Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN BONUS DEMOGRAFI TERHADAP KEMISKINAN

Dosen Pengampu : Cahya Tri Purnami, SKM, M.Kes

Oleh :
Dina Supriyati

KONSENTRASI KESEHATAN REPRODUKSI DAN HIV AIDS


MAGISTER PROMOSI KESEHATAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014

1. Apakah ada kaitannya bonus demografi dan kemiskinan ?


Ya, bonus demografi jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan menjadi
masalah besar/bencana dikarenakan sedikitnya lapangan pekerjaan yang
tersedia untuk para angkatan kerja atau penduduk usia produktif sehingga
bisa berdampak pada meningkatnya angka ketergantungan (dependency
ratio) dilingkungan keluarga sehingga mengakibatkan semakin terpuruknya
kondisi perekonomian keluarga yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan
di masyarakat.

2. Analisis keterkaitan bonus demografi dan kemiskinan


Ketersediaan
Usia Kerja

Ketersediaan
Lapangan
Pekerjaan

Kebijakan
Pemerintah

Tingkat
Pengangguran

Kualitas
SDM

Angka
Ketergantungan

Tingkat Pendapatan
Perkapita

Kemiskinan

Tingkat
Pendidikan

Tabungan
Masyarakat

Akses
Kesehatan

Gambar 1. Kerangka Teori hubungan bonus demografi dengan kemiskinan

Perubahan struktur penduduk akibat dari transisi demografi pada


jangka panjang berdampak 1) peningkatan jumlah tenaga kerja, apabila
mendapat

mendapatkan

kesempatan

kerja

yang

produktif

akan

meningkatan pendapatan; 2) apabila ada tabungan masyarakat yang


diinvestasikan secara produktif akan terjadi penumpukan kekayaan lebih
besar; 3) apabila ada kebijakan investasi yang khusus diarahkan untuk

meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Pertumbuhan struktur


umur penduduk yang positif menjadi faktor pemicu pertumbuhan ekonomi,
dimana pertumbuhan penduduk usia kerja mempunyai hubungan positif
dengan pendapatan per kapita, sedangkan pertumbuhan penduduk
dibawah 15 tahun berpengaruh negatif.
Bonus Demografi akan terjadi kalau pertumbuhan penduduk usia
kerja yang merupakan sumber penawaran tenaga kerja mempunyai
pekerjaan

yang

menginvestasikan
ekonomi

dan

produktif

dan

tabungannya

peningkatan

kemudian
yang

bisa

dapat

kesejahteraan.

menabung

memicu

Bonus

dan

pertumbuhan

Demografi

yang

membuka peluang terbukanya The Window of Opportunity terjadi apabila


rasio penduduk non produktif dengan penduduk produktf atau usia kerja
terendah. Namun kenyataanya tidak semua wilayah yang mengalami
bonus demografi bisa memanfaatkannya dengan baik dikarenakan
keterbatasan lapangan pekerjaan dan rendahnya kualitas sumber daya
manusia sehingga banyak penduduk usia produktif tidak mendapatkan
pekerjaan yang layak bahkan menganggur sehingga hal ini bisa
berdampak pada rendahnya kualitas hidup masyarakat yang berakibat
meningkatnya

angka

ketergantungan

yang

akhirnya

menyebabkan

kemiskinan di masyarakat. Contohnya tantangan bonus demografi di


Provinsi Bengkulu dengan menggunakan hasil proyeksi penduduk supas
2005 akan terjadi bonus demografi pada tahun 2012 sampai dengan 2025
dengan puncak terendah pada tahun 2022 dengan rata-rata angka
ketergantungan 41,54 per 100 usia produktif, sedangkan menggunakan
proyeksi dengan asumsi TFR tahun 2035 sebesar 1,90 anak per wanita
akan terjadi pada tahun 2022 sampai dengan tahun 2035 dengan titik
terendah pada tahun 2032 sampai tahun 2034. Angka ketergantungan pad
usia produktif merupakan salah satu akibat dari kurangnya lapangan
pekerjaan yang memadai dan juga kualitas dari penduduk usia produktif
yang kurang memadai untuk terserap di dunia pekerjaan.
Bonus

demografi

terjadi

mulai

tahun

2012

dengan

angka

ketergantungan sebesar 44,84 per 100 usia kerja, sedang terjadi window

of opportunity terjadi pada tahun 2022 dengan angka ketergantungan


41,54 per 100 usia kerja. Persyaratan memasuki Bonus Demografi
menurut Bongaarts (2001) maupun Bloom et.al. (2003) menjelaskan
beberapa faktor penting yaitu penawaran tenaga kerja (labor supply),
peranan

perempuan,

tabungan

(savings),

dan

modal

manusia

(humancapital). Angka Aktivitas Kasar (Crude Activity Rate) yaitu jumlah


angkatan kerja penduduk usia 15 tahun keatas dibagi dengan jumlah
seluruh penduduk diatas 15 tahun keatas di Provinsi Bengkulu baru 36,57
persen dari usia kerja yang terdaftar. Dari hasil Sakernas tahun 2010
penduduk Usia 15 24 tahun sebesar 316.498 jiwa dan diantaranya 15,41
persen telah bekerja, terdiri 15,94 persen laki-laki dan 14,61 persen
perempuan, selanjutnya penduduk kelompok umur 25 54 tahun sebesar
724.899 jiwa diantara 73,06 persen telah bekerja dengan rincian 77,22
persen laki-laki dan 74,34 persen perempuan dan pada kelompok umur 55
tahun keatas sejumlah 149.611 jiwa sebesar 11,53 persen telah bekerja,
dengan rincian 11,84 persen laki-laki dan 11,05 persen perempuan.
Perkembangan dari pencari kerja dan permintaan dari penyedia
lahan kerja tahun 2010 di Provinsi Bengkulu dimana Maret 2010 ada
lonjakan permintaan dari penyedia lapangan kerja sebesar 35,36 persen
dari usia tenaga kerja yang terdaftar sedangkan lonjakan usia kerja yang
mendaftar dibandingkan dengan permintaan dari penyedia lapangan kerja
dimulai pada bulan Juli 2010 dan mencapai puncaknya pada bulan
Nopember 2010 yaitu 1.439 persen. Di Provinsi Bengkulu menurut profesi
calon tenaga kerja yang mendaftar tertinggi pada sektor tenaga
Operator/Tenaga lainnya sebesar 11.317 tenaga, disusul Usaha Penjualan
sebesar 11.050 calon tenaga kerja dan Pertanian 10.782 tenaga,
sedangkan tenaga kerja yang sudah ditempatkan tertinggi pada profesi
tenaga Operator/Tenaga lainnya sebesar 13.521 tenaga disusul tenaga
Administrasi sebesar 6.121 tenaga, untuk tenaga profesi Usaha Penjualan,
Pertanian, Tata Usaha dan Jasa tidak seimbang antara jumlah tenaga
yang tersedia dengan jumlah tenaga yang diminta. Tenaga kerja di
Provinsi Bengkulu merupakan kelompok tenaga kerja dengan tingkat

pendidikan rendah, perkembangan dari tahun 2006 sampai dengan tahun


2010 tenaga kerja di Provinsi Bengkulu tertinggi Tidak atau belum sekolah
dengan perkembangan tahun 2006 sampai tahun 2010 (19,91 persen,
16,72 persen, 19,10 persen, 24,49 persen dan 23,63 persen), tingkat
pendidikan tamat SD dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 (40,61
persen, 37,89 persen, 37,90 persen, 37,37 persen, dan 23,95 persen),
tingkat pendidikan tamatSMP perkembangan tahun 2006 sampai dengan
tahun 2010 (18,37 persen, 20,28 persen, 17 persen, 22,95 persen, 20,62
persen). Angka penyerapan Angkatan Kerja (Employment Rate) yang
menggambarkan berapa banyak dari jumlah angkatan kerja yang
menyatakan sedang bekerja pada saat pencacahan sejak tahun 2006
sampai 2010 rata-rata diatas 70 persen. Pada tahun 2006 jumlah
penduduk usia kerja 816.179 yang bekerja 72,3 persen mengalami
kenaikan pada tahun 2007 sebesar 75,62 persen dari 867.837 untuk tahun
2008 turun 3 persen menjadi 72,46 persen naik kembali menjadi 74,09
persen pada tahun 2009, untuk tahun 2010 tercatat penduduk usia kerja
855.026 terserap 71,86 persen. Sedangkan Angka pengangguran
(Unemployment Rate-UER) menunjukkan berapa banyak dari jumlah
angkatan kerja yang sedang aktif mencari pekerjaan, dari tahun 2006
sampai dengan 2010 mengalami naik turun. Pada tahun 2006 ada 311.660
bukan angkatan kerja dengan tingkat pengangguran 6,91 persen, tahun
2007 turun

menjadi 279.753 bukan

angkatan kerja dan tingkat

pengangguran 5,12 persen, sedang tahun 2008 ada 317.823 bukan


angkatan kerja dan angka pengangguran 3,98 persen, tahun 2009 bukan
angkatan kerja 303.415 dengan pengagguran 5,31 persen dan tahun 2010
sebesar 334.829 dengan tingkat pengangguran 4,59 persen. Peran
perempuan sangat besar dalam penbentukan bonus demografi dengan
keikutsertaan menjadi peserta KB telah merubah transisi demografi dan
menggeser struktur umur penduduk keusia produktif yang lebih besar,
hasil Survei Pemantauan Pasangan Usia Subur (Mini Survei PUS) tahun
2011 kesertaan ber-KB di Provinsi Bengkulu sebesar 75,5 persen dengan
74 persen menggunakan alat kontrasepsi perempuan.

Perempuan

Indonesia

sekarang

lebih

banyak

menghabiskan

waktunya lebih panjang di dunia pendidikan, makin banyak masuk ke


pasar kerja, menunda perkawinan dan mempunyai anak dua atau tiga
saja, dengan gaya hidup tersebut perempuan lebih memperhatikan
kualitas daripada kuantitas anak, sehingga ada kecenderungan tidak
segan-segan.

menginvestasikan

pendapatnya

untuk

memperoleh

pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.


Di Provinsi Bengkulu masih ada ketimpangan gender dalam masalah
kerja, dari hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) bulan Agustus
2010 Laki-laki lebih tinggi 60,63 persen bekerja dibadingkan perempuan
39,37 persen bekerja, sedangkan yang mencari kerja perempuan lebih
tinggi. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Provinsi Bengkulu sebesar
71,86 persen dengan rincian laki-laki sebesar 84,64 persen sedangkan
perempuan 58,54 persen, sedangkan Tingkat Pengangguran 4,59 persen
terdiri laki-laki 3,77 persen dan perempuan 5,83 persen. Pencari kerja
wanita tertinggi tamat SLTA ke atas sebesar 72,14 persen, tamat SLTP
12,20 persen dan tamat SD atau belum/tidak sekolah 15,63 persen.

3. Menurut saudara bagaimana bentuk kebijakan kependudukan yang dapat


mengatasi masalah tersebut?

Visi pembangunan Provinsi Bengkulu 2011-2015 Terwujudnya


Masyarakat Bengkulu yang Maju dan Sejahtera, mengandung makna
bahwa masyarakat Bengkulu dalam lima tahun ke depan harus menjadi
maju dan sejahtera.
Variabel maju ditandai dengan indikator terus meningkatnya angka
pertumbuhan ekonomi dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Variabel
sejahtera ditandai dengan indikator terus meningkatnya angka pendapatan
perkapita

serta terus menurunnya

angka

kemiskinan dan

angka

pengangguran. Pemerintah Daerah Bengkulu melalui misi pertama ingin


Pembangunan perekonomian dengan mendorong tumbuh kembangnya
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan dan kebutuhan
pokok masyarakat disemua daerah. Pembangunan perekonomian tersebut

juga harus mampu mendatangkan investor dari dalam dan luar negeri
serta mampu menjamin keberlanjutan usaha yang dikembangkan, dengan
sasaran : a) Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi menjadi sebesar 7
7,2 % tahun 2015; b) Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat
menjadi Rp. 14-15 juta tahun 2015; c) Menurunnya angka kemiskinan
menjadi sebesar 14,14 13,26 % pada tahun 2015; d) Menurunnya angka
pengangguran menjadi sebesar 2,21 - 1,8 % pada tahun 2015; e)
Meningkatkan pendapatan daerah menjadi sebesar 1,69 triliun pada tahun
2015.
Untuk mendukung kebijakan dari Pemerintah Daerah Provinsi
Bengkulu perlu beberapa langkah-langkah dengan menyiapkan menjadi
masyarakat menjadi tenaga kerja yang berkualitas dari sejak pembuahan
memperhatikan kesehatan kehamilan, gizi, pendidikan, sedangkan untuk
usia kerja diberikan pendidikan, pelatihan, pelatihan kewirausahaan,
mempermudah akses kredit serta adanya pendampingan usaha. Kebijakan
terkait jumlah penduduk diharapkan dapat berjalan optimal seperti
kebijakan keluarga berencana untuk menekan angka kelahiran. Kebijakan
pada tingkat kehamilan yaitu dengan menyediakan pelayanan kesehatan
yang prima dibidang pelayanan kesehatan pada ibu hamil agar kesehatan
ibu bisa terjaga dan kesehatan bayi akan optimal sehingga akan
melahirkan generasi penerus yang lebih baik. Di bidang pendidikan
harapannya masyarakat mampu mengakses pendidikan dengan mudah
dan murah dimana pemerintah daerah menerapkan kebijakan wajib belajar
12 tahun yang merupakan program pemerintah. Harapannya dengan
program tersebut penduduk usia kerja selanjutnya akan memiliki
keterampilan yang memadai dan bisa diterima di pasar kerja. Selain itu
juga untuk mewujudkan sasaran dari pemerintah provinsi Bengkulu
tentunya memerlukan usaha yang keras dimana penciptaan lapangan
kerja merupakan salah satu prioritas penting agar penduduk usia produktif
yang berkualitas akan terserap sehingga akan meningkatkan pendapatan
perkapita

yang

pada

akhirnya

akan

meningkatkan

kesejahteraan

masyarakat. Kesejahteraan masyarakat nantinya akan berdampak baik

kedepannya agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan akan makanan


bergizi, akses pendidikan yang lebih baik, akses kesehatan yang lebih
baik, dimana akan menciptakan masyarakat yang memiliki kualitas yang
baik sehingga bonus demografi bisa dimanfaatkan dengan baik yang akan
kembali berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. BKKBN Provinsi Bengkulu. Tantangan Mewujudkan Bonus Demografi di


Provinsi
Bengkulu.
2012.
(Online)
:
http://balatbangbengkulu.files.wordpress.com/2012/07/bonus-demografi.pdf.
Diakses tanggal 11 November 2014
2. Sukamdi, Muhadjir Darwin. Tantangan Bonus Demografi: Perlunya Respon
Terhadap Persoalan Lansia dan Tenaga Kerja. Universitas Gadjah Mada
Pusat
Studi Kependudukan dan Kebijakan.
2014. (Online)
:
(http://www.cpps.or.id/documents/Pers%20RilisTANTANGAN%20BONUS%20
DEMOGRAFI_%20Perlunya%20Respon%20Terhadap%20Persoalan%20Lan
sia%20dan%20Tenaga%20Kerja.pdf). Diakses 11 November 2014
3. Mustasya, Tata. Tepatkah Untuk Indonesia Saat Ini?. The indonesian Institute.
2005.
(Online)
:
(http://theindonesianinstitute.com/wpcontent/uploads/2005/06/05-POLICY-ASSESSMENT-Tenaga-Kerja-Fleksibeloleh-Tata-Mustasya-Juni-2005.pdf). Diakses tanggal 10 November 2014
4. BKKBN. Pembangunan Kualitas Penduduk Menuju Bonus Demografi 20152040.
2012.
(Online)
:
www.bkkbn.go.id/.../PEMBANGUNAN%20KUALITAS%20PENDUDUK.pdf.
Diakses 15 November 2014
5. World Bank. Indonesias Intergovernmental Transfer Response On Future
Demographic And Urbanization Shifts. 2012. (Online) http://wwwwds.worldbank.org/external/default/WDSContentServer/WDSP/IB/2012/05/02/
000020953_20120502161116/Rendered/PDF/684550ESW0P11900Urbanizati
on0shifts.pdf. Diakses tanggal 16 November 2014
6. Muhammad,
Isa.
Determinan
Unmeet
(Online):http//lib.ui.ac.id/file?file=digital/126978-6683Determinan%20unmet...pdf. Diakses tanggal 16 November 2014

Need.