Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan
Tugas Perencanaan Mesin ini merupaan Tugas yang diberikan guna melengkapi
nilai tugas mahasiswa pada Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Surakarta, pada Jenjang Sarjana. Selain itu bahwa dalam tugas ini
berguna untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa Teknik Mesin terutama dibidang
Teknik.
Dalam Perencanaan Mesin kali ini, mencoba mengangkat permasalahan tentang
Conveyor. Perlu diketahui sebelumnya, Conveyor merupakan salah satu bagian dari
pesawat pengangkat, namun conveyor adalah salah satu alat angkut sederhana yang mana
digunakan untuk memindahkan barang dari tempat satu ketempat lainnya. Dalam hal ini
operator tidaklah perlu ikut bergerak bersamaan dengan mesin yang digerakkan.
Operator bisa berdiri ditempat dan menunggu pengerjaan selesai.

Gambar 1.1 Penampang Conveyor


Semua tentunya tahu sebuah alat yang bernama Ekskalator, seperti itulah wujud dari
pada Conveyor. Namun dalam hal ini kita akan membuat analisis Conveyor seperti terlihat
pada gambar 1.1 diatas. Disini kita kan mencoba menganalisis Conveyor tersebut dengan

perkiraan beban yang membebaninya seberat 100kg. Dengan permisalan beban tersebut
kami ingin tahu seperti apakah spesifikasi yang ada pada Conveyor pada nantinya.
Dengan berbagai uraian diatas dan berbagai alasan yang membuat kami ingin
melakukan percobaan analisis diatas, maka perkenankanlah kami dalam laporan ini
membahas tentang Conveyor tersebut, guna transfer barang 100kg.
1.2 Tujuan Penulisan
Dalam penulisan Laporan Perencanaan Mesin kali ini adapun tujuan-tujuan
daripada Laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi Nilai Tugas Mahasiswa pada Jurusan Teknik Mesin, Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.
2. Sebagai sarana pengaplikasian dari matakuliah-matakuliah yang sebagai syarat
pengambilan Tugas Perencanaan Mesin ini.
3. Memberikan analisis tentang Conveyor pada laporan ini sehingga dapat
memberikan wawasan pengetahuan tentang Conveyor pada khalayak
ramai umumnya,penulis khususnya.
4. Memberitahukan bahwa dengan beban 100kg bagaimanakah bentuk-bentuk
daripada spesifikasi yang terjadi pada Conveyor.
1.3 Pembatasan Masalah
Adapun dalam Perencanaan Mesin ini yang menjadi pokok pembahasan utama
adalah:
a. Gaya dan Moment yang diterima pada Poros Conveyor
b. Dimensi yang ada pada poros Conveyor tersebut.
Hal tersebut dianalisis dengan persyaratan beban yang diterima Conveyor sebesar
100kg.
1.4 Sistematika Penulisan

Dalam penulisan Laporan Perencanaan Mesin ini adapun sistematika penulisan


laporan ini adalah sebagai berikut:
Pada BAB I, Merupakan Bab Pendahuluan. Yang mana pada bagian ini membahas
mengenai Latar Belakang Penulisan, Tujuan Penulisan, Pembatasan Masalah dan
Sistematika penulisan itu sendiri.
Dalam BAB II, Merupakan Bab Landasan Teori. Dalam Bab ini nantinya akan membahas
mengenai tinjauan tentang Conveyor, Poros, Belt dan Pulli, Bearing, dan Perumusan yang
digunakan untuk analisis tentunya.
Pada BAB III, Merupakan bagian dari Analisis Perhitungan. Dimana dalam bab ini akan
menguraikan tentang perhitungan-perhitungan poros beserta dimensi dimensinya. Baik itu
berupa diameter, moment dan gaya maupun daya yang terjadi pada poros nantinya.
Selanjutnya BAB IV, Merupakan Bab Penutup. Yang mana pada bagiah Bab ini pada
nantinya meliputi bagian Kesimpulan dan Saran.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Tinjauan Umum Tetang Conveyor
Conveyor adalah suatu pesawat angkat sederhana yang mana pesawat tersebut
sangat dibutuhkan oleh suatu perusahaan dan pergudangan dimana pesawat tersebut
digunakan sebagai alat untuk mempermudah dalam penyimpanan dan memindahkan
barang (transfer barang).
Namun perlulah kita ketahui bersama dalam lingkungan kita banyak sekali
terdapat jenis conveyor. Ada yang menggunakan jenis chain atau rantai yang mana
biasanya conveyor jenis ini digunakan untuk mengangkut beban-beban berat, selain itu
ada juga yang menggunakan belt atau sabuk ini biasanya digunakan untuk beban yang
ringan dan ada pula yang hanya menggunakan roller sederhana dimana roller-rollernya
tidak ada penutupnya.

Gambar 2.1 Penampang Conveyor


Selain itu didalam sebuah pesawat angkat jenis ini yang terpenting adalah komponenkomponen yang ada dalam perangkat tersebut seperti halnya:
1. Poros
2. Belt dan pulli
3. Chain dan Gear
4. Bearing
5. Motor dan Gearbox
Guna mengetahui sejauh mana tingkat keamanan dan kemampuan benda tersebut bekerja
dalam proses produksi pada nantinya. Dimana yang harus kita perhitungkan secara
detailnya berupa moment-moment yang terkandung dalam conveyor tersebut dan gaya
yang terkandung didalamnya.
2.2 Poros
2.2.1 Tinjauan tentang poros
Poros merupakan salah satu bagian terpenting dari setiap mesin karena berfungsi
untuk mentransmisikan daya. Hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan sebuah
poros antara lain :
a) Bahan poros
Poros mesin pada umumnya baja batang yang ditarik dingin dan difinis.
Poros yang dipakai untuk meneruskan putaran tinggi dan beban besar yang
umumnya dibuat dari baja paduan dengan pengerasan kulit yang sangat tahan
terhadap keausan poros dari baja kekuatan tinggi tidak sekaku seperti ST 42
yang semacam itu (modulus E sama), hanya kekuatan tekuk yang berubah

ubah atau kekuatan torsi yang berubah ubah lebih besar, kalau pengaruh
tekukan yang tajam dihindari.
b) Kekuatan poros
Suatu poros dapat mengalami beban puntir dan lentur, maka memerlukan
kekakuan yang baik, bantalan yang kaku dan pembentukan yang kaku.
c) Kekakuan poros
Kekakuan poros perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan macam
macam mesin yang akan dilayani mesin tersebut.
d) Putaran kritis
Apabila putaran mesin dinaikan, maka pada saat putaran tertentu akan
terjadi getaran yang sangat besar. Putaran ini disebut putaran kritis. Maka poros
yang direncanakan harus memiliki putaran kerja yang lebih rendah dari putaran
kritis.
e) Korosi
Bahan tahan korosi harus dipilih untuk poros, bila terjadi kontak dengan
sebuah fluida yang korosif.
2.2.2 Macam macam poros
Menurut pembebananya poros dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Poros dengan beban puntir
Berikut ini akan dibahas rencana sebuah poros yang mendapat
pembebanan utama berupa torsi, seperti pada poros motor dan sebuah
kopling.
Jika diketahui bahwa poros yang akan direncanakan tidak akan
mendapat beban lain kecuali torsi, maka diameter poros tersebut dapat lebih
kecil dari pada yang dibayangkan.
Meskipun demikian, jika diperkirakan akan terjadi pembebanan berupa
lenturan, tarikan, atau tekanan, maka kemungkinan adanya pembebanan
tambahan tersebut perlu diperhitungkan dalam faktor keamanan yang
diambil.
b. Poros dengan beban lentur murni
Pembebanan ini biasanya terdapat pada gandar, jadi gandar dari kereta
rel tidak dibebani dengan puntiran melainkan mendapat pembebanan lentur
saja, selain mendapat beban statis ternyata gandar juga mendapat beban

dinamis maka dari itu dalam merencanakan gandar (poros dengan beban
lentur) perlu diberikan angka faktor keamanan yang tinggi.
c. Poros dengan beban puntir dan lentur
Poros ini pada umumnya meneruskan daya melalui sabuk, roda gigi
dan rantai. Dengan demikian poros tersebut mendapat dua pembebanan
sekaligus, yaitu selain poros tersebut mendapat beban lentur yang
diakibatkan oleh tarikan, juga mendapat beban puntir yang diakibatkan oleh
putaran.

Gambar. 2.2 Penampang poros


2.3 Bantalan
Tempat sebuah poros ditumpu, dinamakan tap poros atau leher poros
(journal) elemen yang menumpu dinamakan bantalan. Bantalan ini dapat dipasang
didalam mesin dimana poros termasuk atau dalam suatu elemen terpisah yang
difondasikan yang dinamakan blok bantalan, blok atau dengan singkat bantalan.
Dalam bantalan pada umumnya bekerja gaya reaksi. Apabila gaya reaksi ini jauh
lebih banyak mengarah tegak lurus pada garis poros, bantalan dinamakan bantalan
radial; kalau gaya reaksi itu lebih jauh mengarah garis sumbu, namanya ialah bantalan
aksial. Pada poros vertikal, nama yang diberikan ialah bantalan pivot. Untuk menahan
gaya aksial, pada poros dipasang kuping, karena itu namanya blok kuping. Juga
terdapat kombinasi gaya radial dan gaya aksial. Adapun jenis jenis bantalan adalah
sebagai berikut:
1. Bantalan Luncur
Menurut konstruksinya Batok bantalan pada sebelah luarnya kebanyakan silinderik,
sebab mudah diolah dan disuaikan dalam rumah. Pada bantalan untuk poros yang harus dapat

distel, seperti yang misalnya terdapat pada kursi mesin gilas, pada sisi sampingnya terdapat
bidang untuk tuntunan.
Dalam kebanyakan hal, bantalan luncur dibuat terbagi. Ini menyebabkan
pemasangan poros lebih mudah dilakukan.
Bantalan satu bagian (Bus) harus disorongkan pada poros dan karena itu hanya dapat
diterapkan pada ujung poros. Bus ini yang kebanyakan dibuat dari besi cor atau perunggu,
sering dipres pada bagian mesin yang mengelilinginya atau dalam blok bantalan (blok
bantalan mata).
Dalam bantalan terbagi terdapat metal bawah dan metal atas. Metal atas dieratkan
oleh tutup bantalan yang dengan baut tembus atau dengan pena ulir dipasang pada bagian
bawah. Baut ini dibuat sepanjang mungkin untuk memberikanya regangan yang besar, jadi
membuatnya lebih tahan terhadap tumbukan.
2. Bantalan Gelinding Radial
Untuk keperluan ini banyak dipergunakan bantalan peluru. Sebuah bantalan
peluru terdiri dari dua buah cincin jalan (cincin dalam dan cincin luar), diantaranya
terdapat peluru dengan sangkar.
Pada bantalan peluru alur, bidang jalanya dibengkokkan dalam arah aksial
dengan jari jari yang hanya sedikit lebih besar daripada jari jari peluru. Sehingga
terdapat tepi yang mencegah jatuhnya peluru yang memungkinkan blok mampu
menerima gaya radial dan gaya aksial yang agak besar. Karena itu bantalan peluru alur
cocok untuk semua arah beban. Oleh sebab itu bantalan ini sangat banyak
penerapanya.
Gambar 2.3 memperlihatkan penampang sebuah bantalan peluru alur satu baris
dengan sangkar peluru baja dan gambar 2.4 diperoleh dengan plat lindung atau dengan
perapat karet. Bantalan ini juga dapat diperoleh dengan plat lindung atau dengan
perapatan satu sisi. Sangkar peluru berfungsi untuk memisahkan benda gelinding yang
satu dengan yang lain, sehingga tidak dapat meluncur yang satu dengan yang lain.
Dengan jalan ini aus, dibatasi. Pada sejumlah tepi bantalan, sarang tambahan pula
diperlukan untuk mencegah benda gelinding, ketika dipasang atau dilepaskan, jatuh ke
luar bantalan.
Gambar 2.3 Bantalan peluru

Gambar
2.4

Bantalan
peluru
dengan
plat
pelindung
atau
cincin
perapat
karet
3. Bantalan Gelinding Aksial
Bantalan mempunyai satu stel peluru yang berputar diantara dua buah cincin
jalan, yang satu buah diantaranya dipasang pada poros (cincin poros) dan yang lain
ditempatkan dalam rumah (cincin rumah). Bantalan pivot peluru hanya dapat
menerima beban aksial dalam satu arah. Untuk penempatan yang lebih baik bantalan
ini juga dilaksanakan dengan cincin berbentuk bola.

Gambar 2.5 Bantalan Kontak Sudut Aksial


Untuk beban aksial dalam kedua arah diperlukan dua baris peluru. Untuk pekerjaan
presisi (misalnya mesin perkakas) dalam hal ini diterapkan bantalan kontak sudut aksial, lihat
gambar 2.5 demikianlah pada jumlah perputaran lebih tinggi dapat dipakai bantalan pivot
peluru.
2.4 Sabuk dan Pulli
Suatu elemen mesin dimana benda tersebut difungsikan sebagai pemindah tenaga
dengan melalui sebuah pulli. Sabuk menurut fungsinya dapat dibedakan sebagai berikut,
sabuk rata dan sabuk V, sabuk rata berjalan pada pulli silinderik atau yang boleh
dikatakan silinderik, sedangkan sabuk V berjalan pada pulli dengan alur berbentuk V.

2.4.1 Sabuk Rata


Sebagai bahan untuk sabuk penggerak rata telah sangat lama dipergunakan kulit, yaitu
kulit berteras dan kulit khrom. Ujung sabuk penggerak dapat disambung dengan sengkang
jepit, kait, engsel atau lebih baik dengan menggunakan lem. Sabuk yang dilem dan dibuat
dari karet, balat, katun, sutera dan terutama bahan buatan dan sebagainya, disebabkan oleh
sifatnya yang lebih cocok untuk suatu pemakaian tertentu daripada sabuk kulit.
Sabuk dengan bahan buatan mempunyai keuntungan penting. Pertama tama, hanya
pada permulaan sabuk ini memperlihatkan regang yang tetap; kemudian sabuk sepenuhnya
elastis.
Selanjutnya ketika dibuat dalam pabrik, sifatnya dapat dikuasai dengan lebih baik
daripada pada sabuk yang dibuat dari hasil alam
Dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Sabuk yang terdiri dari tenunan katun yang dicelup dalam khlorida polivinil (p.v.c)
seperti sabuk igelit. Dewasa ini sabuk ini dibuat dari suatu tenunan nilon yang
dicelup dalam neoprene. Sabuk ini sangat cocok untuk kecepatan tinggi, pada pulli
kecil, dengan jarak poros pendek.
b. Sabuk dari poliamida, sabuk ini sangat kuat (kekuatan tarik mencapai 200N/mm 2)
dan sangat eastis, tetapi koefisien gesek poliamida pada besi cor hanyalah kecil.
Maka dari itu sabuk ini sangat cocok untuk kecepatan rendah, kecepatan tinggi,
serta untuk jarak poros yang pendek.
2.4.2 Sabuk V
Sabuk dengan penampang berbentuk trapesiun ini banyak diterapkan; sabuk
ini terutama dipakai agar dalam keadaan yang paling tidak menguntungkan (jarak
sumbu kecil, perbandingan transmisi besar, atau keduanya), pra tegangan kecil
namun masih memberi penyelesaian.
Gesekan antar sabuk V dan pulli sebagai akibat efek baji, lebih besar dari pada
gesekan antara sabuk rata dan pulli, lihat gambar 98 dan 99.
Suatu kerugian ialah aus pada sisi samping, sebab kecepatan sabuk =
kecepatan pulli hanya dapat dijumpai pada satu tempat.
Pada sisi lainya sabuk terdiri dari karet lunak yang diperkuat dengan tenunan
dari nilon atau dari poliester (tubuh sabuk penarik), pada sisi dalamnya untuk
kepentingan kelembutannya hanya dari karet yang lebih keras, keseluruhanya itu

diselubungi dengan tenunan yang dicelup karet. Juga terdapat sabuk V yang
mempunyai kawat baja sebagai tubuh sabuk penarik.
Sabuk V ini tidak boleh terkena minyak; tidak boleh dibiarkan terkena
temperature lebih tinggi dari dari 600C. Kerugian sabuk V adalah tidak pernah ada
kepastian bahwa semua sabuk memindahkan gaya yang sama. Kalau satu sabuk
meregang dari suatu bundel, maka sabuk lainya dibebani terlampau kuat. Kalau
diambil secara ketat, setelah salah satu sabuk rusak, maka kesemuanya harus diganti.
Untuk memungkinkan sabuk tanpa sambungan dapat dipasang sekeliling pulli,
salah satu poros harus dapat digeser secara jauh, misalnya karena motor listrik terletak
pada eretan. Apabila hal ini tidak dapat dilaksanakan, maka harus dipasang pulli
pemegang alur, lebih baik pada posisi dalam sangat dekat dengan pulli yang besar.
Pulli pemegang ini harus mempunyai garis tengah yang sedikitnya sama dengan pulli
kecil. Apabila disebabkan oleh kekurangan tempat hal ini tidak dapat dilakukan, maka
dapat dipergunakan pulli penegang pada posisi luar, sedekat mungkin dengan pulli
kecil. Dengan menggunakan pulli penegang ini, sabuk memperoleh pra tegangan
yang diperlakukan setelah dipasang sekeliling pulli. Setelah itu pulli dikencangkan.
2.4.3 Pulli
Pulli adalah suatu elemen mesin yang digunakan untuk mentransmisikan daya
dari mesin dengan perantara sabuk. Pulli sabuk ini biasanya terbuat dari besi cor, atau
baja. Dewasa ini pulli kayu sudah tidak banyak digunakan lagi. Sedangkan untuk
konstruksi ringan diterapkan pulli dari paduan aluminium. Pulli sabuk baja terutama
cocok untuk kecepatan sabuk yang tinggi (di atas 35 m/det).
Dilihat dari bentuknya sabuk dapat dibedakan menjadi :
a. Pulli datar
Pulli datar menurut konstruksinya yaitu sebuah elemen mesin yang digunakan untuk
mentransmisikan daya dengan perantara sabuk, tetapi sabuk tersebut adalah sabuk yang
konstruksinya rata.
b. Pulli alur (dengan bentuk alur V)
Pulli bentuknya beralur dan alur tersebut membentuk huruf V dimana pulli tersebut
digunakan untuk sabuk yang berbentuk atau yang mempunyai penampang V.
Gambar 2.6 sabuk gigi

Gambar 2.7 Pulli berbentuk kerucut


2.5 Motor dan Gear Box
Motor dan Gear box disini merupakan salah satu komponen utama dalam
perencanaan conveyor ini. Karena dalam hal ini kita sangatlah butuh motor yang mana
berfungsi sebagai penggerak utama dalam conveyor ini. Dimana Motor berfungsi sebagai
penggerak awal dari conveyor ini.
Selain itu Gear Box juga punya nilai yaitu sebagai pentranmisi daya dan putaran
pada conveyor yang mana lebih tepatnya gear box berfungsi untuk mentranmisikan dari
motor ke poros conveyor utama adapun yang biasa digunakan bisa dilihat pada gambar
Gb 2.8

Gambar 2.8 Penampang Motor dan Gearbox


2.6 Rumus-rumus
Dimana dalam hal ini dikarenakan porosnya berputar dengan beban sabuk maka
kami anggap dalam hal ini poros terkena beban puntir dan beban lentur dengan
demikian kami peroleh perumusan sebagai berikut:
a. Daya Pada Poros
(a.1)

Dimana,
P = Daya (Kw)
F = Gaya Beban (N)
V = Kecepatan Benda (m/s)
..(a.2)
Dimana,
Pd = Daya Rencana (Kw)
Fc = faktor koreksi

b. Moment Puntir
.(b.1)

Dimana,
T = Moment punter (kgmm)
n1 = Putaran (rpm)
c. Tegangan Geser
(C.1)
Dimana,
= Tegangan Geser (Kg/mm2)
Sf = Faktor Bahan
= Kekuatan Tarik
a.1

Daftar tabel Rumus

a.2

c.1 Sularso hal 7

..
d. Gaya Reaksi Engsel
.(d.1)

.,(d.2)
...(d.3)

(d.4)
Dimana,
H = Beban Horisontal
V = Beban Vertikal
l = Jarak
e. Harga Moment Lentur

.(e.1)
(e.2)
(e.3)
(e.4)
..(e.5)
..(e.6)
Dimana,
M = Moment Lentur
R = Gaya Reaksi
f. Moment Lentur Gabungan
(f.1)
.(f.2)
Dimana,
MR = Moment lentur Gabungan
Sulars
d.1- f.2

o hal
21

Diameter
.(g.1)

Dimana,
ds = diameter poros
= Tegangan Geser (Kg/mm2)
M = Moment lentur (diambil M yang terbesar)
h. Tegangan Pasak

g.

(h.1)

Dimana,
ds = Diameter Poros
K = Faktor keamanan
MR = Moment Lentur (diambel nilai M yang terbesar)
i. Defleksi Puntiran
..(i.1)

Dimana,
G = Modulus geser (baja =

kg/mm2)

= Defleksi puntiran()
j. Kelenturan
.(j.1)

Dimana,
Y = Kelenturan (mm/m)
F = Resultan Gaya (N)
lb = Jarak beban utama dengan Bantalan
l = Panjang poros
Sulars
g.1-i.1 .

o hal

j.1 ..

18
Sulars
o hal
19

BAB III
ANALISIS PERHITUNGAN
2.1 Perhitungan
Diketahui

v\:*

Pmotor = 0,48Kw
n1 = 50rpm
n2 = 30rpm
v = 20m/menit
beban = 100kg
Standart besi yang dipakai jenis S30C-D,maka
= 58kg/mm
sf1 = 6,0
sf2 = 2,0
kt = 1,5
km = 2,3
Ditanyakan
Gaya, Tegangan dan Diameter Porosnya.?
Jawab
a) Perhitungan Daya pada Conveyor

Dikarenakan Beban yang bekerja diam maka gaya (F) yang bekerja menjadi gaya
beban (W), dimana F = W

b) Moment Puntir

c) Tegangan Geser

d)

Gaya reaksi engsel 100mm

400mm 100mm H4

100mm 400mm RH2

H1 H2 H3 V4

RH1 Rv2

V2 V3
Rv1 V1

H1 = 230kg

V1 = 78kg

H2 = 300kg

V2 = 120kg

H3 = 230kg

V3 = 78kg

H4 = 160kg

V4 = 24kg

e) Harga Moment Lentur

100mm
100mm 100mm

f) Diameter Poros Conveyor

800mm

, diameter yang dipakai berdasarkan tabel sebesar 45mm

g) Tegangan Pasak

Dari hasil diameter diatas untuk mengetahui titik aman pada poros sudah tepatkah
atau belum maka dengan cara demikian
Dari tabel alur pasak diperoleh dilihat dari tabel poros untuk pulli conveyor, dimana
alur pasaknya adalah 14 x 9 x 1,0 (1,0 = jari-jari fillet)
1,0/45 = 0,02, = 2,6

Jika kita bandingkan antara a x sf2 dengan x


Maka 4,8 x 2,3 > 0,09 x 2,6 .baik
h) Defleksi Puntiran

0,02 < 0,25 baik


i) Kelenturan

Dimana F merupaka resultan gaya maka


Gaya resultan pada komponen horizontal = 920kg
Pada titik pusat gaya =

, 1300 179 = 1121mm

Gaya resultan pada komponen vertical = 300kg


Karena gaya resultan pada komponen vertical lebih kecil maka gaya pada komponen
ini diabaikan. Jadi:

4,1 < 10,3-0,35. baik


2.2 Analisis
Pada hasil perhitungan di atas ternyata di sini dapat mengetahui beberapa hal yang
sangat perlu diperhitungkan demi keamanan pengguna tentunya. Secara khusus dalam
perhitungan poros pada conveyor di atas dapatlah diuraikan sebagai berikut:

Dalam perhitungan poros di atas yang menjadi langkah utama adalah diameter,
yang mana pada poros ini tidak hanya dipengaruhi oeh moment dan gaya tegangannya
saja, namun perlu diketahui ternyata dalam perhitungan poros ini juga dipengaruhi oleh
faktor konsentrasi tegangan Peterson yang besar pada alat pasak. Hal inilah yang
membuat diameter poros conveyor ini pada akhirnya menjadi lebih besar.
Selain itu juga memperhitungkan kelenturan poros itu sendiri yang sangat
berhubungan dengan diameter poros itu sendiri. Namun selain itu pada kelenturan ini
dipengaruhi oleh resultan gaya yang terjadi pada poros itu sendiri dan jarak beban
terhadap bantalan.
BAB IV
PENUTUP
.4.1 Kesimpulan
Dari hasil analisis yang telah dikerjakan ternyata dalam poros suatu conveyor,
selain terkena beban puntir karena pengaruh putaran poros pada saat bekerja juga
terkena beban lentur karena adanya beban 100kg yang menindihnya.
Dimana dari hasil perhitungan yang dilakukan untuk conveyor guna mengangkut
beban 100kg diperoleh: Daya conveyor 0,3 Kw dan:
a) Moment puntir (T) : 5850 kgmm
b) Tegangan geser (a) : 4,8 kg/mm2
c) Gaya reaksi
RH1 : 505,5 kg
RH2 : 414,5 kg
Rv1 : 149,5 kg
Rv2 : 150,5 kg

d) Momen lentur
MH1 : 50550 kgmm
MH2 : 41450 kgmm
MH3 : 41450 kgmm
Mv1 : 14950 kgmm
Mv1 : 15050 kgmm
Mv1 : 15050 kgmm
e) Momen lentur gabungan
MR1 : 52714,4kgmm
MR2 : 44097,7 kgmm
MR2 : 44097,7 kgmm
f) Diameter : 45mm
g) Defleksi puntiran : 0,02
h) Kelenturan : 4,1 mm/m
i) Tegangan pasak : 0,09 kg/mm2
4.2 Saran
Dalam perencaaan mesin kali ini adapun beberapa hal yang penulis berikan pada
semuanya, yaitu dalam merencanakan sebuah poros pada conveyor cobalah mengambil
untuk tingkat keamanan yang tinggi, demi kelancaran produksi nantinya. Terutama dalam
merencanakan poros kita harus berhati-hati.
Dalam hal ini alangkah lebih baik dalam merencanakan conveyor itu dilakukan
pembagian atau dengan kata lain spesialis. Yang mana orang tersebut bisa benar-benar

memperhitungkan dengan matang jenis alat apa yang efisien untuk conveyor dengan
beban tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Stolk, jack dkk.1993-1994. Elemen Konstruksi Bangunan Mesin. Jakarta:Erlangga.
Sularso dan Suga, Kyokatsu.1997. Dasar Perencanaan Mesin dan Pemilihan Mesin.
Jakarta:PT. Pradnya Pramita