Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pada era timbulnya ancaman berbagai macam penyakit menular,
hendaknya jangan mengabaikan pentingnya pencegahan dan pengendalian infeksi
di fasilitas pelayanan kesehatan (FPK) untuk mencegah kejadian luar biasa. Pola
penyebaran ISPA yang utama adalah melalui droplet yang keluar dari
hidung/mulut penderita saat batuk atau bersin. Penularan juga dapat terjadi
melalui kontak (termasuk kontaminasi tangan oleh sekret saluran pernapasan,
hidung, dan mulut) dan melalui udara dengan jarak dekat saat dilakukan tindakan
yang berhubungan dengan saluran napas.6
Beberapa ISPA dapat menyebabkan KLB dengan angka mortalitas dan
morbiditas yang tinggi, sehingga menyebabkan kondisi darurat pada kesehatan
masyarakat dan menjadi masalah internasional. Langkah-langkah perlindungan
lainnya diindikasikan untuk ISPA yang berpotensi menjadi KLB seperti SARS, flu
burung pada manusia, atau patogen lain yang belum diketahui pola
penyebarannya.6
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan
kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang
terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
40-60% dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh
kematian yang disebabkan ISPA mencakup 20-30%. Kematian yang terbesar
umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2
bulan.Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang berobat dalam
keadaan berat dan sering disertai penyulit dan kurang gizi.
Dari data di Puskesmas Lubuk Kilangan, jumlah kejadian ISPA pada laporan
tahunan 2009

adalah 2.901 dan pada laporan triwulan 1 adalah 2.089.

berdasarkan tingkat kasus yang tinggi ini maka kami akan mengangkat makalah

ini dengan judul Upaya Penurunan Kejadian ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas
Lubuk Kilangan.
I.2 Perumusan Masalah
Apa faktor yang menyebabkan tingginya kejadian ISPA di wilayah

kerja Puskesmas Lubuk Kilangan?


Bagaimana upaya penurunan kejadian ISPA di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk Kilangan?

I.3 Tujuan Penulisan

Mengidentifikasi masalah yang terdapat pada Puskesmas Lubuk

Kilangan.
Menemukan prioritas masalah yang terdapat pada Puskesmas Lubuk

Kilangan.
Mengidentifikasi masalah tingginya kejadia ISPA di wilayah kerja

Puskesmas Lubuk Kilangan.


Mencari alternatif solusi untuk menurunkan kejadian ISPA di wilayah

kerja Puskesmas Lubuk Kilangan.


Menentukan Plan of action dari masalah tingginya kejadian ISPA di
wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan.

I.4 Manfaat Penulisan


Sebagai bahan masukan bagi petugas Puskesmas Lubuk Kilangan
sehingga dapat dijadikan sebagai solusi alternative dalam menurunkan

kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan.


Sebagai bahan pembelajaran bagi dokter muda dalam menerangkan
problem solving cycle.

BAB II
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS
II.1 Sejarah Puskesmas
Puskesmas Lubuk Kilangan ini didirikan diatas tanah wakaf yang
diberikan KAN yang pada tahun 1981 dengan Luas tanah 270 M 2 dan Gedung
Puskesmas sendiri didirikan pada tahun 1983 dengan luas bangunan 140 M 2
dimana saat itu Pimpinan Pusksmas yang pertama adalah dr. Meiti Frida dan pada
tahun itu juga Puskesmas mempunyai 1 buah Pustu Baringin.
Pembangunan Puskesmas ini dibiayai dari APBN. Pelayanan yang
diberikan saat itu meliputi BP, KIA dan Apotik. Dengan Jumlah pegawai yang ada
pada saat itu sekitar 10 orang dan sampai saat ini telah mengalami pergantian
Pimpinan Puskesmas sebanyak 11 kali.
Pada Tahun 1997 telah dilakukan rehabilatasi Puskesmas secara maksimal,
karena adanya keterbatasan lahan, rumah dinas paramedis yang ada pada saat itu
dijadikan kantor dan juga ada penambahan beberapa ruangan pelayanan lainnya.
Saat sekarang kondisi bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan sudah
permanen terdiri dari beberapa ruangan kantor seperti: BP, KIA, Gigi, Labor, KB,
Apotik, Imunisasi dengan jumlah pegawai yang ada sebanyak 52 orang termasuk
Pustu. Walaupun demikian bangunan Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang
masih belum mempunyai gudang obat dan gudang gizi (PMT), ruangan khusus
Pelayanan Lansia.
Pelayanan Puskesmas Lubuk Kilangan yang diberikan saat ini adalah 6
Pelayanan Dasar yaitu: Yankes, P2P, Kesga, Promkes, Kesling dan Program
inovatif (untuk Puskesmas Lubuk Kilangan saat sekarang Program inovatif Belum
berjalan).
II.2 Kondisi Geografis
Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi seluruh Wilayah
Kecamatan Lubuk Kilangan dengan luas Daerah 85,99 Km 2 yang terdiri dari 7
kelurahan dengan luas:
a.

Kelurahan Batu Gadang

: 19.29 Km2

b.

Kelurahan Indarung

: 52.1 Km2

c.

Kelurahan Padang Besi

: 4.91 Km2

d.

Kelurahan Bandar Buat

: 2.87 Km2

e.

Kelurahan Koto Lalang

: 3.32 Km2

f.

Kelurahan Baringin

: 1.65 Km2

g.

Kelurahan Tarantang

: 1.85 Km2

Adapun batas-batas Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan adalah


sebagai berikut:
a.

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pauh

b.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Solok

c.

Sebelah Barat berbatas dengan Kecamatan Lubuk Begalung

d.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bungus Teluk


Kabung

Gambar 2.1 Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Kilangan

II.3 Kondisi Demografi


Jumlah Penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan adalah 43.532 Jiwa yang terdiri dari
10.707 KK dengan perincian sebagai berikut:
a. Kelurahan Bandar Buat

: 11.172 jiwa dan 2.743 KK

b. Kelurahan Padang Besi

: 6.211 jiwa dan 1.610 KK

c. Kelurahan Indarung

: 10.669 jiwa dan 2.632 KK

d. Kelurahan Koto Lalang

: 6.378 jiwa dan 1.550 KK

e. Kelurahan Batu Gadang

: 5.828 jiwa dan 1.489 KK

f. Kelurahan Baringin

: 1.226 jiwa dan 244 KK

g. Kelurahan Tarantang

: 2.048 jiwa dan 439 KK

Dengan jumlah 42RW dan 161 RT dengan perincian sebagai berikut:


a. Kelurahan Batu Gadang

: 4 RW/ 18 RT

b. Kelurahan Indarung

: 12 RW/ 44 RT

c. Kelurahan Padang Besi

: 4 RW/ 20RT

d. Kelurahan Bandar Buat

: 11 RW/ 40 RT

e. Kelurahan Koto Lalang

: 7 RW/ 27 RT

f. Kelurahan Baringin

: 2 RW/ 5 RT

g. Kelurahan Tarantang

: 2 RW/ 7 RT

Sasaran Puskesmas
Jumlah penduduk

: 43.532 Jiwa

Bayi (0-11 Bulan)

: 904 Jiwa

Bayi (6-11 Bulan)

: 542 Jiwa

Anak Balita (24-60 Bulan)

: 3506 Jiwa

Balita (0-60 Bulan)

: 4410 Jiwa

Ibu Hamil (Bumil)

: 995 Jiwa

Ibu Nifas (Bufas)

: 949 Jiwa

Ibu Bersalin

: 949 Jiwa

Ibu meneteki (Buteki)

: 1808 Jiwa
5

Lansia

: 3138 Jiwa

WUS

: 9287

II.4 Sarana dan Prasarana


a.

Sarana Pendidikan
SMU/SMK

: 3 Unit

SLTP

: 4 Unit

SD : 23 Unit
TK : 15 Unit
b.

Sarana Kesehatan
Puskesmas Lubuk Kilangan memiliki sarana:
Puskesmas Induk

: 1 Unit

Puskesmas Pembantu

: 3 Unit

Pustu Indarung

Pustu Batu Gadang

Pustu Baringin

Rumah Sakit PT Semen Padang

: 1 Unit

Mobil Puskesmas Keliling

: 1 Unit

Motor Dinas

: 4 Unit

Komputer

: 2 Unit

Mesin Tik

: 2 Unit

Laptop

: 1 Unit

LCD/Infocus

: 1 Unit

c.

Prasarana Kesehatan
Posyandu Balita

: 41 Buah

Posyandu Lansia

: 11 Buah

Kader Kesehatan

: 164 Orang

Praktek Dokter Swasta

: 5 orang
6

Praktek Bidan Swasta

: 21 orang

Pos UKK : 3 Pos


Pengobatan Tradisional
Toga

: 38 Buah

: 27 Buah

II.5 Ketenagaan

Dokter Umum
Dokter Gigi
Sarjana Kesehatan Masyarakat
Akper
SPK
Akbid
Bidan (D I)
Asisten Apoteker
AKL
AAK
Perawat Gigi
Pekarya Kesehatan
SMA
SMP

: 4 Orang
: 2 Orang
: 3 Orang
: 6 Orang
: 6 Orang
: 6 Orang
: 13 Orang
: 2 Orang
: 1 Orang
: 1 Orang
: 2 Orang
: 3 Orang
: 2 Orang
: 1 Orang

II.6 Kondisi Sosial, Budaya dan Ekonomi Penduduk


a. Kondisi Sosial dan Budaya
Suku terbesar yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan adalah Suku Minang, juga ada suku
lainnya, yaitu Jawa dan Batak. Mayoritas agama yang dianut masyarakatnya adalah
Islam( 43.451 Jiwa) dan Kristen dan Katolik (80 Jiwa).
b. Kondisi Ekonomi
Mata pencaharian penduduk umumnya adalah pegawai negeri, swasta, buruh, dan tani.

II.7 Struktur Puskesmas


STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS LUBUK KILANGAN
DEWAN PENYANTUN

PIMPINAN PUSKESMAS
Drg Euis Yoyo.

CAMAT

TATA USAHA
YESSI GUSMINARTI, SKM

PERENCANAAN
Drg. Euis Yoyo
Drg. Afridawati

KEUANGAN
Hj. Afridawarni
Hayati
Yusmawarni

PERLENGKAPAN &
Inventaris
Desmiavita.D
Hj. Fitri Dewi

Dr. Reni Angraini


Dr. Dezilia Arzie

KOORDINATOR YAN MEDIK


Dr. Dezilia Arzie
Pj. BP
: Elva Nora

KOORDINATOR YANKESMAS
Drg. Afridawati
Pj. Promkes:Frisna Devi,SKM

Pj. KIA Ibu : Nelwida

Pj. Kesehatan Lingkungan :Ernawati,AmKl

Pj. KIA Anak

:Sefnita

Pj. BP Gigi :Drg. Afridawati

Pj. Apotik

Pj. Gudang Obat


Yulesphina

: Widani

Pj. Laboratorium
Susanti,AmAk

: Esi

:Titin Haryani

Pj. MR

:Yusmawarni

Pj. KB

: Hj. Fitri Dewi

P2M

Pj.
Imunisasi
:Ermay
ani
Pj. DBD
:Adsemar Tati Budi
Pj. TB Paru dan Kusta :Damsiar
Pj. Rabies
: Marini MS, Amd.Kep
Pj. Malaria
:Adsemar Tati Budi
Pj. Diare
:Marina Yulia Ningsih
Pj. Surveilans
: Marry Denita Wati
Pj. Campak
: Marry Denita Wati

Pj. Kesehatan Olah Raga


Marini MS, Amd.Kep

Pj. P3K/IGD: Damsiar

Pj. ISPA

:Marry Denita Wati

Pj. SP2TP : Yessi Gusminarti, SKM

Pj. Gizi

: Renita, SKM

Pj. Kesehatan Jiwa : Marini MS

Pj. Lansia :Yusnidar

PUSTU INDARUNG
Mortianis

PUSTU BATU GADANG


BAB
Fitriani

PUSTU BARINGIN
Hj. Erliza HB

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1. Pengertian ISPA


ISPA merupakan salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian dan
angka kesakitan pada balita dan bayi di Indonesia. Dalam Pelita IV penyakit tersebut
mendapat prioritas tinggi dalam bidang kesehatan (Depkes, 1998).2
Infeksi Saluran Pernafasan Akut merupakan sekelompok penyakit kompleks dan
heterogen yang disebabkan oleh berbagai penyebab dan dapat mengenai setiap lokasi di
sepanjang saluran nafas (WHO, 1986).2
ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang benar II ISPA
merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan
bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah.1
ISPA berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah
organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus,
ruang telinga tengah dan selaput paru.1
Beberapa ISPA dapat menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) dengan angka mortalitas
dan morbiditas yang tinggi, sehingga menyebabkan kondisi darurat pada kesehatan masyarakat
dan menjadi masalah internasional. Langkah-langkah perlindungan lainnya diindikasikan untuk
ISPA yang berpotensi menjadi KLB seperti SARS, flu burung pada manusia, atau patogen lain
yang belum diketahui pola penyebarannya.5

III.2. Morbiditas dan mortalitas


Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian
seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering
disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi (3). Data morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia
per tahun berkisar antara 10 -20 % dari populasi balita. Bila kita mengambil angka morbiditas 10
% pertahun, ini berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia di Indonesia berkisar 2,3 juta.
Penderita yang dilaporkan baik dari rumah sakit maupun dari Puskesmas pada tahun 1991 hanya
berjumlah 98.271. Kejadian ISPA pada balita lebih sering terjadi di daerah perkotaan
dibandingkan pada balita di daerah pedesaan. Seorang anak yang tinggal di daerah perkotaan

akan mengalami ISPA sebanyak 5-8 episode setahun, sedangkan bila tinggal di pedesaan sebesar
3-5 episode (WHO, 1992).2,4
Diperkirakan bahwa separuh dari penderita pneumonia didapat pada kelompok umur 0-6
bulan (6). Insiden ISPA anak di negara berkembang maupun negara yang telah maju tidak
berbeda, tetapi jumlah angka kesakitan di negara berkembang lebih banyak (WHO, 1992).
Berbagai laporan menyatakan bahwa ISPA anak merupakan penyakit yang paling sering pada
anak, mencapai kira-kira 50% dari semua penyakit balita dan 30% pada anak usia 5-12 tahun.
Umumnya infeksi biasanya mengenai saluran nafas bagian atas, hanya kurang dari 5% yang
mengenai saluran pernafasan bawah.
III.3. Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
1.

Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam

2.
3.

(chest indrawing).
Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa
tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis
tergolong bukan pneumonia (4).
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA.

Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2
bulan sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :
1. Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian
bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu
60 kali per menit atau lebih.
2. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding
dada bagian bawah atau napas cepat.
Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

10

1.

Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian
bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam

2.

keadaan tenang tldak menangis atau meronta).


Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan
adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit

3.

atau lebih.
Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian
bawah dan tidak ada napas cepat.

III.4. Etiologi
Mayoritas penyebab dari ISPA adalah oleh virus, dengan frekuensi lebih dari 90% untuk
ISPA bagian atas, sedangkan untuk ISPA bagian bawah frekuensinya lebih kecil (WHO, 1984).
Dalam Harrisons Principle of Internal Medicine disebutkan bahwa penyakit infeksi saluran
nafas akut bagian atas mulai dari hidung, nasofaring, sinus paranasalis sampai dengan laring
hampir 90% disebabkan oleh viral (Adams dkk, 1988), sedangkan infeksi akut saluran nafas
bagian bawah hampir 50% diakibatkan oleh bakteri di mana Streptococcus Pneumonia adalah
yang bertanggung jawab untuk kurang lebih 70-90%, sedangkan Stafilococcus Aureus dan H.
Influenza sekitar 10-20% (Robert, 1986). Saat ini telah diketahui bahwa infeksi saluran
pernafasan akut ini melibatkan lebih dari 300 tipe antigen dari bakteri maupun virus tersebut
(WHO, 1984).2
Adapun virus-virus (agen non bakterial) yang banyak ditemukan pada ISPA bagian bawah
pada bayi dan anak-anak adalah Respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, parainfluenza,
dan virus influenza A & B.2
III.5. Faktor resiko
Beberapa faktor risiko yang telah diketahui antara lain, malnutrisi, kelahiran dengan berat
badan rendah (BBLR), pemberian ASI, kepadatan hunian, sosioekonomi yang rendah, imunisasi
tidak lengkap, asap rokok, cuaca, pendidikan orang tua, dan lain-lain. Sedangkan beberapa
lainnya masih diperdebatkan, seperti peran vitamin A. Secara umum faktor risiko dapat
dikelompokkan menjadi faktor diri (host) dan faktor lingkungan (Koch et al, 2003).2
11

1. Faktor host (diri)


a. Usia
Kebanyakan infeksi saluran pernafasan yang sering mengenai anak usia dibawah 3
tahun, terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak pada
usia muda akan lebih sering menderita ISPA daripada usia yang lebih lanjut (Koch et al,
2003).
b. Jenis kelamin
Angka kesakitan ISPA sering terjadi pada usia kurang dari 2 tahun, dimana angka
kesakitan ISPA anak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki di negara Denmark (Koch et
al, 2003)
c. Status gizi
Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama dikenal, kedua
keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu merupakan predisposisi yang lainnya
(Tupasi, 1985). Pada KKP, ketahanan tubuh menurun dan virulensi patogen lebih kuat
sehingga menyebabkan keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi, sedangkan
salah satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi
anak.
d. Status imunisasi
Tupasi (1985) mendapatkan bahwa ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan
peningkatan penderita ISPA walaupun tidak bermakna. Hal ini sesuai dengan penelitian lain
yang mendapatkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang cukup
berarti dalam mencegah kejadian ISPA (Koch et al, 2003).
e. Pemberian suplemen vitamin A

12

Pemberian vitamin A pada balita sangat berperan untuk masa pertumbuhannya, daya
tahan tubuh dan kesehatan terutama pada penglihatan, reproduksi, sekresi mukus dan untuk
mempertahankan sel epitel yang mengalami diferensiasi.

f. Pemberian air susu ibu (ASI)


ASI dapat memberikan imunisasi pasif melalui penyampaian antibodi dan sel-sel
imunokompeten ke permukaan saluran pernafasan atas (William and Phelan, 1994).
2. Faktor lingkungan
a. Rumah
Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih tinggi menderita
ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah culster di Denmark (Koch et al, 2003).
b. Kepadatan hunian (crowded)
Kepadatan hunian seperti luas ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan
masyarakat diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian oleh Koch et al (2003)
membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi secara bermakna prevalensi
ISPA berat.
c. Status sosioekonomi
Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi yang rendah
mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak
ada hubungan antara status ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi
yang bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status sosioekonomi
(Darmawan,1995).
d. Kebiasaan merokok

13

Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai kemungkinan terkena
ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari
penelitian lain didapat bahwa episode ISPA meningkat 2 kali lipat akibat orang tua merokok
(Koch et al, 2003)
e. Polusi udara
Diketahui bahwa penyebab terjadinya ISPA dan penyakit gangguan pernafasan lain
adalah rendahnya kualitas udara didalam rumah ataupun diluar rumah baik secara biologis,
fisik maupun kimia. Tingkat pencemaran menjadi tidak berbeda dengan wilayah dengan
tingkat pencemaran tinggi sehingga tidak ada lagi tempat yang aman untuk semua orang
untuk tidak menderita gangguan saluran pemafasan. Hal ini menunjukkan bahwa polusi udara
sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit ISPA. Adanya ventilasi rumah yang kurang
sempurna dan asap tungku di dalam rumah mempermudah terjadinya ISPA anak (Mishra,
2003).2
III.6

Manifestasi Klinis
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan

gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat
dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin
meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang
lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan
tidak menjadi lebih berat. Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan
tanda-tanda laboratoris.1,3
Tanda-tanda klinis
1.

Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding
thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir

2.

dan wheezing.
Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac

3.

arrest.
Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil
bendung, kejang dan coma.
14

4.

Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.


Tanda-tanda laboratoris yang ditemukan yaitu hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosia baik

secara metabolik atau repsiratorik.1,3


Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa
minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak
golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya
menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran
menurun, stridor, Wheezing, demam dan dingin.1,3
III.7

Penatalaksanaan ISPA
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan

penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk
pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi
penatalaksanaan kasus mencakup promosi dan pencegahan termasuk petunjuk tentang pemberian
makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA
(4). Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :3
III.7.1
1.

Pengobatan pada ISPA

Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus , di beri
oksigen dan sebagainya.

2.

Pneumonia: diberi obat antibiotik melaui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika
terjadi alergi atau tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin.

3.

Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk
batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung
zat yang merugikan. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.
Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya
bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang
tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.1

III.7.2

Pencegahan dan Pemberantasan


15

Pencegahan dapat dilakukan dengan :


Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
Immunisasi.
Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.
Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.1
Pemberantasan yang dilakukan adalah :
Penyuluhan kesehatan yang terutama di tuj ukan pada para ibu.
Pengelolaan kasus yang disempurnakan.
Immunisasi.1
III.7.3

Pelaksana pemberantasan

Tugas pemberatasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala


Puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya.4
Sebagian besar kematiaan akibat penyakit pneumonia terjadi sebelum penderita mendapat
pengobatan petugas Puskesmas. Karena itu peran serta aktif masyarakat melalui aktifitas kader
akan sangat membantu menemukan kasus-kasus pneumonia yang perlu mendapat pengobatan
antibiotik (kotrimoksasol) dan kasus-kasus pneumonia berat yang perlu segera dirujuk ke rumah
sakit. 4,1
Dokter puskesmas mempunyai tugas sebagai berikut : 5
1.

Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana dan

2.

tenaga yang tersedia.


Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar kasus-kasus

3.

ISPA kepada perawat atau paramedis.


Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus- kasus pneumonia berat/penyakit dengan
tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke rumah

4.
5.

sakit bila dianggap perlu.


Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke rumah sakit.
Bersama dengan staff puskesmas memberi kan penyuluhan kepada ibu-ibu yang
mempunyai anak balita. perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta

6.

tindakan penunjang di rumah,


Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang di beri wewenang
mengobati penderita penyakit ISPA,
16

7.

Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan

8.

penyuluhan terhadap ibu-ibu tentang penyaki ISPA,


Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan evaluasi keberhasilan pemberantasan
penyakit ISPA. menditeksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk
aktifitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.

Paramedis Puskesmas pembantu


1.
2.

3.
4.
5.

Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai petunjuk yang ada.


Melakukan konsultasi kepada dokter Puskesmas untuk kasus-kasus ISPA tertentu seperti
pneumoni berat, penderita dengan weezhing dan stridor.
Bersama dokter atau dibawah, petunjuk dokter melatih kader.
Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu.
Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan Puskesmas sehubungan dengan
pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA.5

Kader kesehatan
1.

2.

Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak
berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia.
Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan
pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu
dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit.5

BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Identifikasi Masalah
Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan wawancara dengan
staf puskesmas dan menganalisis laporan tahunan puskesmas. Beberapa potensi masalah yang
berhasil diidentifikasi di puskesmas Lubuk Kilangan adalah:
1. Rendahnya partisipasi masyarakat ke posyandu

17

Berdasarkan

laporan tahunan puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2009 serta diskusi

dengan pemegang program, pencapaian D/S di posyandu bayi masih rendah di banding target
yang telah ditetapkan oleh dinas kesehatan kota Padang. Jumlah sasaran yang ditetapkan DKK
adalah sebesar 904 bayi (65%) sedangkan angka pencapaian D/S bayi di Puskesmas lubuk
Kilangan tahun 2009 adalah 555 bayi (56%). Dari data ini didapatkan kesenjangan sebesar 9 %.
Tabel 1. Hasil Pencapaian program PROMKES Tahun 2009
PENCAPAIAN (%)

TARGET (%)

KESENJANGAN
(%)

56

65

-9

96

100

-4

PENYULUHAN LUAR GEDUNG

93

100

-7

PEMBENTUKKAN DESA SIAGA

4 KEL

7 KEL

-3 KEL

POSYANDU AKTIF

41 (100%)

41 (100%)

POSYANDU LANSIA AKTIF

11 BUAH

7 BUAH

+4

KADER AKTIF

87

90

-3

JUMLAH TOGA

28

JUMLAH POD

NO

URAIAN

1
2

D/S
PENYULUHAN
GEDUNG

DALAM

2. Rendahnya cakupan penemuan TB Paru (CDR= Case Detection Rate) di kecamatan Lubuk
Kilangan
Berdasarkan laporan tahunan puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2009 serta diskusi
dengan pemegang program dan pimpinan puskesmas, pencapaian CDR TB Paru masih jauh di
bawah target yaitu sebesar 22% (15 orang), sedangkan target sasaran CDR TB Paru yang
ditetapkan Dinas Kesehatan Kota yaitu sebesar 70 % (68 orang). Dengan demikian didapatkan
kesenjangan yang cukup jauh yaitu sebesar 48%.
Tabel 2. Data CDR TB Paru di Puskesmas Lubuk Kilangan 2008-2009
NO Kinerja Puskesmas

Target

/ %

Hasil

Kesenjangan
18

Sasaran
A

Pencapaian

TB Paru
1. Angka Penemuan 68

70

13

19

-51

BTA + 2008
2. Angka Penemuan 68

70

15

22

-48

BTA + 2009

3. Masih rendahnya pencapaian target pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Lubuk Kilangan
Pada tahun 2009, dari laporan tahunan bagian KIA di Puskesmas Lubuk Kilangan,
didapatkan angka pemberian ASI Eksklusif yang rendah, yakni hanya 79,7 % sedangkan target
pemberian ASI eksklusif adalah 100%. Dari data tersebut didapatkan kesenjangan sebanyak
33,8%.

Tabel 3. Hasil Pencapaian Program KIA Tahun 2009


NO

KINERJA

SASARAN

ANC
K1
K4
RESTI
NEONATUS
PERSALINAN
IBU MENYUSUI
ASI EKSKLUSIF

995
995
994
995
904
945
1088
1088

2
3
4
5
6

TARGET (%)

95
90
20
84
85
100
100

HASIL
/
%
PENCAPAIAN

KESENJAN
GAN

968

+ 2.2%
+ 0.1 %

897
199
773
826
2701
110
721

97.2
90.1
20
85.5
87.4
149.3
6.1
66,2

+ 1.5 %
+ 2.4 %

33.8 %

4. Tingginya angka Total Goiter Rate (TGR) di kecamatan Lubuk Kilangan


19

Dalam laporan pemetaan Gangguan Akibat Kekurangan Garam Yodium (GAKY) serta
diskusi dengan pemegang program gizi , diketahui bahwa kecamatan Lubuk Kilangan
mempunyai angka TGR yang cukup besar, yaitu sebesar 29,9%. Dimana angka tersebut
mempunyai makna bahwa daerah tersebut termasuk kedalam daerah endemik sedang.
Demikian juga data yang didapatkan dari pemeriksaan garam yang mengandung iodium
dengan menggunakan

iodina test, hasilnya menunjukan bahwa sebanyak 87,1 % yang

menggunakan garam beryodium, sedangkan yang tidak menggunakan garam beryodium sebesar
12,9 %.
Tabel 4. Data Survey Pemetaan GAKY Kota Padang
TGR menurut Kecamatan Tahun 2009
Kecamatan
Padang Barat
Nanggalo
Bungus Tel. Kabung
Padang Utara
Koto Tangah
Padang Selatan
Kuranji
Padang Timur
Pauh
Lubuk Kilangan
Lubuk Begalung
Kota Padang

Total Goiter Rate


2006
25,5
21,4
44,5
19,2
40,0
27,9
32,1
19,6
20,1
14,8
25,2
26,4

2009
17,3
12,5
13,6
30,1
14,2
26,4
37,5
16,7
26,9
29,9
23,8
21,4

Tabel 5. Pemakaian garam yang mengandung Yodium dengan Iodina Test Menurut Kelurahan di
Kecamatan Lubuk Kilangan
Kelurahan
Indarung
Koto Lalang
Bandar Buat
Batu Gadang
Padang Besi
Tarantang
Baringin
Kecamatan Lubuk Kilangan

Garam + Mengandung Yodium (%)


20
96
93,75
56,25
87,5
100
100
87,1

20

5. Tingginya angka kejadian ISPA di puskesmas Lubuk Kilangan


Berdasarkan laporan tahunan puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2009 serta diskusi
dengan pemegang program dan pimpinan puskesmas, jumlah penderita ISPA di BP & KIA masih
merupakan penyakit terbanyak. Dalam laporan tahunan puskesmas tahun 2009, angka kejadian
ISPA di puskesmas Lubuk Kilangan adalah 2901. Sedangkan jumlah angka kejadian ISPA dari
laporan triwulan I Puskesmas tahun 2010 adalah 2089. Angka ini terlihat semakin meningkat dari
sebelumnya.

IV.2 Penentuan Prioritas Masalah


Adanya beberapa masalah yang ditemukan di puskesmas Lubuk Kilangan harus
ditentukan prioritas masalahnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan puskesmas. Upaya
yang dilakukan untuk menentukan prioritas masalah tersebut adalah menggunakan teknik scoring
sebagai berikut:
1. Urgency (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan )
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
Nilai 5 : sangat penting
2. Kemungkinan Intervensi
Nilai 1 : tidak mudah
Nilai 2 : kurang mudah
Nilai 3 : cukup mudah
Nilai 4 : mudah
Nilai 5 : sangat mudah

21

3. Biaya
Nilai 1 : sangat mahal
Nilai 2 : mahal
Nilai 3 : cukup mahal
Nilai 4 : murah
Nilai 5 : sangat murah

4. Kemungkinan meningkatkan mutu


Nilai 1 : sangat rendah
Nilai 2 : rendah
Nilai 3 : sedang
Nilai 4 : tinggi
Nilai 5 : sangat tinggi
Tabel 6. Penilaian Prioritas Masalah di Puskesmas Lubuk Kilangan
Kriteria
Urgency
1.
Rendahnya

Intervensi

Biaya

Mutu

Total

Ranking

11

12

IV

Kilangan
3. Masih rendahnya 4

14

III

partisipasi
masyarakat

ke

posyandu
2.Rendahnya cakupan
penemuan TB Paru
(CDR=
Detection
kecamatan

Case
Rate)

di

Lubuk

pencapaian

target

pemberian

ASI

Eksklusif
puskesmas

di
Lubuk
22

Kilangan
4. Tingginya angka
Total

Goiter

Rate

(TGR) di kecamatan

16

15

II

Lubuk Kilangan
5. Tingginya angka
kejadian

ISPA

puskesmas

di

Lubuk

Kilangan

Berdasarkan penilaian prioritas masalah di atas, didapatkan masalah dengan nilai


tertinggi yaitu tingginya angka kejadian goiter di kecamatan Lubuk Kilangan. Selanjutnya urutan
kedua yaitu tingginya angka kejadian ISPA di Puskesmas Lubuk Kilangan. Untuk itu, kami
mencoba mengangkat permasalahan tingginya angka kejadian ISPA ini sebagai topik POA.
IV.3 Analisis Sebab Akibat Masalah
Angka kejadian ISPA di Puskesmas Lubuk Kilangan menempati urutan tertinggi diantara
penyakit-penyakit lain. Hal ini terlihat dari data laporan tahunan puskesmas tahun 2009 dan
laporan triwulan I puskesmas tahun 2010.
Tabel 7. Laporan tahunan puskesmas tahun 2009
No

Penyakit

Jumlah

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Ispa
Peny.Kulit lainnya
Diare
Gastritis
Rematik
Kel.Refraksi
Peny.pilpa dan jaringan peripikal
Infeksi bawah kulit
Hipertensi
Konjungtivitis

2901
472
366
345
226
216
208
191
81
79

23

Tabel 8. Laporan triwulan I tahun 2010 puskesmas lubuk kilangan


No

Penyakit

Jumlah

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Ispa
Gastritis
Pen. Pulpa & peripikal
Rematik
Peny. kulit lainnya
Diare
Peny.kulit infeksi
Peny.rongga mulut & kelenjar ludah
Scabies
Hipertensi

2089
446
406
390
375
215
201
167
148
87

Berdasarkan penilaian prioritas

dan data diatas, kami menganggap perlunya upaya

penurunan angka kejadian ISPA di puskesmas Lubuk Kilangan. Pada tahap awal, dilakukan
wawancara dengan pemegang program ISPA mengenai tingginya kejadian ISPA di Puskesmas
Lubuk Kilangan. Dari hasil wawancara dan catatan laporan tahunan, penyebab tingginya
kejadian ISPA tersebut, antara lain :
1. Manusia
Kurangnya pengetahuan dan tindakan masyarakat dalam melindungi diri agar
resiko terkena ISPA berkurang. Hal ini di dukung oleh hasil pengolahan kuisioner
yang menyatakan bahwa 63% masyarakat tidak tahu bagaimana cara melindungi
diri agar resiko terkena ISPA berkurang dan 84% masyarakat tidak melindungi

dirinya.
Kebiasaan merokok tinggi. Hal ini didukung oleh hasil pengolahan kuisioner

yang menyatakan bahwa 89% anggota keluarganya ada yang merokok.


Anggapan masyarakat bahwa ISPA adalah penyakit yang biasa dan belum pernah

ada laporan tentang kematian ISPA di Puskesmas.


2. Material
Kurangnya sarana (media) penyampaian informasi mengenai ISPA dan cara
pencegahan seperti poster, leaflet, spanduk di pos pelayanan kesehatan
(Puskesmas induk, Puskesmas pembantu, Posyandu) dan di tempat-tempat umum
( halte, sekolah, pasar). Hal ini berdasarkan wawancara dengan pemegang
program dan bagian promosi kesehatan bahwa tidak mencukupinya pembagian
24

poster, leaflet, spanduk dari Dinas Kesehatan Kota ke puskesmas dan pelayanan
kesehatan lain.
3. Metode
Jadwal penyuluhan ISPA yang belum teratur. Berdasarkan wawancara dengan
pemegang program dan bagian Promosi Kesehatan bahwa belum ada waktu yang
rutin untuk penyuluhan ISPA.
4. Lingkungan
Daerah lubuk kilangan merupakan kawasan industri pabrik semen
Polusi udara tinggi karena banyaknya asap kendaraan bermotor dan pabrik.
Berdasarkan wawancara dengan petugas Puskesmas dan masyarakat bahwa
penyaringan dari pabrik di matikan pada malam hari. Hal ini terlihat dari tebalnya
debu di atap rumah- rumah penduduk.

Manusia :
Lingkungan :
hubungan sebab akibat, maka
dibuat diagram
sebab akibatdan
(diagram
Kurangnya
pengetahuan
tindakan
> DaerahUntuk
lubukmenunjukkan
kilangan merupakan
tulang ikan
atau diagram
ischikawa) sebagai berikut :
kawasan
industri
pabrik semen

masyarakat dalam melindungi diri agar

> Polusi udara tinggi karena banyaknya

resiko terkena ISPA berkurang

asap kendaraan bermotor dan pabrik

Kebiasaan merokok tinggi


Anggapan masyarakat bahwa ISPA adalah
25
penyakit yang biasa dan belum pernah ada
laporan tentang kematian ISPA

Tingginya kejadian
ISPA di Puskesmas
Lubuk Kilangan

Metode :

Material :
Kurangnya sarana (media) penyampaian

Jadwal penyuluhan ISPA

informasi

yang belum teratur

pencegahan
spanduk,

mengenai
seperti
stiker

di

ISPA dan
poster,
pos

cara

leaflet,
pelayanan

kesehatan dan di tempat-tempat umum


( halte, sekolah, pasar)

IV.4 Alternatif pemecahan masalah


1. Manusia
Meningkatkan pengetahuan warga masyarakat mengenai cara melindungi diri agar resiko
terkena penyakit ISPA berkurang
Rencana
:
o Melakukan penyuluhan interaktif mengenai ISPA dan cara melindungi diri agar
resiko terkena penyakit ISPA berkurang
o Membuat dan menyebarkan leaflet atau pamphlet mengenai melindungi diri agar
resiko terkena penyakit ISPA berkurang
Pelaksana
: Petugas puskesmas??? (promkes n pemegang program)
26

Pelaksanaan
Sasaran
Target

: satu kali sebulan pada minggu ke dua ( bukan hari pasar).


: Masyarakat di Kecamatan Lubuk Kilangan
: Masyarakat mengetahui mengenai penyakit ISPA dan cara

melindungi dirinya agar resiko terkena penyakit ini berkurang


Indikator
:
Penyuluhan mengenai ISPA terlaksana 1 kali sebulan secara rutin dan lancar.
Tersedianya leaflet/ pamphlet/ poster yang menarik mengenai ISPA di setiap
tempat pelayanan kesehatan (Puskesmas induk, Puskesmas Pembantu, posyandu)
di Kecamatan Lubuk Kilangan dan di tempat-tempat umum (halte, pasar, sekolah).
2. Material
Penambahan media penyuluhan, seperti leaflet dan poster penyuluhan ISPA dan cara
melindungi diri agar resiko terkena penyakit ISPA berkurang di tempat pelayanan
kesehatan (Puskesmas induk, Puskesmas Pembantu, posyandu) di Kecamatan Lubuk
Kilangan dan di tempat-tempat umum (halte, pasar, sekolah).
Rencana
:
o Pertemuan kepala Puskesmas dan Dinas kesehatan Kota tentang
penambahan penyediaan media penyuluhan.

Pelaksana
Pelaksanaan
Sasaran
Target

: Pimpinan Puskesmas, Dinas Kesehatan Kota, Pemegang program.


: September 2010
: Dinas Kesehatan Kota
: Dinas Kesehatan Kota menyediakan penambahan media

penyuluhan seperti leaflet dan poster penyuluhan ISPA.


Indikator
: Tersedianya leaflet/ pamphlet/ poster mengenai ISPA di setiap
tempat pelayanan kesehatan (Puskesmas induk, Puskesmas Pembantu, posyandu) di
Kecamatan Lubuk Kilangan dan di tempat-tempat umum (halte, pasar, sekolah).
3. Metode
Jadwal penyuluhan ISPA teratur
Rencana : Membuat jadwal tetap penyuluhan ISPA
Pelaksana : Pemegang program P2P-ISPA dan bagian Promosi Kesehatan.
Pelaksanaan : satu kali sebulan
Penyuluhan dalam gedung ( hari senin minggu ke dua )
Penyuluhan di luar gedung pada minggu ke dua ( bukan hari pasar).
Sasaran : Pengunjung puskesmas dan masyarakat kecamatan Lubuk Kilangan

27

Target :Pengunjung puskesmas masyarakat mendapat penyuluhan mengenai ISPA


secara rutin dan teratur.
Indikator : Jadwal penyuluhan ISPA teratur dan pengunjung puskesmas serta
masyarakat mendapat penyuluhan mengenai ISPA secara rutin dan teratur.
4. Lingkungan
Mengurangi polusi udara dengan melakukan penghijauan
Rencana
: Mengajak masyarakat Kecamatan Lubuk Kilangan untuk
menanam pohon di perbatasan jalan raya terutama Kelurahan Bandar Buat, Indarung
dan Padang Besi.
Pelaksana

: Pemegang program, Kesehatan lingkungan ,promosi

kesehatan, Camat, Lurah, RT, RW , Dinas Kehutanan dan Masyarakat Kecamatan


Lubuk Kilangan.
Pelaksanaan
Sasaran

: Pada saat diadakan bulan cinta alam, bulan November.


: Masyarakat Kecamatan Lubuk Kilangan terutama

Kelurahan Bandar Buat, Indarung dan Padang Besi.


Target
: Terciptanya penghijauan di Kecamatan Lubuk Kilangan terutama
Kelurahan Bandar Buat, Indarung dan Padang Besi.
Indikator
: Lingkungan asri dan polusi udara berkurang

28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa faktor yang menyebabkan masih tingginya
kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan adalah :

Kecamatan Lubuk Kilangan merupakan kawasan industri pabrik semen


Polusi udara tinggi karena banyaknya asap kendaraan bermotor dan pabrik
Kurangnya pengetahuan dan tindakan masyarakat dalam mengurangi resiko agar tidak

terkena penyakit ini


Kebiasaan merokok tinggi
Anggapan masyarakat bahwa ISPA adalah penyakit yang biasa dan belum pernah ada

laporan tentang kematian ISPA


Kurangnya sarana (media) penyampaian informasi mengenai ISPA dan cara pencegahan
seperti poster, leaflet, spanduk, stiker di pos pelayanan kesehatan (Puskesmas induk,

Puskesmas Pembantu, Posyandu) dan di tempat-tempat umum ( halte,sekolah,pasar).


Jadwal penyuluhan ISPA yang belum teratur

V.2 Saran

Berdasarkan analisis sebab akibat masalah di atas, maka diperlukan alternatif solusi
masalah dari berbagai factor yang menyebabkan tingginya kejadian ISPA di wilayah kerja

Puskesmas Lubuk Kilangan.


Sebaiknya dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang ISPA secara teratur.
Dibutuhkan penambahan penyediaan media penyuluhan seperti leaflet dan poster
penyuluhan ISPA di setiap tempat pelayanan kesehatan (Puskesmas induk, Puskesmas
Pembantu, posyandu) di Kecamatan Lubuk Kilangan dan di tempat-tempat umum (halte,

pasar, sekolah).
Mengadakan penghijauan lingkungan di di perbatasan jalan raya Kecamatan Lubuk
Kilangan terutama Kelurahan Bandar Buat, Indarung dan Padang Besi.

1.

DAFTAR PUSTAKA
Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan tahun 2009
29

2.

Rasmaliah, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Penanggulangannya. Fakultas

3.
4.

Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara: 2004


www.doctorology.net, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), :2009
Bimbingan Ketrampilan Dalam Penatalaksanaan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada

5.

Anak. Jakarata, :10 ,1991.


Pusdiklat Kesehatan Depkes dan WHO, Bahan Pembelajaran Peningkatan Mutu
Penatalaksanaan ISPA melalui Pendekatan Competency Based Training (CBT), CD ROM

6.

Versi 01: 2003


Aide-Memoire, Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cenderung epidemi dan
Pandemi, Pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan,
www.who.intl: 2008

Lampiran 1
KUISIONER
UPAYA PENURUNAN KEJADIAN ISPA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LUBUK KILANGAN
Identitas Responden
No.Responden
:
Umur
:
Alamat
:
Pekerjaan
:
Pendidikan terakhir
:
Jumlah anggota keluarga saat ini

Petunjuk pengisian kuisioner


30

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sesuai dengan apa yang anda ketahui
Jawaban diisi atau dilingkari dengan mencantumkan alasan yang jelas.

A. PENGETAHUAN
1. Apakah Ibu/Bapak pernah menderita gejala penyakit pernafasan seperti batuk-batuk/
pilek/ sesak nafas yang berlangsung tidak dalam waktu lama?
a. pernah
b. tidak pernah
2. Menurut Ibu/Bapak, faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan gejala batuk-batuk/
pilek/ sesak nafas tersebut?
.
3. Apakah Ibu/Bapak tahu bagaimana cara melindungi diri agar tidak menderita gejala
batuk-batuk/ pilek/ sesak nafas ?
a. tahu
b. tidak tahu
4. Jika tahu, menurut Ibu/ Bapak bagaimana cara melindungi diri agar tidak menderita
gejala batuk-batuk/ pilek/ sesak nafas ?
.
5. Apakah Ibu/Bapak mengetahui bahaya merokok?
a.Ya

b. Tidak

6. Jika ya , sebutkan apa saja bahaya merokok?


.
7. Darimanakah ibu mendapatkan informasi tersebut?
a. Penyuluhan
b. Kader

c. Media massa (TV,radio,Koran,dll


d. Lain-lain, sebutkan

8. Menurut Ibu/ Bapak, bagaimana ventilasi yang baik untuk rumah?

B. SIKAP
9.

Menurut Ibu/Bapak, alat perlindungan diri agar tidak terkena penyakit pernafasan itu
penting/tidak?
a.

Ya

b. tidak

Alasannya..
10.

Apakah Ibu/ Bapak, juga menyarankan orang disekitar ibu untuk melindungi dirinya
agar tidak terkena penyakit pernafasan ?
a.Ya

b. tidak
31

11.

Menurut Ibu/ Bapak, adanya pohon di pekarangan rumah Ibu/Bapak penting atau
tidak?
a. penting
b. tidak penting
Alasannya..

C. TINDAKAN
12. Apakah Ibu/ Bapak melindungi diri agar tidak terkena penyakit pernafasan seperti
batuk-batuk, pilek dan sesak nafas?
a. ya
b. tidak
13. Jika ya, bagaimana caranya?
..
14. Apakah ada anggota keluarga Ibu/ Bapak yang merokok?
a. ada
b. tidak ada
15. Jika ada, sebutkan berapa ramai yang merokok?

16. Apa ada ventilasi yang cukup dalam setiap ruangan rumah Ibu/ Bapak?
a. cukup
b. kurang
17. Apakah dirumah Ibu/Bapak ada kipas angin/ ac diruangan yang sering digunakan
oleh keluarga?
a.

ada

b. tidak ada

18. Apakah Ibu/ Bapak sudah melakukan penghijauan di pekarangan rumah?


a.
sudah
b. belum
19. Jika belum, alasannya?
.

32

Lampiran 2
Hasil Pengolahan Kuesioner Upaya Penurunan Angka Kejadian ISPA di Wilayah Kerja
Puskesmas Lubuk Kilangan
A.
1.

PENGETAHUAN
Apakah Ibu/Bapak pernah menderita gejala penyakit pernafasan seperti batuk-batuk/
pilek/ sesak nafas yang berlangsung tidak dalam waktu lama?

2.

Menurut Ibu/ Bapak, faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan penyakit tersebut?

3.

Apakah Ibu/Bapak tahu bagaimana cara melindungi diri agar tidak menderita penyakit
pernafasan ?

4.

Jika ya, bagaimana caranya?

33

5.

Apakah Ibu/Bapak mengetahui bahaya merokok?

6. Jika ya , sebutkan apa saja bahaya merokok?

7. Darimanakah ibu mendapatkan informasi tersebut?

34

8. Apakah Ibu/Bapak mengetahui ventilasi rumah yang baik?

9. Menurut Ibu/ Bapak, bagaimana ventilasi yang baik untuk rumah?

B.

SIKAP
9. Menurut Ibu/Bapak, alat perlindungan diri agar tidak terkena penyakit pernafasan itu
penting/tidak?

35

10. Apakah Ibu/ Bapak, juga menyarankan orang disekitar ibu untuk melindungi dirinya
agar tidak terkena penyakit pernafasan ?

11. Menurut Ibu/ Bapak, adanya pohon di pekarangan rumah Ibu/Bapak penting atau tidak?

C.

TINDAKAN
12. Apakah Ibu/ Bapak melindungi diri agar tidak terkena penyakit pernafasan seperti batukbatuk, pilek dan sesak nafas?

36

13. Jika ya, bagaimana caranya?

14. Apakah ada anggota keluarga Ibu/ Bapak yang merokok?

37

15. Apa ada ventilasi yang cukup dalam setiap ruangan rumah Ibu/Bapak?

16. Apa disediakan kipas angin/ ac dalam setiap ruangan utama (ruangan sering digunakan
keluarga)?

17. Apakah Ibu/ Bapak sudah melakukan penghijauan di pekarangan rumah?

38

18. Jika belum, alasannya?

39