Anda di halaman 1dari 108

Infus NaCl 0,9%

PT. INFUS International For The Health

Disusun Oleh :
MAISARAH BASARANG

N21113044

HAROLD B. TANI

N21113045

ASMIRA AZISAH NUR

N21113046

HAFLAH

N21113047

IIN FITRIANA PAKATA

N21113048

ASLIATI AMIR

N21113763

ANDI ATIRAH. M

N21113764

IQRANA A. R

N21113765

FADILLAH MARYAM

N21113766

NURAINI

N21113767

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan pendidikan dan status sosial masyarakat di
waktu

peradaban

ini

berdampak

positif

terhadap

peningkatan

kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Masyarakat


menjadi lebih cerdas dalam menanggapi masalah kesehatan yang
terjadi, seperti pemilihan obat yang

terbaik dengan berbagai

pertimbangan. Masyarakat akan cenderung memilih obat dengan


kualitas terbaik, aman, dan bisa terjangkau secara ekonomi.
Faktor- faktor yang menjadi pertimbangan di atas sangat
dipertimbangkan oleh pihak produksi obat yaitu idustri farmasi. Industri
farmasi mempunyai peranan penting dalam kesehatan. Produk obatobatan merupakan komoditas yang digunakan oleh masyarakat secara
langsung terutama pada kondisi yang dibutuhkan. Oleh karena itu
industri farmasi mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab
sosial untuk menyediakan obat yang aman, bermutu, berkualitas serta
dengan harga yang terjangkau masyarakat.
Industri farmasi sebagai salah satu usaha yang bergerak di
bidang ekonomi, selain bertujuan mengejar keuntungan

(profit

oriented) untuk pengembangannya juga harus memperhatikan kualitas


produk obat yang dihasilkan. Untuk menjaga mutu obat, pemerintah
pada tahun 1994 telah mengambil kebijakan yang mengharuskan
setiap industri farmasi untuk menerapkan Cara Pembuatan Obat yang
Baik (CPOB). CPOB ini merupakan petunjuk umum untuk memastikan
agar sifat dan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan yang
dikehendaki

sehingga

ada

jaminan

bagi

masyarakat

untuk

memperoleh obat dengan mutu yang baik. Pemerintah telah mengatur


hal

tersebut

melalui

Keputusan

Menteri

Kesehatan

No.

43/MenKes/II/1988 tentang Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik


(CPOB). Sekarang, terdapat versi yang diperbaharui yaitu cGMP

(current Good Manufacturing Practices) yang lebih dikenal dengan


istilah CPOB Terkini. CPOB memuat seluruh aspek dalam rangkaian
pembuatan obat antara lain Personalia, bangunan, peralatan sanitasi
dan higienis, produksi, sistem pengawasan mutu, inspeksi diri,
penanganan terhadap hasil pengamatan, keluhan dan penarikan
kembali obat yang beredar serta dokumentasi.
Seorang

farmasis/apoteker

sebagai

profesi

yang

membidangi obat-obatan memiliki peran dan tanggung jawab besar


dalam pelaksanaan CPOB itu sendiri dalam industry farmasi. Oleh
karena itu seorang apoteker/ farmasis harus mengetahui pelaksanaan
CPOB itu sendiri untuk diterapkan di dunia kerja nantinya khususnya
untuk area industri farmasi. Makalah ini disusun untuk memaparkan
langkah prosedur CPOB yang dilakukan mulai dari awal produksi obat
dari peran marketing sampai produksi obat yang akhirnya beredar dan
digunakan masyarakat umum. Sediaan yang dijadikan sebagai contoh
sediaan adalah infus NaCl 0,9%. sebagai cairan infus yang paling
banyak dibutuhkan oleh masyarakat.
B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
Mengetahui proses produksi berdasarkan CPOB dari tahapan
awal sampai peluncuran produk ke masyarakat dari sediaan infus
NaCl 0,9%.
2. Tujuan
Untuk mengerti dan memahami tahapan-tahapan proses
produksi berdasarkan CPOB dari tahapan awal sampai peluncuran
produk ke masyarakat dari sediaan infus NaCl 0,9%.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Industri Farmasi
1. Pengertian Industri Farmasi
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.
245/MenKes/SK/V/1990

tentang

petentuan

dan

Tata

Cara

Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi. Industri


Farmasi adalah Industri Obat Jadi dan Industri Bahan Baku Obat.
Definisi dari obat jadi yaitu sediaan atau paduan bahan-bahan yang
siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelediki sistem
fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan
dan kontrasepsi.
2. Persyaratan Industri Farmasi
Persyaratan

industri

farmasi

tercantum

dalam

Surat

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 245//Menkes/SK/V/1990


adalah sebagai berikut:
a. Industri farmasi merupakan suatu perusahaan umum, badan
hukum berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi.
b. Memiliki rencana investasi.
c. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
d. Industri farmasi obat jadi dan bahan baku wajib memenuhi
persyaratan CPOB sesuai dengan ketentuan SK Menteri
Kesehatan No. 43/Menkes/SK/II/1988.
e. Industri farmasi obat jadi dan bahan baku, wajib mempekerjakan
secara tetap sekurang-kurangnya dua orang apoteker warga
Negara Indonesia, masing-masing sebagai penanggung jawab
produksi dan penanggung jawab pengawasan mutu sesuai
dengan persyaratan CPOB.
f. Obat jadi yang diproduksi oleh industri farmasi hanya dapat
diedarkan

setelah

memperoleh

izin

edar sesuai

ketentuan perundang-undangan yang berlaku.


3. Struktur Organisasi dalam Industri Farmasi

dengan

Industri farmasi tentu memiliki beberapa personil yang


memegang peranan penting (personil kunci) dalam industri yang
dikelolanya. Personil kunci tersebut antara lain Kepala Bagian
Produksi, Kepala Bagian Pengawasan Mutu atau Quality Control
(QC), dan Kepala Bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) atau
Quality Assurance (QA) posisi utama tersebut dijabat

oleh

personalia purna waktu. Kepala Bagian Produksi dan Kepala


Bagian Manajemen Mutu ( Pemastian Mutu ) Kepala Bagian
Pengawasan Mutu harus independen satu terhadap yang lain.
Dibawah ini adalah bagan/struktur organisasi industri farmasi
menurut CPOB terkini dimana PT. INFUS International For The
Health mengacu pada struktur organisasi ini.

PT. INFUS International For The Health merupakan sebuah


industri yang bergerak di bidang farmasi. Perusahaan ini didirikan
pada tanggal 09 September 2009. PT. INFUS International For The
Health berlokasi di Kawasan Industri Sulawesi Selatan, yang
mementingkan keasrian lingkungan. Nama perusahaan INFUS
yang berarti International for Yours Health, dimana kami ingin
menjadi sarana kesehatan yang bertaraf Internasional. Adapun logo

yang kami gunakan menggunakan sebilah pisau berwarna merah


yang dapat memacu semangat kami untuk mampu bersaing
dengan perusahaan-perusahaan lain. Latar logo kami merupakan
warna orange yang bermakna sering dianggap sebagai warna dari
inovasi dan pemikiran modern. Warna ini juga mengandung arti
muda, fun, serta keterjangkauan.
Logo

Adapun visi
serta

dan

misi,

motto

perusahaan ini yaitu :


VISI PT. INFUS:
MENJADI PERUSAHAAN FARMASI DENGAN PERTUMBUHAN
TERCEPAT DI INDONESIA YANG TERINTEGRASI, MODERN
INOVATIF SERTA MENJADI MITRA PILIHAN PERTAMA BAGI
PARA PELANGGANNYA
MISI PT. INFUS:
Memuaskan seluruh stakeholder melalui :

Inovasi produk dan desain serta perbaikan berkesinambungan.


Menyediakan produk bermutu dengan biaya rendah.
Pelayanan prima kepada seluruh aspek kesehatan di Indonesia
Pengembangan sumber daya manusia dengan mencetak tenaga

manusia yang potensial dan berdaya guna tinggi.


Ikut berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan masyarakat
luas.
MOTTO INFUS adalah 5B:

Dalam industri farmasi terdapat struktur organisasi yang terdiri dari:


1. Direktur
Sebagai pemilik perusahaan dan pemilik saham terbesar
dalam perusahaan, maka posisi ini memiliki beberapa bawahan
yang merupakan posisi/jabatan yang berperan sangat dalam
kelangsungan perusahaan. Posisi tersebut adalah Human
Resource and
Pelaksana,

Development (HRD), Plant Director/Direktur

Marketing

Director/Direktur

Pemasaran,

dan

Finance Director/Direktur Keuangan.

Direktur memiliki tugas dan tanggung jawab, sebagai berikut:


Menentukan kebijakan tertinggi perusahaan
Bertanggung jawab pada keuntungan dan kerugian

perusahaan
Mengangkat dan memberhentikan karyawan
Memelihara dan mengawasi kekayaan
Bertanggung jawab memimpin dan membina karyawaan

secara efektif dan efisien


Menyusun, melaksanakan kebijakan umum pabrik
Menetapkan besar deviden perusahaan
Bertanggung jawab atas pengambilan keputusan-keputusan
yang dapat mempengaruhi jalannya seluruh organisasi dan
menetukan rencana kerja dan sasaran bagi organisasi

secara keseluruhan.
2. Human Resource and Development (HRD)
HRD

merupakan

departemen/bagian/divisi

mempunyai tugas yaitu:


-

Mengrekruitmen Karyawan
Absensi
Penanganan Cuti
Lembur & Bonus
Jamsostek
a. Jaminan Hari Tua
b. Jaminan Keselamatan Kerja
c. Jaminan Kesehatan

yang

Membuat SK (Promosi, Mutasi,


Pemberhentian, dsb)
3. Marketing Director / Direktur Pemasaran
-

Marketing berperan penting dalam pemasaran produk ke


masyarakat sebagai pengguna akhir.
Fungsi manajemen pemasaran Meliputi :
a. Riset konsumen untuk kepentingan pemasaran efektif dan
efisien.
b. Pengembangan produk yang ada berhubungan dengan
bagian R&D.
c. Komunikasi-promosi

sesuai

teknik

pemasaran

seperti

advertising, publisitas dll.


d. Distribusi yang baik.
e. Penetapan harga dan pemberian service.
Riset pemasaran sangat penting bagi keberlangsungan
sebuah usaha. Tujuan dari riset pemasaran ialah membantu
pengambilan keputusan, peningkatan produk, dan mengurangi
risiko kegagalan.
Berikut ini cara umum dilakukan dalam riset pasar untuk
menentukan produk yang akan diproduksi yaitu dilakukan
survey di tempat-tempat pelayanan kesehatan. Marketing
melakukan survey di beberapa rumah sakit terkemuka di
Indonesia, mengingat pemasaran akan diarahkan ke nasional
terlebih

dahulu

sebelum

selanjutnya

dikembangkan

ke

internasional.
Hasil survey akan dilihat tingkat penggunaan sediaan
infus yang paling banyak digunakan oleh pasien, selain itu juga
dilakukan survey ke klinik ataupun apotek, dan sebagai riset
tambahan

(sekunder)

digunakan

media

internet

untuk

memantau perkembangan pasar dari sediaan infus. Hasil dari


survey

tersebut

memperlihatkan

hasil

statistika

yang

menunjukkan sediaan yang paling banyak memenuhi ideal


pemasaran sebagai sediaan yang akan diproduksi adalah infus
NaCl 0,9%.

Hasil survey tersebut selanjutnya akan didiskusikan


dengan bagian PPIC untuk lebih lanjut didiskusikan ke bagian
R&D untuk pengembangan produk dari sediaan seperti
wadahnya. Strategi dari marketing adalah 4P+3P (Product,
Price, Place & Promotion) dan (People, Process dan Physical
Evidence)
Product, mengemukakan produk yang lebih kompetitif sangat
penting sebagai strategi pemasaran.
Price, harga berperanan dalam mempengaruhi pengguna
untuk membeli dan kekal sebagai pelanggan sesuatu produk.
Place, menawarkan produk yang tepat, di tempat/lokasi yang
tepat dan pada masa yang tepat, adalah tujuan kepada
strategi ini.
Promotion, untuk menarik pengguna membeli produk, mereka
perlu dipengaruhi, iklan melalui media massa utama menjadi
pilihan industri dalam memasarkan produk.
People, inisiatif dari keahlian dan kemampuan pekerja industri
juga berperan dalam strategi meningkatkan pemasaran.
Process, proses kerja termasuk arahan dan prosedur yang
tepat untuk setiap aktivitas merupakan hal penting dalam
pemasaran produk.
Physical Evidence, kemampuan dan usaha industri dalam
menyampaikan

kualitas

dan

kelebihan

produk

sendiri

dibandingkan produk lainnya adalah hal penting dalam strategi


pemasaran.
4. Plant Director / Direktur Pelaksana
Direktur pelaksana membawahi bagian-bagian yang
berperan dalam produksi mulai dari awal produksi sampai akhir
produksi

sediaan

obat.

Bagian-bagian

dibawah

Direktur

sebagai

tenaga

pelaksana meliputi:
a. Manager Teknik dan Pemeliharaan
Departemen

teknik

berfungsi

pendukung proses produksi yang bertugas merawat dan

10

memperbaiki mesin dan memodifikasi spare part. Fungsi


teknik secara garis besar dibagi menjadi beberapa bagian
yaitu :
Preventive

maintenance

yaitu

suatu

perawatan

yang

dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan.perawatan


ini dilakukan secara terjadwal
Breakdown maintenance yaitu perawatan yang dilakukan
tanpa ada rencana sebelumnya (emergency maintenance).
Improvement maintenance yaitu perawatan yang dilakukan
untuk meningkatkan performance dari peralatan tersebut.
Total productive maintenance yaitu suatu usaha untuk
mensosialisasikan bahwa perawatan tidak hanya dilakukan
oleh petugas khusus tetapi dilakukan oleh semua orang
yang terlibat dalam penggunaan mesin/alat tersebut.
Fungsinya:
a. Meningkatkan rasa memiliki
b. Mengurangi penghentian produksi (downing)
Selain hal-hal diatas aktivitas maintenance :
a. Inspection
: pembersihan, pemeriksaan,dll
b. Small repair
: ganti baut tanpa membongkar
c. Medium repair : harus membongkar untuk mengganti
d. Overhal
: merekondisi suatu peralatan spect
awalnya (yang aslinya)
b. Research & Development (R & D)
Pada saat ini Industri Farmasi Indonesia masih
digolongkan sebagai industri yang hanya mampu melakukan
Reproduksi obat Jadi dan sebagian Bahan Baku.
1. Main Activities ( aktivitas pokok) R & D:
a. Drug Discovery terdiri dari drug information dan drug
marketing
b. Drug Development terdiri dari Preclinical, Clinical and
NCE Registration
c. Bulk manufacturing
d. Drug Reformulation & Drug Delivery System
2. Tugas & tanggung jawab :

11

Merencanakan dan mengembangkan produk baru


(original, Licensed, copy drug/me too product)
Mengembangkan produk yang sudah ada dengan
perbaikan formula untuk meningkatkan mutu produk,
bentuk sediaan dan kemasan
Membuat rumusan metode analisa dan spesifikasi
bahan baku serta produk ruahan dan obat jadi
Melaksanakan pendaftaran produk (registrasi obat)
akan dibahas dalam topik terpisah
Menyusun Prosedur Pengolahan Induk (PPI/Master
Batch)
3. Kegiatan R&D
Kegiatan R & D secara umum meliputi :
a. Pencarian obat baru dan pengembangan bentuk
sediaan baru dari produk yang ada (produk yang
diperbarui) dan penyempurnaan formula sediaan yang
sudah ada.
b. Industri perlu meningkatkan R&D untuk meningkatkan
pendapatan

dan

menjaga

kelangsungan

hidup

perusahaan.
c. Perusahaan yang baik adalah yang selalu tumbuh, hal
ini dapat dicapai jika laba kotor selalu meningkat.
d. Peningkatan laba dicapai dengan antara lain melalui :
- Kenaikan harga/kenaikan unit.
- Kenaikan pangsa pasar dalam unit.
- Bertambahnya obat baru
- Dimatikan obat tua yang sudah tidak memberikan
keuntungan
4. Tanggung Jawab dan Peran R & D dalam Perusahaan
Farmasi
- Menunjang pengembangan produk untuk menguatkan
posisi perusahaan dalam pemasaran.
- Mengikuti perkembangan teknologi

dan

transfer

teknologi
- Bank data untuk pengetahuan teknis dan keilmuan.
- Memikirkan kemungkinan business baru.

12

5. Konstribusi R & D
Kontribusi atas pembuatan dan pemasaran suatu
produk :
a.
b.
c.
d.
e.

Mengembangkan proses produksi.


Menyusun prosedur analisis dan pengawasan.
Menyusun rencana pengawasan.
Menyiapkan data teknis.
Melakukan analisa kerusakan dan kegagalan
Dalam pengembangan produk yang telah dipilih

oleh pihak marketing, maka bagian R&D dari perusahaan


ini diarahkan untuk penelitian dan pengembangan produk
dari NaCl 0,9%. Karena produk ini merupakan copy drug
(me-too product) yang merupakan obat yang sudah habis
masa

patennya,

dan

membayar/membeli

boleh

diproduksi

tanpa

lisensi dari produsen (penemu)

obat, makan bagian R&D lebih mengarahkan ke


pengembangan kemasan/ wadah yang lebih inovatif dan
lebih berkualitas dibandingkan sediaan infus yang
beredar.

Untuk

pengembangan

kemasannya

akan

dibahas lebih lengkap di bagian formula dan kemasan


Infus NaCl 0,9%.
c. Quality Control (QC)
Untuk menjamin kualitas produk yang dihasilkan, maka
dilakukan pengawasan terhadap mutu produk. Pengawasan
yang dilakukan meliputi bahan baku, bahan kemas, proses
produksi, produk antara, produk ruahan, produk jadi, produk
kembalian

dan

sampel

berkala.

Semua

pengawasan

tersebut dilakukan oleh Departemen Quality Control. Untuk


melaksanakan tugasnya departemen Quality Control dibagi
atas bagian analisa dan IPC (in process control), yang
memiliki fasilitas berupa laboratorium untuk pemeriksaan
kimia, dan ruang instrument yang terpisah satu sama lain.

13

Bagian/Departemen

Pengawasan

Mutu

(QC)

di

industri farmasi bertanggung jawab untuk memastikan,


bahwa :
1. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi
mengenai identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas

dan

keamanan yang telah ditetapkan.


2. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai dengan
prosedur yang telah ditetapkan dan telah divalidasi
sebelumnya, antara lain melalui

evaluasi dokumentasi

produksi terdahulu.
3. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksan
laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan
dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang telah
ditetapkan sebelum didistribusikan.
4. Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama
waktu peredaran yang telah ditetapkan.
Penjelasan tentang semua tahapan fungsi dalam
industry farmasi infus NaCl 0,9% akan dibahas pada
tahapan proses kerja dalam produksi infus NaCl 0,9%.
d. Production Manager / Manajer Produksi
Bertugas dalam produksi obat termasuk :
Memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai
prosedur

agar

memenuhi

persyaratan

mutu

yang

ditetapkan.
Memberikan

persetujuan

kerja

yang

terkait

dengan

produksi dan memastikan bahwa petunjuk kerja diterapkan


secara tepat.
Memeriksa

pemeliharaan

bangunan

fasilitas

serta

sesuai

telah

peralatan dibagian produksi


Memastikan

bahwa

validasi

yang

dilaksanakan dan Memastikan bahwa pelatihan awal dan

14

berkesinambungan

bagi

personil

di

departemennya

dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan.


e. PPIC (Production Planning & Inventory Control)
Bagian yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi
antara

produksi,

pemasaran,

pengadaan,

akuntansi/keuangan, penyimpanan, RPD, dll yang berfungsi


dalam penyedian obat.
Tujuan

Pokok

PPIC

Merencanakan

dan

mengendalikan aliran bahan-bahan yang masuk ke proses


produksi, bahan/barang yang sedang dalam proses (WIP),
barang/bahan yang keluar dari pabrik sehingga profit yang
diinginkan perusahaan dapat dicapai optimal dan efisien.
Sedangkan untuk fungsi pokok PPIC meliputi:
1. Fungsi Perencanaan, menentukan sasaran dan langkahlangkah untuk mencapai sasaran.
2. Fungsi Pengendalian, alat manajemen untuk memastikan
bahwa pelaksaan telah sesuai dengan rencana PPIC.
Tugas PPIC
1. Membuat rencana

produksi

secara global dengan

berpedoman pada rencana sales dari marketing.


2. Membuat rencana pengadaan bahan baku dan bahan
pembantu berdasarkan rencana dan kondisi stock
dengan

menghitung

kebutuhan

material

produksi

menurut standar stock yang ideal (ada batasan minimal


dan maksimal yang harus tersedia).
3. Monitor inventory yang ada agar kegiatan produksi dan
penjualan dapat berjalan dengan lancar.
4. Menghitung standar tenaga kerja

setiap

tahun

berdasarkan data lapangan.


5. Menghitung standar yield berdasarkan realisasi produksi
setiap tahun.
6. Sebagai juru bicara perusahaan dalam hal kerja sama
dengan perusahaan.

15

5. Quality Assurance (QA)


QA merupakan konsep yang luas yang mencakup semua
aspek yang secara kolektif maupun individual mempengaruhi
mutu, dari konsep design hingga product tersebut ditangan
konsumen. Komponen yang menunjang untuk mencapai mutu
obat yang bagus (divisi control) meliputi:
1. Quality Assurance (QA)
jaminan mutu
2. Quality Control (QC)
pengawasan mutu
3. Quality Inspection (QI)
pemeriksaan mutu
GMP merupakan bagian dari QA yang bertugas untuk:
Menyakinkan bahwa produk yang dibuat konstan memiliki
pensyaratan kualitas yang dikehendaki.
Menjaga standar semua ospek, cara uji dan mengaudit
kualitas, hubungan kualitas terhadap keinginan pelanggan,
dan menyampaikan kriteria kemasan kepada penjual bahan
pengemas.
QA juga mempunyai fungsi dalam tahap staf dan
tanggung jawab terhadap aspek dan standar yang diinginkan
oleh QC di Industri dan melakukan audit tentang keseragaman
semua aspek dan standard yangb digunakan di semua unit.
B. Alur Proses Produksi Produk Sediaan Infus NaCl 0,9%
1. Marketing
Marketing berperan penting dalam pemasaran produk ke
masyarakat sebagai pengguna akhir. Riset pemasaran sangat
penting bagi keberlangsungan sebuah usaha. Tujuan dari riset
pemasaran ialah membantu pengambilan keputusan, peningkatan
produk, dan mengurangi risiko kegagalan.
Awal produk obat diawali dengan kerja dari tim marketing
dalam memantau situasi pasar yang ada. Riset tim marketing
dilakukan untuk menemukan produk yang akan diproduksi sebagai
produk unggulan PT. INFUS International For The Health. Riset
dilakukan di berbagai rumah sakit besar yang ada di Indonesia,
selain itu juga dilakukan di apotek-apotek yang ada di Indonesia,

16

selain itu juga dilakukan riset di media internet untuk menganalisa


pasar di dunia kesehatan mengenai pasar infus di dunia kesehatan.
Dari hasil riset tersebut ditemukan bahwa sediaan yang paling
banyak digunakan sebagai sediaan infus yaitu infus 0,9%, selain itu
tim marketing menemukan statistik kebutuhan infus NaCl akan terus
besar angka permintaannya mengingat penggunaan sediaan ini
sangat luas untuk berbagai indikasi penyakit. Oleh karena itu dari
tim marketing menyimpulkan sediaan yang akan diproduksi adalah
sediaan NaCl 0,9%. Hasil riset itu kemudian dilaporkan ke bagian
PPIC untuk selanjutnya dikomunikasikan kepada bagian R&D untuk
dikembangkan produk sediaannya agar bisa bersaing dengan
produk lain yang sejenis.
2. Research & Development (R & D)
Hasil riset dari marketing kemudian dikembangkan lebih
lanjut oleh R & D. Karena produk ini, sediaan NaCl 0,9% merupakan
me too product (copy drugs) yang merupakan obat yg sudah habis
masa patent, boleh diproduksi tanpa membayar/membeli

lisensi

dari produsen (penemu) obat, jadi R&D lebih mengembangkan


produk kearah pengembangan wadahnya, walaupun tetap dilakukan
penelitian tentang formulasi sediaan infus itu sendiri untuk
meningkatkan kualitas produk.
Awal kerja dari tim R&D adalah melakukan kajian pustaka
untuk formulasi sediaan ini, selanjutnya dirancang formula untuk
sediaan ini.

Rancangan Formula
Master Formula
Nama Produk : Infus
Jumlah Produk: 1 botol @ 500 mL
No. Registrasi : DKL 1311101249 A1
Rancangan Formula

17

Tiap 500 mL infus mengandung :


Natrium Klorida

4,5 g

Air untuk injeksi hingga

500 mL

pH sediaan = 7
Diproduksi Oleh:

Infus NaCl 0,9%

PT. INFUS

Tgl

International For

Formulasi

The Health

16 Okt 2013
Nama

Kode Bahan
NC - 01

Tgl Produksi

Fungsi

Per satuan wadah

Bahan

bahan

NaCl

Zat aktif

Air untuk

API - 03

Dosis

14 Nov 2013

4,5 g
495,5 mL

Pelarut

injeksi

Alasan Penambahan
1. Natrium Klorida
Komposisi Cairan Ekstrasel
Zat terlarut dalam cairan tubuh adalah elektrolit dan
non elektrolit. Kation-kation (Na, Ca, Mg, dan K) dan
anion-anion (Cl-, CO3-, SO4-, dan PO4-) adalah elektrolit
yang

mayor

hubungan

dari

tubuh. Elektrolit berperan dalam

osmotic,

mempertahankan

keseimbangan

asam basa normal dari tubuh dan dibutuhkan untuk


kondukrsi

saraf.

Ion-ion

Na,

Cl,

dan

bikarbonat

terkonsentrasi utama dalam kompartemen ekstraseluler


tubuh.

Cairan

intraseluler

yang

paling

tinggi

konsentrasinya adalah K, Mg, dan fosfat.


Fungsi dari ion Na
Na

membantu

mepertahankan

volume

dan

keseimbangan cairan. Konsentrasinya di dalam cairan


tubuh

adalah

dibawah

kontrol

homeostatic.

18

Ketidakseimbangan terjadi hanya ketika mekanisme ini


gagal atau menghilang lebih besar daripada kemampuan
komposisi dari mekanisme adaptasi. Natrium sering
ditambahkan selama pencernaan makanan. Kebanyakan
individu mengkonsumsi lebih banyak Na dibanding
kebutuhan. Pembatasan makanan sering dianjurkan pada
pasien dengan gagal jantung kongestif, sirosis hepatik
dan hipertensi. Sedikit pemasukan daripada jumlah biasa
dari Na dimulai pada anak-anak dan berlanjut hingga
dewasa bertujuan dalam mencegah hipertenasi pada
individu yang rentan. Namun demikian, pembatasan
asupan dari Na pada wanita sehat selama hamil tidak
dianjurkan.
Hiponatremia dengan jarang dijumpai pada individu
normal tetapi dapat terjadi setelah diare yang lama atau
muntah, sebagian pada bayi, gagal ginjal, fibrosis cystic,
atau

insufisiensi

adrenokortikal

atau

dengan

menggunakan diuretik tiazid. Kelebihan keringat dapat


menyebabkan

kehilangan

natrium

dan

terapi

penggantiannya sebaiknya memasukkan air dan NaCl.

Kebutuhan Ion Na
90% dari cairan ekstraseluler tubuh adalah Na.
Suatu larutan isotonik NaCl mengandung 0,9% NaCl. 1
liter dari larutan ini mengandung 154 mEq Na dan 154
mEq Cl. Konsentrasi plasma normal dari Na + adalah 135145 mEq per liter plasma. Injeksi Na 3% dan 5% dinilai
adalah untuk mengobati hiponatremia (secara abnormal
menurunkan tingkat Na darah), tetapi pemberian berlebih
dari Na dapat menyebabkan udem.
Penurunan konsentrasi Na serum akan mencegah
retensi air, sebaliknya peningkatan konsentrasi Na serum

19

menstimulasi retensi air. Ketika na hilang atau bertambah,


hal

tersebut

bertambahnya

diiringi
air.

dengan

Pengubahan

kehilangan

atau

konsentrasi

Na

mempengaruhi volume darah. Kehilangan Na yang hebat


menyebabkan dehidrasi, yang menyebabkan kegagalan
sirkulasi perifer, merusak fungsi ginjal dan mengurangi
aliran dan filtrasi glomerulus ginjal. Selanjutnya serum
nitrogen urea akan meningkat, merusak sekresi air dan
garam. Keseimbangan serum dipengaruhi oleh sekresi
adrenal dari aldosteron dan suatu inhibitor yang potensial
dari ekskresi Na ginjal. Antidiureti hormon (ADH) yang
dikeluarkan kelenjar pituitary menunjang resorpsi air dan
mempengaruhi konsentrasi Na ekstraseluler.
Fungsi dari ion Cl-

Klorida adalah anion yang paling penting dalam


mempertahankan keseimbangan elektrolit. Hipokloremik
alkalosis metabolit dapat ditingkatkan selanjutnya, selama
proses muntah, atau kelebihan penggunaan diuretic.
Kehilangan yang berlebih dapat mengikuti kehilangan
yang berlebih dari Na dan ketika pemasukan Na dibatasi,
penggantian dari sumber klorida lain dapat dibutuhkan.
Jika KOH digunakan kemungkinan hiperkalemia dan
bahaya yang mengikutinya harus dipertimbangkan.
Kebutuhan Ion Cl (SDF : 253)

Konsentrasi plasma normal dari klorida adalah 100


mEq per liter. Suatu defisiensi baik dari Clatau K akan
menyebabkan defisiensi ion lainnya. Klorida menghilang
diikuti kehilangan Na, namum demikian kehilangan Cl
dapat

dikompensasi

dengan

meningkatkan

tingkat

bikarbonat. Ion Cl meninggalkan sel darah untuk masuk

20

ke plasma selama oksigenasi. Air mengalir sama seperti


aliran Cl.
Konsentrasi NaCL

a.

0,9%

digunakan

untuk

pengganti

cairan

ekstraseluler
b.

0,45% digunakan untuk dehidrasi

c.

3-5% digunakan untuk hiponatremia


Indikasi yang diinginkan adalah untuk pengganti

cairan

ekstraseluler,

maka

digunakan

konsentrasi

0,9%.NaCl digunakan untuk peningkatan kehabisan volume


ekstraseluler, dehidrasi, dan kehabisan Na. NaCl dapat
diberikan melalui rute oral atau intravena. Larutan NaCl
0,9% digunakan secara luas sebagai pembawa dari
pengencer untuk sediaan yang dapat diinjeksikan dari obat
lain. Efek sampingnya termasuk hipertensi, udem dan efek
gastrointestinal.

Pemberian

berlebihan

menyebaban

hiponatremia, dengan hasil dehidrasi organ dan sebagian


pada otak.
2. Aqua Pro Injeksi

Digunakan sebagai pelarut atau pembawa dari


sediaan parenteral, karena air merupakan pembawa untuk
semua cairan tubuh

Digunakan sebagai pelarut yang banyak digunakan


pada sediaan parenteral. Air untuk injeksi secara khusus
dibuat, dikumpulkan dengan cara yang terjamin sehingga
dapat dijumpai dalam persyaratan kemurnian yang terjaga
serta bebas dari pirogen

Pada temperatur ekstrim mencegah terjadinya


pirogen

dengan

mikroorganisme

penghambatan

pertumbuhan

21

Air untuk injeksi merupakan salah satu faktor

(pilihan) yang terbaik dari cairan parenteral yang aman uji


terhadap adanya senyawa murni, bebas pirogen, standar
yang cocok untuk air. Larutan parenteral digambarkan
dalam monografi USP adalah air un tuk injeksi.
Air untuk injeksi yang dapat diterima adalah air hasil

destilasi, bebas pirogen, tidak berwarna, jernih, tidak


berbau dan tidak berasa. Tidak mengandung lebih dari 2
mg padatan total per 100 ml, pH antara 5-7,5.
Perhitungan Bahan
Rancangan Formula :
Tiap 500 mL infus mengandung :
NaCl
API

4,5 g
ad

500 mL

PH sediaan = 7, osmolaritas= 308 mEq.


Na+ + Cl-

NaCl
Bobot Na+

= (mEq X Bobot Atom Na+)/ valensi


= (154 X 23)/ 1
= 3542 mg/dL
= 3,542 g/L
Bobot Cl
= (mEq X Bobot Atom Cl-)/ valensi
= (154 X 35,5)/ 1
= 5467 mg/dL
= 5,467 g/L
Maka bobot total untuk osmolaritas 308 mOsm/L (154+154)
adalah
Bobot Na++ Bobot Cl- = 9,009 g/L

Cara Kerja
Pengerjaan dilakukan pada ruang steril di area
lingkungan

R&D

skala

laboratorium

dilakukan

untuk

percobaan 3 batch, dimana 1 batch terdapat 5 produk.


Pengerjaan pembuatan sediaan steril NaCl 0,9% meliputi:

22

1.
2.

Penyiapan bahan dan alat


yang telah disterilkan masing- masing.
Bahan-bahan

ditimbang

sesuai perhitungan.
3.

NaCl 22,5 gram (1 batch, 5


botol/produk) dilarutkan dalam API yang telah bebas
pirogen, setelah terlarut sempurna, kemudian dicukupkan

4.

volumenya hingga sedikit mencapai 2500 ml.


Larutan
dicek

pHnya

dengan pH 7, lalu dicukupkan volumenya hingga 2500 ml.


5.
Masukkan dalam botol
infus yang sebelumnya juga telah dibebas pirogenkan
dengan mesin bebas pirogen.
6.

Botol

infus

kemudian

disegel sesuai dengan prosedur mesin produksi nanti di


bagian produksi.
7.

Sediaan 3 batch tersebut


kemudian disterilisasi akhir dengan autoklaf 121C selama

8.

15 menit, ditambah 10-15 menit.


Sediaan 3 batch kemudian
dikarantina untuk uji stabilitas dipercepat.
Tahapan
selanjutnya
yang
dilakukan

dalam

pengembangan produk sediaan ini adalah tahapan uji


stabilitas yang dilakukan tim R&D bekerja sama dengan tim
QC 1. Uji stabilitas yang dilakukan adalah uji satbilitas
dipercepat.
Pemeriksaan

stabilitas

dilakukan

untuk

menjamin

kualitas produk obat sampai ED, untuk mengetahui waktu


kadaluarsa obat, serta untuk menentukan shelf life produk
periode waktu penyimpanan pada kondisi yang spesifik
sampai produk masih memenuhi spesifikasi. Uji stabilitas
produk dilakukan pada kondisi penyimpanan sebenarnya (real
time)

maupun

dalam

(accelerated test).

kondisi

suhu

yang

ditingkatkan

23

Studi stabilitas obat yang dipercepat dengan suhu yang


dinaikkan. Skema: Sediaan obat penyimpanan pada suhu
40 C pada RH 70% (dalam chlimatic chamber) disimpan
selama 6 bulan sampling sampel kadar zat aktif pada bulan
ke 0, 1, 2, 3 dan 6 tentukan orde reaksi degradasi zat aktif
didapat persamaan degradasi pada orde reaksi tersebut
dicari waktu kadaluarsa obat (t90) pada ketiga suhu tersebut
konversi t90 yang diperoleh ke t90 suhu kamar (dengan rumus
energi aktivasi atau dengan metode Q10).
Stabilitas obat adalah derajat degradasi dari suatu obat
dipandang dari segi kimia. Stabilitas obat dapat diketahui dari
ada tidaknya penurunan kadar selama penyimpanan. Jika
tidak dinyatakan lain, obat dikatakan stabil apabila kadar zat
aktifnya 90% dari kadar zat aktif awal (yang diklaim).
Dalam uji stabilitas ini akan dipantau perubahan yang
terjadi akibat dari pengaruh penyimpanan meliputi :
1.

Perubahan fisika meliputi:


warna, bentuk fisik sediaan, kejernihan, pH, dan perubahan
bobot.

2.

Perubahan

kimia

yang

mungkin terjadi dalam penyimpanan, misalnya terjafinya


3.

reaksi antara wadah dengan isinya.


Perubahan

mikrobiologi,

dimungkinkan terjadi karena kontaminan dari mikrobiologi,


yang bisa menghasilkan toksin dan pirogen.
Dalam uji stabilitas sediaan steril, tahapan yang penting
adalah uji mikrobiologi yang merupakan uji pirogen untuk
sediaan infus NaCl 0,9%. Untuk bagian pengembangan
produk ini, dilakukan uji prirogenitas menggunakan metode
rabbit test. Prosedur uji tersebut adalah sebagai berikut :

24

Jadikanlah alat suntik, jarum dan alat gelas bebas pirogen


dengan cara memanaskan pada temperatur 250 oC selama
tidak kurang dari 30 menit atau dengan cara lain yang
sesuai.

Hangatkan

produk

yang

akan

diuji

sampai

temperature 37oC 2oC.


Suntikkan produk yang akan diuji pada vena telinga setiap
kelinci sebanyak 10 ml per kg berat badan, selesaikan tiap
suntikan

dalam

waktu

10

menit

dihitung

dari

awal

pemberian.
Catat temperatur pada 1, 2, dan 3 jam sesudah penyuntikan.
Bila masing-masing kelinci tidak ada ynag temperaturnya
meningkat 0,6oC atau lebih dari temperatur control masingmasing, dan jika hasil penjumlahan kenaikan temperature
dari 3 kelinci tidak lebih dari 1,4 oC. Maka zat yang diuji
memenuhi persyaratan bebas pirogen.
Jika kelinci-kelinci menunjukkan kenaikan temperatur 0,6 oC
atau lebih atau hasil penjumlahan kenaikan temperature 3
kelinci lebih dari 1,4oC, ulangi dengan menggunakan 5
kelinci lain.
Jika tidak lebih dari 3 dari 8 kelinci, masing-masing
menunjukkan kenaikan temperature 0,6oC atau lebih dan
jumlah kenaikan temperature 8 kelinci tidak lebih dari 3,7 oC,
maka larutan memenuhi persyaratan bebas pirogen.
Selain itu uji yang penting selanjutnya adalah uji
sterilitas dari kontaminan mikroba, dapat diuji dengan cara
inokulasi langsung ke dalam media uji, uji tidak kurang dari
volume dari jumlah seperti yang tertera pada pemilihan
spesimen uji dan masa inkubasi.
Pengembangan untuk rancangan

formulasi

telah

diselesaikan pada tahap ini. R&D dalam pengembangan nilai


pasaran

dari

produk

ini

selanjutnya

mengarahkan

pengembangan ke wadah yang digunakan untuk sediaan infus

25

NaCl 0,9 %. R&D merancang suatu wadah yang acceptable


untuk infus steril dengan mempertimbangkan keamanan,
ekonomi, dan kualitas.
Sediaan infus NaCl 0,9% yang beredar di Indonesia
lebih dikemas pada botol plastic yang keras yang sebenarnya
mengandung PVC yang membentuk sifat keras pada wadah,
kandungan ini akan berbahaya jika digunakan untuk wadah
infus,

karena

jika

terakumulasi

dalam

tubuh

akan

mengakibatkan kerusakan ginjal dan hati.


Untuk wadah plastic telah dipertimbangkan yang paling
aman dan bisa digunakan sebagai wadah steril yang tahan
terhadap panas dan berbagai keadaan adalah wadah yang
terbuat

dari

kopolimer

dari

ethylene

dan

propylene.

Polypropylene memiliki daya rentang yang tinggi yang mampu


menahan

tekanan.

Daya

rentang

yang

tinggi,

dalam

hubungannya dengan titik leleh yang tinggi pula yaitu 165C,


sangat penting untuk manufaktur LVP karena wadah yang
dibuat dari polypropylene memiliki kemapuan untuk menahan
temperatur tinggi pada proses sterilisasi tanpa terurai.
Polypropylene sangat resisten terhadap hampir semua
pelarut organik pada temperatur kamar, asam dan basa kuat.
Polypropylene merupakan barier yang baik terhadap gas dan
uap air. Selain itu juga wadah yang terbuat dari polypropylene
memberikan kejernihan yang memuaskan. Dengan pepaduan
sedikit fraksi etilen sebagai kompleks polimer dengan propilen,
sejumlah

sifat

yang

diinginkan

dapat

diperoleh.

Penggabungan etilen mengurangi kekakuan atau kekerasan


dari

propilen,

memperbaiki

pengolahan,

dan

sedikit

mengurangi titik leleh dari propilen. Titik lelehnya berkisar


antara 145 dan 150C. Hal ini membuat kopolimer ethyl

26

propylene (EP) cocok untuk digunakan pada sterilisasi uap.


Berikut gambar rancangan wadah infus NaCl 0,9%:

Berikut keuntungan kualitas dari wadah yang digunakan


pada sediaan infus NaCl 0,9% adalah:
1. Bebas dari kandungan PVC dan latex yang berbahaya bagi
kesehatan jika terakumulasi dalam tubuh.
2. Kuat dan tidak mudah robek/ rusak
3. Karena terbuat dari bahan yang elastik pengemasannya
akan mudah tidak seperti wadah botol yang kaku yang
mudah rusak jika terlipat pada pengepakan di gudang.
4. Tersedia 2 spot sterile untuk in dan out yang bisa
memberikan edukasi kepada tenaga kesehatan untuk
menginjeksikan menggunakan needle di spot yang telah
ditentukan, tidak di dinding dari wadah.
Setelah R&D menemukan wadah yang ideal untuk infus
NaCl 0,9%, selanjutnya kembali R&D bekerja sama dengan
pihak QC untuk meneliti lebih lanjut keabsahan dari wadah
jenis ini. Dasar untuk melakukan pengujian:

27

1. Pemeriksaan, menurut prosedur USP XXI-NF XVI untuk uji


biologi dan fisikokimia, jumlah dan tipe senyawa yang
potensial untuk leaching atau terlepas dari wadah plastik.
2. Pemeriksaan integritas atau stabilitas dengan uji terhadap
efek kondisi penyimpanan, misal: waktu, suhu, cahaya,
kelembaban dan efek siklus sterilisasi terhadap sifat fisik,
kimia dan biologi dari wadah.
3. Melakukan uji lainnya dan menghasilkan data perkiraan
untuk menjamin keamanan dari wadah.
Tahapan selanjutnya adalah membicarakan kepada
pihak PPIC tentang hasil pengembagan dari tim R&D, untuk
selanjutnya PPIC akan merencanakan pemesanan bahan dan
barang untuk kepentingan produksi skala besar. Tuga R&D di
tahapan selanjutnya adalah memastikan metode serta alur
proses yang dilakukan menjamin akan sesuai dengan kadar
mutu pada skala 3 batch, hal itu tentunya dengan bantuan dari
tim QC II di bagian in production dan after production.
3. Quality Control (QC)
QC merupakan tim yang penting dalam mengawasi mutu dari
alur produksi obat, dalam pembuatan sediaan infus NaCl 0,9% QC
terbagi menjai QC1 (sebelum produksi) dan QC2 (saat dan setelah
produksi). Bersama-sama dengan Manager Produksi melaksanakan
kealifikasi/validasi alat maupun proses.
Bagian-bagian dari QC :
1. Bagian Analisa
Tugas dan tanggung jawab bagian analisa antara lain :
pemeriksaan mutu bahan baku, pemeriksaan mutu bahan kemas
dan pemeriksaan produk/obat jadi.
a. Pemeriksaan mutu bahan baku
Pemeriksaan

mutu

bahan

baku

dilakukan

untuk

menjamin agar bahan baku yang digunakan sesuai dengan


spesifikasi yang dipersyaratkan. Bahan baku yang baru dikirim
oleh supplier segera dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui

28

apakah bahan baku tersebut memenuhi spesifikasi yang telah


dipersyaratkan. Supplier harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.

Bahan baku harus memiliki COA (Certificate of Analysis)


Berkesinambungan
Mempunyai MSDS (Material Safety Data Sheet )
Harga murah
Pengujian ini mencakup identifikasi, kemurnian, dan

penetapan kadar. Selama proses pengujian, bahan dikarantina


dan diberi label karantina yang berwarna kuning. Hal-hal yang
harus diperhatikan :
- Pengambilan sampel bahan baku dilakukan secara acak
pada bagian atas, tengah, dan bawah dari wadah.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat
thief sampler.
- Pengambilan sampel dilakukan secara acak untuk setiap
batch dengan rumus

+1. Untuk bahan yang identitasnya

kurang jelas, wadah kotor, pabrik pembuat berbeda dari


biasanya, atau bahan berasal dari supplier yang baru maka
sampling dilakukan terhadap semua wadah dalam batch.
- Pengambilan contoh harus dilakukan dalam ruang sampling
dengan tepat untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Halhal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
Sebelum sampling dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu
apakah segel/tutup wadah masih utuh.
Alat sampling harus bersih.
Selesai sampling wadah segera ditutup rapat dan diberi
penandaan karantina.
Setiap melakukan pengujian bahan baku dilengkapi
dengan catatan pengujian (testing order) atau catatan hasil
pengujian yang ditandatangani oleh QC manager. Bahan baku
yang telah lulus seleksi diberi label diluluskan yang

29

berwarna hijau, dan jika tidak sesuai dengan spesifikasinya


diberi label merah ditolak.
Selain

itu

bagian

analisa

mengeluarkan

disposisi QC yang menerangkan status

lembar

bahan baku.

Disposisi ini dibuat rangkap 2 dimana tembusannya diserahkan


ke bagian PPIC untuk perencanaan produksi dan bagian
keuangan untuk pembayaran.
b. Pemeriksaan mutu bahan kemas
Pemeriksaan dilakukan untuk menjamin bahwa bahan
kemas yang digunakan benar-benar sesuai spesifikasi yang
ditentukan. Tujuan yang ingin dicapai adalah bahan pengemas
tersebut dapat melindungi sediaan obat.
Pengujian terhadap bahan kemas meliputi label, brosur,
wadah

karton,

aluminium

foil,

botol

dan

tutup

botol.

Pengawasan dilakukan terhadap penampilan fisik wadah,


kesesuaian bahan dan hasil cetakan dengan spesifikasi yang
telah ditentukan (warna, penandaan, desain dan bentuk).
Sistem pemberian label bahan kemas sama dengan pada
bahan baku.
Jika pemeriksaan bahan kemas telah selesai dilakukan
maka bagian analisa akan mengeluarkan lembar disposisi
QC yang berisi hasil pemeriksaan untuk disampaikan ke
bagian keuangan untuk pembayaran dan ke

bagian PPIC

untuk perencanaan produksi. Apabila bahan kemas tidak


memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan, maka dikembalikan
ke supplier dengan dokumen nota retur barang.
2. Pengawasan Mutu Ruangan dan Peralatan
Bagian IPC juga bertanggungjawab dalam melakukan
pengawasan mutu ruang dan peralatan yang digunakan dalam
proses produksi. Sebelum proses produksi dimulai petugas IPC
memeriksa sanitasi dan hygiene ruangan dan peralatan, jika

30

memenuhi syarat maka IPC memberikan rekomendasi atas


kebersihan ruangan dan peralatan yang akan digunakan dalam
proses produksi dengan memberikan label bersih. Kemudian
petugas IPC juga melakukan kalibrasi timbangan.
3. Penerimaan dan Penanganan Barang Kembalian (Returned

Goods)
Barang kembalian atau returned goods adalah semua
produk jadi (finished goods) yang telah keluar dari pabrik dan
dikembailikan lagi ke pabrik dengan alasan tertentu. Penyebab
terjadinya produk kembalian antara lain karena mendekati masa
kadaluarsa, kerusakan isi produk maupun kerusakan Error:
Reference source not foundkemasan, rekomendasi dari Balai
POM karena faktor mutu dan timbilnya efek samping yang
merugikan atau membahayakan konsumen. Distributor akan
menyampaikan

pemberitahuan

yang

berkaitan

dengan

pengembalian produk tersebut disertai dengan dokumen yang


berisi jumlah produk, jenis produk, no.batch, tempat asal
pengembalian dan alasan pengembalian produk.
Penanganan produk kembalian oleh gudang obat jadi
adalah seperti penanganan bahan baku dan bahan pengemas
ketika pertama kali datang, meliputi pembuatan Inventory
Receiving

Tickets

kembalian

dan

dikarantina

Goods
yang

Inspection
selanjutnya

Report.
akan

Produk

dilakukan

pemeriksaan oleh bagian Quality control.


Quality

Control

bertanggung

jawab

juga

terhadap

pengontrolan higienitas dan sanitasi pada area di industri farmasi


selama proses pengerjaan.
Syarat-syarat CPOB untuk sediaan steril
1. Personil
Untuk mencegah pencemaran pada pembuatan obat
steril tindakan dan prosedur khusus harus dilaksanakan

31

sepenuhnya. Petugas yang bekerja di daerah pengolahan


obat steril berikut pakaiannya dapat menjadi sumber
pencemaran bila mereka tidak memperhatikan hal-hal
mengenai hygiene, kebersihan dan tingkah laku bekerja.
Disamping

persyaratan

umum

mengenai

hygiene

perorangan-perorangan, peraturan tambahan dan tindakan


berikut harus dilaksanakan.
a. Kesehatan
1. Karyawan yang mengidap luka terbuka, ruam, bisul
atau penyakit kulit lain tidak boleh bertugas di daerah
bersih dan daerah steril.
2. Karyawan yang menderita infeksi saluran pernapasan
bagian atas, influenza, batuk, diare, dan penyakit
menular lain juga tidak boleh bertugas di daerah bersih
dan daerah steril.
3. Pemeriksaan kesehatan

terhadap

kondisi-kondisi

tersebut di atas harus dilakukan secara berkala.


b. Higiene Perorangan
1. Kuku karyawan yang bertugas di daerah bersih dan
daerah steril harus dipotong secara teratur.
2. Karyawan harus didorong untuk berambut pendek demi
mengurangi pencemaran udara oleh rambut.
3. Kosmetik tidak boleh digunakan atau dipakai dalam
ruangan bersih. Kosmetik tersebut meliputi : perona
wajah, perona bibir (lipstick), bedak muka, pewarna
kelopak mata, pensil alis mata, mascara, penggaris
mata (eye liner), bulu mata palsu, cat kuku, semprot
rambuut, dan pemakaian deodorant aerosol berlebihan.
4. Perhiasan seperti cincin ukuran besar, kalung, antinganting, liontin (lockets), gelang tidak boleh digunakan di
ruangan bersih.
5. Milik pribadi seperti kunci, dompet, uang logam, rokok,
korek api, pensil, sapu tangan, arloji, lap kertas, dan
sisir tidak boleh di bawa ke ruangan bersih.

32

6. Tangan

dan

kuku

tangan

harus

disikat

secara

menyeluruh sebelum memasuki ruangan bersih dengan


sabun desinfektan yang telah disediakan.
7. Tangan harus dikeringkan dengan pengering udara
panas. Dilarang menggunakan lap kertas atau handuk
kain di ruang bersih.
8. Tidak boleh makan, mengunyah permen karet atau
tembakau, atau merokok di daerah bersih.
9. Kesadaran mengenai hygiene dan kebersihan harus
ditanamkan

dengan

memberikan

pelajaran

dan

pengajaran kepada karyawan mengenai unsure dasar


mikrobiologi.
c. Tingkah Laku Higiene
1. Jumlah karyawan yang bertugas di daerah steril harus
dibatasi.

Pengamatan

dan

pengewasan

harus

dilakukan dari luar.


2. Kebiasaan seperti menggaruk kepala atau menggosok
tangan, muka atau bagian tubuh lain harus secara
sadar dihindari.
3. Berteriak dan berbicara yang tidak perlu melalui
masker harus dihindari. Tertawa, bernyanyi dan
berteriak manambah jumlah bakteri yang keluar dari
mulut.
4. Pakaian kerja kotor tidak boleh dipakai di dalam ruang
bersih
5. Karyawan tidak boleh bersandar atau menjangkau di
atas infus bag terbuka pada jalan pengisian
6. Tutup kepala harus disispkan sepenuhnya ke dalma
baju dan abju diresleting secara sempurna sampai ke
leher
7. Bila bagian manapun dari baju ruang bersih rusak,
robek

atau

operasional,

kotor

selama

karyawan

melakukan
bersangkutan

kegiatan
harus

mengembalikan baju tersebut ke temapt ruang ganti


pakaian dan menggantikanbagian yang rusak tersebut

33

8. Semua rambut harus tertutup secara menyeluruh


setiap saat
9. Resleting pakaian terusan tidak boleh dibuka di
ruangan bersih
10. Tidak boleh ada bagian kulit diantara sarung tangan
dan pakaian terusan yang terpapar. Bila tercemar
sarung tangan harus dicuci dan dibilas dengan larutan
desinfektan yang disediakan
11. Tidak seorang pun yang
menderita

gangguan

sakit

perut

terutama

atau

yang

pernafasan

diperkenankan memasuki ruangan atau daerah steril


12. Tidak boleh ada pakaian untuk ruang steril yang
digunakan kedua kalinya tanpa dicuci ulang dan
disterilkan ulang
13. Sekali sudah berada di dalam ruang steril, karyawan
yang bersangkutan harus mencegah dirinya kembali
ke ruang penyangga udara. Bila seorang karyawan
harus pergi ke toilet, prosedur pergantian pakaian
harus dilakukan sebelum memasuki kembali ke dalam
ruang bersih
14. Gerakan tubuh yang tidak perlu harus dihindari di
dalam

ruang

steril

karena

hal

tersebut

akan

meningkatkan penyebaran partikel dan mikroba secara


signifikan
15. Karyawan dari Bagian Perawatan Mesin atau mereka
yang melakukan tugas lain di ruang steril harus
memenuhi peraturan tentang hygiene perorangan
yang berlaku bagi Karyawan bagian produk steril
2. Pakaian Kerja
Pakaian

yang

digunakan

dalam

daerah

steril

hendaklah berfungsi sebagai sistem saringan yang dapat


menahan pencemaran partikel yang berasal dari tubuh
pemakai sehingga tidak mengkontaminasi ke sekeliling
ruang kerja.

34

Pakaian untuk daerah steril terdiri dari :


- Tutup kepala, yang menutupi seluruh bagian kepala
-

termasuk seluruh rambut


Baju dan celana model terusan
Penutup kaki
Masker, yang menutupi mulut, hidung dan janggut, dan
Kaca mata pelindung
Persyaratan dan Penggunaan pakaian pelindung sesuai dengan

Pakaian
Pelindung
1. Baju Kerja

tingkat kebersihan ruangan


Kelas I dan II
- Terbuat dari kain yang ditenun dengan multi-filament terusan
yang dapat menyaring bakteri dan partikulat udara secara
maksimal
- Bebas tiras/serta
- Lengan panjang, dicuci dan disterilkan sebelum digunakan
- Penggantian pakaian kerja dan sarung kaki steril dilakukan

2. Sepatu
3. Pelindung
rambut
4. Masker
5. Sarung
Tangan

di ruang ganti pakaian steril


Ganti setiap hari dan apabila terlihat kotor
Dapat menyaring partikel secara maksimal
Bebas tiras/serat
Cuci dan sterilkan sebelum digunakan
Dapat menyaring partikel secara maksimal
Bebas tiras/serat

Dapat menyaring partikel secara maksimal


Bebas tiras/serat
Cuci dan sterilkan sebelum digunakan
Terbuat dari vinil atau lateks, dapat menyaring partikel

secara maksimal
- Bebas bedak/serbuk
- Sterilkan sebelum digunakan, atau gunakan yang tersedia di
pasaran dalam kondisi steril
- Didesinfeksi secara berkala paling tidak setiap jam misalnya
dengan etilalkohol 70%
- Diganti segera bila rusak atau terkontaminasi

Pakaian untuk daerah steril hendaklah memenuhi


persyaratan berikut :
- Kain tidak boleh melepaskan menyebarkan serat

35

- Tenunan kain yang rapat untuk mengurangi tembusan


debu dan partikulat yang berasal dari pemakai dan
pakaian dalam
- Benang kain

sekuat

mungkin

untuk

mengurangi

kerusakan karena gesekan dan putusnya tenunan


- Mempunyai lipatan seminimal mungkin
- Tepi pakaian yang kasar disegel dengan pemanasan atau
dilipat ke dalam
- Cukup longgar untuk mengurangi gesekan dengan
pakaian dalam
- Tidak berkantong maupun bertali pinggang atau berlipat
atau mempunyai tempat lain yang mungkin dapat
menangkap atau menampung debu dan partikulat
- Benang jahit yang digunakan terbuat dari bahan yang
tidak melepaskan serat
- Benang kain terbuat dari bahan yang tidak menyebabkan
fenomena elektrostatik yang dapat melekatkan debu dan
kemudian menyebarkannya ke lingkungan
- Anyaman kain sedemikian rupa sehingga nyaman dipakai
Adapun Standar Pakaian Untuk Ruang Bersih dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
KELAS

PENCEMARAN TIAP KAKI PERSEGI (SQ,FT)


MAKSIMUM JUMLAH
MAKSIMUM JUMLAH

PAKAIAN
PARTIKEL
SERAT
A
1.000
10
B
5.000
25
C
10.000
50
D
15.000
75
- Serat adalah partikel yang panjangnya lebih besar
daripada

100

mikron

dimana

perbandingan

antara

panjang dan tebalnya lebih besar daripada 10 : 1


- Partikel adalah suatu objek padat yang panjangnya
berukuran 5 mikron atau lebih
Bahan-bahan untuk pakaian ruangan bersih, antara lain :

36

1. Taffeta Poliester yang berbenang majemuk, 100%


ditenun tanpa sambungan dan factor daya bernafas yang
baik

sehingga

memperbaiki

kenyamanan

operator.

Bahan tersebut merupakan tenunan kain yang berdaya


saring tinggi. Bahan ini yang mengandung 20% tenunan
poliester tidak adapat ditembus dan mempunyai daya
tangkap partikel (ukuran 0,1 km) dengan efisiensi 99,0
99,
2. Kain antistatik poliester
3. Kain spun-bonded (poliolefin) dan
4. Berlaminasi 3. Lapisan bagian luar dan bagian dalam
adalah suatu akin nilon dan diantaranya diberikan laipasn
film plastik PTFE.
a. Prosedur Tetap Tata Cara Berganti Pakaian Untuk
Pembuatan Obat Steril
Memasuki ruangan steril dilakukan melalui ruangan
ganti pakaian dimana pakaian daerah bersih normal
diganti dengan pakaian pelindung khusus yang warnanya
berbeda. Prosedur memasuki Ruangan Steril disebut
sebagai Tata Cara Berganti Pakaian yang bertujuan untuk
mengurangi pencemaran mikroba dan partikel Ruangan
Steril hanya dapat dimasuki melalui bagian ruang ganti
pakaian.
Pakaian yang baru dicuci dan disterilkan harus
dipakai setiap memasuki Ruangan Steril. Pakaian ini
digunakan hanya di dalam ruang steril. Pengawasan
dipermudah dengan member warna lain pada pakaian ini.
Pakaian steril disimpan dan ditangani dengan hatihati sehingga risiko pencemaran kembali oleh mikroba
dan partikel dapat ditekan sekecil mungkin sesudah dicuci
dan disterilkan.
Penggantian Pakaian Pertama

37

1. Pakaian bersih normal dilepaskan di bagian pertama


ruang ganti pakaian. Arloji dan perhiasan dilepaskan
dan disimpan atau diserahkan kepada petugas yang
ditunjuk
2. Pakaian dan sepatu dilepas dan disimpan di tempat
yang telah disediakan untuk itu
Penggantian Pakaian Kedua
1. Setelah menginjak keset kaki yang mengandung
desinfektan, lanjutkan ke bagian ke dua ruang ganti
pakaian. Cuci tangan dan lengan sampai siku dengan
deterjen dan air yang banyak dan kemudian dengan
desinfektan. (Desinfektan yang digunakan diganti
setiap minggu). Cuci kaki dengan deterjen dan air dan
terakhir desinfektan dengan desinfektan.
2. Keringkan tangan dan lengan dengan alat pengering
udara

panas.

Seperangkat

pakaian

steril

dari

bungkusan dan kenakan sesuai yang disebutkan di


atas
3. Pakai penutup kepala sehingga menutupi seluruh
rambut dan diselipkan ke dalam leher baju terusan.
Penutup mulut harus juga menutupi janggut. Penutup
kaki harus menyelubungi sampai ujung kaki. Celana
atau baju terusan diselipkan ke dalam penutup kaki.
Penutup kaki diikatkan kencang sehingga tidak turun
waktu bekerja. Ujung lengan baju harus diselipkan ke
dalam sarung tangan. Kacamata pelindung dipakai
pada tahap akhir ganti pakaian
4. Sarung tangan; didesinfeksi dengan alkohol 70% atau
larutan desinfektan lain
5. Buka pintu ruang penyangga dan ruang steril dengan
mendorongnya dengan siku tangan
6. Sesudah jam kerja, karyawan yang meningggalkan
ruangan

steril

melepaskan

sarung

tangan

dan

38

meletakkannya di tempat yang ditentukan, kemudian


mengganti

pakaian

dengan

urutan-urutan

yang

berlawanan ketika memasuki ruangan steril. Selama


istirahat makan siang atau minum, sarung tangan
direndam dalam isopropanol 70% dalam wadah
tertutup.

Pada

akhir

hari

kerja

sarung

tangan

disingkirkan dan satung tangan baru yang bersih


disterilkan digunakan untuk keesokan harinya.
7. Membuka dan menutup pintu harus dilakukan dengan
perlahan-lahan. Berjalan tergesa-gesa, berlari dan
berbicara yang tidak perlu dalam ruangan steril harus
dihindari
b. Prosedur Tetap

Sterilisasi

Sarung

Tangan

Untuk

Digunakan Pada Proses Steril


Permukaan kulit yang secara konstan melepaskan
sel-sel kulit menjadi sumber pencemaran mikroba dan
partikel

dalam

pencemaran

ruang

sejenis

ini,

steril.

Untuk

karyawan

menghindari

harus

menutupi

tangannya dengan sarung tangan bedah sampai menutupi


lengan atas. Sarung tangan yang biasanya terbuat dari
latex harus cukup tebal untuk tahan dipakai, dicuci dan
disterilkan dalam otoklaf berulang kali bila diperlukan.
Hanya sarung tanagn yang bersih dan steril boleh
digunakan dalam ruang steril.
Prosedur
1. Periksa sarung tangan sebelum digunakan terhadap
lubang-lubang halus. Isi sarung tangan dengn air dan
tekan perlahan-lahan sambil diputar ujungnya untuk
mendeteksi si lubang. Sarung tangan yang bocor tidak
boleh digunakan.

39

2. Untuk menghilangkan bedak, sarung tangan yang telah


disortir, dicuci dengan air ledeng, kemudian dengan air
murni
3. Balik sarung tangan dan cuci ulang. Peras sisa air
sampai kering
4. Sarung tangan dibungkus dalam kertas perkamen
dengan ukuran yang tepat
5. Bungkuan sarung tangan harus berisi jumlah cukup
untuk penggunaan satu hari saja
6. Bungkusan sarung tangan dimasukkan ke dalam
wadah atau baki baja tahan karat ttertutup yang sesuai
dan disterilkan dalam otoklaf pada suhu 121 0C selama
paling sedikit 20 menit
7. Lubang wadah harus berada dalam barisan terbuka
selama proses setrilisasi
8. Segera setelah otoklaf dibuka untuk pengeluaran
muatannya, barisan lubang wadah ditaruh dalam
kedudukan tertutup
9. Wadah dikeluarkan dari otoklaf dan disimpan dalam
lemari yang dilengkapi dengan lampu ultra violet
10. Wadah tidak boleh dibuka sampai sarung tangan
diperlukan
11. Pada waktu rehat, sarung tangan direndam dalam
isopropanol 70% dalam wadah tertutup
12. Setiap akhir hari kerja sarung tangan yang sudah
digunakan disingkirkan, sarung tangan baru yang
bersih dan disterilkan digunakan untuk keesokan
harinya.
3. Bangunan
Faktor utama yang harus diperhatikan pada tata letak
ruang steril untuk pegolahan secara aseptik adalah arus lalu
lintas orang dan barang dari daerah bersih Yang tidak steril
kedaerah steril. setelah pengolahan selesai terjadi arus
kebalikan yaitu dari daerah steril ke daerah bersih yang
tidak steril.

40

Untuk kegiatan tertentu hendaklah diperhatikan hal-hal


sebagai berikut:
a. Ruangan pencucian infus bag
Sebelum dicuci infus bag dikeluarkan dari pengemasnya.
Umumnya

bahan

pengemas

berupa

karton

dapat

mengeluarkan partikel. Oleh karena itu, pengeluaran infus


bag hendaklah dilakukan diruangan khusus sebelum
dibawa kedaerah bersih. Infus bag sebaiknya dicuci
dibawah unit aliran udara laminar vertikal.
b. Sterilisasi autoklaf
Infusbag disterilkan disterilisator panas uap diautoklaf.
Autoklaf akan tembus ke ruang steril, masing-masing
dengan pintu kedua membuka keruangan steril untuk
mengeluarkan ampulinfus bag yang sudah steril. Daerah
tempat mengeluarkan barang yang sudah disterilkan
sebaiknya dilindungi terhadap pencemaran balik dengan
memasang modul aliran udara laminer vertikel diatasnya.
c. Ruang steril (ruangan pengisian aseptis)
Kebersihan lingkungan ditempat pengisian aseptis dan
penutupan dengan tutup karet serta tutup aluminium
dijaga dengan memasang modul aliran udara laminar
vertikel diatasnya. Dinding ruangan ini sebaiknya berkaca
tembus

pandang

untuk

memudahkan

pelaksanaan

pengawasan dari luar ruangan. Pengawasan hendaklah


dilakukan

dari

luar

ruangan

untuk

mengurangi

kemungkinan pencemaran udara diruangan pengisian.


Ruangan steril hendaklah dilengkapi dengan manometer
atau alat lain yang menunjuk adanya perbedaan tekanan
udara di dalam terhadap tekanan udara di ruanganruangan lain yang bertetangga langsung dengan ruanganruangan lain.
d. Ruang timbang dan pengolahan bahan baku secara
aseptis

41

Dalam pembuatan dengan cara aseptis penimbangan


bahan baku dan pengolahannya hendaklah dilaksanakan
secara aseptis yang dapat dilaksanakan di bawah modul
arus udara laminar.
Ruangan steril, ruangan penyangga , ruangan ganti
pakaian steril dan ruangan ganti pakaian kerja biasa atau
ruangan produksi lain hendaklah mempunyai perbedaan
tekanan udara dari 1,0 1,5 mm kolom airt atau 10-15
paskal. Tekanan udara dalam ruangan yang mengandung
resiko lebih tinggi terhadap produk hendaklah selalu lebih
tingi daripada diruangan lain. Bila salah satu pintu dibuka
tekanan atau hembusan udara dari arah ruang yang
beresiko lebih tinggi untuk menghindari pencemaran balik
keruangan steril. Alat penunjuk tekanan positif antara dua
ruangan antara lain adalah manometer U yang diisi dengan
cairan warna merah, dipasang pada dinding pemisah kedua
ruangan

dimana

salah

satu

ujungnya

dihubungkan

keruangan yang beresiko lebih tinggi .


Pembersihan

dan

pembasmi

hamaan/desinfeksi

ruang steril setelah digunakan untuk pengolahan produk


tidak steril hendaklah dilakukan segera diluar program rutin
yang

disebut

pada

Protap

Pembersihan

Ruangan

diantaranya :
1. Frekuensi : setiap hari
Uraian tugas

1. Basahkan dengan kain lap semua meja kerja, kursi


,tombol pintu dan keran dengan deterjen
2. Cuci bak pencuci tangan dengan air panas 60C dan
desinfeksi dengan isopropanol 70%
3. Isi kembali wadah deterjen dan desinfektan
4. Ganti kantong sampah yang penuh dengan yang baru

42

5. Basahkan

dengan

lap

tong

sampah

dengan

isopropanol 70%
6. Bersihkan lantai dengan desinfektan A pada hari senin
sampai dengan kamis dan desinfektan B pada hari
jumat
2. Frekuensi : Setiap minggu (Hari jumat)
Uraian tugas

1. Bersihkan noda-noda di lantai dan dinding dengan wol


nilon
2. Basahkan dengan lap dinding dan pintu dengan
desinfektan B
3. Basahkan dengan

lap

jendela

kaca

dengan

isopropanol 70%
4. Basahkan dengan lap semua permukaan baja tahan
karat dengan isopropanol 70%
5. Bersihkan lantai dengan desinfektan B
6. Periksa sistem saluran pembuangan dan tuangkan
desinfektan C
3. Frekuensi : Setiap bulan (hari jumat minggu pertama)
Uraian tugas

1. Basahkan dengan lap langit-langit dan tutup kabel


dengan desinfektan
2. Basahkan dengan lap seluruh alat pengukur atau
mesin dengan isopropanol 70%
Persyaratan bahan bangunan:
Permukaan Jenis Bangunan
Keterangan
Sesuai Untuk
Dalam
1. Lantai
-Epoksi
atau -Monolitik,
permukaan -Ruang produksi
poliuretan
tidak berpori dan tidak
khusus daerah
licin
steril
-Menahan pertumbuhan
bakteri
-Mudah tergores
-(ubin)
teraso -Sukar diperbaiki dan -Khusus daerah
permukaan licin dimodifikasi
steril
dan tidak berpori -Ketahanan
terhadap
dengan
celah bahan kimia terbatas

43

yang ditutup resin -Mudah ternoda


sintetis
2. Dinding
-Bata/blok, beton -Mudah
retak
bila -Daerah steril
padat
yang pengerjaannya kurang -Daerah produksi
permukaannya
baik
diplester halus & -Menimbulkan debu bila
dibuat kedap air dibongkar
untuk
dngan lapisan cat perbaikan atau renovasi
dari
bahan
akrilik/enamel
polimer
tinggi,
poliuretan
atau
epoksi
Atau
-Panel logam yang -Tidak
melepaskan -Daerah steril
digalvanisasi,
partikel
lembaran
-Umumnya
tidak
aluminium
atau memerlukan perawatan
baja tahan karat -Cukup tangguh
-Sukar diperbaiki bila
kena benturan
-Rongga
pada
sambungan
harus
ditutup
misalnya
dengan bahan karet
silicon yang fleksibel
3. Langitlangit

-Beton yang dicat -Sukar


memodifikasi
dengan
bahan saluran listrik & saluran
akrilik,
enamel udara
polimer
tinggi -Dirancang utk menahan
atau epoksi
beban berat
-Ruangan
diatasnya
dapat digunakan untuk
penempatan
saluran
udara &layanan lain

-Daerah
steril,
daerah
pengolahan
lahan
dan
pengisian
aseptik

Pelapisan dinding dan langit-langit hanya dilakukan


apabila telah benar-benar kering. Permukaannya hendaklah
tanpa sambungan, kedap air dengan permukaan licin, tidak
retak dan tanpa pori-pori.

44

Lapisan hendaknya tahan sinar ultra lembayung dan


bukan merupakan tempat pertumbuhan bakteri dan jamur
serta tahan terhadap gosokan dan tidak rusak oleh suatu
desinfekan. Bahan yang memenuhu persyaratan diatas
adalah epoksi dan poliuretan.
Dinding dan langit-langit dapat juga dibuat dari
elemen-elemen baja tahan karat atau plat baja/aluminium
yang telah digalvanisasi dengan tepat, dapat juga terbuat
dari panel-panel terbuat dari damar sintesis yang mengeras
pada suhu panas dengan serat selulosa.
Lantai dapat dibuat dari teraso yang licin dan
permukaannya tanpa pori-pori yang disambung dengan
dammar sintesis atau dibuat ditempat
Sudut-sudut pertemuan lantai dengan dinding dibuat
melengkung dengan radius 20-30 mm.
Suhu

udara

diruang

bersih

dan

ruang

steril

hendaknya dipelihara pada 16 - 25C dan kelembaban relatif


pada 45%-55%.
Jalan masuk dan keluar bagi petugas ked an dari
ruang steril hanya melalui ruang ganti pakaian kecuali dalam
keadaan darurat. Lokasi ruang ganti pakaian hendaklah
langsung berhubungan dengan daerah steril yang akan
dilayani.
Ruang ganti pakaian hendaklah dilengkapi dengan
ruang penyangga udara yang terletak diantara ruang ganti
pakaian dan ruang steril dan dialiri udara tersaring dengan
tekanan positif yang lebih rendah daripada ruang steril tetapi
lebih tinggi daripada ruangan lain yang berhubungan
langsung.
Ruang ganti pakaian hendaknya dilengkapi dengan
manometer atau alat lain yang tepat yang terus menerus

45

menunjuk

perbedaan

tekanan

udara

diruang

udara

bersangkangkutan dengan ruang bertetangga.


Ruang ganti pakaian dan ruang penyangga hendaklah
dibangun

sedemikian

rupa

untuk

dapat

memisahkan

penggantian pakaian yang berbeda tingkat kebersihannya.


Untuk itu ruang ganti pakaian hendaknya terletak sebelum
ruang penyangga udara dan terdiri dari ruangan terpisah
yang memisahkan daerah ruangan kerja biasa dan daerah
pakaian steril.
Pintu antara ruang steril dengan ruang penyangga
hendaklah dilengkapi dengan suatu system antara lain
system penguncian elektro yang tidak memungkinkan dua
pintu

dibuka

dalam

waktu

yang

sama.Wadah

untuk

meletakkan dan menyimpan pakaian bersih dan steril, serta


pakaian

yang

telah

digunakan

hendaklah

disiapkan

dimasing-masing ruangan.Lampu UV yang efektif (panjang


gelombang 253,7 nm) hendaklah dipasang dalam ruang
ganti pakaian steril atau lemari penyimpanan komponen
pakaian

steril.Ruang

ganti

pakaian

steril

hendaklah

dilengkapi dengan bak pencuci tangan seperti dikamar


operasi dan alat pengering tangan otomatis.
Saringan udara (Air Filter)
Udara

atmosfer

terdiri

dari

nitrogen,

argon,

karbondioksida, uap, kotoran seperti debu dan gas yang


bersifat korosif, dapat masuk kedalam ruangan bersamasama udara yang dihisap dan dapat pula yang berasal dari
dalam ruangan itu sendiri. Komponen kotoran yang ada
dalam udara tergantung pada daerah, waktu dan kondisi
atmosfer serta lingkungan, debu yang ada dalam udara
tersebut dan dapat terdiri dari berbagai bentuk,ukuran

46

maupun kualitas. Oleh karena itu diperlukan saringan untuk


mengeluarkan kotoran dari udara.
Pada

sediaan

Infus

menggunakan

HEPA filter

(Efisiensi penyaringan 99,997 %), yang merupakan final filter


dimana udara akan langsung masuk kedalam ruangan
produksi.

HEPA

filter

terdiri

dari

elemen

saringan

didalamnya. Jika elemen saringan ada dalam keadaan


kering maka disebut saringan jenis kering, sedangkan yang
menggunakan elemen saringan yang diserapi oleh cairan
disebut saringan jenis basah.
Jenis saringan ini dapat dibersihkan atau diganti jika
efisiensinya sudah menurun atau rusak.
Biasanya saringan kalau sudah penuh debu atau
buntu, maka Differential pressure (DP) akan menurun,
sirkulasi udara akan tidak lancer, hambatan pengaliran
udaranya

semakin

besar,

sehingga

kemampuan

penyaringannya akan berkurang dan dapat menyebabkan


kontaminasi silang (antar ruang). Untuk HEPA filter hal ini
ditegaskan dengan menggunakan megnehelic dimana DP
yang diizinkan untuk HEPA filter adalah 350-500 pa. Apabila
DP luar range tersebut maka HEPA pada AHU filter harus
diganti dan umumnya dilakukan 5 tahun sekali (sekali pakai).
PETUNJUK UMUM PEMANTAUAN MIKROBA DILINGKUNGAN
PEMBUATAN OBAT STERIL
Objek pantau
1. Dinding, lantai, peralatan dalam :
1. 1 daerah kelas II
1. 2 daerah kelas I / dibawah aliran udara laminar
2.
Ruangan persiapan
3. Udara diruangan

Hitungan maksimum
tiap cm3
Bakteri
Kapang
8
5
10

3
2
5

Bakteria
UPK / m3

Kapang
UPK / m3

47

3.1 Daerah kelas II


a. Ruangan pengolahan,pengisian,ganti pakaian,
ruang penyangga udara
b. Tempat pencucian
c. Koridor
d. Ruangan persiapan
e. Ruang pengisian aseptis kelas II
3.2 Daerah kelas I
a. Ruang pengisian aseptis dibawah kondisi yang
ketat
b. Daerah pengujian sterilisasi

SP

SA

SP SA

25

10

5
50
10
2

50
500
100
25

2
10
2
1

10
100
25
10

<1

< 1 / ml

4. Air untuk injeksi

0 / ml

1. Pengambilan contoh udara


- SP = Setting Plate (cawan endap) : Paparkan selama 3 jam
- SA = Slit-to-Agar : Pengambilan contoh udara dengan kecepatan 28,31
udara/menit selama 30 menit
2. Daerah bersih diambil contohnya sesudah sanitasi dan sebelum digunakan
3. Air : perhitungan microbial memacu kepada saat digunakan
4. Peralatan
a. Peralatan Umum
1. Otoklaf
Suatu otoklaf digunakan untuk sterilisasi cara panas
basah dimana uap air dihasilkan dalam bentuk tekanan
uap jenuh. Daerah pengolahan:
a. Daerah pengolahan muatan hendaklah dilengkapi
dengan suatu sistem untuk membuang panas
selama proses pendinginan
b. Barangyang telah disterilisasi dan akan didinginkan
untuk

proses

aseptik

hendaklahdikeluarkan

langsung ke dalam daerah steril


c. Kebersihan dan kerapihan di sekeliling otoklaf
hendaklah dijaga
d. Uap air berasal dari otoklafhendaklah dikeluarkan di
luar daerah steril.

48

e. Rongga, jaket,serta semua pipa uap hendaklah


diselubungi dengan isolasi yang tepat dan pipa
kondensasi hendaklah dilindungi.
2. Penyaring Membran
a. Filter seitz
Bagian dari filter ini dibuat dari bahan asbestos
yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan
utama dari filter seitz adalah lapisan filter dapat
dibuang setelah digunakan dan untuk masalah ini
pembersihannya berkurang. Efisiensi dari filter ini
tergantung pada pengembangan serat dan lapisan
filter oleh air. Karena larutan alkohol pekat tidak
mengembang,

filter

ini

tidak

digunakan

untuk

mensterilkan larutan yang mengandung alcohol


dengan jumlah besar. Filter ini mampu dengan
kapasitas volume dari 30 ml hingga lebih 100 ml.
Kerugian pertama dari filter ini cenderung
memberikan komponen magnesium pada filtrat.
Kerugian kedua dari seitz adalah permukaan serat
dari lapisan filtrat, membuat larutan tidak cocok untuk
injeksi.
b. Filter Swinny
Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny
mempunyai adaptor khusus yaitu terdiri dari lapisan
asbes,

bersama

dengan

layer

dan

pencuci.

Keutamaan untuk digunakan filter swinny di bungkus


dengan kertas dan autoklaf. Bagian yang dipotong
dihubungkan

pada

dimasukkan

ke

spoit

werlock

potongan

asbes

menggunakan tekanan pada sal spoit.


c. Filter Fritted-Glass

dan

cairan
dengan

49

Filter Sintered Fritted-Glass dapat dihancurkan


oleh kandungan dalam serbuk, tombol bulat dari
gelas digabungkan bersama dengan penggunaan
panas untuk menempatkan ukuran dari bentuk
potongan. Permeabilitas dari filter berbanding lurus
dengan berkembangnya ukuran. Setelah potongan
dibentuk, potongan disegel dengan pemanasan
didalam gelas pirex seperti corong Buchner.
d. Filter Berkefeld dan Mandler
Mandler terbuat dari tanah silika murni, asbestos
dan kalsium sulfat. Berkefeld disusun juga dari tanah
silika murni. Masing-masing filter bermuatan negatif.
Tersedia dalam beberapa prioritas berdasarkan
permeabilitasnya ke dalam air dalam Bekerfeld atau
Mandler.
e. Filter Selas
Filter

ini

secara

kimia,

menjadi

resistensi

terhadap semua larutan yang tidak menyerang silika.


Karena masing-masing partikel meliputi filter sematamata bersama selama proses manufaktur, ada
bahaya kecil partikel-partikel dari filter jauh dalam
larutan.
f. Filter Candles-Pasteur-Chamberland
Ada pemanasan dengan Bekerfeld tetapi dibuat
dari pori porselen tak berkaca dengan pori kecil yang
menghasilkan filtrasi lambat.
4. PPIC (Production Planning & Inventory Control)
Sistem Pemantauan dan Pengendalian Inventory sehingga
bisa dipertahankan stok mimimal yang ideal dan tetap terjamin
pemenuhan kebutuhan produk di pasaran. Tugas PPIC adalah :

50

a. Membuat

rencana

produksi

secara

global

dengan

berpedoman pada rencana sales dari marketing.


b. Membuat rencana pengadaan bahan baku dan bahan
pembantu berdasarkan rencana dan kondisi stock dengan
menghitung kebutuhan material produksi menurut standar
stock yang ideal (ada batasan minimal dan maksimal yang
harus tersedia).
c. Monitor inventory yang ada agar kegiatan produksi dan
penjualan dapat berjalan dengan lancer.
d. Menghitung standar tenaga kerja setiap tahun berdasarkan
data lapangan.
e. Menghitung standar yield berdasarkan realisasi produksi
setiap tahun.
f. Sebagai juru bicara perusahaan dalam hal kerja sama dengan
perusahaan.
Bagian/departemen

yang

bertanggung

jawab

untuk

melaksanakan pengadaan barang adalah Departemen/Bagian


Pembelian

(purchasing

department).

Bagian

pembelian

bertanggung jawab untuk melakukan pembelian segala hal


keperluan perusahaan, baik keperluan administrasi seperti alat
tulis kantor dan alat elektronik maupun keperluan yang terkait
langsung dengan produksi obat seperti bahan baku obat, bahan
pengemas, spare part mesin-mesin produksi, dan lain-lain.
Terdapat empat kegiatan utama dalam Pembelian, yaitu
1. Pemilihan supplier (pemasok), bernegosiasi mengenai harga,
termint pembayaran dan jadwal pengiriman bahan, termasuk
di dalamnya menerbitkan surat pesanan (purchase order/PO),
2. Melakukan pemantauan pengiriman (expediting delivery) yang
dilakukan oleh supplier,
3. Menjembatani antara supplier dengan bagian terkait dalam
perusahaan, misalnya bagian teknik, QC, Produksi, Keuangan
dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah pembelian
bahan (complaint, dan lain-lain), dan

51

4. Mencari produk, material atau supplier baru, yang dapat


memberikan kontribusi dan keuntungan pada perusahaan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengadaan
antara lain,
1. Stok bahan yang ada baik bahan baku, bahan pengemas dan
produk jadi, dan
2. Lead time (yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pengadaan
barang mulai dari pemesanan sampai tiba di gudang pabrik).
Dalam
Purchasing

rangka
bekerja

pengadaan
sama

bahan

dengan

baku,

Departemen

Departemen

Product

Development di bawah Departemen PPIC dalam menyeleksi dan


memilih supplier yang tepat. Supplier harus memiliki kriteria
sebagai berikut :
1. Merupakan badan hukum yang sah.
2. Memiliki COA (Certificate of Analysis) untuk menjamin kualitas
bahan yang dipesan.
3. Supplier harus menyertakan kelengkapan dokumen master file
yang disebut DMF (Drug Master File).
4. Bahan baku yang dimiliki supplier harus mempunyai kualitas,
efikasi, dan product safety yang tinggi.
5. Supplier harus memiliki peralatan yang secara rutin sudah di
kalibrasi untuk menjamin kualitas bahan baku.
6. Kontinuitas atau kesanggupan supplier dalam menyuplai
barang yang berkualitas secara terus-menerus.
7. Delivery time atau ketepatan waktu pengiriman sesuai dengan
waktu pengiriman yang telah ditentukan.
8. Layanan purna jual dan kemudahan dalam pembayaran.
Setelah memperoleh supplier yang tepat, Departemen
Purchasing akan mengubah Order Requisition (OR) yang dibuat
oleh Departemen PPIC menjadi Purchase Order (PO) dan PO
dikirimkan ke supplier. Berdasarkan PO tersebut maka supplier
mengirimkan barang pesanan ke pabrik. Di dalam PO tercantum
nama barang, kode barang, jumlah, satuan, harga satuan, harga
total, tanggal kirim, spesifikasi barang, pembayaran dan catatan

52

lain yang diperlukan. PO disahkan oleh Manajer Departemen


Purchasing. Departemen Purchasing bertanggung jawab hingga
barang yang dibeli tiba di pabrik. Pada saat bahan baku tiba,
Departemen

PPIC

dan

QA melakukan

pengecekan

awal

mengenai kesesuaian bahan baku dengan surat pesanan,


kelengkapan COA dan dokumen DMF bahan baku tersebut yang
selanjutnya mengeluarkan LPB (Laporan Penerimaan Barang)
seperti pada alur berikut :

Sebelum melaksanakan proses produksi, bahan baku yang


ada harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan, sehingga
produk

yang

dihasilkan

mempunyai

kualitas

yang

baik.

Pemeriksaan bahan baku meliputi : pemeriksaan surat jalan;


PO/PR; label; nama bahan; nomor batch/lot; nama pabrik
pembuat; nomor wadah; kadaluarsa; kondisi wadah, tutup, segel;
dan pemeriksaan laboratorium. Bagian analisa (di bawah
Departemen QC) melakukan sampling dari bahan baku yang
sesuai dengan prosedur tetap. Pada bagian ini, QC melakukan
tugas awalnya yakni pada proses IMI (Incoming Material
Inspection). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam sampling :
a. Pengambilan sampel secara acak dari bagian atas, tengah,
dan bawah dari wadah. Pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan alat thief sampler.

53

b. Pengambilan sampel diambil secara acak untuk setiap batch


dengan rumus n +1, n adalah jumlah wadah yang diterima.
Untuk bahan yang identitasnya kurang jelas, wadah kotor,
pabrik pembuat berbeda dari biasanya, dan bahan dari
supplier baru, maka sampling dilakukan terhadap semua
wadah dalam batch.
c. Pengambilan contoh dilakukan dengan tepat untuk mencegah
kontaminasi dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Sebelum sampling,diperiksa apakah segel/tutup wadah
masih utuh.
b) Alat sampling bersih.
c) Wadah segera ditutup rapat dan diberi penandaan.
Jika semua hasil pemeriksaan sampling sesuai dan
lengkap, bahan baku diberi label KARANTINA yang berwarna
kuning, sampel dibawa ke laboratorium dan diperiksa identitas,
deskripsi, kemurnian, dan penetapan kadar. Setiap pengujian
bahan baku dilengkapi dengan catatan pengujian (testing order)
atau catatan hasil pengujian yang ditandatangani oleh QC
manager. Bahan baku yang telah lulus seleksi diberi label
DILULUSKAN atau RELEASED yang berwarna hijau, dan jika
tidak sesuai dengan spesifikasinya diberi label DITOLAK atau
REJECTED yang berwarna merah. Selain itu bagian analisa
mengeluarkan lembar DISPOSISI QC yang menerangkan status
bahan baku. Disposisi ini ditembuskan ke bagian PPIC untuk
perencanaan produksi dan bagian keuangan untuk pembayaran.
Departemen QC juga mengeluarkan Nota Hasil Pemeriksaan
Barang (NHPB) yang akan diteruskan ke bagian gudang.
Contoh Label Karantina dan Contoh Label DILULUSKAN
atau RELEASED

54

Contoh Blangko Disposisi QC

Uji Stabilitas Bahan Obat


Pemeriksaan stabilitas dilakukan untuk menjamin kualitas
produk obat sampai ED, untuk mengetahui waktu kadaluarsa
obat, serta untuk menentukan shelf life produk periode waktu
penyimpanan pada kondisi yang spesifik sampai produk masih
memenuhi spesifikasi. Uji stabilitas produk dilakukan pada kondisi
penyimpanan sebenarnya (real time) maupun dalam kondisi suhu
yang ditingkatkan (accelerated test). Ada 3 jenis uji stabilitas
yaitu:
a. Uji stabilitas produk pada kondisi penyimpanan 25 oC pada
bulan ke 3, 6, 12, 24, 36, 48.
b. Uji stabilitas produk dalam kondisi penyimpanan 30 oC (suhu
kamar) pada bulan ke 3, 6, 12, 18, 24, 36 dan 48.
c. Uji stabilitas yang dipercepat dengan kondisi penyimpanan
produk dalam suhu 40 oC, 75% RH pada bulan ke 0, 1, 2, 3,
dan 6.

55

Pengujian yang dilakukan untuk stabilitas sediaan 3 batch telah


dijelaskan pada bagian R & D.
Setelah dilakukan uji oleh tim QC dan dinyatakan bahan
diluluskan makan penyimpanan bahan tersebut dikarantina di
Warehouse (gudang) yang merupakan tempat penerimaan,
penyimpanan dan penyerahan barang farmasi berupa bahan
baku, bahan pengemas, produk ruahan, obat jadi dan bahan lain
yang dibutuhkan untuk membantu kelancaran proses produksi
maupun pengemasan. Kegiatan di gudang :
1. Receiving goods (penerimaan barang) dan mengidentifikasi
barang
2. Penyimpanan barang
3. Pemilihan barang
4. Pengiriman barang
Proses/alur penerimaan barang di gudang
PPIC

Administrasi Gudang

Area Karantina

Label

Memenuhi Syarat
Label Hijau

Label Merah

Area Penyimpanan

Area Reject
RETURN

Kartu stock
(administrasi dan
lapangan)

Tidak Memenuhi Syarat

Permintaan Marketing

Laporan stock
bulanan dan stock
opname tahunan

Penyiapan dan Pembuatan DO

Gudang Kantor Pusat

Penjualan

56

Secara umum gudang merupakan suatu tempat untuk


menyimpan barang. Adapun fungsi gudang adalah :
1. Sebagai tempat untuk penerimaan barang (misalnya dari
supplier, bagian produksi dll)
2. Sebagai tempat untuk penyimpanan barang (sesuai dengan
kategori barang)
3. Sebagai tempat untuk pengeluaran barang (misalnya: kepada
distributor, produksi, QC, dll)
4. Sebagai tempat untuk pengumpulan barang.
Syarat-syarat suatu gudang adalah :
1. Suhu dan kelembaban di ruang penyimpanan ber AC < 25 oC ;
Rh 45-75 %. Sedangkan untuk ruangan non-AC suhunya 1530oC ; Rh 45-75%.
2. Penyimpanan bahan baku, pengemas dan obat jadi sebaiknya
diatas rak (pallet) agar tidak bersinggungan langsung dengan
lantai atau dinding tembok.
3. Harus dilakukan pemeriksaan kebersihan gudang secara rutin
seperti : pemeriksaan ventilasi, atap gudang, lantai serta
pemeriksaan dinding gudang.
4. Ada makanan khusus untuk mengontrol hama atau binatang
lain yang dapat merusak barang yang disimpan digudang
(misalnya, tikus).
5. Terdapat ruang karantina, ruang sampling dan ruang (tempat)
untuk barang kembalian.
Pembagian ruangan dalam gudang dapat dilakukan secara
fisik, misalnya dengan cara menyekat atau membatasi antar
ruangan dengan tembok atau hanya dengan garis saja. Selain itu,
pembagian

ruangan

dalam

gudang

juga

dapat dilakukan

berdasarkan suhu penyimpanan barang (yaitu sesuai dengan


kondisi barang).

57

Adapun ruangan-ruangan yang ada dalam gudang antara


lain :
Kantor, Karantina, Rejected material, Sampling, Ruang dingin,
Barang

kembalian,

Pengeluaran

Penerimaan

barang,

Penyimpanan,

barang, Penimbangan, Ruang

sejuk, Barang

kemasan, dll.

Gambar. Denah Gudang Bahan Awal


5. Produksi
Bertugas dalam produksi infus termasuk :
-

Memastikan bahwa infus diproduksi dan disimpan sesuai

prosedur agar memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.


Memberikan persetujuan kerja yang terkait dengan produksi
dan memastikan bahwa petunjuk kerja diterapkan secara

tepat.
Memeriksa pemeliharaan bangunan fasilitas serta peralatan

dibagian produksi
Memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan
dan

memastikan

berkesinambungan

bahwa
bagi

pelatihan

personil

awal

di

dan

departemennya

dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan.


Proses produksi meliputi semua tahap dari pengumpulan
dan

penggabungan

memasukkan

produk

bahan-bahan
dalam

dari

formula

masing-masing

wadah

hingga
untuk

distribusi. Pekerja yang melaksanakan serta fasilitas pelaksanaan

58

berhubungan erat dengan proses ini. proses yang direncanakan


secara ideal dapat dibuat tidak efektif oleh pekerja yang sikapnya
tidak tepat dan tidak ditatar, atau oleh fasilitas yang tidak
memberikan lingkungan terkontrol secara efisien.Syarat tempat
produksi dan personalia telah dipaparkan sebelumnya.
Alur Produksi
Penyimpana
n suplai
Bahanbahan
pembawa
Zat terlarut

Alat
Pemorses
Komponen
wadah

Lingkungan Bersih
Terkontrol
Campuran
Penyaringan

Daerah
Bersih

produk larutan

Pembersiha
n

Daerah
Aseptis
Pensterilan
Pengisian
Penyegelan

Pembersiha
n

Pengema
san

Penyimpan
an produk

Pensterilan

Gambar. Diagram Aliran Bahan-bahan Melalui Bagian Produksi


Visualisasi lewatnya bahan melalui berbagai tahap proses
produksi dapat dilihat pada diagram di atas.
Dalam tahap awal, bahan-bahan dalam formula, komponenkomponen wadah, dan peralatan pemrosesan yang telah
dilepaskan

untuk

digunakan

diambil

dari

tempat

penyimpanannya. Bahan-bahan tersebut digabungkan menurut


master formula dalam suatu lingkungan yang dirancang untuk
mempertahankan derajat kebesrihan yang tinggi. Jika produk itu
merupakan larutan, produk tersebut disaring pada waktu
pemindahan ke ruang pengisi aseptik.
Komponen peralatan proses dan wadah dibersihkan secara
menyeluruh menurut spesifikasi yang diminta, dirangkai dlam
lingkungan

yang

bersih,

dan

sebaiknya

dibebaskan dari pirogen sebelum digunakan.

disterilkan

serta

59

Semua peralatan dan bahan yang dimasukkan ke tempat


pengisian aseptis harus steril, karena baru saja mengalami
proses pensterilan, dan sebaiknya melalui pensteril berujung dua
(oven pensterilan berpintu rangkap yang diisi dengan alat bersih.
Peralatan akan diambil dalam keadaan steril dari pintu lain dalam
daerah aseptis setelah siklus sterilisasi). Bila ini tidak mungkin,
kemasan, pipa peralatan, dan barang atau bahan lain harus
dilewatkan melaui tempat pembuka berukuran minimal yang
dapat ditutup kembali dengan cepat pada kondisi aseptis.
Pembungkus kemasan luar harus dilonggarakan dan isinya
diterima, maksudnya pembungkus dalam dipegang oleh pekerja
yang sudah berada dalam ruang pengisian aseptis. Bila
pembungkus rangkap tidak layak, permukaan luar kotak,
kemasan, atau alat harus dilap dengan suatu larutan disinfektan
pada waktu dipindahkan ke dalam ruang aseptis. Semua
perlengkapan harus dimasukkan ke dalam ruang pengisi aseptis
sedemikian rupa, sehingga keadaan aseptis dari ruang ini terjaga,
dan mencegah masuknya pencemaran dari sekitarnya ke produk
tersebut pada saat obat diisi ke dalam wadah-wadah tunggal.
Setelah wadah-wadah ini disegel, kontaminasi tidak dapat
memasuki wadah dan produk.
Seperti terlihat dalam diagram, produk tersebut disegel
dalam wadah akhir dalam ruang aseptis, kemudian dipindahkan
ke tempat pengemas. Tempat ini dijaga bersih, tetapi tidak perlu
memenuhi standar untuk ruang aseptis atau untuk ruang
pencampur. Produk yang telah dikemas ditempatkan dalam
gudang karantina sampai semua uji telah dilakukan dan catatan
kontrol dalam proses telah dievaluasi; kemudian produk tersebut
bisa dilepas untuk didistribusikan.
Fasilitas

60

Fasilitas untuk pembuatan produk harus dirancang untuk


kontrol kebersihan yang cocok untuk masing-masing tahap.
Kebersihan yang mendekati sempurna harus dicapai dalam ruang
pengisi aseptis. Daerah di sekitarnya harus merupakan daerah
penahanan di mana standar kebersihan hanya sedikit lebih
rendah dari standar kebersihan untuk ruang aseptis. Pencegahan
kontaminasi harus merupakan tujuan utama dalam rancangan
fasilitas ini.
Untuk mencapai standar rancangan dan konstruksi,
pengetahuan tentang tujuan fasilitas harus digabung dengan
penggunaan bahan konstruksi dan desain yang terbaik. Langitlangit, dinding, dan lantai harus dibuat dari bahan yang mudah
dibersihkan dan tidak berpori, untuk mencegah menumpuknya
serpihan-serpihan dari konstruksi dan lembap. Mungkin satu dari
alat-alat pelapis akhir yang terbaik untuk permukaan kasar adalah
spray-on-tyle. Ini merupakan suatu epoksi keramik yang dipakai
untuk tahap penyelesaian dengan menyemprot atau mengecat
untuk membentuk lapisan pelindung yang halus dan kontinu pada
dinding dan langit-langit. Tetapi efek pencucuian yang keras dan
terus-menerus

dengan

deterjen

atau

desinfektan

dapat

menyebkan rusaknya epoksi ini.


Salah satu bahan terbaik untuk lantai adalah semen
keramik-plastik yang digunakan sebagai lapisan tebal pada lantai
keras yang sudah untuk membentuk suatu permukaan pelindung
yang kontinu. Bahan lain yang banyak digunakan untuk lantai di
tempat-tempat yang tidak begitu sering dilalui adalah lembaran
vinil dengan pelipit yang direkatkan dengan panas, direkatkan ke
sisi dinding dan pada dasar lantai dengan perekat. Kadangkadang digunakan penyekat logam yang dapat dipindahkan untuk
menyediakan susunan ruang yang fleksibel, tetapi pelipit dan
sambungan ini mempunyai kelemahan sangat sukar dilindungi.

61

Kaca seringkali digunakan sebagai penyekat sehingga


jalannya proses dapat dilihat,tetapi yang lebih penting adalah
untuk memberikan rasa nyaman dan cahaya yang lebih baik,
serta lingkungan yang tidak begitu membatasi bagi operator.
Peralatan penyinaran tetap harus tetap masuk ke dalam dinding,
pipa-pipa atau permukaan pengumpul debu lain yang terpapar
tidak boleh dibiarkan. Perabotan harus terbuat dari bahan-bahan
tidak berpori yang keras permukaannya, lebih baik dari baja anti
karat. Dinding yang berlubang keluar harus ditutup.
Bagian perlatan yang sukar atau tidak mungkin disterilkan,
jika mungkin jangan dimasukkan dalam ruang aseptis. Jika alat
tersebut harus digunakan dalam ruang aseptis, alat itu harus
tetap di sana dan secara kontinu harus dipapar untuk proses
desinfeksi. Jika mungkin, bagian mesin pengoperasi harus
dimasukkan dalam tempat penyimpanan dari baja anti karat.
Perbaikan mekanik, gas, air, ventilasi udara, dan
penggunaan pipa-pipa ke tempat ini membutuhkan perencanaan
yang teliti. Salah satu rencana yang paling efektif untuk ini adalah
penyediaan lantai atas, ruang di bawah, atau gang di sepanjang
daerah produksi di mana semua hubungan pelayanan dapat
dimaksukkan dan dipelihara dengan layak. Ini mencegah
gangguan produksi dan yang paling penting, pencegahan
kontaminasi daerah produksi dengan penjagaan pelaksanaan dan
pekerjaannya.
Pengendalian lalu lintas.Pengendalian lingkungan yang
amat baik akan relative mudah dicapai jika pekerja dan peralatan
tidak perlu bergerak dri satu daerah ke daerah yang lain. Oleh
karena itu, penyusunan desain yang teliti untuk mengendalikan
dan meminimumkan lalu lintas, terutama di dalam dan di luar
daerah aseptis sangat penting. Perlu dicatat bahwa satu-satunya
jalan masuk secara langsung dari luar adalah ke ruang cuci
pekerja, ruang cuci peralatan, daerah pembuatan tidak steril dan

62

daerah penutupan (pengemasan). Jalan masuk untuk pekerja ke


gang aseptis dan ruang pencampuran serta pengisian hanyalah
melalui suatu Air-Lock dengan 2 pintu yang tidak dapat membuka
secara bersamaan.
Pekerja diizinkan memasuki daerah ruang aseptis hanya
setelah mengikuti aturan berpakaian yang telah ditetapkan yakni
menanggalkan pakaiannya di luar dan mengganti dengan pakaian
khusus yang bersih, mencuci tangan, dan menggunakan pakaian
kerja seperti pakaian panjang, topi, sepatu, penutup muka,
sarung tangan, dan perlengkapan lain yang telah ditetapkan.
Sekali masuk ke ruang aseptis, tidak dibolehkan keluar masuk
ruang tersebut tanpa pakaian kerja yang baru. Pekerja yang
ditugaskan untuk membersihkan dan mengemas harus terbats
pada daerah ini. Pekerja yang tidak bertugas tidak boleh masuk
ke ruang aseptis.
Sarana Produksi Steril
Sarana produksi steril meliputi :
Washing Machine. Mesin cuci otomatik ini digunakan untuk
mencuci infus bag yang akan diisi dengan larutan steril.
Pencucian

dilakukan

dengan

air

murni

(purified

water),

dilanjutkan menggunakan air untuk injeksi (water for injection),


diikuti dengan udara steril untuk pengeringan.
Depyrogenation Machine. Mesin ini digunakan untuk proses
sterilisasi dan depirogenasi infus bag pada suhu maksimum
340 C, dan aliran udara dalam mesin diatur laminar dengan
melalui Hepa filter.
Filling & Stoppering Machine. Mesin filling ini digunakan untuk
melakukan pengisian larutan steril pada infus bag steril dan
penyegelan infus bag yang telah di-filling dengan rubber
stopper. Proses filling dilakukan dengan volumetric vacuumpressure system. Mesin ini dilengkapi dengan statistical weight
control dengan feedback untuk automatic adjustment pada

63

dosing chamber, dan liquid filling system untuk keperluan


validasi media fill. Semua proses ini dilakukan dibawah kondisi
aliran udara laminar dengan Hepa filter.
Capping and Dedusting Machine. Proses penyegelan infus bag
dilakukan secara otomatis, diteruskan pembersihan bagian luar
infus bag dengan cara di-vacum untuk mencegah kontaminasi
debu terhadap lingkungan luar.
Inspection & Labelling Machine. Inspeksi dilakukan terhadap
semua infus bag yang menggunakan Inspection Machine
diteruskan dengan proses labelling secara otomatis, dilanjutkan
dengan proses packaging.
Sedangkan sarana penunjangnya terdiri dari :
Purified Water Treatment Plant .Fasilitas pengolahan air murni
ini terdiri dari Reverse Osmosis (RO) dan Electrodeionization
(EDI). Sistem ini mampu menghasilkan air murni dengan
konduktiviti kurang dari 0.1 S/cm dan total organic carbon (TOC)
kurang dari 50 ppb.
Purified water distribution system. Distribusi purified water
dilakukan dengan sistem loop pada temperatur ambient yang
beoperasi selama 24 jam. Sistem distribusi purified water terdiri
dari SS316L storage tank and pipe, diaphragm valve pada user
point, UV purifier untuk mengontrol pertumbuhan mikroba.
Water for Injection. Water for injection dihasilkan dari multi
column distillation plant dengan purified water sebagai air
sumber.
Water for Injection Distribution System. Distribusi water for
injection (WFI) dilakukan dengan system loop pada suhu 80 C
yang beroperasi 24 jam. Sistem distribusi WFI terdiri dari
SS316L storage tank, SS 316L pipe dengan orbital welding, dan
zero deag leg diaphragm valve.
Metode dalam pembuatan produk steril infus NaCl 0,9%,
yaitu produk disterilisasi akhir (post sterization). Pada metode

64

(post sterization) dilakukan sterilisasi produk setelah dimasukkan


ke dalam wadah (botol infus).
Daerah Produksi untuk pembuatan sediaan steril secara
CPOB terkini (cGMP) yaitu :
1. Kelas A : Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misalnya
zona pengisian. Umumnya kondisi ini dicapai dengan
fmemasang unit aliran udara laminar (laminar air flow) di
tempat kerja. Sistem udara laminar hendaklah mengalirkan
udara dengan kecepatan merata berkisar 036 0,54 m/detik
(nilai acuan) pada posisi kerja dalam ruang bersih terbuka.
Sistem LAF harus memberikan kecepatan udara yang
homogen sekitar

0,45 m/detik 20 % (nilai rujukan) pada

posisi kerja.
2. Kelas B : Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptik,
kelas ini adalah lingkungan latar belakang untuk zona kelas
A.
3. Kelas C dan D : Area bersih untuk melakukan tahap
pembuatan produk steril dengan tingkat risiko lebih rendah.
Berikut ini adalah tabel Jumlah partikulat di udara untuk
masing-masing daerah di atas :
Non-operasional
Operasional
3
Jumlah maksimum partikel /m yang diperbolehkan
untuk kelas setara atau lebih tinggi dari
0,5 m
5m
0,5 m
5m

Kelas
A

3500

3500

3500

350.000

2000

350.000

2000

3.500.000

20.000

3.500.000
Tidak
ditetapkan

20.000
Tidak
ditetapkan

Tahap-tahap dalam proses pembuatan bentuk sediaan steril


adalah:

65

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Pengisian & penyiapan ruangan serta fasilitas produksi


Pembuatan dan penanganan air untuk injeksi
Pembersihan/pencucian dan steerilisasi peralatan
Pencucian dan sterilisasi wadah (botol infus)
Pencampuran produk
Penyaringan larutan
Pengisian
Penyegelan
Pengujian selama proses produksi (In Process Control = IPC)
Penyelesaian
Validasi

Penyiapan Ruangan Dan Fasilitas Produksi


Sebelum dilakukan proses produksi, ruangan harus
dibersihkan dengan seksama dan tidak ada sisa partikel bebas
produk

sebelumnya

yang

tertinggal.

Selanjutnya

ruangan

disterilisasi dengan menggunakan gas (gas formaldehida atau


etilen oxide). Cara lain adalah dengan menggunakan lampu ultra
violet (UV) yang ditempatkan untuk memberikan intensitas
penyinaran

yang

memadai

pada

luas

permukaan

yang

maksimum.
Sinar ultra violet (UV), terutama digunakan untuk
menyinari permukaan tangki pemrosesan bagian dalam dan
permukaan

yang

terpapar,

permukaan

di

bawah

tutup,

permukaan ban berjalan, dari permukaan tertentu yang sulit di


sterilkan jika tidak dengan penyinaran.
Pembuatan Dan Penanganan Air Untuk Injeksi
Pembuatan air untuk injeksi (Water for Injection=WFI),
biasanya dibuat dengan cara destilasi (penyulingan) bertingkat
dari bahan baku air murni (purified water).
Air suling yang dipakai sebagi bahan baku untuk
pengolahan, bila disimpan lebih dari 24 jam, hendaklah
dipanaskan pada suhu minimal 70 C dan sirkulasi dengan
kecepatan antara 0,5-1,5 m/detik,
Kualifikasi air secara umum:

66

a. Grade I: Raw Water


Fungsi : Untuk pemadam kebakaran, menyiram tanaman, dll
Pembuatan: Air sumur, PDAM, dll
b. Grade II: Potable Water (PW)
Fungsi : Cuci pakaian, cuci alat nonsteril, pembersihan ruangan, cuci
tangan, kamar mandi, dll
Pembuatan:
Iron
removal

Raw water

Sand
filter

Chlorinasi

Carbon
filter

Potable
Water
c. Grade III : Purified Water/Aquademineralisata
Fungsi : Cuci akhir container.
Pembuatan:
Saringan
mikro 3 m
Potable
Water

De-ionisasi

Saringan
mikro 1 m
UV Lamp

Purified
water

Saringan
mikro 0,2 m

d. Grade IV: Water For Injection (WFI)


Diagram alir system distribusi air untuk injeksi
Fungsi : Cuci akhir container steril, cuci botol infus, produksi steril,
laboratorium, dll
Pembuatan:
Purified
Water

Unit
destilasi

Water For
Injection

67

Berikut standar air yang digunakan untuk produksi sesuai


dengan persyaratan CPOB terkini:
Highly Purified
Purified Water Water

Water For Injection

(Eur. Pharm. + (European

(Eur.

USP)

Pharmacopeia)

Pharm.)

25C

1.3 S/ cm

1.3 S/ cm

1.3 S/ cm

Heavy Metals

0.1 ppm

0.1 ppm

Nitrate

0.2 ppm

0.1 ppm

Carbon

< 500 ppb

< 500 ppb

< 500 ppb

Microbial Limit

< 100 cfu/ ml

< 10 cfu/ ml

< 10 cfu/ ml

Endotoxines

< 0.25 Eu/ ml

< 0.25 Eu/ ml

USP

Conductivity at

Total Organic

Pembersihan/Pencucian Dan Sterilisasi Peralatan


Alat dan wadah yang akan digunakan dalam pemrosesan
suatu produk steril harus benar-benar bersih, tidak berdebu, dan
tidak bersekat. Beberapa alat yang canggih sekarang telah
dilengkapi dengan pembersihan di tempat (cleaning in place/CIP).
Pembersihan ini menggunakan tekanan tinggi yang dilakukan
secara otomatis di dalam peralatan tersebut. Selanjutnya, alat
dan wadah untuk pemrosesan produk steril, dilakukan sterilisasi
dengan cara yang sesuai.
Wadah, peralatan dan komponennya yang telah dicuci
hendaklah disterilisasi dalam waktu lebih lama daripada 4 jam
setelah dicuci, kecuali proses sterilisasi yang mencakup juga
proses depirogenesis di mana pelaksanaan proses sterilisasi
boleh dilakukan dalam waktu paling lama 8 jam seterlah proses
pencucian. Namun kondisi demikian hendaklah divalidasi

68

Wadah, peralatan dan komponennya yang telah dicuci dan


disterilisai hendaklah dijaga agar tidak tercemar kembali oleh
partikel dan mikroba. Barang yang telah disterilkan hendaklah
diberi tanggal sterilisasinya, disimpan dalam lemari yang
dilengkapi dengan sinar ultra-violet atau di bawah aliran laminar.
Wadah, peralatan dan komponen hendaklah digunakan dalam
waktu paling lama 3 hari (72 jam) setelah proses sterilisasi.
Kondisi ini hendaklah divalidasi.
Metode Sterilisasi (Prinsip Panas Lembab)
a. Contoh: Uap bertekanan (otoklaf), Uap panas 100 C,
pemanasan dengan bakterisida, Air mendidih
b. Mekanisme umum: kematian mikroorganisme oleh panas
lembab adalah hasil koagulasi protein sel. Waktu sterilisasi
minimum adalah:
30 menit untuk suhu 115 C - 116 C
20 menit untuk suhu 121 C - 123 C
10 menit untuk suhu 126 C - 129 C,
Ditambah waktu tambahan untuk larutan dalam wadah.
Secara

umum larutan

dalam botol

100-200 ml akan

membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit dan untuk botol 500


ml membutuhkan antara 10 15 menit.
c. Keuntungan:
Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan kerusakan
pada temperatur yang relatif rendah daripada tidak ada
kelembaban
Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih mudah
dibunuh
Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif
d. Bahan yang cocok untuk diproses:
Cairan dengan bahan pembawa air
Pengemasan dalam wadah polimer kaku, gelas atau polimer
yang fleksibel
Alat-alat gelas yang berskala
e. Bahan yang tidak dapat diproses:

69

Cairan dengan bahan pembawa bukan air


f. Kerugian lain dan persyaratan khusus:
Waktu siklus lama
Bahaya meledak bila wadah terisi melebihi batas
Tidak dapat menghilangkan pirogen
Pencucian wadah dari infus bag dilakukan dengan metode
sterilisasi ini menggunakan panas lembab/ uap. Hal itu mengingat
bahan penyusun infus bag merupakan polimer yang elastic, jadi
cara ini paling efektif untuk mensterilkan wadah infus NaCl 0,9%.
Namun selanjutnya harus dilakukan depirogenasi dengan mesin
pendepirogenasi, untuk memastikan wadah bebas pirogen.
Pencucian wadah infus bag dilakukan serangkaian oleh mesin
berjalan,

mulai

dari

pencucian,

pensterilan,

sampai

de-

pyrogenasi.
Pencampuran Produk
Produk harus dicampur pada kondisi lingkungan tertentu.
Hal terpenting dalam proses pencampuran ini adalah ketelitian
dalam proses pencampuran. Perhatian khusus harus diberikan
untuk mencapai dan menjaga homogenitas larutan, dengan cara
menjaga suhu larutan.
Penyaringan Larutan
Larutan harus disaring. Tujuan utama proses penyaringan
adalah penjernihan atau sterilisasi larutan. Secara prinsip, kedua
tujuan ini berbeda. Penjernihan diberi istilah pengkilapan dan
larutan yang dikilapkan membutuhkan penghilangan partikelpartikel kecil sampai ukuran paling tidak 3 mikron. Sedangkan
sterilisasi dimaksudkan untuk menghilangkan partikel di bawah 3
mikron, termasuk menghilangkan mikroorganisme hidup atau
spora. Setelah penyaringan, larutan harus dilindungi dari
kontaminasi lingkungan sampai larutan tersebut tersegel dalam
wadah akhir. Untuk menjamin sterilisasi larutan yang akan difilling, dilakukan uji tes sterilisasi

70

Pengisian
Pengisian larutan steril, biasanya dilakukan secara
otomatis dengan mesin pengisi dan penyegelan. Mesin pengisi
harus didesain untuk dapat memberikan ketepatan volume.
Ketepatan volume dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, antara
lain kecepatan pengisian dan keseragaman ukuran infus bag.
Jika pada pembilasan akhir tidak digunakan air bebas pirogen,
hendaklah wadah dan komponen mesin yang akan bersentuhan
dengan produk atau bahan pengemas primer, dilewatkan melalui
proses depirogenesis yaitu pemanasan pada suhu 180 C selama
2 jam atau suhu 250 C selama jam atau pada kondisi
pemanasan lain yang telah divalidasi.
Penyegelan
Penyegelan infus bag yang telah diisi, biasanya dilakukan
segera setelah diisi dengan menggunakan mesin filling and
sealing otomatis dalam satu rangkaian.

Penyegelan

infus

bag harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati jangan sampai


menimbulkan kontaminasi pada produk. Ini adalah tahapan akhir
ada pemprosesan produksi.

SKEMA PRODUKSI SEDIAAN INJEKSI


Bahan Baku

Air Untuk Injeksi

Infus bag

Penimbangan

Pengukuran Volume

Pencucian

Pembuatan Larutan

Sterilisasi

Penyaringan
(Pengujian oleh QC II/ IPC)

Pengisian

71

Sterilisasi
(Pengujian oleh QC II/ IPC)

Produk (uji pH, kejernihan, pirogen)


Seleksi
Produk lulus

uji primer (warna,


botol, tutup botol

Pengemasan
sekunder
(kesesuain
design
dgn
kode
kemasan,
ukuran,
barcode, box kualitas
dimensi
Cek Kelengkapan Pengemasan
Quarantine
Distribusi
6. Quality Control 2 (QC 2)
Pengawasan Selama Proses Produksi (In Proses Control =
IPC)
IPC merupakan pemeriksaan dan pengujian yang dilembagakan
dan dilaksanakan selama proses pembutan obat, termasuk
pemeriksaan dan pengujian terhadap lingkungan dan peralatan.
Tujuannya adalah untuk mencegah terlanjur diproduksinya obat
yang tidak memenuhi spesifikasi.
Cara pengawasan:
1) Pengawasan dilakukan dengan cara mengambil contoh dan
mengadakan pemeriksaan dan pengujian terhadap produk
yang dihasilkan pada langkah-langkah tertentu dari proses
pengolahan
2) Pengawasan oleh bagian produksi: untuk menjamin bahwa
mesin dan peralatan produksi serta proses yang digunakan

72

akan menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang


ditetapkan
3) Pengawasan oleh bagian QC: untuk meyakinkan bahwa
produk yang dihasilkan pada tahap tertentu telah memenuhi
spesifikasi yang telah ditetapkan sebelum dilanjutkan proses
berikutnya
4) Bagian pengawasan mutu menentukan apakah tahap lanjutan
dari proses pengolahan dapat dilaksanakan atau tidak
berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan.
Gambaran Alur In Procces Control
Permintaan
selama produksi

Bagian QC
Labelling
Sampling
Periksa
Ditolak / diterima

Hasil (NHPB)

Pada pengawasan dalam In Procces Control (IPC) ada


beberapa hal yang dilakukan yaitu :
1) Uji pH
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter. Sebelum
digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam. Kalibrasi
pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel
beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit
larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk
pelarutan dengan pengenceran larutan uji
2) Uji Kejernihan.
Kejernihan adalah suatu batasan relatif, artinya sangat
dipengaruhi oleh penilaian subyektif dari pemeriksa. Menurut
CPOB Terkini (CPOB: 2006) seluruh wadah terisi produk
parenteral harus diinspeksi satu persatu terhadap kontaminasi
oleh benda asing atau cacat lain. Inspeksi secara visual harus

73

diatur sedemikian rupa dalam kondisi pencahayaan dan latar


belakang yang dikendalikan dan sesuai.
3) Uji Pirogen.
Adanya zat pirogen pada preparat parenteral dilakukan oleh
suatu uji biologis kualitatif berdasarkan respons demam pada
kelinci. Kelinci digunakan sebagai binatang percobaan karena
kelinci menunjukkan respons fisiologis terhadap pirogen
serupa dengan respons pada manusia. Jika suatu zat
pirogenik disuntikkan ke dalam vena kelinci, terjadi kenaikan
temperature dalam waktu 3 jam sesudahnya. Uji porogen juga
dapat dilakukan secara in vitro menggunakan sifat membentuk
gel dari lisat amebosit dari Limulus polifemus (kepiting sepatu
kuda). Uji limulus amebosit lisat (Limulus Amebocyte Lysate =
LAL) ternyata 5 sampai 10 kali lebih sensitif dibandingkan
dengan uji kelinci.
Validasi Metode analisis
Tujuan utama validasi metode analisis adalah :
1) Untuk membuktikan bahwa semua metode analisis yang
digunakan dalam pengujian maupun pengawasan mutu,
senantiasa

memberikan

hasil

yang

reproducible

dan

terpercaya sehingga diperoleh suatu produk yang sesuai


dengan yang diinginkan
2) Validasi metode analisa wajib dilaksanakan dan secara
berkala dilakukan pengkajian ulang untuk menjamin bahwa
metode tersebut tetap sesuai dengan tujuan penggunaannya
dan selalu memberikan hasil yang dapat dipercaya.
Validasi ini meliputi semua metode yang digunakan selama
proses analisa. Prosedur validasi metode analisa berlaku untuk
semua metode analisis psiko-kimia dan biologi yang digunakan
dilaboratorium dan berlaku pula untuk validasi ulang metode
analisis
kriteria pemilihan metode analisis yang diuji antara lain :

74

1) Potensi bahan yang diuji


2) Stabilitas bahan serta mudah atau tidak dianalisis
Ruang lingkup validasi metode analisis
1) Dilakukan untuk semua metode analisa yang digunakan unruk
pengawasan kegiatan produksi
2) Dilakukan dengan semua peralatan yang telah dikalibrasi dan
diuji kesesuaian sistemnya
3) Menggunakan

bahab

baku

pembanding

yang

sudah

dibakukan dan disimpan ditempat yang sesuai


4) Metode analisa adopsi (prosedur sudah ada dari dokumen
resmi seperti FI, USP, BP, NF) parameter yang diujikan hanya
akurasi dan presisi
Pelaksanaan validasi metode analisia (Verifikasi)
1) Pemilihan metode analisa yang diuji
2) Pembuatan protocol validasi
3) Pembuatan sampel (larutan/cuplikan baku)
4) Pelaksanaan pengujian
5) Perhitungan hasil pengujian
6) Penentuan criteria (batas) penerimaan
7) Membuat kesimpulan
8) Pembuatan laporan validasi
Validasi Proses Produksi
Tujuan validasi proses produksi yaitu :
1) Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur
produksi yang berlaku dan digunakan dalam proses produksi
(Batch Processing Record), senantiasa mencapai hasil
2) Mengurangi problem yang terjadi selama proses produksi
3) Memperkecil kemungkinan terjadinya proses ulang (reworking
process)
4) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi produksi
Prospective Validation
1) Untuk produk-produk baru yang belum pernah diproduksi
2) Dilakukan pada tiga batch pertama

75

3) Bisa digunakan untuk dijual (commercial batch)


4) Bukan termasuk trial batch (skala lab)
Urutan-urutan

pelaksanaan

validasi

proses

produksi

(prospective dan concurrent)


1) Pemilihan proses produksi yang diuji
2) Pembuatan protocol validasi
3) Pembuatan lembar kerja (worksheet) validasi
4) Pelaksanaan validasi
5) Pengujian sampel
6) Penentuan criteria (batas) penerimaan
7) Pembuatan kesimpulan
8) Pembuatan laporan validasi
Validasi kemasan
Tujuan validasi adalah untuk memberikan bukti tertulis dan
terdokumentasi bahwa:
1) Proses pengemasan yang dilakukan telah sesuai dengan
prosedur tetap proses pengemasan yang telah ditentukan
serta memberikan hasil yang sesuai dengan persyaratan
(rekonsiliasi) yang telah ditentukan secara terus menerus
(reliable and reproducible)
2) Operator/pelaksana yang melakukan proses pengemasan
kompeten

serta

mengikuti

prosedur

pengemasan

dan

peralatan pengemasan yang telah ditentukan


3) Proses pengemasan yang dilakukan, tidak terjadi peristiwa
mix-up (campur baur) antara produk maupun antar batch
Hal-hal yang harus divalidasi :
1) Jumlah botol yang dihasilkan vs jumlah cairan yang diproduksi
2) Volume (isi) per botol
3) Kebocoran (tutup)
4) Jumlah botol infus dalam dus
5) Jumlah dus dalam karton
6) Kelengkapan (etiket, brosur, penandaan)
7) Kerapian
8) Rekonsiliasi bahan pengemas
Validasi Pembersihan
Validasi pembersihan adalah tindakan pembuktian bahwa suatu
prosedur pembersihan yang ditetapkan (PROTAP pembersihan)
mampu digunakan untuk pembersihan peralatan secara terus
menerus dan meyakinkan.

76

Validasi pembersihan dilakukan untuk konfirmasi efektivitas


prosedur pembersihan dengan menggunakan metode analisis
tervalidasi yang memiliki kepekaan untuk mendeteksi residua tau
cemaran
Proses pembersihan harus divalidasi karena peralatan yang
digunakan untuk berbagai macam produk, meningkatkan kontak
permukaan antara bahan dengan alat/mesin, yang merupakan
tuntutan c-GMP
Tujuan validasi pembersihan dalam industry farmasi untuk :
1) Menghindari pencemaran silang dan penurunan mutu
obat/bahan karena tercampur bahan lain.
2) Memberikan dokumentasi secara tertulis bahwa prosedur
pembersihan yang berlaku dan digunakan sudah tepat dan
dapat dilakukan berulang-ulang (reliable and reproducible)
3) Peralatan/mesin yang dibersihkan tidak terdapat pengaruh
yang negatif karena efek pembersihan
4) Operator/pelaksana yang melakukan pembersihan kompeten,
mengikuti prosedur pembersihan dan peralatan pembersihan
yang telah ditentukan.
5) Cara pembersihan menghasilkan tingkat kebersihan yang
telah ditetapka, misalnya sisa residu, kadar kontaminan, dan
sebagainya.
Sebelum memulai validasi pembersihan di industry farmasi
terlebih dahulu dilakukan kegiatan :
1) Pentiapan PROTAP validasi pembersihan yang mencakup
antara lain :
- Cara penyimpanan protocol validasi pembersihan
- Penentuan/isi protocol validasi pembersihan
- Cara pengambilan cuplikan
- Penilaian terhadap hasil temuan dan analisis
- Ketentuan untuk membuat laporan/dokumentasi
2) Evaluasi terhadap proses pembersihan secermat-cermatnya
sebelum memulai validasi terhadap prosedur yang sedang
berlaku dan prosedur baru
Tahapan-tahapan dalam validasi pembersihan
1) Tetapkan langkah/hal yang kritis dalam proses pembersihan
2) Tetapkan prosedur pengambilan cuplikan

77

3) Tetapkan acceptance criteria


4) Pilih/siapkan metode analisa yang sesuai
5) Validasi metode analisa menurut persyaratan sensitivitas dan
selektivitas
6) Tulis protocol validasi sebelum memulai validasi
7) Pengambilan cuplikan dan pengujian
8) Evaluasi dan buad laporan hasil pengujian.
Setelah pembersihan dilakukan uji metode pengambilan contoh
(sampling plan), antara lain :
1. Metode Apus (Swab Sampling Method)
Pengambilan contoh dengan cara

apus,

umumnya

menggunakan bahan apus (Swab material) yang dibasahi


dengan pelarut yang langsung dapat menyerap residu dari
permukaan alat.
Bahan yang digunakan untuk sampling (swab material) harus :
a) Kompatibel dengan solvent dan metode analisa
b) Tidak ada sisa serat yang mengganggu analisa
c) Ukuran harus disesuaikan dengan area sampling
Solvent (pelarut) harus :
a) Disesuaikan dengan spesifikasi bahan yang diperiksa
b) Tidak mempengaruhi stabilitas bahan yang diuji
c) Sebelum
dilakukan
validasi,
harus
dilakukan
pemeriksaan/uji penemuan kembali dengan larutan yang
diketahui kadarnya.
Kelebihan
Area yang mudah dibersihkan dapat dicuplik secara langsung,
memungkinkan evaluasi langsung terhadap jumlah residu per
permukaan area.
Kekurangan.
Ada bagian dari peralatan yang tidak dapat diseka, bahan
penyeka dapat mempengaruhi residu, residu harus diekstraksi
dari bahan penyeka, sehingga angka penemuan kembali
merupakan aspek yang kritis
2. Metode pembilasan akhir (Rinse Sampling Method)
a) Umumnya dilakukan untuk alat mesin yang sulit dijangkau
dengan cara apus (banyak pipa-pipa, lekukan, dll)
b) Pelarutan (bilasan akhir) dapat digunakan pelarut organic
(methanol,

alcohol)

atau

hanya

aquademineralisata,

pelarut kemudian ditampung dan di analisa.

78

c) Kelebihan

jika

dilakukan

dengan

benar,

hasil

pemerikasaan mencerminkan kondisi seluruh permukaan


alat.
d) Kekurangan : ada kemungkinan tidak seluruh sisa bahan
(residu) larut dalam bahan pelarut sehingga residu tidak
bisa terdeteksi
3. Metode dengan menggunakan placebo
a) Dilakukan dengan cara pengolahan

produk

yang

bersangkutan tanpa bahan aktif dengan peralatan yang


sudah dibersihkan kemudian dianalisa
b) Kelebihan : merupakan simulasi terbaik terhadap proses
nyata dari suatu bets berikutnya.
c) Kekurangan residu banyak terdistribusi secara tidak
merata baik dalam peralatan yang dibersihkan (misalnya
residu dalam kutub pengeluaran atau bagian peluncuran
bahan dari suatu mesin pencampur). Tingkat penemuan
residu terlalu rendah, karena factor pengenceran dalam
perjalanan placebo
d) Tidak disarankan karena tidak reproducible.
4. Metode analisa (pemeriksaan) dari hasil residu, meliputi :
a) Metode analisa yang digunakan untuk pemeriksaan sisa
residu harus divalidasi
b) Dpesifik untuk bahan yang diperiksa
c) Cukup sensitive untuk mendeteksi hasil residu
d) Alat yang dipakai HPLC, spektro UV/Vis dan KLT
e) Pemeriksaan lain : pH, konduktivitas, kejernihan sisa
deterjen.
Evaluasi sediaan infus oleh QC (SDF):
1) Uji pH
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter. Sebelum
digunakan, periksa elektroda dan jembatan garam. Kalibrasi
pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel
beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit
larutan uji. Baca harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk
pelarutan dengan pengenceran larutan uji
2) Uji sterilitas

79

Prosedur Uji Inokulasi Langsung Dalam Media Uji


Inkubasi
Jika tidak dinyatakan lain, di dalam monografi, inkubasi
campuran uji dengan media tioglikolat cair (atau media
tioglikolat alternatif, jika dinyatakan) selama 14 hari pada suhu
30oC hingga 35oC, dan dengan soybean-casein digest medium
pada suhu 20oC hingga 25oC.
Pengamatan
Amati pertumbuhan pada media secara visual sesering
mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau
ke-5, pada hari ke-7 atau ke-8 dan pada hari terakhir pada
masa uji.
Jika zat uji menyebabkan media menjadi keruh sehingga ada
atau tidaknya pertumbuhan mikroba tidak segera dapat
ditentukan secara visual, pindahkan sejumlah memadai media
ke dalam tabung baru yang berisi media yang sama,
sekurangnya 1 kali antara hari ke-3 dan ke-7 sejak pengujian
dimulai. Lanjutkan inkubasi media awal dan media baru
selama total waktu tidak kurang dari 14 hari sejak inokulasi
awal.
3) Uji pirogen
a) Rabbit test
Uji pirogen menggunakan kelinci sehat yang telah dijaga
dalam keadaan lingkunagan dan makanan yang tepat
sebelum dilakukan uji. Temperature normal atau temperature
control diukur untuk tiap hewan yang akan digunakan.
Temperatur ini digunakan sebagai dasar penentuan setiap
kenaikan

temperature

yang

ditimbulakan

akibat

dari

penyuntikan larutan yang akan diuji. Kelinci-kelinci yang


digunakan temperaturnya tidak boleh berbeda lebih dari 1o,
satu dengan yang lainnya, dan temperature tubuh tersebut
diperkirakan tidak akan meningkat. Ringkasan prosedur uji
tersebut adalah sebagai berikut :

80

Jadikanlah alat suntik, jarum dan alat gelas bebas pirogen


dengan cara memanaskan pada temperature 250oC selama
tidak kurang dari 30 menit atau dengan cara lain yang sesuai.
Hangatkan produk yang akan diuji sampai temperature 37 oC
2oC.
Suntikkan produk yang akan diuji pada vena telinga setiap
kelinci sebanyak 10 ml per kg berat badan, selesaikan tiap
suntikan dalam waktu 10 menit dihitung dari awal pemberian.
Catat temperature pada 1,2, dan 3 jam sesudah penyuntikan.
Bila masing-masing kelinci tidak ada ynag temperaturnya
meningkat 0,6oC atau lebih dari temperature control masingmasing, dan jika hasil penjumlahan kenaikan temperature dari
3 kelinci tidak lebih dari 1,4 oC. Maka zat yang diuji memenuhi
persyaratan bebas pirogen. Jika kelinci-kelinci menunjukkan
kenaikan temperature 0,6oC atau lebih atau hasil penjumlahan
kenaikan temperature 3 kelinci lebih dari 1,4 oC, ulangi dengan
menggunakan 5 kelinci lain. Jika tidak lebih dari 3 dari 8
kelinci, masing-masing menunjukkan kenaikan temperature
0,6oC atau lebih dan jumlah kenaikan temperature 8 kelinci
tidak lebih dari 3,7oC, maka larutan memenuhi ppersyaratan
bebas pirogen.
b) LAL test
Uji LAL adalah metode spesifik untuk bakteri endotoksin,
hanya untuk pirogen yang signifikan pada kebanyakan pabrik
farmasetikal dan peralatan medis. Test didasarkan pada
mekanisme primitive penggumpalan darah dari kepiting
seperti Kuda Amerika (Limulus polyphemus). Berberapa enzim
diletakkan pada sel darah amoeba kepiting yang dipicuh oleh
endotoksin perpanjangan koagulasi enzimatik yang di akhiri
dengan produksi di gel protenose.
Test harus dihindarkan dari kontaminasi antimikroba sebelum
dihindarkan, test ini penting untuk memastikan bahwa tidak

81

ada

factor

campuran

dalam

sediaan,

peralatan

tidak

menyerap endotoksin (seperti pada beberapa plastic) dan


sensitifitas dari lisat diketahui.
Reagen test LAL disediakan dengan lyopilisasi sel di mubasit
limulus. Volume setara reagen LAL dan larutan test (0,1
mikron per masing-masing) dicampurkan dalam gelas tube
test elipirogenasi. Tube diinkubasikan pada suhu 37oC selama
1 jam, setelah test wadah dibaca. Tube diambil dari incubator
dan diubah. Bekuan oleh yang rusak mengandung energy
padatan merupakan factor dari test positif. Ketika digunakan
pada bagian ini bekuan gel uji awalnya, melewati test
kegagalan dibatasi dan reagen sensitive LAL.
Test ini spesifik untuk endotoksin gram negative, dimana test
pirogen kelinci sensitive untuk semua pirogen endotoksin dan
sumber lain disbanding gram negatif.
4) Uji kejernihan / partikulat
Pada pengujian partikulat Sumber cahaya yang dapat digunakan
adalah cahaya

fluoresensi,spotlight, atau polarized. Namun

sumber cahaya yang paling sering dipakai adalah cahaya


berfuoresensi (13 watt). Sumber cahaya dapat diletakkan di
atas, bawah, atau di belakang unit yang akan diperiksa.
Sebuah background hitam-putih disinari dengan cahaya yang
tidak silau, kondisi demikian merupakan kondisi standar untuk
pemeriksaan kemasan produk. Background putih dipakai untuk
mendeteksi partikel yang berwarna gelap, begitu pula sebaliknya.
Prosedur
1) Kemasan dari larutan parenteral harus bebas dari label dan
stiker yang melekat.
2) Pegang kemasan pada bagian atas da secara hati-hati putar
bagian pinggang kemasan dengan gerakan memutar yang
perlahan.

Jika

menimbulkan

terlalu

cepat,

gelembung

gerakan

pada

memutar

bagian

dapat

permukaan.

82

Gelembung ini dapat menjadi bias antara partikulat pengotor


atau gelembung.
3) Pegang kemasan secara horizontal sekitar 4 inci di bawah
sumber cahaya yang berlawanan arah dengan background
hitam-putih. Cahaya harus dijauhkan dari inspector, dan
tangan harus berada di bawah sumber lampu agar tidak
terlalu silau.
4) Jika tidak ada partikel yang terlihat, balik kemasan secara
perlahan dan amati ada/tidaknya partikel berat yang tidak
tersuspensi dengan gerakan memutar.
5) Observasi setidaknya dilakukan selama 5 detik untuk setiap
bagian hitam dan 5 detik lagi untuk bagian putih.
6) Tolak setiap kemasan yang memiliki partikel visible selama
proses inspeksi.
Personel
Seorang inspector menentukan tingkat kualitas dan keberhasilan
dari proses inspeksi manual. Oleh karena itu pemeriksaan manual
secara alamiah menjadi bersifat subjektif. Sebagai standard
minimum seorang inspector harus memiliki pengelihatan yang
baik, teliti, tidak buta warna, memiliki attitude yang baik, serta
terlatih.
5) Uji keseragaman bobot
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat
keseragaman volume secara visual.
6) Uji kebocoran
a) Dye bath test
Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas setelah
selesai disterilkan dimasukkan kedalam larutan biru metilen
0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan biru
etilen akan dimasukkan kedalamnya karena perbedaan
tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut. Cara ini tidak
dapat dilakukan untuk larutan-larutan yang sudah berwarna.
Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik, jika ada
kebocoran maka larutan ini akan keluar dari dalam wadah.
Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya

83

harus diperiksa dengan memasukkan wadah-wadah tersebut


ke dalam eksikator yang divakumkan. Jika ada kebocoran
akan diserap keluar
b) The double vacuum null
Vacuum merupakan uji yang dapat digunakan untuk beberapa
jenis

aplikasi

wadah,

termasuk

wadah

makanan,

alat

kedokteran, dan wadah farmasi. Keuntungan utama dari


metode jenis ini adalah dapat dilakukan pada wadah yang
akan diuji langsung tanpa terkontaminasi oleh panambahan
zat kimia atau gas dan biasanya tidak terjadi kerusakan fisika.
Prinsip dari tehnik ini adalah memindahkan wadah kedalam
kotak uji yang tertutup rapat, keluarkan tekanan atau vacuum
kedalam kotak, kemudian ukur kecepatan dari perubahan
vacuum

pada

kotak

terhadap

waktu.

Kecepatan

atau

penambahan perubahan dibandingkan dengan kontrol yang


tidak bocor. Peurbahan besar yang berarti untuk uji wadah
adalah indikasi dari kebocoran.
Retained Sample (Contoh pertinggal)
Retained sample adalah obat jadi dalam kemasan lengkap
yang disimpan dalam kondisi yang sama dengan kondisi
pemasaran sebagaimana tertera pada label (seperti suhu kamar,
dibawah 25o C, suhu 2-8o C).Retained sample yang diambil harus
mewakili tiap batch produk yang diproduksi dan dalam kemasan
sesuai yang dipasarkan.Lamanya retained sample adalah satu
tahun setelah kadaluarsa (ED+1 tahun). Jumlah retained sample
yang diambil minimal dua kali dari jumlah sample yang
dibutuhkan untuk pengujian lengkap.
Kegunaan retained sample adalah :
1) Penelusuran kembali suatu produk obat
2) Keperluan evaluasi bila dibutuhkan (seperti pemalsuan
obat,dsb)

84

Bersama dengan retained sample, disimpan pula catatan


pengolahan dan pengemasan batch (batch record) yang berisi
data-data yang terjadi selama produk tersebut dibuat.
7. Quality Assurance (QA)
Pemastian mutu adalah suatu konsep luas yang mencakup
semua hal baik secara tersendiri maupun secara kolektif yang
akan mempengaruhi mutu dari obat yang dihasilkan. Pemastian
mutu adalah totalitas pengaturan yang dibuat dengan tujuan
untuk memastikan

bahwa obat dihasilkan dengan mutu yang

sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Karena pemastian mutu ini


mencakup CPOB ditambah dengan factor lain diluar pedoman ini
seperti desain dan pengembangan produk .
Sistem Pemastian Mutu yang benar dan tepat bagi
pembuatan obat hendaklah memastikan bahwa:
a. Desain dan pengembangan obat dilakukan dengan cara yang
memerhatikan persyaratan CPOB;
b. Semua langkah produksi dan pengawasan diuraikan secara
jelas dan CPOB diterapkan;
c. Tanggung jawab manajerial diuraikan dengan jelas dalam
uraian jabatan;
d. Pengaturan disiapkan untuk pembuatan, pemasokan dan
penggunaan bahan awal dan pengemas yang benar;
e. Semua pengawasan terhadap produk antara dan pengawasan
selama-proses lain serta dilakukan validasi;
f. Pengkajian terhadap semua dokumen terkait dengan proses,
pengemasan dan pengujian tiap bets, dilakukan sebelum
memberikan pengesahan pelulusan untuk distribusi produk
jadi. Penilaian hendaklah meliputi semua faktor yang relevan
termasuk kondisi produksi, hasil pengujian selama-proses,
pengkajian dokumen pembuatan (termasuk pengemasan),
pengkajian

penyimpangan

dari

prosedur

yang

telah

85

ditetapkan, pemenuhan persyaratan dari Spesifikasi Produk


Jadi dan pemeriksaan produk dalam kemasan akhir;
g. Obat

tidak

dijual

atau

didistribusikan

sebelum

kepala

Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) menyatakan bahwa tiap


bets produksi dibuat dan dikendalikan sesuai dengan
persyaratan yang tercantum dalam izin edar dan peraturan
lain yang berkaitan dengan aspek produksi, pengawasan mutu
dan pelulusan produk;
h. Tersedia pengaturan yang memadai untuk memastikan
bahwa, sedapat mungkin, produk disimpan, didistribusikan
dan selanjutnya ditangani sedemikian rupa agar mutu tetap
dijaga selama masa simpan obat;
i. Tersedia prosedur inspeksi diri dan/atau audit mutu yang
secara berkala mengevaluasi efektivitas dan penerapan
sistem Pemastian Mutu;
j. Pemasok bahan awal dan bahan pengemas dievaluasi dan
disetujui untuk memenuhi spesifikasi mutu yang telah
ditentukan oleh perusahaan;
k. Penyimpangan dilaporkan, diselidiki dan dicatat;
l. Tersedia

sistem

persetujuan

terhadap

perubahan yang

berdampak pada mutu produk;


m. Prosedur pengolahan ulang produk dievaluasi dan disetujui;
dan
n. Evaluasi

berkala

mutu obat dilakukan

untuk verifikasi

konsistensi proses dan memastikan perbaikan proses yang


berkesinambungan.
CPOB
CPOB

adalah

bagian

dari

memastikan bahwa obat dibuat

pemastian

mutu

yang

dan dikendalikan secara

konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan

86

tujuan penggunaan dan dipersyaratkan dalam izin edar dan


spesifikasi produk.
CPOB

mencakup

Produksi

dan

Pengawasan

Mutu.

Persyaratan dasar dari CPOB adalah:


1. Semua proses pembuatan obat dijabarkan dengan jelas, dikaji
secara sistematis berdasarkan pengalaman dan terbukti
mampu secara konsisten menghasilkan obat yang memenuhi
persyaratan mutu dan spesifikasi yang telah ditetapkan.
2. Tahap proses yang kritis dalam pembuatan, pengawasan
proses dan sarana penunjang serta perubahannya yang
signifikan divalidasi.
3. Tersedia semua sarana yang diperlukan dalam CPOB
termasuk.
4. Prosedur dan instruksi ditulis dalam bentuk instruksi dengan
bahasa yang jelas, tidak bermakna ganda, dapat diterapkan
secara spesifik pada sarana yang tersedia.
5. Operator memperoleh pelatihan untuk menjalankan prosedur
secara benar.
6. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat
pencatat selama pembuatan yang menunjukkan bahwa
semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur dan
instruksi yang ditetapkan benar-benar dilaksanakan dan
jumlah serta mutu produk yang dihasilkan sesuai dengan yang
diharapkan. Tiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan
diinvestigasi.
7. Catatan pembuatan termasuk distribusi yang memungkinkan
penelusuran riwayat bets secara lengkap, disimpan secara
komprehensif dan dalam bentuk yang mudah diakses.
8. Penyimpanan dan distribusi obat yang dapat memperkecil
risiko terhadap mutu obat.

87

9. Tersedia sistem penarikan kembali bets obat manapun dari


peredaran.
10. Keluhan terhadap produk yang beredar dikaji, penyebab cacat
mutu diinvestigasi serta dilakukan tindakan perbaikan yang
tepat dan pencegahan pengulangan kembali keluhan.
Departemen Pemastian mutu (Quality Assuranse) terbagi
menjadi 4 bagian yaitu :
1. Departemen Quality Audit
a. Audit Supplier
Menyetujui spesifikasi yang telah dibuat oleh
Departemen R&D mengenai bahan baku untuk salep mata
(kloramfenikol, dll), agar spesifikasi yang dibuat oleh
Departemen R&D tidak menyimpang dari peraturan
perundang-undangan, seperti Farmakope, aturan CPOB
dan sebagainya. Selain itu, departemen QA juga harus
memastikan bahwa seluruh bahan baku yang digunakan
oleh industri farmasi tersebut harus sesuai dengan
spesifikasi yang telah dibuat, dengan cara membuat aturan
atau Sistem Pelulusan Bahan Awal. Jadi, hanya bahan
awal/baku yang sesuai dengan spesifikasi yang boleh
diterima dan digunakan untuk proses produksi oleh industri
farmasi tersebut.
Tugas Departemen QA pada saat pembelian yaitu
Menyetujui prosedur pembelian tersebut (Protap harus
disetujui oleh Departemen QA.
Memastikan bahwa Departemen Purcashing hanya
membeli bahan baku/awal sesuai dengan spesifikasi
yang telah ditentukan dan membeli bahan baku/awal
tersebut

dari

suplier

yang

telah

Departemen QA (approved supplier).

disetujui

oleh

88

Untuk memastikan Depatemen Purcashing melakukan


hal tersebut, maka Departemen QA melakukan audit
internal

(inspeksi

diri)

dan

audit

external,

untuk

mengetahui kondisi supplier yang memasok bahan


awal/baku.
b. Departemen Internal audit dan inspeksi diri.
Inspeksi diri dilakukan satu kali dalam setahun.
Aspek-aspek yang diperiksa secara berkala inspeksi diri
yang

telah

disusun

untuk

memverifikasi

kepatuhan

terhadap prinsip Pemastian Mutu, antara lain mencakup:


a) Personalia;
b) Bangunan termasuk fasilitas untuk personil;
c) Perawatan bangunan dan peralatan;
d) Penyimpanan bahan awal, bahan pengemas dan obat
jadi;
e) Peralatan;
f) Pengolahan dan pengawasan selama-proses;
g) Pengawasan Mutu;
h) Dokumentasi;
i) Sanitasi dan higiene;
j) Program validasi dan revalidasi;
k) Kalibrasi alat atau sistem pengukuran;
l) Prosedur penarikan kembali obat jadi;
m) Penanganan keluhan;
n) Pengawasan label; dan
o) Hasil inspeksi diri sebelumnya dan tindakan perbaikan.
Semua hasil inspeksi diri dicatat dan laporannya
mencakup: Semua hasil pengamatan yang dilakukan
selama inspeksi dan, bila memungkinkan, saran untuk
tindakan

perbaikan.

Pernyataan

dilakukan hendaklah dicatat.

dari

tindakan

yang

89

Audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi


diri. Audit mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian
semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu
dengan tujuan spesifik untuk meningkatkannya. Audit
mutu dilakukan oleh BPOM.
2. Departemen Validasi
Kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu)
membentuk tim validasi dan menyusun protokol validasi yang
akan divalidasi. Kegiatan validasi akan dilakukan oleh
departemen

yang

bersangkutan,

dimonitor,

dan

didokumentasikan oleh tim validasi. Setiap akhir validasi


dibuat suatu laporan validasi sebagai pertanggungjawaban.
Proses validasi dilakukan sebelum produk dipasarkan
(validasi prospektif). Dalam keadaan tertentu, jika hal di
atas tidak memungkinkan, validasi dapat juga dilakukan
selama proses produksi rutin dilakukan (validasi konkuren).
Proses

yang

sudah

berjalan hendaklah juga divalidasi

(validasi retrospektif).
Fasilitas,

sistem

dan

peralatan

yang

digunakan

telah terkualifikasi dan metode analisis divalidasi. Dilakukan


evaluasi secara berkala terhadapa fasilitas, sistem, peralatan
dan

proses

untuk

verifikasi

bahwa

fasilitas,

sistem,

peralatan dan proses tersebut masih bekerja dengan baik.


3. Departemen Laboratory
Untuk memastikan keseragaman bets dan keutuhan
obat,

prosedur

tertulis

yang

menjelaskan

pengambilan

sampel, pengujian atau pemeriksaan yang harus dilakukan


selama proses dari tiap bets produk hendaklah dilaksanakan
sesuai dengan metode yang telah disetujui oleh kepala bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) dan hasilnya dicatat.
Pengawasan tersebut dimaksudkan untuk memantau hasil

90

dan memvalidasi kinerja dari proses produksi yang mungkin


menjadi penyebab variasi karakteristik produk dalam-proses.
Prosedur tertulis untuk pengawasan selama-proses hendaklah
dipatuhi. Prosedur tersebut hendaklah menjelaskan titik
pengambilan sampel, frekuensi pengambilan sampel, jumlah
sampel yang diambil, spesifikasi yang harus diperiksa dan
batas penerimaan untuk tiap spesifikasi.
Di samping itu, pengawasan selama-proses hendaklah
mencakup, tapi tidak terbatas pada prosedur umum sebagai
berikut:
a) semua parameter produk, volume atau jumlah isi produk
hendaklah diperiksa pada saat awal dan selama proses
pengolahan atau pengemasan; dan
b) kemasan

akhir

hendaklah

diperiksa

selama

proses

pengemasan dengan selang waktu yang teratur untuk


memastikan

kesesuaiannya

dengan

spesifikasi

dan

memastikan semua komponen sesuai dengan yang


ditetapkan dalam Prosedur Pengemasan Induk.
Selama proses pengolahan dan pengemasan bets
hendaklah diambil sampel pada awal, tengah dan akhir proses
oleh personil yang ditunjuk. Hasil pengujian/inspeksi selamaproses hendaklah dicatat, dan dokumen tersebut hendaklah
menjadi bagian dari Catatan Bets.
4. Departemen Compliance
a. Batch Record
Mengevaluasi/mengkaji catatan bets; dan Catatan bets
terdiri

atas

catatan

pengolahan

bets

dan

catatan

pengemasan bets.
1. Catatan Pengolahan Bets
Catatan pengolahan bets harus tersedia untuk
tiap bets yang diolah. Dokumen ini dibuat berdasarkan

91

bagian relevan dari Prosedur Pengolahan Induk yang


berlaku.

Metode

pembuatan

catatan ini

didesain

untuk menghindarkan kesalahan transkripsi. Catatan


mencantumkan

nomor

bets

yang

sedang

dibuat.

Sebelum suatu proses dimulai, dilakukan pemeriksaan


yang dicatat, bahwa peralatan dan tempat kerja telah
bebas dari produk dan dokumen

sebelumnya

atau

bahan yang tidak diperlukan untuk pengolahan yang


direncanakan,

serta

peralatan

bersih

dan

sesuai

untuk penggunaannya.
Selama pengolahan, informasi sebagai berikut
dicatat pada saat tiap tindakan dilakukan dan setelah
catatan lengkap kemudian diberi

tanggal

dan

ditandatangani dengan persetujuan dari personil yang


bertanggung jawab untuk kegiatan pengolahan:
a) nama produk;
b) tanggal dan waktu dari permulaan, dari
antara

tahap

yang signifikan dan dari penyelesaian

pengolahan;
c) nama personil yang bertanggung jawab untuk tiap
tahap proses;
d) paraf operator untuk berbagai langkah pengolahan
yang

signifikan dan, di mana perlu, paraf personil

yang

memeriksa

tiap

kegiatan

ini

(misalnya

penimbangan);
e) nomor bets dan/atau nomor kontrol analisis dan
jumlah nyata tiap bahan awal yang ditimbang atau
diukur (termasuk nomor bets dan jumlah bahan hasil
pemulihan

atau

ditambahkan);

hasil

pengolahan

ulang

yang

92

f) semua kegiatan pengolahan atau kejadian yang


relevan dan
g) peralatan utama yang digunakan;
h) catatan

pengawasan

personil

selama-proses

dan

paraf

yang melaksanakan serta hasil yang

diperoleh;
i) jumlah hasil produk yang diperoleh dari tahap
pengolahan

berbeda dan penting; dan catatan

mengenai masalah khusus yang terjadi termasuk


uraiannya dengan tanda tangan pengesahan untuk
segala

penyimpangan

terhadap

Prosedur

Pengolahan Induk.
2. Catatan Pengemasan Bets
Catatan pengemasan bets tersedia untuk tiap
bets yang dikemas. Dokumen ini dibuat berdasarkan
bagian relevan dari Prosedur Pengemasan Induk yang
berlaku dan metode pembuatan catatan ini didesain
untuk menghindarkan kesalahan transkripsi. Catatan
mencantumkan nomor bets dan jumlah produk jadi yang
direncanakan akan diperoleh.
Sebelum suatu kegiatan pengemasan dimulai,
dilakukan pemeriksaan

yang

dicatat,

bahwa

peralatan dan tempat kerja telah bebas dari produk


dan dokumen sebelumnya atau bahan yang tidak
diperlukan untuk pengemasan yang direncanakan,
serta

peralatan

penggunaannya.

bersih

Selama

dan

pengemasan,

sebagai berikut dicatat pada saat


dilakukan
diberi

dan
tanggal

sesuai

untuk

informasi

tiap

tindakan

setelah

catatan lengkap

kemudian

dan

ditandatangani

dengan

93

persetujuan

dari

personil yang bertanggung jawab

untuk kegiatan pengemasan:


a) nama produk;
b) tanggal dan waktu tiap kegiatan pengemasan;
c) nama

personil

yang

bertanggung

jawab

untuk

melaksanakan kegiatan pengemasan;


d) paraf operator dari berbagai langkah pengemasan
yang signifikan;
e) catatan

pemeriksaan

terhadap

identitas

dan

konformitas dengan Prosedur Pengemasan Induk


termasuk hasil pengawasan selama proses;
f) rincian

kegiatan

pengemasan

yang

dilakukan,

termasuk referensi peralatan dan jalur pengemasan


yang digunakan;
g) apabila dimungkinkan, sampel bahan pengemas
cetak yang digunakan,

termasuk

spesimen

dari

kodifikasi bets, pencetakan tanggal daluwarsa serta


semua pencetakan tambahan;
h) catatan mengenai masalah khusus yang terjadi
termasuk

uraiannya

dengan

tanda

tangan

pengesahan untuk semua penyimpangan terhadap


Prosedur Pengemasan Induk; dan
i) jumlah dan nomor referen atau identifikasi dari
semua bahan pengemas cetak dan produk ruahan
yang

diserahkan,

digunakan, dimusnahkan

atau

dikembalikan ke stok dan jumlah produk yang


diperoleh

untuk

melakukan

rekonsiliasi

yang

memadai.
Catatan pengolahan bets dan catatan pengemasan
bets harus bisa dijamin bahwa nomor bets yang sama
tidak dipakai secara berulang.

94

b. Pelulusan Obat jadi


Meluluskan atau menolak produk
penjualan

jadi

untuk

dengan mempertimbangkan semua faktor

terkait.
c. Keluhan
Tiap keluhan yang menyangkut kerusakan produk di
catat yang mencakup rincian mengenai asal-usul keluhan
dan diselidiki secara menyeluruh dan mendalam. Jika
produk pada satu best diduga rusak atau cacat maka
dilakukan periksaan pula pada bets lain, khususnya bets
yang mengandung hasil pengolaha ulang dari best yang
cacat harus diselidiki.
Setelah

melakukan

penyelidikan

dan

evaluasi

dilakukan tindak lanjut mencakup :


1. Tindakan perbaikan bila diperlukan
2. Penarikan kembali satu bets atau seluruh produk akhir
yang bersangkutan.
d. Change Control
Kegagalan adalah suatu kejadian / pelanggaran
yang tidak direncanakan terhadap suatu prosedur atau
spesifikasi yang ditetapkan dimana penyimpangan ini
dapat mempengaruhi mutu dari produk yang dibuat.
Perubahan-perubahan yang terkait dengan product quality
harus dilakukan mengikuti sistem.
e. Deviation Report (DVR)
Deviation

Report

merupakan

laporan

tentang

adanya perubahan yang terjadi tanpa direncanakan atau


penyimpangan dari standard dan spesifikasi yang telah
ditetapkan.

Deviation

berdasarkan

kemungkinan

menyebabkan terjadinya efek yang tidak baik terhadap

95

pasien atau konsumen dapat diklasifikasikan menjadi


critical, major dan minor.
f. Corrective and Preventive Action
Corrective

and

Preventive

Action

merupakan

keseluruhan usaha untuk menemukan dan memperbaiki


permasalahan

kualitas

untuk

mencegah

kemunculan

kembali kelemahan dari sistem kualitas, tujuannya untuk


meningkatkan

kualitas

produk

dan

keamanan,

meningkatkan kepuasan pelanggan, dan yang paling utama,


menjamin kepatuhan terhadap Quality Management System
perusahaan dan persyaratan regulasi.
g. Produk Quality Review
APR

(Annual

Product

Review)

adalah

laporan

terstruktur dan menyeluruh berisi semua data mengenai


proses produksi, sistem analitis, stabilitas, pengaduan,
perubahan, sistem deviasi, recall dan data pelanggan yang
dikaitkan dengan produk farmasi untuk memantau kualitas
dari produk tersebut dan meningkatkan kualitasnya, apabila
diperlukan.
8. Limbah
Limbah industri merupakan suatu bahan yang terbuang
atau di buang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun
proses-proses alam, dan tidak atau belum mempunyai nilai
ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai ekonomi, karena
penanganan dan pengelolaannya
Dampak Kegiatan Industri Farmasi
DampakPositif
1. Wujud nyata pembangunan di bidang kesehatan untuk
menyediakan obat sebagai sarana meningkatkan derajat
kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

96

2. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar baik secara


langsung maupun tidak langsung.
3. MeningkatkanPendapatan Asli Daerah melalui pajak
4. Meningkatkan roda ekonomi di daerah sekitar lokasi industry
dan lain-lain
DampakNegatif
1.
2.
3.
4.

Adanya pencemaran/limbah udara (gas)


Adanya pencemaran/limbah padat
Adanya pencemaran/limbahcair
Adanya kebisingan (limbah suara) dan getaran

Klasifikasi limbah antara lain sebagai berikut :


1. Limbah cair
Secara visual : keruh, warna air , rasa, bau yang ditimbulkan.
Secara lab

: perubahan sifat kimia air

Limbah cair mengandung :


Antibiotik lactam dan non lactam
Non antibiotic
Persenyawaan yang sering dijumpai dalam air yaitu :
Padatan terlarut misalnya golongan senyawa alkali, seperti
karbonat
Padatan tersuspensi atau tidak
Mikroorganisme, dll
2. Limbah Padat
Diklasifikasikan sebagai:
Limbah padat yang mudah dibakar
Limbah padat yang sukar dibakar
Limbah padat yang bisa hancur
Limbah padat yang tidak bisa hancur
Limbah berupa debu
3. Limbah Gas / debu
Pencemar melalui udara yaitu:
partikel debu adalah butiran halus dan terlihat oleh mata
spt : asap, kabut, debu
gas, dapat dirasakan melalui penciuman ataupun akibat
langsung, spt : NO2, CO, dll
4. Kebisingan
Berasal dari suara mesin pabrik atau suara genset dan
getaraN, pemantauan pencemaran udara

97

Tujuan pengelolaan limbah adalah untuk mendeteksi bahan


berbahaya

yang

terdapat

di

dalam

limbah,

kemudian

menghilangkan atau minimal mengurangi senyawa kimia atau


non kimia yang berbahaya dan beracun.
Sumber Pencemaran :

Debu selama proses produksi


Uap lemari asam di laboratorium
Uap solvent proses film coating
Asap Steam boiler, generator listrik dan incinerator

Tolak Ukur Dampak :


SK Men LH No. 13/MENLH/1995 tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak
Upaya Pengelolaan Lingkungan
Lemari asam dilengkapi dgn exhaust fan dancerobong+ 6 m
dilengkapi dgn absorbent
Solvent di ruang coating digunakan dust collector (wet system)
Debu di sekitar mesin produksi di pasang penyedot debu dan
dust collector unit
Asap dari Genset danIncenerator dibuat cerobong asap+ 6 m
Pemantauan
Kualitas udara di dalam dandiluar lingkungan industri, meliputi
kadar H2S, NH3, SO2, CO, NO2, O3, TSP (debu), Pb
Upaya Pengelolaan Lingkungan
Sampah domestik dibuatkan tempat sampah
Sisa sisa kertas, karton, plastic dan aluminium foil
dikumpulkan

kemudian

dijual

ke

(perusahaan daur ulang sampah)


Debu / sisa-sisa serbuk, obat

pengumpul

rusak/kaduwarsa

lumpurdari IPAL di bakar di incenerator


Pemantauan
Kualitas lingkungan (kebersihan) di dalam area industri
Sumber Pencemaran :

sampah
serta

98

Suara dan getaran dari mesin-mesin pabrik, genset, dan


steam boiler
TolakUkurDampak :
SK Men LH No. 48/MENLH/1996 tentang Baku Mutu Tingkat
Kebisingan
SK Men LH No. 49/MENLH/1996 tentang Baku Mutu Tingkat
Getaran
Upaya Pengelolaan Lingkungan
Untuk menanggulangi kebisingan yg ditimbulkan oleh genset,

dibuat ruangan berdinding dua (double cover) dan dilakukan


perawatan mesin secara berkala.
Untuk menanggulangi getaran yg ditimbulkan oleh mesin

genset dan mesin-mesin lain, mesin-mesin ditempatkan pada


lantai yang telah dicor beton dan diberi penguat (pengunci
antara mesin dan lantai)
Pemantauan
Angka kebisingan dan getaran di dalam dan diluar area pabrik
Kebisingan : max 65 dB
Getaran

: max 7,5 Hz

Pengelolaan & Pemantauan Limbah Cair


Sumber Pencemaran :
Bekas cucian peralatan produksi,laboratorium, laundri dan
rumah tangga
Kamar Mandi dan WC
Bekas reagensia di Laboratorium
Upaya Pengelolaan Lingkungan
Pembuatan saluran drainase sesuai dengan sumber limbah
Membuat InstalasiPengolahan Air Limbah (IPAL)

Pemantauan

99

Kualitas badan air permukaan inlet dan outlet saluran limbah,


meliputi kadar COD, BOD, pH, TSS, N total serta parameter
lain termasuk indikator biologis dan mikrobiologi
Kualitas badan sungai sebelum dansesudah outlet IPAL

100

BAB III
PENUTUP
Produksi infus NaCl 0,9% haruslah sesuai dengan CPOB yang
terkini. Pelaksanaannya mulai dari tim marketing yang melakukakan
observasi, selanjutnya PPIC yang merencanakan strategi produksi yang
sebelumnya dilakukan penelitian dan pengembangan produk oleh bagian
R & D. slanjutnya semua pengujian mengenai kelayakan bahan baku
dilakukan QC 1. Selajutnya tahapan paling penting adalah bagian
produksi, bagaian yang sangat perlu pemantauan untuk meyakinkan
produk akhir infus harus sesuai dengan kualitas yang terbaik dang
persyaratan yang telah ditentukan.

101

DAFTAR PUSTAKA
1. Ansel, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerbit UI
Press : Jakarta. 1989.
2. Aulton, Michael. Pharmaceutical Practice. Oritic Livingston : London,
New York. 1990
3. Dirtjen POM. Cara Pembuatan Obat dengan Baik. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta. 2006.
4. Dirtjen POM. Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 2012.
5. Fatmawaty A. Farmasi Industri. Fakultas Farmasi UNHAS. Makassar.
2010.
6. Turco, Salvatore dan Robert E. Sterile Dosage Forms. Great Britain,
Henry Kimpton Publishers : London.1974.
7. The Department Of Health. British Pharmacopoeia. The Department Of
Health, Social Services And Public Safety. London. 2009
8. B. Braun OEM Division. Products, Project Management and Services
for the Healthcare Industry. B. Braun. 2010.
9. CDM Lavoisier. Lavoisier Sodium Chloride 0.9 %, Injectable Solution.
Paris. 2009.

102

LAMPIRAN
Pemeriksaan bahan baku NaCl
Natrium Klorida
Kadar
99,0 persen menjadi 100,5 persen (zat kering).
Pemerian
Putih atau hampir putih, bubuk kristal atau kristal berwarna atau putih atau
hampir putih mutiara.
Kelarutan
Bebas larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol anhidrat.
UJi
Jika zat ini dalam bentuk mutiara dihancurkan sebelum digunakan.
Larutan S
Larutkan 20,0 g dalam air karbon dioksida bebas R1 dibuat dari air suling
R1 dan encerkan sampai 100,0 ml dengan pelarut yang sama. Larutan ini
jernih dan tidak berwarna
Keasaman atau kebasaan
Untuk 20 ml larutan S tambahkan 0,1 ml Bromothymol biru larutan R1.
Tidak lebih dari 0,5 ml asam klorida 0,01 M atau natrium hidroksida 0,01
M diperlukan untuk mengubah warna indikator.
Bromida
Maksimum 100 ppm.
Untuk 0,5 ml larutan S add 4,0 ml air R1, 2,0 ml fenol larutan merah R2
dan 1,0 ml dari 0,1 g / l larutan chloramine R1 dan campuran segera.
Setelah tepat 2 menit, tambahkan 0,15 ml natrium tiosulfat 0,1M, dicampur
dan encerkan sampai 10,0 ml dengan air R1. absorbansi dari larutan
diukur pada 590 nm, menggunakan air R1 sebagai cairan kompensasi,
tidak lebih besar dari standar yang disiapkan pada waktu yang sama dan
dengan cara yang sama, menggunakan 5.0 ml dari 3.0 mg / l larutan
kalium bromida R1.

103

Ferrocyanides
Larutkan 2,0 g dalam 6 ml air R1. Tambahkan 0,5 ml campuran 5 ml dari
10 g / l larutan besi amonium sulfat R1 dalam 2,5 g / l larutan asam sulfat
R dan 95 ml dari 10 g / l larutan besi sulfat R1. ada warna biru
berkembang dalam 10 menit.
Iodida
Dilembabkan 5 g dengan penambahan tetes demi tetes dari campuran
baru disiapkan dari 0,15 ml natrium nitrit larutan R1, 2 ml asam sulfat 0,5
M, 25 ml iodida bebas pati larutan R1 dan 25 ml air R1. Setelah 5 menit,
memeriksa di siang hari. Campuran tidak menunjukkan warna biru.
Nitrit
Untuk 10 ml larutan S ditambah 10 ml air R1. absorbansi tidak lebih besar
dari 0,01 pada 354 nm.
Fosfat
Maksimum 25 ppm. Encerkan 2 ml larutan S sampai 100 ml dengan air
R1.
Sulfat
Maksimum 200 ppm. Encerkan 7,5 ml larutan S sampai 30 ml dengan air
suling R1.
Arsenik
Maksimum 1 ppm, ditentukan 5 ml larutan S.
Barium
Untuk 5 ml larutan S add 5 ml air suling R1 dan 2 ml asam sulfat encer
R1. Setelah 2 jam, setiap opalescence dalam larutan tidak lebih intens
dari itu dalam campuran 5 ml larutan S dan 7 ml air suling R1.
Besi
Maksimum 2 ppm, ditentukan solusi S. Siapkan standar menggunakan
campuran 4 ml larutan standar besi (Fe 1 ppm) R1 dan 6 ml air R1.

104

Magnesium dan alkali tanah logam


Maksimum 100 ppm, dihitung sebagai Ca dan ditentukan pada 10.0 g.
Gunakan 150 mg mordant black 11 menggiling menjadi serbuk R1.
Volume natrium edentate 0,01 M digunakan adalah tidak lebih dari 2,5 ml.
Kalium: maksimum 5,00 102 ppm, jika dimaksudkan untuk digunakan
dalam pembuatan parenteral
hemofiltrasi

atau

bentuk sediaan atau hemodialisis,

peritoneal

dialisis

solusi.

Spektrometri emisi atom


Uji larutan : dilarutkan 1,00 g dalam air R dan encer sampai 100,0 ml
dengan pelarut yang sama.
Referensi slarutan : dilarutkan

1,144 g kalium klorida R, sebelumnya

dikeringkan pada 100-105C selama 3 jam, dalam air R1 dan encer ke


1000.0 ml dengan pelarut yang sama (600 ug K per mililiter). Encerkan
sesuai kebutuhan. Panjang gelombang 766.5 nm.
Logam berat
Maksimum 5 ppm
12 ml larutan S sesuai dengan uji A. Siapkan larutan referensi
menggunakan larutan standar timbal (1 ppm Pb) R1.
Susut pengeringan
Maksimum 0,5 persen, ditentukan 1.000 g dengan pengeringan dalam
oven pada suhu 105C selama 2 jam.
Endotoksin bakteri
Kurang dari 5 IU / g, jika dimaksudkan untuk digunakan dalam pembuatan
bentuk sediaan parenteral tanpa prosedur lebih lanjut sesuai untuk
menghilangkan

endotoxin

bakteri.

UJI
Larutkan 50,0 mg dalam air R1 dan encerkan sampai 50 ml dengan
pelarut yang sama. Titrasi dengan perak nitrat 0,1 M menentukan titik
akhir perubahan potensiometri. 1 ml perak nitrat setara 0,1 M dengan
5,844 mg NaCl.

105

Penandaan
Label menyatakan:
yang mana berlaku, bahwa zat ini cocok untuk digunakan dalam
pembuatan bentuk sediaan parenteral
VALIDASI METODE ANALISIS
Tujuan validasi metode analisis adalah untuk menunjukkan bahwa metode
analisis sesuai tujuan
penggunaannya. Perlu dipertimbangkan tabel mengenai karakteristik yang
berlaku untuk
identifikasi, pengujian terhadap impuritas dan prosedur penetapan kadar.
Jenis Metode Analisis yang harus divalidasi
Validasi metode analisis umumnya dilakukan terhadap 4 jenis:
1. uji identifikasi;
2. uji kuantitatif kandungan impuritas (impurity);
3. uji batas impuritas; dan
4. uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan aktif obat atau obat atau
komponen tertentu dalam obat.
Uraian singkat mengenai jenis uji metode analisis adalah sebagai berikut:
1. Uji identifikasi bertujuan untuk memastikan identitas analit dalam
sampel.

Uji

ini

biasanya

dilakukan

dengan

membandingkan

karakteristik sampel (misal: spektrum, profil kromatogram, reaksi kimia,


dan lain-lain) terhadap baku pembanding;
2. Pengujian impuritas dapat dilakukan melalui uji kuantitatif atau uji
batas impuritas dalam sampel. Masing-masing pengujian tersebut
bertujuan merefleksikan secara tepat karakteristik kemurnian sampel.
Karakteristik validasi yang lain diperlukan untuk uji kuantitatif dibanding
untuk uji batas impuritas;
3. Prosedur penetapan kadar bertujuan untuk menentukan kadar analit
dalam sampel. Dalam hal ini penetapan kadar menunjukkan
pengukuran komponen utama yang terkandung dalam bahan aktif

106

obat. Untuk obat, karakteristik validasi yang serupa juga berlaku untuk
penetapan kadar zat aktif atau komponen tertentu. Karakteristik
validasi yang sama juga dapat dilakukan untuk penetapan kadar yang
berkaitan dengan metode analisis lain (misal uji disolusi).
Tujuan prosedur analisis hendaklah jelas dan dimengerti karena hal ini
akan menentukan karakteristik validasi yang perlu dievaluasi. Karakteristik
validasi yang umumnya perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. akurasi;
2. presisi;
3. ripitabilitas;
4. intermediate precision;
5. spesivisitas;
6. batas deteksi;
7. batas kuantitasi;
8. linearitas; dan
9. rentang.
Validasi ulang mungkin diperlukan pada kondisi sebagai berikut:
1. perubahan sintesis bahan aktif obat;
2. perubahan komposisi produk jadi; dan
3. perubahan prosedur analisis.
Tingkat validasi ulang yang diperlukan tergantung pada sifat perubahan.
Perubahan tertentu lain mungkin juga memerlukan validasi ulang.
Pemeriksaan infus NaCl
Natrium Klorida Infusion intravena adalah larutan steril Natrium Klorida
dalam Air untuk Suntikan (WFI).
Infus intravena memenuhi persyaratan yang tercantum dalam preparsi
parenteral dan dengan persyaratan sebagai berikut.
Kandungan natrium klorida, NaCl
95,0-105,0% dari jumlah yang dinyatakan.

107

Identifikasi
Menghasilkan karakteristik reaksi dari garam natrium dan reaksi
Karakteristik klorida,
Endotoksin bakteri
Batas

konsentrasi

endotoksin

0,25

IU

per

ml.

Encerkan

infus

mengandung lebih dari 0,9% b/v Natrium Klorida dengan BET air
mengandung 0,9% b/v
UJI
Titrasi volume yang mengandung 0,2 g Natrium Klorida 0,1 M dengan
perak nitrat menggunakan VS larutan kromat kalium sebagai indikator.
Setiap ml 0,1 M perak nitrat VS setara dengan 5,844 mg NaCl.
Penandaan

Kekuatan Natrium Klorida dinyatakan sebagai persentase b/v. Label


menyatakan bahwa larutan yang mengandung partikel padat terlihat

harus tidak digunakan.


Ketika preparasi dimaksudkan untuk infus intravena, label menyatakan
perkiraan konsentrasi, dalam milimol per liter, dari ion natrium dan ion
klorida. Untuk sediaan yang mengandung 0,9% b/v Natrium Klorida
konsentrasi masing-masing ion dinyatakan sebagai 150 milimol per

liter.
Untuk solusi terkonsentrasi disediakan untuk preparasi Infus Natrium
Klorida intravena dengan pengenceran, label menyebutkan ' Natrium

Klorida Steril Konsentrat' sebagai judul preparasi.


Ketika InfusNatrium Klorida intravena atau Injeksi Natrium Klorida yang
diresepkan atau menuntut dan tidak ada kekuatan yang menyatakan,
Infus Natrium Klorida intravena (0,9% b/v) harus didispensingkan atau

diberikan.
Ketika Injeksi Natrium Klorida diperlukan sebagai pengencer Sediaan
parenteral dari Farmakope, Infus Natrium Klorida intravena (0,9% b/v)
harus digunakan.

108

Ketika larutan garam normal untuk injeksi diresepkan atau diminta,


Infus Natrium Klorida intravena (0,9% b/v) harus didispensingkan atau
diberikan.