Anda di halaman 1dari 8

Anatomi Sistem Saraf

1. Jaringan saraf
a. Neuron
Neuron adalah suatu sel saraf dan merupakan unit anatomi dan fungsional sistem
persarafan. Neuron terdiri dari 100 miliar jumlahnya. Struktur neuron terdiri dari
badan sel, dendrit dan akson. Badan sel lebih besar dan mengelilingi nukleus yang
di dalamnya terdapat nukleolus. Dendrit adalah tonjolan yang menghantarkan
informasi menuju badan sel. Akson adalah tonjolan tunggal dan panjang yang
menghantarkan informasi keluar dari badan sel.
Klarifikasi struktur neuron :
(a.) Neuron tanpa akson
(b.) Neuron bipolar
(c.) Neuron unipolar
(d.) Neuron multipolar
b. Neuroglia
Neuroglia adalah sel penyokong untuk neuron-neuron SSP. Neuroglia menyusun
40% volume otak dan medula spinalis. Neuroglia jumlahnya lebih banyak dari sel-
sel neuron yang berhasil diidentifikasi yaitu ; mikroglia, ependimal, astroglia, dan
oligodendroglia.
c. Sel Schwann
Sel schwan membentuk mielin maupun neurolema saraf tepi. Membran plasma sel
schwan secara konsentris mengelilingi tonjolan neuron SST.
d. Transmisi sinaps
Neruon menyalurkan sinyal-sinyal saraf ke seluruh tubuh. Kejadian listrik ini
yang kita kenal dengan impuls saraf yang bersifat listrik disepanjang neuron dn
bersifat kimia di antara neuron.secara anatomis, neuron-neuron tersebut tidak
bersambungan satu sama lain. Tempat di mana neuron disebut sinaps. Sinaps
merupakan satu-satunya tempat dimana suatu impuls dapat lewat dari satu neuron
ke neuron lainya atau efektor. Agar proses ini menjadi efektif, maka sebuah pesan
tidak selalu harus melalui perjalanan melalui akson, tetapi bisa ditransmisikan
melalui jalan lain untuk menuju sel lainya.


e. Neurotransmiter
Nuerotransmiter merupakan cara komunikasi antarneuron. Setiap neuron
melepaskan satu transmiter. Zat-zat kimia ini menyebabkan perubahan
permeabilitas sel neuron, sehingga dengan bantuan zat-zat kimia ini, neruon dapat
lebih mudah dalam menyalurkan impuls, tergantung dari jenis neuron dan
transmiter tersebut (Ganong,1999)
2. Otak
Otak manusia berisi hampir 98% jaringan saraf tubuh atau sekitar 10 miliar neuron
yang menjadi kompleks secara kesatuan fungsional.otak manusia kira-kira
merupakan 2% dari berat badan orang dewasa. Otak menerima 15% dari curah
jantung, memerlukan sekitar 20% pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 400 kilokalori
energi setiap harinya.
a. Pelindung otak
Jaringan otak dan medula spinalis dilindungi oleh tulang tengkorak dan tulang
belakang, serta tiga lapisan jaringan penyambung atau meningen, yaitu pia meter,
arakhnoid, dan dua meter. Antara lapisan pia meter dan arakhnoid terdapat
penghubung yang disebut trabekula. Dua meter juga disebut pakhimening,
sedangkan pia meter dan arakhnoid bersama-sama disebut leptomening.
b. Cairan serebrospinal
Dalam setiap ventrikel terdapat struktur khusus yang dinamakan pleksus
koroideus. Pleksus koroideus inilah yang menyekresi CSS yang jernih dan tak
berwarna, yang merupakan bantal cairan pelindung disekitar SSP. CSS terdiri atas
air, elektrolit, gas oksigen dan akrbon dioksida yang terlarut, glukosa, beberapa
leukosit (terutama limfosit), dan sedikit protein (Price,1995)
c. Ventrikel
Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling
berhubungan dan dibatasi oleh ependimal. Ventrikel ketiga terdapat dalam
diensefalon. Ventrikel keempat dalam pons dan medula oblongata. Ventrikel
lateral mempunyai hubungan dengan ventrikel ketiga melalui sepasang foramen-
interventrikularis(foramen Monro)
d. Suplai darah
suplai darah arteri ke otak merupakan suatu jalinan pembuluh-pembuluh darah
yang bercabang-cabang, saling berhubungan erat sehingga dapat menjamin suplai
darah yang adekuat untuk sel. Suplai darah ini dijamin oleh dua pasang arteri,
yaitu arteri vertebralis dan erteri karotis interna, yang memiliki cabang-cabang
yang beranastomosis membentuk sirkulus arterious serebri Wilisi.
e. Serebrum
Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dibagi oleh suatu lekuk atau
celah dalam yang disebut fisura longitudinalis mayor. Bagian luar hemisfer serebri
terdiri atas substansia grisea yang disebut sebagai korteks serebri, terletak di atas
substansia alba yang merupakan bagian dalam (inti) hemisfer dan disebut pusat
medula. Kedua hemisfer saling dihubungkan oleh suatu pita serabut lebar yang
disebut korpus kalosum.
f. Korteks serebri
Korteks serbri atau substansia grisea dari serebrum mempunyai banyak lipatan
yang disebut giri. Susunan seperti ini memungkinkan permukaan otak menjadi
luas(diperkirakan luasnya 2200cm) untuk berada di dalam rongga tengkorak yang
sempit.
g. Serebellum
Serebellum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh dua mater
yang menyerupai atap tenda, yaitu tentorium, yang memisahkannya ari bagian
posterior serebrum.
3. Batang otak
Batang otak merupakan pusat transmiter dan refleks dari SSP.
a. Pons
Pons berbentuk jembatan menghubungkan mensefalon di seblah atas dengan
medula oblongata di bawah. Pons merupakan mata rantai penghubung yang
penting pada jaras kortikoserebelaris yang menyatukan hemisfer serebri dan
serebelum.
b. Medula oblongata
Medula oblongata merupakan pusat refleks yang penting untuk jantung,
vaskonstriktor, pernapasan, bersin, batuk, menelan, pengeluaran air liur, dan
muntah.
4 Mesensefalon
Mensesefalon (otak tengah( merupakan bagian pendek dari batang otak yang letaknya
di atas pons. Secara fisiologis mensesefalon mempunyai peran yang penting dalan
pengaturan respons-respons tubuh.
Formasi retikularis
retikularis terdiri atas jaringan kompleks badan sel dan serabut yang saling terjalin
membentuk inti sentral batang otak. Bagian ini berhubungan ke bawah dengan sel-sel
intemunsial emdula spinalis dan meluas ke atas dan ke dalam diensefalon dan
telensefalon.
5 Diensefalon
Diensefalon adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan struktur-struktur
disekitar ventrikel ketiga dan membentuk inti bagian dalam serebrum.
a. Talamus
Talamus merupakan stasiun transmiter yang penting dalam otak dan juga
merupakan pengintegrasi subkortikal yang penting. Talamus terdiri atas dua
struktur ovoid yang besar.
b. Hipotalamus
Hipotalamus terletak di bawah talamus. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan
rangsangan dair sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi
tingkah laku dan emosi.
c. Subtalamus
Subtalamus merupakan nukleus ekstrapiramida diensefalon yang penting.
Subtalamus mempunyai hubungan dengan nukleus ruber, sibtansia nigra, dan
globus palidus dari ganglia basalis. Fungsinya belum jelas diketahui, tetapi lesi
pada subtalamus dapat menimbulkan disinesia dramatis yang disebut
hemibalismus.
d. Epitalamus
Epitalamus berbentuk pita sempit jaringan saraf yang membentuk atas
diensefalon. Struktur utama daerah ini adalah nukleus habanular dan komisura-
komisura posterior, striae medularis, dan epifisi
6 Saraf krranial
Komponen Saraf Kranial
a. Komponen sensorik somatik : N I, N II, N VIII
b. Komponen motorik omatik : N III, N IV, N VI, N XI, N XII
c. Komponen campuran sensorik somatik dan motorik somatik : N V, N VII, N IX, N
X
d. Komponen motorik viseral
Eferen viseral merupakan otonom mencakup N III, N VII, N IX, N X. Komponen
eferen viseral yang 'ikut' dengan beberapa saraf kranial ini, dalam sistem saraf otonom
tergolong pada divisi parasimpatis kranial.
1. N. Olfactorius
Saraf ini berfungsi sebagai saraf sensasi penghidu, yang terletak dibagian atas dari
mukosa hidung di sebelah atas dari concha nasalis superior.
2. N. Optikus
Saraf ini penting untuk fungsi penglihatan dan merupakan saraf eferen sensori khusus.
Pada dasarnya saraf ini merupakan penonjolan dari otak ke perifer.
3. N. Oculomotorius
Saraf ini mempunyai nucleus yang terdapat pada mesensephalon. Saraf ini berfungsi
sebagai saraf untuk mengangkat bola mata
4. N. Trochlearis
Pusat saraf ini terdapat pada mesencephlaon. Saraf ini mensarafi muskulus oblique
yang berfungsi memutar bola mata
5. N. Trigeminus
Saraf ini terdiri dari tiga buah saraf yaitu saraf optalmikus, saraf maxilaris dan saraf
mandibularis yang merupakan gabungan saraf sensoris dan motoris. Ketiga saraf ini
mengurus sensasi umum pada wajah dan sebagian kepala, bagian dalam hidung,
mulut, gigi dan meningen.
6. N. Abducens
Berpusat di pons bagian bawah. Saraf ini menpersarafi muskulus rectus lateralis.
Kerusakan saraf ini dapat menyebabkan bola mata dapat digerakan ke lateral dan
sikap bola mata tertarik ke medial seperti pada Strabismus konvergen.
7. N. Facialias
Saraf ini merupakan gabungan saraf aferen dan eferen. Saraf aferen berfungsi untuk
sensasi umum dan pengecapan sedangkan saraf eferent untuk otot wajah.
8. N. Statoacusticus
Saraf ini terdiri dari komponen saraf pendengaran dan saraf keseimbangan
9. N. Glossopharyngeus
Saraf ini mempersarafi lidah dan pharing. Saraf ini mengandung serabut sensori
khusus. Komponen motoris saraf ini mengurus otot-otot pharing untuk menghasilkan
gerakan menelan. Serabut sensori khusus mengurus pengecapan di lidah. Disamping
itu juga mengandung serabut sensasi umum di bagian belakang lidah, pharing, tuba,
eustachius dan telinga tengah.
10 N. Vagus
Saraf ini terdiri dari tiga komponen: a) komponen motoris yang mempersarafi otot-
otot pharing yang menggerakkan pita suara, b) komponen sensori yang mempersarafi
bagian bawah pharing, c) komponen saraf parasimpatis yang mempersarafi sebagian
alat-alat dalam tubuh.
11. N. Accesorius
Merupakan komponen saraf kranial yang berpusat pada nucleus ambigus dan
komponen spinal yang dari nucleus motoris segmen C 1-2-3. Saraf ini mempersarafi
muskulus Trapezius dan Sternocieidomastoideus.
12. Hypoglosus
Saraf ini merupakan saraf eferen atau motoris yang mempersarafi otot-otot lidah.
Nukleusnya terletak pada medulla di dasar ventrikularis IV dan menonjol sebagian
pada trigonum hypoglosi.
7 Sistem limbik
Sistem limbik mencakup nukleus dan terusan batas traktus antara serebri dan
deinsefalon yang menglilingi korpus kalosum. Sistem ini merupakan suatu
pengelompokan fungsional bukan pengelompokan anatomis yang terdiri atas
komponen serebrum, diensefalon, dan mesesefalon.
8 Saraf spinal
Saraf spinal pada manusia dewasa memiliki sekitar 45 cm dan lebar 14 mm. Pada
bagian permukaan dorsal dari saraf spinal, terdapat alur yang dangkal secara
longitudinal di bagian medial posterior berupa sulkus dan bagian yang dalam dari
anterior berupa fisura.
9 Saraf otonom
Sistem saraf otonom (SSO) merupakan sistem saraf campuran.
a. Sistem saraf simpatis
Inti ( yang di bentuk oleh sekelompok badan sel saraf ) sistem simpatis terletak di
segmen toracal dan lumbal di medulla spinalis. Karenanya sistem simpatis juga
disebut Divisi toracolumbar dari sistem saraf otonom. Akson neuron ini serat-
serat praganglion meninggalkan SSP melalui radiks ventral dan cabang-cabang
(rami). Penghubung saraf spinal bagian toracall dan lumbal. Mediator kimia dari
serabut pasca ganglion sistem simpatis adalah norepinefrin, yang juga di produksi
oleh medulla adrenal. Serabut saraf yang membebaskan neropinefrin disebut saraf
adrenergic( kata yang berasal dari noradrenalin, nama lain untuk norepinefrin).
Serabut adrenergic mempersarafi kelenjar keringat dan pembuluh darah otot
rangka . sel-sel medulla adrenal membebaskan epi nefrin dan noreepinefrin
sebagai respon terhadap stimulasi simpatis praganglion.
b. Sistem saraf otonom parasimpatis
Sistem parasimpatis memiliki inti di medulla dan mesensepalon dan di bagian
sacral medulla spinalis. Serabut praganglion dari neuron ini keluar melalui 4 saraf
cranial (III,VII,IX dan X) dan juga melalui saraf sacral ke dua, ke tiga dan ke
empat di medulla spinalis. Karenanya, sistem parasimpatis juga disebut divisi
craniosakral sistem otonom.
Neuron ke dua dari sistem parasimpatis ditemukan dalam ganglia yang lebih kecil
dari ganglia sistem simpatis, neuron ini selalu berada dekat atau di dalam organ
efektor. Neuron ini umumnya terdapat di dinding organ (misalnya, lambung,usus),
ketika terserabur gaganglion memasuki organ dan membentuk sinaps dengan
neuron ke dua dalam sistem saraf ini.
c. Konsep refleks
Reflek merupakan kejadian involunter dan tidak dapat dikendalikan oleh
kemauan. Tindakan refleks merupakan gerakan motorik involunter atau respons
sekretorik yang diperlihatkan jaringan terhadap stimulus sensorik, seperti refleks
menarik diri, bersin, batuk, dan mengedip (Sue Hinchliff,1999)


d. Sensibilitas
Informasi mengenai lingkungan dalam dan luar dapat mencapai SSP melalui
berbagai reseptor sensorik. Reseptor sensorik sering kali bersatu dengan sel-sel
non-saraf yang mengelilinginya, dan membentuk alat indra. Bentuk-bentuk energi
yang diubah oleh neurotransmitter misalnya, mekanis (raba-tekan), suhu(derajat
sensasi hangat), elektromagnetik (cahaya), dan energi kimia (bau,kecap, dan
kandungan Oksigen dalam darah).