengan dosen tentang setiap aspek yang
dibutuhkan dan penerapan desain ke dalam bangunan.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk melakukan diskusi bersama agar mendapatkan solusi desain yang benar dan
baik untuk diterapkan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami hasil diskusi dan menemukan berbagai solusi yang dapat diterapkan ke dalam
desain rumah Bapak Syahkur.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan apa yang telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek
yang berempati khususnya terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Mencari referensi untuk desain rumah kaum tuna daksa.
Perasaan yang dirasakan Merasa gembira karena tidak ada Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah inklusi.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Melalui referensi, pembelajaran, serta percobaan desain ke rumah Bapak Syahkiur.
Mengevaluasi hasil desain bersama dengan teori yang telah didapatkan selama setengah
semester ini.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesainkan rencana rumah tinggal yang lebih baik dan cocok dengan keterbatasan yang
dialami oleh Bp. Syahkur yaitu penyandang cacat setengah badan. Menerapkan apa yang
telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek yang berempati khususnya
terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Mendiskusikan hasil desain rumah Bapak Syahkur bersama dengan teman kelompok.
Setiap anggota saling mengkritik dan memberikan saran atau masukan desain untuk rumah
Bapak Syakur. Mengombinasikan seluruh hasil desain menjadi satu desain yang nyaman
dan aksesibel bagi Bapak Syakur dan mengasistensi hasi desain bersama dosen.
Perasaan yang dirasakan Bersemangat untuk bertukar pikiran bersama dengan teman kelompok untuk mendapatkan
hasil desain yang baik dan benar sesuai dengan kebutuhan desain rumah Bapak Syahkur.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mendesain bagi tuna daksa maupun penyandang cacat lainnya merupakan suatu hal yang
tidak mudah. Arsitek dituntut untuk memperhatikan setiap aspek dengan detail seperti
pintu rumah, tinggi jendela, kemiringan ramp, aksesibilitas ruang dan perabot, material,
letak perabot, dan lainnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesainkan rencana rumah tinggal yang lebih baik dan cocok dengan keterbatasan yang
dialami oleh Bp. Syahkur yaitu penyandang cacat setengah badan. Menerapkan apa yang
telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek yang berempati khususnya
terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK

Perasaan yang dirasakan Merasa bersemangat dan gembira karena banyak mendapat hal baru dalam mendesain dan
berpikir lebih terbuka serta dalam mengenai sesuatu.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dalam mendesain sesuatu terdapat banyak hal yang perlu dipahami. Bagaimana cara
mendesain suatu bangunan yang nyaman dan baik serta memenuhi kebutuhan penghuni
yang tidak hanya mementingkan keindahan namun juga desain yang kompleks dan efektif.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesainkan rencana rumah tinggal yang lebih baik dan cocok dengan keterbatasan yang
dialami oleh Bp. Syahkur yaitu penyandang cacat setengah badan. Menerapkan apa yang
telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek yang berempati khususnya
terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Pada pertemuan ini, kami sekelompok mencoba berdiskusi kembali serta memperbaiki
hasil desain yang telah kami buat. Kami mulai mencoba membuat gambar kerja dan bentuk
3D dari desain kami serta berdiskusi kembali dengan Bapak Syahkur tentang hasil desain
yang telah kami buat dan tetap terbuka terhadap masukan-masukan beliau demi
menghasilkan sebuah desain yang nyaman.
Perasaan yang dirasakan Merasa tertantang untuk membuat denah serta gambar kerja lainnya serta memperbaiki
desain yang telah dibuat sebelumnya menjadi desain yang kompleks, mudah, nyaman bagi
Bapak Syahkur.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami bahwa berbagai solusi yang telah kami pikirkan dan buat tidak dapat
sepenuhnya menjawab seluruh kebutuhan Bapak Syahkur. Selain itu, terdapat beberapa
desain yang malahan dapat menghambat aktivitas Bapak Syahkur dan membuat beliau
186
Universitas Kristen Petra
merasa tidak nyaman.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesainkan rencana rumah tinggal yang lebih baik dan cocok dengan keterbatasan yang
dialami oleh Bp. Syahkur yaitu penyandang cacat setengah badan. Menerapkan apa yang
telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek yang berempati khususnya
terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Pada pertemuan ini kami sekelompok mencoba mempresentasikan kepada mahasiswa lain,
klien, serta kepada dosen hasil dari desain rumah yang kami buat untuk Bapak Syahkur.
Kami mencoba untuk menjelaskan setiap kebutuhan beliau dan menjelaskan eksekusi
desain yang kami lakukan di dalam desain kami.
Perasaan yang dirasakan Merasa tertantang dan bersemangat dalam mempresentasikan hasil desain kepada
mahasiswa lainnya agar pengetahuan mengenai jenis kebutuhan dan kebutuhan difabel
dapat bertambah.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mengerti lebih dalam mengenai kebutuhan kaum difabel lain seperti penderita tuna netra
dan lansia. Selain itu, kami juga mengerti tentang solusi desain untuk memenuhi
kebutuhan penderita difabel sesuai dengan jenisnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Kami dapat memberikan masukan kepada kelompok lain mengenai kekurangan dan
kelebihan hasil desain mereka dan mencoba untuk merefleksikan hasil desain yang telah
kami buat bersama.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Pada pertemuan ini dijelaskan tentang 7 prinsip desain iklusi yang sebenarnya dibutuhkan
bagi kaum difabe oleh dosen. Ke tujuh prinsip tersebut adalah
15. Equitable Use (Kesetaraan dalam penggunaan, menarik bagi semua pengguna)
- Penggunaan WC duduk untuk pengguna kursi roda atau orang tua
- Pemberian ramp di bagian depan untuk masuknya kursi roda

16. Flexibility in Use (Pengguna mampu beradaptasi dengan mudah)
- Misalnya ada meja yang dapat dilipat untuk kebutuhan ibu saat memasak,
karena meja untuk pengguna kursi roda lebih tinggi/rendah

17. Simple and Intuitive Use (Penggunaan desain mampu dimengerti, sederhana)
- Handrail untuk pengguna kursi roda atau orang tua

18. Perceptible Information (Informasi yang penting)
- Papan instruksi untuk hal-hal baru misalnya untuk meja lipat

19. Tolerance for Error (Meminimalkan bahaya)
- Handrail agar memudahkan orang berdiri dari kursi roda
- Material lantai tidak licin
- Penggunaan ramp
- Dinding tidak bersudut 90
o

- Perabotan tidak mempunyai kaki yang menyulitkan pengguna kursi roda
- Pintu dan jendela sliding

20. Low Physical Effort (Menimbulkan kelelahan minimum)
- Handrail
- Ramp
- Pintu dan jendela sliding
- Perabotan khusus
21. Size and Space for Approach and Use (Ruang yang cukup untuk bergerak)
- Lebar pintu (lebar bersih) 1 meter untuk masuknya kursi roda
- Ukuran toilet agar kursi roda mampu berputar atau berpindah
- Manufer kursi roda muat di ruang ruang lainnya (misalnya ruang keluarga)
Pertemuan ini memberikan saya pengetahuan lebih tentang prinsip-prinsip yang harus
dipenuhi dalam desain inklusi. Prinsip ini sangat bermanfaat dikemudian hari karena
hampir seluruh desain bangunan yang kita desain harus memperhatikan kebutuhan para
penderita disabilitas. Para penderita disabilitas juga manusia yang memiliki hati dan
membutuhkan perhatian dari kita para arsitek untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan
mengikuti desain inklusi, saya dapat belajar banyak mengenai apa yang dirasakan para
penyandang cacat, dan apa yang mereka butuhkan dalam keseharian di luar bangunan
maupun di dalam bangunan karena sebagai arsitek, kita dituntut untuk memenuhi
kebutuhan manusia baik yang cacat maupun yang tidak cacat.
187
Universitas Kristen Petra
Perasaan yang dirasakan Menjadi bersemangat untuk mengecek ulang hasil desain yang telah dibuat sebelumnya,
apakah telah sesuai dengan 7 prinsip utama dalam desain inklusi.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Memahami seacara sepenuhnya mengenari konsep-konsep yang harus dipenuhi dalam
desain bagi kepentingan kaum difabel.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan apa yang telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek
yang berempati khususnya terhadap penyandang kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Desain
Mendiskusikan hasil akhir desain yang telah dibuat bersama dengan kelompok, kami
mencoba untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan desain yang ditemukan pada saat
asistensi bersama dosen. Selain itu, kami juga memulai untuk melengkapi gambar-gambar
kerja serta laporan yang dibutuhkan.
Perasaan yang dirasakan Tertarik dan bersemangat untuk menyelesaikan hasil akhir dari desain rumah Bapak
Syahkur.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dalam mendesain dengan memperhatikan 7 prinrip utama dalam desain inklusi merupakan
hal yang tidak mudah. Terdapat berbagai hal yang harus dipertimbangan serta ada banyak
kekurangan dan masalah dalam mendesain agar dapat memenui ketujuh prinsip tersebut.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesainkan rencana rumah tinggal yang lebih baik dan cocok dengan keterbatasan yang
dialami oleh Bp. Syahkur yaitu penyandang cacat setengah badan. Menerapkan apa yang
telah dipelajari mengenai desain inklusi sebagai seorang arsitek yang berempati khususnya
terhadap penyandang kaum difabel.


Maria Monica Rampisela, 22411162
Nama Maria Monica Rampisela
NRP 22411162
Email Mahasiswa mariarampisela@gmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 20 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Pertemuan pertama kami dijelaskan mengenai tugas mata kuliah Inklusi secara garis besar,
bahwa kami akan mendesain ruang bagi kaum difabel, misalnya tuna netra, tuna daksa,
lansia, dan sebagainya. Bapak Gunawan mulai memberi contoh fasilitas umum yang tidak
aksesibel bagi kaum difabel. Misalnya bagi tuna netra, mereka butuh bimbingan berupa
ubin dengan penanda khusus pada trotoar jalan. Penanda khusus pada jalan berbeda-beda
dengan fungsi yang berbeda. Ada yang menandakan bahwa jalan lurus, berhati-hati, atau
perbedaan ketinggian. Tuna netra dapat mengetahuinya melalui bantuan tongkat. Misalnya
bagi tuna daksa yang menggunakan kursi roda, sebaiknya menggunakan pintu geser,
karena pintu standar akan dapat menyusahkan bahkan membahayakan pengguna.
Perasaan yang dirasakan Saya baru menyadari bahwa aksesibilitas bagi kaum difabel itu penting karena selama ini
saya tidak pernah memikirkannya atau mempertimbangkannya di dalam desain. Saya juga
baru mengetahui fungsi penanda jalan yang ada di trotoar, dan ada berbagai bentuk
penanda jalan dengan fungsi yang berbeda.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ternyata fasilitas umum belum mengutamakan aksesibilitas kaum difabel, dibuktikan
dengan sangat sedikitnya trotoar jalan yang menggunakan penanda khusus, atau meskipun
menggunakan penanda khusus tetapi ada pohon-pohon yang memutuskan penanda khusus
tersebut.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha untuk selalu memikirkan aksesibilitas kaum difabel dalam mendesain fasilitas
umum apapun, atau memikirkan aksesibiltas di dalam rumah kaum difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 27 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kedatangan Pak Tutus
Pak Tutus menceritakan banyak hal, mulai dari pengalaman Beliau di fasilitas-fasilitas
umum yang tidak memperhatikan aksesibilitas kaum difabel, cara memegang tongkat,
mengajarkan fungsi penanda khusus dan perbedaannya masing-masing, penataan ruang
untuk kaum tuna netra, kesulitan-kesulitan yang didapatkan saat beraktivitas.
- Selalu berjalan di dekat pembatas berupa dinding atau semacamnya untuk
memudahkan mengetahui arah, atau berjalan sambil meraba
188
Universitas Kristen Petra
- Menggunakan tongkat untuk mengetahui arah
- Ketika kaki kanan melangkah ke depan, maka tongkat diarahkan ke kiri, dan
sebaliknya
- Tidak perlu mengayunkan tongkat terlalu tinggi
- Cara memegang tongkat (teknik grip) harus rileks, tidak kaku, dan tidak terlalu erat.
Jari telunjuk yang akan menggerakkan tongkat ke kanan dan ke kiri.
- Sewaktu hendak berjalan hendaknya mengecek keadaan yang ada di depannya
menggunakan tongkat
Perasaan yang dirasakan Membayangkan jika berjalan dengan mata tertutup akan sangat sulit, tetapi Pak Tutus
terlihat sudah sangat lihai dan terbiasa dalam beraktivitas. Kita sebagai orang yang peduli
dengan kaum difabel harus lebih menerapkan aksesibilitas dalam desain.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Tuna netra beraktivitas menggunakan memori mereka akan benda-benda yang menjadi
patokan. Jadi seharusnya tidak memindahkan benda-benda tuna netra yang telah menjadi
patokan dan telah dihafalkan. Pada kenyataannya, benda Pak Tutus di dalam rumahnya
sendiri tidak pernah berganti tempat. Untuk mengurangi bahaya terbentur saat berjalan,
maka tidak ada benda-benda yang keluar dari dinding.
Berbicara mengenai fasilitas umum, pada kenyataannya masih sangat kurang
memperhatikan aksesibilitas.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Sebagai mahasiswa yang peduli akan desain inklusif, kita seharusnya lebih
memperjuangkan hak kaum difabel untuk menikmati fasilitas-fasilitas umum sebagaimana
orang lain menikmatinya. Dimulai dengan memaksimalkan aksesibilitas di dalam desain.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
- Ramp membutuhkan kemiringan tertentu agar mudah dilewati kursi roda
- Pengguna kursi roda sulit menaiki ramp di gedung EH, dan handrail yang disediakan
tidak berguna
- Material ramp tidak boleh licin, untuk pengguna kursi roda maupun tuna netra
Perasaan yang dirasakan Sulit menaiki kursi roda karena membutuhkan tenaga ekstra, dan sangat berbahaya jika
menaiki atau menuruni ramp yang curam.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ada suatu standar universal dalam perancangan ramp agar dapat dilalui dengan mudah
baik oleh pengguna kursi roda atau tongkat, maupun oleh tuna netra, lansia, ibu hamil,
dsb. Semakin landai suatu ramp maka akan lebih mudah diakses. Pemilihan material yang
tepat juga akan membantu aksesibilitas kaum difabel.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain yang bersifat universal agar dapat digunakan oleh kaum difabel bahkan orang
normal.
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Kami mewawancarai Bapak Syakur di YPAC, Beliau adalah pengguna kursi roda di
YPAC, tetapi menggunakan tongkat di rumah karena masalah keterbatasan ruang. Bapak
Syakur mengaku bahwa tidak terlalu menemukan kesulitan dalam menggunakan tongkat,
tetapi jika menggunakan kursi roda hal yang sering terjadi adalah kursi roda yang
menabrak perabot, misalnya tidak bisa masuk ke dalam meja makan, dsb.. Perabotan juga
memerlukan tinggi yang dapat dijangkau oleh pengguna kursi roda, jadi segala
penempatan perabotan lebih rendah dari biasanya.
- Kursi roda membutuhkan ruang yang lebih besar untuk manuver
- Kursi roda membutuhkan ramp untuk melalui naikan atau turunan, dengan
kemiringan yang cocok
- Kursi roda mempunyai berbagai macam jenis dan semakin canggih untuk
membantu aktivitas penggunanya
- Pengguna kursi roda memerlukan kekuatan lebih untuk berpindah dari kursi roda
ke tempat lain, misalnya sofa, atau toilet
- Saat berpindah tempat, pengguna kursi roda membutuhkan bantuan handrail
Perasaan yang dirasakan Merasa bahwa Bapak Syakur serba bisa di dalam setiap keterbatasannya, padahal
sebelumnya saya merasa iba dan berpikir bahwa melakukan segala sesuatu itu dapat
menjadi sulit karena menggunakan kursi roda. Bapak Syakur juga menitikberatkan kepada
kemandirian dalam beraktivitas, dan di situlah aksesibilitas berperan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ada spektrum pengguna yang harus diperhitungkan dalam mendesain, baik desain
universal maupun desain inklusif. Saya menyadari bahwa fleksibiltas dalam desain harus
berperan karena kita tidak tahu apa yang dapat terjadi pada kita, sehingga suatu saat kita
membutuhkan desain yang aksesibel, misalnya saat lanjut usia, dsb.
Yang terjadi di YPAC adalah ramp yang sangat curam bahkan orang normal pun tidak
ingin melewati jalur itu, ditambah lagi dengan material yang licin.
Kontribusi yang diberikan Mendengarkan dengan seksama sharing Bapak Syakur dan mulai memikirkan hal-hal
189
Universitas Kristen Petra
terhadap komunitas
dampingan
penting yang perlu diperhatikan dalam mendesain ruang untuk kaum difabel pengguna
kursi roda.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara
Wawancara kedua kami dengan Bapak Syakur, menceritakan tentang banyak hal mengenai
kebutuhan-kebutuhan beliau di fasilitas umum dan rumah. Selain itu beliau menceritakan
tingkatan tuna daksa, mulai dari yang terkena polio dan masih bisa berjalan, bahkan ada
yang sampai tidak bisa bergerak sama sekali dan agak sulit melakukan beberapa aktivitas.
Jadi, setiap penyakit mempunyai spektrumnya masing-masing, dan Bapak Syakur masuk
dalam spektrum pengguna yang menggunakan kursi roda tetapi masih kuat jika
menggunakan tongkat untuk beraktivitas.
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan banyak hal baru, mendengarkan kisah-kisah Bapak Syakur
dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dalam beraktivitas seperti orang lain.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Model kursi roda ada bermacam-macam mulai dari yang tidak terlalu canggih dan kurang
nyaman seperti kursi roda di rumah sakit, hingga kursi roda yang canggih yang mampu
membantu pengguna dalam beraktivitas, misalnya gagang bisa dilepas, atau berjalan
dengan menggunakan setir, lebih empuk, dsb.. Perabot-perabot juga ada yang menghambat
aktivitas pengguna kursi roda, sehingga dalam mendesain harus lebih memperhatikan
tingkat aksesibilitasnya. Untuk fasilitas umum sebaiknya didesain untuk seluruh spektrum,
yaitu spektrum dengan tingkat ketidakmampuan paling tinggi atau sulit, agar secara
otomatis, spektrum yang lebih ringan dapat dengan mudah beraktivitas melalui desain
tersebut, atau biasa disebut dengan desain universal.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Saya mulai berpikir untuk detail-detail yang dapat kami berikan agar aksesibilitas kursi
roda di suatu ruang dapat terlaksana dan membatu para pengguna kursi roda, dimulai dari
ketinggian perabot agar dapat dicapai pengguna kursi roda, karena pencapaian tangan
mereka lebih rendah dari orang biasa.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 3 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi Hasil Wawancara
Saya diajarkan bahwa spektrum pengguna penting dalam sebuah desain, bagaimana cara
kita menentukan tingkat aksesibilitas suatu ruang, apakah dengan mengikuti spektrum
pengguna khusus, atau didesain secara universal. Untuk memudahkan desain, kami
dianjurkan untuk melakukan studi gerak menggunakan kursi roda, sampai mana
jangkauan tangan kita atau bahkan kebebasan kita bergerak, agar bisa lebih detail dalam
mendesain rumah untuk Bapak Syakur.
Perasaan yang dirasakan Saya senang bisa mendapatkan beberapa masukan yang membangun dalam tugas Desain
Inklusi ini. Saya cukup bersemangat dalam mendesain, dan pikiran lebih terbuka akan hal-
hal yang menyangkut desain untuk kaum difabel
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataan di lapangan, hampir semua orang mendesain menggunakan desain universal,
terutama di fasilitas-fasilitas umum, karena jika menggunakan desain yang inklusif sesuai
spektrum pengguna, akan lebih besar kemungkinan adanya ketidakcocokan jika muncul
spektrum-spektrum berbeda dari kaum difabel lainnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain secara universal
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 10 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Kami langsung menuju lokasi, yaitu rumah orang tua Bapak Syakur. Ruang yang simpel
dan tidak berbelok-belok, dan penggunaan ramp akan membantu pengguna kursi roda
dalam beraktivitas di rumah. Selain desain toilet yang perlu diperhatikan secara khusus,
ruang-ruang lainnya juga tidak kalah pentingnya untuk didesain sesuai dengan kebutuhan
gerak kursi roda
Perasaan yang dirasakan Senang bisa menuju lokasi dan diterima dengan baik oleh keluarga Bapak Syakur,
meskipun Bapak Syakur sedang sakit dan kami tidak bisa bertemu dengan beliau.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Rumah orang tua Bapak Syakur sangat kurang nyaman untuk menggunakan kursi roda
karena tidak simpel, sempit, berbelok-belok, menggunakan WC jongkok, banyak kenaikan
lantai sekitar 15 cm ke atas, dan keadaan rumah yang pengap dan gelap. Bapak Syakur
hanya bisa berputar arah di daerah ruang tamu dan ruang makan dengan menggunakan
kursi roda. Untuk penggunaan kamar mandi, Bapak Syakur selalu mandi sambil duduk di
kursi plastik, dan dulunya masih bisa menggunakan kloset jongkok. Karena keadaan kaki
yang semakin lemah, Bapak Syakur sudah tidak mampu menggunakan kloset jongkok.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai memikirkan desain yang cocok untuk memperbaiki keadaan rumah, agar bisa
diakses oleh Bapak Syakur jika menggunakan kursi roda. Kami juga bercerita dengan
orang tua Bapak Syakur mengenai Beliau, apa saja kesulitan-kesulitan yang dialami di
190
Universitas Kristen Petra
dalam rumah. Dengan bercerita demikian, mulai tumbuh rasa kepedulian yang besar
terhadap kaum difabel sekaligus menjalin kekerabatan dengan keluarga narasumber
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 17 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Mencari referensi dan melakukan studi gerak menggunakan kursi roda, dengan lebar kursi
roda 75 cm, maka membutuhkan pintu dengan lebar bersih sekitar 90 cm ke atas, untuk
ruang gerak bebas pengguna. Seluruh perabot juga harus disesuaikan ketinggiannya
dengan jarak jangkau pengguna kursi roda, misalnya tidak menaruh rak terlalu tinggi.
Perasaan yang dirasakan Tertarik untuk melakukan perbaikan desain terhadap rumah orang tua Bapak Syakur, dan
semangat mengerjakan bersama teman kelompok
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ketinggian jalan lebih tinggi dari rumah Bapak Syakur sehingga dengan terpaksa ada
banyak penurunan dan penaikan ketinggian lantai yang drastis pada rumah, dan
menggunakan tangga bukan ramp. Hal ini menyulitkan pengguna kursi roda. Handrail
juga tidak ada untuk membantu perpindahan tempat pengguna kursi roda. Mungkin bagi
keluarga Pak Syakur, lebih memilih untuk tidak menggunakan hal-hal seperti handrail
melainkan seperti rumah biasa saja. Hal ini juga dipengaruhi karena desain rumah sudah
lebih dulu ada, lalu Bapak Syakur mengalami kecelakaan dan akhirnya menggunakan kursi
roda. Akhirnya, rumah tersebut tidak nyaman untuk dipakai beraktivitas menggunakan
kursi roda
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Ingin mendesain rumah yang ditinggikan hampir sejajar dengan jalan, dan ketika harus ada
turunan, maka akan diberi ramp agar turunan menjadi mulus dan kursi roda lebih mudah
melaluinya. Kami juga ingin untuk mendesain rumah yang lebih simpel dan mudah untuk
dilalui kursi roda, baik jalan lurus ataupun berputar.
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 24 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Karena tidak ada kelas, kami menggunakan waktu mandiri untuk mendesain. Kami masih
melalukan studi pustaka mengenai ruang gerak dan kebutuhan pengguna kursi roda
Perasaan yang dirasakan Masih semangat dalam mengerjakan tugas
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kebutuhan kaum pengguna kursi roda berbeda dengan kebutuhan orang biasa, yaitu di
perbedaan ketinggian perletakan perabot, jenis perabot, jenis material khusus yang
dibutuhkan, dan alat-alat pembantu khusus untuk memudahkan kaum pengguna kursi roda
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai merancang rumah dengan berusaha memperbaiki keadaan rumah yang sudah
dibangun, agar nyaman dipakai dan aksesibel bagi pengguna kursi roda, dan nyaman
secara arsitektural
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 1 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Ternyata kami tidak perlu mempertahankan keadaan rumah yang telah ada, tetapi dapat
mendesain rumah dengan keadaan yang benar-benar baru, hanya menggunakan kavling
yang sudah ada. Hal ini jauh lebih memudahkan kami dalam mendesain dikarenakan tidak
perlu memperhatikan struktural rumah yang sudah ada
Perasaan yang dirasakan Senang karena lebih dipermudah dalam mendesain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Akan lebih baik jika kita mendesain rumah lebih awal untuk aksesibel bagi kaum difabel,
agar menjadi lebih siap jika suatu saat desain tersebut dibutuhkan, bukan jika ada kejadian
yang tidak diinginkan lalu rumah sudah terbangun dengan desain yang tidak aksesibel
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai mendesain rumah yang aksesibel dan dapat dijadikan contoh bagi pengguna kursi
roda lainnya. Kami mendesain dengan memperhatikan kenyamanan arsitektural seperti
meletakkan taman di dalam rumah agar terjadi ventilasi silang dan suasana ruang yang
lebih nyaman.
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 8 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Bapak Syakur berhalangan hadir sehingga kami hanya berdiskusi sesama anggota
kelompok dan juga pak Gunawan. Harus ada ruang yang cukup agar kursi roda dapat
melakukan manuver dan lebih mudah melakukan aktivitas dari satu ruang ke ruang
lainnya, misalnya dengan melakukan desain dengan sirkulasi linear dan lebar selasar yang
cukup lebar. Ruang gerak untuk manuver kursi roda adalah 1,5 meter. Besar ruang juga
perlu diperhatikan agar setiap ruang dapat dimasuki oleh kursi roda. Lebar setiap pintu
juga bertambah dibandingkan lebar pintu biasanya.
Perasaan yang dirasakan Senang mendapatkan banyak masukan saat Workshop juga menyaksikan presentasi
kelompok lain dengan spektrum kaum difabel yang berbeda
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dengan keterbatasan yang berbeda, maka kebutuhan desain juga berbeda. Misalnya jika
mendesain untuk pengguna kursi roda maka secara otomatis perbedaan yang paling
mencolok adalah masalah besar ruang yang akan jauh lebih besar dibandingkan kaum
191
Universitas Kristen Petra
difabel yang tuna netra. Tuna netra lebih menitikberatkan pada peletakan perabot yang
tidak membahayakan dan tidak berubah-ubah, agar dihafal dengan memori
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Tidak hanya terpaku pada narasumber kami (pengguna kursi roda) tetapi juga
memperhatikan kaum difabel lain dan bagaimana cara teman-teman menyelesaikan
permasalahan yang ada
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
- Kesetaraan dalam penggunaan
- Fleksibilitas
- Simpel dan mudah dimengerti
- Meminimalkan bahaya, aman
- Ukuran ruang
- Menimbulkan kelelahan minimum
- Informasi yang penting
Ketujuh prinsip tersebut harus ada dalam sebuah desain yang universal agar dapat
menciptakan aksesibilitas bagi kaum difabel
Perasaan yang dirasakan Mendapatkan teori baru mengenai desain inklusi dan desain universal, mengenai
pentingnya desain untuk aksesibiltas kaum difabel
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataan yang ada dalam desain rumah Pak Syakur sebelumnya tidak memenuhi ketujuh
prinsip tersebut. Lalu desain baru pada saat workshop juga belum terlalu nyaman, bahkan
tidak memenuhi standar ukuran ruang tidur dan ruang sholat. Kami perlu memperbaiki
desain lagi.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berusaha membuat desain yang lebih baik
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi
Kami membuat desain kedua untuk perbaikan desain rumah Bapak Syakur lalu setelah
asistensi kami mendapat beberapa masukan
- Pintu sliding kurang lebar karena kami lupa menghitung jarak bersih yang ada setelah
dikurangi gagang pintu
- Ada turunan 5 cm pada kamar mandi tetapi tidak diberikan ramp
- Perabotan tidak didesain khusus untuk kursi roda. Sebaiknya perabotan tidak
mempunyai kaki yang bisa menghalangi masuknya kursi roda, misalnya meja makan
yang mempunyai 4 kaki. Akan lebih cocok jika menggunakan meja makan dengan 1
kaki di tengah.
- Tidak memperhatikan kenyamanan arsitektural, seperti ventilasi silang
- Daerah teras masih kurang nyaman
Perasaan yang dirasakan Merasa kurang puas dengan desain karena tidak dipikirkan secara matang, dan banyak hal
yang tidak didesain dengan baik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ternyata dalam sebuah rumah banyak sekali detail-detail yang harus diperhatikan untuk
aksesibilitas kaum difabel. Bukan hanya sekedar aksesibel, tetapi harus nyaman secara
arsitektural. Hal ini yang biasanya terlupakan di daerah perkampungan yang padat, seperti
daerah rumah Bapak Syakur yang sangat pengap
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memperbaiki desain dan meningkatkan simpati serta empati
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kumpul UAS
Pemenuhan tujuh prinsip di dalam desain sangat penting untuk mencapai aksesibilitas
kaum difabel
Perasaan yang dirasakan Sangat senang karena merupakan tugas terakhir dan saya mendapatkan banyak hal,
meskipun belum sempurna
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Rumah yang nyaman adalah ketika rumah itu aksesibel di segala ruang
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Lebih empati kepada kaum difabel, dan rasa empati tidak hanya berhenti di tugas ini. Saya
akan lebih memperhatikan desain inklusif dalam mendesain di tugas-tugas selanjutnya.


192
Universitas Kristen Petra
Kelompok Ibu Paulina Mayasari S.Sn.
Aaron Sutanto Putra, 22411107
Nama Aaron Sutanto Putra
NRP 22411107
Email Mahasiswa aaronsutanto@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan • Pengenalan terhadap materi yang akan diajarkan selama 1 semester.
• Penjelasan awal tentang Desain Inklusi.
Perasaan yang dirasakan Tertarik terhadap materi-materi yang akan didapatkan selama satu semester. Menantang
diri untuk menghasilkan desain-desain yang inklusif dan ramah akan orang-orang
berkebutuhan khusus (difable).
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlunya pemahaman lebih akan desain inklusi yang dikarenakan banyaknya desain
arsitektural masa kini tidak ramah terhadap orang-orang berkebutuhan khusus. Hal ini
dapat kita lihat bahwa orang-orang difable cukup kesusahan pada saat berada di tempat
umum.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mempersiapkan kontribusi yang akan diberikan.
Kuliah/ Pertemuan ke 2. Kuliah P. Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan "Mendesain aksebilitas berguna bagi orang yang memiliki keterbatasan (tuna netra) dapat
hidup mandiri." - Pak Tutus
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain rumah bagi penyandang tuna netra:
• Rumah yang ramah terhadap orang tuna netra (mempermudah).
• Tempatnya tidak berubah-ubah (letak perabot).
• Menata meja dan kursi dalam ruang yang sejajar, tidak acak.
• Ketinggian benda-benda yang dipasang secara menggantung perlu diperhatikan.
• Mendesain pintu untuk tuna netra sebaiknya menggunakan pintu geser
• Dimensi pintu perlu dibuat lebar (penggunaan kursi roda).
• Penataan lemari harus dipisahkan dan letaknya tidak boleh berubah-ubah (adanya
keteraturan).
• Jika rumahnya besar maka perlu membuat tonjolan-tonjolan pada lantai (sebagai
petunjuk bagi orang tuna netra).
• Jika adanya perbedaan level lantai, membuat tangga akan menyulitkan orang tuna
netra. Sebaiknya membuat ramp (dengan mengatur kemiringan).
• Memperhatikan lebar kamar mandi (membutuhkan space untuk memindahkan orang
dari kursi roda ke kamar mandi).
Perasaan yang dirasakan • Simpati akan orang-orang difable yang ternyata tidak memperoleh hak hidup yag
ayak seperti kita.
• Jika diposisikan sebagai orang tuna netra tentu akan merasa takut dan kebingungan
karena tidak dapat mengetahui keadaan di sekitar kita.
• Sebagai seorang arsitek memiliki rasa ingin membantu dengan menciptakan karya-
karya yang bukan hanya sekedar indah namun juga nyaman digunakan bagi orang-
orang difable.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Teori yang diberikan sudah baik adanya, namun beum ada penerapan yang cukup
pada kenyataannya. Banyak tempat-tempat umum yang susah diakses bagi orang
difable.
• Perlunya praktek/ simulasi sebagai orang difable demi merasakan ramah atau
tidaknya tempat-tempat tertentu bagi orang difable.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mempersiapkan kontribusi yang akan diberikan
Kuliah/ Pertemuan ke 3. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi menjadi difabel di Kampus UK. Petra
Perasaan yang dirasakan • Memerlukan keberanian dan iman yang ebih untuk menjadi seorang difable.
• Ketika menjadi orang pincang, dapat dirasakan betapa susahnya menaiki tangga.
• Ketika menjadi orang berkursi roda dapat dirasakan bahwa benar-benar kesusahan
dalam mengakses gedung K (auditorium). Walaupun terdapat ramp, namun hal
193
Universitas Kristen Petra
tersebut tidak banyak membantu.
• Ketika menjadi tuna netra dapat dirasakan kegelapan sepanjang masa dimana kita
benar-benar tidak dapat melihat sekeliling kita.
• Peran teman sangat berarti untuk saling membantu satu dengan yang lainnya.
• Perasaan yang terberat mungin bukan datang dari dalam melainkan dari luar di mana
banyak orang yang memperhatikan kami sebagai orang difable dengan pandangan
yang tidak menyenangkan.
• Adanya simpati untuk memabantu orang-orang difable di sekitar kita.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori aksebilitas bagi pengguna difable yang telah didapatkan, UK Petra tidak ramah
bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Hal ini terbukti dari susahnya orang-orang difable
dalam mengakses kampus dari gedung P lantai 7 menuju auditorium dan W 10.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menentukan subjek difable yang akan menjadi komunitas dampingan dan
mempersiapkan observasi dan wawancara yang akan dilakukan.
Kuliah/ Pertemuan ke 4. Wawancara dengan Ibu Maya (orang senior)
Tanggal 22 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Nenek Ibu Maya yang merupakan penghuni senior sudah tidak dapat tinggal dirumahnya
karena rumah tersebut tidak memenuhi aksebilitas bagi orang senior.
• Ketinggian anak tangga yang terlalu tinggi.
• Adanya tonjolan balok pada sirkulasi dari dapur munuju kamar tidur dan ruang
keluarga.
• Lebar pintu kamar mandi dan ukuran dimensi kamar mandi yang tidak memenuhi.
• Model pintu masuk ke kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable.
• Akses menuju kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable. Karena akses
menuju kamar tidur tidak ada penutup atap sehingga ketika hujan, jalan menjadi licin.
Perasaan yang dirasakan Senang dapat terjun langsung melihat kondisi/ kenyataan yang ada.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dengan melakukan eksplorasi langsung di rumah Bu Maya, saya dan kelompok dapat
memahami langsung masalah-masalah tentang aksebilitas bagi orang difable di rumah
beliau.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menyusun kerangka permasalahan yang ada dalam hunian tersebut dan mulai
mengeluarkan ide-ide desain demi memabantu kenyamanan penghuni senior di rumah
tersebut.
Kuliah/ Pertemuan ke 5. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan • Menentukan ruangan-ruangan yang akan didesain ulang.
• Membuat gambar sketsa tangan menjadi gambar kerja.
• Mendata permasalahan pada rumah ibu Maya yang belum memenuhi aksebilitas bagi
orang difable.
• Memberikan solusi–solusi desain sementara terhadap rumah Bu Maya.
Perasaan yang dirasakan Mulai menantang diri untuk memberikan desain yang terbaik bagi kenyamanan orang
senior dalam rumah tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai menyusun solusi-solusi yang ditawarkan dalam desain renovasi rumah.
Kuliah/ Pertemuan ke 6. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan • Melakukan pengembangan ide desain terhadap rumah Bu Maya.
• Desain yang dilakukan mengusahakan tidak mengubah struktur dari bangunan itu
sendiri (lebih kearah perbaikan aksebilitas difable dan peletakan perabot). Hal ini
dikarenakan rumah tersebut merupakan rumah pecinan tua yang sangat tidak
memungkinkan untuk merubah sistem struktur yang ada.
Perasaan yang dirasakan Berharap desain yang ditawarkan dapat direalisasikan demi membantu kenyamanan orang
difable dalam rumah tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Pengembangan desain renovasi.
Kuliah/ Pertemuan ke 7. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan lomba desain Rumah Urban Indonesia (Arbbi).
194
Universitas Kristen Petra
• Rumah yang didesain memiliki konsep Sun and Shade di mana rumah memanfaatkan
matahari dan bayangan demi membentuk karakter ruang yang ada.
• Rumah didesain sesuai dengan konsep urban, dimana fungsi ruang dapat berkembang
sesuai dengan kebutuhan penghuni. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kamar yang
fleksibel. Jika pasangan muda yang baru saja menikah dapat menggunakan kapar
utama, sedangkan kamar-kamar lain dapat berfungsi sebagai ruang keluarga dan
ruang kerja.
• Ketika hadir satu anak makan kamar yag lain mulai berubah fungsi pada jam-jam
tertentu. Begitu juga seterusnya jika anak kedua lahir.
• Rumah terdapat tiga lantai dimana ruang-ruangnya secara fleksibel dapat di buka dan
menghadirkan ruang yang leuasa bagi anak-anak untuk bermain pada siang hari.
Namun pada malam hari ruang-ruang tersebut menjadi ruang private bagi masing-
masing penghuni di dalamnya.
Perasaan yang dirasakan Senang mendapatkan pengalaman dan ilmu baru dari mengikuti lomba tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil desain lomba Arbbi.
Kuliah/ Pertemuan ke 8. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan lomba desain Rumah Urban Indonesia (Arbbi).
• Rumah yang didesain memiliki konsep Sun and Shade di mana rumah memanfaatkan
matahari dan bayangan demi membentuk karakter ruang yang ada.
• Rumah didesain sesuai dengan konsep urban, dimana fungsi ruang dapat berkembang
sesuai dengan kebutuhan penghuni. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kamar yang
fleksibel. Jika pasangan muda yang baru saja menikah dapat menggunakan kapar
utama, sedangkan kamar-kamar lain dapat berfungsi sebagai ruang keluarga dan
ruang kerja.
• Ketika hadir satu anak makan kamar yag lain mulai berubah fungsi pada jam-jam
tertentu. Begitu juga seterusnya jika anak kedua lahir.
Rumah terdapat tiga lantai dimana ruang-ruangnya secara fleksibel dapat di buka dan
menghadirkan ruang yang leuasa bagi anak-anak untuk bermain pada siang hari.
Namun pada malam hari ruang-ruang tersebut menjadi ruang private bagi masing-
masing penghuni di dalamnya.
Perasaan yang dirasakan Senang mendapatkan pengalaman dan ilmu baru dari mengikuti lomba tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil desain lomba Arbbi.
Kuliah/ Pertemuan ke 9. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan • Toilet harus tetap mempertahankan budaya di daerah sekitarnya. Budayan tersebut
dapat diaplikasikan dengan memberikan desain cat yang sesuai.
• Dengan menerapkan budaya sekitar dalam desain toilet, maka penduduk sekitar akan
merasa lebih nyaman dalam menggunakan dan turut berpartisipasi untuk menjaga dan
melestarikan budaya di tempat tersebut.
Perasaan yang dirasakan Kurang dapat dimengerti karena penyampaian materi kurang komunikatif.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Turut berpartisipasi sebagai peserta seminar.
Kuliah/ Pertemuan ke 10. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan • Menyajikan desain dalam gambar kerja.
• Mempersiapkan presentasi dalam bentu transparansi.
• Mempersiapkan foto dan video hasil wawancara untuk dipresentasikan.
Perasaan yang dirasakan Sedikit tegang karena akan mempresentasikan halis desain pada klien.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada (menyesuaikan permintaan klien).
195
Universitas Kristen Petra
kenyataan di lapangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyiapkan usulan desain yang akan diajukan pada Bu Maya sebagai klien.
Kuliah/ Pertemuan ke 11. Workshop Desain
Tanggal 8 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Permintaan dari ibu Maya
• Kamar mandi yang direncanakan di dalam kamar tidur tidak dapat diaplikasikan
karena akan mengubah struktur bangunan.
• Ibu Maya menyarankan pemberian kanopi tetap memasukkan angin dan cahaya
matahari.
• Penambahan elemen-elemen arsitektural demi kenyamanan orang-orang senior dalam
berktifitas di dalamnya.
Perasaan yang dirasakan Cukup senang karena workshop dapat berjalan dengan lancar dan dapat menjalin
komunikasi yang baik dengan klien.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada (menyesuaikan permintaan klien).
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain renovasi yang baru pada klien.
Kuliah/ Pertemuan ke 12. Penjelasan tujuh prinsip Desain Inklusi
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Tujuh prinsip yang harus diterapkan dalam desain inklusi adalah sebagai berikut:
1. equitable Use (kesetaraan dalam penggunaan),
2. flexibility in Use (Fleksibilitas dalam penggunaan),
3. simple and Intuitive Use (penggunaan sederhana dan intuitif),
4. perceptible Information (informasi yang jelas),
5. tolerance of Error (Memberikan toleransi terhadap kesalahan),
6. low Physical Effort (memerlukan upaya fisik yang rendah), dan
7. size and Space for Approach and Use (Menyediakan ukuran dan ruang untuk
pendekatan dan penggunaaan).
Perasaan yang dirasakan Senang mendapatkan pengetahuan baru yang sekiranya dapat membantu dalam desain bagi
orang difable.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang aad (menyesuaikan permintaan klien).
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Merevisi desain dan menyesuaikan desain yang ditawarkan dengan ketujuh prinsip yang
telah dijelaskan.
Kuliah/ Pertemuan ke 13. Asistensi Usulan Desain
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan • Penjelasan ulang tentang tujuh desain inklusi dan penerapannya dalam desain
renovasi kelompok.
• Pengembangan ide dalam desain kelompok.
• Penjelasan aakn produk akhir yang diminta.
Perasaan yang dirasakan Mulai merasa diburu oleh waktu yang ada melihat banyaknya tugas-tugas perkuliahan
yang lain di samping tugas desain inklusi.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yang ada (menyesuaikan permintaan klien).
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan dan meninjau kembali desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang
sudah dijelaskan.
Kuliah/ Pertemuan ke 14. Pengumpulan UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kompilasi dari seluruh materi desain inklusi selama 1 semester yang telah diberikan.
Perasaan yang dirasakan Senang karena dapat menyelesaikan tugas desain inklusi selama 1 semester dengan
maksimal.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi yanga ada (menyesuaikan permintaan klien).
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain renovasi final rumah Bu Maya yang diharapkan sedikit banyak
dapat membantu orang-orang senior beraktifitas di dalamnya.
196
Universitas Kristen Petra

Fenny Gunawan, 22411109
Nama Fenny Gunawan
NRP 22411124
Email Mahasiswa fenny_yuphi@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 15. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan • Pengenalan terhadap materi yang akan diajarkan selama 1 semester
• Penjelasan awal tentang Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Penasaran terhadap materi yang akan diberikan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belum ada yang saya pahami
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 16. Kuliah P. Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Mendesain aksebilitas berguna supaya orang yang memiliki keterbatasan (tuna netra) dapat
hidup mandiri
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain rumah untuk orang tuna netra:
• Rumah yang ramah terhadap orang tuna netra (mempermudah)
• Tempatnya tidak berubah-ubah (letak perabot)
• Menata meja dan kursi dalam ruang yang sejajar, tidak acak
• Ketinggian benda-benda yang dipasang secara menggantung perlu diperhatikan
• Mendesain pintu untuk tuna netra sebaiknya menggunakan pintu geser
• Dimensi pintu perlu dibuat lebar (penggunaan kursi roda)
• Penataan lemari harus dipisahkan dan letaknya tidak boleh berubah-ubah (adanya
keteraturan)
• Jika rumahnya besar maka perlu membuat tonjolan-tonjolan pada lantai (sebagai
petunjuk bagi orang tuna netra)
• Jika adanya perbedaan level lantai, jika membuat tangga akan menyulitkan orang
tuna netra. Sebaiknya membuat ramp (dengan mengatur kemiringan)
• Memperhatikan lebar kamar mandi (membutuhkan space untuk memindahkan orang
dari kursi roda ke kamar mandi)
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Perasaan simpati dan empati untuk ingin membantu mendesain bagi orang difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori yang didapatkan, sangat susah untuk dapat merasakan menjadi difable, maka
perlu mempraktekkannya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 17. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi menjadi difabel di Kampus UK. Petra
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Adanya simpati dan empati untuk menolong orang difable yang berada di Kampus
UK. Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori aksebilitas bagi pengguna difable, Kampus UK. Petra masih belum memenuhi
untuk digunakan oleh orang difable
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 18. Wawancara dengan Ibu Maya (orang senior)
Tanggal 22 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Orang tua ibu Maya yang senior sudah tidak dapat tinggal dirumahnya, karena rumah
tersebut tidak memenuhi aksebilitas bagi orang senior seperti orang tua ibu Maya.
197
Universitas Kristen Petra
Contohnya:
• Ketinggian anak tangga yang terlalu tinggi
• Adanya tonjolan balok pada sirkulasi dari dapur munuju kamar tidur dan ruang
keluarga
• Lebar pintu kamar mandi dan ukuran dimensi kamar mandi yang tidak memenuhi
• Model pintu masuk ke kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable
• Akses menuju kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable. Karena akses
menuju kamar tidur tidak ada penutup atap sehingga ketika hujan, jalan menjadi licin
Perasaan yang dirasakan Senang, karena dapat melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dengan melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya, saya dan kelompok dapat
memahami langsung masalah-masalah tentang aksebilitas bagi orang difable di rumah ibu
Maya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Adanya simpati dan empati untuk ingin membantu mendesainkan rumah ibu Maya agar
dapat dipergunakan oleh orang tua ibu Maya yang sudah senior
Kuliah/ Pertemuan ke 19. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan • Menentukan ruangan-ruangan yang akan didesain ulang
• Membuat gambar sketsa tangan menjadi gambar kerja
• Mendata permasalahan pada rumah ibu Maya yang belum memenuhi aksebilitas bagi
orang difable
• Melakukan solusi – solusi desain sementara terhadap rumah ibu Maya
Perasaan yang dirasakan Tidak ada
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 20. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan • Melakukan pengembangan solusi – solusi desain terhadap rumah ibu Maya
• Desain yang dilakukan mengusahakan tidak mengubah struktur dari bangunan itu
sendiri (lebih kearah perbaikan aksebilitas difable dan peletakan perabot)
Perasaan yang dirasakan Senang, dapat membantu mendesain rumah ibu Maya agar dapat digunakan oleh orang
difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 21. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada - Chapter 4 – The
Remodeled Home
Kegiatan merenovasi rumah pasti memengaruhi kesehatan penghuninya baik positif
maupun negatif.
Beberapa bahaya kesehatan yang dapat ditemukan pada material bangunan saat
merenovasi rumah :
• Jamur
• Timah
• Asbes
• Serat Kaca
Untuk mengetahui apakah bahan material yang digunakan mengandung bahan berbahaya,
diperlukan ahli untuk mengujinya.
Selama proses renovasi, ada baiknya penghuni rumah tidak tinggal didalamnya untuk
mencegah bahaya kesehatan memengaruhi kesehatan penghuni rumah.
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
198
Universitas Kristen Petra
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 22. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada - Chapter 4 – The
Remodeled Home
Kegiatan merenovasi rumah pasti memengaruhi kesehatan penghuninya baik positif
maupun negatif.
Beberapa bahaya kesehatan yang dapat ditemukan pada material bangunan saat
merenovasi rumah :
• Jamur
• Timah
• Asbes
• Serat Kaca
Untuk mengetahui apakah bahan material yang digunakan mengandung bahan berbahaya,
diperlukan ahli untuk mengujinya.
• Selama proses renovasi, ada baiknya penghuni rumah tidak tinggal didalamnya
untuk mencegah bahaya kesehatan memengaruhi kesehatan penghuni rumah.
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
Kuliah/ Pertemuan ke 23. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Toilet harus tetap mempertahankan budaya di daerah sekitarnya. Budayan tersebut dapat
diaplikasikan dengan memberikan desain cat yang sesuai.
Perasaan yang dirasakan Kurang mengerti karena penyampaian materi kurang komunikatif.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Turut berpartisipasi sebagai peserta.
Kuliah/ Pertemuan ke 24. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyiapkan usulan desain yang akan diajukan pada ibu Maya sebagai klien
Kuliah/ Pertemuan ke 25. Workshop Desain
Tanggal 8 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Permintaan dari ibu Maya
• Kamar mandi yang direncanakan di dalam kamar tidur tidak dapat diaplikasikan
karena mengubah struktur bangunan dibawahnya
• Ibu Maya menyarankan pemberian kanopi tetap memasukkan angin dan cahaya
matahari
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain baru
Kuliah/ Pertemuan ke 26. Penjelasan tujuh prinsip Desain Inklusi
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Tujuh prinsip yang harus diterapkan dalam desain inklusi
8. Equitable Use (kesetaraan dalam penggunaan)
9. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam penggunaan)
199
Universitas Kristen Petra
10. Simple and Intuitive Use (penggunaan sederhana dan intuitif)
11. Perceptible Information (informasi yang jelas)
12. Tolerance of Error (Memberikan toleransi terhadap kesalahan)
13. Low Physical Effort (memerlukan upaya fisik yang rendah)
14. Size and Space for Approach and Use (Menyediakan ukuran dan ruang untuk
pendekatan dan penggunaaan)
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapat pengetahuaan baru
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 27. Asistensi Usulan Desain
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan • Penjelasan ulang tentang tujuh desain inklusi dan penerapannya dalam desain
renovasi kelompok
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan dan meninjau kembali desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang
sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 28. Pengumpulan UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kompilasi dari seluruh materi desain inklusi selama 1 semester
Perasaan yang dirasakan Senang karena dapat menyelesaikan tugas-tugas desain inklusi selama 1 semester
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yg diberikan thd
komunitas dampingan
Memberikan usulan desain aksebilitas difable pada rumah ibu Maya

Marina Victoria D, 22411123
Nama Marina Victoria D
NRP 22411160
Email Mahasiswa marina.victoria99@gmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 29. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan • Pengenalan terhadap materi yang akan diajarkan selama 1 semester
• Penjelasan awal tentang Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Penasaran terhadap materi yang akan diberikan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Tidak sesuai denagn kenyataan. Pemahaman teori kurang
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 30. Kuliah P. Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Mendesain aksebilitas berguna supaya orang yang memiliki keterbatasan (tuna netra) dapat
hidup mandiri
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain rumah untuk orang tuna netra:
• Rumah yang ramah terhadap orang tuna netra (mempermudah)
• Tempatnya tidak berubah-ubah (letak perabot)
• Menata meja dan kursi dalam ruang yang sejajar, tidak acak
• Ketinggian benda-benda yang dipasang secara menggantung perlu diperhatikan
• Mendesain pintu untuk tuna netra sebaiknya menggunakan pintu geser
• Dimensi pintu perlu dibuat lebar (penggunaan kursi roda)
• Penataan lemari harus dipisahkan dan letaknya tidak boleh berubah-ubah (adanya
200
Universitas Kristen Petra
keteraturan)
• Jika rumahnya besar maka perlu membuat tonjolan-tonjolan pada lantai (sebagai
petunjuk bagi orang tuna netra)
• Jika adanya perbedaan level lantai, jika membuat tangga akan menyulitkan orang
tuna netra. Sebaiknya membuat ramp (dengan mengatur kemiringan)
• Memperhatikan lebar kamar mandi (membutuhkan space untuk memindahkan orang
dari kursi roda ke kamar mandi)
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Perasaan simpati dan empati untuk ingin membantu mendesain bagi orang difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlu pengertian lebih dalam tentang difable dan teorinya, sehingga perlu ada praktik
utnuk mengetahui lebih lanjut tentang perliaku difable dan masalahnya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 31. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi menjadi difabel di Kampus UK. Petra
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Adanya simpati dan empati untuk menolong orang difable yang berada di Kampus
UK. Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori aksebilitas bagi pengguna difable, Kampus UK. Petra masih belum memenuhi
untuk digunakan oleh orang difable
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 32. Wawancara dengan Ibu Maya (orang senior)
Tanggal 22 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Orang tua ibu Maya yang senior sudah tidak dapat tinggal dirumahnya, karena rumah
tersebut tidak memenuhi aksebilitas bagi orang senior seperti orang tua ibu Maya.
Contohnya:
• Ketinggian anak tangga yang terlalu tinggi
• Adanya tonjolan balok pada sirkulasi dari dapur munuju kamar tidur dan ruang
keluarga
• Lebar pintu kamar mandi dan ukuran dimensi kamar mandi yang tidak memenuhi
• Model pintu masuk ke kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable
• Akses menuju kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable. Karena akses
menuju kamar tidur tidak ada penutup atap sehingga ketika hujan, jalan menjadi licin
Perasaan yang dirasakan Senang, karena dapat melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dengan melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya, saya dan kelompok dapat
memahami langsung masalah-masalah tentang aksebilitas bagi orang difable di rumah ibu
Maya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Adanya simpati dan empati untuk ingin membantu mendesainkan rumah ibu Maya agar
dapat dipergunakan oleh orang tua ibu Maya yang sudah senior
Kuliah/ Pertemuan ke 33. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan • Menentukan ruangan-ruangan yang akan didesain ulang
• Membuat gambar sketsa tangan menjadi gambar kerja
• Mendata permasalahan pada rumah ibu Maya yang belum memenuhi aksebilitas bagi
orang difable
• Melakukan solusi – solusi desain sementara terhadap rumah ibu Maya
Perasaan yang dirasakan Tidak ada
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 34. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
201
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan • Melakukan pengembangan solusi – solusi desain terhadap rumah ibu Maya
• Desain yang dilakukan mengusahakan tidak mengubah struktur dari bangunan itu
sendiri (lebih kearah perbaikan aksebilitas difable dan peletakan perabot)
Perasaan yang dirasakan Senang, dapat membantu mendesain rumah ibu Maya agar dapat digunakan oleh orang
difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 35. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengikuti kegiatang lomba ARBI, tentang rumah urban sehat. Konsep yang diambil
adalah rumah sehat sederhana dan dapat multifungsi tempat bekerja, sebagai rumah urban
sekarang.
• Mengumpulkan hasil portfolio ARBI sebagai hasil UTS
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
Kuliah/ Pertemuan ke 36. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada
Chapter 17 Home Maintenance – Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan
rumah :
• Pemilihan material yang bebas dari bahan kimia (dari baunya)
• Pembersihan perabot rumah yang dilakukan secara berkala
• Renovasi rumah dilakukan oleh orang yang mengerti material bangunan
• Pemeliharaan rumah saat melakukan renovasi rumah
• Pemeliharaan rumah dalam jangka pendek dan jangka panjang
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
Kuliah/ Pertemuan ke 37. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Toilet harus tetap mempertahankan budaya di daerah sekitarnya. Budayan tersebut dapat
diaplikasikan dengan memberikan desain cat yang sesuai.
Perasaan yang dirasakan Kurang mengerti karena penyampaian materi kurang komunikatif.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Turut berpartisipasi sebagai peserta.
Kuliah/ Pertemuan ke 38. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyiapkan usulan desain yang akan diajukan pada ibu Maya sebagai klien
Kuliah/ Pertemuan ke 39. Workshop Desain
Tanggal 8 Mei 2014
202
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Permintaan dari ibu Maya
• Kamar mandi yang direncanakan di dalam kamar tidur tidak dapat diaplikasikan
karena mengubah struktur bangunan dibawahnya
• Ibu Maya menyarankan pemberian kanopi tetap memasukkan angin dan cahaya
matahari
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain baru
Kuliah/ Pertemuan ke 40. Penjelasan tujuh prinsip Desain Inklusi
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Tujuh prinsip yang harus diterapkan dalam desain inklusi
15. Equitable Use (kesetaraan dalam penggunaan)
16. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam penggunaan)
17. Simple and Intuitive Use (penggunaan sederhana dan intuitif)
18. Perceptible Information (informasi yang jelas)
19. Tolerance of Error (Memberikan toleransi terhadap kesalahan)
20. Low Physical Effort (memerlukan upaya fisik yang rendah)
21. Size and Space for Approach and Use (Menyediakan ukuran dan ruang untuk
pendekatan dan penggunaaan)
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapat pengetahuaan baru
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 41. Asistensi Usulan Desain
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan • Penjelasan ulang tentang tujuh desain inklusi dan penerapannya dalam desain
renovasi kelompok
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan dan meninjau kembali desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang
sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 42. Pengumpulan UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kompilasi dari seluruh materi desain inklusi selama 1 semester
Perasaan yang dirasakan Senang karena dapat menyelesaikan tugas-tugas desain inklusi selama 1 semester
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain aksebilitas difable pada rumah ibu Maya

Roby Ismanto, 22411160
Nama Roby Ismanto
NRP 22411160
Email Mahasiswa joemi_owen@yahoo.co.id
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 43. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan • Pengenalan terhadap materi yang akan diajarkan selama 1 semester
• Penjelasan awal tentang Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Penasaran terhadap materi yang akan diberikan.
203
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belum ada yang saya pahami
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 44. Kuliah P. Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Mendesain aksebilitas berguna supaya orang yang memiliki keterbatasan (tuna netra) dapat
hidup mandiri
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain rumah untuk orang tuna netra:
• Rumah yang ramah terhadap orang tuna netra (mempermudah)
• Tempatnya tidak berubah-ubah (letak perabot)
• Menata meja dan kursi dalam ruang yang sejajar, tidak acak
• Ketinggian benda-benda yang dipasang secara menggantung perlu diperhatikan
• Mendesain pintu untuk tuna netra sebaiknya menggunakan pintu geser
• Dimensi pintu perlu dibuat lebar (penggunaan kursi roda)
• Penataan lemari harus dipisahkan dan letaknya tidak boleh berubah-ubah (adanya
keteraturan)
• Jika rumahnya besar maka perlu membuat tonjolan-tonjolan pada lantai (sebagai
petunjuk bagi orang tuna netra)
• Jika adanya perbedaan level lantai, jika membuat tangga akan menyulitkan orang
tuna netra. Sebaiknya membuat ramp (dengan mengatur kemiringan)
• Memperhatikan lebar kamar mandi (membutuhkan space untuk memindahkan orang
dari kursi roda ke kamar mandi)
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Perasaan simpati dan empati untuk ingin membantu mendesain bagi orang difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori yang didapatkan, sangat susah untuk dapat merasakan menjadi difable, maka
perlu mempraktekkannya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 45. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi menjadi difabel di Kampus UK. Petra
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Adanya simpati dan empati untuk menolong orang difable yang berada di Kampus
UK. Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori aksebilitas bagi pengguna difable, Kampus UK. Petra masih belum memenuhi
untuk digunakan oleh orang difable
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 46. Wawancara dengan Ibu Maya (orang senior)
Tanggal 22 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Orang tua ibu Maya yang senior sudah tidak dapat tinggal dirumahnya, karena rumah
tersebut tidak memenuhi aksebilitas bagi orang senior seperti orang tua ibu Maya.
Contohnya:
• Ketinggian anak tangga yang terlalu tinggi
• Adanya tonjolan balok pada sirkulasi dari dapur munuju kamar tidur dan ruang
keluarga
• Lebar pintu kamar mandi dan ukuran dimensi kamar mandi yang tidak memenuhi
• Model pintu masuk ke kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable
• Akses menuju kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable. Karena akses
menuju kamar tidur tidak ada penutup atap sehingga ketika hujan, jalan menjadi licin
Perasaan yang dirasakan Senang, karena dapat melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dengan melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya, saya dan kelompok dapat
memahami langsung masalah-masalah tentang aksebilitas bagi orang difable di rumah ibu
Maya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Adanya simpati dan empati untuk ingin membantu mendesainkan rumah ibu Maya agar
dapat dipergunakan oleh orang tua ibu Maya yang sudah senior
204
Universitas Kristen Petra
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 47. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan • Menentukan ruangan-ruangan yang akan didesain ulang
• Membuat gambar sketsa tangan menjadi gambar kerja
• Mendata permasalahan pada rumah ibu Maya yang belum memenuhi aksebilitas bagi
orang difable
• Melakukan solusi – solusi desain sementara terhadap rumah ibu Maya
Perasaan yang dirasakan Tidak ada
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 48. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan • Melakukan pengembangan solusi – solusi desain terhadap rumah ibu Maya
• Desain yang dilakukan mengusahakan tidak mengubah struktur dari bangunan itu
sendiri (lebih kearah perbaikan aksebilitas difable dan peletakan perabot)
Perasaan yang dirasakan Senang, dapat membantu mendesain rumah ibu Maya agar dapat digunakan oleh orang
difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 49. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada
Chapter 17 Home Maintenance – Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan
rumah :
• Pemilihan material yang bebas dari bahan kimia (dari baunya)
• Pembersihan perabot rumah yang dilakukan secara berkala
• Renovasi rumah dilakukan oleh orang yang mengerti material bangunan
• Pemeliharaan rumah saat melakukan renovasi rumah
• Pemeliharaan rumah dalam jangka pendek dan jangka panjang
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
Kuliah/ Pertemuan ke 50. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada
Chapter 17 Home Maintenance – Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan
rumah :
• Pemilihan material yang bebas dari bahan kimia (dari baunya)
• Pembersihan perabot rumah yang dilakukan secara berkala
• Renovasi rumah dilakukan oleh orang yang mengerti material bangunan
• Pemeliharaan rumah saat melakukan renovasi rumah
• Pemeliharaan rumah dalam jangka pendek dan jangka panjang
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
205
Universitas Kristen Petra
Kuliah/ Pertemuan ke 51. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Toilet harus tetap mempertahankan budaya di daerah sekitarnya. Budayan tersebut dapat
diaplikasikan dengan memberikan desain cat yang sesuai.
Perasaan yang dirasakan Kurang mengerti karena penyampaian materi kurang komunikatif.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Turut berpartisipasi sebagai peserta.
Kuliah/ Pertemuan ke 52. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyiapkan usulan desain yang akan diajukan pada ibu Maya sebagai klien
Kuliah/ Pertemuan ke 53. Workshop Desain
Tanggal 8 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Permintaan dari ibu Maya
• Kamar mandi yang direncanakan di dalam kamar tidur tidak dapat diaplikasikan
karena mengubah struktur bangunan dibawahnya
• Ibu Maya menyarankan pemberian kanopi tetap memasukkan angin dan cahaya
matahari
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain baru
Kuliah/ Pertemuan ke 54. Penjelasan tujuh prinsip Desain Inklusi
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Tujuh prinsip yang harus diterapkan dalam desain inklusi
22. Equitable Use (kesetaraan dalam penggunaan)
23. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam penggunaan)
24. Simple and Intuitive Use (penggunaan sederhana dan intuitif)
25. Perceptible Information (informasi yang jelas)
26. Tolerance of Error (Memberikan toleransi terhadap kesalahan)
27. Low Physical Effort (memerlukan upaya fisik yang rendah)
28. Size and Space for Approach and Use (Menyediakan ukuran dan ruang untuk
pendekatan dan penggunaaan)
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapat pengetahuaan baru
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 55. Asistensi Usulan Desain
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan • Penjelasan ulang tentang tujuh desain inklusi dan penerapannya dalam desain
renovasi kelompok
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan dan meninjau kembali desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang
sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 56. Pengumpulan UAS
206
Universitas Kristen Petra
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kompilasi dari seluruh materi desain inklusi selama 1 semester
Perasaan yang dirasakan Senang karena dapat menyelesaikan tugas-tugas desain inklusi selama 1 semester
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain aksebilitas difable pada rumah ibu Maya

Ronny Chandra K, 22411124
Nama Ronny Chandra K.
NRP 22411124
Email Mahasiswa Jla_avenger@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 57. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan • Pengenalan terhadap materi yang akan diajarkan selama 1 semester
• Penjelasan awal tentang Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Penasaran terhadap materi yang akan diberikan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Belum ada yang saya pahami
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 58. Kuliah P. Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Mendesain aksebilitas berguna supaya orang yang memiliki keterbatasan (tuna netra) dapat
hidup mandiri
Hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain rumah untuk orang tuna netra:
• Rumah yang ramah terhadap orang tuna netra (mempermudah)
• Tempatnya tidak berubah-ubah (letak perabot)
• Menata meja dan kursi dalam ruang yang sejajar, tidak acak
• Ketinggian benda-benda yang dipasang secara menggantung perlu diperhatikan
• Mendesain pintu untuk tuna netra sebaiknya menggunakan pintu geser
• Dimensi pintu perlu dibuat lebar (penggunaan kursi roda)
• Penataan lemari harus dipisahkan dan letaknya tidak boleh berubah-ubah (adanya
keteraturan)
• Jika rumahnya besar maka perlu membuat tonjolan-tonjolan pada lantai (sebagai
petunjuk bagi orang tuna netra)
• Jika adanya perbedaan level lantai, jika membuat tangga akan menyulitkan orang
tuna netra. Sebaiknya membuat ramp (dengan mengatur kemiringan)
• Memperhatikan lebar kamar mandi (membutuhkan space untuk memindahkan orang
dari kursi roda ke kamar mandi)
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Perasaan simpati dan empati untuk ingin membantu mendesain bagi orang difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari teori yang didapatkan, sangat susah untuk dapat merasakan menjadi difable, maka
perlu mempraktekkannya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 59. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi menjadi difabel di Kampus UK. Petra
Perasaan yang dirasakan • Menjadi difabel kurang menyenangkan, takut karena tidak tahu apa yang terjadi
disekitar kita
• Adanya simpati dan empati untuk menolong orang difable yang berada di Kampus
UK. Petra
Apakah yang saya pahami Dari teori aksebilitas bagi pengguna difable, Kampus UK. Petra masih belum memenuhi
207
Universitas Kristen Petra
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
untuk digunakan oleh orang difable
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 60. Wawancara dengan Ibu Maya (orang senior)
Tanggal 22 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Orang tua ibu Maya yang senior sudah tidak dapat tinggal dirumahnya, karena rumah
tersebut tidak memenuhi aksebilitas bagi orang senior seperti orang tua ibu Maya.
Contohnya:
• Ketinggian anak tangga yang terlalu tinggi
• Adanya tonjolan balok pada sirkulasi dari dapur munuju kamar tidur dan ruang
keluarga
• Lebar pintu kamar mandi dan ukuran dimensi kamar mandi yang tidak memenuhi
• Model pintu masuk ke kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable
• Akses menuju kamar tidur yang tidak memenuhi bagi orang difable. Karena akses
menuju kamar tidur tidak ada penutup atap sehingga ketika hujan, jalan menjadi licin
Perasaan yang dirasakan Senang, karena dapat melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dengan melakukan eksplorasi langsung di rumah ibu Maya, saya dan kelompok dapat
memahami langsung masalah-masalah tentang aksebilitas bagi orang difable di rumah ibu
Maya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Adanya simpati dan empati untuk ingin membantu mendesainkan rumah ibu Maya agar
dapat dipergunakan oleh orang tua ibu Maya yang sudah senior
Kuliah/ Pertemuan ke 61. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan • Menentukan ruangan-ruangan yang akan didesain ulang
• Membuat gambar sketsa tangan menjadi gambar kerja
• Mendata permasalahan pada rumah ibu Maya yang belum memenuhi aksebilitas bagi
orang difable
• Melakukan solusi – solusi desain sementara terhadap rumah ibu Maya
Perasaan yang dirasakan Tidak ada
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 62. Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan • Melakukan pengembangan solusi – solusi desain terhadap rumah ibu Maya
• Desain yang dilakukan mengusahakan tidak mengubah struktur dari bangunan itu
sendiri (lebih kearah perbaikan aksebilitas difable dan peletakan perabot)
Perasaan yang dirasakan Senang, dapat membantu mendesain rumah ibu Maya agar dapat digunakan oleh orang
difable
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan desain renovasi
Kuliah/ Pertemuan ke 63. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada - Chapter 5
Material dan sistem yangn dapat digunakan untuk membangun sebuah rumah yang sehat.
• Slab on Grade
• Attics You Can Live With
• Big Fat Walls
• The Delight Warm Floors
• Floor Covering
• Timeless Design and Modern Day Functionaly
• Ventilation and Natural Sunlight
• Low EMR Design
208
Universitas Kristen Petra
• Water : The Elixir of Life
• Formaldehyde – Free Cabinets, Doors, and Built Ins
• Detached Garage
• Cntral Vacum System
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
Kuliah/ Pertemuan ke 64. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengerjakan tugas UTS merangkum literatur dari dari Buku : Thompson, Athena, (2004),
Homes that Heal, New Society Publishers, National Library of Canada - Chapter 5
Material dan sistem yangn dapat digunakan untuk membangun sebuah rumah yang sehat.
• Slab on Grade
• Attics You Can Live With
• Big Fat Walls
• The Delight Warm Floors
• Floor Covering
• Timeless Design and Modern Day Functionaly
• Ventilation and Natural Sunlight
• Low EMR Design
• Water : The Elixir of Life
• Formaldehyde – Free Cabinets, Doors, and Built Ins
• Detached Garage
• Cntral Vacum System
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapatkan ilmu tambahan dari membaca buku
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil rangkuman dari literatur yang sudah dibaca
Kuliah/ Pertemuan ke 65. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Toilet harus tetap mempertahankan budaya di daerah sekitarnya. Budayan tersebut dapat
diaplikasikan dengan memberikan desain cat yang sesuai.
Perasaan yang dirasakan Kurang mengerti karena penyampaian materi kurang komunikatif.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Turut berpartisipasi sebagai peserta.
Kuliah/ Pertemuan ke 66. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Tidak ada
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyiapkan usulan desain yang akan diajukan pada ibu Maya sebagai klien
Kuliah/ Pertemuan ke 67. Workshop Desain
Tanggal 8 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Permintaan dari ibu Maya
• Kamar mandi yang direncanakan di dalam kamar tidur tidak dapat diaplikasikan
karena mengubah struktur bangunan dibawahnya
• Ibu Maya menyarankan pemberian kanopi tetap memasukkan angin dan cahaya
matahari
Perasaan yang dirasakan
209
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberikan usulan desain baru
Kuliah/ Pertemuan ke 68. Penjelasan tujuh prinsip Desain Inklusi
Tanggal 21 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Tujuh prinsip yang harus diterapkan dalam desain inklusi
29. Equitable Use (kesetaraan dalam penggunaan)
30. Flexibility in Use (Fleksibilitas dalam penggunaan)
31. Simple and Intuitive Use (penggunaan sederhana dan intuitif)
32. Perceptible Information (informasi yang jelas)
33. Tolerance of Error (Memberikan toleransi terhadap kesalahan)
34. Low Physical Effort (memerlukan upaya fisik yang rendah)
35. Size and Space for Approach and Use (Menyediakan ukuran dan ruang untuk
pendekatan dan penggunaaan)
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapat pengetahuaan baru
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 69. Asistensi Usulan Desain
Tanggal 10 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan • Penjelasan ulang tentang tujuh desain inklusi dan penerapannya dalam desain
renovasi kelompok
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menyesuaikan dan meninjau kembali desain renovasi kelompok dengan tujuh prinsip yang
sudah dijelaskan
Kuliah/ Pertemuan ke 70. Pengumpulan UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Kompilasi dari seluruh materi desain inklusi selama 1 semester
Perasaan yang dirasakan Senang karena dapat menyelesaikan tugas-tugas desain inklusi selama 1 semester
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Realisasi praktek lapangan bersifat menyesuaikan tidak terlalu terpaku oleh teori dan
materi (menyesuaikan permintaan klien)
Kontribusi yg diberikan thd
komunitas dampingan
Memberikan usulan desain aksebilitas difable pada rumah ibu Maya


Kelompok Bapak Tutus Setiawan S.Pd. dan Ibu Desy S.Pd.
Anneke Debora Kuncoro, 22411044
Nama Anneke DeboraKuncoro
NRP 22411044
Email Mahasiswa debora04@ymail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan - Penjelasan singkat mengenai materi yang akan di pelajari selama satu semester
- Pembentukan kelompok
Perasaan yang dirasakan Tau sekilas mengenai materi yang akan diajarkan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dalam mendesain bangunan umum, seringkali kita lupa akan kebutuhan semua pengguna.
Sehingga di kenyataan, banyak orang disable, kesulitan mengakses bangunan tersebut.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Mengumpulkan jadwal kuliah, uts, uas. Agar tidak terjadi bentrokan antara tugas inklusi
dengan tugas yang lainnya.
210
Universitas Kristen Petra
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 2. Kuliah Pak Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Apa saja yang harus di perhatika dalam mendesain rumah untuk orang disable, khususnya
para tunanetra.
Perasaan yang dirasakan Diingatkan kembali, bahwa pengguna bangunan umum bukan hanya orang normal saja,
tapi juga orang disable. Sehingga, bangunan juga harus “ramah” kepada orang disable.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Banyak fasilitas yang kurang memperhatikan para disable. Sehingga para disable menjadi
tidak nyaman ketika berada di sana.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain bangunan yang sesuai dan cocok dengan para pengguna, kesetaraan, dan
fleksibilitas para pengguna.
Kuliah/ Pertemuan ke 3. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang disable agar tau fasilitas seperti apa dirasa
nyaman atau menganggu. Serta tau fasilitas apa saja yang dibutuhkan para disable.
Perasaan yang dirasakan Merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang disable. Tau fasilitas apa yang pas atau
fasilitas yang masih kurang bagi para disable.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Arsitek masih kurang memperhatikan para disable pada saat mendesain suatu bangunan.
Sehingga, banyak area yang sulit, bahkan tidak bisa diakses oleh para disable.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Dalam mendesain suatu bangunan, arsitek harus memperhatikan seluruh aspek. Smulai
dari pengguna, kesetaraan, dan fleksibilitas para pengguna. Agar bangunan dapat diakses
semua orang.

Kuliah/ Pertemuan ke 4. Wawancara dengan Disable / Orang Senior
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Pak Tutus adalah seorang tunanetra, sedangkan istrinya adalah seorang low vision. Oeh
karena itu, dalam mendesain rumah untuk mereka berdua, harus sesuai dengan kebutuhan
mereka.
Perasaan yang dirasakan Memahami apa yang dibutuhkan oleh pak Tutus dan istrinya, dan diaplikasikan ke dalam
desain rumah bagi mereka berdua.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dalam mendesain rumah, kita harus melihat spekturm para penggunanya. Hal ini bertujuan
untuk memberikan fasilitas yang setara dengan kebutuhan para pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain rumah untuk pak Tutus, diperlukan perbedaan tekstur. Agar pak Tutus tau bahwa ia
berada di ruang yang berbeda. Sedangkan unbutuk istrinya, dibutuhkan warna-warna yang
cerah/ekstrem, agar sang istri bisa membedakan warna dengan baik.
Kuliah/ Pertemuan ke 5. Wawancara dengan Disable / Orang Senior
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Pak Tutus adalah seorang tunanetra, sedangkan istrinya adalah seorang low vision. Oeh
karena itu, dalam mendesain rumah untuk mereka berdua, harus sesuai dengan kebutuhan
mereka.
Perasaan yang dirasakan Memahami apa yang dibutuhkan oleh pak Tutus dan istrinya, dan diaplikasikan ke dalam
desain rumah bagi mereka berdua.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dalam mendesain rumah, kita harus melihat spekturm para penggunanya. Hal ini bertujuan
untuk memberikan fasilitas yang setara dengan kebutuhan para pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain rumah untuk pak Tutus, diperlukan perbedaan tekstur. Agar pak Tutus tau bahwa ia
berada di ruang yang berbeda. Sedangkan unbutuk istrinya, dibutuhkan warna-warna yang
cerah/ekstrem, agar sang istri bisa membedakan warna dengan baik.
Kuliah/ Pertemuan ke 6 . Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mendesain sesuai dengan spectrum pengguna
Perasaan yang dirasakan Perlu pertimbangan dalam mendesain, apakah perlu didesain ulang atau hanya beberapa
objek yang perlu diperbaiki.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlunya penerapan dalam mendesain sesuai teori tersebut, sehingga terkadang mendesain
sesuatu juga melihat objek yang didesain, misalnya bekas bangunan kolonil, cina, dll
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan pehaman tersebut ke dalam desain
Kuliah/ Pertemuan ke 7. UTS
Tanggal 9 April 2014
211
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas UTS sesuai jadwal yang diberikan dan ketentuannya
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 8. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas UTS sesuai jadwal yang diberikan dan ketentuannya
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 9. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Bagaimana cara mengembangkan potensi inovasi lokal yang dimiliki, ke dunia
internasional
Perasaan yang dirasakan Sedikit membosankan, karena materi yang di presentasikan olek Pak Loekito, sudah di
jelaskan pada saat perkuliahan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dunia internasional terkadang menganggap sebelah mata potensi yang dimiliki suatu
daerah.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Bekerja sama dengan banyak pihak internasional, agar potensi inovasi lokal yang kita
miliki dapat diakui oleh dunia
Kuliah/ Pertemuan ke 10. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mempersiapkan tugas akhir yang sudah diberikan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 11. Workshop Desain
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Mempersiapkan tugas akhir yang sudah diberikan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 12. Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Tanggal 14 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Menjelaskan bahwa mendesain bangunan perlu memperhatikan prinsip-prinsip dari
inclusive design
Perasaan yang dirasakan Memahami prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam desain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mendesain ataupun merancang sebuah bangunan perlu memperhatikan : kesetaraan,
fleksibilitas, sederhana, jelas, fisik, ukuran dan ruang sesuai pengguna
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan prinsip tersebut kedalam desain bangunan
Kuliah/ Pertemuan ke 13. Asistensi Tugas Akhir Inklusi
Tanggal 14 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan mengenai tugas. Seperti, produk apa saja yang dikumpulkan, tanggal berapa
tugas dikumpulkan, dan lain-lain.
212
Universitas Kristen Petra
Perasaan yang dirasakan Senang, karena bisa belajar mengenai hal-hal yang baru. Khususnya pengetahuan
mengenai inclusive design.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mengembangkan materi yang didapat selama perkuliahan ke dalam desain
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengikuti serta mempertimbangkan prosedur yang ada dalam mendesain bangunan
Kuliah/ Pertemuan ke 14. UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas akhir di P8 jam 10 dalam bentuk soft copy di burn di CD per
kelompok.
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan


Cindy F.Tanrim, 22411018
Nama Cindy Tanrim
NRP 22411018
Email Mahasiswa bor4kim92@gmail.com,
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan materi dan tugas inklusi yang akan dipelajari, serta pembagian kelompok dan
jadwal pertemuan inklusi.
Perasaan yang dirasakan Masih kurang paham apa yang seharusnya dilakukan karena masih awal kuliah.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Materi yang akan dipelajari, dan tugas bisa dipersiapkan jadwal kerja serta
pengumpulannya, selain itu juga menjelaskan bahwa mendesain inklusi harus
mempertimbangkan spektrum pengguna
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengumpulkan jadwal kuliah, uts, uas sehingga dirangkum menjadi jadwal pertemuan
inklusi, jadwal ini dibuat tujuannya tidak menghambat pertemuan mahasiswa agar dosen
pembimbing dan mahasiswa puas dengan hasil pertemuannya.
Kuliah/ Pertemuan ke 2. Kuliah Pak Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Peraturan, persyaratan dalam mendesain rumah untuk disable people termasuk tunanetra
yang harus perlu diperhatikan
Perasaan yang dirasakan Memahami dalam mendesain objek sesuatu yang dapat bisa digunakan untuk mereka,
seperti ramp yg tidak licin dengan sudut miringnya ± 2º, dsb
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataannya masih banyak fasilitas kurang memperhatikan fasilitas untuk disable people,
seperti fasilitas ramp petra, yg bisa digunakan distribusi untuk kereta barang seharusnya
bisa digunakan untuk kursi roda bagi yg disable atau mahasiswa yang mengalami musibah.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Merancang desain sesuai dengan penjelasan materi yang cocok dengan spektrum
pengguna, perencanaan desain, kesetaraan, fleksibilitas dengan pengguna
Kuliah/ Pertemuan ke 3. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Mencermati apa yang dilakukan bagi tunanetra ataupun disable people untuk fasilitas
umum, serta bagaimana kita menanggapi kebutuhan mereka?
Perasaan yang dirasakan Bersama-sama mengalami apa yang dirasakan disable people, apa yang mereka kehendak
jika fasilitas yang didesain masih kurang cukup untuk mereka?
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataan apa yang dijelaskan terasa berbeda dengan kenyataan di lapangan, bahwa masih
ada fasilitas umum, rumah yang kurang memperhatikan disable people
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Sebagai calon arsitek, mempelajari dengan merancang desain yg dilihat spectrum
penggunanya dengan begitu kita bisa memahami sapa saja yang menggunakan objek
tersebut.
Kuliah/ Pertemuan ke 4. Wawancara dengan Disable / Orang Senior
Tanggal 19 Maret 2014
213
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Pak Tutus seorang tunanetra sedangkan istrinya seorang low vision, oleh karena itu dalam
mendesain rumah untuk mereka butuh fungsinya masing-masing.
Perasaan yang dirasakan Memahami apa yang dibutuhkan dalam mendesain spectrum penggunanya spt pak Tutus
dengan istrinya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Yang saya pahami bahwa mendesain rumah untuk penggunanya kita harus melihat
spekturm penggunanya guna memberikan fasilitas yang setara antara disable people
dengan kita
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain rumah Pak Tutus butuh tekstur yang bisa berguna bagi indera perabanya,
sedangkan istrinya butuh warna yang ekstrem sehingga bisa membedakan warna yg polos
dengan warna gelap.
Kuliah/ Pertemuan ke 5. Wawancara dengan Disable / Orang Senior
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Pak Tutus seorang tunanetra sedangkan istrinya seorang low vision, oleh karena itu dalam
mendesain rumah untuk mereka butuh fungsinya masing-masing.
Perasaan yang dirasakan Memahami apa yang dibutuhkan dalam mendesain spectrum penggunanya spt pak Tutus
dengan istrinya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Yang saya pahami bahwa mendesain rumah untuk penggunanya kita harus melihat
spekturm penggunanya guna memberikan fasilitas yang setara antara disable people
dengan kita
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain rumah Pak Tutus butuh tekstur yang bisa berguna bagi indera perabanya,
sedangkan istrinya butuh warna yang ekstrem sehingga bisa membedakan warna yg polos
dengan warna gelap.
Kuliah/ Pertemuan ke 6 . Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mendesain sesuai dengan spectrum pengguna, ciri bentuk rumahnya seperti bangunan
kolonial biasanya rumah khas orang senior tidak bisa dilepas,
Perasaan yang dirasakan Perlu pertimbangan dalam mendesain, apakah perlu didesain ulang atau hanya beberapa
objek yang perlu diperbaiki supaya tidak menghilangkan desain tersebut.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Perlunya penerapan dalam mendesain sesuai teori tersebut, sehingga terkadang mendesain
sesuatu juga melihat objek yang didesain apa dulu, misalnya bekas bangunan kolonil, cina,
dll
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan pehaman tersebut ke dalam desain
Kuliah/ Pertemuan ke 7. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas UTS sesuai jadwal yang diberikan dan ketentuannya
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 8. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas UTS sesuai jadwal yang diberikan dan ketentuannya
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 9. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Bagaimana cara mengembangkan potensi inovasi lokal yang dimiliki, ke dunia
internasional
Perasaan yang dirasakan Sedikit membosankan, karena materi yang di presentasikan olek Pak Loekito, sudah di
jelaskan pada saat perkuliahan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dunia internasional terkadang menganggap sebelah mata potensi yang dimiliki suatu
daerah.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Bekerja sama dengan banyak pihak internasional, agar potensi inovasi lokal yang kita
miliki dapat diakui oleh dunia
214
Universitas Kristen Petra
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 10. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mempersiapkan tugas akhir yang sudah diberikan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 11. Workshop Desain
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Mempersiapkan tugas akhir yang sudah diberikan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 12. Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Tanggal 14 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Menjelaskan bahwa mendesain bangunan perlu memperhatikan prinsip-prinsip dari
inclusive design
Perasaan yang dirasakan Memahami prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam desain, dan dihubungkan
dengan spectrum penggunanya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mendesain ataupun merancang sebuah bangunan perlu memperhatikan : kesetaraan,
fleksibilitas, sederhana, jelas, fisik, ukuran dan ruang sesuai pengguna
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan prinsip tersebut kedalam desain bangunan
Kuliah/ Pertemuan ke 13. Asistensi Tugas Akhir Inklusi
Tanggal 14 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Memperhatikan dan mengumpulkan tugas apa saja yang dibutuhkan serta produk apa saja
yang perlu dikumpulkan
Perasaan yang dirasakan Senang, bisa dapat menyelesaikan ke desain ini selama penjelasan teori berlangsung
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mengembangkan materi yang didapat selama perkuliahan ke dalam desain
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengikuti serta mempertimbangkan prosedur yang ada dalam mendesain bangunan
Kuliah/ Pertemuan ke 14. UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas akhir di P8 jam 10 dalam bentuk soft copy di burn di CD per
kelompok.
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan


Mellisa S.Y/22411077
Nama Mellisa Stefani Yolino
NRP 22411077
Email Mahasiswa mellisastefani@rocketmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1. Pengantar Desain Inklusi
Tanggal 19 Februari 2014
215
Universitas Kristen Petra
Materi teori yang didapatkan Penjelasan lingkup materi yang akan dibahas dalam kelas KKP inklusi. Pembagian
kelompok dan penjelasan pembagian jadwal materi selama satu semester.
Perasaan yang dirasakan Secara umum, paham akan konsep pembelajaran yang akan digunakan selama satu
semester. Namun tidak paham dengan tugas untuk UTS dan tugas besar (desain kelompok)
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Lingkup materi pembelajaran, jadwal materi tiap minggu. Tidak terlalu paham tugas UTS
dan tugas desain kelompok
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Belum ada
Kuliah/ Pertemuan ke 2. Kuliah Pak Tutus tentang Desain Inklusi
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Sharing tentang pengalaman orang tuna netra yang berkaitan dengan arsitektur (penataan
ruang dalam dan ruang luar)
Perasaan yang dirasakan Membayangkan dengan lingkungan yang ada sekarang dan bila dalam kondisi yang serupa
dengan narasumber, mungkin banyak kesulitan yang terjadi.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataannya masih banyak fasilitas tidak memperhatikan kebutuhan dari orang difabel.
Contohnya adalah guiding path untuk orang buta yang ada di setapak jalan utama (Jl.
Darmo) sering kali tidak menerus dan celakanya berhenti bila ada pohon.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Pengertian bahwa desain arsitektur harus ramah untuk orang-orang difabel.
Kuliah/ Pertemuan ke 3. Simulasi Desain Inklusi
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Mencermati apa yang dilakukan bagi tunanetra ataupun disable people terhadap kondisi
fasilitas umum yang ada di lingkungan (di kompleks Petra)
Perasaan yang dirasakan Mengalami rasanya jadi orang tuna netra di kompleks Petra dan harus mencari jalan yang
sebenarnya sudah hafal kondisi.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kenyataan bahwa memang kurang ramahnya desain yang ada terhadap orang difabel.
Contohnya ram yang ada terlalu curam dan material yang kurang sesuai sehingga cukup
berbahaya untuk orang dengan kursi roda (cenderung tidak mungkin dilalui sendiri dan
sulit dengan bantuan orang lain)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Tidak ada
Kuliah/ Pertemuan ke 4. Wawancara dengan Disable / Orang Senior
Tanggal 19 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi dengan Pak Tutus yang seorang tuna netra, sedangkan istrinya adalah low vision,
Perasaan yang dirasakan Memahami apa yang dibutuhkan dalam mendesain spectrum penggunanya, yaitu pak
Tutus dengan istrinya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Yang saya pahami bahwa mendesain rumah untuk penggunanya kita harus melihat
spekturm penggunanya guna memberikan fasilitas yang setara antara disable people
dengan kita
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain untuk seorang tuna netra harus ‘bermain’ dengan tekstur. Sedangkan untuk low
vision lebih ke permainan warna. Berhati-hati dengan penggunaan warna yang ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 5. Wawancara dengan Disable / Orang Senior
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi dengan Pak Tutus yang seorang tuna netra, sedangkan istrinya adalah low vision,
Perasaan yang dirasakan Memahami apa yang dibutuhkan dalam mendesain spectrum penggunanya, yaitu pak
Tutus dengan istrinya
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Yang saya pahami bahwa mendesain rumah untuk penggunanya kita harus melihat
spekturm penggunanya guna memberikan fasilitas yang setara antara disable people
dengan kita
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Desain untuk seorang tuna netra harus ‘bermain’ dengan tekstur. Sedangkan untuk low
vision lebih ke permainan warna. Berhati-hati dengan penggunaan warna yang ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 6 . Asistensi Hasil Wawancara
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Hasil desain sementara dengan spektrum pengguna
Perasaan yang dirasakan Perlu perbaikan dengan tambahan pertimbangan-pertimbangan baru yang ada dan mungkin
terlewat
Apakah yang saya pahami Perlunya penerapan dalam mendesain sesuai teori tersebut, sehingga terkadang mendesain
216
Universitas Kristen Petra
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
sesuatu juga melihat objek yang didesain apa dulu, misalnya bekas bangunan kolonil, cina,
dll
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan hasil pemahaman materi ke desain
Kuliah/ Pertemuan ke 7. UTS
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas UTS sesuai jadwal yang diberikan dan ketentuannya
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 8. UTS
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas UTS sesuai jadwal yang diberikan dan ketentuannya
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 9. Workshop UNDK
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop mengenai inovasi kedaerahan yang ada di Indonesia (dan beberapa Negara lain
yang tergabung) dan potensi untuk menglobalkannya.
Perasaan yang dirasakan Tergabung sebagai panitia acara sehingga tidak dapat sepenuhnya menyimak materi yang
dibahas.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Tidak seberapa paham karena hampir separuh bagian acara berada di luar ruangan untuk
menyiapkan acara selanjutnya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Tidak ada
Kuliah/ Pertemuan ke 10. Persiapan Workshop Desain
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Mempersiapkan tugas akhir yang sudah diberikan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Persiapan desain fix
Kuliah/ Pertemuan ke 11. Workshop Desain
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Mempersiapkan tugas akhir yang sudah diberikan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 12. Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Tanggal 14 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan tentang inclusive design
Perasaan yang dirasakan Pemahaman tentang apa itu inclusive design sendiri
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Seharusnya dalam mendesain yang baik tidak boleh lagi mengglobalkan pengguna dari
bangunan tersebut. Menyesuaikan dengan spektrum yang ada.
Kontribusi yang diberikan Tidak ada
217
Universitas Kristen Petra
terhadap komunitas
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 13. Asistensi Tugas Akhir Inklusi
Tanggal 14 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Memperhatikan dan mengumpulkan tugas apa saja yang dibutuhkan serta produk apa saja
yang perlu dikumpulkan
Perasaan yang dirasakan Senang karena tugas akan berakhir dan tidak banyak perubahan yang harus dilakukan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mengembangkan materi yang didapat selama perkuliahan ke dalam desain
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Pra desain untuk rumah tinggal dengan penghuni tuna netra dan low vision
Kuliah/ Pertemuan ke 14. UAS
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Mengumpulkan tugas akhir di P8 jam 10 dalam bentuk soft copy di burn di CD per
kelompok.
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan



Nerissa Kumala Tandiono, 22411055
Nama Nerissa Kumala Tandiono
NRP 22411055
Email Mahasiswa nerissatandiono@hotmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1- Pengantar desain inklusi
Tanggal 19/2/14
Materi teori yang didapatkan Materi singkat tentang hal-hal apa yang akan dipelajari selama satu semester dalam kuliah
inklusi
Perasaan yang dirasakan Tertarik mengetahui lebih dalam tentang desain inklusi
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Masih tahap perkenalan rancangan inklusi, sebuah rancangan yang dapat diakses oleh
semua orang tanpa memerlukan upaya yang khusus. Tetapi kenyataan di lapangan
rancangan fasilitas umum saja masih susah digunakan khususnya bagi orang berkebutuhan
khusus karena cacat
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Kumpul jadwal kuliah, uts, uas menghindari bentrok tugas inklusi dengan tugas lain
Kuliah/ Pertemuan ke 2- Kuliah tamu (pak Tutus) tentang desain inklusi
Tanggal 26/2/14
Materi teori yang didapatkan Pengalaman pribadi dari tamu yang seorang tunanetra dalam beraktivitas ( baik di dalam
maupun luar ruang )
Perasaan yang dirasakan Terinspirasi bagaimana desain dapat berpengaruh besar bagi penyandang cacat
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dibutuhkan desain ruang baik luar maupun ruang dalam yang harus memberi kenyamanan
& keamanan bagi seorang penyandang cacat (tunanetra khususnya) karena seorang
penyandang cacat memiliki ruang gerak yang berbeda dari orang pada umumnya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mulai memikirkan ide desain bangunan yang mampu memberi ruang gerak yang nyaman
dan aman bagi semua spektrum pengguna
Kuliah/ Pertemuan ke 3- Simulasi desain inklusi
Tanggal 12/3/14
Materi teori yang didapatkan Turut merasakan menjadi seorang disabled, merasakan menjalani aktivitas di gedung
Radius Prawiro.
Perasaan yang dirasakan Merasa ‘susah’ menjadi disaled ketika memasuki bangunan fasum (pada kasus universitas
Kristen Petra pada gedung Radius Prawiro
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Pada saat belajar teori perancangan bangunan pada umumnya seringkali merasa desain
sudah ‘nyaman’, akan tetapi hal sepele misal seperti desain ramp yang sering tidak
dihitung karena sudah dirasa mampu dinaiki terbukti ketika dicoba saat pengguna kursi
218
Universitas Kristen Petra
roda menaiki ramp, pengguna kursi roda terjatuh karena kemiringan ramp yang terlalu
tajam.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Penting adanya kesadaran bahwa dalam perancangan suatu bangunan (baik fasilitas umum
maupun fasilitas pribadi/ rumah) hendaknya melihat spektrum pengguna dahulu. Penting
mengutamakan keamanan dan kenyamanan pengguna karena sudah kewajiban seorang
arsitek merancang ruang yang nyaman bagi pengguna ruang.
Kuliah/ Pertemuan ke 4- Wawancara dengan disabled
Tanggal 18/3/14
Materi teori yang didapatkan Kelompok kami mendapat wawancara dengan pak Tutus (tunanetra), beserta istrinya (low
vision) tentang beraktivitas di kediaman bapak Tutus beserta istrinya
Perasaan yang dirasakan Ikut merasakan kegiatan yang dilakukan oleh pak Tutus yang merupakan tunanetra,
rancangan rumah yang terkesan memaksa pak Tutus untuk beradaptasi, seharusnya
rancangan rumah otomatis membuat nyaman penggunanya, bukan memaksa pengguna
untuk beradaptasi agar nyaman
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Rancangan rumah yang nyaman harus melihat aspek pengguna dahulu. Apabila terdapat
pengguna yang difabel seharusnya desain rumah tidak sama dengan desain rumah pada
umumnya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Setelah mengetahui permasalahan pada rumah yang telah dihuni, perlu adanya
penyesuaian desain rumah dengan permainan yang mengandalkan indera peraba (tekstur)
bagi pak Tutus sebagai pemberi petunjuk arah, dan permainan warna cerah tetapi tidak
silau (agar tidak menyakiti mata) untuk istri pak Tutus yang low vision
Kuliah/ Pertemuan ke 5 -Wawancara dengan difabel
Tanggal 26/3/2014
Materi teori yang didapatkan
Perasaan yang dirasakan Idem dengan pertemuan 4
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Idem dengan pertemuan 4
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Idem dengan pertemuan 4
Kuliah/ Pertemuan ke 6 -Asistensi hasil wawancara
Tanggal 2/4/2014
Materi teori yang didapatkan Perancangan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang beraktivitas
Perasaan yang dirasakan Merasa butuh perbaikan/ perancangan ulang setelah melakukan wawancara dan observasi
dari rumah tamu pendukung (pak Tutus)
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori tentang studi ruang gerak pada umumnya oleh pengguna orang normal tidak
memberi kenyamanan bagi pengguna tunanetra (pak Tutus) & lowvision (istri pak Tutus),
seperti contoh tangga tanpa guiding path, perabot yang memenuhi selasar (bisa tertubruk),
terdapat penurunan level. Adanya hal-hal ini akhirnya terpaksa membuat pak Tutus
membiasakan diri dengan ingatan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Penerapan teori kedalam desain
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9/4/2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16/04/2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9 -Workshop UNDW
219
Universitas Kristen Petra
Tanggal 23/04/2014
Materi teori yang didapatkan Cara mengembangkan potensi inovasi lokal yang telah dimiliki di kancah internasional
Perasaan yang dirasakan Agak hambar, mungkin karena materi yang diberikan sudah pernah disinggung pada saat
perkuliahan sebelumnya.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Arsitektur di Indonesia terkadang dipandang sebelah mata oleh kalangan internasional
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Bekerja sama dengan berbagai pihak agar inovasi kita dapat diakui oleh kalangan
internasional
Kuliah/ Pertemuan ke 10 -Persiapan Workshop desain
Tanggal 30/04/2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan tugas akhir
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 11 -Workshop desain
Tanggal 07/05/2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan tugas akhir

Perasaan yang dirasakan Banyak mendapat informasi dari sharing kelompok maupun tamu pendukung
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Apabila spektrum pengguna berbeda ( tunanetra/ lumpuh/ penyandang kursi roda/ maupun
senior), maka otomatis desain juga berbeda pula karena tingkat kenyamanannya berbeda.
Contoh tunanetra memakai indera ‘peraba’ untuk menggantikan indera penglihatan
sehingga desain bermain tekstur & bidang untuk memberi petunjuk bagi pengguna
tunanetra.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
memberi ide atas saran-saran akan perbaikan/ perancangan rumah dan mendengarkan
keinginan dari pengguna akan perancangan rumah yang baru
Kuliah/ Pertemuan ke 12- Penjelasan 7 prinsip desain inklusi
Tanggal 15/05/2014
Materi teori yang didapatkan Teori akan 7 prinsip dalam perancangan suatu ruang (ruang luar & ruang dalam) dari
desain inklusi
Perasaan yang dirasakan Mengerti akan kebutuhan untuk lebih peka lagi terhadap perancangan suatu ruang agar
nantinya semua spektrum pengguna dapat beraktivitas dengan aman dan nyaman
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Sebelum menentukan memakai desain universal atau desain inklusi, kita harus
memperhatikan spektrum dari penggunanya. Apabila fungsi bangunan sebagai fasilitas
umum, maka ditujukan untuk semua spektrum pengguna, sehingga bangunan harus
memiliki aksesibilitas bagi semua khalayak. Berbeda dengan desain rumah, yang apabila
pengguna bukan berkebutuhan khusus maka bisa memakai desain yang universal, tetapi
apabila terdapat pengguna yang berkebutuhan khusus maka harus disesuaikan dengan
penggunanya (desain inklusi)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Menerapkan prinsip kedalam perancangan rumah untuk tugas UAS
Kuliah/ Pertemuan ke 13 -Asistensi tugas UAS
Tanggal 18/0
Materi teori yang didapatkan Penjelasan tugas, produk tugas yang harus dikumpulkan
Perasaan yang dirasakan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Merancang kembali secara inklusi rumah pak Tutus agar rancangan rumah dapat memberi
rasa aman dan nyaman bagi pengguna (pak Tutus beserta istri maupun keluarga) yang
memiliki kebutuhan khusus (tunanetra & low vision)
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 14- UAS
Tanggal 14/06/2014
Materi teori yang didapatkan UAS (Pengumpulan tugas)
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
-
220
Universitas Kristen Petra
kenyataan di lapangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-

Wenny Stefanie, 22411053
Nama Wenny Stefanie
NRP 22411053
Email Mahasiswa Wenny_stef93@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19-02-2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar desain inklusi.
Apa yang akan dilakukan selama kuliah 1 semester dan pengetahuan-pengetahuan dasar
mengenai desain inklusi
Perasaan yang dirasakan Merasakan bahwa orang-orang difabel memerlukan desain kusus agar mereka dapat
merasa nyaman.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Bahwa desain untuk orang-orang defabel membutuhkan perhatian khusus karena
kebanyakan bangunan tidak dapat digunakan oleh orang-orang defabel dengan nyaman
akibat desain yang tidak memperhatikan kebutuhan khusus mereka.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26-02-2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah P.Tutus tentang desain inklusi
Pengetahuan-pengetahuan mengenai desain yang baik dan yang cocok untuk orang-orang
difabel yang disharekan sendiri oleh P.Tutus yang merupakan seorang difabel.
Perasaan yang dirasakan Merasakan berbagai kesulitan dan ketidaknyamanan para difabel serta kebutuhan-
kebutuhan orang difabel.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
bangunan yang tidak didesain dengan memperhatiakan orang-orang difabel membuat para
difabel menjadi kesulitan dan merasa tidak nyaman menggunakan bangunan tersebut.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12-03-2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi desain inklusi
Mencoba merasakan sendiri apa yang diperlukan oleh orang-orang difabel beserta
kesulitan-kesulitannya pada saat berada di tempat yang tidak didesain khusus untuk orang-
orang difabel.
Perasaan yang dirasakan merasakan apa yang dirasakan oleh para difabel dan kesulitan-kesulitan orang-orang
difabel pada saat berada di fasiitas yang didesain untuk umum.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
kebanyakan bangunan-bangunan dan fasilitas umum yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan pengguna defabel dan belum terlalu memikirkan kenyamanan mereka.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 19-03-2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan orang defabel/orang tua
Kebutuhan-kebutuhan P.Tutus sebagai pengguna defabel yang rumahnya akan kelompok
desain sebagai tugas akhir semester ini.
Perasaan yang dirasakan Merasakan kesulitan dan kebutuhan dari pak Tutus yang tuna netra dan istrinya yang low
vision
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
bangunan yang ditinggali oleh komunitas yang kami damping sebenarnya sudah cukup
mendukung kondisi pak Tutus yang tuna netra dan istrinya yang low vision. Namun, ada
beberapa aspek di dalam rumah yang harus diubah seperti perletakkan barang-barang dan
posisi ruang yang dapat menghambat sirkulasi pak Tutus dan istrinya yang kesulitan
melihat.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Berkonsutasi dan memberikan ide-ide desain kepada komunitas dampingan
221
Universitas Kristen Petra
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26-03-2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan orang defabel/orang tua
Kebutuhan-kebutuhan P.Tutus sebagai pengguna defabel yang rumahnya akan kelompok
desain sebagai tugas akhir semester ini.
Perasaan yang dirasakan Merasakan kesulitan dan kebutuhan dari pak Tutus yang tuna netra dan istrinya yang low
vision.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
bangunan yang ditinggali oleh komunitas yang kami damping sebenarnya sudah cukup
mendukung kondisi pak Tutus yang tuna netra dan istrinya yang low vision. Namun, ada
beberapa aspek di dalam rumah yang harus diubah seperti perletakkan barang-barang dan
posisi ruang yang dapat menghambat sirkulasi pak Tutus dan istrinya yang kesulitan
melihat.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Berkonsutasi dan memberikan ide-ide desain kepada komunitas dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 02-04-2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi hasil wawancara
Kekurangan-kekurangan dan teori-teori yang dibutuhkan untuk memperbaiki dan
melengkapi ide desain
Perasaan yang dirasakan Merasakan kesulitan-kesulitan dalam penerapan teori kedalam desain.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Cukup banyak kenyataan di lapangan yang kurang sesuai dengan teori dan memang
kenyataannya menyulitkan pak Tutus sehingga bisa akan lebih baik bila diperbaiki dalam
desain akhir
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan dan memperbaiki ide-ide desain rumah tinggal komunitas dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 09-04-2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Pengembangan ide desain
Perasaan yang dirasakan Merasakan berbagai kesulitan dalam mengembangkan ide desain untuk dapat memenuhi
kebutuhan komunitas dampingan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Cukup banyak kenyataan di lapangan yang masih harus diperbaiki untuk meningkatkan
kenyamanan pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan ide desain
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16-04-2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Pengembangan ide desain
Perasaan yang dirasakan Merasakan berbagai kesulitan dalam mengembangkan ide desain untuk dapat memenuhi
kebutuhan komunitas dampingan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Cukup banyak kenyataan di lapangan yang masih harus diperbaiki untuk meningkatkan
kenyamanan pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Megembangkan ide desain
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23-04-2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Mengikuti workshop UNDK dan mengembangkan desain
Perasaan yang dirasakan Merasakan berbagai kesulitan dalam mengembangkan ide desain untuk dapat memenuhi
kebutuhan komunitas dampingan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Cukup banyak kenyataan di lapangan yang masih harus diperbaiki untuk meningkatkan
kenyamanan pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan ide desain
Kuliah/ Pertemuan ke 10
222
Universitas Kristen Petra
Tanggal 30-04-2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan workshop desain
Mempersiapkan workshop desain
Perasaan yang dirasakan Merasakan berbagai kesulitan dalam mengembangkan ide desain dan mempersiapkan
workshop desain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Cukup banyak kenyataan di lapangan yang masih harus diperbaiki untuk meningkatkan
kenyamanan pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan ide desain
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 07-05-2014
Materi teori yang didapatkan Workshop desain
Masukan-masukan dan ide-ide dari komunitas dampingan.
Perasaan yang dirasakan Merasakan pentingnya kebutuhan-kebutuhan yang lebih detail dan kenyamanan yang
dibutuhkan oleh komunitas dampingan
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Bahwa kommunitas dampingan membutuhkan sebuah hunian yang masih sesuai dengan
kebiasaannya namun dengan beberapa perbaikan pada penataan perabot dan lokasi ruang.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan ide desain sesuai dengan hasil wokshop.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15-05-2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 prinsip desain inklusi
Prinsip-prinsip yang harus diterapkan agar sebuah bangunan dapat nyaman digunakan oleh
orang-orang difabel beserta penjelasan mengenai desain universal.
Perasaan yang dirasakan Merasakan pentingnya memenuhi kebutuhan-kebutuhan para difabel yang lebih spesifik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori-teori tentang desain inklusi memang tidak dapat diterapkan pada semua jenis
bangunan karena akan menimbulkan banyak kesulitan dan kerugian akibat biaya dan space
yang bertambah. Namun, banyak juga bangunan-bangunan khusus difabel yang telah
menerapkan teori desain inklusi dengan cukup baik meskipun belum maksimal.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan desain dan melengkapi dengan mencoba memasukkan prinsip-prinsip
desain inklusi ke dalam desain,
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 14-06-2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi tugas UAS
Mengembangkan ide desain dengan masukan-masukan dari dosen
Perasaan yang dirasakan Merasakan berbagai kesulitan dalam mengembangkan ide desain untuk dapat memenuhi
kebutuhan komunitas dampingan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Cukup banyak kenyataan di lapangan yang masih harus diperbaiki untuk meningkatkan
kenyamanan pengguna.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mengembangkan dan menyajikan desain rumah tinggal untuk komunitas dampingan.
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 18-06-2014
Materi teori yang didapatkan UAS
Perasaan yang dirasakan Merasakan pentingnya desain inklusi bagi orang-orang difabel.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Bahwa bangunan untuk orang difabel memang membutuhkan perhatian khusus dan harus
mempertimbangkan banyak hal.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Hasil akhir desain rumah tinggal untuk komunitas dampingan.



Kelompok Bapak Hariyono Karno
Anneke Clauvinia Patriajaya, 22411061
Nama Anneke Clauvinia Patriajaya
223
Universitas Kristen Petra
NRP 22411061
Email Mahasiswa vivipatriajaya@gmail.com
Mata Kuliah Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 / 02/ 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan • Ingin tahu desain inklusi yang dipelajari seperti apa.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Adanya pengguna khusus yang seringkali tidak diperhatikan dalam perancangan
sehingga desain yang dihasilkan tidak dapat digunakan.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 / 02/ 2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah Pak Tutus (total blind) dan istrinya (low vision) tentang Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan • Ingin tahu bagaimana rasanya saat menjadi buta dan harus berjalan sendiri
menggunakan tongkat seperti Pak Tutus

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Pentingnya path khusus bagi orang berkebutuhan khusus seperti keluarga Pak
Tutus.
• Perabotan di dalam rumah juga tidak boleh sembarangan dipindah dan harus
sesuai dengan jangkuan tangan.
• Warna-warna yang mencolok untuk low vision.


Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 04 / 03 / 2014
Materi teori yang didapatkan Mencari referensi tentang Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan • Masih kebingungan mencari referensi karena masih kurangnya pengetahuan
tentang orang-orang berkebutuhan khusus.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Banyaknya pengguna khusus yang memiliki kebutuhan berbeda-beda.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 11 / 03 / 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan • Perasaan takut jika saya menabrak saat menjadi orang buta.
• Kehilangan orientasi dan segalanya menjadi membingungkan.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Orang buta membutuhkan area yang mana dapat menjadi petunjuk arah jalan,
saat petunjuk itu ada dan terputus, mereka akan menjadi bingung.
• Orang buta harus dijauhkan dari hal-hal yang bersifat tajam atau halangan di
depannya karena ada perasaan khawatir akan terluka.


Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 18 / 03 / 2014
Materi teori yang didapatkan Observasi di rumah warga Stren Kali Jagir.(bertemu dengan Pak Hariyono, salah
satu warga pembuat cetok)
Perasaan yang dirasakan • Tidak biasa berkunjung ke daerah lain yang dimana mindset saya mengatakan itu
adalah daerah kumuh, namun kenyataannya tidak.
• Penasaran bagaimana warga stren kali membuat cetok yang membuat mereka
sampai terkenal dan masuk koran.

224
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Pembuatan cetok tidak sesederhana yang ada di pikiran saya. Perlu beberapa
langkah dan hal tersebut dikerjakan oleh beberapa warga di rumah mereka
masing-masing.
• Perlunya area khusus untuk warga bekerja di dalam rumah mereka karena saat
ini semua tercampur aduk dengan kegiatan sehari-hari.
• Belum adanya perhatian terhadap orang berkebutuhan khusus (orang senior).

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
• Mengamati situasi daerah stren kali, bagaimana mereka saling berinteraksi antara
satu dengan lainnya, serta tindakan mereka terhadap lingkungan.

Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 26 / 03 / 2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi kelompok di luar kelas (keadaan dan bagaimana mendesain ulang rumah
Pak Hariyono)
Perasaan yang dirasakan • Semangat untuk mengerjakan desain karena cukup menantang dengan lahan
yang sangat sempit tetapi Pak Hariyono tidak mau desain rumahnya diubah.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Untuk kasus Pak Hariyono sudah seharusnya desain rumahnya diubah total
karena tidak sesuai dengan kebutuhan umum dan khusus dari pengguna, tetapi
pengguna tidak mau diubah desainnya.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 02 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi dengan dosen pembimbing terkait hasil survey dan wawancara
Perasaan yang dirasakan • Bingung dengan desain yang harus dikerjakan karena sempitnya lahan dan
banyaknya aktivitas yang harus ditampung.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Stren kali merupakan area wisata kampung yang mana area kerja seharusnya
menjadi titik utama bangunan yang mampu menarik pengunjung.
• Perhatian kepada area ruang kerja tidak boleh sampai mengabaikan kebutuhan
utama dari pengguna yang memiliki kebutuhan khusus (orang senior).
• Belum adanya kesesuian fungsi ruang dengan kenyataan di lapangan (mix-used
area).

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 09 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan UTS – Merangkum artikel tentang housing
Perasaan yang dirasakan • Penasaran akan hal-hal terkait rumah.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Beberapa hal perlu diperhatikan untuk menciptakan lingkungan sehat. Tidak
semua yang dikatan Feng Shui dapat dilakukan, perlu pemikiran logis dalam
menciptakan lingkungan sehat.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 16 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan UTS – Mempersiapkan workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan • Ingin tahu yang dibahas tentang apa dalam workshop.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 23 / 04 /2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan • Sedih karena pada saat hari H saya tidak dapat hadir karena sakit.

225
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Saya sempat bertanya dengan teman isi dari workshop. Yang saya dapatkan
adalah perlunya perhatian khusus terhadap macam-macam pengguna dalam
setiap desain. Seperti dalam desain toilet, setiap pengguna membutuhkan desain
tersendiri yang mana fungsi dari desain dapat digunakan dengan nyaman oleh
pengguna.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 30 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan • Penasaran tentang workshop.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 07 / 05 /2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain
Perasaan yang dirasakan • Antusias mendengarkan cerita dari narasumber.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Orang senior seringkali merasa masih mampu beraktivitas berat.
• Adanya kebutuhan ruang khusus untuk bekerja dengan nyaman dan aman.
• Permintaan pengguna yang tidak ingin desainnya diubah cukup membuat pusing
karena desain yang dihasilkan tidak bisa memenuhi standar bagi orang
berkebutuhan khusus (orang senior).

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
• Desain yang dihasilkan didiskusikan kembali dengan Pak Hariyono sebagai
pengguna. Apakah desain tersebut sudah sesuai dengan kebutuhan Beliau atau
tidak.

Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 14 / 05 / 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 Prinsip Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan • Semakin ingin tahu tentang Desain Inklusi dan penerapannya dalam desain.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Ada perbedaan besar antara desain inklusi dan desain universal. Yang selama ini
saya pelajari dalam perancangan hanyalah desain universal.
• Desain inklusi lebih memperhatikan spektrum pengguna yang beragam sehingga
perlu penyelesaian desain yang berbeda-beda.
• Beberapa keterbatasan yang memang tidak bisa diganggu bisa menciptakan
desain yang tidak mencakup semua prinsip desain.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 21 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi kelompok dan pra-desain
Perasaan yang dirasakan • Kebingungan saat memulai desain.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Area yang cukup sempit membuat kami semua harus memutar otak untuk
mencapai desain yang maksimal.
• Kebutuhan orang senior diusahakan diletakkan semua di lantai bawah.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 15
Tanggal 28 / 05 /2014
Materi teori yang didapatkan Mencari referensi tentang desain
Perasaan yang dirasakan • Semangat menyelesaikan desain.

Apakah yang saya pahami • Banyak alternatif yang bisa diterapkan terkait desain.
226
Universitas Kristen Petra
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Pengetahuan tentang lebar sirkulasi dan ruang yang sesuai dengan spektrum
pengguna.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 16
Tanggal 04 / 06 / 2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi kelompok dan Asistensi Desain dengan dosen pembimbing
Perasaan yang dirasakan • Semangat menyelesaikan desain.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Jarak railing masih perlu diperhatikan lagi untuk memenuhi aspek keselamatan
pengguna.
• Area toilet harus memiliki ventilasi.
• Area ruang kerja dibuat luas agar pengguna dapat beraktivitas dengan nyaman.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 17
Tanggal 11 / 06 / 2014
Materi teori yang didapatkan Masa UAS – penyempurnaan desain
Perasaan yang dirasakan • Semangat menyelesaikan desain dan UAS.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Perletakan perabot diusahakan sesuai urutan pekerjaan.
• Bukaan disesuaikan agar mudah digunakan.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 18
Tanggal 18 / 06 / 2014
Materi teori yang didapatkan UAS Inklusi – pengumpulan desain
Perasaan yang dirasakan • Senang bisa menyelesaikan UAS dengan baik.

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Desain bukan hanya tentang keindahan tetapi lebih kepada kenyamanan
pengguna dengan memperhatikan spektrum pengguna dan kebutuhan mereka.

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-

Cendana Marcheliwan Putra, 22411075
Nama Cendana Marcheliwan Putra
NRP 22411075
Email Mahasiswa Cmp_p1@yahoo.com
Mata Kuliah Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 / 02/ 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi, Apa yang dimaksud dengan desain inkusi , apa yang akan
dilakukan selama 1 semester pada mata kuliah ini
Perasaan yang dirasakan Ingin tahu lebih mengenai desain inklusi itu apa
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Yang dimaksud dengan desain inklusi adalah dalam kita mendesain , kita harus
menyesuaikan apa yang kita desain , dengan spectrum kebutuhan penggunanya
yang bervariasi

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 / 02/ 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan Pak tutus (total blind ) dan Istrinya (low vision ) mengenai bagaimana
cara mereka untuk beraktivitas sehari hari .
Perasaan yang dirasakan • Merasa bersyukur karena sudah dilahirkan dengan kondisi yang Normal
• Merasa lebih empati dan peka kondisi setiap orang yang berbeda akan
kebutuhannya
• Terkadang desain yang saya buat tidak memperhatikan spectrum pengguna ini
227
Universitas Kristen Petra

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Perlu diperhatikan texture jalan dan kekontinuitasnya karena itu sangat penting
bagi spectrum pengguna ini, kenyataannya, guiding path orang buta tidak selalu
ada , kalaupun ada, tidak selalu kontinu
• Menghindari benda benda yang berada di atas jangkauan tongkat, terkadang ada
benda benda seperti lemari dinding, tonjolan dinding, dan bukaan jendela yang
akan mengakibatkan orang buta tidak tahu dan akhirnya menabrak benda
tersebut .
• Menggunakan perabot yang fixed / paling tidak, tidak dirubah rubah ,
kenyataannya, tanpa sadar, orang yang tinggal dengan spektrum pengguna ini ,
sering memindah barang sehingga membuat bingung.


Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 04/03/2014
Materi teori yang didapatkan Melakukan pencarian referensi berkaitan dengan desain Inklusi baik dari buku maupun
website
Perasaan yang dirasakan Sedikit bingung karena desain inklusi benar benar focus pada kebutuhan orang difabel
yang berbeda beda
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 11/03/2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Menjadi orang difabel ( orang buta, pengguna kursi roda, pengguna kruck )
Perasaan yang dirasakan • Takut menabrak objek di depan baik orang maupun benda , takut ditabrak
kendaraan waktu menyebrang jalan
• Sedikit malu karena dilihat banyak orang dengan tatapan yang tidak enak
• Kehilangan Orientasi waktu menutup mata.
• Saat menggunakan kursi roda dan kruck, pergelangan tangan lelah .

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Perlu ada desain khusus yang sesuai dengan spektrum penggunanya
• Kursi Roda : Pada ramp, teori dan praktek sesuai, karena kemiringan ramp di
gedung W (KJ) dan Ramp auditorium termasuk curam, sehingga pengguna kursi
roda dapat celaka karena kursi roda tidak dapat naik dan terbalik , sehingga harus
didorong agar naik . Posisi tombol lift yang terlalu atas dan model pintu dorong
yang menyulitkan . Sebaiknya ramp memenuhi standart kemiringan tertentu dan
posisi tombol lift yang dapat di jangkau, model pintu yang dapat memudahkan
orang kursi roda dan ruang toilet yang lebih besar karena butuh ruang lebih .

• Orang Buta : Pada saat menjadi orang buta, halangan yang tidak sampai ke
bawah jumlahnya lumayan banyak , sangat berbahaya dan dapat mencelakakan
karena tidak dapat terdeteksi / dijangkau oleh tongkat oleh karena itu, jika
mendesain untuk spektrum pengguna ini , hal hal tersebut dihindarkan . Perlu
ada desain khusus agar spektrum ini dapat berorientasi dengan cepat tanpa
kebingungan .


Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 18/03/2014
Materi teori yang didapatkan Observasi ke Perumahan Stren Kali bratang dengan Pak Hariyono pembuat Cetok
Kampung
Perasaan yang dirasakan • Canggung dan Tidak biasa, karena untuk pertama kalinya mengunjungi
perumahan daerah stren kali, dan ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan
karena daerah tersebut merupakan kampong wisata
• Penasaran bagaimana perilaku orang yang tinggal di daerah stren kali dan
bagaimana proses pembuatan cetok .

Apakah yang saya pahami • Dalam pembuatan cetok kampong , terdiri dari beberapa proses dimana masing
228
Universitas Kristen Petra
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
masing proses tersebut dilakukan bersama warga lain dan memiliki kebutuhan
ruang yang berbeda beda
• Memerlukan desain yang khusus terkait dengan spektrum pengguna yang lansia
dan sehari hari bekerja dirumah


Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
• Mengamati situasi daerah stren kali bratang , warga, interaksi antar warga,
interaksi warga dengan linkungan .

Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 26 / 03 / 2014
Materi teori yang didapatkan Berkumpul dengan kelompok berdiskusi mengenai hasil survey dan mengolah data guna
kebutuhan mendesain
Perasaan yang dirasakan Sedikit bingung dikarenakan Pak Haryono sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan
rumah yang sekarang ditempati .

Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 02 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi hasil wawancara dan survey dengan Pak Gunawan
Perasaan yang dirasakan Antusias ingin segera memulai pembuatan desain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan dari kondisi rumah asal, yaitu
letak dapur yang berada di luar. Lalu permintaan privasi dari Pak Haryono yang
mana tidak dapat membuat bukaan dari depan terlalu lebar
• Hal hal lain yang harus diperhatikan antara lain kesesuaian ukuran ruang kerja
dengan tindakan yang dilakukan dalam bekerja, desain kamar mandi dan dapur .
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 09/04/2014
Materi teori yang didapatkan UTS – Membuat tugas merangkum dari sebuah artikel tentang housing .
Perasaan yang dirasakan Ingin menyelesaikan tugas UTS dengan cepat
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 16/04/2014
Materi teori yang didapatkan UTS – Mempersiapkan workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Penasaran dengan workshop UNDK
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 23/04/2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK membahas budaya toileting local dan beberapa topic lain yang
cukup menarik untuk diikuti
Perasaan yang dirasakan Penasaran karena acara ini diikuti tak hanya dari dalam kampus saja, tetapi banyak dari
kampus luar juga
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Budaya Toilleting merupakan budaya yang berbeda beda pada setiap spektrum
pengguna, berdasar kebiasaan, adat, ketersediaan fasilitas, dan lain lain. Oleh
karena itu dalam mendesain melibatkan unsur kenyamanan dan keamanan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 30 / 04 / 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan workshop Desain – membaca serta berdiskusi dengan kelompok mengenai
229
Universitas Kristen Petra
desain inklusi sesuai spektrumnya
Perasaan yang dirasakan Penasaran dengan workshop desain
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 07/05/2014
Materi teori yang didapatkan Workshop Desain : Memanggil narasumber yang berbeda spektrumnya, setiap kaum
difabel memiliki kebutuhan sendiri sendiri
Perasaan yang dirasakan Tertarik karena dapat pengetahuan yang cukup banyak dari beberapa narasumber yang
diundang
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Masalah yang dihadapi oleh para difabel / orang senior, tidak hanya berkaitan
dengan kemampuan diri sendiri nya saja , tetapi juga masalah social, contohnya
adalah pemikiran orang lain mengenai mereka
• Tugas sebagai arsitek adalah memfasilitasi mereka agar dapat hidup berkegiatan
sehari hari dengan nyaman dan aman.Oleh karena itu intensi desain yang
mencakup spektrum pengguna, sangatlah penting.
• Terkadang para difabel tidak dapat menggunakan / tidak nyaman dengan desain
yang telah ada (terutama pada fasilitas umum dan bangunan komersial ) karena
hanya dirancang secara universal desain dan terkadang tidak memenuhi dan
memikirkan spektrum pengguna difabel .
• Melakukan praktik pendekatan desain inklusi secara langsung, yaitu berdiskusi
mengenai desain yang cocok/ dirasa nyaman untuk mereka. Akan tetapi desain
seperti ini sangat subjektif, karena didesain spesifik untuk penggunanya

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Karena Pak haryono adalah salah satu dari narasumber. Desain yang telah dihasilkan oleh
kelompok, didiskusikan dengan pak Haryono, apakah sudah memenuhi dan sesuai untuk
kebutuhannya.
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 15/05/2014
Materi teori yang didapatkan Prinsip desain universal dan desain inklusi, presentasi singkat hasil observasi ke kelompok
lain .
Perasaan yang dirasakan Ingin cepat menyelesaikan tugas desain inklusi ini .
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Ada perbedaan desain inklusi dengan desain universal. Desain inklusi berbicara
tentang suatu desain yang sangat spesifik untuk spektrum penggunanya,
sehingga sulit untuk diaplikasikan secara umum .
• Ada beberapa tolak ukur untuk desain universal. Yang paling mengena adalah
desain sesuai intuitif manusia

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 19/05/2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi kelompok masing-masing, segera membuat pra rancangan yang
menggunakan data yang telah didapatkan
Perasaan yang dirasakan Antusias untuk segera menyelesaikan desain .
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 15
Tanggal 28/05/2014
Materi teori yang didapatkan Mencari data/ referensi secara kelompok ke perpustakaan dan sumber sumber lain
mengenai desain rumah stren kali yang telah ada .
Perasaan yang dirasakan Semakin bersemangat , karena ternyata desain rumah stren kali tidak hanya begitu saja,
Banyak alternative desain dan pendekatan yang harus dibuat .
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 16
230
Universitas Kristen Petra
Tanggal 04/06/2014
Materi teori yang didapatkan Diskusi kelompok masing-masing – Asistensi desain yang telah dibuat kepada Dosen
Perasaan yang dirasakan Ingin segera menyelesaikan desain inklusi
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 17
Tanggal 11/06/2014
Materi teori yang didapatkan Masa UAS – Asistensi desain yang telah dibuat
Perasaan yang dirasakan Perasaan ragu dengan desain yang dipilih karena merasa belum maksimal
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
• Daun pintu kamar mandi, harus sesuai dan mudah digunakan sesuai dengan arah
bukaan pintu
• Toilet yang tidak memiliki ventilasi alami yang baik dapat menyebabkan
penyakit dan kelembaban.
• Peletakan perabot untuk bekerja yang disesuakan dengan alur pekerjaan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-
Kuliah/ Pertemuan ke 18
Tanggal 18/06/2014
Materi teori yang didapatkan Pengumpulan tugas UAS
Perasaan yang dirasakan Senang karena tugas telah usai .
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
-

Michelle Mimosa, 22411072
Nama Michelle Mimosa
NRP 22411072
Email Mahasiswa Michelle.mimosa@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan PENGANTAR DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Perasaan lebih terbuka untuk penyandang disabilitas
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Pada pertemuan ini mempelajari tentang teori dan dasar desain utuk penyandang disabilitas.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Mengusahakan desain yang aman dan nyaman untuk penyandang disabilitas, memiliki
kesadaran bahwa mereka membutuhkan desain yang berbeda.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan KULIAH PAK TUTUS (TUNANETRA) TENTANG DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Mengetahui dan mengalami secara langsung interaksi dengan penyandang tunanetra, lebih
berempati dengan penyandang tunanetra.
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Penyandang tunanetra dapat beraktivitas dengan normal tetapi memiliki perbedaan dengan
orang normal. Mereka mengandalkan memori dan sentuhan untuk menganalisis keadaan dan
kondisi di sekitar. Tongkat wajib dibutuhkan oleh penyandang tunanetra apabila sedang
berada di tempat asing.
231
Universitas Kristen Petra
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Memiliki kesadaran akan kebutuhan-kebutuhan penyandang tunanetra. Diharapkan desain ke
depannya dapat lebih memperhatikan kebutuhan mereka.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 15 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan SIMULASI DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Mengetahui dan memahami secara langsung pengalaman penyandang disabilitas, yaitu
menjadi tunanetra dan berkursi roda.
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Saat mendapatkan teori, hanya sekedar mengetahui secara teoritis. Tetapi setelah
menjalankan simulasi secara langsung, ternyata berbeda dengan yang dibayangkan. Menjadi
penyandang disabilitas amat sulit, terutama jika berada pada daerah yang tidak memiliki
sarana penunjang khusus.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Memiliki empati terhadap penyandang disabilitas, dan memiliki kesadaran penuh akan
kebutuhan dan kenyamanan mereka pada saat mendesain
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan EKSPLORASI LITERATUR KELOMPOK
Perasaan yang dirasakan Mencari teori-teori yang mendukung eksplorasi terhadap orang tua.
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Kaum lanjut usia memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang lebih daripada orang normal.
Meskipun kebutuhan tersebut tidak sebanyak penyandang disabilitas seperti tunanetra,
tunarungu, berkursi roda dan lain sebagainya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Mengetahui secara teoritis hal apa saja yang dibutuhkan oleh kaum senior di tempat
tinggalnya.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan WAWANCARA DEGAN ORANG SENIOR (PAK HARIYONO PEMBUAT CETOK)
Perasaan yang dirasakan Berempati. Tempat tinggal yang berada di bantaran kali terasa tidak layak dan tidak
memenuhi standar kesehatan dan kenyamanan.
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Bapak Hariyono tergolong kaum lanjut usia yang masih produktif dan aktif, sehingga belum
banyak kebutuhan khusus yang diperlukan. Namun, kendala terbesar ada pada masalah biaya
dan ukuran rumah stren kali yang relative sempit.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Mengetahui dan berinteraksi secara langsung dengan kaum lanjut usia. Mengetahui bahwa
terdapat kendala biaya, sehingga diharapkan desain ke depannya dapat mempertimbangkan
masalah desain.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan ASISTENSI HASIL WAWANCARA
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati dalam mendesain tempat tinggal untuk kaum lanjut usia.
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Dalam teori, kita dapat lebih mudah mengatur dan mendesain sesuai prinsip dan keinginan,
namun dalam prakteknya seringkali desain terbentur dengan masalah-masalah lain,
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Mengetahui desain yang sesuai untuk kaum lanjut usia. Mengetahui bahwa terdapat kendala
biaya, sehingga diharapkan desain ke depannya dapat mempertimbangkan masalah desain.
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
-
232
Universitas Kristen Petra
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS KKP-C DESAIN INKLUSI-PEMBUATAN TINJAUAN PUSTAKA
Perasaan yang dirasakan Pengumpulan desain
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan WORKSHOP UNDK
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Mengetahui toileting culture. Dengan hal tersebut dapat membantu melestarikan budaya
setempat
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan PERSIAPAN WORKSHOP DESAIN
Perasaan yang dirasakan Lebih memahami prinsip desain untuk kaum lanjut usia
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori
Teori desain harus melewati proses perancangan yang matang hingga dapat diaplikasikan
secara inklusif untuk satu pihak tertentu.
dan kenyataan di lapangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Pengaplikasian teori desain terhadap desain rumah tinggal Pak Harioyono
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan WORKSHOP DESAIN
Perasaan yang dirasakan Terkejut karena desain ternyata kurang dapat diterima oleh pemilik rumah
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Meskipun secara teoritis desain sudah memenuhi prinsip-prinsip inklusivitas, namun pada
kenyataannya, pihak klien atau pemilik yang lebih berpengaruh, karena berhubungan
langsung dengan mereka.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Menampung masukan pemilik (Pak Harioyono) dan mencoba embuat desain yang dapat
mengakomodir kebutuhan mereka
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan PENJELASAN 7 PRINSIP DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Mendapatkan ilmu baru mengenai prinsip-prinsip desain
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Secara teoritis mungkin terlihat mudah dalam pengaplikasian, namun terdapat benturan-
benturan kepentingan, baik dengan pihak pemilik maupun kendala biaya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Mencoba membuat desain yang dapat mengakomodir kebutuhan pemilik.
Kuliah/ Pertemuan ke 13
233
Universitas Kristen Petra
Tanggal 11 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan ASISTENSI TUGAS UAS
Perasaan yang dirasakan Lebih mengerti dan memahami maksud dari desain inklusi, yang khusus/inklusif sehingga
kebutuhan klien merupakan titik ukur terutama
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Secara teoritis mungkin terlihat mudah dalam pengaplikasian, namun terdapat benturan-
benturan kepentingan, baik dengan pihak pemilik maupun kendala biaya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Membuat 2 alternatif desain yang merupakan desain permintaan klien, dan desain ideal yang
diperlukan untuk rumah usaha kaum lanjut usia.
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan UAS KKP-C DESAIN INKLUSI : DESAIN RUMAH TINGGAL DENGAN PENGGUNA
SENIOR (PENGUMPULAN TUGAS)
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati terhadap sesama, dan mengerti kebutuhan kaum penyandang disabilitas.
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Secara teoritis mungkin terlihat mudah dalam pengaplikasian, namun terdapat benturan-
benturan kepentingan, baik dengan pihak pemilik maupun kendala biaya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Membuat 2 alternatif desain yang merupakan desain permintaan klien, dan desain ideal yang
diperlukan untuk rumah usaha kaum lanjut usia.


Format Refleksi KKP - C Desain Inklusi

Puspita Rani, 22411074
Nama Puspita Rani
NRP 22411074
Email Mahasiswa rani.puspita94@gmail.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Pengantar Desain Inklusi
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Berbeda. Tidak semudah yang selama ini dibayangkan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Kontribusi yg dapat diberikan antara lain adalah design yang lebih peka dan membantu
komunitas defable agr dapat melakukan aktivitas dg lebih nyaman
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan Kuliah oleh P.Tutus (penyandang tunanetra)
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati terhadap penyandang tunanetra
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Penyandang tujanetra sebagian besar melakukan aktivitas dengan mengandalkan ingatan,
adanya perbedaan elemen maupun tekstur suatu material memberikan dampak yang
signifikan bagi tunanetra.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 12 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Simulasi Desain Inklusi
234
Universitas Kristen Petra
. Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Merasakan secara langsung kebutuhan yang diperlukan oleh komunitas defable memberikan
kepekaan yang lebih terhadap proses perancangan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Perancangan design bagi komunitas defable yang sesuai dan nyaman
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan Eksplorasi literatur kelompok
Perasaan yang dirasakan Mencari teori yang mendukung eksplorasi
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan

Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Design yang diberikan selain diharapkan memudahkan mereka untuk bekerja juga nyaman
bagi kesehatan.
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Wawancara dengan P.Hariyono
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
(orang senior/lanjut usia) komunitas defable ini memerlukan ruang yang mudah diakses untuk
bekerja dan tempat tinggal, menghindari naik tangga krn kaki sering sakit.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Desain yang membantu subjek untukd dapat bekerja dengan lebih nyaman
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi hasil wawancara
Perasaan yang dirasakan Lebih mengerti relevansi antara desain inklusi dengan kebutuhan subjek
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Banyak kebutuhan yang perlu diwujudkan untuk menciptakan tempat tinggal yg nyaman bagi
komunitas defable
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Design yang nyaman dan sesuai kebutuhan
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS Inklusi – pembuatan tinjauan pustaka
Perasaan yang dirasakan Pengumpulan desain
235
Universitas Kristen Petra
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop UNDK
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati terhadap komunitas defable
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Mengenal lebih dalam mengenai budaya di toilet, sehingga dapat membantu melestarikan
budaya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan

Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan Persiapan workshop design
Perasaan yang dirasakan Memahami lebih jelas konsep-konsep desain untuk orang lanjut usia
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori
Dasar konsep desain perlu melewati proses perancangan yang baik agar dapat diaplikasikan
dengan tepat pada subjek
dan kenyataan di lapangan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Aplikasi dasar konsep desain pada desain rumah tinggal P.Hariyono
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Workshop desain
Perasaan yang dirasakan Sedikit kecewa karena desain tidak sepenuhnya diterima oleh subjek
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Desain yag diinginkan oleh subjek lebih memperhatikan budaya dan kebiasaan mereka,
bukan teori-teori desain yang seperti diajarkan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Menampung masukan subjek dan mengolah desain menjadi lebih sesuai, baik dengan
kebutuhan maupun keingina subjek
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan Penjelasan 7 prinsip desain inklusi
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Aplikasi prinsip desain terlihat simple, namjn terkadang tidak sesuai dengan subjek ataupun
biaya
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Merancang sebuah bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan kamampuan subjek
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 11 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan Asistensi tugas UAS
Perasaan yang dirasakan Memahami bahwa kebutuhan subjek merupakan poin yang paling penting dalam desain
inklusi
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Aplikasi desain inklusi seringkali terhambat kemampuan finansial subjek
236
Universitas Kristen Petra
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Membuat alternatif desain yang sesuai bagi subjek
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan UAS
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati kepada penyandang defable
Apakah yang saya pahami yang
antara materi teori dan kenyataan
di lapangan
Desain yang memenuhi prinsip inklusi tidak semerta-merta diterima oleh subjek, melainkan
ada pula faktor-faktor lain yang harus diperhatikan
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas dampingan
Menciptakan desain yang sesuai kebutuhan kemampuan subjek

Veronica Yuwono, 22411066
Nama Veronica Yuwono
NRP 22411066
Email Mahasiswa veveronica.yu@yahoo.com
Mata Kuliah KKP-C Desain Inklusi
Dosen Pengampu Gunawan,S.T, M.Sc
Kuliah/ Pertemuan ke 1
Tanggal 19 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan PENGANTAR DESAIN IINKLUSI
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Teori tidak sama dengan prakteknya, untuk dapat mendesain sesuatu yang berbeda dari
biasanya dengan baik harus dipraktekkan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Lebih peka dalam mendesain dan mencoba merasakan kebutuhan komunitas dampingan.
Kuliah/ Pertemuan ke 2
Tanggal 26 Februari 2014
Materi teori yang didapatkan KULIAH PAK TUTUS TENTANG DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ketika seseorang mengalami kekurangan dalam suatu bagian tubuhnya, indera lain akan
berusaha beradaptasi. Untuk beradaptasi Pak Tutus sebagai penyandang tuna netra
mempunyai beberapa teori.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memikirkan jalan keluar lain yang dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kemampuan
bertahan hidup melalui anggota tubuh lain.
Kuliah/ Pertemuan ke 3
Tanggal 15 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan SIMULASI DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Memahami bagaimana perasaan yang dirasakan penyandang disabilitas.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ketika mencoba simulasi saya dapat benar-benar merasakan kesusahan yang dialami
penderita disabilitas.
Pada kenyataannya mendesain tidak bisa hanya sekedar menggunakan teori namun lebih
bermanfaat apabila diimbangi dengan simulasi.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Studi gerak seperti yang dirasakan oleh komunitas dampingan dalam hal kebutuhan desain.
Kuliah/ Pertemuan ke 4
Tanggal 18 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan EKSPLORASI KELOMPOK LITERATUR
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Banyak kebutuhan tambahan yang seharusnya dipenuhi dalam mendesain untuk
penyandang disabilitas.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
Mendesainkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.
237
Universitas Kristen Petra
dampingan
Kuliah/ Pertemuan ke 5
Tanggal 26 Maret 2014
Materi teori yang didapatkan WAWANCARA DEGAN ORANG SENIOR (PAK HARIYONO PEMBUAT CETOK)
Perasaan yang dirasakan Tertarik karena dapat secara langsung melihat keadaan dan kebutuhan komunitas
dampingan.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Keadaan komunitas dampingan belum sesuai dengan kebutuhannya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Membayangkan apa saja kebutuhan komunitas dampingan, berusaha melengkapi desain
yang akan dibuat dengan kebutuhan-kebutuhan yang belum ada.
Kuliah/ Pertemuan ke 6
Tanggal 2 April 2014
Materi teori yang didapatkan ASISTENSI HASUL WAWANCARA
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Banyak hal yang masih perlu diperbaiki pada rumah Pak Hariyono.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesainkan dengan menambahkan kebutuhan yang diperlukan namun sesuai dengan
kemampuan Pak Hariyono.
Kuliah/ Pertemuan ke 7
Tanggal 9 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS
Perasaan yang dirasakan -
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
-
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 8
Tanggal 16 April 2014
Materi teori yang didapatkan UTS KKP-C DESAIN INKLUSI-PEMBUATAN TINJAUAN PUSTAKA
Perasaan yang dirasakan Senang karena mendapat teori baru.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Dari tinjauan pustaka yang saya dapatkan, saya mendapat bahwa ternyata banyak material
alam lain yang dapat dimanfaatkan dengan optimal dan rendah biaya.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 9
Tanggal 23 April 2014
Materi teori yang didapatkan WORKSHOP UNDK
Perasaan yang dirasakan Lebih berempati
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Mengetahui toileting culture untuk lebih mengetahui dan melestarikan kebudayaan yang
ada.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
-
Kuliah/ Pertemuan ke 10
Tanggal 30 April 2014
Materi teori yang didapatkan PERSIAPAN WORKSHOP DESAIN
Perasaan yang dirasakan Mempersiapkan dengan baik.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kebutuhan Pak Hariyono belum terpenuhi.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Membuatkan alternatif desain sesuai kebutuhan dan kemampuan Pak Hariyono.
Kuliah/ Pertemuan ke 11
Tanggal 7 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan WORKSHOP DESAIN
238
Universitas Kristen Petra
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Kebiasaan Pak Hariyono dengan desain yang sudah ada menimbulkan rasa nyaman yang
sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberi gambaran dan saran berupa alternatif desain kepada Pak Hariyono bagaimana
desain yang baik.
Kuliah/ Pertemuan ke 12
Tanggal 15 Mei 2014
Materi teori yang didapatkan PENJELASAN 7 PRINSIP DESAIN INKLUSI
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Bahwa terdapat beberapa prinsip desain inklusi yang dapat menjadi tolok ukur suatu
desain inklusi yang baik.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Memberi desain sesuai kebutuhan dan sesuai dengan prinsip desain inklusi.
Kuliah/ Pertemuan ke 13
Tanggal 11 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan ASISTENSI TUGAS UAS
Perasaan yang dirasakan Tertarik
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ada banyak kebutuhan dan prinsip bahkan dalam hal terkecil dalam desain yang harus
dipenuhi untuk mencapai desain yang baik.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain dengan lebih detail dan menerapkan prinsip desain inklusi dalam desain.
Kuliah/ Pertemuan ke 14
Tanggal 18 Juni 2014
Materi teori yang didapatkan UAS KKP-C DESAIN INKLUSI : DESAIN RUMAH TINGGAL DENGAN
PENGGUNA SENIOR (PENGUMPULAN TUGAS)
Perasaan yang dirasakan Senang karena dapat membantu mendesainkan pengguna khusus.
Apakah yang saya pahami
yang antara materi teori dan
kenyataan di lapangan
Ada banyak kebutuhan dan prinsip bahkan dalam hal terkecil dalam desain yang harus
dipenuhi untuk mencapai desain yang baik.
Kontribusi yang diberikan
terhadap komunitas
dampingan
Mendesain dengan lebih detail dan menerapkan prinsip desain inklusi dalam desain.


Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.