Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN PNEUMONIA

OLEH :
Ni Nyoman Adi Pala Dewi
1102105071

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2013

PNEUMONIA
I. KONSEP DASAR PENYAKIT
A. Pengertian

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari


bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli,
serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas
setempat. (Zuh Dahlan. 2006).

Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang


mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan
di sekitarnya. Pada bronko pneumonia terjadi konsolidasi area berbercak.
(Smeltzer,2001).

Pneumonia adalah penyakit infeksi akut paru yang disebabkan terutama oleh
bakteri; merupakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang
paling sering menyebabkan kematian pada bayi dan anak balita (Said 2007).

B. Epidemiologi
Epidemologi pneumonia dapat terjadi di semua negara tetapi data untuk
perbandingan sangat sedikit, terutama di negara berkembang. Di Amerika
pneumonia merupakan penyebab kematian keempat pada usia lanjut, dengan angka
kematian 169,7 per100.000 penduduk. Tingginya angka kematian padan pneumonia
sudah dikenal sejak lama, bahkan ada yang menyebutkan pneumonia sebagai
teman pada usia lanjut. Usia lanjut merupakan risiko tinggi untuk pneumonia, hal
ini juga tergantung pada keadaan pejamu dan berdasarkan tempat mereka berada.
Pada orang-orang yang tinggal di rumah sendiri insidens pneumonia berkisar antara
2544 per 1000 orang dan yang tiaggal di tempat perawatan 68114 per 1000 orang.
Di rumah sakit pneumonia usia lanjut insidensnya tiga kali lebih besar daripada
penderita usia muda. Sekitar 38 orang pneumonia usia lanjut yang didapat di
masyarakat, 43% diantaranya disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae,
Hemophilus influenzae dan virus influenza B; tidak ditemukan bakteri gram negatif.
Lima puluh tujuh persen lainnya tidak dapat diidentifikasi karena kesulitan
pengumpulan spesimen dan sebelumnya telah diberikan antibiotik. Pada penderita
kritis dengan penggunaan ventilator mekanik dapat terjadi pneumonia nosokomial
sebanyak 10% sampai 70%.
Berdasarkan data WHO/UNICEF tahun 2006 dalam Pneumonia: The Forgotten
Killer of Children, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia untuk kasus
pneumonia pada balita dengan jumlah penderita mencapai 6 juta jiwa. Diperkirakan
sekitar separuh dari total kasus kematian pada anak yang menderita pneumonia di
dunia disebabkan oleh bakteri pneumokokus.
Pneumonia (radang paru), salah satu penyakit akibat bakteri pneumokokus yang
menyebabkan lebih dari 2 juta anak balita meninggal. Pneumonia menjadi penyebab
1 dari 5 kematian pada anak balita. Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri
yang sering menyerang bayi dan anak-anak di bawah usia 2 tahun. Sejauh ini,
pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada anak usia di bawah lima
tahun (balita).

C. Penyebab
a. Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram
posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus
pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella
pneumonia dan P. Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia
virus.
c. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada
kotoran burung, tanah serta kompos.
d. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
D. Patofisiologi/Pathways
(terlampir)
E. Klasifikasi
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :
a. Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :

Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan


opasitas lobus atau lobularis.

Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat


dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.

b. Berdasarkan faktor lingkungan :

Pneumonia komunitas

Pneumonia nosocomial

Pneumonia rekurens

Pneumonia aspirasi

Pneumonia pada gangguan imun

Pneumonia hipostatik

c. Berdasarkan sindrom klinis :

Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama


mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia
lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan
penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.

Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan


Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.

F. Tanda dan Gejala


Manifestasi klinik pneumonia menurut Mansjoer (2000):
a. Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala,
iritabel, gelisah, malaise, anoreksia, keluhan gastrointestinal.
b. Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipneu, ekspektorasi
sputum, cuping hidung, sesak napas, merintih, dan sianosis. Anak yang lebih
besar lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena
nyeri dada.
c. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi
pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, dan ronkhi.
d. Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak dada tertinggal di daerah efusi,
perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, friction rub, nyeri dada
karena iritasi pleura, kaku kuduk/meningismus (iritasi meningen tanpa

inflamasi), nyeri abdomen (kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada
pneumonia lobus kanan bawah).
Sedangkan menurut (Price,2006), yaitu:
a. Pneumonia bacterial
Tanda dan gejala awitan pneumonia pneumococus bersifat mendadak, disertai
menggigil, demam, nyeri pleuritik, batuk, dan sputum yang berwarna seperti
karat. Ronki basah dan gesekan pleura dapat terdengar diatas jaringan yang
terserang, pernafasan cuping hidung, penggunaan otot-otot aksesoris pernafasan
b. Pneumonia virus
Tanda dan gejala sama seperti gejala influenza, yaitu demam, batuk kering, sakit
kepala, nyeri otot dan kelemahan, nadi cepat, dan bersambungan (bounding)
c. Pneumonia aspirasi
Tanda dan gejala adalah produksi sputum berbau busuk, dispneu berat,
hipoksemia, takikardi, demam, tanda infeksi sekunder
d. Pneumonia mikoplasma
Tanda dan gejala adalah nadi meningkat, sakit kepala, demam, faringitis.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut Betz dan Sowden (2002) dapat dilakukan antara
lain :
a. Kajian foto thorak diagnostic, digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru
dan status pulmoner (untuk mengkaji perubahan pada paru)
b. Nilai analisa gas darah, untuk mengevaluasi status kardiopulmoner sehubungan
dengan oksigenasi
c. Hitung darah lengkap dengan hitung jenis untuk menetapkan adanya anemia,
infeksi dan proses inflamasi
d. Pewarnaan gram (darah) untuk seleksi awal antimikroba
e. Tes kulit untuk tuberkulin mengesampingkan kemungkinan TB jika anak tidak
berespons terhadap pengobatan
f. Jumlah leukosit leukositosis pada pneumonia bakterial
g. Tes fungsi paru, digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas
dan beratnya penyakit dan membantu mendiagnosis keadaan
h. Spirometri statik, digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi

i. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agens penyebabnya seperti


virus dan bakteri
j. Kultur cairan pleura spesimen cairan dari rongga pleura untuk menetapkan
agens penyebab seperti bakteri dan virus
k. Bronkoskopi, digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabang-cabang utama
dari pohon trakeobronkhial; jaringan yang diambil untuk diuji diagnostik, secara
terapeutik digunakan untuk menetapkan dan mengangkat benda asing.
l. Biopsi paru selama torakotomi, jaringan paru dieksisi untuk melakukan kajian
diagnostik.
H. Penatalaksanaan
a. Menurut Misnadiarly (2008) penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada
penyebab, sesuai yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum mencakup:

Oksigen 1-2 L/menit.

IVFD dekstrose 10 % : NaCl 0,9% = 3 : 1, + KCl 10 mEq/500 ml cairan.


Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.

Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan enteral bertahap
melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.

Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier. Koreksi gangguan
keseimbangan asam basa dan elektrolit.

b. Antibiotik sesuai hasil biakan atau berikan :


Untuk kasus pneumonia community base :

Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.

Kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberia

c. Untuk kasus pneumonia hospital base :

Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian

I. Komplikasi
Menurut Betz dan Sowden (2002) komplikasi yang sering terjadi menyertai
pneumonia adalah:

abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang,

efusi pleural adalah terjadi pengumpulan cairan di rongga pleura,

empiema adalah efusi pleura yang berisi nanah,

gagal nafas,

Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial,

meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak,

pneumonia interstitial menahun,

atelektasis adalah (pengembangan paru yang tidak sempurna) terjadi karena


obstruksi bronkus oleh penumukan sekresi

rusaknya jalan nafas,

J. Diagnosis
Pneumonia bakteri harus diperkirakan pada penderita yang tandatanda infeksinya
meliputi menggigil, demam, dan gejalagejala yang terdapat pada saluran
pernapasan bawah. Jumlah awal neutrofil yang banyak diikuti dengan kenaikan
jumlah neutrofil perifer, namun neutropenia dapat juga ditemukan, terutama pada
penderita pneumonia bakteri. Sinar X dada akan menunjukkan infiltrat, namun
pada awal perjalanan infeksi atau pada penderita dehidrasi, sinar X dapat
menyesatkan. Walaupun kumpulan penemuan ini membantu dalam memberi kesan
infeksi dalam paru, ia tidak dapat membuktikan penyebab pneumonia.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1.

Aktivitas / istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia

Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas

2.

Sirkulasi

Gejala : riwayat gagal jantung kronis

Tanda : takikardi, penampilan keperanan atau pucat

3.

Integritas Ego

4.

Gejala : banyak stressor, masalah finansial


Makanan / Cairan

Gejala : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM

Tanda : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor
buruk, penampilan malnutrusi

5.

Neurosensori

Gejala : sakit kepala bagian frontal

Tanda : perubahan mental

6.

Nyeri / Kenyamanan

7.

Gejala : sakit kepala, nyeri dada meningkat dan batuk, myalgia, atralgia
Pernafasan

Gejala : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan


dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal

Tanda : sputum ; merah muda, berkarat atau purulent

Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural

Bunyi nafas : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas
Bronkial

Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi

Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku

8.

Keamanan

Gejala : riwayat gangguan sistem imun, demam

Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada


kasus rubela / varisela

9.

Penyuluhan

Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis

B. Masalah Keperawatan
1.

Ketidakefektifan Bersihan jalan nafas b.d sputum dalam jumlah


berlebihan

2.

Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane alveolarkapiler

3.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d


ketidakmampuan mencerna dan menelan makanan

4.

Nyeri akut b.d agen cedera

5.

Hipertermi b.d peningkatan laju metabolisme, proses inflamasi

6.

Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen

C. Rencana asuhan keperawatan (noc-nic)


(terlampir)
D. Evaluasi
(terlampir)

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer,Suzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &Suddarth
volume 1.Jakarta:EGC
Johnson, M, dkk .2004. Nursing Outcome Classification (NOC). Mosby: Philadelphia
McCloskey, dkk .2004. Nursing intervention Classification (NIC). Mosby: Philadelphia
NANDA. 2012. Diagnosa Keperawatan; Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. NANDA
Internasional: Philadelphia
Price, Sylvia A.2005.Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit.Jakarta:EG