Anda di halaman 1dari 30

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perhatian terhadap penyakit tidak menular makin hari makin meningkat
karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya pada masyarakat.Bangsa
Indonesia yang sementara membangun dirinya dari suatu negara agraris yang
sedang berkembang menuju negara masyarakat industri membawa kecenderungan
baru dalam pola penyakit dalam masyarakat. Transisi epidemiologi penyakit
adalah perubahan yang kompleks dalam pola penyakit dan kesakitan ditunjukkan
dengan adanya kecenderungan semakin meningkatnya prevalensi penyakit
noninfeksi (penyakit tidak menular) dibandingkan dengan penyakit infeksi
(penyakit menular).Hal ini sering terjadi seiring dengan berubahnya gaya hidup,
sosial ekonomi dan meningkatnya pola risiko timbulnya penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, hipertensi, dan lain
sebagainya.
1

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di
Indonesia.Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah
kesehatan penting dan dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM
makin meningkat merupakan beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan
yang harus dihadapi dalam pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. Proporsi
angka kematian akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi
49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi
dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi,
diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Kematian akibat PTM
terjadi di perkotaan dan perdesaan.
2

Hipertensi memang dapat dikatakan sebagai pembunuh diam-diam atau
the silent killer.
3
Hipertensi umumnya terjadi tanpa gejala
(asimptomatis).Sebagian besar orang tidak merasakan apapun, walau tekanan
darahnya sudah jauh di atas normal.Hal ini dapat berlangsung bertahun-tahun
2

sampai akhirnya penderita (yang tidak merasa menderita) jatuh ke dalam kondisi
darurat, dan bahkan terkena penyakit jantung, stroke atau rusak ginjalnya.
Komplikasi ini yang kemudian banyak berujung pada kematian sehingga yang
tercatat sebagai penyebab kematian adalah komplikasinya.
4

Menurut Komisi Pakar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang
Pengendalian Hipertensi menjelaskan bahwa hipertensi merupakan gangguan
pembuluh darah jantung (kardiovaskular) paling umum yang merupakan
tantangan kesehatan utama masyarakat yang sedang mengalami perubahan
sosioekonomi dan epidemiologi. Hipertensi merupakan salah satu faktor utama
risiko kematian karena gangguan kardiovaskular yang mengakibatkan kematian
20-50% dari seluruh kematian.
5

Menurut Sherwood (2001), tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya
utama yang mendorong darah ke jaringan. Menurut Tom Smith (1991) dalam
Kamaruzaman (2010), tekanan darah adalah ukuran dari tekanan sistolik yang
berpengaruh pada darah karena kontraksi otot jantung dan kekuatan atau tekanan
diastolik pada dinding pembuluh darah yang lebih kecil yang mengalirkan darah
dan yang mempercepatkan jalan darah pada waktu jantung mengendur antar
denyut.
Tekanan darah dipengaruhi oleh kontraksi pada ventrikel kiri, resistensi
pada arteriol dan kapiler, elastisitas dinding arteri, dan viskositas serta volume
darah. Sehingga, dapat dikatakan dua penentu utama tekanan darah arteri rata-rata
adalah curah jantung dan resistensi perifer total (Sherwood, 2001).
Dikatakan normal bila tekanan darah sistolik kurang dari 120 mmHg dan
diastolik kurang dari 80 mmHg. Normal tinggi jika tekanan darah darah sistolik
130 - 139 mmHg dan diastolik 85 - 89 mmHg. Apabila tekanan darah sistolik 140
mmHg atau lebih dan diastolik 90 mmHg atau lebih, maka termasuk tinggi (JNC,
2003).
Di seluruh dunia, hampir 1 miliar orang atau sekitar seperempat dari
seluruh populasi orang dewasa menyandang hipertensi. Di Inggris (United
Kingdom), penyakit ini diperkirakan mengenai lebih dari 16 juta orang. Di Inggris
(England), 34% pria dan 30% wanita menyandang hipertensi. Pada populasi usia
3

lanjut, angka penyandang hipertensi lebih banyak lagi yaitu dialami oleh lebih
dari separuh populasi orang yang berusia di atas 60 tahun.
7
Hipertensi membunuh
hampir 8 juta orang setiap tahun, di seluruh dunia dan hampir 1,5 juta orang setiap
tahun di Asia Tenggara. Sekitar sepertiga dari populasi orang dewasa di daerah
Asia Tenggara memiliki tekanan darah tinggi.
6

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007
menunjukan prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7%. Prevalensi ini
jauh lebih tinggi dibanding Singapura (27,3%), Thailand (22,7%), dan Malaysia
(20%).5 Sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdeteksi. Keadaan
ini tentunya sangat berbahaya yang dapat menyebabkan kematian mendadak pada
masyarakat.
7

Di Indonesia, penderita hipertensi diperkirakan sebesar 15 juta tetapi
hanya 4% yang hipertensi terkendali. Yang dimaksud dengan hipertensi terkendali
adalah mereka yang menderita hipertensi dan tahu bahwa mereka menderita
hipertensi dan sedang berobat untuk itu. Sebaliknya sebesar 50% penderita tidak
menyadari diri sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk
menderita hipertensi yang lebih berat.
1

Menurut Depkes RI (2010) mengemukakan bahwa hipertensi merupakan
penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni dengan PMR
(Proportional Mortality Rate) mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua
umur di Indonesia. Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang
menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal, yaitu 140/90 mmHg.
7

Profil Kesehatan Sumatera Utara (2001) melaporkan bahwa prevalensi
hipertensi di Sumatera Utara sebesar 91 per 100.000 penduduk, sebesar 8,21%
pada kelompok umur di atas 60 tahun untuk penderita rawat jalan. Berdasarkan
penyakit penyebab kematian pasien rawat inap di Rumah Sakit Kabupaten/ Kota
Provinsi Sumatera Utara, hipertensi menduduki peringkat pertama dengan
proporsi kematian sebesar 27,02% (1.162 orang), pada kelompok umur 60 tahun
sebesar 20,23% (1.349 orang).
8

Data dari rumah sakit, di RSUP H. Adam Malik Medan dilaporkan adanya
peningkatan jumlah kasus hipertensi rawat inap pada tahun 1997-2001 yaitu tahun
4

1997 sebanyak 14 kasus (0,8%), tahun 1998 sebanyak 78 kasus (1,05%), tahun
1999 sebanyak 102 kasus (1,23%), tahun 2000 sebanyak 114 kasus (1,56%) dan
tahun 2001 sebanyak 128 kasus (1,78%).11 Di Puskesmas Parsoburan Kecamatan
Siantar Marihat Kota Pematangsiantar, hipertensi ada di urutan kedua dari sepuluh
penyakit terbesar pada tahun 2010. Jumlah kunjungannya yaitu sebesar 1.362
kunjungan (18,50%).
9

1.2. Perumusan Masalah
Belum diketahui karakteristik penderita hipertensi yang berobat di
Puskesmas Amplas Kota Medan pada tanggal 29 April 17 Mei 2013.


1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik penderita hipertensi yang berobat di
Puskesmas Amplas Kota Medan pada tanggal 29 April 17 Mei 2013.

1.3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hipertensi yang meliputi
umur, jenis kelamin, pekerjaan dan pendidikan.
b. Untuk mengetahui distribusi penderita hipertensi berdasarkan lama
menderita hipertensi.
c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
tekanan darah sekarang.
d. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
pendapatan.
e. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
jumlah tanggungan.



5

1.4. Manfaat Penelitian
a. Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pihak puskesmas mengenai
karakteristik penderita hipertensi sehingga dapat meningkatkan
penanggulangan dan pengobatan penderita ke arah yang lebih baik.
b. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang
berhubungan dengan hipertensi.



























6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
2.1.1. Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah yang kuat dan konstan memompa darah
melalui pembuluh darah.
7
Terjadi bila darah memberikan gaya yang lebih tinggi
dibandingkan kondisi normal secara persisten pada sistem sirkulasi.
10

Hipertensi adalah keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar
dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali
pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat /
tenang.14 Menurut WHO (2011) batas normal tekanan darah adalah kurang dari
atau 120 mmHg tekanan sistolik dan kurang dari atau 80 mmHg tekanan diastolik.
Seseorang dinyatakan mengidap hipertensi bila tekanan darahnya lebih dari
140/90 mmHg.
6

Stadium hipertensi yang mencerminkan beratnya penyakit, menurut The
Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Pressure (JNC-VII) tahun 2003 hipertensi dibedakan berdasarkan Tekanan Darah
Sistolik (TDS) dan Tekanan Darah Diastolik (TDD) sebagai berikut:
11

a. Normal bila tekanan darah sistolik <120 mmHg dan diastolik <80 mmHg
b. Prehypertension bila tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan diastolik 80-
89 mmHg
c. Hipertensi stadium 1 bila tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan diastolik
90-99 mmHg
d. Hipertensi stadium 2 bila tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolik
100 mmHg
Menurut petunjuk WHO-ISH klasifikasi hipertensi menyerupai JNC VI,
yaitu:
12

a. Optimal bila tekanan sistolik <120 mmHg dan tekanan darah diastolik <80
mmHg
7

b. Normal bila tekanan sistolik <130 mmHg dan tekanan darah diastolik <85
mmHg
c. Normal tinggi bila tekanan sistolik 130-139 mmHg dan tekanan darah
diastolik 85-89 mmHg
d. Hipertensi derajat 1 (ringan) bila tekanan sistolik 140-159 mmHg dan tekanan
darah diastolik 90-99 mmHg
e. Hipertensi derajat 2 (sedang) bila tekanan sistolik 160-179 mmHg dan tekanan
darah diastolik 100-109 mmHg
f. Hipertensi derajat 3 (berat) bila tekanan sistolik 180 mmHg dan tekanan
darah diastolik 110 mmHg
g. Hipertensi sistolik (Isolated Sistolic Hypertension) bila tekanan sistolik 140
mmHg dan tekanan darah diastolik <90 mmHg

Etiologi hipertensi tidak diketahui pada lebih dari 95% kasus kenaikan tekanan
darah. Kajian epidemiologi selalu menunjukkan adanya hubungan yang penting
dan bebas antara tekanan darah dan berbagai kelainan, terutama penyakit jantung
koroner, stroke, gagal jantung, dan kerusakan fungsi ginjal.
5


2.1.2. Tekanan Darah
Menurut Stedmans Medical Dictionary for the Health Professions and
Nursing, tekanan darah adalah tekanan pada darah dalam arteri sistemik, yang
dipengaruhi oleh kontraksi pada ventrikel kiri, resistensi pada arteriol dan kapilari,
elastisitas dinding arteri, dan viskositas serta volume darah.
Tekanan darah adalah ukuran dari tekanan sistolik yang berpengaruh pada
darah karena kontraksi otot jantung dan kekuatan atau tekanan diastolik pada
dinding pembuluh darah yang lebih kecil yang mengalirkan darah dan yang
mempercepatkan jalan darah pada waktu jantung mengendur antar denyut (Tom
Smith, 1991 dalam Kamaruzaman, 2010).
Menurut Sherwood (2001) tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya
utama yang mendorong darah ke jaringan. Tekanan ini harus diatur secara ketat
karena dua alasan. Pertama, tekanan tersebut harus harus cukup tinggi untuk
8

menghasilkan gaya dorong yang cukup. Kedua, tekanan tidak boleh terlalu tinggi,
sehingga menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung dan meningkatkan
resiko kerusakan pembuluh serta kemungkinan rupturnya pembuluh-pembuluh
halus. Dua penentu utama tekanan darah arteri rata-rata adalah curah jantung dan
resistensi perifer total.
Menurut Nadesul (2007), tekanan darah idealnya diukur saat bangun tidur
pagi hari saat belum melakukan aktivitas fisik. Mengukur setelah beraktivitas fisik
akan menghasilkan nilai yang lebih tinggi dari seharusnya. Oleh karena itu perlu
baring 5 menit sebelum tekanan darah diukur.

2.2. Klasifikasi Hipertensi
2.2.1. Berdasarkan Penyebab
a. Hipertensi Primer (Hipertensi Esensial)
Hipertensi primer atau hipertensi esensial adalah hipertensi yang
penyebabnya tidak diketahui, walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya
hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar
90% penderita hipertensi. Hipertensi primer kemungkinan disebabkan oleh
beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-
sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
13

Selama 75 tahun terakhir telah banyak penelitian untuk mencari
etiologinya.Tekanan darah merupakan hasil curah jantung dan resistensi vascular
sehingga tekanan darah meningkat jika curah jantung meningkat, resistensi
vascular perifer bertambah, atau keduanya. Meskipun mekanisme yang
berhubungan dengan penyebab hipertensi melibatkan perubahan-perubahan
tersebut, hipertensi sebagai kondisi klinis biasanya diketahui beberapa tahun
setelah kecenderungan ke arah sana di mulai.
14

Pada hipertensi yang baru mulai curah jantung biasanya sedikit meningkat
dan resistensi perifer normal.Pada tahap hipertensi lanjut, curah jantung
cenderung menurun dan resistensi perifer meningkat.Adanya hipertensi juga
menyebabkan penebalan dinding arteri dan arteriol. Banyaknya faktor yang
9

mempengaruhi dan mungkin berbeda antar individu menyebabkan penelitian
etiologinya semakin sulit.
14


b. Hipertensi Sekunder (Hipertensi non Esensial)
Hipertensi sekunder adalah jika penyebabnya diketahui.Pada sekitar 5-
10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal.Pada sekitar 1-2%,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya
pil KB).
13

Sekitar 5% prevalensi hipertensi telah diketahui penyebabnya, dan dapat
dikelompokkan seperti di bawah ini.
14
b.1. Penyakit parenkim ginjal (3%). Setiap penyebab gagal ginjal
(glomerulonefritis, pielonefritis, sebab-sebab penyumbatan) akan menyebabkan
kerusakan parenkim akan cenderung menimbulkan hipertensi dan hipertensi itu
sendiri akan mengakibatkan kerusakan ginjal.
b.2. Penyakit renovaskular (1%). Terdiri atas penyakit yang memnyebabkan
gangguan pasokan darah ginjal dan secara umum dibagi atas aterosklerosis, yang
terutama mempengaruhi sepertiga bagian proksimal arteri renalis dan paling
sering terjadi pada pasien usia lanjut, dan fibrodisplasia yang terutama
mempengaruhi 2/3 bagian distal.
b.3. Endokrin (1%). Pertimbangan aldosteronisme primer (sindrom Conn) jika
terdapat hipokelemia bersama hipertensi. Tingginya kadar aldosteron dan rennin
yang rendah akan mengakibatkan kelebihan (overload) natrium dan air.

2.2.2. Berdasarkan TDS dan TDD
Menurut The Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment
of High Blood Pressure (JNC-VII) tahun 2003 hipertensi dibedakan berdasarkan
Tekanan Darah Sistolik (TDS) dan Tekanan Darah Diastolik (TDD) sebagai
berikut:
11

a. Normal bila tekanan darah sistolik <120 mmHg dan diastolik <80 mmHg
b. Prehypertension bila tekanan darah sistolik 120-139 mmHg dan diastolik 80-89
mmHg
10

c. Hipertensi stadium 1 bila tekanan darah sistolik 140-159 mmHg dan diastolik
90-99 mmHg
d. Hipertensi stadium 2 bila tekanan darah sistolik 160 mmHg dan diastolik
100 mmHg

2.3. Epidemiologi Hipertensi
2.3.1. Faktor Risiko Hipertensi
a. Umur
Menurut Kaplan (1991) prevalensi penderita hipertensi umumnya paling
tinggi dijumpai pada usia>40 tahun. Penderita kemungkinan mendapat komplikasi
pembuluh darah otak 6-10 kali lebih besar pada usia 30-40 tahun.Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi
hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas secara nasional mencapai 31,7%.
Berdasarkan kelompok umur yang paling tinggi terdapat pada kelompok umur 65-
74 tahun yaitu 63,5% dan pada kelompok umur diatas 75 tahun yaitu 67,3%.
Berdasarkan jenis kelamin prevalensi hipertensi pada laki-laki sebesar 31,3% dan
pada perempuan 31,9%.
15


b. Jenis Kelamin
Pada usia dini tidak terdapat bukti nyata tentang adanya perbedaan tekanan
darah antara laki-laki dan wanita. Akan tetapi, mulai pada masa remaja, pria
cenderung menunujukkan aras rata-rata yang lebih tinggi. Perbedaan ini lebih
jelas pada orang dewasa muda dan orang setengah baya. Perubahan pada masa tua
antara lain dapat dijelaskan dengan tingkat kematian awal yang lebih tinggi pada
pria pengidap hipertensi.6 Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan
Departemen Kesehatan, komplikasi hipertensi meningkat pada laki-laki.
16


c. Status sosioekonomi
Di negara-negara yang berada pada tahap pasca-peralihan perubahan
ekonomi dan epidemiologi selalu dapat ditunjukkan bahwa aras tekanan darah dan
prevalensi hipertensi yang lebih tinggi terdapat pada golongan sosioekonomi
11

rendah. Hubungan yang terbalik itu ternyata berkaitan dengan tingkat pendidikan,
penghasilan, dan pekerjaan. Akan tetapi, dalam masyarakat yang berada dalam
masa peralihan atau pra-peralihan, aras tinggi tekanan darah dan prevalensi
hipertensi lebih tinggi terdapat pada golongan sosioekonomi yang lebih tinggi.
5


d. Genetika
Sekitar 20-40% variasi tekanan darah di antara individu disebabkan oleh
faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah seorang anak akan
lebih mendekati tekanan darah orangtuanya bila mereka memiliki hubungan darah
dibanding dengan anak adopsi. Hal ini menunujukkan bahwa gen yang
diturunkan, dan bukan hanya faktor lingkungan (seperti makanan dan status
sosial), berperan besar dalam menentukan tekanan darah.
5


e. Ras atau suku bangsa
Kajian populasi selalu menunjukkan bahwa aras tekanan darah pada
masyarakat kulit hitam lebih tinggi ketimbang aras pada golongan suku lain. Suku
mungkin berpengaruh pada hubungan antara umur dan tekanan darah, seperti
yang ditunjukkan oleh kecenderungan tekanan darah yang meninggi bersamaan
dengan bertambahnya umur secara progresif pada orang Amerika berkulit hitam
keturunan Afrika ketimbang orang Amerika berkulit putih.
5

Sementara itu ditemukan variasi antar suku di Indonesia. Di lembah Baliem Jaya,
Papua kejadian hipertensi terendah yaitu 0,6%, sedangkan yang tertinggi terdapat
di Jawa Barat pada suku Suku Sunda yaitu 28,6%.
1


f. Lemak dan kolesterol
Pola makan penduduk yang tinggi di kota-kota besar berubah dimana fast
food dan makanan yang kaya kolesterol menjadi bagian yang dikonsumsi sehari-
hari.Mengurangi diet lemak dapat menurunkan tekanan darah 6/3 mmHg dan bila
dikombinasikan dengan meningkatkan konsumsi buah dan sayuran dapat
menurunkan tekanan darah sebesar 11/6 mmHg. Makan ikan secara teratur
12

sebagai cara mengurangi berat badan akan meningkatkan penurunan tekanan
darah pada penderita gemuk dan memperbaiki profil lemak.
17


g. Konsumsi Garam
Penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan natrium yang
berlebihan dengan tekanan darah tinggi pada beberapa individu.Asupan natrium
yang meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan, yang meningkatkan
volume darah.Di samping itu, diet tinggi garam dapat mengecilkan diameter dari
arteri.Jantung harus memompa lebih keras untuk mendorong volume darah yang
meningkat melalui ruang sempit.Akibatnya adalah hipertensi. Hal ini sebaliknya
juga terjadi, ketika asupan natrium berkurang maka begitu pula volume darah dan
tekanan darah pada beberapa individu.
18


h. Alkohol
Alkohol juga mempengaruhi tekanan darah. Orang-orang yang minum
alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan darah yang lebih
tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit alkohol.
28
Lebih
dari dua minuman keras sehari akan menimbulkan peningkatan signifikan.
Diperkirakan 5-10% hipertensi pada laki-laki Amerika disebabkan langsung oleh
konsumsi alkohol.
19

Berdasarkan laporan Komisi Pakar WHO mengatakan bahwa pada
beberapa populasi, konsumsi minuman keras selalu berkaitan dengan tekanan
darah tinggi. Jika minuman keras diminum sedikitnya dua kali per hari, TDS naik
kira-kira 1,0 mmHg dan TDD kira-kira 0,5 mmHg per satu kali minum. Peminum
harian ternyata mempunyai aras TDS dan TDD lebih tinggi, berturut-turut 6,6
mmHg dan 4,7 mmHg dibandingkan dengan peminum sekali seminggu.
5


i. Rokok
Rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan juga
menyebabkan pengapuran sehingga volume plasma darah berkurang karena
tercemar nikotin, akibatnya viskositas darah meningkat sehingga timbul
13

hipertensi.31 Merokok dapat meningkatkan tekanan darah secara temporer yaitu
tekanan darah sistolik yang naik sekitar 10 mmHg dan tekanan darah diastolik
naik sekitar 8 mmHg. Merokok juga dapat menghapuskan efektivitas beberapa
obat antihipertensi. Misalnya, pengobatan hipertensi yang menggunakan terapi
betablocker dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke hanya bila
pemakainya tidak merokok karena merokok merupakan faktor risiko utama untuk
munculnya penyakit kardiovaskular.
5


j. Stress
Tekanan darah lebih tinggi telah dihubungkan dengan peningkatan stress,
yang timbul dari tuntutan pekerjaan, hidup dalam lingkungan kriminal yang
tinggi, kehilangan pekerjaan dan pengalaman yang mengancam nyawa terpapar ke
stress bisa menaikkan tekanan darah dan hipertensi dini cenderung menjadi
reaktif. Aktivasi berulang susunan saraf simpati oleh stress dapat memulai tangga
hemodinamik yang menimbulkan hipertensi menetap.
20


l. Status Olahraga
Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan lebih rentan terhadap
tekanan darah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya menjaga
bentuk tubuh dan berat badan, tetapi juga dapat menurunkan tekanan darah.Jenis
latihan yang dapat mengontrol tekanan darah adalah berjalan kaki, bersepeda,
berenang, dan aerobik.
21


2.4. Gejala Klinis
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,
meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Gejala yang dimaksud adalah sakit
kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan.
13

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
berikut yaitu sakit kepala, kelelahan, mual, muntah,sesak nafas, gelisah,
pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata,
14

jantung, dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan
kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan di otak.
13

Hipertensi yang berujung pada komplikasi menunjukkan gejala kerusakan
organ. Adapun yang menjadi gejala kerusakan organ yaitu:
5

a) Otak dan mata: sakit kepala, vertigo, penglihatan terganggu, serangan
iskemik sesaat, gangguan panca indera atau gerak
b) Jantung: berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, pergelangan kaki
bengkak
c) Ginjal: haus, poliuria, nokturia, hematuria
d) Arteri perifer: tangan kaki dingin, pincang berkala (claudicatio
intermittens)

2.5. Komplikasi
Tekanan darah secara alami berfluktuasi sepanjang hari.Tekanan darah
tinggi menjadi masalah hanya bila tekanan darah tersebut persisten. Tekanan
seperti membuat sistem sirkulasi dan organ yang mendapat suplai darah (termasuk
jantung dan otak) menjadi tegang.7 Bila tekanan darah tinggi tidak dapat dikontrol
dengan baik, maka dapat terjadi serangkaian komplikasi serius dan penyakit
kardiovaskular seperti angina atau rasa tidak nyaman di dada dan serangan
jantung, stroke, gagal jantung, kerusakan ginjal, gagal ginjal, masalah mata,
hipertensif encephalopathy sering dirujuk pada penyakit organ akhir.
22

Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan tinggi di otak, atau akibat
embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang terpajan tekanan
tinggi.Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronis apabila arteri yang
memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan penebalan, sehingga aliran darah ke
area otak yang diperdarahi berkurang. Arteri otak yang mengalami arterosklerosis
dapat melemah sehingga meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma.
23

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerotik
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk
trombus yang menghambat aliran darah melewati pembuluh darah. Pada
hipertensi kronis dan hipertrofi ventrikel, kebutuhan oksigen miokardum mungkin
15

tidak dapat dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan
infark.
23

Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi
pada kapiler glomerulus ginjal. Dengan rusaknya glomerulus, aliran darah ke unit
fungsional ginjal, yaitu nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi
hipoksi dan kematian. Dengan rusaknya membran glomerulus, protein akan keluar
melalui urine sehingga tekanan osmotik koloid plasma berkurang dan
menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada hipertensi kronis.
23

Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi, terutama pada hipertensi
maligna (hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya).Tekanan yang sangat
tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan
mendorong cairan ke ruang interstisial diseluruh susunan saraf pusat. Neuron-
neuron di sekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
23


2.6. Pencegahan Hipertensi
2.6.1. Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan munculnya faktor
predisposisi terhadap hipertensi dimana belum tampak adanya faktor yang
menjadi risiko ini dimaksudkan dengan memberikan kondisi pada masyarakat
yang memungkinkan pencegahan terjadinya hipertensi yang dapat dilakukan
melalui pendekatan populasi ataupun perorangan.Pendekatan populasi secara
khusus mengandalkan program untuk mendidik masyarakat.Pendidikan
masyarakat yakni masyarakat harus diberi informasi mengenai sifat, penyebab,
dan komplikasi hipertensi, cara pencegahan, gaya hidup sehat, dan pengaruh
faktor risiko kardiovaskular lainnya.
5

2.6.2. Pencegahan Primer
10,21

Pencegahan primer dilakukan dengan pencegahan terhadap faktor risiko
yang tampak pada individu atau masyarakat.Sasaran pada orang sehat yang
berisiko tinggi dengan usaha peningkatan derajat kesehatan yakni meningkatkan
16

peranan kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal dan menghindari
faktor risiko timbulnya hipertensi.
Pencegahan primer penyebab hipertensi adalah sebagai berikut:
a. Mengurangi/menghindari setiap perilaku yang memperbesar risiko, yaitu
menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan dan kegemukan,
menghindari meminum minuman beralkohol, mengurangi/menghindari
makanan yang mengandung makanan yang berlemak dan berkolesterol tinggi
b. Peningkatan ketahanan fisik dan perbaikan status gizi, yaitu melakukan
olahraga secara teratur dan terkontrol seperti senam aerobik, jalan kaki,
berlari, naik sepeda, berenang, diet rendah lemak dan memperbanyak
mengonsumsi buah-buahan dan sayuran, mengendalikan stress dan emosi.

2.6.3. Pencegahan Sekunder
Sasaran utama adalah pada mereka terkena penyakit hipertensi melalui
diagnosis dini serta pengobatan yang tepat dengan tujuan mencegah proses
penyakit lebih lanjut dan timbulnya komplikasi. Pemeriksaan diagnostik terhadap
pengidap tekanan darah tinggi mempunyai beberapa tujuan
5
:
a. Memastikan bahwa tekanan darahnya memang selalu tinggi
b. Menilai keseluruhan risiko kardiovaskular
c. Menilai kerusakan organ yang sudah ada atau penyakit yang menyertainya
d. Mencari kemungkinan penyebabnya
Sudah jelas bahwa semua tujuan ini merupakan unsur-unsur proses
diagnosis tunggal yang bertahap dan menyeluruh yang menggunakan tiga metode
klasik: pencatatan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
laboratorium. Sejauh mana pemeriksaan laboratorium harus dilakukan dapat
disesuaikan dengan bukti yang diperoleh dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
dan uji laboratorium pendahuluan.
5

Perangkat diagnostik dalam pengukuran tekanan darah dapat
menggunakan sfigmomanometer yang akan memperlihatkan peningkatan tekanan
sistolik dan diastolik jauh sebelum adanya gejala penyakit. Pemerikasaan
17

penunjang yang rutin bisa dilakukan pada penderita hipertensi yang bertujuan
mendeteksi penyakit yang bisa diobati dan menilai fungsi jantung serta ginjal.
32

Pencegahan bagi mereka yang terancam dan menderita hipertensi adalah
sebagai berikut:
10,21

a. Pemeriksaan berkala
a.1. Pemeriksaan/pengukuran tekanan darah secara berkala oleh dokter secara
teratur merupakan cara untuk mengetahui apakah kita menderita hipertensi atau
tidak
a.2. Mengendalikan tensi secara teratur agar tetap stabil dengan atau tanpa
obat-obatan anti hipertensi

b. Pengobatan/perawatan
b.1. Pengobatan yang segera sangat penting dilakukan sehingga penyakit
hipertensi dapat segera dikendalikan
b.2. Menjaga agar tidak terjadi komplikasi akibat hiperkolesterolemia, diabetes
mellitus dan lain-lain
b.3. Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang wajar sehingga kualitas hidup
penderita tidak menurun
b.4. Mengobati penyakit penyerta seperti dibetes mellitus, kelainan pada ginjal,
hipertiroid, dan sebagainya yang dapat memperberat kerusakan organ

2.6.4. Pencegahan Tersier
10

Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut dan mencegah
cacat/kelumpuhan dan kematian karena penyakit hipertensi. Pencegahan tersier
penyakit hipertensi adalah sebagai berikut:
a. Menurunkan tekanan darah ke tingkat yang normal sehingga kualitas hidup
penderita tidak menurun.
b. Mencegah memberatnya tekanan darah tinggi sehingga tidak menimbulkan
kerusakan pada jaringan organ otak yang mengakibatkan stroke dan
kelumpuhan anggota badan.
c. Memulihkan kerusakan organ dengan obat antihipertensi.
18

BAB3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian, maka kerangka konsep penelitian ini adalah:






Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian

3.2. Definisi Operasional
Hipertensi adalah tekanan darah yang kuat dan konstan memompa darah
melalui pembuluh darah.
7
Terjadi bila darah memberikan gaya yang lebih
tinggi dibandingkan kondisi normal secara persisten pada sistem sirkulasi.

BAB 4
METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yang
bersifat deskriptif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan
informasi mengenai karakteristik penderita hipertensi yang berobat di Puskesmas
Amplas Kota Medan pada tanggal 29 April 17 Mei 2013. Pendekatan yang
digunakan pada desain penelitian ini adalah cross sectional study dimana
dikumpulkan pada satu waktu tertentu.

Hipertensi
Program
Pengelolaan
Penyakit Kronis
19

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 29 April hingga 17 Mei
2013. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas , Kelurahan Harjosari, Kecamatan
Medan Amplas. Lokasi penelitian ini dipilih dengan alasan bahwa Puskesmas ini
merupakan salah satu puskesmas rujukan yang dipilih oah Dinas Kesehatan Kota
Medan.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang
bertempat tinggal di Kecamatan Amplas.
Kriteria Inklusi :
- Masyarakat yang menderita hipertensi dan bertempat tinggal di Kecamatan
Amplas
- Penderita hipertensi yang datang berobat /kontrol ke Puskesmas Amplas
Kriteria Eksklusi :
- Masyarakat yang menderita hipertensi namun menolak untuk berpartisipasi
dalam penelitian ini.
- Penderita hipertensi yang tidak datang kontrol langsung ke Puskesmas Amplas

4.3.2. Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dilakukan teknik total sampling dan sampel adalah
responden yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak masuk dalam kriteria
eksklusi.

4.4. Metode Pengumpulan Data
4.4.1. Data Primer
Pada penelitian ini, digunakan data primer yang didapat langsung dari
responden.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan
alat pengumpulan data berupa kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang
sudah divalidasi sebelumnya. Peneliti memberikan penjelasan secara ringkas
20

tentang penelitian ini dan cara mengisi kuesioner kepada responden sebelum
kuesioner diberikan. Selanjutnya, responden diminta mengisi kuesioner. Setelah
selesai, kuesioner dikumpulkan.
4.4.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapatkan dari rekam medis Puskesmas Amplas
yang berisikan data jumlah pasien Puskesmas Amplas.

4.5. Metode Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap pertama editing
yaitu mengecek nama dan kelengkapan identitas maupun data responden serta
memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk, tahap kedua coding
yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah
waktu mengadakan tabulasi dan analisa, tahap ketiga entry yaitu memasukkan
data dari kuesioner ke dalam program komputer, tahap ke empat adalah
melakukan cleaning yaitu mengecek kembali data yang telah di entry untuk
mengetahui ada kesalahan atau tidak.
24
Dari setiap data yang diperoleh dari responden akan dimasukkan kedalam
komputer. Analisis data yang diperoleh dilakukan secara deskriptif dengan
menggunakan program SPSS (Statistical Package for Social Science) versi 17.0
for Windows. Hasil penelitian akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil
Hasil penelitian ini dapat dilihat sesuai dengan tabel berikut:
Tabel 5.1.1. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Jenis Kelamin di
Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17 Mei 2013.
Jenis Kelamin Responden Jumlah Proporsi (%)
Laki-Laki 25 64,1
21

Perempuan 14 35,9
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.1 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan jenis kelamin yang terbesar adalah laki-laki yaitu sebesar 61,5% (25 orang)
dan perempuan sebesar 38,5% (14 orang).
Tabel 5.1.2. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Umur di
Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17 Mei 2013.
Umur Responden Jumlah Proporsi (%)
40 tahun 34 87,2
<40 tahun 5 12,8
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.2 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan umur yang terbesar adalah 40 tahun yaitu sebesar 87,2% (34 orang) dan
<40 tahun yaitu sebesar 12,8% (5 orang).


Tabel 5.1.3. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Pendidikan
Terakhir Responden di Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17
Mei 2013.
Pendidikan Terakhir
Responden
Jumlah Proporsi (%)
SD 16 41,0
SMP 12 30,8
SMA 7 17,9
PT 4 10,3
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.3 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan pendidikan terakhir responden yang terbesar adalah SD yaitu sebanyak
22

41,0% (16 orang), SMP sebanyak 30,8 % (12 orang), SMA sebanyak 17,9% (7 orang)
dan Perguruan Tinggi yaitu sebesar 10,3% (4 orang).
Tabel 5.1.4. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Pendapatan
Responden di Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17 Mei 2013.
Pendapatan Responden Jumlah Proporsi (%)
Rp 1.000.000 25 64,1
Rp 1.000.001 - Rp
2.000.000
9 23,1
Rp 2.000.001 - Rp
3.000.000
5 17,9
Rp 3.000.000 0 0,0
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.4 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan pendapatan responden yang terbesar adalah Rp 1.000.000 yaitu sebanyak
64,1% (25 orang), Rp 1.000.000 - Rp 2.000.000 sebanyak 23,1% (9 orang), Rp
2.000.000 - Rp 3.000.000sebanyak 17,9% (5 orang) sedangkan penghasilan Rp
3.000.000 tidak dijumpai..
Tabel 5.1.5. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Jumlah
Tanggungan Responden di Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-
17 Mei 2013.
Jumlah Tanggungan
Responden
Jumlah Proporsi (%)
2 orang 20 51,3
3 orang 6 15,4
4 orang 13 33,3
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.5 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan jumlah tanggungan responden yang terbesar adalah 2 orang yaitu
sebanyak 51,3% (20 orang), 4 orang 33,3% (13 orang), dan 3 orang sebanyak 15,4%
(6 orang).
23

Tabel 5.1.6. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Pekerjaan
Responden di Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17 Mei 2013.
Pekerjaan Responden Jumlah Proporsi (%)
Pegawai (PNS/ Swasta)
3 7,7
Pensiunan
14 35.9
Lain-lain
22 56,4
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.6 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan pekerjaan responden yang terbesar adalah lain-lain yaitu sebanyak 56,4%
(22 orang), Pensiunansebanyak 35,9% (14 orang), dan PNS/pegawai swasta 7,7% (13
orang).



Tabel 5.1.7. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Tekanan Darah
pada Saat Kunjungan di Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17
Mei 2013.
Tekanan Darah Responden Jumlah Proporsi (%)
<120/80 mmHg
0 0
120-139/80-89 mmHg
0 0
140-159/90-99 mmHg
24 61,5
>160/100 mmHg
15 38,5
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.7 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan tekanan darah pada saat kunjungan yang terbanyak adalah 140-159/90-99
mmHg (hipertensi stage 1) yaitu sebanyak 61,5% (24 orang), dan>160/100
mmHg(hipertensi stage 2) yaitu sebanyak 38,5% (15 orang).
24

Tabel 5.1.8. Distribusi Proporsi Penderita Hipertensi Berdasarkan Lamanya
menderita Hipertensi di Puskesmas Amplas Kota Medan pada Tanggal 29 April-17
Mei 2013.
Lamanya menderita
Hipertensi
Jumlah Proporsi (%)
5 tahun 20 51.3
>5 tahun 19 48.7
Total 39 100,0
Dari tabel 5.1.8 dapat dilihat bahwa distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan lamanya menderita hipertensi yang terbanyak adalah 5 tahun yaitu
sebanyak 51,3% (20 orang), dan >5 tahun yaitu sebanyak 48,7% (19 orang).




5.2. Pembahasan
Data yang didapat di Puskesmas Amplas pada tanggal 29 April 17 Mei 2013
didapati proporsi penduduk laki-laki lebih tinggi dari proporsi penduduk perempuan yaitu
sebesar 64,1% (25 orang) pada laki-laki dan perempuan sebesar 35,9% (14 orang).
Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di
Desa Bocor, Jawa Tengah yang menemukan proporsi tertinggi penderita hipertensi pada
perempuan yaitu sebesar 54,5%. Hal ini mungkin berpengaruh pada jumlah kunjungan
pasien laki-laki yang lebih banyak dibandingkan perempuan.
Sedangkan data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi
berdasarkan umur yang terbesar adalah 40 tahun yaitu sebesar 87,2% (34 orang) dan
<40 tahun yaitu sebesar 12,8% (5 orang).
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di Desa
Bocor, JawaTengah yang menemukan proporsi tertinggi penderita hipertensi pada usia
25

yaitu sebesar 55,8%. Halini terjadi karena arteri besar kehilangankelenturannya dan
menjadi kaku karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui
pembuluhyang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
Data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
pendidikan terakhir responden yang terbesar adalah SD yaitu sebanyak 41,0% (16 orang)
dan Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 10,3% (4 orang).
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di Desa
Bocor, JawaTengah yang menemukan proporsi tertinggi penderita hipertensi pada usia
yaitu sebesar 55,8%. Halini berarti bahwa tingkat pendidikan penduduk di Puskesmas
Amplas masih rendah.
Data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
pendapatan responden yang terbesar adalah Rp 1.000.000 yaitu sebanyak 64,1% (25
orang). Hal ini sejalan dengan penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di Desa Bocor,
JawaTengah yang menemukan proporsi tertinggi penghasilan dibawah UMR yaitu
sebanyak 96,8%. Ini dikarenakan tingkat pedidikan yang rendah pada mayoritas
penduduk sehingga mempengaruhi tingkat penghasilannya.
Data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
jumlah tanggungan responden yang terbesar adalah 2 orang yaitu sebanyak 51,3% (20
orang). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di Desa
Bocor, JawaTengah yang menemukan proporsi tertinggi mempunyai jumlah tanggungan
sebanyak >2 orang. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Amplas sudah memahami
tentang program KB.
Data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
pekerjaan responden yang terbesar adalah lain-lain yaitu sebanyak 56,4% (22 orang),
pensiunan/tidak bekerja sebanyak 35,9% (14 orang), dan PNS/pegawai swasta 7,7%
(13 orang). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di
Desa Bocor, JawaTengah yang menemukan proporsi tertinggi pekerjaan yaitu bertani
sebanyak 83,3%.
Data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
tekanan darah pada saat kunjungan yang terbanyak adalah 140-159/90-99 mmHg
26

(hipertensi stage 1) yaitu sebanyak 61,5% (24 orang), dan >160/100 mmHg
(hipertensi stage 2) yaitu sebanyak 38,5% (15 orang). Hal ini sejalan dengan dengan
penelitian Herke J.O. Sigarlaki tahun 2006 di Desa Bocor, JawaTengah yang
menemukan proporsi tertinggi yaitu hipertensi stage 1 sebanyak 53,3%.
Data yang didapat dari distribusi proporsi penderita hipertensi berdasarkan
lamanya menderita hipertensi yang terbanyak adalah 5 tahun yaitu sebanyak 51,3%
(20 orang), dan >5 tahun yaitu sebanyak 48,7% (19 orang).







BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai karakteristik
penderita hipertensi yang berobat di Puskesmas Amplas Kota Medan pada tanggal
29 April 17 Mei 2013 dapat diambil kesimpulan:
1. Distribusi proporsi tertinggi responden /penderita hipertensi berdasarkan
sosiodemografinya yaitu: jenis kelamin laki-laki (64,1%) ,umur 40 tahun
(87,2% ), pendidikan terakhir SD (41,0%), pendapatan Rp 1.000.000 yaitu
sebanyak 64,1%,pekerjaan responden lain-lain yaitu sebanyak 56,4%.
2. Distribusi proporsi tertinggi responden /penderita hipertensi berdasarkan
jumlah tanggungan responden adalah 2 orang yaitu sebanyak 51,3%.
27

3. Distribusi proporsi tertinggi reponden /penderita hipertensi berdasarkan
tekanan darah pada saat kunjungan adalah 140-159/90-99 mmHg (hipertensi
stage 1) yaitu sebanyak 61,5%.
4. Distribusi proporsi tertinggi reponden /penderita hipertensi berdasarkan
lamanya menderita hipertensi yang terbanyak adalah 5 tahun yaitu sebanyak
51,3%.

6.2. Saran
Dari hasil penelitian yang didapat, maka beberapa saran peneliti adalah:
1. Diharapkan pihak Puskesmas dapat meningkatkan penanggulangan dan
pengobatan penderita hipertensi ke arah yang lebih baik.
2. Diharapkan penderita hipertensi lebih sering kontrol berobat ke Puskesmas
atau ke dokter atau ke Rumah Sakit agar tekanan darahnya lebih terkontrol
dan tidak jatuh ke komplikasi hipertensi.




DAFTAR PUSTAKA

Bustan, M.N, 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Rineka Cipta. Jakarta.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi.Jakarta: EGC.

Depkes RI, 2007. InaSH Menyokong Penuh Penanggulangan Hipertensi. Jakarta:
Intimedia.

Depkes RI, 2008. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.

28

Depkes RI, 2010. Hipertensi Penyebab Kematian Nomor Tiga. Kementerian
Kesehatan RI.Jakarta.Available in:
http://www.depkes.go.id/index.php/-berita/press-release/810-hipertansi-
penyebab-kematian-nomor-tiga.html. [ Update: 23 April 2013]

Depkes RI, 2011. Penyakit Menular Penyebab Kematian Terbanyak Di Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. Jakarta. Available in:
http://www-.depkes.go-.id-/index-.php/berit-a/press-release/1637-penyakit-
tidak-menular-ptm-penyebab-kematian-terbanyak-di-indonesia.html.
[Update: 23 April 2013]

Gray, Huon H, dkk., 2003. Lecture Notes: Kardiologi Edisi Keempat. Jakarta:
Penerbit Erlangga.

Hartono, Bambang, 2011. Hipertensi The Silent Killer. Perhimpunan Hipertensi
Indonesia. Available in:
http://www.inash.or.id/upload/news_pdf/news_-DR._Drs._-
Bambang_Hartono,_SE26.pdf. [Update: 23 April 2013]

JNC, 2004. Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood
Pressure.Available in:
http://www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/jnc7full.pdf.[Update: 28
April 2013].

Joewono, Boedi Soestyo. 2003. Ilmu Penyakit Jantung. Surabaya: Airlangga
University Press.

Kamaruzaman, A.. 2010. Gambaran Tekanan Darah pada Mahasiswa/i Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara Sebelum dan Sesudah Berolahraga
29

Manik, Margaret, 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi
Pada Lansia di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Parsoburan
Kecamatan Siantar Marihat Pematangsiantar Tahun 2011.Medan: FKM
USU.

Nadesul, H. 2007. Sehat itu Murah. Jakarta: Kompas, 181-82

Ningsih, E. W, 2002. Karekteristik Penderita Hipertensi yang Dirawat Inap di
Rumah Sakait Umum Dr. Pirngadi Medan Tahun 1999-2000.FKM USU.
Medan.

Palmer, Anna. 2007. Tekanan Darah Tinggi. Erlangga. Jakarta.

Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, 1993. Proses
Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sisem Kardiovaskuler.
Jakarta: EGC.

Rubenstein, David, dkk., 2007. Kedokteran Klinis. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Ruhyanudin, Faqih. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Kardioavaskuler. Malang: UMM Press.

Sheerwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta:
EGC, 327-34.

Sigarlaki, Herke. J.O. 2006. Karakteristik Dan Faktor Berhubungan Dengan
Hipertensi Di Desa Bocor, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten
Kebumen. IKM FK.UKI. Jakarta.


Sugiharto, Aris, 2007. Faktor-Faktor Risiko Hipertensi Grade II Pada
Masyarakat.
30

Semarang: Program Pasca Sarjana UNDIP.

Wahyuni, Arlinda Sari. 2008. Statistika Kedokteran. Jakarta : Bamboedoea
Communication.

WHO, 2011. Hypertension fact sheet. Department of Sustainable Development
and Healthy Environments September 2011. Available in:
http://www.searo.who.int/linkfiles/non_communicable_diseases_hypertensio
n-fs.pdf.[Update: 23 April 2013]