Anda di halaman 1dari 11

ANTIBIOTIK

1. Penggolongan Obat
A. Antibiotik
Antibiotik atau antibakteri merupakan suatu zat-zat kimia yang dihasilkan
oleh jamur dan bakteri, yang berfungsi untuk menghambat atau membunuh
pertumbuhan kuman dan memiliki tingkat toksisitas yang kecil. Antibiotik
digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi. Beberapa kelompok antibiotik
antara lain penisilin, sefalopsorin, kelompok tertrasiklin, aminiglikosida,
makrolida, linkosilin, polipeptida. Berdasarkan pembuatannya antibiotik terbagi
menjadi 2 yaitu antibiotik

semisintetis dan antibiotik

sintetis. Antibiotik

semisintetis adalah antibiotik yang apabila persemian (culture substrate) diberi


zat-zat tertentu dan zat ini akan disatukan atau dicampurkan kedalam antibiotikum
dasarnya, contoh dari antibiotik
sintetis adalah antibiotik

semisintetis adalah penisilin-V. Antibiotik

yang dibuat secara sintesa kimiawi, misalnya

kloramfenikol (Tjay dan Rahardjo, 2010).


Sumardjo (2009) menyebutkan bahwa antibiotik

dibagi menjadi 2

berdasarkan penggolongan spectrum kerja antibiotik yaitu spectrum luas dan


spectrum sempit. Antibiotik spectrum luas merupakan antibiotik yang bersifat
aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negative. Antibiotik jenis ini mampu
membunuh banyak bakteri termasuk bakteri yang berguna bagi tubuh, oleh karena
itu dianjurkan untuk menghindari antibiotik jenis ini. Contoh dari antibiotik jenis
ini adalah sephalosporin. Antibiotik spectrum sempit merupakan antibiotik yang
hanya aktif pada bakteri gram positif dan gram negative saja. Antibiotik dengan
spekturm sempit hanya aktif pada satu atau beberapa jenis bakteri, tidak semua
bakteri dapat dibunuh. Contoh dari antibiotik spectrum sempit adalah penisilin G
, streptomisin, dan griseofrufin. Contoh lain dari antibiotik

spectrum sempit

adalah eritromisin yang mampu membunuh bakteri gram positif.


Antibiotik

berdasarkan daya kerjanya dibagi menjadi bakterisid dan

bakteriostatik. Antibiotik

bakterisid merupakan antibiotik

yang secara aktif

membunuh kuman. Obat yang termasuk dalam antibiotik

bakterisid adalah
1

penisilin dan sefalosporin. Obat-obatan akan mempunyai efek bakterisidal


tergantung pada dosis obat dan kadar dalam serum. Sedangkan antibiotik
bakteriostatik adalah antibiotik yang bekerja dengan mencegah atau menghambat
pertumbuhan atau perkembangbiakan bakteri, tetapi tidak membunuh bakteri
tersebut, sehingga pembasmian bakteri sangat tergantung pada daya tahan tubuh.
Beberapa obat yang termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin,
kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam
paraaminosalisilat, dll. Antibiotik tertentu (misalnya INH dan eritromisin)
aktivitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadar
antimikrobanya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal (KHM) (Kee dan
Hayes, 1996).
Adapun penggolongan antibiotik

lainnya adalah berdasarkan struktur

kimia. Penggolongan antibiotik berdasarkan struktur kimianya antara lain.


a. Aminoglikosida
Aminoglikosida dihasilkan oleh jamur streptomuces dan
micromonospora. Mekanisme kerja dari aminoglikosida yaitu
dengan bakterisida yang berpenetrasi pada dinding bakteri dan
mengikatkan diri pada ribosom dalam sel. Semua senyawa dan
turunan semi-sintesisnya mengandung dua atau tiga gula amino
didalam molekulnya, yang saling berikatan secara glukosidis.
Spectrum kerjanya luas dan banyak bacilli gram negative. Contoh
dari

aminoglikosida

antara

lain

streptomycin,

kanamycin,

gentamicin, amikasin, neomisin (Tjay dan Rahardja, 2010).


b. Beta lactam
Antibiotik

yang termasuk beta lactam adalah penisilin,

sefalosporin, dan karbapenem. Berikut adalah penjelasan masingmasingnya.


1) Penisilin
Penisilin

merupakan

suatu

agen

antibacterial

yang

didapatkan dari jamur Penicillium chrysogenum. Struktur


beta lactam penisilin akan menghambat sintesis dinding sel
2

bakteri dengan cara menghambat bakteri yang digunakan


untuk pemecahan sel dan sintesis seluler. Bakteri akan mati
akibat pemecahan sel. Penicillin dapat bersifat bakteriosidal
dan bakteriostatik tergantung pada dosis obatnya. Menurut
Kee dan Hayes (1996) ada beberapa penggolongan
penisilin yaitu

Penisilin
Contoh obat antara lain penisilin G, penisilin V,
prokain penisilin G dan bensain penisilin G.

Penisilin spectrum luas


Contoh obat anatara lain ampisilin, ampisilin
sulbuktan, amiksisilin, amoksisilin-asam klufalanat,
bekampisilin.

Penisilin resisten penisilinase


Kelompok obat ini tidak efektif melawan bakteri
gram negative. Contoh obat penisilin resisten
penisilinase

antara

lain

metisilin,

nafsilin,

kloksasilin, oksasilin, dikloksasilin.

Penisilin antipseudomonas
Penisilin antipseudomonas merupakan kelompok
obat dari penisilin spectrum luas. Penisilin ini
mampu bekerja dalam melawan pseudomonas
aeruginosa yaitu suatu gram nagatif yang sulut
dibasmi. Contohnya adalah azlosilin, karbenizilin,
mezlisilin, trikarsilin dan masih banyak lagi.

2) Sefalosporin
Sefalosporin merupakan antibiotik yang termasuk dalam
beta lactam. Sefalosporin diperoleh secara semisintetis dari
sefalosporin-C yang dihasilkan jamur Chephalosporin
acremonium. Inti senyawa ini adalah 7-ACA (7-amino3

chepalosporanic acid). Spectrum kerjanya luas yang atif


membunuh gram positif dan gram negative termasuk
E.colli. Sefalopsorin menurut Tjay dan Rahardja (2010)
digolongkan menjadi beberapa generasi antara lain.

Generasi ke-1 termasuk antibiotik

yang aktif

terhadap gram positif dan tidak tahan terhadap


betalaktamase. Digunakan secara oral pada infeksi
saluran kemih ringan, infeksi saluran pernafasan
yang tidak terlalu parah. Contohnya sefalotin dan
sefazolin, sefradin, sefaleksin dan sefadroksil.

Generasi ke-2 termasuk antibiotik yang lebih aktif


terhadap bakteri gram negative dan lebih kuat
terhadap -laktamase. Misal: sefaklor, sefamandol,
sefmetazol, sefuroksim.

Generasi ke-3 termasuk antibiotik yang lebih aktif


terhadap bakteri gram negative dan lebih luas
meliputi

pseudomonas.

Resistensi

terhadap

lactamase juga lebih kuat. Contohnya sefoperazon,


sefotaksim dan masih banyak lagi.

Generasi ke-4 termasuk jenis obat baru yang sangat


resisten terhadap lactamase.

c. Tetrasiklin
Awal nya tertrasiklin di dapat dari Streptomycesa aureofaciens
(klortetrasiklin) dan Streptomyces rimosus. Khasiat nya bersifat
bakteriostatis, hanya melalui injeksi intravena dapat dicapai kadar
plasma yang bakterisid lemah. Spektum antibakterium luas dan
dapat aktif dalam gram positif dan gram negative, tidak efektiv
terhadap Pseudomonas dan proteus. Antibiotik
tetrasiklin merupakan antibiotik

golongan

yang aman walaupun akan

memburuk pada pasien gagal ginjal.efek yang timbul pada obat ini
adalah gangguan lambung-usus (Tjay dan Rahardja, 2010).
4

2. Mekanisme Obat
A. Antibiotik
Mekanisme kerja obat antibiotik ada 4 cara yaitu.

Menghambat sintesis dinding sel bakteri yang mempunyai efek bakterisid


yaitu dapat memecah dinding sel bakteri dan penghambatan enzim dalam
dinding sel bakteri akibatnya pembentukan dinding sel tidak sempurna dan
tidak dapat menahan tekanan osmosa dari plasma, akhirnya sel akan
seperti penicillin, vankomisin, dan sefalosporin.

Pengubahan premeabilitas kapiler yang mempunyai efek bakteriostatik


dan bakteriosidal. Misalnya nistatin.

Menghambat sintesis protein mempunyai efek bakteriostatik dan


bakteriosidal. Dapat mengganggu sintesis protein tanpa mempengaruhi
sel-sel normal. Cara yang dilakukan dengan melekatkan diri ke ribosom
akibatnya

sel

terbentuknya

tidak

sempurna,

seperti

tetrasiklin,

kloramfenikol, streptomosin, dan aminoglikosida.

Mengganggu metabolism didalam sel

Antibiotik

memiliki cara kerja sebagai bakterisid yaitu mampu

membunuh bakteri secara langsung dan bekerja sebagai bakteriostatik yaitu


menghambat pertubuhan bakteri dengan mekanisme pertahanan tubuh inang
seperti fagositosis dan produksi antibiotik akan merusak mikroorganisme. Bakteri
mempunyai dinding sel yang yang terdiri dari jaringan makromolekuler disebut
peptidoglikan. Kerja antibiotik yaitu mencegah sintesis peptidoglikan sehingga
sel akan melemah dan sel akan mengalami lisis. Ribosom merupakan mesin untuk
menyintesis protein. Sel eukariot memiliki riboson 80s, sedangkan sel prokariot
70s. perbedaan struktur ribosom ini mempengaruhi toksisitas selektif antibiotik
yang dapat mempengaruhi sintesis protein.

3. Pembahasan
A. Pembahasan Obat
a) Definisi obat

Parasetamol merupakan obat analgesic non narkotik yang cara


kerjanya menghambat sintesis prostaglandin terutama di system
saraf pusat. Daya kerja parasetamol yaitu selain sebagai analgesic
juga bekerja sebagai antipiretik dan anti radang. Parasetamol
banyak digunakan karena mempunyai efek samping yang kecil
(Tjay dan Rahardja, 2010).

Amoksisilin merupakam jenis antibiotik golongan penisilin yang


sering digunakan untuk infeksi penyakit yang disebabkan oleh
infeksibakteri (Tjay dan Rahardja, 2010).

Metronidazole
antibiotik yang cukup baik untk bakteri anaerob, yakni bakteri
yang dapat hidup tanpa membutuhkan oksigen. Bakteri jenis ini
biasanya hidup di dalam luka tertutup atau di dalam organ tubuh,
misal pada luka kaki penderita kencing manis (diabetes) yang
biasanya sudah terdapat nanah, pada infeksi perut bagian dalam.

Chlorhexidine
Chlorhexidine merupakan jenis penggolongan antimikroba yang
mempunyai spektum yang cukup luas. Obat ini memiliki sifat
bakteriostatik dan bakterioid baik untuk gram positif ataupun gram
negative. Mekanisme kerjanya yaitu dengan merusak membrane
sel.

b) Indikasi dan Kontraindikasi

Parasetamol
Indikasi Parasetamol yaitu penanganan bagi pasien demam dan
nyeri sebagai antipiretik dan analgetik. Parasetamol digunakan
bagi nyeri yang ringan sampai sedang. Menurut Yoe (2014)
kontraindikasi parasetamol adalah pasien dengan gangguan hati

berat dan hipersensitifitas terhadap obat analgesic golongan


NSAID.

Amoksisilin
Indikasi pemakaian amoksisilin yaitu pasien dengan infeksi kulit
dan jaringan lunak yang disebabkan oleh streptococcus, E.colli.
Pasien dengan infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran empedu,
dan saluran seni. Kontraindikasi yang amoksisilin adalah pasien
yang hipersensitifitas pada amoksisilin, penisilin (Yoe, 2014).

Metronidazole
Penderita yang hipersensitif terhadap metronidazole atau derivat
nitroimidazol lainnya dan kehamilan trimester pertama. Indikasi
metronidazole antara lain efektif untuk pengobatan trikomoniasis,
amebiasis, dan sebagai obat pilihan giardiasis.

Chlorhexidine
Indikasi : periodontitis, gingivitis, ulkus aptosa. Kontraindikasi :
pasien yang alergi terhadap chlorhexidine (Yoe, 2014).

c) Dosis Terapetik

Parasetamol
Dosis parasetamol untuk dewasa 300mg-1g per kali minum,
dengan maksimum 4g per hari, untuk anak 6-12 tahun: 150-300
mg/kali minum, dengan maksimum 1,2g/hari. Untuk anak 1-6
tahun: 60mg/kali minum, pada keduanya diberikan maksimum 6
kali sehari (Yoe, 2014).

Amoksisilin
Dosis terapetik amoksisilin yang tepat diberikan pada dewasa dan
anak-anak yang berat badannya diatas 20kg sebanyak 200-500 mg
perhari setiap 8 jam. Anak-anak dengan berat badan kurang dari
20kg sebanyak 20-40mg per hari diberikan tiap 8jam (Yoe, 2014).

Metronidazole
Metronidazol tablet tersedia dalam ukuran 250 mg dan 500 mg.
Untuk kapsul, metronidazol tersedia dalam ukuran 375 mg.
Sedangkan dalam kemasan botol infusan, metronidazol tersedia
dalam ukuran 500 mg/100ml. Dosis metronidazol sebagai terapi
infeksi anaerob (misal pada luka diabetes atau infeksi organ dalam
tubuh) ialah 7,5 mg/kg berat badan sebanyak 3-4 kali sehari selama
7-10 hari. Dosis maksimal ialah 4 gram per hari .

Chlorhexidine
Dosis terapetik yang diberikan adalah 2 kali sehari sebanyak 10ml
setiap kali kumur (Yoe, 2014).

B. Pembahasan Skenario
a) Skenario
Sekar 7 tahun dating bersama ibunya ke klinik gigi ternama di kota
Purwokerto dikarenakan bengkak pada pipi yang sudah terjadi 3 hari
yang lalu. Berdasarkan pemeriksaan dokter gigi didapat informasi bahwa
area pipi kanan yang bengkak berwarna merah, hangat dan keras pada
palpasi, terasa sakit dan kesulitan membuka mulut yang agak lebar, suhu
tubuh 39 derajat celcius. Pada pemeriksaan intraoral tampak gigi yang
tinggal akar dan bau mulut yang tajam. Dokter gigi kemudian
memberikan resep obat untuk mengatasi kondisi akutnya dan disuruh
datang lagi 5-7 hari kemudian untuk mencabut giginya yang tinggal akar.
Resep obat yang diberikan dokter gigi adalah paracetamol tiap 4 jam,
amoxicilin yang dikombinasi dengan metronidazole tiap 3 kali sehari
selama 7 hari dan obat kumur yang mengandung chlorhexidine 3 kali
sehari.
b) Kasus
Informasi yang didapat dari kasus :
Bengkak pada pipi sudah 3 hari yang lalu
Pipi kanan bengkak berwarna merah, hangat, keras, terasa sakit
dan sulit membuka mulut
8

Suhu tubuh 39 derajat celcius


Gigi tinggal akar dan bau mulut

Berdasarkan scenario tersebut dapat didiagnosa pasien terkena infeksi


odontogenik. Infeksi odontogenik merupakan infeksi yang disebabkan oleh
bakteri dan terjadi di pulpa dental, jaringan periodontium, tulang rahang, atau
pada jaringan yang dekat dengan titik infeksi. Infeksi dapat menyebar secara
langsung dan tidak langsung. Infeksi secara langsung yang terlokalisasi menjadi
abses pada jaringan lunak. Abses yang menyebar melalui mukosa oral atau kulit
dapat menimbulkan kavitas yang terhubung dengan sinus. Abses dapat juga
menyebar melalui jaringan lunak, menghasilkan selulitis. Infeksi tidak langsung
menggunakan rute limfonodi. Stase infeksi odontogenik terdiri dari tiga tahap.
Pada

hari

pertama

sampai

hari

ketiga,

timbul

pembengkakkan

yang

konsistensinya masih lunak. Antara hari ke lima hingga ke tujuh, bagian tengah
lebih melunak dan semakin mudah ditekan, dan pus sudah mulai terlihat. Pada
fase akhir, yaitu fase resolusi abses akan terasa padat dan keras (Balaji, 2009).
Dental treatmen yang dilakukan dokter gigi harus sesuai prosedur yaitu
dengan melakukan pemeriksaan visual terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan
pemeriksaan subjektif. Pada kasus tersebut dokter gigi telah melakukan palpasi
yang hasilnya adalah positif karena pasien merasa sakit bila ada tekanan. Dokter
gigi tersebut tidak melakukan tindakan pencabutan karena saat pasien datang
kondisi nya masih sakit dan dokter hanya memberikan obat sebagai penghilang
rasa nyeri. Obat yang diberikan adalah parasetamol, amiksisilin yang
dikombinasikan dengan metronidazole dan chlorheksidin. Tujuan diberikan obat
parasetamol agar rasa nyeri dapat ditekan atau mereda setelah pasien
mengkonsumsi parasetamol dan agar suhu tubuh pasien turun. Pemberian
amoksisilin yang dikombinasikan dengan metronidazole bertujuan untuk
menyembuhkan infeksi yang ada pada pasien. Pengkombinasian ini sangat tepat
karena metronidazole mempunyai spectrum anti-protozoa dan antibacterial yang
luas dan berkhasiat kuat terhadap entamoeba dan semua protozoa pathogen
anaerob. Karena infeksi odontogenik termasuk kedalam infeksi yang di sebabkan
9

oleh bakteri anaerob dan aerob, maka dengan memberi amoksisilin yang
dikombinasikan dengan metronidazole dapat dengan mudah mumbuhun bakteri
tersebut. Pemberian chlorheksidin bertujuan untuk meencegah timbulnya plak
yang ada di rongga mulut karena semakin banyak plak maka kemungkinan besar
bakteri akan lebih senang berkembangbiak didalam rongga mulut yang penuh
dengan plak.

10

DAFTAR PUSTAKA

Balaji, S. M. 2009., Textbook of Oral and Maxillofacial Surgery, Elsavier, India.


Hayes, E.R., Kee, J.L., 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, EGC,
Jakarta.
Sumardjo, D., 2009, Pengantar Kimia : Buku Panduan Mahasiswa Kedokteran dan
Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta, EGC, Jakarta.
Tjay, T., H., Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan EfekEfek Sampingnya Edisi ke 6, Gramedia, Jakarta.
Yeo, Ben., 2014, Master Index of Medical Specialities Edisi Bahasa Indonesia Volume
15, BIP, Jakarta.

11