Anda di halaman 1dari 18

Epidemiologi

DM menduduki peringkat keenam (4,6%) penyebab kematian di kelompok


masyarakat berumur 15-44 tahun di perkotaan. DM juga menduduki peringkat kedua
(14,7%) penyebab kematian pada kelompok masyarakat berumur 45-54 tahun di daerah
perkotaan dan peringkat keenam (5,8%) di daerah pedesaan. Berdasarkan diagnosis atau
gejala, DKI Jakarta dan Aceh memiliki prevalensi DM tertinggi di Indonesia (2,6% dan
1,7%). Sementara itu, Lampung serta Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Maluku memiliki
prevalensi DM terendah (0,4% dan 0,5%). Berdasarkan morbiditas pasien rawat inap DM
di Indonesia tahun 2009, kasus DM tertinggi pada kelompok pasien berumur 45-65 tahun,
kemudian diikuti dengan kelompok pasien berumur di atas 65 tahun, dan pasien berumur
25-44 tahun. Mortalitas DM di rumahsakit menunjukkan 74,3% pasien meninggal
disebabkan oleh DM tipe 2 dan 25,7% oleh DM tipe 1.
4


Patog/patof


Diagnosis
Kriteria diagnosis:

1. A1C 6,5%. Uji A1C ini harus dilakukan di laboratorium yang telah disertifikasi
oleh NGSP dan berstandarisasi DCCT assay. Atau:
2. Kadar gula darah puasa 126 mg/dL (7 mmol/L). Puasa berarti tidak mengonsumsi
kalori selama kurang lebih 8 jam sebelumnya. Atau:
3. Kadar gula darah 2 jam 200 mg/dL (11,1 mmol/L) pada proses Tes Toleransi
Glukosa Oral (TTGO). TTGO dilakukan sesuai dengan standar WHO. Pertama-
tama lakukan sesuai prosedur menguji kadar gula darah puasa. Setelah mendapat
hasil kadar gula darah puasa, pasien harus meminum 75 gram glukosa yang telah
dilarutkan pada air. Kemudian pasien harus berpuasa kembali dan setelah 2 jam,
pasien diperiksa kadar gula darahnya kembali. Atau:
4. Pasien yang mengalami gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia
dengan kadar gula darah sewaktu 200 mg/dL (11,1 mmol/L).
Semua uji harus diulang apabila tidak terdapat gejala hiperglikemia yang jelas.
12

Diabetes kehamilan juga dapat didiagnosis berdasarkan nilai glukosa plasma yang
diukur selama TTGO, caranya adalah pasien harus mendapat gizi cukup (karbohidrat
150 gram perhari) dan melakukan aktivitas fisik seperti biasanya, tanpa pantangan selama
minimal 3 hari. Setelah itu, pasien harus berpuasa selama 8-14 jam. Pasien harus berdiam
diri dan tidak merokok selama tes. Kemudian pasien diberikan minuman menggunakan
75 gram atau 100 gram glukosa dalam cairan untuk ujian. Kadar glukosa darah diperiksa
empat kali selama tes (apabila menggunakan 100 gram glukosa) atau tiga kali (apabila
menggunakan 75 gram glukosa). Minimal 2 kriteria harus positif.
13

Tabel 1. Hasil TTGO diabetes kehamilan
(13)

100 gram glukosa 75 gram glukosa
Pada puasa 95 mg/dL 95 mg/dL
Pada 1 jam 180 mg/dL 180 mg/dL
Pada 2 jam 155 mg/dL 155 mg/dL
Pada 3 jam 140 mg/dL .



Komplikasi
DM tipe 2 dapat mengarah kepada komplikasi mikrovaskuler dan makrovaskuler.
Komplikasi mikrovaskuler meliputi mata, ginjal, dan sistem saraf. Pada mata, biasanya
terjadi retinopati mengenai makula (makulopati) dan dapat terjadi hilangnya penglihatan.
Pada ginjal, biasanya terjadi nefropati dan mikroalbuminaria (ekskresi albumin di urin
lebih banyak daripada normal dan tidak dapat terdeteksi dengan reagen urin biasa)
menjadi gejala awal pada diabetes nefropati. Diabetes nefropati dapat mengarah pada
gagal ginjal stadium akhir yang dengan itu membutuhkan transplantasi ginjal. Pada
sistem saraf dapat terjadi neuropati dan sekuelnya seperti ulkus kaki dan perlu
diamputasi. Komplikasi makrovaskuler seperti infark miokardial, struk, dan kelainan
vaskuler perifer. DM dapat membuat terajdinya infark miokardial dan struk 2-4 kali lipat
pada pria, dan sampai dengan 10 kali lipat pada wanita premenopause. Enam puluh
sampai dengan tujuh puluh lima persen kematian pada pasien DM tipe 2 disebabkan oleh
penyakit kardiovaskuler.
21


Tatalaksana.

Tujuan utama dalam pengelolaan DM tipe 2 adalah untuk mencapai dan mempertahankan
kadar gula darah, lipid, dan tekanan darah yang optimal, guna mencegah atau
memperlambat terjadinya komplikasi kronis. Banyak pasien DM tipe 2 mencapai kadar
gula darah optimal dengan melakukan modifikasi diet dan olahraga, menurunkan berat
badan, menjalankan kebiasaan yang baik, dan meminum obat anti diabetes atau insulin.
Diet dan olahraga merupakan pilar utama dalam terapi DM tipe 2, namun ketika
intervensi farmakologis sudah diberikan, perubahan gaya hidup harus lebih
diperhatikan.
14

Modifikasi diet: Makanan yang mengandung lemak tinggi dapat menyebabkan
penurunan toleransi glukosa oleh beberapa mekanisme termasuk penurunan ikatan insulin
dengan reseptornya, transportasi glukosa yang terganggu, penurunan jumlah glikogen
sintase dan akumulasi dari trigliserida yang disimpan di otot skeletal. Asam lemak yang
terdapat dalam makanan akan mempengaruhi jaringan fosfolipid sehingga mengubah
fluiditas membran dan sinyal insulin.
15

Prinsip utama dalam melakukan aktivitas fisik sebagai salah satu penanganan DM tipe 2
adalah mengurangi aktivitas pasif seperti menonton televisi dan menggunakan komputer,
dan meningkatkan penggunaan energi dalam kegiatan sehari-hari seperti menggunakan
tangga daripada elevator dan memarkir kendaraan di tempat yang lebih jauh.
18


Aktivitas fisik: Aktivitas fisik yang direkomendasikan adalah olahraga aerobik
minimal 150 menit perminggu dengan intensitas sedang.
19
Olahraga aerobik yang
dimaksud contohnya seperti berjalan, bersepeda, berenang, menari, atau jogging.
17
Pada
pasien yang kurang fit, intensitas dapat diatur hingga 50-60% dari denyut jantung
maksimal atau yang dapat meningkatkan denyut jantung saat istirahat sebesar 20 kali per
menit.
2
Aktivitas tersebut harus dilakukan minimal 3 hari per minggu dengan jarak antara
2 olahraga minimal 2 hari karena efek dari sekali olahraga, sensitivitas insulin
berlangsung selama 24-72 jam tergantung durasi dan intensitas olahraganya.
19
Lima
sampai 10 menit pertama dimulai dengan pemanasan dan harus selalu ditutup dengan
pendinginan.
2
Melakukan olahraga berat secara berlebihan 4 jam per minggu akan
meningkatkan resiko terkena penyakit kardiovaskuler. Apabila tidak ada kontraidikasi,
pasien dapat melakukan aktivitas resisten dengan tujuan semua kelompok otot 3 kali per
minggu. Pada olahraga resisten, sensitivitas insulin berlangsung lebih lama daripada
olahraga aerobik, mungkin karena efeknya dimediasi dengan peningkatan massa otot.
Untuk memaksimalkan manfaat dari aktivitas ini dan mengurangi resiko cedera, perlu
dilakukan pengawasan awal oleh para ahli.
19

Sebelum melakukan olahraga, sebaiknya pasien memeriksa kadar gula darahnya.
20

Bagi pasien DM tipe 2 yang terapi farmakologisnya terdiri dari insulin atau secretagogue,
harus memeriksakan kadar gula darah kapiler sebelum, setelah, dan beberapa jam setelah
melakukan aktivitas fisik agar mngetahui kadar gula darah biasa mereka saat melakukan
olahrafa tertentu. Apabila terdapat kemungkinan untuk terjadi hipoglikemia, beberapa
strategi dapat dilakukan seperti menurunkan dosis insulin atau sekretagog sebelum
olahraga atau dapat meningkatkan asupan karbohidrat sebelum atau selama olahraga.
Kedua strategi ini dapat dipilih salah satu atau dapat dilakukan keduanya secara
bersamaan.
19

Pasien harus diedukasikan untuk memulai dari durasi yang sebentar namun secara
berkala ditingkatkan intensitas dan durasinya selama 15 hari sampai dengan 1 bulan.
Tidak lupa untuk memperhatikan dari segi pemakaian sepatu yang nyaman dan sesuai
dengan ukuran dan membawa makanan kaya karbohidrat selama olahraga. Pasien dengan
masalah pada lutut atau yang sudah berkomplikasi pada kaki diabetes disarankan
melakukan olahraga yang tidak menggunakan kaki.
17




DM 1
Pancreas transplantation may eventually be considered for patients who cannot control
glucose levels without frequent episodes of severe hypoglycemia.

In-Depth Report #42: Diabetes diet

Insulin cannot be taken orally because the body's digestive juices destroy it.
Fast-Acting Insulin. Insulin lispro (Humalog) and insulin aspart (Novo Rapid, Novolog)
lower blood sugar very quickly, usually within 5 minutes after injection. Insulin peaks in
about 4 hours and continues to work for about 4 more hours. This rapid action reduces
the risk for hypoglycemic events after eating (postprandial hypoglycemia). Optimal
timing for administering this insulin is about 15 minutes before a meal, but it can also be
taken immediately after a meal (but within 30 minutes). Fast-acting insulins may be
especially useful for meals with high carbohydrates.
Regular Insulin. Regular insulin begins to act 30 minutes after injection, reaches its peak
at 2 - 4 hours, and lasts about 6 hours. Regular insulin may be administered before a meal
and may be better for high-fat meals.
Intermediate Insulin. NPH (Neutral Protamine Hagedorn) insulin has been the standard
intermediate form. It works within 2 - 4 hours, peaks 4 - 12 hours later, and lasts up to 18
hours. Lente (insulin zinc) is another intermediate insulin that peaks 4 - 12 hours and lasts
up to 18 hours.
Long-Acting (Ultralente) Insulin. Long-acting insulins, such as insulin glargine (Lantus),
are released slowly. Long-acting insulin peaks at 10 hours and lasts up to 20 hours.
Researchers are studying new types of long-acting insulins including one called degludec
that requires injections only three times a week.
Combinations. Regimens generally include combinations of short and longer-acting
insulins to help match the natural cycle. For example, one approach in patients who are
intensively controlling their glucose levels uses 3 injections of insulin, which includes a
mixture of regular insulin and NPH at dinner. Another approach uses 4 injections,
including a separate short-acting form at dinner and NPH at bedtime, which may pose a
lower risk for nighttime hypoglycemia than the 3-injection regimen.
Insulin Pens. Insulin pens, which contain cartridges of insulin, have been available for
some time. Until recently, they were fairly complicated and difficult to use. Newer,
prefilled pens (Humulin Pen, Humalog) are disposable and allow the patient to dial in the
correct amount.
Insulin Pumps
An insulin pump can improve blood glucose control and quality of life with fewer
hypoglycemic episodes than multiple injections. The pumps correct for the dawn
phenomenon (sudden rise of blood glucose in the morning) and allow quick reductions
for specific situations, such as exercise. Many different brands are available.
The typical pump is about the size of a beeper and has a digital display. Some are worn
externally and are programmed to deliver insulin through a catheter in the skin or the
abdomen. They generally use rapid-acting insulin, the most predictable type. They work
by administering a small amount of insulin continuously (the basal rate) and a higher
dose (a bolus dose) when food is eaten.
Although learning to use the pump can be complicated at first, most patients find over
time that the devices are fairly easy to use. Adults, adolescents, and school children use
insulin pumps and even very young children (ages 2 - 7 years) may be able to
successfully use them.
The catheter at the end of the insulin pump is inserted through a needle into the
abdominal fat of a person with diabetes. Dosage instructions are entered into the pump's
small computer, and the appropriate amount of insulin is then injected into the body in a
calculated, controlled manner.
To achieve good blood sugar control, patients and parents of children must undergo some
training. The patient and doctor must determine the amount of insulin used -- it is not
automatically calculated. This requires an initial learning period, including understanding
insulin needs over the course of the day and in different situations and knowledge of
carbohydrate counting. Frequent blood testing is very important, particularly during the
training period.
Insulin pumps are more expensive than insulin shots and occasionally have some
complications, such as blockage in the device or skin irritation at the infusion site. In
spite of early reports of a higher risk for ketoacidosis with pumps, more recent studies
have found no higher risk.
Supplementary Drugs for Hyperglycemia
Pramlintide (Symlin) is an injectable drug that is used to help control postprandial
hyperglycemia, the sudden increase in blood sugar after a meal. Pramlintide is injected
before meals and can help lower blood sugar levels in the 3 hours after meals.
Pramlintide is used in addition to insulin for patients who take insulin regularly but still
need better blood sugar control. Pramlintide and insulin are the only two drugs approved
for treatment of type 1 diabetes.
Pramlintide is a synthetic form of amylin, a hormone that is related to insulin. Side
effects may include nausea, vomiting, abdominal pain, headache, fatigue, and dizziness.
Patients with type 1 diabetes have an increased risk of severe low blood sugar
(hypoglycemia) that may occur within 3 hours following a pramlintide injection. This
drug should not be used if patients have trouble knowing when their blood sugar is low or
have slow stomach emptying (gastroparesis).
Adult patients should aim for LDL levels below 100 mg/dL, HDL levels over 50 mg/dL,
and triglyceride levels below 150 mg/dL. Patients with diabetes and existing heart disease
should strive for even lower LDL levels; the American Diabetes Association
recommends LDL levels below 70 mg/dL for these patients.
Children should be treated for LDL cholesterol above 160 mg/dL, or above 130 mg/dL if
they have other cardiovascular risk factors.
For medications, statins are the best cholesterol-lowering drugs. They include atorvastatin
(Lipitor), lovastatin (Mevacor and generics), pravastatin (Pravachol), simvastatin (Zocor
and generics), fluvastatin (Lescol), rosuvastatin (Crestor), and pitavastatin (Livalo).
These drugs are very effective for lowering LDL cholesterol levels.
The primary safety concern with statins has involved myopathy, an uncommon condition
that can cause muscle damage and, in some cases, muscle and joint pain. A specific
myopathy called rhabdomyolysis can lead to kidney failure. People with diabetes and risk
factors for myopathy should be monitored for muscle symptoms.
Although lowering LDL cholesterol is beneficial, statins are not as effective as other
medications -- such as niacin and fibrates -- in addressing HDL and triglyceride
imbalances. Combining a statin with one of these drugs may be helpful for people with
diabetes who have heart disease, low HDL, and near-normal LDL levels. Although
combinations of statins and fibrates or niacin increase the risk of myopathy, both
combinations are considered safe if used with extra care.
Fibrates, such as gemfibrozil (Lopid) and fenofibrate (Tricor), are usually the second
choice after statins. Niacin has the most favorable effect on raising HDL and lowering
triglycerides of all the cholesterol drugs. However, some patients who take high-dose
niacin can experience increased blood glucose levels. Moderate doses of niacin can
control lipids without causing serious blood glucose problems. [For more information,
see In-Depth Report #23: Cholesterol.]
Aspirin for Heart Disease Prevention. For patients with diabetes who are at increased risk
for heart problems, taking a daily aspirin can reduce the risk for blood clotting and may
help protect against heart attacks. (There is not enough evidence to indicate that aspirin
prevention is helpful for patients at lower risk.) The recommended dose is 75 - 162
mg/day. Aspirin as primary prevention is recommended for men who are older than age
50 or women who are older than age 60 who have at least one additional heart risk factor.
These risk factor include a family history of heart disease, high blood pressure, smoking,
unhealthy cholesterol levels, or excessive urine levels of the protein albumin
(albuminuria). Talk to your doctor, particularly if you are at risk for gastrointestinal
bleeding and ulcers.
Maintain hemoglobin levels between 10 - 12 g/dL.
Receive frequent blood tests to monitor hemoglobin levels.
Contact their doctors if they experience such symptoms as shortness of breath, pain,
swelling in the legs, or increases in blood pressure.
Treatment of Diabetes During Pregnancy
Some recommendations for preventing pregnancy complications include:
Intensive blood sugar control during pregnancy can reduce the risk for health
complications for both mothers and babies. Doctors recommend that pregnant
women with pre-existing diabetes monitor their blood sugar levels up to 8 times
daily. This includes checking your blood glucose before each meal, 1 - 2 hours
after a meal, at bedtime, and possibly during the night.
Insulin needs increase during the pregnancy, especially during the last 3 months. Your
doctor may recommend increasing your insulin dosage during this time.
Consult a registered dietician to help adjust your food plan during pregnancy.
Low-impact aerobic exercise during pregnancy can lower glucose levels. (All pregnant
women, particularly those with diabetes, should check with their doctors before
embarking on a rigorous exercise regimen. This is especially important for
women with eye, kidney, or high blood pressure or other heart problems.)
To prevent birth defects that affect the heart and nervous system, women with diabetes
should take a higher dose of folic acid from the time of conception up to week 12
of pregnancy. They should also be checked for any heart problems.
Women with diabetes should have an eye examination during pregnancy and up to a year
afterward.
Preventing Hypoglycemia
The following tips may help avoid hypoglycemia or prepare for attacks.
Bedtime snacks are advisable if blood glucose levels are below 180 mg/dL (10
mmol/L). Protein snacks may be best.
Some research has suggested that children (particularly thin children) are at higher risk
for hypoglycemia because the injection goes into muscle tissue. Pinching the skin
so that only fat (and not muscle) tissue is gathered or using shorter needles may
help.
Various insulin regimens are available that can reduce the risk. For example, taking a
fast-acting insulin (insulin lispro) before the evening meal may be particularly
helpful in preventing hypoglycemia at bedtime or during the night.
Patients who intensively control their blood sugar should monitor blood levels as often
as possible, four times or more per day. This is particularly important for patients
with hypoglycemia unawareness.
In adults, it is particularly critical to monitor blood glucose levels before driving, when
hypoglycemia can be very hazardous.
Patients who are at risk for hypoglycemia should always carry hard candy, juice, sugar
packets, or commercially available glucose substitutes.
Patients at high risk for severe hypoglycemia, and their family members, should
consider having on hand a glucagon emergency kit. The kit is available by
prescription and contains an injection of glucagon, a hormone that helps to
quickly raise blood glucose levels.
Family and friends should be aware of the symptoms and be prepared:
If the patient is helpless (but not unconscious), family or friends should administer
three to five pieces of hard candy, two to three packets of sugar, half a cup (four
ounces) of fruit juice, or a commercially available glucose solution.
If there is inadequate response within 15 minutes, the patient should receive additional
sugar by mouth and may need emergency medical treatment, possibly including
an intravenous glucose solution.
Family members and friends can learn to inject glucagon (see above).
Patients with type 1 diabetes should always wear a medical alert ID bracelet or necklace
that states that they have diabetes and take insulin.
Foot Care
Measures to Prevent Foot Ulcers. Preventive foot care can significantly reduce the risk of
ulcers and amputation. Some tips for preventing problems include:
Patients should inspect their feet daily and watch for changes in color or texture, odor,
and firm or hardened areas, which may indicate infection and potential ulcers.
When washing the feet, the water should be warm (not hot) and the feet and areas
between the toes should be thoroughly dried afterward. Check water temperature
with the hand or a thermometer before stepping in.
Apply moisturizers, but NOT between the toes.
Gently use pumice to remove corns and calluses (patients should not use medicated
pads or try to shave the corns or calluses themselves).
Trim toenails short and file the edges to avoid cutting adjacent toes.
Well-fitting footwear is very important. People should be sure the shoe is wide enough.
Patients should also avoid high heels, sandals, thongs, and going barefoot. Shoes
with a rocker sole reduce pressure under the heel and front of the foot and may be
particularly helpful. Custom-molded boots increase the surface area over which
foot pressure is distributed. This reduces stress on the ulcers and allows them to
heal.
Change shoes often during the day.
Wear socks, particularly with extra padding (which can be specially purchased).
Patients should avoid tight stockings or any clothing that constricts the legs and feet.
Consult a specialist in foot care for any problems.


Glucose Goals for Patients with Diabetes
Normal Goal
Blood glucose levels
before meals
Less than
100 mg/dL
70 - 130 mg/dL for adults
100 - 180 mg/dL for
children under age 6
90 - 180 mg/dL for children
6 - 12 years old
90 - 130 mg/dL for children
13 - 19 years old
Bedtime blood glucose
levels
Less than
120 mg/dL
Less than 180 mg/dL for
adults
110 - 200 mg/dL for
children under age 6
100 - 186 mg/dL for
children 6 - 12 years old
90 - 150 mg/dL for children
13 - 19 years old
Glycosylated
hemoglobin (A1C)
levels
Less than
5.7%
Less than or around 7%
Major source: Standards of Medical Care In Diabetes -- 2011,
American Diabetes Association.

Prognosis & dasar

IMT
1. Di bawah normal (< 18,5)
2. Normal (18,5 22,9)

3. Di atas normal ( 23)
4. Obesitas ( 25)

Anatomi
PANKREAS

Anatomi : Pankreas adalah organ pipih yang terletak dibelakang dan sedikit di
bawah
lambung dalam abdomen. Terdiri dari 3 bagian: Kepala, Badan, Ekor.
Pankreas terdiri dari 2 jenis jaringan utama, yaitu:
1. Asini untuk sekresi getah pencernaan kedalam duodenum
2. Pulau langerhans untuk sekresikan hormon (insulin dan
glukagon)
Fungsi : - Eksokrin Enzim-enzim pencernaan (Lipase, amilase)
-Endokrin hormon-hormon, yang terpenting insulin dan glukagon
(diperlukan untuk mengatur metabolisme glukosa, lipid, dan protein
secara normal)

#Catatan: pankreas mempunyai 1-2 juta pulau langerhans dengan diameter 0,3mm
dan tersusun mengelilingi pembuluh kapiler kecil (tempat penampungan hormon
yang disekresikan).

Pulau Langerhans : mengandung 3 jenis sel utama, yaitu:
1. Sel Alfa 15-25%
Penghasil Glukagon
2. Sel Beta 60-70%
Penghasil Insulin dan amilin (fungsi belum jelas)
3. Sel Delta +- 10%
Penghasil Somatostatin
Tambahan 4. Sel PP jumlah nya sedikit di pankreas
Penghasil hormon polipeptida pankreas yang masih diragukan
fungsinya





Insulin
PrinsipMenurunkan kadar gula darah
Glukagon
Prinsip menaikan kadar gula darah
1. Meningkatkan:
- Glikolisis E-M (Pemecahan glukosa)
- Glikogenesis (Pembententukan
glikogen)
- HMP SHUNT
- SAS
- Pemasukan glukosa ke jaringan

1. Menaikan Glukogenolisis

2. Menurunkan:
- Glikogenolisis (Pemecahan glikogen
menjadi glukosa)
- Glukoneogenesis (Pembentukan glukosa
dari bahan selain karbohidrat)
2.Menaikan glukoneogenesis
-Lipolisis/FFA darah
-Ketogenesis
-Sintesis Protein
-Katabolisme protein/asam amino darah
3.menaikan lipolisis

Sumber: diktat EMG halaman 63 dan 178-179 dan buku faal Guyton halaman 1010



HBP
dyslipidemia
Lab gula kolesterol

jenis2 dm
DM tipe 1
Sebelumnya dikenal sebagai Insulin-dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau
Juvenile-onset Diabetes Mellitus, biasanya disebabkan oleh autoimun yang membuat
kerusakan sel pankreas sehingga pankreas tidak dapat mensinstesis dan mensekresi
insulin.
8
Pemberian insulin merupakan hal penting untuk pasien DM tipe 1. Apabila
pasien tidak mendapat insulin, akan terjadi hiperglikemia berat dan ketoasidosis. Apabila
kedua hal tersebut tidak ditangano, pasien akan koma dan dapat cepat mengarah kepada
kematian. Sama seperti kelainan autoimun lainnya, DM tipe 1 memiliki faktor
predisposisi genetik yang kuat.
9

2.1.2.2 DM tipe 2
Sebelumnya dikenal sebagai non-IDDM atau Adult-onset DM, disebabkan oleh
adanya kombinasi antara resistensi insulin dan sekresi insulin yang tidak sesuai. DM tipe
2 merupakan kategori DM yang paling sering terjadi.
8
Pada fase prediabetik, pankreas
masih bisa mensekresi insulin lebih banyak untuk sebisa mungkin mempertahankan
normoglikemia dan kadar lemak mengatasi resistensi insulin. Tetapi ketika sel gagal
dalam mempertahankannya, kadar asam lemak meningkat secara menetap sehingga dapat
terjadi DM tipe 2.
9

2.1.2.3 DM gestasional (GDM)
GDM didiagnosis biasanya saat kehamilan pada wanita yang sebelumnya belum
pernah memiliki DM. GDM lebih menyerupai DM tipe 2 dibandingkan DM tipe 1.
Walaupun GDM biasanya hilang setelah janin lahir, sangatlah penting untuk melakukan
intervensi agar janin tidak mengalami kelainan dan juga perlu diingat bahwa wanita yang
mengalami GDM mempunyai potensi lebih tinggi untuk menderita DM tipe 2 di
kemudian hari.
9

2.1.2.4 DM tipe lain
DM tipe lain biasanya disebabkan oleh adanya kelainan genetik pada fungsi sel ,
kelainan genetik pada kerja insulin, kelainan pada eksokrin pankreas, endokrinopati,
obat-obatan atau zat kimia, infeksi, atau penyebab lainnya. DM tipe lain jarang terjadi.
8

patof 3p
PolifagiPada penderita diabetes, insulinnya bermasalah dan pemasukan gula ke dalam
sel-sel tubuh berkurang sehingga energi yang dibentuk pun berkurang. Inilah sebabnya
orang menjadi merasa kurang tenaga. Demikian pula otak yang juga berpikir bahwa
kurang energi itu karena kurang asupan makanan, maka tubuh berusaha meningkatkan
asupan makanan dengan menimbulkan rasa lapar. Jadi, timbullah perasaan selalu ingin
makan, banyak, dan makanan yang dikonsumsi cenderung makanan yang lezat dan
mengandung banyak gula serta karbohidrat
PoliuriaBila kadar gula darah meleihi nilai ambang ginjal ( >180 mg/dl), gula akan
keluar bersama urine. Untuk menjaga agar urine yang keluar tidak terlalu pekat, tubuh
akan menarik air sebanyak mungkin ke dalam urin sehingga volume urine yang keluar
banyak dan kencing pun menjadi sering
Atau
Glukosa menarik air intrasel (sifatnya hidrofilik) sehingga jika banyak glukosa dalam
tubuh maka akan banyak air yang dikeluarkan.Karena glukosa yang terdapat dlm darah
meningkat, sedangkan di ginjalmempunyai batas ambang 180 mg/dL, jika glukosa lebih
dari 180 maka akan di keluarkan lewat urine. (glukosuria)
PolidipsiAkibat banyak cairan yang dikeluarkan intra sel maka terjadi dehidrasiintara
sel, sehingga akan merasa haus. Pada defisiensi insulin, akan terjadi hiperglikemia karena
pengaruhinsulin pada metabolisme glukosa tidak ada. Penimbunan glukosa di ekstrasel
menyebabkan hiperosmolaritas. Transpor maksimal glukosa akan meningkat di ginjal sehingga glukosa
diekskresikan kedalam urin. Hal ini menyebabkan diuresis osmotik yang disertai kehilangan
air(poliuria), Na+ dan K+ dari ginjal, dehidrasi, dan kehausan.
Penurunan berat badanKarena tidak dapat membuat glikogen maka tubuh melakukan
katabolismeprotein dan lemak, katabolisme itu menimbulkan keseimbangan
energynegative sehingga, terjadi penurunan berat badan yang sebaliknya
membuatpeningkatan nafsu makan.Krena terjadi poliuri maka banyak kalori yang turun
sehingga berat badanturun dan nafsu makan meningkat
Luka sulit sembuhKarena terjadi luka maka terdapat bakteri. Bakteri sifatnya
glukofilik. Jadi,bakteri akan menetap di daerah yang luka selama glukosa masih tinggi.

pencegahan
menjaga pola makan, olahraga, hindari aktivitas pasif seperti menonton tv, tidak merokok