Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Cedera kepala menyumbangkan 50% kematian pada kasus-kasus trauma.
Prognosis dari cedera kepala tergantung dari derajat kerusakan otak primer dan
systemic insults yang menyebabkan kerusakan otak sekunder (proses
biomolekular). Cedera otak primer adalah kerusakan fisik yang terjadi pada
parenkim otak sesaat setelah trauma menyebabkan regangan dan kompresi.
Cedera otak sekunder adalah hasil suatu proses kompleks yang merupakan
penyerta dan komplikasi cedera otak primer yang dapat terjadi dalam hitungan
jam dan hari setelah cedera kepala.
!
"pidural #ematom ("$#) merupakan akumulasi darah di ruang epidural
(antara tabula interna dan duramater) yang dapat terjadi di intrakranial ataupun di
medula spinalis (%"$#). "$# terjadi pada lebih kurang &% dari pasien dengan
cedera kepala dan 5-!5% "$# terjadi pada cedera kepala berat. "$# merupakan
komplikasi serius dari cedera kepala yang memerlukan diagnosis dan inter'ensi
bedah yang segera. (erdasarkan progresifitasnya "$# terbagi menjadi akut
(5)%) subakut (*!%) dan kronik (!!%).
&
+ujuan penanganan dari cedera kepala baik dari sisi anastesi maupun
bedah adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder. $erajat keparahan
cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan glasgow coma scale (,C%). $ari
gambaran C+-%can adanya midline shifting - 5 mm kompresi 'entrikel
merupakan indikator peningkatan angka morbiditas.
!
1.2. Rumusan Masalah
.aporan kasus ini bertujuan membahas aspek definisi patosiologi klinis
dan penanganan yang dipandang dari sudut anastesi. $alam laporan kasus ini
berfokus pada konsep anastesi pada cedera kepala.
2
1.3. Tujuan Penulisan
!. /emahami definisi patosiologi klinis dan penanganan yang dipandang dari
sudut anastesi pada kasus trauma kepala.
&. /eningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran.
*. /emenuhi salah satu persyaratan kelulusan 0epaniteraan 0linik %enior
(00%) di $epartemen 1nastesi dan +erapi 2ntensif 3akultas 0edokteran
4ni'ersitas %umatera 4tara 5%4P #aji 1dam /alik /edan.
3
BAB 3
TN!AUAN PU"TA#A
3.1. Epidural Hematoma
3.1.1. De$inisi
Epidural Hematoma ("$#) merupakan akumulasi darah yang potensial di
ruangan epidural (antara tabula interna dan duramater) yang dapat terjadi di
intrakranial atau di medula spinalis (%"$#). "$# terjadi lebih kurang &% dari
pasien dengan cedera kepala dan 5-!5% "$# terjadi pada cedera kepala berat.
"$# merupakan komplikasi serius dari cedera kepala yang memerlukan diagnosis
dan inter'ensi bedah yang segera. (erdasarkan progresifitas "$# terbagi menjadi
akut (5)%) subakut (*!%) dan kronik (!!%).
&
*.1.2. Pat%$isi%l%gi
0omposisi dari intracranial adalah pembuluh darah otak dan cairan
serebro-spinal (C%%). /enurut hukum /onro-0ellie yang menyatakan bah6a
'olume intracranial harus selalu konstan hal ini jelas karena rongga cranium pada
dasarnya merupakan rongga yang rigid. %egera setelah trauma massa seperti
gumpalan darah akan terus bertambah didalam intracranial sementara +20 harus
dipertahankan agar tidak meningkat dengan cara mengalirkan C%% dan
menurunkan 'olume 'ena (fase kompensasi). 1pabila massa yang berupa
gumpalan darah tersebut terus bertambah sampai pada aliran C%% dan penurunan
'olume mencapai titik tidak terkompensasi makan akan terjadi peningkatan +20
secara cepat.
*
1liran darah ke otak (1$7) pada orang de6asa antara 50 8 55 m. per !00
gr jaringan otak per menit. Pada cedera otak berat dapat menurunkan 50% dari
1$7 dalam 9-!& jam pertama sejak trauma. 1$7 yang rendah tidak dapat
mencukupi kebutuhan metabolism otak segera trauma sehingga akan
mengakibatkan iskemi otak fokal ataupun menyeluruh. 4ntuk mempertahankan
1$7 tetap konstan pembuluh darah perkapiler memiliki kemampuan untuk
berkonstriksi ataupun dilatasi terhadap rangsang tekan pembuluh darah ini juga
dapat berkonstriksi ataupun dilatasi terhadap perubahan kadar P7
&
atau PC7
&
(autoregulasi kimia6i).
*
4
Peneurunan 1$7 karena trauma akan mengakibatkan iskemi dan infark
otak. 2skemi yang terjadi dapat dengan mudah diperberat dengan adanya
hipotensi hipoksia atau hipokapnia karena hiper'entilasi. 7leh karena itu semua
tindakan ditujukan untuk meningkatkan aliran darah dan perfusi otak dengan cara
menurunkan +20 mempertahankan 'olume intra'askuler mempertahankan /1P
dan mengembalikan oksigenasi dan normakapnia.
*
3.1.3. Diagn%sis
&
3.1.3.1. #linis
5
a. 1danya ri6ayat trauma kepala yang mengakibatkan kehilangan kesadaran
b. 1danya lucid inter'al
c. Perdarahan epidural ada fossa posterior dapat mengakibatkan kematian
dalam hitungan menit
Perubahan klinis pada epidural hematom akibat cedera kepala berat dapat berupa:
a. ;yeri kepala penurunan ,C%
b. /untah proyektil
c. 0ejang
d. (radikardi dengan atau tanpa hipertensi menandakan peningkatan +20
e. 1danya fraktur pada cranium hematom atau laserasi.
f. Pupil unisokor
g. #emiparese
3.1.3.2. Pemeriksaan Penunjang
&
a. 3oto <-ray bisa menunjukkan adanya fraktur pada cranium
b. 3oto ser'ical untuk menilai apakah ada fraktur pada bagian ser'ikal
c. C+-%can menunjukkan informasi untuk melihat hematoma dan edema otak
3.1.&. Tatalaksana
!. %ur'ey Primer
a. 1(C$"
b. 2mobilisasi dan stabilisasi ser'ikal
c. /elakukan pemeriksaan neurologis singkat
!). 5espon pupil
&). /enentukan nilai ,C%
6
&. %ur'ey %ekunder dan Penatalaksanaan
a. 2nspeksi keseluruhan kepala termasuk 6ajah
- .aserasi
- 1danya .C% dari lubang hidung dan telinga
b. Palpasi keseluruhan kepala termasuk 6ajah
- 3raktur
- .aserasi dengan fraktur diba6ahnya
c. 2nspeksi semua laserasi kulit kepala
- =aringan otak
- 3raktur depresitulang tengkorak
- $ebris
- 0ebocoran .C%
d. /enentukan nilai ,C% dan respon pupil
- 5espon buka mata
- 5espon motorik terbaik anggota gerak
- 5espon 'erbal
- 5espon pupil
e. Pemeriksaan 'ertebra ser'ikal
- Palpasi untuk mencari adanya rasa nyeri dan pakaikan kolar
ser'ikal semirigid bila perlu
- Pemeriksaaan foto rontgen 'ertebra ser'ikalis proyeksi cross-
table lateral bila perlu
f. Penilaian beratnya cedera
g. Pemeriksaan ulang secara kontinyu-obser'asi tanda-tanda perburukan
- 3rekuensi
- Parameter yang dinilai
- 2ngat pemeriksaan ulang 1(C$"
*. "'aluasi C+ %can 0epala
$iagnosis abnormalitas pada C+ %can dapat sangat samar dan sulit.
0arena kompleksnya penilaian C+ scan maka penilaian a6al singkat oleh
ahli bedah saraf atau radiologi sangatlah penting. +ahap-tahap cara
e'aluasi C+ scan kepala berikut ini bertujuan untuk memudahkan
mengenal kelaian patologi yang mengancam ji6a penderita dalam 6aktu
singkat. #arus diingat pemeriksaan C+ scan kepala tidak boleh menunda
tindakan resusitasi atau rujukan ke pusat trauma.
3.1.&.1. Penatalaksanaan Trauma #e'ala Ringan
7
$efinisi: penderita sadar dan berorientasi (,C% !>-!5)
5i6ayat:
;ama umur jenis kelamin ras pekerjaan
/ekanisme cedera
?aktu cedera
+idak sadar segera setelah cedera
+ingkat ke6aspadaan
1mnesia: retrograde anterograde
%akit kepala: ringan sedang berat
Pemeriksaan umum untuk menyingkirkan cedera sistemik
Pemeriksaan neurologis terbatas
Pemeriksaan rontgen 'ertebra ser'ikal dan lainnya sesuai indikasi
Pemeriksaan kadar alkohol darah dan @at toksik dalam urine
Pemeriksaan C+ %can kepala sangat ideal pada setiap penderita kecuali
bila memang sama sekali asimtomatik dan pemeriksaan neurologis normal
7bser'asi atau dira6at di 5% $ipulangkan dari 5%
C+ scan tidak ada +idak memenuhi kriteria
C+ scan abnormal ra6at
%emua cedera tembus $iskusikan kemungkinan
5i6ayat hilang kesadaran kembali rumah sakit bila
0esadaran menurun memburuk berikan lembar
%akit kepala sedang berat obesr'asi
2ntoksikasi alkoholAobat-obatan =ad6alkan untuk kontrol
0ebocoranlikuor-5hinorea-otorea ulang
Cedera penyerta yang bermakna
+ak ada keluarga dirumah
,Cs B!5
$efisit neurologis fokal
3.1.&.2. Penatalaksanaan Trauma #e'ala "e(ang
8
$efinisi: penderita biasanya tampak kebingungan atau mengantuk namun
masih mampu menuruti perintah
(,C%: C-!*)
Pemeriksaan a6al
%ama dengan untuk cedera kepala ringan ditambah pemeriksaan darah
sederhana
Pemeriksaan C+ scan kepala pada semua kasus
$ira6at untuk obser'asi
%etelah dira6at
Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan C+ scan ulang bila kondisi penderita memburuk atau bila
penderita akan dipulangkan
(ila kondisi membaik (C0%) (ila kondisi memburuk (!0%)
Pulang bila memungkinkan (ila penderita tidak mampu
0ontrol di poliklinik melakukan perintah lagi
%egera lakukan pemeriksaan
C+ scan ulang dan
Penatalaksanaan sesuai
protokol cedera kepala berat
3.1.&.3. Penatalaksanaan A)al Trauma #e'ala Berat
9
$efinisi: penderita tidak mampu melakukan perintah sederhana karena
kesadaran yang menurun (,C% *-))
Pemeriksaan dan penatalaksanaan
1(C$"
Primary %ur'ey dan resusitasi
%econdary %ur'ey dan ri6ayat 1/P."
5a6at pada fasilitas yang mampu melakukan tindakan pera6atan
definitif bedah saraf
5e'aluasi neurologis: ,C%
- 5espon buka mata
- 5espon motorik
- 5espon 'erbal
- 5efleks cahaya pupil
7bat-7batan
- /anitol
- #iper'entilasi sedang (PC7&B*5mm#g)
- 1ntikon'ulsan
+es $iagnostik (sesuai urutan)
C+ scan
Dentrikulografi udara
1ngiogram
3.2. Anestesia pada Trauma Kepala
1
Cedera kepala menyumbangkan 50% kematian pada kasus-kasus trauma.
Prognosis dari cedera kepala tergantung dari derajat kerusakan otak primer dan
systemic insults yang menyebabkan kerusakan otak sekunder (proses
biomolekular). Penanganan secara bedah dan anestesi dilakukan untuk mencegah
terjadinya kerusakan otak sekuder.
+ujuan penanganan dari cedera kepala baik dari sisi anastesi maupun
bedah adalah mencegah terjadinya cedera otak sekunder. $erajat keparahan
cedera kepala diklasifikasikan berdasarkan glasgow coma scale (,C%). $ari
gambaran C+-%can adanya midline shifting - 5 mm kompresi 'entrikel
merupakan indikator peningkatan angka morbiditas.
+indakan pembedahan biasanya dilakukan untuk depressed skull fractures
e'akuasi hematom pada epiduralsubdural dan beberapa hematoma intraserebral
lainnya dan debridement untuk trauma tembus. Pemantauan 2CP diindikasikan
10
pada pasien dengan lesi yang berhubungan dengan hipertensi interkranial :
contusion yang luas lesi massa perdarahan intraserebral atau terdapatnya edema
pada hasil radiologi.
3.2.1. Manajemen 're%'erati$
Penanganan anastesi pada trauma kepala sudah dimulai sejak a6al di
instalasi ga6at darurat (2,$). $engan tetap memperhatikan 1-(-C pastikan
air6ay pasien clear 'entilasi dan oksigenasi yang adekuat dan support sistemik
dilakukan secara simultan dengan e'aluasi neurologi dan pembedahan. Pasien
dengan peningkatan +20 dapat dberikan diuretik osmotik dan hiper'entilasi
dengan menaikkan kepala (head up) *0
0.
. %emua pasien harus dianggap
mengalami trauma ser'ikal hingga hasil radiologi memastikan tidak ada trauma
ser'ikal. 2ndikasi pemasangan intubasi pada trauma kepala diantaranya :
hipo'entilasi refleks muntah tidak ada ,C% diba6ah ) yang menetap. 1pabila
direncanakan tindakan intubasi pada seorang pasien maka harus dipertimbangkan
bah6a lambung pasien dalam keadaan penuh adanya fraktur ser'ikal sehingga
dilakukan inline-stabilization setelah itu dilakukan pre-oksigenasi obat induksi
propofol dengan dosis !5-* mgAkg obat relaksan otot non-depolarisasi dengan
pilihan rocoronium.
!5
0asus trauma kepala sering didapati bersamaan dengan trauma di tempat
lainya (multiple trauma) dengan sumber perdarahan yang banyak (terutama
intraabdomen) laserasi kepala (pada anak-anak) selain itu dapat terjadi cedera
medula spinalis sehingga terjadi simpatektomi. 0etiga hal ini akan menyebabkan
hipotensi (+$% B C0 mm#g) yang harus diatasi dengan resusitasi cairan tidak
boleh mengandung glukosa atau hipotonis. Pilihan resusitasinya adalah kristaloid
koloid ataupun darah.
!
"'aluasi diagnostik pada pasien trauma kepala harus dipastikan terlebih
dahulu bah6a pasien dalam kondisi stabil dan harus dilakukan pendampingan
pada kondisi yang critically ill. %edangkan pada pasien yang gelisah dapat
diberikan agen sedasi.
!
11
3.2.2. Manajemen ntra*%'erati$
1
Pada prinsipnya manajemen anastesi durante operasi tetap memegang
prinsip neuroanastesia secara umum yaitu cegah peningkatan +20 dan cedera
otak sekunder. %etelah dilakukan penanganan air6ay (seperti intubasi di pre-
operatif) monitoring harus dilakukan untuk memastikan tidak terdapat kondisi-
kondisi yang menyebabkan cedera otak sekunder. #ipotensi dapat terjadi setelah
induksi akibat 'asodilatasi dan hipo'olemi dan hal ini harus segera diatasi dengan
pemberan agonist reseptor alfa dan resusitasi cairan. %edangkan pada saat
pembedahan dapat terjadi respon berupa hipertensi dan takikardi tetapi dapat pula
terjadi bradikardi akibat +20 yang meningkat (refleks cushing).
#ipertensi dapat diatasi dengan penambahan dosis agen induksi (efek dari
'asodilatasi ataupun inhalasi). %ediaan beta-blocker dapat pula digunakan pada
kondisi hipertensi yang disertai takikardi. CPP yang diharapkan adalah E0-!!0
mm#g. Dasodilator sebaiknya dihindari sampai dengan pembukaan duramater.
#iper'entilasi hingga PC7
&
B *0 mm#g jugadihindari pada pasien trauma karena
ditakutkan terjadi penurunan signifikan dari delivery oxygen
BAB
LAP+RAN #A"U"
3.1. Anamnesis
(entitas Pri,a(i
;ama : "lbin 1ndrisno +arigan
=enis 0elamin : .aki-laki
4sia : &! tahun
%uku (angsa : (atak
1gama : 0risten
1lamat : $esa talimbaru kec. (arus jahe
%tatus : (elum /enikah
Pekerjaan : ?iras6asta
+anggal /asuk : !5 /aret &0!> Pukul !*.*0 ?2(
12
3.2. Ri)a-at Perjalanan Pen-akit
0eluhan 4tama : .uka bakar api
+elaah : #al ini dialami pasien !0 jam sebelum masuk
5umah %akit #aji 1dam /alik /edan kira-kira
pukul 0*.00 ?2(. 0etika itu pasien sedang
menjaga gudang dan terbakar. %etelah kejadian
pasien sadar ri6ayat kejang muntah dan sulit
bernafas tidak dijumpai. Pasien diba6a ke 5%
terdekat lalu dirujuk ke 5% #1/ untuk
mendapatkan penanganan.
5i6ayat Penyakit +erdahulu : -
5i6ayat Penggunaan 7bat : -
13
0ronologis ?aktu 0ejadian (Time Sequence)
3.3. Primar- "ur.e-
A /Air)a-0 1 Clear terpasang "++ dengan piece ,urgling A %noring A
Cro6ing : - A- A-
B /Breathing0 1 %uara Pernafasan : Desikuler %uara +ambahan : - +erpasang
5ebreathing /ask dengan 7ksigen ) lpm5espiratory 5ate && <Ai
2 /2ir3ulati%n0 1 terpasang 2D line dilakukan pemberian 5. !5 liter 3rekuensi
;adi )0 <Ai tA' kuat dan cukup +ekanan $arah !>0A)0 mm#g
1kral teraba hangat merah dan kering dan dilakukan
pemasangan kateter urine dengan urin inisial &00 cc 6arna
kuning jernih.
D /Disa,ilit-0 1 0esadaran 1 (1lert) Pupil 2sokor diameter *A* mm 5efleks
Cahaya FAF
E /E4'%sure0 1 $ijumpai luka bakar di sebagian 6ajah lengan atas kanan dan
kiri serta tungkai dan kiri pasien kemudian diselimuti untuk
mencegah hipotermia.
14
1.&. Tatalaksana (i Ruang Resusitasi 5D
Pemasangan 5ebreathing /ask dengan 7ksigen 9 lpm
Pemasangan 2D line bor besar !) , ($ouble) kaki kanan dan kiri
$ilakukan penilaian derajat luka bakar dijumpai luka bakar *5% dengan
kedalaman luka bakar grade 221-22(
$ilakukan resusitasi cairan menurut formula Parkland
+otal Cairan : >cc < (( < total (%1
: >cc < 90 kg < *5 : )>00 cc dalam &> jam
: ) =am Pertama : >&00cc F C90cc (&ccAjam < (( <
)jam) : 5!90cc G &!5 gttAi
!9 =am 0edua : >&00 cc F !C&0 cc (&ccAjam < ((
< !9 jam) : 9!&0cc G &55 gttAi
$engan target 4rine 7utput 05-! ccAkg((Ajam G *0 - 90 ccAjam.
Pemberian 1ntibiotik dengan 2njeksi Ceftria<on ! gA!& jam
Pemberian 1nalgetik dengan 2njeksi 0etorolac *0 mgA) jam
Pemberian 1nalgetik dengan 2njeksi 5anitidin 50 mgA) jam
Pemasangan monitor "0, #5 55 +ekanan $arah dan %aturasi 7ksigen
Pemeriksaan .aboratorium $arah .engkap #emostasis "lektrolit 3ungsi
,injal 1lbumin dan 1nalisa ,as $arah
$ilakukan 3oto +horaks
3.6 Pemeriksaan 7isik
B1 /Breathing0 :1ir6ay clear gurglingAsnoringAcro6ing : - A- A-
%P : 'esikuler %+ : - 5espiratory 5ate && <Ai
+anda trauma inhalasi : luka bakar 6ajah (F). alis
terbakar (F) jelaga di hidung (-) suara parau (-).
5i6ayat sesakA asma A batuk A alergi (-).
15
B2 /Bl%%(0 :1kral hangatAmerahAkering 3rekuensi ;adi )0
<Ai +ekananA'olume : cukup +ekanan $arah
!>0AC0 mm#g.
B3 /Brain0 :%ensorium : Compos /entis ,C% : !5
(">D5/9) Pupil 2sokor *A* mm 5C FAF
B& /Bla((er0 :+erpasang kateter 47P 6arna kuning jernih
B6 /B%)el0 :1bdomen soepel Peristaltik (F) //+ : pukul
&!.00 ?2( tgl !>A0*A&0!>
B8 /B%ne0 :3raktur (-) edema (-) .uka bakar di 6ajah
Punggung kedua tangan dan kaki kanan
Pemeriksaan La,%rat%rium /219:292:1&0
Pemeriksaan Hasil
H, !)E gAd.
Ht 50)
Leuk%sit &&.5)0 A mm*
Tr%m,%sit &0E.000 A mm*
PT >)!
aPTT !)5
TT !>>
NR >EE
Natrium !&) m"HA.
#alium >) m"HA.
#l%ri(a !05 m"HA.
Ureum *&mgAdl
#reatinin 0E>m"HA.
3.8. Diagn%sis $ungsi%nal : 3lame (urn *5% grade 221-22(
3.;. Ren3ana tin(akan : $ebridement
3.6 Tin(akan (an 7%ll%) U'
16
n(uksi Anestesi /Pukul 21.:: <B0
- Premedikasi 2njeksi /ida@olam &5 mg
- Preoksigenasi dengan 7
&
) lpm
- 2nduksi Propofol )0 mg dan 5ocuronium 50 mg.
- 2ntubasi dengan "++ no E
- /aintenance dengan isofluran 05-!0% serta 7ksigen : ;&7 G &:&
- /aintenance 3entanyl 50 mcgA*0 menit
Durante +'erasi De,ri(ement
- .ama operasi : > jam
- +$ : !05-!&0 A 95-C0 mm#g
- #5 : E0-!!0 <Ai
- %p7& : CC-!00% c
- /aintenance Cairan F Penguapan : (&F9) < 90 cc G >)0 ccAjam
- Pemberian Cairan $urante 7perasi : 5. !000 cc
P%st +'erasi /Pukul :1.:: <B0
Pemeriksaan Post 7perasi :
B1 /Breathing0 :1ir6ay clear terintubasi dengan +-piece ) lpm
55 !9<Ai
B2 /Bl%%(0 :1kral hangatAmerahAkering +$ !&)A9> mm#g
#5 : CC <Ai reguler tA': kuat dan cukup
B3 /Brain0 :%ensorium : Compos /entis Pupil 2sokor
diameter &mm 5C FAF
B& /Bla((er0 :+erpasang kateter 47P &00ccAjam 6arna kuning
pekat
B6 /B%)el0 :1bdomen soepel Peristaltik (-)
B8 /B%ne0 :.uka tertutup 'erban
Tera'i P%st +'erasi
(ed 5est #ead 4p *0I
7& 'ia +-piece ) lpm
2D3$ 5. &0 tetes per menit
$iet %D !)00 kkal F 90 gram protein
17
2nj. Ceftria<one ! gA!& jam A2D
2nf %P 3entanyl &00 mgA50 cc F /ilo@ !5 mg > ccAjam
2nj. 5anitidin 50 mg A ) jam A2D
2nj Dit. C !grAhr
7%t% #linis Pasien
18
BAB &
19
MA"ALAH DAN PEMBAHA"AN
&.1 Masalah
Pre +'erasi
Pasien "mergency ;P7 sejak direncanakan operasi
Pasien "mergency dianggap lambung penuhJ potensial terjadi
resiko aspirasiJ//+ ;P7 +eknik 5%2
Pasien nyeri diberikan analgetika
Pasien infeksi $ebridement J source kontrol kejar gol den periode
J antibiotika
.uka bakar daerah 6ajah edema laringJ &> ->) jam edema laring J
potensi intubasi
Pasien dengan luka bakar J kerusakan jaringan kulit J penguapan dan
kehilangan panas tubuh besar J mudah terjadi dehidrasi dan
hipotermiJ /onitoring #5 47P hangatkan cairan matikan 1C.
7perasi daerah air6ayJ 1ntisipasi jalan nafas sulit gagal 'entilasi dan
gagal intubasiJ siapkan ett lebih dari satu nomer yang lebih kecil dari
perkiraan ./1 guedel Cricothyroidostomy needle suction adekuat
P%st +'erasi
;yeri post op= analgetik multimodal
2nfeksi post opJ antibiotic
;utrisi 0eadaan hipermetabolisme 0eadaan hiperkatabolisme ;utrisi
"nteral tinggi protein karbohidrat dan lemak sesuai porsi dengan jumlah
kalori lebih tinggi
&.2 Pem,ahasan
,eneral anestesi (anestesi umum) adalah usaha untuk menghilangkan rasa
sakit seluruh tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat
20
re'ersible. Perbedaan dengan anestesi lokal antara lain pada anestesi lokal
hilangnya rasa sakit setempat sedangkan pada anestesi umum pada seluruh tubuh.
Pada anestesi lokal yang terpengaruh adalah saraf perifer sedangkan pada anestesi
umum yang terpengaruh saraf pusat dan pada anestesi lokal tidak terjadi
kehilangan kesadaran.
+eknik ,1 dapat dilakukan dengan inhalasi parental dan rektal. 7bat 8
obat yang digunakan melalui inhalasi antara lain : ;
&
7 #alothan "nflurane
"ther 2soflurane %e'oflurane /eto<iflurane +rilene. 7bat 8 obat melalui
parenteral antara lain : Penthotal 0etamin Propofol "tomidat dan golongan
(en@odia@epine. 7bat 8 obat yang diberikan secara intramuskuler antara lain
0etamin sedangkan obat yang diberikan melalui rektal adalah "tomidat
(dilakukan untuk induksi pada anak).
1pabila obat anestesi inhalasi dihirup bersama 8 sama udara inspirasi
masuk ke dalam saluran pernafasan di dalam al'eoli paru akan berdifusi masuk
ke dalam sirkulasi darah. $emikian pula yang disuntikkan secara intramuskuler
obat tersebut akan diabsorbsi masuk ke dalam sirkulasi darah.
%etelah masuk ke dalam sirkulasi obat tersebut akan menyebar dalam
jaringan. +ergantung obat yang digunakan di dalam jaringan sebagian akan
mengalami metabolisme ada yang terjadi di hepar renal ataupun jaringan lain.
"kskresi bisa terjadi melalui ginjal hepar kulit atau paru 8 paru. $imana dapat
disimpulkan bah6a faktor yang mempengaruhi aestesi antara lain : faktor respirasi
(untuk obat inhalasi) faktor sirkulasi faktor jaringan dan faktor obat anestesi
yang digunakan.
Prinsip anastesi umum merupakan hasil dari interupsi akti'itas sistem
neuron pada banyak le'el . +arget anestesi termasuk reseptor sensorik perifer
medulla spinalis batang otak dan serebral korteks. %ecara sederhana anesthesia
merupakan suatu keadaan Ks6itch offL dari susunan saraf pusat dimana Ks6itch
offL ini terjadi oleh karena depresi neuron yang berfungsi untuk bekerja sebagai
pacemaker di susunan saraf pusat penurunan eksitabilitas neuronal secara
keseluruhan dengan mengubah nilai potensial membran istirahat dan mengurangi
komunikasi antara neuron dengan inhibisi transmisi sinaptik.
21
Pada pasien dengan luka bakar hal yang harus diperhatikan untuk e'alusai
preoperatif adalah umur berat badan dan ri6ayat penyakit terdahulu yang dapat
meningkatkan resiko infeksiM bebaskan jalan nafas dengan intubasi maupun tanpa
intubasiM luas distribusi luka bakar trauma inhalasi dan trauma yang menyertai
seperti frakturM mekanisme terjadinya trauma dan 6aktu terjadinya traumaM
resusitasi (total cairan yang diperlukan dan jumlah urin) dan ri6ayat anestesi
sebelumnya.
1nestesi umum pada luka bakar merupakan suatu prosedur dengan resiko
tinggi. 0euntungan dari tindakan anestesi umum adalah pasien tidak sadar selama
operasi memberikan analgesia total kondisi operasi dapat menjadi lebih optimal
dan oksigenasi dari pasien dapat dijaga dan dikontrol. 5esiko-resiko yang dapat
terjadi pada pemberian anesthesia umum berupa kemungkinan menekan
pernafasan menekan sistem kardio'askular dan oliguria.
Pada pasien ini induksi dilakukan dengan 0etamin dimana 0etamin
merupakan salah satu obat pilihan untuk kasus pasien dengan luka bakar. 0etamin
memiliki efek simpatomimetik sehingga sesuai untuk pasien dengan kondisi
shock hipo'olemia. Peningkatan resistensi 'askuler sistemik berguna dengan
mengurangi pelepasan panas dan mengurangi resiko perdarahan sehingga
memberikan keuntungan dibandingkan dengan obat anestetik lain yang
menyebabkan 'asodilatasi. ;amun pemberian ketamin dapat meningkatkan aliran
darah di otak dan meningkatkan tekanan darah sistemik sehingga harus dihindari
pada pasien dengan kasus trauma kepala maupun trauma mata.
Prinsip resusitasi cairan pada pasien ini dilakukan perhitungan dengan
rumus Parkland dimana hasil perhitungan cairan akan dibagi dalam dua tahap
yaitu ) jam pertama dan !9 jam kemudian. ;amun dalam kasus dijumpai pasien
masuk ke rumah sakit !0 jam setelah luka bakar terjadi sehingga perhitungan
cairan yang dibutuhkan dibagi dengan !> jam dan dikurangi dengan jumlah cairan
yang telah diterima pasien dari rumah sakit lain.
Pada dasarnya pengelolaan pasien dengan luka bakar merupakan
tantangan di klinik. 1nestesiologis harus bekerja dalam manajemen rasa nyeri
22
pengelolaan fungsi kardio'askuler pengendalian balans cairan fungsi respirasi
%%P dan organ lain.
23
DA7TAR PU"TA#A
!. (utter6orth =3 /ackey $C ?asnick =$. /organ N /ikhailOs Clinical
1nesthesiology. 5th "d. ;e6 Pork: .ange /edical PublishingM &0!&. #h
5C*-90>
&. .iebeskind $%. "pidural #ematoma- (ackground "pidemiology.
/edscape 5eference &0!>. 1'ailable from :
http:AAemedicine.medscape.comAarticleA
*. 1merican College of %urgeon Committee of +rauma&00>. 1d'anced
+rauma .ife %upport %e'enth "dition. 2ndonesia: 2kabi (arret-;erin =P N
#erndon $;. Cedera 0epala. ;e6 Pork: /arcel $ekker &00>. #h !9E-
!)9
>. 5ull ,ur'inder. "<tradural #ematoma. Patient.co.uk. 1'ailable from :
666.patient.co.ukAdoctorAe<tradural-haematoma
5. .iebeskind $%. "pidural #ematoma +reatment and /anagement. &0!>.
1'ailable from : http:AAemedicine.medscape.comAarticleA!!*E095-treatment
9.